0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan64 halaman

Perbandingan Model Pembelajaran Matematika

Dokumen ini membahas tentang perbedaan hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang yang diajarkan menggunakan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan learning start with a question. Dokumen ini juga membahas latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah dan kegunaan masalah.

Diunggah oleh

Irlan Malik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan64 halaman

Perbandingan Model Pembelajaran Matematika

Dokumen ini membahas tentang perbedaan hasil belajar matematika siswa pada materi bangun ruang yang diajarkan menggunakan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan learning start with a question. Dokumen ini juga membahas latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah dan kegunaan masalah.

Diunggah oleh

Irlan Malik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah

lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang

didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran di

dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi,

otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa

diingatnya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Akibatnya, ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara

teoritis, akan tetapi mereka rendah dalam aplikasi.

Matematika merupakan sarana berfikir ilmiah untuk menuju

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini terus

berkembang. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang dipelajari

disekolah sampai sekarang. Hasil belajar yang diperoleh masih tergolong

rendah. Padahal telah banyak yang telah dilakukan guru dan sekolah agar

hasil belajar matematika bisa lebih baik. Namun ini tidak cukup tanpa di

imbangi usaha dari peserta didik. Dibangdingkan dengan mata pelajaran lain,

hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika selalu rendah. Hal ini
2

dikarenakan sebagian besar peserta didik kurang antusias menerimanya.

Peserta didik lebih bersifat pasif, enggan, dan takut atau malu

mengungkapkan ide-ide ataupun penyelesaian terhadap soal-soal latihan yang

diberikan di depan kelas. Tidak sedikit peserta didik kurang mampu

mempelajari matematika sebab matemtika sudah dianggap sulit, menakutkan,

bahkan sebagian dari mereka ada yang membencinya, sehingga matematika

dianggap sebagai momok bagi mereka. Hal ini menyebabkan siswa takut

terhadap matematika.

Ketakutan-ketakutan ini yang muncul dari peserta didik tidak hanya

disebabkan oleh peserta didik itu sendiri, tetapi juga disebabkan oleh

ketidakmampuan guru menciptakan situasi yang mampu membawa peserta

didik tertarik terhadap matematika. Oleh karena itu guru harus mencari cara

untuk dapat menarik peserta didik untuk berani mengarjakan soal-soal latihan

didepan kelas. Salah satunya dengan memberikan motivasi. Motivasi sebagai

keseluruhan daya penggerak dalam diri peserta didik yang menimbulkan

kegiantan belajar, menjamin kelangsungan dalam kegiatan belajar dan

memberikan arahan kepada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dihendaki

peserta didik dapat tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang

dapat mempengaruhi keberhasilan peserta didik. Fungsi utamanya adalah

untuk menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat dalam belajar.

Peserta didik yang memiliki motivasi tinggi akan mempunyai banyak energi
3

untuk melakukkan kegiatan belajar. Hasil belajar tentunya akan optimal kalau

ada motivasi yang tepat.

Faktor yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan belajar

matematika yaitu pemilihan model pembelajaran. Model pembelajaran

diperlukan untuk memperkecil kesulitan peserta didik dalam memperlajari

matematika. Seorang guru matematika perlu mengerti dan memahami tentang

model-model pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan

kebermaknaan dan pemahaman terhadap matematika.

Seorang pendidik akan memilih strategi pembelajaran agar tujuan belajar

dapat tercapai secara efektif dan efisien. Efektif dalam arti semua potensi

dapat dimanfaatkan, efisien dalam arti hasil yang diperoleh sesuai dengan apa

yang dikeluarkan sehingga memungkinkan peserta didik untuk bergerak lebih

lanjut.

Penggunaan suatu strategi pembelajaran akan membantu kelancaran,

efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan. Guru di tuntut harus dapat

menetapkan strategi pembelajaran yang paling tepat dan sesuai untuk tujuan

tertentu, penyampaian bahan tertentu, suatu kondisi belajar peserta didik dan

untuk suatu penggunaan strategi atau metode yang memang telah dipilih.

Tujuan utama seorang guru dalam muwujudkan tujuan pendidikan disekolah

adalah mengembangkan strategi belajar-mengajar yang efektif.

Pengembangan strategi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan


4

keadaan belajar yang lebih menyenangkan dan dapat mempengaruhi peserta

didik, sehingga mereka dapat belajar dengan menyenangkan dan dapat

mencapai hasil belajar yang baik. Oleh karena itu, melaksanakan kegiatan

belajar mengajar merupakan pekerjaan yang komplek dan menuntut

kesungguhan guru.

Strategi pembelajaran yang diharapkan membuat peserta didik lebih aktif

adalah strategi pembelajaran dengan Model pembelajaran Learning Cycle 5

Fase. Model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase merupakan suatu model

pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle 5

Fase merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasikan

sedemikian rupa sehingga peserta didik berperan aktif untuk dapat menguasai

kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran.

Pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan

pendekatan kontruktivis. Model pembelajaran siklus pertama kali

diperkenalkan oleh Robert Karplus dalam Science Curriculum Improvement

Study/SCIS. Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan

pendekatan kontruktivis yang pada mulanya terdiri atas tiga tahap yaitu :

1. Eksplorasi (exploration)

2. Pengenalan konsep (concept introduction), dan

3. Penerapan konsep (concept introduction)


5

Pada proses selanjutnya, tiga tahap siklus tersebut saat ini dikembangkan

menjadi lima tahap yang terdiri atas tahap:

1. Pembangkitan minat (engagement)

2. Eksplorasi (exploration)

3. Penjelasan (explanation)

4. Elaborasi (elaboration/extention), dan

5. Evaluasi (evaluation).1

Dalam penelitian ini model pembelajaran yang digunakan adalah Learning

Cycle 5 Fase.

Sedangkan, Model pembelajaran Learning Start With a Question adalah

strategi pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan siswa

dalam pembelajaran dikelas.2 Tipe Learning Start With a Question (LSQ)

adalah strategi pembelajaran aktif dalam bertanya, dimana siswa dilibatkan

langsung dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dalam proses

pembelajaran akan menciptakan situasi belajar aktif. Belajar aktif sangat

diperlukan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang maksimum. Dalam

pembelajaran aktif, siswa sebagai subjek melakukan banyak kegiatan,

sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.

1
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer.(Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h.170-171.
2
Silberman, active learning – 101 Strategi Pembelajaran Aktif(terjemahaan Raisul Muttaquien),
(Bandung: Penerbit Nusamedia, 2012)
6

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan

hasil belajar, dengan judul : “Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa

pada Materi Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan Model

Learning Cycle 5 Fase dengan Model Learning Start With a Question di

kelas VIII SMPN 7 Tambun Selatan.”

B. Identifikasi Masalah

Bertolak dari latar belakang tersebut di atas dapat diidentifikasikan

beberapa masalah, antara lain:

1. Apakah materi yang dijelaskan guru dimengerti peserta didik dengan

baik?

2. Apakah interaksi antara guru dengan siswa sudah aktif?

3. Apakah model pembelajaran yang digunakan guru sudah tepat?

4. Apakah model pembelajaran learning cycle 5 fase yang digunakan guru

dapat dimengerti peserta didik dengan baik?

5. Apakah model pembelajaran learning start with a question yang diajarkan

guru dapat dimengerti peserta didik dengan baik?

6. Apakah terdapat Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi

Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan Model Learning Cycle 5


7

Fase dengan Model Learning Start With a Question di kelas VIII SMPN 2

Tambun Selatan?

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas,

penulis membatasi penelitian pada satu masalah saja yaitu mengenai

Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi Bangun Ruang yang

diajarkan menggunakan Model Learning Cycle 5 Fase dengan Model

Learning Start With a Question di kelas VIII SMPN 7 Tambun Selatan.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan

masalah penelitian ini yaitu: “Apakah terdapat Perbedaan Hasil Belajar

Matematika Siswa pada Materi Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan

Model Learning Cycle 5 Fase dengan Model Learning Start With a Question

di kelas VIII SMPN 7 Tambun Selatan?”.

E. Kegunaan Masalah

Kegunaan hasil penelitian ini khususnya untuk perbaikan kualitas

pendidikan di SMPN 7 Tambun Selatan dan terwujudnya pembelajaran


8

matematika yang bermakna serta memudahkan peserta didik dalam

memahami materi pembelajaran matematika. Adapun kegunaan bagi peserta

didik, guru dan sekolah adalah:

1. Sekolah

Dengan mengetahui perbedaan hasil belajar matematika pada materi

bangun ruang yang diajarkan dengan model learning cycle 5 fase dengan

model learning start with a question maka, diharapakan dapat dipakai

sebagai bahan pertimbangan dalam pembinaan dan pengembangan

sekolah yang bersangkutan.

2. Guru

Sebagai masukan dalam mengelola dan meningkatkan strategi belajar

mengajar serta mutu pengajaran. Dengan mengetahui pola-pola cara

belajar peserta didik maka, guru dapat menyesuaikan proses belajar

mengajar dengan model pembelajaran yang sesuai.

3. Peserta Didik

Dengan mengatahui perbedaan hasil belajar matematika pada materi

bangun ruang yang diajarkan dengan model learning cycle 5 fase dengan

model learning start with a question maka, diharapakan dapat dipakai


9

sebagai bahan pertimbangan untuk menyesuaikan cara belajar sehingga

dapat memperbaiki nilai dalam materi bangun ruang.


10

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Teori

1. Hakekat Hasil Belajar Matematika Materi Bangun Ruang

a. Belajar

Menurut Purwanto belajar adalah suatu proses yang menimbulkan

terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau

kecakapan.3

Menurut R. Gagne, belajar didefinisikan sebagai suatu proses di mana

suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar

dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu

sama lain. Dua konsep ini menjadi terpadu dalam satu kegiatan di mana

terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa pada

saat pembelajaran berlangsung.4

Bagi Gagne, belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk memperoleh

motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.

Selain itu, Gagne juga menekankan bahwa belajar sebagai suatu upaya
3
A. Aziz Saefudin, Meningkatkan Profesionalisme Guru dengan PTK(Yogyakarta :Citra Adi Pratama,
2012), h. 128.
4
Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana Prendamedia,
2013), hal. 1.
11

memperoleh pengetahuan atau ketrampilan melalui instruksi. Instruksi

yang dimaksud adalah perintah atau arahan dan bimbingan dari seseorang

pendidik atau guru.5

Belajar dilakukan untuk memperoleh adanya perubahan dalam aspek

kognitif, afektif dan psikomotorik atau perubahan prilaku pada individu

yang melakukan kegiatan belajar. Perubahan prilaku itu merupakan

perolehan yang menjadi hasil belajar.

Dari uraian diatas penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah proses

berinteraksi dalam diri individu dengan lingkunganya untuk mendapatkan

perubahan dalam prilakunya.

b. Hasil Belajar

Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang

membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil menunjukkan

pada suatu perolehan akibat dilakukanya suatu aktivitas atau proses yang

mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar

adalah proses berinteraksi dalam diri individu dengan lingkunganya untuk

mendapatkan perubahan dalam prilakunya.

Menurut Sudjana, Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang

dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya, dimana siswa

5
Ibid., hlm. 1-2.
12

memperoleh hasil dari suatu interaksi tindakan belajar. Diawali dengan

siswa mengalami proses belajar, mencapai hasil belajar, dan menggunakan

hasil belajar, yang semua itu mencakup tiga ranah, yaitu ranah kognitif,

ranah afektif, dan ranah psikomotorik.6

Oleh Sudjana, bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi

oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri siswa dan faktor yang

datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.7

Berdasarkan teori-teori diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar

didalamnya mencakup ranah kognitif, ranah afektif dan ranah

psikomotorik.

c. Hakekat Matematika

Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan

terorganisir secara matematika.

Menurut James dan James, matematika adalah ilmu tentang logika,

mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang

berhubungan satu dengan lainya dengan jumlah yang banyak yang terbagi

ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.8

6
Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Ramaja Rosdakarya, 2008),
h.22.
7
Susanto, Op. Cit. hlm. 15.
8
[Link]
kurikulum di unduh: 08/01/16 pukul 19.55 WIB.
13

Sedangkan menurut Suherman, matematika adalah disiplin ilmu

tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif

maupun secara kualitatif.9

Lain halnya dengan Russefendi, yang mengatakan bahwa matematika

terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-

definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil di mana dalil-dalil setelah

dibuktikan kebenaranya berlaku secara umum, karena itulah matematika

sering disebut ilmu deduktif.10

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa matematika

adalah ilmu tentang logika yang bersifat deduktif.

d. Materi Bangun Ruang

Bangun ruang diartikan oleh Agus Suharjana adalah bagian ruang

yang dibatasi oleh himpunan titik-titik yang terdapat pada seluruh

permukaan bangun tersebut.11 Sedangkan menurut Nur Laila Indah Sari,

Bangun ruang adalah suatu bangun tiga dimensi yang memiliki volume

atau isi.12

9
Ibid
10
Ibid
11
Agus Suharjana, Pengenalan Bangun Ruang dan Sifat-sifatnya di SD, (Yogyakarta: PPPPTK
Matematika, 2008), h.5.
12
Nur Laila Indah Sari, Asiknya Belajar Bangun Ruang Sisi Datar, (Jakarta: Balai Pustaka, 2012), h.1
14

Materi Bangun Ruang yang diambil oleh peneliti ini adalah pokok

bahasan bangun ruang , dengan mengambil subpokok bahasan kubus,

balok, prisma, limas.

Adapun ringkasan materi yang telah disampaikan dan diajarkan

kepada peserta didik sebagai berikut:

1. Kubus

Kubus adalah sebuah bangun ruang yang semua sisinya berbentuk

persegi dan semua rusuknya sama panjang.

- Unsur – unsur kubus

a. Sisi/Bidang

Sisi kubus adalah bidang yang membatasi kubus, dari

gambar terlihat bahwa kubus memiliki 6 buah sisi yang

semuanya berbentuk persegi dan kongruen, yaitu ABCD (sisi

bawah), EFGH (sisi atas), ABFE (sisi depan), CDHG (sisi


15

belakang), BCGF (sisi samping kiri), dan ADHE (sisi samping

kanan).

b. Rusuk

Rusuk kubus adalah garis potong antara dua sisi bidang kubus

dan terlihat seperti kerangka yang menyusun kubus, dari gambar

terlihat bahwa kubus memiliki 12 buah rusuk yang semuanya

berukuran sama panjang, yaitu AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH,

HE, AE, BF, CG, dan DH.

c. Titik Sudut

Titik sudut kubus adalah titik potong antara dua rusuk. Kubus

memiliki 8 buah titik sudut, yaitu: A, B, C, D, E, F, G, dan H.

d. Diagonal Sisi

Diagonal bidang adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua

buah titik yang berhadapan dalam satu bidang. Pada kubus

memiliki 12 diagonal sisi, yaitu: AC, BD, EG, FG, AF, BE,

CH, DG, BG, CF, AH, DE.

e. Diagonal Ruang

Diagonal ruang adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua

buah titik yang berhadapan dalam satua ruang. Pada kubus

memiliki 4 diagonal ruang, yaitu: AG, EC, HB, FD.


16

f. Bidang Diagonal

Bidang diagonal adalah sebuah bidang yang terbentuk dari dua

buah diagonal bidang dan dua rusuk yang sejajar. Pada kubus

memiliki 6 buah bidang diagonal, yaitu: ABGH, CDEF,

FGDA, EHCB, EGCA, DBFH.

- Sifat – sifat kubus

a. Semua sisi kubus berbentuk persegi.

b. Semua rusuk kubus berukuran sama panjang.

c. Setiap diagonal bidang pada kubus memiliki ukuran yang sama

panjang.

d. Setiap diagonal ruang pada kubus memiliki ukuran sama

panjang

e. Setiap bidang diagonal pada kubus memiliki bentuk persegi

panjang.

- Jaring – jaring kubus


17

- Luas permukaan kubus

Luas permukaan kubus = 6 ×luas persegi

= 6 × ( s × s)

= 6× s2

= 6 s2

- Volume kubus

Volume kubus = luas alas × tinggi

= ( s × s) × s

= s3

2. Balok

Balok adalah bangun ruang yang memiliki tiga pasang sisi yang

berhadapan yang sama bentuk dan ukuranya, dimana setiap sisinya

berbentuk persegi panjang.


18

- Unsur – unsur balok

a. Sisi/Bidang

Sisi balok adalah bidang yang membatasi suatu balok.

Balok memiliki 6 buah sisi berbentuk persegi panjang, yaitu:

ABCD (sisi bawah), EFGH (sisi atas), ABFE (sisi depan), CDHG

(sisi belakang), BCGF (sisi samping kiri), dan ADHE (sisi

samping kanan).

b. Rusuk

Rusuk balok adalah garis potong antara dua sisi bidang

balok dan terlihat seperti kerangka yang menyusun balok, dari

gambar terlihat bahwa balok memiliki 12 buah rusuk yang

semuanya berukuran sama panjang, yaitu: AB, BC, CD, DA, EF,

FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan DH.

c. Titik Sudut
19

Titik sudut balok adalah titik potong antara dua rusuk. balok

memiliki 8 buah titik sudut, yaitu: A, B, C, D, E, F, G, dan H.

d. Diagonal Sisi

Diagonal Sisi adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua

buah titik yang berhadapan dalam satu bidang. Pada balok

memiliki 12 diagonal sisi, yaitu: AC, BD, EG, FG, AF, BE,

CH, DG, BG, CF, AH, DE.

e. Diagonal Ruang

Diagonal ruang adalah ruas garis yang dihubungkan dari dua

buah titik yang berhadapan dalam satua ruang. Pada kubus

memiliki 4 diagonal ruang, yaitu: AG, EC, HB, FD.

f. Bidang Diagonal

Bidang diagonal adalah sebuah bidang yang terbentuk dari dua

buah diagonal bidang dan dua rusuk yang sejajar. Pada kubus

memiliki 6 buah bidang diagonal, yaitu: ABGH, CDEF, FGDA,

EHCB, EGCA, DBFH.

- Sifat – sifat balok

a. Sisi-sisi balok berbentuk persegi panjang.

b. Rusuk-rusuk yang sejajar memiliki ukuran sama panjang.


20

c. Setiap diagonal bidang pada sisi yang berhadapan memiliki

ukuran sama panjang.

d. Setiap diagonal ruang pada balok memiliki ukuran sama

panjang.

e. Setiap bidang diagonal pada balok memiliki bentuk persegi

panjang.

- Jaring – jaring balok

- Luas permukaan balok

Lp balok =( p ×l ) + ( p× t )+ ( l ×t ) + ( p× l )+ ( l× t ) + ( p ×t )

= 2 ( p × l )+ 2 ( l ×t )+ 2 ( p ×t )

= 2 ( pl+¿+ pt )

- Volume balok

Volume balok = luas alas × tinggi

= panjang ×lebar × tinggi


21

= p ×l ×t

3. Prisma segi-n

Prisma adalah bangun tiga dimensi yang menempati ruangan. Prisma

mempunyai ukuran dan bentuk yang berbeda. Setiap prisma

mempunyai ciri – ciri sebagai berikut:13

a. Alas: sebuah prisma mempunyai dua alas yang merupakan

segi banyak yang sebangun dan sejajar.

b. Rusuk tegak: garis – garis yang dibentuk dengan

menghubungkan titik – titik sudut berpasangan yang

membentuk serangkaian ruas garis.

c. Muka sisi tegak: jajaran genjang yang dibentuk oleh rusuk –

rusuk tegak.

- Unsur – unsur prisma segi-n

a. Sisi/Bidang
13
Ed Kohn, MS, Seri Matematika Ketrampilan Geometri, (Bandung: Pakar Raya, 2003),h.149.
22

Sisinya = n+2

b. Rusuk

Memiliki rusuk = 3 n

c. Titik Sudut

Memiliki titik sudut = 2 n

d. Diagonal Ruang

Memiliki diagonal ruang = n ( n−3 )

e. Diagonal Bidang

f. Bidang diagonal

- Sifat – sifat prisma

a. Prisma memiliki bentuk alas dan atap yang kongruen.

b. Setiap sisi bagian samping prisma berbentuk persegi panjang.

c. Prisma memiliki rusuk tegak.

d. Setiap diagonal bidang pada sisi yang sama memiliki ukuran

yang sama.

- Jaring – jaring prisma


23

- Luas permukaan prisma

Lp Prisma =2 ×luas alas+luas bidang−bidang tegak

- Volume prisma

Volume prisma =luas alas× tinggi

4. Limas

Limas adalah sebuah benda yang mempunyai sifat-sifat sebagai

berikut14:

a. Limas hanya mempunyai satu alas yang berupa segi banyak.

14
Ibid.,hlm.156.
24

b. Setiap titik sudut alas membentuk sebuah titik, bukan bidang yang

disebut titik puncak.

c. Semua sisi segitiganya yang bertemu pada titik sudut limas disebut

sisi tegak.

d. Garis yang merupakan perpotongan sisi tegak disebut rusuk

tegak.

e. Garis yang tegak lurus dari titik puncak ke bidang alasnya adalah

tinggi limas.

- Unsur – unsur limas segi-n

a. Sisi/Bidang

Memiliki sisi = n+1

b. Rusuk

Memiliki rusuk = 2 n

c. Titik sudut

Memiliki titik sudut = n+1

- Jarring –jaring limas


25

- Luas permukaan limas

Lp Limas = luas alas+ jumlah luas sisi−sisitegak

- Volume limas

1
Volume limas = ×luas alas ×tinggi
3

2. Hakekat Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang

dapat digunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka

di dalam kelas atau mengatur tutorial, dan untuk menentukan materi/

perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku - buku, film – film,

tipe – tipe, program – program perangkat komputer, dan kurikulum

(sebagai kursus untuk belajar). Setiap model mengarahkan kita untuk


26

mendesain pembelajaran yang dapat membantu siswa mencapai berbagai

tujuan.15

Fungsi model pembelajaran di sini adalah sebagai pedoman bagi

perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas, model pembelajaran adalah suatu

perencanaan yang digunakan sebagai pedoman didalam melaksanakan

pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran.

a. Model Learning Cycle 5 Fase

Model Learning Cycle-5E adalah model pembelejaran yang terdiri

fase-fase atau tahap-tahap kegiatan yang diorganisasikan sedemikian

rupa sehingga siswa data menguasai kompetensi-kompetensi yang harus

dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. 16

Pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan

pendekatan konstruktivis. Model pembelajaran siklus pertama kali

diperkenalakan oleh Robert dan Karplus dalam Science Curriculum

Improvement Study/SCIS. Siklus belajar merupakan salah satu model

pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang pada mulanya terdiri

atas tiga tahap yaitu:

1. Eksplorasi (exploration),

2. Pengenalan konsep (concept introduction), dan


15
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta : Bumi Aksara, 2010), h. 52.
16
Faizatul fajaroh dan I Wayan dasna, Pembelajaran dengan siklus belajar jurusan kimia FMIPA
UM,2007(Http:// [Link]/2007/09/20/pembelajaran-dengan-model-siklus-belajar-learning-
cycle/ diakses 29 juni 2015
27

3. Penerapan konsep (concept application).

Pada proses selanjutnya, tiga siklus tersebut mengalami

pengembangan. Tiga siklus tersebut saat ini dikembangkan menjadi lima

tahap oleh Anthony W lorsbach, yang terdiri atas tahap (1) pengembangan

minat (engagement), (2) eksplorasi (exploration), (3) penjelasan

(explanation), (4) elaborasi (elaboration/extention), dan (5) evaluasi

(evaluation).17

1. Tahap Pembelajaran

a. Pembangkitan Minat

Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus

belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan

mengembangkan minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang

topic yang akan diajarkan. Hal ini dilakkan dengan cara mengajukan

pertanyaan tentang proses factual dalam kehidupan sehari-hari (yang

berhubungan dengan topic bahasan). Dengan demikian, siswa akan

memberikan respons/ jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut

dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal

siswa tentang pokok bahasan. Kemudian guru perlu melakukan

identifikasi ada/tidaknya kesalahan konsep siswa. Dalam hal ini guru

17
Op. Cit., hlm. 170-171.
28

harus membangun keterkaitan/perikatan antara pengalaman keseharian

siswa dengan topic pembelajaran yang akan dibahas.

b. Ekplorasi (Exploration)

Eksplorasi merupakan tahap kedua dalam model siklus belajar.

Pada tahap ekplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4

siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam

kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam

kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau

membuat hipotesis baru, mencoba alternative pemecahannya dengan

teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide

atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru

berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap

ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah

benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah, sebagian benar.

c. Penjelasan

Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus pembelajaran. Pada

tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan

suatu konsep dengan kalimat / pemikiran sendiri. Meminta bukti dan


29

klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis

penjelasan antara siswa atau guru. Dengan adanya siskusi tersebut,

guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas,

dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.

d. Elaborasi

Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap

elaborasi siswa menerapkan konsep dan ketrampilan yang telah

dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan

demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah

dapat menerapkan/mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya

dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat diracang dengan baik oleh guru

maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi

belajar siswa tentu dapat medorong peningkatan hasil belajar.

e. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap

evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa

dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri

dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri

dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang

menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh


30

sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan

evaluasi tentang proses penerapan metode siklus belajar yang sedang

diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik,

atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan

dapat mengetahui kekurangan atau menjuan dalam proses

pembelajaran yang sudah dilakukan.

Kelima tahap tersebut dapat digunakan dalam bentuk siklus seperti

di bawah ini:

5
lu
a
v
.E
n
tiog
1
m
e
2
r4
bp
x
3

Gambar 2.1 Strategi Pembelajaran Siklus


31

Berdasarkan uraian di atas peneliti berpendapat aktivitas dalam siklus

belajar bersifat fleksibel tetapi urutan fase belajarnya bersifat tetap. Format

belajar dalam siklus belajar dapat berubah tetapi urutan setiap fase tersebut

tidak dapat dirubah, ditambah maupun dikurangi, karena jika urutannya

dirubah atau fasenya dikurangi maka model yang dimaksud tidak berupa

siklus belajar 5 fase.

Kelima tahap si atas adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam

menerapkan model learning cycle 5 fase. Sebagai guru dan siswa mempunyai

peran masing-masing dalam setiap kegiatan pembelajaran model learning

cycle 5 fase di sediakan dalam table dibawah ini.

Tabel 2.1

Sintaks Model Pembelajaran Learning Cycle 5 Fase

Tahap siklus Kegiatan

belajar Guru Siswa

1. Tahap a. Membangkitkan a. Mengembangkan

Pengembang minat dan minat / rasa ingin

an minat keingintahuan tahu terhadap topik

(Engagemen (curiosity) siswa. bahasan.

t)

b. Memberikan
32

b. Mengajukan respons terhadap

pertanyaan tentang pertanyaan guru.

proses fsktusl dalam

kehidupan sehari-hari

(yang berhubungan

dengan topik
c. Berusaha
bahasan).
mengingat

pengalaman sehari-

c. Mengaitkan topik hari dan

yang dibahas dengan menghubungkan

pengalaman siswa. dengan topik

Mendorong siswa pembelajaran yang

untuk mengingat akan dibahas.

pengalaman sehari-

harinya dan

menunjukkan

keterkaitannya

dengan topik

pembelajaran yang

sedang dibahas .

2. Tahap a. Membentuk a. Membentuk


33

Eksplorasi kelompok, memberi kelompok dan

(Exploration kesempatan untuk berusaha bekerja

) bekerja sama dalam dalam kelompok.

kelompok kecil

secara mandiri.

b. Guru berperan b. Membuat prediksi

sebagai fasilitator. baru.

c. Mendorong siswa c. Mencoba

untuk menjelaskan alternative

konsep dengan pemecahan dengan

kalimat mereka teman sekelompok,

sendiri. mencatat

pengamatan, serta

mengembangkan

ide-ide baru.

d. Meminta bukti dan d. Menunjukkan bukti

klarifikasi penjelasan dan memberi

siswa, mendengar klarifikasi terhadap


34

secara kritis ide-ide baru.

penjelasan antar

siswa.
e. Mencermati dan

berusaha

e. Memberi definisi dan memahami

penjelasan dengan penjelasan guru.

memakai penjelasan

siswa terdahulu

sebagai dasar diskusi.

3. Tahap a. Mendorong siswa a. Mencoba memberi

penjelasan untuk menjelaskan penjelasan terhadap

(Explanation konsep dengan konsep yang

) kalimat mereka ditemukan.

sendiri.

b. Menggunakan

pengamatan dan

b. Meminta bukti dan mencatat dala,

klarifikasi penjelasan memberi

siswa. penjelasan.
35

c. Melakukan

pembuktian
c. Mendengar secara terhadap konsep
kritis penjelasan antar yang diajukan.
siswa atau guru.

d. Mendiskusikan.
d. Memandu diskusi.

4. Tahap a. Mengingatkan siswa a. Menerapkan

Elaborasi pada penjelasan konsep dan

(Elaboration alternative dan ketrampilan dalam

) mempertimbangkan situasi baru dan

data / bukti saat menggunakan label

mereka dan definisi formal.

mengekplorasi situasi

baru. b. Bertanya,

mengusulkan

b. Mendorong dan pemecahan,

memfasilitasi siswa membuat


36

megaplikasi konsep / keputusan,

ketrampilan dalam melakukan

setting yang baru / percobaan, dan

lain. pengamatan.

5. Tahap a. Mengamati a. Mengevaluasi

Evaluasi pengetahuan atau belajarnya sendiri

(Evaluation) pemahaman siswa dengan mengajukan

dalam hal penerapan pertanyaan terbuka

konsep baru. dan mencari

jawaban yang

menggunakan

observasi, bukti,

dan penjelasan

yang diperoleh

sebelumnya.
b. Mendorong siswa

melakukan evaluasi
b. mengambil
diri.
kesimpulan lanjut

atas situasi belajar


37

yang dilakukanya.

c. Mendorong siswa

memahami c. melihat dan

kekurangan / menganalisis

kelebihan dalam kekurangan /

kegiatan kelebihannya dalam

pembelajaran. kegiatan

pembelajaran.

b. Model Learning Start With A Question

1. Pengertian model Learning Starts With A Question (LSQ)

Proses mempelajari sesuatu yang baru akan lebih efektif jika

siswa tersebut aktif, mencari pola dari pada menerima saja. Salah satu

cara menciptakan pola belajar aktif ini adalah dengan merangsang siswa

untuk bertanya tentang mata pelajaran mereka, tanpa penjelasan dari

pengajar terlebih dahulu. Strategi ini merangsang untuk bertanya kunci

belajar.

Model pembelajaran Learning Start With a Question adalah

strategi pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan


38

siswa dalam pembelajaran dikelas.18 Tipe Learning Start With a

Question (LSQ) adalah strategi pembelajaran aktif dalam bertanya,

dimana siswa dilibatkan langsung dalam proses pembelajaran. Keaktifan

siswa dalam proses pembelajaran akan menciptakan situasi belajar

aktif. Belajar aktif sangat diperlukan siswa untuk memperoleh hasil

belajar yang maksimum. Dalam pembelajaran aktif, siswa sebagai

subjek melakukan banyak kegiatan, sedangkan guru lebih banyak

membimbing dan mengarahkan.

2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Learning Starts With

A Question.

Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani

mengatakan, “Langkah-langkah penerapan model pembelajaran

Learning Strats With A Question (LSQ), adalah:”

a). Pilih bahan bacaan yang sesuai kemudian bagikan kepada peserta

didik. Dalam hal ini bacaan tidak harus difotokopi kemudian dibagi

kepada peserta didik, akan tetapi dapat dilakukan dengan memilih satu

topik atau bab tertentu dari buku teks. Usahakan bacaan itu bacaan yang

memuat informasi umum atau yang tidak detail, atau bacaan yang

memberi peluang untuk ditafsirkan dengan berbeda-beda.

18
Silberman, active learning – 101 Strategi Pembelajaran Aktif(terjemahaan Raisul Muttaquien),
(Bandung: Penerbit Nusamedia, 2012)
39

b). Minta peserta didik untuk mempelajari bacaan sendiri atau

dengan teman.

c). Minta peserta didik untuk memberi tanda pada bagian bacaan

yang tidak dipahami. Anjurkan mereka untuk memberi tanda sebanyak

mungkin. Jika waktu memungkinkan, gabungkan pasangan belajar

dengan pasangan yang lain, kemudian minta mereka untuk membahas

poin-poin yang tidak diketahui yang telah diberi tanda.

d). Di dalam pasangan atau kelompok kecil, minta peserta didik

untuk meuliskan pertanyaan tentang materi yang telah mereka baca.

e). Kumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang telah ditulis oleh peserta

didik.

f). Sampaikan pelajaran dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan

tersebut.19

Teknik bertanya merupakan cara yang dihunakan oleh guru untuk

mengajukan sejumlah pertanyaan kepada siswanya dengan

memperhatikan karakteristik dan latar belakang siswa. Dengan

mengajukan pertanyaan yang menantang, siswa akan terangsang untuk

berfikir dan berimajinasi sehingga dapat mengembangkan ide-ide

barunya yang berisi tetnag informasi yang lengkap. Dalam proses


19
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta:
Pustaka Insan Mandiri, 2008), h. 44-45.
40

belajar mengajar, bertanta memiliki peranan penting, karena bertanya

dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu

masalah yang sedang dibahas, menuntun proses berfikir siswa, dan

memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.

3. Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Learning

Starts With A Question (LSQ)

“sudrajat dalam blognya mengatakan bahwa terdapat kelebihan dan

kelemahan dalam Model Pembelajaran Learning Starts With A

Question. Diataranya adalah:”

a) Kelebihan Model Pembelajaran Learning Starts With A Question

1) Siswa lebih siap memulai pelajaran, karena siswa telah

terlebih dahulu belajar sehingga mempunyai sedikit

gambaran dan lebih paham setelah mendapat tambahan

penjelasan dari guru;

2) Siswa menjadi aktif bertanya;

3) Materi dapat diingat lebih lama oleh siswa;

4) Kecerdasan siswa lebih diasah pada saat siswa belajar untuk

mengajukan pertanyaan

5) Mendorong tumbuhnya keberanian siswa untuk

mengutamakan pendaat secara terbuka dan memperluas

wawasan siswa melalui bertukar pendapat;


41

6) Siswa belajar memecahkan masalah sendiri dan bekerjasama

antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai;

7) Dapat mengetahui mana siswa yang belajar dan mana siswa

yang tidak belajar.

b) Kekurangan Model Pembelajaran Learning Starts With A

Question

1) Membutuhkan waktu panjang jika banyak pertanyaan yang

dilontarkan siswa;

2) Jika guru memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk

menjawab, pertanyaan atau jawaban bisa melantur jika siswa

tersebut tidak belajar atau tidak menguasai materi;

3) Apatis bagi siswa yang tidak terbiasa berbicara dalam forum

atau siswa yang pasif;mensyaratkan siswa memiliki latar

belakang yang cukup tentang topik atau masalah yang

didiskusikan.20

B. Kerangka Berfikir

Matematika disekolah merupakan mata pelajaran yang menurut

sebagian besar siswa sangat sulit dan sangat menakutkan. Hal ini kita ketahui

dari publikasi-publikasi penelitian hasil belajar matematika pada kelas VIII

20
Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif-Menyenangkan, (Yogyakarta: Fakultas
Tarbiah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hal.280.
42

SMP N 2 Tambun Selatan yang telah dilakukan. Selain itu, hasil belajar

matematika siswa dari aspek kognitif sangat rendah. Dapat dilihat dari nilai

rata-rata hasil belajar ujian matematika yang paling rendah jika, dibandingkan

dengan nilai rata-rata hasil belajar ujian pelajaran lainya. Semua ini

disebabkan oleh berbagai faktor, dan salah satu faktor yang paling

menentukan hasil belajar adalah pemilihan model pembelajaran guru dalam

kegiatan belajar mengajar.

Dalam proses belajar terjadi interaksi dua arah antara guru dengan

siswa. Hal ini, dalam kegiatan belajar mengajar yang dituntut aktif adalah

guru dan siswa. Namun pada kenyataanya siswa lebih banyak pasif, yang

selalu aktif dalam belajar mengajar hanyalah guru. Agar hasil belajar lebih

bermakna serta menyenagkan yaitu dengan menggunkan model pembelajaran

Learning Cycle 5 Fase dan model pembelajaran Learning Start With a

Question yang mengaktifkan siswa untuk berpikir lewat pembelajaran aktif

inovatif ini, sehingga siswa dapat menentukan konsep sendiri maupun

bimbingan guru.

Siswa SMP lebih cenderung tertarikkepada pembelajaran yang

langsung dapat diaplikasikan didalam kehidupan sehari-hari, sehingga akan

lebih maksimal jika, pembelajaran matematika dipelajari tidak hanya untuk

menguasai materi secara teori saja, namun juga mampu mereka pergunakan

dalam kehidupan sehari-hari.


43

Berdasarkan deskripsi teori ini diatas, maka kerangka berpikir

penelitian ini adalah “ di duga terdapat perbedaan antara model pembelajaran

Learning Cycle 5 Fase dengan model pembelajaran Learning Start With a

Question pada siswa kelas VIII SMP N 7 Tambun Selatan tahun ajaran

2015/2016.

C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir yang diuraikan di atas, maka

hipotesis penelitian ini adalah : “Terdapat Perbedaan yang signifikan antara Hasil

Belajar Matematika Siswa Materi Bangun Ruang diajarkan menggunakan Model

Learning Cycle 5 Fase dengan Model Learning Start With A Question di kelas

VIII SMPN 7 Tambun Selatan.


44

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperbaiki,

menganalisa, dan mningkatkan proses pembelajaran di . Melalui pembelajaran

dengan menggunakan model Learning Cycle 5 Fase dan model Learning Start

With a Question.

Secara khusus, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui

perbedaan signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajarkan

melalui model Learning Cycle 5 Fase dengan hasil belajar matematika siswa

yang diajarkan melalui model Learning Start With a Question.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian
45

Penelitian ini dilaksanakan di SMP NEGERI 7 Tambun Selatan

Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat. Sebagai subjek penelitian ini adalah

kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2015/2016.

2. Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran

2015/2016 yaitu sekitar bulan Februari sampai April 2016.

C. Variabel Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel terikat (Y) dan

variabel bebas (X), dengan perincian sebagai berikut:

1. Variabel terikat (Y) yaitu Hasil Belajar

2. Variabel bebas (X) terdiri dari dua model pembelajaran yaitu learning

Cycle 5 Fase dan Learning Start With A Question.

D. Metode Penelitian

Model penelitian ini akan menggunakan metode eksperimen.

Kelompok pertama disebut kelas eksperimen yaitu kelas yang diajarkan

dengan menggunakan model Learning Cycle 5 Fase sedangkan, kelompok

kedua disebut kelas control yaitu kelas yang diajarkan dengan model Start

With a Question.
46

Dalam design ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih

secara random (R). kelompok pertama (kelas eksperimen) diberi perlakuan

(X) pendekatan model Learning Cycle 5 Fase dan kelompok yang lain sebagai

kelas control yang diberikan Model Learning Start With a Question.

Pada tahap perlakuan (X) peneliti mengajarkan materi ajar bangun ruang pada

kelas eksperimen dengan menggunakan pendekatan model Learning Cycle 5

Fase dan pada kelas control mengajar dengan model Learning Start With a

Question.

Selesai diberikan materi kemudian penulis memberikan soal tes yang

variatif kepada siswa kelas eksperimen dan kelas control, berupa soal tes

matematika pada pokok bahasan bangun ruang dengan sub pokok bahasan

kubus, balok, prisma dan limas.

E. Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan dengan perlakuan terhadap dua kelompok

yang kemudian setelah perlakuan dilakukan pengukuran hasil belajar untuk

masing-masing kelompok. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut :

X1 Z1 Y1

X2 Z2 Y2

Keterangan :
47

X1 = Siswa kelas eksperimen

X2 = Siswa kelas kontrol

Z1 = Model Learning Cycle 5 Fase yang digunakan di kelas eksperimen

Z2 = Model Learning Start With A Question

Y1 = Hasil belajar matematika pada kelas eksperimen

Y2 = Hasil belajar matematika pada kelas control

F. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII

SMP N 7 Tambun Selatan, kecamatan Tambun Selatan, kabupaten Bekasi,

provinsi Jawa Barat. Penelitian ini hanya dapat dilakukan bagi populasi

terhingga. Penelitian populasi dilakukan apabila peneliti ingin melihat semua

liku-liku yang ada di dalam populasi. Populasi tersebut diantaranya:

a. Populasi Target

Populasi target penelitian ini adalah seluruh siswa SMP N 7 Tambun

Selatan, kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, provinsi Jawa

Barat, tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 350 siswa

b. Populasi Terjangkau
48

Populasi terjangkau dalam penelitian ini dibagi atas siswa kelas VIII

SMP N 7 Tambun Selatan, kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten

Bekasi, provinsi Jawa Barat, tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 120

siswa.

2. Sampel

Sampel yang digunakan peneliti terdiri dari 80 siswa kelas VIII SMP

N 7 Tambun Selatan yang terdaftar dalam semester genap tahun ajaran

2015/2016 yang terdiri dari 40 siswa kelas eksperimen dan 40 siswa kelas

kontrol.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik random terbatas.

Alasan pengambilan sampel dengan teknik random terbatas adalah sebagai

berikut.

a. Usia pada saat itu relative sama.

b. Berasal dari lingkungan masyarakat yang sama sebab rata-rata

siswa berasal dari daerah sekitar lokasi sekolah.

c. Diajarkan oleh guru yang sama pada materi sebelumnya.21

Dengan teknik random terbatas terpilih sampel yaitu kelas VIIIA

sebagai kelompok eksperimen yang diajarkan dengan menggunakan

model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dan kelas VIIIB sebagai

21
Sugiono. Op. cit., h. 120.
49

kelompok control yang diajarkan dengan menggunakan model

pembelajaran Learning Start With A Question yang masing-masing

berjumlah 40 siswa.

G. Instrumen Penelitian

Berdasarkan masalah penelitian yang peniliti ambil yaitu tentang hasil

belajar siswa matematika untuk materi ajar bangun ruang sub bab

mengidentifikasikan unsur-unsur, jaring-jaring, sifat-sifat bangun ruang dan

menghitung luas permukaan volume bangun ruang serta menggunakan dalam

pemecahan masalah yang terkait dengan pendekatan pembelajaran. Maka,

pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan alat yang perlu dipersiapkan

adalah soal-soal tes. Tes yang digunakan jenis tes objektif berbentuk pilihan

ganda dengan 5 option. Jumlah item soal yang diberikan disesuaikan dengan

lama waktu yang tersedia yaitu 120 menit, maka jumlah item soal adalah 30

soal pilihan ganda.

1. Teknik Penentuan Kualitas Instrumen

a. Uji Validitas Butir Soal

Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep

yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai.22

22
Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), h.12.
50

Butir soal disusun berdasarkan validitas isi, maksudnya butir soal di

susun untuk mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai anak

sesuai dengan tujuan pembelajaranya.

Instrument uji coba sebanyak 35 soal. Instrument ini diujicobakan

pada kelas sampel. Setelah di peroleh hasil uji, hasil belajar ini dihitung

dengan menggunakan rumus korelasi point biserial

Rpbis =
Mp−Mt
St √ p
q

Keterangan :

Rpbis = Koefisien korelasi biserial

Mp = Mean subjek skor yang menjawab betul item yang di cari

korelasinya dengan tes

Mt = Mean skor total (skor rata-rata dari seluruh pengikut tes)

St = Standar deviasi skor total

p = proporsi subjek yang menjawab betul item tersebut

q = 1- p

Dengan kriteria penguji : r hitung > r tabel, maka data valid.

b. Realibilitas Instrumen
51

Realibilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut

dalam menilai apa yang dinilainya.23

Realibilitas dari instrument uji coba hasil belajar matematika dengan

menggunakan rumus KR-20 (Kuder Richardson)24 yaitu:

{ }{ St −∑ pq
}
2
k
r 11=
k−1 St
2

Keterangan :

r11 = realibilitas instrument

k = banyaknya butir pertanyaan

St = standar deviasi dari tes

p = proporsi subjek yang menjawab betul pada suatu butir

(proporsi subjek yang mendapat skor 1

q = proporsi subjek yang mendapat skor 0 (1-p)

dengan kriteria pengujian : rhitung > r tabel

c. Taraf Kesukaran Soal

23
Ibid., hlm. 16.
24
Suharsimi Arikunto, Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 188.
52

Perhitungan tingkat kesukaran soal adalah. soal yang baik

adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. 25 Soal

yang terlalu mudah membuat tidak merangsang siswa untuk

meningkatkan usaha memecahkannya. Sebaliknya, soal yang terlalu

sukar akan menyebabkan siswa putus asa dan tidak mempunyai

semangat untuk mencoba lagi karena diluar kemampuanya.

Rumus untuk mencari indeks kesukaran soal sebagai berikut:

U +L
TK =
T

Keterangan :

TK = tingkat kesukaran

U = banyaknya peserta kelompok atas (upper group) yang

menjawab benar untuk tiap soal

L = banyaknya peserta kelompok bawah (lower group) yang

menjawab benar untuk tiap soal

T = jumlah siswa gabungan dari upper group dan lower group

d. Daya Pembeda

25
Ibid., hlm. 207.
53

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan

antara siswa-siswa yang berkemampuan tinggi (kelompok pandai) dengan

siswa berkemampuan rendah (kelompok kurang).26

Rumus untuk menunjukan indeks diskriminan adalah:

U−L
DP=
0,5 T

Keterangan:

DP = daya pembeda

U = banyaknya peserta kelompok atas (upper group) yang

menjawab benar untuk tiap soal

L = banyaknya peserta kelompok bawah (lower group) yang

menjawab benar untuk tiap soal

T = jumlah siswa gabungan dari upper group dan lower group

2. Perhitungan Mean, Median, Modus, dan Simpangan Baku

a. Mean

Dalam bahasa inggris nilai rata –rata hitung di kenal dengan

istilah aritmatic mean atau sering di singkat dengan dengan mean saja.

Secara singkat mean dapat diartikan sebagai sekelompok (sederetan)

26
Ibid.,h.211.
54

angka (bilangan) adalah jumlah dari keseluruhan angka (bilangan)

yang ada, dibagi banyaknya angka tersebut27.

Rumus untuk menghitung mean adalah:

x=
∑ fi . xi
∑f
Keterangan:

X = nilai rata –rata

∑ fi . xi = jumlah perkalian dari fi dan xi

∑f = jumlah frekuensi

b. Median

Median diartikan sebagai suatu nilai atau suatu angka yang

membagi suatu distribusi data ke dalam dua bagian yang sama besar.28

Median menentukan letak data setelah data itu disusun menurut urutan

nilainya.

Rumus untuk menentukan median adalah:

(
[ ]
n−f )
1
kb
2
Md=i+ p
fi

27
Sudjana. Metode Statistika. (Bandung : Tarsito, 1996) h. 239.
28
Anas [Link] Statistika Pendidikan. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2010) h.93.
55

Keterangan:

Md = nilai median

i = tepi bawah kelas median (kelas median dimana terletak)

p = panjang interval kelas

n = banyaknya data

f kb = frekuensi kumulatif sebelum kelas median

f kb = frekuensi kelas median

c. Modus

Modus untuk menyatakan fenomena yang paling banyak terjadi atau

paling banyak terdapat.29

Rumus untuk menunjukkan modus adalah:

Mo=i+ p
[ ]fa
f a+ f b

Keterangan:

Mo = nilai modus

i = tepi bawah kelas modus (kelas interval dengan frekuensi

terbanyak)

29
Ibid., hlm. 77.
56

fa = selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas

sebelumnya

fb = selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas

sesudahnya

p = panjang interval kelas

d. Simpangan Baku

Standar Deviasi adalah nilai simpangan dari masing-masing

skor atau nilai dari nilai rata-rata hitung yang telah distandarkan.

Standar deviasi untuk data tunggal:


2
N ∑ X 2−( ∑ X )
SD=
N2

Standar deviasi data kelompok:

√ ( )
∑ fx2 − ∑ fx
2

SD=
N N
57

Keterangan:

SD = standar deviasi

N = number of cases

∑ x2 = jumlah skor X setelah terlebih dahulu dikuadratkan

(∑ x )
2
= jumlah skor X yang kemudian dikuadratkan

∑ fx2 = jumlah dari hasil perkalian X2 dengan frekuensinya masing-

masing

( )
∑ fx
2

= jumlah dari hasil perkalian antara midpoint dengan


N

frekuensinya masing-masing yang kemudian dikuadratkan

3. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah suatu proses mengolah dan menginterprestasi data

dengan tujuan untuk mendudukan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya

hingga memiliki makna dan arti yang jelas sesuai tujuan penelitian.

Setelah data diperoleh, kemudian dilakukan perhitungan statistik dan

membandingkan hasil belajar matematika menggunakan model learning cycle

5 fase dengan model learing start with a question. Perhitungan statistik


58

meliputi uji persyaratan analisis dan uji [Link] analisis terdiri dari uji

normalitas dan uji homogen.

1. Uji Persyaratan Analisis Data

a. Uji Normalitas

Uji normalitas untuk mengetahui dimana kelompok a (model

pembelajaran learning cycle 5 fase) dan kelompok b (siswa yang

diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran learning start

with a question) terdistribusi secara normal. Jika data normal, maka

statistika parametris dapat dilakukan. Sebaliknya, jika data tidak

normal maka teknik yang digunakan adalah statistic non parametris

yang tidak berasumsi bahwa data terdistribusi normal. 30 Rumus yang

digunakan adalah uji Liliefors dengan langkah-langkah sebagai berikut

1). Data penelitian x1, x2, x3, ……xn dijadikan bilangan baku z1, z2, z3,

….zn dengan rumus :

x−x
zi=
S

2). Menghitung peluang F ( zi )=P (z< zi)

3). Selanjutnya dihitung prporsi z1, z2, z3, ….zn yang lebih kecil atau

sama dengan zi dan juga proposi itu dinyatakan oleh s (zi). Maka:

30
Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: ALFABETA, 2011), h. 75.
59

banyaknya z 1 , z 2 , ... z n yang< z i


s ( zi )=
n

4). Hitung selisih F(zi) – S(zi) kemudian tentukan harga mutlak.

5). Ambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih

tersebut. Sebutlah harga terbesar ini Lo.

b. Uji Homogen

Uji kesamaan dua varians digunakan untuk menguji apakah sebaran

data tersebut homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua

variansnya.31 uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data

tersebut dalam distribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk

menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji statistik

parametrik benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar

kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok.

Uji homogenitas varian populasi dengan menggunakan uji-F dengan

langkah-langkah adalah sebagai berikut :

1) H0 : Fhitung = Ftabel

H1 : Fhitung ≠ Ftabel

2) Menghitung F hitung dengan rumus :

varian terbesar
F=
varianterkecil
31
Ibid., h. 204.
60

3) Taraf signifikan : 0,05 atau 5%

4) Menentukan tabel rumus :

1
F
( 1
1− α
2 ) ( n A−1 ; n B−1 ) = F (α− 1 ) ( nA−1 ; nB−1 )

Data mempunyai varians yang homogeny bila Fhitung¿Ftabel = F (db

pembilang-1, db penyebut-1).

2. Uji Hipotesis Penelitian

untuk mengetahui Perbedaan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi

Bangun Ruang yang diajarkan menggunakan Model Learning Cycle 5 Fase

dengan Model Learning Start With a Question di kelas VIII SMPN 7 Tambun

Selatan menggunakan rumus uji-t. uji hipotesis penelitian menggunakan uji-t

dengan taraf signifikan 0,05 yaitu :

a. Rumus uji-t32 yang digunakan adalah :

χ 1− χ 2
t

= ∑ ( x 1− χ 1 )2 +∑ ( x 2− χ 2) 2
N ( N−1 )

Keterangan :

t : Nilai t hitung

.X 1 : rata–rata hasil belajar siswa kelas eksperimen yang

diajarkan dengan Model Learning Cycle 5 Fase

32
Suharsimi Arikunto. Op. cit., h. 309
61

X2 : rata – rata hasil belajar siswa kelas control yang diajarkan

dengan Model Learning Start With A Question

∑ ( x 1 − χ 1 )2 : Jumlah dari hasil belajar kelas eksperimen yang dikurangi

rata-rata yang kemudian dikuadratkan

∑( x2 − χ 2)2 : Jumlah dari hasil belajar kelas kontrol yang dikurangi rata-

rata yang kemudian dikuadratkan.

N : Number of Cases

Untuk melihat hipotesis diterima atau ditolak, maka dicari t tabel

dengan cara melihat pada daftar t tabel dengan dk = nA + nB – 2 = db,α =5 %

4. Hipotesis Statistik

Untuk pengujian hipotesis digunakan kriteria pengujian dengan

derajat kebebasan n1 + n2 – 2 dan taraf signifikan sebesar 0,05. Pengujian

hipotesis ini dirumuskan dalam hipotesis statistik sebagai berikut:

H0 : µ1 = µ2

H1 : µ1 ≠ µ2

Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan kesamaan

kedua rata-rata siswa dengan uji-t dengan rumus sebagai berikut:

H0 : ditolak jika t hitung ≥ t tabel

H1 : diterima jika t hitung ≤ t tabel

Keterangan :
62

H0 : Tidak terdapat perbedaan signifikan antara hasil belajar matematika

siswa yang diajarkan melalui pendekatan pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan hasil

belajar matematika siswa yang diajarkan melalui model pembelajaran

learning start with a Question pada siswa kelas VIII pada materi

bangun ruang di kelas VIII SMP N 7 Tambun Selatan, kabupaten

Bekasi provinsi Jawa Barat tahun pelajaran 2015/2016.

H1 : Terdapat perbedaan signifikan antara hasil belajar matematika siswa

yang diajarkan melalui pendekatan pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan hasil

belajar matematika siswa yang diajarkan melalui model pembelajaran

learning start with a Question pada siswa kelas VIII pada materi

bangun ruang di kelas VIII SMP N 7 Tambun Selatan, kabupaten

Bekasi provinsi Jawa Barat tahun pelajaran 2015/2016.


63

DAFTAR PUSTAKA:

1. Wina, Made. 2014. Strategi Pembelajaran Inovatif Kotemporer. Jakarta:

Bumi Aksara.

2. Silberman, Mel. 2012. Active Learning – 101 Strategi Pembelajaran Aktif

(terjemahan Rasul Muttaquien). Bandung: Penerbit Nusmedia.

3. Saefudin, A Aziz. 2012. Meningkatkan Profesionalisme Guru dengan

PTK. Yogyakarta: PT. Citra Adi Pratama.

4. Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah

Dasar. Jakarta: Kencana Prenadamedia.

5. Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

6. [Link]

menurut-pendapat-ahli-dan-kurikulum di unduh: 08/01/16 pukul 19.55

WIB.
64

7. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.

8. Faizatul Fajaroh dan I Wayan Dasna. Pembelajaran dengan Siklus Belajar

jurusan

9. Zaini, Hisyam, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. 2008. Strategi

Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Mandiri.

10. Hamruni. 2009. Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif-

Menyenangkan. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.

11. Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:

Bumi Aksara.

12. Sudjana, Nana. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

13. Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada.

14. Sugiyono. 2011. Statistika untuk Penelitian. Bandung: ALFABETA.

15. Suharjana, Agus. 2008. Pengenalan Bangun Ruang dan Sifat-Sifatnya di

SD. Yogyakarta: PPPPTK Matematika.

Anda mungkin juga menyukai