1
PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
RADIOLOGI
2
BAB 1
PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Program Keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi perlu disusun dalam upaya
melindungi pekerja radiasi, masyarakat dan lingkungan dari bahaya radiasi. Program ini disusun
secara sistematis dan terencana, sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah No. 29 tahun
2008 tentang perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan bahan Nuklir, dengan
mempertimbangkan Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi
Pengion dan sumber zat Radioaktif, Perka Bapeten no. 8 tahun 2011 tentang Keselamatan
Radiasi dalam penggunaan pesawat Sinar X Radiologi Diagnostik dan Intervensional, serta Perka
BAPETEN No. 4 tahun 2013 tentang Protekasi dan Keselamatan Radiasi dalam pemanfaatan
tanaga Nuklir.
Untuk memastikan keselamatan dan kesehatan pekerja, masyarakat, dan lingkungan
hidup, RS GRAHA HUSADA berprinsip bahwa kegiatan pemanfaatan radiasi pengion
direncanakan , dan di operasikan sesuai dengan ketentuan yang di tetapkan oleh BAPETEN dan
menjamin paparan radiasi ditekan serendah rendahnya. Penerimaan dosis radiasi terhadap
pekerja dan masyarakat tidak boleh melebihi Nilai Batas Dosis ( NBD ) yang ditetapkan oleh
BAPETEN.
I.2. Tujuan
Tujuan pembuatan dokumen ini adalah :
Memberikan gambaran tentang fasilitas, pesawat sinar – x, peralatan penunjang dan
perlengkapan proteksi;
Memastikan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi di fasilitas terpenuhi
dan dapat di review atau dikaji ulang sesuai dengan pemanfaatannya; dan
Pelaksanaan pelayanan radiologi diagnostik dan intervensional dapat memenuhi prinsip
prinsip keselamatan radiasi.
3
I.3. Ruang lingkup
Lingkup program proteksi ini mencakup seluruh pesawat sinar x untuk tujuan
pemanfaatan radiologi diagnostik di RS. GRAHA HUSADA.
I.4. Definisi
1. Radiasi Pengion adalah gelombang elektromagnetik dan partikel bermuatan yang karena
energi yang dimilikinya mampu mengionisasi media yang dilaluinya
2. Program Proteksi adalah rencana tindakan yang dilakukan untuk meminimalisir dampak
radiasi pengion yang terjadi akibat pemanfaatan radiasi sinar x untuk radiologi diagnostik baik
terhadap p[ekerja, pasien, maupun masyarakat dan lingkungan sekitar daerah kerja.
3. Radiologi Diagnostik adalah kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan fasilitas untuk
keperluan diagnosis.
4. Pemegang izin adalah orang atau badan hukum yang telah menerima izin pemanfaatan
tenaga nuklir dari BAPETEN
5. Petugas Proteksi Radiasi adalah petugas yang dituntuk oleh nama Instansi dan oleh BAPETEN
dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi radiasi.
6. Pekerja Radiasi adalah setiap orang yang bekerja di fasilitas radiasi pengion yang
diperikirakan menerima dosis radiasi tahunan melebihi dosis untuk msyarakat umum.
7. Radiografer adalah tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dengan diberikan tugas,
wewenang, dan tanggung jawab secara penuh untuk melakukan kegiatan radiologi diagnostik.
8. Rekaman adalah dokumen yang menyatakan hasil yang dicapai atau memberi bukti
pelaksanaaan kegiatan dalam pemanfaatan tenaga nuklir.
9. Kecelakaan radiasi adalah kejadian yang tidak direncanakan termasuk kesalahan operasi,
kerusakan, ataupun kegagalan fungsi alat atau kehadian lain yang menimbulkan akibat atau
potensi akibat yang tidak dapat di abaikan dari aspek proteksi atau keselamatan radiasi.
10. Fisikawan medis adalah tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan bidang fisika dan
medik klinik dasar.
4
BAB II
PENYELENGGARA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA RADIOLOGI
II.1. Struktur organisasi penyelenggara keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi di RS.
GRAHA HUSADA
PT. GRAHA HUSADA
Dr. Amran Harun, Sp.A
( Direktur Utama )
Anggi Kurniawan, [Link]
PPR
Dr. Vanda Yogapuspita, [Link]
Ka. Unit Radiologi
Bina Rizti Erviana Takkas Tambunan Dokter Spesialis Rad
( Radiografer ) ( Radiografer ) ( Radiografer ) - Dr. Karyanto, [Link]
- Dr. Vanda, Y. [Link]
Pada saat program proteksi ini dibuat, personil yang bekerja di Fasilitas radiologi diagnostik RS.
Graha Husada adalah sebagai berikut:
5
Tabel.1 Data personil pada struktur organisasi.
1. Nama pemegang izin : Dr. Amran Harun, Sp.A
No. KTP : 1871023004480002
Masa berlaku : Seumur Hidup
2. Dokter spesialis Radiologi / dokter yang berkompeten
a Nama : Dr. Vanda Yogapuspita, [Link]
Pendidikan terakhir : S2 Spesialis Radiologi
Nomor SIP : [Link].VII.2014
Masa berlaku : 17 Februari 2019
Status : Dr. Spesialis Radiologi
b Nama : Dr. Karyanto, [Link]
Pendidikan terakhir : S2 Spesialis Radiolgi
Nomor SIP :
Masa berlaku :
Status : dr. Spesialis Radiologi , part time / tamu
3 Petugas Proteksi Radiasi
Nama : Anggi Kurniawan, Amd. Rad
Pendidikan terakhir : D III Radiodiagnostik & Radioterapi
SIB : 30465.224.00.290415
Masa Berlaku : 28 Maret 2019
4 Radiografer
a Nama : Takkas Tambunan, Amd. Rad
Pendidikan terakhir : D III Radiodiagnostik & Radioterapi
No. STR : 100751112 - 0024302
6
Masa berlaku : 12 Juni 2017
b Nama : Bina Rizti, Amd. Rad
Pendidikan terakhir : D III Radiodiagnostik & Radioterapi
No. STR : 1007521 15 - 1033642
Masa berlaku : 28 Mei 2020
c Nama : Erviana
Pendidikan terakhir : D III Radiodiagnostik & Radioterapi
No. STR : 100752115 - 1033623
Masa berlaku : 25 September 2020
II.2. Tanggung Jawab
1. Pemegang Izin
a. Menyediakan,melaksanakan, mendokumentasikan program proteksi dan keselamatan
Radasi
b. Membangun komunikasi yang baik pada seluruh tingkat organisasi, sehingga informasi
mengenai keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi dapat mudah dimengerti dan
dipahami
c. Menetapkan kualifikasi personil yang memadai sesuai dengan bidang pekerjaannya
d. Memastikan bahwa hanya personil yang sesuai dengan kompetensi yang bekerja dalam
Penggunaan pesawat sinar-X;
e. Menyelenggarakan pelatihan Proteksi Radiasi secara reguler;
f. Menyelenggarakan pemantauan kesehatan bagi Pekerja Radiasi setiap tahun;
g. Menyediakan perlengkapan Proteksi Radiasi sesuai pemanfaatan radiasi pengion;
h. Melaporkan kepada Kepala BAPETEN mengenai pelaksanaan program keselamatan dan
kesehatan kerja Radiologi, dan verifikasi keselamatan;
i. Mengidentifikasi dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi keselamatan dan
kesehatan kerja Radiologi sesuai dengan potensi bahaya;
j. Melakukan pemantauan dosis yang diterima personil dengan film badge atau TLD
badge1 setiap bulan;
Membuat dan memelihara rekaman terkait program keselamatan dan kesehatan kerja
Radiologi; dan
k. Melakukan Uji Kesesuaian pesawat sinar-X dan memastikan bahwa pesawat sinar-X yang
digunakan dalam kondisi layak beroperasi.
1
7
2. Dokter spesialis radiologi atau dokter yang berkompeten
a. Menjamin pelaksanaan aspek keselamatan pasien;
b. Memberi rujukan dan justifikasi pelaksanaan diagnosis atau intervensional
dengan mempertimbangkan informasi pemeriksaan sebelumnya
c. Menjamin bahwa paparan pasien serendah mungkin untuk mendapatkan citra
radiografi yang seoptimal mungkin dengan mempertimbangkan tingkat panduan
paparan medik;
d. Menetapkan prosedur diagnosis dan intervensional bersama dengan fisikawan medis
dan/atau radiografer;
e. Mengevaluasi kecelakaan radiasi dari sudut pandang klinis; dan
f. Menyediakan kriteria untuk pemeriksaan wanita hamil, anak-anak, dan pemeriksaan
kesehatan pekerja radiasi.
3. Petugas Proteksi Radiasi
1. Membuat dan memutakhirkan program keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi;
2. Memantau aspek operasional program keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi;
3. Memastikan ketersediaan dan kelayakan perlengkapan Proteksi Radiasi, dan
memantau pemakaiannya;
4. Meninjau secara sistematik dan periodik, program pemantauan di semua tempat di
mana pesawat sinar-X digunakan;
5. Memberikan konsultasi yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja
Radiologi;
6. Berpartisipasi dalam mendesain Fasilitas Radiologi;
7. Memelihara rekaman;
8. Mengidentifikasi kebutuhan dan mengorganisasi kegiatan pelatihan;
9. Melaksanakan latihan penanggulangan dan pencarian fakta dalam hal paparan
darurat;
10. Melaporkan kepada Nama instansi setiap kejadian kegagalan operasi yang berpotensi
menimbulkan Kecelakaan Radiasi; dan
11. Menyiapkan laporan tertulis mengenai pelaksanaan program keselamatan dan
kesehatan kerja Radiologi, dan verifikasi keselamatan.
4. Pekerja Radiasi
a. Memberikan proteksi terhadap pasien, dirinya sendiri, dan masyarakat di sekitar
ruang pesawat sinar-X;
b. Menerapkan teknik dan prosedur yang tepat untuk meminimalkan paparan yang
diterima pasien sesuai kebutuhan; dan
c. Melakukan kegiatan pemrosesan film.
II. Pelatihan
8
RS. Graha Husada mengalokasikan sumber daya manusia yang memadai untuk menetapkan,
melaksanakan dan menilai pendidikan dan pelatihan bagi pekerja radiasi. Manajemen
berkomitmen menyelenggarakan dan mengevaluasi pelatihan dalam bidang keselamatan dan
kesehatan kerja Radiologi secara reguler untuk PPR, dokter ahli Radiologi, Radiografer minimal
4 ( empat ) tahun sekali.
Manajemen RS. Graha Husada menetapkan dan menyediakan pekerja radiasi sesuai dengan
kualifikasi meinimal pendidikan formal yang ditentukan menurut bidang pekerjaannya.
BAB III
9
DESKRIPSI FASILITAS, PESAWAT SINAR – X DAN PERALATAN PENUNJANG,
DAN PERLENGKAPAN POTEKSI RADIASI
III.1. Deskrpisi Fasilitas dan Deskripsi Pesawat Sinar – X.
Kami hanya memiliki 1 unit pesawat X – Ray, 1 Unit USG, dan KSO CT – Scan. Pada alat CT –
Scan, kami dalam proses pengurusan izin, dan sedang dalam tahap Instalasi pemasangan CT
– Scan dan belum beroperasi. Fasilitas radiologi merupakan satu kesatuan dari gedung RS.
Graha Husada tepatnya di lantai 1 dengan spesifikasi pembagian ruang sebagai berikut :
1 2
1.1 Tabel 2. Data Ruang Radiologi dan Kelengkapan Pesawat Sinar – X
10
1. Ruang Rontgen / X - RAY
DATA KETERANGAN
Nama Ruangan Ruang Rontgen RS. Graha Husada
Ukuran ruangan 4,4 m X 3,9 m X 2,9 m
Nomor izin pemanfaatan 017556. 1. 204. 00000. 240114
Merk pesawat sinar – X Toshiba
Type / Model Pesawat sinar – X KXO – 15 R STATIONARY
No. Seri pesawat sinar – X D4545754
Tahun pembuatan 2004
Tahun pemasangan 2005
Merk Tabung Toshiba
Type Tabung DRX – 1603B
No. Seri Tabung 4C548F
Beda tegangan maksimum ( Kv ) 120 Kv
Arus ( mA ) maksimum 500 mA
Arus waktu ( mAs ) maksimum 9,9 Sec
2. RUANG CT – SCAN
DATA KETERANGAN
Nama Ruangan Ruang CT – Scan RS. Graha Husada
Ukuran ruangan 6,5 m X 4,4 m X 2,9 m
Nomor izin pemanfaatan Dalam proses pengajuan, belum Uji fungsi.
Merk GENERAL ELECTRIC / GE HI – SPEED NXI
Type MX 165 QJ / Dual Slice
No. Seri 26010B19
Tahun pembuatan 2002
Tahun pemasangan 2004
3. RUANG USG
DATA KETERANGAN
Nama Ruangan Ruang USG
Ukuran Ruangan 2,8 m X 2,4 m X 2,9 m
Merk Aloka
Type Prosound 6
S/N M00160 C
Tahun pembelian 2004
Probe Dual port
1.2 Sketsa Lokasi
11
a. Ruang Radiolog i ( kamar 1 )
Lokasi Sekitar Tebal Dinding Jenis Material + Pb Pengukuran
ruang Radiologi Paparan
( Miligray / Jam )
Kanan : CT – - Partisi + Pb (+) 0.212
Scan
Kiri : Parkir 46 cm Batu bata double ( - ) 0.014
di plester
Atas : R. Inap - (-)
Bawah : - Cor (-)
Poliklinik
Belakang : Kamar 46 cm Batu bata double ( - ) 0.015
gelap di plester
Depan : R. 46 cm Batu bata double ( - ) 0.019
Tunggu di plester
Tanda Bahaya Berfungsi
Radiasi dengan baik
b. Ruang CT – Scan ( kamar 2 )
Lokasi Sekitar Tebal Dinding Jenis Material + Pb Pengukuran
ruang Radiologi Paparan
( Miligray / Jam )
Kanan : Jalan 46 cm Partisi + Pb (+)
lalu lintas pasien
Kiri : Ruang 46 cm Partisi + Pb (+)
Rontgen/ x- ray
Atas : R. Inap - Cor (-)
Bawah : - Cor (-)
Poliklinik
Belakang : Ruang 46 cm Batu bata double ( - )
USG di plester
Depan : R. 46 cm Batu bata double ( - )
Tunggu di plester
Tanda Bahaya Berfungsi
Radiasi dengan baik
c. Ruang USG ( kamar 3 )
12
Lokasi Sekitar Tebal Dinding Jenis Material + Pb Pengukuran
ruang Radiologi Paparan
( Miligray / Jam )
Kanan : R. 20 cm Batu bata plester (-)
Tunggu pasien
Kiri : Toilet 20 cm Batu bata (-)
plester
Atas : R. Inap - (-)
Bawah : - Cor (-)
Poliklinik
Belakang : Lift 46 cm Batu bata double ( - )
di plester
Depan : Ruang 46 cm Batu bata double ( - )
CT - Scan di plester
III. Deskripsi Pembagian Daerah Kerja
Pembagian daerah kerja pada Unit Radiologi RS. Graha Husada terbagi atas daerah
pengendalian dan supervisi. Manajemen RS. Graha Husada berupaya melindungi masyarakat
dengan mencegah akses masyarakat ke daerah pengendalian. Proteksi radiasi di daerah
pengendalian dilakukan dengan cara menempelkan tanda bahaya radiasi yang jelas, mudah
terlihat, dan mencolok disetiap pintu akses daerah pengendalian. Ruang radiologi juga
dilengkapi dengan lampu tanda bahaya radiasi diluar pintu masuk yang menyala saat tuang
radiologi digunakan. Manajemen RS. Graha Husada memastikan bahwa tanda bahaya radiasi
berfungsi.
III. 3.1. Daerah pengendalian, di daerah pengendalian ini nama instansi melakukan tindakan
keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi dengan :
a. Menandai dan membatasi daerah pengendalian yang diterapkan dengan tanda fisik
yang jelas atau tanda bahaya lainnya.
b. Memasang atau menempatkan tanda peringatan atau petunjuk pada titik akses dan
lokasi lain yang dianggap perlu didalam daerah pengendalian.
c. Memastikan akses ke daerah pengendalian
- Hanya untuk pekerja radiasi
- Pengunjung yang masuk ke daerah pengendalian didampingi oleh petugas proteksi
radiasi
d. Menyediakan peralatan pemantauan dan peralatan proteksi radiasi
III.3.1 Daerah supervisi, didaerah ini RS. Graha Husada menetapkan daerah supervisi dengan
mempertimbangkan kriteria potensi penerimaan paparan radiasi individu lebih dari NBD
anggota masyarakat dan kurang dari 3 / 10 ( tiga persepuluh ) NBD pekerja radiasi dan bebas
kontaminasi. Selain itu :
a. Menandai dan membatasi daerah supervisi yang ditetapkan dengan tanda jelas dan
b. Memasang tanda dititik akses masuk daerah supervisi.
III.4. Deskripsi perlengkapan Proteksi Radiasi
13
Untuk memastikan proteksi pasien, pekerja dan masyarakat terpenuhi, RS. Graha
Husada menyediakan perlengkapan proteksi. Petugas Proteksi Radiasi akan memastikan bahwa
perlengkapan ini berfungsi baik dan digunakan sebagaimana mestinya. Saat ini RS. Graha
Husada memiliki perlengkapan proteksi sebagai berikut :
Nama Peralatan Jumlah
TLD 14
Apron 2
Tabir Radiasi Mobile -
Sarung tangan -
Dosimeter Saku -
Pelindung thyroid -
Pelindung Gonad -
Kacamata Pb
BAB IV
14
PROSEDUR PROTEKSI RADIASI DAN KESELAMATAN RADIASI
IV. 1. Prosedur Keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi dalam Operasi Normal
IV.1.1. Prosedur Pengoperasian Pesawat Sinar – X
Manajemen RS. Graha Husada menetapkan prosedur pengoperasian setiap pesawat
sinar – x dan menempatkannya disekitar pesawat untuk dapat digunakan oleh petugas yang
kompeten. Prosedur kami buat dengan jelas dan mudah dipahami oleh petugas. Prosedur
pengoperasian pesawat meliputi cara menghidupkan, mengoperasikan, dan mematikan
pesawat. Berikut adalah prosedur pengopersian pesawat sinar – x yang ada di fasilitas Unit
Radiologi RS. Graha Husada :
No. Prosedur pengoperasian pesawat sinar - x Nomor dokumen
1 Toshiba KXO – 15 R 04
Pemeriksaan Proyeksi Tegangan ( Kv ) Arus ( mA ) Waktu ( sec) mAs
Thorax PA / LAT 60 / 70 200 0.06 / 0.12 12 / 24
BNO AP 66 200 0.14 28
Lumbosacral AP / LAT 70 / 80 200 0.16 / 0.25 32 / 50
Thoracal AP / LAT 66 / 76 200 0.12 / 0.14 24 / 28
Manus AP / LAT 42 50 0.04 2
Antebrachii AP / LAT 46 100 0.05 5
Cubiti AP / LAT 46 100 0.05 5
Humerus AP / LAT 52 100 0.06 6
Pedis AP / LAT 44 / 46 50 0.06 3
Ankle AP / LAT 52 / 46 100 0.04 / 0.03 4/3
Cruris AP / LAT 52 100 0.05 5
Genu AP / LAT 50 100 0.04 4
Femur AP / LAT 58 100 0.08 8
Pelvis AP 62 100 0.10 20
Cranium AP / LAT 64 / 60 160 0.14 / 0.12 22.4 / 19.2
SPN AP 70 160 0.18 28.8
IV.1.2. Prosedur Keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi untuk personil
Untuk memantau dosis pekerja, manajemen RS. Graha Husada memastikan bahwa
seluruh pekerja radiasi menggunakan pemantau radiasi personil ( TLD ). Manajemen RS. Graha
Husada secara berkala mengirimkan pemantau radiasi personil ke instansi pembaca dosis dan
mengirimkan hasil evaluasi dosis ke BAPETEN.
Untuk keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi personil, kami menyediakan dan
mendokumentasikan prosedur sebagai berikut :
NO Prosedur Proteksi Radiasi untuk Nomor Dokumen
personil
15
1 Anggi Kurniawan 5
2 Takkas Tambunan 6
3 Erviana 7
4 Bina Rizti 8
5 Dr. Vanda Yogapuspita, [Link] 9
6 Dr. Karyanto, [Link] 10
7
Untuk memastikan dosis paparan radiasi yang diterima pekerja minimal, kami
menyediakan desain radiografi diagnostik yang memenuhi standar BAPETEN, prosedur
pengoperasian, dan peralatan proteksi. Pada saat pengoperasian pesawat yang membutuhkan
tindakan langsung di area radiologi, kami mensyaratkan pekerja untuk menggunakan Apron
serta Dosimeter Perseorangan ( TLD ).
Sebagai pemegang izin, sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 33 tahun tahuin
2007 tentang keselamatan radiasi pengion dan keamanan sumber radioaktif, kami
menyelenggaran pemeriksaan kesehatan pekerja yang dilakukan pada saat sebelum bekerja,
selama bekerja minimal setahun sekali.
IV. Prosedur Keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi untuk Pasien
Sebagai penanggung jawab utama keselamtan radiasi, kami memastikan bahwa
paparan medik pasien serendah mungkin namun dapat menghasilkan citrra radiografi yang
layak terbaca untuk keperluan diagnosa. Proteksi dan keselamtan radiasi untuk pasien
dilakukan dengan cara :
a. Pelayanan diberikan kepada petugas profesional sesuai keahliannya
b. Menyediakan prosedur pengoperasian pesawat yang jelas dan mudah dipahami
c. Mengatur luas lapangan radiasi fokus kepada bagian yang diepriksa
d. Membatasi terjadinya pengulangan eksposi
e. Melakukan Uji Kesesuaian pesawat secara berkala dan segera memperbaiki jika hasil uji
tidak andal ataupun andal dengan perbaikan.
IV.1.4. Prosedur Keselamatan dan kesehatan kerja Radiologi untuk pendamping pasien
Kami menyediakan Apron untuk digunakan oleh pendamping pasien. Pendamping
pasien diharuskan menggunakan Apron untuk meminimalkan paparan radiasi yang diterimanya.
IV.2. Rencana Penanggulangan Keadaaan Darurat.
16
Di fasilitas radiologi, RS. Graha Husada potensi kecelakaan disebabkan oleh kesalahan
prosedur pengoperasian alat, kerusakan , atau kegagalan dari pesawat sinar – x, ataupun
karena faktor manusia yang menyebabkan penerikaan dosis berlebih.
Jika terjadi keadaan darurat, manajemen RS. Graha Husada telah menetapkan
prosedur penggulangan keadaan darurat, yaitu dengan mematikan panel kendali pesawat,
memutus aliran listrik, mencatat detil posisi, arah berkas, dan kondisi eksposi. Petugas akan
memberitahu kepada PPR. Rekaman kejadian akan dibuat dalam bentuk kejadian dan
disampaikan ke BAPETEN. Rencana keadaan darurat kami buat dalam dokumen prosedur :
No Prosedur Penanggulangan keadaan Darurat Nomor Dokumen
1 11
BAB V
17
REKAMAN DAN LAPORAN
V.1. Keadaan Operasional Normal
Manajemen RS. Graha Husada mengendalikan dan mencantumkan rekaman terkait
program dan keselamatan radiasi dan menjamin semua rekaman lengkap, mudah dibaca,
mudah di identifikasi dan tersedia saat digunakan. Rekaman terkait Program Proteksi Radiasi
yang kami pelihara antara lain :
a. Data inventarisasi pesawat sinar – x
b. Catatan dosis yang diterima personil setiap bulan
c. Sertifikasi Uji Kesesuaian pesawat sinar – x
d. Hasil pemantauan kesehatan personil
URAIAN REKAMAN KETERANGAN
Hasil pemantauan tingakat radiasi dan / atau Baik
kontaminasi di daerah kerja
Hasil pemantauan dosis yang diterima Baik
pekerja radiasi
Hasil pemantauan kesehatan bagi pekerja Baik
radiasi
V.2. Keadaan Darurat
Kami bertanggung jawab dalam upaya melakukan pencegahan terjadinya kecelakaan,
melaporkan terjadinya kecelakaan dan upaya penanggulangannya ke BAPETEN. Keadaan akan
dilaporkan segera ke BAPETEN dalam waktu 24 jam melalui telepon, faksimile, atau secara
langsung. Jika terjadi kedaruratan, laporan tertulis akan disampaikan lengkap sesuai kronologi
ke BAPETEN paling lambat 3 ( tiga ) hari setelah laporan awal.