PROTEKSI RADIASI RUANG
RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
KELOMPOK III :
[Link] UL FITRI
[Link] NOFRISQIA RISTA
[Link] KANAYA
[Link] RAMADHAN SALSABILA
5. FELIQ ARTA UTAMA
[Link] WIRAYUDHA
[Link] SARI
8. MADI SAPUTRA
9. MARIA MARSEDIS KOLO
10. NAWANG SRI
11. PUTRI NOVITASARI
PENDAHULUAN
• Radiodiagnostik merupakan salah satu cabang
ilmu yang dikembangkan setelah ditemukannya
sinar-X oleh Wilhem Conrad Rontgen pada
tahun 1895.
• Radioterapi atau disebut juga terapi radiasi adalah
terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari
energi radioaktif
• Radiasi merupakan suatu cara perambatan energi
melalui materi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik atau partikel
Menurut peraturan kepala (perka) BAPETEN
nomor 4 tahun 2013 tentang proteksi dan
keselamatan radiasi dalam pemanfaatan tenaga
nuklir :
• Proteksi Radiasi adalah tindakan yang
dilakukan untuk mengurangi pengaruh radiasi
yang merusak akibat Paparan Radiasi.
• Keselamatan Radiasi adalah tindakan yang
dilakukan untuk melindungi pekerja, anggota
masyarakat, dan lingkungan hidup dari bahaya
Radiasi
• Pekerja radiasi adalah setiap orang yang
bekerja di instalasi nuklir atau instalasi radiasi
pengion yang diperkirakan menerima dosis
radiasi tahunan melebihi dosis radiasi untuk
UPAYA PROTEKSI RADIASI RUANG RADIODIAGNOSTIK
Menurut Taspirin (2009), pengendalian adalah
hal yang paling mendasar dari proteksi radiasi.
Ada tiga prinsip dalam proteksi radiasi yaitu :
1. Waktu
Pengaturan waktu adalah metoda penting untuk
mengurangi penerima dosis radiasi. Waktu yang
digunakan untuk melakukan pemeriksaan dengan
menggunakan radiasi diusahakan secepat mungkin.
2. Jarak
Dalam pengendalian jarak, berlaku hukum kuadrat
terbalik yaitu semakin besar jarak dari sumber maka
dosis radiasi ditempat tersebut jauh semakin kecil.
3. Shielding
• Ruang radiologi dan kedokteran nuklir harus
mempunyai dinding dari beton yang lebih tebal atau
adanya timbal pelapis sehingga dapat menyerap
semua energi radiasi yang melaluinya
PROTEKSI RADIASI RUANG RADIODIAGNOSTIK
Adapun persyaratan ruang pemeriksaan menurut
[Link]/SK/XI/2008 adalah :
a) Ketebalan dinding
Bata merah dengan ketebalan 25 cm dan kerapatan jenis 2,2 g/cm3, atau
beton dengan ketebalan 20 cm atau setara dengan 2 mm timah hitam
(Pb), sehingga tingkat Radiasi di sekitar ruangan Pesawat sinar-X tidak
melampaui Nilai Batas Dosis 1 mSv/tahun.
b) Ruangan dilengkapi dengan sistem pengaturan udara sesuai dengan
kebutuhan.
c) Pintu dan ventilasi.
(1) Pintu ruangan Pesawat sinar-X dilapisi dengan timah
hitam (Pb)
(2)Ventilasi setinggi 2 meter dari lantai sebelah luar agar
lingkungan di luar ruangan tidak terkena paparan radiasi.
(3) Di atas pintu masuk ruang pemeriksaan
dipasang lampu merah yang menyala pada
saat pesawat dihidupkan sebagai tanda sedang
dilakukan penyinaran (lampu peringatan tanda
bahaya radiasi).
d) Pada tiap-tiap sambungan Pb, dibuat
tumpang tindih atau overlapping.
e) Jenis dan ukuran ruangan:
(1) Ruang penyinaran atau Ruang sinar-
X berukuran sesuai dengan kebutuhan atau
besarnya alat.
(2) desain ruangan memungkinkan
personel dapat dengan jelas mengobservasi
atau berkomunikasi dengan pasien dari ruang
panel kendali
g) Letak unit/instalasi radiologi
hendaknya mudah dijangkau dari
ruangan gawat darurat, perawatan
intensive care, kamar bedah dan ruangan
lainnya.
h) Di setiap instalasi radiologi dilengkapi
dengan alat pemadam kebakaran dan
alarm sesuai dengan kebutuhan.
i) Suhu ruang berkisar dari 20-24 °C dan
kelembaban 40 - 60 %.
P ROSEDUR P ROTEKSI DAN KESELAM ATAN R ADIASI
Prosedur Pengoperasian Pesawat Sinar-
X
• Paparan sinar harus dikendalikan dari panel
kendali yang ditempatkan di belakang tabir
proteksi.
• Ahli radiografi harus dapat memandang
pasien secara jelas untuk mengamati pasien
selama dilakukan paparan dan dapat
berkomunikasi dengan pasien tanpa harus
meninggalkan ruang kendali.
• Kaset yang berisi film tidak boleh dipegang
tangan ahli radiografi selama berlangsungnya
paparan.
P ROSEDUR P ROTE KSI DAN KE SE LAM ATAN R ADI ASI
UNTUK P E R SONIL
Dalam merencanakan sebuah unit radiologi ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, yaitu :
• Petugas harus selamanya menjaga jarak sejauh mungkin dari berkas utama.
• Semua petugas harus menggunakan perlengkapan proteksi yang tersedia.
• Ahli radiogrfi harus tetap berada dalam tempat kendali atau di belakang
tabir proteksi ketika sedang melaksanakan paparan sinar x.
• Apabila apron proteksi setara Pb digunakan, dosimetri perorangan
(misalnya fim badge atau TLD) harus digunakan di bawah apron.
• Pesawat sinar X yang dihidupkan dan siap untuk memancarkan radiasi
tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
• Pesawat sinar X harus dan hanya boleh dioperasikan oleh atau di
bawah pengawasan langsung orang yang terlatih dan handal.
• Wadah tabung sinar x tidak boleh dipegang selama operasi.
P ROSE DUR P ROTE KSI DAN KE SE LAM ATAN R ADIASI UNTUK PASIE N
▪ Tindakan radiografi terhadap pasien dilakukan sesuai
dengan prosedur yang berlaku.
▪ Sebisa mungkin tidak melakukan pengulangan dalam
tindakan radiografi terhadap pasien.
▪ Memberikan lapangan penyinaran sekecil mungkin.
▪ Hanya tindakan radiografi yang sangat penting yang
boleh dilakukan dalam hal kehamilan atau perempuan
yang diduga hamil.
▪ Radiografi tidak boleh digunakan untuk penentuan
presentasi janin dengan alasan [Link]
pemeriksaan lain seperti ultrasonografi lebih tepat
untuk pemeriksaan ini.
PROTEKSI RADIASI PADA PESAWAT SINAR -X
RUANG RADIODIAGNOSTIK
a) Penempatan pesawat sinar-X harus ditempatkan di
ruang yang kedap radiasi.
b) Tidak ada bocoran radiasi yang keluar dari pesawat
sinarX baik lewat tembok dan pintu.
c) dalam satu ruangan pesawat sinar-X tidak boleh
terdapat 2 (dua) atau lebih pesawat sinar-X yang
dioperasikan secara bersamaan
d) Kekuatan dan besarnya peralatan radiologi harus sesuai
dengan tipe rumah sakit yang akan dibangun.
e) Meja pengontrol alat Rontgen harus berada dibelakang
dinding proteksi yang tebalnya ekuivalen dengan 2 mm
Pb.
f) Memberi tanda di setiap pintu
masuk maupun pintu keluar dengan
lampu merah dalam keadaan menyala
berarti sedang terjadi pemeriksaan.
g) Memberi tanda yang bisa dibaca
oleh umum bahwa ruangan tersebut
ada daerah radiasi.
h) Memberi pengertian kepada
pengantar penderita agar tidak ikut
masuk kedalam ruang pemeriksaan.
PROTEKSI RADIASI RUANG RADIOTERAPI
• Penerapan proteksi dan keselamatan
radiasi difasilitas radioterapi adalah
pesawat yang menghasilkan berkas
elektron atau sinar X energi tinggi untuk
radioterapi sel kanker..
• Dalam izin operasi persyaratan perizinan
yang harus dipenuhi pemegang izin adalah
melakukan pengukuran output dan
diverifikasi oleh laboratorium yang telah
diakreditasi atau ditunjuk bapeten.
Perizinan Ruangan Radioterapi
• Konsultasi ke PLN terkait jalur listrik premium (jalur
khusus) karena kebutuhan radioterapi yang memakai
pembangkit radiasi pengion sangat tinggi.
• Bangunan wajib dibangun sesuai persyaratan keselamatan
radiasi (Perencana, konsultan, kontraktor dan pengawas)
karena bangunan radioterapi merupakan bangunan
khusus.
• Pastikan sparepart terkait kontinyuitas operasional,
acceptance test, commissioning test dan/atau
pengembalian limbah zat radioaktif (ZRA) oleh vendor
atau lembaga yang berkaitan.
• Khusus radioterapi yang menggunakan zat radioaktif,
pemohon izin wajib mengajukan permohonan izin
operasi terlebih dahulu sebelum menginstall ZRA ke
modalitas di rumah sakit.
• Izin operasi hanya dapat diproses
jika mempunyai izin konstruksi
telah dimiliki oleh pemohon izin.
• Radioterapi adalah modalitas
pengobatan dengan menggunakan
sinar-X dengan energi diatas 1
mega volt.
• Tebal dinding beton dengan
densitas beda-beda. Standarnya
kira-kira 2,5-3 meter di seluruh
lapisan ruangan
TUGAS PEKERJA RADIASI DI RUANG RADIODIAGNOSTIK
DAN RADIOTERAPI
• Radiografer : Melakukan pemeriksaan secara radiografi pada organ –
organ tubuh sesuai dengan permintaan pemeriksaan radiologi yang
hasilnya digunakan untuk menegakkan diagnosa oleh dokter spesialis
radiologi.
• Dokter Onkologi Radiasi: dokter yang mendalami ilmu pengobatan
kanker dengan radiasi dan bertanggung jawab atas keseluruhan terapi
radiasi yang dijalani pasien
• Fisikawan Medik: tenaga kesehatan yang berperan menjamin
peralatan radiasi bekerja sesuai standar dan juga merancang
perencanaan terapi radiasi pada pasien
• Radioterapis (RTT): petugas yang mengoperasikan peralatan radiasi
dan membantu pemosisian pasien pada saat proses pengobatan
berlangsung;Perawat: bertugas memberi informasi yang dibutuhkan
pasien dan membantu penanganan efek samping radiasi.
• Dokter spesialis radiologi : memiliki peran dalam penanganan
beragam penyakit dan masalah kesehatan lain, seperti kanker, paru,
jantung dan pembuluh darah, serta ortopedis.
• Petugas Proteksi Radiasi (PPR): adalah
petugas yang ditunjuk oleh pengusaha instalasi
nuklir pemegang ijin atau instalasi lainnya yang
memanfaatkan radiasi pengion yang dinyatakan
mampu oleh Badan Pengawas tenaga nuklir,
untuk melaksanakan pekerjaan yang
berhubungan dengan persoalan proteksi
radiasi.
• Badan Pengawas tenaga nuklir/
BAPETEN:
adalah badan pengawas yang berada di bawah
dan bertanggung jawab langsung kepada
Presiden yang bertugas melaksanakan
pengawasan terhadap segala kegiatan
pemanfaatan tenaga nuklir melalui peraturan,