100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
276 tayangan15 halaman

Manusia Sebagai Citra Allah Unik

Modul ini membahas tentang manusia sebagai citra Allah yang unik. Tujuan pembelajaran adalah agar siswa dapat memahami dirinya sebagai citra Allah yang unik, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mewujudkan imannya melalui perilaku. Materi dibahas melalui kegiatan mengidentifikasi diri yang unik, bertukar pendapat dengan teman, serta diskusi tentang sikap yang tepat dalam menghadapi perbedaan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
276 tayangan15 halaman

Manusia Sebagai Citra Allah Unik

Modul ini membahas tentang manusia sebagai citra Allah yang unik. Tujuan pembelajaran adalah agar siswa dapat memahami dirinya sebagai citra Allah yang unik, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mewujudkan imannya melalui perilaku. Materi dibahas melalui kegiatan mengidentifikasi diri yang unik, bertukar pendapat dengan teman, serta diskusi tentang sikap yang tepat dalam menghadapi perbedaan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul 1

[Link].7.1

IDENTITAS MODUL
1. Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Dan Budi Pekerti
2. Jenjang : Sekolah Menengah Pertama
3. Kelas : VII (tujuh)
4. Judul : Manusia Sebagai Citra Allah
5. Topik : 1. Aku Citra Allah Yang Unik
2. Aku Bangga sebagai Perempuan dan Laki-laki
6. Target peserta didik : Peserta didik Reguler
7. Jumlah Siswa : Maksimal 30 peserta didik
8. Model Pembelajaran : Tatap muka
9. Sarana dan Prasarana : Alkitab, Laptop/komputer, internet, LCD
10. Alokasi Waktu : 12 JP (480 menit)
11. Penyusun : Yohanes Krisostomus Senda, [Link]
12. Sekolah/ Instansi : SMP Katolik Sta. Maria Gunun Karmel
13. Tahun Penyusunan : 2022

Fase: D 7.1
TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik mampu menjelaskan makna manusia sebagai citra allah yang unik, sehingga
merasa bangga atas dirinya, baik sebagai perempuan atau laki-laki, mensyukurinya
sebagai anugerah Allah dan mewujudkan imannya dengan memelihara diri dan
menghargai sesamanya.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Topik 1:Aku
Aku Citra
Memiliki Allah Yang Unik
Kemampuan

Sumber:[Link]
q=gambar+aku+cita+Allah+yang+unik&oq=gambar+aku+cita+Allah+yang+unik&aqs=chrome..69i57j0.67
45j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8

1. Tujuan Pembelajaran Topik 1


Peserta didik mampu memahami dirinya sebagai citra Allah yang unik, menghayati
keunikannya sesuai dengan pesan Kitab Suci, mensyukuri dan mewujudkan penghayatan
imannya sebagai citra Allah melalui tindakan nyata.
2. Profil Pelajar Pancasila
Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia dan Kreatif
3. Indikator Ketercapaian Tujuan
a. Peserta didik mampu bersyukur karena diciptakan sebagai citra Allah
b. Peserta didik mampu menjelaskan makna kata unik
c. Peserta didik dapat menginventarisir ciri-ciri yang menjadikan seseorang diebut unik
d. Peserta didik dapat menjelaskan sikap dalam menghadapi keunikan
e. Menjelaskan makna manusia sebagai Citra Allah berdasarkan Kej. 1;26-28
f. Menjelaskan sikap dan perilaku yang mencerminkan dirinya sebagai Citra Allah
4. Media Pembelajaran / Sarana
a. Alkitab
b. Buku Siswa
c. Laptop
d. Proyektor
e. Pengalaman Hidup siswa
5. Pendekatan
a. Pendekatan Kateketis
Melalui pendekatan yang diawali dengan pengalaman sehari-hari yang dialami oleh
peserta didik baik secara langsung maupun melalui pengamatan, pengalaman, cerita
kehidupan orang lain. Selanjutnya pengalaman tersebut direfleksikan dalam terang
Kitab Suci atau ajaran Gereja, sehingga peserta didik dapat mengaplikasikan dalam
hidup sehari-hari terhadap nilai-nilai yang diperoleh dari pendalaman yang dilakukan.
b. Dapat menggunakan pendekatan lain yang sesuai
6. Metode
a. Dialog partisipatif
b. Sharing pengalaman
c. Diskusi kelompok
d. Refleksi dan aksi
7. Sumber Belajar
a. Kemendikbud. 2017. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Buku Guru. Edisi Revisi.
Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud: Jakarta
b. Kemendikbud. 2017. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Buku Siswa. Edisi
Revisi. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud: Jakarta
c. Komkat KWI, Membangun Komunitas Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan Agama Katolik
untuk SMP Kelas VII, Yogyakarta, Kanisius, 2010.
d. Liberia Editrice Vaticana. 2014. Katekismus Gereja Katolik. Nusa Indah: Ende
e. [Link] com/jappy/55185f2ba 333117 d07b663d1/manusia-sebagai
imago-dei
f. [Link]
g. [Link]
8. Persiapkan Guru
a. Membuat kolom lembar kerja untuk membantu peserta didik mengidentifikasi diri
b. Menyusun ringkasan materi pembelajaran
c. Lembar observasi diskusi kelompok
d. Penuntun untuk kegiatan refleksi
9. Alur Kegiatan Pembelajaran

KEGIATAN PENDAHULUAN: 10 Menit


Guru menyampaikan salam dan mengajak peserta didik berdoa untuk mengawali
1.
kegiatan pembelajaran
2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
3. Guru menjelaskan proses kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan
Guru membuka pembelajaran dengan berdoa Pembuka
Allah, Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur atas kemurahan-Mu kepada kami yang
telah menghantar kami untuk memulai belajar di sekolah kami ini Kami mohon bantuan
Roh Kudus-Mu untuk senantiasa mendampingi kami agar kami dapat belajar dengan baik
dan bertanggung jawab sehingga kami dapat menjadi orang yang lebih berkembang dan
lebih berguna. Kami mohon berkat-Mu secara khusus untuk saat ini, agar kami dapat
mengikuti pelajaran agama dengan hati terbuka sehingga iman kami makin berkembang
Doa ini kami sampaikan kepada-Mu, dengan perantaraan Putra-Mu, Yesus Kristus,
Tuhan kami. Amin.

KEGIATAN INTI: 90 menit

1. Memahami dan Menyadari Diri sebagai Pribadi yang Unik


a. Guru melakukan kegiatan pendahuluan dengan menciptakan suasana
pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, memperkenalkan diri dan
memberi kesempatan peserta didik memperkenalkan diri, menjelaskan
pentingnya Pendidikan Agama Katolik di SMP dalam upaya
mengembangkan diri sebagai pribadi yang beriman Katolik dan sekaligus
dalam kaitannya dengan pengembangan karakter sebagai manusia
Indonesia. Dalam kesempatan ini, Guru juga dapat menyampaikan kontrak
belajar, menyangkut: hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak boleh
dilakukan selama pembelajaran berlangsung, hal-hal yang perlu disiapkan
dalam menunjang lancarnya pembelajaran Agama Katolik. Kemudian,
Guru memberitahukan tema pelajaran hari ini.
b. Guru mengajak peserta didik mengidentiikasi keunikan dalam
dirinya,menyangkut: sifat, karakter, kebiasaan baik, kebiasaan kurang baik,
harapan/keinginan cita-cita, baik yang sering disadari, atau yang pernah
didengar dari orang lain. Peserta didik merangkum unsur-unsur keunikan
dirinya dalam sebuah simbol diri, dapat berupa hewan, tumbuhan atau yang
lainnya.
c. Setelah selesai, Guru meminta peserta didik mencari 5 (lima) orang teman
untuk saling bertukar kartu Potret Diri. Pada saat bertukar Potret Diri,
mereka wajib bersalaman, dan memperhatikan temannya dari ujung
rambut sambil ujung kaki. Setelah itu mereka membaca ciri-ciri temannya
dengan perlahan dan teliti.
d. Bila sudah selesai peserta didik dapat menempelkan Potret Diri di tempat
pajangan, lalu guru bisa melakukan tanya jawab dengan peserta didik,
sebagai berikut:
Adakah ciri-ciri dalam dirimu yang sama persis dengan ciri-ciri yang
dimiliki temanmu?
1. Manakah yang lebih banyak, perbedaan atau persamaan dirimu dengan
temanmu?
2. Mengapa manusia berbeda satu dengan yang lain?
e. Guru dapat memberikan peneguhan atas jawaban peserta didik:
a. Tak ada seorang manusia pun yang sama satu dengan yang lainnya.
Bahkan orang yang disebut kembar identik pun memiliki beberapa hal
yang berbeda satu terhadap yang lain.
b. Itulah sebabnya manusia disebut unik, karena berbeda satu dengan
yang lain.
c. Perbedaan manusia satu dengan yang lain itu bisa meliputi banyak
aspek: fisik, psikis, kebiasaan, keinginan, dsb.
d. Perbedaan itu bisa disebabkan faktor genetika kedua orang tua; sebagai
contoh, kalau kedua orang tua berambut keriting, hampir dipastikan
anaknya berambut kriting. Bisa juga disebabkan faktor kebiasaan.
Contoh, anak yang orang tuanya pemain basket, dan sejak kecil sering
diajak berlatih basket, tentu dia akan senang bermain basket, bahkan
bisa jadi bercita-cita menjadi pemain basket. Selain kedua fator
tersebut, masih banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang
itu menjadi unik.
f. Selesai berdiskusi kelompok, peserta didik mempresentasikan jawaban
mereka menurut kreatifitas mereka: bisa dengan membacakan saja, atau
menayangkannya melalui LCD, atau menuliskannya di kertas koran dan
menempelkannya di papan tulis
g. Peserta didik bersama Guru menyimpulkan.

2. Mengidentiikasi Sikap yang Sering Muncul dalam Menghadapi Perbedaan


Antarmanusia
a. Guru membagi peserta didik dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan
kasus berkaitan dengan sikap terhadap keunikan manusia. Tiap kelompok
membahas satu kasus.
b. Bila diskusi sudah selesai, guru dapat meminta masing-masing kelompok
untuk mempresetasikan hasilnya. Setiap satu kelompok selesai presentasi,
kelompok lain bisa bertanya atau memberi tanggapan terhadap presentasi
mereka.
Kasus 1:
Ferdinand sesungguhnya berasal dari keluarga miskin, kedua orang tuanya
hanyalah petani kecil yang penghasilannya pas-pasan. Tetapi karena takut tidak
dihargai teman-temannya, ia memaksa orang tuanya untuk memberinya pakaian
yang bermerek, bahkan menuntut uang jajan yang banyak.
Pertanyaan:
Apa tanggapan kalian terhadap sikap Ferdinand? Bila Ferdinand itu teman
satu kelasmu, apa yang akan kalian lakukan terhadap dia?
Kasus 2:
Maria itu sesungguhnya anak yang pandai. Nilai rapornya sejak SD selalu bagus.
Tetapi setiap kali bercermin ia merasa wajahnya tidak secantik teman-temannya,
pun pula merasa warna kulitnya terlalu gelap dibandingkan teman-temannya.
Itulah sebabnya, di sekolah ia jarang bergaul dengan teman-temannya yang lain.
Pertanyaan:
Apa tanggapan kalian terhadap sikap Maria? Bila Maria itu teman satu kelasmu,
apa yang akan kalian lakukan terhadap dia?
c. Guru dapat memberi tanggapan atau peneguhan:
a. Perbedaan dan keunikan sering ditanggapi oleh manusia secara berbeda
satu sama lain. Ada sebagian orang merasa iri hati mengapa dirinya
tidak seperti orang lain, ada yang menjadi minder, ada yang merasa
Tuhan tidak adil kepada dirinya. Karena tidak mampu menerima diri,
ada juga yang berusaha menutupinya dengan sikap berpura-pura atau
munafik. Sikap-sikap semacam itu sesungguhnya hanya akan
merugikan dirinya sendiri, bahkan merugikan orang lain.
b. Langkah awal dalam menghadapi perbedaan atau keunikan diri adalah
menerima apa adanya. Kita tidak perlu selalu membandingkan diri kita
dengan orang lain. Sebab dengan selalu membanding-bandingkan, kita
tidak pernah akan merasa puas. Setelah menerima diri, kita berusaha
mengembangkan diri sesuai dengan keunikan kita. Dan untuk
mengembangkan diri itu, kita bisa belajar, bertanya, dan berlatih
dengan orang lain.
3. Menggali Pesan Kitab Suci dan Ajaran Gereja tentang Makna Manusia
sebagai Citra Allah yang Unik
1 Guru meminta masing-masing peserta didik untuk membaca dan merenungkan teks
Kej. 1: 26-28.
26
Berirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,
supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas
ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
27
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati
mereka, lalu Allah berirman kepada mereka “Beranakcuculah dan bertambahlah banyak;
penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-
burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.
2 Guru memberi penjelasan bahwa kata “citra“ memang tidak tertulis dalam Kitab
Kejadian. Kata “citra” itu untuk dipakai untuk mengungkapkan kata-kata “gambar
dan rupa.”
3 Guru memberi kesempatan peserta didik untuk menanyakan hal-hal berkaitan dengan teks
Kitab Kejadian; atau guru dapat menampilkan pertanyaan di papan tulis untuk dijawab.
Misalnya melalui pertanyaan berikut:

a. Gagasan menarik apa saja yang kalian temukan dari kutipan tersebut berkaitan dengan
penciptaan perempuan dan laki-laki?
b. Apa artinya manusia “serupa dan segambar” dengan Allah?
c. Apa yang dilakukan Allah kepada manusia setelah Ia menciptakannya?
d. Apakah ciptaan Allah selain manusia dalam Kitab Suci juga disebut “serupa dan
segambar”? Kalau demikian apa maknanya?
e. Apakah semua manusia itu citra Allah?
4 Guru dapat memberikan kesempatan peserta didik memilih pertanyaan dan menjawabnya.
5 Guru dapat memberi peneguhan sebagai berikut:
a. Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia, baik perempuan maupun laki-laki
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi segambar dan serupa dengan Allah
tersebut, bukan dalam arti isik jasmaniah. Sebab Allah adalah Roh.
b. Manusia segambar dan serupa dengan Allah terutama dalam pikiran dan kehendak.
Pikiran dan kehendak Allah itu kasih yang tertuju demi keselamatan dan kebahagiaan
manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Manusia dipanggil untuk mampu memancarkan
pribadi Allah yang penuh kasih kepada manusia dan segenap ciptaan-Nya dalam
pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.
c. Sejauh terlukis dalam Kitab Suci, istilah segambar dan serupa Allah itu tidak ditujukan
kepada semua ciptaan Allah. Hanya manusialah yang segambar dan serupa dengan
Allah, atau citra Allah.
d. Semua manusia, baik perempuan maupun laki-laki adalah citra Allah. Mereka dikasihi
Allah, berharga di mata Allah. Allah mempunyai rencana pada masing-masing diri kita
yang tidak kita ketahui. Semua manusia, tanpa kecuali dan apa pun keadaannya harus
dihormati dan dikasihi. Merendahkan martabat mereka atau menghina mereka sama
artinya dengan merendahkan Allah sendiri sebagai penciptanya.
e. Manusia tidak saja diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, tapi ia juga diberkati
oleh Allah. Dengan demikian, manusia bukanlah sesuatu, melainkan seseorang. Ia
pribadi yang sangat berharga di mata Allah. Berkat akal budi dan kebebasan yang
dianugerahkan Allah kepada dirinya, manusia bisa berelasi dengan Allah secara
istimewa. Ia menjadi partner Allah.
f. Sebagai partner Allah, manusia diberi tugas untuk bertambah banyak, dan menguasai
ciptaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kedudukan istimewa
di antara ciptaan Allah lainnya. Ia memiliki martabat ilahi yang membuat kedudukannya
lebih tinggi dibandingkan ciptaan lainnya.
g. Tetapi karena penugasan itu berasal dari Allah, maka dalam menjalankan tugas
menguasai ciptaan Allah itu, ia harus melakukannya sesuai dengan kehendak Allah.
Karena diciptakan sebagai citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi. la
mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas diri sendiri, mengabdikan diri dalam
kebebasan, hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan dipanggil membangun
relasi dengan Allah, penciptaNya.
h. Sepantasnya kita bersyukur telah diciptakan sebagai citra Allah yang unik. Dan rasa
syukur itu bisa diungkapkan dengan berbagai cara, misalnya: memelihara tubuh kita
sebaik-baiknya.
4. Refleksi dan Aksi
1 Guru meminta peserta didik untuk hening sambil menjawab dalam hati pertanyaan-
pertanyaan berikut:
a. Bila Allah sudah menciptakanku sebagai pribadi yang unik sekaligus citra Allah,
apakah aku selama ini sudah bersyukur atas keunikanku?
b. Bila Allah sudah menciptakan aku “serupa dan segambar,” apakah kata dan
perbuatanku selama ini sudah memancarkan kebaikan Allah?
c. Bila semua manusia diciptakan unik dan sekaligus serupa dan segambar dengan Allah,
apakah selama ini aku sudah menghormati sesamaku, tidak merendahkan atau
mengejek mereka?
2 Guru meminta peserta didik :
a. Menuliskan 2 (dua) perbuatan yang akan dilakukan sebagai buah-buah tindakan atas
pelajaran hari ini serta kapan akan dilakukan
b. Meminta penjelasan dari orang tua: mengapa mereka memberi nama seperti yang
peserta didik miliki saat ini, apa latar belakang nama itu, dan makna nama yang
diberikan. Tugas nomor 2 (dua) ditulis dan ditanda tangan orang tua.
Doa Penutup
Guru mengajak peserta didik menutup pembelajaran dengan mendaraskan Mazmur 8:1-9
secara bergantian. Ayat ganjil oleh peserta didik laki-laki dan ayat genap oleh peserta didik
perempuan.
1 Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan- Mu
yang mengatasi langit dinyanyikan.
2 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kau-letakkan dasar
kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkam musuh dan pendendam
3 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau-
tempatkan:
4 Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga
Engkau mengindahkannya?
5 Namun, Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah
memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
6 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kau-
letakkan di bawah kakinya:
7 Kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;
8 Burung-burung di udara, dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus
lautan.
9 Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi.
Materi Ajar
Minggu pertama awal tahun ajaran baru, merupakan minggu penyesuaian
diriyang luar biasa bagi peserta didik kelas VII. Mereka sudah mulai menyadari
bahwa ada perbedaan yang besar yang sedang dialami oleh dirinya. Perubahan itu
menyangkut banyak aspek dalam hidupnya. Penampilan mereka berubah,
sebagaimana nampak dalam pakaian seragam yang mereka kenakan. Perubahan
sosiologis, karena mereka berjumpa dengan berbagai teman dengan berbagai latar
belakang sekolah dan kebiasaan mereka. Perubahan tanggung jawab, dari yang biasa
serba dilayani ke kebiasaan harus mulai mandiri. Dan masih banyak perubahan
lainnya yang mereka rasakan. Tidak semua peserta didik dengan mudah
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Maka tak jarang, minggu-
minggu awal tahun ajaran baru bisa membuat mereka mengalami tekanan yang besar
dalam hidpnya. Selain perubahan tersebut di atas, sesungguhnya tanpa sadar mereka
juga sedang mengalami berbagai perubahan dalam dalam berbagai aspek lainnya
pada diri mereka, baik perubahan fisik maupun psikis. Mereka mulai memasuki masa
transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang tidak jarang diwarnai
dengan kebingungan dan kegelisahan tentang siapa dirinya yang sesungguhnya. Oleh
karena itu, sejak awal mereka perlu dibimbing agar mampu menemukan, menerima,
dan memposisikan diri dalam pergaulan dengan teman-temannya maupun dalam
upaya dirinya mengembangkan diri.
Dengan mereleksikan pesan dari Kitab Suci mereka diharapkan mampu
menemukan jawaban yang dapat membuka pemahaman dirinya secara lebih luas dan
mendalam, yakni bahwa mereka adalah pribadi yang unik, yang dikasihi Allah.
Mereka adalah pribadi yang mulia dan berharga serta yang dipanggil memancarkan
realitas Allah dalam hidupnya.(bdk. Kej. 1: 26-28). Melalui pengamatan terhadap
aspek-aspek fisik maupun psikis yang melekat pada dirinya, peserta didik diharapkan
mampu memahami serta menerima diri sebagai pribadi yang unik sehingga mampu
bersyukur atas keunikan yang ada pada dirinya.
Dengan demikian, sikap menerima dan syukur itu akan memotivasi diri untuk
melakukan tindakan untuk mewujudkan imannya atas keunikan dirinya itu dalam
kehidupan sehari-hari.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
Topik 1: AkuAku
Bangga Sebagai
Memiliki Perempuan atau Laki-laki
Kemampuan

1. Tujuan Pembelajaran Topik 1


Peserta didik mampu memahami dirinya sebagai perempuan atau laki-laki, yang
bermartabat luhur, sehingga dapat menghayati panggilannya sesuai dengan pesan Kitab
Suci, serta mewujudkannya dengan bersikap hormat terhadap sesama temannya.
2. Profil Pelajar Pancasila
Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia dan Kreatif
3. Indikator Ketercapaian Tujuan
a. Peserta didik mampu bersyukur karena diciptakan sebagai perempuan dan laki-laki
b. Peserta didik mampu menjelaskan ciri-ciri umum perempuan dan laki-laki
c. Peserta didik mampu menjelaskan hal-hal yang patut dibanggakan sebagai perempuan atau
laki-laki-laki
d. Peserta didik mampu menemukan Pesan Kitab Suci dalam upaya mengembangkan
kebanggaan sebagai perempuan atau laki-laki
e. Menjelaskan makna manusia sebagai Citra Allah berdasarkan Kej. 1;26-28
4. Media Pembelajaran / Sarana
a. Alkitab
b. Buku Siswa
c. Laptop
d. Proyektor
e. Pengalaman Hidup siswa
5. Pendekatan
c. Pendekatan Kateketis
Melalui pendekatan yang diawali dengan pengalaman sehari-hari yang dialami oleh
peserta didik baik secara langsung maupun melalui pengamatan, pengalaman, cerita
kehidupan orang lain. Selanjutnya pengalaman tersebut direfleksikan dalam terang
Kitab Suci atau ajaran Gereja, sehingga peserta didik dapat mengaplikasikan dalam
hidup sehari-hari terhadap nilai-nilai yang diperoleh dari pendalaman yang dilakukan.
d. Dapat menggunakan pendekatan lain yang sesuai
6. Metode
a. Dialog partisipatif
b. Kerja Mandiri
c. Sharing pengalaman
d. Diskusi kelompok
e. Refleksi dan aksi
7. Sumber Belajar
a. Kemendikbud. 2017. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Buku Guru. Edisi Revisi.
Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud: Jakarta
b. Kemendikbud. 2017. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Buku Siswa. Edisi
Revisi. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud: Jakarta
c. Komkat KWI, Membangun Komunitas Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan Agama Katolik
untuk SMP Kelas VII, Yogyakarta, Kanisius, 2010.
d. Liberia Editrice Vaticana. 2014. Katekismus Gereja Katolik. Nusa Indah: Ende
e. [Link] com/jappy/55185f2ba 333117 d07b663d1/manusia-sebagai
imago-dei
f. [Link]
g. [Link]
8. Persiapkan Guru
e. Membuat kolom lembar kerja untuk membantu peserta didik mengidentifikasi diri
f. Menyusun ringkasan materi pembelajaran
g. Lembar observasi diskusi kelompok
h. Penuntun untuk kegiatan refleksi
9. Alur Kegiatan Pembelajaran

KEGIATAN PENDAHULUAN: 10 Menit


Guru menyampaikan salam dan mengajak peserta didik berdoa untuk mengawali
1.
kegiatan pembelajaran
2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
3. Guru menjelaskan proses kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan
Guru membuka pembelajaran dengan berdoa Pembuka
Allah, Bapa Maha Pencipta, Kami bersyukur kepada-Mu, Karena Engkau telah
memahkotai perempuan dan laki-laki Dengan keindahan dan keluhurannya masing-
masing. Semoga berkat penyertaan-Mu hari ini Kami semakin bangga menjadi ciptaan-
Mu Dan berusaha memancarkan kebaikan-Mu kepada setiap orang Demi Kristus, Tuhan
dan Juruselamat kami. Amin..

KEGIATAN INTI: 90 menit

1. Menggali Pengalaman Merasa Bangga sebagai Perempuan dan Laki-laki


a. Guru melakukan kegiatan pendahuluan dengan menciptakan suasana
pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, mengingatkan tugas yang
diberikan pada pertemuan sebelumnya, menyampaikan tujuan
pembelajaran dan lingkup penilaian
b. Guru menyampaikan pengantar singkat tentang perlunya merasa bangga
terhadap diri sendiri:
Kunci sukses seseorang sangat ditentukan oleh keberanian menerima diri
dan bangga terhadap apa saja yang melekat pada dirinya. Orang yang tidak
mempunyai kebanggan terhadap dirinya mudah tidak percaya diri, dan
pada akhirnya hidupnya diatur oleh pendapat atau keinginan orang lain.
Oleh karena itu, kalian harus bangga menjadi dirimu, entah sebagai
perempuan atau laki-laki. Mari temukan, apa saja yang ada pada dirimu
yang seharusnya membuatmu bangga, dan bagaimana kalian berusaha
mengembangkan kebanggaan itu agar makin dapat dibanggakan orang lain.
c. Guru membagikan lembar kerja yang harus dikerjakan secara mandiri.
Contoh lembar kerja, sebagai berikut:
TUGAS:
1. Tulislah pada kolom sebelah kiri: hal apa saja yang membuat dirimu
bangga sebagai perempuan atau laki-laki!
2. Tulislah pada kolom sebelah kanan: Bila kamu perempuan-tulislah ciri
laki-laki yang bisa dibanggakan; sebaliknya bila kamu laki-laki, tulislah
ciri perempuan yang dapat dibanggakan!
d. Guru meminta peserta didik mensharingkan jawabannya dalam kelompok
yang sudah ditentukan. Kelompok sebaiknya berjenis kelamin sama.
Kemudian kelompok membuat rangkuman hasil sharing, dan membuat
yelyel yang mengungkapkan kebanggaan kelompok sebagai perempuan
atau laki-laki beserta gerakannya.
e. Guru meminta kelompok maju dengan semua anggotanya. Salah seorang
membacakan atau menuliskan hasil rangkumannya, setelah kelompok
selesai mengucapkan yel-yel disertai gerakan.
f. Setelah semua kelompok mempresentasikan dan kembali ke tempatnya,
guru dapat mempertajam hasil diskusi dengan mengajukan pertanyaan
berkaitan dengan kesetaraan gender:
a. Banyak orang mengatakan bahwa perempuan itu harus lemah lembut,
apa pendapatmu bila melihat laki-laki yang lemah lembut?
b. Apakah laki-laki harus bisa memasak?
c. Bagaimana pendapatmu tentang kaum perempuan yang terampil
sebagai pekerja bangunan?
d. Bolehkah perempuan menjadi presiden
g. Guru dapat memberi peneguhan:
a. Sesungguhnya banyak sifat, kebiasaan, karakter, dan kemampuan yang
kita miliki dapat membuat kita bangga, baik sebagai perempuan atau
laki-laki.
b. Kita juga sadar, ternyata orang lain punya harapan tertentu terhadap
diri kita. Orang lain menginginkan kita memiliki sifat, karakter,
kebiasaan, dan kemampuan lebih dari sekedar yang sudah ada dalam
diri kita.
c. Mungkin dalam keluarga, kamu pernah mendengar juga komentar-
komentar dari orang tuamu, seperti nampak dalam kata-kata seperti ini:
“Seharusnya kamu itu...”
d. Dalam masyarakat sering terdapat pandangan dalam kebudayaan
tertentu yang keliru, seolah-olah ada sifat, karakter, kebiasaan dan
kemampuan tertentu boleh dimiliki perempuan, atau laki-laki saja.
Contoh, laki-laki tidak boleh menangis atau cengeng; atau pekerjaan
cuci, masak, setrika itu tugas perempuan. Ada juga pandangan agama
tertentu yang belum bisa menerima bila perempuan menjadi pemimpin
negara.
e. Kita memang harus menjadi diri sendiri. Untuk menjadi diri yang bisa
dibanggakan, kita perlu mendengar komentar atau harapan orang lain
sebagai masukan agar kita memiliki kualitas pribadi yang lebih baik.
8. h Guru mengajak peserta mendengarkan atau membaca artikel berikut:
Tak Usah Protes Kita Terlahir Seperti Apa.
Karena Kita yang Menentukan Akan Jadi Apa
Hidup adalah anugerah. Setidaknya, itulah kalimat yang disetujui
mayoritas manusia yang ada di dunia ini. Namun tak sedikit orang yang
mengatakan bahwa hidupnya itu bukanlah anugerah. Mereka merasa hidup
mereka penuh ketidakadilan dan kesedihan. Bahkan mereka menganggap
itu sudah bawaan lahir. Mungkin kita juga pernah merasa demikian saat tak
merasakan apa yang orang-orang sebut dengan anugerah dalam
mengartikan hidup.
“Aku tak ingin dilahirkan seperti ini. Jika aku bisa memilih,
mungkin aku tak ingin dilahirkan ke dunia ini.”
Kalimat itu pun sering kita ucapkan. Kalimat itu seolah jadi alasan
membela diri dari segala hal yang kita anggap sebagai ketidakadilan
Tuhan. Mengapa kita berkata seperti itu? Bukankah semua orang di dunia
ini tak ada satupun yang bisa memilih terlahir seperti apa? Tidak ada satu
orang pun di dunia yang bisa meminta lahir di dunia sebagai anak orang
kaya, anak pejabat, sebagai anak professor, sebagai anak pengusaha atau
sebagai anak pemuka agama.
Jelas, itu tidak ada! Semuanya sama. Kita semua tidak ada yang
bisa memilih dari siapa kita dulu terlahirkan. Lalu kenapa kita justru seolah
menyalahkan Tuhan? Menyalahkan Tuhan tentang kenapa kita berada di
kondisi seperti sekarang? Mengapa?
Kita pun tak bisa memilih akan dilahirkan sebagai seorang
perempuan atau laki-laki. Jadi, apakah kita pantas menyalahkan Tuhan
karena kita telah diciptakan sebagai laki-laki? Karena kita menganggap
hidup sebagai perempuan itu lebih nyaman? Apakah posisi kita layak
memprotes Tuhan karena kita dilahirkan sebagai perempuan? Karena kita
berpikir hidup sebagai lelaki lebih terasa seru dan menyenangkan?
Kalau hidup hanya berdasar anggapan manusia, untuk apa Allah
menurunkan aturan indah berupa agama? Atau kita malah meneriaki Tuhan
dengan dalih hak asasi manusia, kita mengganggap kesepakatan sesama
manusia yang utama? Mungkin kita lupa bahwa Allah Maha Mengetahui
segala yang terbaik untuk kita. Lalu kenapa kita ingin sok pintar
mengubahnya? Menganggap pendapat kita yang lebih benar karena
sebagian orang telah mengiyakan?
Contoh lain, kita mengeluh karena dilahirkan sebagai orang dari
keluarga tak punya. Kita menganggap bahwa orang kaya itu hidupnya pasti
sangatlah membahagiakan. Lantas kita dengan lantang protes pada Allah,
mengapa kita terlahirkan seperti ini? Hingga akhirnya kita selayaknya
menyadari, terlahir dari keluarga miskin itu bukanlah sebuah kesalahan.
Kesalahan sebenarnya adalah ketika kita tak mau bangkit dari kemiskinan
dan menjadi kaya.
Waktu berjalan maju. Mungkin lebih baik kita memikirkan apa
yang akan kita lakukan di masa depan dengan kondisi yang sekarang kita
miliki. Pada dasarnya, semua manusia juga bermulai dari awalan yang nol.
Semua melaju pada durasi waktu yang sama. Sehari 24 jam, satu tahun 365
hari. Hingga apa yang telah kita miliki sekarang dan apa yang telah kita
capai sekarang.
Semua adalah hasil proses yang kita lakukan. Namun bukanlah itu
PENILAIANnya. Rejeki sudah diatur Sang Maha Pengatur. Semua
mendapatkan porsi berbeda, terlepas usaha dan jerih payah. PENILAIAN
yang utama (menurut penulis) adalah persepsi kita tentang hidup sendiri.
Apakah kita menerima atau tidak, apakah kita mensyukuri atau tidak. Di
situlah letak kebahagiaan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Tak ada
lagi menyalahkan Tuhan dengan kata, “Ini semua adalah mutlak dari Tuhan
untukku. Aku hanya menjalani apa yang aku anggap benar.”
Karena hal itu justru membuat kita membenarkan apapun yang kita
anggap benar dan mengenyampingkan aturan serta petunjuk Tuhan.
Mungkin lebih baik kita mengatakan ini, “Ini semua memang kehendak
Allah untukku. Aku pun akan menjalani sesuai perintah dan aturan-Nya.”
Bukankah dalam hidup ini, kita hanya berperan sebagai manusia
yang menjalani kodrat dan itrahnya sebagai manusia pula? Sebuah
mahkluk yang diciptakan di dunia untuk mengabdi kepada Allah. Makhluk
yang diberikan kekuatan dan kemampuan untuk senantiasa berusaha.
Makhluk yang diberikan akal pikiran dan hati untuk bisa berpikir dan
merasakan. Lalu kenapa kita sering protes dengan diri kita ini?
Tak cukup itu, Allah pun menurunkan petunjuk dan aturan dalam
menjalani kehidupan. Bagaimana cara kita agar merasa bahagia, bagaimana
supaya kita bisa menjalani hidup dengan benar dan baik. Selanjutnya,
bagaimanapun dan dalam keadaan apapun kita terlahirkan di dunia ini, kita
bebas dan punya kesempatan untuk menjadi apapun yang kita inginkan.
Namun tetap ada yang namanya baik buruk dan benar salah
sebagai acuan kita. Semangat dan syukurilah karena kita hidup itu
bukanlah untuk meratapi kesedihan yang ada. Tetapi untuk mengusahakan
kebahagiaan ke depannya.
9. i Guru melakukan tanya jawab dengan peserta didik:
a. Pesan apa yang disampaikan penulis dalam artikelnya?
b. Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Allah atas keberadaan kita
sekarang ini?
c. Penulis mengatakan: “Mungkin lebih baik kita memikirkan apa yang
akan kita lakukan di masa depan dengan kondisi yang sekarang kita
miliki.”
Sebagai perempuan atau laki-laki, masa depan apa yang akan kamu
jalani atau raih? Apa yang selayaknya kamu lakukan untuk meraih cita-
citamu di masa depan?
10. j Guru dapat menegaskan beberapa gagasan:
a. Kita tidak usah menyesali diri sebagai perempuan atau laki-laki dengan
segala keadaan yang kita hadapi. Lebih baik kita mengarah diri ke
masa depan
b. Masa depan sebagai perempuan atau laki-laki, antara lain bekerja, atau
berumah tangga, atau memilih hidup sebagai imam, biarawan/wati.
Kita perlu membekali diri sejak dini untuk menyiapkan masa depan itu.
2. Menemukan Pesan Kitab Suci dalam Upaya Mengembangkan Kebanggaan
sebagai Perempuan Atau Laki-laki
a. Guru meminta peserta didik membaca semua teks Kitab Suci yang
disediakan.
Kejadian 1:26-31a
26
Berirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar
dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-
burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala
binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan
manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya
dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati
mereka, lalu Allah berirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan
bertambah banyak ; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang
merayap di bumi “ 29 Berirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan
kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan
segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi
makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di
udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala
tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya”. Dan jadilah demikian.
31
Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.
Efesus 1:3-9
3
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus
telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
4
Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan,
supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5Dalam kasih Ia telah
menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-
anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih
karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam
Dia, yang dikasihi-Nya. 7Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita
beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih
karunia-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan
pengertian. 9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada
kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari
semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus
1 Petrus 3:3-5
3
Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang
rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang
indah-indah, 4tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi
dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah
lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.
5
Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu
berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya
kepada Allah;
Galatia 5:16-26
16
Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti
keinginan daging. 17Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan
Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena
keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa
yang kamu kehendaki. 18Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu
dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.
19
Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
20
penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah,
kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 21kedengkian,
kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu
kuperingatkan kamu-seperti yang telah kubuat dahulu-bahwa barangsiapa
melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah. 22Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 23kelemahlembutan,
penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
24
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging
dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 25Jikalau kita hidup oleh Roh,
baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, 26dan janganlah kita gila
hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.
b. Setelah dipandang cukup, guru membagi peserta didik ke dalam empat
kelompok. Kelompok 1: Kejadian 1:26-31a, Kelompok 2: Efesus1:3-9,
Kelompok 3: 1 Petrus 3:3-5. Kelompok 4: Galatia 5:16-26
Kelompok 1 dan 2 diminta menjawab pertanyaan: Bertolak dari kutipan
Kitab Suci yang kalian baca, mengapa kita patut bersyukur kepada Allah
dan patut merasa bangga sebagai perempuan atau lak-laki?
Kelompok 3 dan 4 diminta menjawab pertanyaan: Apa yang harus kita
lakukan untuk mengembangkan kebanggaan sebagai perempuan atau
lakilaki; dan sikap apa saja yang harus dikembangkan?
c. Guru memberi kesempatan tiap kelompok melaporkan hasilnya
dalam pleno dan memberi kesempatan peserta didik lainnya untuk
menanggapi.
d Setelah pleno selesai guru dapat menyampaikan beberapa gagasan
pokok berikut:
a. Kita patut bangga dan bersyukur karena diciptakan menurut
gambar dan rupa Allah dan diberkati secara khusus, serta diberi
tugas menguasai ciptaan Allah lainnya. Allah terus mencintai dan
memelihara kita dengan menyediakan apa yang dibutuhkan demi
hidup kita.
b. Setelah selesai mencipta bumi dan segala isinya Allah melihat
segala yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Di mata Allah,
apa yang telah diciptakanNya, termasuk manusia, baik
perempuan maupun laki-laki, sungguh amat baik, sungguh
sempurna, sungguh sesuai kehendak-Nya (bdk. Kej. 1:26-31a)
c. Bagi kita yang mengimani Kristus, pemeliharaan dan cinta Allah
itu terus dinyatakan dengan mengutus Yesus Kristus untuk
menyelamatkan kita. Berkat Dia, kita memperoleh berkat rohani.
Kita dipanggil hidup kudus dan tak bercacat, dan diangkat
menjadi anak-anak Allah. Kita juga memperoleh penebusan atas
dosa dan berlimpah kasih karunia (bdk. Efesus1:3-9)
d. Semuanya itu menjadikan kita manusia yang rohani. Oleh karena
itu, untuk menjadi perempuan atau laki-laki yang dibanggakan,
kita dipanggil mengembangkan hidup kerohanian kita, bukan
terutama menonjolkan hal-hal yang sifatnya isik jasmaniah saja.
Kita perlu membiarkan hidup kita dibimbing roh agar berkenan
kepada Allah (bdk. 1 Petrus 3:3-5).
e. Menjadi perempuan atau laki-laki yang dihidupi Roh Allah, kita
harus menampakkan dalam buah-buah tindakan dalam hidup
sehari-hari, yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,
kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan
diri. Dengan menghasilkan buah-buah roh itulah, kita
sesungguhnya telah menjadi citra Allah, yang memancarkan
siapa Allah yang sesungguhnya (bdk. Galatia 5:16-26 ).
f. Manusia, entah perempuan atau laki-laki, diciptakan Allah agar
dapat melayani, mencintai, dan mempersembahkan seluruh
ciptaan kepada-Nya (KGK 358)
3. Reflksi dan Aksi
1 Guru mengajak peserta didik untuk duduk hening, bila memungkinkan bisa diiringi
musik instrumental.
Hari ini Allah menegaskan kembali kepada kita masing-masing bahwa siapa pun
kita, entah ganteng atau kurang ganteng, entah cantik atau kurang cantik, entah
pandai atau biasa biasa saja, Allah sungguh sangat mencintai kita. Ia telah
menciptakan kita sedemikian sempurna dan sangat baik adanya. Sekalipun ada
manusia yang kerap menjauhi atau mengejek kita, tetapi di mata Allah kita
sungguh amat berharga dan istimewa.
Hari ini Allah mengingatkan kembali agar kita hidup dalam kekudusan, baik
kekudusan jasmani, maupun kekudusan hidup rohani. Tubuh kita adalah
Bait Roh Suci, tempat Allah hadir. Maka, kita diingatkan untuk menjaga
kesucian diri kita sebagai perempuan atau laki-laki, dan menggunakan tubuh
kita untuk melayani Tuhan dan mengasihi sesama.
Hari ini Allah juga menegaskan kepada kita bahwa Ia akan terus mengasihi
dan merawat kita. Ia telah memilih utusan-utusannya seperti: kedua orang
tua, saudara-saudara, teman-teman kita, guru kita. Ia menghendaki kita
makin berkembang dan dapat dibanggakan
Apakah selama ini kalian menyadarinya hal itu? Apakah selama ini kalian
sudah berusaha membuat orang tua atau sahabat merasa bangga terhadap
dirimu sebagai perempuan atau laki-laki?
2 Guru meminta peserta didik, menuliskan niat yang akan dilakukan agar dapat
menjadi perempuan atau laki-laki yang dapat dibanggakan.
Doa Kekudusan (Puji Syukur 153)
Allah yang mahakudus, terimakasih, Engkau telah mengutus Roh Kudus-Mu tinggal di
dalam hati kami, dan dengan demikian menguduskan diri kami menjadi kediaman-Mu
sendiri; kami bukan lagi milik kami sendiri, tetapi telah menjadi milik-Mu. Bantulah
kami menjaga kekudusan bait-Mu ini, sehingga Roh-Mu selalu diam di dalam hati
kami, dan menjamin kehadiran-Mu bersama kami. Jangan biarkan kami menodai bait
kudus-Mu ini karena berbuat dosa dengan tubuh kami. Jangan sampai kami Kau
binasakan karena kami sendiri telah mencemarkan dan membinasakan bait kudusMu,
yakni diri kami sendiri. Ya Allah, semoga tubuh kami selalu kudus, dan menjadi
sarana untuk berjumpa dengan Dikau, dan untuk selalu menyadari penyertaan-Mu.
Bantulah kami agar senantiasa memuliakan Dikau dengan tubuh kami. Demi Kristus,
Tuhan kami. (Amin.)
Penilaian
Penilaian Pengetahuan
Uraian
1. Simaklah teks kitab Kejadian 1:26-27 berikut ini dengan saksama!
26
Berirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,
supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burungburung di udara dan atas ternak
dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka
Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-
Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Jelaskan makna manusia diciptakan sebagai citra Allah berdasarkan kutipan tersebut!
2. Kalau semua manusia sebagai citra Allah, bagaimana sikap kita terhadap mereka?
3. Bagaimana sikap yang harus dikembangkan dalam menghadapi kenyataan bahwa
manusia itu unik?
4. Bagaimana pendapatmu bila ada yang mengatakan laki-laki itu lebih hebat dari pada
perempuan?
5. Dalam 1 Petrus 3:4 dikatakan “Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang
tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah
lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.”. Apa saja yang merupakan
perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh?
Jawaban:
1. Manusia disebut citra Allah, karena diciptakan serupa dan segambar dengan Allah,
dengan demikian ia harus mampu memancarkan kasih Allah kepada sesama. Manusia
juga mempunyai kedudukan yang lebih luhur dibandingkan dengan ciptaan lainnya,
karena diberi kuasa untuk menguasainya.
2. Menghargai setiap orang apa pun keadaannya. Tidak merendahkan martabat seseorang.
3. Mensyukurinya sebagai anugerah Allah, saling bekerjasama untuk saling
mengembangkan.
4. Padangan itu tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci, karena sesungguhnya Allah
menciptakan perempuan itu baik adanya, masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan dan dipanggil untuk saling menyempurnakan.
5. Padangan itu tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci, karena sesungguhnya Allah
menciptakan perempuan itu baik adanya, masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan dan dipanggil untuk saling menyempurnakan.
Penilaian Keterampilan
Tugas:
Membuat doa tertulis yang mengungkapkan rasa syukur diciptakan sebagai perempuan atau
laki-laki.
Kisi-kisi penilaian:
Kriteria :
4. Menggunakan Struktur Doa Menggunakan struktur yang sangat sistematis (Pembukaan –
Isi – Penutup
3. Menggunakan struktur yang cukup sistematis (Dari 3 bagian,terpenuhi 2).
2. Menggunakan struktur yang kurang sistematis (Dari 3 bagian, terpenuhi 1).
1. Menggunakan struktur yang tidak sistematis (Dari struktur tidak terpenuhi sama sekali).
Isi Doa :
4. Isi doa Mengungkapkan syukur kepada Allah karena diciptakan sebagai perempuan atau
laki-laki dengan sangat jelas
3. Mengungkapkan syukur kepada Allah karena diciptakan sebagai perempuan atau laki-
laki dengan jelas
2. Mengungkapkan syukur kepada Allah karena diciptakan sebagai perempuan atau laki-
laki dengan kurang jelas
1. Mengungkapkan syukur kepada Allah karena diciptakan sebagai perempuan atau laki-
laki tidak jelas
Bahasa yang digunakan
4. Menggunakan bahasa yang jelas dan sesuai dengan kaidah Pedoman Umum Penggunaan
Bahasa Indonesia.
3. Menggunakan bahasa yang jelas namun ada beberapa kesalahan Pedoman Umum
Penggunaan Bahasa Indonesia.
2. Menggunakan bahasa yang kurang jelas dan banyak kesalahan Pedoman Umum
Penggunaan Bahasa Indonesia
1. Menggunakan bahasa yang tidak jelas dan tidak sesuai dengan Pedoman Umum
Penggunaan Bahasa Indonesia.

Common questions

Didukung oleh AI

Memahami diri sebagai pribadi unik melalui pengalaman dan ajaran Gereja dapat membantu seseorang menerima perbedaan dan menghindari ketidakpuasan terhadap kondisi hidup saat ini. Dengan demikian, seseorang akan lebih menghargai anugerah dan memupuk sikap syukur, yang selanjutnya mengarahkan pada tindakan positif seperti kasih dan pelayanan kepada sesama .

Kitab Suci mengajarkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan diciptakan menurut gambar Allah dan berkat mereka adalah beranakcucu dan berkuasa atas ciptaan. Ini digunakan dalam modul ini untuk mengembangkan kebanggaan sebagai laki-laki atau perempuan, memberikan landasan teologi bagi siswa untuk memahami dan mensyukuri posisi mereka dalam rencana Allah .

Manusia sebagai citra Allah berarti manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, yang mencakup kemampuan untuk berfikir, berkehendak, dan merasakan. Ini juga berarti manusia memiliki nilai inheren yang tak dapat diukur. Kitab Kejadian 1:26-28 menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk menjaga dan menguasai bumi sebagai representasi Allah .

Keberanian untuk menerima diri sendiri dapat memengaruhi masa depan siswa dengan meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri, yang penting untuk mencapai kesuksesan pribadi dan profesional. Pembelajaran ini menekankan bahwa menerima diri membantu siswa membangun identitas yang kuat, memungkinkan mereka mengatasi tekanan sosial dan memotivasi diri untuk mencapai potensi penuh .

Potensi kesalahan yang perlu diwaspadai termasuk penyederhanaan berlebihan dari konsep tersebut sehingga siswa mungkin tidak mengerti kedalaman makna spiritualnya. Selain itu, mengabaikan aspek praktis dari penerapan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari dapat mengurangi kemampuan siswa untuk mewujudkan iman mereka secara nyata .

Refleksi berperan penting dalam membantu siswa merenungkan dan menginternalisasi pengajaran Katolik. Melalui refleksi, siswa dapat mengevaluasi diri dan memahami nilai serta ajaran yang disampaikan, yang memungkinkan mereka mengaplikasikan iman dalam tindakan sehari-hari, sejalan dengan tujuan pengajaran untuk mengembangkan diri sebagai individu beriman .

Bangga sebagai laki-laki atau perempuan penting karena ini memupuk kepercayaan diri dan sikap positif terhadap diri sendiri, yang merupakan kunci keberhasilan dalam kehidupan. Modul ini menekankan bahwa kebanggaan terhadap identitas gender masing-masing dapat mendorong siswa untuk lebih menghargai diri sendiri dan orang lain sebagai ciptaan Allah yang unik .

Memahami perbedaan dan persamaan penting dalam konteks pembelajaran agama karena ini memperdalam kesadaran akan keberagaman ciptaan dan memperkuat penghargaan terhadap individualitas setiap orang. Hal ini krusial untuk menghindari konflik dan mempromosikan harmoni, serta untuk memahami bagaimana setiap individu mencerminkan aspek berbeda dari citra Allah .

Menggunakan metode dialog partisipatif, sharing pengalaman, dan refleksi, siswa didorong untuk mengemukakan pandangan pribadi dan berbagi pengalaman. Praktikum ini memfasilitasi eksplorasi konsep citra Allah secara mendalam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, menguatkan pengertian teoritis dengan pengalaman praktis .

Pendidikan Agama Katolik membantu siswa memahami keunikan diri dengan mendorong mereka untuk mengidentifikasi ciri khas pribadi masing-masing, termasuk sifat dan kebiasaan yang baik dan buruk. Siswa diajak untuk mensyukuri dan mengembangkan diri dengan panduan nilai-nilai dari Kitab Suci, sehingga dapat menghidupi iman sebagai citra Allah .

Anda mungkin juga menyukai