Panduan Lartas Impor dan Ekspor
Panduan Lartas Impor dan Ekspor
Presented by
Mohamad Jafar
jafarbjn@[Link] - [Link]
ALASAN PENGENAAN LARTAS
Mengganggu Hankamtibmas
UU 10/1995 JO UU 17/2006
TENTANG KEPABEANAN
dibatalkan ekspornya,
diekspor kembali, atau
dimusnahkan dibawah
pengawasan DJBC
Psl 53 UU No 17/2006
4) Barang yang dilarang atau dibatasi untuk
diimpor atau diekspor yang tidak
diberitahukan atau diberitahukan secara
tidak benar dinyatakan sebagai barang yang
dikuasai negara, kecuali terhadap barang
dimaksud ditetapkan lain berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
PMK 224/PMK.4/2015
Dirjen
Government Portal
Agency Bea
(Instansi penerbit
INSW
lartas)
Cukai
Transfer Dokumen
Oleh Pengguna Jasa BC- Reject
NSW-Cek BC-Proses
NSW-Penerimaan Non BC - Penerimaan
BC- Dapat
Mandatory Kepabeanan Nomor Pendaftaran
Dokumen Lartas
Dokumen
Ada
Lartas Ijin
Tidak Ada
Ijin NSW –
Reject
Flag 0
NSW-
NSW- Konfirmasi
Flag 1
Analyzing Point Skep Lartas
Bank 12
13
PENJALURAN &
Bayar BPN
14 Penomoran
cek bayar A SPPB 22
10
11
9
• Registrasi
15 AEO & MITA
asal K/M tdk Notul
Respon kode Validasi • Tarif (BTKI) 16
• Utang 20
Billing • Hard copy
• BC 1.1 (Preno)
Hijau PFPD
7 Notul?
NPP 8 17
PIB 1
13
Kuning
17
Lartas? 20 Y
reject 2 16
SPBL/SPTNP/
Merah SPJK SPPJ/SPPB
flag 1
21
3 6
16
16
NPBL 4
Proses An. 17 Penyelesaian
A
IMPORTIR
A
23 SPPB
GATE
Barang Keluar
Bank 12
13
PENOMORAN &
cek bayar
PENJALURAN NPE
Bayar BPN 14
A
10
11
9 Non Priksa 15
20 T
• Registrasi
Respon kode Validasi • Tarif (BTKI)
Fisik
Billing • Utang Notul
• Hard copy
PPDE BK?
7
NPP 8
Priksa
18 19
Fisik
PEB 1
13 Y
Lartas?
reject 2
SPPBK
15
20
flag 1
3 6
PPB A Penyelesaian
NPPD 4
Proses An. SPPBK
Point
EKSPORTIR
Konfirm / Izin 16 17 21
5
NPE Asal
Periksa LHP
Merah
Fisik
22 NPE
A
komoditas :
diantaranya, pelumas, mutiara, produk tertentu, kaca
lembaran, barang berbasis sistem pendingn, barang
modal tidak baru, intan kasar, hewan dan produk hewan,
semen clinker dan semen, produk holtikultura, bahan
baku plastik, ban
16
ALUR DATA PENGAWASAN TATA NIAGA POST BORDER
Keterangan:
1. Penyampaian daftar
komoditi Tata Niaga
Impor Post Border
2. Importir aju dokumen
PIB
3. Notifikasi INSW kepada
importir
4. Notifikasi INSW kepada
K/L
5. Penerusan data PIB dari
INSW ke DJBC
6. Notifikasi dari DJBC ke
INSW, dan dari INSW ke
importir dan K/L terkait
penetapan Pos Tarif
7. Sharing profil risiko
(ISRM)
8. Dokumen release (SPPB)
setelah proses
kepabeanan
9. Pengawasan Post Border
10. Hasil pengawasan
11. Tindak lanjut hasil
pengawasan
12. Update profil MR ke
DJBC (ISRM)
13. Update profil MR ke
INSW (ISRM)
Barang PRINSIP:
Tidak menghalangi penggunaan barang
Impor Dokumen Perizinan tidak menjadi syarat impor
(tidak lagi menjadi dokumen pelengkap pabean)
Tidak menghapuskan persyaratan tata niaga impor
Pemeriksaan untuk menguji Compliance melalui
Analisis Data, Random Spot Check, dan Audit
Manajemen Risiko
(ISRM)
OK
ya
Patuh?
tdk
Punishment
18
LARTAS IMPOR
POST BORDER
KEMENDAG
DILARANG IMPORNYA
PEMBATASAN IMPORNYA
DASAR HUKUM:
PP 15 Tahun 2002 Tentang Karantina Ikan
PERIJINAN :
Sertifikat Pelepasan Karantina Ikan (KI-D3)
Surat Persetujuan Pengeluaran Media Pembawa dari Tempat Pemasukan (KI-D15)
LARANGAN
Udang Vanamei
(pos tarif 0306.17.20.20)
PEMBATASAN
DASAR HUKUM:
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 Tentang Karantina Hewan
Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor
Hewan dan Produk Hewan
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rekomendasi Persetujuan
Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, Dan/atau Olahannya Ke Dalam Wilayah Negara Republik
Indonesia
Permendag No. 46/M-DAG/PER/8/2013
PEMBATASAN
DASAR HUKUM:
PP 14 Tahun 2002 Tentang Karantina Tumbuhan
PERIJINAN :
KT-1 adalah Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan Luar Negeri
KT-19 adalah Surat Keterangan Masuk Karantina (Surat Persetujuan Pelaksanaan
Tindakan Karantina Tumbuhan Di Luar Tempat Pemasukan/Pengeluaran;
KT-36 adalah Surat Izin Membongkar Muatan Alat Angkut;
PEMBATASAN
Dasar Hukum
Peraturan Kepala Badan POM Nomor 27 Tahun 2013
Peraturan Kepala Badan POM Nomor 28 Tahun 2013
Permendag No. 72/M-DAG/PER/10/2014
DASAR HUKUM:
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR: 72/M-DAG/PER/9/2015
PERIJINAN:
Dokumen Final yang dilampirkan pada PIB adalah NPB (Nomor Pendaftaran Barang)
Nomor Pendaftaran Barang (NPB), adalah nomor yang diberikan terhadap Pelaku Usaha
untuk barang impor yang telah diberlakukan SNI
CONTOH BARANG WAJIB SNI : lampu swa ballast, tepung terigu, air mineral, helm
pengendara kendaraan bermotor, ban, velg, pupuk, dll
Lartas
Kemdag
No JENIS PRODUK
1 Produk Tertentu (elektronika, pakaian jadi, mainan
anak, alas kaki, produk makanan dan minuman)
1 Tepung Terigu
2 Lampu Swa-Ballast
3 Pupuk Urea
4 Pupuk Amonium Sulfat/ZA {(NH 4)2 SO 4}
KATEGORI :
untuk stabilisasi harga, kebutuhan industri, kesehatan/dietary dan konsumsi khusus,
bersumber dari hibah
Jenis beras:
beras yang diimpor hanya Beras dengan tingkat kepecahan paling tinggi 25% (dua
puluh lima persen).
Persyaratan impor :
Diimpor oleh Perusahaan Umum BULOG.
Surat PersetujuanImpor (SPI) dari menteri perdagangan (didelegasikan kepada Dirjen
Perdagangan Luar Negeri)
Kemasan, menggunakan bahan yang diizinkan; mencantumkan Logo Tara Pangan dan
Kode Daur Ulang.
Laporan Surveyor (LS)
Lartas Kemdag
Wajib IT/IP
BAHAN PERUSAK OZON
DASAR HUKUM :
Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 83/M-DAG/PER/10/2015
Ketentuan Impor :
Pemilik API-U atau API-P,
Surat Persetujuan Impor untuk setiap kali importasi,
Laporan Sueveyor untuk setiap kali impor,
Pelabuhan Tujuan Tertentu (Belawan, Priok, Tg. Emas, Tg. Perak,
Makasar (SH), Batu Ampar.
DASAR HUKUM :
• Permendag No : 85/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor TPT
• Permendag No : 86/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor TPT Batik
Ketentuan impor :
1. Pemilik API-P
2. Persetujuan Impor TPT (PI-TPT)
3. Laporan Surveyor (LS)
PENGERTIAN
Bahan Berbahaya disingkat B2 adalah zat, bahan
kimia dan biologi, baik dalam bentuk tunggal
maupun campuran yang dapat membayakan
kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung
atau tidak langsung yang mempunyai sifat racun,
karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif
dan iritasi.
DASAR HUKUM:
B2 diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian
dan Perdagangan Nomor: 23/M-DAG/PER/9/2011
dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 75/M-
DAG/per/10/2014
PERIJINAN IMPOR :
Penunjukan Importir Produsen (IP) B2 oleh
Depertemen Perdagangan; atau
Penunjukan Sebagai Importir Terdaftar (IT) B2
oleh Departemen Perdagangan disertai Surat
Persetujuan Impor untuk setiap kali impor.
LIMBAH NON-B3
PENGERTIAN:
Limbah Non-B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang tidak
mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun
DASAR HUKUM :
[Link]. Perindag No. 39/M-DAG/PER/9/2009
PERIJINAN:
IP Limbah
Surat Pernyataan dari Eksportir Limbah Non B3
Laporan Surveyor
LARANGAN
MEMPERINDAG ATAS
PERSETUJUAN BAPEDAL
Lartas
Kemdag
PEMBATASAN IMPOR NITROCELLULOSE
DASAR HUKUM:
[Link]. Perindag No. 62/M-
DAG/PER/8/2015
PERIJINAN
IP NC atau IT NC
Persetujuan Impor
Laporaan Surveyor
Ketentuan Lainnya
Impor NC untuk pertahanan oleh Kemenhan
Impor NC untuk keamanan oleh Kepolisian
Lartas Kemkes
PREKURSOR
PENGERTIAN:
Prekursor adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia tertentu yang dapat digunakan sebagai
bahan baku/penolong untuk keperluan proses produksi industri dan apabila disimpangkan dapat
digunakan dalam memproses pembuatan narkotika dan/atau psikotropika. Prekursor untuk keperluan
farmasi ijin dari Departemen Kesehatan, Prekursor non farmasi ijin dari Departemen Perdagangan.
DASAR HUKUM:
[Link]. Perindag No. 0647/MPP/Kep/10/2004
PerMen Kesehatan No 0168/Menkes/Per/II/2005
PERIJINAN:
IP Prekursor Non Farmasi/Farmasi
IT Prekursor Non Farmasi/Farmasi dan Surat Persetujuan Impor
Laporan Surveyor dari Negara Asal
SPI Prekursor Farmasi setiap importasi.
Lartas
Kemkes
NARKOTIKA
PENGERTIAN:
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan
dapat menimbulkan ketergantungan.
DASAR HUKUM:
UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
PERIJINAN:
Importir : Pedagang Besar Farmasi milik Negara
SPI Narkotika setiap importasi dari Kemkes
Persetujuan Pemerintah negara pengekspor
GOLONGAN NARKOTIKA
Narkotika Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai
potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Terdapat 26
macam.
Narkotika Golongan II
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan
terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Terdapat 87 macam.
PENGERTIAN:
Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat
psikotropika aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
DASAR HUKUM:
UU NO 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA
PERIJINAN:
Importir : Pabrik Obat, Pedagang Besar Farmasi, & Lembaga
Penelitian dan/atau Lembaga Pendidikan
SPI Psikotropika setiap importasi dari Kemkes
Persetujuan Pemerintah negara pengekspor
GOLONGAN PSIKOTROPIKA
Psikotropika Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi,
serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan Dengan
sindroma ketergantungan. Dalam golongan ini terdapat berlakunya UU
27 macam. No 35 Tahun
2009 tentang
Psikotropika Golongan II Narkotika, 2
golongan ini
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
masuk ke
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu
narkotika
pengetahuan serta mempunyai potensi kuat
golongan 1
mengakibatkan sindroma ketergantungan. Dalam
golongan ini terdapat 14 macam.
GOLONGAN PSIKOTROPIKA
Golongan III
Psikotropika yang berkasiat pengobatan dan banyak digunaan
dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma
ketergantungan.
Dalam golongan ini terdapat 11 macam.
Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
sindroma ketergantungan. Dalam golongan ini terdapat 60
Macam.
Lartas
BI
UANG TUNAI
Dasar hukum dikenakannya pembatasan uang tunai adalah Peraturan Gubernur Bank
Indonesia No. PBI 4/8/PBI/2002 tentang Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah
Keluar atau Masuk Wilayah Pabean RI
membawa uang tunai RP 100 juta atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara
dengan itu keluar/masuk ke/dari daerah pabean wajib memberikan laporan kepada Pejabat
Bea dan Cukai, dilampiri izin Bank Indonesia.
PEMBATASAN
ALAT TELEKOMUNIKASI
Dasar Hukum:
Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika
Nomor 18 Tahun 2014 tentang Sertifikasi Alat Dan
Perangkat Telekomunikasi
PESTISIDA
Dasar Hukum:
Keputusan Menteri Pertanian Nomor
4341/Kpts/TP270/7/2001
PELUMAS
Dasar Hukum: HS Code Uraian Barang Persyaratan
Keputusan Bersama Menteri Perdagangan, Impor
Menteri ESDM, Menteri Keuangan Nomor Preparat pelumas (termasuk Nomor Pelumas
233/MPP/Kep/7/2001, Nomor 1905 preparat minyak pemotong, Terdaftar
K/34/MEM/2001, dan Nomor preparat pelepas baut atau
426/KMK.01/2001 mur, preparat anti-karat atau
anti-korosi dan preparat
pelepas cetakan, dengan
bahan dasar pelumas) dan
preparat dari jenis yang
digunakan untuk meminyaki
atau menggemuki bahan
tekstil, kulit samak, kulit
berbulu, atau material lainnya,
tetapi tidak termasuk preparat
yang mengandung minyak
petroleum atau minyak yang
diperoleh dari mineral
mengandung bitumen sebagai
dasar, 70% atau lebih
menurut beratnya.
3403.19.19.00 - - - - Lain-lain
LARTAS IMPOR
IZIN POLRI
Dasar Hukum:
PERPU Nomor 20/1960 dan Keputusan KAPOLRI
Nomor Skep/82/II/2004 Jo. R/13/I/2005
Petasan Larangan
PEMBATASAN IMPOR BARANG CETAK
Dasar Hukum:
Undang-undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang
Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan yang
Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum.
Dasar Hukum:
Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman,
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18
Tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film
1 2 4
PENOMORAN &
cek bayar PENJALURAN NPE
Bayar BPN 14
A
10
11
9 Non Priksa 15
20
• Registrasi
Respon kode Validasi • Tarif (BTKI)
Fisik T
Billing • Utang
• Hard copy Notul
PPDE
7 Bea Keluar?
NPP 8
Priksa 18 19
Fisik
PIB 1
13 Y
Lartas?
reject 2
SPPBK
15
20
flag 1
3 6
PPB A Penyelesaian
NPPD 4
Proses An. SPPBK
IMPORTIR
Point
Skep Lartas 16 17 21
5
NPE Asal
Periksa LHP
Merah
Fisik
A
22 NPE
GATE
Barang Masuk
Sistem INSW
LARANGAN EKSPOR
(PMK-44/M-DAG/PER/7/2012)
1. BIDANG PERTANIAN
2. BIDANG KEHUTANAN
3. BIDANG PERIKANAN DAN KELAUTAN
4. BIDANG INDUSTRI
5. BIDANG PERTAMBANGAN
6. CITES APPENDIX I
7. BARANG CAGAR BUDAYA
1.A
1.B
PEMBATASAN EKSPOR
Produk Perkebunan
DASAR HUKUM
Permendag No : 89/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan
PERIJINAN :
Perusahaan yg mempunyai TDI/IUI dan TDP, atau SIUP dan TDP
Dokumen V Legal utk Kelompok A
Laporan Surveyor (LS)
WAJIB PENELUSURAN
TEKNIS (SURVEYOR)
CONTOH KAYU YANG DAPAT DIEKSPOR
KURSI ROTAN
3
4
KOMODITI NOMOR_SKEP PERIZINAN
PREKURSOR Per M-Dag No. 05/M- Hanya dapat diekspor oleh Eksportir Terdaftar
DAG/PER/1/2007 jo Per M-Dag Prekursor yang ditetapkan Dirjen Daglu
No. 01/M-DAG/PER/1/2007
SISA SKRAP Per M-Dag - 45/M- Ekspor hanya dapat dilakukan dengan SPE Sisa dan
DAG/PER/7/2012 Skrap Logam
5
Pasir Yang
Dilarang Diekspor
Zinc Dust
Safir
Berlian
Ruby
Zamrud Kecubung
PERATURAN LARTAS EKSPOR
Komoditi : Bahan Galian, Intan Kasar, dan Logam Mulia
LOGAM MULIA Per M-Dag - 01/M-DAG/PER/1/2007 Ekspor hanya dapat dilakukan dengan
jo Kep MPP No. 558/MPP/Kep/12/1998 persetujuan Menteri Perdagangan atau
Per M-Dag No.46/M-DAG/PER/7/2012
Pejabat yang ditunjuk
6 BARANG MASUK APPENDIX I CITES
DILARANG
DIEKSPOR
* SATS LN :
Surat Angkut Tumbuhan dan
Satwa Liar Luar Negeri
KETENTUAN EKSPOR
Komoditi : Tumbuhan dan Satwa Liar (Appendiks II dan III)
Dasar Hukum:
UU 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang
PP 99 Tahun 2016 Pembawan Uang Tunai
dan/atau Instrumen Pembayaran Lain Ke
membawa uang tunai Rp 100 juta atau
dalam atau Ke luar Daerah Pabean Indonesia.
PBI No.19/7/PBI/2017 tentang pembawaan
lebih, atau mata uang asing yang
uang kertas asing ke dalam dan ke Iuar nilainya setara dengan itu keluar dari
daerah pabean Indonesia daerah pabean wajib lapor ke Pejabat
Bea dan Cukai,
membawa uang kertas asing (UKA)
senilai Rp 1 milyar atau lebih.
menggunakan formulir BC 3.2 atau
formulir PEB (BC 3.0) jika diekspor
sebagai barang kargo / melalui
Perusahaan Jasa Titipan (PJT),
wajib dilampiri izin Bank Indonesia
Jika dilanggar Denda 10 % dari nilai
uang maksimal 300 juta rupiah
Sistem INSW meningkatkan efisiensi proses kepabeanan dengan mengotomatisasi penyampaian notifikasi antara importir, DJBC, dan instansi terkait. Hal ini mempercepat penetapan Pos Tarif dan berbagi profil risiko (ISRM), sehingga dokumen barang dapat dikeluarkan lebih cepat setelah proses kepabeanan. Dengan sistem ini, pengawasan post border dilakukan dengan lebih terkoordinasi .
Tujuan dari Persetujuan Impor (PI) adalah untuk memastikan bahwa impor bahan pangan seperti gula dan beras terselenggara sesuai dengan kebijakan nasional dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dalam negeri dan pemenuhan industri, serta stabilisasi harga. PI memungkinkan kontrol jumlah dan jenis bahan pangan yang diimpor agar tidak melebihi kapasitas produksi lokal dan menjaga kualitas serta keamanan pangan .
Penggolongan barang berdasarkan HS Code memungkinkan identifikasi barang secara spesifik untuk membedakan mana yang dibatasi atau dilarang. Misalnya, kode pos tarif membantu memverifikasi kategori barang seperti Bahan Berbahaya (B2) atau produk tekstil, sehingga importir wajib memenuhi persyaratan khusus sebelum barang diizinkan masuk, seperti memiliki sertifikat dan Persetujuan Impor .
Laporan Surveyor berperan sebagai verifikasi bahwa barang yang diimpor sesuai dengan standar nasional dan internasional serta memenuhi persyaratan spesifik sebelum masuk ke Indonesia. LS memastikan keabsahan dan kualitas barang, mengurangi risiko masuknya barang ilegal atau berkualitas rendah. Proses ini juga menguatkan regulasi impor dan meminimalisir praktik penyelundupan melalui audit yang dilakukan di negara muat .
Otomatisasi diperlukan untuk mempercepat proses verifikasi dan validasi dokumen, mengurangi birokrasi manual yang lambat dan rawan kesalahan, serta meningkatkan transparansi. Dengan menggunakan platform seperti INSW, semua data dan pengajuan dapat diproses secara terpusat, mengurangi waktu antrean dan meningkatkan efisiensi keseluruhan dalam operasi kepabeanan, sehingga waktu dan biaya yang diperlukan dalam perdagangan internasional menjadi lebih rendah .
Tantangan utama termasuk koordinasi antara berbagai instansi pemerintah yang terlibat untuk menghindari tumpang tindih atau kurangnya efisiensi. Selain itu, memantau sekaligus memastikan kepatuhan pelaku industri terhadap standar Lartas memerlukan sumber daya yang memadai, serta teknologi untuk pengumpulan dan analisis data yang tepat guna mendeteksi pelanggaran secara cepat .
Penggunaan ISRM memperkuat pengawasan dengan mengintegrasikan analisis risiko yang memungkinkan Bea Cukai memprioritaskan inspeksi fisik dan administrasi pada impor berisiko tinggi. Hal ini mengoptimalkan sumber daya dan meningkatkan kepatuhan importir terhadap peraturan karena risiko dan profil kepatuhan dinilai secara otomatis, sehingga proses penanganan pasca-kepabeanan menjadi lebih efisien .
Kebijakan impor beras, seperti pembatasan tingkat kepecahan hingga 25% dan pelaksanaan oleh Perusahaan Umum BULOG, bertujuan untuk stabilisasi harga dan memastikan pasokan cukup bagi masyarakat rentan serta menjaga ketahanan pangan. Dengan demikian, kebijakan ini melindungi petani lokal dari kompetisi tidak adil sekaligus menjamin pasokan beras cukup selama krisis atau kondisi darurat .
Perbedaan utama terletak pada pengimpor dan proses importasi. Garam industri diimpor oleh perusahaan pemilik API-P dan memerlukan Surat Persetujuan Impor serta pelabuhan tujuan impor harus dekat dengan lokasi pabrik. Sedangkan Garam konsumsi diimpor oleh BUMN yang harus mendapat penugasan dari Menteri BUMN serta rekomendasi dari kementerian terkait kelautan dan perikanan. Kedua jenis garam memerlukan Laporan Surveyor .
Prekursor adalah bahan kimia yang dapat digunakan dalam produksi narkotika dan psikotropika, yang memiliki risiko penyalahgunaan tinggi jika disimpangkan. Oleh karena itu, impor prekusor memerlukan perizinan ketat untuk memastikan bahan tersebut digunakan sesuai dengan keperluan industri di bawah pengawasan regulasi yang ketat .