0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan34 halaman

Pengaruh Role Reversal Question pada Hasil Belajar

Proposal

Diunggah oleh

Fito Lianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan34 halaman

Pengaruh Role Reversal Question pada Hasil Belajar

Proposal

Diunggah oleh

Fito Lianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

PENGARUH MODEL ACTIVE LEARNING TIPE ROLE REVERSAL


QUESTION TERHADAP HASIL BELAJAR TEMATIK
DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 BAUBAU

Oleh
SITI MUHRIFAYANTI
NIM. ……………..

PROGRAH STUDI PGSD


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON
2022

i
PROPOSAL

PENGARUH MODEL ACTIVE LEARNING TIPE ROLE REVERSAL


QUESTION TERHADAP HASIL BELAJAR TEMATIK
DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 BAUBAU

Oleh :

SITI MUHRIFAYANTI
NIM. ……………..

Proposal ini Telah Disetujui Untuk Diujikan

Komisi Pembimbing

Pembimbing I

La Gurusi, S.H., M.H Tanggal.....……………...

NIDN. 0929077201

Pembimbing II

Darojatun Andara, S.H., M.H Tanggal…………………

NIDN. 0928057601

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah...........................................................................1
B. Identifikasi Masalah.................................................................................. 6
C. Batasan Masalah....................................................................................... 6
D. Rumusan Masalah..................................................................................... 6
E. Tujuan Penelitian...................................................................................... 7
F. Manfaat Penelitian.................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Kajian Teori................................................................................................... 9
1. Hakikat Belajar dan Pembelajaran...................................................... 9
2. Model Pembelajaran............................................................................11
3. Model Pembelajaran Active Learning.................................................12
4. Model Active Learning Tipe role reversal question...........................15
5. Pembelajaran Tematik.........................................................................19
6. Hasil Belajar........................................................................................23
B. Penelitian yang Relevan............................................................................23
C. Kerangka Konseptual................................................................................26
D. Hipotesis Penelitian..................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................30

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia dalam pembukaan Undang-undang

Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan

bangsa. Pencapaian tujuan nasional tersebut dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan

merupakanupaya manusia untuk memperluas pengetahuan dalam rangka membentuk

nilai, sikap, dan perilakudengan cara meningkatkan kemampuan yang telah dimiliki.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 Pasal 3

mengatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta

didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara

yang demokratis serta bertanggung [Link] upaya telah dilakukan guna

mencapai tujuan pendidikan yang telah diamanatkan tersebut, salah satunya dengan

meningkatkan mutu pendidikan.

Mutu dalam proses pendidikan melibatkan berbagai unsur seperti bahan ajar,

metodologi pendidikdalam mengajar, sarana dan prasarana, dukungan administrasi,

serta berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang nyaman dan

menyenangkan agar dapat mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar.

Keberhasilan proses belajar mengajar juga didukung oleh adanya faktor yang

mempengaruhinya, salah satunya yaitu kurikulum. Kurikulum merupakan komponen

yang penting dalam pendidikan. Kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum

1
2013 (K13). Sekolah yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian

menggunakan K13. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat mengatakan

bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturanmengenai tujuan, isi, dan

bahan pembelajaran serta cara yang digunakansebagai pedoman penyelenggaraan

kegiatan pembelajaranuntuk mencapaitujuan pendidikan tertentu. Berlakunya

K13diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkompeten dan berdaya saing

sehingga tujuan pendidikan nasional dapat tercapai secara optimal.

Kemendikbud (2013: 209),Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi


pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu penggunaan pendekatan
[Link] ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran
sebagaiman dimaksud, meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan dan mencipta untuk semua mata pelajaran.

Pendekatan saintifik merupakan pendekatan ilmiah yang dirancang agar peserta didik

aktif dalam mengontruksi konsep pengetahuan dalam pembelajaran.

Daryanto (2014: 51)Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses


pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif
mengontruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati
(untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah,
mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkandata dengan berbagai
teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan, hukum
atau prinsip yang ditemukan.
Pembelajaran K13 dilakukan secara terpadu dan peserta didik dituntut aktif, kreatif,

dan mandiri dalam proses pembelajaran sehingga pendidikhanya berperan sebagai

fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik bukan pada pendidik

(teacher centered). Melalui kurikulum ini diharapkan dapat meningkatkan hasil

belajar peserta didik baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor.

Pelaksanaan pembelajaran K13 dilakukan secara terpadu dengan

menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Mata pelajaran yang

dimaksudkan yakni mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2
(PPKn), Bahasa Indonesia,Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),Ilmu Pengetahuan Sosial

(IPS),dan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP). K13 memiliki kompetensi dasar yang

merupakan kemampuan dan materi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik

untuk suatu mata pelajaran yang mengacu pada kompetensi inti. Kompetensi inti

yang harus dicapai peserta didik yaitu KI-1 kompetensi sikap spiritual, KI-2

kompetensi inti sikap sosial, KI-3 kompetensi inti pengetahuan, dan KI-4 kompetensi

inti keterampilan (Majid, 2017:47).

Pembelajaran di sekolah melibatkan komponen-komponen pembelajaran

yakni: pendidik, peserta didik, dan model pembelajaran. Pendidik memiliki peranan

yang sangat penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran, seorang pendidik harus

mampu memilih strategi yang efektif dan model pembelajaran yang inovatif sehingga

peserta didik merasa tertarik dalammengikutipembelajaran di kelas. Pemilihan model

pembelajaran harus sesuai denganmateri dan tujuan pembelajaran. Model

pembelajaran yang dipilih adalah model pembelajaran yang mampu mengembangkan

kemampuan intelektual pesertadidik, menumbuhkan rasa ingin tahu, mampu berpikir

kritis dan aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat

tercapai secara optimal.

Berdasarkan hasil penelitian awal yang dilakukan melalui wawancara,

observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian pendahuluan tersebut diketahui

bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat pendidik yang kesulitan dalam

menerapkan pembelajaran tematik, karena belum dapat mengalokasikan waktu

pembelajaran dengan baik ketika harus mengaitkan beberapa mata pelajaran dalam

satu pembelajaran. Terdapat peserta didik yang masih kesulitan dalam belajar karena

3
terbatasnya sumber belajar, selain itujuga karena belum terbiasanya peserta didik

belajar menggunakan pembelajaran berbasis tema, sehingga banyak peserta

didikyang belum terlibat secara aktif dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan

pembelajaran dianggap membingungkan. Pendidik belum menggunakan variasi

model pembelajaran secara maksimal. Permasalahan tersebut merupakan indikasi

rendahnya hasil belajar peserta didik. Hal ini dibuktikan dari data ketuntasan hasil

belajar tematik pada Ulangan Tengah semester ganjil kelas IV SD Negeri 3 Baubau.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperlukan suatu perubahan dalam

proses pembelajaran salah satunya yaitu dengan menerapkan variasi model

pembelajaran yang dapat memecahkan permasalahan pembelajaran. Upaya tersebut

diperlukan agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif sesuai dengan dasar

pendidikan di Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada budaya

bangsa yang mengedepankan karakter yang sangat diperlukan dalam menghadapi

tantangan abad 21. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah

mendefinisikan pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang

mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan

sikap, serta penguasaan terhadap teknologi. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

merupakan program pendidikan di sekolah untuk memperkuatkarakter peserta

didikmelalui harmonisasi olahhati, olah karsa, olah pikir, dan olah raga dengan

dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat

yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Nilai-nilai

utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Keterampilan abad 21 yang dibutuhkan peserta didik guna mewujudkan keunggulan

4
bersaing Generasi Emas tahun 2045 yaitu dengan memiliki kompetensi 4C, antara

lain critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan menyelesaikan

masalah), creativity (kreativitas), comunication skills (kemampuan berkomunikasi),

dan ebility to work collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).

Variasi model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengatasi

permasalahan pembelajaran tematik serta dapat membuat peserta didik untuk aktif

dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar adalah model

active learning tipe role reversal question. Machmudah (dalam Amri 2015: 1), model

active learning merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan peserta

didik berperan secara aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi

sesame peserta didik maupun peserta didik dengan pendidikpada proses

pembelajaran aktif tersebut. Indriani (2015: 24) model active learning tipe role

reversal question merupakan kegiatan pembelajaran aktif yang menekankan pada

aktivitas tanya jawab dengan pertukaran peran.

Penggunaan model active learning tipe role reversal question memungkinkan

peserta didik untuk menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran melalui aktivitas

tanya jawab pembalikan peran sehingga terjadi dialog yang interaktif antara pendidik

dengan peserta didik, dan antara peserta didik dengan peserta didiklain dalam proses

pembelajaran. Melalui model active learning tipe role reversal question diharapkan

dapat melatih keberanian peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan serta

memberikan pendapat, dan berfikir kritis dalam menjawab pertanyaan sehingga

pembelajaran yang terlaksana menjadi bermakna.

5
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti merasa perlu untuk mengadakan

penelitian eksperimen tentang “Pengaruh Model Active learning Tipe Role reversal

question terhadap Hasil Belajar Tematik Peserta Didik di SD Negeri 3 Baubau”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka masalah dalam penelitian ini dapat

diidentifikasikan sebagai berikut.

1. Pendidik mengalami kesulitan pada proses pembelajaran tematik.

2. Peserta didik mengalami kesulitan dalam belajar karena terbatasnya sumber

belajar.

3. Peserta didik belum terbiasa belajar menggunakan pembelajaran berbasis tema.

4. Terdapat beberapa peserta didik yang pasif dalam mengikuti proses

pembelajaran.

5. Kurangnya variasi model pembelajaran yang digunakan pendidik dalam

mengajar.

6. Hasil belajar peserta didik belum maksimal

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti membatasi permasalahan

yang diteliti, yakni hasil belajar tematik peserta didik yang belum maksimal dan

penggunaan model active learning tipe role reversal question.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian

yakni, “Apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan pada penggunaan

6
model active learning tipe role reversal question terhadap hasil belajar tematik

peserta didik di SD Negeri 3 Baubau?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang positif dan

signifikan pada penggunaan model active learning tipe role reversal question

terhadap hasil belajar tematik peserta didik di SD Negeri 3 Baubau

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diharapkan adalah:

1. Peserta Didik

Penerapan pembelajaran tematik dengan model active learning tipe role reversal

question merupakan pembelajaran yang menyenangkan yang dapat membuat

peserta didik lebih akif dan diharapkan dapat menumbuhkan motivasi serta

meningkatkan minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, sehingga dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didik.

2. Pendidik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi tentang

penggunaanmodel active learning tipe role reversal question dan diharapkan

nantinya pendidik dapat mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan yang

bervariasi dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran bagi peserta didik.

3. Sekolah

7
Hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk membantu meningkatkan

kualitas pembelajaran di SD Negeri 3 Baubau melalui model active learning tipe

role reversal question.

4. Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman tentang pengaruh

penggunaan model active learning tipe role reversal question terhadap hasil

belajar tematik.

8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1. Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Proses belajar mengajar merupakan serangkaian kegiatan yang tidak bisa

dipisahkan antara satu dengan yang lain. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan

pendidikan sangat tergantung pada proses belajar mengajar yang dialami siswa

dan pendidikan, baik ketika para siswa itu berada di sekolah maupun di

lingkungan keluarga sendiri. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan

secara sengaja untuk mengembangkan kemampuan idividu secara optimal. Gagne

(dalam Susanto,2013: 1) belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana

suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.

Menurut Hamalik (2012:28), belajar adalah memodifikasi atau

memperteguh perilaku melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya.

Dengan demikian, belajar itu bukan sekedar mengingat atau menghafal saja,

namun lebih luas dari itu merupakan mengalami. Pendapat lain dikemukakan oleh

Susanto (2014:4), belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan

sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau

pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan

prilaku yang relatif tetap baik dalam berfikir, merasa, maupun bertindak. Belajar

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam

pembentukan pribadi dan tingkah laku individu. (Arienta, VK, Firman, Karneli,

2017). Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu upaya yang dilakukan

9
untuk mengadakan perubahan pada diri seorang individu, perubahan itu dapat

berupa perubahan tingkah laku maupun perubahan fisiologis.

Menurut Susanto (2014:18), kata pembelajaran merupakan perpaduan

dari dua aktivitas belajar dengan mengajar. Aktivitas belajar secara metodologis

cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar secara instruksional

dilakukan oleh guru. Jadi, istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar

dan mengajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata

belajar dan mengajar (BM), proses belajar mengajar (PBM), atau kegiatan

belajar mengajar (KBM).

Susanto (2014:19), pembelajaran diartikan sebagai proses interaksi peserta

didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut

pengertian ini, pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar

terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan

tabiat, serta pembentukan sikap dan kenyakinan pada peserta didik. Dengan kata

lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar

dengan baik. Namun dalam implementasinya, sering kali kata pembelajaran ini

diidentifikasi dengan kata mengajar.

Ngalimun dkk (2016:30), mengatakan bahwa pembelajaran pada

dasarnya adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa sehingga

terjadi proses belajar dalam arti adanya perubahan perilaku individu siswa itu

sendiri. Jadi, pembelajaran dapat dikatakan sebagai kegiatan yang dirancang oleh

guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai

10
yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui rancangan, pelaksanaan,

dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.

2. Model Pembelajaran

a. Pengertian Model Pembelajaran

Model merupakan suatu istilah yang berhubungan, rancangan atau pola.

Maulana (2012: 4) model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk

pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas

oleh pendidik meliputi pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahan taktik

pembelajaran yang sudah terangkai menjadi satu kesatuan utuh. Alimah dan

Miranti (dalam Isrok’atun, 2018: 36) model pembelajaran merupakan cara

pembelajaran yang memiliki tujuan dan sintaks tertentu untuk mencapai tujuan

pembelajaran.

Trianto (2010: 53) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang

melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar

untuk mencapai pengalaman belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi

perancang pembelajaran dan para pendidik dalam merancang dan melaksanakan

pembelajaran. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan

bahwa model pembelajaran merupakan suatu pola rancangan yang

menggambarkan proses interaksi peserta didik dengan pendidik, yang mengacu

pada sintaks pembelajaran mulai dari awal sampai akhir dengan menerapkan

berbagai macam cara kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang

diharapkan. Penggunaan model pembelajaran diharapkan dapat mempermudah

pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran.

11
b. Tujuan Model Pembelajaran

Model pembelajaran memiliki tujuan untuk dapat membantu dalam

mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran dapat membuat kegiatan

pembelajaran menjadi lebih terarah. Isrok’atun dan Amelia (2018: 27)

menyatakan tujuan model pembelajaran adalah untuk membantu peserta didik

dalam membangun informasi, ide, dan pola pikir mengenai materi pelajaran

sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Adapun menurut Joyce dan Weill

(dalam Huda 2017: 73) tujuan model pembelajaran adalah untuk menekankan

bagaimana membantu peserta didik belajar membangun pengetahuan, informasi,

ide, dan keterampilan supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa

tujuan model pembelajaran adalah untuk membantu peserta didik dalam

membangun pengetahuan dan memahami materi pelajaran yang disampaikan

pendidik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Oleh sebab itu, pendidik

perlu memahami model pembelajaran yang digunakan agar pembelajaran dapat

berjalan secara efektif dan efisien.

3. Model Active learning

a. Pengertian Model Active learning

Model active learning (pembelajaran aktif) secara sederhana didefinisikan

sebagai model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam

proses pembelajaran. Salah satu aspek yang melatarbelakangi pentingnya

pengembangan model active learning adalah ajaran Konfusius di China lebih dari

12
2400 tahun yang silam, yang menyatakan bahwa: “Yang saya dengar, saya lupa;

yang saya lihat, saya ingat; dan yang saya lakukan saya paham”.

Silberman (2013: 23) memodifikasi dan memperluas ketiga pernyataan

sederhana dalam ajaran konfusius di atas menjadi apa yang disebut paham belajar

aktif, sebagai berikut.

Yang saya dengar, saya lupa.


Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan
dengan orang lain, saya mulai pahami.
Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan
pengetahuan dan keterampilan.
Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai.

Uno (2012:10) model active learning (pembelajaran aktif) adalah

memosisikan pendidik sebagai orang yang menciptakan suasana belajar yang

kondusif atau sebagai fasilitator dalam belajar, sementarapeserta didiksebagai

peserta belajar yang harus aktif. Prosespembelajaran yang aktif yaitu

apabilaterjadi dialog yang interaktif antara peserta didik dengan peserta didik,

peserta didik dengan pendidikatau peserta didik dengan sumber belajar lainnya.

Jauhar (2011: 156) model active learning (pembelajaran aktif) adalah

pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua peserta didik dan pendidiksecara

fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa

model active learning (pembelajaran aktif) merupakan model pembelajaran yang

melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran di mana peran

pendidikadalah sebagai fasilitator atau orang yang menciptakan suasana belajar

yang kondusif. Diharapkan dengan peserta didik aktif dalam proses pembelajaran

13
maka peserta didik akan lebih paham mengenai materi yang dipelajari sehingga

tujuan pembelajaran dapat tercapai.

b. Tipe-tipe Model Active learning

Model active learning (pembelajaran aktif) mempunyai banyak sekali

variasi. Tipe-tipe pada model active learning pada dasarnya adalah sama yaitu

membuat peserta didik menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran dan terjadi

dialog yang interaktif antara pendidik dengan peserta didik, dan antara peserta

didik dengan peserta didik, dimana peran pendidik adalah sebagai fasilitator atau

orang yang menciptakan suasana belajar yang kondusif. Silberman (2013: 156)

menyebutkan ada 101 pembelajaran aktif dan terdapat beberapa tipe active

learning yang menekankan pada kegiatan tanya jawab yaitu (1) stars with a

question, (2) role reversal question dan (3) planted question.

Berdasarkan uraian tentang tipe-tipe model active learning tersebut, maka

peneliti memilih tipe role reversal question sebagai variabel penelitian karena

model active learning tipe role reversal question memungkinkan peserta didik

untuk menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran melalui aktivitas tanya

jawab pembalikan peran sehingga terjadi dialog yang interaktif antara pendidik

dengan peserta didik, dan antara peserta didik dengan peserta didik. Melalui

model ini juga dapat melatih keberanian peserta didik untuk dapat mengajukan

pertanyaan serta memberikan pendapat, danberpikir kritis dalam menjawab

pertanyaan sehingga pembelajaran yang terlaksana menjadi bermakna.

14
4. Model Active learning tipe Role reversal question

1) Pengertian Active learning tipe Role reversal question

Model active learning (pembelajaran aktif) bertujuan untuk membuat

peserta didik aktif dalam proses pembelajaran. Silberman (2013: 161)

menyebutkan ada 101 pembelajaran aktif salah satunya role reversal question

(pertanyaan pembalikan peran).

Silberman (2013: 161) melanjutkan paparannya bahwa kadang pendidik


meminta peserta didik untuk memikirkan pertannyaan selama proses
pembelajaran, bukan hanya di akhir pembelajaran. Pendidik juga bisa
mendapatkan respon yang hangat ketika bertanya “Apakah ada pertanyaan?”
sehingga dengan model ini guru dapat bertukar peranan dan mengajukan
pertanyaan sehingga peserta didik akan mencoba merespon.

Model active learning tipe role reversal question ini dapat melatih peserta

didikuntuk beranibertanya dan menjawab pertanyaan, bertanggung jawab, serta

bisa memberikan pengalaman belajar yang bermakna, serta akanmempengaruhi

cara belajar peserta didikyang semula cenderung untuk pasif ke arah yang lebih

aktif.

Indriani (2015: 24) model active learning tipe role reversal question
merupakan kegiatan pembelajaran aktif yang menekankan pada aktivitas
tanya jawab dengan pertukaran peran. Jika pendidik bertukar peran menjadi
peserta didik maka pendidik mengajukan pertanyaan dan peserta didik
mencoba menjawab. Begitu pula sebaliknya jika peserta didik yang
mengajukan pertanyaan maka pendidikyang menjawab.

Berdasarkan kegiatan tersebut diketahui bahwa terdapat kegiatan yang

dilakukan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Terjadiinteraksi antara

pendidikdan peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik lain dalam

kegiatan tanya jawab sehingga aktifitas pembelajaran tidak hanya

pendidikmemberikan ceramah mengenai materi pelajaran.

15
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, penelitimenyimpulkan bahwa

model active learning tipe role reversal question merupakan kegiatan

pembelajaran aktif yang menekankan pada aktivitas tanya jawab

pembalikanperanantara pendidik dengan peserta didikagar terjadi interaksi antara

pendidikdan peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik lain dalam

proses pembelajaran. Melalui model active learning tipe role reversal question

diharapkan dapat melatih peserta didik dalam mengajukan pertanyaan dan

memberikan pendapat, serta berpikir kritis dalam menjawab pertanyaan.

2) Langkah-langkah Active learning tipe Role reversal question

Model active learning tipe role reversal question terdiri atas langkah-

langkah yang harus dilakukan agar peserta didik dapat mencapai tujuan yang

diharapkan. Langkah-langkah pembelajaran model active learning tipe role

reversal question menurut Silberman (2013: 161) antara lain.

1) Susunlah pertanyaan yang akan anda kemukakan tentang materi pelajaran


seolah-olah anda seorang peserta didik.
2) Pada awal sesi pertanyaan, umumkan kepada peserta didik bahwa anda
akan menjadi peserta didik dan peserta didik secara kolektif menjadi anda.
Beralihlah lebih dahulu ke pertanyaan anda.
3) Berlakukah argumentatif, humoris, atau apa saja yang dapat membawa
mereka pada perdebatan dan menyerang anda dengan jawaban-jawaban.
4) Memutar peranan beberapa kali akan tetap membuat peserta didik anda
pada pendapat mereka dan mendorongnya untuk melontarkan pertanyaan
milik sendiri.

Silberman (2013:162) juga menjelaskan variasi penerapan model active learning

tipe role reversal question, berikut langkah-langkahnya.

1) Sebagai ganti penggunaan teknik ini pada awal sesi tanya-jawab, balikan
posisinya ketika peserta didik telah puas dengan pertanyaan.
2) Ubahlah acaranya menjadi “konfersi media” atau semacamnya, dan hujani
peserta didikdengan pertanyaan yang menyelidik, menyerang, atau
menjelek-jelekan materi belajar yang dipertanyakan.

16
Langkah-langkah pembelajaran model active learning tipe role reversal question

yang digunakan sesuai dengan pendapat diatas, namun ada beberapa hal yang

disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Indriani (2015: 25),

menyatakan langkah-langkah pembelajaran model active learning tipe role

reversal question yang telah dimodifikasi adalah sebagai berikut.

1) Peserta didik memperhatikan penjelasan pendidikmengenai kegiatan


pembelajaran yang akan dilakukan.
2) Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok secara heterogen.
3) Setiap kelompok melakukan diskusi mengenai meteri pelajaran.
4) Peserta didik membuat pertanyaan mengenai materi pelajaran.
5) Peserta didikdan pendidikmelakukan pemutaran peran untuk tanya jawab.
Dengan ketentuan jika pendidik menjadi peserta didik maka
pendidikmemberikan pertanyaan yang sudah disiapkan (lembar
pertanyaan), kemudian peserta didik menjawab pertanyaan tersebut, begitu
pula sebaliknya. Jika peserta didik yang memberikan pertanyaan dan
pendidikmenjawab (kegiatan dilakukan berulang).
6) Pendidikmemberikan umpan balik terhadap jawabanpeserta didik.

Berdasarkan uraianpara ahlitersebut, penelitimenyimpulkan langkah-langkah

modelactive learning tipe role reversal question harus dilaksanakan secara

sistematis, diawali denganpenjelasan pendidik mengenai kegiatan pembelajaran,

pendidikmenjelaskan model pembelajaran pembalikanperan antara pendidik dan

peserta didik, kemudian pendidikmembentuk peserta didik ke dalam kelompok

secara heterogenuntuk berdiskusitentang materi yang akan dipelajari, dan

pendidik meminta setiap peserta didikmembuat pertanyaan berdasarkan materi

yang sedang dipelajari, lalu peserta didik dan pendidik melakukan

pembalikanperan untuk tanya jawab.

Ketentuannya jika pendidik menjadi peserta didik maka pendidik

memberikan pertanyaan yang sudah disiapkan (lembar pertanyaan), kemudian

17
peserta didik menjawab pertanyaan tersebut, begitu pula sebaliknya. Jika peserta

didik menyampaikan pertanyaan yang telah dibuat, maka pendidikmenjawab

(kegiatan dilakukan berulang). Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model

active learning tipe role reversal question pendidik harusbersikap argumentatif,

serta merespon dengan memberikan umpan balik terhadap jawaban yang

disampaikan peserta didik. Setiap ada ketidaksesuaian jawaban yang disampaikan

peserta didik maka pendidikdapat memberikan pemahaman tentang jawaban yang

benar.

3) Kelebihan dan Kekurangan Model Active learning tipe Role reversal question

Model active learning tipe role reversal question memiliki kelebihan dan

kekurangan saat diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Indriani (2015:

26) model active learning tipe role reversal question memiliki kelebihan antara

lain.

1) Proses belajar mengajar berpusat padapeserta didik.


2) Peserta didikaktifdalam pembelajaran karena peserta didik terlibat
langsung dalam pembelajaran.
3) Kegiatan pembelajaran menjadikan peserta didikberpikir kritis dalam
menjawab pertanyaan pendidik.
4) Proses pembelajaran menarik, sebab peserta didik tidak hanya mendengar
tetapi juga mengalami kejadian tersebut.
5) Melatih keberanian peserta didik dalam bertanya dan menjawab
pertanyaan.
6) Menciptakan kerjasama antar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
7) Peserta didik berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.
8) Menumbuhkan sikap tanggung jawab sebagai individu dan kelompok.
9) Menciptakan minat dan motivasi pembelajaran.

Indriani (2015: 27), kekurangan dari model active learning tipe role reversal

question yaitu:

1) Membutuhkan waktu lama dalam mempersiapkan pengkondisian kelas


untuk memahamkanpeserta didik bertukar peran dengan pendidik.

18
2) Dibutuhkan waktu tambahan agar memperoleh hasil yang maksimal dalam
penyampaian pembelajaran.
3) Topik pembahasan materi menjadi luas jika pertanyaan yang muncul tidak
sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.
4) Memerlukan keterampilan pendidikdalam mengelola kelas.
5) Memunculkan keaktifan peserta didiktidaklah mudah, untuk itu diperlukan
teknik dan keterampilan agar peserta didikaktif dalam membelajaran.

Berdasarkan pendapat ahli tersebut, peneliti menyimpulkan kelebihan

model active learning tipe role reversal question yaitu pembelajaran berpusat

pada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih aktif, kegiatan

pembelajaran menjadikan peserta didik dapat berpikir kritis dalam menjawab

pertanyaan pendidik. Melatih keberanian peserta didik dalam bertanya dan

menjawab pertanyaan. Pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga timbul

minat dan motivasi peserta didik dalam belajar dan menjadikan peserta didik

dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran serta terjalin kerja sama antar

peserta didik.

Kekurangan model active learning tipe role reversal question yaitu

dibutuhkan waktu yang lama, sertatopik pembahasan materi menjadi luas jika

pertanyaan yang muncul tidak sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.

Keterampilan pendidiksangat diperlukan dalam mengelola kelas untuk

memunculkan keaktifan peserta didik.

5. Pembelajaran Tematik

a. Pengertian Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah suatu pembelajaran yang menggabungkan

beberapa materi pelajaran dan menyajikannya kedalam sebuah tema atau topik.

Majid (2017: 49), pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan

19
pembelajaran yang memadukan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran

ke dalam berbagai tema. Suryosubroto (2009: 133) menyatakan bahwa

pembelajaran tematik adalah suatu kegiatan pembelajaran yang mengintegraskan

materi beberapa mata pelajaran dalam suatu tema/topik pembahasan.

Rusman (2015:139) pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang

dikemasdalam bentuk tema-tema berdasarkan muatan beberapa mata pelajaran

yang dipadukan dan diintegrasikan. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut,

maka peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah suatu

pendekatan pembelajaran yang memadukan berbagai kompetensi dari berbagai

mata pelajaran dalam satu [Link] tematik menekankan keterlibatan

peserta didik baik secara individu maupun kelompok untuk aktif mencari,

menggali, mengeksplorasi, dan menemukan konsep dalam proses pembelajaran.

b. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan yang memiliki

beberapa karakteristik. Majid (2017: 89) sebagai suatu model pembelajaran di

sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristiksebagai berikut.

1) Berpusat pada peserta didik Pembelajaran tematik berpusat pada peserta


didik (student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran
modern yang lebih banyak menempatkan peserta didiksebagai subjek
belajar, sedangkan pendidik lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu
memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didikuntuk
melakukan aktivitas belajar.
2) Memberikan pengalaman langsungPembelajaran tematik dapat
memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik(direct
experiences) dengan pengalaman langsung ini, peserta didikdihadapkan
pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal
yang lebih abstrak.
3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelasDalam pembelajaran tematik
pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus

20
pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat
berkaitan dengan kehidupan peserta didik.
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaranPembelajaran tematik
menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu
proses pembelajaran. Dengan demikian peserta didikmampu memahami
konsep-konsep tesebut secara utuh. Hal inidiperlukan untuk membantu
peserta didikdalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari.
5) Bersifat fleksibel Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana
pendidik dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan
mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkan dengan kehidupan
peserta didikdan keadaan lingkungan di manasekolah dan peserta
didikberada.
6) Menggunakan prinsip belajar sambil bemain dan menyenangkan.

c. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Majid

(2017: 92 ) pembelajaran tematikmemiliki kelebihan dibanding pendekatan

konvesional, yaitu sebagai berikut.

1) Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan
tingkat perkembangan anak.
2) Kegiatan yang dipilih disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta
didik.
3) Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil
belajar akan dapat bertahan lebih lama.
4) Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan
sosial peserta didik.
5) Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis.
Dengan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan
riil peserta didik.
6) ika pembelajaran terpadu dirancang bersama dapat meningkatkan kerja
sama antar pendidikbidang kajian terkait, pendidikdengan peserta didik,
peserta didik dengan peserta didik, peserta didik atau pendidikdengan
narasumber sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi
nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna

Puskur (dalam Majid 2017: 93) beberapa aspek keterbatasan pembelajaran

tematik, yaitu sebagai berikut.

1) Aspek PendidikPendidikharus berwawasan luas, memiliki kreativias


tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang

21
tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara
akademik pendidikdituntut untuk terus menggali informasi ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan
banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada
bidang kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini, pembelajaran terpadu akan
sulit terwujud.
2) Aspek Peserta DidikPembelajaran terpadu menuntut peserta didik yang
relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya.
Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan pada
kemampuan analitis (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-
hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan
menggali). Jika kondisi ini tidak dimiliki, penerapan model pembelajaran
terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
3) Aspek Sarana dan Sumber Belajar Pembelajaran terpadu memerlukan
bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi,
mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya,
dan mempermudah pengembangan wawasan. Jika sarana ini tidak
dipenuhi, penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
4) Aspek KurikulumKurikulum harus luwes, berorentasi pada pencapaian
ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target
penyampaian materi). Pendidikperlu diberikan kewenangan dalam
mengembangkan materi metode, penilaian, keberhasilan pembelajaran
peserta didik.
5) Aspek Penilaian Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang
menyeluruh atau (komperhensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar
peserta didik dari bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini,
pendidik selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur
pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komperhensif, juga
dituntutuntuk berkoordinasi dengan pendidiklain jika materi pelajaran
berasal dari pendidikyang berbeda.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa

kelebihan pembelajaran tematik yaitu pembelajaran bersifat menyenangkan

karena pengalaman dan kegiatan peserta didik telah disesuaikan dengan minat dan

kebutuhan serta tingkat perkembangannya sehingga kegiatan belajar menjadi lebih

bermakna dan dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir sehingga dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didik. Kekurangan pembelajaran tematik yaitu

ketika pendidiktidak memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas maka tujuan

pebelajaran tidak akan tercapai, dan ketika peserta didik tidak memiliki

22
kemampuan akademik yang baik maka pembelajaran akan sulit terlaksana, serta

jika sarana dan sumber belajar tidak terpenuhi maka pembelajaran akan

terhambat.

6. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hal yang penting untuk mengetahui keberhasilan

belajar seseorang. Susanto (2013: 5) hasil belajar merupakan perubahan-

perubahan yang terjadi pada diri peserta didik baik yang menyangkut aspek

kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil darikegiatan belajar. Suprijono

(2015: 5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-

pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan.

Bloom (dalam Suprijono, 2015: 6) hasil belajar mencakup kemampuan

kognitif, afektif, dan psikomotor. Kemampuan kognitif meliputi pengetahuan,

pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan penilaian. Kemampuan afektif

meliputi sikap menerima, menanggapi, menilai, mengelola, dan menghayati,

sedangkan kemampuan psikomotor meliputi keterampilan produktif, sosial, dan

inisiatif.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa

hasil belajar merupakan tingkat keberhasilanyang dicapai peserta didik setelah

mengikuti proses pembelajaran yang mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan

psikomotor. Hasil belajard alam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti

difokuskan pada kemampuan kognitif yang meliputi aspek pengetahuan,

pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan juga evaluasi.

B. Penelitian yang Relevan

23
Penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti harusmemiliki keterkaitan

dengan penelitian lain yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang relevan

dengan penelitian ini antara lain:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Indriani (2015) dalam skripsinya yang berjudul

“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Active

learning Tipe Role reversal question Pada Siswa Kelas V SD N Minomartani

6 Sleman Yogyakarta” menyimpulkan bahwa pembelajaran PKn

menggunakan model active learning tipe role reversal question dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didikkelas V SD N Minomartani 6 Sleman

[Link] ini ditunjukan dengan peserta didikyang memperoleh nilai

≤70 pada siklus I meningkat sebesar 25% dari kondisi awal 44% menjadi

69%. Kemudian peserta didikyang memperoleh nilai ≥70 pada siklus II

mengalami peningkatan 28% menjadi 97%. Nilai rata-rata pada siklus I

mengalami peningkatan sebesar 8,75% dari kondisi awal 66,53 menjadi 75,28

pada siklus I kemudian pada siklus II nilai rata-rata mengalami peningkatan

lagi sebesar 10,97% menjadi 86,25%.

2. Penelitianyang dilakukan oleh Usri (2018) dalam skripsinya yang berjudul

“Upaya Meningkatan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Active learning

Tipe Role reversal question Pada Siswa Kelas VI SD N 202 Pangkalan Baru

Kecamatan Siak Hulu”,menyimpulkan bahwa dengan penerapan model active

learning tipe role reversal question dapat meningkatkan hasil belajar

Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas VI SD Negei 202 Pangkalan Baru.

24
3. Penelitian yang dilakukan oleh Aminah (2017) dalam skripsinya yang

berjudul “Penggunaan Model Active learning Tipe Role reversal question

pada Siswa SD Negeri 007 Sungai Kubu Rokan Hilir”, menyimpulkan bahwa

adanya peningkatan Pembelajaran PKn peserta didik kelas V SD N 007

Sungai Kubu Kecamatan Kubu Kabupaten Rokan Hilir dengan menggunakan

modelactive learningtiperole reversal questionbaik pada siklus I maupun

siklus II. Pada siklus I peserta didik yang memperoleh nilai ≥70 mengalami

peningkatan sebesar 25% dengan kondisi awal 44% meningkat menjadi 69%

dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 28% menjadi 97%. Nilai

rata-rata hasil belajar pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 8,75%

dengan kondisi awal 66,53 meningkat menjadi 75,27 dan pada siklus II terus

meningkat sebesar 10,97% menjadi 86,25.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2017) dalam skripsinya yang berjudul

“Peningkatan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Active learning Tipe

Role Revesal Question Pada Siswa Kelas V SD Negeri Tambakromo”,

menyimpulkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar PKn peserta

didikkelas V SD Negeri Tambakromo I Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi

setelah menggunakan model active learning tipe role reversal question baik

pada siklus I maupun siklus II. Nilai rata-rata hasil belajarpeserta didik naik

5.8% dari kondisi awal 64,7 menjadi 70,5 pada siklus I, dan meningkat lagi

8,3% menjadi 78,8 pada siklus II. Peserta didikyang memperoleh nilai ≥75

meningkat 19% dari kondisi awal 36,2% menjadi 55,2% pada siklus I, dan

meningkat lagi 39,6% menjadi 94,8% pada siklus II. Peningkatan juga terjadi

25
pada aktivitas siswa yaitu rata-rata aktivitas peserta didiksiklus I adalah 72

meningkat 8,5% menjadi 80,5.

5. Penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2017) dalam skripsinya yang berjudul

“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Active

learning Tipe Role Revesal Question pada Siswa Kelas V SD 060898

Medan”, menyimpulkan bahwa pembelajaran PKn mengunakan model active

learningtipe role reversal questiondapat meningkatkan hasil belajar siswa

kelas V SD Negeri 060898 [Link] ini ditunjukkan denganpeserta

didikyang memperoleh nilai ≥70 pada siklus I meningkat sebesar 25% dari

kondisi awal 44% menjadi 69%. Kemudian peserta didikyang memperoleh

nilai ≥70 pada siklusII mengalami peningkatan 28% menjadi 97%. Nilai rata-

rata pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 8,75% dari kondisi awal

66,53 menjadi 75,28 pada siklus I kemudian pada siklus II nilai rata-rata

mengalami peningkatan lagi sebesar 10,97% menjadi 86,25.

Persamaan penelitian di atas dengan penelitian ini terletak pada model

pembelajaran yang digunakan yaitu model active learning tipe role reversal

question dan variabel terikatnya adalah hasil belajar. Perbedaan antara penelitian

di atas dengan penelitian yang dilakukan adalah pada jenis penelitian, populasi

dan sampel, instrument yang dikembangkan oleh peneliti, kurikulum

pembelajaran, tempat, dan penggunaan media yang mendukung proses

pembelajarannya.

C. Kerangka Konseptual

26
Kerangka pikir merupakan kesimpulan untuk mengetahui adanya

hubungan antar variabel-variabel yang ada dalam penelitian. Sekaran (dalam

Sugiyono, 2013: 60) kerangka pikir merupakan model konseptual tentang

bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi

sebagai masalah yang penting. Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu

dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih.

Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri,

maka yang dilakukan peneliti di samping mengemukakan deskripsi teoritis untuk

masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang

diteliti.

Berdasarkan masalah yang ditemukan di SD Negeri 3 Baubau yaitu belum

maksimalnya hasil belajar peserta didik karena terdapat beberapa kendala

yaitumasih terdapat peserta didikyang kesulitan dalam belajar karena terbatasnya

sumber belajar, selain itu juga karena belum terbiasanya peserta didik belajar

menggunakan pembelajaran berbasis tema, sehingga banyak peserta didik yang

belum terlibat secara aktif dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan

pembelajaran dianggapmembingungkan. Selain itu, karena kurangnya variasi

model pembelajaran yang digunakan pendidik. Permasalahan tersebut merupakan

indikasi rendahnya hasil belajar peserta didik.

Melalui model active learning tipe role reversal question maka peserta

didik akan dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, di mana peran

pendidik adalah sebagai fasilitator atau orang yang menciptakan suasana belajar

yang kondusif. Kegiatan pembelajaran menekankan pada aktivitas tanya jawab

27
dengan pembalikan peran agar terjadi interaksi antara pendidikdan peserta didik,

maupun peserta didik dengan peserta didik lain dalam proses pembelajaran.

Langkah-langkah penerapan model active learning tipe role reversal question

yang digunakan yaitu berdasarkan pendapat Indriani, karena langkah-langkah

tersebut dijelaskan secara rinci tahapannya serta kegiatan yang dilaksanakan.

Pelaksanaan model active learning tipe role reversal question akan

mempengaruhi hasil belajar peserta didik sehingga diharapkan dapat meningkat.

Penerapan proses pembelajaran pada penelitian ini dimulai dengan menyampaikan

materi pelajaran dan kompetensi yang ingin dicapai kemudian pada kelas

eksperimen diterapkan model active learning tipe role reversal question dan kelas

kontrol digunakan pembelajaran konvesional.

Berdasarkan pokok pemikiran yang telah dijelaskan, memungkinkan

bahwa model active learning tipe role reversal question berpengaruh terhadap

hasil belajar peserta didik. Hubungan antar variabel-variabel dalam penelitian ini

dapat dilihat pada gambar diagram kerangka pikir sebagai berikut:

X Y
Gambar [Link] Konsep Variabel (Sumber: Sugiyono, 2013: 42)

Keterangan:

X= Model Active learning tipe Role reversal question

Y= Hasil Belajar

= Pengaruh

28
Alur kerangka pikir pada gambar 1 dapat dideskripsikan bahwa model active

learning tipe role reversal questionyang dilakukan saat proses pembelajaran

berlangsung dapat membuat peserta didik lebih mudah menguasai materi

pelajaran. Model active learningtipe role reversal questionjuga dapat

mempermudah peserta didik dalam menghayati materi pelajaran dan dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didik

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir tersebut, maka hipotesis

penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Terdapat

pengaruh yang positif dan signifikan pada penggunaan model active learning tipe

role reversal question terhadap hasil belajar tematik peserta didik kelas IV di SD

Negeri 3 Baubau”.

29
DAFTAR PUSTAKA

Andestal, Erdian. 2014. Penerapan Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Team Quiz
Yang Diawali Dengan Tugas Ringkasan Dalam Pembelajaran Biologi Di
Kelas VIII SMPN 11 Kerinci Tahun Ajaran 2013/ 2014. Padang: FKIP
Universitas Bung Hatta Padang.

Aminah, Siti. 2017. PenggunaanModel Active LearningTipe Role Reversal


Questionpada Siswa SD Negeri 007 Sungai Kubu Rokan [Link]
Serambi [Link]: 20-28.

Amri, Sofan. 2015. Implementasi Pembelajaran Aktif Dalam Kurikulum


[Link] Pustaka, Jakarta.

Aqib, Zainal, dkk. 2010. Model-model, Media dan Strategi


PembelajaranKontekstual (INOVATIVF).Margahyu Permai, Bandung.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Hamalik, Oemar. 2012. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Istarani.
2012. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.

Khotimah, R. (2011). Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Melalui Metode

Muhammadi dan Taufik, Taufina. 2011. Mozaik Pembelajaran Inovatif. Padang:


Sukabina Press.

Ngalimun, dkk. 2016. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja


Pressindo.

Ratumanan, Tanwey Gerson. 2003. Evaluasi Hasil Belajar Yang Relevan Dengan
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Surabaya : Unesa University Press.

Silberman, Melvin. L. 2009. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif.


Yogyakarta: Pustaka Insani Madani.

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2013. MetodePenelitianKuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta,


Bandung.

30
Usri. 2018. Upaya Meningkatan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Active
Learning Tipe Role Reversal QuestionPada Siswa Kelas VI SD N202
Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu. Jurnal Pajar (Pendidikan
Pengajaran) Progran Studi Pendidikan Guru Sekalah Dasar FKIP
Universitas Riau. 2: 976-983.

Trianto . [Link] Pembelajaran Terpadu. Bumi Aksara, Jakarta.

31

Anda mungkin juga menyukai