Pengertian Problem Based Learning
Problem Based Learning (PBL) dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Masalah
(PBM). Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan
yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan
untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada.
DAFTAR ISI
Pengertian Problem Based Learning
Karakteristik Problem Based Learning
Ciri-Ciri dari Model Problem Based Learning
Sintak Model Problem Based Learning
Langkah-Langkah Penggunaan Model Problem Based Learning
Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)
Kelemahan Model Problem Based Learning (PBL)
Sumber Bacaan
Pengertian Pembelajaran Berbasis masalah yang lain adalah metode mengajar dengan fokus
pemecahan masalah yang nyata, proses dimana Peserta didik melaksanakan kerja kelompok,
umpan balik, diskusi yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan
penyelidikan dan laporan akhir. Dengan demikian Peserta didik di dorong untuk lebih aktif
terlibat dalam materi pembelajaran dan mengembangkan ketrampilan berfikir kritis.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan
masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang
menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalamtim untuk memecahkan
masalah dunia nyata (real world).
Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) mengemukakan bahwa pengertian dari
model Problem Based Learning adalah:
Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasih masalah adalah model pengajaran
yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar
berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.
Finkle and Torp (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) menyatakan bahwa:
PBM merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan secara
stimulan strategi pemecahan masalah dan dasardasar pengetahuan dan keterampilan dengan
menempatkan para peserta didik dalam peran aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari
yang tidak terstruktur dengan baik.
Dua definisi diatas mengandung arti bahwa PBL atau PBM merupakan suasana pembelajaran
yang diarahkan oleh suatu permasalahan sehari-hari.
Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) berpendapat bahwa:
Model Problem Based Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya
melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode
ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan
masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memilki keterampilan dalam
memecahkan masalah.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem
Based Learning menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah
yang terjadi dalam dunia nyata sebagai sebuah konteks bagi para siswa dalam berlatih bagaimana
cara berfikir kritis dan mendapatkan keterampilan dalam pemecahan masalah, serta tak
terlupakan untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus konsep yang penting dari materi ajar yang
dibicarakan.
Karakteristik Problem Based Learning
Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow, Min Liu (2005) dalam Aris Shoimin
(2014:130) menjelaskan karakteristik dari PBM, yaitu:
1. Learning is student-centered
Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada siswa sebagai orang
belajar. Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana siswa
didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.
2. Autenthic problems from the organizing focus for learning
Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang autentik sehingga siswa
mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam
kehidupan profesionalnya nanti.
3. New information is acquired through self-directed learning
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja belum mengetahui dan memahami
semua pengetahuan prasayaratnya sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri melalui
sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya.
4. Learning occurs in small group
Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha mengembangkan
pengetahuan secara kolaboratif, PBM dilaksanakan dalam kelompok kecil. Kelompok
yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penerapan tujuan yang jelas.
5. Teachers act as facilitators
Pada pelaksanaan PBM, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Meskipun begitu guru
harus selalu memantau perkembangan aktivitas siswa dan mendorong mereke agar
mencapai target yang hendak dicapai.
Karakteristik Problem Based Learning adalah sebagai berikut:
1. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar
2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak
terstruktur
3. Permasalahan memebutuhkan perspektif ganda
4. Permasalahan menantang pengetahuan yang dimilki oleh Peserta didik, sikap dan
kompentensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang
baru dalam mengajar;
5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama:
6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber
informasi merupakan proses yang esensial dalam PBM;
7. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif;
8. Pengembangan keterampilan inquiri dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan
penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan;
9. Keterbukaan proses dalam PBM meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses
belajar; dan
10. PBM melibatkan evaluasi dan review pengalaman Peserta didik dan proses belajar
Ciri-Ciri dari Model Problem Based Learning
Sedangkan ciri dari model Problem Based learning secara umum dapat dikenali dengan adanya
enam ciri yang dimilikinya, adapun keenam ciri tersebut adalah:
1. Kegiatan belajar mengajar dengan model Problem Based Learning dimulai dengan
pemberian sebuah masalah.
2. Masalah yang disajikan berkaitan dengan kehidupan nyata para siswa
3. Mengorganisasikan pembahasan seputar disiplin ilmu.
4. Siswa diberikan tanggungjawab yang maksimal dalam membentuk maupun menjalankan
proses belajar secara langsung.
5. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil.
6. Siswa dituntut untuk mendemonstrasikan produk atau kinerja yang telah mereka pelajari.
Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Problem Based
Learning dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun
guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan
dan apa yang perlu mereka ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih
masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong untuk berperan
aktif dalam belajar.
Sintak Model Problem Based Learning
Proses PBL mereplikasi pendekatan sistematik yang sudah banyak digunakan dalam
menyelesaikan masalah atau memenuhi tuntutan-tuntutan dalam dunia kehidupan dan karier.
Sintak operasional PBL bisa rmencakup antara lain sebagai berikut:
1. Pertama-tama Peserta didik disajikan suatu masalah.
2. Peserta didik mendiskusikan masalah dalam tutorial PBL dalam sebuah kelompok kecil.
Mereka mengklarifikasi fakta-fakta suatu kasus kemudian mendefinisikan sebuah
masalah. Mereka membrainstorming gagasan-gagasannya dengan berpijak pada
pengetahuan sebelumnya. Kemudian, mereka mengidentifikasi apa yang mereka
butuhkan untuk menyelesaikan masalah serta apa yang mereka tidak ketahui. Mereka
menelaah masalah tersebut. Mereka juga mendesain suatu rencana tindakan untuk
menggarap masalah.
3. Peserta didik terlibat dalam studi independen untuk menyelesaikan masalah diluar
bimbingan guru. Hal ini bisa mencakup: perpustakaan, database, website, masyarakat,
dan observasi.
4. Peserta didik kembali pada tutorial PBL, lalu saling sharing, informasi, melalui peer
teaching atau cooperative learning atas masalah tertentu. e. Peserta didik menyajikan
solusi atas masalah.
5. Peserta didik mereview apa yang mereka pelajari proses pengerjaan selama ini. Semua
yang berpartisipasi dalam proses tersebut terlibat dalam review berpasangan, dan review
berdasarkan bimbingan guru, sekaligus melakukan refleksi atas kontribusinya tehadap
proses tersebut
Langkah-Langkah Penggunaan Model Problem Based
Learning
Aris Shoimin (2014:131) mengemukakan bahwa langkah-langkah dalam model pembelajaran
Problem Based Learning adalah sebagai berikut:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan.
Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll).
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan
pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan serta menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan dan membantu mereka berbagai tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Ibrahim dan Nur (2000:13) dan Ismail (2002:1) mengemukakan bahwa langkah-langkah
Pembelajaran Berbasis Masalah adalah sebagai berikut:
Tabel. Langkah-langkah Problem Based Learning
Fase Indikator Tingkah Laku Guru
Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang
Orientasi Peserta didik pada
1 diperlukan, dan memotivasi Peserta didik terlibat pada
masalah
aktivitas pemecahan masalah
2 Mengorganisasi Peserta Membantu Peserta didik mendefinisikan dan
didik untuk belajar mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut
Mendorong Peserta didik untuk mengumpulkan informasi
Membimbing pengalaman
3 yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
individual/kelompok
penjelasan dan pemecahan masalah
Membantu Peserta didik dalam merencanakan dan
Mengembangkan dan
4 menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan
menyajikan hasil karya
membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Menganalisis dan Membantu Peserta didik untuk melakukan refleksi atau
5 mengevaluasi proses evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang
pemecahan masalah mereka gunakan.
Langkah-langkah operasional dalam proses pembelajaran yang dikonsepkan oleh Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan adalah sebagai berikut:
a. Konsep Dasar (Basic Concept). Fasilitator memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi,
atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar
peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan peta yang akurat
tentang arah dan tujuan pembelajaran.
b. Pendefinisian Masalah (Defining The Problem). Dalam langkah ini fasilitator
menyampaikan scenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan
brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan
terhadap scenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternative
pendapat.
c. Pembelajaran Mandiri (Self Learning). Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat
memperjelas isu yang sedang dinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel
tetulis yang tersimpan dipepustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang
relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama,yaitu:
(1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan
permasalahan yang telah didiskusikan dikelas, dan
(2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi
tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.
d. Pertukaran Pengetahuan (Exchange Knowledge). Setelah mendapatkan sumber untuk
keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan
berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan
merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan
dengan cara peserta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.
e. Penilaian (Assessment).Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan
(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan
yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester
(UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas langkah-langkah pembelajaran (sintaks pembelajaran) yang
dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penyajian Masalah. Pertama-tama Peserta didik disajikan suatu masalah. Selain itu
dalam kegiatan ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang
diperlukan, dan memotivasi Peserta didik terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. Hal
ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan
mendapatkan peta yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran.
2. Diskusi Masalah. Peserta didik mendiskusikan masalah dalam tutorial PBL dalam sebuah
kelompok kecil. Mereka mengklarifikasi fakta-fakta suatu kasus kemudian
mendefinisikan sebuah masalah. Mereka membrainstorming gagasan-gagasannya dengan
berpijak pada pengetahuan sebelumnya. Kemudian, mereka mengidentifikasi apa yang
mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah serta apa yang mereka tidak ketahui.
Mereka menelaah masalah tersebut. Mereka juga mendesain suatu rencana tindakan
untuk menggarap masalah. Guru dalam hal ini hanya memfasilitasi kegiatan tersebut,
sehingga berjalan dengan lancar.
3. Penyajian Solusi dari Masalah. Membantu peserta didik dalam merencanakan dan
menyiapkan penyajian solusi dari masalah, dan membantu mereka untuk berbagi tugas
dengan temannya.
4. Mereview. Peserta didik bersama-sama dengan guru melakukan mereview terhadap
penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan.
Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)
Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa kelebihan model Problem Based Learning
diantaranya:
1. Siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata.
2. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas
belajar.
3. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak
perlu dipelajari oleh siswa. Hal ini mengurangi beban siswa dengan menghafal atau
menyimpan informasi.
4. Terjadi aktivitas ilmiah pada siswa melalui kerja kelompok.
5. Siswa terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan,
internet, wawancara, dan observasi.
6. Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri.
7. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi
atau presentasi hasil pekerjaan mereka.
8. Kesulitan belajar siswa secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam
bentuk peer teaching.
Sedangkan menurut Suyanti (2010) kelebihan dalam penerapan model Problem Based Learning
diantaranya adalah:
1. PBL dirancang utamanya untuk membantu pebelajar dalam membangun kemampuan
berfikir kritis, pemecahan masalah, dan intelektual mereka, dan mengembangkan
kemampuan mereka untuk menyelesaikan dengan pengetahuan baru.
2. Membuat mereka menjadi pebelajar yang mandiri dan bebas.
3. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran,
dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
4. Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang
mereka miliki dalam dunia nyata.
5. Membantu siswa mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan, juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi
sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6. Melalui PBL bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada
dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti siswa, bukan hanya
sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku.
7. Dapat mengembangkan minat siswa untuk terus-menerus belajar sekalipun belajar pada
pendidikan formal berakhir.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan dengan menggunakannya model
pembelajaran Problem Based Learning yaitu:
1. Melatih siswa memiliki kemampuan berfikir kritis, kemampuan memecahkan masalah,
dan membangun pengetahuannya sendiri.
2. Terjadinya peningkatan dalam aktivitas ilmiah siswa.
3. Mendorong siswa melakukan evaluasi atau menilai kemajuan belajarnya sendiri.
4. Siswa terbiasa belajar melalui berbagai sumber-sumber pengetahuan yang relevan.
5. Siswa lebih mudah memahami suatu konsep jika saling mendiskusikan masalah yang
dihadapi dengan temannya.
Kelemahan Model Problem Based Learning (PBL)
Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa selain memiliki kelebihan, model Problem Based
Learning juga memilki kelemahan, diantaranya sebagai berikut:
1. PBM tidak dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian guru berperan aktif
dalam menyajikan materi. PBM lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut
kemampuan tertentu yang kaitannya dengan pemecahan masalah.
2. Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi
kesulitan dalam pembagian tugas.
Sedangkan menurut Suyanti (2010) kelemahan dalam penerapan model Problem Based Learning
diantaranya adalah:
1. Manakala siswa tidak memilki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah
yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui Problem Based learning membutuhkan
cukup waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat di atas adalah model Problem Based
Learning ini memerlukan waktu yang tidak sedikit, Pembelajaran dengan model ini
membutuhkan minat dari siswa untuk memecahkan masalah, jika siswa tidak memiliki minat
tersebut maka siswa cenderung bersikap enggan untuk mencoba, dan model pembelajaran ini
cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan pemecahan masalah.
Sumber Bacaan
Miftakhul Huda, [Link], Model-model Pengajaran dan Pembelajaran (cet:II PUSTAKA
PELAJAR, Bandung)hal.272
Kementrian Pendidikan dan kebudayaan,Model Pembelajaran Berbasis Masalah,(Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu
Pendidikan.
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-
ruzz Media.
Suyanti, Dwi Retno. 2010. Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu
Ibrahim, M, dan Nur, M. (2000). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya.
Ismail. 2002. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction): Apa, bagaimana, dan
Contoh pada Sub Pokok Bahasan Statistika. Surabaya.
Kamdi, W dkk. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Universitas Negeri Malang. Malang
SUMBER : [Link] 2022