0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan27 halaman

Pengertian dan Kategori Masa Kerja

Bab II membahas landasan teori masa kerja dan pengetahuan, termasuk definisi, kategori, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan pengukuran masing-masing. Masa kerja dibedakan menjadi masa kerja baru dan lama, sedangkan pengetahuan dikelompokkan ke enam tingkatan. Kuesioner digunakan untuk mengukur pengetahuan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan27 halaman

Pengertian dan Kategori Masa Kerja

Bab II membahas landasan teori masa kerja dan pengetahuan, termasuk definisi, kategori, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan pengukuran masing-masing. Masa kerja dibedakan menjadi masa kerja baru dan lama, sedangkan pengetahuan dikelompokkan ke enam tingkatan. Kuesioner digunakan untuk mengukur pengetahuan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Masa Kerja

a. Pengertian

Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja

itu bekerja di suatu tempat (Tarwaka, 2017). Orang yang mempunyai

pengalaman akan selalu lebih pandai dalam menyikapi segala hal

daripada mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman (Gibson,

2009). Masa kerja adalah lamanya seorang karyawan menyumbangkan

tenaganya pada perusahaan tertentu dan menghasilkan penyerapan dari

berbagai aktivitas manusia, serta mampu menumbuhkan keterampilan

yang muncul secara otomatis dalam tindakan yang dilakukan karyawan

untuk menyelesaikan pekerjaannya. Semakin berpengalaman seorang

karyawan maka akan semakin membantu perusahaan untuk

menghasilkan kinerja atau output yang lebih banyak (Rudiansyah.

2014).

b. Kategori Masa Kerja

Menurut Tarwaka (2017), masa kerja dikategorikan menjadi 2,

yaitu:

1) Masa kerja baru adalah ≤ 5 tahun

2) Masa kerja lama adalah > 5 tahun


commit to user

9
[Link] 10
[Link]

2. Pengetahuan

a. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, kepandaian

atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan mata pelajaran

(KBBI, 2012). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi

setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,

2012a).

b. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2012a), pengetahuan merupakan domain

yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6

tingkatan yaitu:

1) Mengetahui

Mengetahui atau tahu diartikan sebagai mengingat suatu

materi yang telah dipelajari sebelumnya. Salah satunya adalah

mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2) Memahami

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat


commit to user
[Link] 11
[Link]

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, dan menyimpulkan objek yang dipelajari.

3) Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan

hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam

konteks atau situasi yang lain.

4) Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di

dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu dengan

yang lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan

kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),

membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

5) Sintesis

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-

formulasi yang ada.

commit to user
[Link] 12
[Link]

6) Evaluasi

Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian

terhadap suatu materi atau objek. Penilaian didasarkan pada suatu

kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria

yang telah ada.

c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Budiman dan Riyanto (2013) faktor yang

mempengaruhi pengetahuan meliputi:

1) Pendidikan

Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan perilaku

seseorang atau kelompok dan merupakan usaha mendewasakan

manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, semakin tinggi

tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula pengetahuan

seseorang.

2) Informasi

Jika seseorang semakin banyak atau sering mendapatkan

informasi dari media massa tentang suatu pembelajaran maka akan

menambah pengetahuan dan wawasannya, sedangkan seseorang

yang tidak sering menerima informasi tidak akan menambah

pengetahuan dan wawasannya.

3) Sosial, Budaya dan Ekonomi

Budaya seseorang yang baik atau buruk akan menambah

pengetahuannya sehingga jika sosial budayanya baik maka


commit to user
[Link] 13
[Link]

pengetahuannya akan baik tapi jika sosial budayanya kurang baik

maka pengetahuannya akan kurang baik. Status ekonomi seseorang

mempengaruhi tingkat pengetahuan karena seseorang yang memiliki

status ekonomi di bawah rata-rata akan sulit untuk memenuhi

fasilitas yang diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan.

4) Lingkungan

Lingkungan yang baik menjadikan pengetahuan yang

didapatkan akan baik tapi jika lingkungan kurang baik maka

pengetahuan yang didapat juga akan kurang baik.

5) Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman orang lain

maupun diri sendiri sehingga pengalaman yang sudah diperoleh

dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Belajar dari

pengalaman tentang suatu permasalahan baik dari diri sendiri

maupun orang lain dapat dijadikan sebagai pengetahuan apabila

mendapatkan masalah yang sama.

6) Usia

Semakin bertambahnya usia maka akan semakin berkembang

daya tangkap dan pola pikirya sehingga pengetahuan yang diperoleh

akan semakin membaik dan bertambah.

d. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan bertujuan untuk mengetahui status

pengetahuan seseorang dan dirangkum dalam tabel distribusi frekuensi.


commit to user
[Link] 14
[Link]

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan tes wawancara atau

angket kuesioner, dimana tes tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan

yang berkaitan dengan materi yang ingin diukur dari subjek penelitian

atau responden (Notoatmodjo, 2012a). Pengukuran pengetahuan pada

penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disusun

oleh Mulyanti (2008) yang telah dimodifikasi sesuai dengan teori

pengetahuan dari Notoatmodjo (2012a). Kusioner ini telah divalidasi

oleh ahli keselamatan dan kesehatan kerja dengan mempertimbangkan

isi materi yang akan diukur serta telah di uji statistik yang terdapat di

lampiran 10. Terdapat 12 pertanyaan dalam kuesioner ini dengan nilai

maksimal 12 dan nilai minimal adalah 0.

Menurut Budiman dan Riyanto (2013) pengukuran tingkat

pengetahuan seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut:

1) Pengetahuan dikatakan baik jika responden mampu menjawab

pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar ≥ 75% dari seluruh

pernyataan pada kuesioner.

2) Pengetahuan dikatakan cukup jika responden mampu menjawab

pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56 – 74% dari

seluruh pernyataan pada kuesioner.

3) Pengetahuan dikatakan kurang jika responden mampu menjawab

pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 55% dari seluruh

pernyataan pada kuesioner.

commit to user
[Link] 15
[Link]

3. Sikap

a. Pengertian

Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau

objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang

bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik,

dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2010).

b. Komponen Sikap

Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2010) sikap terdiri

atas 3 komponen pokok yaitu:

1) Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek.

Artinya, bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran

seseorang terhadap objek.

2) Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek. Artinya

bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang

tersebut terhadap objek.

3) Kecenderungan untuk bertindak. Artinya sikap adalah komponen

yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah

ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan).

commit to user
[Link] 16
[Link]

c. Tingkatan Sikap

Menurut Notoatmodjo (2010) sikap mempunyai tingkatan-

tingkatan sebagai berikut:

1) Menerima

Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau

menerima stimulus yang diberikan (objek).

2) Menanggapi

Menanggapi diartikan memberi jawaban atau tanggapan

terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.

3) Menghargai

Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai

yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya

dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau

menganjurkan orang lain merespon.

4) Bertanggung jawab

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung

jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah

mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus

berani mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohnya

atau ada resiko lain.

commit to user
[Link] 17
[Link]

Menurut Ahmadi (1990) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010)

sikap dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Sikap Positif

Sikap positif adalah sikap yang menunjukkan atau

memperlihatkan menerima atau mengakui, menyetujui terhadap

norma-norma yang berlaku dimana individu itu berada.

2) Sikap Negatif

Sikap negatif adalah sikap sikap yang menunjukkan penolakan

atau tidak menyetujui terhadap norma-norma yang berlaku dimana

individu itu berada.

d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sikap

Menurut Azwar (2013) faktor yang mempengaruhi sikap, yaitu:

1) Pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi yang meninggalkan kesan kuat dapat

menjadi dasar pembentukan sikap.

2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap

yang searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting.

3) Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai

pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup

dalam budaya sosial yang mengutamakan kehidupan berkelompok,

maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap


commit to user
[Link] 18
[Link]

kehidupan individualism yang mengutamakan kepentingan

perorangan.

4) Media massa

Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya,

media massa membawa pesan-pesan berisi sugesti yang dapat

mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai

sesuatu hal, menjadikan landasan dalam terbentuknya sikap terhadap

hal tersebut.

5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu

sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena

keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri

individu.

6) Faktor emosional

Suatu bentuk sikap terkadang merupakan pernyataan yag

didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran

frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

e. Pengukuran Sikap

Sikap dapat diukur dengan menanyakan secara langsung

pendapat maupun pernyataan responden terhadap suatu objek tertentu.

Selain itu dapat dilakukan dengan beberapa pernyataan hipotesis

kemudian menanyakan pendapat responden mengenai pernyataan

tersebut (Notoatmodjo, 2010). Kuesioner yang digunakan pada


commit to user
[Link] 19
[Link]

penelitian ini adalah kuesioner yang disusun oleh Mulyanti (2008) yang

telah dimodifikasi sesuai dengan teori sikap dari Notoatmodjo (2010).

Kusioner ini telah divalidasi oleh ahli keselamatan dan kesehatan kerja

dengan mempertimbangkan isi materi yang akan diukur serta telah di

uji statistik yang terdapat di lampiran 10. Terdapat 12 pertanyaan dalam

kuesioner ini dengan nilai maksimal 12 dan nilai minimal adalah 0.

Menurut Budiman dan Riyanto (2013) pengukuran sikap pada

responden dapat dikategorikan sebagai berikut:

1) Sikap dikatakan baik jika responden mampu menjawab pernyataan

pada kuesioner dengan benar ≥ 75% dari seluruh pernyataan dalam

kuesioner.

2) Sikap dikatakan cukup jika responden mampu menjawab pernyataan

pada kuesioner dengan benar 56 – 74% dari seluruh pernyataan

dalam kuesioner.

3) Sikap dikatakan kurang jika responden mampu menjawab

pernyataan pada kuesioner dengan benar < 55% dari seluruh

pernyataan dalam kuesioner.

4. Alat Pelindung Diri (APD)

a. Pengertian

Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat keselamatan

yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian

tubuhnya dari kemungkinan adanya paparan potensi bahaya lingkungan

kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Tarwaka, 2015).


commit to user
[Link] 20
[Link]

b. Perundang-undangan

Ketentuan mengenai alat pelindung diri diatur oleh Peraturan

Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970

yaitu Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 2/M/BW/1984 tentang

Pengesahan Alat Pelindung Diri; Instruksi Menteri Tenaga Kerja No.

Ins. 05/M/BW/97 tentang Pengawasan Alat Pelindung Diri; Surat

Edaran Dirjen Binawas No. SE 05/BW/97 tentang Penggunaan Alat

Pelindung Diri dan Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE 06/BW/97

tentang Pendaftaran Alat Pelindung Diri. Jenis APD menurut ketentuan

tentang pengesahan pengawasan, dan penggunaannya meliputi alat

pelindung kepala, alat pelindung telinga, alat pelindung muka dan mata,

alat pelindung pernapasan, pakaian kerja, sarung tangan, alat pelindung

kaki, sabuk pengaman, dan lain-lain (Suma’mur, 2009).

Kewajiban dalam penggunaan alat pelindung diri di tempat

kerja yang mempunyai resiko terhadap timbulnya kecelakaan dan

penyakit akibat kerja telah diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun

1970 tentang Keselamatan Kerja. Pasal-pasal yang mengatur tentang

penggunaan alat pelindung diri antara lain:

1) Pasal 3 (1:f) : Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-

syarat keselamatan kerja untuk memberikan alat-alat pelindung diri

pada pekerja.

2) Pasal 9 (1:c) : Pengurus diwajibkan menunjukan dan menjelaskan

pada tiap tenaga kerja untuk memakai alat-alat pelindung diri yang
commit to user
[Link] 21
[Link]

diwajibkan.

3) Pasal 12 (b) : Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan

atau hak tenaga kerja untuk memakai alat-alat pelindung diri yang

diwajibkan.

4) Pasal 14 (c) : Pengurus diwajibkan menyediakan secara cuma-cuma

semua alat pelindung diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang

berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang

lain yang memasuki tempat kerja tersebut disertai dengan petunjuk-

petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau

ahli-ahli keselamatan kerja.

c. Jenis-jenis Alat Pelindung Diri (APD)

Jenis-jenis alat pelindung diri berdasarkan bagian tubuh yang

dilindungi dari kontak dengan potensi bahaya dijelaskan sebagai

berikut:

1) Alat Pelindung Kepala

Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung kepala digunakan

untuk melindungi kepala dari bahaya terbentur benda tajam atau

keras, bahaya kejatuhan benda, percikan bahaya kimia korosif, dan

lain-lain.

Gambar 1. Topi Pelindung


commit to user
[Link] 22
[Link]

2) Alat Pelindung Mata

Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung mata digunakan

untuk melindungi mata dari percikan bahaya korosif, debu, dan

partikel kecil yang melayang di udara, gas atau uap yang dapat

menyebabkan iritasi mata dan radiasi gelombang. Jenis pelindung

mata antara lain:

a) Kacamata (Spectacles)

Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari partikel-

partikel kecil, dan debu.

Gambar 2. Kacamata Safety

b) Goggles

Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari gas, debu,

uap, percikan larutan bahan kimia dan radiasi gelombang

elektromagnetik mengion.

Gambar 3. Googles

commit to user
[Link] 23
[Link]

3) Alat Pelindung Telinga

Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung telinga digunakan

untuk mengurangi intensitas suara yang masuk ke dalam telinga,

jenis pelindung telinga antara lain:

a) Sumbat telinga (Ear Plug)

Ukuran dan bentuk saluran telinga tiap-tiap individu dan

bahkan untuk kedua telinga dari orang yang sama adalah berbeda,

untuk itu pemilihan ear plug harus disesuaikan dengan ukuran

dan saluran telinga pemakainya masing-masing agar nyaman saat

digunakan.

Gambar 4. Ear Plug

b) Tutup telinga (Ear Muff)

Alat pelindung telinga jenis ini terdiri dari 2 (dua) buah

tutup telinga dan sebuah headband.

Gambar 5. Ear Muff

commit to user
[Link] 24
[Link]

4) Alat Pelindung Pernapasan

Menurut Tarwaka (2017) alat pelindung pernapasan

digunakan untuk melindungi pernapasan dari resiko paparan gas,

uap, debu, dan kontaminan lain. Jenis pelindung pernapasan antara

lain:

a) Masker

Masker adalah alat yang digunakan untuk mengurangi

paparan debu atau partikel-partikel yang lebih besar masuk ke

dalam saluran pernapasan yang mengakibatkan batuk dan sesak

napas.

Gambar 6. Masker

b) Respirator

Alat ini digunakan untuk melindungi pernapasan dari

paparan debu, kabut, uap logam, asap, dan gas-gas berbahaya.

Gambar 7. Respirator
commit to user
(Sumber: Tarwaka, 2017)
[Link] 25
[Link]

5) Alat Pelindung Tangan

Alat pelindung tangan digunakan untuk melindungi tangan

dan bagian tangan lainnya dari benda tajam atau goresan, bahan

kimia, benda panas dan dingin, dan kontak dengan arus listrik

(Tarwaka, 2017).

Gambar 8. Sarung Tangan

6) Alat Pelindung Kaki

Alat pelindung kaki digunakan untuk melindungi kaki dan

bagian kaki lainnya dari benda-benda keras, benda tajam,

logam/kaca, larutan kimia, benda panas, dan kontak dengan arus

listrik.

Gambar 9. Safety Shoes

7) Pakaian Pelindung

Menurut Tarwaka (2017) pakaian pelindung adalah alat yang

digunakan untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuh dari

percikan api, suhu panas atau dingin dan cairan bahan kimia.
commit to user
[Link] 26
[Link]

Gambar 10. Pakaian Pelindung

Gambar 11. Apron


(Sumber: Kuswana, 2015)

d. Pemilihan dan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Setiap tempat kerja mempunyai potensi bahaya yang berbeda-

beda sesuai dengan jenis, bahan dan proses produksi yang dilakukan.

Dengan demikian, sebelum melakukan pemilihan alat pelindung diri

yang tepat untuk digunakan, diperlukan adanya suatu identifikasi

potensi bahaya yang ada di tempat kerja masing-masing.

Menurut Suma’mur (2009) APD harus memenuhi persyaratan

sebagai berikut:

1) Nyaman dipakai.

2) Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan.

3) Memberikan perlindungan yang efektif terhadap macam bahaya


commit to user
[Link] 27
[Link]

yang dihadapi.

Menurut Tarwaka (2017) pemilihan dan penggunaan alat

pelindung diri harus memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut:

1) Aspek Teknis, meliputi:

a) Pemilihan berdasarkan jenis dan bentuknya

Jenis dan bentuk alat pelindung diri harus disesuaikan

dengan bagian tubuh yang dilindungi.

b) Pemilihan berdasarkan mutu dan kualitas

Mutu alat pelindung diri akan menentukan tingkat

keparahan dari suatu kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang

mungkin terjadi. Semakin rendah mutu alat pelindung diri, maka

akan semakin tinggi tingkat keparahan atas kecelakaan atau

penyakit akibat kerja yang terjadi. Adapun untuk menentukan

mutu alat pelindung diri dapat dilakukan melalui uji laboratorium

untuk mengetahui pemenuhan terhadap standar.

c) Penentuan jumlah alat pelindung diri

Jumlah yang diperlukan sangat tergantung dari jumlah

tenaga kerja yang terpapar oleh potensi bahaya di tempat kerja.

Idealnya adalah setiap pekerja menggunakan alat pelindung

sendiri-sendiri atau tidak dipakai secara bergantian.

d) Teknik penyimpanan dan pemeliharaan

Penyimpanan dan APD yang baik dapat digunakan untuk

penghematan biaya pengeluaran perusahaan.


commit to user
[Link] 28
[Link]

2) Aspek Psikologis

Aspek psikologis yang menyangkut masalah kenyamanan

dalam penggunaan alat pelindung diri juga sangat penting untuk

diperhatikan. Timbulnya masalah baru bagi pemakai harus

dihilangkan, seperti terjadinya gangguan terhadap kebebasan

bergerak, tidak menimbulkan alergi atau gatal-gatal pada kulit, dan

tenaga kerja tidak malu memakainya (Tarwaka, 2017).

Kriteria yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan dan

penggunaan APD (Tarwaka, 2017), antara lain:

a) Alat pelindung diri harus dapat memberikan perlindungan yang

sangat kuat terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahaya

yang dihadapi oleh tenaga kerja.

b) Alat pelindung diri harus ringan dan tidak menyebabkan rasa

ketidaknyamanan berlebihan.

c) Alat pelindung diri harus fleksibel dalam penggunaannya agar

tidak mengganggu saat pekerja melakukan pekerjaan.

d) Bentuk alat pelindung diri cukup menarik sehingga pekerja tidak

merasa bosan karena desainnya.

e) Alat pelindung diri dapat digunakan untuk pemakaian yang lama

sesuai peraturn sehingga tidak menimbulkan pengeluaran yang

besar bagi perusahaan.

f)Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi

pemakainya, yang dikarenakan bentuknya yang tidak tepat atau


commit to user
[Link] 29
[Link]

karena salah dalam penggunaannya.

g) Alat pelindung diri harus memenuhi standar yang telah ada.

h) Suku cadang alat pelindung diri mudah didapat sehingga mudah

dalam pemeliharaannya.

5. Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

a. Pengertian

Menurut Emaliyawati (2010) kepatuhan adalah tingkat seseorang

melaksanakan suatu cara atau berperilaku sesuai dengan apa yang

disarankan atau dibebankan padanya. Perilaku merupakan perbuatan

atau tindakan seseorang dalam melakukan suatu respon terhadap

stimulus dan kemudian dijadikan suatu kebiasaan karena ada nilai yang

diyakini (Mubarak, 2012).

b. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012)

perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:

1) Faktor dari diri sendiri

Faktor dari diri sendiri adalah faktor-faktor yang mendahului

perilaku untuk menetapkan pemikiran ataupun motivasi yang terdiri

dari pengetahuan, sikap, serta beberapa karakteristik individu, seperti

umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan masa kerja. Faktor dari

diri sendiri adalah faktor yang mempermudah dan mendasari untuk

terjadinya perilaku tertentu.

commit to user
[Link] 30
[Link]

2) Faktor pemungkin

Faktor pemungkin adalah faktor-faktor yang terwujud oleh

adanya fasilitas penunjang seperti ketersediaan APD.

3) Faktor penguat

Faktor penguat adalah faktor yang memperkuat perilaku.

Faktor penguat dalam penggunaan APD dapat dipengaruhi oleh

peraturan perusahaan dan punishment.

c. Pengukuran Perilaku

Pengukuran indikator perilaku yang paling akurat dapat

dilakukan dengan menggunakan pengamatan atau observasi. Namun

dapat dilakukan pula wawancara dengan pendekatan mengingat

kembali apa saja yang telah dilakukan oleh responden beberapa waktu

yang lalu (Notoatmodjo, 2003). Menurut Micheliana (2016) kriteria

kepatuhan menggunakan APD dikategorikan menjadi 2, yaitu:

1) Patuh

Dikatakan patuh apabila pekerja menggunakan APD secara lengkap

dan benar sesuai peraturan perusahaan saat dilakukan pengamatan.

2) Tidak patuh

Dikatakan tidak patuh apabila:

a) Pekerja tidak menggunakan APD secara lengkap dan benar sesuai

peraturan perusahaan saat dilakukan pengamatan.

commit to user
[Link] 31
[Link]

b) Pekerja menggunakan APD secara lengkap akan tetapi

penggunaannya tidak benar sesuai peraturan perusahaan saat

dilakukan pengamatan.

6. Hubungan Masa Kerja, Pengetahuan, dan Sikap dengan Kepatuhan

Penggunaan APD

a. Hubungan Masa Kerja dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Masa kerja merupakan salah satu faktor pada karakteristik

tenaga kerja yang membentuk perilaku (Notoatmodjo 2012). Semakin

lama masa kerja tenaga kerja akan membuat tenaga kerja lebih

mengenal kondisi lingkungan tempat kerja. Jika tenaga kerja telah

mengenal kondisi lingkungan tempat kerja dan bahaya pekerjaannya

maka tenaga kerja akan patuh menggunakan APD. Masa kerja

memberikan pengaruh patuh menggunakan APD, karena semakin lama

masa kerja seseorang maka dia akan dapat banyak pengalaman dan

lebih tahu tentang APD yang berdampak pada kepatuhan penggunaan

APD yang baik, begitupun sebaliknya kurangnya pengalaman dan

pemahaman tentang APD karena masa kerja yang singkat mempunyai

dampak pada kepatuhan penggunaan APD yang tidak baik (Kairupan et

al, 2016).

Pengalaman merupakan suatu gabungan antara pengetahuan dan

perilaku seseorang dimana pengetahuan hasil dari tahu setelah orang

melakukan penginderaan suatu objek tertentu sementara perilaku

merupakan segala bentuk tanggapan dari individu terhadap


commit to user
[Link] 32
[Link]

lingkungannya. Lama kerja identik dengan pengalaman, semakin lama

kerja seseorang maka pengalamannya menjadi semakin bertambah.

Pengalaman akan berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan

seseorang, karena pengetahuan seseorang juga diperoleh dari

pengalaman (Wibowo, 2013).

b. Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan merupakan hasil

dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan

terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera

manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga. Pengetahuan merupakan ranah yang penting dalam

pembentukan perilaku tenaga kerja. Pengetahuan tenaga kerja harus

meliputi beberapa aspek mulai dari memahami fungsi APD,

mengaplikasikannya dengan benar, menganalisis APD yang dibutuhkan

berdasarkan risiko pekerjaan, merekomendasikan APD yang

dibutuhkan, hingga mengevaluasi APD yang disediakan (Maharanny,

2016).

Hasil penelitian yang dilakukan Maharanny (2016),

menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki tenaga kerja tentang

APD memiliki hubungan secara siginifkan dengan 70 tingkat kepatuhan

mereka dalam menggunakan APD saat bekerja. Seorang tenaga kerja

yang memiliki pengetahuan dan pemahaman baik tentang APD dan


commit to user
[Link] 33
[Link]

urgensi penggunaannya selama melaksanakan pekerjaan maka akan

memiliki tingkat kesadaran yang tinggi sehingga dapat patuh dalam

mengaplikasikan penggunaan APD dalam pekerjaan dan menciptakan

budaya keselamatan.

c. Hubungan Sikap Dengan Kepatuhan Penggunaan APD

Sikap dalam pemakaian APD akan lebih baik berawal dari niat,

sehingga dapat disimpulkan bahwa manifesti sikap itu tidak dapat

langsung dilihat, tetapi hanya dapat di tafsirkan terlebih dahulu dari

perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2010). Berdasarkan penelitian

yang dilakukan Adhityo (2016), kurangnya perhatian serta pengawasan

terhadap hal yang dikerjakan pekerja khususnya dalam hal pemakaian

APD membuat pekerja bersikap kurang baik yang menyebabkan

kepatuhan pemakaian APD pekerja juga kurang baik, selain itu adanya

pembiaran yang dilakukan oleh petugas pengawas membuat pekerja

bersikap kurang peduli terhadap pemakaian APD.

commit to user
[Link] 34
[Link]

B. Kerangka Pemikiran
Faktor yang
Faktor yang mempengaruhi:
mempengaruhi:
1. Pengalaman Pribadi
1. Pendidikan 2. Pengaruh orang lain
2. Informasi 3. Pengaruh kebudayaan
3. Sosial, Budaya 4. Media massa
dan Ekonomi Pengetahuan APD 5. Lembaga pendidikan
4. Lingkungan dan lembaga agama
5. Pengalaman Mengetahui 6. Faktor emosional
6. Usia
Memahami Sikap

Masa Kerja Aplikasi Menerima

Lama Kerja Analisis Menanggapi

Pengalaman Sintesis Menghargai

Kewaspadaan Evaluasi Tanggung jawab

Ketersediaan
Umur
APD
Jenis Kelamin Kepatuhan Peraturan
Penggunaan APD Perusahaan
Tingkat
Pendidikan Punishment

Gambar 12. Kerangka pemikiran

Keterangan:

: Diteliti

: Tidak diteliti

commit to user
[Link] 35
[Link]

C. Hipotesis

Hipotesis yang penulis sajikan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut “Ada Hubungan Masa Kerja, Pengetahuan APD, dan Sikap dengan

Kepatuhan Penggunaan APD pada Pekerja Bagian Ekstraksi di PT Jamu Air

Mancur Karanganyar.”

commit to user

Anda mungkin juga menyukai