Hubungan Perilaku dan Lingkungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah
Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh
Kota Bukittinggi Tahun 2014
[Link] Sulistiawan
1,*
STIKes Prima Nusantara Bukittinggi
*email: andikasulistiawan@[Link]
Abstract
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a health problem with an increasing number of cases is equal to 65.57 per 100
thousand inhabitants. Based on data from the health department of Bukittinggi in 2011-2013 the number of dengue
cases in the region Puskesmas Tigo Baleh In 2011 as many as 20 cases, 35 cases were in 2012, in 2013 a total of 39
cases. this type of research is an analytic survey with case-control study design and size of the study respondents were
78 respondents with totaly sampling technique. The data was collected using a questionnaire with interview techniques.
This research uses the chi-square test with 95% degree of confidence (ɑ = 0.05). The results showed no significant
relationship between knowledge of the incidence of DHF (p = 0.000, OR 59,500), there was no significant relationship
between the attitude of the incidence of DHF (p = 0.074, OR 2.066), a significant relationship between the incidence of
dengue measures (p = 0.030 , OR 4.500), and no significant relationship between the environment and the incidence of
DHF (p = 1.000 OR 2.054). Expected, government and health centers can improve public knowledge and action better
through counseling with a more effective method.
Keywords: DHF, Behavior and Environment
Abstrak
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan dengan jumlah kasus yang terus meningkat
yaitu sebesar 65,57 per 100 ribu penduduk. Berdasarkan data dari dinas kesehatan Kota Bukittinggi tahun 2011-2013
jumlah kasus DBD diwilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh Tahun 2011 sebanyak 20 kasus, tahun 2012 sebanyak 35
kasus, tahun 2013 sebanyak 39 kasus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan perilaku dan lingkungan
masyarakat dengan kejadian demam berdarah dengue. Jenis penelitian ini adalah survai analitik dengan desain studi
case control. dan besarnya populasi penelitian adalah 78 dimana semua populasi dijadikan sampel dengan teknik totaly
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara. Penelitian ini
menggunakan uji chi-square dengan derajat kepercayaan 95% ( ɑ=0,05). Hasil penelitian menunjukan ada hubungan
bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD (p=0,000, OR 59,500), tidak ada hubungan bermakna antara sikap
dengan kejadian DBD (p=0,074, OR 2,066), adanya hubungan bermakna antara tindakan dengan kejadian DBD
(p=0,030, OR 4,500), dan tidak adanya hubungan bermakna antara lingkungan dengan kejadian DBD (p=1,000 OR
2,054). Diharapkan dari hasil penelitian ini, pemerintah dan puskesmas dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
dan tindakan yang lebih baik melalui penyuluhan dengan metode yang lebih efektif.
Keywords: DBD, Lingkungan, dan Perilaku
di lebih 100 negara. Penyakit demam berdarah
1. PENDAHULUAN
telah menyebar secara luas diseluruh kawasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue dunia, dan
(DBD) merupakan penyakit yang amat ditakuti
didunia karna DBD merupakan penyakit endemis
penyakit ini seing muncul sebagai KLB (Kejadian kematian terjadi di anggap merupakan gambaran
Luar Biasa) sehingga angka kesakitan dan penyakit dimasyarakat. Demam Berdarah Dengue
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 1
banyak ditemukan didaerah tropis dan sub-topis. kasus, Pakan Labuh 2 kasus, Ladang Cakiah 2
Asia menepati urutan pertama dalam jumlah kasus , Kubu Tanjung 2 kasus, Parit Antang 0
penderita demam berdarah setiap tahunnya. kasus. (Puskesmas Tigo baleh, 2013)
Sementara itu WHO ( World Health Organization) Berdasarkan fenomena diatas peneliti
Mencatat negara indonesia sebagai negara dengan tertarik untuk meneliti tentang Hubungan
kasus demam berdarah tinggi di Asia Tenggara. Perilaku dan Lingkungan Dengan Kejadian
Dari jumlah kasus tersebut, sekitar 95% terjadi
Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
pada anak dibawah 15 tahun (Rosdiana,2010).
Di Indonesia angka penderita penyakit Puskesmas Tigo Baleh Baleh Kecamatan aur
DBD ini masih tergolong tinggi tiap tahunnya. Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi Tahun 2014.
Dari data Kementerian Kesehatan RI, angka rata-
rata penderita DBD pada tahun 2009-2010 masih
sebesar 65.57 kasus per 100 ribu penduduk 2. METODE PENELITIAN
dengan jumlah penderita mencapai 150 ribu Penelitian ini merupakan penelitian
(Mahardika, 2009). obsevasional yang menggunakan pendekatan
Puskesmas Tigo Baleh memiliki kasus analitik dengan menggunakan desain case control
Demam Berdarah Dengue tertinggi dengan jumlah study dengan matching dimana peneliti
kasus sebanyak 39 kasus dari periode Januari
membandingkan derajat keterpaparan antara
sampai Desember 2013 yang didapat dari
Puskesmas Tigo Baleh, Kecamatan Aur Birugo responden yang menderita penyakit DBD (kasus)
Tigo Baleh Kota Bukittinggi, dari 8 Kelurahan dengan responden yang tidak menderita penyakit
yang berada diwilayah kerja Puskesmas Tigo DBD ( kontrol ).
Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota
Bukittinggi dimana Birugo 14 kasus, Sampiran 15
kasus, Aur Kuning 2 kasus, Belakang Balok 2
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Bivariat
a. Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.3 Hubungan Pengetahuan Masyarakat dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di
Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi
Tahun 2014
Kejadian DBD OR
Pengetahuan Kasus Kontrol Total p (95%CI)
n % n % n %
Rendah 34 87.2 4 10.3 38 48.7 0.000 59.000
Tinggi 5 12.8 35 89.7 40 51.3 (14.718-240543)
Total 39 100 39 100 78 100
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa (10,3%) responden dengan pengetahuan rendah,
pada kelompok kasus terdapat 34 (87.2%) dan 35 (89,7%) responden berpengetahuan tinggi.
responden yang berpengetahun rendah, dan 5
(12,8%) responden berpengetahuan tinggi. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000,
Sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 4 (p>0,05) maka dapat disimpulkan ada perbedaan
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 2
proporsi (ada hubungan) antara tingkat berpengetahuan rendah berpeluang 59.500 kali
pengetahuan responden dengan kejadian DBD. untuk menderita DBD dibandingkan dengan
Dari hasil analisis juga diperoleh nilai responden yang berpengetahuan tinggi.
OR=59.500, artinya responden yang
b. Hubungan Sikap dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.4 Hubungan Sikap dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi tahun
2014
Kejadian DBD
Sikap Kasus Kontrol Total p OR ( 95%CI)
n % n % n %
Negatif 23 59.0 16 41.0 39 50.0 0.174 2.066
Positif 16 41.0 23 59.0 39 50.0 (0.838-5.094)
Total 38 100.0 38 100.0 78 100
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,174,
bahwa pada kelompok kasus terdapat 23 (59.0%) (p>0,05) maka dapat disimpulkan tidak ada
responden memiliki sikap negatif, dan 16 (41,0%) perbedaan proporsi (tidak adanya hubungan)
responden memiliki sikap positif. Sedangkan kejadian Demam Berdarah dengue antara
responden pada kelompok kontrol terdapat responden yang bersikap negatif dengan
16(41.0%) responden memiliki sikap negatif, dan responden yang memiki sikap positif.
23 (59,0%) responden memiliki sikap positif.
c. Hubungan Tindakan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.5 Hubungan Tindakan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi Tahun
2014
Kejadian DBD
Tindakan Kasus Kontrol Total p OR (95%CI)
n % n % n %
Buruk 26 66.7 12 30.8 38 48.7 0.030 4.500
Baik 13 33.3 27 69.2 40 51.3 (1.737-11.65)
Total 39 100.0 39 100.0 78 100
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat responden dengan tindakan buruk, dan 13 (33,3%)
bahwa pada kelompok kasus terdapat 26 (66.7%) responden dengan tindakan baik. Sedangkan pada
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 3
kelompok kontrol terdapat 12 (30,8%) responden (p<0,05). Dari hasil analisis juga diperoleh nilai
dengan tindakan buruk, dan 27 (69,2%) responden OR=4.500, artinya responden yang tindakannya
dengan tindakan baik. Hasil uji statistik diperoleh buruk berpeluang 4.500 kali untuk menderita
nilai p=0,030, (p<0,05) maka dapat disimpulkan DBD dibandingkan dengan responden yang
ada perbedaan proporsi (ada hubungan) antara mempunyai tindakan baik
tindakan responden dengan kejadian DBD
d. Hubungan Lingkungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.6 Hubungan Lingkungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah
Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi
Tahun 2014
Kejadian DBD
Lingkungan Fisik Kasus Kontrol Total p OR (95%CI)
n % n % n %
Buruk 38 97.4 37 94.9 75 96.2 1.000 2.054
Baik 1 2.6 2 5.1 3 3.8 (0. 179-23.623)
Total 39 100.0 39 100.0 78 100.0
Berdasarakan Tabel di atas dapat dilihat kejadian penyakit demam berdarah dengue
bahwa pada kelompok kasus terdapat 38 (97.4%) (DBD).
responden memiliki lingkungan fisik yang buruk, Dalam penelitian ini didapat pula nilai
dan 1 (2,6%) responden memiliki lingkungan fisik Odds Ratio (OR) = 59,500. Oleh karena nilai OR
yang baik. Sedangkan responden pada kelompok (59.500) lebih besar dari pada 1 maka dapat
kontrol terdapat 37 (94.9%) responden dengan disimpulkan bahwa pengetahuan responden
lingkungan fisik buruk, dan (5.1%) responden tantang pencegahan penyakit demam berdarah
yang memiliki lingkungan fisik yang baik. Hasil dengue (DBD) yang tidak baik adalah faktor
uji statistik diperoleh nilai p=1,000 (P>0,05).maka resiko kejadian penyakit demam berdarah dengue
dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi (DBD). Nilai Odds ratio = 59.500 memiliki
(tidak adanya hubungan) kejadian Demam pengertian bahwa resiko untuk terkena penyakit
Berdarah dengue antara responden yang memiliki demam berdarah dengue (DBD) adalah 59,500
lingkungan fisik yang buruk dengan responden kali lebih besar pada responden yang memiliki
memiliki lingkungan fisik yang baik. pengetahun tentang penyakit demam berdarah
dengue (DBD) yang tidak baik dibanding dengan
a. Hubungan Pengetahuan Responden Dengan responden yang memiliki pengetahuan penyakit
Kejadian Demam Berdarah Dengue
demam berdarah dengue (DBD) yang baik.
Pada hasil uji statistik Chi square
Hasil penelitian ini didukung oleh
didapatkan nilai p = 0,000, (p<0,05) maka dapat
penelitian yang telah dilakukan Suprianto(2010)
disimpulkan bahwa pengetahuan responden
Nilai p yang dihasilkan dari uji statistik Chi
tentang penyakit demam berdarah dengue (DBD)
square untuk uji hubungan antara pengetahuan
memiliki hubungan yang bermakna dengan
tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 4
dengan kejadian penyakit demam berdarah adalah faktor resiko kejadian penyakit demam
dengue (DBD) adalah 0,007. Oleh karena nilai p berdarah dengue (DBD). Nilai Odds Ratio = 49,61
(0,007) lebih kecil daripada 0,05 maka dapat memiliki pengertian bahwa resiko untuk terkena
disimpulkan bahwa pengetahuan tentang penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) memiliki 49,61 kali lebih besar pada responden yang
hubungan yang bermakna dengan kejadian memiliki sikap tentang pencegahan penyakit DBD
penyakit demam berdarah dengue (DBD). dan PSN yang tidak mendukung faktor resiko
Hasil uji statistik Chi square di atas sesuai penyakit DBD, namun masih banyak lagi faktor
dengan teori yang diutarakan oleh Green, dimana lain yang dapat menjadi faktor resiko dari
Green menyatakan bahwa perilaku manusia penyakit DBD.
terbentuk dari faktor predisposisi (predisposing Penelitian ini tidak sejalan dengan
factors), faktor pemungkin (enabling factors), dan penelitian yang dilakukan oleh Suprianto (2010)
faktor penguat (reinforcing factors).7 Didalam Pada hasil uji statistik Chi square didapatkan nilai
teori yang diutarakan oleh Green sendiri, p=0,000. Oleh karena nilai p (0,000) lebih kecil
pengetahuan merupakan salah satu faktor daripada 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
predisposisi (predisposingfactors), sehingga sikap tentang pencegahan penyakit demam
pengetahuan akan ikut berperan dalam berdarah dengue (DBD) dan pemberantasan
pembentukan perilaku manusia. sarang nyamuk (PSN) memiliki hubungan yang
Berdasarkan asumsi peneliti, hal ini bermakna dengan kejadian penyakit demam
disebabkan karena tingkat pengetahuan berdarah dengue (DBD).
masyarakat rendah terhadap kejadian DBD Sikap terdiri dari berbagai tingkatan
sehingga mereka tidak tahu penyebab, tanda- seperti menerima, merespon, menghargai dan
tanda, pencegahan DBD oleh sebab itu terjadi bertanggung jawab. Mengacu pada tingkatan
peningkatan angka kejadian DBD yang terus sikap yang disebutkan diatas dapat dijelaskan
meningkat tiaptahunnya. dan diharapkan kepada bahwa tingkatan sikap responden mengenai
petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan penyakit DBD presentase terbesar pada katagori
penyuluhan dan penyebaran leaflet tentang DBD baik dapat dikelompokan pada tingkatan
agar dapat menekan angka kesakitan DBD. menerima dan mampu merespon, menghargai dan
bertanggung jawab namun masih ada responden
b. Hubungan Sikap Responden Dengan yang kurang mampu menghargai ataupun
Kejadian Demam Berdarah Dengue bertanggung jawab dalam kegiatan pencegahan
Berdasarkan hasil uji statistik dalam dan pengendalian DBD
penelitian ini diperoleh nilai p=0,174, Sikap adalah suatu pola prilaku atau
(p>0,05)maka dapat disimpulkan tidak ada tendensi, atau kesiapan antisipasif, predisposisi
perbedaan proporsi (tidak adanya hubungan) untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.
kejadian Demam Berdarah Dengue antara Secara sederhana sikap dapat dikatakan respon
responden yang bersikap negatif dengan terhadap stimululi sosial yang telah dikondisikan.
responden yang bersikap positif. Semakin kurang sikap seseorang atau masyarakat
Penelitian ini tidak sejalan dengan terhadap penanggulangan dan pencegahan
penelitian yang dilakukan oleh Suprianto (2010). penyakit DBD maka akan semakin besar
Dalam penelitian ini didapatkan pula nilai Odds kemukinan timbulnya KLB penyakit DBD. (Fathi,
Ratio (OR) = 49,61. Oleh karena nilai OR (49,61) 2004).
lebih besar daripada 1 maka dapat disimpulkan Berdasarkan asumsi penelitian, tidak
bahwa sikap tentang pencegahan penyakit demam terdapatnya hubungan antara sikap dengan
berdarah dengue (DBD) dan pemberantasan kejadian DBD karena, sikap dari responden sudah
sarang nyamuk (PSN) yang tidak mendukung cukup baik. Upaya peningkatan sikap seseorang
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 70
dapat dilakukan dengan dasar belajar yang sesuai untuk pencegahan penyakit DBD, guided
diperoleh dari pengalaman seseorang hasil response (respon terpimpin), melakukan sesuatu
mengamat, mendengar dan membaca. sesuai dengan urutanyang benar dan sesuai
Peningkatan sikap responden dapat dilakukan dengan contoh, dalam hal ini masyarakat mampu
dengan memberi informasi melalui ceramah, melakukanupaya pencegahan DBD sesuai dengan
dengan melakukan model, pengalaman dan pedoman yang ada, mechanism (mekanisme),
diskusi kelompok serta bermain peran telah terjadi mekanisme dan melakukan sesuatu
(Ridha,2012) secara otomatis dan akan menjadi kebiasaan,
dalam hal ini masyarakat di Kelurahan Kassi-
c. Hubungan Tindakan Responden Dengan Kassi Kota Makassar menjadikan kegiatan
Kejadian Demam Berdarah Dengue pencegahan penyakit DBD sebagai kebiasaan,
Pada hasil uji statistik Chi square adoption (adopsi), kebiasaan, tindakan yang sudah
didapatkan nilai p = 0,003, Oleh karena nilai p berkembang dengan baik, dalam hal ini
(0,003) lebih kecil daripada 0,05 maka dapat masyarakatsudah terbiasa melakukan kebiasaan
disimpulkan bahwa tindakan pencegahan penyakit pencegahan penyakit DBD.
demam berdarah dengue (DBD) memiliki Berdasarkan asumsi penelitian,
hubungan yang bermakna dengan kejadian terdapatnya hubungan antara tindakan dengan
penyakit demam berdarah dengue (DBD). kejadian DBD karena, dapat dilihat dari segi
Dalam penelitian ini didapat pula nilai pertanyaan responden mempunyai baik tidak
Odds Ratio (OR) = 4,500. Oleh karena nilai OR pernah melakukan pengawasan jentik (100%),
(4,500) lebih besar dari pada 1 maka dapat menutup lubang angin dengan kasa (100%),
disimpulkan bahwa tindakan pencegahan penyakit penampungan air tidak tertutup ( 56,4% ) selain
demam berdarah dengue (DBD) yang tidak baik itu tindakan yang tidak baik didukung dg
adalah faktor resiko kejadian penyakit demam pengetahuan yang rendah pada masyarakat.
berdarah dengue (DBD). Nilai Odds ratio = 4,500 semakin buruk tindakan masyarakat terhadap
memiliki pengertian bahwa resiko untuk terkena pencegahan DBD maka semakin banyak
penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah masyarakat yang akan terkena DBD. Sebaliknya
4,500 kali lebih besar pada responden yang semakin baik tindakan masyarakat terhadap
memiliki tindakan pencegahan penyakit demam pencegahan DBD maka semakin sedikit
berdarah dengue (DBD) yang tidak baik masyarakat yang terkena DBD.
dibanding dengan responden yang memiliki
tindakan pencegahan penyakit demam berdarah
dengue (DBD) yang baik. d. Hubungan Lingkungan Fisik Dengan
Hasil penelitian ini didukung oleh Kejadian Demam Berdarah Dengue.
penelitian yang telah dilakukan Frida Saragih Berdasarkan hasil uji statistik dalam
(2011) tentang faktor-faktor yang berhubungan penelitian ini diperoleh nilai p=1,000, (P>0,05).
dengan kejadian DBD dimana tindakan Maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan
pencegahan mempunyai hubungan yang bermakna proporsi (tidak adanya hubungan) kejadian DBD
dengan kejadian DBD dengan p = 0,025 dan antara responden yang lingungan fisiknya buruk
faktor resiko (OR) = 3,756. dengan responden yang lingkungan fisiknya baik.
Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo Hasil penelitian ini sejalan (Fathi, 2004)
(2003) bahwa tindakan terdiri dari berbagai aspek, tentang peran faktor lingkungan dan perilaku
yaitu: perception (persepsi), mengenal dan terhadap penularan demam berdarah dengue di
memilih berbagai object sehubungan dengan kota mataram dimana lingkungan tidak berperan
tindakan yang akan di ambil, dalam hal ini dalam terjadinya penyakit DBD. Hasil uji statistik
bagaimana masyarakat memilih tindakan yang
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 71
Chi-square didapatkan nilai p= 0,100. Oleh karna c. Responden yang bersikap negatif lebih
nilai p (0,100) lebih besar dari pada 0,05 maka banyak pada kasus 23 (59,0%) dibandingkan
dapat disimpulkan bahwa lingkunga fisik tidak kontrol 16 (41,0%) di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh.
memiliki hubungan yang tidak bermakna dengan
d. Responden yang memiki tindakan buruk
kejadian demam berdarah dengue (DBD). lebih banyak pada kasus 26 (66,7%)
dibandingkan pada kontrol 12 (30,8%)di
Teori segitiga epidemiologi menjelaskan
Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh
bahwa timbulnya penyakit disebabkan oleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota
adanya pengaruh faktor penjamu (Host), penyebab Bukittinggi.
(agent) dan Lingkungan environmen) yang e. Responden yang memiki lingkungan fisik
digambarkan sebagai segitiga, perubahan dari buruk lebih banyak pada kasus 38
sektor lingkungan akan mempengaruhi host, (97,4%)dibandingkan pada kontrol 37
(94,9%) di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo
sehingga akan timbul penyakit secara individu.
Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh
Lingkungan adalah kondisi atau faktor Kota Bukittinggi.
berpengaruh yang bukan bagian dari agent f. Tingkat pengetahuan merupakan faktor
ataupun pejamu tetapi mampu menginfeksika resiko terhadap kejadian demam berdarah
agent penjamu (awinda, 2008). Berdasarkan dengue dan secara statistik terdapat
asumsi penelitian hal ini disebabkan karena hubungan yang signifikan antara tingkat
kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi pengetahuan responden dengan kejadian
demam berdarah dengue (p=0,000 OR
sanitasi lingkungan yang tidak baik belum tentu
=59,000)
menjadi faktor berkembngnya DBD. hal ini g. Sikap responden bukan merupakan faktor
dikarenakan virus dengue bisa menular kesiapa resiko terhadap kejadian pneumonia dan
saja karena disebabkan tranmisi virus yang ditular secara statistik tidak terdapat hubungan yang
oleh nyamuk yang menggit manusia yang terkena signifikan antara sikap dengan kejadian
DBD kepada manusia yang sehat sebelumnya oleh dengue (p=0,174 OR 2,066)
sebab itu lingkungan yang buruk bukalah h. Tindakan responden merupakan faktor resiko
terhadap kejadian demam berdarah dengue
merupakan penyebab terjadinya KLB DBD .
dan secara statistik terdapat hubungan yang
Nyamuk aedes adalah nyamuk rumahan yang signifikan antara tindakan responden dengan
biasa hidup ditempat yang bersih bersih kejadian demam berdarah dengue (p=0,030
OR 4.500)
i. Lingkungan fisik bukan merupakan faktor
4. KESIMPULAN resiko terhadap kejadian demam berdarah
dengue dan secara statistik tidak terdapat
Berdasarkan penelitian yang telah hubungan yang signifikan antara lingkungan
dilaksanakann di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo fisik dengan kejadian demam berdarah
Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo baleh Kota dengue (p=1,000 OR 2,054)
BukittinggiTahun 2014 dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
5. REFERENSI
a. Kejadian DBD pada kelompok kasus dan Awinda, Rose. (2008) Hubungan Sosio
kontrol adalah sama yaitu 39 (50%) Demografi dan Lingkungan Dengan
menderita DBD (kasus) dan 39 (50%) tidak Kejadian Penyakit Demam Berdarah
menderita DBD (kontrol).
Dengue (DBD) Dikecamatan bukit Raya
b. Tingkat pengetahuan responden yang rendah
lebih banyak pada kasus 34 (87,2%) Kota Pekan Baru.
dibanding kontrol 4 (10,3%)di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Chandra, Budiman. (2008). Metodologi Penelitian
Birugo Tigo baleh Kota Bukittinggi Kesehatan. Jakarta: Buku Kedokteran
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 72
Fathi, Dkk. (2004) Peran Faktor Lingkungan dan Nurjanah. (2013) Hubungan Praktik PSN dan
Perilaku Terhadap Penularan Demam Akses Air Bersih Dengan Kejadian DBD
Berdarah Dengue Di Kota Pada Siswa SD di Kecamatan Palu
Mataram..[Link] Selatan
F/[Link]
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan
Hadi, Kesumawati, Upik. Aktivitas Nokturnal Meteodologi Penelitian Ilmu
Vektor Demam Berdarah Dengue di Keperawatan. Surabaya: Salemba Rineka
Beberapa Daerah di Indonesia Jurnal
Entomologi Indonesia IPB Bogor. Pedoman Pengendalian Demam Berdarah
[Link] Dengue Di Indonesia. Kementrian
ticle/view/2758 Resehatan Republik Indonesia. (2013)
Laporan Profil Kesehatan Sumatra Barat Tahun Pondag. Kristy (2012) Hubungan Antara
Tindakan Pencegahan dengan Kejadian
2013
Demam Berdarah Dengue di
Kecamatan Malalayang Kota Manado
Laporan Riset Keseatan Dasar Tahun 2013
Kripsi Universitas Sam Ratulangi
Mahardika, Wahyu. (2009) Hubungan antara Puskesmas Tigo Baleh (2013) Data Kunjungan
Perilaku Kesehatan Dengan Kejadian Pasien Demam Berdarah Dengue Ke
Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur
Kerja Puskesmas CepiringKecamatan Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi
Cepiring Kabupaten Kendal. Skripsi Rosdiana, (2010) Hubungan Pengetahuan Sikap
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Perilaku Dengan
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Semarang. Saragih, 2011. Faktor-faktor yang berhubungan
dengan Kejadian Demam Berdarah
Marini, Dina (2009) Gambara Pengetahuan,
Sikap dan Tindakan Mengenai DBD Pada Sastroasmoro, Sudigdo. (2011) Dasar-Dasar
Keluarga Di Kelurahan Padang Bulan. Penelitian Klinis. Jakarta : Sagung Seto
Skripsi Vakultas Kedokteran Universitas
Sumatra UtaraMedan Sayono, Dkk. (2001) Hubungan Pengetahuan
Sikap dan Perilaku Pencegahan
Notoatmodjo, S. (1993). Pengantar Dengan Kejadian Demam
Pendidikan Kesehatan dan IlmuPerilaku Berdarah Dengue Pada Anggota
Kesehatan. Yogyakarta Keluarga Di Kelurahan Srondol Kulon
Kecamatan Banyumanik
Notoatmodjo, Soekidjo. (2007). Promosi [Link]
Kesehatan dan Ilmu Prilaku. Jakarta ptunimus-gdl-s1-2008-yunitaprim-506-1-
Rineka Cipta [Link]
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Sidiek Aboesina (2012) Hubungan Tingkat
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Pengetahuan ibu Mengenai Penyakit
Cipta DBD Terhadap Kejadian Penyakit DBD
Pada Anak
Notoatmodjo, Soekidjo. (2011) Kesehatan Sitio, Anton. (2008) Hubungan Perilaku Tentang
Masyarakat dan Ilmu Seni Jakarta Rineka Pemberantasan Sarang Nyamuk
Cipta dan Kebiasaan Keluargadengan Kejadian
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 73
Demam Berdarah DengueDi
Kecamatan Medan Perjuangan Kota
Medan Tesis Universitas Diponegoro
Semarang
Suprianto. Heri (2011) Hubungan Antara
Pengetahuan, Sikap, Praktek Keluarga
Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk
(Psn) Dengan Kejadian Demam
Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tlogosari Wetan Kota
Semarang
Wahyuni, Ifka Nur. (2013) Faktor Resiko Sanitasi
Lingkungan Rumah Terhadap Kejadian
Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) Diwilayah Kerja Puskesmas
Limboto Kecamatan Limboto Kabupaten
Gorontalo.
Waris, Lukman (2013) Pengetahuan dan Perilaku
Masyarakat Terhadap Demam Berdarah
Dengue Dikecamatan Batulicin
Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi
Kabupaten Selata.
[Link]
php/buski/article/view/3233
Widoyono. (2005) Penyakit Tropis, Epidemiologi,
Penularan, Pencegaha, dan
Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 74
Hubungan Perilaku dan Lingkungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah
Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh
Kota Bukittinggi Tahun 2014
[Link] Sulistiawan
1,*
STIKes Prima Nusantara Bukittinggi
*email: andikasulistiawan@[Link]
Abstract
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a health problem with an increasing number of cases is equal to 65.57 per 100
thousand inhabitants. Based on data from the health department of Bukittinggi in 2011-2013 the number of dengue
cases in the region Puskesmas Tigo Baleh In 2011 as many as 20 cases, 35 cases were in 2012, in 2013 a total of 39
cases. this type of research is an analytic survey with case-control study design and size of the study respondents were
78 respondents with totaly sampling technique. The data was collected using a questionnaire with interview techniques.
This research uses the chi-square test with 95% degree of confidence (ɑ = 0.05). The results showed no significant
relationship between knowledge of the incidence of DHF (p = 0.000, OR 59,500), there was no significant relationship
between the attitude of the incidence of DHF (p = 0.074, OR 2.066), a significant relationship between the incidence of
dengue measures (p = 0.030 , OR 4.500), and no significant relationship between the environment and the incidence of
DHF (p = 1.000 OR 2.054). Expected, government and health centers can improve public knowledge and action better
through counseling with a more effective method.
Keywords: DHF, Behavior and Environment
Abstrak
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan dengan jumlah kasus yang terus meningkat
yaitu sebesar 65,57 per 100 ribu penduduk. Berdasarkan data dari dinas kesehatan Kota Bukittinggi tahun 2011-2013
jumlah kasus DBD diwilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh Tahun 2011 sebanyak 20 kasus, tahun 2012 sebanyak 35
kasus, tahun 2013 sebanyak 39 kasus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan perilaku dan lingkungan
masyarakat dengan kejadian demam berdarah dengue. Jenis penelitian ini adalah survai analitik dengan desain studi
case control. dan besarnya populasi penelitian adalah 78 dimana semua populasi dijadikan sampel dengan teknik totaly
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara. Penelitian ini
menggunakan uji chi-square dengan derajat kepercayaan 95% ( ɑ=0,05). Hasil penelitian menunjukan ada hubungan
bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD (p=0,000, OR 59,500), tidak ada hubungan bermakna antara sikap
dengan kejadian DBD (p=0,074, OR 2,066), adanya hubungan bermakna antara tindakan dengan kejadian DBD
(p=0,030, OR 4,500), dan tidak adanya hubungan bermakna antara lingkungan dengan kejadian DBD (p=1,000 OR
2,054). Diharapkan dari hasil penelitian ini, pemerintah dan puskesmas dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
dan tindakan yang lebih baik melalui penyuluhan dengan metode yang lebih efektif.
Keywords: DBD, Lingkungan, dan Perilaku
di lebih 100 negara. Penyakit demam berdarah
1. PENDAHULUAN
telah menyebar secara luas diseluruh kawasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue dunia, dan
(DBD) merupakan penyakit yang amat ditakuti
didunia karna DBD merupakan penyakit endemis
penyakit ini seing muncul sebagai KLB (Kejadian kematian terjadi di anggap merupakan gambaran
Luar Biasa) sehingga angka kesakitan dan penyakit dimasyarakat. Demam Berdarah Dengue
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 1
banyak ditemukan didaerah tropis dan sub-topis. kasus, Pakan Labuh 2 kasus, Ladang Cakiah 2
Asia menepati urutan pertama dalam jumlah kasus , Kubu Tanjung 2 kasus, Parit Antang 0
penderita demam berdarah setiap tahunnya. kasus. (Puskesmas Tigo baleh, 2013)
Sementara itu WHO ( World Health Organization) Berdasarkan fenomena diatas peneliti
Mencatat negara indonesia sebagai negara dengan tertarik untuk meneliti tentang Hubungan
kasus demam berdarah tinggi di Asia Tenggara. Perilaku dan Lingkungan Dengan Kejadian
Dari jumlah kasus tersebut, sekitar 95% terjadi
Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
pada anak dibawah 15 tahun (Rosdiana,2010).
Di Indonesia angka penderita penyakit Puskesmas Tigo Baleh Baleh Kecamatan aur
DBD ini masih tergolong tinggi tiap tahunnya. Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi Tahun 2014.
Dari data Kementerian Kesehatan RI, angka rata-
rata penderita DBD pada tahun 2009-2010 masih
sebesar 65.57 kasus per 100 ribu penduduk 2. METODE PENELITIAN
dengan jumlah penderita mencapai 150 ribu Penelitian ini merupakan penelitian
(Mahardika, 2009). obsevasional yang menggunakan pendekatan
Puskesmas Tigo Baleh memiliki kasus analitik dengan menggunakan desain case control
Demam Berdarah Dengue tertinggi dengan jumlah study dengan matching dimana peneliti
kasus sebanyak 39 kasus dari periode Januari
membandingkan derajat keterpaparan antara
sampai Desember 2013 yang didapat dari
Puskesmas Tigo Baleh, Kecamatan Aur Birugo responden yang menderita penyakit DBD (kasus)
Tigo Baleh Kota Bukittinggi, dari 8 Kelurahan dengan responden yang tidak menderita penyakit
yang berada diwilayah kerja Puskesmas Tigo DBD ( kontrol ).
Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota
Bukittinggi dimana Birugo 14 kasus, Sampiran 15
kasus, Aur Kuning 2 kasus, Belakang Balok 2
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Bivariat
a. Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.3 Hubungan Pengetahuan Masyarakat dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di
Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi
Tahun 2014
Kejadian DBD OR
Pengetahuan Kasus Kontrol Total p (95%CI)
n % n % n %
Rendah 34 87.2 4 10.3 38 48.7 0.000 59.000
Tinggi 5 12.8 35 89.7 40 51.3 (14.718-240543)
Total 39 100 39 100 78 100
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa (10,3%) responden dengan pengetahuan rendah,
pada kelompok kasus terdapat 34 (87.2%) dan 35 (89,7%) responden berpengetahuan tinggi.
responden yang berpengetahun rendah, dan 5
(12,8%) responden berpengetahuan tinggi. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000,
Sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 4 (p>0,05) maka dapat disimpulkan ada perbedaan
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 2
proporsi (ada hubungan) antara tingkat berpengetahuan rendah berpeluang 59.500 kali
pengetahuan responden dengan kejadian DBD. untuk menderita DBD dibandingkan dengan
Dari hasil analisis juga diperoleh nilai responden yang berpengetahuan tinggi.
OR=59.500, artinya responden yang
b. Hubungan Sikap dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.4 Hubungan Sikap dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi tahun
2014
Kejadian DBD
Sikap Kasus Kontrol Total p OR ( 95%CI)
n % n % n %
Negatif 23 59.0 16 41.0 39 50.0 0.174 2.066
Positif 16 41.0 23 59.0 39 50.0 (0.838-5.094)
Total 38 100.0 38 100.0 78 100
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,174,
bahwa pada kelompok kasus terdapat 23 (59.0%) (p>0,05) maka dapat disimpulkan tidak ada
responden memiliki sikap negatif, dan 16 (41,0%) perbedaan proporsi (tidak adanya hubungan)
responden memiliki sikap positif. Sedangkan kejadian Demam Berdarah dengue antara
responden pada kelompok kontrol terdapat responden yang bersikap negatif dengan
16(41.0%) responden memiliki sikap negatif, dan responden yang memiki sikap positif.
23 (59,0%) responden memiliki sikap positif.
c. Hubungan Tindakan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.5 Hubungan Tindakan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi Tahun
2014
Kejadian DBD
Tindakan Kasus Kontrol Total p OR (95%CI)
n % n % n %
Buruk 26 66.7 12 30.8 38 48.7 0.030 4.500
Baik 13 33.3 27 69.2 40 51.3 (1.737-11.65)
Total 39 100.0 39 100.0 78 100
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat responden dengan tindakan buruk, dan 13 (33,3%)
bahwa pada kelompok kasus terdapat 26 (66.7%) responden dengan tindakan baik. Sedangkan pada
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 3
kelompok kontrol terdapat 12 (30,8%) responden (p<0,05). Dari hasil analisis juga diperoleh nilai
dengan tindakan buruk, dan 27 (69,2%) responden OR=4.500, artinya responden yang tindakannya
dengan tindakan baik. Hasil uji statistik diperoleh buruk berpeluang 4.500 kali untuk menderita
nilai p=0,030, (p<0,05) maka dapat disimpulkan DBD dibandingkan dengan responden yang
ada perbedaan proporsi (ada hubungan) antara mempunyai tindakan baik
tindakan responden dengan kejadian DBD
d. Hubungan Lingkungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 4.6 Hubungan Lingkungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah
Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi
Tahun 2014
Kejadian DBD
Lingkungan Fisik Kasus Kontrol Total p OR (95%CI)
n % n % n %
Buruk 38 97.4 37 94.9 75 96.2 1.000 2.054
Baik 1 2.6 2 5.1 3 3.8 (0. 179-23.623)
Total 39 100.0 39 100.0 78 100.0
Berdasarakan Tabel di atas dapat dilihat kejadian penyakit demam berdarah dengue
bahwa pada kelompok kasus terdapat 38 (97.4%) (DBD).
responden memiliki lingkungan fisik yang buruk, Dalam penelitian ini didapat pula nilai
dan 1 (2,6%) responden memiliki lingkungan fisik Odds Ratio (OR) = 59,500. Oleh karena nilai OR
yang baik. Sedangkan responden pada kelompok (59.500) lebih besar dari pada 1 maka dapat
kontrol terdapat 37 (94.9%) responden dengan disimpulkan bahwa pengetahuan responden
lingkungan fisik buruk, dan (5.1%) responden tantang pencegahan penyakit demam berdarah
yang memiliki lingkungan fisik yang baik. Hasil dengue (DBD) yang tidak baik adalah faktor
uji statistik diperoleh nilai p=1,000 (P>0,05).maka resiko kejadian penyakit demam berdarah dengue
dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi (DBD). Nilai Odds ratio = 59.500 memiliki
(tidak adanya hubungan) kejadian Demam pengertian bahwa resiko untuk terkena penyakit
Berdarah dengue antara responden yang memiliki demam berdarah dengue (DBD) adalah 59,500
lingkungan fisik yang buruk dengan responden kali lebih besar pada responden yang memiliki
memiliki lingkungan fisik yang baik. pengetahun tentang penyakit demam berdarah
dengue (DBD) yang tidak baik dibanding dengan
a. Hubungan Pengetahuan Responden Dengan responden yang memiliki pengetahuan penyakit
Kejadian Demam Berdarah Dengue
demam berdarah dengue (DBD) yang baik.
Pada hasil uji statistik Chi square
Hasil penelitian ini didukung oleh
didapatkan nilai p = 0,000, (p<0,05) maka dapat
penelitian yang telah dilakukan Suprianto(2010)
disimpulkan bahwa pengetahuan responden
Nilai p yang dihasilkan dari uji statistik Chi
tentang penyakit demam berdarah dengue (DBD)
square untuk uji hubungan antara pengetahuan
memiliki hubungan yang bermakna dengan
tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 4
dengan kejadian penyakit demam berdarah adalah faktor resiko kejadian penyakit demam
dengue (DBD) adalah 0,007. Oleh karena nilai p berdarah dengue (DBD). Nilai Odds Ratio = 49,61
(0,007) lebih kecil daripada 0,05 maka dapat memiliki pengertian bahwa resiko untuk terkena
disimpulkan bahwa pengetahuan tentang penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) memiliki 49,61 kali lebih besar pada responden yang
hubungan yang bermakna dengan kejadian memiliki sikap tentang pencegahan penyakit DBD
penyakit demam berdarah dengue (DBD). dan PSN yang tidak mendukung faktor resiko
Hasil uji statistik Chi square di atas sesuai penyakit DBD, namun masih banyak lagi faktor
dengan teori yang diutarakan oleh Green, dimana lain yang dapat menjadi faktor resiko dari
Green menyatakan bahwa perilaku manusia penyakit DBD.
terbentuk dari faktor predisposisi (predisposing Penelitian ini tidak sejalan dengan
factors), faktor pemungkin (enabling factors), dan penelitian yang dilakukan oleh Suprianto (2010)
faktor penguat (reinforcing factors).7 Didalam Pada hasil uji statistik Chi square didapatkan nilai
teori yang diutarakan oleh Green sendiri, p=0,000. Oleh karena nilai p (0,000) lebih kecil
pengetahuan merupakan salah satu faktor daripada 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
predisposisi (predisposingfactors), sehingga sikap tentang pencegahan penyakit demam
pengetahuan akan ikut berperan dalam berdarah dengue (DBD) dan pemberantasan
pembentukan perilaku manusia. sarang nyamuk (PSN) memiliki hubungan yang
Berdasarkan asumsi peneliti, hal ini bermakna dengan kejadian penyakit demam
disebabkan karena tingkat pengetahuan berdarah dengue (DBD).
masyarakat rendah terhadap kejadian DBD Sikap terdiri dari berbagai tingkatan
sehingga mereka tidak tahu penyebab, tanda- seperti menerima, merespon, menghargai dan
tanda, pencegahan DBD oleh sebab itu terjadi bertanggung jawab. Mengacu pada tingkatan
peningkatan angka kejadian DBD yang terus sikap yang disebutkan diatas dapat dijelaskan
meningkat tiaptahunnya. dan diharapkan kepada bahwa tingkatan sikap responden mengenai
petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan penyakit DBD presentase terbesar pada katagori
penyuluhan dan penyebaran leaflet tentang DBD baik dapat dikelompokan pada tingkatan
agar dapat menekan angka kesakitan DBD. menerima dan mampu merespon, menghargai dan
bertanggung jawab namun masih ada responden
b. Hubungan Sikap Responden Dengan yang kurang mampu menghargai ataupun
Kejadian Demam Berdarah Dengue bertanggung jawab dalam kegiatan pencegahan
Berdasarkan hasil uji statistik dalam dan pengendalian DBD
penelitian ini diperoleh nilai p=0,174, Sikap adalah suatu pola prilaku atau
(p>0,05)maka dapat disimpulkan tidak ada tendensi, atau kesiapan antisipasif, predisposisi
perbedaan proporsi (tidak adanya hubungan) untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.
kejadian Demam Berdarah Dengue antara Secara sederhana sikap dapat dikatakan respon
responden yang bersikap negatif dengan terhadap stimululi sosial yang telah dikondisikan.
responden yang bersikap positif. Semakin kurang sikap seseorang atau masyarakat
Penelitian ini tidak sejalan dengan terhadap penanggulangan dan pencegahan
penelitian yang dilakukan oleh Suprianto (2010). penyakit DBD maka akan semakin besar
Dalam penelitian ini didapatkan pula nilai Odds kemukinan timbulnya KLB penyakit DBD. (Fathi,
Ratio (OR) = 49,61. Oleh karena nilai OR (49,61) 2004).
lebih besar daripada 1 maka dapat disimpulkan Berdasarkan asumsi penelitian, tidak
bahwa sikap tentang pencegahan penyakit demam terdapatnya hubungan antara sikap dengan
berdarah dengue (DBD) dan pemberantasan kejadian DBD karena, sikap dari responden sudah
sarang nyamuk (PSN) yang tidak mendukung cukup baik. Upaya peningkatan sikap seseorang
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 70
dapat dilakukan dengan dasar belajar yang sesuai untuk pencegahan penyakit DBD, guided
diperoleh dari pengalaman seseorang hasil response (respon terpimpin), melakukan sesuatu
mengamat, mendengar dan membaca. sesuai dengan urutanyang benar dan sesuai
Peningkatan sikap responden dapat dilakukan dengan contoh, dalam hal ini masyarakat mampu
dengan memberi informasi melalui ceramah, melakukanupaya pencegahan DBD sesuai dengan
dengan melakukan model, pengalaman dan pedoman yang ada, mechanism (mekanisme),
diskusi kelompok serta bermain peran telah terjadi mekanisme dan melakukan sesuatu
(Ridha,2012) secara otomatis dan akan menjadi kebiasaan,
dalam hal ini masyarakat di Kelurahan Kassi-
c. Hubungan Tindakan Responden Dengan Kassi Kota Makassar menjadikan kegiatan
Kejadian Demam Berdarah Dengue pencegahan penyakit DBD sebagai kebiasaan,
Pada hasil uji statistik Chi square adoption (adopsi), kebiasaan, tindakan yang sudah
didapatkan nilai p = 0,003, Oleh karena nilai p berkembang dengan baik, dalam hal ini
(0,003) lebih kecil daripada 0,05 maka dapat masyarakatsudah terbiasa melakukan kebiasaan
disimpulkan bahwa tindakan pencegahan penyakit pencegahan penyakit DBD.
demam berdarah dengue (DBD) memiliki Berdasarkan asumsi penelitian,
hubungan yang bermakna dengan kejadian terdapatnya hubungan antara tindakan dengan
penyakit demam berdarah dengue (DBD). kejadian DBD karena, dapat dilihat dari segi
Dalam penelitian ini didapat pula nilai pertanyaan responden mempunyai baik tidak
Odds Ratio (OR) = 4,500. Oleh karena nilai OR pernah melakukan pengawasan jentik (100%),
(4,500) lebih besar dari pada 1 maka dapat menutup lubang angin dengan kasa (100%),
disimpulkan bahwa tindakan pencegahan penyakit penampungan air tidak tertutup ( 56,4% ) selain
demam berdarah dengue (DBD) yang tidak baik itu tindakan yang tidak baik didukung dg
adalah faktor resiko kejadian penyakit demam pengetahuan yang rendah pada masyarakat.
berdarah dengue (DBD). Nilai Odds ratio = 4,500 semakin buruk tindakan masyarakat terhadap
memiliki pengertian bahwa resiko untuk terkena pencegahan DBD maka semakin banyak
penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah masyarakat yang akan terkena DBD. Sebaliknya
4,500 kali lebih besar pada responden yang semakin baik tindakan masyarakat terhadap
memiliki tindakan pencegahan penyakit demam pencegahan DBD maka semakin sedikit
berdarah dengue (DBD) yang tidak baik masyarakat yang terkena DBD.
dibanding dengan responden yang memiliki
tindakan pencegahan penyakit demam berdarah
dengue (DBD) yang baik. d. Hubungan Lingkungan Fisik Dengan
Hasil penelitian ini didukung oleh Kejadian Demam Berdarah Dengue.
penelitian yang telah dilakukan Frida Saragih Berdasarkan hasil uji statistik dalam
(2011) tentang faktor-faktor yang berhubungan penelitian ini diperoleh nilai p=1,000, (P>0,05).
dengan kejadian DBD dimana tindakan Maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan
pencegahan mempunyai hubungan yang bermakna proporsi (tidak adanya hubungan) kejadian DBD
dengan kejadian DBD dengan p = 0,025 dan antara responden yang lingungan fisiknya buruk
faktor resiko (OR) = 3,756. dengan responden yang lingkungan fisiknya baik.
Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo Hasil penelitian ini sejalan (Fathi, 2004)
(2003) bahwa tindakan terdiri dari berbagai aspek, tentang peran faktor lingkungan dan perilaku
yaitu: perception (persepsi), mengenal dan terhadap penularan demam berdarah dengue di
memilih berbagai object sehubungan dengan kota mataram dimana lingkungan tidak berperan
tindakan yang akan di ambil, dalam hal ini dalam terjadinya penyakit DBD. Hasil uji statistik
bagaimana masyarakat memilih tindakan yang
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 71
Chi-square didapatkan nilai p= 0,100. Oleh karna c. Responden yang bersikap negatif lebih
nilai p (0,100) lebih besar dari pada 0,05 maka banyak pada kasus 23 (59,0%) dibandingkan
dapat disimpulkan bahwa lingkunga fisik tidak kontrol 16 (41,0%) di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh.
memiliki hubungan yang tidak bermakna dengan
d. Responden yang memiki tindakan buruk
kejadian demam berdarah dengue (DBD). lebih banyak pada kasus 26 (66,7%)
dibandingkan pada kontrol 12 (30,8%)di
Teori segitiga epidemiologi menjelaskan
Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh
bahwa timbulnya penyakit disebabkan oleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Kota
adanya pengaruh faktor penjamu (Host), penyebab Bukittinggi.
(agent) dan Lingkungan environmen) yang e. Responden yang memiki lingkungan fisik
digambarkan sebagai segitiga, perubahan dari buruk lebih banyak pada kasus 38
sektor lingkungan akan mempengaruhi host, (97,4%)dibandingkan pada kontrol 37
(94,9%) di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo
sehingga akan timbul penyakit secara individu.
Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh
Lingkungan adalah kondisi atau faktor Kota Bukittinggi.
berpengaruh yang bukan bagian dari agent f. Tingkat pengetahuan merupakan faktor
ataupun pejamu tetapi mampu menginfeksika resiko terhadap kejadian demam berdarah
agent penjamu (awinda, 2008). Berdasarkan dengue dan secara statistik terdapat
asumsi penelitian hal ini disebabkan karena hubungan yang signifikan antara tingkat
kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi pengetahuan responden dengan kejadian
demam berdarah dengue (p=0,000 OR
sanitasi lingkungan yang tidak baik belum tentu
=59,000)
menjadi faktor berkembngnya DBD. hal ini g. Sikap responden bukan merupakan faktor
dikarenakan virus dengue bisa menular kesiapa resiko terhadap kejadian pneumonia dan
saja karena disebabkan tranmisi virus yang ditular secara statistik tidak terdapat hubungan yang
oleh nyamuk yang menggit manusia yang terkena signifikan antara sikap dengan kejadian
DBD kepada manusia yang sehat sebelumnya oleh dengue (p=0,174 OR 2,066)
sebab itu lingkungan yang buruk bukalah h. Tindakan responden merupakan faktor resiko
terhadap kejadian demam berdarah dengue
merupakan penyebab terjadinya KLB DBD .
dan secara statistik terdapat hubungan yang
Nyamuk aedes adalah nyamuk rumahan yang signifikan antara tindakan responden dengan
biasa hidup ditempat yang bersih bersih kejadian demam berdarah dengue (p=0,030
OR 4.500)
i. Lingkungan fisik bukan merupakan faktor
4. KESIMPULAN resiko terhadap kejadian demam berdarah
dengue dan secara statistik tidak terdapat
Berdasarkan penelitian yang telah hubungan yang signifikan antara lingkungan
dilaksanakann di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo fisik dengan kejadian demam berdarah
Baleh Kecamatan Aur Birugo Tigo baleh Kota dengue (p=1,000 OR 2,054)
BukittinggiTahun 2014 dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
5. REFERENSI
a. Kejadian DBD pada kelompok kasus dan Awinda, Rose. (2008) Hubungan Sosio
kontrol adalah sama yaitu 39 (50%) Demografi dan Lingkungan Dengan
menderita DBD (kasus) dan 39 (50%) tidak Kejadian Penyakit Demam Berdarah
menderita DBD (kontrol).
Dengue (DBD) Dikecamatan bukit Raya
b. Tingkat pengetahuan responden yang rendah
lebih banyak pada kasus 34 (87,2%) Kota Pekan Baru.
dibanding kontrol 4 (10,3%)di Wilayah Kerja
Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur Chandra, Budiman. (2008). Metodologi Penelitian
Birugo Tigo baleh Kota Bukittinggi Kesehatan. Jakarta: Buku Kedokteran
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 72
Fathi, Dkk. (2004) Peran Faktor Lingkungan dan Nurjanah. (2013) Hubungan Praktik PSN dan
Perilaku Terhadap Penularan Demam Akses Air Bersih Dengan Kejadian DBD
Berdarah Dengue Di Kota Pada Siswa SD di Kecamatan Palu
Mataram..[Link] Selatan
F/[Link]
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan
Hadi, Kesumawati, Upik. Aktivitas Nokturnal Meteodologi Penelitian Ilmu
Vektor Demam Berdarah Dengue di Keperawatan. Surabaya: Salemba Rineka
Beberapa Daerah di Indonesia Jurnal
Entomologi Indonesia IPB Bogor. Pedoman Pengendalian Demam Berdarah
[Link] Dengue Di Indonesia. Kementrian
ticle/view/2758 Resehatan Republik Indonesia. (2013)
Laporan Profil Kesehatan Sumatra Barat Tahun Pondag. Kristy (2012) Hubungan Antara
Tindakan Pencegahan dengan Kejadian
2013
Demam Berdarah Dengue di
Kecamatan Malalayang Kota Manado
Laporan Riset Keseatan Dasar Tahun 2013
Kripsi Universitas Sam Ratulangi
Mahardika, Wahyu. (2009) Hubungan antara Puskesmas Tigo Baleh (2013) Data Kunjungan
Perilaku Kesehatan Dengan Kejadian Pasien Demam Berdarah Dengue Ke
Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Puskesmas Tigo Baleh Kecamatan Aur
Kerja Puskesmas CepiringKecamatan Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi
Cepiring Kabupaten Kendal. Skripsi Rosdiana, (2010) Hubungan Pengetahuan Sikap
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Perilaku Dengan
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Semarang. Saragih, 2011. Faktor-faktor yang berhubungan
dengan Kejadian Demam Berdarah
Marini, Dina (2009) Gambara Pengetahuan,
Sikap dan Tindakan Mengenai DBD Pada Sastroasmoro, Sudigdo. (2011) Dasar-Dasar
Keluarga Di Kelurahan Padang Bulan. Penelitian Klinis. Jakarta : Sagung Seto
Skripsi Vakultas Kedokteran Universitas
Sumatra UtaraMedan Sayono, Dkk. (2001) Hubungan Pengetahuan
Sikap dan Perilaku Pencegahan
Notoatmodjo, S. (1993). Pengantar Dengan Kejadian Demam
Pendidikan Kesehatan dan IlmuPerilaku Berdarah Dengue Pada Anggota
Kesehatan. Yogyakarta Keluarga Di Kelurahan Srondol Kulon
Kecamatan Banyumanik
Notoatmodjo, Soekidjo. (2007). Promosi [Link]
Kesehatan dan Ilmu Prilaku. Jakarta ptunimus-gdl-s1-2008-yunitaprim-506-1-
Rineka Cipta [Link]
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Sidiek Aboesina (2012) Hubungan Tingkat
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Pengetahuan ibu Mengenai Penyakit
Cipta DBD Terhadap Kejadian Penyakit DBD
Pada Anak
Notoatmodjo, Soekidjo. (2011) Kesehatan Sitio, Anton. (2008) Hubungan Perilaku Tentang
Masyarakat dan Ilmu Seni Jakarta Rineka Pemberantasan Sarang Nyamuk
Cipta dan Kebiasaan Keluargadengan Kejadian
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 73
Demam Berdarah DengueDi
Kecamatan Medan Perjuangan Kota
Medan Tesis Universitas Diponegoro
Semarang
Suprianto. Heri (2011) Hubungan Antara
Pengetahuan, Sikap, Praktek Keluarga
Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk
(Psn) Dengan Kejadian Demam
Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tlogosari Wetan Kota
Semarang
Wahyuni, Ifka Nur. (2013) Faktor Resiko Sanitasi
Lingkungan Rumah Terhadap Kejadian
Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) Diwilayah Kerja Puskesmas
Limboto Kecamatan Limboto Kabupaten
Gorontalo.
Waris, Lukman (2013) Pengetahuan dan Perilaku
Masyarakat Terhadap Demam Berdarah
Dengue Dikecamatan Batulicin
Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi
Kabupaten Selata.
[Link]
php/buski/article/view/3233
Widoyono. (2005) Penyakit Tropis, Epidemiologi,
Penularan, Pencegaha, dan
Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga
Jurnal Kesehatan STIKes Prima Nusantara Bukittinggi, Vol.6 No 2 Juli 2015 74