0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Pemahaman Lengkap tentang Rabies

Rabies adalah penyakit virus akut yang menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kematian. Penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan atau kontak langsung luka terbuka dengan kulit atau lendir hewan yang terinfeksi. Gejalanya bervariasi namun biasanya terlihat rasa takut air dan kematian yang tak terelakkan.

Diunggah oleh

starlight snoopy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Pemahaman Lengkap tentang Rabies

Rabies adalah penyakit virus akut yang menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kematian. Penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan atau kontak langsung luka terbuka dengan kulit atau lendir hewan yang terinfeksi. Gejalanya bervariasi namun biasanya terlihat rasa takut air dan kematian yang tak terelakkan.

Diunggah oleh

starlight snoopy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

RABIES

Oleh :
Dinda Asari Zulkarnain
(70700121008)

Supervisor:
dr. Nikmawati, Sp.S., [Link]

Pembimbing:
dr. Rauly Ramadhani, [Link]

DIBAWAKAN DALAM RANGKA


TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN NEUROLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2021
LEMBAR PENGESAHAN
Referat dengan judul
Rabies
Telah memenuhi persyaratan dan telah disetujui
Pada tanggal……………………….
Oleh :
Supervisor

dr. Nikmawati, Sp.S., [Link]

Pembimbing

[Link] Ramadhani, [Link]

Mengetahui,
Ketua Program Pendidikan Profesi Dokter
UIN Alauddin Makassar

dr. Azizah Nurdin, [Link], M. Kes


NIP. 198409052009012011

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan referat
dengan topik “Rabies”. Salam dan Shalawat semoga senantiasa tercurahkan
kepada baginda Rasulullah SAW. yang telah menjadi rahmatan lil ‘alamiin.
Referat ini penulis susun sebagai salah satu tugas dalam Kepaniteraan Klinik pada
Bagian Neurologi Program Profesi Dokter UIN Alauddin Makassar.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih, rasa hormat dan penghargaan
atas bimbingan dan arahan selama penyusunan referat ini kepada dr. Nikmawati,
Sp.S., [Link] selaku supervisor dan dr. Arlina Wiyata Gama selaku pembimbing,
serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kekurangan.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang
membangun agar referat ini kelak bisa bermanfaat bagi semua pihak, khususnya
dalam bidang ilmu kesehatan anak. Semoga Allah SWT. senantiasa melindungi
kita semua. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

Makassar, 24 Oktober 2021

Dinda Asari Zulkarnain


70700121008

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN......................................................................................ii
KATA PENGANTAR.....................................................................................iii
DAFTAR ISI...................................................................................................iv
BAB I...............................................................................................................5
PENDAHULUAN............................................................................................5
BAB II..............................................................................................................6
PEMBAHASAN...............................................................................................6
A. Definisi..................................................................................................................6
B. Epidemiologi.........................................................................................................6
C. Etioligi...................................................................................................................6
D. Cara Penularan......................................................................................................7
E. Patofisiologi...........................................................................................................7
F. Gejala Klinis...........................................................................................................7
G. Diagnosa................................................................................................................9
H. Penatalaksanaan.................................................................................................10
I. Pencegahan.........................................................................................................13
BAB III...........................................................................................................14
PENUTUP......................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................15

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Rabies disebut juga penyakit anjing gila adalah suatu penyakit infeksi akut
pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini telah
dikenal sejak berabadabad yang lalu dan merupakan penyakit yang menakutkan
bagi manusia karena penyakit ini selalu diakhiri dengan kematian. Penyakit ini
menyebabkan penderita tersiksa oleh rasa haus namun sekaligus merasa takut
terhadap air (hydrophobia). Rabies bersifat fatal baik pada hewan maupun
manusia, hampir seluruh pasien yang menunjukkan gejala–gejala klinis rabies
(encephalomyelitis) akan diakhiri dengan kematian1.
Saat ini kasus penularan penyakit dari hewan ke manusia masih
merupakan ancaman yang serius terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu
penyakit asal hewan yang masih berbahaya bagi manusia adalah rabies. Kira- kira
sebanyak 55.000 manusia meninggal tiap tahunnya di dunia akibat Rabies, dan
45%. Sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif untuk menyembuhkan
rabies namun penyakit ini dapat dicegah melalui penanganan kasus gigitan hewan
penular rabies (GHPR) sedini mungkin1,2.
Rabies tersebar hampir di semua benua kecuali benua Antartika, lebih dari
150 negara telah terjangkit penyakit ini. Setiap tahun lebih dari 55.000 orang
meninggal akibat rabies dan lebih dari 15 juta orang di seluruh dunia
mendapatkan pengobatan profilaksis vaksin anti rabies untuk mencegah
berkembangnya penyakit ini. Sejumlah 40% dari seluruh orang-orang yang digigit
hewan tersangka rabies merupakan anak dibawah usia 15 tahun1,2.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Rabies adalah infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf pusat
manusia dan mamalia. Penyakit ini bersifat zoonotik yaitu penyakit dapat
ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan hewan penular rabies1,3.

B. Epidemiologi

Rabies di Indonesia telah menyebar di 25 provinsi sampai dengan tahun 2017.


Berdasarkan data dari Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P)
Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor Zoonotik, pada tahun 2017 kasus
kematian akibat Rabies (Lyssa virus) mengalami penurunan sekitar 27,12%. Kasus
Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) di tahun 2016 hanya turun sekitar 19,44%
menjadi 64.774 laporan. Jumlah provinsi bebas rabies sampai dengan 2017 sebanyak
9 provinsi, yaitu 5 provinsi bebas historis (Papua, Papua Barat, Bangka Belitung,
Kepulauan Riau, dan Nusa Tenggara Barat) dan 4 provinsi dibebaskan (Jawa
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta,Jawa Timur, dan DKI Jakarta) 2.

C. Etioligi
Agen penyebab rabies adalah virus dari genus lyssa virus dan termasuk ke dalam
family Rhabdoviridae. Virus ini bersifat neurotropic, berbentuk menyerupai peluru
dengan panjang 130 – 300 nm dan diameter 70 nm. Virus ini terdiri dari inti RNA
(Ribo Nucleic Acid) rantai tunggal diselubungi lipoprotein. Pada selubung luar
terdapat tonjolan yang terdiri dari glikoprotein G yang berperan penting dalam
timbulnya imunitas oleh induksi vaksin dan penting dalam identifikasi serologi dari
virus rabies. Virus rabies mudah mati oleh sinar matahari dan sinar ultraviolet,
pengaruh keadaan asam dan basa, zat pelarut lemak, misalnya ether dan
kloroform, Na deoksikolat, dan air sabun. Oleh karena itu sangat penting
melakukan pencucian luka dengan menggunakan sabun sesegera mungkin
setelah gigitan untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka
gigitan1,4.

6
D. Cara Penularan

Cara penularan rabies melalui gigitan dan non gigitan (goresan cakaran
atau jilatan pada kulit terbuka/mukosa) oleh hewan yang terinfeksi virus
rabies. Virus rabies akan masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terbuka
atau mukosa namun tidak dapat masuk melalui kulit yang utuh. Masa
inkubasi penyakit rabies sangat bervariasi yaitu antara 2 minggu sampai 2
tahun, tetapi pada umumnya 3 – 8 minggu. Menurut WHO masa inkubasinya
rata-rata 30 – 90 hari. Variasi masa inkubasi dipengaruhi oleh letak luka
gigitan yang semakin dekat dengan otak seperti diatas bahu . kedalaman luka,
jenis virus dan jumlah virus yang masuk1,5.

E. Patofisiologi

Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan/cakaran, virus akan


menetap selama 2 minggu di sekitar luka gigitan dan melakukan replikasi di
jaringan otot sekitar luka gigitan. Kemudian virus akan berjalan menuju
susunan saraf pusat melalui saraf perifer tanpa ada gejala klinis. Setelah
mencapai otak, virus akan melakukan replikasi secara cepat dan menyebar
luas ke seluruh sel-sel saraf otak/neuron terutama sel-sel sistem limbik,
hipotalamus dan batang otak. Setelah memperbanyak diri dalam neuron-
neuron otak, virus berjalan ke arah perifer melalui serabut saraf eferen baik
sistem saraf volunter maupun otonom. Dengan demikian virus ini menyerang
hampir tiap organ dan jaringan di dalam tubuh, dan virus akan berkembang
biak dalam jaringan-jaringan seperti kelenjar ludah, ginjal dan sebagainya1,3,4.

F. Gejala Klinis

 Tahap Prodromal
Pada tahap awal gejala yang timbul adalah demam, lemas, lesu, tidak
nafsu makan/ anorexia, insomnia, sakit kepala hebat, sakit
tenggorokan dan sering ditemukan nyeri6.
 Tahap Sensoris

7
Pada tahap ini sering ditemukan rasa kesemutan atau rasa panas
(parestesi) di lokasi gigitan, cemas dan reaksi berlebih terhadap
rangsang sensorik6.
 Eksitasi
Pada tahap ini penderita mengalami berbagai macam gangguan
neurologik, penderita tampak bingung, gelisah, mengalami halusinasi,
tampak ketakutan disertai perubahan perilaku menjadi agresif, serta
adanya bermacam-macam fobia yaitu hidrofobia, aerofobia, fotofobia.
Hidrofobia merupakan gejala khas penyakit rabies karena tidak
ditemukan pada penderita penyakit enchepalitis lainnya. Gejala
lainnya yaitu spasme otot, hiperlakrimasi, hipersalivasi, hiperhidrosis
dan dilatasi pupil. Setelah beberapa hari pasien meninggal karena
henti jantung dan pernafasan. Dari seluruh penderita rabies sebanyak
80% akan mengalami tahap eksitasi dan lamanya sakit untuk tahap ini
adalah 7 hari dengan rata-rata 5 hari1,6.
 Paralisis
Bentuk lainnya adalah rabies paralitik, bentuk ini mencapai 30 % dari
seluruh kasus rabies dan masa sakit lebih lama dibandingkan dengan
bentuk furious. Bentuk ini ditandai dengan paralisis otot secara
bertahap dimulai dari bagian bekas luka gigitan/cakaran. Penurunan
kesadaran berkembang perlahan dan akhirnya mati karena paralitik
otot pernafasan dan jantung. Pada pasien dengan gejala paralitik ini
sering terjadi salah diagnosa dan tidak terlaporkan. Lamanya sakit
untuk rabies tipe paralitik adalah 13 hari, lebih lama bila
dibandingkan dengan tipe furious1,6.

8
G. Diagnosa

Selama periode awal infeksi rabies, temuan laboratorium tidak spesifik.


Seperti temuan ensefalitis oleh virus lainnya, pemeriksaan cairan serebrospinal
menunjukkan pleositosis dengan limfositosis, protein dapat sedikit meningkat,
glukosa umumnya normal. Untuk mendiagnosis rabies antemortem diperlukan
beberapa tes, tidak bisa dengan hanya satu tes. Tes yang dapat digunakan untuk
mengkonfirmasi kasus rabies antara lain deteksi antibodi spesifik virus rabies, isolasi
virus, dan deteksi protein virus atau RNA. Spesimen yang digunakan berupa cairan
serebrospinal, serum, saliva, dan biopsi kulit. Pada pasien yang telah meninggal,
digunakan sampel jaringan otak yang masih segar. Diagnosis pasti postmortem
ditegakkan dengan adanya badan Negri pada jaringan otak pasien, meskipun hasil
positif kurang dari 80% kasus3.

Tidak adanya badan Negri tidak menyingkirkan kemungkinan rabies. Badan


Negri adalah badan inklusi sitoplasma berbentuk oval atau bulat, yang merupakan
gumpalan nukleokapsid virus. Ukuran badan Negri bervariasi, dari 0,25 sampai 27
μm, paling sering ditemukan di sel piramidal Ammon’s horn dan sel Purkinje
serebelum. Rabies perlu dipertimbangkan jika terdapat indikator positif seperti
adanya gejala prodromal nonspesifik sebelum onset gejala neurologik,terdapat gejala
dan tanda neurologik ensefalitis atau mielitis seperti disfagia, hidrofobia, paresis dan
gejala neurologi yang progresif disertai hasil tes laboratorium negatif terhadap
etiologi ensefalitis yang lain3.

9
H. Penatalaksanaan

Terdapat 3 unsur yang penting dalam PEP (Post Exposure


Praphylaxis), yaitu: (1) perawatan luka, (2) serum antirabies (SAR), dan (3)
vaksin antirabies (VAR). Tindakan pertama yang harus dilaksanakan adalah
membersihkan luka dari saliva yang mengandung virus rabies. Luka segera
dibersihkan dengan cara disikat dengan sabun dan air (sebaiknya air
mengalir) selama 10-15 menit kemudian dikeringkan dan diberi antiseptik
(merkurokrom, alkohol 70%, povidon-iodine, 1-4% benzalkonium klorida
atau 1% centrimonium bromida). Luka sebisa mungkin tidak dijahit Jika
memang perlu sekali, maka dilakukan jahitan situasi dan diberi SAR yang
disuntikkan secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin dan sisanya
disuntikkan secara intramuskuler ditempat yang jauh dari tempat inokulasi
vaksin. Disamping itu, perlu dipertimbangkan pemberian serum/vaksin
antitetanus, antibiotik untuk mencegah infeksi dan pemberian analgetik3,7.

 Dosis dan Cara Pemberian Vaksin Anti Rabies


1. Vaksin PVRV (Purified Vero Rabies Vaccine) terdiri dari
vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak 0,5 ml dalam
syringe
- Dosis dan cara pemberiannya sesudah digigit; cara
pemberiannya adalah disuntikkan secara intramuskular
(im) di daerah deltoideus/ lengan atas kanan dan kiri.
Dosis untuk anak dan dewasa sama yaitu 0,5 ml dengan 4
kali pemberian yaitu hari ke 0 (dua kali pemberian
sekaligus), hari ke 7 satu kali pemberian dan hari ke 21
satu kali pemberian.
- Dosis dan cara pemberian VAR bersamaan dengan SAR
sesudah digigit; cara pemberiannya sama di atas. Dosis
untuk anak dan dewasa sama yaitu Dasar 0,5 ml dengan 4
kali pemberian yaitu hari ke 0 (dua kali pemberian
sekaligus), hari ke 7 satu kali pemberian dan hari ke 21

10
satu kali pemberian. Ulangan 0,5 ml sama pada anak dan
dewasa pada hari ke 90.

2. Suckling Mice Brain Vaccine (SMBV) mempunyai kemasan


yang terdiri dari dos berisi 7 vial 1 dosis dan 7 ampul pelarut 2
ml dan Dos berisi 5 ampul 1 dosis intra kutan dan 5 ampul
pelarut 0,4 ml

- Dosis dan cara pemberian sesudah digigit adalah : cara


pemberian untuk vaksinasi dasar disuntikkan secara
subcutan (sc) disekitar pusar. Sedangkan untuk vaksinasi
ulang disuntikkan secara intracutan (ic) dibagikan fleksor
lengan bawah. Dosis untuk vaksinasi dasar pada anak
adalah 1 ml, dewasa 2 ml diberikan 7 kali pemberian setiap
hari, untuk ulangan dosis pada anak 0,1 ml dan dewasa
0,25 ml diberikan pada hari ke 11,15,30 dan hari ke 90.
- Dosis dan cara pemberian bersamaan dengan SAR sesudah
digigit ; cara pemberian sama dengan diatas. Dosis dasar
untuk anak 1 ml, dewasa 2 ml diberikan 7 kali pemberian
setiap hari, untuk ulangan dosis pada anak 0,1 ml dan
dewasa 0,25 ml diberikan pada hari ke 11,15,25,35 dan
hari ke 90.

 Dosis dan Cara Pemberian Serum Anti Rabies (SAR)

1. Serum heterolog (Kuda),mempunyai kemasan bentuk vial 20


ml (1 ml = 100 IU). Cara pemberian: disuntikkan secara
infiltrasi disekitar luka sebanyak mungkin, sisanya disuntikkan
intramuskular. Dosis 40 Iu/KgBB diberikan bersamaan dengan
pemberian VAR hari ke 0, dengan melakukan skin test terlebih
dahulu.

11
2. Serum homolog, mempunyai kemasan bentuk vial 2 ml ( 1 ml
= 150 IU). Cara pemberian : disuntikkan secara infiltrasi
disekitar luka sebanyak mungkin,sisanya disuntikkan
intramuskular. Dosis 20 Iu/ kgBB diberikan bersamaan dengan
pemberian VAR hari ke 0, dengan sebelumnya dilakukan skin
test.

 Dosis dan Cara Pemberian VAR untuk Pengebalan Sebelum


Digigit (Pre Exposure Immunization) Khusus untuk mereka yang
berisiko tinggi mendapat paparan virus rabies, seperti staf
laboratorium, dokter hewan, dan petugas yang menangani hewan
liar

1. Vaksin PVRV (Purified Vero Rabies Vaccine) terdiri dari


vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak 0,5 ml dalam
syringe.

- Cara pemberian pertama: disuntikkan secara intramuskular


(im) didaerah deltoideus. Dosisnya: dasar digunakan dua
dosis masing-masing 0,5 ml pemberian pada hari 0,
kemudian hari ke 28 dengan dosis 0,5 ml.
- Diberikan ulangan pada 1 tahun setelah pemberian I
dengan dosis 0,5 ml dan ulangan selanjutnya 0,5 ml tiap
tiga tahun.
b. Cara pemberian kedua: disuntikkan secara intra kutan
(dibagian fleksor lengan bawah) dengan dosis dasar 0,1 ml
pemberian hari ke 0, kemudian hari ke 7 dan hari ke 28
dengan dosis 0,1 ml. Ulangan diberikan tiap 6 bulan- satu
tahun dengan dosis 0,1 ml.

12
I. Pencegahan

Pemeliharaan hewan peliharaan/hobi dilaksanakan penuh rasa tanggung


jawab dan memperhatikan kesejahteraan hewan, jangan diliarkan atau diumbar
keluar pekarangan rumah tanpa pengawasan dan kendali ikatan1.

 Berikan vaksinasi anti rabies pada hewan peliharaan anda secara berkala di
Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas kesehatan hewan atau dinas
peternakan, atau ke dokter hewan.
 Segera melapor ke puskesmas/rumah sakit terdekat apabila digigit oleh
hewan tersangka rabies untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR)
sesuai indikasi.
 Apabila melihat binatang dengan gejala rabies, segera laporkan kepada
Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), dinas peternakan/yang membawahi
bidang peternakan atau dinas kesehatan hewan

13
BAB III

PENUTUP

Rabies disebut juga penyakit anjing gila adalah suatu penyakit infeksi akut
pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini telah
dikenal sejak berabadabad yang lalu dan merupakan penyakit yang menakutkan
bagi manusia karena penyakit ini selalu diakhiri dengan kematian. Penyakit ini
menyebabkan penderita tersiksa oleh rasa haus namun sekaligus merasa takut
terhadap air (hydrophobia). Rabies bersifat fatal baik pada hewan maupun
manusia, hampir seluruh pasien yang menunjukkan gejala–gejala klinis rabies
(encephalomyelitis) akan diakhiri dengan kematian.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes R.I. Buku saku petunjuk teknis penatalaksanaan kasus gigitan


hewan penular rabies di Indonesia. 2016;53(9):1689-1699.

2. Novita R. Pemberantasan Rabies di Indonesia sebagai Upaya Mewujudkan


Right to Life, Right to Health. Balaba J Litbang Pengendali Penyakit
Bersumber Binatang Banjarnegara. Published online 2019:151-162.
doi:10.22435/blb.v15i2.1581

3. Tanzil K. Penyakit rabies dan penatalaksanaannya Bagian Mikrobiologi


Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. E-journal WIDYA Kesehat dan
Lingkung. 2017;1(1):61-67.

4. Mardjono PDM, Sidharta PDP. Neurologi Klinis Dasar. Cetakan ke. Dian
Rakyat; 2014.

5. Kementerian Kesehatan RI. Situasi dan Analisis Rabies. Info Datin.


Published online 2020:1-6.

6. Corey, Lawrence. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13.


EGC; 2018.

7. Windiyaningsih C. Kumpulan Pertanyaan Dan Jawaban Rabies. Rajawali


Pers; 2018.

15

Anda mungkin juga menyukai