REALITY THERAPY
Disusun untuk Memenuhi Tugas Pendekatan- Pendekatan Konseling
Dosen Pengampu : Dr. Suwarjo, [Link].
Disusun oleh :
Putri Inti Wijaya 19713251051
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
Tokoh dalam teori Reality Therapy ini adalah William Glasser, seorang
insinyur kimia sekaligus psikiater pada tahun 1950-an. Kehadiran konseling
realitas di dunia konseling tidak terlepas dari pandangan psikoanalisis dimana
Glasser mengganggap bahwa aliran Freud tentang dorongan harus diubah dengan
landasan teori yang lebih jelas, menurutnya, psikiatri konvensional kebanyakan
berlandaskan asumsi yang keliru sehingga dari pengalamanya sebagai seorang
psikiatri mendorongnya melahirkan konsep baru yang dikenalkanya sebagai
konseling realitas pada tahun 1964. menurut Glasser masalah individu pada
umumnya sama. “unstatyfing relationship or lack what could even be called
relationship”. Konseli tidak boleh dilabeli “sakit mental” Wubbolding dalam
(Corey, 2013:336) If choice therapy is the highway, reality therapy is the
vehincle”. Pendekatan realita ini dapat digunakan dalam koseling, pekerja social,
pendidikan, dan pengembangan masyarakat. Konseling realitas ini berfokus pada
tingkah laku sekarang dan menolak masa lampau sebagai variabel utama.
Pendekatan terapi realitas ini juga menolak model medis dan konsep tentang
penyakit mental, tetapi lebih berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang dan
mempertimbangkan nilai dan tanggung jawab moral yang ditentukan.
Pendekatan realita tidak percaya bahwa manusia adalah kertas kosong, tetapi
lahir dengan 5 kebutuhan, otak manusia mengelola system. Apapun yang
dilakukan adalah untuk statisfy these needs manusia tidak langsung memuaskan
kebutuhan secara langsung. Cara individu memenuhi kebutuhan psikologis adalah
dengan pengalaman dan apa yang ada dalam pikirannya.
Manusia adalah makhluk sosial dan membutuhkan hubungan yang berkualitas
untuk menjadi bahagia. Manusia membutuhkan identitas serta mampu
mengembangkan identitas keberhasilan ataupun identitas kegagalan, untuk
mendapatkan identitas keberhasilan maka orang akan menunjukan perilaku yang
bertanggaung jawab. Jika orang tidak dapat berperilaku bertanggungjawab, maka
ia akan menampakan identitas kegagalan.
Tujuan terapi realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi,
pada dasarnya, otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan
seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal.
Kematangan ini menyiratkan bahwa orang-orang mampu bertanggung jawab atas
siapa mereka dan ingin menjadi apa mereka serta mengembangkan rencana-
rencana yang bertanggung jawab dan relistis guna mencapai tujuan-tujuan
mereka. Terapi realitas membantu orang dalam menentukan dan memperjelas
tujuan-tujuan mereka, selanjutnya. Ia membantu kearah tujuan-tujuan yang
ditentukan oleh mereka sendiri.
Karakteristik terapi realitas adalah a) Menekankan pada pilihan dan tanggung
jawab, b) Menolak transferensi, c) Menjaga proses konseling di masa sekarang, d)
Menghindari fokus pada gejala d) Menantang pandangan tradisional tentang
penyakit jiwa.
Beberapa prinsip dari pendekatan realita
1. Perencanaan Perilaku yang bertanggungjawab, konselor membantu konseli
mengembangkan rencana yang realistis
2. Konselor dan konseli berkomitmen untuk mengikuti rencana yang telah
dibuat dengan perjanjian tertulis atau hanya kesepakatan lisan.
3. Pemeliharaan hubungan emosional antara konseli dan konselor.
4. Fokusnya adalah pada perilaku di sini, sekarang, dan konsekuensi dari
perilaku yang dipilih sendiri.
5. Konseli dibimbing melihat secara kritis perilaku mereka sendiri dan untuk
menilai baik atau tidak perilaku.
6. Konseli tidak membuat alasan untuk kegagalan dalam menjaga komitmen.
7. Konselor tidak akan menerapkan sanksi yang tidak disepakati dalam
komitmen.
Karakter konselor dalam terapi realita ini adalah:
a. Jangan menerima alasan, tapi membuat rencana baru.
b. Tidak ada hukuman atau kritik, Tapi meneliti konsekuensi karena
tidak menyelesaikan tujuan; mengevaluasi kembali rencana dan
membuat yang baru.
c. Tidak Mudah Menyerah, perubahan bukanlah proses yang instan
Teknik dan Prosedur “Sistem WDEP” dalam terapi realita:
a. Wants - Apa yang Anda inginkan dan lakukan?
b. Doing and Direction - Apa yang Anda lakukan?
c. Evaluation - Apakah perilaku Anda saat ini memiliki peluang yang
masuk akal untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan?
d. Planning – mengidentifikasi cara untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan mereka.