0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Hubungan Penyalahgunaan Emosional dan Self Esteem Remaja

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas hubungan antara emotional abuse oleh orang tua dengan self esteem pada remaja berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan signifikan antara kedua variabel tersebut. Emotional abuse oleh orang tua berdampak negatif pada pembentukan self esteem pada diri remaja.

Diunggah oleh

Mulya Lubis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Hubungan Penyalahgunaan Emosional dan Self Esteem Remaja

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas hubungan antara emotional abuse oleh orang tua dengan self esteem pada remaja berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan signifikan antara kedua variabel tersebut. Emotional abuse oleh orang tua berdampak negatif pada pembentukan self esteem pada diri remaja.

Diunggah oleh

Mulya Lubis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359

Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

HUBUNGAN ANTARA EMOTIONAL ABUSE OLEH ORANG TUA


DENGAN SELF ESTEEM PADA REMAJA
Maria Elena Panggabean
Briggita Sherly Hidayat

Fakultas Psikologi
Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta

[Link]@[Link]

Abstract
Emotional abuse from parent was the most common type of abuse among children. It was
also the most destructive effect to the [Link] who suffered from emotional abuse
tend to have lower self esteem and lower self image. This research aimed to found the
realtion between parental emotional abuse with teenager self esteem. Quantitative approach
will be used in this research. Using purposive sampling method, 100 university student from
West Jakarta were chosen as participant in this research. Data collected using emotional
abuse scale and self esteem scale. The result of this research analyzed using pearson
product moment with r = -.0401, p < .001. Based on this fionding, can be concluded that
there was a striong and significant corelation between parental emotional abuse and
teenager self esteem.

Keywords : emotional abuse, self esteem, teenager

Pendahuluan
Tanggung jawab orang tua adalah memberikan kebutuhan dasar yang sangat
penting bagi seorang anak berupa perlindungan (keamanan), kasih sayang,
perhatian, dan kesempatan untuk terlibat dalam hubungan yang positif yang dapat
menumbuhkan serta mengembangkan kehidupan mental yang sehat (Salmiah,
2009). Namun kenyatannya, masih banyak anak yang kurang mendapatkan perilaku
yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Seringkali orang tua melakukan perilaku
seperti berteriak, mengumpat, mengejek, mengancam akan memukul atau
mengancam mengusir anak (Papalia, Old, & Feldman, 2009). Bentuk perilaku
tersebut disebut dengan istilah emotional ab use (Farmer, 1990).
Emotional abuse adalah bentuk paling umum dari kekerasan anak dan paling
merusak serta berdampak pada perkembangan (Wolfe, 1991). Menurut Garbarino
(dalam Hagan, 2006) emotional abuse merupakan perilaku yang dilakukan oleh
orang dewasa yang berdampak pada perkembangan diri dan kompetensi sosial

139
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

anak. Bentuk perilaku emotional abuse meliputi perilaku yang merusak secara psikis
seperti menolak (rejecting), mengisolasi (isolating), meneror (terrorizing),
mengabaikan (ignoring), dan merusak (corrupting). Selain itu, bentuk perilaku
emotional abuse meliputi perilaku atau sikap yang menyakiti perasaan maupun
mental anak, sikap atau perilaku tidak memberikan kasih sayang yang tulus, cara
berkomunikasi verbal maupun non verbal yang kasar, tidak memperdulikan,
membenci, membatasi pergaulan, tidak memberi kesempatan bermain seusai usia
dan perkembangan anak, secara eksesif memarahi, mendiamkan, memusuhi,
mengancam serta menakut-nakuti (Widiyatmadi, 2007).
Hal yang sama dikatakan oleh Axmaher (dalam Gesinde, 2011) yang
mengatakan bahwa emotional abuse adalah kekerasan yang paling kejam dan
merusak dari semua kekerasan sehingga dapat meningkatkan ketidakmampuan
dalam menyesuaikan diri. Anak dikatakan telah mengalami emotional abuse apabila
orang tua secara tidak sengaja atau sengaja terlibat dalam bentuk respon emosi
yang tidak tepat pada anak (Jolly, Aluede, & Ojugo, 2009).
Data dari Komnas Perlindungan Anak menyebutkan bahwa sepanjang tahun
2007 hingga 2009, kasus kekerasan psikis yang dikenal juga dengan emotional
abuse menempati peringkat pertama yaitu sebanyak 2.094 kasus (Kekerasan
Terhadap Anak Makin Memiriskan, 2010). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh
Astuti (2008) pada remaja di SMP N 2 Karanganyar, Ngawi menemukan bahwa
mayoritas perilaku kekerasan yang dialami oleh anak usia remaja adalah perilaku
emotional abuse dengan persentase sebesar 86.7% dari 455 siswa.
Data dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia dari tahun 1992-2002 dari
7 kota besar yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Ujung
Pandang dan Kupang ditemukan bahwa terdapat 6,3 % kasus emotional abuse yang
terjadi dari 3.969 kasus kekerasan. Berdasarkan tempat terjadinya, sebanyak 30.1
% emotional abuse terjadi di rumah, sedangkan berdasarkan kategori usia korban,
kasus emotional abuse paling banyak terjadi pada usia 6 sampai 12 tahun (28.8%)
dan terendah pada usia 16-18 tahun (0.9%) (Solihin, 2004). Para pelaku kekerasan
itu sendiri didominasi oleh orang terdekat yaitu orang tua, ayah dan atau ibu mereka
(Astuti, 2008).
Emotional abuse sering terjadi sebagai akibat dari orang tua yang kehilangan
kendali dalam memberikan disiplin pada anak (Gesinde, 2011). Sementara menurut
Baumrid (dalam Wolfe, 1991) emotional abuse disebabkan oleh pendekatan yang

140
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

salah dalam melakukan pendidikan terhadap anak. Lebih lanjut lagi, emotional
abuse terjadi ketika tuntutan terhadap anak yang tinggi, sedangkan pada waktu yang
sama sensitifitas terhadap kemampuan dan kebutuhan anak tidak terpenuhi.
Dampak emotional abuse adalah korban secara nyata merusak diri sendiri,
depresi, berpikir untuk bunuh diri, kecemasan yang berlebihan, kurang percaya diri,
pasif, tidak dapat mengontrol emosi, tertutup, menarik diri seperti menghindari
kontak sosial, pemalu, dan kurangnya komunikasi dengan orang lain, dan korban
juga cenderung memiliki self esteem yang rendah (Engel, 2005; Cavet, 2002). Oleh
karena itu, peneliti tertarik ingin melihat apakah terdapat hubungan antara emotional
abuse dengan self esteem.
Self esteem adalah hasil evaluasi seseorang mengenai dirinya sendiri, atau
sikap seseorang mengenai dirinya yang berada dalam dimensi positif-negatif (Baron
& Byrne, 2004). Menurut Coopersmith (dalam Bracken, 1996) self esteem adalah
penilaian yang dibuat oleh individu untuk menggambarkan sikap menerima atau
tidak menerima keadaan dirinya, dan menandakan sampai seberapa jauh individu itu
percaya bahwa dirinya mampu, sukses, dan berharga.
Individu yang memiliki self esteem yang tinggi adalah individu yang aktif dan
mampu mengekspresikan diri dengan baik, berhasil dalam bidang akademik, mampu
bersosialisasi dan menjalin hubungan sosial, dapat menerima kritik dengan baik
sehingga tidak merasa rendah diri ketika mendapat kritik dari orang lain, percaya
pada dirinya sendiri sehingga tidak bergantung pada orang lain, mempunyai
keyakinan akan kemampuan diri sendiri, tidak mudah terpengaruh pada penilaian
dari orang lain tentang dirinya, dapat menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru,
memiliki perasaan-perasaan yang positif sehingga tidak memiliki rasa bersalah atau
cemas yang berlebihan ataupun perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan.
Sedangkan individu dengan self esteem yang rendah adalah individu yang memilliki
perasaan tidak berharga, lemah atau rendah diri, takut mengalami kegagalan dalam
menjalin hubungan sosial, terlihat sebagai orang yang putus asa dan depresi,
merasa tidak diterima dan tidak diperhatikan di lingkungannya, kurang dapat
mengekspresikan diri, sangat bergantung kepada orang lain, tidak konsisten atau
mudah terpengaruh, secara pasif akan selalu mengikuti apa yang ada di
lingkungannya, dan menggunakan banyak cara-cara pertahanan diri (defense
mechanism).

141
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Hal ini bertolak belakang dengan cara mendidik para orang tua di Cina.
Hampir 100 persen para orang tua di Cina mendidik anak dengan sangat keras,
tegas, tidak memberikan kebebasan untuk memilih, menolak untuk mengakui bahwa
anak memiliki kekurangan dan dapat gagal, memaksakan kehendak kepada anak,
dan berkata kasar kepada anak (Cecilia, 2011). Namun, terbukti bahwa anak-anak
tersebut tumbuh besar, sukses, dan tidak berpengaruh terhadap konsep diri dan
anak tidak merasa dendam dengan orang tua mereka (Dave, 2011). Selain itu,
Gotlieb (dalam Xueqin, 2011) juga mengatakan bahwa ketika anak selalu dipuji dan
diberikan kemudahan maka anak tersebut tidak akan siap untuk menghadapi dunia
yang sebenarnya.
Peran orang tua dalam pembentukan tinggi atau rendahnya self esteem
sangat penting terutama saat anak memasuki masa remaja. Penelitian ini akan
dilakukan pada usia remaja dimana masa remaja dan segala permasalahan yang
terjadi di dalamnya selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Termasuk di
dalamnya proses pembentukan identitas diri yang menjadi tugas utama remaja
(Shaffer, 2009). Perkembangan self esteem menjadi sangat penting dalam
pencapaian identitas diri.

Emotional Abuse
Garbarino (dalam Hagan, 2006) mendefinisikan emotional abuse sebagai
perilaku orang dewasa menyerang perkembangan diri dan kompetisi sosial remaja
Perilaku ini seperti menolak, mengisoasi, meneror, mengabaikan, dan merusak.
Menurut Iwaenic (dalam Evans, 2002) menjelaskan bahwa emotional abuse
merupakan perilaku orang tua yang acuh tak acuh dan merusak self esteem remaja,
menurunkan rasa berprestasi, mengurangi rasa memiliki, dan menghilangkan
kesejahteraan. Corby (1998) mendefinisikan kekerasan emotional abuse sebagai
bentuk adanya kekejaman dan penolakan terhadap remaja secara emosional
sehingga berdampak serius pada mempermalukan dan tidak mempedulikan
kebutuhan remaja akan dukungan emosional. Emotional abuse juga mencakup
tuntutan yang berlebihan atau tidak masuk akal pada seorang remaja seperti
mengejek secara terus menerus, meremehkan, atau melakukan serangan verbal
(Farmer, 1990).
Menurut Hagan (2006), emotional abuse pada anak dapat terbagi menjadi
lima kategori yaitu menolak, mengisolasi, meneror, mengabaikan dan merusak.

142
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Perilaku menolak seperti menunjukkan sikap permusuhan terhadap anak dengan


merendahkan self esteem dan keinginan remaja, baik secara verbal maupun non
verbal. Perilaku isolasi seperti mencegah remaja berinteraksi dengan dunia sosial di
luar, dan membuat remaja percaya bahwa mereka hidup sendirian di dunia ini dan
tidak membutuhkan orang lain. Perilaku meneror seperti mengancam dengan
hukuman berat atau dengan sengaja menumbuhkan rasa ketakutan dan ancaman,
Perilaku mengabaikan seperti tidak adanya respon atau interaksi dari orang dewasa
secara emosional. Perilaku merusak seperti mengarahkan remaja untuk
mengembangkan perilaki merusak diri atau kesalahan dalam sosialisasi.
Baumrid (dalam Wolfe, 1991), emotional abuse dapat disebabkan oleh
pendekatan yang salah dalam melakukan pendidikan terhadap remaja. Emotional
abuse terjadi ketika tuntutan terhadap remaja yang tinggi, sedangkan pada waktu
yang sama sensitifitas terhadap kemampuan dan kebutuhan remaja tidak terpenuhi.
Orang tua yang sangat menuntut dan gagal untuk memahami keterbatasan dan
kebutuhan anak, biasanya menjadi awal terbentuknya pola kekerasan fisik dan
emotional abuse. Sebaliknya, beberapa orang tua yang menempatkan sedikit
tuntutan akan melahirkan sikap yang tidak merespon kebutuhan remaja sehingga
menjadi indikasi terbentuknya emotional abuse dalam bentuk pengabaian. Oleh
karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan dan memantau tuntutan yang
diberikan sesuai dengan kapasitas masing-masing remaja.
Emotional abuse dapat memberikan dapak negatif bagi remaja diantaranya
depresi, kecemasan, ketergantungan, agresif, menarik diri, upaya bunuh diri, self
esteem rendah, tidak dapat mengontrol emosi, dan kurang percaya diri (Cavest,
2002). Stevens (dalam Gesinde, 2011) juga menyatakan bahwa emotional abuse
dapat merusak keberhargaan diri dan dapat mengganggu perkembangan psikologis
remaja di bidang kecerdasan, memori, pengakuan, persepsi, imajinasi, perhatian,
dan perkebangan moral. Hal ini mengakibatkan gangguan kemampuan untuk
memahami, merasa, dan dalam mengekspresikan diri.

Self esteem
Berk (2006) mendefinisikan self esteem sebagai penilaian yang dibuat
individu terhadap keberhargaan diri individu yang berasal dari perasaan individu
selama ini. Self esteem juga dapat diartikan sebagai suatu evaluasi global diri
terhadap diri sendiri atau gambaran diri (self image) bahwa dirinya berharga (self

143
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

worth). Menurut Coopersmith (1967), self esteem terdiri dari beberapa aspek yaitu
perasaan diri berharga, perasaan mampu, dan perasaan diterima. Perasaan
berharga merupakan perasaan indvidu yang muncul karena adanya penilaian dari
orang lain terutama orang tua, dan oleh diri sendiri. Perasaan mampu merupakan
perasaan yang dimiliki individu terhadap kemampuan dalam mencapai suatu
prestasi atau sebuah hasil yang diharapkan, sedangkan perasaan diterima
merupakan perasaan ketika individu merasa diterima dan dihargai saat individu
menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Self esteem dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah
faktor orang tua (Pohan, 2006). Sikap orang tua serta apa yang dialami remaja pada
masa kanak-kanak merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi self esteem
remaja, karena pada fase ini sedang terjadi proses pembentukan self concept dan
self esteem. Menurut Felson (dalam Baron & Byrne, 2004), remaja akan cenderung
mengevaluasi dirinya berdasarkan evaluasi orang tua terhadapnya. Remaja yang
memiliki self esteem tinggi, dipengaruhi oleh sikap orang tua dalam memperlihatkan
ekspresi mencintai anak, memberikan perhatian, kebutuhan, dan permasalahan
anak, memberi peraturan yang jelas dan adil, memberi kebebasan yang terkontrol,
serta mengikut sertakan anak dalam memberikan pendapat dalam pengambilan
keputusan di keluarga.

Remaja
Santock (20007) menjelaskan bahwa masa remaja adalah masa penghubung
atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada masa
ini terjadi perubahan besar yang melibatkan fisik, kognitif, dan psikosial remaja.
Pada umumnya, masa remaja dimulai ketika memasuki usia 10 hingga 12 tahun,
dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun.
Menurut Erikson (dalam Santrock, 2007), remaja memiliki tugas
perkembangannya tersendiri. Pada masa ini, remaja berada pada tahap peralihan
identitas dan kekacauan identitas (identity vs identity confusion), dimana remaja
dihadapkan pada permasalahan mencari identitas dan menyelesaikan masa krisis
identitas yang terjadi akibat banyaknya perubahan-perubahan dalam diri dan
lingkungan sosial remaja.

144
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Dinamika penelitian
Emotional abuse adalah bentuk paling umum dari kekerasan anak yang
paling merusak dan berdampak pada perkembangan remaja (Wolfe, 1991).
Emotional abuse merupakan perilaku yang dilakukan oleh orang dewasa yang
menyerang perkembangan diri dan kompetisi sosial anak. Bentuk-bentuk perilaku
emotional abuse meliputi menolak, mengisolasi, meneror, mengabaikan, dan
merusak. Menurut Loring (dalam Engel, 2005), emotional abuse yang dilakukan
orang tua dapat berdampak pada pembentukan self esteem yang cenderung
rendah pada remaja.
Self esteem adalah penilaian yang dibuat oleh individu untuk
menggambarkan sikap menerima atau tidak menerima keadaan dirinya, serta
menandakan sampai seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, sukses,
dan berharga (Bracken, 1996). Salah satu faktor pembentuk self esteem pada
remaja adalah hubungan dengan orang tua. Remaja akan cenderung mengevaluasi
dirinya berdasarkan evaluasi orang tua terhadap dirinya (Baron & Byrne, 2004). Self
esteem yang tinggi diperoleh ketika remaja menilai dirinya secara positif, sedangkan
jika anak menilai dirinya secara negative maka self esteem remaja akan rendah.
Dengan demikian, tinggi rendahnya self esteem seseorang sangat dipengaruhi oleh
bagaimana perilaku orang tua pada anak (Shaffer, 2009).
Menurut Erickson (dalam Santrock, 2007), fungsi self esteem menjadi sangat
penting dalam mencapai identitas diri yang merupakan tugas utama pada masa
remaja. Remaja dengan self esteem yang tinggi akan memiliki keyakinan diri
sehingga dapat memutuskan hal-hal yang penting bagi remaja, seperti menentukan
kehidupan seperti apa yang akan dijalani yang sesuai dengan diri remaja tersebut.
Remaja yang mencapai identitas diri sudah bersiap dengan baik dalam menghadapi
tantangan dan tugas perkembangan selanjutnya. Sementara itu, remaja dengan self
esteem rendah yang tidak mencapai identitas diri akan merasa diri gagal sehingga
dapat berpengaruh pada tahap perkembangan selanjutnya, dimana remaja harus
bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kehidupannya.

145
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Metode penelitian

Partisipan
Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah remaja akhir di Universitas X dengan
rentang usia 18-21 tahun. Jumlah partisipan yang dijadikan sampel dalam penelitian
ini sebanyak 100 orang pada penelitian data utama dan 50 orang untuk uji coba alat
ukur.

Prosedur dan pengukuran


Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatid dengan jenis penelitian korelasional.
Penelitian bersifat korelasional karena bertujuan untuk menentukan apakah terdapat
asosiasi antar variabel dan melihat seberapa jauh korelasi yang ada di antara
variabel yang diteliti (Sangadji & Sopiah, 2010). Teknik sampling yang digunakan
adalah non probability sampling dengan jenis purposive sampling. Metode ini
digunakan peneliti untuk menentukan subjek yang dianggap paling mampu
menyediakan informasi yang dicari dan mau membagi informasi tersebut (Kumar,
1999).
Alat ukur Emotional abuse dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan lima kategori
perilaku yang dikemukakan oleh Garbarino (dalam Hagan, 2006). Alat ukur ini
berupa kuesioner dengan menggunakan skala likert. Adapun variabel emotional
abuse meliputi lima kategori yaitu: menolak (rejecting), mengisolasi (isolating),
meneror (terrorizing), mengabaikan (ignoring), dan merusak (corrupting). Alat ukur
ini terdiri dari 97 item.
Alat ukur Self Esteem yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi dari Self
Esteem Inventory dari Coopersmith (CSEI). Alat ukur ini telah digunakan oleh
Meliala (2009) dalam skripsinya yang berjudul Hubungan Citra Merek Terhadap
Harga Diri Pada Remaja. Alat ukur ini terdiri dari tiga aspek yaitu perasaan berharga,
perasaan mampu dan perasaan diterima sebanyak 27 item.
Setelah diuji coba pada 50 partisipan, hasil analisis menunjukkan bahwa dari 97 item
pada alat ukur emotional abuse terdapat 78 item yang dinyatakan valid dan reliabel.
Pada alat ukur emotional abuse menunjukkan dari 27 item alat ukur self esteem,
terdapat 22 item yang dinyatakan valid dan reliabel.

146
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi
Pearson Product Moment. Uji asumsi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji
normalitas yang menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Selain itu,
peneliti menggunakan t-test independent untuk melakukan analisis data tambahan
kedua variabel yaitu emotional abuse dan self esteem dengan jenis kelamin dan
menggunakan teknik One Way Anova untuk melakukan analisis data kedua variabel
dengan tingkat pendapatan orang tua.

Hasil penelitian
Dari hasil analisis terhadap skor total emotional abuse diperoleh (M = 150,31;
SD = 28,26; Min = 101,50; Max = 244,63) dan dari hasil analisis deskriptif terhadap
skor total self esteem diperoleh (M = 71,43; SD = 10,26; Min = 40,71; Max = 10,26).
Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat uji One
Sample Kolmogorov Smirnov Test, yang hasilnya menunjukkan bahwa data skala
emotional abuse berdistribusi normal (Z = 1,302; p = .068) dan data skala self
esteem berdistribusi normal (Z = .689; p = 0.729). Dari uji korelasi antara emotional
abuse dengan self esteem yang menggunakan teknik perhitungan Pearson Product
Moment menunjukkan hipotesis diterima bahwa ada korelasi negatif yang cukup
kuat dan signifikan antara emotional abuse oleh orang tua dengan self esteem pada
remaja (r = -.0401, p < .001). Hasil penelitian juga menunjukkan sumbangan efektif
emotional abuse terhadap self esteem sebesar 16 % yang didapat dari kuadrat skor
hasil korelasi.
Berdasarkan perhitungan menggunakan One Way Anova terhadap lima
kategori pendapatan orang tua diperoleh pendapatan kurang dari 3 juta (M = 147,52;
SD = 23,81; Min = 112,97; Max = 190,15). Pendapatan sebesar tiga sampai lima juta
(M = 151,81; SD = 31,54; Min = 101,50; Max = 244,63). Pendapatan lima sampai
tujuh juta (M = 154,80, SD = 34,47; Min = 101,72; Max = 228,35). Pendapatan tujuh
sampai sepuluh juta (M = 155,77; SD = 17,22; Min = 131,94; Max = 170,40).
Pendapatan lebih besar dari sepuluh juta (M = 142,50; SD = 16,27; Min = 116,66;
Max = 171,86).
Dari hasil uji keragaman varian diperoleh bahwa varian kelompok yang
dibandingkan adalah sama ( Levene’s Test = 2.287; p = .066). Dari uji perbedaan
emotional abuse pada kelima kategori tingkat pendapatan orang tua yaitu, kurang

147
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

dari tiga juta, tiga sampai lima juta, lima sampai tujuh juta, tujuh sampai sepuluh juta,
dan lebih besar dari sepuluh juta dengan menggunakan teknik one-way anova
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan emotional abuse pada kelima
kategori tingkat pendapatan orang tua (F = .475; p = .754). Dari hasil perhitungan
dengan t-test independent, diperoleh laki-laki (M = 70.49; SD = 8,97) dan
perempuan (M = 72.17; SD = 11.24). Dari uji kesamaan varian pada kelompok laki-
laki dan perempuan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam varians
laki-laki dan perempuan (F = .882; p = .350).
Selanjutnya dari uji perbedaan emotional abuse pada kelompok laki-laki dan
perempuan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan emotional abuse pada
kelompok laki-laki dan perempuan (t= -.813; p = .418). Dari hasil perhitungan
dengan t-test independent, diperoleh laki-laki (M = 152,33; SD = 25,13) dan
perempuan (M = 148,59; SD = 30,81). Dari uji kesamaan varian pada kelompok laki-
laki dan perempuan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam varians
laki-laki dan perempuan (F = .952; P = .332).
Selanjutnya dari uji perbedaan self esteem pada kelompok laki-laki dan
perempuan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan self esteem pada
kelompok laki-laki dan perempuan (t= .656; p = .513). Berdasarkan perhitungan
menggunakan One Way Anova diperoleh pendapatan kurang dari tiga juta (M =
70,95; SD = 10,14; Min = 48,29; Max = 89,43). Pendapatan sebesar tiga sampai lima
juta (M = 69,89; SD = 8,55; Min = 40,71; Max = 86,02). Pendapatan lima sampai
tujuh juta memiliki (M = 71,56; SD = 11,71; Min = 41,84; Max = 86,15). Pendapatan
tujuh sampai sepuluh juta (M = 83,27; SD = 13,248; Min = 65,93; Max = 96,89).
Pendapatan lebih besar dari sepuluh juta memiliki (M = 173,43; SD = 11,49; Min =
58,56; Max = 102,98).
Dari hasil uji keragaman varian diperoleh bahwa varian kelompok yang dibandingkan
adalah sama (Levene’s Test = .851; p = .496). Dari uji perbedaan self esteem pada
kelima kategori tingkat pendapatan orang tua yaitu, kurang dari tiga juta, tiga sampai
lima juta, lima sampai tujuh juta, tujuh sampai sepuluh juta, dan lebih besar dari
sepuluh juta dengan menggunakan teknik one-way anova menunjukkan bahwa tidak
terdapat perbedaan self esteem pada kelima kategori tingkat pendapatan orang tua
(F = 1,756; p = .144).

Pembahasan

148
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat hubungan antara


emotional abuse yang dilakukan oleh orang tua terhadap self esteem remaja. Hal
tersebut sesuai dengan pernyataan yang menyatakan bahwa adanya hubungan
antara perlakuan orang tua terhadap self esteem (Baron & Bryne, 2004). Selain itu
hubungan sosial remaja dengan orang tua merupakan kontribusi yang penting pada
self esteem remaja (Santrock, 2001). Hal ini dapat disebabkan karena orang tua
adalah orang yang memiliki ikatan yang paling dekat dengan anak.
Menurut Felson (dalam Baron & Byrne, 2004) anak akan melakukan evaluasi
terhadap dirinya berdasarkan sikap atau perilaku orang tua terhadap dirinya.
Coopersmith (dalam Santrock, 2007) menyatakan bahwa ketika orang tua
memberikan ekspresi mencintai, memberikan perhatian pada kebutuhan dan
permasalahan anak, memberikan kebebasan dalam batasan-batasan yang jelas,
mengikutsertakan anak dalam memberikan pendapat dan pengambilan keputusan
dalam keluarga maka anak tersebut akan memiliki self esteem yang tinggi.
Berdasarkan penelitian juga diperoleh bahwa anak yang pernah mengalami
pengabaian, tidak mendapatkan dukungan dari orang tua yang merupakan bentuk-
bentuk dari emotional abuse memiliki self esteem yang rendah (Santrock, 2007b).
Selain itu dikatakan juga oleh Loring (2005), Cavet (2002), dan Farmer (1990)
bahwa emotional abuse yang dilakukan oleh orang tua berdampak pada self esteem
korban.
Mengingat nilai korelasi yang diperoleh cukup kuat dengan sumbangan efektif
emotional abuse sebesar 16%, peneliti menganggap hal tersebut terjadi dikarenakan
oleh faktor-faktor lain yang berhubungan dengan pembentukan self esteem. Faktor-
faktor tersebut adalah kelas sosial, hubungan individu dengan teman sebaya,
prestasi dan genetik. Pada umumnya, remaja dari kelas sosial menengah ke atas
memiliki self esteem yang lebih tinggi dibandingkan kelompok remaja yang berasal
dari kelas sosial menengah ke bawah. Penelitian menunjukkan bahwa kelas sosial
remaja yang ditandai oleh pendidikan dan penghasilan orang tua merupakan faktor
penting dari self esteem (Steinberg, 1999).
Hubungan remaja dengan teman sebaya juga penting. Para remaja yang
mendapat penghargaan serta penerimaan dari teman sebaya juga berhubungan
dalam pembentukan self esteem (Kail & Cavanaugh, 2007). Menurut Kelly dan
Hansen (dalam Dacey & Travers, 2002) hubungan yang positif dengan teman
sebaya dapat meningkatkan self esteem seorang remaja.

149
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Prestasi bagi seorang remaja juga dapat meningkatkan self esteem (Atwater
& Duffy, 1999). Berdasarkan penelitian, memperlihatkan bahwa ada kemungkinan
tingkat harga diri ditentukan oleh genetik (Steinberg, 1999).
Dari hasil analisis perbedaan self esteem ditinjau dari tingkat pendapatan
orang tua menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan self esteem terhadap
kelima kategori tingkat pendapatan orang tua. Hal ini bertentangan dengan
penelitian yang menunjukkan bahwa kelas sosial menengah ke atas memiliki self
esteem yang lebih tinggi dibandingkan kelompok remaja yang berasal dari kelas
sosial menengah kebawah (Steinberg, 1999), sbrowneedangkan tinggi rendahnya
self esteem sangat dipengaruhi oleh peran orang tua (Shaffer, 2009). Pada
penelitian ini kategori tingkat pendapatan orang tua kurang dapat menggambarkan
kelas sosial.
Selain itu, dari hasil analisis perbedaan emotional abuse ditinjau dari tingkat
pendapat orang tua juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan emotional
abuse terhadap kelima kategori pendapatan orang tua. Hal ini tidak sesuai dengan
penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua yang sering melakukan emotional
abuse terjadi pada tingkat sosial menengah ke atas (Gesinde, 2011). Hal ini dapat
terjadi dikarenakan kategori tingkat pendapatan orang tua kurang dapat
menggambarkan tingkat status sosial.
Dari hasil penelitian, dilihat dari nilai rata-rata emotional abuse dan self
esteem diperoleh bahwa pada mahasiswa di universitas X ditemukan sedikit yang
mengalami emotional abuse dan memiliki self esteem yang tinggi. Berarti sesuai
dengan teori bahwa ketika seorang remaja tidak mengalami emotional abuse maka
self esteem remaja cenderung tinggi. Selain itu dapat dilakukan lagi penelitian
selanjutnya untuk melihat faktor suku dan agama terhadap terjadinya emotional
abuse dan hubungannya pada self esteem.
Dalam penelitian ini juga kurang mengeskplorasi mengenai data-data
partisipan seperti suku, agama, latar belakang orang tua, sehingga kurang dapat
memperoleh data tambahan yang dapat dijadikan informasi dalam penelitian ini

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesa dalam penelitian ini, maka dapat
disimpulkan bahwa hipotesis diterima yaitu terdapat hubungan antara emotional
abuse oleh orang tua dengan self esteem pada remaja (r = -.401, p < .001). Nilai

150
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

korelasi bersifat negatif. Dengan kata lain, semakin tinggi seseorang mengalami
emotional abuse maka semakin rendah self esteem remaja tersebut dan sebaliknya,
jika semakin jarang seseorang mengalami emotional abuse maka semakin tinggi self
esteem remaja.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sumbangan efektif emotional abuse
terhadap self esteem kecil yaitu sebesar 16% dengan nilai rata-rata emotional abuse
termasuk ke dalam kategori rendah dan nilai rata-rata self esteem termasuk ke
dalam kategori tinggi.
Berdasarkan hasil analisis perbedaan emotional abuse dan self esteem dari
kedua kategori demografis yaitu jenis kelamin dan tingkat pendapatan orang tua,
maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan emotional abuse dan self
esteem dengan jenis kelamin dan tingkat pendapatan orang tua.
Berdasarkan kelemahan dan keterbatasan penelitian ini, maka peneliti
memberikan beberapa saran yang dapat dicermati sebagai bahan pertimbangan
penelitian di masa mendatang yaitu: Mencari literatur dan data – data yang lebih
banyak lagi mengenai emotional abuse untuk memperkaya informasi dalam
penelitian selanjutnya karena peneliti cukup kesulitan dalam mencari data-data dan
literatur mengenai emotional abuse untuk memperkaya informasi dalam penelitian
selanjutnya. Serta gambaran hubungan yang lebih spesifik antara emotional abuse
dengan self esteem sehingga dapat dijadikan perbandingan penelitian yang lebih
baik lagi. Melakukan analisa yang lebih mendalam dengan mengkorelasikan
dimensi-dimensi antar kedua variabel.
Disarankan untuk melakukan penelitian dengan membatasi status sosial
ekonomi dari partisipan agar memperoleh hasil untuk melihat apakah terdapat
hubungan emotional abuse dengan self esteem pada remaja yang berasal dari
status sosial menengah ke bawah dan status sosial menengah ke atas.
Untuk penelitian selanjutnya, dapat dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih
banyak agar lebih representatif sehingga kesimpulan yang ditarik akan lebih tepat.
Selain jumlah sampel yang lebih banyak, untuk penelitian lanjutan dapat diambil
sampel yang lebih bervariasi, tidak hanya terbatas pada satu golongan tertentu
sehingga pengeneralisasiannya menjadi lebih luas. Sebaiknya dilakukan wawancara
yang mendalam sehingga data atau informasi yang diperoleh lebih lengkap dan lebih
akurat. Selain itu, melalui wawancara ada kesempatan untuk mendalami jawaban
partisipan yang diberikan pada kuesioner memang sesuai dengan keadaan diri

151
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

partisipan. Sebab, mungkin saja partisipan memberi jawaban yang bukan


sebenarnya. Peneliti juga menyarankan supaya dilakukan kontrol yang lebih ketat
terhadap partisipan agar data yang dihasilkan diharapkan dapat lebih
menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan hasilnya juga akan lebih kaya.
Mengingat hasil nilai korelasi hanya cukup kuat, maka perlu digali faktor-faktor lain
yang mungkin berkaitan dengan self esteem seperti agama, suku, latar belakang
orang tua dan lain-lain. Hal ini dapat dilakukan dengan penelitian kualitatif.
Saran untuk orang tua agar tidak melakukan bentuk-bentuk perilaku dari
emotional abuse seperti menolak (rejecting), mengisolasi (isolating), meneror
(terrorizing), mengabaikan (ignoring), dan merusak (corrupting) karena berdampak
dalam pembentukan self esteem anak yang sangat penting dalam kehidupan pada
masa remaja. Sebaiknya, orang tua dapat memberikan bentuk-bentuk perilaku yang
dapat membentuk self esteem anak menjadi tinggi seperti kasih sayang, perhatian,
penghargaan, kesempatan untuk memberikan pendapat dan lain-lain.
Selain itu dapat dilakukan seminar yang dapat meningkatkan kesadaran
terhadap emotional abuse bagi orang tua maupun remaja. Sehingga untuk remaja
yang mengalami emotional abuse dapat lebih asertif kepada orang tua dan orang
tua yang melakukan emotional abuse dapat menyadari bahwa bentuk-bentuk
perilaku tersebut adalah emotional abuse dan berdampak tidak baik untuk
perkembangan remaja.

Daftar Pustaka

Astuti, M. D. (2008). Perilaku kekerasan orang tua pada remaja di SMP N 2 Karanganyar,
Ngawi. Retrieved from [Link]
Baron, R. A., Byrne, D. (2004). Psikologi sosial (10th ed.). (Ratna Djuwita, Melania Meitty
Parman, Dyah Yasmina, Lita P. Lunanta, Trans.). Jakarta: Erlangga (Karya asli
diterbitkan tahun 2003).
Bracken, B. A. (1996). Handbook of self-concept: Developmental, social, and clinical
considerations. New York, NY: John Wiley & Sons, Inc.
Browne, K. D., Hanks, H., Stratton, P., & Hamilton, C. (2002). Early prediction and
prevention of child abuse a handbook. New York, NY: John Wiley & Sons, Ltd.
Cecilia. (2011, April 25). Parenting: Cara didik barat atau timur?. [Link]. Retrieved
from [Link]
Dave. (2011, Maret 29). Chuo ajak orang tua untuk galak dengan “Tiger Parenting”. Swara
Pendidikan. Retrieved from [Link]
Engel, B. (2005). Breaking the cycle of abuse: How to move beyond your past to create an
abuse free future. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, inc.
Evans, H. (2002). Emotional abuse. NSPCC. Retrieved from [Link]

152
Jurnal NOETIC Psychology ISSN : 2088-0359
Volume 2 Nomor 2, Juni-Desember 2012

Farmer, S. (1990). Adult children of abusive parents: A healing program for those who have
been physically, sexually, or emotionally abused. New York, NY: Random House
Publishing Group.
Gesinde, A. M. (2011). Dimensions of emotional maltreatment of school adolescents at
home: Implications for counselling practice. Ife PsychologIA 19(1), 40-54. Retrieved
from [Link]
Hagan, K. O. (2006). Identifying emotional and psychological abuse: A guide for childcare
professionals. New York, NY: Open University Press.
Jolly, O., Aluede, O. & Ojugo, A. I. (2009). A psychological postulation for the understanding
of classroom emotional abuse. European Journal of Educational Studies 1(3), 125-
131.
Kail, V. R., & Cavanaugh, C. J. (2007). Human development: A life-span view (4th ed.).
Belmont, CA: Thomson Wadsworth.
Kekerasan terhadap anak makin memiriskan. (2010, Oktober 12). Retrieved from
[Link]
Kumar, C. R. (1999). Research methodology: A step by step guide fo beginers. Thousand
Oaks, CA: Sage Publications.
Meliala, G. D. F. (2009). Hubungan citra merek terhadap harga diri pada remaja.
Unpublished Thesis.
Papalia, D. E., Olds. S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human development (11th ed.). New
York, NY: McGraw-Hill.
Salmiah, S. (2009). Child abuse. Unpublished Thesis.
Sangadji, E. M., & Sopiah. (2010). Metodologi penelitian: Pendekatan praktis dalam
penelitian. Yogyakarta: C.V Andi Offset.
Santrock, J. W. (2001). Adolescence (8th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.
Santrock, J. W. (2007a). Perkembangan anak (11th ed.). (Mila Rachmawati, Anna Kuswanti,
Penerj.). Jakarta: Erlangga (Karya asli diterbitkan tahun 2003).
Santrock, J. W. (2007b). Remaja (11th ed.). (Benedictine Widyasinta, Trans.). Jakarta:
Erlangga. (Karya asli diterbitkan tahun 2007).
Shaffer, R. D. (2009). Social and personality development (6th ed). Belmont, CA:
Wadsworth, Cengage Learning.
Solihin, L. (2004). Tindakan kekerasan pada anak dalam keluarga. Jurnal Pendidikan
Penabur (3), 129-139. Retrieved from [Link]
Steinberg, L. (1999). Adolescence (5th ed.). New York, NY: The McGraw-Hill Companies,
Inc.
Wolfe, D. A. (1991). Preventing physical and emotional abuse of children. New York, NY:
The Guilford Press.
Widiyatmadi, H. M. E. 2007. Cegah kekerasan terhadap anak. Hidup mingguan umat
beriman, 06, 48-49.
Xueqin, J. (2011, July 9). Little emperor syndrome. The diplomate. Retrieved from [Link]
[Link]

153

Common questions

Didukung oleh AI

Parental emotional abuse negatively affects the self-esteem of teenagers as it involves behaviors such as rejection, isolation, terrorizing, ignoring, and corruption, which undermine a child's sense of worth and competence. Children subjected to such abuse tend to have lower self-esteem due to repeated criticism and lack of emotional support, which are crucial for developing a healthy self-image .

The main forms of emotional abuse include rejection, isolation, terrorizing, ignoring, and corrupting. These actions can severely damage a child's psychological well-being, leading to issues such as depression, anxiety, dependency, aggressiveness, withdrawal, suicidal tendencies, and low self-esteem. The continuous exposure to such negative environments affects the adolescent's ability to form a positive self-concept and hinders moral and social cognitive development .

Self-esteem plays a crucial role in the development of social and personal identity during adolescence, a period characterized by intense identity exploration and self-concept development. High self-esteem enables adolescents to confidently explore various roles, relationships, and challenges, leading to a more coherent and positive identity. Conversely, low self-esteem can impede social interactions and self-discovery, resulting in identity confusion and susceptibility to peer pressure .

Parenting interventions can be designed to prevent emotional abuse by focusing on educating parents about the importance of emotional responsiveness and effective communication strategies. Programs should aim to increase parental awareness about the psychological impact of their behaviors, promoting empathy, and understanding children's developmental needs. Interventions could include workshops on managing stress, setting realistic expectations, and constructive discipline techniques to foster healthier parent-child relationships and mitigate potential abusive patterns .

Emotional neglect, a form of emotional abuse, involves a parent's failure to provide necessary emotional support and acknowledgment. Unlike other forms such as rejection or terrorizing, which involve active harmful actions, emotional neglect is characterized by the absence of interactive behaviors essential for a child's emotional development. Both forms are damaging, but while neglect results in unmet emotional needs, other forms actively undermine the child’s self-worth and induce fear, leading to different psychological impacts .

Emotional abuse is differentiated from other types of child abuse primarily by its non-physical nature, focusing on verbal and psychological maltreatment, such as criticism, belittling, and isolation. Unlike physical or sexual abuse, which have visible effects, emotional abuse affects mental health and self-esteem, making it less immediately apparent and harder to identify or prove. The subtleties and subjective perceptions involved in emotional abuse require contextual understanding and are often perpetuated under the guise of discipline or parental guidance .

Cultural differences significantly influence parenting styles, which in turn affect self-esteem in children. For instance, in China, strict parenting styles, characterized by harsh discipline and lack of autonomy, do not necessarily result in low self-esteem due to cultural norms valuing conformity and respect for authority. These children often grow up to be successful and well-adjusted adults, indicating that societal context can moderate the impact of parenting practices on psychological outcomes .

Long-term exposure to emotional abuse can severely affect adult relationships and social competence. Adults who experienced such abuse in childhood often struggle with trust, communication, and emotional expression in relationships. They may also exhibit heightened anxiety, depression, and issues with self-worth, which affect social interactions and the ability to maintain stable, healthy relationships. These long-lasting effects underscore the critical need for early intervention and support for affected individuals .

The lower prevalence of reported emotional abuse at ages 16-18 compared to younger age groups may result from increased awareness and independence in older adolescents, who might avoid home environments where abuse occurs. Additionally, emotional abuse might not be recognized or reported by teenagers themselves, who may normalize or rationalize parental behavior due to dependency and fear. There's also the possibility that abuse diminishes as children grow older and gain social support outside the home .

High demands from parents can lead to emotional abuse when these demands are unrealistic and do not consider the child's abilities or needs. This situation often results in emotional neglect or harsh verbal criticism, which can damage a child's self-esteem and psychological health. Emotional abuse under these circumstances typically arises from miscommunication and a lack of sensitivity towards the child's unique capacities and requirements .

Anda mungkin juga menyukai