0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
226 tayangan20 halaman

Pengertian dan Ciri Berpikir Kritis

Teks tersebut membahas tentang refleksi kritis, termasuk pengertian berfikir kritis, ciri-ciri berfikir kritis, karakteristik dan indikator berfikir kritis, serta aspek-aspek keterampilan berfikir kritis menurut Ennis. Berfikir kritis didefinisikan sebagai proses berpikir yang objektif untuk mengevaluasi informasi berdasarkan kriteria tertentu.

Diunggah oleh

feyla enggar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
226 tayangan20 halaman

Pengertian dan Ciri Berpikir Kritis

Teks tersebut membahas tentang refleksi kritis, termasuk pengertian berfikir kritis, ciri-ciri berfikir kritis, karakteristik dan indikator berfikir kritis, serta aspek-aspek keterampilan berfikir kritis menurut Ennis. Berfikir kritis didefinisikan sebagai proses berpikir yang objektif untuk mengevaluasi informasi berdasarkan kriteria tertentu.

Diunggah oleh

feyla enggar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MATERI XI

REFLEKSI KRITIS
A. Pengertian Berfikir Kritis

Proses belajar diperlukan untuk meningkatkan pemahaman


terhadap materi yang dipelajari. Dalam proses belajar terdapat pengaruh
perkembangan mental yang digunakan dalam berpikir atau perkembangan
kognitif dan konsep yang digunakan dalam belajar. Beberapa pengertian
mengenai keterampilan berpikir kritis diantaranya:
1. Menurut Beyer (Filsaime, 2008: 56) berpikir kritis adalah sebuah cara
berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi
validitas sesuatu (pernyataan-penyataan, ide-ide, argumen, dan
penelitian)’
2. Menurut Screven dan Paul serta Angelo (Filsaime, 2008: 56)
memandang berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari
konseptualisasi, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi aktif dan
berketerampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh observasi,
pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah
penuntun menuju kepercayaan dan aksi.
3. Rudinow dan Barry (Filsaime, 2008: 57) berpendapat bahwa berpikir
kritis adalah sebuah proses yang menekankan sebuah basis
kepercayaan-kepercayaan yang logis dan rasional, dan memberikan
serangkaian standar dan prosedur untuk menganalisis, menguji dan
mengevaluasi.
4. Menurut Halpern (Rudd et al, 2003 : 128) mendefinisikan critical
thingking as ‘...the use of cognitive skills or strategies that increase the
probability of desirable outcome.’
5. Sedangkan menurut Ennis (1996). “Berpikir kritis adalah sebuah proses
yang dalam mengungkapakan tujuan yang dilengkapi alasan yang tegas
tentang suatu kepercayaan dan kegiatan yang telah dilakukan.”
Berpikir kritis tidak sama dengan mengakumulasi informasi.
Seorang dengan daya ingat baik dan memiliki banyak fakta tidak berarti
seorang pemikir kritis. Seorang pemikir kritis mampu menyimpulkan dari
apa yang diketahuinya, dan mengetahui cara memanfaatkan informasi
untuk memecahkan masalah, and mencari sumber-sumber informasi yang
relevan untuk dirinya.
Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis infirmasi.
Informasi didapat melalui pengamatan, pengalaman, komunikasi, dan
membaca (Suryosubroto, 2009).
Berpikir kritis tidak sama dengan sikap argumentatif atau
mengecam orang lain. Berpikir kritis bersifat netral, objektif, tidak bias.
Meskipun berpikir kritis dapatdigunakan untuk menunjukkan kekeliruan
atau alasan-alasan yang buruk, berpikir kritis dapat memainkan peran
penting dalam kerja sama menemukan alasan yang benar maupun
melakukan tugas konstruktif. Pemikir kritis mampu melkukan introspeksi
tentang kemungkinan bias dalam alasan yang dikemukakannya
Berdasarkan pengertian-pengertian keterampilan berpikir kritis di
atas maka dapat dikatakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan
keterampilan berpikir yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa
untuk berpikir reflektif terhadap permasalahan.

2.1 Ciri-Ciri Berfikir Kritis

1
1. Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan
terhadap kondisi yang ada.
2. Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi,
dan konsekuensi yang logis.
3. Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang
kompleks. Berpikir kritis merupakan cara untuk membuat pribadi yang
terarah, disiplin, terkontrol, dan korektif terhadap diri sendiri. Hal ini
tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi efektif dan metode
penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigma
egosentris dan sosiosentris [Link] kita mulai untuk berpikir kritis, ada
beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini, yaitu:
a. Mulailah dengan berpikir apa dan kenapa, lalu carilah arah yang
tepat untuk jawaban dari pertanyaan tersebut.
b. Tujuan pertanyaan akan apa dan kenapa.
c. Informasi yang spesifik untuk menjawab pertanyaan diatas.
d. Kriteria standar yang ditetapkan untuk memenuhi jawaban atas
pertanyaan.
e. Kejelasan dari solusi permasalahan/pertanyaan.
f. Konsekuensi yang mungkin terjadi dari pilihan yang kita inginkan.
g. Mengevaluasi kembali hasil pemikiran kita untuk mendapatkan hasil
yang maksimal.
Beberapa kriteria yang dapat kita jadikan standar dalam proses
berpikir kritis ini adalah kejelasan (clarity), tingkat akurasi (accuracy),
tingkat kepresisian (precision) relevansi (relevance), logika berpikir yang
digunakan (logic), keluasan sudut pandang (breadth), kedalaman berpikir
(depth), kejujuran (honesty), kelengkapan informasi (information) dan
bagaimana implikasi dari solusi yang kita kemukakan (implication).

Kriteria-kriteria di atas tentunya harus menggunakan elemen-


elemen penyusun kerangka berpikir suatu gagasan atau ide. Sebuah

2
gagasan/ide harus menjawab beberapa hal sebagai berikut. Tujuan dari
sebuah gagasan/ide.
1.  Pertanyaan dari suatu masalah terhadap gagasan/ide.
2.  Sudut pandang dari gagasan/ide.
3.  Informasi yang muncul dari gagasan/ide.
4.  Interpretasi dan kesimpulan yang mungkin muncul.
5.  Konsep pemikiran dari gagasan/ide tersebut.
6.  Implikasi dan konsekuensi.
7.  Asumsi yang digunakan dalam memunculkan gagasan/ide tersebut.
Dalam proses berpikir, egosentris menjadi hal utama yang harus
kita hindari. Apalagi bila kita berada dalam sebuah tim yang
membutuhkan kerjasama yang baik. Egosentris akan membuat pemikiran
kita menjadi tertutup sehingga sulit mendapatkan inovasi-inovasi baru
yang dapat hadir. Pada akhirnya, sikap egosentris ini akan membawa
manusia ke dalam komunitas individualistis yang tidak peka terhadap
lingkungan sekitar.
2.2 Karakteristik dan Indikator Berfikir Kritis
Wade (2005) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis,
yakni meliputi:
1. kegiatan merumuskan pertanyaan,
2. membatasi permasalahan,
3. menguji data-data,
4. menganalisis berbagai pendapat dan bias,
5. menghindari pertimbangan yang sangat emosional,
6. menghindari penyederhanaan berlebihan,
7. mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan
8. mentoleransi ambiguitas.

Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis,


dijelaskan Beyer (1995: 12-15) secara lengkap dalam buku Critical
Thinking, yaitu:

3
a. Watak
Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis
mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah
kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap
kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang
dianggapnya baik.
b. Kriteria
Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau
patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu
untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat
disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai
kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka
haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta,
berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika
yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.
c. Argumen
Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh
data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan
pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

d. Pertimbangan atau pemikiran

4
Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau
beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan
antara beberapa pernyataan atau data.
e. Sudut pandang (point of view)
Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini,
yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir
dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut
pandang yang berbeda.
f. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)
Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural.
Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan,
menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi
perkiraan-perkiraan.

Pada dasarnya keterampilan berpikir kritis (abilities) Ennis (Costa,


1985 : 54) dikembangkan menjadi indikator-indikator keterampilan
berpikir kritis yang terdiri dari lima kelompok besar yaitu:

1. Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification).


2. Membangun keterampilandasar (basic support).
3. Menyimpulkan (interference).
4. Memberikan penjelasan lebih lanjut (advanced clarification).
5. Mengatur strategi dan taktik (strategy and tactics).

Dari masing-masing kelompok keterampilan berpikir kritis di atas,


diuraikan lagi menjadi sub-keterampilan berpikir kritis dan masing-masing
indikatornya dituliskan dalam tabel berikut:

Aspek Keterampilan Berpikir Kritis menurut Ennis

5
Keterampilan
Sub Keterampilan
Berpikir Aspek
Berpikir Kritis
Kritis

a. Mengidentifikasi atau
memformulasikan suatu pertanyaan.
b. Mengidentifikasi atau
1. Memfokuskan
memformulasikan kriteria jawaban
pertanyaan
yang mungkin.
c. Menjaga pikiran terhadap situasi yang
sedang dihadapi.

a. Mengidentifikasi kesimpulan
b. Mengidentifikasi alasan yang
dinyatakan
c. Mengidentifikasi alasan yang tidak
dinyatakan
2. Menganalisis
d. Mencari persamaan dan perbedaan
argumen
e. Mengidentifikasi dan menangani
1. Memberikan
ketidakrelevanan
Penjelasan
f. Mencari struktur dari sebuah
dasar
pendapat/argumen
g. Meringkas

a. Mengapa?
b. Apa yang menjadi alasan utama?
c. Apa yang kamu maksud dengan?
3. Bertanya dan d. Apa yang menjadi contoh?
menjawab e. Apa yang bukan contoh?
pertanyaan f. Bagaiamana mengaplikasikan kasus
klarifikasi dan tersebut?
pertanyaan yang g. Apa yang menjadikan perbedaannya?
menantang h. Apa faktanya?
i. Apakah ini yang kamu katakan?
j. Apalagi yang akan kamu katakan
tentang itu?
2. Membangun a. Keahlian
Keterampilanda b. Mengurangi konflik interest
sar 4. Mempertimbangkan c. Kesepakatan antar sumber
apakah sumber d. Reputasi
dapat dipercaya atau e. Menggunakan prosedur yang ada
tidak? f. Mengetahui resiko
g. Keterampilan memberikan alasan
h. Kebiasaan berhati-hati
5. Mengobservasi dan a. Mengurangi praduga/menyangka
mempertimbangkan b. Mempersingkat waktu antara observasi
hasil observasi dengan laporan
c. Laporan dilakukan oleh pengamat
sendiri

6
Keterampilan
Sub Keterampilan
Berpikir Aspek
Berpikir Kritis
Kritis

d. Mencatat hal-hal yang sangat


diperlukan
e. Penguatan
f. Kemungkinan dalam penguatan
g. Kondisi akses yang baik
h. Kompeten dalam menggunakan
teknologi
i. Kepuasan pengamat atas kredibilitas
kriteria
6. Mendeduksi dan a. Kelas logika
mempertimbangkan b. Mengkondisikan logika
deduksi c. Menginterpretasikan pernyataan
7. Menginduksi dan
a. Menggeneralisasi
mempertimbangkan
b. Berhipotesis
hasil induksi
3.
a. Latar belakang fakta
Menyimpulkan
b. Konsekuensi
8. Membuat dan c. Mengaplikasikan konsep ( prinsip-
mengkaji nilai-nilai prinsip, hukum dan asas)
hasil pertimbangan d. Mempertimbangkan alternatif
e. Menyeimbangkan, menimbang dan
memutuskan
Ada 3 dimensi:
a. Bentuk : sinonim, klarifikasi, rentang,
ekspresi yang sama, operasional,
9. Mendefinisikan
contoh dan noncontoh
istilah dan
4. Membuat mempertimbangkan
b. Strategi definisi
penjelasan definisi
lebih lanjut
c. Konten (isi)

a. Alasan yang tidak dinyatakan


[Link]
b. Asumsi yang diperlukan: rekonstruksi
asumsi
argumen
5. Strategi dan a. Mendefisikan masalah
taktik b. Memilih kriteria yang mungkin
sebagai solusi permasalahan
c. Merumuskan alternatif-alternatif untuk
11. Memutuskan suatu
solusi
tindakan
d. Memutuskan hal-hal yang akan
dilakukan
e. Merivew
f. Memonitor implementasi
[Link] dengan a. Memberi label
orang lain b. Strategi logis

7
Keterampilan
Sub Keterampilan
Berpikir Aspek
Berpikir Kritis
Kritis

c. Srtrategi retorik
d. Mempresentasikan suatu posisi, baik

2.3 Tahapan Berfikir Kritis


1. Keterampilan Menganalisis
Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan
menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar
mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan
tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global
dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam
bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci.
2. Keterampilan Mensintesis
Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang
berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan
mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian
menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru.
3. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah
Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada
beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk
memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca
selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan,
sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini
bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-
konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker,

8
2001:15).

4. Keterampilan Menyimpulkan
Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia
berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya,
dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang
baru yang lain (Salam, 2008: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu
menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar
sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses
pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu :
deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses
berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk
menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.
5. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai
Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam
menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada.
Dalam taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi
merupakan tahap berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini
siswa ituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek kognitif
lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.

9
Pengukuran indikator-indikator yang dikemukan oleh beberapa ahli
di atas dapat dilakukan dengan menggunakan universal intellectual
standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul (2000: 1) dan
Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa pengukuran keterampilan
berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan:
a. Clarity (Kejelasan)
Kejelasan merujuk kepada pertanyaan: “Dapatkah permasalahan
yang rumit dirinci sampai tuntas?”; “Dapatkah dijelaskan permasalahan
itu dengan cara yang lain?”; “Berikanlah ilustrasi dan contoh-contoh!”.
Kejelasan merupakan pondasi standardisasi. Jika pernyataan tidak jelas,
kita tidak dapat membedakan apakah sesuatu itu akurat atau relevan.
Apabila terdapat pernyataan yang demikian, maka kita tidak akan dapat
berbicara apapun, sebab kita tidak memahami pernyataan tersebut.
b. Accuracy (keakuratan, ketelitian, kesaksamaan)
Ketelitian atau kesaksamaan sebuah pernyataan dapat ditelusuri
melalui pertanyaan: “Apakah pernyataan itu kebenarannya dapat
dipertanggungjawabkan?”;“Bagaimana cara mengecek kebenarannya?”;
“Bagaimana menemukan kebenaran tersebut?” Pernyataan dapat saja
jelas, tetapi tidak akurat, seperti dalam penyataan berikut, “Pada
umumnya anjing berbobot lebih dari 300 pon”.
c. Precision (ketepatan)
Ketepatan mengacu kepada perincian data-data pendukung yang
sangat mendetail. Pertanyaan ini dapat dijadikan panduan untuk
mengecek ketepatan sebuah pernyataan. “Apakah pernyataan yang
diungkapkan sudah sangat terurai?”; “Apakah pernyataan itu telah
cukup spesifik?”. Sebuah pernyataan dapat saja mempunyai kejelasan
dan ketelitian, tetapi tidak tepat, misalnya “Aming sangat berat” (kita
tidak mengetahui berapa berat Aming, apakah satu pon atau 500 pon!)
d. Relevance (relevansi, keterkaitan)
Relevansi bermakna bahwa pernyataan atau jawaban yang
dikemukakan berhubungan dengan pertanyaan yang diajukan.

10
Penelusuran keterkaitan dapat diungkap dengan mengajukan pertanyaan
berikut: “Bagaimana menghubungkan pernyataan atau respon dengan
pertanyaan?”; “Bagaimana hal yang diungkapkan itu menunjang
permasalahan?”. Permasalahan dapat saja jelas, teliti, dan tepat, tetapi
tidak relevan dengan permasalahan.
e. Depth (kedalaman)
Makna kedalaman diartikan sebagai jawaban yang dirumuskan
tertuju kepada pertanyaan dengan kompleks, Apakah permasalahan
dalam pertanyaan diuraikan sedemikian rupa? Apakah telah
dihubungkan dengan faktor-faktor yang signifikan terhadap pemecahan
masalah? Sebuah pernyatan dapat saja memenuhi persyaratan kejelasan,
ketelitian, ketepatan, relevansi, tetapi jawaban sangat dangkal
(kebalikan dari dalam). Misalnya terdapat ungkapan,
f. Breadth (keluasaan)
Keluasan sebuah pernyataan dapat ditelusuri dengan pertanyaan
berikut ini. Apakah pernyataan itu telah ditinjau dari berbagai sudut
pandang?; Apakah memerlukan tinjauan atau teori lain dalam merespon
pernyataan yang dirumuskan?; Menurut pandangan..; Seperti apakah
pernyataan tersebut menurut… Pernyataan yang diungkapkan dapat
memenuhi persyaratan kejelasan, ketelitian, ketepatan, relevansi,
kedalaman, tetapi tidak cukup luas. Seperti halnya kita mengajukan
sebuah pendapat atau argumen menurut pandangan seseorang tetapi
hanya menyinggung salah satu saja dalam pertanyaan yang diajukan.
g.  Logic (logika)
Logika bertemali dengan hal-hal berikut: Apakah pengertian telah
disusun dengan konsep yang benar?; Apakah pernyataan yang
diungkapkan mempunyai tindak lanjutnya? Bagaimana tindak
lanjutnya? Sebelum apa yang dikatakan dan sesudahnya, bagaimana
kedua hal tersebut benar adanya? Ketika kita berpikir, kita akan dibawa
kepada bermacam-macam pemikiran satu sama lain. Ketika kita
berpikir dengan berbagai kombinasi, satu sama lain saling menunjang

11
dan mendukung perumusan pernyataan dengan benar, maka kita
berpikir logis.

2.4 Keterampilan Berfikir Kritis

a. Interpretasi – kategorisasi, dekode, mengklarifikasi makna


b. Analisis – memeriksa gagasan, mengidentifikasi argumen,
menganalisis argumen
c. Evaluasi – menilai klaim (pernyataan), menilai argumen
d. Inferensi – mempertanyakan klaim, memikirkan alternatif
(misalnya, differential diagnosis), menarik kesimpulan,
memecahkan masalah, mengambil keputusan
e. Penjelasan – menyatakan masalah, menyatakan hasil,
mengemukakan kebenaran prosedur, mengemukakan argument
f. Regulasi diri – meneliti diri, mengoreksi diri
g. Memahami hubungan-hubungan logis antar gagasan
h. Mengidentifikasi, mengkontruksi, dan mengevaluasi argumen
i. Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam
pemberian alasan
j. Memecahkan masalah secara sistematis.
k. Mengidentifikasi relevansi dan kepentingan gagasan
l. Merefleksikan kebenaran keyakinan dan nilai-nilai diri sendiri
2.5 Perbedaan antara pemikir kritis dan bukan pemikir kritis
a. Pemikir kritis
1. Cepat mengidentifikasi informasi yang relevan, memisahkannya
dari informasi yang irelevan

12
2. Dapat memanfaatkan informasi untuk merumuskan solusi masalah
atau mengambil keputusan, dan jika perlu mencari informasi
tambahan yang relevan
b. Bukan pemikir kritis
 Mengumpulkan fakta dan informasi, memandang semua informasi
sama pentingnya
 Tidak melihat, menangkap, maupun memikirkan masalah inti.

2.6 Manfaat berfikir kritis


1. Membantu memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori, memperkuat
argumen
2. Mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas
3. Mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi dengan efektif
4. Membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan
alasan yang kuat
5. Membiasakan berpikiran terbuka
6. Mengkomunikasikan gagasan, pendapat, dan solusi dengan jelas
kepada lainnya.

2.8 Contoh Berfikir Kritis dalam Kebidanan

Contoh Kasus yang Menerapkan Berpikir Kritis

“Akan mengambil tindakan namun terhalang otoritas”

A adalah seorang bidan disuatu rumah sakit, sedang B adalah pasien.


Pasien B tiba-tiba mengalami demam tinggi. Pasien B meminta obat
penurun panas pada bidan A. Sebenarnya, bidan A ingin membantu tetapi
ia tidak bisa melakukan itu tanpa perintah atau resep dokter, sedangkan
dokter tidak berada di tempat.

13
Pembahasan Contoh Kasus Berpikir Kritis

1.    Rumusan masalah

Apakah bidan A harus memberikan obat penurun panas untuk


menolong pasien B atau tidak?

2.    Argumen

Hipertemi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami


peningkatan suhu tubuh diatas 37,8 derajat celcius peroral atau 38,8
derajat celcius perrektal karena factor eksternal.

Bidan harus melakukan tindakan dasar atau melakukan pertolongan


pertama pada pasien agar kondisi pasien tidak menjadi lebih parah. Jika tidak
segera ditolong bisa menyebabkan kondisi yang lebih parah dan bisa berakibat
fatal. Kemudian setelah itu bidan sesegera mungkin menghubungi dokter agar
mendapatkan perintah untuk melakukan proses penanganan pasien selanjutnya.

3.    Deduksi

Pada pasien yang menderita hipertermi, sebaiknya bidan melakukan


tindakan pertolongan dasar yaitu, pemeriksaan fisik dan TTV pasien (suhu,
tekanan  darah, pernapasan, dan denyut nadi), pasien dianjurkan banyak
minum air, memberikan kompres hangat, memantau status hidrasi pasien, dan
setelah melakukan pertolongan dasar kepada pasien bidan segera
menghubungi dokter.

4.    Induksi

Pertolongan dasar seperti pemeriksaan fisik dan TTV pasien (suhu,


tekanan  darah, pernapasan, dan denyut nadi), pasien dianjurkan banyak
minum air, memberikan kompres hangat, memantau status hidrasi pasien,
harus dilakukan oleh bidan jika menghadapi pasien dengan kasus hipertermi
dan segera menghubungi dokter jika dokter tidak berada ditempat.

14
5.    Evaluasi

1)   Melakukan pertolongan dasar tanpa menghubungi dokter

Positif :

(a)    Kondisi pasien akan lebih cepat membaik dan hipertermi yang
diderita pasien tidak akan mnejadi lebih parah.

(b)   Tidak akan membahayakan jiwa pasien.

Negatif :

Pasien tidak tertangani dengan sempurna karena penanganan yang


dilakukan masih sangat dasar (setengah-setengah.

2)   Melakukan pertolongan dasar kemudian menghubungi dokter

Positif :

(a)    Dokter dapat langsung memberikan perintah untuk menginjeksi atau


memberikan obat kepada pasien.

(b)   Waktu dan tenaga yang dibutuhkan lebih efisien, karena penanganan
yang dilakukan tidak harus menunggu kedatangan dokter melainkan
melalui perintah dokter lewat telepon.

(c)    Pasien dapat langsung diinjeksi atau diberi obat atau ditolong atau
ditangani tanpa harus menunggu kedatangan dokter.

(d)   Mempercepat pemulihkan kondisi pasien

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir yang
melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir reflektif terhadap
permasalahan.
Ciri-ciri berfikir kritis :
1. Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan
terhadap kondisi yang ada
2. Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi, dan
konsekuensi yang logis.
3. Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang
kompleks.
Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni
meliputi:
1. kegiatan merumuskan pertanyaan,
2. membatasi permasalahan,
3. menguji data-data,

16
4. menganalisis berbagai pendapat dan bias,
5. menghindari pertimbangan yang sangat emosional,
6. menghindari penyederhanaan berlebihan,
7. mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan
8. mentoleransi ambiguitas.
Tahapan berfikir kritis meliputi :
1. Keterampilan menganalisis
2. Keterampian mensintesis
3. Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah
4. Keterampilan menyimpulkan
5. Keterampilan mengevaluasi dan menilai
Keterampilan berfikir kritis meliputi : interpretasi, analisis, evaluasi,
inferensi, penjelasan, regulasi diri, Memahami hubungan-hubungan logis antar
gagasan, Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam pemberian alasan,
serta Mengidentifikasi, mengkontruksi, dan mengevaluasi argument, dll
 Pemikir kritis
 Cepat mengidentifikasi informasi yang relevan, memisahkannya
dari informasi yang irelevan
 Dapat memanfaatkan informasi untuk merumuskan solusi masalah
atau mengambil keputusan, dan jika perlu mencari informasi
tambahan yang relevan
 Bukan pemikir kritis
 Mengumpulkan fakta dan informasi, memandang semua informasi
sama pentingnya
 Tidak melihat, menangkap, maupun memikirkan masalah inti.
Manfaat berfikir kritis adalah :
1. Membantu memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori, memperkuat
argumen
2. Mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas
3. Mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi dengan efektif

17
4. Membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan alasan
yang kuat
5. Membiasakan berpikiran terbuka
6. Mengkomunikasikan gagasan, pendapat, dan solusi dengan jelas kepada
lainnya
3.2 Saran
Akhir dari penulisan makalah ini besar harapan penulis agar makalah
yang berjudul Berfikir Kritis ini berguna untuk menambah pemahaman dan
wawasan bagi pembaca, terlebih lagi sebagai bekal untuk melakukan proses
pembelajaran sebagai calon guru. Selain itu juga diharapkan agar selalu
berusaha terus memenuhi rasa ingin tahu hasil dari kegiatan yang telah
dilakukan
DAFTAR PUSTAKA

Abilities Ennis (Costa, 1985 : 54) The Open Learning Handbook: Selecting
Designing
and Supporting Open Learning Materials. London: Kogan Page.

ALPEN: Jurnal Pendidikan Dasar Volume 5, No. 2, Juli-Desember 2021 pISSN


2580-6890 eISSN 2580-9075

Febri Annisaa [Link] JKFT: Universitas Muhamadiyah Tangerang


Vol 5 No 1 Tahun 2020 p-ISSN 2502-0552; e-ISSN 2580-2917
Munandar, 2012. Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis.

Oktaviani, 2014. Pembelajaran AktifTeori dan Assesment. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Paul & Elder (2005), Critical Thinking as a Core Skill, the Ability to Think
Critically is a Key Skill for Academic Success.

Resti Fitria Ariani Jurnal Imiah Pendidikan dan Pembelajaran p-ISSN : 1858-4543
e-ISSN : 2615-6091
Salam, 2008: 68. Berpikir Kritis. Jakarta: Erlangga.

Suryosubroto, 2009. Critical Thinking. (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

18
Tri Septiyowati, Tego Prasetyo Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based
Learning Dan Discovery Learning Terhadap Kecakapan Berfikir Kritis
Siswa Sekolah Dasar – Tri Septiyowati, DOI :
[Link]

Tiwi Juliyantika, Hamdan Husein Batubara DOI: Tren Penelitian Keterampilan


Berpikir Kritis pada Jurnal Pendidikan Dasar di Indonesia
[Link]

Wade (2005) Pembelajaran Aktif Teori dan Assesment. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

19

Anda mungkin juga menyukai