0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan41 halaman

Pengendalian Kualitas Proyek HSM 2 Six Sigma

Laporan ini membahas analisis pengendalian kualitas proyek konstruksi bangunan Hot Strip Milling (HSM) 2 yang dilakukan oleh PT. Krakatau Engineering dengan menggunakan metode Six Sigma. Laporan mengidentifikasi jenis ketidaksesuaian yang terjadi, menghitung nilai DPMO dan tingkat sigma, serta memberikan usulan perbaikan seperti pelatihan, pemeriksaan material, dan pengawasan pekerjaan. Hasilnya menunjukkan ketidaksesuaian ter
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan41 halaman

Pengendalian Kualitas Proyek HSM 2 Six Sigma

Laporan ini membahas analisis pengendalian kualitas proyek konstruksi bangunan Hot Strip Milling (HSM) 2 yang dilakukan oleh PT. Krakatau Engineering dengan menggunakan metode Six Sigma. Laporan mengidentifikasi jenis ketidaksesuaian yang terjadi, menghitung nilai DPMO dan tingkat sigma, serta memberikan usulan perbaikan seperti pelatihan, pemeriksaan material, dan pengawasan pekerjaan. Hasilnya menunjukkan ketidaksesuaian ter
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KERJA PRAKTIK

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PROYEK KONSTRUKSI


BANGUNAN HOT STRIP MILLING (HSM) 2 DENGAN
MENGIMPLEMENTASIKAN METODE SIX SIGMA
(Studi Kasus : PT. Krakatau Engineering)

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk memenuhi salah


satu persyaratan dalam menyelesaikan
Program Sarjana Teknik Industri

Oleh :
Salsabilla Humairasandi
D 600.190.089

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022
LAPORAN KERJA PRAKTIK

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PROYEK KONSTRUKSI


BANGUNAN HOT STRIP MILLING (HSM) 2 DENGAN
MENGIMPLEMENTASIKAN METODE SIX SIGMA
(Studi Kasus : PT. Krakatau Engineering)

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk memenuhi salah


satu persyaratan dalam menyelesaikan
Program Sarjana Teknik Industri

Oleh :
Salsabilla Humairasandi
D 600.190.089

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022

i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

LAPORAN KERJA PRAKTIK diajukan kepada Universitas Muhammdiyah


Surakarta untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program
Sarjana Teknik Industri.

Hari/ Tanggal :

Oleh :
Salsabilla Humairasandi
D 600.190.089

Pembimbing Lapangan Dosen Pembimbing

Ari Tamam Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri

Dr. Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T.

ii
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN

Laporan Kerja Praktik dengan judul : ANALISIS PENGENDALIAN


KUALITAS PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN HOT STRIP MILLING
(HSM) 2 DENGAN MENGIMPLEMENTASIKAN METODE SIX SIGMA
(Studi Kasus : PT. Krakatau Engineering) ini telah diuji dan dipertahankan di
hadapan Dewan Penguji sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
Program Sarjana Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah
Surakarta, pada :
Hari :
Tanggal :

Mengesahkan,

Dewan Penguji, Tanda Tangan


1. Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D
Ketua

2. ....
Anggota

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri

Dr. Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T.

iii
ABSTRAK

PT. Krakatau Engineering merupakan perusahaan yang menyediakan jasa


Engineering, Procurement dan Construction (EPC) dengan berbagai proyek seperti
proyek bangunan dan infrastruktur, sektor energi dan mineral, sektor industri baja,
semen dan petrokimia, fabrikasi dan perawatan industri serta feasibility study. Pada
proses konstruksi terdiri dari beberapa tahap seperti perencanaan/desain, pra
konstruksi, pengadaan, konstruksi hingga pasca konstruksi. Pada pelaksanaan
konstruksi ini terjadi ketidaksesuaian antara hasil aktual dengan perencanaan awal
(kontrak). Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya pengendalian kualitas agar
proyek dapat berjalan sesuai dengan perencanaan yang tercantum dalam kontrak.
Pengendalian mutu bagi perusahaan konstruksi seperti PT Krakatau Engineering
diperlukan untuk mencegah pekerjaan berulang (rework) dan mencegah pekerjaan
di luar spesifikasi sehingga akan menghindari dari pengeluaran biaya di luar
perencanaan awal. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis
ketidaksesuaian yang terjadi pada proyek konstruksi bangunan Hot Strip Milling
(HSM) 2, menghitung nilai DPMO dan tingkat sigma serta memberikan usulan
perbaikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Six Sigma. Metode
ini merupakan metode terstruktur untuk memperbaiki proses sekaligus mengurangi
cacat produk/ jasa yang tidak memenuhi spesifikasi dengan pendekatan DMAIC.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan persentase ketidaksesuaian yang paling
dominan yaitu hasil pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi sebesar 57%.
Ketidaksesuaian tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu manusia, material,
metode dan measurement. Usulan perbaikan yang diberikan seperti perlu adanya
training, memilih pekerja yang memiliki keahlian dan memenuhi kualifikasi,
melakukan pemeriksaan terhadap material, pembelian dan penggunaan material
disesuaikan spesifikasi serta perlu adanya tim pengawas dalam mengontrol
pekerjaan. Sehingga didapatkan nilai DPMO proyek HSM 2 yaitu 1399,47 sehingga
termasuk ke dalam tingkat 4 sigma.
Kata Kunci : Pengendalian Kualitas, Ketidaksesuaian, Six Sigma, DMAIC

iv
ABSTRACT

PT. Krakatau Engineering is a company that provides Engineering,


Procurement and Construction (EPC) services with various projects such as
building and infrastructure projects, the energy and mineral sector, the steel,
cement and petrochemical industry sectors, industrial fabrication and maintenance
and feasibility studies. The construction process consists of several stages such as
planning/design, pre-construction, procurement, construction to post-construction.
In the implementation of construction there is a discrepancy between the actual
results and the initial planning (contract). Based on this, it is necessary to have
quality control so that the project can run according to the plans stated in the
contract. Quality control for construction companies such as PT Krakatau
Engineering is needed to prevent rework and prevent work outside specifications
so that it will avoid spending outside the initial plan. The purpose of this study is to
identify the type of non-conformance that occurs in the Hot Strip Milling (HSM) 2
construction project, calculate the DPMO value and sigma level and provide
proposed improvements. The method used in this research is Six Sigma. This
method is a structured method to improve processes while reducing defects in
products/services that do not meet specifications with the DMAIC approach. Based
on the results of the study, it was found that the most dominant percentage of non-
conformance was that the work was not in accordance with the specifications of
57%. The discrepancy is caused by several factors, namely human, material,
method and measurement. The improvement proposals given include the need for
training, selecting workers who have skills and qualifications, conducting
inspections of materials, purchasing and using materials that are adjusted to
specifications and the need for a supervisory team to control the work. So that the
HSM 2 project DPMO value is 1399.47 so it is included in the 4 sigma level.
Keywords : Quality Control, Non-conformance, Six Sigma, DMAIC

v
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb.
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan berkah, rahmat, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Kerja Praktik dengan lancar dan tepat waktu.
Adapun maksud dan tujuan tugas Laporan Kerja Praktik adalah untuk
membekali penulis dalam menghadapi permasalahan industri di perusahaan
sebelum memasuki dunia kerja nanti.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapat bantuan dan dukungan
dari berbagai pihak yang terlibat, karena itu penulis mengucapkan banyak terima
kasih kepada :
1. Bapak Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D selaku pembimbing Kerja Praktik yang
memberikan bimbingan untuk dapat menyelesaikan Kerja Praktik.
2. Bapak Ari Tamam selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan
bimbingan selama Kerja Praktik berlangsung.
3. Saudari Arisma dan Tiara Salsabila yang sudah menemani dari awal hingga
akhir melakukan Kerja Praktik di PT. Krakatau Engineering serta dalam
pembuatan Laporan Kerja Praktik ini.
4. Kedua orang tua yang selalu mendukung penulis untuk segera menyelesaikan
Laporan Kerja Praktik ini.
5. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu
penulis dalam penyusunan Laporan Kerja Praktik ini.
Besar harapan Laporan Kerja Praktik ini dapat bermanfaat bagi penulis dan PT.
Krakatau Engineering serta bagi semua pihak yang membutuhkan.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan
Laporan Kerja Praktik ini. Untuk itu penulis memohon pembaca untuk dapat
memaklumi.
Wassalamualaikum Wr Wb.

Surakarta, Agustus 2022

Penulis

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN .......................................... iii
ABSTRAK ............................................................................................................ iv
ABSTRACT ............................................................................................................ v
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix
BAB I GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .................................................. 1
A. Sejarah Berdirinya Perusahaan .................................................................... 1
B. Misi dan Tujuan Perusahaan ........................................................................ 1
C. Struktur Organisasi dan Job Description ..................................................... 3
D. Sistem Produksi dan Peta Proses Operasi ... Error! Bookmark not defined.
E. Hasil Produksi dan Pemasaran ..................................................................... 5
F. Lokasi dan Layout Perusahaan ..................................................................... 5
G. Personalia ..................................................................................................... 6
H. Identifikasi Permasalahan Umum dan Permasalahan Khusus ..................... 9
BAB II ANALISA PERMASALAHAN KHUSUS ........................................... 11
A. Pendahuluan ............................................................................................... 11
B. Tujuan ........................................................................................................ 12
C. Metode........................................................................................................ 12
D. Hasil dan Pembahasan................................................................................ 14
E. Kesimpulan ................................................................................................ 20
G. Daftar Pustaka ............................................................................................ 21
BAB III DESKRIPSI LAPORAN HARIAN .................................................... 23

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Pembagian Waktu Kerja ......................................................................... 7


Tabel 1.2 Program Pendidikan dan Pelatihan ......................................................... 8
Tabel 2.1 Korelasi Sigma dan DPMO................................................................... 14
Tabel 2.2 Klasifikasi Ketidaksesuaian Proyek HSM 2 ......................................... 14
Tabel 2.3 Persentase Kumulatif Ketidaksesuaian Proyek HSM 2 ........................ 15
Tabel 2.4 Perhitungan Peta Kendali Proporsi ....................................................... 16
Tabel 2.5 Tahap Perhitungan DPMO dan Level Sigma ........................................ 17
Tabel 2.6 Usulan Perbaikan .................................................................................. 19

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT. Krakatau Engineering ................................... 3


Gambar 1.2 Peta Proses Operasi ............................................................................. 4
Gambar 1.3 Lokasi Perusahaan ............................................................................... 6
Gambar 1.4 Layout Perusahaan .............................................................................. 6
Gambar 2.1 Diagram Pareto Proyek HSM 2 ......................................................... 16
Gambar 2.2 Peta Kendali Proporsi Proyek HSM 2 ............................................... 17
Gambar 2.3 Fishbone Diagram ............................................................................. 19

ix
BAB I
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Berdirinya Perusahaan


PT. Krakatau Steel merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) bergerak dalam bidang pabrik baja terbesar di Indonesia bahkan Asia
Tenggara yang berdiri pada tanggal 31 Agustus 1970. PT Krakatau Steel memiliki
banyak anak perusahaan yang tergabung dalam PT. Krakatau Steel Group salah
satunya PT Krakatau Engineering.
PT Krakatau Engineering berdiri pada tanggal 12 Oktober 1998 dengan ruang
lingkup jasa pelayanan sebagai perusahaan engineering dan konstruksi. PT
Krakatau Engineering melayani proyek-proyek yang ada di PT Krakatau Steel &
Group dalam perluasan sarana dan prasarana pabrik. Seiring dengan peningkatan
kompetensi dan pengalaman, PT Krakatau Engineering tumbuh sebagai Kontraktor
Engineering, Procurement and Construction (EPC), khususnya di bidang Steel
Plant, Industry, Energy, Oil & Gas, dan Building & Infrastructure. Kemampuan
PT Krakatau Engineering sudah aktif dalam penanganan proyek-proyek besar
seperti proyek bangunan dan infrastruktur, proyek sektor energi dan mineral,
proyek pada sektor industri baja, semen serta petrokimia, proyek fabrikasi dan
perawatan industri dan proyek feasibility study. PT. Krakatau Engineering
mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kepuasan pelanggan serta
memperhatikan dalam mutu pekerjaan yang dihasilkan. Sistem kebijakan mutu
secara berkesinambungan diharapkan dapat menghasilkan peningkatan dan
menjamin keberlangsungan hidup serta menjamin kepuasan pelanggan berdasarkan
standar ISO 9001:2008.
Sejak tahun 2013, PT Krakatau Engineering memiliki 5 anak perusahaan
seperti PT Krakatau Perbengkelan dan Perawatan, PT konsultan Krakatau, PT
Krakatau Samator, PT Krakatau Daedong Machinery, dan PT Wijaya Karya
Krakatau Beton. Anak perusahaan ini didirikan sebagai upaya dalam proses
pengembangan usaha. Namun dalam perjalanannya, PT Krakatau Engineering
menghadapi permasalahan salah satunya yaitu aspek pendanaan. Oleh karena itu,
pada tahun 2014 PT. Krakatau Engineering telah menjajaki untuk mempersiapkan
rencana penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering) dan realisasinya
akan memperhatikan situasi perkembangan pasar saham dan kondisi perusahaan.
Dengan menjadi perusahaan publik, diharapkan [Link] bisa memperoleh sumber
pendanaan baru dan dapat memberikan competitive advantage lainnya untuk
pengembangan usaha yang tengah dijalani tersebut.
PT Krakatau Engineering sudah memiliki berbagai macam jenis sertifikat
sistem manajemen dengan berbagai macam intuisi seperti sertifikat ISO 9001:2008
dan 14001:2004, OHSAS 18001:2007, SMK3,GCG dan Malcolm Baldrige, di
samping itu juga mendapatkan penghargaan dari berbagai institusi Pemerintah dan
Pengguna Jasa seperti Bendera Emas, Zero Accident, dan lain-lain.

B. Misi dan Tujuan Perusahaan


1. Visi dan Misi Perusahaan
PT Krakatau Engineering memiliki visi yaitu menjadi Perusahaan Penyedia
Solusi Engineering, Procurement, Construction (EPC) dan Aplikasi Produk Baja

1
2

yang handal. Sedangkan untuk misinya yaitu menyediakan Solusi Konstruksi Dan
Perekayasaan (EPC), aplikasi produk baja serta perawatan di bidang industri dan
infrastruktur yang memberikan manfaat bagi stakeholder.
2. Tujuan Perusahaan
Sesuai dengan yang tercantum akte pendirian perusahaan, maksud dan tujuan
PT. Krakatau Engineering yaitu sebagai berikut :
a. PT Krakatau Engineering didirikan dengan maksud dan tujuan untuk turut
melaksanakan dan menunjang kebijakan Pemerintah RI dalam bidang ekonomi
dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya dalam bidang rancang
bangun dan perekayasaan di sektor industri dan insfrastruktur.
b. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut PT. Krakatau Engineering akan
melakukan berbagai kegiatan antara lain sebagai berikut :
1) Menjalankan kegiatan usaha secara luas pada sektor jasa konstruksi serta
jasa konstruksi yang terintegrasi (EPC).
2) Menjalankan kegiatan usaha perawatan di bidang industri dan
infrastruktur.
3) Menjalankan kegiatan usaha engineering, project management, jasa
fabrikasi dan perbengkelan, jasa pengadaan barang, jasa studi serta
keagenan.
3. Core Value
PT Krakatau Engineering memiliki prinsip atau nilai utama yang menjadi
acuan bagi perusahaan untuk dapat merefleksikan visi dan misi yaitu AKHLAK
(Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif). Amanah berarti
memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan. Kompeten berarti terus belajar
dan mengembangkan kapasitas. Harmonis berarti saling peduli dan menghargai
perbedaan. Loyal berarti berdedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan
negara. Adaptif berarti terus berinovasi dan antusias dalam menggerakkan ataupun
menghadapi perubahan. Sedangkan kolaboratif berarti membangun kerjasama yang
sinergis.
4. Coorporate Value
PT Krakatau Engineering memiliki nilai-nilai yang harus diterapkan oleh
masing-masing individu yaitu ACTION (Accountable, Customer Focus,
Trustworthy, Innovative, Optimal dan Neat). Accountable berarti setiap jajaran di
perusahaan harus bertanggung jawab dan disiplin dalam melaksanakan setiap
pekerjaan dari segi K3L, mutu, waktu dan biaya. Customer Focus berarti setiap
jajaran perusahaan cepat tanggap dalam memenuhi persyaratan dan harapan
pelanggan dalam pengendalian kualitas produk atau jasa. Trustworthy berarti setiap
jajaran perusahaan memiliki perilaku yang dapat dipercaya dalam merespons janji/
komitmen untuk memberi kepercayaan owner. Innovative berarti setiap jajaran
perusahaan bertekad untuk memajukan perusahaan melalui inovasi tiada henti,
perbaikan berkesinambungan serta menghargai usuan karyawan dalam tumbuh
kembang perusahaan. Optimal berarti setiap jajaran bekerja dengan sungguh-
sungguh dengan menggali potensi diri untuk tujuan peningkatan kinerja organisasi
dan perusahaan. Neat berarti setiap jajaran perusahaan harus berpikir dan bertindak
secara cermat dalam setiap pekerjaan untuk keberlanjutan perusahaan.
3

C. Struktur Organisasi dan Job Description


1. Struktur Organisasi
Berikut merupakan struktur organisasi yang dapat dilihat pada Gambar 1.1
Struktur Organisasi PT Krakatau Engineering.

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT. Krakatau Engineering

2. Job Description
Berikut merupakan penjelasan job description struktur organisasi PT. Krakatau
Engineering.
a. Direktur Utama
Direktur utama memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengarahkan,
mengorganisasikan, mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan umum,
peraturan serta sistem prosedur tata kerja agar sesuai dengan kebutuhan PT
Krakatau Engineering. Selain itu direktur utama bertugas dalam mengevaluasi
proses regenerasi, memelihara kerja sama dan hubungan baik untuk menjaga citra
perusahaan.
b. Direktur Bisnis dan Operasi
Direktur bisnis dan operasi memiliki tugas dan tanggung jawab dalam
mengembangkan dan memelihara core kompetensi inti bisnis perusahaan, produk
unggulan sesuai dengan perkembangan teknologi, tuntutan pasar dan pelanggan
serta membangun citra dan posisi perusahaan ke tingkat daya saing yang optimal.
Selain itu, dapat mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan kebijakan PT
Krakatau Engineering seperti sistem prosedur operasi, teknologi yang up to date
dan aplicable.
c. Direktur Keuangan dan Penunjang Proyek
Direktur keuangan dan penunjang proyek memiliki tugas dan tanggung jawab
dalam mengarahkan, mengembangkan dan memadukan seluruh kebijakan, sistem
prosedur perusahaan yang berhubungan dengan pendanaan proyek, manajemen
keuangan, pengadaan barang dan jasa, QA, QC, SHE dalam rangka pengembangan
bisnis PT Krakatau Engineering.
4

d. Direktur SDM dan Pengembangan Usaha


Direktur SDM dan pengembangan usaha memiliki tugas dan tanggung jawab
yaitu memberdayakan Subdit Pengembangan Usaha & SDM serta mengembangkan
dan melaksanakan kegiatan SDM & Umum, Pengembangan Usaha & Perawatan
Industri dan Portofolio & Strategi Bisnis.

D. Sistem Produksi dan Proses Operasi


1. Sistem Produksi
PT Krakatau Engineering melayani proyek-proyek besar sesuai dengan
tahapan dan prosedur dalam melaksanakan proses konstruksi. Proses konstruksi ini
dimulai dari perjanjian kontrak yang mengatur hubungan antara pengguna dan
penyedia jasa dalam penyelenggaraan konstruksi. Proses selanjutnya akan
diadakan kick off meeting untuk menyelenggarakan rapat perdana di antara seluruh
pihak untuk dapat memahami sasaran, garis besar, ruang lingkup dan tujuan
proyek. Setelah dilakukan rapat perdana dilanjutkan dengan proses construction
dan erection , monitoring dan controlling, mechanical complection, commisioning
hingga final product. Setelah bangunan jadi sesuai dengan kontrak maka akan
dikeluarkan closed out report.
Pada masing-masing prosesnya dibagi beberapa tahap, untuk lebih jelasnya
akan dijelaskan pada peta proses operasi yang ada pada PT. Krakatau Engineering.
2. Peta Proses Operasi
Peta Proses Operasi PT. Krakatau Engineering dimulai dari perjanjian kontrak
lalu mengadakan rapat perdana dengan pihak yang terlibat dilanjutkan dengan
proses construction dan erection , monitoring dan controlling, commisioning
hingga bangunan jadi serta dikeluarkannya closed out report. Proses contruction
dan erection memiliki beberapa tahap yaitu menentukan perencanaan konstruksi,
metode kerja, melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan konstruksi serta instalasi
bangunan terkait pemasangan, pemeliharaan dan perbaikan. Proses monitoring dan
controlling merupakan proses pengumpulan dan analisis informasi secara
sistematis dan kontinu mengenai kegiatan proyek sehingga dapat memberikan
tindakan koreksi sebagai penyempurnaan proyek. Lalu dilakukan pemeriksaan pada
peralatan dan konstruksi untuk menginformasikan bahwa pemasangan sesuai
dengan spesifikasi proyek melalui mechanical completion. Setelah dilakukan
pemeriksaan, dilanjutkan dengan uji coba atau comissioning terhadap keseluruhan
hasil pekerjaan yang berfungsi penuh sesuai spesifikasi proyek. Lalu dilakukan
kegiatan serah terima seluruh pekerjaan secara resmi dari penyedia jasa kepada
pengguna jasa hingga dibentuk tahapan akhir dalam sebuah proyek yaitu menyusun
closed out project untuk menciptakan manfaat yang signifikan bagi tim proyek dan
perusahaan. Berikut merupakan peta proses operasi yang dapat dilihat pada Gambar
1.2 Peta Proses Operasi.

Gambar 1.2 Peta Proses Operasi


5

E. Hasil Produksi dan Pemasaran


1. Hasil Produksi
Hasil Produksi PT Krakatau Engineering menangani jasa konstruksi dengan
menghasilkan beberapa proyek-proyek strategis dan berskala besar yang tersebar di
berbagai wilayah. Berikut merupakan hasil proyek PT Krakatau Engineering.
a. Proyek Bangunan dan Infrastruktur
Pengalaman proyek bangunan dan infrastruktur PT Krakatau Engineering yaitu
pada Pembangunan Open Access Tahap-1 di Pertamina (Persero), Tarahan Port
Expansion PT Bukit Asam, Harbour Stockyard Project for Blast Furnance
Complex PT Krakatau Steel, Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit PT Kutai Agro
Lestari, Steel Bridge Pedestrian PT Krakatau Steel, Pembangunan Hotel Permata
Krakatau, dan lain-lain.
b. Proyek Sektor Energi dan Mineral
Pengalaman proyek sektor energi dan mineral PT Krakatau Engineering yaitu
pada Pemasangan Jaringan Interkoneksi PT PLN UIP Jaringan Sumatera I, High
Voltage Transmission Line PT PLN (Persero), Expansion Upgrading of Power
Distribution System PT Krakatau Steel, dan lain-lain.
c. Proyek pada Sektor Industri Baja, Semen serta Petrokimia
Pengalaman proyek pada setor industri baja, semen dan petrokimia yaitu pada
HSM Project PT Krakatau Steel, Blast Furnance PT Krakatau Steel, Integrated
Steel Mill PT Krakatau Posco, NPK Granulation PT Petrokimia Gresik, New Feed
Stock Transfer Facility PT Cabot Indonesia, dan lain-lain.
d. Proyek Fabrikasi dan Perawatan Industri
Pengalaman proyek pada fabrikasi dan perawatan industri yaitu pada Crude
Palm Oil Plant PTPN III, Cement Plant Project PT Semen Andalas Indonesia,
Restoration of Furnace 1 PT Pertamina, dan lain-lain.
e. Proyek Feasibility Study
Pengalaman proyek pada feasibility study yaitu pada Peningkatan Kapasitas
Waduk Krenceng PT Krakatau Tirta Industri.
2. Pemasaran
Area proyek PT Krakatau Engineering berada pada skala nasional yang terletak
pada berbagai titik di Indonesia. Proyek yang ditangani PT Krakatau Engineering
tersebar hampir seluruh wilayah Indonesia seperti di Pulau Jawa, Pulau Sumatera
seperti Lampung, Riau dan Jambi serta beberapa wilayah Indonesia lain seperti
Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan lain sebagainya.

F. Lokasi dan Layout Perusahaan


1. Lokasi
Kantor pusat PT Krakatau Engineering berdiri di Kawasan Industri Jalan Asia
Raya Kav. O.3, Cilegon 422435, Indonesia. Perusahaan berada pada lingkup
Kawasan Industri Krakatau di mana lokasinya berdekatan dengan perusahaan lain.
Berikut merupakan tampilan lokasi perusahaan pada Gambar 1.3 Lokasi
Perusahaan.
6

Gambar 1.3 Lokasi Perusahaan

2. Layout Perusahaan
Berikut merupakan layout PT Krakatau Engineering yang dapat dilihat pada
Gambar 1.4 Layout Perusahaan.

Gambar 1.4 Layout Perusahaan

G. Personalia
1. Status Karyawan
PT Krakatau Engineering memiliki karyawan yang berjumlah 160 dengan laki-
laki dan perempuan didalamnya. Status karyawan memiliki status jelas dalam
kontrak kerja yang dikeluarkan PT Krakatau Engineering.
7

2. Penggajian Karyawan
Setiap karyawan berhak memperoleh upah yang memenuhi standar upah
minimum yang ditentukan pemerintah serta sesuai dengan jabatan, bobot pekerjaan,
keahlian, prestasi kerja dan konduite karyawan di perusahaan. Pelaksanaan
pembayaran gaji dibayarkan satu kali setiap bulan pada tanggal 27.
3. Kesejahteraan Karyawan
PT Krakatau Engineering menempatkan karyawan terampil sebagai aset utama,
perusahaan menjamin kenyamanan, keselamatan dan kesehatan seluruh karyawan
sesuai dengan persyaratan dan peraturan, perusahaan telah mengambangkan sistem
remunerasi, tunjangan karyawan yang diperbaharui setiap tahun serta penghargaan
terkait dengan kinerja karyawan, pemberian pakaian dan sepatu kerja, fasilitas dan
tunjangan transportasi dan perumahan.
4. Pembinaan Karyawan
PT. Krakatau Engineering memiliki kegiatan pembinaan yang dilakukan untuk
membentuk karyawan yang mampu melaksanakan tugas-tugas perusahaan secara
mandiri, inovatif, produktif, profesional dan bertanggung jawab. Pembinaan
karyawan ini mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap mental
profesional. Pembinaan karyawan ini dengan melakukan pelatihan K3 serta
pengenalan job description sesuai dengan divisi penempatan bagi setiap karyawan
baru.
5. Pembagian Jam Kerja Karyawan
Waktu kerja normal PT Krakatau Engineering adalah tidak kurang dari 8 jam
kerja sehari dan/ atau 40 jam kerja seminggu dan/ atau 173 jam kerja sebulan. Hari
kerja untuk karyawan shift ditetapkan oleh pimpinan karyawan masing-masing
sesuai kebutuhan. Sedangkan untuk karyawan proyek ditetapkan oleh pimpinan
proyek sesuai dengan kebutuhan jadwal kerja proyek. Berikut merupakan Tabel 1.1
Pembagian Waktu Kerja.
Tabel 1.1 Pembagian Waktu Kerja
Hari Jam Kerja Jam Istirahat
Senin-Kamis 08.00-17.00 WIB 12.00-13.00 WIB
Jumat 08.00-17.00 WIB 11.45-12.45 WIB

6. Rekrutmen Karyawan
Proses pelaksanaan rekrutmen karyawan pada PT Krakatau Engineering
dilakukan secara terstruktur sesuai dengan prosedur yang ditetapkan perusahaan.
Proses rekrutmen diawali dengan calon pekerja memasukkan berkas administrasi
sesuai requirement perusahaan, untuk selanjutnya dilakukan seleksi. Tahap seleksi
ini diawali dengan tes tertulis. Jika tes tertulis lolos, dilanjutkan dengan tahap
interview atau wawancara. Setelah proses interview akan diumumkan hasil dan
pekerja yang lolos untuk ditempatkan di divisi masing masing.
7. Pemberhentian Karyawan
Pemberhentian atau Pemutuan Hubungan Kerja (PHK) karyawan dapat terjadi
karena kontrak kerja berakhir, karyawan mencapai batas usia pensiun, karyawan
berhenti atas inisiatif sendiri, meninggal dunia, karyawan diangkat sebagai anggota
direksi, karyawan sakit berkepanjangan atau cacat akibat kecelakaan kerja,
karyawan melakukan pelanggaran tata tertib atau disiplin kerja, PHK yang
disepakati, perubahan status dan kepemilikan perusahaan dan rasionalisasi
perusahaan.
8

8. Keselamatan Kerja
PT Krakatau Engineering menetapkan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja
merupakan salah satu faktor yang diutamakan. Perusahaan menyediakan peralatan
sesuai dengan kondisi dan persyaratan kerja serta menyediakan sarana dan
prasarana sesuai dengan Sistem Manajemen K3 dan Lingkungan. Perusahaan juga
menyediakan pengangkutan sebagai pertolongan pertama dan menanggung
sepenuhnya biaya yang timbul akibat kecelakaan kerja.
9. Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Program pendidikan dan pelatihan PT Krakatau Engineering dilakukan baik in-
house maupun di luar perusahaan untuk meningkatkan skill dan keahlian personil.
Berikut merupakan Tabel 1.2 Program Pendidikan dan Pelatihan.
Tabel 1.2 Program Pendidikan dan Pelatihan
No Profil Tenaga Kerja Jenis Pelatihan
1. Manajerial (Kasubdit, Pembekalan Sertifikasi Madya Manajemen Proyek
Kadiv, Deputy, Kadis, Learning & Sharing Session XXX : Green
Chief, SE) Construction & Project Coord
Percepatan Kapabilitas Senior Engineering : Basic
Civil, Piping, Instrument
Pelatihan Manajemen SDM bagi Profesional Pemula
Sosialisasi Pengukuran Kinerja Berbasis KPKU
Strategic Business Analysis
Finance for Non Finance Manager
Purchase Management
Project Management (PMBOK)
Kontrak dan Negoisasi
Primavera Training
Manajemen Keuangan Proyek
Manajemen SDM untuk di Proyek
Project Financing SWOT Analysis
Leadership, Interpersonal Skill & Team
Development
Pelatihan Evaluator Kinerja Berbasis KPKU -
BUMN
Pelatihan Directorship
Hukum dan Kontrak Konstruksi
2. Non Manajerial Mengunggah Kesadaran K3 dengan Hati melalui
(Engineer kebawah) OMA
3D Plant-Pengenalan Software Autodesk Plan
Design
Pipeline Risk Management
Corrosion Control & Cathodic Protection
Pipe and Pipeline Technology
“Earthquake Disaster Risk Reduction : Engineering
Challenges After Recent Disasters”
Pelatihan dan Simulasi Tanggap Darurat
Modul Risk Management Tingkat Staff
Pelatihan Bahasa Korea, Mandarin dan Bahasa
Inggris
Kesiapsiagaan Tanggap Darurat
Training & Sertifikasi Ahli K3 Migas
Studi Kelayakan (Feasibility Study)
9

H. Identifikasi Permasalahan Umum dan Permasalahan Khusus


1. Identifikasi Permasalahan Umum
PT. Krakatau Engineering merupakan perusahaan yang menangani jasa
Engineering, Procurement dan Construction (EPC). Permasalahan pada
perusahaan secara keseluruhan tergolong sangat minim karena dalam keseluruhan
proyek sudah dilakukan sesuai standar dan lolos sertifikasi. Namun ada beberapa
masalah yang sedikit mengganggu proses konstruksi. Berapa masalah yang terjadi
secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Pada proyek konstruksi, sering terkendala dalam segi produktivitas. Di mana
masalah ini mengakibatkan proyek tidak berjalan sesuai dengan rencana. Ada
beberapa faktor yang terlibat dalam permasalahan ini yaitu dari segi sumber
daya, manajemen, cuaca dan lain sebagainya. Solusi yang dapat diberikan
untuk mengatasi masalah ini yaitu perlu adanya perencanaan yang baik
sebelum pelaksanaan proyek serta diperlukan pengawasan saat proyek
berlangsung.
b. Kesadaran pekerja dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) masih
kurang sehingga rawan terjadinya kecelakaan kerja yang akan menghambat
jalannya proyek konstruksi. Solusi yang dapat diberikan yaitu perlu adanya
aturan penggunaan APD serta tenaga pengawas yang berfungsi untuk
mengingatkan dan mengenakan sanksi bagi pelanggar.
c. Terjadi pemborosan material disebabkan oleh berbagai faktor seperti desain,
handling, pekerja, manajemen yang buruk, kondisi lokasi konstruksi dan
pengadaan material. Solusi yang dapat diberikan yaitu perlu adanya
manajemen material dimulai dari tahap pengadaan sampai menjadi material
yang siap pakai.
d. Terjadi ketidaksesuaian pada hasil konstruksi dengan perencanaan awal. Solusi
yang dapat diberikan yaitu dengan mengoptimalkan pengendalian kualitas
terhadap proyek konstruksi bangunan.
2. Identifikasi Permasalahan Khusus
Berdasarkan data Non Conformity Report (NCR) yang diberikan, penulis
mengidentifikasi permasalahan yang menjadi salah satu perkembangan perusahaan
konstruksi yaitu terkait dengan kualitas bangunan. Penulis memilih kasus mengenai
analisa defect khususnya pada proyek konstruksi bangunan HSM 2. Defect dalam
arti konstruksi adalah sesuatu hal yang tidak memenuhi spesifikasi dari kontrak atau
owner. Berdasarkan identifikasi data NCR yang dilakukan, ketidaksesuaian dapat
dibagi menjadi beberapa klasifikasi. Kondisi pengendalian kualitas pada PT
Krakatau Engineering kurang adanya pengawasan pada saat pelaksanaan, baik dari
segi material yang digunakan ataupun pekerja. Hal ini menyebabkan penambahan
biaya karena harus melakukan perbaikan pada hasil pekerjaan yang tidak sesuai.
Berdasarkan permasalahan tersebut, untuk meningkatkan kualitas perlu dianalisis
penyebab terjadinya ketidaksesuaian. Metode yang digunakan yaitu metode Six
Sigma. Pengimplementasian metode Six Sigma sangat memungkinkan untuk
diterapkan pada proyek konstruksi, karena dilihat para stakeholder mengedepankan
tercapainya sasaran mutu/ requirement yang diciptakan oleh owner dengan
melakukan perbaikan. Metode ini dibantu dengan beberapa problem solving tools
seperti Pareto diagram, peta kendali proporsi dan fishbone diagram. Berdasarkan
metode tersebut, diharapkan dapat memberikan informasi terhadap PT. Krakatau
10

Engineering terkait ketidaksesuaian yang terjadi dan pengendalian kualitas yang


tepat untuk diterapkan pada sebuah proyek.
BAB II
ANALISA PERMASALAHAN KHUSUS

A. Pendahuluan
Kemajuan dalam industri konstruksi semakin berkembang besar dan rumit dari
segi fisik maupun biaya. Pada pelaksanaannya, proyek konstruksi ini memiliki
batasan dalam penggunaan sumber daya baik manusia, material, tools/ alat serta
biaya. Karakteristik industri konstruksi berbeda dengan industri lainnya yang
berpengaruh pada progress pekerjaan pelaksanaan di lapangan. Hal ini diperlukan
manajemen proyek untuk mengatur dari mulai fase awal proyek hingga
penyelesaian proyek. Dengan kompleksitas proyek dan sumber daya yang semakin
langka dibutuhkan peningkatan sistem dan pengelolaan proyek yang baik dan
terintegritas (Ahuja et al., 1994).
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi seringkali menemui hambatan atau
kendala. Hal ini ditandai dengan beberapa kasus yang mengalami ketidaksesuaian
terhadap rencana yang ditetapkan sebelumnya. Ketidaksesuaian ini disebabkan baik
dari segi material, man/ pekerja, method/ metode serta environment/ lingkungan.
Sehingga dalam pelaksanaannya, dibutuhkan pengendalian mutu agar proyek dapat
berjalan sesuai dengan perencanaan yang tercantum dalam kontrak. Proyek
konstruksi ini saling berhubungan antar pekerjaan satu dengan lainnya, sehingga
semakin besar proyek maka akan semakin besar risiko yang dihadapi.
Mutu suatu pekerjaan pada proyek-proyek lebih banyak dilihat dari hasil akhir
pekerjaan atau fungsi dari bangunan itu sendiri. Tidak tercapainya mutu produk
akhir dan tidak terpenuhinya fungsi bangunan disebabkan oleh penyimpangan
prosedur pengerjaan. Penyimpangan prosedur pengerjaan yang telah ditetapkan
pada kontrak menyebabkan terjadinya pembengkakan biaya.
Pengendalian mutu bagi perusahaan konstruksi seperti PT Krakatau
Engineering diperlukan untuk mencegah pekerjaan berulang (rework) dan
mencegah pekerjaan di luar spesifikasi sehingga akan menghindari dari
pengeluaran biaya di luar perencanaan awal. Pembangunan konstruksi Hot Strip
Milling (HSM) 2 ini merupakan salah satu proyek yang menerapkan sistem
pengendalian mutu didalamnya. Hal ini ditandai dengan adanya Non Conformity
Report (NCR) yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor ketidaksesuaian
yang terjadi pada suatu bangunan.
Berdasarkan faktor yang difokuskan perusahaan yaitu kualitas, maka penulis
melakukan penelitian berupa analisis pengendalian kualitas pada Proyek HSM 2
dengan mengimplementasikan metode Six Sigma. Six Sigma merupakan metode
yang terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan dengan menerapkan metode
DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) dan alat statistika yang
digunakan seperti diagram Pareto, fishbone serta peta kendali (Gazpers, 2002).
Kelebihan dari Six Sigma ini yaitu tidak hanya memperhatikan dalam segi kualitas
saja, namun memperhatikan issue bisnis lainnya, dapat mengurangi biaya,
perbaikan produktivitas, retensi pelanggan serta pengembangan baik produk
maupun jasa.
Berdasarkan permasalahan ketidaksesuaian yang dihadapi PT Krakatau
Engineering pada Proyek Konstruksi Bangunan Hot Strip Milling 2, metode Six
Sigma digunakan untuk memecahkan masalah yang ada. Proses pengamatan

11
12

dilakukan dengan mengklasifikasikan faktor-faktor ketidaksesuaian yang ada pada


data Non Conformity Report (NCR).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian yang dilaksanakan di PT Krakatau Engineering
diantaranya sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya ketidaksesuaian pada
Proyek Hot Strip Milling (HSM) 2.
2. Mengukur tingkat/ level Six Sigma dan nilai Defect for Million Opportunities
(DPMO) pada Proyek Hot Strip Milling (HSM) 2.
3. Mengidentifikasi sebab akibat dari penyebab permasalahan menggunakan
fishbone diagram serta memberikan usulan perbaikan Proyek Hot Strip Milling
(HSM) 2.

C. Metode
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di PT Krakatau Engineering tepatnya di Jalan Asia
Raya Kav. O.3, Cilegon 422435, Indonesia. Penulis melakukan penelitian pada
Divisi HSSE & Management System khususnya pada Divisi QA & QC yang ada di
perusahaan selama satu bulan yaitu pada tanggal 1-31 Agustus 2022.
2. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder.
Pengumpulan data primer bertujuan untuk mengumpulkan data-data langsung
sebagai verifikasi dari proses olah data meliputi wawancara dan dokumentasi
pihak-pihak terkait. Sedangkan pengumpulan data sekunder bertujuan untuk
mengumpulkan data-data informasi penelitian meliputi data Non Conformity
Report (NCR) proyek. Selain itu didukung dengan studi literatur berupa pencarian
teori dan referensi yang didapatkan dari buku atau jurnal terkait. Data yang
diperlukan dari penelitian ini yaitu jumlah ketidaksesuaian dari beberapa faktor,
biaya NCR/ ketidaksesuaian dan biaya total konstruksi.
3. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode Six Sigma. Penelitian
ini mengacu pada Pande dan Holpp (2005) yaitu melalui tahap DMAIC (Define,
Measure, Analyze, Improve, Control) yang digunakan untuk menganalisis
ketidaksesuaian pada proyek. Pada kasus ini penulis juga menggunakan alat
statistik seperti peta kendali/ control chart, diagram Pareto dan diagram fishbone.
Langkah yang dilakukan dengan menggunakan metode Six Sigma diantaranya
sebagai berikut :
a. Define
Define merupakan tahap pertama dengan mengidentifikasi dan
mengklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan ketidaksesuaian
hasil pekerjaan pada proyek konstruksi bangunan.
b. Measure
Measure merupakan tahap kedua dalam metode Six Sigma. Pada tahapan ini
mengukur kualitas yang dihasilkan dari setiap pekerjaan dengan mengidentifikasi
hasil pekerjaan yang mengacu pada CTQ (Critical to Quality) Tahap pengukuran
ini dilakukan 3 tahap yaitu :
13

1) Analisis diagram Pareto


Diagram Pareto ini digunakan untuk menunjukkan histogram data dengan
urutan frekuensi terbesar hingga yang terkecil dengan menghitung pula persentase
kumulatifnya (Evan & Lindsay, 2007: 87-89). Konsep diagram Pareto ini adalah
80/20 yang menunjukkan jika terdapat 1 jenis ketidaksesuaian makan akan
menyebabkan 80% total ketidaksesuaian yang terjadi. Sehingga dapat diketahui
masalah ketidaksesuaian yang paling kritis dan perlu dilakukan perbaikan atau
peningkatan kualitas.
2) Analisis peta kendali (P-chart)
Peta kendali ini digunakan untuk atribut pada sifat-sifat produk berdasarkan
atas proporsi antara jumlah biaya yang dikeluarkan dengan jumlah biaya cacat. Peta
kendali juga berfungsi untuk membantu pengendalian kualitas dan memberikan
informasi mengenai kapan dan di mana perusahaan harus melakukan perbaikan
kualitas. Peta kendali dapat disusun dengan langkah berikut:
a) Hitung Central Line (CL)
x
CL = p̅ = n .................................................................................................. (1)
(Pratiwi, Mustakim dan Sucilianti, 2021)
Keterangan :
x = Jumlah produk cacat/ jumlah biaya ketidaksesuaian
n = Jumlah produksi/ jumlah biaya konstruksi
b) Hitung Upper Control Line (UCL)
p̅ (1-p̅
UCL = p̅ +3 (√ ).................................................................................... (2)
n
(Pratiwi, Mustakim dan Sucilianti, 2021)
Keterangan :
𝑝̅ = Rata-rata ketidaksesuaian
n = Jumlah klasifikasi ketidaksesuaian
c) Hitung Lower Control Line (LCL)
p̅ (1-p̅
LCL = p̅ -3 (√ ) ..................................................................................... (3)
n
(Pratiwi, Mustakim dan Sucilianti, 2021)
Keterangan :
𝑝̅ = Rata-rata ketidaksesuaian
n = Jumlah klasifikasi ketidaksesuaian
3) Analisis Tingkat Sigma dan Defect Per Million Opportunities (DPMO)
Defect Per Million Opportunities (DPMO) merupakan perhitungan untuk
mengukur dan kapabilitas sigma dalam suatu pekerjaan. DPMO ini digunakan
dalam peningkatan kualitas six sigma dengan menunjukkan ketidaksesuaian per
sejuta kesempatan. Berikut rumus dalam perhitungan nilai DPMO dan tingkat
sigma.
Jumlah Produk Cacat
DPMO = Jumlah Produk yang diperiksa x CTQ x 1000000 ...................................... (4)
(Sirine, Kurniawati, 2017)
Keterangan :
CTQ = Jumlah klasifikasi ketidaksesuaian
106 -DPMO
Sigma level () = NORMSINV ( ) +1,5 ...................................... (5)
106
(Pratiwi, Mustakim dan Sucilianti, 2021)
14

Semakin tinggi nilai DPMO maka akan semakin rendah tingkat sigma,
begitupun sebaliknya. Korelasi nilai DPMO dan tingkat sigma dapat dilihat pada
Tabel 2.1 Korelasi Sigma dan DPMO.
Tabel 2.1 Korelasi Sigma dan DPMO
Sigma Parts per Million
6 3,4 defects (industri kelas dunia)
5 233 defects (rata-rata industri Jepang)
4 6.210 defects (rata-rata industri USA)
3 66.807 defects (rata-rata industri Indonesia)
2 308.537 defects
1 690.000 defects (sangat tidak kompetitif)
(Sumber : Gasperz, 2005)

c. Analyze
Analyze digunakan untuk menganalisis penyebab dan akibat dari defect suatu
pekerjaan. Analisa ini menyajikan fishbone diagram atau ishikawa diagram pada
kelompok ketidaksesuaian yang paling tinggi.
d. Improve
Pada tahap improve diberikan usulan-usulan yang diharapkan dapat
memberikan masukkan kepada tim proyek untuk menjadi lebih baik dengan
melakukan Plan, Do, Check dan Action. Tahap ini melalui brainstorming dan
wawancara pihak terkait terhadap usulan perbaikan/ pencegahan yang dilakukan.
e. Control
Control merupakan tahap dalam melakukan pemantauan alternatif perbaikan
yang diberikan dapat benar-benar diaplikasikan dan memantau apakah perbaikan
yang dilakukan terhadap mutu pekerjaan tersebut dapat mengurangi
ketidaksesuaian pekerjaan.

D. Hasil dan Pembahasan


1. Define
Tahap yang pertama yaitu define, di mana tahap ini menentukan sasaran dan
tujuan dari perbaikan yang menjadi obyek dalam penelitian ini yaitu sebuah
bangunan proyek HSM 2. Tahap ini dilakukan identifikasi ketidaksesuaian pada
standar atau spesifikasi yang ditetapkan. Kondisi proyek konstruksi bangunan yang
dihasilkan harus terhindar dari ketidaksesuaian. Berdasarkan identifikasi
ketidaksesuaian berdasarkan dari data Non Conformity Report (NCR) dapat
diklasifikasikan seperti pada Tabel 2.2 Klasifikasi Ketidaksesuaian Proyek HSM 2.
Tabel 2.2 Klasifikasi Ketidaksesuaian Proyek HSM 2
Klasifikasi Ketidaksesuaian Jumlah Biaya
Material tidak sesuai spesifikasi 9 Rp 218.792.500
Pengerjaan dan pemasangan sistem/ material
36
tidak sesuai dengan desain gambar Rp 717.600.000
Pengerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi
85
(kualitas, prosedur) Rp [Link]
Terjadi kebocoran pada area tertentu 7 Rp 62.000.000
Terjadi keretakan pada area tertentu 9 Rp 173.000.000
15

Klasifikasi Ketidaksesuaian Jumlah Biaya


Terjadi porositas dan segregasi pada kolom dan
1
lantai Rp 20.000.000
Ketidakahlian man power pada pemasangan
1
ubin Rp 25.000.000
TOTAL 148 Rp [Link]

Dapat dilihat pada Tabel 2.2, terdapat 7 klasifikasi ketidaksesuaian pada


proyek konstruksi bangunan HSM 2 yaitu material tidak sesuai spesifikasi,
pengerjaan dan pemasangan sistem/ material tidak sesuai dengan desain gambar,
hasil pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi, terjadi kebocoran pada area tertentu,
terjadi keretakan pada area tertentu, terjadi porositas dan segregasi pada kolom dan
lantai serta ketidakahlian man power pada pemasangan ubin. Total ketidaksesuaian
yang terjadi yaitu 148 dengan total biaya ketidaksesuaian yang dikeluarkan sebesar
Rp2.938.892.500.
2. Measure
Berdasarkan data Non Conformity Report (NCR) Proyek Konstruksi Bangunan
HSM 2 dapat diketahui klasifikasi ketidaksesuaian pada Tabel 2.2. Langkah
selanjutnya yaitu membuat diagram Pareto untuk mengurutkan klasifikasi
ketidaksesuaian dari frekuensi yang paling besar ke frekuensi yang paling kecil.
Hasil diagram Pareto dapat dilihat pada Tabel 2.3 Persentase Kumulatif
Ketidaksesuaian Proyek HSM 2 dan Gambar 2.1 Diagram Pareto Proyek HSM 2.
Tabel 2.3 Persentase Kumulatif Ketidaksesuaian Proyek HSM 2
Jenis Kecacatan Jumlah
Hasil perkerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi
(kualitas, prosedur) 85 57% 57%
Pengerjaan dan pemasangan sistem/ material tidak
sesuai dengan desain gambar 36 24% 82%
Material tidak sesuai spesifikasi 9 6% 88%
Terjadi keretakan pada area tertentu 9 6% 94%
Terjadi kebocoran pada area tertentu 7 5% 99%
Terjadi porositas dan segregasi pada kolom dan lantai 1 1% 99%
Ketidakahlian man power pada pemasangan ubin 1 1% 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui diagram Pareto sebagai berikut.


16

Gambar 2.1 Diagram Pareto Proyek HSM 2

Berdasarkan Gambar 2.1, dapat diketahui frekuensi ketidaksesuaian yang


paling besar yaitu hasil pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi sebesar 57%, lalu
pengerjaan dan pemasangan sistem/ material tidak sesuai dengan desain gambar
sebesar 24%, lalu material tidak sesuai spesifikasi dan terjadi keretakan pada area
tertentu sebesar 6%, terjadi kebocoran pada area tertentu sebesar 5%, terjadi
porositas dan segregasi pada kolom dan lantai serta ketidakahlian man power pada
pemasangan ubin sebesar 1%. Maka berdasarkan prinsip tersebut, dapat
disimpulkan bahwa hasil pekerjaan tidak sesuai spesifikasi menjadi ketidaksesuaian
yang paling kritis pada proyek pembangunan HSM 2.
Selanjutnya, melakukan kontrol karakteristik kualitas untuk mengetahui
proporsi ketidaksesuaian proyek. Dalam perhitungan ini menggunakan peta kendali
proporsi atau p-chart yang dapat dilihat pada Tabel 2. 4 Perhitungan Peta Kendali
Proporsi.
Tabel 2.4 Perhitungan Peta Kendali Proporsi
Keterangan Biaya NCR Total Biaya % LCL CL UCL
Material tidak sesuai
936392500 2938892500 0,318621 -0,1019 0,0098 0,12147
spesifikasi
Pengerjaan dan
pemasangan sistem/
717600000 2938892500 0,244174 -0,1019 0,0098 0,12147
material tidak sesuai
dengan desain gambar

Hasil pekerjaan tidak


sesuai dengan spesifikasi 1722500000 2938892500 0,586105 -0,1019 0,0098 0,12147
(kualitas, prosedur)

Terjadi kebocoran pada


62000000 2938892500 0,021096 -0,1019 0,0098 0,12147
area tertentu

Terjadi keretakan pada


173000000 2938892500 0,058866 -0,1019 0,0098 0,12147
area tertentu
Terjadi porositas dan
segregasi pada kolom dan 20000000 2938892500 0,006805 -0,1019 0,0098 0,12147
lantai
17

Keterangan Biaya NCR Total Biaya % LCL CL UCL

Ketidakahlian man power


25000000 2938892500 0,008507 -0,1019 0,0098 0,12147
pada pemasangan ubin

Berdasarkan hasil pengolahan data peta kendali proporsi (p-chart) pada Tabel 2.4
Perhitungan Peta Kendali Proporsi, maka sebaran data dapat digambarkan dalam
bentuk grafik yang dapat dilihat pada Gambar 2.2 Peta Kendali Proporsi Proyek
HSM 2.

Gambar 2.2 Peta Kendali Proporsi Proyek HSM 2

Berdasarkan hasil pengolahan data pada Tabel 2.4 dan Gambar 2.2 maka dapat
dilihat ada 3 klasifikasi ketidaksesuaian yang berada diatas Upper Control Line
(UCL) yang artinya melebihi batas toleransi yang ditentukan. Sehingga dapat
dilihat ketidaksesuaian yang melebihi batas UCL yaitu material tidak sesuai
spesifikasi sebesar 0,319, pengerjaan dan pemasangan sistem/ material tidak sesuai
dengan desain gambar sebesar 0,244 dan hasil pekerjaan tidak sesuai dengan
spesifikasi sebesar 0,586. Dari data hasil pengolahan maka dapat dikatakan bahwa
pelaksanaan proyek HSM 2 tidak terkendali.
Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai Defect Per Million Opportunities
(DPMO) dan level sigma. Perhitungan nilai DPMO ini digunakan untuk
mengetahui level sigma dari proyek konstruksi bangunan HSM 2. Berikut
merupakan tahap perhitungan pada Tabel 2.5 Tahap Perhitungan DPMO dan Level
Sigma.
Tabel 2.5 Tahap Perhitungan DPMO dan Level Sigma
.No Tahap Persamaan
Berapa banyak biaya yang dikeluarkan
1 Rp [Link]
dalam pembangunan proyek HSM 2?
Berapa banyak biaya yang dikeluarkan
2 Rp [Link]
dalam ketidaksesuaian yang terjadi?
18

.No Tahap Persamaan


[Link]
3 Hitung tingkat ketidaksesuaian = 0,0098
[Link]
Tentukan banyak CTQ potensial yang
4 7
menyebabkan ketidaksesuaian
Hitung peluang tingkat 0,0098
5 = 0,00139947
ketidaksesuaian per karakteristik CTQ 7
Hitung kemungkinan ketidaksesuaian
6 0,0014𝑥 1.000.000 = 1399,47
per satu juta kesempatan (DPMO)
Konversi nilai DPMO ke dalam level
7 4,489
sigma

Berdasarkan Tabel 2.5, didapatkan perhitungan nilai DPMO yaitu 1399,47


ketidaksesuaian. Hal ini berarti jumlah ketidaksesuaian dalam setiap satu juta
kesempatan yaitu 1399 ketidaksesuaian. Level sigma dapat ditentukan berdasarkan
Tabel 2.1 Korelasi Sigma dan DPMO. Pembangunan proyek HSM 2 berada pada
level 4,489 sigma.
3. Analyze
Tahap selanjutnya yaitu analyze menggunakan fishbone diagram, yang
merupakan alat penting dalam mencari akar penyebab masalah. Dalam teknik ini
semua kemungkinan penyebab masalah diperhitungkan dengan membagi masalah
ke dalam beberapa faktor (Graubitz, 2006). Berdasarkan Gambar 2.1 Diagram
Pareto Proyek HSM 2 diketahui sumber ketidaksesuaian yang mendominasi terletak
pada hasil pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi sebesar 57%. Pembuatan
fishbone diagram diharapkan dapat mengatasi masalah utama dengan mencari
kegagalan yang berasal dari faktor manusia (man), material, metode (method) dan
pengukuran (measurement). Fishbone diagram ini dibuat berdasarkan
brainstorming dan wawancara kepada pihak terkait yang dapat dilihat pada Gambar
2.3 Fishbone Diagram.
19

Gambar 2.3 Fishbone Diagram

4. Improve
Tahap selanjutnya yaitu melakukan improvement pada ketidaksesuaian yang
paling tinggi yaitu terdapat pada hasil pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi.
Improvement ini digunakan untuk mengendalikan ketidaksesuaian dan
meminimalisir biaya ketidaksesuaian yang dikeluarkan perusahaan dalam sebuah
proyek. Usulan perbaikan ini dilakukan dengan brainstorming dan wawancara
pihak terkait. Mengacu pada sumber permasalahan, berikut merupakan Tabel 2.6
Usulan Perbaikan.
Tabel 2.6 Usulan Perbaikan
Unsur Faktor Penyebab Usulan Pelaksanaan
Tenaga kerja Perlu adanya training/
kurang terampil pelatihan terkait
(pemasangan pekerjaan yang Sebelum
keramik tidak rata, dilakukan. Pelaksanaan
ukuran nat tidak
Manusia
sama).
Tidak memenuhi Memilih pekerja yang
kualifikasi juru las memiliki keahlian dan Sebelum
(pengerjaan tidak memenuhi kualifikasi. Pelaksanaan
sesuai kebutuhan).
Material cacat. Melakukan
pemeriksaan terhadap
Sebelum
Material material yang akan
Pelaksanaan
digunakan.
20

Unsur Faktor Penyebab Usulan Pelaksanaan


Waste material. Pembelian dan
penggunaan material Sebelum
disesuaikan dengan Pelaksanaan
spesifikasi.
Kurangnya Perlu adanya tim
pengawasan pada pengawas agar ketika
saat pelaksanaan. bekerja, dapat
mengontrol Saat
pekerjaannya sesuai Pelaksanaan
dengan standar yang
telah ditentukan.
Metode
Terjadi misscom. Melakukan koordinasi
dan komunikasi antara
pengawas lapangan dan Saat
pekerja secara intens. Pelaksanaan

Akurasi penelitian Perlu melakukan


kurang tepat. kalibrasi alat sebelum
Saat
Measurement digunakan dalam
Pelaksanaan
proyek serta pengadaan
alat khusus.

5. Control
Tahap terakhir yaitu control, di mana tahap ini berfungsi untuk memantau dari
usulan perbaikan dapat diaplikasikan atau tidak. Hal ini berfungsi untuk
meningkatkan kinerja karyawan yang secara langsung dapat mempengaruhi hasil
pekerjaan. Tahap pengendalian yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut :
a. Melakukan inspeksi/ pengawasan pada setiap pekerjaan yang akan dan sedang
dilakukan agar sesuai dengan spesifikasi.
b. Membandingkan setiap hasil pekerjaan antara rencana dan realisasinya.
c. Menyampaikan hasil perkembangan dalam pelaksanaan pekerjaan.

E. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh setelah melakukan pengumpulan dan
pengolahan data menggunakan metode Six Sigma yaitu sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil identifikasi melalui data Non Conformity Report (NCR),
ditemukan 7 klasifikasi ketidaksesuaian pada Proyek HSM 2 yaitu material
tidak sesuai spesifikasi, pengerjaan dan pemasangan sistem/ material tidak
sesuai dengan desain gambar, hasil pekerjaan tidak sesuai spesifikasi, terjadi
kebocoran dan keretakan pada area tertentu, terjadi porositas dan segregasi
pada kolom dan lantai serta ketidakahlian man power pada pemasangan ubin.
Pada pengolahan data Peta Kendali Proporsi terdapat tiga dari tujuh
ketidaksesuaian yang tidak berada dalam batas kendali. Sehingga perlu
diidentifikasi lebih lanjut terhadap ketidaksesuaian yang paling tinggi.
21

2. Berdasarkan pengolahan data, didapatkan nilai Defect Per Million Opportunity


(DPMO) pada proyek pembangunan HSM yaitu sebesar 1399,47 yang berada
di antara 4 sigma dan 5 sigma. Setelah diketahui nilai DPMO, dilanjutkan
dengan menghitung level/ tingkat sigma yaitu sebesar 4,489 sigma yang
menunjukkan proyek pembangunan HSM 2 berada pada rata-rata industri
USA.
3. Berdasarkan analisa yang dilakukan terdapat beberapa faktor penyebab
ketidaksesuaian pada hasil pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang
disebabkan oleh faktor manusia (man), material, metode (method) dan
pengukuran (measurement). Usulan yang dapat diberikan yaitu pengadaan
pelatihan/ training kepada pekerja, memilih pekerja yang sesuai dengan
kualifikasi, melakukan inspeksi pada material yang digunakan serta
disesuaikan spesifikasi dan perlu adanya pengawasan pada saat pelaksanaan.

F. Ucapan Terima Kasih


Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada PT. Krakatau
Engineering yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan Kerja Praktik
selama satu bulan dengan periode 1–31 Agustus 2022. Saya juga mengucapkan
terima kasih untuk seluruh jajaran divisi di mana saya ditempatkan yang telah
memberikan bimbingan, pengetahuan mengenai dunia kerja, serta mengatasi
beberapa masalah yang ada. Bimbingan yang diberikan selama satu bulan kepada
penulis dalam melaksanakan Kerja Praktik sangat bermanfaat bagi penerapan di
dunia kerja nantinya. Selain itu, ilmu yang telah diberikan sangatlah bermanfaat
membantu penulis dalam penyusunan laporan Kerja Praktik dengan lancar.

G. Daftar Pustaka
Didiharyono, Marsal & Bakhtiar, 2018. Analisis Pengendalian Kualitas Produksi
Dengan Metode Six Sigma Pada Industri Air Minum PT Asera Tirta Posidonia,
Kota Palopo. Jurnal Sainsmat, pp. 163 - 176.
Gardjito, E., 2017. Pengendalian Mutu Beton dengan Metode Control Chart (SPC)
dan Process Capability (Six Sigma) pada Pekerjaan Konstruksi. Jurnal Universitas
Kedari Kediri, pp. 110 - 117.
Gaspersz, V., 2002. Pedoman Implementasi Program Six Sigma. Bogor: Gramedia.
Khairunnisa, A. & Susetyo, B., 2022. Analisis Faktor Risiko Pelaksanaan Terhadap
Kinerja Mutu Berbasis Six Sigma Pada Proyek Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air. Jurnal Ilmiah Indonesia, pp. 1 - 20.
Latief, Y. & Utami, R. P., 2009. Penerapan Pendekatan Metode Six Sigma Dalam
Penjagaan Kualitas Pada Proyek Konstruksi. Jurnal Makara Teknologi, pp. 67 - 72.
Matajang, S. W. & Muslim, E., 2022. Analysis of Product Quality Improvements
to Reduce Coffee Bean Defects with Six Sigma Method. Jurnal Sistem Teknik
Industri, pp. 106 - 122.
Nuciferani, F. & Firmansyah, N., 2022. Evaluasi Waste Pada Proyek Pembangunan
Sekolah Dengan Metode Fishbone. Rekayasa Jurnal Teknik Sipil, pp. 1 - 5.
Parasayu, S. & Susanto, N., 2021. Analisis Six Sigma Untuk Peningkatan Kualitas
Produk Line 28 Departemen Sewing Di Pt. Apparel One Indonesia. Jurnal Teknik
Industri, pp. 3 - 6.
22

Pratiwi, R., Mustakim & Sucilianti, L., 2021. Pengendalian Kualitas Pada
Corrugated Concrete Sheet Pile Dengan Metode Six Sigma. Jurnal Traksukma, pp.
99 -113.
BAB III
DESKRIPSI LAPORAN HARIAN

LEMBAR KEGIATAN HARIAN KERJA PRAKTIK


JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Nama : Salsabilla Humairasandi


NIM : D600190089
Nama Perusahaan : P.T Krakatau Engineering
Dosen Pembimbing : Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D
Pembimbing Lapangan : Ari Tamam

Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
1 Senin, 1 1. HSE Induction
Agustus 2. Pengenalan Divisi HSSE
2022 & Management System
3. Mencari literatur
2 Selasa, 2 1. Identifikasi permasalahan
Agustus project 1 (HSM)
2022 2. Studi literatur metode six
sigma
3 Rabu, 3 1. Melakukan pengolahan
Agustus data Excel Project 1 (HSM)
2022 2. Studi literatur
4 Kamis, 4 1. Melakukan pengolahan
Agustus data Excel Project 1 (HSM)
2022
5 Jumat, 5 1. Melakukan pengolahan
Agustus data Excel Project 1 (HSM)
2022 2. Menganalisa
menggunakan metode Six
Sigma Project 1 (HSM)
3. Mencari literatur
mengenai ISO
6 Sabtu, 6 Libur
Agustus
2022
7 Minggu, 7 Libur
Agustus
2022
8 Senin, 8 1. Mengelompokkan
Agustus permasalahan (kecacatan)
2022

23
24

Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
pada Project 2 (Hotel Sayap
2)
2. Presentasi Hasil Project 1
(HSM)
9 Selasa, 9 1. Mengelompokkan
Agustus permasalahan (kecacatan)
2022 pada Project 2 (Hotel Sayap
2)
2. Menginput data ISO pada
web audit KE.
10 Rabu, 10 1. Mengolah data Excel
Agustus Project 2 (Hotel Sayap 2)
2022
11 Kamis, 11 1. Mengolah data Excel
Agustus Project 2 (Hotel Sayap 2)
2022 2. Mengerjakan laporan Bab
I
12 Jumat, 12 1. Mengerjakan laporan Bab
Agustus I
2022 2. Presentasi Hasil Project 2
(Hotel Sayap 2)
13 Sabtu, 12 Libur
Agustus
2022
14 Minggu, 13 Libur
Agustus
2022
15 Senin, 15 1. Visitasi Proyek HSM #1
Agustus dan HSM #2
2022 2. Mencari material B3
(cair, padat, gas)
3. Membuat PPT Presentasi
Proyek
16 Selasa, 16 1. Mencari material B3
Agustus (cair, padat, gas)
2022 2. Trial Final Presentation
17 Rabu, 17 Libur Kemerdekaan
Agustus
2022
18 Kamis, 18 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab I
2022
19 Jumat, 19 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab I
2022
25

Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
20 Sabtu, 20 Libur
Agustus
2022
21 Minggu, 21 Libur
Agustus
2022
22. Senin, 22 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022
23 Selasa, 23 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022
24 Rabu, 24 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022 2. Sharing session :
Implementasi K3 pada
Proyek Pembangunan
Proyek PLN
25 Kamis, 25 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022
26 Jumat, 26 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022 2. Final Presentation Proyek
HSM 2 dan Hotel Sayap 2
27 Sabtu, 27 Libur
Agustus
2022
28 Minggu, 28 Libur
Agustus
2022
29 Senin, 29 Finalisasi Laporan
Agustus
2022
30 Selasa, 30 Finalisasi Laporan
Agustus
2022
31 Rabu, 31 1. Penyerahan Laporan ke
Agustus Perusahaan
2022 2. Dokumentasi
LAMPIRAN
Form Penilaian Pembimbing Lapangan
Bukti Pelaksanaan Kerja Praktik
Lembar Revisi Laporan Kerja Praktik

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA


FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Tromol Pos 1 Telp. (0271) 717417, 719463
Ext 3237/ Fax. (0271) 715448 Surakarta 57102
Email : industri@[Link], Website : http: //[Link]

Lembar Revisi Laporan Kerja Praktik (Dosen Pembimbing )


Nama : Salsabilla Humairasandi
NIM : D600190089
Dosen Pembimbing : Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D
Judul KP : Analisis Pengendalian Kualitas Proyek Konstruksi
Bangunan Hot Strip Milling (HSM) 2 Dengan
Mengimplementasikan Metode Six Sigma (Studi Kasus :
Pt. Krakatau Engineering)

Tanggal Keterangan TTD Dosen Pembimbing


16 September 2022 1. Pada bagian tujuan diganti kata
“mengetahui” diubah menjadi
“mengukur” atau “mengidentifikasi”

07 Oktober 2022 1. Penulisan diperhatikan lagi


mengenai italic, keterangan tabel dan
gambar.
2. Penulisan daftar pustaka
disesuaikan dengan format havard
style.

Anda mungkin juga menyukai