Pengaruh Role Reversal Question pada Hasil Belajar
Pengaruh Role Reversal Question pada Hasil Belajar
Oleh
SITI MUHRIFAYANTI
NIM. ……………..
i
PROPOSAL
Oleh :
SITI MUHRIFAYANTI
NIM. ……………..
Komisi Pembimbing
Pembimbing I
NIDN. 0929077201
Pembimbing II
NIDN. 0928057601
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah...........................................................................1
B. Identifikasi Masalah.................................................................................. 6
C. Batasan Masalah....................................................................................... 6
D. Rumusan Masalah..................................................................................... 6
E. Tujuan Penelitian...................................................................................... 7
F. Manfaat Penelitian.................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................30
iii
BAB I
PENDAHULUAN
Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan
nilai, sikap, dan perilakudengan cara meningkatkan kemampuan yang telah dimiliki.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 Pasal 3
didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
mencapai tujuan pendidikan yang telah diamanatkan tersebut, salah satunya dengan
Mutu dalam proses pendidikan melibatkan berbagai unsur seperti bahan ajar,
serta berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang nyaman dan
Keberhasilan proses belajar mengajar juga didukung oleh adanya faktor yang
yang penting dalam pendidikan. Kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum
1
2013 (K13). Sekolah yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian
bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturanmengenai tujuan, isi, dan
Pendekatan saintifik merupakan pendekatan ilmiah yang dirancang agar peserta didik
fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik bukan pada pendidik
belajar peserta didik baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor.
menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Mata pelajaran yang
2
(PPKn), Bahasa Indonesia,Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS),dan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP). K13 memiliki kompetensi dasar yang
merupakan kemampuan dan materi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik
untuk suatu mata pelajaran yang mengacu pada kompetensi inti. Kompetensi inti
yang harus dicapai peserta didik yaitu KI-1 kompetensi sikap spiritual, KI-2
kompetensi inti sikap sosial, KI-3 kompetensi inti pengetahuan, dan KI-4 kompetensi
yakni: pendidik, peserta didik, dan model pembelajaran. Pendidik memiliki peranan
yang sangat penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran, seorang pendidik harus
mampu memilih strategi yang efektif dan model pembelajaran yang inovatif sehingga
kritis dan aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat
bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat pendidik yang kesulitan dalam
pembelajaran dengan baik ketika harus mengaitkan beberapa mata pelajaran dalam
satu pembelajaran. Terdapat peserta didik yang masih kesulitan dalam belajar karena
3
terbatasnya sumber belajar, selain itujuga karena belum terbiasanya peserta didik
rendahnya hasil belajar peserta didik. Hal ini dibuktikan dari data ketuntasan hasil
belajar tematik pada Ulangan Tengah semester ganjil kelas IV SD Negeri 3 Baubau.
diperlukan agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif sesuai dengan dasar
pendidikan di Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada budaya
didikmelalui harmonisasi olahhati, olah karsa, olah pikir, dan olah raga dengan
dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat
yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Nilai-nilai
utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.
4
bersaing Generasi Emas tahun 2045 yaitu dengan memiliki kompetensi 4C, antara
lain critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan menyelesaikan
permasalahan pembelajaran tematik serta dapat membuat peserta didik untuk aktif
dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar adalah model
active learning tipe role reversal question. Machmudah (dalam Amri 2015: 1), model
didik berperan secara aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi
pembelajaran aktif tersebut. Indriani (2015: 24) model active learning tipe role
peserta didik untuk menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran melalui aktivitas
tanya jawab pembalikan peran sehingga terjadi dialog yang interaktif antara pendidik
dengan peserta didik, dan antara peserta didik dengan peserta didiklain dalam proses
pembelajaran. Melalui model active learning tipe role reversal question diharapkan
dapat melatih keberanian peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan serta
5
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti merasa perlu untuk mengadakan
penelitian eksperimen tentang “Pengaruh Model Active learning Tipe Role reversal
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka masalah dalam penelitian ini dapat
belajar.
pembelajaran.
mengajar.
C. Batasan Masalah
yang diteliti, yakni hasil belajar tematik peserta didik yang belum maksimal dan
D. Rumusan Masalah
yakni, “Apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan pada penggunaan
6
model active learning tipe role reversal question terhadap hasil belajar tematik
E. Tujuan Penelitian
signifikan pada penggunaan model active learning tipe role reversal question
F. Manfaat Penelitian
1. Peserta Didik
Penerapan pembelajaran tematik dengan model active learning tipe role reversal
peserta didik lebih akif dan diharapkan dapat menumbuhkan motivasi serta
2. Pendidik
3. Sekolah
7
Hasil penelitian ini sebagai bahan rujukan untuk membantu meningkatkan
4. Peneliti
penggunaan model active learning tipe role reversal question terhadap hasil
belajar tematik.
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
dipisahkan antara satu dengan yang lain. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan sangat tergantung pada proses belajar mengajar yang dialami siswa
dan pendidikan, baik ketika para siswa itu berada di sekolah maupun di
Dengan demikian, belajar itu bukan sekedar mengingat atau menghafal saja,
namun lebih luas dari itu merupakan mengalami. Pendapat lain dikemukakan oleh
Susanto (2014:4), belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan
sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau
prilaku yang relatif tetap baik dalam berfikir, merasa, maupun bertindak. Belajar
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam
pembentukan pribadi dan tingkah laku individu. (Arienta, VK, Firman, Karneli,
2017). Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu upaya yang dilakukan
9
untuk mengadakan perubahan pada diri seorang individu, perubahan itu dapat
dari dua aktivitas belajar dengan mengajar. Aktivitas belajar secara metodologis
dilakukan oleh guru. Jadi, istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar
dan mengajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata
belajar dan mengajar (BM), proses belajar mengajar (PBM), atau kegiatan
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut
tabiat, serta pembentukan sikap dan kenyakinan pada peserta didik. Dengan kata
lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar
dengan baik. Namun dalam implementasinya, sering kali kata pembelajaran ini
dasarnya adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa sehingga
terjadi proses belajar dalam arti adanya perubahan perilaku individu siswa itu
sendiri. Jadi, pembelajaran dapat dikatakan sebagai kegiatan yang dirancang oleh
guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai
10
yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui rancangan, pelaksanaan,
2. Model Pembelajaran
pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas
oleh pendidik meliputi pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahan taktik
pembelajaran yang sudah terangkai menjadi satu kesatuan utuh. Alimah dan
pembelajaran yang memiliki tujuan dan sintaks tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
untuk mencapai pengalaman belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi
pada sintaks pembelajaran mulai dari awal sampai akhir dengan menerapkan
berbagai macam cara kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang
11
b. Tujuan Model Pembelajaran
dalam membangun informasi, ide, dan pola pikir mengenai materi pelajaran
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Adapun menurut Joyce dan Weill
(dalam Huda 2017: 73) tujuan model pembelajaran adalah untuk menekankan
pendidik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Oleh sebab itu, pendidik
sebagai model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam
pengembangan model active learning adalah ajaran Konfusius di China lebih dari
12
2400 tahun yang silam, yang menyatakan bahwa: “Yang saya dengar, saya lupa;
yang saya lihat, saya ingat; dan yang saya lakukan saya paham”.
sederhana dalam ajaran konfusius di atas menjadi apa yang disebut paham belajar
apabilaterjadi dialog yang interaktif antara peserta didik dengan peserta didik,
peserta didik dengan pendidikatau peserta didik dengan sumber belajar lainnya.
melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran di mana peran
yang kondusif. Diharapkan dengan peserta didik aktif dalam proses pembelajaran
13
maka peserta didik akan lebih paham mengenai materi yang dipelajari sehingga
variasi. Tipe-tipe pada model active learning pada dasarnya adalah sama yaitu
membuat peserta didik menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran dan terjadi
dialog yang interaktif antara pendidik dengan peserta didik, dan antara peserta
didik dengan peserta didik, dimana peran pendidik adalah sebagai fasilitator atau
orang yang menciptakan suasana belajar yang kondusif. Silberman (2013: 156)
menyebutkan ada 101 pembelajaran aktif dan terdapat beberapa tipe active
learning yang menekankan pada kegiatan tanya jawab yaitu (1) stars with a
peneliti memilih tipe role reversal question sebagai variabel penelitian karena
model active learning tipe role reversal question memungkinkan peserta didik
untuk menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran melalui aktivitas tanya
jawab pembalikan peran sehingga terjadi dialog yang interaktif antara pendidik
dengan peserta didik, dan antara peserta didik dengan peserta didik. Melalui
model ini juga dapat melatih keberanian peserta didik untuk dapat mengajukan
14
4. Model Active learning tipe Role reversal question
menyebutkan ada 101 pembelajaran aktif salah satunya role reversal question
Model active learning tipe role reversal question ini dapat melatih peserta
cara belajar peserta didikyang semula cenderung untuk pasif ke arah yang lebih
aktif.
Indriani (2015: 24) model active learning tipe role reversal question
merupakan kegiatan pembelajaran aktif yang menekankan pada aktivitas
tanya jawab dengan pertukaran peran. Jika pendidik bertukar peran menjadi
peserta didik maka pendidik mengajukan pertanyaan dan peserta didik
mencoba menjawab. Begitu pula sebaliknya jika peserta didik yang
mengajukan pertanyaan maka pendidikyang menjawab.
pendidikdan peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik lain dalam
15
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, penelitimenyimpulkan bahwa
pendidikdan peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik lain dalam
proses pembelajaran. Melalui model active learning tipe role reversal question
Model active learning tipe role reversal question terdiri atas langkah-
langkah yang harus dilakukan agar peserta didik dapat mencapai tujuan yang
1) Sebagai ganti penggunaan teknik ini pada awal sesi tanya-jawab, balikan
posisinya ketika peserta didik telah puas dengan pertanyaan.
2) Ubahlah acaranya menjadi “konfersi media” atau semacamnya, dan hujani
peserta didikdengan pertanyaan yang menyelidik, menyerang, atau
menjelek-jelekan materi belajar yang dipertanyakan.
16
Langkah-langkah pembelajaran model active learning tipe role reversal question
yang digunakan sesuai dengan pendapat diatas, namun ada beberapa hal yang
disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Indriani (2015: 25),
17
peserta didik menjawab pertanyaan tersebut, begitu pula sebaliknya. Jika peserta
benar.
3) Kelebihan dan Kekurangan Model Active learning tipe Role reversal question
Model active learning tipe role reversal question memiliki kelebihan dan
26) model active learning tipe role reversal question memiliki kelebihan antara
lain.
Indriani (2015: 27), kekurangan dari model active learning tipe role reversal
question yaitu:
18
2) Dibutuhkan waktu tambahan agar memperoleh hasil yang maksimal dalam
penyampaian pembelajaran.
3) Topik pembahasan materi menjadi luas jika pertanyaan yang muncul tidak
sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.
4) Memerlukan keterampilan pendidikdalam mengelola kelas.
5) Memunculkan keaktifan peserta didiktidaklah mudah, untuk itu diperlukan
teknik dan keterampilan agar peserta didikaktif dalam membelajaran.
model active learning tipe role reversal question yaitu pembelajaran berpusat
pada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih aktif, kegiatan
minat dan motivasi peserta didik dalam belajar dan menjadikan peserta didik
dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran serta terjalin kerja sama antar
peserta didik.
dibutuhkan waktu yang lama, sertatopik pembahasan materi menjadi luas jika
pertanyaan yang muncul tidak sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.
5. Pembelajaran Tematik
beberapa materi pelajaran dan menyajikannya kedalam sebuah tema atau topik.
19
pembelajaran yang memadukan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran
peserta didik baik secara individu maupun kelompok untuk aktif mencari,
20
pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat
berkaitan dengan kehidupan peserta didik.
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaranPembelajaran tematik
menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu
proses pembelajaran. Dengan demikian peserta didikmampu memahami
konsep-konsep tesebut secara utuh. Hal inidiperlukan untuk membantu
peserta didikdalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari.
5) Bersifat fleksibel Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana
pendidik dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan
mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkan dengan kehidupan
peserta didikdan keadaan lingkungan di manasekolah dan peserta
didikberada.
6) Menggunakan prinsip belajar sambil bemain dan menyenangkan.
1) Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan
tingkat perkembangan anak.
2) Kegiatan yang dipilih disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta
didik.
3) Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil
belajar akan dapat bertahan lebih lama.
4) Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan
sosial peserta didik.
5) Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis.
Dengan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan
riil peserta didik.
6) ika pembelajaran terpadu dirancang bersama dapat meningkatkan kerja
sama antar pendidikbidang kajian terkait, pendidikdengan peserta didik,
peserta didik dengan peserta didik, peserta didik atau pendidikdengan
narasumber sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi
nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna
21
tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara
akademik pendidikdituntut untuk terus menggali informasi ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan
banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada
bidang kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini, pembelajaran terpadu akan
sulit terwujud.
2) Aspek Peserta DidikPembelajaran terpadu menuntut peserta didik yang
relatif “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya.
Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan pada
kemampuan analitis (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-
hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan
menggali). Jika kondisi ini tidak dimiliki, penerapan model pembelajaran
terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
3) Aspek Sarana dan Sumber Belajar Pembelajaran terpadu memerlukan
bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi,
mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya,
dan mempermudah pengembangan wawasan. Jika sarana ini tidak
dipenuhi, penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
4) Aspek KurikulumKurikulum harus luwes, berorentasi pada pencapaian
ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target
penyampaian materi). Pendidikperlu diberikan kewenangan dalam
mengembangkan materi metode, penilaian, keberhasilan pembelajaran
peserta didik.
5) Aspek Penilaian Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang
menyeluruh atau (komperhensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar
peserta didik dari bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini,
pendidik selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur
pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komperhensif, juga
dituntutuntuk berkoordinasi dengan pendidiklain jika materi pelajaran
berasal dari pendidikyang berbeda.
karena pengalaman dan kegiatan peserta didik telah disesuaikan dengan minat dan
ketika pendidiktidak memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas maka tujuan
pebelajaran tidak akan tercapai, dan ketika peserta didik tidak memiliki
22
kemampuan akademik yang baik maka pembelajaran akan sulit terlaksana, serta
jika sarana dan sumber belajar tidak terpenuhi maka pembelajaran akan
terhambat.
6. Hasil Belajar
perubahan yang terjadi pada diri peserta didik baik yang menyangkut aspek
inisiatif.
psikomotor. Hasil belajard alam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti
23
Penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti harusmemiliki keterkaitan
dengan penelitian lain yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Indriani (2015) dalam skripsinya yang berjudul
≤70 pada siklus I meningkat sebesar 25% dari kondisi awal 44% menjadi
mengalami peningkatan sebesar 8,75% dari kondisi awal 66,53 menjadi 75,28
Tipe Role reversal question Pada Siswa Kelas VI SD N 202 Pangkalan Baru
24
3. Penelitian yang dilakukan oleh Aminah (2017) dalam skripsinya yang
pada Siswa SD Negeri 007 Sungai Kubu Rokan Hilir”, menyimpulkan bahwa
siklus II. Pada siklus I peserta didik yang memperoleh nilai ≥70 mengalami
peningkatan sebesar 25% dengan kondisi awal 44% meningkat menjadi 69%
dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 28% menjadi 97%. Nilai
dengan kondisi awal 66,53 meningkat menjadi 75,27 dan pada siklus II terus
4. Penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2017) dalam skripsinya yang berjudul
setelah menggunakan model active learning tipe role reversal question baik
pada siklus I maupun siklus II. Nilai rata-rata hasil belajarpeserta didik naik
5.8% dari kondisi awal 64,7 menjadi 70,5 pada siklus I, dan meningkat lagi
8,3% menjadi 78,8 pada siklus II. Peserta didikyang memperoleh nilai ≥75
meningkat 19% dari kondisi awal 36,2% menjadi 55,2% pada siklus I, dan
meningkat lagi 39,6% menjadi 94,8% pada siklus II. Peningkatan juga terjadi
25
pada aktivitas siswa yaitu rata-rata aktivitas peserta didiksiklus I adalah 72
5. Penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2017) dalam skripsinya yang berjudul
didikyang memperoleh nilai ≥70 pada siklus I meningkat sebesar 25% dari
nilai ≥70 pada siklusII mengalami peningkatan 28% menjadi 97%. Nilai rata-
rata pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 8,75% dari kondisi awal
66,53 menjadi 75,28 pada siklus I kemudian pada siklus II nilai rata-rata
pembelajaran yang digunakan yaitu model active learning tipe role reversal
question dan variabel terikatnya adalah hasil belajar. Perbedaan antara penelitian
di atas dengan penelitian yang dilakukan adalah pada jenis penelitian, populasi
pembelajarannya.
C. Kerangka Konseptual
26
Kerangka pikir merupakan kesimpulan untuk mengetahui adanya
sebagai masalah yang penting. Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu
dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih.
Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri,
diteliti.
sumber belajar, selain itu juga karena belum terbiasanya peserta didik belajar
Melalui model active learning tipe role reversal question maka peserta
didik akan dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, di mana peran
pendidik adalah sebagai fasilitator atau orang yang menciptakan suasana belajar
27
dengan pembalikan peran agar terjadi interaksi antara pendidikdan peserta didik,
maupun peserta didik dengan peserta didik lain dalam proses pembelajaran.
materi pelajaran dan kompetensi yang ingin dicapai kemudian pada kelas
eksperimen diterapkan model active learning tipe role reversal question dan kelas
bahwa model active learning tipe role reversal question berpengaruh terhadap
hasil belajar peserta didik. Hubungan antar variabel-variabel dalam penelitian ini
X Y
Gambar [Link] Konsep Variabel (Sumber: Sugiyono, 2013: 42)
Keterangan:
Y= Hasil Belajar
= Pengaruh
28
Alur kerangka pikir pada gambar 1 dapat dideskripsikan bahwa model active
D. Hipotesis Penelitian
penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Terdapat
pengaruh yang positif dan signifikan pada penggunaan model active learning tipe
role reversal question terhadap hasil belajar tematik peserta didik kelas IV di SD
Negeri 3 Baubau”.
29
DAFTAR PUSTAKA
Andestal, Erdian. 2014. Penerapan Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Team Quiz
Yang Diawali Dengan Tugas Ringkasan Dalam Pembelajaran Biologi Di
Kelas VIII SMPN 11 Kerinci Tahun Ajaran 2013/ 2014. Padang: FKIP
Universitas Bung Hatta Padang.
Hamalik, Oemar. 2012. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Istarani.
2012. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.
Ratumanan, Tanwey Gerson. 2003. Evaluasi Hasil Belajar Yang Relevan Dengan
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Surabaya : Unesa University Press.
30
Usri. 2018. Upaya Meningkatan Hasil Belajar PKn Menggunakan Model Active
Learning Tipe Role Reversal QuestionPada Siswa Kelas VI SD N202
Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu. Jurnal Pajar (Pendidikan
Pengajaran) Progran Studi Pendidikan Guru Sekalah Dasar FKIP
Universitas Riau. 2: 976-983.
31