i
LAPORAN TUGAS
PRAKTIK PROFESIONAL KEBIDANAN
“BUDAYA KEBIDANAN”
Disusun Oleh
SONYA PURNAMAASARI
P01740322133
Dosen Pengajar :
Eva Susanti, SST, [Link]
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU
PRODI D4 KEBIDANAN CURUP
TAHUN 2023
i
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaika makalah
dari mata kuliah Praktik Profesional Kebidanan yang berjudul “Budaya
Kebidanan” pada waktu yang tepat, tidak lupa kami mengucapkan terimakasih
kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada kami dalam
pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
makalah ini, oleh karena itu kami membutuhkan kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun demi terciptanya kesempurnaan makalah ini. Akhir
kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan.
Curup, Februari 2023
Penulis
ii
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 2
C. Tujuan........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebudayaan ...............................................................................3
B. Pengertian Praktik Kebidanan .....................................................................3
C. Budaya dalam praktik kebidanan................................................................4
D. Cara bidanan mengatasi persepsi tradisi kebudayaan tidak benar yang
berkembang di masyarakat ........................................................................14
E. Contoh budaya masyarkat yang merugikan kesehatan pada ibu nifas dan
bayi ............................................................................................................16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................... 17
B. Saran......................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 19
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku, ras, agama,
dan antargolongan. Dengan begitu Indonesia pun kaya akan budaya.
Kebudayaan material adalah hasil kebudayaan
Material dan non-material. Budaya material adalah hasil kebudayaan
fisik yang diciptakan oleh manusia, misalnya senjata, rumah adat, alat
transportasi, dsb. Budaya non -material adalah kebudayaan yang berupa ide
atau gagasan yang berbentuk abstrak dan tidak berwujud fisik, misalnya nilai
dan kepercayaan.
Salah satunya dalam budaya praktik kebidanan. Budaya atau kebiasaan
dalam praktik kebidanan merupakan salah satu yang mempengaruhi status
Kesehatan. Di antara kebudayaan maupun adat istiadat dalam masyarakat ada
yang menguntungkan, ada pula yang merugikan. Salah satu hal yang
mempengaruhi Kesehatan di Indonesia, antara lain masih adanya pengaruh
social budaya yang turun menurun masih dianut sampai saat ini. Selain itu
ditemukan pula sejumlah pengetahuan dan perilaku yang tidak sesuaai
dengan prinsip-prinsip Kesehatan menurut ilmu kedokteran ataupun ilmu
yang kurang menguntungkan bagi ibu dan anaknya.
Pada salah satu provinsi di Indonesia yaitu di bali pasti setelah
melahirkan ada upacara adat yang dilaksanakan. Upacara yang dilakukan
tersebut pasti berbeda dengan upacara yang diadakan di Jawa Barat. Masalah
kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak serta hambatan dalam upaya
penurunan Angka kematian Bayi sesunggunya tidak terlepas dari faktor-
faktor budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka tinggal
pula.
1
B. RUMUSAN MASALAH
1 Apa budaya kebidanan ?
2 Pengertian Praktik Kebidanan ?
3 Budaya dalam praktik kebidanan ?
4 Cara bidanan mengatasi persepsi tradisi kebudayaan tidak benar yang
berkembang di masyarakat ?
5 Contoh budaya masyarkat yang merugikan kesehatan pada ibu nifas dan
bayi ?
C. TUJUAN
Mahasiswa bisa memahami dan mengerti apa dan budaya kebidanan
yang di jelaskan dalam makalah. Serta mahasiswa bisa menerapkan ilmu
yang diperoleh dari makalah ini.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan merupakan suatu hasil dara rasa, kerasa, dan cipta manusia
untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup manusia yang memiliki fungsi
sebagai rumah (tempat tinggal dan perlindungan), sebagai kebutuhan untuk
makan dan minum serta membentuk kepribadian manusia dari factor biologis,
psikologis, dan sosialisasi yang mendasari perilaku manusia. (Syafrudin and
Meriam,2016;Hasnah, 2022)
Pengertian lain dari tradisi adalah segala sesuatu yang diwariskan atau
disalurkan dari masa lalu ke masa saat ini atau sekarang. Tradisi dalam arti yang
sempit yaitu suatu warisan-warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja
yakni yang tetap bertahan hidup di masa kini, yang masih tetap kuat ikatannya
dengan kehidupan masa kini. (Tetti Suriani 2022)
Adanya kebudayaan sangat membantu kehidupan manusia. Sehingga
kebudayaan memiliki fungsi yaitu dapat membantu manusia meneruskan
kelangsungan hidupnya atau sebagai pedoman atau pandangan hidup manusia,
sebagai arahan manusia untuk menentukan sikap, prilaku dan tindakan baik
secara pribadi maupun [Link] adanya kebudayaan dapat
memberikan kepuasan manusia baik secara rohani maupun jasmani. (Syafrudin
and meriam, 2016)
B. Pengertian Praktik Kebidanan
Praktik kebidanan adalah layanan yang diberikan bidan berupa asuhan
kebidanan dengan pendekatan manajemen kebidanan, inplementasi dari ilmu
3
kebidanan oleh bidan yang bersifat otonom, kepada perempuan, keluarga dan
komunitasnya, didasari etika dan kode etika dan kode etik bidan. (Irma Yanti)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 28 tahun
2017 tentang izin dan praktik bidan , BAB I Pasal 1, Praktek Kebidanan
adalah kegiatan pemberiyan pelayanan yang dilakukan oleh Bidan dalam
bentuk Asuhan Kebidanan.
C. Budaya Dalam Praktek Kebidanan
faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-
konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara
makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali
membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan
anak. Menjadi seorang bidan tidak mudah,harus siap fisik maupun mental,
karena tugas seorang bidan sangatlah berat. Bidan yang siap mengabdi di
kawasan pedesaan mempunyai tantangan yang besar dalam mengubah pola
kehidupan masyarakat yang mempunyai dampak negatif tehadap kesehatan
masyarakat. Tidak mudah mengubah pola pikir ataupun sosial budaya
masyarakat (Nababan, 2021).
Ditambah lagi tantangan konkret yang dihadapi bidan di pedesaan adalah
kemiskinan, pendidikan rendah, dan budaya. Karena itu, kemampuan
mengenali masalah dan mencari solusi bersama masyarakat menjadi
kemampuan dasar yang harus dimiliki [Link] itu seorang bidan agar
dapat melakukan pendekatan terhadap masyarakat perlu mempelajari sosial-
budaya masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk,
struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan
norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan halhal lain yang berkaitan
dengan wilayah tersebut (Nababan, 2021)..
a. Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada masa
kehamilan (Antenatal Care)
4
Berbagai kelompok masyarakat di berbagai tempat yang menitik
beratkan perhatian mereka terhadap aspek kultural dari kehamilan dan
menganggap peristiwa itu sebagai tahapan-tahapan kehidupan yang harus
dijalani didunia. Masa kehamilan dan kelahiran dianggap masa krisis yang
berbahaya,baik bagi janin atau bayi maupun bagi ibunya karna itu sejak
kehamilan sampai kelahiran para kerabat dan handai-tolan mengadakan
serangkaian upacara baggi wanita hamil dengan tujuan mencari
keselamatan bagi diri wanita itu serta bayinya,saat berada di dalam
kandungan hingga saat lahir.
Orang jawa adalah salah satu contoh dari masyarakat yang sering
menitik beratkan perhatian pada aspek krisis kehidupan dari pertistiwa
kehamilan,sehingga di dalam adat-istiadat mereka terdapat berbagai
upacara adat yang cukup rinci untuk menyambut kelahiran [Link]
upacara dimulai sejak usia ketujuh bulan kandungan ibu sampai pada saat
kelahirannya,walaupun ada pula sebagian kecil warga masyarakat yang
telah melakukannya sejak janin di kandungan ibu berusia tiga bulan.
Upacara – upacara adat jawa yang bertujuan mengupayakan keselamatan
bagi janin dalam prosesnya menjadi bayi hingga saat kelahirannya itu
adalah upacara tiga bulanan dan upacara tujuh bulanan. (Tetti Suriani 2022)
Sebagian masyarakat jawa juga percaya bahwa bayi yang lahir pada
usia tujuh bulan mempunyai peluang untuk hidup,bahkan lebih kuat
daripada bayi yang lahir pada usia kehamilan delapan bulan,walupun
kelahiran itu masih prematur. Kepercayaan ini tampak terdapat pula pada
sejumlah suku bangsa di indonesia dan Malaysia. Karena itu orang jawa
menganggap usia tujuh bulan kandunggan sebagai saat yang penting,
sehingga perlu dilakukan upacara yang disebut mitoni untuk
menyambutnya dan menangkal bahaya yang mungkin timbul pada masa itu.
Upacara mitoni yang umumnya hanya dilakukan pada kehamilan pertama
dari seorang wanita, sebenarnya dapat pula berfungsi untuk memberikan
ketenangan jiwa bagi calon ibu yang belum pernah mengalami peristiwa
melahirkan.
5
1) Upacara mitoni
Upacara mitoni dilakukan dengan cara memandikan sang calon
ibu dengan air bunga,yang biasanya dilakukan oleh orangtua pasangan
suami-istri yang sedang menantikan bayinya,ditambah sejumlah kerabat
sepupuh terdekat atau sepupuh yang dihormati Selanjutnya diadakan
upacara memecah buah kelapa bergambar wayang dengan tokoh dewa
kamajaya dan dewi ratih oleh sang calon ayah, yang sebelumnya
dimasukan ke dalam sarung yang dikenakan oleh si calon ibu ketika
dimandikan,mulai dari ujung sarung pada batas menyentuh
[Link] sebelum menyentuh tanah,sang calon ayah harus bisa
menagkap buah kelapa itu pada ujung sarung dekat kaki istrinya.
(Abdurahmad Fathoni, 2017)
2) Upacara procotan
Dilakukan dengan membuat sajian jenang procot yakni bubur
putih yang dicampur dengan irisan ubi. Upacara procotan khusus
bertujuan agar sang bayi mudah lahir dan rahim ibunya. (Sutiyono
2013)
3) Brokohan
upacara sesudah lahirnya bayi dengan selamat dengan membuat
sajian nasi urap dan telur rebus yang diedarkan pada sanak kluarga
untuk memberitahukan kelahiran sang bayi. Pusat perhatian orang jawa
mengenai pelaksanaan upacara pada masa kehamilan dan kelahiran
terletak pada unsur tecapainya keselamatan,yang dilandasi atas
keyakinan mengenai krisis kehidupan yang mengandung bahaya dan
harus ditangkal,serta harapan akan kebaikan bagi janin dan
[Link] upacara kelahiran seringkali tidak dilaksanakan dalam
bentuk kenduri besar dengan mengundang banyak handai-taulani.
(Sutiyono 2013)
4) Daerah Subang
Ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang
besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit
6
persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi
yang dilahirkan juga [Link] hal ini sangat mempengaruhi
daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan
buah-buahan seperti pisang, nanas, ketimun dan lain-lain bagi wanita
hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama
masyarakat di daerah pedesaan.
Pantangan - Pantangan didalam Tradisi Kebudayaan Masyarakat:
Menurut M’soka et al 2010, Keanekaragaman budaya yang ada
di masyarakat memunculkan berbagai adat istiadat yang terkait dengan
kehamilan. Pantang selama masa kehamilan dalam masyarakat baik
yang berpengaruh pada kesehatan atau yang tidak mempengaruhi
kesehatan ibu dan bayinya masih cukup banyak. Mulai dari pantangan
untuk istri, sua-mi, dan pantangan yang harus dituruti keduanya.
Pantangan yang harus dituruti oleh istri merupakan pantangan dengan
jumlah terbanyak.
1) Tidak boleh duduk di pintu supaya tidak mengalami kesulitan saat
melahirkan
Fakta : Pada kehamilan lewat waktu (post date) otot rahim tidak
sensitive terhadap rangsangan, karena ketegangan psikologis atau ke-
lainan pada rahim. Jadi tidak ada hubungannya dengan perbuatan duduk
di pintu. Larangan duduk di depan pintu sesungguhnya mem-punyai
makna tuntunan akhlak dan sopan santun yang tinggi. Se-bab duduk di
depan pintu dapat mengganggu orang lain yang keluar masuk rumah, di
sisi lain tentu saja kurang elok dipandang jika seorang perempuan
duduk-duduk di depan pintu.
2) Tidak boleh memakai pakaian yang sobek di percayai bayinya akan
cacat.
3) Tidak boleh mandi saat maghrib atau senja hari supaya kulit bayi tidak
kemerah-merahan
Fakta : Menurut ilmu medis, mandi di waktu maghrib dapat
merusak saraf. Sebaiknya menghindari mandi di waktu magrib. Namun,
7
mandi di waktu maghrib atau senja tidak ada kaitan dengan kulit bayi
yang kemerah- merahan
4) Tidak boleh keluar jalan jalan malam hari supaya tidak di ikuti dan di
ganggu jin dan roh-roh halus
5) Tidak boleh duduk disembarang tempat karena akan menghambat
kelahiran sang bayi
6) Pantang duduk di atas tangga rumah (bak ulee rinyeun) karena akan
mengalami kesulitan saat melahirkan
7) Pantang melihat gambar binatang yang menyeramkan, seperti : kera,
gambar kecelakaan dan gambar yang tidak islami.
8) Tidak boleh minum es agar bayinya tidak besar sehingga tidak
mengalami kesulitan ketika melahirkan
9) Larangan makan nasi kerak karena dikhawatirkan ari-ari tidak keluar
(lengket) pada saat melahirkan
10) Tidak boleh makan makanan dingin karena dikhawatirkan badan ibu
menggigil kedinginan saat melahirkan
11) Pantang menyiangi ikan hidup seperti lele dan gabus agar anak-nya
kelak tidak terkejut-kejut
12) Jangan tidur di pagi hari karena akan mengalami kesulitan saat
melahirkan. (M’soka et al 2010)
b. Kebudayaan yang darurat oleh masyarakat Indonesia pada proses
persalinan
Pada beberapa masyarakat tradisionala di Indonesia kitab isa
melihat konsepsi budaya yang terwujut dalam perilaku berkaitan
dengan kebudayaan ibu bersalin yang berbeda, dengan konsepsi
Kesehatan modern. Berapa hal yang dilakukan masyarakat pada ibu
bersalin :
1) Minum minyak kelapa memudahkan persalinan
Minyak kelapa, memang konotasinya bikin lancar dan licin.
Namun dalam dunia kedokteran, minyak tak ada gunanya sama
sekali dalam melancarkan persalinan. Mungkin secara psikologis,
8
ibu hamil menyakini, dengan minum dua sendok minyak kelapa
dapat memperlancar persalinannya. Jika itu demi ketenangan
psikologisnya, maka diperbolehkan, karena minyak kelapa bukan
racun. (Gani, 2019)
2) Minum madu dan telur dapat menambah tenaga untuk persalinan
Madu tak boleh sembarangan dikonsumsi ibu hamil. Jika BB-
nya cukup, sebaiknya jangan minum madu karena bisa
mengakibatkan overweight. Madu termasuk karbonhidrat yang
paling tinggi kalorinya. Jadi, madu boleh diminum hanya jika BB-
nya kurang. Begitu BB naik dari batas yang ditentukan, sebaiknya
segera hentikan. Demikian juga dengan telur, pada dasarnya selama
telur itu matang maka tidak akan berbahaya bagi kehamilan. Hal ini
disebabkan karena telur banyak mengandung protein yang dapat
menambah kalori tubuh. . (Gani, 2019)
3) Makan duren, tape, dan nanas bisa membahayakan persalinan
Ini benar karena bisa mengakibatkan perdarahan atau
keguguran. Duren mengandung alcohol yang menimbulkan rasa
panas ketubuh. Begitu juga tape serta aneka masakan yang
menggunakan arak, sebaiknya dihindari. Buah nanas juga karena
mengakibatkan keguguran. (Gani, 2019)
c. Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada masa
nifas
Macam - macam mitos yang ada pada masyarakat mengenai ibu
nifas diantaranya :
1) Kaki harus lurus
Menurut Koesmariyah, baik saat berjalan maupun berbaring,
kaki harus lurus. Dalam arti kaki kiri dan kaki kanan tidak boleh
saling tumpeng tindih ataupun ditekuk. Secera medis, posisi kaki
yang lurus memang lebih menguntungkan karena membuat aliran
darah menjadi lancar. Sedangkan mobilisasi secara umum, pada
dasarnya boleh dan malah harus dilakukan. Makin cepat dilakukan
9
kian menguntungkan pula. Dengan catatan, kondisi ibu dalam
keadaan baik, semisal tak mengalami perdarahan atau kelainan
apapun saat melahirkan.
Selain patokan bahwa dalam 8 jam pertama setelah
melahirkan ia sudah bisa BAK dan BAB serta selera makannya
bagus. Begitu juga tensi, denyut nadi, dan suhu tubuhnya dalam
batas normal. Soalnya, jika tak bisa BAK dan BAB berarti ada
sesuatu yang enggak beres yang akan berpengaruh pada kontraksi
dan proses involusi (pengecilan kembali) rahim. (Wahyuni 2017)
2) Tidak boleh tidur siang
Menurut Chairul sjah, tidur berkepanjangan memang
mengandung proses recovery yang lebih lambat. “makin lama
berbaring makin besar pula peluang terjadi tromboemboli atau
pengendapan elemen-elemengaram. “ lalu bila si ibu bangun/berdiri
mendadak, endapan elemen tersebut dikhawatirkan lepas dari
pelekatannya di dinding pembuluh darah. Padahal akibatnya bisa
fatal. Endapan-endapan tadi bisa masuk kedalam pembuluh darah
lalu ikut aliran darah ke jantung, otak dan organ-organ penting yang
lain yang akan memunculkan stroke (Wahyuni 2017)
3) Tidak boleh bepergian
Larangan ini bertujuan supaya ibu tidak terlalu telitih
beraktivitas. Bila ibu terlalu letih maka ASI-nya akan berkurang.
Hal ini akan mempengaruhi tumbuh kembang bayi karena biasanya
seumur ini sedang kuat-kuatnya menyusu. (Wahyuni 2017)
d. Tradisi Kebudayaan Pelayanan BBL
1) Masyarakat masih banyak tidak menerima proses memandikan bayi
baru lahir setelah enam jam proses pasca persalinan.
Masyarakat beranggapan bayi ketika baru lahir harus segera
dimandikan karena amis dan kotor. Padahal Eviden based nya bayi
10
dimandikan setelah 6 jam pasca persalinan karena ditakutkan
terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir agar kebiasaan masyarakat
ini tidak berlangsung terus menerus maka bidan dan wadah
profesinya harus terus memberikan penyuluhan atau pendidikan
kesehatan kepada masyarakat.
2) Dibedong agar kaki tidak bengkok.
Ternyata di bedong bisa membuat peredaran darah bayi
menjadi terganggu, kerja jantung akan lebih berat memompa darah,
akibatnya bayi akan sering sakit di daerah paru-paru dan jalan
nafasnya. Selain itu dibedong akan menghambat perkembangan
motorik si bayi karena tidak ada kesempatan untuk bergerak.
Sebaiknya dibedong saat sesudah mandi untuk melindungi dari
dingin atau saat cuaca dingin itu pun dibedong longgar.
Jadi dibedong itu tidak ada hubungannya dengan pembentukan
kaki karena semua kaki bayi yang baru lahir kakinya bengkok,
sebab di dalam perut tidak ada ruang yang cukup untuk meluruskan
kakinya sehingga waktu lahirpun masih bengkok, tapi akan lurus
dengan sendirinya. (Novita 2012,dalam 2019)
3) Pemakaian gurita agar tidak kembung.
Pemakaian gurita akan menghambat perkembangan organ-
organ perut. Sekarang bayangk an kalau perut anda di ikat seperti
itu tentu akan merasa sesak dan tidak nyaman bukan. Jika memang
harus memakaikan gurita jangan mengikat terlalu kencang terutama
di bagian dada agar jantung dan paruparunya bisa berkembang
dengan baik. Dan jika tujuannya supaya pusar tidak bodong
sebaiknya di pakaikan hanya di pusar dan ikatannya pun tidak
kencang. (Novita 2012,dalam 2019)
D. Cara Bidan Mengatasi Presepsi Tradisi Kebudayaan Tidak benar
yang Berkembang di Masyarakat
11
Bidan merupakan tenaga kesehatan yang menjadi panutan kaum
perempuan. Bidan menjadi mitra bagi masyarakat dalam pemberian dukungan,
nasehat serta asuhan selama masa kehamilan hingga masa nifas berakhir. Oleh
karena itu bidan menjadi instrumen utama untuk merubah perilaku masyarakat
lebih sehat. Bidan memiliki peran dalam mengedukasi masyarakat. (Ratih
Sakti Prastiwi, 2019)
Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat
khususnya, berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bufas, bayi
baru lahir, anak remaja dan usia lanjut. Seorang bidan juga harus memiliki
kompetensi yang cukup berkaitan dengan tugas, peran serta tanggung
jawabnya.
Perilaku tradisional umumnya dilakukan karena adanya anjuran dan
dorongan dari orang tua atau keluarga yang dituakan. Sehingga strategi yang
dilakukan tidak hanya dengan peningkatan pengetahuan pasien saja,
melainkan kepada kerabatnya. Selain itu, faktor keberhasilan lainnya adalah
adanya dukungan dari kader, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Adanya
dukungan tersebut sangat membantu penyampaian edukasi lebih meluas tidak
hanya pada pasien melainkan juga kerabatnya. Tidak hanya itu, dengan
memanfaatkan teknologi informasi, tenaga kesehatan sangat terbantu dalam
penyebaran informasi kesehatan khususnya pada masyarakat yang jarang
mendatangi pelayanan kesehatan dan tersentuh tenaga medis. Oleh karena itu,
masyarakat akan lebih pintar memilah perilaku tradisional masih dapat
dijalankan dan mana yang sebaiknya mulai dihindari. (Ratih Sakti Prastiwi,
2019).
Kemudian seorang bidan perlu mempelajari sosial-budaya
masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk,
struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan
norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan
dengan wilayah tersebut.
Dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan tradisional setempat bidan
dapat berperan aktif untuk melakukan promosi kesehatan kepada
12
masyaratkat dengan melakukan penyuluhan kesehatan di sela-sela acara
kesenian atau kebudayaan tradisional tersebut. Misalnya : Dengan
Kesenian wayang kulit melalui pertunjukan ini diselipkan pesan-pesan
kesehatan yang ditampilkan di awal pertunjukan dan pada akhir
pertunjukan. (Ratih Sakti Prastiwi, 2019)
E. Contoh Budaya Masyarakat Yang Merugikan Kesehatan Pada Ibu Nifas
Dan Bayi
“Membasuh kemaluan dengan menggunakan rebusan daun sirih ,
dapat menghilangkan bau tidak sedap dan juga menghilangkan rasa gatal
pada kemaluan serta dapat mengurangi keputihan”
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina
selama masa nifas. Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak
terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lochea
biasanya berlangsung kurang dari selama 2 minggu setelah bersalin. Namun
penelitian terbaru mengindikasikan bahwa lochea menetap hingga 4 minggu
dan dapat berhenti atau berlanjut hingga 56 hari setelah bersalin. Lochea juga
mengalami perubahan karena proses involusi.(Saleha, Sitti. 2013).
Keluarnya cairan dari kemaluan ibu nifas yang di sebut lokhea normal
jika berbau amis dan tidak perlu untuk menggunakan ramuan atau obat untuk
membasuh [Link] yang di keluarkan bersamaan dengan cairan dari alat
reproduksi ibu nifas akan berangsur-angsung hilang dengan berakhirnya masa
nifas.
“Di larang mandi pagi terlalu siang, karena menurut ibu dapat
menyebabkan cepat rabun, dan mandi harus pagi-pagi sekali di bawah air yang
mengalir dan di siram dengan posisi muka menengdah atau dangak”
Ibu nifas dianjurkan untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh,
mengajarkan ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air,
menyarankan ibu mengganti pembalut setiap kali mandi, BAB/BAK, paling
tidak dalam waktu 3-4 jam, menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan
sabun dan air sebelum menyentuh kelamin, anjurkan ibu tidak sering
13
menyentuh luka episiotomi dan laserasi, pada ibu post sectio caesaria (SC),
luka tetap di jaga agar tetap bersih dan kering, tiap hari di ganti balutan.
Seorang ibu setelah melahirkan atau ibu nifas memang sangat dianjurkan
untuk selalu menjaga kebersihan dirinya mandi minimal 2 kali dan mengganti
pembalut jika merasa sudah penuh dan sangat basah, membasuh alat
kemaluan sebersih mungkin untuk menghindari terjadinya lembab pada
kemaluan dan meminimalisasi terjadinya infeksi apalagi jika ada luka jahitan
episiotomi. .(Saleha, Sitti. 2013).
” Merawat bayi pada tali pusatnya hanya di bungkus dengan kasa
kering dan steril dan juga memberikan ASI setiap 2 jam sekali.” Namun ada
yang mempunyai tambahan pendapat: “bayinya masih menggunakan gurita,
karena berpendapat bayi masih lemas sehingga takut jika mau
menggendongnya”
Setelah bayi lahir, paru akan berkembang yang akan mengakibatkan
tekanan arteriol dalam paru menurun yang diikuti dengan menurunnya
tekanan pada jantung kanan. Kondisi ini menyebabkan tekanan jantung kiri
lebih besar dibandinkan dengan tekanan jantung kanan, dan hal tersebutlah
yang membuat foramen ovale secara fungsional menutup. Hal ini terjadi pada
jam-jam pertama setelah kelahiran. Oleh karenan tekanan dalam paru turun
dan tekanan dalam aorta desenden naik dan juga karena rangsangan biokimia
(PaO2 yang naik) serta duktus arteriosus berobliterasi.( Pantiawati dan
Saryono. 2010).
Sesuai dengan teori tersebut jika bayi di pakaikan gurita maka akan
menyebabkan bayi sesak nafas, selain itu juga ASI yang sudah di konsumsi
bayi bisa kembali lagi atau muntah karena adanya tekanan pada dadanya.
Sehingga bayi akan lebih baik tidak di gunakan gurita untuk mendukung
tumbuh kembagnya supaya makimal.
14
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Faktor - faktor sosial-budaya mempunyai peranan penting dalam
memahami sikap dan prilaku menanggapi kehamilan dan kelahira.
Sebagian pandangan budaya mengenai hal-hal tersebut telah diwariskan
turun-temurun dalam kebudayaan masyarakat yang [Link]
karna itu, meskipun petugas kesehatan mungkin menemukan suatu bentuk
prilaku atau sikap yang terbukti kurang menguntungkan bagi kesehatan,
seringkali tidak mudah bagi mereka untuk mengadakan perubahan
terhadapnya, akibat telah tertanamnya keyakinan yang melandasi sikap
dan prilaku itu secara mendalam pada kebudayaan warga komuniti
tersebut.
Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat
dengan masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam
meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan
anak di wilayah kerjanya. Seorang bidan harus mampu menggerakkan
peran serta masyarakat khususnya, berkaitan dengan kesehatan ibu hamil,
ibu bersalin, bufas, bayi baru lahir, anak remaja dan usia lanjut.
Seorang bidan juga harus memiliki kompetensi yang cukup berkaitan
dengan tugas, peran serta tanggung jawabnya. Agar bidan dapat
menjalankan praktik atau pelayanan kebidanan dengan baik, hendaknya
bidan melakukan beberapa pendekatan misalnya pendekatan melalui
kesenian tradisional.
15
B. Saran
Berdasarkan makalah ini kami menilai bahwa budaya dalam praktik
kebidanan masih ada di indonesia dan sebagai calon bidan diharuskan
untuk mengetahui dan memahami bagaimana budaya yang ada di daerah
tersebut, bagi para pembaca hendaknya dapat memahami isi dari makalah
ini dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.
16
DAFTAR PUSTAKA
Abdulloh. 2023. Buku Ajaran Memahami Social Budaya Dasar dalam Kebidanan.
CV. Sarnu Untung, Jawa Tengah.
Agustin, A. T. 2020. Tradisi Kebudayaan Dalam Masyarakat Yang Berhubungan
Dengan Kebidanan. Disertasi Tidak Diterbitkan. Fakultas Ilmu Kesehatan,
Yogyakarta.
Endriyani, A. 2020. Pengalaman Ibu Nifas Terhadap Budaya dalam Perawatan
Masa Nifas. Jurnal Kebidanan, Vol. 09, No. 01.
Fathoni, A. 2017. Pergeseran Tradisi Mitoni: Persinggungan Antara Budaya dan
Agama. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, Februari 2017.
Hartiningrum, C. Y., dan Rahmidini, A. 2019. Gambaran Kepercayaan dan
Tradisi Ibu Hamil dalam Asuhan Kehamilan di Wilayah Desa Cikunir
Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2018. Jurnal Bidkesmas, Vol. 02, No. 10,
Agustus 2019.
Juariah. 2018. Kepercayaan dan Praktik Budaya Pada Masa Kehamilan
Masyarakat Desa Karangsari, Kabupaten Garut. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
dan Humaniora, Vol. 20, No. 2, Juli 2018.
Kurniawati, I., dkk. Pengantar Profesionalisme Kebidanan.
Maryam, S. 2021. “Budaya Masyarakat Yang Merugikan Kesehatan Pada Ibu
Nifas Dan Bayi”. Jurnal Kebidanan. Vol. 10 (1) : hal. 1-6.
Maryam, S. 2021. Budaya Masyarakat yang Merugikan Kesehatan Pada Ibu Nifas
dan Bayi. Jurnal Kebidanan, Vol. 10, No. 1, April 2021.
Nababan, L. 2021. Modul Ajar Kebidanan Profesionalisme. Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan, Bengkulu .
Novita. 2012. Persinggungan Antara Budaya dan Agama. Jurnal Penelitian, Vol.
11, No., 1, Februari 2017.
17
Prastiwi, R. S. 2019. Pendidikan Kesehatan Sarana Bidan Dalam Merubah
Perilaku Tradisional Masyarakat Indonesia. Jurnal Siklus, Vol. 08, No. 02,
Juni 2019.
Ridwan, M., dan Fibrila, F. 2023. Buku Ajar Memahami Ilmu Sosial Budaya
Dasar (ISBD) Dalam Kebidanan. CV. Sarnu Untung, Jawa Tengah.
Safitri, R. Y., Sinaga, R. M., dan Ekwandari, Y. S. 2018. Persepsi Masyarakat
Jawa terhadap Tradisi Brokohan di Desa Jepara Kabupaten Lampung
Timur.
Sudirman, J., Triananinsi, N., Sampara, N., dan Pahrisal, A. 2019. Analisis
Perkembangan Motorik Kasar dengan Pemberian Bedong Pada Bayi Umur
3 Bulan. Seminar Nasional Sains, Teknologi, dan Sosial Humaniora UIT
2019.
Teti, S. 2022. Ilmu Social Budaya Dalam Kebidanan. Lakeish (Anggota IKAPI
No.181/JTE/2019), Jawa Tengah.
18