Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
Asma adalah penyakit saluran respirasi dengan dasar inflamasi kronis yang
Pengertian
mengakibatkan obstruksi dan hiper reaktivitas saluran respirasi dengan
(Definisi)
derajat bervariasi.
Gejala berupa kombinasi dari batuk kronis berulang, wheezing, sesak napas,
rasa dada tertekan, dan produksi sputum. Gejala tersebut muncul dengan
karakteristik:
Gejala timbul secara episodik atau berulang.
Timbul bila ada faktor pencetus, seperti:
Iritan: asap, suhu dingin, udara kering, makanan minuman dingin,
atau zat aditif makanan.
Alergen: debu, tungau debu rumah, rontokan hewan, atau serbuk
sari.
Anamnesis
Infeksi respirasi akut karena virus seperti selesma atau
rinofaringitis.
Aktivitas fisik: berlarian, berteriak, menangis, atau tertawa
berlebihan.
Adanya riwayat alergi pada pasien atau keluarganya.
Variabilitas, yaitu intensitas gejala bervariasi dari waktu ke waktu, bahkan
dalam 24 jam. Biasanya gejala lebih berat pada malam hari (nokturnal).
Reversibilitas, yaitu gejala dapat membaik secara spontan atau dengan
pemberian obat pereda asma.
Asma dalam keadaan stabil tanpa gejala tidak menunjukkan kelainan
pada pemeriksaan fisis
Saat sedang bergejala atau mengalami serangan dapat terdengar adanya
Pemeriksaan Fisik wheezing. Wheezing dapat terdengar langsung (audible wheeze) atau
yang terdengar dengan stetoskop.
Tanda alergi lain seperti dermatitis atopi, allergic shiners atau geographic
tongue perlu dicari pada pasien.
Kriteria Diagnosis a. Batuk, sesak napas, wheezing, dada tertekan, produksi sputum
dengan karakteristik biasanya lebih dari 1 gejala respiratori,
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
berfluktuasi seiring waktu, memberat pada malam atau dini hari,
gejala timbul bila ada pencetus.
b. Gambaran obstruksi saluran respirasi dengan FEV1 rendah (<80%
nilai prediksi) dan FEV1 / FVC ≤ 90%.
c. Uji reversibilitas pascabronkodilator terjadi peningkatan FEV1 >12%.
d. Variabilitas terdapat perbedaan menunjukkan penurunan FEV1 > 20%,
atau PEFR > 15%.
Diagnosis Kerja Diagnosis asma memerlukan beberapa tahapan:
1. Penentuan diagnosis kerja asma.
2. Penentuan derajat serangan saat ini.
Serangan ringan-sedang
Serangan berat
Ancaman gagal napas
3. Penentuan kekerapan serangan.
Ditentukan setelah dibuat diagnosis kerja asma dan
dilakukan tata laksana umum (pengendalian lingkungan,
penghindaran pencetus) selama 6 minggu, dapat kurang dari
6 minggu bila informasi klinis sudah kuat.
Intermiten: Episode gejala asma <6x/tahun atau jarak
antar gejala ≥ 6 minggu.
Persisten ringan: Episode gejala asma >1x/bulan,
<1x/minggu.
Persisten sedang: Episode gejala asma >1x/minggu,
namun tidak setiap hari.
Persisten berat: Episode gejala asma terjadi hampir
setiap hari.
4. Penentuan derajat kendali
Derajat kendali dibuat setelah 6 minggu menjalani tata laksana
jangka panjang awal sesuai klasifikasi kekerapan.
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
Asma terkendali penuh (well controlled)
Tanpa obat pengendali : pada asma intermiten
Dengan obat pengendali : pada asma persisten
(ringan/sedang/berat)
Asma terkendali sebagian (partly controlled)
Asma tidak terkendali (uncontrolled)
1. Penyakit Inflamasi: infeksi, alergi
Rinitis, rinosinusitis, chronic upper airway cough syndrome, infeksi
respirasi berulang, bronkiolitis, aspirasi berulang, defisiensi imun,
tuberkulosis.
2. Obstruksi mekanis
Laringomalasia, trakeomalasia, hipertrofi timus, pembesaran
kelenjar getah bening, aspirasi benda asing, vascular ring,
Diagnosis
laryngeal web, disfungsi pita suara, malformasi kongenital saluran
Banding
respiratori.
3. Patologi bronkus
Displasia bronkopulmonal, bronkiektasis, diskinesia silia primer,
fibrosis kistik.
4. Kelainan sistem organ lain
5. Penyakit refluks gastro-esofagus (GERD), penyakit jantung
bawaan, gangguan neuromuskular, batuk psikogenik.
Pemeriksaan No Pemeriksaan Rekomenda GR Ref
Penunjang si
1. Saturasi oksigen dengan A I a-c
menggunakan pulse oximetry
sebelum diberikan terapi oksigen
dan 5 menit setelah terapi oksigen
dihentikan.
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
Saturasi oksigen <92% merupakan
prediktor diperlukannya rawat inap,
sedangkan saturasi oksigen <90%
merupakan tanda segera diperlukan
terapi agresif.
2. Uji fungsi paru dengan spirometri. A II a-c
Jika kondisi pasien memungkinkan
dilakukan pemeriksaan variabilitas
dan reversibilitas. Pemeriksaan
PEF atau FEV1 dinilai sebelum
diberikan terapi pengendali
selanjutnya diperiksa berkala
sampai respons terhadap terapi
tercapai. Pada fasilitas terbatas
dapat dilakukan pemeriksaan
dengan peak flow meter.
3. Uji cukit kulit (skin prick test), C II a-c
eosinofil total darah, pemeriksaan
IgE spesifik.
4. Jika terindikasi dan fasilitas C II a-c
tersedia, dilakukan pemeriksaan
untuk mencari kemungkinan
diagnosis banding, misalnya tes
tuberkulin, foto sinus paranasalis,
foto toraks, tes refluks gastro-
esofagus, tes keringat, tes gerakan
silia, tes defisiensi imun, CT-scan
toraks dan endoskopi saluran
respirasi (rinoskopi, laringoskopi,
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
bronkoskopi).
No Terapi Prosedur GR Ref
(ICD-9-CM)
1. Terapi asma terdiri dari dua - - -
komponen, yaitu tatalaksana
serangan dan tatalaksana jangka
panjang.
2. Tatalaksana serangan asma dibagi
menjadi tatalaksana di rumah dan di
fasilitas pelayanan kesehatan
(fasyankes). Tata laksana dirumah:
1. Jika diberikan dengan nebuliser:
Berikan agonis 2 kerja 93.94 1A a-c
pendek. Bila gejala
menghilang, cukup diberikan
Terapi
satu kali.
Jika belum membaik dalam
30 menit, ulangi pemberian
sekali lagi.
Jika dengan 2 kali pemberian
belum membaik, disarankan
segera membawa ke
fasyankes.
2. Jika diberikan via MDI + spacer 93.94 1A a-c
Berikan agonis 2 kerja
pendek serial via spacer
dengan dosis 2-4 kali semprot.
Berikan satu semprot obat ke
dalam spacer diikuti 6-8 tarikan
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
napas melalui antar muka
(interface) spacer berupa
masker atau mouthpiece. Bila
belum ada respons, lakukan
semprotan berikutnya dengan
siklus yang sama.
Jika membaik dengan dosis
tersebut, inhalasi dihentikan.
Jika gejala tidak membaik
dengan dosis 4 semprot,
segera bawa ke fasyankes.
Tata laksana serangan asma
di fasyankes:
1. Tata laksana asma
serangan ringan-sedang
Berikan oksigen 1-2
L/menit jika SaO2 <94%. 93.96 1B a-c
Agonis β2 kerja pendek via
nebuliser atau via MDI dan 93.94 1A a-c
spacer (4-10 semprot).
Nebulisasi dapat diulang
sampai 3 kali tiap 20 menit
dalam 1 jam. Nebulisasi
ketiga dipertimbangkan
kombinasi β2-agonis kerja
pendek dan ipratropium
bromide.
Steroid sistemik
(prednison/prednisolon) : 99.23 1A a-c
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
1-2 mg/kgBB/hari,
maksimum 40 mg peroral
(bila tidak memungkinkan,
IV) selama 3 – 5 hari tanpa
tapering off pada kelompok
risiko tinggi.
Lanjutkan terapi dengan
agonis β2 kerja pendek jika 93.94 1A a-c
perlu, nilai respons dalam
1 jam berikutnya.
Penilaian sebelum pulang
yaitu gejala membaik, 39.30 1A a-c
SaO2 >94% pada udara
kamar.
Obat untuk rawat jalan
disiapkan obat pereda,
obat pengendali sesuai 93.94 2B a-c
derajat kekerapan asma,
dan steroid oral dilanjurkan
3-5 hari, serta kunjungan
ulang ke RS dalam 3-5
hari.
2. Tata laksana asma
serangan berat
Inhalasi β2-agonis kerja
pendek + ipratropium 93.94 1A a-c
bromida
Steroid intravena
deksametason 0,5-1 mg 99.23 1A a-c
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
per kg BB per hari terbagi
dalam 6-8 jam pemberian
Oksigen 2-4 L/menit untuk
menjaga SaO2 94-98% 39.30 1B a-c
Berikan Aminofilin
intravena, dosis awal 6-8 99.20 3B a-c
mg/kgBB dilarutkan dalam
dekstrosa atau garam
fisiologis sebanyak 20 ml,
diberikan dalam waktu 30
menit dengan infusion
pump atau mikroburet. Bila
respons belum optimal
dilanjutkan aminofilin
rumatan 0,5-1
[Link]/jam.
Bila tidak ada perbaikan
atau terdapat kontra
indikasi aminofilin bias
dipertimbangkan
Magnesium sulfat dengan
dosis 20-100 mg/kg BB 99.20 1A a-c
(bolus tunggal) atau 20-50
mg/kgBB/dosis tiap 4 jam
(bolus berulang) atau
kecepatan 240-480
mg/kgBB/ hari (tetes
berkelanjutan)
3. Tata laksana asma dengan
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
ancaman henti napas
Tatalaksana seperti
serangan berat
Siapkan perawatan di ICU.
Siapkan intubasi jika perlu. 1A a-c
Tata laksana jangka panjang asma 96.05 1A a-c
dibagi menjadi empat jenjang sesuai
dengan derajat kekerapan asma:
Jenjang 1, untuk asma intermitten,
tidak perlu obat pengendali. - 4 a-c
Jenjang 2, untuk asma persisten
ringan, pilihan pertama adalah 93.94 4 a-c
kortikosteroid inhalasi dosis rendah.
Pilihan lain adalah LTRA
(Leukotriene Receptor Antagonist).
Jenjang 3, untuk asma persisten
sedang, pilihan pertama adalah 93.94 2B a-c
kortikosteroid inhalasi dosis rendah
dikombinasi dengan agonis β2 kerja
panjang. Pilihan lainnya adalah
kortikosteroid inhalasi dosis
menengah, atau kortikosteroid
inhalasi dosis rendah yang
dikombinasi dengan LTRA atau
teofilin lepas lambat.
Jenjang 4, untuk asma persisten
berat, pilihan pertama adalah 93.94 1A a-c
kortikosteroid inhalasi dosis
menengah dikombinasi dengan
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
agonis β2 kerja panjang. Pilihan
lainnya adalah kortikosteroid
inhalasi dosis tinggi yang
dikombinasi dengan agonis β2 kerja
panjang , LTRS, atau teofilin lepas
lambat.
Jenjang 5 : jika tata laksana
menggunakan kortikosteroid inhalasi 99.27 1A
dosis tinggi dan obat tambahan
belum menunjukkan respons, maka
digunakan kortikosteroid oral atau
omalizumab, dan dirujuk ke dokter
spesialis konsultan respirologi.
3. Tata laksana jangka panjang diatas
dilakukan dengan ketentuan:
1. Bila suatu jenjang dalam tata
laksana sudah berlangsung
selama 6-8 minggu dan asma
belum terkendali, maka tata
laksana naik jenjang ke atasnya
(step up).
2. Bila suatu jenjang dalam tata
laksana sudah berlangsung
selama 8-12 minggu dan asma
terkendali penuh, maka tata
laksana turun jenjang
kebawahnya (step down).
4. Pemilihan jenis alat inhalasi sesuai
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
usia:
<5 tahun : Nebuliser dengan
93.94 1A a-c
masker atau metered dose
inhaler (MDI) dengan spacer
(aerochamber, optichamber,
babyhaler)
5-8 tahun : Nebuliser dengan
93.94 1A a-c
mouth piece, MDI dengan
spacer, atau dry powder
inhaler (DPI): diskhaler,
easyhaler, swinghaler,
turbuhaler.
> 8 tahun : Nebuliser dengan
93.94 1A a-c
mouth piece, MDI dengan
atau tanpa spacer, atau DPI:
diskhaler, swinghaler,
turbuhaler
Edukasi 1. Membina suasana keluarga.
2. Menerapkan pola hidup sehat, misalnya tidak merokok dan
berolahraga.
3. Mengidentifikasi, mengendalikan, serta menghindari faktor-
faktor yang memperburuk gejala asma dan pencetus serangan
4. Menjaga kesehatan anak dan kesehatan respirasi anak.
5. Mengenal tanda-tanda awal serangan asma, antara lain batuk,
mengi (wheezing), rasa dada tertekan, dan napas yang pendek.
6. Menyediakan dan memberi obat dengan waktu, cara, dan
lamanya dengan tepat.
7. Penjelasan steroid hirupan sebagai obat pengendali asma.
8. Penjelasan penggunaan obat minum dan terapi inhalasi yang
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
tepat dan benar.
9. Penjelasan dan cara memakai Peak Flow meter jika ada,
inhaler, dan spacer berkatup.
10. Mengetahui kapan harus membawa ke dokter.
11. Memantau kemajuan atau kemunduran asma anaknya dengan
Peak Flow Monitoring.
12. Penjelasan tentang mekanisme inflamasi pada asma dan cara
pengendalian asma.
Ad Vitam (Hidup) : Dubia ad bonam
Prognosis Ad Sanationam (sembuh) : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam (fungsi) : Dubia ad bonam
Penelaah Kritis Dr. Retno Asih Setyoningrum, dr., Sp.A(K)
1. Teratasi serangan asma
2. Angka kematian pada serangan asma berat atau ancaman henti
Indikator Medis napas
3. Tercapainya kepatuhan pasien sehingga tercapai derajat
kendali asma yang baik
a. Rahajoe, N. N., Supriyatno, B., Setyanto, D., B. 2015. Pedoman
Nasional Asma Anak 2015. Jakarta : UKK Respirologi PP IDAI
b. Papadopaulos, N., G. et al. 2012. International Consensus On
Kepustakaan
(ICON) Pediatric Asthma. Allergy. 67(8): 976–997
c. Global Initiative for Asthma (GINA). 2016. Pocket Guide for
Asthma Management and Prevention. GINA.
Surabaya,
Ketua Komite Medik Ketua SMF Ilmu Kesehatan Anak
Panduan Praktik Klinis
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
ASMA (ICD-10 : J.45)
Prof. Dr. Doddy M. Soebadi, [Link], SpU(K)
NIP. 19490906 197703 1 001
Muhammad Faizi, dr., Sp.A(K)
NIP. 19650527 199902 1 003
Direktur
RSUD Dr Soetomo Surabaya
dr. Harsono
Keterangan:
1. GR: Grade of Recommendation sesuai Buku Pedoman Penyusunan Clinical Guideline RSUD Dr.
Soetomo Tahun 2017
2. Ref: Referensi yaitu nomor urut referensi sesuai dengan daftar referensi yang tertulis pada kolom
Kepustakaan. Pada kolom “Ref” kas