Prosedur PPDB SMAN 21 Bandung 2023
Prosedur PPDB SMAN 21 Bandung 2023
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunianya, sehingga Standar
Operasional prosedural Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada SMAN 21 Bandung
Tahun Pelajaran 2023/2024 ini dapat tersusun. Adapun maksud pembuatan Prosedur
Operasional Standar ini adalah untuk memberikan informasi kepada pihak terkait tentang
pelaksanaan Penerimaan Peserta Peserta Didik Baru (PPDB) sebagai acuan atau pedoman
dalam kegiatan ini.
Sekolah Menengah Atas Negeri 21 Bandung sebagai bagian dari lembaga yang memiliki
upaya dan tujuan yang sama dengan visi Provinsi Jawa Barat dalam meningkatkan kualitas dan
daya saing yang merata melalui penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik Baru dengan
mengedepankan prinsip nondiskriminatif, objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan.
Prosedur Operasional Standar Penerimaan Peserta Didik Baru Pada SMAN 21 Bandung
yang telah disusun ini diharapkan mampu menggambarkan secara detail dalam menjabarkan
seluruh rangkaian kegiatan ini bagi semua pihak. Ucapan terima kasih disampaikan kepada
semua pihak yang telah merancang dan menyelesaikan penyusunan pedoman ini.
i
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
D. SASARAN ............................................................................................................. 5
I. JALUR AFIRMASI................................................................................................... 16
ii
LEMBAR PENGESAHAN
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan nasional diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman dan
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sistem pendidikan nasional merupakan keseluruhan komponen pendidikan yang
saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Satuan
pendidikan sebagai komponen dari sistem pendidikan, merupakan kelompok layanan
pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, dan pada setiap
jenjang dan jenis pendidikan sebagai penyelenggara pendidikan sudah semestinya
memperhatikan Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan, sebagaimana UU RI no. 20 tahun
2003 Pasal 4 yang menyatakan:
(1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa.
(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem
terbuka dan multimakna.
(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
1
(4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan,
dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
(5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis,
dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
(6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu
layanan Pendidikan
Dengan demikian, satuan pendidikan sebagai penyelenggara pendidikan, dalam
penyelenggaraan pendidikan dimulai dari kegiatan penerimaan peserta didik baru sudah
semestinya juga memperhatikan hak dan kewajiban warga Negara sebagaimana UU RI
nomor 20 tahun 2003 pasal 5, yaitu:
(1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan
yang bermutu.
(2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual,
dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
(3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang
terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
(4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
memperoleh pendidikan khusus.
(5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan
sepanjang hayat.
Peserta didik, sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi
diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
tertentu, perlu difasilitasi untuk mendapatkan layanan pendidikan yang baik dan
berkeadilan mulai dari kegiatan penerimaan peserta didik baru (PPDB).
Layanan pendidikan yang baik, dimulai dari PPDB, dapat terwujud jika terjalin
kerjasama antara komponen pendidikan yang satu dengan komponen lainnya termasuk
orang tua peserta didik, dan masing- masing bertanggung jawab terhadap
keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan sebagaimana UU RI nomor 20 tahun 2003
bagian kedua pasal 7 yang menjelaskan bahwa Hak dan Kewajiban Orang Tua adalah:
(1) Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan
memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.
2
(2) Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar
kepada anaknya.
Demikian pula pada bagian ketiga pasal 8, masyarakat berhak berperan serta dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan, dan Pasal 9
menyatakan masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam
penyelenggaraan pendidikan.
Pemerintah dan pemerintah daerah tidak luput perannya dalam pendidikan
sebagaimana bagian keempat Pasal 10 menyatakan tentang Hak dan Kewajiban
Pemerintah dan Pemerintah Daerah, bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak
mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Diperkuat perannya pada
pasal 11 yang menyatakan (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan
layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi
setiap warga negara tanpa diskriminasi, (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib
menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara
yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.
Dengan berpedoman pada UU RI nomor 20 tahun 2003 tersebut, pemerintah daerah
provinsi Jawa Barat menyusun regulasi PPDB mulai dari Peraturan Gubernur tentang
Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru serta Standar Operasional Prosedur
PPDB yang dimandatkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk dijadikan
pedoman bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan PPDB, agar penyelenggaraan
PPDB di tiap satuan pendidikan dapat terlaksana sebagaimana amanat Sistem Pendidikan
Nasional.
Penyusunan regulasi PPDB tidak terlepas dari regulasi nasional yang berlaku dan
menjadi acuan utama. Sekalipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat
(PPKM) telah dihapuskan pemerintah, namun tetap mengantisipasi terjadinya kondisi
pasca pandemi Covid-19 yang tidak diinginkan. Demikian pula kebijakan yang menjadi
muatan lokal berdasarkan hasil analisis kondisi terkini yang terjadi di lingkungan wilayah
provinsi Jawa Barat, serta hasil evaluasi PPDB pada tahun sebelumnya, sehingga regulasi
PPDB seiring dengan dinamika perubahan yang terjadi baik di tingkat pusat maupun
daerah.
3
B. LANDASAN HUKUM
1. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2021 tentang
PPDB Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama,
Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan
2. SE Mendikbud No.1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Merdeka Belajar Dalam
Penentuan Kelulusan Peserta Didik & Pelaksanaan PPDB Tahun Ajaran 2020-2021
3. SE Mendikbud No.4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam
Masa Darurat Penyebaran Covid-19
4. Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan
Teknologi Nomor 7978/A5/HK.04.01/2023 tentang Pelaksanaan PPDB Tahun
Ajaran 2023/2024.
5. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 29 tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis
Penerimaan Peserta Didik Baru pada SMA, SMK dan SLB di Provinsi Jawa Barat
Tahun 2021;
6. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 21 tahun 2022 tentang Perubahan Peraturan
Gubernur Jawa Barat Nomor 29 tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan
Peserta Didik Baru pada SMA, SMK dan SLB di Provinsi Jawa Barat Tahun 2021.
7. Keputusan Gubernur Nomor 4864/HK.02.03/SEKRE tentang Standar Operasional
Prosedur Penerimaan Peserta Didik Baru Pada SMA, SMK dan SLB Provinsi Jawa
Barat
4
D. SASARAN
1. Seluruh Panitia PPDB dan Guru pada SMAN 21 Bandung
2. Seluruh SMP/MTs/Sederajat
3. Orang Tua / Wali Calon Peserta Didik Baru Lulusan SMP/MTs/ Sederajat
4. Masyarakat Sekitar SMAN 21 Bandung
5. Pemangku Kepentingan tingkat RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan
6. Masyarakat pemerhati pendidikan
5
BAB II
PROFIL SMA NEGERI 21 BANDUNG
MISI:
1. Mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa sera berakhlak mulia.
2. Menciptaka iklim belajar yang mendorong peserta didik berfikir kritis, krestif dan
berjiwa mandiri.
3. Menumbuhkan sikap empaty, komunikatif dan kolaboratif agar mampu hidup
berdampingan dalam keberagaman.
4. Mengembangkan budaya literasi.
5. Menyelenggarakan sekolah sehat dan berbudaya lingkungan.
B. IDENTITAS SEKOLAH
1. IDENTITAS SATUAN PENDIDIKAN
d NPSN 20219251
6
3. KESIAPAN RUANG ( Kelas X )
a Jumlah rombel 9
Tingkat Kelas
No Komponen/Aspek
X XI XII Jumlah
7
BAB III
INFORMASI PPDB
A. INFORMASI PENDAFTARAN
1. Pendaftaran dapat dilakukan menggunakan Jaringan (online) secara Mandiri/
Operator Sekolah Asal melalui alamat [Link] atau aplikasi
Sapawarga;
2. Jika tidak ada/terkendala jaringan internet, dengan penerapan Protokol Covid-19
dapat dilakukan di Sekolah Tujuan secara luring;
3. Waktu pendaftaran mulai tanggal 6 – 10 Juni 2023 (tahap 1) dan 26 – 30 Juni
2023 (tahap 2), jam 08.00 – 20.00 (Daring) dan dari jam 08.00 – 14.00 (Luring).
8
C. DASAR PERTIMBANGAN PENETAPAN KUOTA PER-JALUR
Sesuai Juknis dari Disdik Provinsi Jawa Barat kuota SMAN 21 Bandung :
1. Jalur Zonasi 50 %
2. Jalur Afirmasi 20 %
3. Jalur Perpindahan 5%
4. Jalur Prestasi 25 %
9
f) Jika dalam pemeringkatan hingga batas kuota terdapat beberapa peserta didik
dengan nilai yang sama, selanjutnya dilakukan pemeringkatan hingga batas kuota
berdasarkan usia yang lebih tua;
g) Calon Peserta Didik yang diterima merupakan hasil pemeringkatan hingga batas
kuota;
h) Jika sampai batas kuota tidak lolos, Calon Peserta Didik dinyatakan tidak diterima
pada jalur prestasi.
i) Calon Peserta Didik yang tidak diterima pada jalur prestasi nilai akademik rapor,
dapat mendaftar kembali pada jalur zonasi di periode kedua.
j) Jika kuota jalur prestasi nilai rapor tidak terpenuhi, kuota dapat dialihkan ke jalur
prestasi perlombaan/kejuaraan.
10
4) Kuota Calon Peserta Didik pada jalur prestasi perlombaan SMA Negeri 21 adalah 10%
dari total jalur prestasi yaitu sejumlah 34 siswa, dengan dasar pertimbangan hasil analisis
PPDB tahun 2022.
12
a. Prestasi tertinggi Pramuka Penggalang Garuda, melampirkan Surat Keterangan
dan Fotocopy Sertifikat/ Piagam Pramuka Garuda yang telah di legalisir oleh
Kwartir Daerah/Kwartir Cabang;
b. Juara 1,2 dan 3 Lomba Tingkat V (LT V Nasional), melampirkan SK Kejuaran
dan Fotocopy Sertifikat/ Piagam Lomba Tingkat V (LT V Nasional) yang telah di
legalisir oleh Kwartir Nasional/Kwartir Daerah;
c. Partisipasi Kegiatan Internasional (Jambore Dunia, Jambore Asean) dan
Partisipasi Kegiatan Nasional (Jambore Nasional), melampirkan Surat Tugas /
Rekomendasi keikutsertaan dan Fotocopy Sertifikat/ Piagam Partisipasi Kegiatan
Internasional (Jambore Dunia, Jambore Asean) dan Partisipasi Kegiatan Nasional
(Jambore Nasional) yang telah di legalisir oleh Kwartir Nasional/Kwartir Daerah;
d. Juara 1,2 dan 3 Lomba Tingkat IV (LT IV Provinsi), melampirkan SK Kejuaran
dan Fotocopy Sertifikat/ Piagam Lomba Tingkat IV (LT IV Provinsi) yang telah
di legalisir oleh Kwartir Daerah/Kwartir Cabang;
e. Partisipasi Kegiatan Daerah (Jambore/Kegiatan Provinsi), melampirkan Surat
Tugas/Rekomendasi keikutsertaan dan Fotocopy Sertifikat/Piagam Partisipasi
Kegiatan Daerah (Jambore/Kegiatan Provinsi) yang telah di legalisir oleh Kwartir
Daerah/Kwartir Cabang;
f. Juara 1,2 dan 3 Lomba Tingkat III (LT III Kab./Kota), melampirkan SK Kejuaran
dan Fotocopy Sertifikat/ Piagam Lomba Tingkat III (LT III Kab./Kota) yang
telah di legalisir oleh Kwartir Cabang;
g. Partisipasi Kegiatan Cabang (Jambore/Kegiatan Kab./Kota), melampirkan Surat
Tugas/Rekomendasi keikutsertaan dan Fotocopy Sertifikat/ Piagam Partisipasi
Kegiatan Cabang (Jambore/Kegiatan Kab./Kota) yang telah di legalisir oleh
Kwartir Daerah/Kwartir Cabang.
15. Seleksi jalur prestasi dari kejuaraan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan atau Kementerian Agama dilakukan melalui pemeringkatan skor yang
diperoleh dari kejuaraan.
16. Uji kompetensi dapat dilakukan oleh panitia PPDB di satuan pendidikan atau
melibatkan kerjasama dengan pihak/ lembaga/organisasi yang relevan dengan prestasi
yang akan diujikan
17. Panitia dan penguji prestasi wajib merahasiakan kepada orangtua Calon Peserta Didik
hasil uji kompetensi sebelum pengumuman penetapan penerimaan.
13
18. Mekanisme seleksi jalur Prestasi kejuaraan dari perlombaan, dilaksanakan dengan
tahapan:
a) Verifikasi data calon peserta didik yang telah di-input saat pendaftaran;
b) Menghitung skor prestasi dengan ketentuan:
1. skor prestasi dari satu jenis/bidang, skor kejuaraan tingkat wilayah
penyelenggaraan yang berjenjang, dihitung berdasarkan akumulasi dari prestasi
tiap wilayah yang diperoleh. (daftar skor terlampir)
2. Menghitung nilai akhir jalur prestasi kejuaraan:
i. Jika tidak dilaksanakan uji kompetensi;
nilai akhir (NA) dihitung dari akumulasi skor tingkat kejuaraan (STK: juara
1, 2, atau 3) dan skor tingkat wilayah kejuaraan dilaksanakan (STW: tingkat
kota/kabupaten, provinsi, nasional atau internasional);
NA = STK + STW
ii. Jika dilaksanakan uji kompetensi:
a. penilaian kompetensi prestasi dilakukan oleh panitia tingkat satuan
pendidikan atau mitra berdasarkan kriteria dan penskoran yang
ditetapkan satuan pendidikan.
b. Nilai akhir jika dilaksanakan uji kompetensi, dihitung dari gabungan
skor hasil uji kompetensi (SUK) sesuai prestasi (70%), dan dibuktikan
oleh sertifikat , piagam dan /atau dokumentasi video atau foto skor
akumulasi tingkat kejuaraan dengan tingkat wilayah kejuaraan (30%);
NA = 70% (SUK) + 30% (akumulasi STK + STW)
19. Prestasi kejuaraan dari perlombaan didasarkan pada perolehan hasil kejuaraan di
tingkat internasional, nasional, provinsi dan/atau kabupaten/kota, dengan kriteria
sebagai berikut:
i. Juara internasional 1, 2, 3 dan juara nasional 1 (berjenjang) dapat langsung
diterima;
ii. Selain kejuaraan internasional 1, 2, 3 dan juara nasional 1 (berjenjang) ,
diberikan acuan penskoran prestasi sebagaimana terlampir pada petunjuk
teknis untuk penetapan nilai akhir oleh satuan pendidikan;
20. Seleksi jalur prestasi kejuaraan dilakukan melalui pemeringkatan nilai akhir prestasi
hingga batas kuota jalur prestasi kejuaraan yang ditetapkan satuan pendidikan;
14
21. Jika hasil pemeringkatan pada batas kuota terdapat beberapa nilai prestasi Calon
Peserta Didik yang sama, selanjutnya pemeringkatan berdasarkan jarak domisili
terdekat;
22. Calon Peserta Didik yang diterima merupakan hasil pemeringkatan hingga batas
kuota jalur prestasi;
15
I. JALUR AFIRMASI
a. Calon Peserta Didik baru jalur afirmasi yang berasal dari keluarga ekonomi tidak
mampu (KETM), 20 % dari seluruh daya tampung sekolah, yaitu 63 peserta didik
dari total daya tampung ( termasuk tenaga kesehatan/kondisi tertentu, maksimal
5% dan 3% ABK)
b. Peserta didik KETM dibuktikan dengan kepemilikan dokumen program
penanganan keluarga ekonomi tidak mampu dari pemerintah pusat atau daerah
seperti :
1) Kartu Indonesia Pintar (KIP), atau
2) Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), atau
3) Kartu Pra Sejahtera (KPS), atau
4) Kartu Indonesia Sehat (KIS), atau
5) Kartu penanggulangan kemiskinan lainnya sesuai program
pemerintah pusat atau daerah
c. Seleksi jalur afirmasi berdasarkan jarak domisili Calon Peserta Didik dengan
sekolah yang dituju.
d. Jika beberapa Calon Peserta Didik memiliki jarak yang sama, seleksi selanjutnya
berdasarkan usia yang lebih tua.
J. JALUR ZONASI
a. Jalur zonasi merupakan jalur PPDB dengan seleksi menggunakan sistem
pembagian wilayah menjadi beberapa zona dengan mempertimbangkan letak
geografis, wilayah administratif, dan letak satuan pendidikan terhadap domisili
Calon Peserta Didik.
b. Zona adalah kawasan atau area yang meliputi beberapa wilayah administratif
pemerintahan tingkat Kabupaten/Kota, kecamatan dan/atau desa/kelurahan dalam
jarak terdekat dengan satuan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah dan
ditetapkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan usulan dari Musyawarah Kerja
Kepala Sekolah (MKKS), Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) dan
disetujui oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan.
c. Tempat domisili Calon Peserta Didik dari zona yang berbeda dengan satuan
pendidikan, ditetapkan menjadi satu zona jika tempat domisili terletak di wilayah
administratif desa/kecamatan yang berbatasan dengan zona tempat satuan
pendidikan.
16
d. Seleksi PPDB pada jalur zonasi mengutamakan jarak terdekat domisili Calon
Peserta Didik dengan satuan Pendidikan.
e. Jarak domisili dihitung berdasarkan jarak dari domisili/tempat tinggal ke Satuan
Pendidikan menggunakan sistem teknologi informasi (geolokasi);
f. Domisili Calon Peserta Didik didasarkan alamat rumah pada Kartu Keluarga yang
diterbitkan paling singkat 1(satu) tahun .
g. Bagi satuan pendidikan yang berada di daerah perbatasan provinsi, penetapan
zonasi dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan secara tertulis antar pemerintah
daerah dengan ketentuan:
1) satuan pendidikan mengajukan daya tampung bagi peserta didik dari luar
provinsi melalui Cabang Dinas Wilayah untuk ditetapkan Dinas Pendidikan;
2) Dinas Pendidikan provinsi Jawa Barat berkordinasi dengan Dinas Pendidikan
dari Provinsi lain untuk melakukan kesepakatan;
3) kesepakatan yang telah ditetapkan ditindaklanjuti dengan input kuota luar
provinsi pada sistem aplikasi PPDB.
h. Calon Peserta Didik jalur zonasi minimal 50% (lima puluh persen) dari total jumlah
keseluruhan peserta didik yang diterima, sebanyak 170 peserta didik.
i. Calon Peserta Didik yang diterima melalui jalur zonasi adalah Calon Peserta Didik
yang berdomisili pada satu zona dengan sekolah yang dituju, mengutamakan jarak
tempat tinggal terdekat dengan satuan Pendidikan.
17
BAB IV
PENUTUP
Demikian Prosedural Operasional Standar Penerimaan Peserta Didik Baru (SOP PPDB)
Tahun Pelajaran 2023/2024 yang sudah kami susun ini semoga berbagai kendala yang kami
hadapi dan temui menjadi tantangan yang sudah diantisipasi oleh manajemen sekolah di masa
yang akan datang.
18