0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan4 halaman

Cerita Anak Broken Home

Cerpen ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Hanyfah yang hidup dalam rumah tangga yang tidak harmonis. Orang tuanya sering bertengkar karena ayahnya ingin bercerai dengan ibunya yang lumpuh. Pertengkaran ini membuat Hanyfah stress dan menjauhi rumah. Ia berharap orang tuanya dapat berdamai.

Diunggah oleh

Amanda Herti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan4 halaman

Cerita Anak Broken Home

Cerpen ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Hanyfah yang hidup dalam rumah tangga yang tidak harmonis. Orang tuanya sering bertengkar karena ayahnya ingin bercerai dengan ibunya yang lumpuh. Pertengkaran ini membuat Hanyfah stress dan menjauhi rumah. Ia berharap orang tuanya dapat berdamai.

Diunggah oleh

Amanda Herti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : AMANDA HERTI

ABSEN : 3

JUDUl : BROKEN HOME

KARYA : BEKTi LESTARI

[Link]

Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman, harmonis dan juga mendapat
kasih sayang dari orangtua. Namun, mengapa aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu.
Tak pantaskah aku mendapatkannya? Sesungguhnya, sebuah kasih sayang dari orang tua tak
akan bisa tergantikan dengan apapun. Aku yakin Allah merencanakan semua ini adalah yang
terbaik buatku dan juga keluargaku. Semoga dengan aku menceritakan semuanya bisa
membuat perasaan ini jauh lebih baik dan tak akan ada kesedihan lagi di hari-hari yang akan
aku jalani. Perkenalkan namaku adalah Hanyfah. Aku akan menceritakan pengalamanku yang
menyedihkan ini sama kalian semua semoga ini tidak akan pernah terjadi buat yang
membacanya. Aminnn….

Entah darimana aku harus memulai ini semua, Seorang ibu yang terus bersabar mengadapi
sebuah cobaan yang tidak bisa aku bayangkan membuatku setiap hari harus menangisi
keadaan ini. Aku benci keadaan ini. Aku benci diriku sendiri yang lemah. Aku membenci
Ayah yang tak pernah bisa mengerti perasaan ibu mengapa Ayah harus menuruti permintaan
nenek yang membuat keadaan ini semakin rumit. Mengapa nenenk setega ini memisahkan
Ayah dengan Ibu. Aku gak habis fikir semua yang ada di rumah ini harus menjadi orang yang
gak punya perasaan sama sekali. Aku juga mempunyai seorang kakak, tapi percuma aku
punya seorang kakak yang hanya membahagiakan dirinya sendiri, menjadi leleki yang selalu
membuat situasi ini tak akn pernah berakhir dari pertengkaran. Harusnya kakak tau keluarga
kita sedang berantakan tapi masih sempat-sempatnya kakak memikirkan dirikakak sendiri
dibanding adik yang selalu disalahkan di hadapan Ayah. Aku benci semuanya. Aku tahu ibu
memang wanita yang tak sempurna dia mempunyai kekurangan gak bisa berjalan seperti
wanita normal, tapi apakah mereka harus berpisah rumah seperti ini dan ayah harus
meninggalkan ibu dalam keadaan yang tak berdaya [Link] itu, aku dan ibu sedang memasak
dan saling bercerita. “ Ibu, maafkan aku jika aku harus lahir kedunia ini dan membuat
keadaan ini tak pernah membaik, aku tau ibu selalu sedih dan terpukul saat Ayah ingin
menceraikan ibu, maafkan aku ibu”? Menangis dan memeluk ibu.

“Nak, kau jangan pernah berbicara seperti itu, Kamu adalah anak ibu yang dianugrahkan dari
tuhan untuk melengkapi keluarga ini. Ayah, munkin bersikap seperti itu karana dia tidak bisa
menerima ibu seperti wanita yang sempurna.” Mencoba terlihat tegar dihadapanku. “ Ibu,
bagiku kau adalah wanita yang sempurna yang pernah ku miliki. Mengapa ayah jahat sama
kita, apakah ayah udah gak sayang lagi sama kita”? terus menangis.

“ Ayah tidak jahat sama kita nak, ayah sayang sama kita.” Kata ibu meyakinkanku. “Lalu
mengapa kalo ayah sayang sama kita, ayah harus memilih berpisah ruamah. Aku benci sama
ayah.” Dengan nada yang keras hingga terdengar ayah saat lewat. “Apa! Kamu membenci
ayah, berani-beraninya kau mengatakan itu pada ayah!”.kata ayah dengan nadak kasar dan
marah. “ Ayah, kenapa ayah tega melakukan semua ini sama [Link] salah ibu ayah sampai
ayah membuat ibu menangis, ibu sangat mencintaimu dan menyayagimu tapi apa balasanmu
ibu, kau hanya pada membuatnya sakit hati dan menangis.” Kataku dengan kesal. “ Ayah
melakukan semua ini demi kebaikan kita semua. Kamu harus tau itu Hany.” Dengan nada
[Link] hany ibu tidak apa-apa kalau memang itu yang terbaik buat
keluarga kita,ibu tak keberatan dan kamu Ayah sebaiknya kita memang lebih baik berpisah
agar kau lebih tenang dengan hidupmu.” Sedikit kesal dan terus menangis. Lalu akupun
berlari masuk kekamar denan terus menangis tanpa henti dan berkata “ Aku benci sama
ayah”!.

Hingga aku tak mampu menahan beban yang ku hadapi ini. Semakin lama semakin tak
mampu untuk aku hadapi bagaimana mungkin aku harus menerima ibu tinggal bersama kaka
dan aku harus tinggal bersama ayah. Aku ingin keluarga kita utuh seperti dulu lagi manjalani
masa-masa yang indah dengan canda tawa yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Saat itu
aku mendengar ayah bersama ibu bertengkar di ruang tamu dan aku berada di kamarku.

“kamu bukanya sebagai ibu mengajari anakntya dengan sopan santun malah membuatnya
membenci ayahnya sendiri, ibu macam apa kamu ini!” dengan nada kasar.x“Harusnya kamu
sebagai ayah yang bertanggung jawab di keluarga ini lebih mengutamakan anakmu dibanding
memilih untuk berpisah. Apa kau tak kasian dengan mereka yang setiap hari mendengar kita
berantem seperti ini!”. Menangis tanpa henti. Lalu aku pun sudah takuat lagi mendengar
mereka bertengkar setiap hari akau malu dengan teman-temanku mereka selalu bahagia yang
selalu menyayagi mereka, tapi kenapa aku gak memilikinya, semua ini gak adail. Aku pergi
keluar dan menghentikan pertengkaran ayah dan ibu.

“Berhenti! Apa kalian ini tak malu dengan anakmu yang terus melihat kalian seperti ini. Apa
kalian belum cukup membuatku menangis harus menahan rasa kekecewaan ini,mungkin ayah
dan ibu bahagian denan keadaan ini tapi aku gak sama sekali ayah,ibu. Aku ini anak kalian

harusnya kalian memberikan contoh yang baik kepada anaknya bukanya seperti ini. Tak
mengertikah kalian dengan perasaanku.” Menangis dan sangat kecewa.“Lihat itu anak kamu.
Hany terlalu kecil untuk menerima ini semua apakah kau tega memeisahkan aku dengannya.”
Kata ibu dengan tegas.“ Aku memang memisahkan kalian. Aku tidak mau mempunyai
seorang istri yang lumpuh seperti kamu! Tidak bisa merawat anak kita dengan baik karena
kau tak bisa berjalan. Sebentar lagi aku akan menceraikanmu dan mencari ibu yang mamapu
membuat hany bahagia.” Kata ayah dengan penuh amarah.“Diam! Tidak bisakah kalian diam.
Semua ini membuatku tersiksa. Ayah, apa ayah tidak mempunyai perasaan dengan ibu,
sehingga kau mampu untuk melupakannya dan memutuskan untuk menikah lagi. Baiklah
ayah ceraikan ibu! Lebih baik ayah menceraikan ibu dari pada ibu menahan sakit hati yang
begitu dalam. Aku benci ayah!”. Menangis dan keluar dari rumah.“Hany, kau mau kemana
nak? Jangan dengarkan ayahmu dia hanya bercanda,kembalilah nak?” berlari mengejarku.“
Aku tak mau punya ayah yang gak punya perasaan. Biarkan akau pergi untuk sementara
waktu untuk menenangkan hati ini ibu. Maafkan aku.” Pergi dan terus menangis sepanjang
jalan.

Setelah kejadian itu, aku menjadi anak yang Broken Home dan terus menjalani kehidupan
yang sering kali aku tak bisa berfikir positif. Setiap hari aku disekolah menjadi anak pendiam,
nilai pelajaranku turun semua kehidupan ku menjadi berantakan. Hingga aku memutuskan
untuk pergi jauh dari rumah agar aku tak mendengar pertengkaran yang membuatku tak tahan
untuk tinggal dirumahku sendiri. Sebenarnya ku tak ingin melakukan ini semua tapi aku tak
tahan dengan semua yang aku hadapi aku menjadi korban dalam pertengkara ibu dan ayah.
Ibu maafkan aku melakukan ini aku telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orangtua,
aku berjanji dengan kepergianku ini aku akan menjadi anak yang baik dan aku akan kembali
setelah aku bisa membalas semua jasamu. Akau ingin membahagiakanmu dan memberikan
yang terbaik untuk ibu. Semoga ibu disana baik-baik saja. Ayah, aku tahu ayah malu dengan
keadaan ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi tak seharusnya kau tega menceraikan ibu
dan mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna dari ibu. Ayah harus tahu ibu sangat
mencintai ayah seperti aku mencintai ayah. Semoga dengan kepergianku ini kalian bisa
memikirkan hidup kalian masing-masing. Suatu saat nanti aku akan kembali untuk kalian. I
Love you Ded, I love you Mom, Your My Everything……..

Selesai………

Common questions

Didukung oleh AI

Hanyfah's father's actions, as described, significantly contribute to the family's broken state by deciding to separate from her mother and even contemplating divorce to find a more 'perfect' partner. His inability to accept or support Hanyfah's mother due to her physical limitations adds strain to the family. His demeanor is often angry and dismissive, which exacerbates the family conflict and contributes to the toxic home environment .

Hanyfah's mother attempts to maintain family unity by reassuring Hanyfah of her father's love despite his actions, trying to be strong for her daughter's sake. She faces the challenge of contending with her husband's decision to separate and the emotional burden of being perceived as a cause of family strife due to her physical condition. Her balancing act is marked by deep personal sacrifice as she prioritizes her children's emotional stability over her grievances .

The first-person narrative perspective deeply personalizes the family conflicts, allowing readers to experience Hanyfah's emotions and perceptions directly. This subjective viewpoint biases the interpretation towards her feelings of victimhood and frustration, emphasizing her sense of injustice and isolation. It narrows the focus to her emotional experience, potentially limiting the reader’s insight into the complexity of the parental dynamics and emphasizing the child's perspective over other possible narratives within the family conflict .

Children like Hanyfah, living in fractured family environments, might experience chronic stress, anxiety, and depression. The continuous exposure to parental conflict can lead to feelings of insecurity, low self-worth, and helplessness. Academic performance often suffers as a manifestation of emotional distress. The lack of a supportive family structure can hinder emotional development, leading to withdrawal from social interactions and difficulty forming trusting relationships outside the family .

Hanyfah copes with her family turmoil primarily by withdrawing and eventually leaving the home. Her decision to isolate herself from the family and move away reflects a desire to escape the conflict-driven environment and seek solace away from the source of distress. This choice underscores her sense of helplessness and the overwhelming burden of her emotional state, as she seeks space to process her pain and find emotional stability .

Hanyfah perceives her brother as self-centered, seeking personal happiness rather than contributing to resolving the family's issues. His apparent indifference and focus on his interests create a sense of abandonment for Hanyfah, who feels criticized and unsupported in facing the family's challenges. His behavior exacerbates her feelings of isolation and reinforces her perception of a lack of familial unity in confronting their shared problems .

The breakdown in communication plays a critical role in the deterioration of relationships within Hanyfah's family. The lack of open and empathetic dialogue between her parents leads to misunderstandings and unresolved grievances, culminating in constant arguments. This non-communication fosters an environment of hostility and division, preventing any chance of reconciliation or understanding between family members. Hanyfah's own expressions of hopelessness and anger indicate a failure in parental support and validation of her emotional needs .

Hanyfah describes herself as becoming a 'Broken Home' child, which negatively affects her personal development and academics. She transitions into a withdrawn student with declining academic performance. The constant family conflicts make it untenable for her to think positively, leading her to become quiet and reserved, and her academic scores drop. Ultimately, the unbearable tension at home drives her to leave, hoping to escape the environment and find peace .

Cultural or societal expectations may influence Hanyfah's father's behavior through traditional norms regarding marriage and gender roles. His apparent preference for a physically 'perfect' wife who meets conventional criteria of competence in household roles suggests a pressure to adhere to societal standards of family and spousal adequacy. This drives him towards separation from Hanyfah's mother, perceived as not meeting these standards due to her physical disability .

Despite the challenges, Hanyfah exhibits hope and resilience by envisioning a future where she can return to her family as a better person. She expresses a desire to rectify her past actions by promising to succeed, thereby being able to repay her mother's sacrifices. Her resilience lies in her ability to hold onto love and affection for her parents, despite the turmoil, and her hope is rooted in a belief that her separation will eventually lead to healing and better understanding within the family .

Anda mungkin juga menyukai