0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan18 halaman

Panduan Terapi ECT untuk Keperawatan

Makalah ini membahas tentang terapi Electroconvulsive Therapy (ECT) yang merupakan pengobatan untuk penyakit psikiatri berat dengan memberikan arus listrik singkat pada kepala untuk menimbulkan kejang. Terapi ini efektif untuk mengobati gangguan afek berat seperti depresi berat dan bipolar serta skizofrenia katatonik apabila tidak respons terhadap obat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan18 halaman

Panduan Terapi ECT untuk Keperawatan

Makalah ini membahas tentang terapi Electroconvulsive Therapy (ECT) yang merupakan pengobatan untuk penyakit psikiatri berat dengan memberikan arus listrik singkat pada kepala untuk menimbulkan kejang. Terapi ini efektif untuk mengobati gangguan afek berat seperti depresi berat dan bipolar serta skizofrenia katatonik apabila tidak respons terhadap obat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

Electroconvulsive Therapy (ECT)

DI SUSUN OLEH :

NAMA KELOMPOK V :
1. ANDRE MASLEBU 6. NEIBEL KAPITAN
2. ÀMISA BUTON 7. WINDI WAKANO
3. ADONIA HEUMASSE 8. SYAHRUL A. ADI
4. MARIA TOMATALA 9. RAHIMA BOING
5. YAMI TALAPESSY

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MALUKU HUSADA


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjakkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala

berkat dan rahmat-Nyalah kepada kami sehingga pembuat tugas makalah tentang

terapi ECT (Electroconvulsive Therapy) dapat terselesaikan.

Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada setiap pihak yang

membantu kami dalam pembuatan setiap proses pembuatan tugas makalah ini

tanpa bantuannya maka tugas makalah ini tidak dapat terselesaikan tepat pada

waktunya

Kami menyadari sungguh bahwa dalam pembuatan tugas makalah ini

masih jauh dari kata sempurna maka dari itu kami minta kritik serta saran yang

membangun dari teman-teman atau pun dari bapa/ibu dosen demi perbaikan

makalah ini kedepannya

Semogah makalah ini dapat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan

serta dapat menjadi pedoman dan reverensi dalam pengembangan ilmu kesehatan.

Kairatu, 09 November 2022


Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

A. Latar Belakang..........................................................................................1

B. Tujuan........................................................................................................1

C. Manfaat......................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3

A. Pengertian ECT.........................................................................................3

B. Indikasi Pemberian ECT...........................................................................4

C. Kontraindikasi Pemberian ECT.................................................................6

D. Efek Samping Pemberian ECT..................................................................7

E. Persiapan Pasien........................................................................................9

F. Persiapan Alat.............................................................................................10

G. Cara pemberian ECT...............................................................................10

H. Peran Perawat..........................................................................................11

BAB I PENUTUP..................................................................................................14

A. Kesimpulan..............................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk

penyakit psikiatri berat dimana pemberian arus listrik singkat pada kepala

digunakan untuk kejang tonik klonik umum.

Pengobatan ECT tetap kontroversial dan beberapa pandangan yang

saling bertentangan tentang hal itu. ECT saat ini sah walaupun efek dari ECT

tidak dapat dibenarkan. Walaupun mekanisme kerjanya belum diketahui,

terapi ini efektif tidak nyeri dan aman (angka kematian lebih sedikit daripada

terapi lain atau pada yang tidak diobati: 0,01-0,03 % dari pasien yang

diterapı).

Electro Convulsive Therapy/ ECT, diperkenalkan oleh Carletti dan Bini

pada tahun 1937 sebagai terapi yang besifat somatic terhadap pasien dengan

gangguan mental. ECT juga dikenal sebagai terapi kejut listrik, digunakan

sebagai perawatan akut rumah sakit pada pasien depresi perilaku yang agitasi

atau pasien yang bunuh diri, psikotik, atau berbahaya bagi orang lain.

B. Tujuan

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk

1. Mempelajari Electro Convulsive Therapy/ ECT.

2. Mempelajari Asuhan Keperawatan pasien yang diberikan terapi ECT.

1
C. Manfaat

Penyusun mengharapkan makalah ini bemanfaat

1. Bagi mahasiswa agar memahami Electro Convulsive Therapy/ ECT dan

penggunaannya serta Asuhan Keperawatan pasien yang diberikan terapi

ECT.

2. Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensiterapi ECT.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian ECT

Elecro Convulsive Therapy/ ECT, pertama kali diperkenalkan oleh 2

orang neurologist Italia, Ugo Carletti dan Lucio Bini pada tahun 1937 sebagai

terapi yang besifat somatic terhadap pasien dengan gangguan mental. ECT

digunakan secara luas pada tahun 1950-an dan 1960-an untuk berbagai

kondisi. Sekarang ECT hanya boleh digunakan dalam jumlah yang lebih kecil

dan pada kondisi yang lebih serius.

ECT atau yang lebih dikenal dengan elektroshock atau terapi kejut

listrik adalah suatu terapi psikiatri yang menggunakan energi shock listrik

dalam usaha pengobatannya. Diperkirakan hampir 1 juta orang di dunia

mendapat terapi ECT setiap tahunnya dengan intensitas antara 2-3 kali

seminggu. ECT efektif pada hampır 75% pasien yang menjalankan prosedur

dengan benar.

Terapi ECT adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand

mal secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang

dipasang pada satu atau dua temples. (Stuart Sundeen, 1998).

Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk

penyakit psikiatri berat dimana pemberian arus histrik singkat pada kepala

digunakan untuk kejang tonik klonik umum. (Szuba and Doupe, 1997).

ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat

memberi efek terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik.

Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang dimana seseorang kehilangan

3
kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang mekanisme pasti dari kerja

ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan memuaskan.

Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan

kadar serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada pasien depresi

yang tidak responsif terhadap terapi farmmakologis.

Terapi ini menghasilkan kejang-kejang karena pengaruh aliran listrik

yang diberikan pada pasien melalui elektroda-elektroda pada lobus frontalis.

Dalam electroconvulsive terapi, arus listrik dikirim melalui kulit kepala ke

otak. Elektroda ditempatkan pada kepala pasien dan dikendali kan,

menyebabkan kejang-kejang singkat di otak.

Pada saat terapi ini dijalankan, pasien akan kejang-kejang dan

kehilangan kesadaran, kemudian kejang-kejang lambat laun hilang. Sebelum

ECT, pasien diberi relaksan otot setelah anestesi umum. Bila ECT dilakukan

dengan benar, akan menycbabkan pasien kejang, dan relaksasi otot diberikan

untuk membatasi respon otot selama episode. Karena otot rileks, penyitaan

biasanya akan terbatas pada gerakan kecil tangan dan kaki. Pasien dimonitor

secara hati-hati selama perawatan. Pasien terbangun beberapa menit

kemudian, tidak ingat kejadian seputar perlakuan atau perawatan, dan sering

bingung.

B. Indikasi Pemberian ECT

ECT adalah suatu prosedur yang serius, gunakan hanya pada keadaan

yang direkomendasikan. Sangat tidak bijaksana jika kita melakukannya pada

setiap pasicen yang tidak membaik.

4
Electroconvulsive terapi digunakan untuk mengobati :

1. Gangguan afek yang berat : pasien dengan penyakit depresi berat atau

penyakit mental lainnya dan gangguan bipolar (mania) yang tidak

berespon terhadap obat anti depresan atau pada pasien yang tidak dapat

menggunakan obat karena cukup beresiko (terutama pada orang tua yang

memiliki kondisi medis).

ECT adalah salah satu cara tercepat untuk mengurangi gejala pada orang

yang menderita mania atau depresi berat. ECT umumnya digunakan

sebagai langkah terakhir ketika penyakit tidak merespon obat atau

psikoterapi. Pasien dengan depresi menunjukkan respons yang baik

dengan ECT 80-90% dibandingkan dengan antidepresan 70% atau lebih).

Terapi ECT biasanya tidak efektif untuk mengobati depresi yang lebih

ringan, yaitu gangguan disritmik atau gangguan penyesuaian dengan

perasaan alam depresi.

2. Gangguan skizofrenia ([Link], stupor, paranoid, kegaduhan akut) :

skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe excited memberika respon yang

baik dengan ECT. Cobalah anti psikotik terlebih dahulu, tetapi jika

kondisinya mengancam kehidupan (delirium hyperexcited), segera lakukan

ECT. Pasien psikotik akut (tenutama tipe skizoafektif) yang tidak

berespons pada medikasi saja mungkin akan membaik jika ditambahkan

ECT, tetapi pada sebagian besar skizofrenia kronis, ECT tidak terlalu

berguna/ tidak efektif.

3. Pasien dengan bunuh diri yang aktif dan tidak mungkin menunggu

pengobatan untuk dapat mencapai etek terapeutik.

5
ECT juga digunakan ketika pasien parah menimbulkan ancaman bagi diri

mereka sendiri atau orang lain dan itu berbahaya bila menunggu sampai

obat-obatan berpengarun.

4. Jika efek sampingan ECT yang diantisipasikan lebih rendah daripada efek

terapi pengobatan, seperti pada pasien lansia dengan blok jantung/

gangguan hantaran jantung yang sudah ada sebelumnya dan selama masa

kehamilan khususnya timester pertama (ECT lebih aman untuk

kehamilan). Namun diperlukan pertimbangan khusus jika ingin melakukan

ECT bagi ibu hamil, anak-anak dan lansia karena terkait dengan efek

samping yang mungkin ditimbulkannya.

5. Pada pasien hypoaktivitas dan hiperaktivitas, kurang tidur, gangguan

makan/minum dan perilaku bunuh diri dan lain-lain.

C. Kontraindikasi Pemberian ECT

Pasien dengan gangguan mental disertai adanya gangguan system

kardiovaskuler dan adanya tumor pada otak.

1. Resiko sangat tinggi

a) Pasien dengan masalah pernapasan berat yang tidak mampu mentolerir

efek anestesi umum.

b) Peningkatan tekanan intracranial (karena tumor otak, hematoma, stroke

yang berkembang, aneurisma yang besar, infeksi SSP), ECT dengan

cepat meningkatkan tekanan SSP dan resiko herniasi tentorium. Selalu

periksa adanya papiledema sebelum melakukan ECT.

c) Infark Miokard baru atau penyakit miokard berat : ECT sering

menyebabkan aritmia (aritmia menimbulkan CVP pasca kejang atau

6
kapan saja saat melakukan prosedur ECT) berakibat fatal jika terdapat

kerusakan otot jantung. Tunggu hingga enzim dan EKG stabil.

2. Resiko sedang

a) Osteoartritis berat, osteoporosis atau fraktur yang baru: siapkan selama

terapi (pelemas otot)

b) Penyakit kardiovaskuler (misal hipertensi, angia aneunsma/ Angina

tidak terkontrol, aritmia, Gagal jantung kongestif), berikan

premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis jantung hendaknya

berada di sana. ECT untuk sementara meningkatkan tekanan darah,

sehingga hipertensi primer berat harus terkontrol, paling tidak sebelum

setiap pengobatan.

c) Infeksi berat, cedera serebrovaskular (Cerebrovascular accident/ CVA)

baru, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus peptic yang

akut,Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal

detachment.

D. Efek Samping Pemberian ECT

Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari

anesthesia umum. Secara psikis efek samping yang paling sering muncul

adalah kebingungan dan memory loss (75% kasus) setelah beberapa jam

kemudian (biasanya hilang satu minggu sampai beberapa bulan setelah

perawatan). Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia retrograde terhadap

peristiwa tepat sebelum masing-masing pengobatan dan anterograde,

gangguan kemampuan untuk mempertahankan informasi baru. Beberapa ahli

7
juga menyebutkan bahwa ECT dapat merusak struktur otak. Namun hal ini

masih diperdebatkan karena masih belum terbukti secara pasti.

Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :

Efek Cardiovaskuler :

1. Segera: stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)

2. Setelah I menit: Stimulası Simpatis (tachycardia, hipertensi, peningkatan

konsumsi oksigen otot jantung, dysrhythmia)

3. ECT dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, atau kematian (kasus

yang sangat jarang). Orang dengan masalah jantung tertentu biasanya tidak

diindikasikan untuk ECT.

Efek Cerebral :

1. Peningkatan konsumsi oksigen.

2. Peningkatan cerebral blood flow

3. Peningkatan tekanan intra cranial

4. Amnesia (retrograde dan anterograde) - bervariasi, dimulai setelah 3-4

terapi, berak hir 2-3 bulan atau lebih. Lebih berat pada terapi dengan

metode bilateral, jumlah terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik

yang meningkat dan adanya organisitas sebelumnya.

Efek lain :

1. Peningkatan tekanan intra okuler

2. Peningkatan tekanan intragastric

3. Kebingungan (biasanya hanya berlangsung selama jangka waktu yang

singkat), pusing.

4. Mual, Headache/ sakit kepala, nyeri otot.

8
5. Fraktur vertebral dan ekstremitas dan Rahang sakit. Efek ini dapat

berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jarang terjadi bila

relaksasi otot baik.

6. Resiko anestesi pada ECT

7. Kematian dengan angka mortalitas 0,002%

E. Persiapan Pasien

1. Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan

yang akan di lakukan.

2. Lakukan pemerik saan fisik dan laboratorium untuk mengidentifīkasi

adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT

3. Siapkan surat persetujuan.

4. Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT.

5. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang

mungkin dipakai klien

6. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defeckasi.

7. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum

ECT.

8. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif-hipnoyik,

dan antikonvulsan harus di hentikan beberapa hari sebelumnya karena

beresiko organie.

9. Premedikasi dengan injeksi SA (Sulfat Atropin) 0,6-1,2 mg setengah jam

sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengembalikan aritmia vagal

dan menurunkan sekresi gastrointestinal.

9
F. Persiapan Alat

Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT, adalah

sebagai berikut:

1. Konvulsator set (diatur intensitas dan timer)

2. Tounge spatel atau karet mentah di bungkus kain

3. Kain kasa

4. Cairan NaCI secukupnya

5. Spuit disposibel

6. Obat SA injeksi l ampul

7. Tensimeter

8. Stetoskop

9. Shim suiger

10. Set kon vulsator

G. Cara pemberian ECT

Biasanya di berikan 3xl minggu, depresi berat 6-12 x per minggu.

Pasien skizofrenia 10-20 x per minggu.

1. Setelah alat disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata

dan cukup keras. Posisikan hiperekstensi punggung tanpa bantal. Pakaian

di kendorkan, seluruh badan di tutup dengan selimut, kecuali bagian

kepala.

2. Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Analsetik barbiturate ini di

pakai untuk menghasilkan koma ringan.

3. Berikan pelumas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk

menghindari kemungkinan kejang umum.

10
4. Kepala bagian temporal (pelipis) di bersihkan dengan alcohol untuk

tempat electrode menempel.

5. Kedua pelipis tempay elektroda menempel dilapisi dengan kassa yang di

basahi cairan NaCl.

6. Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang di

bungkus kain di masukkan dank lien di minta menggigit.

7. Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang

dengan di lapisi kain.

8. Persendian (bahu, siku, pinggang, lutut) di tahan selama kejang dengan

mengikuti gerak kejang.

9. Pasang elektroda di pelipis kain kassa basah kemudian tekan tombol

sampai timer berhenti dan di lepas.

10. Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan

kejang (menahan tidak boleh dengan kuat)

11. Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan

difragma.

12. Bila banyak lendir, di bersihkan dengan slim siger.

13. Kepala dimiringkan.

14. Observasi sampai klien sadar.

15. Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan.

H. Peran Perawat

Perawat sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersiapka

kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.

11
Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk membantu

klien dalam masa pemulihan setelah tindakan ECT dilakukan yang telah

dimodifikasi dari pendapat Stuart (2007) dan townsmen (1998). Menurut

pendapat Stuart (2007) memantau klien dalam masa pemulihan yaitu dengan

cara sebagai berikut:

1. Bantu pembenan oksigen dan pengisapan lendir sesuai kebutuhan.

2. Pantau tanda-tanda vital.

3. Setelah pernapasan pulih kembali, atur posisi miring pada pasien sampai

sadar. Pertahankan kepatenan jalan nafas.

4. Jika pasien berespon, orientasikan pasien.

5. Ambulansikan pasien dengan bantuan, setelah memeriksa adanya

hipotensial postural.

6. Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya.

7. Berikan makanan ringan.

8. Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasikan pasien

sesuai kebutuhan.

9. Tawarkan analgesic untuk sakit kepala jika diperlukan.

Menurut Townsend (1998), jika terjadi kehilangan memori dan

kekacauan mental sementara yang merupakan etek samping ECT yang paling

umum hal ini penting untuk perawat hadir saat pasien sadar supaya dapat

mengurangi ketakutan yang disertai dengan kehilangan memori. Implementasi

keperawatan yang harus di lakukan adalah sebagai berikut :

1. Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan memori

tersebut hanya sementara.

12
2. Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi.

3. Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat.

4. Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya yang

berhubungan dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya.

5. Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik ada aktivitas-aktivitas

rutin pasien untuk meminimalkan kebingungan.

13
BAB I

PENUTUP

A. Kesimpulan

ECT adalah suatu tindakan terapi dengan meggunakan aliran listrik dan

menimbulkan kejang pada penderita tonik maupun klonik. Tindakan ini adalah

bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda

yang ditempelkan pada pelipis pasien untuk membangkitkan kejang grand

mall. Terapi ECT merupakan perubahan untuk penderita psikiatrik berat,

dimana pemberian arus listrik singkat di kepala di gunakan untuk

menghasilkan kejang tonik klonik umum. Pada terapi ECT ini, ada efek

samping yang di hasilkan. Oleh karena itu perawat harus memperhatikan efek

samping yang akan terjadi. Dan peran perawat dalam terapi ECT yaitu

sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersi apkan alat dan

mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan

dilakukan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Donahue, Anne B. Electroconvulsive Therapy And Memory Loss, Vermont,

USA. Diakses melalui: [Link]/pdfiles/[Link]

Electroconvulsive Therapy (ECT), Pridmore S. Download of Psychiatry, Chapter

28. Last modified: April, 2013. Diakses melalui:

[Link]

Irving M. Reti, M.B.B.S. Electroconvulsive Therapy Today. In-Depth Report.

Diakses melalui: [Link].DepBulletin407

Kaplan dan Sadock. 2010. Sinopsis Psikiatri, IImu Pengetahuan Perilaku, Psikiatri

Klinis. Tangerang: Bina Rupa Aksara.

Maramis, Willy F dan Albert Maramis. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa.

Surabaya: Airlangga University Press.

[Link]

15

Anda mungkin juga menyukai