0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan9 halaman

Karakteristik dan Lama Rawat Inap Stroke

Studi ini meneliti hubungan antara karakteristik pasien dengan lama rawat inap pasien stroke di rumah sakit. Stroke merupakan masalah kesehatan besar yang angka kejadiannya terus meningkat. Beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, komorbiditas seperti hipertensi dan diabetes dapat mempengaruhi lama perawatan pasien stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien mana saja yang berhubungan

Diunggah oleh

Riski Nurul Insani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan9 halaman

Karakteristik dan Lama Rawat Inap Stroke

Studi ini meneliti hubungan antara karakteristik pasien dengan lama rawat inap pasien stroke di rumah sakit. Stroke merupakan masalah kesehatan besar yang angka kejadiannya terus meningkat. Beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, komorbiditas seperti hipertensi dan diabetes dapat mempengaruhi lama perawatan pasien stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien mana saja yang berhubungan

Diunggah oleh

Riski Nurul Insani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN KARAKTERISTIK DENGAN LENGHT OF STAY

(LOS) PASIEN STROKE DI RUANG RAWAT INAP ANYELIR


DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN
SUMEDANG

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai


Gelar Sarjana Keperawatan

RISKI NURUL INSANI


NIM 191FK03082

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA
2023
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Stroke menjadi penyebab sekitar 11% dari total kejaian atau sekitar 6 juta
kasus yang berasal 55,4 juta kematian diseluruh dunia. Stroke ialah salah satu
penyakit dengan angka kematian tertinggi ke-2 di dunia ditahun 2019 (WHO,
2020). Penyakit yang menjadi persoalan di dunia salah satunya adalah stroke,
terbukti dengan tanggal 29 oktober merupakan hari stroke sedunia. Tercatat
hampir 85% orang mempunyai kemungkinan terkena penyakit stroke, tetapi
dengan adanya atau bertambahnya kesadaran dalam mengatasi faktor resiko
yang terjadi dapat mengurangi jumlah pasien stroke (Firmansyah, [Link] 2021).
Prediksi badan kesehatan dunia mengatakan tingkat penderita strok semakin
bertambah. (Laily, 2017).

Berdasarkan South Asian Medical Information Centre, Indonesia menjadi


negara dengan angka kematian akibat stroke tertinggi dibandingkan Filipina,
Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand (Rahmadani & Rustandi, 2019).
Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebutkan kejadian stroke di Indonesia tercatat
sebanyak 2.120.362 kasus (10,9%). Di Indonesia angka kejadian stroke ialah
yang terbanyak dikawasan asia, di negara Singapura angka kematian akibat
stroke menurun dari 99 menjadi 55 per 100.000 penduduk seiring dengan
meningkatnya mutu pelayanan dan teknologi kesehatan yang ada dinegara
tersebut. Sementara itu di Thailand kematian akibat stroke adalah 11 per
100.000 penduduk. Hal tersebut dapat mengakibatkan jumlah penderita pasca
stroke selamat dangan kecacatan menurun dimasyarakat ( Khairatunnisa, 2017).

Secara nasional prevelensi stroke di Indonesia pada tahun 2018


berdasarkan diagnosis dokter umur >15 tahun sebanyak 10,9% atau
diperkirakan sebanyak 2.120.362 orang. Provinsi Kalimantan Timur beserta
provinsi Yogyakarta 14,6% memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia dan
untuk prevelensi kasus stroke terendah itu sendiri berada diprovinsi Papua dan
Maluku Utara masing masin memiliki 4,1% dan 4,6% (Riskesdas, 2018).
Berdasarkan Hasil Laporan Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2019,
Indonesia menunjukkan sekitar 72,3% kasus stroke dimasyarakat telah
didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di
Nanggroe Aceh Darussalam (16,6 per 1000 penduduk) dan terendah di Papua
(3,8 per 100 penduduk). Dengan data tersebut, hendaknya dapat dibuat
kebijakan oleh pemerintah, seperti departemen kesehatan, untuk mencegah
peningkatan angka kejadian stroke di Indonesia (Riskesdas, 2019). Jawa Barat
memiliki prevalensi penderita stroke berdasarkan diagnosis dokter sebanyak
11,4% atau terhitung sebanyak 131.846 peneduduk Jawa Barat yang mengalami
stroke. Sedangkan kabupaten Sumedang jumlah penderita stroke pada tahun
2019 terhitung sebanyak 3.988 orang.

Prevalensi penyakit stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia,


tertinggi pada umur ≥75 tahun (43,1% 94 dan 67,0%). Prevalensi stroke yang
dijumpai sama tingginya pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi stroke
cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan pendidikan rendah (32,8%).
Prevalensi lebih tinggi pada masyarakat yang tidak bekerja (18%) (Riskesdas,
2019). Prevelensi stroke tertinggi yaitu pada kelompok umur 75+ sebesar 50,2.
Prevalensi berdasarkan jenis kelamin tidak jauh berbeda antara laki-laki dan
perempuan masing-masing 11,0 dan 10,9 per kmil (Kemenkes,2019).

Stroke adalah suatu keadaan dimana ditemukan tanda-tanda klinis yang


berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global yang dapat
memberat dan berlangsung lama selama 24 jam atau lebih dan dapat
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vascular
(WHO 2022) . Stroke terjadi apabila pembuluh darah otak mengalami
penymbatan atau pecah. Akibatnya sebagian otak tidak mendapatkan pasokan
darah yang membawa oksigen yang diperlukan sehingga mengalami kematian
sel atau jaringan. Stroke merupakan penyakit kronis yan,g memberikan
dampak berbahaya yang diakibatkan oleh gangguan peredaran darah otak
karena penyumbatan pembuluh darah arteri akibat endapan darah pada
pembuluh darah, pecahnya pembuluh darah dampak kelemahan dinding
pembuluh darah atau kelainan di keadaan darah sendiri yang mengakibatkan
kurangnya pasokan oksigen dan nutrisi ke otak yang menimbulkan kerusakan
di jaringan otak (Sulaiman & Anggriani, 2017). Stroke didefinisikan sebagai
suatu kondisi dimana suplai nutrisi menuju otak berkurang dimana disebabkan
oleh tersumbatnya saluran pembuluh darah menuju otak (Ghozali, 2018)

Gejala stroke yang muncul sangat bergantung pada bagian otak yang
terganggu, gejala kelemahan sampai kelumpuhan anggota gerak, bibir tidak
simetris, bicara pelo atau tidak dapat berbicara (afasia), nyeri kepala,
penurunan kesadaran, dan gangguan rasa (misalnya kebas di salah satu
anggota gerak). Sedangkan stroke yang menyerang cerebellum akan
memberikan gejala pusing berputar (vertigo) University Library, 2016)).Gejala
umum yang terjadi pada stroke yaitu wajah, tangan atau kaki yang tiba tiba
kaku atau mati rasa dan lemah, biasanya terjadi pada satu sisi tubuh. Gejala
lainnya yaitu kesulitan untuk melihat baik dengan satu mata maupun kedua
mata, kesulitan jalan, kehilangan keseimbangan dan koordinasi, pingsan atau
kehilangan kesadaran. Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik
yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global)
dengan gejalagejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.

Lama rawat inap atau LOS (Length of Stay) adalah jumlah lama hari rawat
pasien yang ditunjukkan dalam catatan di rumah sakit yaitu khusus jumlah
hari dari tanggal masuknya pasien (admission) hingga ke tanggal kepulangan
pasien (discharge). Lama rawat inap dihitung sejak penerimaan pasien masuk
rumah sakit di perawatan rawat inap. Setiap pasien dihitung lama rawatnya
berdasarkan jumlah hari antara masuk dan keluarnya pasien tersebut dari
rumah sakit (Ramdhani A, 2017). Karakteristik yang mempengaruhi lama
rawat inap pasien, berdasarkan penelitian Sulistyani dan Purhadi (2018) yang
menganalisis laju perbaikan kondisi klinis pasien stroke menggunakan metode
Regresi Cox Weibull menunjukkan bahwa usia memengaruhi kecepatan
perbaikan klinis pasien stroke.

Berdasarkan hasil penelitian Stroke lebih banyak terjadi pada laki-laki


dibandingkan perempuan pada berbagai tingkat umur. Akan tetapi pada
tingkat umur di atas 85 tahun prevalensi stroke lebih tinggi terjadi pada
perempuan. Hal ini disebabkan karena wanita memiliki hormon estrogen yang
berfungsi mempertahankan kekebalan tubuh sebagai proteksi dari
aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah arteri)
hingga menopause (Darmapadmi, 2018). Komorbiditas adalah penyakit yang
menyertai diagnosis utama atau kondisi yang sudah ada sebelum pasien masuk
rawat dan membutuhkan pelayanan kesehatan setelah masuk maupun selama
rawat (Kemenkes, Pokja Koding Tim Tarif INA-CBG, 2018). Beberapa contoh
komorbiditas pada stroke yaitu hipertensi, diabetes melitus, dan
hiperkolesterol/hiperlipidemia.

Beberapa penelitian mengenai hubungan hipertensi dengan lama rawat


inap stroke menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian yang dilakukan
Manabe et al. (2017) pada pasien stroke iskemik di Jepang menunjukkan
bahwa pasien stroke dengan hipertensi memerlukan rawat inap lebih lama
dibandingkan pasien stroke tanpa hipertensi (Darmapadmi, 2018). Hal ini
berbanding terbalik dengan 40 penelitian Sulistyani dan Purhadi (2018) pada
pasien stroke di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya yang menunjukkan bahwa
tekanan darah sistolik maupun diastolik tidak memengaruhi secara signifikan
perbaikan klinis pasien rawat inap stroke. Namun, pada penelitian tersebut
menunjukkan bahwa diabetes melitus memengaruhi laju perbaikan klinis
pasien stroke rawat inap. Penelitian lain yang dilakukan Nakagawa et al. (2017)
pada penduduk Hawai dan Kepulauan Pasifik juga menunjukkan hal yang
sama bahwa pasien stroke iskemik dengan riwayat diabetes melitus
mengalami perbaikan klinis lebih lambat dibandingkan dengan pasien tanpa
diabetes melitus sehingga memerlukan rawat inap yang lebih lama. Sedangkan
peningkatan kadar kolesterol darah akan meningkatkan risiko stroke dan
memperburuk kondisi pasien pada saat serangan stroke. Penelitian Sulistyani
dan Purhadi (2018) menunjukkan bahwa pasien stroke dengan hiperkolesterol
memiliki laju perbaikan klinis lebih lambat daripada pasien tanpa
hiperkolesterol sehingga memerlukan rawat inap yang lebih lama.

Merajuk pada hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di


Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada tanggal 30 Desember
2022 melalui hasil pengamatan didapatkan data pasien yang mengalami lenght
of stay lebih dari standar, data yang diambil dari 11 rekam medis yang
mengalami lenght of stay lebih dari standar ada 10 rekam medis, yang terdiri
dari 4 perempuan, keempatnya mengalami stroke iskemik dengan penyakit
tambahan hipertensi dan hiperglikemia, adapun data rekam medis pada pasien
laki-laki yang berjumlah 5 orang yang mengalami stroke hemoragik dengan
lenght of stay lebih dari 7 hari dan memiliki penyakit tambahan hipertensi dan
hiperglikemia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam


penelitian ini adalah “ Hubungan Karakteristik Dengan Lenght Of Stay (LOS)
paseien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Sumedang”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan karakteristik dengan Lenght Of Stay


(LOS) pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Sumedang.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi hubungan karakteristik jenis stroke terhadap


lenght of stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada bulan Juni
hingga November 2022
2. Mengidentifikasi hubungan karakteristik usia terhadap lenght of
stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada bulan Juni hingga
November 2022
3. Mengidentifikasi hubungan karakteristik jenis kelamin terhadap
lenght of stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada bulan Juni
hingga November 2022
4. Mengidentifikasi hubungan karakteristik hipertensi terhadap
lenght of stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada bulan Juni
hingga November 2022
5. Mengidentifikasi hubungan karakteristik diabetes melitus terhadap
lenght of stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada bulan Juni
hingga November 2022
6. Mengidentifikasi hubungan karakteristik variabel hiperkolestrol
terhadap lenght of stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir
di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada bulan
Juni hingga November 2022
7. Mengidentifikasi hubungan karakteristik kesadaran pasien
terhadap lenght of stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir
di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang pada bulan
Juni hingga November 2022

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai


referensi dan pengembangan ilmu asuhan keperawatan medikal bedah
tentang hubungan karakteristik kesadaran pasien terhadap lenght of
stay pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di Rumah Sakit Umum
Daerah Kabupaten Sumedang.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan proses belajar khususnya dalam
bidang metode penelitian. Penelitian ini juga dapat menjadi bahan
informasi dan menambah pengetahuan hubungan karakteristik
kesadaran pasien terhadap lenght of stay pasien stroke di ruang
rawat inap Anyelir di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Sumedang.
2. Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang
Penelitian ini diharapkan menjadi acuan dalam memberikan
intervensi dan implementasi keperawatan pada penderita stroke di
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang.
3. Bagi Universitas Bhakti Kencana
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi dalam
bidang keperawatan khususnya keperawatan medikal bedah.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Dari hasil penelitian ini diharapakan dapat berguna sebagai bahan
literature dan dapat memberikan informasi serta wawasan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan bidang ilmu keperawatan medikal bedah, penelitian ini
menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dimana yang dilakukan untuk
mengetahui nilai variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan
atau menghubungkan dengan variabel lain, desain penelitian yang digunakan yaitu
desian retrospektif dengan sampel pasien stroke di ruang rawat inap Anyelir di
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang.
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, E. N., 2019. Hidup Bersama Pasien Stroke. Buletin RSPONDecember,


Amiman, R. C., Tumboimbela, M. J. & Kembuan, M. A. H. N., 2016. Gambaran
Length of Stay Pada Pasien Stroke Rawat Inap di RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado Periode Juli 2015-Juni 2016. Jurnal e-Clinic (eCl), 4(2).
Andreani, F. V., 2017. Hubungan Antara Gula Darah Sewaktu dan Puasa
dengan Perubahan Skor NIHSS pada Stroke Iskemik Akut, Semarang:
Universitas Diponegoro.
Curtain, J. P. et al., 2017. Determinants of Length of Stay Following Total
AnteriorCirculatory Stroke. Geriatrics, 2(3), pp. 1-9.
Darmapadmi, L. P. K., 2018. Analisis Determinan Lama Rawat Inap Pasien
Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Klungkung Menggunakan Metode
Kesintasan. Arc. Com. Health, 5(1), pp. 1-8.

Darmapadmi, L. P. K., 2018. Analisis Determinan Lama Rawat Inap Pasien


Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Klungkung Menggunakan Metode
Kesintasan. Arc. Com. Health, 5(1), pp. 1-8.
Firmansyah, A., Setiawan, H., & Ariyanto, H. (2021). Studi Kasus Implementasi
Evidence-Based

Ghani, L., Mihardja, L. K. & Delima, 2016. Faktor Risiko Dominan Penderita
Stroke di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan, 44(1), pp. 49-58.

Ghozali, O. P., 2018. Studi Penggunaan Obat Golongan CCB (Calcium Channel
Blocker) Pada Pasien Stroke Iskemik di Instalasi Rawat Inap, Malang:
Universitas Muhammadiyah Malang.

Ghozali, O. P., 2018. Studi Penggunaan Obat Golongan CCB (Calcium Channel
Blocker) Pada Pasien Stroke Iskemik di Instalasi Rawat Inap, Malang:
Universitas Muhammadiyah Malang.

Anda mungkin juga menyukai