Binar menatap Rafka sekilas. "Jangan pernah menandatangani kontrak dengannya!
Aku
akan meminta pada papah untuk mempertimbangkannya."
Tepat pukul 18.30. Binar memasuki kawasan perumahan kakeknya. Dia benar-benar
membawa Rafka kembali ke rumah Cakra. Rafka sudah membujuk Binar untuk pulang ke
rumah Adhitama, namun Binar bersikeras ingin pergi ke sana.
"Mereka pasti menertawakan aku. Tadi pagi, aku sudah bilang akan menginap di
rumah," sungut Rafka.
Binar tidak menggubris celotehan adiknya. Dia hanya berfokus pada kendaraan yang
sedang dikemudikannya. Binar curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga tadi
pagi Rafka pergi ke rumah kakeknya. Karena itu, sore ini Binar mengajak Rafka pergi
ke sana. Dia ingin memastikan semuanya baik-baik saja.
Karena Binar tidak menggubris, Rafka menatap Binar dengan tajam. "Bi ... kamu tidak
mendengarkan aku?"
"Aku dengar. Tapi bagaimana lagi, Kita sudah sampai," ujar Binar seraya memarkirkan
mobilnya di pekarangan rumah kakeknya. "Ayo turun!"
"CK! Seharusnya, aku tidak pernah memberikan kunci mobilku," decak Rafka. Dia turun
dari mobil, kemudian berjalan menuju rumah. Rafka merajuk.
Binar terkekeh. Dia membiarkan Rafka pergi lebih dulu, sedang dirinya bercermin
memperhatikan wajahnya. Binar tidak mau ibunya cemas melihat wajahnya yang lusuh.
Bening kaget melihat Rafka yang kembali ke rumah Cakra. Dia heran melihat wajah
putranya yang cemberut. "Ada apa? Kenapa wajahmu tertekuk seperti itu?"
Rafka berjalan menghampiri ibunya yang duduk bersama Arka dan Elin di sofa. Dia
melepas jasnya, lalu melemparnya pada Arka. Kemudian membaringkan tubuhnya
disebelah Bening. Rafka meletakkan kepalanya di pangkuan Bening.
"Binar menyebalkan!" dengus Rafka.
Arka yang kesal dilempar jas, melempar kembali jas milik kakaknya. Rafka membiarkan
saja wajahnya yang tertutupi jas. Dia memejamkan matanya. Rafka masih kesal pada
Binar dan Andrian.
"Ada apa? Kok cemberut begini? Binar mana?" tanya Bening seraya menyingkirkan jas
dari wajah putranya.
"Tidak tahu," jawab Rafka. Dia menutupi wajah dengan lengannya.
Bening mengernyit. "Kalian bertengkar?"
Rafka diam tidak menjawab. Tak lama, Binar masuk. Dia menyapa ibu, nenek dan
adiknya. Binar terkesiap melihat wajah Arka yang terlihat pucat.
"Kamu sakit?" tanya Binar seraya duduk di samping Arka.
Elin menuangkan teh, kemudian memberikannya kepada Binar
"Hanya demam," jawab Arka.
Binar manggut-manggut. Sekarang, dia mengerti kenapa Rafka tadi pagi buru-buru
pergi ke rumah neneknya. Tatapan Binar beralih pada Rafka. Dia berdecih melihat
Rafka yang masih merajuk.
"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Bening.
Binar mengerdikkan bahunya.
"Mungkin dia hanya sedang ingin dimanja," jawab Binar seraya menyesap teh yang
neneknya berikan.
Bening mengernyit, Binar dan Rafka memang sering bertengkar. Tapi, biasanya Rafka
tidak sampai merajuk seperti sekarang. Bening menyingkap lengan Rafka dari
wajahnya.
"Coba katakan pada Mama apa yang kakakmu lakukan sehingga kamu marah padanya?"
tanya Bening.
Rafka membuka mata. Dia bangkit dari pangkuan ibunya. Bibirnya mengatup. Rafka
bingung menjawab pertanyaan ibunya. Tidak mungkin Rafka mengatakan kalau dirinya
cemburu melihat Binar dan Andrian berkencan.
"Binar sudah mengacaukan pertemuan Rafka dengan wanit tua gebetannya," celetuk
Binar menjawab pertemuan ibunya.
"Wanita tua?" tanya Bening. Tatapan semua orang tertuju pada Binar.
"Rafka mendekati wanita tua yang hampir seumuran mamah. Selera Rafka terlalu
rendah," jawab Binar. "Dia bukan wanita baik untuknya."
"Memangnya ada wanita baik yang Rafka dekati selama ini? Dari dulu seleranya memang
seperti itu," celetuk Arka.
Bening dan Elin terkekeh. Sedang Rafka, dia menatap tajam kedua saudaranya.
"Menyebalkan!" umpat Rafka.
Semua orang tertawa melihat kekesalan Rafka.
"Papah dan kakek dimana?" tanya Binar.
"Di atas. Sedang bermain catur," jawab Elin.
Binar menyimpan cangkir yang dipegangnya. Kemudian bangkit dari sofa. "Binar mau
bertemu papah dan kakek dulu."
Bening mengangguk. Rafka memperhatikan punggung Binar yang pergi menjauh. Dia
bingung, ikut menyusul Binar atau tidak. Rafka penasaran dengan yang akan Binar
bicarakan pada ayahnya. Rafka pun beranjak menyusul Binar.
"Rafka ke atas dulu," ucapnya.
Binar menghampiri ayah dan
kakeknya yang sedang duduk di sofa. Dia menyapa mereka, kemudian duduk pada sofa
single antara Rafa dan Cakra. Tanpa basa basi, Binar membicarakan tentang Salima.
Rafa terkejut. Biasanya Binar tidak pernah mempermasalahkan wanita yang
bekerjasama dengan Rafka.
"Memang apa masalahnya dengan nyonya salima? Papah dengar, Salima memang lebih
mementingkan karir daripada menikah. Karena itu, dia belum menikah," tutur Rafka
menimpali keluhan putrinya.
"Tapi, pah. Bukan itu masalahnya. Binar tidak suka melihat tatapannya terhadap
Rafka. Dia itu seperti-,"
"Jangan berlebihan Bi" ujar Rafka. Memotong perkataan benar. " Mernurutku Andrian
terlihat lebih mencurigakan. Dia mengejar-ngejarmu padahal kalian baru saling
kenal."
Binar mendelik. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Kita sedang membicarakan wanita
itu bukan Andrian."
"Salima ... Wanita itu punya nama. Dia lebih tua darimu jadi kamu harus
menghormatinya," balas Rafka. Kesal karena Binar membela Andrian.
Binar berdiri. Dia menatap Rafa dengan nyalang. "Terserah! Aku sudah memperingatkan
kamu tentang wanita itu."
Tanpa mempedulikan ayah dan kakeknya yang bengong memperhatikan pertengkaran
dirinya dan Rafka. Binar bergegas pergi kembali ke lantai bawah.
"Dasar menyebalkan! Sudah jelas-jelas Andrian terlihat mencurigakan tapi tidak
peka," gerutu Rafka. Dia duduk di sofa bekas Binar duduk. Kemudian menyenderkan
punggungnya dengan malas.
Rafa menatap putranya. "Ada apa dengan kalian? Kenapa ribut seperti itu?"
Rafka merengut seraya menatap ayah dan kakeknya bersamaan. Dia bingung
mengungkapkan perasaannya kepada mereka.
"Rafka tidak setuju jika Binar dekat dengan Andrian," tutur Rafka.
Rafa mengernyit. "Kenapa? Dia pemuda yang baik."
"Andrian itu ... " jawab Rafa terpotong. "Sudahlah!"
Rafka tidak mau membahas tentang kebohongan Andrian. Dia takut ayahnya berpikiran
macam-macam tentang dirinya. Rafka tidak mau ayahnya curiga kalau dirinya mencintai
Binar. Dia belum siap menghadapi kemarahan ayahnya.
Sebelumnya, ketika di mobil. Binar sudah menceritakan tentang kebohongan Andrian
tentang makan siang yang dibilang kencan olehnya. Rafka kesal pada mereka berdua.
Karena itu, Rafka uring-uringan.
Rafa dan Cakra saling melempar pandang. Bingung dengan sikap Rafka dan Binar yang
tidak biasa.
"Mengenai nyonya Salima, apa ada masalah? Kenapa Binar terlihat tidak menyukainya?"
tanya Rafa. Teringat dengan aduan putrinya.
Rafka menegakkan duduknya. Wajahnya berubah serius. "Papah dan kakek ingat saat
Rafka bilang Binar bertengkar dengan seorang wanita?"
Rafa dan dan Cakra mengangguk.
"Bukankah Binar bertengkar dengan wanita yang mengganggu Arka?" tanya Cakra.
Ganti Rafka mengangguk. "Ternyata...Nyonya Salima adalah wanita yang papah curigai
sudah menganggu Arka. Dia juga wanita yang sudah bertengkar dengan Binar kemarin
siang."
Rafa dan Cakra terkejut. Sejenak, mereka terdiam sambil berpandangan. Rafa memang
sempat mendengar tentang Salimah yang akan bekerjasama dengan perusahaannya.
Namun, Rafa hanya mendengar sekilas dari Kevin. Karena proyek yang berhubungan
dengan Salima sudah ditangani langsung oleh Rafka.
"Memang sebelumnya kamu belum pernah melihat wajah Salima?" tanya Cakra pada
putranya. Dia tidak habis pikir, Rafa menyetujui kerjasama dengan orang yang tidak
dikenalnya.
"Hanya mendengar sekilas dari Kevin," jawab Rafa.
"Kamu juga tidak memeriksa lebih rinci mengenai orang yang akan menjadi rekan
bisnismu?" tanya Cakra pada Rafka.
Rafka meringis. "Revan sudah memeriksakan."
"Astaga! Kalian sama-sama ceroboh! Papah bingung, bagaimana perusahaan bisa maju di
pimpin oleh pria ceroboh seperti kalian!"
"Pah! /Kek!" Rafa dan Rafka protes dengan cibiran Cakra.