Nama : Dania Aqilah Bantu
Nim : 751440121010
Ruangan : ICU Dunda
LAPORAN PENDAHULUAN KEGAWATDURATAN GANGGUAN SISTEM
NEUROLOGI
CEDERA KEPALA
2.1 Konsep Cedera Kepala
2.1.1 Definisi
Menurut Brain Injury Assosiation of America (2009),
cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat
kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan
atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau
mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan
kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Cedera kepala (trauma
capitis) adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak
langsung megenai kepala yang mengakibatkan luka dikulit kepala,
fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan
jaringan otak, serta mengakibatkan gangguan neurologis (Putri,
Rahayu, & Sidharta, 2016).
Trauma kepala adalah trauma mekanik terhadap kepala
baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan
gangguan fungsi neurologis, yaitu fungsi fisik, kognitif, fungsi
psikososial baik temporal maupun permanen (Atmadja, 2016)
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatic dari fungsi
otak yang dapat menyebabkan adanya deformitas berupa
penyimpangan bentuk atau garis pada tulang tengkorak dan disertai
atau tanpa disertai perdarahan intertisial dalam subtansi otak tanpa
7
8
Diikuti terputusnya kongtinuetias otak (Ristanto, Indra, Pueranto,
& Styorini, 2017)
Beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa
cedera kepala adalah trauma pada kulit kepala, tengkorak, dan otak
yang terjadi baik secara langsung ataupun tidak langsung pada
kepala yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kesadaran
bahkan dapat menyebabkan kematian.
2.1.2 Etiologi Cidera kepala
a. Trauma tajam
Trauma oleh benda tajam : menyebabkan cedera
setempat&menimbulkan cedera lokal. Kerusakan local
meliputi Contusio serebral, hematoma serebral, kerusakan otak
sekunder yang disebabkan perluasan masa lesi, pergeseran otak
atau hernia.
b. Trauma tumpul
Trauma oleh benda tumpul&menyebabkan cedera
menyeluruh (difusi) : Kerusakannya menyebar secara
luas&terjadi dalam 4 bentuk : cedera akson, keruskan otak
hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil
multiple pada otak koma terjadi karena cedera kepala
menyebar pada hemisfer cerebral, batang otak atau kedua-
duanya.
a. Akibat Trauma Tergantung Pada :
a) Kekuatan benturan menyebabkan parahnya
9
kerusakan.
b) Akselerasi dan decelerasi.
c) Cup dan kontra cup
b. Cedera cup menyebabkan kerusakan pada daerah dekat
yang terbentur.
c. Cedera kontra cup menyebabkan kerusakan cedera
berlawanan pada sisi desakan benturan.
a) Lokasi benturan.
b) Rotasi merupakan pengubahan posisi rotasi pada
kepala menyebabkan trauma regangan dan
robekan substansia alba dan batangotak.
c) Depresi fraktur merupakan kekuatan yang
mendorong fragmen tulang turun menekan otak
lebih dalam. Akibatnya CSS mengalir keluar ke
hidung, kuman masuk ke telinga berkontaminasi
dengan GCS menyebabkan infeksi dan kejang.
2.1.3 Klasifikasi Cidera kepala
Cedera kepala terbuka Luka kepala terbuka akibat cedera
kepala dengan pecahnya tengkorak atau luka penetrasi, besarnya
cedera kepala pada tipe ini ditentukan oleh massa dan bentuk dari
benturan, kerusakan otak juga dapat terjadi jika tulang tengkorak
menusuk dan masuk ke dalam jaringan otak dan melukai durameter
saraf otak, jaringan sel otak akibat benda tajam/ tembakan, cedera
10
kepala terbuka memungkinkan kuman pathogen memiliki abses
langsung ke otak.
Cedera kepala tertutup Benturan kranial pada jaringan otak di
dalam tengkorak ialah goncangan yang mendadak. Dampaknya
mirip dengan sesuatu yang bergerak cepat, kemudian serentak
berhenti dan bila ada cairan akan tumpah. Cedera kepala tertutup
meliputi: kombusio gagar otak, kontusio memar, dan laserasi.
a. Berdasarkan keparahan cedera :
1. Cedera kepala ringan (CKR)
a) Tidak ada fraktur tengkorak
b) Tidak ada kontusio serebri,hematoma
c) GCS 13 -15
d) Dapat terjadi kehilangan kesadaran tapi< 30 menit
2. Sedang Cedera kepala sedang (CKS)
a) Kehilangan kesadaran (amnesia) > 30 menit tapi<
24 jam
b) Muntah
c) GCS 9 – 12
d) Dapat mengalami fraktur tengkorak, disorentasi
ringan
e) (bingung)
3. Cedera kepala berat (CKB)
a) GCS 3 – 8
b) Hilang kesadaran> 24 jam
11
c) Adanya kontosio serebri, laserasi/ hematoma
intracranial
b. Menurut Jenis Cedera
1) Cedera Kepala terbuka dapat menyebabkan fraktur
pada tulang tengkorak dan jaringan otak.
2) Cedera Kepala tertutup dapat disamakan dengan
Keluhan geger otak ringan dan odema serebral
yang luas.
2.1.4 Tanda dan gejala Cidera kepala
Gejala-gejala yang ditimbulkan tergantung pada besarnya
dan distribusi cedera otak.
1. Cedera kepala ringan
a. Kebingungan saat kejadian dan kebinggungan terus
menetap setelah cedera.
b. Pusing menetap dan sakit kepala, gangguan tidur, perasaan
cemas.
c. Kesulitan berkonsentrasi, pelupa, gangguan bicara,
masalah tingkah laku
Gejala-gejala ini dapat menetap selama beberapa hari, beberapa
minggu atau lebih lama setelah konkusio cedera otak akibat
trauma ringan.
2. Cedera kepala sedang
a. Kelemahan pada salah satu tubuh yang disertai dengan
Kebinggungan atau bahkan koma.
12
b. Gangguan kesedaran, abnormalitas pupil, awitan tiba-tiba
Defisit neurologik, perubahan TTV, gangguan
penglihatan dan pendengaran, disfungsi sensorik, kejang
otot, sakit kepala, vertigo dan gangguan pergerakan.
3. Cedera kepala berat
a. Amnesia tidak dapat mengingat peristiwa sesaat sebelum
dan sesudah terjadinya penurunan kesehatan.
b. Pupil tidak aktual, pemeriksaan motoric tidak aktual,
adanya Cedera terbuka, fraktur tengkorak dan penurunan
neurologik.
c. Nyeri, menetap atau setempat, biasanya menunjukan
fraktur.
d. Fraktur pada kubah kranial menyebabkan pembengkakan
pada area tersebut.
2.1.5 Patofisiologi Cidera kepala
Cedera memang peranan yang sangat besar dalam
menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu
kepala. Cedera percepatan aselerasi terjadi jika benda yang sedang
bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat
pukulan benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul.
Cedera perlambatan deselerasi adalah bila kepala membentur objek
yang secara relatife tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah.
Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat
gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi
13
bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bias
dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang
menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba
cedera otak primer dan cedera otak sekunder. Cedera otak
primer adalah cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan
kejadian trauma, dan merupakan suatu fenomena mekanik.
Umumnya menimbulkan lesi permanen. Tidak banyak yang bias
kita lakukan kecuali membuat fungsi stabil, sehingga sel-sel yang
sedang sakit bias mengalami proses penyembuhan yang optimal.
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena
memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera
robekan atau hemoragi karena terjatuh, dipukul, kecelakaan dan
trauma saat lahir yang bias mengakibatkan terjadinya gangguan
pada seluruh system dalam tubuh. Sedangkan cedera otak sekunder
merupakan hasil dari proses yang berkelanjutan sesudah atau
berkaitan dengan cedera primer dan lebih merupakan fenomena
metabolik sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai
kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area
cedera. Cidera kepala terjadi karena beberapa hal diantanya, bila
trauma ekstrakranial akan dapat menyebabkan adanya leserasi pada
kulit kepala selanjutnya bisa perdarahan karena mengenai
pembuluh darah. Karena perdarahan yang terjadi terus- menerus
14
dapat menyebabkan hipoksia, hiperemi peningkatan volume darah
pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasidilatasi
arterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan
akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK), adapun,
hipotensi.
Namun bila trauma mengenai tulang kepala akan
menyebabkan robekan dan terjadi perdarahan juga. Cidera kepala
intracranial dapat mengakibatkan laserasi, perdarahan dan
kerusakan jaringan otak bahkan bias terjadi kerusakan susunan
syaraf kranial terutama motorik yang mengakibatkan terjadinya
gangguan dalam mobilitas (Brain, 2009).
2.1.6 Komplikasi
1. Epilepsi Pasca Trauma
Epilepsi pasca trauma adalah suatu kelainan dimana
kejang terjadi beberapa waktu setelah otak mengalami cedera
karena benturan di kepala. Kejang terjadi pada sekitar 10%
penderita yang mengalami cedera hebat tanpa adanya luka
tembus di kepala dan pada sekitar 40% penderita yang
memiliki luka tembus di kepala. Obat-obat anti kejang
(misalnya feniton, karbamazepinatau valproate) biasanya dapat
mengatasi kejang pasca trauma.
2. Afasia
Afasia adalah hilangnya kemampuan untuk
menggunakan bahasa karena terjadinya cedera pada area
15
bahasa di otak. Penderita tidak mampu memahami atau
mengekspresikan kata-kata. Bagian otak yang mengendalikan
fungsi bahasa adalah lobus temporalis sebelah kiri dan bagian
lobus frontalis di sebelahnya.
3. Apraksia
Apraksia adalah ketidakmampuan untuk melakukan
tugas yang memerlukan ingatan atau serangkaian gerakan.
Kelainan ini jarang terjadi dan biasanya disebabkan oleh
kerusakan pada lobus parietalis ataulobus frontalis.
4. Amnesia
Amnesia adalah hilangnya sebagian atau seluruh
kemampuan untuk mengingat peristiwa yang baru saja terjadi
atau peristiwa yang sudah lama berlalu. Penyebabnya masih
belum dapat sepenuhnya dimengerti. Amnesia hanya
berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam
(tergantung kepada beratnya cedera) dan akan menghilang
dengan sendirinya. Pada cedera otak yang hebat, amnesia bias
bersifat menetap.
5. Fistel Karotis-kavernosus
Ditandai oleh trias gejala: eksoftalmus, kemosis, dan
bruit orbita, dapat timbul segera atau beberapa hari setelah
cedera.
16
6. Diabetes Insipidus
Disebabkan oleh kerusakan traumatic pada tangkai
hipofisis, menyebabkan penghentian sekresi hormone
antidiuretik.
7. Kejang pasca trauma
Dapat segera terjadi (dalam 24 jam pertama), dini
(minggu pertama) atau lanjut (setelah satu minggu).
8. Kebocoran cairan serebrospinal
Dapat disebabkan oleh rusaknya leptomeningen dan
terjadi pada 2-6 % pasien dengan cedera kepala tertutup.
Kebocoran ini berhenti spontan dengan elevasi kepala setelah
beberapa hari pada 85 % pasien.
9. Edema serebral & herniasi
Penyebab paling umum dari peningkatan TIK, Puncak
edema terjadi 72 jam setelah cedera. Perubahan TD, Frekuensi
nadi, pernafasan tidak teratur merupakan gejala klinis adanya
peningkatan TIK
10. Defisit Neurologis & Psikologis
Tanda awal penurunan fungsi neurologis :perubahan TK
kesadaran, Nyeri kepala hebat, Mual atau Muntah proyektil
(tanda dari peningkatan TIK).
17
2.1.7 Pemeriksaan diagnostic Cidera kepala
1. CT scan
CT scan digunakan untuk mengidentifikasi adanya
hemoragig ,ukuran ventrikuler , infark pada jaringan mati.
2. Foto tengkorak atau cranium
Foto tengkorak atau cranium digunakan untuk mengetahui
adanya fraktur pada tengkorak.
3. MRI
MRI digunakan sebagai penginderaan yang menggunakan
gelombang elektomagnetik.
4. Laboratorium
a. Kimia darah : Untuk mengetahui keseimbangan
elektrlit
b. Kadar elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan
elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan
intracranial.
c. Screen toksikologi : Untuk mendeteksi pengaruh obat
sehingga menyebabkan penurunan kesadaran.
5. Serebral angiographi
Menunjukkan anomaly sirkulasi serebral ,seperti perubahan
jaringan otak sekunder menjadi edema, perdarahan dan
trauma.
18
6. Serial EEG
Serial EEG digunakan untuk melihat perkembangan
gelombang yang patologis.
7. X-ray
8. Digunakan untuk mendeteksi perubahan struktur tulang ,
perubahan truktur garis (perdarahan atau edema), frakmen
tulang.
9. BAER
BAER digunakan untuk mengoreksi batas fungsi kortek
dan otak kecil.
10. PET
PET digunakan untuk mendeteksi perubahan aktivitas
metabolism otak.
11. CSF & lumbalpungsi
CSF & lumbal fungsi dapat dilakukan jika diduga terjadi
perdarahan subaracnoid.
12. ABGs
ABGs digunakan untuk mendeteksi keberadaan ventilasi
atau masalah pernafasan (oksigenasi) jika terjadi
peningkatan intracranial.
2.1.8 Penatalaksanaan Cidera kepala
1. Dexamethason/ kalmetason sebagai pengobatan anti edema
serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
19
2. Therapihiperventilasi (trauma kepala berat) untuk
mengurangi vasodilatasi.
3. Pemberian analgetik.
4. Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu;
manitol 20%, glukosa 40% atau gliserol.
5. Antibiotik yang mengandung barrier darah otak (pinicilin)
atau untuk infeksi anaerobdi berikan metronidazole.
6. Makanan atau cairan infus dextrose 5%, aminousin, aminofel
(18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan) 2-3 hari
kemudian diberikan makanan lunak.
7. Tidur tanpa bandal atau diganjal dengan bantal (kurang lebih
30o)
8. Pembedahan.
2.2. Konsep Masalah Keperawatan
2.2.1. Definisi
Secara umum nyeri adalah suatu rasa tidak nyaman, baik ringan
maupun berat. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang
mempengaruhi seseorang dan estensinya di ketahui bila seseorang
pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual dan potensial atau yang
mengambarkan sebagai kerusakan (International Association fot the
Study of Pain) (Herdman & Heather, 2015 - 2017).
20
2.2.2. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala nyeri bermacam-macam perilaku yang
tercermin dari pasien. Secara umum orang yang mengalami nyeri akan
didapatkan respon psikologis berupa :
a. Suara menangis, merintih, menarik atau menghembuskan
nafas.
b. Ekspresi wajah meringis
c. Kegelisahan, mondar-mandir, gerakan menggosok atau
berirama, bergerak melindungi tubuh, imobilisasi, otot
tegang.
d. Menghindari percakapan dan kontak sosial
2.2.3 Patofisiologi nyeri
Rangsangan nyeri diterima oleh nociceptors pada kulit bias
intensitas tinggi maupun rendah seperti peregganggan dan suhu
serta oleh lesi jaringan. Sel yang mengalami nekrotik akan merilis
K+ dan protein intraseluler. Peningkatan kadar K+ ekstra seluler
akan menyebabkan depolarisasi nociceptor, sedangkan protein
pada beberapa keadaan akan menginfiltrasi mikroorganisme
sehingga menyebabkan peradangan atau inflamasi (Bahrudin,
2017)
21
2.2.4 Pohon Masalah
Kecelakaan/jatuh
CEDERA KEPALA
Ekstrakranial Tulang kranial intrakranial
Terputusny a koentinuitas jaringan kulit,Terputusnya
otot, dan vaskuler
koentinuitas jaringan tulang Jaringan otak
rusak, kontatio,
laserasi
Perubahan
protoregulasi
Perdarahan hematoma
Gangguan suplaidarah
Resiko infeksi
Kejang
Peningkatan
TIK Resiko
Penurunan
Iskemia injury
kesadaran
Peregang Kompresi Hipoksia Akumulasi cairan
andorame batang otak Bedrest
n dan total
pembuluh Perubahan
darah perfusi jaringan
cerebral
Ketidakefektifan
Nyeri Akut Resiko Gangguan bersihan jalan
gangguan mobilitas nafas
integritas kulit fisik
Gambar 2.1 pohon masalah pada cedera kepala ringan
22
2.2.5 Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri
dirasakan oleh individu,pengukuran intensitas nyeri subjektif dan
individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama
dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran
nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah
menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri.
Namun, pengukuran dengan Teknik ini juga tidak dapat memberikan
gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
2.2.1 Skala Nyeri
a. Skala identitas nyeri numerik
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Ringan Nyeri Sedang Nyeri berat
Nyer
Tidak Nyeri berat
nyeri Terkontrol
tidak
terkontrol
b. Skala identitas nyeri numerik
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak
nyeri Nyeri Sedang Nyeri
Hebat
c. Skala analog visual
Tidak Nyeri
nyeri sangat
Hebat
23
d. Skala nyeri menurut bourbanis
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Nyeri berat terkontrol
Nyeri berat tidak
Nyeri Nyeri
nyeri Sedang
Ringan
Tabel 2.2 Skala Nyeri
Keterangan :
0 : tidak nyeri.
1-3 : nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
Dengan baik.
4-6 : nyeri sedang : secara obyektif klien mendesis, menyeringai,
dan menunjukkan lokasi nyeri.
7-9 :nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
Mengikuti perintah tetapi masih respon
Terhadap tindakan, dapat menunjukkan nyeri
dan tidak dapat mendeskripsikannya.
10 :nyeri sangat berat : pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi.
24
DAFTAR PUSTAKA
(Tamsuri, 2007). (Bahrudin, 2017) (International Association fot the Study of Pain) (Herdman & Heather, 2015 -
2017). (Tamsuri, 2007). (Ristanto, Indra, Pueranto, & Styorini, 2017)(Atmadja, 2016)(Putri, Rahayu, & Sidharta,
2016).
25
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan
2.3.1 Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan cedera kepala difokuskan pada
penilaian terhadap status neurologis pasien cedera kepala merupakan
tindakan utama yang harus dilakukan sebelum pengobatan diberikan.
a) Anamnesa
Identitas pasien meliputi nama, jenis kelamin, umur,
alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, no. register, tanggal masuk rumah sakit,
diagnose medis (Desmawati, 2013).
b) Pengkajian 13 Domain Nanda
1. Domain 1 : Health promotion
a. Keluhan utama
Pada klien dengan cedera kepala biasanya mengalami
penurunan kesadaran (Hariyani & Budiyono, 2012)
b. Riwayat penyakit sekarang
yang mungkin didapatkan meliputi penurunan kesadaran,
lateragi, mual muntah, sakit kepala, wajah tidak simetris,
lemah, paralysis, perdarahan, fraktur, hilang
keseimbangan, sulit menggenggam, amnesia seputar
kejadian, tidak bias beristirahat, kesulitan mendengar,
mengecap dan menciumbau, sulit mencerna atau
menelan makanan.
26
c. Riwayat penyakit dahulu
Pasien pernah mengalami penyakit system persyarafan,
riwayat trauma masa lalu, riwayat penyakit systemic atau
pernafasan,cardiovaskuler dan metabolik.
2. Domain 2 : Nutrition (nutrisi)
a. Antropometri
Mengalami penurunan berat badan karena adanya
penurunan intake nutrisi akibat mual/muntah
(Desmawati, 2013).
b. Biochemial
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan AGD,
Elektrolit serum, Hematologi, CSS, pemeriksaan
toksikologi, kadar anti konvulsan darah.
c. Clinical
Membran mukosa kering pucat, turgor kulit buruk,
kering,tampak kusut, conjungtiva pucat (Desmawati,
2013).
d. Diet
Ketidakmampuan untuk makan karena Kesulitan untuk
mencerna atau menelan makanan (Desmawati, 2013).
e. Energi
Keletihan, kelemahan, malaise umum, toleransi terhadap
latihan rendah, kelemahan otot dan penurunan kekuatan
(Desmawati, 2013).
27
f. Faktor
Faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan asupan
nutrisi dipengaruhi adanya mual/muntah, dyspepsia dan
annoreksia.
3. Domain 3 : Elimination
Gangguan ginjal, hematemesis ,feses dengan darah segar,
melena, diare, konstipasi, distensi abdomen (Desmawati,
2013).
4. Domain 4 : Activity rest
Keletihan, kelemahan, toleransi terhadap latihan rendah,
kebutuhan untuk istirahat lebih banyak, takikardia,
takipnea, kelemahan otot dan penurunan kekuatan
(Desmawati, 2013).
5. Domain 5 : Perception/Congnition
Keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan
pengobatan (Desmawati, 2013).
6. Domain 6 : Self perception
Menolak, menyangkal, cemas, kurang kontak mata,
gelisah, marah, (Muttaqin, 2012).
7. Domain 7 : Role Relationship
lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya (Desmawati,
2013).
28
8. Domain 8 : Sexuality
Perubahan pada fungsi seksual pada saat sakit
(Desmawati, 2013).
9. Domain 9 : Coping/ stress tolerance
Interaksi sosial: stress karena keadaannya, kesulitan biaya
ekonomi, kesulitan koping dengan stressor yang ada
(Muttaqin, 2012).
10. Domain 10 : Life Principles
Sering sakit kepala, mudah marah, tidak mampu
berkonsentrasi dan rentan terhadap infeksi (Desmawati,
2013).
11. Domain 11 : Safety / protection
Bebas dari cedera fisik atau gangguan system imun
12. Domain 12 : Comfort /kenyamanan / nyeri
Nyeri kepala, sakit kepala (Desmawati, 2013).
13. Domain 13 : Growth / development
Penurunan kemampuan bekerja dan aktivitas fisik, dampak
negatife terhadap system pertahanan tubuh dalam melawan
penyakit (Desmawati, 2013).
2.3.2 Pemeriksaan fisik
1. Kaji GCS
a. Cidera kepala ringan (CKR) jika GCS antara 13-15,
dapat terjadi kehilangan kesadaran kurang lebih 30
menit.
29
b. Cidera kepala sedang (CKS) jika GCS antara 9-12,
hilang kesadaran atau amnesia antara 30 menit-24 jam.
c. Cidera kepala berat (CKB) jika GCS 3-8, hilang
kesadaran lebih dari 24 jam.
2. Disorientasi tempat atau waktu
Kehilangan kesadaran, amnesia, perubahan kesadaran
sampai koma, penurunan dalam ingatan dan memori baik
jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Refleksi patologis dan fisiologis
Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan
menghilang. Setelah beberapa hari reflex fisiologis akan
muncul kembali didahului dengan reflex patologis.
4. Perubahan status mental
Cedera kepala dapat menyebabkan cacat permanen,
gangguan mental, dan bahkan kematian. Gegar otak
menyebabkan perubahan status mental seseorang dan dapat
mengganggu fungsi otak dari otak.
5. Nervus cranialis XII
NI : penurunan daya penciuman.
NII: pada trauma frontalis terjadi penurunan penglihatan.
NIII, NIV, NVI:penurunan lapang pandang, reflex cahaya
menurun, perubahan ukuran pupil, bola mata tidak dapat
mengikuti perintah, anisokor.
NV: gangguan mengunyah.
30
NVII, NXII: lemahnya penutupan kelopak mata, hilangnya
rasa pada 2/3 anterior lidah.
NVIII: penurunan pendengaran dan keseimbangan tubuh.
NIX, NX, NXI:jarang ditemukan.
6. Status motoric
Skala kelemahan otot
0 : tidak ada kontrak
1 : ada kontraksi
2 : bergerak tidak bias menahan gravitasi
3 : bergerak mampu menahan gravitasi
4 : normal
7. Perubahan pupil atau penglihatan kabur, diplopia, foto
pobhia, kehilangan sebagian lapang pandang.
8. Perubahan tanda – tanda vital
9. Gangguan pengecapan dan penciuman serta pendengaran
10. Peningkatan TIK
Tekanan Intra Kranial (TIK) adalah hasil dari sejumlah
jaringan otak, volume darah intracranial dan cairan
cerebrospiral di dalam tengkorak pada 1 satuan waktu.
Keadaan normal dari TIK bergantung pada posisi pasien dan
berkisar ±15 mmHg. Karena keterbatasan ruang ini untuk
ekspansi di dalam tengkorak, adanya peningkatan salah 1
dari komponen ini menyebabkan perubahan pada volume
darah cerebral tanpa adanya perubahan, TIK akan naik.
31
Peningkatan TIK yang cukup tinggi, menyebabkan turunnya
batang otak (Herniasi batang otak) yang berakibat kematian
(Brunner &Suddart, 2012).
11. Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi berbeda
12. Respons menarik diri pada rangsangan nyeri yang hebat
2.3.3 Diagnosis Keperawatan
Kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang bias muncul
pada pasien dengan Cedera kepala, Diantaranya:
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pecahnya
pembuluh darah otak
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
4. Resiko infeksi
5. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait
penyakit
6. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan fisik tidak
bugar
7. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
hambatan mobilitas fisik
8. Ansietas berhubungan dengan keadaan penyakit yang diderita
2.3.4 Intervensi
Berdasarkan diagnosis keperawatan yang diambil oleh
peneliti yaitu nyeri akut, intervensinya adalah:
32
Tabel 2.1 : Intervensi Nyeri Akut
No SDKI SLKI SIKI
1. Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan 1. MENEJEMEN
nyeri.(0078) asuhan keperawatan
NYERI
Definisi: 3x24 jam ,
Pengalaman sensorik atau perfusi cerebral akan (I. 08238)
emosional yang berkaitan meningkat.
dengan kerusakan jaringan [Link]
Ekspektasi:
aktual atau fungsional, Meningkat lokasi,
dengan onset mendadak
atau lambat dan karakteristik,
berintensitas ringan hingga durasi, frekuensi,
berat yang berlangsung
kurang dari 3 bulan. kualitas,
Penyebab: intensitas nyeri
Kondisi muskuloskletal
b. Identifikasi
kronis Kerusakan sistem
saraf Penekanan saraf skala nyeri
Infiltrasi tumor
c. Identifikasi
Ketidakseimbangan
neurotransmitter, respon nyeri non
neuromodulator dan
verbal
reseptor Gangguan imunitas
Gangguan fungsi metabolic d. Identifikasi
Riwayat posisi kerja statis
faktor yang
Peningkatan indeks massa
tubuh Kondisi pasca trauma memperberat dan
Tekanan emosional Riwayat memperingan
penganiayaan
nyeri
e. Identifikasi
pengetahuan dan
keyakinan tentang
nyeri
f. Identifikasi
pengaruh budaya
terhadap respon
nyeri
g. Identifikasi
33
pengaruh nyeri
pada kualitas
hidup
[Link]
keberhasilan
terapi
komplementer
yang sudah
diberikan
[Link] efek
samping
penggunaan
analgetik
[Link]
[Link] teknik
non farmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri (mis.
TENS, hypnosis,
akupresur, terapi
musik,
biofeedback,
terapi pijat, aroma
terapi, teknik
imajinasi
terbimbing,
kompres
hangat/dingin,
terapi bermain)
[Link]
lingkungan yang
memperberat rasa
nyeri ([Link]
ruangan,
pencahayaan,
kebisingan)
m. Fasilitasi
istirahat dan tidur
n. Pertimbangkan
jenis dan sumber
nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
o. Edukasi
Jelaskan
penyebab,
34
periode, dan
pemicu nyeri
[Link] strategi
meredakan nyeri
[Link]
memonitor nyeri
secara mandiri
[Link]
menggunakan
analgetik secara
tepat
s. Ajarkan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
t. Kolaborasi
Kolaborasi
pemberian
analgetik,jika
perlu
2. PERAWATAN
KENYAMANAN
(I.08245)
[Link]
Identifikasi gejala
yang tidak
menyenangkan
Identifikasi
pemahaman
tentang kondisi,
situasi dan
perasaannya
[Link]
masalah
emosional dan
spiritual
Terapeutik
[Link] posisi
yang nyaman
[Link]
kompres dingin
atau hangat
[Link]
lingkungan yang
35
nyaman
[Link]
pemijatan
[Link] terapi
aku presur
[Link] terapi
hipnotis
[Link]
keluarga dan
pengasuh terlibat
dalam terapi
[Link]
mengenai situasi
dan pilihan terapi
Edukasi
[Link]
mengenai kondisi
dan pilihan terapi/
pengobatan
[Link] terapi
relaksasi
[Link] latihan
pernafasan
Ajarkan tehnik
distraksi dan
imajinasi
terbimbing
[Link]
pemberian
analgesic,
antipruritis,
anthihistamin,
jika perlu
Sumber :(Herdman & Heather, 2015 - 2017)
36
2.3.5 Analisis Literatur
1. Judul : PENGARUH GUIDE IMAGERY TERHADAP NYERI KEPALA
PASIEN CKR ( cedera kepala ringan)
2. Asal : Program Studi S1 Keperawatan STIKes Dharma Husada
Bandung 3. ISSN : 1979-2344
4. Oleh : Yesi Pusparini
5. Hasil :Hasil dan Pembahasan
Penelitian eksperimen ini menggunakan desain pre eksperimen
One Group Pretest-Posttest without control dengan menggunakan waktu
longitudital prospektif yaitu menggunkan hubungan sebab – akibat dengan
cara melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek diobservasi
sebelum dilakukan intervensi. kemudian di observasi lagi setelah
[Link] adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek
yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Metode
pengambilan sample dalam penelitian ini adalah Non Random (Non
Probability) Sampling dengan metode quota sample, yaitu tehnik
penentuan sample dengan menentukan ciri-ciri tertentu sampai dengan
jumlah quota yang telah ditentukan. Sampel penelitian ini berjumlah 101
orang.
Kesimpulan:
Hasil penelitian tentang pengaruh teknik relaksasi nafas dalam
terhadap perubahan intensitas nyeri pada pasien cedera kepala ringan di
RS Dustira Kota Cimahi adalah diketahuinya nilai presentasi skala nyeri
sebelum dilakukan intervensi sebesar 66,7% (skala 3)dan 33,3% (skala2).
37
Diketahuinya nilai rata – rata skala nyeri setelah dilakukan intervensi
sebesar 93,3% (skala 1) dan 6,7% (skala1). Diketahuinya perbedaan nilai
rata – rata skala nyeri sebelum dan setelah intervensi pada pasien dengan
cedera kepala ringan sebagaimana hasil uji bivariat yang menunjukkan
bahwa; Nilai p (sig)=0,000 < (0,05) Ho ditolak, artinya ada perbedaan
nilai Skala nyeri sebelum dan setelah intervensi teknik guide imagery.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, dalam hal ini ada
perbedaan nilai rata – rata skala nyeri sebelum dan setelah dilakukan
tindakan. Diharapkan perawat dapat menggunakan teknik pelaksanaan
guide imagery sebagai salah satu asuhan keperawatan dalam menurunkan
intensitas nyeri kepala. Diharapkan RS Dustira Kota Cimahi mempunyai
Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pemberian teknik guide
imagery yang khusus ditujukan pada pasien cedera kepala ringan sehingga
memudahkan perawat dalam pelaksanaannya. Selain itu diharapkan rumah
sakit mempunyai ruangan khusus untuk melakukan guide imagery
relaxation sehingga konsentrasi pasien tidak terpecah, sehingga diperlukan
ruangan khusus. Intensitas nyeri kepala pada pasien cedera kepala berat
banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor selain pemberian teknik guide
imagery, sehingga untuk lebih melengkapi penelitian tentang intensitas
nyeri pasien post cedera kepala ringan perlu dilakukan penelitian lanjutan
dengan beragam variabel dan pendekatan penelitian lainya.
38
[Link] : KOMBINASI GUIDED IMAGERY AND MUSIC (GIM) DAN
RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP NYERI PADA
CEDERA KEPALA
[Link] : STIKes Kusuma Husada Surakarta
c. ISSN : -
d. Oleh : [Link] Karunia Mustikarani
[Link] Wulandari
3. Zeni Dwi Setyowati
4. Nur Rakhmawati
f. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan pendekatan quasi
experiment. Penelitian ini dilaksanakan tanggal 27 Maret – 3 Juli 2017 di
RSUD Karanganyar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian
quasi eksperimental dengan pre and post test without control (kontrol diri
sendiri). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien cedera kepala
sebanyak 30 responden yang dirawat di RSUD Karanganyar. Teknik
pengumpulan sampel pada penelitian ini menggunakan Purposive
sampling.
Kesimpulan
Terdapat pengaruh kombinasi Guided Imagery and Music (GIM) dan
relaksasi autogenik terhadap nyeri pada cedera kepala, dengan nilai P
value = 0,000 sehingga P value < 0,05 artinya maka H0 ditolak dan Ha
diterima.
39
a. Judul: PENGARUH GUIDE IMAGERY RELAXATION KEPALA
PADA PASIEN CEDERA KEPALA RINGAN
b. Asal: Penelitian muda, sumber dana DIPA Universitas Padjajaran
Tahun Anggaran 2010
c. ISSN :-
d. Oleh: Urip Rahayu, Nursiswati, Aat Sriati
e. Metode dan Kesimpulan
Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pretest dan post
test tanpa control. Jumlah partisipan sebanyak 15 orang. Pair t Test telah
digunakan untuk menguji pengaruh guided imagery relaxation terhadap
tingkat nyeri. Hasilnya uji statistik menunjukan berpengaruh secara
signifikan (p=0.01) guided imagery terhadap menurunkan tingkat nyeri
pada pasien cedera kepala ringan, tetapi pasien belum terbebas rangsang
nyeri. Kesimpulan pasien dengan cedera kepala mengalami nyeri kepala
dan nyeri kepala dapat dikurangi dengan guided imagery relaxation.
Rumah sakit disarankan untuk mendesain prosedur tetap dan melakukan
follow up dan untuk peneliti selanjutnya dapat meneliti tentang guided
imagery relaxation dengan music terhadap nyeri kepala pada cedera
kepala.
2.3.6 Implementasi
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Fokus
implementasi, mempertahan daya tahan tubuh, menemukan perubahan
system tubuh, mencegah komplikasi.(Wahyuni & Sri , 2016)
40
2.3.7 Evaluasi
Menurut (Wahyuni & Sri, 2016). Evaluasi atau tahap
penilaian adalah perbandingan sistematis dan terencana tentang
kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
dengan cara bersambungan dengan melibatkan klien, keluarga dan
tenaga kesehatan. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemapuan
klien mencapai tujuan yang diinginkan dengan kriteria hasil pada
perencanaan. Format yang dipakai adalah format SOAP :
1. S : Data Subjektif
Pekembangan keadaan yang didasarkan pada apa yang
dirasakan, dikeluhkan, dan dikemukakan klien.
2. O : Data Objektif
Perkembangannya bias diamati dan diukur oleh perawat
atau tim kesehatan.
3. A : Analisis
Penilaian dari kedua jenis data (baik subjektif maupun
Objektif) apakah berkembang kearah kebaikan atau
kemunduran.
4. P : Perencanaan
Rencana penanganan klien yang didasarkan pada hasil
analisis diatas yang berisi melanjutkan perencanaan
sebelumnya apabila keadaan atau masalah belum teratasi.
41
2.3.8 Kajian Dalam Al-quan dan Hadist
Yaa ayyuhallaziina aamanu laa taqrabussalaatta wa antum
sukaaraa hattaa ta’lamu maa taquluna wa laa junuban
illaa’aabirii sabiilin hattaa tagtasillu,wa ing kuntum mardaa au
‘alaa safarin au jaa’a ahadum mingkum minal-gaa’iti au
laamastumunnisaa’a fa lam tajidu maa’an fa tayammamu sa’iidan
tayyiban famsahu biwujuhikum wa aidiikum, innallaaha kaana’
afuwwan gafuraa.
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat,
sedang kamu dalam keadaan mabuk,sehingga kamu mengerti apa
yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu
keadaan junub terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi.
Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari
tempat buang air dan kamu telah menyentuh perempuan, kemudian
kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah
yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya
Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun
42
2.4 Hubungan Antar Konsep
Kecelakaan/Jatuh Cidera Kepala
Nyeri Akut
Studi Literatur : Askep Cidera Kepala Dengan Nyeri
Pengujian, Analisa Data
Intervensi Pengalihan rasa nyeri tehnik GIM Diagnosa Keperawatan nyeri akut
Studi Literatur bersumber dari google scholer
Keterangan :
: Diteliti
: Berhubungan
: Berpengaruh
Gambar 2.2 Hubungan Antar Konsep