Prolog
Langit malam tampak murung, mendung, suram, dipenuhi oleh
gumpalan awan-awan hitam tebal yang bergelantungan dengan
erat. Sesekali terlihat cahaya kilat sahut-menyahut dari
mereka. Angin berembus kencang, menerpa wajah. Terasa
menusuk tulang. Dingin. Dedaunan pohon di pinggiran jalan
tersibak, beterbangan ke angkasa. Hilang. Terbawa entah
kemana. Tanpa arah.
Lelaki itu mencengkeram besi pinggiran jembatan dengan erat.
Besi itu seharusnya dingin. jemarinya mulai membeku, tapi ia
tidak lagi merasakannya. Ia hanya menatap ke bawah. Ke arah
derasnya air sungai yang mengalir.
"Zrass.." Hujan telah turun. Deras rintik airnya mengguyur
seisi kota. Membuat pakaian lelaki itu basah kuyup. Rambutnya
yang hitam kini menempel pada wajahnya, tidak lagi rapi
tersisir. Tapi itu tidak penting lagi. Toh, ia juga akan berakhir
di sini.
Ia yakin sekali kalau ia mati, ia pasti akan jatuh ke neraka.
Mengingat betapa banyaknya nyawa yang telah melayang di
tangannya. Betapa banyaknya cipratan darah yang mengotori
wajahnya. Tak terhitung lagi tubuh-tubuh yang terbujur kaku
olehnya, yang membentuk gunung yang sangat tinggi yang
mengangkatnya hingga detik ini. Ia sadar kalau dosanya sudah
setinggi gunung Everest.
Tapi itu tidak penting lagi.
Ia sudah muak akan dunia ini. Neraka mungkin lebih baik dari
kejamnya dunia akan dirinya. Biarlah dirinya terbakar dalam
nyala api daripada terbakar dalam kemarahan dan dendam yang
tiada habisnya. Biarlah dirinya tenggelam dalam logam cair,
lahar dan magma yang membara daripada tenggelam dalam
kesedihan yang mendalam dan tiada dasarnya. Biarlah dia
tersiksa karena lumuran dosa-dosanya daripada harus tersiksa
oleh kejamnya orang-orang yang telah merenggut seluruh
kehidupannya.
Sungai itu deras sekali. Pikirnya. Jika ia terjun kesana, ia
mungkin akan terseret, kemudian menabrak apapun, lalu
menemui gerbang kematian. Tapi, apakah itu sepadan dengan
seluruh perjuangannya selama ini? Apakah itu setara dengan
penantiannya selama ini? Tidakkah itu semua hanyalah sebuah
usaha yang sia-sia?
Matanya yang hitam itu tampak suram. Redup. Seperti langit
malam yang mendung dan semakin pekat. Berselimutkan
kesedihan, kemarahan, dan segala yang tercampur menjadi
satu. Tidak lagi cemerlang dan bersinar, berkilat tajam penuh
keyakinan. Ia menatap sungai di bawah sana lamat-lamat.
Lelaki itu kemudian tersenyum. Sebuah senyum kecut yang
suram. Tidak lagi seperti sinar bulan purnama yang teduh di
langit malam yang cerah bertaburkan bintang gemintang.
Tidak. Senyuman itu sudah hilang. Lenyap.
Perlahan dalam penglihatannya, muncul orang-orang yang
pernah berperan dalam kehidupannya. Satu persatu wajah
orang-orang itu terlintas dalam benaknya beserta kata-kata
yang pernah keluar dari mulut mereka yang sangat berkesan
bagi dirinya. Terbayang di kepala.
Lelaki itu tersenyum pias sekali lagi. Ia mendongak menatap
langit di atas sana. Langit malam yang gelap gulita,
berselimutkan awan-awan hitam yang menurunkan rintik air
bagaikan jutaan anak panah yang ditembakkan dari angkasa,
mengguyur seisi kota hingga seluruh pelosoknya, membuat
kesedihannya semakin pekat dan mendalam.
"Terima kasih telah mengizinkanku melihat dunia ini."
"Terima kasih telah mengizinkanku lahir ke dunia ini."
"Terima kasih atas semua kenangan yang telah kualami."
Lelaki itu mendesah. Ia tidak menyangka kalau ia akan
mengatakannya.
"Terima kasih,"
"Tuhan."
***