1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah
lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang
didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran di
dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi,
otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa
diingatnya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara
teoritis, akan tetapi mereka rendah dalam aplikasi.
Matematika merupakan sarana berfikir ilmiah untuk menuju
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini terus
berkembang. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang dipelajari
disekolah sampai sekarang. Hasil belajar yang diperoleh masih tergolong
rendah. Padahal telah banyak yang telah dilakukan guru dan sekolah agar
hasil belajar matematika bisa lebih baik. Namun ini tidak cukup tanpa di
imbangi usaha dari peserta didik. Dibangdingkan dengan mata pelajaran lain,
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika selalu rendah. Hal ini
2
dikarenakan sebagian besar peserta didik kurang antusias menerimanya.
Peserta didik lebih bersifat pasif, enggan, dan takut atau malu
mengungkapkan ide-ide ataupun penyelesaian terhadap soal-soal latihan yang
diberikan di depan kelas. Tidak sedikit peserta didik kurang mampu
mempelajari matematika sebab matemtika sudah dianggap sulit, menakutkan,
bahkan sebagian dari mereka ada yang membencinya, sehingga matematika
dianggap sebagai momok bagi mereka. Hal ini menyebabkan siswa takut
terhadap matematika.
Ketakutan-ketakutan ini yang muncul dari peserta didik tidak hanya
disebabkan oleh peserta didik itu sendiri, tetapi juga disebabkan oleh
ketidakmampuan guru menciptakan situasi yang mampu membawa peserta
didik tertarik terhadap matematika. Oleh karena itu guru harus mencari cara
untuk dapat menarik peserta didik untuk berani mengarjakan soal-soal latihan
didepan kelas. Salah satunya dengan memberikan motivasi. Motivasi sebagai
keseluruhan daya penggerak dalam diri peserta didik yang menimbulkan
kegiantan belajar, menjamin kelangsungan dalam kegiatan belajar dan
memberikan arahan kepada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dihendaki
peserta didik dapat tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang
dapat mempengaruhi keberhasilan peserta didik. Fungsi utamanya adalah
untuk menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat dalam belajar.
Peserta didik yang memiliki motivasi tinggi akan mempunyai banyak energi
3
untuk melakukkan kegiatan belajar. Hasil belajar tentunya akan optimal kalau
ada motivasi yang tepat.
Faktor yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan belajar
matematika yaitu pemilihan model pembelajaran. Model pembelajaran
diperlukan untuk memperkecil kesulitan peserta didik dalam memperlajari
matematika. Seorang guru matematika perlu mengerti dan memahami tentang
model-model pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan
kebermaknaan dan pemahaman terhadap matematika.
Seorang pendidik akan memilih strategi pembelajaran agar tujuan belajar
dapat tercapai secara efektif dan efisien. Efektif dalam arti semua potensi
dapat dimanfaatkan, efisien dalam arti hasil yang diperoleh sesuai dengan apa
yang dikeluarkan sehingga memungkinkan peserta didik untuk bergerak lebih
lanjut.
Penggunaan suatu strategi pembelajaran akan membantu kelancaran,
efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan. Guru di tuntut harus dapat
menetapkan strategi pembelajaran yang paling tepat dan sesuai untuk tujuan
tertentu, penyampaian bahan tertentu, suatu kondisi belajar peserta didik dan
untuk suatu penggunaan strategi atau metode yang memang telah dipilih.
Tujuan utama seorang guru dalam muwujudkan tujuan pendidikan disekolah
adalah mengembangkan strategi belajar-mengajar yang efektif.
Pengembangan strategi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan
4
keadaan belajar yang lebih menyenangkan dan dapat mempengaruhi peserta
didik, sehingga mereka dapat belajar dengan menyenangkan dan dapat
mencapai hasil belajar yang baik. Oleh karena itu, melaksanakan kegiatan
belajar mengajar merupakan pekerjaan yang komplek dan menuntut
kesungguhan guru.
Strategi pembelajaran yang diharapkan membuat peserta didik lebih aktif
adalah strategi pembelajaran dengan Model pembelajaran Learning Cycle 5
Fase. Model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase merupakan suatu model
pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle 5
Fase merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasikan
sedemikian rupa sehingga peserta didik berperan aktif untuk dapat menguasai
kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran.
Pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan
pendekatan kontruktivis. Model pembelajaran siklus pertama kali
diperkenalkan oleh Robert Karplus dalam Science Curriculum Improvement
Study/SCIS. Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan
pendekatan kontruktivis yang pada mulanya terdiri atas tiga tahap yaitu :
1. Eksplorasi (exploration)
2. Pengenalan konsep (concept introduction), dan
3. Penerapan konsep (concept introduction)
5
Pada proses selanjutnya, tiga tahap siklus tersebut saat ini dikembangkan
menjadi lima tahap yang terdiri atas tahap:
1. Pembangkitan minat (engagement)
2. Eksplorasi (exploration)
3. Penjelasan (explanation)
4. Elaborasi (elaboration/extention), dan
5. Evaluasi (evaluation).1
Dalam penelitian ini model pembelajaran yang digunakan adalah Learning
Cycle 5 Fase.
Sedangkan, Model pembelajaran Learning Start With a Question adalah
strategi pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan siswa
dalam pembelajaran dikelas.2 Tipe Learning Start With a Question (LSQ)
adalah strategi pembelajaran aktif dalam bertanya, dimana siswa dilibatkan
langsung dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran akan menciptakan situasi belajar aktif. Belajar aktif sangat
diperlukan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang maksimum. Dalam
pembelajaran aktif, siswa sebagai subjek melakukan banyak kegiatan,
sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.
1
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer.(Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h.170-171.
2
Silberman, active learning – 101 Strategi Pembelajaran Aktif(terjemahaan Raisul Muttaquien),
(Bandung: Penerbit Nusamedia, 2012)
6
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan
hasil belajar, dengan judul : “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa
pada Materi Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan Model
Learning Cycle 5 Fase dengan Model Learning Start With a Question di
kelas VIII SMPN 7 Tambun Selatan.”
B. Identifikasi Masalah
Bertolak dari latar belakang tersebut di atas dapat diidentifikasikan
beberapa masalah, antara lain:
1. Apakah materi yang dijelaskan guru dimengerti peserta didik dengan
baik?
2. Apakah interaksi antara guru dengan siswa sudah aktif?
3. Apakah model pembelajaran yang digunakan guru sudah tepat?
4. Apakah model pembelajaran learning cycle 5 fase yang digunakan guru
dapat dimengerti peserta didik dengan baik?
5. Apakah model pembelajaran learning start with a question yang diajarkan
guru dapat dimengerti peserta didik dengan baik?
6. Apakah terdapat Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi
Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan Model Learning Cycle 5
7
Fase dengan Model Learning Start With a Question di kelas VIII SMPN 2
Tambun Selatan?
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas,
penulis membatasi penelitian pada satu masalah saja yaitu mengenai
Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi Bangun Ruang yang
diajarkan menggunakan Model Learning Cycle 5 Fase dengan Model
Learning Start With a Question di kelas VIII SMPN 7 Tambun Selatan.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan
masalah penelitian ini yaitu: “Apakah terdapat Perbedaan Hasil Belajar
Matematika Siswa pada Materi Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan
Model Learning Cycle 5 Fase dengan Model Learning Start With a Question
di kelas VIII SMPN 7 Tambun Selatan?”.
E. Kegunaan Masalah
Kegunaan hasil penelitian ini khususnya untuk perbaikan kualitas
pendidikan di SMPN 7 Tambun Selatan dan terwujudnya pembelajaran
8
matematika yang bermakna serta memudahkan peserta didik dalam
memahami materi pembelajaran matematika. Adapun kegunaan bagi peserta
didik, guru dan sekolah adalah:
1. Sekolah
Dengan mengetahui perbedaan hasil belajar matematika pada materi
bangun ruang yang diajarkan dengan model learning cycle 5 fase dengan
model learning start with a question maka, diharapakan dapat dipakai
sebagai bahan pertimbangan dalam pembinaan dan pengembangan
sekolah yang bersangkutan.
2. Guru
Sebagai masukan dalam mengelola dan meningkatkan strategi belajar
mengajar serta mutu pengajaran. Dengan mengetahui pola-pola cara
belajar peserta didik maka, guru dapat menyesuaikan proses belajar
mengajar dengan model pembelajaran yang sesuai.
3. Peserta Didik
Dengan mengatahui perbedaan hasil belajar matematika pada materi
bangun ruang yang diajarkan dengan model learning cycle 5 fase dengan
model learning start with a question maka, diharapakan dapat dipakai
9
sebagai bahan pertimbangan untuk menyesuaikan cara belajar sehingga
dapat memperbaiki nilai dalam materi bangun ruang.
10
BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR
DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Teori
1. Hakekat Hasil Belajar Matematika Materi Bangun Ruang
a. Belajar
Menurut Purwanto belajar adalah suatu proses yang menimbulkan
terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau
kecakapan.3
Menurut R. Gagne, belajar didefinisikan sebagai suatu proses di mana
suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar
dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Dua konsep ini menjadi terpadu dalam satu kegiatan di mana
terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa pada
saat pembelajaran berlangsung.4
Bagi Gagne, belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk memperoleh
motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
Selain itu, Gagne juga menekankan bahwa belajar sebagai suatu upaya
3
A. Aziz Saefudin, Meningkatkan Profesionalisme Guru dengan PTK(Yogyakarta :Citra Adi Pratama,
2012), h. 128.
4
Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana Prendamedia,
2013), hal. 1.
11
memperoleh pengetahuan atau ketrampilan melalui instruksi. Instruksi
yang dimaksud adalah perintah atau arahan dan bimbingan dari seseorang
pendidik atau guru.5
Belajar dilakukan untuk memperoleh adanya perubahan dalam aspek
kognitif, afektif dan psikomotorik atau perubahan prilaku pada individu
yang melakukan kegiatan belajar. Perubahan prilaku itu merupakan
perolehan yang menjadi hasil belajar.
Dari uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah proses
berinteraksi dalam diri individu dengan lingkunganya untuk mendapatkan
perubahan dalam prilakunya.
b. Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang
membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil menunjukkan
pada suatu perolehan akibat dilakukanya suatu aktivitas atau proses yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar
adalah proses berinteraksi dalam diri individu dengan lingkunganya untuk
mendapatkan perubahan dalam prilakunya.
Menurut Sudjana, Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya, dimana siswa
5
Ibid., hlm. 1-2.
12
memperoleh hasil dari suatu interaksi tindakan belajar. Diawali dengan
siswa mengalami proses belajar, mencapai hasil belajar, dan menggunakan
hasil belajar, yang semua itu mencakup tiga ranah, yaitu ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotorik.6
Oleh Sudjana, bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi
oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri siswa dan faktor yang
datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.7
Berdasarkan teori-teori diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar
didalamnya mencakup ranah kognitif, ranah afektif dan ranah
psikomotorik.
c. Hakekat Matematika
Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan
terorganisir secara matematika.
Menurut James dan James, matematika adalah ilmu tentang logika,
mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang
berhubungan satu dengan lainya dengan jumlah yang banyak yang terbagi
ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.8
6
Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Ramaja Rosdakarya, 2008),
h.22.
7
Susanto, Op. Cit. hlm. 15.
8
[Link]
kurikulum di unduh: 08/01/16 pukul 19.55 WIB.
13
Sedangkan menurut Suherman, matematika adalah disiplin ilmu
tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif.9
Lain halnya dengan Russefendi, yang mengatakan bahwa matematika
terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-
definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil di mana dalil-dalil setelah
dibuktikan kebenaranya berlaku secara umum, karena itulah matematika
sering disebut ilmu deduktif.10
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa matematika
adalah ilmu tentang logika yang bersifat deduktif.
d. Materi Bangun Ruang
Bangun ruang diartikan oleh Agus Suharjana adalah bagian ruang
yang dibatasi oleh himpunan titik-titik yang terdapat pada seluruh
permukaan bangun tersebut.11 Sedangkan menurut Nur Laila Indah Sari,
Bangun ruang adalah suatu bangun tiga dimensi yang memiliki volume
atau isi.12
9
Ibid
10
Ibid
11
Agus Suharjana, Pengenalan Bangun Ruang dan Sifat-sifatnya di SD, (Yogyakarta: PPPPTK
Matematika, 2008), h.5.
12
Nur Laila Indah Sari, Asiknya Belajar Bangun Ruang Sisi Datar, (Jakarta: Balai Pustaka, 2012), h.1
14
Materi Bangun Ruang yang diambil oleh peneliti ini adalah pokok
bahasan bangun ruang , dengan mengambil subpokok bahasan kubus,
balok, prisma, limas.
Adapun ringkasan materi yang telah disampaikan dan diajarkan
kepada peserta didik sebagai berikut:
1. Kubus
Kubus adalah sebuah bangun ruang yang semua sisinya berbentuk
persegi dan semua rusuknya sama panjang.
- Unsur – unsur kubus
a. Sisi/Bidang
Sisi kubus adalah bidang yang membatasi kubus, dari
gambar terlihat bahwa kubus memiliki 6 buah sisi yang
semuanya berbentuk persegi dan kongruen, yaitu ABCD (sisi
bawah), EFGH (sisi atas), ABFE (sisi depan), CDHG (sisi
15
belakang), BCGF (sisi samping kiri), dan ADHE (sisi samping
kanan).
b. Rusuk
Rusuk kubus adalah garis potong antara dua sisi bidang kubus
dan terlihat seperti kerangka yang menyusun kubus, dari gambar
terlihat bahwa kubus memiliki 12 buah rusuk yang semuanya
berukuran sama panjang, yaitu AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH,
HE, AE, BF, CG, dan DH.
c. Titik Sudut
Titik sudut kubus adalah titik potong antara dua rusuk. Kubus
memiliki 8 buah titik sudut, yaitu: A, B, C, D, E, F, G, dan H.
d. Diagonal Sisi
Diagonal bidang adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua
buah titik yang berhadapan dalam satu bidang. Pada kubus
memiliki 12 diagonal sisi, yaitu: AC, BD, EG, FG, AF, BE,
CH, DG, BG, CF, AH, DE.
e. Diagonal Ruang
Diagonal ruang adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua
buah titik yang berhadapan dalam satua ruang. Pada kubus
memiliki 4 diagonal ruang, yaitu: AG, EC, HB, FD.
16
f. Bidang Diagonal
Bidang diagonal adalah sebuah bidang yang terbentuk dari dua
buah diagonal bidang dan dua rusuk yang sejajar. Pada kubus
memiliki 6 buah bidang diagonal, yaitu: ABGH, CDEF,
FGDA, EHCB, EGCA, DBFH.
- Sifat – sifat kubus
a. Semua sisi kubus berbentuk persegi.
b. Semua rusuk kubus berukuran sama panjang.
c. Setiap diagonal bidang pada kubus memiliki ukuran yang sama
panjang.
d. Setiap diagonal ruang pada kubus memiliki ukuran sama
panjang
e. Setiap bidang diagonal pada kubus memiliki bentuk persegi
panjang.
- Jaring – jaring kubus
17
- Luas permukaan kubus
Luas permukaan kubus = 6 ×luas persegi
= 6 × ( s × s)
= 6× s2
= 6 s2
- Volume kubus
Volume kubus = luas alas × tinggi
= ( s × s) × s
= s3
2. Balok
Balok adalah bangun ruang yang memiliki tiga pasang sisi yang
berhadapan yang sama bentuk dan ukuranya, dimana setiap sisinya
berbentuk persegi panjang.
18
- Unsur – unsur balok
a. Sisi/Bidang
Sisi balok adalah bidang yang membatasi suatu balok.
Balok memiliki 6 buah sisi berbentuk persegi panjang, yaitu:
ABCD (sisi bawah), EFGH (sisi atas), ABFE (sisi depan), CDHG
(sisi belakang), BCGF (sisi samping kiri), dan ADHE (sisi
samping kanan).
b. Rusuk
Rusuk balok adalah garis potong antara dua sisi bidang
balok dan terlihat seperti kerangka yang menyusun balok, dari
gambar terlihat bahwa balok memiliki 12 buah rusuk yang
semuanya berukuran sama panjang, yaitu: AB, BC, CD, DA, EF,
FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan DH.
c. Titik Sudut
19
Titik sudut balok adalah titik potong antara dua rusuk. balok
memiliki 8 buah titik sudut, yaitu: A, B, C, D, E, F, G, dan H.
d. Diagonal Sisi
Diagonal Sisi adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua
buah titik yang berhadapan dalam satu bidang. Pada balok
memiliki 12 diagonal sisi, yaitu: AC, BD, EG, FG, AF, BE,
CH, DG, BG, CF, AH, DE.
e. Diagonal Ruang
Diagonal ruang adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua
buah titik yang berhadapan dalam satua ruang. Pada kubus
memiliki 4 diagonal ruang, yaitu: AG, EC, HB, FD.
f. Bidang Diagonal
Bidang diagonal adalah sebuah bidang yang terbentuk dari dua
buah diagonal bidang dan dua rusuk yang sejajar. Pada kubus
memiliki 6 buah bidang diagonal, yaitu: ABGH, CDEF, FGDA,
EHCB, EGCA, DBFH.
- Sifat – sifat balok
a. Sisi-sisi balok berbentuk persegi panjang.
b. Rusuk-rusuk yang sejajar memiliki ukuran sama panjang.
20
c. Setiap diagonal bidang pada sisi yang berhadapan memiliki
ukuran sama panjang.
d. Setiap diagonal ruang pada balok memiliki ukuran sama
panjang.
e. Setiap bidang diagonal pada balok memiliki bentuk persegi
panjang.
- Jaring – jaring balok
- Luas permukaan balok
Lp balok =( p ×l ) + ( p× t )+ ( l ×t ) + ( p× l )+ ( l× t ) + ( p ×t )
= 2 ( p × l )+ 2 ( l ×t )+ 2 ( p ×t )
= 2 ( pl+¿+ pt )
- Volume balok
Volume balok = luas alas × tinggi
= panjang ×lebar × tinggi
21
= p ×l ×t
3. Prisma segi-n
Prisma adalah bangun tiga dimensi yang menempati ruangan. Prisma
mempunyai ukuran dan bentuk yang berbeda. Setiap prisma
mempunyai ciri – ciri sebagai berikut:13
a. Alas: sebuah prisma mempunyai dua alas yang merupakan
segi banyak yang sebangun dan sejajar.
b. Rusuk tegak: garis – garis yang dibentuk dengan
menghubungkan titik – titik sudut berpasangan yang
membentuk serangkaian ruas garis.
c. Muka sisi tegak: jajaran genjang yang dibentuk oleh rusuk –
rusuk tegak.
- Unsur – unsur prisma segi-n
a. Sisi/Bidang
13
Ed Kohn, MS, Seri Matematika Ketrampilan Geometri, (Bandung: Pakar Raya, 2003),h.149.
22
Sisinya = n+2
b. Rusuk
Memiliki rusuk = 3 n
c. Titik Sudut
Memiliki titik sudut = 2 n
d. Diagonal Ruang
Memiliki diagonal ruang = n ( n−3 )
e. Diagonal Bidang
f. Bidang diagonal
- Sifat – sifat prisma
a. Prisma memiliki bentuk alas dan atap yang kongruen.
b. Setiap sisi bagian samping prisma berbentuk persegi panjang.
c. Prisma memiliki rusuk tegak.
d. Setiap diagonal bidang pada sisi yang sama memiliki ukuran
yang sama.
- Jaring – jaring prisma
23
- Luas permukaan prisma
Lp Prisma =2 ×luas alas+luas bidang−bidang tegak
- Volume prisma
Volume prisma =luas alas× tinggi
4. Limas
Limas adalah sebuah benda yang mempunyai sifat-sifat sebagai
berikut14:
a. Limas hanya mempunyai satu alas yang berupa segi banyak.
14
Ibid.,hlm.156.
24
b. Setiap titik sudut alas membentuk sebuah titik, bukan bidang yang
disebut titik puncak.
c. Semua sisi segitiganya yang bertemu pada titik sudut limas disebut
sisi tegak.
d. Garis yang merupakan perpotongan sisi tegak disebut rusuk
tegak.
e. Garis yang tegak lurus dari titik puncak ke bidang alasnya adalah
tinggi limas.
- Unsur – unsur limas segi-n
a. Sisi/Bidang
Memiliki sisi = n+1
b. Rusuk
Memiliki rusuk = 2 n
c. Titik sudut
Memiliki titik sudut = n+1
- Jarring –jaring limas
25
- Luas permukaan limas
Lp Limas = luas alas+ jumlah luas sisi−sisitegak
- Volume limas
1
Volume limas = ×luas alas ×tinggi
3
2. Hakekat Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
dapat digunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka
di dalam kelas atau mengatur tutorial, dan untuk menentukan materi/
perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku - buku, film – film,
tipe – tipe, program – program perangkat komputer, dan kurikulum
(sebagai kursus untuk belajar). Setiap model mengarahkan kita untuk
26
mendesain pembelajaran yang dapat membantu siswa mencapai berbagai
tujuan.15
Fungsi model pembelajaran di sini adalah sebagai pedoman bagi
perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, model pembelajaran adalah suatu
perencanaan yang digunakan sebagai pedoman didalam melaksanakan
pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran.
a. Model Learning Cycle 5 Fase
Model Learning Cycle-5E adalah model pembelejaran yang terdiri
fase-fase atau tahap-tahap kegiatan yang diorganisasikan sedemikian
rupa sehingga siswa data menguasai kompetensi-kompetensi yang harus
dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. 16
Pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan
pendekatan konstruktivis. Model pembelajaran siklus pertama kali
diperkenalakan oleh Robert dan Karplus dalam Science Curriculum
Improvement Study/SCIS. Siklus belajar merupakan salah satu model
pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang pada mulanya terdiri
atas tiga tahap yaitu:
1. Eksplorasi (exploration),
2. Pengenalan konsep (concept introduction), dan
15
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta : Bumi Aksara, 2010), h. 52.
16
Faizatul fajaroh dan I Wayan dasna, Pembelajaran dengan siklus belajar jurusan kimia FMIPA
UM,2007(Http:// [Link]/2007/09/20/pembelajaran-dengan-model-siklus-belajar-learning-
cycle/ diakses 29 juni 2015
27
3. Penerapan konsep (concept application).
Pada proses selanjutnya, tiga siklus tersebut mengalami
pengembangan. Tiga siklus tersebut saat ini dikembangkan menjadi lima
tahap oleh Anthony W lorsbach, yang terdiri atas tahap (1) pengembangan
minat (engagement), (2) eksplorasi (exploration), (3) penjelasan
(explanation), (4) elaborasi (elaboration/extention), dan (5) evaluasi
(evaluation).17
1. Tahap Pembelajaran
a. Pembangkitan Minat
Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus
belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan
mengembangkan minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang
topic yang akan diajarkan. Hal ini dilakkan dengan cara mengajukan
pertanyaan tentang proses factual dalam kehidupan sehari-hari (yang
berhubungan dengan topic bahasan). Dengan demikian, siswa akan
memberikan respons/ jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut
dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal
siswa tentang pokok bahasan. Kemudian guru perlu melakukan
identifikasi ada/tidaknya kesalahan konsep siswa. Dalam hal ini guru
17
Op. Cit., hlm. 170-171.
28
harus membangun keterkaitan/perikatan antara pengalaman keseharian
siswa dengan topic pembelajaran yang akan dibahas.
b. Ekplorasi (Exploration)
Eksplorasi merupakan tahap kedua dalam model siklus belajar.
Pada tahap ekplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4
siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam
kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam
kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau
membuat hipotesis baru, mencoba alternative pemecahannya dengan
teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide
atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru
berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap
ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah
benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah, sebagian benar.
c. Penjelasan
Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus pembelajaran. Pada
tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan
suatu konsep dengan kalimat / pemikiran sendiri. Meminta bukti dan
29
klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis
penjelasan antara siswa atau guru. Dengan adanya siskusi tersebut,
guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas,
dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.
d. Elaborasi
Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap
elaborasi siswa menerapkan konsep dan ketrampilan yang telah
dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan
demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah
dapat menerapkan/mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya
dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat diracang dengan baik oleh guru
maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi
belajar siswa tentu dapat medorong peningkatan hasil belajar.
e. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap
evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa
dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri
dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri
dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang
menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh
30
sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan
evaluasi tentang proses penerapan metode siklus belajar yang sedang
diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik,
atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan
dapat mengetahui kekurangan atau menjuan dalam proses
pembelajaran yang sudah dilakukan.
Kelima tahap tersebut dapat digunakan dalam bentuk siklus seperti
di bawah ini:
5
lu
a
v
.E
n
tiog
1
m
e
2
r4
bp
x
3
Gambar 2.1 Strategi Pembelajaran Siklus
31
Berdasarkan uraian di atas peneliti berpendapat aktivitas dalam siklus
belajar bersifat fleksibel tetapi urutan fase belajarnya bersifat tetap. Format
belajar dalam siklus belajar dapat berubah tetapi urutan setiap fase tersebut
tidak dapat dirubah, ditambah maupun dikurangi, karena jika urutannya
dirubah atau fasenya dikurangi maka model yang dimaksud tidak berupa
siklus belajar 5 fase.
Kelima tahap si atas adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam
menerapkan model learning cycle 5 fase. Sebagai guru dan siswa mempunyai
peran masing-masing dalam setiap kegiatan pembelajaran model learning
cycle 5 fase di sediakan dalam table dibawah ini.
Tabel 2.1
Sintaks Model Pembelajaran Learning Cycle 5 Fase
Tahap siklus Kegiatan
belajar Guru Siswa
1. Tahap a. Membangkitkan a. Mengembangkan
Pengembang minat dan minat / rasa ingin
an minat keingintahuan tahu terhadap topik
(Engagemen (curiosity) siswa. bahasan.
t)
b. Memberikan
32
b. Mengajukan respons terhadap
pertanyaan tentang pertanyaan guru.
proses fsktusl dalam
kehidupan sehari-hari
(yang berhubungan
dengan topik
c. Berusaha
bahasan).
mengingat
pengalaman sehari-
c. Mengaitkan topik hari dan
yang dibahas dengan menghubungkan
pengalaman siswa. dengan topik
Mendorong siswa pembelajaran yang
untuk mengingat akan dibahas.
pengalaman sehari-
harinya dan
menunjukkan
keterkaitannya
dengan topik
pembelajaran yang
sedang dibahas .
2. Tahap a. Membentuk a. Membentuk
33
Eksplorasi kelompok, memberi kelompok dan
(Exploration kesempatan untuk berusaha bekerja
) bekerja sama dalam dalam kelompok.
kelompok kecil
secara mandiri.
b. Guru berperan b. Membuat prediksi
sebagai fasilitator. baru.
c. Mendorong siswa c. Mencoba
untuk menjelaskan alternative
konsep dengan pemecahan dengan
kalimat mereka teman sekelompok,
sendiri. mencatat
pengamatan, serta
mengembangkan
ide-ide baru.
d. Meminta bukti dan d. Menunjukkan bukti
klarifikasi penjelasan dan memberi
siswa, mendengar klarifikasi terhadap
34
secara kritis ide-ide baru.
penjelasan antar
siswa.
e. Mencermati dan
berusaha
e. Memberi definisi dan memahami
penjelasan dengan penjelasan guru.
memakai penjelasan
siswa terdahulu
sebagai dasar diskusi.
3. Tahap a. Mendorong siswa a. Mencoba memberi
penjelasan untuk menjelaskan penjelasan terhadap
(Explanation konsep dengan konsep yang
) kalimat mereka ditemukan.
sendiri.
b. Menggunakan
pengamatan dan
b. Meminta bukti dan mencatat dala,
klarifikasi penjelasan memberi
siswa. penjelasan.
35
c. Melakukan
pembuktian
c. Mendengar secara terhadap konsep
kritis penjelasan antar yang diajukan.
siswa atau guru.
d. Mendiskusikan.
d. Memandu diskusi.
4. Tahap a. Mengingatkan siswa a. Menerapkan
Elaborasi pada penjelasan konsep dan
(Elaboration alternative dan ketrampilan dalam
) mempertimbangkan situasi baru dan
data / bukti saat menggunakan label
mereka dan definisi formal.
mengekplorasi situasi
baru. b. Bertanya,
mengusulkan
b. Mendorong dan pemecahan,
memfasilitasi siswa membuat
36
megaplikasi konsep / keputusan,
ketrampilan dalam melakukan
setting yang baru / percobaan, dan
lain. pengamatan.
5. Tahap a. Mengamati a. Mengevaluasi
Evaluasi pengetahuan atau belajarnya sendiri
(Evaluation) pemahaman siswa dengan mengajukan
dalam hal penerapan pertanyaan terbuka
konsep baru. dan mencari
jawaban yang
menggunakan
observasi, bukti,
dan penjelasan
yang diperoleh
sebelumnya.
b. Mendorong siswa
melakukan evaluasi
b. mengambil
diri.
kesimpulan lanjut
atas situasi belajar
37
yang dilakukanya.
c. Mendorong siswa
memahami c. melihat dan
kekurangan / menganalisis
kelebihan dalam kekurangan /
kegiatan kelebihannya dalam
pembelajaran. kegiatan
pembelajaran.
b. Model Learning Start With A Question
1. Pengertian model Learning Starts With A Question (LSQ)
Proses mempelajari sesuatu yang baru akan lebih efektif jika
siswa tersebut aktif, mencari pola dari pada menerima saja. Salah satu
cara menciptakan pola belajar aktif ini adalah dengan merangsang siswa
untuk bertanya tentang mata pelajaran mereka, tanpa penjelasan dari
pengajar terlebih dahulu. Strategi ini merangsang untuk bertanya kunci
belajar.
Model pembelajaran Learning Start With a Question adalah
strategi pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan
38
siswa dalam pembelajaran dikelas.18 Tipe Learning Start With a
Question (LSQ) adalah strategi pembelajaran aktif dalam bertanya,
dimana siswa dilibatkan langsung dalam proses pembelajaran. Keaktifan
siswa dalam proses pembelajaran akan menciptakan situasi belajar
aktif. Belajar aktif sangat diperlukan siswa untuk memperoleh hasil
belajar yang maksimum. Dalam pembelajaran aktif, siswa sebagai
subjek melakukan banyak kegiatan, sedangkan guru lebih banyak
membimbing dan mengarahkan.
2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Learning Starts With
A Question.
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani
mengatakan, “Langkah-langkah penerapan model pembelajaran
Learning Strats With A Question (LSQ), adalah:”
a). Pilih bahan bacaan yang sesuai kemudian bagikan kepada peserta
didik. Dalam hal ini bacaan tidak harus difotokopi kemudian dibagi
kepada peserta didik, akan tetapi dapat dilakukan dengan memilih satu
topik atau bab tertentu dari buku teks. Usahakan bacaan itu bacaan yang
memuat informasi umum atau yang tidak detail, atau bacaan yang
memberi peluang untuk ditafsirkan dengan berbeda-beda.
18
Silberman, active learning – 101 Strategi Pembelajaran Aktif(terjemahaan Raisul Muttaquien),
(Bandung: Penerbit Nusamedia, 2012)
39
b). Minta peserta didik untuk mempelajari bacaan sendiri atau
dengan teman.
c). Minta peserta didik untuk memberi tanda pada bagian bacaan
yang tidak dipahami. Anjurkan mereka untuk memberi tanda sebanyak
mungkin. Jika waktu memungkinkan, gabungkan pasangan belajar
dengan pasangan yang lain, kemudian minta mereka untuk membahas
poin-poin yang tidak diketahui yang telah diberi tanda.
d). Di dalam pasangan atau kelompok kecil, minta peserta didik
untuk meuliskan pertanyaan tentang materi yang telah mereka baca.
e). Kumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang telah ditulis oleh peserta
didik.
f). Sampaikan pelajaran dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut.19
Teknik bertanya merupakan cara yang dihunakan oleh guru untuk
mengajukan sejumlah pertanyaan kepada siswanya dengan
memperhatikan karakteristik dan latar belakang siswa. Dengan
mengajukan pertanyaan yang menantang, siswa akan terangsang untuk
berfikir dan berimajinasi sehingga dapat mengembangkan ide-ide
barunya yang berisi tetnag informasi yang lengkap. Dalam proses
19
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta:
Pustaka Insan Mandiri, 2008), h. 44-45.
40
belajar mengajar, bertanta memiliki peranan penting, karena bertanya
dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu
masalah yang sedang dibahas, menuntun proses berfikir siswa, dan
memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
3. Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Learning
Starts With A Question (LSQ)
“sudrajat dalam blognya mengatakan bahwa terdapat kelebihan dan
kelemahan dalam Model Pembelajaran Learning Starts With A
Question. Diataranya adalah:”
a) Kelebihan Model Pembelajaran Learning Starts With A Question
1) Siswa lebih siap memulai pelajaran, karena siswa telah
terlebih dahulu belajar sehingga mempunyai sedikit
gambaran dan lebih paham setelah mendapat tambahan
penjelasan dari guru;
2) Siswa menjadi aktif bertanya;
3) Materi dapat diingat lebih lama oleh siswa;
4) Kecerdasan siswa lebih diasah pada saat siswa belajar untuk
mengajukan pertanyaan
5) Mendorong tumbuhnya keberanian siswa untuk
mengutamakan pendaat secara terbuka dan memperluas
wawasan siswa melalui bertukar pendapat;
41
6) Siswa belajar memecahkan masalah sendiri dan bekerjasama
antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai;
7) Dapat mengetahui mana siswa yang belajar dan mana siswa
yang tidak belajar.
b) Kekurangan Model Pembelajaran Learning Starts With A
Question
1) Membutuhkan waktu panjang jika banyak pertanyaan yang
dilontarkan siswa;
2) Jika guru memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk
menjawab, pertanyaan atau jawaban bisa melantur jika siswa
tersebut tidak belajar atau tidak menguasai materi;
3) Apatis bagi siswa yang tidak terbiasa berbicara dalam forum
atau siswa yang pasif;mensyaratkan siswa memiliki latar
belakang yang cukup tentang topik atau masalah yang
didiskusikan.20
B. Kerangka Berfikir
Matematika disekolah merupakan mata pelajaran yang menurut
sebagian besar siswa sangat sulit dan sangat menakutkan. Hal ini kita ketahui
dari publikasi-publikasi penelitian hasil belajar matematika pada kelas VIII
20
Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif-Menyenangkan, (Yogyakarta: Fakultas
Tarbiah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hal.280.
42
SMP N 2 Tambun Selatan yang telah dilakukan. Selain itu, hasil belajar
matematika siswa dari aspek kognitif sangat rendah. Dapat dilihat dari nilai
rata-rata hasil belajar ujian matematika yang paling rendah jika, dibandingkan
dengan nilai rata-rata hasil belajar ujian pelajaran lainya. Semua ini
disebabkan oleh berbagai faktor, dan salah satu faktor yang paling
menentukan hasil belajar adalah pemilihan model pembelajaran guru dalam
kegiatan belajar mengajar.
Dalam proses belajar terjadi interaksi dua arah antara guru dengan
siswa. Hal ini, dalam kegiatan belajar mengajar yang dituntut aktif adalah
guru dan siswa. Namun pada kenyataanya siswa lebih banyak pasif, yang
selalu aktif dalam belajar mengajar hanyalah guru. Agar hasil belajar lebih
bermakna serta menyenagkan yaitu dengan menggunkan model pembelajaran
Learning Cycle 5 Fase dan model pembelajaran Learning Start With a
Question yang mengaktifkan siswa untuk berpikir lewat pembelajaran aktif
inovatif ini, sehingga siswa dapat menentukan konsep sendiri maupun
bimbingan guru.
Siswa SMP lebih cenderung tertarikkepada pembelajaran yang
langsung dapat diaplikasikan didalam kehidupan sehari-hari, sehingga akan
lebih maksimal jika, pembelajaran matematika dipelajari tidak hanya untuk
menguasai materi secara teori saja, namun juga mampu mereka pergunakan
dalam kehidupan sehari-hari.
43
Berdasarkan deskripsi teori ini diatas, maka kerangka berpikir
penelitian ini adalah “ di duga terdapat perbedaan antara model pembelajaran
Learning Cycle 5 Fase dengan model pembelajaran Learning Start With a
Question pada siswa kelas VIII SMP N 7 Tambun Selatan tahun ajaran
2015/2016.
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir yang diuraikan di atas, maka
hipotesis penelitian ini adalah : “Terdapat Perbedaan yang signifikan antara Hasil
Belajar Matematika Siswa Materi Bangun Ruang diajarkan menggunakan Model
Learning Cycle 5 Fase dengan Model Learning Start With A Question di kelas
VIII SMPN 7 Tambun Selatan.
44
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperbaiki,
menganalisa, dan mningkatkan proses pembelajaran di . Melalui pembelajaran
dengan menggunakan model Learning Cycle 5 Fase dan model Learning Start
With a Question.
Secara khusus, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui
perbedaan signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajarkan
melalui model Learning Cycle 5 Fase dengan hasil belajar matematika siswa
yang diajarkan melalui model Learning Start With a Question.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
45
Penelitian ini dilaksanakan di SMP NEGERI 7 Tambun Selatan
Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat. Sebagai subjek penelitian ini adalah
kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2015/2016.
2. Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran
2015/2016 yaitu sekitar bulan Februari sampai April 2016.
C. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel terikat (Y) dan
variabel bebas (X), dengan perincian sebagai berikut:
1. Variabel terikat (Y) yaitu Hasil Belajar
2. Variabel bebas (X) terdiri dari dua model pembelajaran yaitu learning
Cycle 5 Fase dan Learning Start With A Question.
D. Metode Penelitian
Model penelitian ini akan menggunakan metode eksperimen.
Kelompok pertama disebut kelas eksperimen yaitu kelas yang diajarkan
dengan menggunakan model Learning Cycle 5 Fase sedangkan, kelompok
kedua disebut kelas control yaitu kelas yang diajarkan dengan model Start
With a Question.
46
Dalam design ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih
secara random (R). kelompok pertama (kelas eksperimen) diberi perlakuan
(X) pendekatan model Learning Cycle 5 Fase dan kelompok yang lain sebagai
kelas control yang diberikan Model Learning Start With a Question.
Pada tahap perlakuan (X) peneliti mengajarkan materi ajar bangun ruang pada
kelas eksperimen dengan menggunakan pendekatan model Learning Cycle 5
Fase dan pada kelas control mengajar dengan model Learning Start With a
Question.
Selesai diberikan materi kemudian penulis memberikan soal tes yang
variatif kepada siswa kelas eksperimen dan kelas control, berupa soal tes
matematika pada pokok bahasan bangun ruang dengan sub pokok bahasan
kubus, balok, prisma dan limas.
E. Desain Penelitian
Penelitian yang dilakukan dengan perlakuan terhadap dua kelompok
yang kemudian setelah perlakuan dilakukan pengukuran hasil belajar untuk
masing-masing kelompok. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut :
X1 Z1 Y1
X2 Z2 Y2
Keterangan :
47
X1 = Siswa kelas eksperimen
X2 = Siswa kelas kontrol
Z1 = Model Learning Cycle 5 Fase yang digunakan di kelas eksperimen
Z2 = Model Learning Start With A Question
Y1 = Hasil belajar matematika pada kelas eksperimen
Y2 = Hasil belajar matematika pada kelas control
F. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII
SMP N 7 Tambun Selatan, kecamatan Tambun Selatan, kabupaten Bekasi,
provinsi Jawa Barat. Penelitian ini hanya dapat dilakukan bagi populasi
terhingga. Penelitian populasi dilakukan apabila peneliti ingin melihat semua
liku-liku yang ada di dalam populasi. Populasi tersebut diantaranya:
a. Populasi Target
Populasi target penelitian ini adalah seluruh siswa SMP N 7 Tambun
Selatan, kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, provinsi Jawa
Barat, tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 350 siswa
b. Populasi Terjangkau
48
Populasi terjangkau dalam penelitian ini dibagi atas siswa kelas VIII
SMP N 7 Tambun Selatan, kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten
Bekasi, provinsi Jawa Barat, tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 120
siswa.
2. Sampel
Sampel yang digunakan peneliti terdiri dari 80 siswa kelas VIII SMP
N 7 Tambun Selatan yang terdaftar dalam semester genap tahun ajaran
2015/2016 yang terdiri dari 40 siswa kelas eksperimen dan 40 siswa kelas
kontrol.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik random terbatas.
Alasan pengambilan sampel dengan teknik random terbatas adalah sebagai
berikut.
a. Usia pada saat itu relative sama.
b. Berasal dari lingkungan masyarakat yang sama sebab rata-rata
siswa berasal dari daerah sekitar lokasi sekolah.
c. Diajarkan oleh guru yang sama pada materi sebelumnya.21
Dengan teknik random terbatas terpilih sampel yaitu kelas VIIIA
sebagai kelompok eksperimen yang diajarkan dengan menggunakan
model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dan kelas VIIIB sebagai
21
Sugiono. Op. cit., h. 120.
49
kelompok control yang diajarkan dengan menggunakan model
pembelajaran Learning Start With A Question yang masing-masing
berjumlah 40 siswa.
G. Instrumen Penelitian
Berdasarkan masalah penelitian yang peniliti ambil yaitu tentang hasil
belajar siswa matematika untuk materi ajar bangun ruang sub bab
mengidentifikasikan unsur-unsur, jaring-jaring, sifat-sifat bangun ruang dan
menghitung luas permukaan volume bangun ruang serta menggunakan dalam
pemecahan masalah yang terkait dengan pendekatan pembelajaran. Maka,
pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan alat yang perlu dipersiapkan
adalah soal-soal tes. Tes yang digunakan jenis tes objektif berbentuk pilihan
ganda dengan 5 option. Jumlah item soal yang diberikan disesuaikan dengan
lama waktu yang tersedia yaitu 120 menit, maka jumlah item soal adalah 30
soal pilihan ganda.
1. Teknik Penentuan Kualitas Instrumen
a. Uji Validitas Butir Soal
Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep
yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai.22
22
Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), h.12.
50
Butir soal disusun berdasarkan validitas isi, maksudnya butir soal di
susun untuk mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai anak
sesuai dengan tujuan pembelajaranya.
Instrument uji coba sebanyak 35 soal. Instrument ini diujicobakan
pada kelas sampel. Setelah di peroleh hasil uji, hasil belajar ini dihitung
dengan menggunakan rumus korelasi point biserial
Rpbis =
Mp−Mt
St √ p
q
Keterangan :
Rpbis = Koefisien korelasi biserial
Mp = Mean subjek skor yang menjawab betul item yang di cari
korelasinya dengan tes
Mt = Mean skor total (skor rata-rata dari seluruh pengikut tes)
St = Standar deviasi skor total
p = proporsi subjek yang menjawab betul item tersebut
q = 1- p
Dengan kriteria penguji : r hitung > r tabel, maka data valid.
b. Realibilitas Instrumen
51
Realibilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut
dalam menilai apa yang dinilainya.23
Realibilitas dari instrument uji coba hasil belajar matematika dengan
menggunakan rumus KR-20 (Kuder Richardson)24 yaitu:
{ }{ St −∑ pq
}
2
k
r 11=
k−1 St
2
Keterangan :
r11 = realibilitas instrument
k = banyaknya butir pertanyaan
St = standar deviasi dari tes
p = proporsi subjek yang menjawab betul pada suatu butir
(proporsi subjek yang mendapat skor 1
q = proporsi subjek yang mendapat skor 0 (1-p)
dengan kriteria pengujian : rhitung > r tabel
c. Taraf Kesukaran Soal
23
Ibid., hlm. 16.
24
Suharsimi Arikunto, Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 188.
52
Perhitungan tingkat kesukaran soal adalah. soal yang baik
adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. 25 Soal
yang terlalu mudah membuat tidak merangsang siswa untuk
meningkatkan usaha memecahkannya. Sebaliknya, soal yang terlalu
sukar akan menyebabkan siswa putus asa dan tidak mempunyai
semangat untuk mencoba lagi karena diluar kemampuanya.
Rumus untuk mencari indeks kesukaran soal sebagai berikut:
U +L
TK =
T
Keterangan :
TK = tingkat kesukaran
U = banyaknya peserta kelompok atas (upper group) yang
menjawab benar untuk tiap soal
L = banyaknya peserta kelompok bawah (lower group) yang
menjawab benar untuk tiap soal
T = jumlah siswa gabungan dari upper group dan lower group
d. Daya Pembeda
25
Ibid., hlm. 207.
53
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan
antara siswa-siswa yang berkemampuan tinggi (kelompok pandai) dengan
siswa berkemampuan rendah (kelompok kurang).26
Rumus untuk menunjukan indeks diskriminan adalah:
U−L
DP=
0,5 T
Keterangan:
DP = daya pembeda
U = banyaknya peserta kelompok atas (upper group) yang
menjawab benar untuk tiap soal
L = banyaknya peserta kelompok bawah (lower group) yang
menjawab benar untuk tiap soal
T = jumlah siswa gabungan dari upper group dan lower group
2. Perhitungan Mean, Median, Modus, dan Simpangan Baku
a. Mean
Dalam bahasa inggris nilai rata –rata hitung di kenal dengan
istilah aritmatic mean atau sering di singkat dengan dengan mean saja.
Secara singkat mean dapat diartikan sebagai sekelompok (sederetan)
26
Ibid.,h.211.
54
angka (bilangan) adalah jumlah dari keseluruhan angka (bilangan)
yang ada, dibagi banyaknya angka tersebut27.
Rumus untuk menghitung mean adalah:
x=
∑ fi . xi
∑f
Keterangan:
X = nilai rata –rata
∑ fi . xi = jumlah perkalian dari fi dan xi
∑f = jumlah frekuensi
b. Median
Median diartikan sebagai suatu nilai atau suatu angka yang
membagi suatu distribusi data ke dalam dua bagian yang sama besar.28
Median menentukan letak data setelah data itu disusun menurut urutan
nilainya.
Rumus untuk menentukan median adalah:
(
[ ]
n−f )
1
kb
2
Md=i+ p
fi
27
Sudjana. Metode Statistika. (Bandung : Tarsito, 1996) h. 239.
28
Anas [Link] Statistika Pendidikan. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2010) h.93.
55
Keterangan:
Md = nilai median
i = tepi bawah kelas median (kelas median dimana terletak)
p = panjang interval kelas
n = banyaknya data
f kb = frekuensi kumulatif sebelum kelas median
f kb = frekuensi kelas median
c. Modus
Modus untuk menyatakan fenomena yang paling banyak terjadi atau
paling banyak terdapat.29
Rumus untuk menunjukkan modus adalah:
Mo=i+ p
[ ]fa
f a+ f b
Keterangan:
Mo = nilai modus
i = tepi bawah kelas modus (kelas interval dengan frekuensi
terbanyak)
29
Ibid., hlm. 77.
56
fa = selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas
sebelumnya
fb = selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas
sesudahnya
p = panjang interval kelas
d. Simpangan Baku
Standar Deviasi adalah nilai simpangan dari masing-masing
skor atau nilai dari nilai rata-rata hitung yang telah distandarkan.
Standar deviasi untuk data tunggal:
√
2
N ∑ X 2−( ∑ X )
SD=
N2
Standar deviasi data kelompok:
√ ( )
∑ fx2 − ∑ fx
2
SD=
N N
57
Keterangan:
SD = standar deviasi
N = number of cases
∑ x2 = jumlah skor X setelah terlebih dahulu dikuadratkan
(∑ x )
2
= jumlah skor X yang kemudian dikuadratkan
∑ fx2 = jumlah dari hasil perkalian X2 dengan frekuensinya masing-
masing
( )
∑ fx
2
= jumlah dari hasil perkalian antara midpoint dengan
N
frekuensinya masing-masing yang kemudian dikuadratkan
3. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu proses mengolah dan menginterprestasi data
dengan tujuan untuk mendudukan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya
hingga memiliki makna dan arti yang jelas sesuai tujuan penelitian.
Setelah data diperoleh, kemudian dilakukan perhitungan statistik dan
membandingkan hasil belajar matematika menggunakan model learning cycle
5 fase dengan model learing start with a question. Perhitungan statistik
58
meliputi uji persyaratan analisis dan uji [Link] analisis terdiri dari uji
normalitas dan uji homogen.
1. Uji Persyaratan Analisis Data
a. Uji Normalitas
Uji normalitas untuk mengetahui dimana kelompok a (model
pembelajaran learning cycle 5 fase) dan kelompok b (siswa yang
diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran learning start
with a question) terdistribusi secara normal. Jika data normal, maka
statistika parametris dapat dilakukan. Sebaliknya, jika data tidak
normal maka teknik yang digunakan adalah statistic non parametris
yang tidak berasumsi bahwa data terdistribusi normal. 30 Rumus yang
digunakan adalah uji Liliefors dengan langkah-langkah sebagai berikut
1). Data penelitian x1, x2, x3, ……xn dijadikan bilangan baku z1, z2, z3,
….zn dengan rumus :
x−x
zi=
S
2). Menghitung peluang F ( zi )=P (z< zi)
3). Selanjutnya dihitung prporsi z1, z2, z3, ….zn yang lebih kecil atau
sama dengan zi dan juga proposi itu dinyatakan oleh s (zi). Maka:
30
Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: ALFABETA, 2011), h. 75.
59
banyaknya z 1 , z 2 , ... z n yang< z i
s ( zi )=
n
4). Hitung selisih F(zi) – S(zi) kemudian tentukan harga mutlak.
5). Ambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih
tersebut. Sebutlah harga terbesar ini Lo.
b. Uji Homogen
Uji kesamaan dua varians digunakan untuk menguji apakah sebaran
data tersebut homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua
variansnya.31 uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data
tersebut dalam distribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk
menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji statistik
parametrik benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar
kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok.
Uji homogenitas varian populasi dengan menggunakan uji-F dengan
langkah-langkah adalah sebagai berikut :
1) H0 : Fhitung = Ftabel
H1 : Fhitung ≠ Ftabel
2) Menghitung F hitung dengan rumus :
varian terbesar
F=
varianterkecil
31
Ibid., h. 204.
60
3) Taraf signifikan : 0,05 atau 5%
4) Menentukan tabel rumus :
1
F
( 1
1− α
2 ) ( n A−1 ; n B−1 ) = F (α− 1 ) ( nA−1 ; nB−1 )
2α
Data mempunyai varians yang homogeny bila Fhitung¿Ftabel = F (db
pembilang-1, db penyebut-1).
2. Uji Hipotesis Penelitian
untuk mengetahui Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi
Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan Model Learning Cycle 5 Fase
dengan Model Learning Start With a Question di kelas VIII SMPN 7 Tambun
Selatan menggunakan rumus uji-t. uji hipotesis penelitian menggunakan uji-t
dengan taraf signifikan 0,05 yaitu :
a. Rumus uji-t32 yang digunakan adalah :
χ 1− χ 2
t
√
= ∑ ( x 1− χ 1 )2 +∑ ( x 2− χ 2) 2
N ( N−1 )
Keterangan :
t : Nilai t hitung
.X 1 : rata–rata hasil belajar siswa kelas eksperimen yang
diajarkan dengan Model Learning Cycle 5 Fase
32
Suharsimi Arikunto. Op. cit., h. 309
61
X2 : rata – rata hasil belajar siswa kelas control yang diajarkan
dengan Model Learning Start With A Question
∑ ( x 1 − χ 1 )2 : Jumlah dari hasil belajar kelas eksperimen yang dikurangi
rata-rata yang kemudian dikuadratkan
∑( x2 − χ 2)2 : Jumlah dari hasil belajar kelas kontrol yang dikurangi rata-
rata yang kemudian dikuadratkan.
N : Number of Cases
Untuk melihat hipotesis diterima atau ditolak, maka dicari t tabel
dengan cara melihat pada daftar t tabel dengan dk = nA + nB – 2 = db,α =5 %
4. Hipotesis Statistik
Untuk pengujian hipotesis digunakan kriteria pengujian dengan
derajat kebebasan n1 + n2 – 2 dan taraf signifikan sebesar 0,05. Pengujian
hipotesis ini dirumuskan dalam hipotesis statistik sebagai berikut:
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2
Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan kesamaan
kedua rata-rata siswa dengan uji-t dengan rumus sebagai berikut:
H0 : ditolak jika t hitung ≥ t tabel
H1 : diterima jika t hitung ≤ t tabel
Keterangan :
62
H0 : Tidak terdapat perbedaan signifikan antara hasil belajar matematika
siswa yang diajarkan melalui pendekatan pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan hasil
belajar matematika siswa yang diajarkan melalui model pembelajaran
learning start with a Question pada siswa kelas VIII pada materi
bangun ruang di kelas VIII SMP N 7 Tambun Selatan, kabupaten
Bekasi provinsi Jawa Barat tahun pelajaran 2015/2016.
H1 : Terdapat perbedaan signifikan antara hasil belajar matematika siswa
yang diajarkan melalui pendekatan pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan hasil
belajar matematika siswa yang diajarkan melalui model pembelajaran
learning start with a Question pada siswa kelas VIII pada materi
bangun ruang di kelas VIII SMP N 7 Tambun Selatan, kabupaten
Bekasi provinsi Jawa Barat tahun pelajaran 2015/2016.
63
DAFTAR PUSTAKA:
1. Wina, Made. 2014. Strategi Pembelajaran Inovatif Kotemporer. Jakarta:
Bumi Aksara.
2. Silberman, Mel. 2012. Active Learning – 101 Strategi Pembelajaran Aktif
(terjemahan Rasul Muttaquien). Bandung: Penerbit Nusmedia.
3. Saefudin, A Aziz. 2012. Meningkatkan Profesionalisme Guru dengan
PTK. Yogyakarta: PT. Citra Adi Pratama.
4. Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah
Dasar. Jakarta: Kencana Prenadamedia.
5. Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
6. [Link]
menurut-pendapat-ahli-dan-kurikulum di unduh: 08/01/16 pukul 19.55
WIB.
64
7. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
8. Faizatul Fajaroh dan I Wayan Dasna. Pembelajaran dengan Siklus Belajar
jurusan
9. Zaini, Hisyam, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. 2008. Strategi
Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Mandiri.
10. Hamruni. 2009. Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif-
Menyenangkan. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
11. Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara.
12. Sudjana, Nana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
13. Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
14. Sugiyono. 2011. Statistika untuk Penelitian. Bandung: ALFABETA.
15. Suharjana, Agus. 2008. Pengenalan Bangun Ruang dan Sifat-Sifatnya di
SD. Yogyakarta: PPPPTK Matematika.