Pengendalian Kualitas Proyek HSM 2 Six Sigma
Pengendalian Kualitas Proyek HSM 2 Six Sigma
Oleh :
Salsabilla Humairasandi
D 600.190.089
Oleh :
Salsabilla Humairasandi
D 600.190.089
i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Hari/ Tanggal :
Oleh :
Salsabilla Humairasandi
D 600.190.089
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri
ii
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
Mengesahkan,
2. ....
Anggota
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri
iii
ABSTRAK
iv
ABSTRACT
v
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr Wb.
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan berkah, rahmat, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Kerja Praktik dengan lancar dan tepat waktu.
Adapun maksud dan tujuan tugas Laporan Kerja Praktik adalah untuk
membekali penulis dalam menghadapi permasalahan industri di perusahaan
sebelum memasuki dunia kerja nanti.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapat bantuan dan dukungan
dari berbagai pihak yang terlibat, karena itu penulis mengucapkan banyak terima
kasih kepada :
1. Bapak Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D selaku pembimbing Kerja Praktik yang
memberikan bimbingan untuk dapat menyelesaikan Kerja Praktik.
2. Bapak Ari Tamam selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan
bimbingan selama Kerja Praktik berlangsung.
3. Saudari Arisma dan Tiara Salsabila yang sudah menemani dari awal hingga
akhir melakukan Kerja Praktik di PT. Krakatau Engineering serta dalam
pembuatan Laporan Kerja Praktik ini.
4. Kedua orang tua yang selalu mendukung penulis untuk segera menyelesaikan
Laporan Kerja Praktik ini.
5. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu
penulis dalam penyusunan Laporan Kerja Praktik ini.
Besar harapan Laporan Kerja Praktik ini dapat bermanfaat bagi penulis dan PT.
Krakatau Engineering serta bagi semua pihak yang membutuhkan.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan
Laporan Kerja Praktik ini. Untuk itu penulis memohon pembaca untuk dapat
memaklumi.
Wassalamualaikum Wr Wb.
Penulis
vi
DAFTAR ISI
vii
DAFTAR TABEL
viii
DAFTAR GAMBAR
ix
BAB I
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
1
2
yang handal. Sedangkan untuk misinya yaitu menyediakan Solusi Konstruksi Dan
Perekayasaan (EPC), aplikasi produk baja serta perawatan di bidang industri dan
infrastruktur yang memberikan manfaat bagi stakeholder.
2. Tujuan Perusahaan
Sesuai dengan yang tercantum akte pendirian perusahaan, maksud dan tujuan
PT. Krakatau Engineering yaitu sebagai berikut :
a. PT Krakatau Engineering didirikan dengan maksud dan tujuan untuk turut
melaksanakan dan menunjang kebijakan Pemerintah RI dalam bidang ekonomi
dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya dalam bidang rancang
bangun dan perekayasaan di sektor industri dan insfrastruktur.
b. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut PT. Krakatau Engineering akan
melakukan berbagai kegiatan antara lain sebagai berikut :
1) Menjalankan kegiatan usaha secara luas pada sektor jasa konstruksi serta
jasa konstruksi yang terintegrasi (EPC).
2) Menjalankan kegiatan usaha perawatan di bidang industri dan
infrastruktur.
3) Menjalankan kegiatan usaha engineering, project management, jasa
fabrikasi dan perbengkelan, jasa pengadaan barang, jasa studi serta
keagenan.
3. Core Value
PT Krakatau Engineering memiliki prinsip atau nilai utama yang menjadi
acuan bagi perusahaan untuk dapat merefleksikan visi dan misi yaitu AKHLAK
(Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif). Amanah berarti
memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan. Kompeten berarti terus belajar
dan mengembangkan kapasitas. Harmonis berarti saling peduli dan menghargai
perbedaan. Loyal berarti berdedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan
negara. Adaptif berarti terus berinovasi dan antusias dalam menggerakkan ataupun
menghadapi perubahan. Sedangkan kolaboratif berarti membangun kerjasama yang
sinergis.
4. Coorporate Value
PT Krakatau Engineering memiliki nilai-nilai yang harus diterapkan oleh
masing-masing individu yaitu ACTION (Accountable, Customer Focus,
Trustworthy, Innovative, Optimal dan Neat). Accountable berarti setiap jajaran di
perusahaan harus bertanggung jawab dan disiplin dalam melaksanakan setiap
pekerjaan dari segi K3L, mutu, waktu dan biaya. Customer Focus berarti setiap
jajaran perusahaan cepat tanggap dalam memenuhi persyaratan dan harapan
pelanggan dalam pengendalian kualitas produk atau jasa. Trustworthy berarti setiap
jajaran perusahaan memiliki perilaku yang dapat dipercaya dalam merespons janji/
komitmen untuk memberi kepercayaan owner. Innovative berarti setiap jajaran
perusahaan bertekad untuk memajukan perusahaan melalui inovasi tiada henti,
perbaikan berkesinambungan serta menghargai usuan karyawan dalam tumbuh
kembang perusahaan. Optimal berarti setiap jajaran bekerja dengan sungguh-
sungguh dengan menggali potensi diri untuk tujuan peningkatan kinerja organisasi
dan perusahaan. Neat berarti setiap jajaran perusahaan harus berpikir dan bertindak
secara cermat dalam setiap pekerjaan untuk keberlanjutan perusahaan.
3
2. Job Description
Berikut merupakan penjelasan job description struktur organisasi PT. Krakatau
Engineering.
a. Direktur Utama
Direktur utama memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengarahkan,
mengorganisasikan, mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan umum,
peraturan serta sistem prosedur tata kerja agar sesuai dengan kebutuhan PT
Krakatau Engineering. Selain itu direktur utama bertugas dalam mengevaluasi
proses regenerasi, memelihara kerja sama dan hubungan baik untuk menjaga citra
perusahaan.
b. Direktur Bisnis dan Operasi
Direktur bisnis dan operasi memiliki tugas dan tanggung jawab dalam
mengembangkan dan memelihara core kompetensi inti bisnis perusahaan, produk
unggulan sesuai dengan perkembangan teknologi, tuntutan pasar dan pelanggan
serta membangun citra dan posisi perusahaan ke tingkat daya saing yang optimal.
Selain itu, dapat mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan kebijakan kebijakan PT
Krakatau Engineering seperti sistem prosedur operasi, teknologi yang up to date
dan aplicable.
c. Direktur Keuangan dan Penunjang Proyek
Direktur keuangan dan penunjang proyek memiliki tugas dan tanggung jawab
dalam mengarahkan, mengembangkan dan memadukan seluruh kebijakan, sistem
prosedur perusahaan yang berhubungan dengan pendanaan proyek, manajemen
keuangan, pengadaan barang dan jasa, QA, QC, SHE dalam rangka pengembangan
bisnis PT Krakatau Engineering.
4
2. Layout Perusahaan
Berikut merupakan layout PT Krakatau Engineering yang dapat dilihat pada
Gambar 1.4 Layout Perusahaan.
G. Personalia
1. Status Karyawan
PT Krakatau Engineering memiliki karyawan yang berjumlah 160 dengan laki-
laki dan perempuan didalamnya. Status karyawan memiliki status jelas dalam
kontrak kerja yang dikeluarkan PT Krakatau Engineering.
7
2. Penggajian Karyawan
Setiap karyawan berhak memperoleh upah yang memenuhi standar upah
minimum yang ditentukan pemerintah serta sesuai dengan jabatan, bobot pekerjaan,
keahlian, prestasi kerja dan konduite karyawan di perusahaan. Pelaksanaan
pembayaran gaji dibayarkan satu kali setiap bulan pada tanggal 27.
3. Kesejahteraan Karyawan
PT Krakatau Engineering menempatkan karyawan terampil sebagai aset utama,
perusahaan menjamin kenyamanan, keselamatan dan kesehatan seluruh karyawan
sesuai dengan persyaratan dan peraturan, perusahaan telah mengambangkan sistem
remunerasi, tunjangan karyawan yang diperbaharui setiap tahun serta penghargaan
terkait dengan kinerja karyawan, pemberian pakaian dan sepatu kerja, fasilitas dan
tunjangan transportasi dan perumahan.
4. Pembinaan Karyawan
PT. Krakatau Engineering memiliki kegiatan pembinaan yang dilakukan untuk
membentuk karyawan yang mampu melaksanakan tugas-tugas perusahaan secara
mandiri, inovatif, produktif, profesional dan bertanggung jawab. Pembinaan
karyawan ini mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap mental
profesional. Pembinaan karyawan ini dengan melakukan pelatihan K3 serta
pengenalan job description sesuai dengan divisi penempatan bagi setiap karyawan
baru.
5. Pembagian Jam Kerja Karyawan
Waktu kerja normal PT Krakatau Engineering adalah tidak kurang dari 8 jam
kerja sehari dan/ atau 40 jam kerja seminggu dan/ atau 173 jam kerja sebulan. Hari
kerja untuk karyawan shift ditetapkan oleh pimpinan karyawan masing-masing
sesuai kebutuhan. Sedangkan untuk karyawan proyek ditetapkan oleh pimpinan
proyek sesuai dengan kebutuhan jadwal kerja proyek. Berikut merupakan Tabel 1.1
Pembagian Waktu Kerja.
Tabel 1.1 Pembagian Waktu Kerja
Hari Jam Kerja Jam Istirahat
Senin-Kamis 08.00-17.00 WIB 12.00-13.00 WIB
Jumat 08.00-17.00 WIB 11.45-12.45 WIB
6. Rekrutmen Karyawan
Proses pelaksanaan rekrutmen karyawan pada PT Krakatau Engineering
dilakukan secara terstruktur sesuai dengan prosedur yang ditetapkan perusahaan.
Proses rekrutmen diawali dengan calon pekerja memasukkan berkas administrasi
sesuai requirement perusahaan, untuk selanjutnya dilakukan seleksi. Tahap seleksi
ini diawali dengan tes tertulis. Jika tes tertulis lolos, dilanjutkan dengan tahap
interview atau wawancara. Setelah proses interview akan diumumkan hasil dan
pekerja yang lolos untuk ditempatkan di divisi masing masing.
7. Pemberhentian Karyawan
Pemberhentian atau Pemutuan Hubungan Kerja (PHK) karyawan dapat terjadi
karena kontrak kerja berakhir, karyawan mencapai batas usia pensiun, karyawan
berhenti atas inisiatif sendiri, meninggal dunia, karyawan diangkat sebagai anggota
direksi, karyawan sakit berkepanjangan atau cacat akibat kecelakaan kerja,
karyawan melakukan pelanggaran tata tertib atau disiplin kerja, PHK yang
disepakati, perubahan status dan kepemilikan perusahaan dan rasionalisasi
perusahaan.
8
8. Keselamatan Kerja
PT Krakatau Engineering menetapkan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja
merupakan salah satu faktor yang diutamakan. Perusahaan menyediakan peralatan
sesuai dengan kondisi dan persyaratan kerja serta menyediakan sarana dan
prasarana sesuai dengan Sistem Manajemen K3 dan Lingkungan. Perusahaan juga
menyediakan pengangkutan sebagai pertolongan pertama dan menanggung
sepenuhnya biaya yang timbul akibat kecelakaan kerja.
9. Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Program pendidikan dan pelatihan PT Krakatau Engineering dilakukan baik in-
house maupun di luar perusahaan untuk meningkatkan skill dan keahlian personil.
Berikut merupakan Tabel 1.2 Program Pendidikan dan Pelatihan.
Tabel 1.2 Program Pendidikan dan Pelatihan
No Profil Tenaga Kerja Jenis Pelatihan
1. Manajerial (Kasubdit, Pembekalan Sertifikasi Madya Manajemen Proyek
Kadiv, Deputy, Kadis, Learning & Sharing Session XXX : Green
Chief, SE) Construction & Project Coord
Percepatan Kapabilitas Senior Engineering : Basic
Civil, Piping, Instrument
Pelatihan Manajemen SDM bagi Profesional Pemula
Sosialisasi Pengukuran Kinerja Berbasis KPKU
Strategic Business Analysis
Finance for Non Finance Manager
Purchase Management
Project Management (PMBOK)
Kontrak dan Negoisasi
Primavera Training
Manajemen Keuangan Proyek
Manajemen SDM untuk di Proyek
Project Financing SWOT Analysis
Leadership, Interpersonal Skill & Team
Development
Pelatihan Evaluator Kinerja Berbasis KPKU -
BUMN
Pelatihan Directorship
Hukum dan Kontrak Konstruksi
2. Non Manajerial Mengunggah Kesadaran K3 dengan Hati melalui
(Engineer kebawah) OMA
3D Plant-Pengenalan Software Autodesk Plan
Design
Pipeline Risk Management
Corrosion Control & Cathodic Protection
Pipe and Pipeline Technology
“Earthquake Disaster Risk Reduction : Engineering
Challenges After Recent Disasters”
Pelatihan dan Simulasi Tanggap Darurat
Modul Risk Management Tingkat Staff
Pelatihan Bahasa Korea, Mandarin dan Bahasa
Inggris
Kesiapsiagaan Tanggap Darurat
Training & Sertifikasi Ahli K3 Migas
Studi Kelayakan (Feasibility Study)
9
A. Pendahuluan
Kemajuan dalam industri konstruksi semakin berkembang besar dan rumit dari
segi fisik maupun biaya. Pada pelaksanaannya, proyek konstruksi ini memiliki
batasan dalam penggunaan sumber daya baik manusia, material, tools/ alat serta
biaya. Karakteristik industri konstruksi berbeda dengan industri lainnya yang
berpengaruh pada progress pekerjaan pelaksanaan di lapangan. Hal ini diperlukan
manajemen proyek untuk mengatur dari mulai fase awal proyek hingga
penyelesaian proyek. Dengan kompleksitas proyek dan sumber daya yang semakin
langka dibutuhkan peningkatan sistem dan pengelolaan proyek yang baik dan
terintegritas (Ahuja et al., 1994).
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi seringkali menemui hambatan atau
kendala. Hal ini ditandai dengan beberapa kasus yang mengalami ketidaksesuaian
terhadap rencana yang ditetapkan sebelumnya. Ketidaksesuaian ini disebabkan baik
dari segi material, man/ pekerja, method/ metode serta environment/ lingkungan.
Sehingga dalam pelaksanaannya, dibutuhkan pengendalian mutu agar proyek dapat
berjalan sesuai dengan perencanaan yang tercantum dalam kontrak. Proyek
konstruksi ini saling berhubungan antar pekerjaan satu dengan lainnya, sehingga
semakin besar proyek maka akan semakin besar risiko yang dihadapi.
Mutu suatu pekerjaan pada proyek-proyek lebih banyak dilihat dari hasil akhir
pekerjaan atau fungsi dari bangunan itu sendiri. Tidak tercapainya mutu produk
akhir dan tidak terpenuhinya fungsi bangunan disebabkan oleh penyimpangan
prosedur pengerjaan. Penyimpangan prosedur pengerjaan yang telah ditetapkan
pada kontrak menyebabkan terjadinya pembengkakan biaya.
Pengendalian mutu bagi perusahaan konstruksi seperti PT Krakatau
Engineering diperlukan untuk mencegah pekerjaan berulang (rework) dan
mencegah pekerjaan di luar spesifikasi sehingga akan menghindari dari
pengeluaran biaya di luar perencanaan awal. Pembangunan konstruksi Hot Strip
Milling (HSM) 2 ini merupakan salah satu proyek yang menerapkan sistem
pengendalian mutu didalamnya. Hal ini ditandai dengan adanya Non Conformity
Report (NCR) yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor ketidaksesuaian
yang terjadi pada suatu bangunan.
Berdasarkan faktor yang difokuskan perusahaan yaitu kualitas, maka penulis
melakukan penelitian berupa analisis pengendalian kualitas pada Proyek HSM 2
dengan mengimplementasikan metode Six Sigma. Six Sigma merupakan metode
yang terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan dengan menerapkan metode
DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) dan alat statistika yang
digunakan seperti diagram Pareto, fishbone serta peta kendali (Gazpers, 2002).
Kelebihan dari Six Sigma ini yaitu tidak hanya memperhatikan dalam segi kualitas
saja, namun memperhatikan issue bisnis lainnya, dapat mengurangi biaya,
perbaikan produktivitas, retensi pelanggan serta pengembangan baik produk
maupun jasa.
Berdasarkan permasalahan ketidaksesuaian yang dihadapi PT Krakatau
Engineering pada Proyek Konstruksi Bangunan Hot Strip Milling 2, metode Six
Sigma digunakan untuk memecahkan masalah yang ada. Proses pengamatan
11
12
B. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian yang dilaksanakan di PT Krakatau Engineering
diantaranya sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya ketidaksesuaian pada
Proyek Hot Strip Milling (HSM) 2.
2. Mengukur tingkat/ level Six Sigma dan nilai Defect for Million Opportunities
(DPMO) pada Proyek Hot Strip Milling (HSM) 2.
3. Mengidentifikasi sebab akibat dari penyebab permasalahan menggunakan
fishbone diagram serta memberikan usulan perbaikan Proyek Hot Strip Milling
(HSM) 2.
C. Metode
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di PT Krakatau Engineering tepatnya di Jalan Asia
Raya Kav. O.3, Cilegon 422435, Indonesia. Penulis melakukan penelitian pada
Divisi HSSE & Management System khususnya pada Divisi QA & QC yang ada di
perusahaan selama satu bulan yaitu pada tanggal 1-31 Agustus 2022.
2. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder.
Pengumpulan data primer bertujuan untuk mengumpulkan data-data langsung
sebagai verifikasi dari proses olah data meliputi wawancara dan dokumentasi
pihak-pihak terkait. Sedangkan pengumpulan data sekunder bertujuan untuk
mengumpulkan data-data informasi penelitian meliputi data Non Conformity
Report (NCR) proyek. Selain itu didukung dengan studi literatur berupa pencarian
teori dan referensi yang didapatkan dari buku atau jurnal terkait. Data yang
diperlukan dari penelitian ini yaitu jumlah ketidaksesuaian dari beberapa faktor,
biaya NCR/ ketidaksesuaian dan biaya total konstruksi.
3. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode Six Sigma. Penelitian
ini mengacu pada Pande dan Holpp (2005) yaitu melalui tahap DMAIC (Define,
Measure, Analyze, Improve, Control) yang digunakan untuk menganalisis
ketidaksesuaian pada proyek. Pada kasus ini penulis juga menggunakan alat
statistik seperti peta kendali/ control chart, diagram Pareto dan diagram fishbone.
Langkah yang dilakukan dengan menggunakan metode Six Sigma diantaranya
sebagai berikut :
a. Define
Define merupakan tahap pertama dengan mengidentifikasi dan
mengklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan ketidaksesuaian
hasil pekerjaan pada proyek konstruksi bangunan.
b. Measure
Measure merupakan tahap kedua dalam metode Six Sigma. Pada tahapan ini
mengukur kualitas yang dihasilkan dari setiap pekerjaan dengan mengidentifikasi
hasil pekerjaan yang mengacu pada CTQ (Critical to Quality) Tahap pengukuran
ini dilakukan 3 tahap yaitu :
13
Semakin tinggi nilai DPMO maka akan semakin rendah tingkat sigma,
begitupun sebaliknya. Korelasi nilai DPMO dan tingkat sigma dapat dilihat pada
Tabel 2.1 Korelasi Sigma dan DPMO.
Tabel 2.1 Korelasi Sigma dan DPMO
Sigma Parts per Million
6 3,4 defects (industri kelas dunia)
5 233 defects (rata-rata industri Jepang)
4 6.210 defects (rata-rata industri USA)
3 66.807 defects (rata-rata industri Indonesia)
2 308.537 defects
1 690.000 defects (sangat tidak kompetitif)
(Sumber : Gasperz, 2005)
c. Analyze
Analyze digunakan untuk menganalisis penyebab dan akibat dari defect suatu
pekerjaan. Analisa ini menyajikan fishbone diagram atau ishikawa diagram pada
kelompok ketidaksesuaian yang paling tinggi.
d. Improve
Pada tahap improve diberikan usulan-usulan yang diharapkan dapat
memberikan masukkan kepada tim proyek untuk menjadi lebih baik dengan
melakukan Plan, Do, Check dan Action. Tahap ini melalui brainstorming dan
wawancara pihak terkait terhadap usulan perbaikan/ pencegahan yang dilakukan.
e. Control
Control merupakan tahap dalam melakukan pemantauan alternatif perbaikan
yang diberikan dapat benar-benar diaplikasikan dan memantau apakah perbaikan
yang dilakukan terhadap mutu pekerjaan tersebut dapat mengurangi
ketidaksesuaian pekerjaan.
Berdasarkan hasil pengolahan data peta kendali proporsi (p-chart) pada Tabel 2.4
Perhitungan Peta Kendali Proporsi, maka sebaran data dapat digambarkan dalam
bentuk grafik yang dapat dilihat pada Gambar 2.2 Peta Kendali Proporsi Proyek
HSM 2.
Berdasarkan hasil pengolahan data pada Tabel 2.4 dan Gambar 2.2 maka dapat
dilihat ada 3 klasifikasi ketidaksesuaian yang berada diatas Upper Control Line
(UCL) yang artinya melebihi batas toleransi yang ditentukan. Sehingga dapat
dilihat ketidaksesuaian yang melebihi batas UCL yaitu material tidak sesuai
spesifikasi sebesar 0,319, pengerjaan dan pemasangan sistem/ material tidak sesuai
dengan desain gambar sebesar 0,244 dan hasil pekerjaan tidak sesuai dengan
spesifikasi sebesar 0,586. Dari data hasil pengolahan maka dapat dikatakan bahwa
pelaksanaan proyek HSM 2 tidak terkendali.
Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai Defect Per Million Opportunities
(DPMO) dan level sigma. Perhitungan nilai DPMO ini digunakan untuk
mengetahui level sigma dari proyek konstruksi bangunan HSM 2. Berikut
merupakan tahap perhitungan pada Tabel 2.5 Tahap Perhitungan DPMO dan Level
Sigma.
Tabel 2.5 Tahap Perhitungan DPMO dan Level Sigma
.No Tahap Persamaan
Berapa banyak biaya yang dikeluarkan
1 Rp [Link]
dalam pembangunan proyek HSM 2?
Berapa banyak biaya yang dikeluarkan
2 Rp [Link]
dalam ketidaksesuaian yang terjadi?
18
4. Improve
Tahap selanjutnya yaitu melakukan improvement pada ketidaksesuaian yang
paling tinggi yaitu terdapat pada hasil pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi.
Improvement ini digunakan untuk mengendalikan ketidaksesuaian dan
meminimalisir biaya ketidaksesuaian yang dikeluarkan perusahaan dalam sebuah
proyek. Usulan perbaikan ini dilakukan dengan brainstorming dan wawancara
pihak terkait. Mengacu pada sumber permasalahan, berikut merupakan Tabel 2.6
Usulan Perbaikan.
Tabel 2.6 Usulan Perbaikan
Unsur Faktor Penyebab Usulan Pelaksanaan
Tenaga kerja Perlu adanya training/
kurang terampil pelatihan terkait
(pemasangan pekerjaan yang Sebelum
keramik tidak rata, dilakukan. Pelaksanaan
ukuran nat tidak
Manusia
sama).
Tidak memenuhi Memilih pekerja yang
kualifikasi juru las memiliki keahlian dan Sebelum
(pengerjaan tidak memenuhi kualifikasi. Pelaksanaan
sesuai kebutuhan).
Material cacat. Melakukan
pemeriksaan terhadap
Sebelum
Material material yang akan
Pelaksanaan
digunakan.
20
5. Control
Tahap terakhir yaitu control, di mana tahap ini berfungsi untuk memantau dari
usulan perbaikan dapat diaplikasikan atau tidak. Hal ini berfungsi untuk
meningkatkan kinerja karyawan yang secara langsung dapat mempengaruhi hasil
pekerjaan. Tahap pengendalian yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut :
a. Melakukan inspeksi/ pengawasan pada setiap pekerjaan yang akan dan sedang
dilakukan agar sesuai dengan spesifikasi.
b. Membandingkan setiap hasil pekerjaan antara rencana dan realisasinya.
c. Menyampaikan hasil perkembangan dalam pelaksanaan pekerjaan.
E. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh setelah melakukan pengumpulan dan
pengolahan data menggunakan metode Six Sigma yaitu sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil identifikasi melalui data Non Conformity Report (NCR),
ditemukan 7 klasifikasi ketidaksesuaian pada Proyek HSM 2 yaitu material
tidak sesuai spesifikasi, pengerjaan dan pemasangan sistem/ material tidak
sesuai dengan desain gambar, hasil pekerjaan tidak sesuai spesifikasi, terjadi
kebocoran dan keretakan pada area tertentu, terjadi porositas dan segregasi
pada kolom dan lantai serta ketidakahlian man power pada pemasangan ubin.
Pada pengolahan data Peta Kendali Proporsi terdapat tiga dari tujuh
ketidaksesuaian yang tidak berada dalam batas kendali. Sehingga perlu
diidentifikasi lebih lanjut terhadap ketidaksesuaian yang paling tinggi.
21
G. Daftar Pustaka
Didiharyono, Marsal & Bakhtiar, 2018. Analisis Pengendalian Kualitas Produksi
Dengan Metode Six Sigma Pada Industri Air Minum PT Asera Tirta Posidonia,
Kota Palopo. Jurnal Sainsmat, pp. 163 - 176.
Gardjito, E., 2017. Pengendalian Mutu Beton dengan Metode Control Chart (SPC)
dan Process Capability (Six Sigma) pada Pekerjaan Konstruksi. Jurnal Universitas
Kedari Kediri, pp. 110 - 117.
Gaspersz, V., 2002. Pedoman Implementasi Program Six Sigma. Bogor: Gramedia.
Khairunnisa, A. & Susetyo, B., 2022. Analisis Faktor Risiko Pelaksanaan Terhadap
Kinerja Mutu Berbasis Six Sigma Pada Proyek Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air. Jurnal Ilmiah Indonesia, pp. 1 - 20.
Latief, Y. & Utami, R. P., 2009. Penerapan Pendekatan Metode Six Sigma Dalam
Penjagaan Kualitas Pada Proyek Konstruksi. Jurnal Makara Teknologi, pp. 67 - 72.
Matajang, S. W. & Muslim, E., 2022. Analysis of Product Quality Improvements
to Reduce Coffee Bean Defects with Six Sigma Method. Jurnal Sistem Teknik
Industri, pp. 106 - 122.
Nuciferani, F. & Firmansyah, N., 2022. Evaluasi Waste Pada Proyek Pembangunan
Sekolah Dengan Metode Fishbone. Rekayasa Jurnal Teknik Sipil, pp. 1 - 5.
Parasayu, S. & Susanto, N., 2021. Analisis Six Sigma Untuk Peningkatan Kualitas
Produk Line 28 Departemen Sewing Di Pt. Apparel One Indonesia. Jurnal Teknik
Industri, pp. 3 - 6.
22
Pratiwi, R., Mustakim & Sucilianti, L., 2021. Pengendalian Kualitas Pada
Corrugated Concrete Sheet Pile Dengan Metode Six Sigma. Jurnal Traksukma, pp.
99 -113.
BAB III
DESKRIPSI LAPORAN HARIAN
Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
1 Senin, 1 1. HSE Induction
Agustus 2. Pengenalan Divisi HSSE
2022 & Management System
3. Mencari literatur
2 Selasa, 2 1. Identifikasi permasalahan
Agustus project 1 (HSM)
2022 2. Studi literatur metode six
sigma
3 Rabu, 3 1. Melakukan pengolahan
Agustus data Excel Project 1 (HSM)
2022 2. Studi literatur
4 Kamis, 4 1. Melakukan pengolahan
Agustus data Excel Project 1 (HSM)
2022
5 Jumat, 5 1. Melakukan pengolahan
Agustus data Excel Project 1 (HSM)
2022 2. Menganalisa
menggunakan metode Six
Sigma Project 1 (HSM)
3. Mencari literatur
mengenai ISO
6 Sabtu, 6 Libur
Agustus
2022
7 Minggu, 7 Libur
Agustus
2022
8 Senin, 8 1. Mengelompokkan
Agustus permasalahan (kecacatan)
2022
23
24
Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
pada Project 2 (Hotel Sayap
2)
2. Presentasi Hasil Project 1
(HSM)
9 Selasa, 9 1. Mengelompokkan
Agustus permasalahan (kecacatan)
2022 pada Project 2 (Hotel Sayap
2)
2. Menginput data ISO pada
web audit KE.
10 Rabu, 10 1. Mengolah data Excel
Agustus Project 2 (Hotel Sayap 2)
2022
11 Kamis, 11 1. Mengolah data Excel
Agustus Project 2 (Hotel Sayap 2)
2022 2. Mengerjakan laporan Bab
I
12 Jumat, 12 1. Mengerjakan laporan Bab
Agustus I
2022 2. Presentasi Hasil Project 2
(Hotel Sayap 2)
13 Sabtu, 12 Libur
Agustus
2022
14 Minggu, 13 Libur
Agustus
2022
15 Senin, 15 1. Visitasi Proyek HSM #1
Agustus dan HSM #2
2022 2. Mencari material B3
(cair, padat, gas)
3. Membuat PPT Presentasi
Proyek
16 Selasa, 16 1. Mencari material B3
Agustus (cair, padat, gas)
2022 2. Trial Final Presentation
17 Rabu, 17 Libur Kemerdekaan
Agustus
2022
18 Kamis, 18 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab I
2022
19 Jumat, 19 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab I
2022
25
Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
20 Sabtu, 20 Libur
Agustus
2022
21 Minggu, 21 Libur
Agustus
2022
22. Senin, 22 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022
23 Selasa, 23 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022
24 Rabu, 24 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022 2. Sharing session :
Implementasi K3 pada
Proyek Pembangunan
Proyek PLN
25 Kamis, 25 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022
26 Jumat, 26 1. Mengerjakan Laporan
Agustus Bab II
2022 2. Final Presentation Proyek
HSM 2 dan Hotel Sayap 2
27 Sabtu, 27 Libur
Agustus
2022
28 Minggu, 28 Libur
Agustus
2022
29 Senin, 29 Finalisasi Laporan
Agustus
2022
30 Selasa, 30 Finalisasi Laporan
Agustus
2022
31 Rabu, 31 1. Penyerahan Laporan ke
Agustus Perusahaan
2022 2. Dokumentasi
LAMPIRAN
Form Penilaian Pembimbing Lapangan
Bukti Pelaksanaan Kerja Praktik
Lembar Revisi Laporan Kerja Praktik