0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
188 tayangan23 halaman

Anggaran Dasar AMPI 2010

Keputusan Musyawarah Nasional VII Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia menetapkan Anggaran Dasar organisasi tersebut yang mencakup tujuan, fungsi, struktur organisasi, dan ketentuan-ketentuan lainnya.

Diunggah oleh

mbentje
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
188 tayangan23 halaman

Anggaran Dasar AMPI 2010

Keputusan Musyawarah Nasional VII Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia menetapkan Anggaran Dasar organisasi tersebut yang mencakup tujuan, fungsi, struktur organisasi, dan ketentuan-ketentuan lainnya.

Diunggah oleh

mbentje
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAMPIRAN – I

KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL VII


ANGKATAN MUDA PEMBAHARUAN INDONESIA
NOMOR : KEP-VI/MUNAS-VII/AMPI/2010

Tentang

ANGGARAN DASAR
ANGKATAN MUDA PEMBAHARUAN INDONESIA

PEMBUKAAN

BAHWA PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS 1945, YANG


DICETUSKAN RAKYAT INDONESIA MERUPAKAN PUNCAK
PERJUANGAN PERGERAKAN NASIONAL DAN TITIK AWAL UPAYA
UNTUK MEWUJUDKAN CITA-CITA KEMERDEKAAN, YAITU
MASYARAKAT INDONESIA YANG ADIL DAN MAKMUR
BERDASARKAN PANCASILA SERTA IKUT MELAKSANAKAN
KETERTIBAN DUNIA YANG BERDASARKAN KEMERDEKAAN,
PEDAMAIAN ABADI DAN KEADILAN.

BAHWA PEMUDA INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI BANGSA


INDONESIA TETAP MANUNGGAL DALAM SEJARAH PERGERAKAN,
PERJUANGAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BANGSANYA, SERTA
BERKAT CITA-CITA, SEMANGAT DAN DINAMIKA YANG BERKOBAR-
KOBAR, PEMUDA INDONESIA SENANTIASA TAMPIL DI GARIS DEPAN
SEBAGAI PELOPOR PERJUANGAN DALAM MENGIBARKAN PANJI-
PANJI KEMERDEKAAN DAN KEADILAN.

BAHWA PEMBANGUNAN NASIONAL YANG DILAKSANAKAN SEJAK


KEMERDEKAAN SAMPAI SAAT INI, MENGALAMI BERBAGAI
PERUBAHAN DI SEGALA BIDANG MERUPAKAN UPAYA DAN KARYA
NYATA UNTUK MEWUJUDKAN CITA-CITA NASIONAL.

BAHWA PEMUDA SEBAGAI BAGIAN YANG TIDAK TERPISAHKAN


DARI MASYARAKAT BERTANGGUNG JAWAB UNTUK IKUT
BERPERAN SERTA SECARA BERSUNGGUH-SUNGGUH
MEMPERJUANGKAN PEMBAHARUAN, PEMBANGUNAN, KEADILAN
DAN KEBENARAN MELALUI KARYA DAN KEKARYAAN SECARA
NYATA DISEGALA SENDI KEHIDUPAN RAKYAT INDONESIA.

BAHWA UNTUK MEMENUHI PANGGILAN PERJUANGAN, MAKA


PEMUDA YANG BERORIENTASI KARYA DAN KEKARYAAN
BERHIMPUN DALAM SATU WADAH ORGANISASI KEMASYARAKATAN
PEMUDA YANG MANDIRI MEMILIKI CITA, CITRA DAN WATAK
PEMBAHARUAN, KEKARYAAN DN KERAKYATAN YANG MANUSIAWI
DENGAN DILANDASI OLEH “ KEBULATAN TEKAD PANDAAN” DAN
KESADARAN YANG MENDALAM AKAN TUGAS TANGGUNG JAWAB
SERTA PANGGILAN PERJUANGAN BANGSA DAN NEGARA, MAKA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, ANGKATAN MUDA
PEMBAHARUAN INDONESIA DENGAN INI MENYUSUN ANGGARAN
DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA, SEBAGAI BERIKUT :

BAB I
NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN

Pasal 1

1. Nama oraganisasi ini adalah; Angkatan Muda Pembaharuan


Indonesia disingkat dengan nama AMPI.

2. AMPI didirikan pada hari Sabtu, 28 Juni 1978 di Pandaan, untuk


jangka waktu yang tidak ditentukan.

3. Pimpinan pusat AMPI berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan


Republik Indonesia.

BAB II
ASAS, TUJUAN DAN SIFAT

Pasal 2
ASAS

AMPI berasaskan PANCASILA

Pasal 3
TUJUAN

AMPI, bertujuan :
Membentuk kader-kader bangsa pelopor pembaharuan dan
pembangunan yang membentuk karya dan kekaryaan, serta memiliki jiwa
dan semangat patriotisme untuk mencapai tujuan nasional Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945.

Pasal 4
SIFAT

AMPI merupakan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda, yang berorientasi


karya dan kekaryaan.

BAB III
JIWA, LANDASAN PERJUANGAN DAN ATRIBUT ORGANISASI

Pasal 5
JIWA

(1). AMPI memiliki “Kebulatan Tekad Pandaan”. Sebagai jiwa dan


semangat perjuangan yang merupakan sumber motivasi gerak
langkah organisasi.

(2). “Kebulatan Tekad Pandaan”, merupakan dokumen historis berdirinya


AMPI dan karenanya tidak dapat diubah.

Pasal 6
LANDASAN PERJUANGAN

(1). AMPI memiliki Landasan Perjuangan, yang dipergunakan sebagai


pedoman dalam mewujudkan cita-cita organisasi.

(2). Landasan Perjuangan dan dan Atribut AMPI ditetapkan melalui


Musyawarah Nasional.

(3). AMPI memiliki watak dan kepribadian yang mandiri, sebagaimana


dirumuskan dalam Kemandirian AMPI.

Pasal 7
ATRIBUT ORGANISASI

AMPI memiliki Atribut, yang terdiri dari :


(1). Panji-panji / Lambang.
(2). Hymne dan Mars.
(3). Lencana, Badge, Jaket, Baret, Topi, Seragam dan benda lainnya
yang menunjukkan identitas AMPI.
BAB IV
FUNGSI DAN TUGAS POKOK

Pasal 8
FUNGSI
1. AMPI mempersatukan pikiran dan tindakan pemuda yang berorientasi
Karya dan Kekaryaan dalam kesatuan tekad, untuk melaksanakan
pembaharuan dan pembangunan di segala bidang kehidupan melalui
program karya dan kekaryaan.

2. AMPI merupakan sumber utama wadah rekruitmen kader didalam


pembinaan peran sosial politik pemuda yang berorientasi Karya dan
Kekaryaan.

3. AMPI merupakan wadah utama dalam menyatukan gerak langkah dan


memperjuangkan aspirasi pemuda yang berorientasi Karya dan
Kekaryaan.

Pasal 9
TUGAS POKOK

Untuk mencapai tujuan seperti tersebut dalam pasal 3, AMPI memilii tugas
pokok :

1. Ikut menciptakan, memelihara dan memantapkan stabilitas nasional


yang dinamis dalan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai
salah satu syarat terlaksananya kemajuan di segala bidang menuju
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

2. Menggerakkan, mendorong dan mempersatukan potensi pemuda


yang berorientasi Karya dan Kekaryaan, dalam melaksanakan
pembaharuan dan pembangunan sesuai dengan Tri Dharma AMPI,
yakni ; Pembaharuan, Kekaryaan, dan Kerakyatan Yang Manusiawi.

3. Melaksanakan Program perjuangan organisasi dan menyalurkan


aspirasi sosial politik anggota, sebagai perwujudan rasa tanggung
jawab untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional.
BAB V
KEANGGOTAAN DAN KADER

Pasal 10

(1). Anggota AMPI, adalah pemuda Warga Negara Indonesia yang


dengan sukarela mengajukan permintaan menjadi anggota serta
memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Anggaran Rumah
Tangga.
\
(2). Kader AMPI, adalah anggota AMPI yang merupakan tenaga inti
penggerak organisasi yang ditentukan dalam Anggaran Rumah
Tangga.

BAB VI
KEDAULATAN DAN PERMUSYAWARATAN

Pasal 11
KEDAULATAN

Kedaulatan organisasi berada ditangan anggota dan dilaksanakan


sepenuhnya oleh Musyawarah Nasional.

Pasal 12
MUSYAWARAH DAN RAPAT-RAPAT

(1) Musyawarah dan Rapat-Rapat, terdiri dari :


a. Musyawarah Nasional (MUNAS);
b. Musyawarah Nasional Luar Biasa (MUNASLUB);
c. Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS);
d. Musyawarah Daerah (MUSDA);
e. Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS);
f. Rapat Kerja Daerah (RAKERDA);
g. Musyawarah Rayon di tingkat kecamatan dan / atau sederajat,
Musyawarah Sub Rayon tingkat Desa / Kelurahan dan / atau
sederajat serta Kelompok Karya (Musyawarah POKKAR).
h. Rapat Pleno dan Rapat Harian Dewan Pimpinan.

(2) Pengaturan lebih lanjut mengenai Musyawarah dan Rapat – Rapat


dituangkan dalam Anggaran Rumah Tangga.
BAB VII
QUORUM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pasal 13

(1) Musyawarah dan Rapat-Rapat sebagaimana tercantum dalam pasal


12 dianggap sah apabila memenuhi quorum, yaitu dihadiri oleh lebih
dari setengah jumlah utusan.

(2) Quorum khusus untuk mengubah Anggaran Dasar/Anggaran Rumah


Tangga :

a. Musyawarah Nasional yang diadakan untuk merubah Anggaran


Dasar/Anggaran Rumah Tangga, harus dihadiri sekurang-
kurangnya dua pertiga dari jumlah utusan.

b. Keputusan untuk mengubah Anggaran Dasar/Anggaran Rumah


Tangga dalam Musyawarah Nasional, harus dilakukan dengan
persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah utusan
yang hadir.

(3) Pengambilan Keputusan pada dasarnya dilakukan secara musyawarah


untuk mencapai mufakat, dan apabila tidak tercapai atau tidak
dimungkinkan, maka pengambilan keputusan dilakukan dengan
pemungutan suara terbanyak.

BAB VIII
SUSUNAN ORGANISASI, MASA BAKTI, DEWAN PENASEHAT,
WEWENANG DAN KEWAJIBAN PIMPINAN

Pasal 14
SUSUNAN ORGANISASI

AMPI merupakan kesatuan organisasi yang bersifat nasional dan disusun


secara bertingkat menurut jenjang organisasi, sebagai berikut :

a. Dewan Pimpinan Pusat

Dewan Pimpinan Pusat dengan ruang lingkup kewenangan nasional


berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

b. Dewan Pimpinan Daerah Propinsi

Dewan Pimpinan Daerah Propinsi dengan ruang lingkup kewenangan


Propinsi, berkedudukan di Ibukota Propinsi.
c. Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota

Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota dengan ruang lingkup


kewenangan Kabupaten/Kota berkedudukan di Ibukota Kabupaten/
Kota.

d. Pimpinan Rayon di tingkat Kecamatan dan/atau sederajat

Pimpinan Rayon di tingkat Kecamatan dan/atau sederajat dengan


ruang lingkup kewenangan Kecamatan dan/atau sederajat
berkedudukan di Ibukota Kecamatan dan/atau sederajat.
e. Pimpinan Sub Rayon di tingkat Desa/Kelurahan dan/atau
sederajat

- Pimpinan Sub Rayon di tingkat Desa/Kelurahan dan/atau sederajat


dengan ruang lingkup kewenangan Desa/Kelurahan atau sederajat,
berkedudukan di Desa/Kelurahan atau sederajat.

- Pimpinan Sub Rayon di tingkat Desa/Kelurahan atau sederajat


dapat membentuk Kelompok Karya (POKKAR), sebagai unit
organisasi terdapat dengan ruang lingkup kewenangan
melaksanakan bidang/jenis kegiatan yang diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Organisasi.

Pasal 15
MASA BAKTI

Masa bakti Kesatuan organisasi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14


adalah selama 5 (lima) tahun.

Pasal 16
DEWAN PENASEHAT

1. AMPI memiliki Dewan Penasehat pada jenjang organisasi semua


tingkatan

2. Dewan Penasehat merupakan badan yang memberikan pertimbangan,


saran dan nasehat kepada Dewan Pimpinan AMPI di semua tingkatan
serta berfungsi, memelihara dan menjaga konsistensi perjuangan
Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia.

3. Ketua Dewan Penasehat ditetapkan dalam Musyawarah Nasional,


musyawarah Daerah Propinsi, Musyawarah Daerah Kabupaten/Kota,
Musyawarah Rayon tingkat Kecamatan dan/atau sederajat serta
Musyawarah sub Rayon tingkat Desa/Kelurahan atau sederajat AMPI.
4. Dewan Penasehat tidak memiliki hubungan struktural dengan Dewan
Pimpinan AMPI di semua tingkatan, tetapi memiliki hubungan
koordinasi.

BAB IX
WEWENANG DAN KEWAJIBAN DEWAN PIMPINAN

Pasal 17
WEWENANG DEWAN PIMPINAN PUSAT

(1) Dewan Pimpinan Pusat merupakan badan pelaksana tertinggi


organisasi yang bersifat kolektif.

(2) Dewan pimpinan pusat, berwenang :

a. Menetapkan kebijakan dan/atau Peraturan Organisasi sesuai


dengan Anggaran Daras, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan-
Keputusan Musyawarah Nasional, Rapat Pimpinan Paripurna,
Rapat Kerja Nasional.

b. Membentuk lembaga/badan-badan yang dianggap perlu, dalam


rangka pelaksanaan program.

c. Melaksanakan pergantian antar waktu Dewan Pimpinan Pusat,


yang diputuskan melalui Rapat Pleno DPP dan diatur lebih lanjut
dalam peraturan organisasi.

d. Mengesahkan susunan dan personalia Dewan Pimpinan Daerah


Propinsi.

(3) Bersama-sama Ketua Dewan Penasehat menyusun struktur dan


personalia Dewan Penasehat DPP AMPI.

Pasal 18
WEWENANG DEWAN PIMPINAN DAERAH PROPINSI

(1) Dewan Pimpinan Daerah Propinsi, merupakan badan pelaksana


organisasi yang bersifat kolektif.

(2) Dewan Pimpinan Daerah Propinsi, berwenang :

a. Menetapkan kebijaksanaan organisasi di Daerah Propinsi sesuai


dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan-
Keputusan Musyawarah Nasional, Rapat Pimpinan Nasional,
Rapat Kerja Nasional, Keputusan-Keputusan/Peraturan-Peraturan
Organisasi Tingkat Pusat, Keputusan-Keputusan Musyawarah
Daerah Propinsi dan Rapat Kerja Daerah Propinsi.

b. Melaksanakan pergantian antar waktu personalia Dewan Pimpinan


Daerah Propinsi, yang diputuskan melalui rapat pleno DPD
Propinsi dan diatur lebih lanjut dalam peraturan organisasi.
c. Mengesahkan dan melantik susunan dan personalia Dewan
Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota.

(3) Bersama-sama Ketua Dewan Penasehat menyusun struktur dan


personalia Dewan Penasehat AMPI Daerah Propinsi.

Pasal 19
WEWENANG DEWAN PIMPINAN DAERAH KABUPATEN/KOTA

(1) Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota, merupakan badan


pelaksana organisasi yang bersifat kolektif.

(2) Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota, berwenang :

a. Menetapkan kebijaksanaan organisasi sesuai dengan Anggaran


Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan-Keputusan
Musyawarah Nasional, Rapat Pimpinan Nasional, Rapat Kerja
Nasional, Keputusan-Keputusan/Peraturan-Peraturan Organisasi
Tingkat Pusat, Keputusan-Keputusan Musyawarah Daerah
Propinsi dan Kabupaten/Kota, serta Rapat Kerja Daerah Propinsi
dan Kabupaten/Kota.

b. Melaksanakan pergantian antar waktu personalia Dewan


Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota yang diputuskan melalui rapat
pleno DPD Kabupaten/Kota dan diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Organisasi.

c. Mengesahkan dan melantik susunan Personalia Pimpinan Rayon


tingkat Kecamatan dan/atau sederajat dan Pimpinan Sub Rayon
tingkat Desa/Kelurahan dan/atau sederajat.

(3) Bersama-sama Ketua Dewan Penasehat menyusun struktur dan


personalia Dewan Penasehat AMPI Kabupaten/Kota.
Pasal 20
KEWAJIBAN DEWAN PIMPINAN

(1) Dewan Pimpinan Pusat, berkewajiban :

a. Melaksanakan segala keputusan, ketentuan dan kebijaksanaan


sesuai dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga,
Keputusan-Keputusan Musyawarah Nasional, Keputusan-
Keputusan Rapat Pimpinan Nasional, Keputusan-Keputusan Rapat
Kerja Nasional dan Peraturan-Peraturan Organisasi lainnya.

b. Memberikan pertanggungjawabannya pada Musyawarah Nasional :


c. Melaksanakan perkaderan AMPI sekurangnya 1 (satu) kali dalam
periode kepengurusan.

(2) Dewan Pimpinan Daerah Propinsi, berkewajiban :

a. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan organisasi di


Daerah Propinsi sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, Keputusan-Keputusan Musyawarah Nasional, Rapat
Pimpinan Nasional, Rapat Kerja Nasional,
Keputusan-Keputusan/Peraturan-Peraturan Organisasi Tingkat
Pusat, Keputusan-Keputusan Daerah Propinsi dan Rapat Kerja
Daerah Propinsi.

b. Memberikan pertanggungjawaban kepada Musyawarah Daerah


Propinsi.

c. Melaksanakan perkaderan AMPI sekurangnya 1 (satu) kali dalam


periode kepengurusan.

(3) Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota, berkewajiban :

a. Melaksanakan segala ketentuan dan kebijakan organisasi di


Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran
Rumah Tangga, Keputusan-Keputusan Musyawarah Nasional,
Rapat Pimpinan Nasional, Rapat Kerja Nasional, Keputusan-
Keputusan/ Peraturan-Peraturan Organisasi Tingkat Pusat,
Keputusan-Keputusan Musyawarah Daerah Kabupaten/Kota dan
Rapat Kerja Daerah Kabupaten/Kota.

b. Memberikan pertanggungjawaban kepada Musyawarah Daerah


Kabupaten/Kota.

c. Melaksanakan perkaderan AMPI sekurangnya 1 (satu) kali dalam


periode kepengurusan.
Pasal 21

Pengaturan wewenang dan kewajiban Pimpinan Rayon tingkat


Kecamatan dan/atau sederajat, Pimpinan Sub Rayon Tingkat
Desa/Kelurahan dan/atau sederajat serta Kelompok Karya (POKKAR)
ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dalam Peraturan Organisasi.

Pasal 22

Pelaksanaan wewenang dan kewajiban pimpinan pada setiap jenjang


organisasi, diatur dan ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dalam Tata
kerja Kepengurusan sebagai Peraturan Organisasi.
BAB X
HUBUNGAN DENGAN PARTAI POLITIK DAN ORGANISASI
KEMASYARAKATAN

(1) a. AMPI secara yuridis tidak terkait dengan partai politik, tetapi
memiliki hubungan historis dengan Golongan Karya

b. AMPI menyalurkan aspirasi politik anggotanya kepada Partai


Golongan Karya

(2) AMPI menjalin hubungan kerjasama yang bersifat terbuka dengan


unsur pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya
masyarakat (LSM) dan potensi masyarakat lainnya dalam rangka
melaksanakan program kerja untuk mencapai tujuan organisasi dan
tujuan nasional.

(3) AMPI mempunyai hubungan organisasi yang bersifat khusus dengan


Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), yang merupakan wadah
berhimpun organisasi kemasyarakatan pemuda sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4) AMPI memelihara hubungan aspiratif dan hubungan historis dengan


organisasi kemasyarakatan pemuda yang berorientasi karya dan
kekaryaan melalui pelaksanaan program kerja, pengkaderan dan
keanggotaan.

BAB XI
KEUANGAN

Keuangan organisasi diperoleh dari :


a. Iuran Anggota
b. Sumbangan-sumbangan yang tidak mengikat
c. Usaha-usaha lain yang sah.
BAB XII
PEMBUBARAN ORGANISASI

Pasal 25

(1) Pembubaran AMPI, hanya dapat dilakukan dalam Musyawarah


Nasional yang khusus diadakan untuk itu, dengan quorum
sebagaimana yang disebut dalam BAB VII pasal 13.

(2) Dalam hal organisasi ini dibubarkan, kekayaan organisasi ditentukan


lebih lanjut oleh Musyawarah Nasional tersebut dalam ayat (1) Pasal
ini.
BAB XIII
PERALIHAN DAN PENUTUP

(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini, akan diatur
dalam Anggaran Rumah Tangga.

(2) Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

DITETAPKAN DI : KOTA BEKASI, JABAR


PADA TANGGAL : 22 Januari 2010.

MUSYAWARAH NASIONAL VII


ANGKATA MUDA PEMBAHARUAN INDONESIA

PIMPINAN MUNAS,

SONNY W. MANALU ERNI YUSNITA T.


Ketua Sekretaris

MEULILA OSMAN M. ARBAIN SEMENDAWAI TAUFIK NARAHAUBUN


Anggota Anggota Anggota
LAMPIRAN II
KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL VII
ANGKATAN MUDA PEMBAHARUAN INDONESIA
NOMOR : KEP-VI/MUNAS-VII/AMPI/2010

Tentang

ANGGARAN RUMAH TANGGA


ANGKATAN MUDA PEMBAHARUAN INDONESIA

BAB I
KEANGGOTAAN

Pasal 1
REKRUITMEN ANGGOTA

(1) Warga Negara Indonesia yang dapat diterima menjadi anggota AMPI,
harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

a. Telah berumur 16 (enam belas) tahun


b. Menerima dan menyetujui Kebulatan Tekad, Landasan Perjuangan,
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta Peraturan
Organisasi.
c. Menyatakan diri untuk menjadi anggota AMPI melalui perangkat
organisasi terdekat.
d. Sanggup aktif mengikuti kegiatan yang ditentukan oleh organisasi.
e. Ditetapkan dan disahkan oleh Dewan Pimpinan Daerah
Kabupaten/Kota
f. Pengurus dan Anggota (Eksponen) Organisasi Kemasyarakatan
Pemuda yang berorientasi Karya dan Kekaryaan pada setiap
tingkatan dapat diterima secara langsung menjadi anggota AMPI
yang tat caranya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi.
g. Pengurus dan anggota Partai GOLKAR pada setiap tingkatan dapat
diterima secara langsung menjadi anggota AMPI yang tata caranya
diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi.

(2) Tata cara dan klasifikasi penerimaan keanggotaan ditentukan serta


diatur dalam Peraturan Organisasi.
Pasal 2
KEWAJIBAN DAN HAK ANGGOTA

(1) Setiap anggota berkewajiban :


a. Menjunjung tinggi nama dan kehormatan organisasi
b. Menghayati dan mengamalkan Kebulatan Tekad AMPI
c. Memahami dan menghayati Landasan Perjuangan AMPI
d. Mentaati dan memegang teguh Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga serta seluruh Keputusan-keputusan Organisasi.
e. Memahami dan melaksanakan Tri Dharma AMPI, yaitu :
Pembaharuan, Kekaryaan dan Kerakyatan Yang manusiawi.
f. Membina dan meningkatkan program organisasi
g. Membantu Dewan Pimpinan dalam melaksanakan tugas-tugas
organisasi
h. Aktif mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi.

(2) Setiap Anggota Berhak :

a. Memilih dan dipilih menjadi pengurus AMPI


b. Hak Bicara
c. Hak Membela Diri
d. Mengeluarkan pendapat dan mengajukan usul atau saran kepada
Dewan Pimpinan AMPI sesuai dengan tingkatannya.
e. Mengikuti kegiatan organisasi
f. Memperoleh perlindungan, pembelaan, pendidikan kader,
penataran dan bimbingan dan kesempatan peningkatan karier di
dalam organisasi
g. Hak lainnya akan ditentukan kemudian dalam Peraturan
Organisasi.

Pasal 3
PEMBERHENTIAN ANGGOTA

(1) Keanggotaan berhenti, karena :

a. Meninggal dunia
b. Dipecat/diberhentikan
c. Atas permintaan sendiri.

(2) Ketentuan-ketentuan tentang pemberhentian dan pemecatan anggota


diatur dalam Peraturan Organisasi.

(3) Tata cara membela diri diatur dalam Peraturan Organisasi


BAB II
KADER

Pasal 4

(1) Kader AMPI adalah anggota AMPI yang telah diseleksi berdasarkan
kriteria, sebagai berikut :
a. Mental Ideologi
b. Prestasi, dedikasi, disiplin, loyalitas dan tidak tercela
c. Mandiri dan kontribusi terhadap organisasi
d. Telah lulus mengikuti proses pendidikan dan/atau latihan kader

(2) Ketentuan tentang kader dan pengkaderan AMPI diatur dalam


Pedoman Perkaderan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia
sebagai Peraturan Organisasi.

BAB III
MUSYAWARAH DAN RAPAT-RAPAT

Pasal 5

(1) Wewenang Musyawarah Nasional


a. Memegang dan melaksanakan kedaulatan tertinggi organisasi
b. Menetapkan/mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga
c. Menetapkan/mengubah Program Umum Organisasi
d. Memberhentikan dan/atau memulihkan hak keanggotaan
organisasi.
e. Menetapkan/menggariskan kebijakan-kebijakan organisasi
f. Menetapkan Ketua Dewan Penasehat
g. Memilih dan menetapkan Dewan Pimpinan Pusat
h. Memberikan penilaian terhadap laporan pertanggung jawaban
Dewan Pimpinan Pusat pada akhir masa jabatan.

(2) Wewenang Musyawarah Nasional Luar Biasa :


Mempunyai wewenang yang sama dengan musyawarah nasional.

(3) Wewenang Rapat Pimpinan Nasional :

a. Forum tertinggi di bawah Musyawarah Nasional, yang diadakan


atas undangan Dewan Pimpinan Pusat, apabila terdapat hal-
hal yang perlu diputuskan/disahkan yang selanjutnya akan
dipertanggungjawabkan kepada Musyawarah Nasional.
b. Mengambil Keputusan-Keputusan kecuali yang menjadi wewenang
Musyawarah Nasional, sebagaimana yang tercantum dalam ayat
(1) Pasal 5.
(4) Wewenang Musyawarah Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota :
a. Menyusun program Daerah, dalam rangka pelaksanaan hasil
MUNAS
b. Menetapkan Ketua Dewan Penasehat Daerah.
c. Memilih dan menetapkan Anggota Dewan Pimpinan Daerah
d. Memberikan penilaian terhadap pertanggungjawaban Dewan
Pimpinan Daerah pada akhir masa jabatan.

(5) Wewenang Rapat Kerja Nasional :


Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan program sebelumnya
dan menetapkan arah/prioritas pelaksanaan program selanjutnya yang
sesuai dengan program Umum Organisasi.

(6) Wewenang Rapat Kerja Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota “


Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan program sebelumnya
dan menetapkan arah/prioritas pelaksanaan program selanjutnya yang
sesuai dengan Program Umum Organisasi dan Keputusan-Keputusan
Rapt Kerja Nasional.

(7) Wewenang Musyawarah Rayon di tingkat Kecamatan dan/atau


sederajat, Musyawarah Sub Rayon di tingkat Desa/Kelurahan dan/atau
sederajat serta musyawarah kelompok karya ditetapkan oleh Dewan
Pimpinan Pusat dalam Peraturan Organisasi.

(8) Wewenang Rapat Pleno dan/atau Rapat Harian untuk menetapkan


kebijakan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas organisasi sesuai
dengan jenjang kewenangannya akan diatur lebih lanjut dalam
peraturan Organisasi.

Pasal 6

(1) Musyawarah Nasional (MUNAS), Musyawarah Daerah (MUSDA),


Musyawarah Rayon di tingkat kecamatan dan/atau sederajat dan
Musyawarah Sub Rayon di tingkat Desa/Kelurahan dan/atau sederajat
diselenggarakan 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

(2) Rapat Kerja Nasional diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali


dalam 2 (dua) tahun.

(3) Rapat Kerja Daerah diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam


2 (dua) tahun.

Pasal 7

(1) Musyawarah Nasional Luar Biasa (MUNASLUB) diadakan oleh Dewan


Pimpinan Pusat apabila :
a. Kelangsungan hidup organisasi dalam keadaan terancam

b. Atas permintaan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah


Dewan Pimpinan Daerah Propinsi.

(2) Pelaksanaan Musyawarah-Musyawarah Luar Biasa akan diatur lebih


lanjut dalam peraturan Organisasi

Pasal 8

Utusan musyawarah dan rapat-rapat, terdiri dari :


a. Peserta
b. Peninjau

Pasal 9

Musyawarah Nasional dihadiri oleh Utusan, terdiri dari :


1. Peserta :
a. Dewan Pimpinan Pusat
b. Dewan Pimpinan Daerah Propinsi.

2. Peninjau :
a. Unsur Dewan Penasehat DPP
b. Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota
c. Unsur Eksponen OKP yang berorientasi pada karya dan kekaryaan
d. Unsur perorangan yang diundang oleh DPP AMPI.

Pasal 10

Musyawarah Nasional Luar Biasa dihadiri oleh Utusan yang sama seperti
Musyawarah Nasional yang terdapat pada pasal 9 Anggaran Rumah
Tangga ini.

Pasal 11
Rapat Pimpinan Nasional dihadiri oleh Utusan, terdiri dari :
1. Peserta :
a. Dewan Pimpinan Pusat
b. Dewan Pimpinan Daerah Propinsi.

2. Peninjau :
a. Unsur Dewan Penasehat DPP
b. Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota
c. Unsur Eksponen OKP yang berorientasi pada karya dan kekaryaan
d. Unsur perorangan yang diundang oleh DPP AMPI.
Pasal 12
Musyawarah Daerah Propinsi dihadiri oleh Utusan, terdiri dari :

1. Peserta :
a. Dewan Pimpinan Daerah Propinsi.
b. Unsur Dewan Pimpinan Pusat
c. Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota

2. Peninjau :
a. Unsur Dewan Penasehat Propinsi
b. Unsur Eksponen OKP yang berorientasi pada karya dan kekaryaan
c. Unsur perorangan yang diundang oleh DPP Propinsi.

Pasal 13

(1) Musyawarah Daerah Kabupaten/Kota, dihadiri oleh Utusan, terdiri


dari :

1. Peserta :
a. Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota
b. Unsur Dewan Pimpinan Daerah Propinsi
c. Pimpinan Kecamatan dan/atau sederajat (Pimpinan Rayon)

2. Peninjau :
a. Unsur Dewan Penasehat DPD Kabupaten Kota
b. Unsur Eksponen OKP yang berorientasi pada karya dan
kekaryaan
c. Unsur perorangan yang diundang oleh DPP Kabupaten/Kota

(2) Utusan musyawarah Rayon di tingkat Kecamatan dan/atau sederajat


dan Musyawarah Sub Rayon di tingkat Desa/Kelurahan dan/atau
sederajat diatur dalam peraturan Organisasi

Pasal 14

(1) Rapat Kerja Nasional dihadiri oleh utusan yang sama dengan Rapat
Pimpinan Nasional, seperti yang disebut dalam Pasal 11 Anggaran
Rumah Tangga ini.

(2) Rapat Kerja Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota dihadiri oleh utusan
yang sama dengan Musyawarah Daerah Propinsi dan
Kabupaten/Kota, seperti yang disebut dalam Pasal 12 dan pasal 13
Anggaran Rumah Tangga ini.
Pasal 15

Perincian dan Jumlah Utusan Musyawarah dan Rapat-Rapat, seperti yang


diatur BAB III Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur dalam Peraturan
Organisasi.

BAB IV
HAK BICARA DAN HAK SUARA

Pasal 16

(1) Hak Bicara dalam forum musyawarah dan rapat-rapat pada dasarnya
menjadi hak perorangan yang dimiliki oleh seluruh Utusan baik
Peserta maupun Peninjau.

(2) Hak suara yang dipergunakan dalam pengambilan Keputusan pada


Musyawarah dan Rapat-Rapat hanya dimiliki oleh Peserta.

(3) Penggunaan lebih lanjut Hak Bicara dan Hak Suara Peserta
Musyawarah dan Rapat-Rapat sebagaimana tersebut pada ayat (1)
dan ayat (2) Pasal ini diatur dalam Peraturan Organisasi.

BAB V
KEPENGURUSAN

Pasal 17
SYARAT KEPENGURUSAN

(1) Pengurus AMPI dipilih dari Anggota

(2) Syarat-syarat untuk menjadi pengurus di semua tingkatan organisasi,


adalah :
a. Kader AMPI yang percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa
b. Kader AMPI yang telah terbukti mempunyai prestasi, dedikasi,
berbudi luhur dan loyalitas yang tinggi terhadap perjuangan
Organisasi.
c. Mampu bekerjasama secara kolektif serta mampu meningkatkan
dan mengembangkan peranan AMPI sebagai organisasi
kepemudaan yang tangguh, tanggap, merakyat dan mengemban
Tri Dharma AMPI.
d. Mendapat dukungan dan kepercayaan anggota dan masyarakat
luas.
e. Dapat meluangkan waktu dan sanggup bekerja secara aktif dalam
kepengurusan
f. Berusia maksimal 45 (empat puluh lima) tahun
(3) Syarat kepengurusan lebih lanjut diatur dalam Peraturan Organisasi.

Pasal 18
PEMBENTUKAN DAN PEMBEKUAN KEPENGURUSAN

(1) Pembentukan Kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah Propinsi,


Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota, Pimpinan Rayon di tingkat
Kecamatan dan/atau sederajat, Pimpinan Sub Rayon di tingkat
Desa/Kelurahan dan/atau sederajat yang baru disesuaikan dengan
wilayah pemerintah dan dilakukan oleh kepengurusan AMPI satu
tingkat di atasnya.

(2) Tata cara Pembentukan Kepengurusan sebagaimana yang dimaksud


dalam ayat (1) Pasal ini diatur dalam Peraturan Organisasi.

(3) Pembekuan Kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah Propinsi,


Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota, Pimpinan Rayon di tingkat
Kecamatan dan/atau sederajat, Pimpinan Sub Rayon di tingkat Desa/
Kelurahan dan/atau sederajat dapat dilakukan, apabila kepengurusan
tersebut bertentangan dengan peraturan-Peraturan Organisasi,
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang dilakukan oleh
kepengurusan AMPI satu tingkat di atas dan atas persetujuan
kepengurusan AMPI dua tingkat diatasnya.

(4) Tata cara Pembekuan Kepengurusan sebagaimana yang dimaksud


dalam ayat (3) Pasal ini diatur dalam peraturan Organisasi.

BAB VI
KEDUDUKAN DEWAN PENASEHAT

Pasal 19

(1) Keanggotaan Dewan Penasehat, terdiri dari tokoh-tokoh yang


berorientasi pada Karya dan Kekaryaan yang memiliki kewibawaan
kemasyarakatan dan menaruh perhatian terhadap generasi muda.

(2) Dewan Penasehat di masing-masing tingkatan merupakan badan


yang bersifat kolektif dan bertugas memberikan pertimbangan, saran
dan nasehat kepada Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan
Daerah.

(3) Ketua Dewan Penasehat merupakan ex officio Ketua Partai GOLKAR


di masing-masing tingkatan.
BAB VII
SUSUNAN DAN AJUMLAH PENGURUS

Pasal 20

Susunan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, sebanyak-banyaknya


berjumlah 85 orang yang terdiri dari :
a. Ketua Umum
b. Wakil-wakil Ketua Umum
c. Ketua-ketua
d. Sekretariat Jenderal
e. Wakil-Wakil Sekretariat Jenderal
f. Bendahara Umum
g. Wakil-wakil Bendahara Umum
h. Departemen-departemen (Disesuaikan dengan kebutuhan)

Pasal 21

Susunan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Propinsi, sebanyaknya


berjumlah 67 orang yang terdiri dari :
a. Ketua
b. Wakil-wakil Ketua
c. Ketua Harian (apabila diperlukan)
d. Sekretaris
e. Wakil-wakil Sekretaris
f. Bendahara
g. Wakil-wakil Bendahara
h. Biro-biro (disesuaikan dengan kebutuhan)

Pasal 22

Susunan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten/Kota,


sebanyaknya berjumlah 15 orang yang terdiri dari :
a. Ketua
b. Wakil-wakil Ketua
c. Ketua Harian (apabila diperlukan)
d. Sekretaris
e. Wakil-wakil Sekretaris
f. Bendahara
g. Wakil-wakil Bendahara
h. Biro-biro (disesuaikan dengan kebutuhan)
Pasal 23

Susunan Pengurus Pimpinan Rayon di tingkat Kecamatan dan/atau


sederajat, sebanyaknya jumlah 25 orang yang terdiri dari :
a. Ketua
b. Wakil-wakil Ketua
c. Sekretaris
d. Wakil-wakil Sekretaris
e. Bendahara
f. Wakil-wakil Bendahara
g. Seksi-seksi (disesuaikan dengan Kebutuhan)

Pasal 24

(1) Departemen/Biro/Bagian dan Seksi dibentuk menurut kebutuhan

(2) Jika terdapat penambahan Susunan dan Jumlah Pengurus, maka


disesuaikan dengan kebutuhan riil pelaksanaan program.

BAB VIII
KEUANGAN

Pasal 26

(1) Iuran anggota akan ditentukan dalam Peraturan Organisasi


(2) Segala hal mengenai pemasukan dan pengeluaran keuangan
organisasi wajib dipertanggungjawabkan, sesuai ketentuan yang akan
ditetapkan dalam Peraturan Organisasi.

BAB IX
PERATURAN PERALIHAN

Pasal 27

Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini, akan
ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dalam Peraturan Organisasi.

BAB X
PENUTUP

Pasal 28

Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.


DITETAPKAN DI : KOTA BEKASI, JABAR
PADA TANGGAL : 22 Januari 2010.

MUSYAWARAH NASIONAL VII


ANGKATA MUDA PEMBAHARUAN INDONESIA

PIMPINAN MUNAS,

SONNY W. MANALU ERNI YUSNITA T.


Ketua Sekretaris

MEULILA OSMAN M. ARBAIN SEMENDAWAI M. TAUFIK NARAHAUBUN


Anggota Anggota Anggota

Anda mungkin juga menyukai