0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Rona Lingkungan Awal Jakarta Waterfront City

Dokumen ini membahas tentang penilaian awal lingkungan (baseline study) untuk pembangunan Jakarta Waterfront City. Dokumen ini menjelaskan komponen-komponen lingkungan yang akan dipantau dan wilayah yang terkena dampak dari pembangunan proyek.

Diunggah oleh

Santhyami Saros
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Rona Lingkungan Awal Jakarta Waterfront City

Dokumen ini membahas tentang penilaian awal lingkungan (baseline study) untuk pembangunan Jakarta Waterfront City. Dokumen ini menjelaskan komponen-komponen lingkungan yang akan dipantau dan wilayah yang terkena dampak dari pembangunan proyek.

Diunggah oleh

Santhyami Saros
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.

1 Rona Lingkungan Awal

Rona lingkungan awal merupakan rona lingkungan yang akan terkena dampak oleh suatu
kegiatan pembangunan. Pada pengamatan rona lingkungan ini komponen lingkungan yang
ditelaah yang diperkirakan terkena dampak penting dari kegiatan tersebut adalah : fisika kimia,
biologi, sosial dan kesehatan masyarakat. Kemudian, dilakukan inventarisasi daya dukung
lingkungan regional di mana semua kegiatan tersebut berlokasi.

Pengamatan rona lingkungan awal pembangunan Jakarta Water Front City dilakukan di
kawasan reklamasi Pantai utara (pantura), yang meliputi tiga kawasan yaitu pantai Indah Kapuk,
Daerah Bakau Kapuk dan Konservasi Muara Angke serta Pantai Marina Ancol.

Wilayah Pantai Utara Jakarta yang merupakan daerah yang direncanakan akan dilaksanakan
pembangunan Jakarta Waterfront City merupakan daerah yang cukup padat. Daerah ini terdiri
dari berbagai aktivitas seperti perumahan, perindustrian, pergudangan, pariwisata, cagar alam,
konservasi bakau, transportasi, dan pelabuhan. Daerah Pantai Utara Jakarta terkenal dengan
Marina Ancol yang merupakan sarana rekreasi dan olah raga air. Selain itu, kawasan ini juga
terdiri dari gedung pertunjukan, pusat belanja, hotel, restoran, rumah sakit, dan daerah
pertokoan. Pada kawasan pemukiman, disediakan juga daerah-daerah dan taman
lingkungan serta taman bermain. Sarana dan prasarana akan meliputi pengadaan fasilitas
umum dan fasilitas sosial seperti klinik, rumah sakit, pelayanan pos dan telekomunikasi,
sekolah, tempat ibadah, pusat belanja dan terminal transportasi umum yang memadai.

Kegiatan-kegiatan ini berpengaruh terhadap rona lingkungan pada kawasan tersebut,


salah satunya pada kawasan Konservasi Muara Angke. Suaka margasatwa ini terletak
berbatasan dengan kompleks pemukiman Pantai Indah Kapuk (PIK). Keadaan di kawasan
konservasi ini diantaranya Kali Angke yang mengalir melintasi Suaka Marga satwa ini
berwarna hitam, penuh sampah, dan berbau menyengat. Pada musim hujan, di saat debit
air tinggi, sampah akan terbawa air sungai masuk ke daerah konservasi ini dan akhirnya
tertahan di antara tanaman bakau.

Pohon-pohon bakau sudah menjarang, disela ruang air, terdapat rumput bebek dan eceng
gondok memenuhi tepian kawasan. Pipa besi besar dan panjang mungkin bekas alat
menyedot pasir laut terbuang disana bersama dengan sisa-sisa pecahan perahu. Rumah-
rumah kumuh berderet di sepanjang tepi timur muara, penduduknya menggunakan air
yang kotor dan penuh sampah untuk MCK. Di belakang deretan rumah kumuh, tertata
rapi rumah-rumah mewah. Selain itu juga terdapat banyak perahu-perahu yang menepi.
Mulai dari perumahan Pantai Indah Kapuk sampai daerah penjaringan terlihat
ketimpangan sosial- ekonomi yang sangat jelas. Di lokasi Pantai Indah Kapuk terdiri dari
masyarakat golongan ekonomi menengah keatas, sedangkan mulai memasuki
penjaringan, tingkat ekonominya semakin rendah. Pembangunan dilakukan sepanjang
kali Muara Angke yang sebagian besar merupakan kawasan perumahan mewah.

Jika dulu akar-akar bakau bersinggungan langsung dengan gelombang laut, akar-akar itu
disisipi sampah. Ke arah darat terdapat lahan yang siap menampung pembangunan pesat
yang sedang berjalan untuk lebih memperindah Pantai Indah Kapuk.

Pada kawasan Pantai Indah Kapuk, pembangunan mulai dilakukan, yaitu pembangun
perumahan, pusat perbelanjaandan fasilitas umum lainnya. Terdapat juga lahan-lahan
kosong yang sedang dibangun yang semula merupakan daerah bukaan hijau.

Pantai Marina Ancol yang juga termasuk kawasan pembangunan JWC. Terdapat pusat
rekreasi, pelabuhan, dan pemukiman.

Kawasan Jakarta Waterfront City direncanakan akan dibangun pada lahan yang terlebih dahulu
akan dilakukan proses reklamasi. Kawasan JWC merupakan daerah yang datar tanpa perbukitan
dan tingkat kemiringan tanah yang kecil.

Kegiatan dengan Lokasi Daya dukung Komponen lingkungan


Komponen-komponen lingkungan Fisika -kimia Biologi Sosial dan
Kegiatan regional (am kesehata n
bang batas/sta
ndar (*)

♦ Permukiman
a. Perumahan ♦ Di dataran tinggi, Misalya 40% X V V V
daerah aliran sungai lahan

b. Jalan Lingkungan dan ♦ Di sepanjang Misalnya 30% V V V


Saluran daerah hunian Kota
Baru

c. Jaringan air bersih, ♦ Menyeluruh dalam Max yg V V


listrik, telepon. kawasan Kota Baru diizinkan oleh
pemerinta h
d. Tem pat pembuangan ♦ Dalam kawasan Sesuai jumlah V V V
sampah permukiman, rumah yang
perdagangan dan dilayani
pembuangan akhir

♦ Tempat Olah Raga dan ♦ Di daerah fasilitas Sesuai jumlah


Rekreasi umum dan reklamasi masyaraka t
yang dilayani

a. Gedung olah raga ♦ Di tengah Kota V V V


Baru
b. Lapangan golf ♦ Di tepi Kota Baru V V V

c. Taman-taman Kota dan ♦ Tersebar dalam V V V


tempat bermain Kota Baru

♦ Perekonomian dan ♦ Di pusat Kota Baru Max. Yang V V V


Perdagangan diizinkan oleh
daerah

♦ Industri Kecil ♦ Dipinggir Kota


Baru
a. Industri kulit (sepatu, ♦ Dipinggir Kota Sesuai izin V V V
tas) Baru deppenda
b. Industri makanan ♦ Dipinggir Kota w V V V
Baru
c. Industri mebel rotan ♦ Dipinggir Kota w V V V
Baru
d. Unit Pengolah ♦ Di tiap-tiap Ambang V V V
Li m bah Industry batas
pencemara n
air, tanah,
udara

Lingkup Wilayah Studi Kota Baru

Lingkup studi meliputi


1. Wilayah proyek
2. Wilayah ekologi
3. wilayah sosial
4. wilayah administratif yang resultantenya membentuk wilayah teknis, yang
merupakan wilayah studi Andal Kota Baru.

Penetapan lingkup wilayah studi adalah untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL, dan
berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang tersebut dibawah ini

a. Batas Proyek

Adalah ruang dimana rencana usaha atau kegiatan akan dilakukan pada waktu pra
konstruksi, konstruksi dan operasi dari Kota Baru yang akan dibangun. Dari ruang inilah
akan timbul dampak terhadap lingkungan di sekitarnya.

Batas Proyek dalam pembangunan Jakarta Waterfront City yaitu daerah A, B, C dan D

- perubahan lalu lintas/ transportasi kapal

Kenapa kita memilih batas ini : kajian@nya......

b. Batas Ekologis

Adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan dalam suatu pembangunan, yang
persebarannya menurut media transportasi limbah (air, udara) dimana proses alami yang
berlangsung akan mengalami perubahan mendasar. Termasuk dalam ruang ini adalah
ruang disekitar kegiatan dalam Kota Baru, yang secara ekologis memberi dampak terhadap
usaha atau kegiatan.

Batas Proyek dalam pembangunan ini yaitu kawasan konservasi Muara Angke,
- ikan2 di pantai pulau seribu dan teluk Jakarta ikut k pengaruh

C. Batas Sosial

Adalah ruang di sekitar kegiatan dalam Kota Baru, yang merupakan berlangsungnya interaksi
sosial yang mengandung nilai dan norma tertentu yang sudah mapan termasuk sistem dan
struktur sosial sesuai dengan proses dinamika sosial masyarakat, yang diperkirakan akan
mengalami perubahan mendasar akibat kegiatan-kegiatan dalam Kota Baru yang akan dibangun.

Mengingat dampak yang akan ditimbulkan oleh kegitan itu tidak merata, maka batas sosial
mencakup kelompok-kelompok masyarakat yang terkena dampak penting negatif dan
dampak positif.

Batas sosial dalam proyek ini mencangkup kawasan konservasi Muara angke, Jakarta secara
keseluruhan, Kepulauan Seribu.

d. Batas Administratif

Adalah ruang dimana masyarakat dapat melakukan kegiatan sosial-ekonomi dan sosial
budaya secara leluasa, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam ruang
tersebut. Batas i n i dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi
pengelolaan sumberdaya oleh suatu kegiatan, misalnya batas daerah wisata.

- yg terpengaruh secara perundangan dan hukum: dihubungkjan dengan setoran


pendapatan daerah : ke pantai kapuk ato pulau seribu

e. Lingkup Wilayah Studi

(Batas Ruang Lingkup Studi ANDAL atau Batas Teknis) Adalah ruang yang merupakan kesatuan
keempat wilayah diatas (re su lt ant e dari bata s- bata s d ia tas), namu n
pe nen tuan nya disesuaikan dengan kemampuan pelaksanaan yang biasanya memiliki
keterbatasan sumberdaya, seperti waktu, dana, tenaga, teknik dan metoda telaahan

Dengan demikian ruang lingkup wilayah studi bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha
atau kegiatan dalam Kota Baru, yang kemudian diperluas ke ruang ekosistem, ruang sosial
dan ruang administratif yang lebih luas.
Tabel. 4.2 : Cara, Kriteria dan Pendekatan untuk menentukan Batas Wilayah Studi Kota
Baru

Batas Cara Kriteria Pendekatan


■ Proyek ■ Melihat batas-batas lahan ■ Harus sesuai dengan izin ■ Administratif
untuk Kota Baru lokasi yang diberikan

■ Ekologis ■ Melihat pengaruh penyebaran ■ Batas penyebaran ■ Ekologis


dampak yang dapat terjadi, dampak yang dapat
menurut media transportasi dicapai ■ Ambang batas
limbah (air, udara, tanah)
■ Sosial ■ Mel i hat pengaruh sosial yang dapat ■ Batas dampak sosial ■ Sosial
dirasakan oleh daerah sekitar
akibat adanya Kota Baru

■ Administratif ■ Melihat batas administratif yang ■ Wilayah kekuasaan ■ Administratif


ditempati oleh Kota Baru administratif daerah
tertentu
■ Wilayah Studi Kota Baru ■ Melihat batas lahan pengaruh ■ Sesuai izin lokasi, ■ Administratif,
penyebaran dampak secara ekologis, penyebaran dampak, ekologis, sosial
sosial dan batas administrati f ambang batas, batas
dampak sosial, wilayah
kekuasaan administratif
daerah

2.2 Wilayah Studi Pelingkupan

Batas proyek

Batas ini merupakan lingkupan dimana suatu rencana usaha atau kegiatan akan
melakukan kegiatan pra-konstruksi, konstruksi, dan operasi. Pada rencana proyek pembangunan
“Jakarta Waterfront City “ ini yang berlokasi tepatnya di laut Jwa atau sebelah utara dari
Jakarta, batas proyek yang melingkupi rencana ini adalah :

 pada tahap pra-konstruksi meliputi kegiatan transportasi bahan bangunan dan reklamasi.
Daerah yang akan menjadi sumber dampak terhadap lingkungan pada tahap ini adalah :
a. Ancol Barat sebagai kawasan reklamasi dalam rangka perluasan Ancol
b. Pelabuhan Tanjung Priuk sebagai sarana transportasi bahan bangunan
c. Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai sarana transportasi bahan bangunan
d. Jalan tol sebagai sarana transportasi bahan bangunan
 pada tahap konstruksi meliputi kegiatan pembangunan, transportasi bahan bangunan, dan
reklamasi tahap selanjutnya . Daerah yang menjadi sumber dampak adalah :
a. Ancol Barat sebagai kawasan reklamasi dalam rangka perluasan Ancol
b. Pelabuhan Tanjung Priuk sebagai sarana transportasi bahan bangunan
c. Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai sarana transportasi bahan bangunan
d. Jalan tol sebagai sarana transportasi bahan bangunan
 pada tahap operasi meliputi kegiatan industri, pergudangan, pelabuhan, perumahan,
rekreasi, hotel, perdagangan, daerah hijau, transportasi. Daerah yang akan menjadi sumber
dampak pada tahap ini adalah :
a. Pelabuhan Tanjung Priuk sebagai jalur transportasi akan terhambat arus lalu lintasnya
karena adanya aktivitas baru di laut Jawa. Khususnya dengan adanya fasilitas pelabuhan
yang akan dibangun kemungkinan akan berdampak pada pengalihan aktivitas
pelabuhan.
b. Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai jalur transportasi nelayan menuju darat akan
terhambat lalu lintasnya karena adanya aktivitas baru di laut Jawa
c. Kali Muara Angke semakin tercemari akibat terhalangnya hubungan dengan lautan,
selain itu potensi banjir semakin tinggi karena akibat yang sama
d. Drain ( saluran pembuangan ) yang bermuara di Laut Jawa seperti Kamal Muara dan
Cengkareng Drain akan terhambat akibat adanya daratan di sekitar muaranya.
e. Hutan Lindung Cagar Alam tidak dapat berfungsi sebagai penahan gelombang dan abrasi
pantai utara Jakarta
f. Kawasan Ancol akan semakin padat dengan aktivitas rekreasi dan pengikutnya ( dagang,
kemacetan )

Batas Admistratif

Batas administratif adalah ruang dimana masyarakat dapat secara luas melakukan
kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya dengan peraturan perundang- undangan yang
berlaku di dalam ruang tersebut. Yang dimaksud dengan ruang di atas adalah batas administrasi
pemerintahan atau konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha atau kegiatan (HPH,
wilayah pertambangan). Dalam kawasan pembangunan Jakarta Waterfront City berdekatan
dengan banyak batas wilayah berbagai kecamatan dan kelurahan yaitu, Tanjung Priuk, Cilincing,
Kali Baru, Koja Utara, Marunda, Kapuk Muara, Kamal Muara, Pulau Seribu, Penjaringan,
Pluit. Di dalam kelurahan Marunda terdapat banyak kampung seperti, Kampung Marunda Pulo.
Di dalam kelurahan Pluit terdapat kampung Muara Angke. Perluasan pengembangan JBC dapat
atau sudah berpotongan dengan wilayah kecamatan dan kelurahan di Jakarta daratan utara
sampai kepulauan seribu, sehingga mengacaukan jalur birokrasi dan perizinan.

Pengalihan lahan milik pemerintah yang berfungsi sebagai daerah muara sungai menjadi
perumahan pribadi sehingga menghambat arus muara tersebut mengakibatkan kota Jakarta
banjir. Prioritas pemerintah masih rancu antara pembangunan kota sektor pribadi dengan
mempertahankan kekayaan alam seperti cagar alam dan suaka marga satwa di muara angke
yang berdiri sejak tahun 1970an dan memiliki kekuatan hukum. Proses pembebasan lahan,
kepemilikan dan pemanfaatan lahan yang sebelumnya diduduki oleh nelayan kecil terjadi sangat
cepat sehingga kehidupan nelayan semakin tertekan dan tersingkirkan.

Batas Ekologis

Batas ekologis ditentukan berdasarkan batasan ekosistem yang bersifat alami dan dapat
terpengaruh kegiatan pembangunan terutama didasarkan pada sebaran dampak dari perubahan
komponen bio-geofisik-kimia pada lokasi rencana usaha atau kegiatan.

1. Tahap Pra-Konstruksi
 Menghambat aliran air kali akibat kegiatan persiapan konstruksi dan
reklamasi
 Pencemaran sungai oleh limbah cair dan padat
 Kekhawatiran adanya rencana kegiatan yang dapat menimbulkan dampak
pada kesehatan, pencemaran air permukaan,
2. Tahap Konstruksi
a. Mobilisasi Alat dan Bahan
 Peningkatan volume lalu-lintas menyebabkan peningkatan pencemaran
akibat limbah proyek

 Penurunan kualitas air yang mengakibatkan perubahan komposisi biota


perairan
 Penurunan kualitas udara ambien
 Peningkatan kebisingan yang berasal dari kendaraan dan alat-alat berat

 Gangguan kesehatan pekerja dan masyakat

b. Pematangan Lahan
 Penurunan kualitas udara karena penambahan buangan dari
peningkatan kendaraan proyek

 Peningkatan kebisingan akibat digunakannya kendaraan berat

 Penurunan kualitas air

c. Konstruksi sipil, mekanik listrik, dan pekerjaan


 Peningkatan kebisingan akibat konstruksi sipil
 Peningkatan surface run-off akibat perubahan lahan terbuka menjadi
lahan terbangun
 Gangguan pada kesehatan pekerja dan masyarakat
 Perubahan ekosistem laut dan pantai yang diakibatkan terjadinya
pencemaran oleh limbah padat dan cair buangan proyek, abrasi pantai,
perubahan arus laut.
 Perubahan ekosistem Suaka margasatwa
 Perubahan ekosisten sungai
 Perubahan komposisi satwa liar dan habitatnya dan keanekaragaman
komponen biotis berkurang akibat perubahan ekosistem.
 Peningkatan volume sampah
 Pencemaran laut, pantai, dan sungai oleh limbah cair dan padat akibat
aktivitas konstruksi/pembangunan
 Polusi udara dan suara akibat banyaknya kendaraan dan alat berat yang
digunakan dalam proyek
 Kerusakan kekhasan alam setempat
 Gangguan terhadap potensi flora dan fauna
 Polusi tanah termasuk kesuburan dan daya dukungnya
 Penyumbatan aliran air sehingga berpotensi menyebabkan banjir
 Suaka Margasatwa semakin rusak, dengan rusaknya suaka margasatwa
(rusaknya mangrove) mengakibatkan
 Penurunan muka tanah
 Penurunan kualitas air dan udara
 Perubahan fungsi kawasan dan perubahan penggunaan ruang perairan
 Dampak pada hidrologi
 Perubahan garis pantai
3. Tahap Operasional
 Penurunan kualitas udara ambien
 Penurunan kualitas permukaan air yang mengakibatkan gangguan pada biota
air
 Kebutuhan air bersih yang meningkat
 Peningkatan kebisingan dan limbah padat

Batas sosial budaya dan ekonomi

Dilihat dari sudut pandang sosial dan ekonomi, dampak-dampak (positif maupun negatif)
yang akan muncul akibat pembangunan kawasan Muara Angke, Pesisir Sunda Kelapa, dan Ancol.
Dampak positifnya adalah :

 Pendapatan daerah meningkat dan menambah devisa negara


Sebelum pembangunan, pendapatan daerah banyak diperoleh dari usaha maysarakat setempat
sebagai nelayan. Setelah pembangunan, aktivitas perekonomian daerah menjadi lebih luas dan
berkembang, sehingga pendapatan yang diperoleh akan meningkat. Peningkatan pendapatan
daerah tentu akan meningkatkan devisa negara, terutama dalam jangka panjang.

 Sebagai daerah tujuan wisata, menarik lebih banyak turis domestik maupun mancanegara
Setelah pembangunan selesai, kawasan-kawasan ini akan cenderung lebih tertata rapi dan
modern, sehingga lebih menarik untuk dijadikan daerah tujuan wisata. Jumlah turis asing
maupun domestik yang datang akan lebih banyak daripada sebelumnya.

 Menjadi pusat aktivitas bisnis (perkantoran, perdagangan) dan menarik para investor untuk
bergabung di dalamnya dan menyokong aktivitas perekonomian yang ada
Apabila aktivitas-aktivitas perekonomian di sentra-sentra bisnis yang dibangun berjalan dengan
baik, maka akan menarik minat para investor atau penanam modal untuk bergabung di
dalamnya. Hal ini tentu akan semakin memajukan roda perekonomian daerah.

 Menyerap banyak tenaga kerja baru, baik pada saat pembangunan, maupun pasca
pembangunan (membuka lapangan kerja baru)
Selama proses pembangunan diperlukan banyak tenaga kerja untuk mengerjakan berbagai
aktivitas proyek (mulai dari tukang bangunan, mandor, satpam, penyedia makanan, dan
sebagainya), sehingga aktivitas ini akan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu, setelah
pembangunan selesai (pasca pembangunan), berbagai sentra bisnis yang terbangun akan
menjadi lapangan pekerjaan baru di kawasan tersebut sehingga dapat menyerap tenaga kerja
dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu, misalnya: manager, akuntan, progammer, teknisi
komputer, ahli desain interior, teknisi listrik, tukang kebun, penjaga toko, satpam, cleaning
service, dan sebagainya.

 Wilayah menjadi semakin strategis karena dibuka jalur-jalur transportasi baru untuk
mencapai sentra bisnis dan perdagangan (ruko)
Kawasan ini akan semakin strategis dengan dibukanya jalur-jalur transportasi. Hubungan dengan
kawasan-kawasan lain akan semakin mudah. Kemudahan ini akan memperlancar berbagai
aktivitas bisnis (ekonomi) yang ada.

 Membuka wawasan baru kepada masyarakat taaradisional agar kehidupan mereka semakin
maju dan berkembang (modernisasi) secara positif
Aktivitas ekonomi yang akan terbangun di kawasan-kawasan tersebut merupakan aktivitas
ekonomi modern, yaitu yang biasa dilakukan di kota-kota metropolitan dan negara-negara maju.
Hal ini akan berdampak langsung kepada kehidupan dan aktivitas masyarakat setempat yang
kebanyakan masih bersifat tradisional. Perubahan ini baik untuk membuka wawasan
masyarakat tradisional terhadap hal-hal baru yang akan memajukan kehidupan mereka, asalkan
masih berada dalam batas-batas positif (misal: tidak membuat mereka menjadi masyarakat yang
konsumtif).

 Memperluas pergaulan masyarakat, terutama dengan kehadiran para pendatang baru ke


daerah tersebut
Pembukaan sentra bisnis di kawasan-kawasan tersebut akan mempertinggi arus mobilisasi
manusia yang datang ke sana. Banyak pihak luar yang akan masuk ke kawasan tersebut untuk
menjalankan aktivitas bisnis mereka. Hal ini akan memperluas pergaulan masyarakat setempat.
Wawasan mereka akan semakin bertambah. Mereka tidak akan menjadi masyarakat yang
terisolir dari dunia luar.

 Berbagai kebutuhan hidup akan mudah dijangkau


Dengan adanya pusat aktivitas perekonomian maka banyak kebutuhan hidup masyarakat yang
sebelumnya sulit diperoleh (karena harus pergi ke pusat kota), sekarang lebih mudah dijangkau.

Sedangkan dampak negatifnya adalah :

 Kesenjangan sosial meningkat


Dengan didirikannya sentra bisnis di daerah tersebut, maka kehidupan masyarakat tradisional
yang sebagian besar kurang mampu akan semakin nampak, karena hidup berdekatan dengan
masyarakat baru atau pihak-pihak yang berasal dari golongan ekonomi atas. Sebagai contoh, di
kawasan Muara Angke, kawasan perumahan elite dan ruko-ruko yang dibangun akan semakin
menunjukkan perbedaan kelas atau stratifikasi ekonomi dengan perumahan nelayan di pinggir
sungai.

 Memicu potensi kriminalitas dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab


Potensi kriminalitas akan bertambah. Tindak-tindak kriminal mungkin akan muncul dari
masyarakat tradisional yang cemburu sosial atau bahkan merasa diperlakukan tidak adil demi
kelancaran aktivitas bisnis yang mulai didirikan. Selain itu, dengan adanya gedung-gedung
perkantoran atau perumahan yang mewah, ketertarikan para pelaku kriminalitas (seperti:
pencuri, perampok, dan lain-lain) untuk beroperasi di kawasan ini akan semakin bertambah.

 Asimiliasi budaya yang negatif


Keberadaan sentra bisnis (berbagai aktivitas perekonomian yang baru akan mempengaruhi pola
pikir masyarakat setempat, sehingga memungkinkan terjadinya perubahan gaya hidup, misalnya
gaya hidup sederhana menjadi konsumtif, gaya hidup bermasyarakat menjadi individualistis,
dan sebagainya. Perubahan ini akan menyebabkan terjadinya pergeseran tradisi dan budaya
positif masyarakat setempat menjadi sesuatu yang cenderung negatif jika tidak terkendali dalam
batas-batas tertentu.

 Pemindahan kepemilikan lahan (misal: secara kasar terjadi penggusuran rumah warga
setempat)
Untuk membangun sentra bisnis, diperlukan lahan. Biasanya jika lahan kosong yang ada tidak
memadai, maka pihak yang berwenang dalam pembangunan akan melakukan pemindahan
kepemilikan lahan dari masyarakat setempat. Uang ganti rugi yang dibayarkan seringkali tidak
mencukupi untuk membeli atau membangun tempat tinggal atau lahan usaha baru dari
masyarakat. Oleh karena itu, sekalipun mereka berkata bahwa hal ini bukan penggusuran,
namun kenyataan yang terjadi tidak berbeda jauh dengan peristiwa penggusuran.

PENUTUP

Dalam membuat kerangka acuan ANDAL, diperlukan kajian terkait rona lingkungan dan
dampak potensial mengenai dampak terhadap lingkungan yang diprediksi akan terjadi akibat
proyek. Kajian yang semakin lengkap dari berbagai aspek diharapkan dapat mencegah timbulnya
dampak tehadap lingkungan yang lebih besar.
 

Anda mungkin juga menyukai