BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Penyakit
1. Pengertian Kejang Demam
Demam merupakan keadaan temperatur suhu tubuh yang mencapai
≥380C (Lubis & Lubis, 2017). Kejang demam atau Febrile convulsion
merupakan kejang yang terjadi akibat suhu tubuh yang tinggi diatas
38oC karena kelainan pada ekstrakranial. Kejang demam sering terjadi
pada anak serta bayi dan kemungkinan berulang. (Indrayati & Haryanti,
2019). Sedangkan menurut Wulandari dan Erawati (2016) kejang
demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering ditemukan
pada anak terutama pada golongan anak umur 6 bulan ampai 4 tahun.
Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure) Merupakan
kejang yang terjadi pada salah satu sisi otak saja (fokal atau parsial)
berlangsung lebih dari 15 menit dan berulang dalam 1 kali 24 jam
(IDAI, 2016). Jadi, dapat disimpulkan kejang demam kompleks adalah
gangguan yang terjadi akibat suhu tubuh yang tinggi diatas 38 oC karena
kelainan pada ekstrakranial berlangsung lebih dari 15 menit dan
berulang dalam 1 kali 24 jam.
2. Etiogi Kejang Demam
Penyebab dari kejang demam menurut Wulandari & Erawati,
(2016) yaitu:
9
10
a. Faktor genetika
faktor keturunan memegang penting untuk terjadinya kejang
demam 25-50% anak yang mengalami kejang memiliki anggota
keluarga yang pernah mengalami kejang demam sekurang-
kurangnya sekali.
b. Infeksi
1) Bakteri: penyakit pada traktus respiratorius (pernapasan),
pharyngitis (radang tenggorokan), tonsillitis (amandel), dan
otitis media (infeksi telinga).
2) Virus: varicella (cacar), morbili (campak), dan dengue (virus
penyebab demam berdarah).
c. Demam
Kejang demam cenderung timbul dalam 24 jam pertama pada
waktu sakit dengan demam atau pada waktu demam tinggi.
d. Gangguan metabolisme
Gangguan metabolisme seperti hipoglikemia, gangguan elektrolit
(Na dan K) misalnya pada pasien dengan riwayat diare
sebelumnya.
e. Trauma
Kejang berkembang pada minggu pertama setelah kejadian cedera
kepala
3. Klasifikasi Kejang Demam
IDAI (2016), klasifikasi kejang demam dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)
Kejang demam yang berlangsung singkat, biasanya terjadi kurang
dari 15 menit dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang
berbentuk
11
umum tonik dan klonik tanpa adanya gerakan fokal. Kejang demam
yang terjadi tidak berlangsung dalam waktu 24 jam. Kejang demam
sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam.
b. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)
Kejang demam yang memiliki salah satu ciri, yaitu kejang terjadi
lebih dari 15 menit. Kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara
bangkitan kejang anak tidak sadar. Terjadi lebih dari 1 kali selama
24 jam, kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum
didahului kejang parsial.
4. Manifestasi Klinis Kejang Demam
Menurut Erveline & Nanang (2010), tanda pada anak yang mengalami
kejang adalah sebagai berikut :
a. Suhu badan mencapai 38°C
b. Saat kejang anak kehilangan kesadaran, kadang-kadang napas
dapat terhenti beberapa saat
c. Tubuh termasuk tangan dan kaki jadi kaku, kepala terkulai ke
belakang disusul munculnya gejala kejut yang kuat
d. Warna kulit berubah pucat bahkan kebiruan dan bola mata ke atas
e. Gigi terkatup dan terkadang disertai muntah
f. Napas dapat berhenti selama beberapa saat
g. Anak tidak dapat mengontrol untuk buang air besar atau kecil.
Sedangkan tanda dan gejala kejang demam menurut (Sudarmoko, 2013):
a. Saat kejang, anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat
b. Hilang kesadaran
12
c. Tangan dan kaki kaku,
d. Tersentak-sentak atau kelojotan
e. Mata berputar-putar sehingga hanya putih mata yang terlihat
f. Anak tidak responsive untuk beberapa waktu,
g. Napas akan terganggu dan
h. Kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya.
5. Patofisiologi
Sumber energi otak yang dipecah melalui proses oksidasi yaitu
glukosa, dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi membran yang
terdiri dari permukaan dalam (lipoid) dan permukaan luar (ionik).
Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan
mudah oleh ion kalium (K+) dan sulit dilalui oleh ion natrium (Na+)
dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (CT). Akibatnya konsentrasi
ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang
diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis
serta konsentrasinya ion didalam dan luar sel, maka terdapat perbedaan
potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk
menjaga agar tetap seimbang maka diperlukan energi serta bantuan
enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel (Nurarif &
Kusuma, 2015). perbedaan potensial yang disebut membran juga dapat
diubah dengan adanya:
a. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler.
b. Rangsangan yang datang mendadak misalnya, mekanisme, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya.
13
c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan.
Demam dengan kenaikan suhu 1oC bisa mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan mengalami
peningkatan sebesar 20%. Pada anak usia 3 tahun sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa,
sirkulasi otak hanya sebesar 15% saja. Oleh karena itu kenaikan suhu
tubuh pada anak dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron
dan dalam waktu yang singkat dapat terjadi difusi dari ion kalium
maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas
muatan listrik ini sangat besar sehingga bisa meluas ke seluruh sel
maupun ke membran sel disekitarnya dengan bantuan neurotransmitter
dan terjadilah kejang. Masing-masing anak mempunyai ambang kejang
yang berbeda-beda dan juga tergantung tinggi rendahnya ambang
kejang, seorang anak akan menderita kejang pada kenaikan suhu
tertentu (Nurarif & Kusuma, 2015).
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan biasanya tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang
demam yang berlangsung lama atau sekitar 15 menit biasanya akan
disertai apnea, peningkatan kebutuhan oksigenasi dan energi untuk
kontraksi otot skeletal yang akhirnya akan mengakibatkan hipoksemia,
hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik,
hipotensi aternal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu
tubuh meningkat menyebabkan meningkatnya aktifitas otot dan
14
mengakibatkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di
atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak
selama berlangsungnya kejang (Lestari, 2016).
6. Komplikasi
Komplikasi kejang demam Menurut (Waskitho & Pungguh, 2013)
adalah:
a. Kerusakan neorottransmiter
Lepasnya muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat
meluas keseluruh sel ataupun sel yang menyebabkan kerusakan pada
neuron.
b. Epilepsi
Kerusakan pada daerah media lobus temporalis setelah mendapat
serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di
kemudian hari sehingga terjadi epilepsi yang spontan.
c. Kelainan anatomi di otak. Serangan yang berlangsung lama yang
dapat menyebabkan kelainan di otak yang lebih namyak terjadi pada
anak berumur 4 bulan sampai 5 tahun.
d. Kecacatan atau kehilangan neourologi karena di sertai demam.
7. Pemeriksaan Penunjang
(IDAI, 2016) menjelaskan bahwa pemeriksaan yang dapat dilakukan
untuk anak yang mengalami kejang demam, sebagai berikut:
a. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan walau tidak ada gejala
yang berarti untuk mengetahui sumber infeksi terjadinya kejang
demam, gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan yang
15
dilakukan yaitu, pemeriksaan darah tepi lengkap, elektrolit dan gula
darah.
b. Lumbal fungsi untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis. Lebih dianjurkan pada pasien dengan
kejang demam meliputi:
1) Umur bayi kurang dari 12 bulan
2) Bayi antara umur 12 sampai 18 bulan
3) Bayi dengan umur lebih dari 18 bulan, dianjurkan untuk
melakukan lumbal fungsi kecuali pasti bukan meningitis
c. Pemeriksaan EEG (elektroensefalografi), dilakukan pada kejadian
kejang demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam pada anak
usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
d. Pemeriksatan foto kepala, CT-scan atau MRI tidak dianjurkan untuk
anak yang tidak ada kelainan neurrologis karena hampir semua
menunjukkan gambaran normal. CT-scan atau MRI dilakukan untuk
mencari lesi organil di otak.
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kejang demam menurut Wulandari & Erawati (2016)
adalah:
a. Penatalaksanaan Medis
1) Bila pasien datang dalam keadaan kejang obat utama adalah
diazepam untuk membrantas kejang secepat mungkin yang
diberi secara IV (intravena), IM (Intra muskular), dan rektal.
Dosis sesuai BB:< 10 kg:0,5,0,75 mg/kg BB dengan minal
dalam spuit
16
7,5 mg, > 20 kg: 0,5 mg/kg BB. Dosis rata-rata dipakai 0,3
mg/kg BB/kali dengan maksimal 5 mg pada anak berumur
kurang dari 5 tahun, dan 10 mg pada anak yang lebih besar.
2) Untuk mencegah edema otak, berikan kortikosteroid dengan
dosis 20-30 mg/kg BB/hari dan dibagi dalam 3 dosis atau
sebaiknya glukortikoid misalnya dekametazon 0,5-1 ampul
setiap 6 jam.
3) Setelah kejang teratasi dengan diazepam selama 45-60 menit
disuntikan antipileptik daya kerja lama misalnya fenoberbital,
defebilhidation diberikan secara intramuskuler. Dosisis awal
neonatus 30mg: umur satu bulan satu tahun 50mg, umur satu
tahun ke atas 75 mg.
b. Penatalksanaan Keperawatan
1) Airway
a) Baringkan pasien ditempat yang rata, kepala dimiringkan
dan pasangkan sudip lidah yang telah dibungkus kasa atau
bila ada guedel lebih baik.
b) Singkirkan benda- benda yang ada disekitar pasien,
mengganti pakaian yang menyerap keringat yang
mengganggu pernapasan
c) berikan O2 boleh sampai 4 L/ mnt.
2) Breathing
a) Isap lendir sampai bersih
17
3) Circulation
a) Bila suhu tinggi lakukan kompres hangat secara intensif.
b) Setelah pasien bangun dan sadar berikan minum hangat
(berbeda dengan pasien tetanus yang jika kejang tetap
sadar).
4) Setelah ABC aman. Baringkan pasien di tempat yang rata
untuk mencegah terjadinya perpindahan posisi tubuh kearah
danger.
5) Kepala di miringkan dan pasang sundip lidah yang sudah di
bungkus kasa.
6) Jaukan benda-benda yang ada di sekitar pasien yang bisa
menyebabkan bahaya.
7) Lepaskan pakaian yang menganggu pernapasan
8) Bila suhu tubuh tinggi berikan kompres hangat
9) Setelah pasien sadar dan terbangun berikan minuman air hangat
10) Jangan diberikan selimut tebal karena uap panas akan sulit akan
dilepaskan
18
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Menurut Lestari (2016) pengkajian kejang demam meliputi:
a. Identitas.
Nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tempat tanggal lahir,
agama, pendidikan, nama orang tua, pekerjaan orang tua,
pendidikan orang tua, tempat tinggal.
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Anak yang mengalami peningkatan suhu tubuh >38°C, pasien
mengalami kejang dan bahkan pada pasien kejang demam
kompleks biasanya mengelami mengalami penurunan kesadaran.
2) Riwayat Kesehatan sekarang
Orang tua klien biasanya mengatakan badan anaknya terasa
panas, anaknya sudah mengalami kejang 1 kali atau berulang
dan durasi kejangnya berapa lama, tegantung jenis kejang
demam yang dialami anak
3) Riwayat penyakit dahulu
biasanya pada pasien dengan kejang demam kompleks
mengalami gangguan keterlambatan perkembangan dan
intelegensi pada anak serta megalami kelemahan pada anggota
gerak (hemifarise).
19
4) Riwayat imunisasi: biasanya anak dengan
riwayat imunisasi tidak lengkap rentan tertular penyakit infeksi
atau virus seperti virus influenza.
5) Riwayat penyakit keluarga
Orang tua anak atau salah satu dari orang tuanya ada yang
memiliki riwayat kejang demam sejak kecil.
6) Riwayat imunisasi
Anak yang tidak lengkap melakukan imunisasi biasanya lebih
rentan terkena infeksi atau virus seperti virus influenza.
7) Riwayat nutrisi
Saat sakit, biasanya anak mengalami penurunan nafsu makan
karena mual dan muntah.
c. Pemeriksaan fisik Menurut Lestari (2016) pemeriksaan fisik
meliputi sebagai berikut:
1) keadaan umum biasanya anak rewel dan selalu menangis,
biasanya kesadaran compos mentis.
2) TTV (tanda-tanda vital) suhu tubuh biasanya >38 °C, respirasi
untuk anak 20-30 kali / menit, nadi pada anak usia 2 - 4 tahun
>100 kali /menit.
3) BB (berat badan), biasanya pada anak kejang demam tidak
mengalami penurunan berat badan yang berarti.
4) Kepala, tampak simetris dan tidak ada kelainan yang tampak
5) Mata, kedua mata simetris antara kiri dan kanan, sklera tidak
ikterik dan konjungtiva pucat.
20
6) Hidung, penciuman baik dan tidak ada pernapasan cuping
hidung, bentuk hidung simetris, mukosa hidung berwarna merah
muda.
7) Mulut, gigi lengkap dan tidak ada caries, mukosa bibir tampak
kering dan pecah pecah, tongsil tidak hiperemis.
8) Leher, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.
9) Thoraks (dada), inspeksi biasanya gerakan dada simetris, tidak
ada penggunaan otot bantu pernafasan. Palpasi, biasanya
vremitus kiri kanan sama. Auskultasi, biasanya ditemukan suara
nafas tambahan.
10) Jantung, biasanya mengalami penurunan dan peningkatan
denyut jantung. Inspeksi, cordis tidak terlihat. Palpasi, iktus
cordis di ICS V teraba. Perkusi, batas kiri jantung: ICS II kiri di
line parastrenalis kiri (pinggang jantung), ICS V kiri agak ke
mideal linea midclavicularis kiri. Batasan bawah kanan jantung
disekitar ruang intercostals III-IV kanan, dilinea parasternalis
kanan, batas atasnya di ruang intercostal II kanan linea
parasternalis kanan. Auskultasi, bunyi jantung S1 S2 lup dup.
Suara S1 lebih keras dari S2.
11) Abdomen, lemas dan datar, tidak ada kembung, tidak ada nyeri
tekan.
12) Anus, biasanya tidak terjadi kelainan pada genitalia dan tidak
ada lecet pada anus.
13) Ekstermitas atas dan bawah tonus otot mengalami kelemahan
dan CRT >2 detik, akral teraba dingin.
21
14) Penilaian tingkat kesadaran Composmentis (CM), yaitu
kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua
pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya, nilai GCS: 15-14.
Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan
dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh, nilai 13-12.
Delirium, yaitu gelisah dan disorentasi (waktu, tempat dan
orang), membrontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang
berhayal, nilai GCS: 11-10. Somnolen (obtundasi, letargi), yaitu
kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah
tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah
dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi
jawaban verbal, nilai GCS: 9-7. Stupor (spoor koma), yaitu
kesadaran seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri,
nilai GCS: 6-4. Coma (comatose), yaitut idak biasa
dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun
(tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga
tidak ada respon pupil terhadap cahaya), nialai GCS: ≤3
d. Pemeriksaan penunjang
3) EEG (Electroencephalogram)
Pemeriksaan EEG dibuat 10-14 hari setelah bebas panas tidak
menunjukan kelainan likuor. Gelombang EEG lambat didaerah
belakang dan unilateral menunjukan kejang demam kompleks.
22
4) Lumbal Pungsi
Fungsi lumbar merupakan pemeriksaan cairan yang ada di otak
dan kanal tulang belakang (cairan serebrospinal) untuk meneliti
kecurigaan meningitis. Pada anak dengan usia > 18 bulan, fungsi
lumbal dilakukan jika tampak tanda peradangan selaput otak,
atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi sistem
saraf pusat.
5) Neuroimaging
Yang termasuk pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah
CT- Scan, dan MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan
pada kejang demam yang baru terjadi untuk pertama kalinya.
Pemeriksaan tersebut dianjurkan bila anak menujukkan kelainan
saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan, gangguan
keseimbangan, sakit kepala yang berlebihan, ukuran lingkar
kepala yang tidak normal.
6) Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium ini harus ditujukan untuk mencari
sumber demam, bukan sekedar pemeriksaan rutin.
Pemeriksaannya meliputi pemeriksaaan darah rutin, kadar
elektrolit, kalsium, fosfor, magnesium, atau gula darah.
23
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respon
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yan dialaminya
baik yang berlangsung aktual maupun potensial ( PPNI, 2017).
Diagnosa keperawatan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pemilihan
intervensi yang menjadi tanggung gugat perawat (Hidayat, 2021).
Menurut Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia kemungkinan
diagnosa yang bisa muncul dari penyakit kejang demam yaitu:
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit atau peningkatan
laju metabolisme
b. Gangguan pertukaan gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi perfusi
c. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
d. Risiko perfusi serebral tidak efektif berhubungan dengan
Peningkatan sirkulasi O2 di otak
e. Risiko cedera dibutikan dengan perubahan sensasi atau hipoksia
jaringan
f. Risiko aspirasi dibuktikan dengan penurunan tingkat kesadaran
g. Risiko gangguan perkembangan dibuktikan dengan infeksi
h. Defisit pengetahuan beruhubungan dengan kurang terpapar informasi
3. Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan disusun berdasarkan Standar Luaran
Keperawatan Indonesia (PPNI., 2018) dan Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia (PPNI, 2018).
24
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Keperawatan Intervensi Keperawatan
Keperawatan (SLKI) (SIKI)
(SDKI)
1 Hipertermia Termoregulasi (L.14134 Hal 129) Manajemen Hipertermia (I.15506 Hal 181)
Setelah dilakukan Tindakan Observasi
keperawatan selama … x 24 jam 1. Identifikasi penyebab hipertermia (mis
diharapkan masalah hipertermia dehidrasi, terpapar lingkungan panas
teratasi dengan kriteria hasil: dll)
1. Menggigil dari skala 1 2. Monitor suhu tubuh
meningkat menjadi skala 5 3. Monitor kadar elektrolit
menurun 4. Menitor haluaran urine
2. Kulit merah dari skala 1 5. Monitor kompikasi akibat hipertermia
meningkat menjadi skala 5 Terapeutik
menurun 6. Sediakan lingkungan yang dingin
3. Kejang dari skala 1 meningkat 7. Longgarkan atau mengganti pakaian
menjadi skala 5 menurun yang menyerap keringat
4. Konsumsi oksigen dari skala 1 8. Basahi dan kipasi permukaan tubuh
meningkat menjadi skala 5 9. Berikan cairan oral
menurun 10. Ganti linen setiap hari jika mengalami
5. Pucat dari skala 1 meningkat hyperhidrosis (kringat berlebih)
menjadi skala 5 menurun 11. Lakukan pendinginan eksternal (mis.
6. Takikardi dari skala 1 Selimut hipertermia atau kompres pada
meningkat menjadi skala 5 dahi, leher, atau axila)
menurun 12. Berikan oksigen, jika perlu
7. Takipnea dari skala 1 meningkat Edukasi
menjadi skala 5 menurun 13. Anjurkan tirah baring
8. Hipoksia dari skala 1 meningkat Kolaborasi
menjadi skala 5 menurun 14. Kolaborasi pemberian cairan dan
9. Suhu tubuh dari skala 1 elektrolit intavena, jika perlu
memburuk menjadi skala 5
Membaik
10. Ventilasi kala 1 memburuk
menjadi skala 5 Membaik
2 Gangguan Pertukaran Gas (L.01003 Hal 94) Pemantauan Respirasi (I.01014 Hal 247)
pertukaran gas Setelah dilakukan asuhan ...x 24 jam Observasi
diharapkan ventilasi pasien tidak 1. Monitor frekuensi, irama,
terganggu dengan kedalaman dan upaya napas
Kriteria Hasil: 2. Monitor pola napas (seperti
1. Tingkat kesadaran dari skala 1 bradypnea, takipnea, hiperventilasi,
menurun menjadi skala 5 kussmau, Cheyne-stokes, biot, ataksik)
Meningkat 3. Monitor kemampuan batuk efektif
2. Dyspnea dari skala 1 meningkat 4. Monitor adanya produksi sputum
menjadi skala 5 menurun 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas
3. Bunyi napas tambahan dari 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
skala 1 meningkat menjadi skala 7. Auskultasi bunyi napas
5 menurun 8. Monitor saturasi oksigen
4. Gelisah dari skala 1 meningkat 9. Monitor nilai AGD
menjadi skala 5 menurun 10. Monitor hasil X-ray toraks
5. Napas cuping hidung dari skala Terapeutik
1 meningkat menjadi skala 5 11. Atur interval pemantauan
menurun respirasi sesuai kondisi pasien
6. GDA membaik ( PO2 = 80 – 12. Dokumentasikan hasi pemantauan
100 mmHg, PCO2 = 35 – 45 Edukasi
mmHg, pH = 7,35 – 7,45, SaO2 13. Jelaskan tujuan dan prosedur
= 95 – 99 %) (5) pemantauan
7. Sianosis dari skala 1 14. Informasikan hasi pemantauan, jika
memburuk menjadi skala 5 perlu
membaik
25
8. Takikardia dari skala 1
memburuk menjadi skala 5
membaik
9. Warna kulit dari skala 1
memburuk menjadi skala 5
membaik
3 Pola napas Pola Napas (L.01004 Hal 95) Manajemen Jalan Napas (I.01011 Hal
tidak efektif 187)
Setelah dilakukan asuhan Observasi
keperawatan selama …x24 jam 1. Monitor pola napas (frekuensi,
masalah gangguan pola napas tidak kedalaman, usaha napas)
efektif dapat teratasi dengan kriteria 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis.
hasil: Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi
1. Dispnea dari skala 1 kering)
meningkat menjadi skala 5 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
menurun Terapeutik
2. Penggunaan otot bantu napas 4. Pertahankan kepatenan jalan napas
dari skala 1 meningkat menjadi dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-
skala 3 sedang thrust jika curiga trauma survikal)
3. Kedalaman napas dari 1 5. Posisikan semi-fowler atau fowler
memburuk menjadi skala 5 6. Berikan minuman hangat
membaik 7. Berikan oksigen, jika perlu
4. Frekuensi napas dari 1 Edukasi
memburuk menjadi skala 5 8. Anjurkn asupan cairan 2000
membaik ml/hari, jika tidak kontraindikasi
9. Ajarkan batuk efektif
Kolaborasi
10. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
4 Risiko cedera Kontrol Kejang (L.06050 Hal 56) Pencegahan Kejang (I.14542 Hal 280)
Setelah dilakukan Tindakan Observasi
keperawatan selama …x 24 jam 1. Monitor status neurologis
diharapkan kejang tidak terjadi 2. Monitor Tanda-tanda vital
dengan kriteria hasil: Terapeutik
1. Kemampuan mengidentifikasi 3. Baringkan pasien agar tidak terjatuh
risiko/ pemicu kejang dari skala 4. Rendahkan ketinggian tempat tidur
1 menurun menjadi skala 5 5. Pasang side-rail tempat tidur
meningkat 6. Berikan alas empuk diatas kepala,
2. Kemampuan mencegah risiko/ jika memungkinkan
pemicu kejang dari skala 1 7. Jauhkan benda-benda berbahaya
menurun menjadi skala 5 terutama benda tajam
meningkat 8. Sediakan suction disamping tempat
3. Pola tidur dari skala 1 menurun tidur
menjadi skala 5 meningkat Edukasi
4. Mendapatkan obat yang 9. Anjurkan keluarga segera melapor jika
dibutuhkan dari dari skala 1 merasakan aura
meningkat menjadi skala 5 10. Ajarkan keluarga pertolongan pertama
menurun pada kejang
5. Melaporkan frekuensi kejang Edukasi
dari skala 1 meningkat menjadi 11. Kolaborasi pemberian antikonvulsan,
skala 5 menurun jika perlu
5 Risiko aspirasi Tingkat Aspirasi (L.01006 Hal 133) Pencegaha Aspirasi (I. 01018 Hal. 273)
Observasi
Setelah dilakukan intervensi 1. Monitor tingkat kesadaran, batuk,
keperawatan …x 24 jam masalah muntah dan kemampuan menelan
2. Monitor status pernapasan
26
terhadap tingkat aspirasi dapat 3. Monitor bunyi napas terutama
diatasi dengan kriteria hasil : setelah makan/minum
4. Periksa residu gaster sebelum memberi
1. Tingkat kesadaran dari skala 1 asupan oral
meningkat menjadi skala 5 5. Periksa kepatenan selang
menurun nasogastric sebelum memberi
2. Kemampuan menelan dari skala asupan oral
1 meningkat menjadi skala 5 Terapeutik
menurun 6. Posisikan semi fowler (30-45 derajat)
3. Kebersihan mulut dari skala 1 30 menit sebelum memberi asupan oral
meningkat menjadi skala 5 7. Pertahankan posisi semi fowler pada
menurun pasien
4. Dispnea dari skala 1 meningkat 8. Pertahankan kepatenan jalan napas
menjadi skala 5 menurun (mis. Teknik head tilt chin lift, jaw
5. Kelemahan otot dari skala 1 thrust, in line)
meningkat menjadi skala 5 9. Perhatikan pengembangan
menurun balon endotracheal tube (ETT)
6. Akumulasi secret dari skala 1 10. Lakukan penghisapan jalan napas,
meningkat menjadi skala 5 jika produksi secret meningkat
menurun 11. Sediakan suction di ruangan
7. Sianosis dari skala 1 meningkat 12. Hindari memberi makan melalui selang
menjadi skala 5 menurun gastrointestinal, jika residu banyak
8. Gelisah dari skala 1 meningkat 13. Berikan makanan dengan ukuran kecil
menjadi skala 5 menurun atau lunak
9. Frekuensi napas dari skala 1 14. Berikan obat oral dalam bentuk cair
memburuk menjadi skala 5 Edukasi
membaik 15. Anjurkan makan secara perlahan
16. Ajarkan strategi mencegah aspirasi
17. Ajarkan Teknik mengunyah
atau menelan, jika perlu
6 Risiko Status Perkembangan (L.010101 Promosi Perkembangan Anak (I. 10340
gangguan Hal 124) Hal. 381)
perkembangan Observasi
Setelah dilakukan intervensi 1. Identifikasi kebutuhan khusus anak
keperawatan …x 24 jam masalah dan kemampuan adaptasi anak
terhadap status perkembangan Terapeutik
normal dengan kriteria hasil : 2. Fasilitasi hubungan anak dengan
teman sebya
1. Keterampilan/perilaku sesuai 3. Dukung anak berinteraksi dengan
usia dari skala 1 menurun anak lain
menjadi skala 5 meningkat 4. Dukung anak
2. Kemampuan melakukan mengeksperesikan perasaan nya
perawatan dari skala 1 menurun secara positif
menjadi skala 5 meningkat 5. Berikan permainan yang sesuai dengan
3. Respon dari skala 1 menurun usia anak
menjadi skala 5 meningkat 6. Bernyanyi Bersama anak lagu-lagu
4. Kontak mata dari skala 1 yang disukai anak
menurun menjadi skala 5 7. Sediakan kesempatan dan alat-alat
meningkat untuk menggambar,melukis, dan
5. Afek dari skala 1 memburuk mewarnai
menjadi skala 5 membaik Edukasi
8. Jelaskan nama-nama benda obyek yang
ada di lingkungan sekitar
9. Ajarkan sikap koopratif, bukan
kompetisi di antara anak
10. ajarkan cara anak meminta bantun
dari anak lain, jika perlu
11. ajarkan Teknik asertif pada anak
27
4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan
disusun dan ditujukan pada nursing order untuk membantu klien
mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari pelaksanaan adalah
mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, memfasilitasi
koping. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi independent (suatu
tindakan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk/ perintah dari
dokter atau tenaga kesehatan lainnya). Dependent (suatu tindakan
dependent berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis,
tindakan tersebut menandakan suatu cara dimana tindakan medis
dilaksanakan) dan interdependent suatu tindakan yang memerlukan
kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya tenaga social,
ahli gizi, fisioterapi dan dokter (Asmadi, 2008).
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang terjadi pada setiap langkah
dari proses keperawatan dan pada kesimpulan. Evaluasi keperawatan
adalah tahap terakhir dari proses keperawatan. Evaluasi keperawatan
ialah evaluasi yang dicatat disesuaikan dengan setiap diagnosa
keperawatan. Evaluasi keperawatan terdiri dari dua tingkat yaitu
evaluasi sumatif dan evaluasi formatif.
Evaluasi sumatif yaitu evaluasi respon (jangka panjang) terhadap
tujuan, dengan kata lain, bagaimana penilaian terhadap perkembangan
28
kemajuan ke arah tujuan atau hasil akhir yang diharapkan. Evaluasi
formatif atau disebut juga dengan evaluasi proses, yaitu evaluasi
terhadap respon yang segera timbul setelah intervensi keperawatan di
lakukan. Format evaluasi yang digunakan adalah SOAP. S: Subjective
yaitu pernyataan atau keluhan dari pasien, O: Objective yaitu data yang
diobservasi oleh perawat atau keluarga, A: Assassment yaitu
kesimpulan dari objektif dan subjektif, P: Planning yaitu rencana
tindakan yang akan dilakukan berdasarkan analisis (Dewinta, 2020).
2
C. Web Of Causation (WOC) Kejang Demam SLKI: Termoregulasi SIKI: Manajemen Hipertermia
Proses Inflamasi Inflamasi Suhu Tubuh MeningkatPireksia (Demam) SDKI:
Infeksi Hipertermia
Penyakit
Peningkatan sirkulasi O2 di otak
Ketidakseimbang Kebutuhan O2 meningkat
Kenaikan20%
Metabolisme Basal 10-15 %
Pelepasan muatan listrik Difusi Ion an membrane sel
meluas ke sel oleh K+ dan menurun
SDKI: Risiko perfusi Serebral Tidak Efektif
Kejang Demam SLKI: Perfusi Serebral
SIKI: Manajemen
peningkatan tekanan
Kejang >15 mnt Apnea, keb O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal meningkat
Kejang Demam Simpleks Kejang Demam Kompleks Gejala sisa (Hemiparesis) Hipoksemia
EEG Abnormal
Hipotensi, denyut jantung tidak teratur
Kejang <15 mnt Lidah jatuh kebelakang Epilesi
Cairan/ secret di jalan napas
Timbul dalam 16 jam pertama setelah muncul demam
Umur 6 bln- 4 tahun SDKI: Pola
Penyumbatan Napas
jalan nafas
Kejang bersifat umum Tidak Efektif SDKI: Risiko Keterlambatan Perkembangan
Pemeriksaan Syaraf normal SDKI: Risiko Aspirasi Hiperkapnia
EEG Normal
Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak >4 kali
Tanpa gejala sisa Metabolisme anaerob
SLKI: Tingkat aspirasi SLKI: Status
SLKI: Pola napas SIKI: Pencegahan perekambangan SIKI:
SIKI: Manajemen jalan napas aspirasi Promosi Perkembangan
3
Lanjutan Web Of Caution (WOC) Pasca Kejang Demam
Kejang
demam
Sesak
napas,
4. Kejang >15 mnt Risiko SDKI: SLKI: Kontrol kejang
5. Gejala sisa (Hemiparesis) kejang Risiko SIKI: Pencegahan
6. EEG Abnormal Kejang SDKI:
Gangguan
Pertukaran
Pengobatan
dan perawatan
SLKI: Pertukaran gas
Kurang informasi SIKI: Pemantauan
pengobatan dan Sumber lestari (2016); Nurarif & Kusuma respirasi
(2015); dimadifikasi oleh Dewi
SDKI: Puspitasari
Defisit
SLKI: Tingkat
pengetahuan SIKI:
Edukasi Kesehatan
31
Menurut lestari (2016) dan Nurarif & Kusuma (2015) kemungkinan
diagnosa prioritas yang muncul dari penyakit kejang demam yaitu:
a. Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi.
b. Gangguan pertukaan gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi perfusi
c. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
d. Risiko perfusi serebral tidak efektif dbuktikan dengan Peningkatan
sirkulasi O2 di otak
e. Risiko cedera berhubungan dengan kejang berulang ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh.
f. Risiko aspirasi dibuktikan dengan penurunan tingkat kesadaran
g. Risiko gangguan perkembangan dibuktikan dengan infeksi
h. Defisit pengetahuan beruhubungan dengan kurang terpapar informasi