[Link] [Link].
id
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Masa Kerja
a. Pengertian
Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja
itu bekerja di suatu tempat (Tarwaka, 2017). Orang yang mempunyai
pengalaman akan selalu lebih pandai dalam menyikapi segala hal
daripada mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman (Gibson,
2009). Masa kerja adalah lamanya seorang karyawan menyumbangkan
tenaganya pada perusahaan tertentu dan menghasilkan penyerapan dari
berbagai aktivitas manusia, serta mampu menumbuhkan keterampilan
yang muncul secara otomatis dalam tindakan yang dilakukan karyawan
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Semakin berpengalaman seorang
karyawan maka akan semakin membantu perusahaan untuk
menghasilkan kinerja atau output yang lebih banyak (Rudiansyah.
2014).
b. Kategori Masa Kerja
Menurut Tarwaka (2017), masa kerja dikategorikan menjadi 2,
yaitu:
1) Masa kerja baru adalah ≤ 5 tahun
2) Masa kerja lama adalah > 5 tahun
commit to user
9
[Link] 10
[Link]
2. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, kepandaian
atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan mata pelajaran
(KBBI, 2012). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,
2012a).
b. Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012a), pengetahuan merupakan domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan yaitu:
1) Mengetahui
Mengetahui atau tahu diartikan sebagai mengingat suatu
materi yang telah dipelajari sebelumnya. Salah satunya adalah
mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2) Memahami
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
commit to user
[Link] 11
[Link]
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, dan menyimpulkan objek yang dipelajari.
3) Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam
konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di
dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu dengan
yang lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan
kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),
membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
5) Sintesis
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-
formulasi yang ada.
commit to user
[Link] 12
[Link]
6) Evaluasi
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian
terhadap suatu materi atau objek. Penilaian didasarkan pada suatu
kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria
yang telah ada.
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Budiman dan Riyanto (2013) faktor yang
mempengaruhi pengetahuan meliputi:
1) Pendidikan
Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan perilaku
seseorang atau kelompok dan merupakan usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula pengetahuan
seseorang.
2) Informasi
Jika seseorang semakin banyak atau sering mendapatkan
informasi dari media massa tentang suatu pembelajaran maka akan
menambah pengetahuan dan wawasannya, sedangkan seseorang
yang tidak sering menerima informasi tidak akan menambah
pengetahuan dan wawasannya.
3) Sosial, Budaya dan Ekonomi
Budaya seseorang yang baik atau buruk akan menambah
pengetahuannya sehingga jika sosial budayanya baik maka
commit to user
[Link] 13
[Link]
pengetahuannya akan baik tapi jika sosial budayanya kurang baik
maka pengetahuannya akan kurang baik. Status ekonomi seseorang
mempengaruhi tingkat pengetahuan karena seseorang yang memiliki
status ekonomi di bawah rata-rata akan sulit untuk memenuhi
fasilitas yang diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan.
4) Lingkungan
Lingkungan yang baik menjadikan pengetahuan yang
didapatkan akan baik tapi jika lingkungan kurang baik maka
pengetahuan yang didapat juga akan kurang baik.
5) Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman orang lain
maupun diri sendiri sehingga pengalaman yang sudah diperoleh
dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Belajar dari
pengalaman tentang suatu permasalahan baik dari diri sendiri
maupun orang lain dapat dijadikan sebagai pengetahuan apabila
mendapatkan masalah yang sama.
6) Usia
Semakin bertambahnya usia maka akan semakin berkembang
daya tangkap dan pola pikirya sehingga pengetahuan yang diperoleh
akan semakin membaik dan bertambah.
d. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan bertujuan untuk mengetahui status
pengetahuan seseorang dan dirangkum dalam tabel distribusi frekuensi.
commit to user
[Link] 14
[Link]
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan tes wawancara atau
angket kuesioner, dimana tes tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan
yang berkaitan dengan materi yang ingin diukur dari subjek penelitian
atau responden (Notoatmodjo, 2012a). Pengukuran pengetahuan pada
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disusun
oleh Mulyanti (2008) yang telah dimodifikasi sesuai dengan teori
pengetahuan dari Notoatmodjo (2012a). Kusioner ini telah divalidasi
oleh ahli keselamatan dan kesehatan kerja dengan mempertimbangkan
isi materi yang akan diukur serta telah di uji statistik yang terdapat di
lampiran 10. Terdapat 12 pertanyaan dalam kuesioner ini dengan nilai
maksimal 12 dan nilai minimal adalah 0.
Menurut Budiman dan Riyanto (2013) pengukuran tingkat
pengetahuan seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut:
1) Pengetahuan dikatakan baik jika responden mampu menjawab
pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar ≥ 75% dari seluruh
pernyataan pada kuesioner.
2) Pengetahuan dikatakan cukup jika responden mampu menjawab
pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 – 74% dari
seluruh pernyataan pada kuesioner.
3) Pengetahuan dikatakan kurang jika responden mampu menjawab
pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 55% dari seluruh
pernyataan pada kuesioner.
commit to user
[Link] 15
[Link]
3. Sikap
a. Pengertian
Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau
objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik,
dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2010).
b. Komponen Sikap
Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2010) sikap terdiri
atas 3 komponen pokok yaitu:
1) Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek.
Artinya, bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran
seseorang terhadap objek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek. Artinya
bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang
tersebut terhadap objek.
3) Kecenderungan untuk bertindak. Artinya sikap adalah komponen
yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah
ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan).
commit to user
[Link] 16
[Link]
c. Tingkatan Sikap
Menurut Notoatmodjo (2010) sikap mempunyai tingkatan-
tingkatan sebagai berikut:
1) Menerima
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau
menerima stimulus yang diberikan (objek).
2) Menanggapi
Menanggapi diartikan memberi jawaban atau tanggapan
terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.
3) Menghargai
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai
yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya
dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau
menganjurkan orang lain merespon.
4) Bertanggung jawab
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung
jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah
mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus
berani mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohnya
atau ada resiko lain.
commit to user
[Link] 17
[Link]
Menurut Ahmadi (1990) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010)
sikap dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Sikap Positif
Sikap positif adalah sikap yang menunjukkan atau
memperlihatkan menerima atau mengakui, menyetujui terhadap
norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.
2) Sikap Negatif
Sikap negatif adalah sikap sikap yang menunjukkan penolakan
atau tidak menyetujui terhadap norma-norma yang berlaku dimana
individu itu berada.
d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sikap
Menurut Azwar (2013) faktor yang mempengaruhi sikap, yaitu:
1) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi yang meninggalkan kesan kuat dapat
menjadi dasar pembentukan sikap.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap
yang searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting.
3) Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai
pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup
dalam budaya sosial yang mengutamakan kehidupan berkelompok,
maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap
commit to user
[Link] 18
[Link]
kehidupan individualism yang mengutamakan kepentingan
perorangan.
4) Media massa
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya,
media massa membawa pesan-pesan berisi sugesti yang dapat
mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai
sesuatu hal, menjadikan landasan dalam terbentuknya sikap terhadap
hal tersebut.
5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu
sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena
keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri
individu.
6) Faktor emosional
Suatu bentuk sikap terkadang merupakan pernyataan yag
didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran
frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
e. Pengukuran Sikap
Sikap dapat diukur dengan menanyakan secara langsung
pendapat maupun pernyataan responden terhadap suatu objek tertentu.
Selain itu dapat dilakukan dengan beberapa pernyataan hipotesis
kemudian menanyakan pendapat responden mengenai pernyataan
tersebut (Notoatmodjo, 2010). Kuesioner yang digunakan pada
commit to user
[Link] 19
[Link]
penelitian ini adalah kuesioner yang disusun oleh Mulyanti (2008) yang
telah dimodifikasi sesuai dengan teori sikap dari Notoatmodjo (2010).
Kusioner ini telah divalidasi oleh ahli keselamatan dan kesehatan kerja
dengan mempertimbangkan isi materi yang akan diukur serta telah di
uji statistik yang terdapat di lampiran 10. Terdapat 12 pertanyaan dalam
kuesioner ini dengan nilai maksimal 12 dan nilai minimal adalah 0.
Menurut Budiman dan Riyanto (2013) pengukuran sikap pada
responden dapat dikategorikan sebagai berikut:
1) Sikap dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan
pada kuesioner dengan benar ≥ 75% dari seluruh pernyataan dalam
kuesioner.
2) Sikap dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan
pada kuesioner dengan benar 56 – 74% dari seluruh pernyataan
dalam kuesioner.
3) Sikap dikatakan kurang jika responden mampu menjawab
pernyataan pada kuesioner dengan benar < 55% dari seluruh
pernyataan dalam kuesioner.
4. Alat Pelindung Diri (APD)
a. Pengertian
Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat keselamatan
yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian
tubuhnya dari kemungkinan adanya paparan potensi bahaya lingkungan
kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Tarwaka, 2015).
commit to user
[Link] 20
[Link]
b. Perundang-undangan
Ketentuan mengenai alat pelindung diri diatur oleh Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970
yaitu Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 2/M/BW/1984 tentang
Pengesahan Alat Pelindung Diri; Instruksi Menteri Tenaga Kerja No.
Ins. 05/M/BW/97 tentang Pengawasan Alat Pelindung Diri; Surat
Edaran Dirjen Binawas No. SE 05/BW/97 tentang Penggunaan Alat
Pelindung Diri dan Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE 06/BW/97
tentang Pendaftaran Alat Pelindung Diri. Jenis APD menurut ketentuan
tentang pengesahan pengawasan, dan penggunaannya meliputi alat
pelindung kepala, alat pelindung telinga, alat pelindung muka dan mata,
alat pelindung pernapasan, pakaian kerja, sarung tangan, alat pelindung
kaki, sabuk pengaman, dan lain-lain (Suma’mur, 2009).
Kewajiban dalam penggunaan alat pelindung diri di tempat
kerja yang mempunyai resiko terhadap timbulnya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja telah diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja. Pasal-pasal yang mengatur tentang
penggunaan alat pelindung diri antara lain:
1) Pasal 3 (1:f) : Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-
syarat keselamatan kerja untuk memberikan alat-alat pelindung diri
pada pekerja.
2) Pasal 9 (1:c) : Pengurus diwajibkan menunjukan dan menjelaskan
pada tiap tenaga kerja untuk memakai alat-alat pelindung diri yang
commit to user
[Link] 21
[Link]
diwajibkan.
3) Pasal 12 (b) : Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan
atau hak tenaga kerja untuk memakai alat-alat pelindung diri yang
diwajibkan.
4) Pasal 14 (c) : Pengurus diwajibkan menyediakan secara cuma-cuma
semua alat pelindung diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang
berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang
lain yang memasuki tempat kerja tersebut disertai dengan petunjuk-
petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau
ahli-ahli keselamatan kerja.
c. Jenis-jenis Alat Pelindung Diri (APD)
Jenis-jenis alat pelindung diri berdasarkan bagian tubuh yang
dilindungi dari kontak dengan potensi bahaya dijelaskan sebagai
berikut:
1) Alat Pelindung Kepala
Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung kepala digunakan
untuk melindungi kepala dari bahaya terbentur benda tajam atau
keras, bahaya kejatuhan benda, percikan bahaya kimia korosif, dan
lain-lain.
Gambar 1. Topi Pelindung
commit to user
[Link] 22
[Link]
2) Alat Pelindung Mata
Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung mata digunakan
untuk melindungi mata dari percikan bahaya korosif, debu, dan
partikel kecil yang melayang di udara, gas atau uap yang dapat
menyebabkan iritasi mata dan radiasi gelombang. Jenis pelindung
mata antara lain:
a) Kacamata (Spectacles)
Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari partikel-
partikel kecil, dan debu.
Gambar 2. Kacamata Safety
b) Goggles
Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari gas, debu,
uap, percikan larutan bahan kimia dan radiasi gelombang
elektromagnetik mengion.
Gambar 3. Googles
commit to user
[Link] 23
[Link]
3) Alat Pelindung Telinga
Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung telinga digunakan
untuk mengurangi intensitas suara yang masuk ke dalam telinga,
jenis pelindung telinga antara lain:
a) Sumbat telinga (Ear Plug)
Ukuran dan bentuk saluran telinga tiap-tiap individu dan
bahkan untuk kedua telinga dari orang yang sama adalah berbeda,
untuk itu pemilihan ear plug harus disesuaikan dengan ukuran
dan saluran telinga pemakainya masing-masing agar nyaman saat
digunakan.
Gambar 4. Ear Plug
b) Tutup telinga (Ear Muff)
Alat pelindung telinga jenis ini terdiri dari 2 (dua) buah
tutup telinga dan sebuah headband.
Gambar 5. Ear Muff
commit to user
[Link] 24
[Link]
4) Alat Pelindung Pernapasan
Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung pernapasan
digunakan untuk melindungi pernapasan dari resiko paparan gas,
uap, debu, dan kontaminan lain. Jenis pelindung pernapasan antara
lain:
a) Masker
Masker adalah alat yang digunakan untuk mengurangi
paparan debu atau partikel-partikel yang lebih besar masuk ke
dalam saluran pernapasan yang mengakibatkan batuk dan sesak
napas.
Gambar 6. Masker
b) Respirator
Alat ini digunakan untuk melindungi pernapasan dari
paparan debu, kabut, uap logam, asap, dan gas-gas berbahaya.
Gambar 7. Respirator
commit to user
(Sumber: Tarwaka, 2017)
[Link] 25
[Link]
5) Alat Pelindung Tangan
Alat pelindung tangan digunakan untuk melindungi tangan
dan bagian tangan lainnya dari benda tajam atau goresan, bahan
kimia, benda panas dan dingin, dan kontak dengan arus listrik
(Tarwaka, 2017).
Gambar 8. Sarung Tangan
6) Alat Pelindung Kaki
Alat pelindung kaki digunakan untuk melindungi kaki dan
bagian kaki lainnya dari benda-benda keras, benda tajam,
logam/kaca, larutan kimia, benda panas, dan kontak dengan arus
listrik.
Gambar 9. Safety Shoes
7) Pakaian Pelindung
Menurut Tarwaka (2017) pakaian pelindung adalah alat yang
digunakan untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuh dari
percikan api, suhu panas atau dingin dan cairan bahan kimia.
commit to user
[Link] 26
[Link]
Gambar 10. Pakaian Pelindung
Gambar 11. Apron
(Sumber: Kuswana, 2015)
d. Pemilihan dan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Setiap tempat kerja mempunyai potensi bahaya yang berbeda-
beda sesuai dengan jenis, bahan dan proses produksi yang dilakukan.
Dengan demikian, sebelum melakukan pemilihan alat pelindung diri
yang tepat untuk digunakan, diperlukan adanya suatu identifikasi
potensi bahaya yang ada di tempat kerja masing-masing.
Menurut Suma’mur (2009) APD harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
1) Nyaman dipakai.
2) Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan.
3) Memberikan perlindungan yang efektif terhadap macam bahaya
commit to user
[Link] 27
[Link]
yang dihadapi.
Menurut Tarwaka (2017) pemilihan dan penggunaan alat
pelindung diri harus memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut:
1) Aspek Teknis, meliputi:
a) Pemilihan berdasarkan jenis dan bentuknya
Jenis dan bentuk alat pelindung diri harus disesuaikan
dengan bagian tubuh yang dilindungi.
b) Pemilihan berdasarkan mutu dan kualitas
Mutu alat pelindung diri akan menentukan tingkat
keparahan dari suatu kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang
mungkin terjadi. Semakin rendah mutu alat pelindung diri, maka
akan semakin tinggi tingkat keparahan atas kecelakaan atau
penyakit akibat kerja yang terjadi. Adapun untuk menentukan
mutu alat pelindung diri dapat dilakukan melalui uji laboratorium
untuk mengetahui pemenuhan terhadap standar.
c) Penentuan jumlah alat pelindung diri
Jumlah yang diperlukan sangat tergantung dari jumlah
tenaga kerja yang terpapar oleh potensi bahaya di tempat kerja.
Idealnya adalah setiap pekerja menggunakan alat pelindung
sendiri-sendiri atau tidak dipakai secara bergantian.
d) Teknik penyimpanan dan pemeliharaan
Penyimpanan dan APD yang baik dapat digunakan untuk
penghematan biaya pengeluaran perusahaan.
commit to user
[Link] 28
[Link]
2) Aspek Psikologis
Aspek psikologis yang menyangkut masalah kenyamanan
dalam penggunaan alat pelindung diri juga sangat penting untuk
diperhatikan. Timbulnya masalah baru bagi pemakai harus
dihilangkan, seperti terjadinya gangguan terhadap kebebasan
bergerak, tidak menimbulkan alergi atau gatal-gatal pada kulit, dan
tenaga kerja tidak malu memakainya (Tarwaka, 2017).
Kriteria yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan dan
penggunaan APD (Tarwaka, 2017), antara lain:
a) Alat pelindung diri harus dapat memberikan perlindungan yang
sangat kuat terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahaya
yang dihadapi oleh tenaga kerja.
b) Alat pelindung diri harus ringan dan tidak menyebabkan rasa
ketidaknyamanan berlebihan.
c) Alat pelindung diri harus fleksibel dalam penggunaannya agar
tidak mengganggu saat pekerja melakukan pekerjaan.
d) Bentuk alat pelindung diri cukup menarik sehingga pekerja tidak
merasa bosan karena desainnya.
e) Alat pelindung diri dapat digunakan untuk pemakaian yang lama
sesuai peraturn sehingga tidak menimbulkan pengeluaran yang
besar bagi perusahaan.
f)Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi
pemakainya, yang dikarenakan bentuknya yang tidak tepat atau
commit to user
[Link] 29
[Link]
karena salah dalam penggunaannya.
g) Alat pelindung diri harus memenuhi standar yang telah ada.
h) Suku cadang alat pelindung diri mudah didapat sehingga mudah
dalam pemeliharaannya.
5. Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
a. Pengertian
Menurut Emaliyawati (2010) kepatuhan adalah tingkat seseorang
melaksanakan suatu cara atau berperilaku sesuai dengan apa yang
disarankan atau dibebankan padanya. Perilaku merupakan perbuatan
atau tindakan seseorang dalam melakukan suatu respon terhadap
stimulus dan kemudian dijadikan suatu kebiasaan karena ada nilai yang
diyakini (Mubarak, 2012).
b. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Menurut teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012)
perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:
1) Faktor dari diri sendiri
Faktor dari diri sendiri adalah faktor-faktor yang mendahului
perilaku untuk menetapkan pemikiran ataupun motivasi yang terdiri
dari pengetahuan, sikap, serta beberapa karakteristik individu, seperti
umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan masa kerja. Faktor dari
diri sendiri adalah faktor yang mempermudah dan mendasari untuk
terjadinya perilaku tertentu.
commit to user
[Link] 30
[Link]
2) Faktor pemungkin
Faktor pemungkin adalah faktor-faktor yang terwujud oleh
adanya fasilitas penunjang seperti ketersediaan APD.
3) Faktor penguat
Faktor penguat adalah faktor yang memperkuat perilaku.
Faktor penguat dalam penggunaan APD dapat dipengaruhi oleh
peraturan perusahaan dan punishment.
c. Pengukuran Perilaku
Pengukuran indikator perilaku yang paling akurat dapat
dilakukan dengan menggunakan pengamatan atau observasi. Namun
dapat dilakukan pula wawancara dengan pendekatan mengingat
kembali apa saja yang telah dilakukan oleh responden beberapa waktu
yang lalu (Notoatmodjo, 2003). Menurut Micheliana (2016) kriteria
kepatuhan menggunakan APD dikategorikan menjadi 2, yaitu:
1) Patuh
Dikatakan patuh apabila pekerja menggunakan APD secara lengkap
dan benar sesuai peraturan perusahaan saat dilakukan pengamatan.
2) Tidak patuh
Dikatakan tidak patuh apabila:
a) Pekerja tidak menggunakan APD secara lengkap dan benar sesuai
peraturan perusahaan saat dilakukan pengamatan.
commit to user
[Link] 31
[Link]
b) Pekerja menggunakan APD secara lengkap akan tetapi
penggunaannya tidak benar sesuai peraturan perusahaan saat
dilakukan pengamatan.
6. Hubungan Masa Kerja, Pengetahuan, dan Sikap dengan Kepatuhan
Penggunaan APD
a. Hubungan Masa Kerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD
Masa kerja merupakan salah satu faktor pada karakteristik
tenaga kerja yang membentuk perilaku (Notoatmodjo 2012). Semakin
lama masa kerja tenaga kerja akan membuat tenaga kerja lebih
mengenal kondisi lingkungan tempat kerja. Jika tenaga kerja telah
mengenal kondisi lingkungan tempat kerja dan bahaya pekerjaannya
maka tenaga kerja akan patuh menggunakan APD. Masa kerja
memberikan pengaruh patuh menggunakan APD, karena semakin lama
masa kerja seseorang maka dia akan dapat banyak pengalaman dan
lebih tahu tentang APD yang berdampak pada kepatuhan penggunaan
APD yang baik, begitupun sebaliknya kurangnya pengalaman dan
pemahaman tentang APD karena masa kerja yang singkat mempunyai
dampak pada kepatuhan penggunaan APD yang tidak baik (Kairupan et
al, 2016).
Pengalaman merupakan suatu gabungan antara pengetahuan dan
perilaku seseorang dimana pengetahuan hasil dari tahu setelah orang
melakukan penginderaan suatu objek tertentu sementara perilaku
merupakan segala bentuk tanggapan dari individu terhadap
commit to user
[Link] 32
[Link]
lingkungannya. Lama kerja identik dengan pengalaman, semakin lama
kerja seseorang maka pengalamannya menjadi semakin bertambah.
Pengalaman akan berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan
seseorang, karena pengetahuan seseorang juga diperoleh dari
pengalaman (Wibowo, 2013).
b. Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Penggunaan APD
Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan merupakan hasil
dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Pengetahuan merupakan ranah yang penting dalam
pembentukan perilaku tenaga kerja. Pengetahuan tenaga kerja harus
meliputi beberapa aspek mulai dari memahami fungsi APD,
mengaplikasikannya dengan benar, menganalisis APD yang dibutuhkan
berdasarkan risiko pekerjaan, merekomendasikan APD yang
dibutuhkan, hingga mengevaluasi APD yang disediakan (Maharanny,
2016).
Hasil penelitian yang dilakukan Maharanny (2016),
menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki tenaga kerja tentang
APD memiliki hubungan secara siginifkan dengan 70 tingkat kepatuhan
mereka dalam menggunakan APD saat bekerja. Seorang tenaga kerja
yang memiliki pengetahuan dan pemahaman baik tentang APD dan
commit to user
[Link] 33
[Link]
urgensi penggunaannya selama melaksanakan pekerjaan maka akan
memiliki tingkat kesadaran yang tinggi sehingga dapat patuh dalam
mengaplikasikan penggunaan APD dalam pekerjaan dan menciptakan
budaya keselamatan.
c. Hubungan Sikap Dengan Kepatuhan Penggunaan APD
Sikap dalam pemakaian APD akan lebih baik berawal dari niat,
sehingga dapat disimpulkan bahwa manifesti sikap itu tidak dapat
langsung dilihat, tetapi hanya dapat di tafsirkan terlebih dahulu dari
perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2010). Berdasarkan penelitian
yang dilakukan Adhityo (2016), kurangnya perhatian serta pengawasan
terhadap hal yang dikerjakan pekerja khususnya dalam hal pemakaian
APD membuat pekerja bersikap kurang baik yang menyebabkan
kepatuhan pemakaian APD pekerja juga kurang baik, selain itu adanya
pembiaran yang dilakukan oleh petugas pengawas membuat pekerja
bersikap kurang peduli terhadap pemakaian APD.
commit to user
[Link] 34
[Link]
B. Kerangka Pemikiran
Faktor yang
Faktor yang mempengaruhi:
mempengaruhi:
1. Pengalaman Pribadi
1. Pendidikan 2. Pengaruh orang lain
2. Informasi 3. Pengaruh kebudayaan
3. Sosial, Budaya 4. Media massa
dan Ekonomi Pengetahuan APD 5. Lembaga pendidikan
4. Lingkungan dan lembaga agama
5. Pengalaman Mengetahui 6. Faktor emosional
6. Usia
Memahami Sikap
Masa Kerja Aplikasi Menerima
Lama Kerja Analisis Menanggapi
Pengalaman Sintesis Menghargai
Kewaspadaan Evaluasi Tanggung jawab
Ketersediaan
Umur
APD
Jenis Kelamin Kepatuhan Peraturan
Penggunaan APD Perusahaan
Tingkat
Pendidikan Punishment
Gambar 12. Kerangka pemikiran
Keterangan:
: Diteliti
: Tidak diteliti
commit to user
[Link] 35
[Link]
C. Hipotesis
Hipotesis yang penulis sajikan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut “Ada Hubungan Masa Kerja, Pengetahuan APD, dan Sikap dengan
Kepatuhan Penggunaan APD pada Pekerja Bagian Ekstraksi di PT Jamu Air
Mancur Karanganyar.”
commit to user