Analisis Beban Kerja Mental Operator
Analisis Beban Kerja Mental Operator
Oleh
Nurjamal
D 600.190.093
Oleh
Nurjamal
D 600.190.093
i
LAPORAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
Hari/Tanggal :...........................................
Oleh:
Nurjamal
D 600.190.093
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri
ii
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
Mengesahkan,
1.
Ketua
______________________
2.
Anggota
______________________
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri
iii
ABSTRAK
PT. Sinar Agung Selalu Sukses merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak
di bidang pembuatan spare part otomotif. Dalam melakukan proses produksinya
perusahaan menerapkan sistem produksi Make To Order, maka perusahaan akan
memproduksi produk jika ada pesanan dari konsumen. Lingkungan kerja yang di
luar standar dari ketetapan yang telah ditentukan, seperti tingkat kebisingan di atas
85 dB, pencahayaan di bawah 300 lux, dan suhu ruang di luar rentang 18C-30C.
Adanya tingkat permintaan konsumen yang tinggi dan target produksi yang tidak
tercapai, perusahaan akan menambah kuantitas produksi, sehingga terjadi
kepadatan jam kerja dalam pemroduksian. Kedua hal tersebut menimbulkan beban
kerja mental dan kelelahan bagi pekerja apabila kemampuan yang dimiliki tidak
sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghitung
beban kerja mental dan mengetahui faktor dominan yang paling berpengaruh
terhadap beban kerja mental pekerja. Metode yang digunakan yaitu NASA-TLX
(National Aeromatics and Space Administration Task Load Index). Hasil penelitian
didapatkan nilai rata-rata beban kerja mental sebesar 80,13 dan masuk ke dalam
kategori beban kerja mental sangat tinggi, serta dapat diketahui bahwa kebutuhan
mental merupakan faktor yang paling tinggi memengaruhi beban kerja mental
dengan persentase 26,10%, sedangkan faktor yang paling rendah yaitu tingkat
frustasi dengan persentase 2,86%. Alternatif usulan yang disarankan yaitu
menambah 6 unit kipas angin, menambah ventilasi dengan ukuran 25x35cm setiap
2.8 m, mengganti lampu produksi dengan pencahayaan sebesar 300 lux, dan pekerja
diwajibkan mengenakan masker, earplug, kacamata serta sarung tangan.
Kata Kunci : Beban Kerja Mental, NASA-TLX, Pekerja
ABSTRACT
PT. Sinar Agung Selalu Sukses is a manufacturing company engaged in the
manufacture of automotive spare parts. In carrying out the production process, the
company applies the Make To Order production system, the company will produce
products if there is an order from consumers. Working environments that are
beyond the standards of predetermined provisions, such as noise levels above 85
dB, lighting below 300 lux, and room temperatures outside the range of 18C-30C.
There is a high level of consumer demand and production targets that are not
achieved, the company will increase the quantity of production, resulting in a
density of working hours in production. Both of these things cause mental workload
and fatigue for workers if their abilities are not in accordance with the demands of
the job. The purpose of this study is to calculate the mental workload and find out
the dominant factors that most influence the mental workload of workers. The
method used is NASA-TLX (National Aeromatics and Space Administration Task
Load Index). The results of the study obtained an average value of mental workload
of 80.13 and fell into the category of very high mental workload, and it can be seen
that mental needs are the highest factor affecting mental workload with a
percentage of 26.10%, while the lowest factor is the level of frustration with a
percentage of 2.86%. Alternative proposals suggested are adding 6 fan units,
adding ventilation with a size of 25x35cm every 2.8 m, replacing production lamps
with lighting of 300 lux, and workers are required to wear masks, earplugs, goggles
and gloves.
Keywords : Mental Workload, NASA-TLX, Workers
iv
KATA PENGANTAR
Penulis
v
DAFTAR ISI
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Keterangan Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses ............................... 8
Tabel 1.2 Pembagian Jam Kerja Karyawan ............................................................ 9
Tabel 2.1 Penjelasan Indikator Beban Kerja Mental NASA-TLX ....................... 14
Tabel 2.2 Kategori Beban Kerja Mental ............................................................... 15
Tabel 2.3 Data Pembobotan Pekerja Plant 3 Foundry.......................................... 16
Tabel 2.4 Data Rating Indikator Pekerja Plant 3 Foundry ................................... 17
Tabel 2.5 Hasil Pengolahan Data NASA-TLX Pekerja Plant 3 Foundry............. 18
Tabel 2.6 Perbandingan Indikator NASA-TLX .................................................... 19
vii
DAFTAR GAMBAR
viii
BAB I
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
1
2
Department Sales & Inventory Control Prod Plan Tool & Mold Finance &
Procurement Engineering QC / QA Maintenance HR/GA
Head Marketing & W/House Control Production Accounting
Suhodo Kiryadi
David Kiryadi Budhayawan Suwarto Danang Budhayawan Luluk Suwarto
Lilik K Suhodo
Sales & Inventory Control Material Tool & Mold Finance &
Section Head Produksi 1 Produksi 2 Produksi 3 Produksi 4 Procurement Engineering QC / QA Maintenance HR/GA
Marketing & W/House Planing Production Accounting
Kridayanto Nawanto Samijo Ristanto David Bisri Irwanto Aditya Eni Marwati Uun Tp Yudi Faisal Luluk Lies Aryani
Gino Syaiful Saidi Ihsan Danang
Muhtadi Aris
Wahyono Credo
2. Job Description
Job description menjelaskan uraian masing-masing unit pekerjaan dari suatu
organisasi. Dari struktur organisasi pada gambar 1.1 Strurktur Organisasi PT. Sinar
Agung Selalu Sukses dapat diketahui job description dari masing-masing
departemen, sebagai berikut :
a. President Director
President Director memiliki tugas untuk memimpin dan mengkoordinasikan
semua kegiatan dalam perusahaan, serta melakukan integrasi, sinkronisasi, dan
bertanggung jawab dalam membina hubungan dengan perusahaan lain.
b. Sales & Marketing
Sales marketing memiliki tugas untuk mencari konsumen dan menawarkan
produk perusahaan kepada konsumen, mencari target pasar, melakukan penyusunan
strategi penjualan, menetapkan dan menentukan harga produk, melakukan analisa
penjualan, serta melakukan perekapan data dari hasil penjualan yang telah berhasil
dilakukan.
3
Dari gambar 1.2 Peta Proses Produksi Plant 3 Foundry dapat diuraikan
berdasarkan urutan proses produksi, sebagai berikut :
a. Permintaan Konsumen
Pada tahap ini didapatkan data permintaan produk dari konsumen yang telah
diolah oleh marketing berdasarkan purchase order dan back order yang mampu
diproduksi oleh perusahaan. Setelah itu data dari marketing diserahkan ke bagian
foundry plant 3 sesuai daftar produk yang akan dibuat.
b. Desain & Perancangan
Pada proses ini dilakukan desain produk menggunakan software berdasarkan
permintaan desain konsumen yang telah diterima, setelah itu dilakukan uji coba
prototype desain yang dibuat. Jika telah sesuai, cetakan desain awal dibuat dengan
mesin CNC untuk dasar pembuatan cetakan utama dari pasir.
c. Persiapan Pekerjaan & Material
Proses tahap ini dilakukan persiapan mengenai penjadwalan alat, mesin dan
pekerja, serta pemenuhan kebutuhan material dalam produksi. Penjadwalan alat,
mesin, dan pekerja dibuat oleh bagian PPC dan maintenance yang disesuaikan
berdasarkan kapasitas mesin dan jumlah pekerja dalam proses produksi.
d. Peleburan
Proses peleburan menggunakan mesin melting automatic dengan kapasitas 1,6
ton dan dengan proses pembakaran selama 2 jam yang dilakukan pada jam 09.00
hingga jam 11.00 untuk shift pertama, shift kedua jam 17.00 – 19.00, shift ketiga
jam 02.00 - 04.00, serta untuk komposisi material didasarkan dari jenis produk,
untuk FC dengan komposisi berupa scrap, carburizer, ferro silicon, ferro mangan,
innoculant, dan slag removal. Sedangkan untuk jenis FCD hanya ada penambahan
nodularizer dan tanpa ferro mangan. Untuk persentase komposisi didasarkan dari
berat bruto produk yang akan dibuat.
e. Pengolahan Pasir Cetak
Proses pengolahan pasir untuk cetakan dilakukan dengan menggunakan mesin
mixer dan menggunakan tipe pasir greensand dengan beberapa tambahan silika,
bentonit, silacoal, dan air. Pada proses pengolahan pasir memakan waktu selama 1-
2 jam untuk mendapatkan kualitas pasir cetakan dengan kualitas yang baik. Untuk
mengalirkan pasir dari mesin mixer masuk kedalam mesin moulding autometic
menggunakan belt conveyor. Pada proses perpindahan pasir dari mesin mixer ke
dalam mesin moulding automatic diberikan penyemprotan air sebagai bentuk
mengurangi kadar panas pada pasir untuk meminimalisir terjadinya defect pada
cetakan pasir.
f. Pembuatan Pola
Proses pembuatan pola cetakan dilakukan berdasarkan hasil dari pembuatan
desain yang telah dibuat sebelumnya. Untuk pembuatan pola sebagai dasar pola
cetakan dibuat di luar plant 3 dengan menggunakan mesin CNC, yang mana hasil
pembuatan cetakan akan dimasukkan ke dalam mesin moulding automatic untuk
membuat cetakan dari pasir sesuai dengan cetakan awal sesuai desain yang dibuat.
6
g. Pembuatan Cetakan
Pada proses pembuatan cetakan menggunakan mesin moulding automatic yang
mana pasir akan dipress dengan tekanan dan suhu tertentu. Setelah itu cetakan
bergerak menuju ke proses penuangan menggunakan conveyor. Untuk satu shift
ditargetkan menghasilkan 110 cetakan.
h. Pouring
Proses pouring merupakan proses penuangan cairan hasil peleburan. Sebelum
penuangan ke dalam cetakan, dilakukan penambahan magnesium treatmen untuk
mengurangi kadar sulfur dalam hasil leburan, dan disertai pengambilan turbulensi
pada hasil leburan yang mana dapat mengakibatkan defect pada produk akibat
adanya gas yang terjebak dalam leburan.
i. Bongkar Pasir
Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin coling drum yang berputar
untuk membongkar cetakan pasir dari produk.
j. Cutting
Proses cutting merupakan proses pemotongan hasil produk yang masih
menyatu satu sama lain.
k. Shot Blast
Pada tahap ini produk hasil dari cutting dimasukkan kedalam mesin sublesting
dengan metode penembakan bola baja yang bertujuan untuk membersihkan produk
dari pasir cetakan yang masih menempel.
l. Check (OK/NG)
Proses ini merupakan proses inspeksi awal untuk menentukan produk apakah
terdapat defect atau tidak.
m. Grinding
Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin gerinda meja dan gerinda
tangan untuk merapikan produk jika proses pengecekan awal aman dan juga untuk
merapikan produk defect ringan, seperti merapikan goresan, merapikan hasil cutting
yang masih belum maksimal.
n. Quality Control (QC)
Pada tahap ini merupakan proses inspeksi terakhir yang mana dapat ditentukan
produk layak untuk ke tahap selanjutnya atau tidak, jika tidak produk akan kembali
ke proses peleburan. Jika produk lulus pengecekan, produk langsung menuju tahap
repair untuk merapikan produk secara maksimal.
o. Repair
Proses repair merupakan proses untuk merapikan hasil grinding yang kurang
maksimal, dikarenakan proses repair merapikan bagian dari produk secara
mendetail hingga kebagian terkecil.
p. Pengiriman
Pada tahap pengirman ini merupakan tahap terakhir dalam produksi pada plant
3, yang mana produk hasil dari plant 3 langsung dikirim ke plant machining dan ke
gudang barang semi.
7
2. Pemasaran
Dalam proses pemasaran produk PT. Sinar Agung Selalu Sukses bekerjasama
dengan beberapa perusahaan rakitan kendaraan dan memasarkan produknya ke
seluruh Indonesia. PT. Sinar Agung Selalu Sukses memiliki beberapa outlet
terbesar di Indonesia, hal tersebut dikarenakan PT. Sinar Agung Selalu Sukses
tergabung dalam satu grup perusahaan PT. SAS. PT. Sinar Agung Selalu Sukses
sendiri memiliki beberapa pelanggan tetap, yang diantaranya PT. Sinar Agung
Prasadikindo, PT. ESEMKA, PT. Astra Daihatsu Motor, PT. Hino Motor Indonesia,
PT. Damar Bayu, PT. Isuzu Astra Motor, dan PT. Kubota. Dan untuk media
pemasaran, perusahaan menggunakan website, merk dagang, sponsorship, dan
promosi.
2. Layout Perusahaan
Dari gambar 1.4 Lokasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses dapat dibuat layout
perusahaan yang bertujuan untuk memperjelas tata letak perusahaan. Untuk layout
dapat dilihat pada gambar 1.5 Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses.
Berdasarkan gambar 1.5 Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses dapat
dijelaskan secara rinci mengenai poin-poin lokasi yang ditunjuk pada gambar.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.1 Keterangan Layout PT. Sinar
Agung Selalu Sukses.
Tabel 1.1 Keterangan Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses
No Keterangan No Keterangan No Keterangan
Plant 16 : Plant 8 : Plastic
1 Gerbang 11 21
Discpad Injection
Plant 15 : Spring
2 Pos Satpam 12 22 Plant 7 : CNC 2
Pin
Plant 14 : Punch
3 Mushola 13 23 Parkiran Staff
& Stamping
Parkiran
4 Titik Kumpul 14 24 Plant 6 : CNC 1
Karyawan
5 Office 15 Free Space 25 Plant 5 : Tromol
Plant 4 :
6 Kantin 16 Plant 13 : GBB 26
Kamayama
Plant 12 : GBJ
7 Plant 20 : OEM 17 27 Plant 1 : Foundry
Semi
Plant 11 :
8 Plant 19 : OEM 18 28 Plant 2 : Foundry
Forging Line
Plant 10 :
9 Plant 18 : GSF 19 29 Plant 3 : Foundry
Dongkrak
Plant 9 :
10 Plant 17 : Rantai 20 30 Gudang Reject
Nakayama
9
G. Personalia
1. Status Karyawan
Status karyawan PT. Sinar Agung Selalu Sukses dibagi menjadi dua, yaitu
karyawan tetap dan karyawan kontrak.
2. Penggajian Karyawan
Penggajian karyawan dilakukan diawal bulan. Untuk nominal gaji yang
diterima didasari atas jabatan dari setiap karyawan dan disesuaikan dengan UMK
Kabupaten Karanganyar.
3. Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan karyawan ditunjang dengan beberapa fasilitas, yang berupa
BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan, tunjangan hari raya (THR), serta
disediakannya mess.
4. Pembagian Jam Kerja Karyawan
Pembagian jam kerja karyawan telah diatur oleh perusahaan yang terdiri dari
tiga shift, untuk hari sabtu perusahaan hanya menjadwalkan satu shift, dan untuk
hari minggu perusahaan libur untuk produksi. Pembagian jadwal PT. Sinar Agung
Selalu Sukses dapat dilihat pada tabel 1.2 Pembagian Jam Kerja Karyawan.
Tabel 1.2 Pembagian Jam Kerja Karyawan
Shift Jam Masuk Istirahat Jam Keluar
1 07.00 12.00 – 13.00 15.00
2 15.00 20.00 -21.00 23.00
3 23.00 04.00 – 05.00 07.00
5. Rekruitmen Karyawan
Rekruitmen karyawan dilakukan dengan membuka lowongan kerja dan
melakukan seleksi karyawan berdasarkan kebutuhan masing-masing departemen.
6. Pelatihan dan Pembinaan Karyawan
Karyawan baru dan karyawan yang belum memiliki skill akan diberikan
pelatihan dan pembinaan selama 3 bulan sesuai dengan departemen yang ditempati.
7. Kegiatan Kerja
PT. Sinar Agung Selalu Sukses menerapkan prinsip kerja 5R dalam setiap
kegiatan kerjanya, yaitu Ringkes, Rapi, Resik, Rawat, Rajin.
a. Tenaga Kerja
Pekerja PT. Sinar Agung Selalu Sukses masih minim kesadaran dalam
penggunaan pakaian APD sesuai standar keselamatan, yang mana pekerja tidak
menggunakan kacamata, helm produksi, sarung tangan, earplug, dan bahkan
pekerja ada yang menggunakan sendal jepit. Selain itu juga banyak pekerja yang
resign dikarenakan pekerja mengalami kelelahan yang diakibatkan tingkat beban
kerja berlebih yang diterima pekerja. Untuk kelelahan kerja sendiri memiliki
beberapa kriteria yang diantaranya kelelahan bersifat fisik dan psikis, mudah
merasa lelah, penurunan motivasi, penurunan produktivitas kerja, dan penurunan
kerja fisik (Agustinawati et al., 2019).
b. Lingkungan Kerja
Dalam lingkungan kerja khususnya pada produksi iron casting plant 3
memiliki permasalahan yang berupa temperatur ruangan yang tinggi hingga
mencapai 38C, yang mengakibatkan banyak pekerja menggunakan kaos lengan
pendek atau kaos oblong. Kebisingan dari mesin yang digunakan melebihi nilai
ambang batas (NAB). Kebisingan menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.
13 Tahun 2011 adalah 85 dB dengan waktu maksimum 8 jam/hari. Adanya
pencahayaan ruangan 217 lux di bawah ketetapan Keputusan Mentri Tenaga Kerja
No. 5 Tahun 2018 sebesar 300 lux pada jenis pekerjaan teliti dengan mesin. Serta
adanya pasir/debu yang bertebaran akibat sisa pengeluaran dari mesin sublesting
dan moulding automatic yang dapat mengangguan pernafasan pekerja.
c. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Pada PT. Sinar Agung Selalu Sukses dahulunya terdapat devisi K3. Seiring
bertambahnya waktu devisi K3 dihapus dari organisasi perusahaan, oleh karena itu
tidak adanya penangan mengenai K3. Pada perusahaan hanya terdapat aturan
penggunaan pakaian APD mulai dari helm produksi, kacamata, earplug, appron,
sarung tangan, dan sepatu produksi. Akan tetapi perusahaan mengganti helm
produksi dengan menggunakan topi, dan perusahaan hanya menyediakan APD
berupa sarung tangan dan kacamata bagi pekerjanya.
d. Mesin
PT. Sinar Agung Selalu Sukses menggunakan mesin yang telah
terkomputerisasi. Pada plant 3 foundry menggunakan 8 mesin yang diantaranya
overhead crane, mixer, coling drum, moulding automatic, melting automatic,
sublesting, conveyor, dan mesin core dalam proses produksi, yang mana salah satu
dari kedelapan mesin yaitu mesin conveyor selama 1 minggu produksi mengalami
kerusakan sebanyak 3 kali, hal tersebut dikarenakan conveyor yang digunakan
conveyor troli yang telah digunakan selama 10 tahun. Dan conveyor yang tidak
dapat bergerak secara otomatis dilakukan dorongan secara manual oleh tenaga
manusia. Hal ini membutuhkan perhatian lebih mengenai perawatan mesin secara
berkala oleh perusahaan.
11
2. Permasalahan Khusus
Dari penelitian pada plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses dilakukan
pengukuran suara kebisingan, pencahayaan, dan temperatur ruang produksi plant
3. Pada pengukuran suara kebisingan menggunakan alat sound level meter selama
3 hari, yang mana menghasilkan nilai kebisingan masing-masing sebesar 89 dB, 87
dB, dan 92 dB. Dari ketiga hasil pengukuran yang telah didapat bertentangan
dengan Keputusan Mentri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011 yang menetapkan nilai
ambang batas (NAB) kebisingan sebesar 85 dB dengan waktu maksimum 8 jam
kerja/hari. Dari Kepututan Mentri Tenaga Kerja No. 5 Tahun 2018 untuk
pencahayaan dengan jenis pekerjaan teliti dengan mesin memerlukan pencahayaan
sebesar 300 lux pada area kerja. Setelah mengukur pencahayaan dengan
menggunakan alat lux meter didapatkan hasil pada plant 3 foundry sebesar 217 lux
pada shift 1, yang mana hasil tersebut kurang dari tingkat pencahayaan yang telah
ditetapkan sebesar 300 lux. Untuk pengukuran temperatur plant 3 foundry dengan
alat termometer ruang yang telah terpasang pada dinding dengan pengukuran
selama 3 hari dalam kondisi cuaca cerah pada shift 1, didapatkan hasil masing-
masing sebesar 38C, 36C, dan 37C, yang mana suhu tersebut lebih tinggi
dibandingkan pada Keputusan Mentri Kesehatan No. 1405 Tahun 2002 yaitu suhu
ruang industri normal dalam rentang 18C - 30C. Selain itu, terdapatnya partikel
debu yang bertebaran akibat proses pembuatan cetakan dari pasir yang dapat
mengganggu sistem pernafasan pekerja. Dari keempat faktor utama yang berkaitan
dengan lingkungan kerja dalam produksi plant 3 foundry tersebut mampu
menurunkan produktivitas pekerja.
Dalam bulan september 2022, plant 3 foundry terdapat 1506 pcs barang reject
(NG) yang mengakibatkan perusahaan belum memenuhi target pesanan sebanyak
9410 pcs, membuat perusahaan menjadwalkan ulang proses produksi pada hari
sabtu dan minggu dengan produksi secara full time. Dengan penambahan waktu
kerja dan disertai keempat faktor (kebisingan, pencahayaan, suhu, dan debu) plant
3 foundry yang tidak sesuai dengan Kepmenaker dan Kepmenkes mengenai ruang
kerja industri manufaktur, mengakibatkan tingginya tingkat beban kerja mental
pekerja dalam menjalankan pekerjaannya yang mengakibatkan hilangnya
konsentrasi pekerja, mudah mengalami kelelahan, timbulnya cidera otot tubuh,
kurangnya kewaspadaan dalam bekerja, stress, dan hilangnya motivasi dalam
bekerja. Untuk mengetahui tingkat beban kerja mental di PT. Sinar Agung Selalu
Sukses peneliti menggunakan metode NASA-TLX (National Aeromatics and
Space Administration Task Load Index).
BAB II
ANALISIS PERMASALAHAN KHUSUS
A. Pendahuluan
Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu pesat,
membuat industri berlomba-lomba dalam menciptakan suatu produk terbarukan
untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan juga menjadikan suatu kepercayaan
masyarakat terhadap produk yang tercipta. Dalam proses terciptanya tujuan
perusahaan sebagai kepercayaan masyarakat, sumber daya manusia merupakan
faktor terpenting dalam pencapaian tujuan tersebut. Sumber daya manusia
merupakan suatu aset penting bagi perusahaan, apabila suatu karyawan memiliki
performasi kerja yang baik, maka akan memberikan dampak positif bagi
perusahaan dalam produktivitasnya menciptakan suatu produk dengan kualitas
terbaik (Hasibuan & Banjarnahor, 2019).
Perusahaan memberikan sarana fasilitas yang terbaik bagi pekerjanya, yang
mana perusahaan harus mampu memastikan bahwa pekerjanya berada dalam
kondisi aman dan nyaman ketika sedang menjalani pekerjaan. Ergonomi sebagai
ilmu mengenai bentuk hubungan pekerja dengan pekerjaannya, yang menempatkan
pekerja atau manusia sebagai aspek utama berdasarkan kemampuan, kecakapan,
dan batasan pekerja. Hal tersebut didasari atas hubungan fisik antara manusia
dengan fasilitas kerja (Surya et al., 2018).
PT. Sinar Agung Selalu Sukses merupakan perusahaan manufaktur yang
bergerak dalam pemroduksian spare part otomotif. Produk yang dihasilkan
digolongkan menjadi 5 kategori yaitu produk iron casting, alumunium casting,
plastic injection, rubber, dan machining. Proses produksi dilakukan dengan 3 shift,
untuk hari sabtu setengah hari produksi dan untuk hari minggu atau hari libur
nasional perusahaan tidak melakukan produksi. Dalam bulan september 2022, plant
3 foundry terdapat 1506 pcs barang reject (NG) yang mengakibatkan perusahaan
belum memenuhi target pesanan sebanyak 9410 pcs, maka untuk hari sabtu dan
minggu dapat dilakukan produksi secara full time.
Dari penelitian pada plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses dilakukan
pengukuran suara kebisingan, pencahayaan, dan temperatur ruang produksi plant
3. Pada pengukuran suara kebisingan menggunakan alat sound level meter selama
3 hari, yang mana menghasilkan nilai kebisingan masing-masing sebesar 89 dB, 87
dB, dan 92 dB. Dari ketiga hasil pengukuran yang telah didapat bertentangan
dengan Keputusan Mentri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011 yang menetapkan nilai
ambang batas (NAB) kebisingan sebesar 85 dB dengan waktu maksimum 8 jam
kerja/hari. Pada pengukuran pencahayaan dengan menggunakan alat lux meter
didapatkan hasil sebesar 217 lux pada shift 1, yang mana tidak sesuai dengan
Keputusan Mentri Tenaga Kerja No. 5 Tahun 2018 untuk pencahayaan dengan jenis
pekerjaan teliti dengan mesin memerlukan pencahayaan sebesar 300 lux pada area
12
13
kerja. Untuk pengukuran temperatur plant 3 foundry dengan alat termometer ruang
yang telah terpasang pada dinding dengan pengukuran selama 3 hari dalam kondisi
cuaca cerah pada shift 1, didapatkan hasil masing-masing sebesar 38C, 36C, dan
37C, yang mana suhu tersebut lebih tinggi dibandingkan pada Keputusan Mentri
Kesehatan No. 1405 Tahun 2002 yaitu suhu ruang industri normal dalam rentang
18C - 30C. Selain itu, terdapatnya partikel debu yang bertebaran akibat proses
pembuatan cetakan dari pasir yang dapat mengganggu sistem pernafasan pekerja.
Dari keempat faktor utama yang berkaitan dengan lingkungan kerja dalam produksi
plant 3 foundry tersebut memengaruhi beban kerja mental pekerja.
Beban kerja dapat diartikan sebagai perbedaan antara kemampuan pekerja
dengan tuntutan pekerjaan yang dilakukan. Yang mana jika kemampuan pekerja
lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan, maka mengakibatkan perasaan bosan
dalam menjalani pekerjaanya. Dan sebaliknya, jika kemampuan pekerja lebih
rendah daripada tuntutan pekerjaan, maka mengakibatkan kelelahan yang berlebih
(Hasibuan & Banjarnahor, 2019). Beban kerja sendiri muncul berdasarkan aktivitas
manusia berupa kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak) yang saling mendominasi
satu sama lain (Meri & Ahmad, 2020).
Dalam beban kerja mental terdapat empat faktor yang dapat menjadi penyebab
tambahan suatu beban mental kerja, antara lain :
1. Faktor fisik, yang berupa bahan baku, peralatan, pencahayaan, dan temperatur.
2. Faktor kimia, yang berupa debu, cairan pelarut, cat, dan bahan kimia padat.
3. Faktor fisiologis, yang berupa kontruksi mesin, sikap, dan cara kerja.
4. Faktor psikologis, yang berupa suasana kerja, pemilihan kerja, dan waktu kerja.
Dari keempat faktor tersebut yang dialami pekerja, adapun bentuk yang dapat
mengganggu daya kerja pekerja, yaitu :
1. Kebisingan, mengganggu daya ingat dan konsentrasi pekerja.
2. Intensitas cahaya minim mengakibatkan pekerja mengalami kelelahan mata.
3. Debu yang terhirup dapat menimbulkan masalah pernafasan bagi pekerja.
4. Sikap badan yang salah atau fasilitas kerja yang kurang ergonomis
mengakibatkan mudahnya mengalami kelelahan (Sari, 2017).
NASA-TLX (National Aeromatics and Space Administration Task Load Index)
merupakan metode yang digunakan untuk mengukur dan menganalisa beban kerja
mental yang dirasakan oleh pekerja dalam proses pekerjaannya. Metode NASA-
TLX dikembangkan oleh Sandra G dan Lowell E. Staveland pada tahun 1981.
Metode ini menggunakan enam skala faktor yang berupa Mental Demand (MD),
Physical Demand (PD), Temporal Demand (TD), Performance (P), Effort (EF), dan
Frustration Level (FR) (Febrilliandika, 2020).
Penelitian ini difokuskan kepada pekerja plant 3 foundry untuk mengukur dan
menganalisa beban kerja mental menggunakan metode NASA-TLX dengan
penyebaran kuesioner, nantinya akan diketahui faktor paling dominan yang
memengaruhi beban kerja mental pekerja, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan
evaluasi bagi perusahaan.
14
B. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian pengukuran beban kerja mental pada pekerja
plant 3 foundry dengan menggunakan metode NASA-TLX, sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan pekerja dalam
melakukan pekerjaan di plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses.
2. Mengukur 6 indikator beban kerja mental yang dialami oleh pekerja plant 3
foundry.
3. Menganalisis nilai rata-rata WWL sebagai dasar menentukan faktor paling
dominan dalam memengaruhi tingkat beban kerja mental pekerja plant 3
foundry.
C. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan dua data sebagai dasar penelitian, yang
pertama data primer berupa data hasil penyebaran kuesioner NASA-TLX, dan
kedua yaitu data sekunder berupa data yang diperoleh dari studi literatur, data
mengenai perusahaan, dan jurnal yang berkaitan dengan beban kerja mental.
NASA-TLX sendiri merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengukur dan
menganalisis beban kerja mental yang dirasakan oleh pekerja dalam proses
pekerjaannya (Febrilliandika, 2020). Dalam mengukur beban kerja mental pekerja
dengan metode NASA-TLX dapat dilakukan beberapa langkah, sebagai berikut :
1. Penjelasan indikator beban kerja mental NASA-TLX
Menurut Hancock dan Meshkati (1988), terdapat 6 indikator yang diukur dalam
metode NASA-TLX berupa kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu,
performance, usaha, dan frustasi (Putri & Handayani, 2019). Untuk penjelasan 6
indikator dapat dilihat pada tabel 2.1 Penjelasan Indikator NASA-TLX.
Tabel 2.1 Penjelasan Indikator Beban Kerja Mental NASA-TLX
Skala Keterangan
Kebutuhan Seberapa besar aktivitas mental dan perspektual yang dibutuhkan
Mental (KM) untuk melihat, mengingat, dan mencari dalam pekerjaan.
Seberapa besar aktivitas fisik yang dibutuhkan untuk melakukan
Kebutuhan
pekerjaan, seperti mendorong, menarik, mengontrol putaran, dan
Fisik (KF)
sebagainya.
Seberapa besar tekanan yang berkaitan dengan waktu yang
Kebutuhan
dirasakan selama melakukan pekerjaan. Apakah pekerjaan
Waktu (KW)
perlahan atau santai atau cepat dan melahkan.
Performance Seberapa besar keberhasilan dalam melakukan pekerjaan dan
(P) seberapa puas dengan hasil kerja.
Tingkat Seberapa besar usaha yang dilakukan dalam melakukan atau
Usaha (TU) menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Seberapa tidak aman, putus asa, tersinggung, terganggu,
Tingkat
dibandingkan dengan perasaan aman nyaman, dan kepuasan diri
Frustasi (TF)
yang dirasakan.
15
2. Pembobotan
Pada tahap ini, responden diminta untuk memilih dan memberi tanda centang
pada salah satu dari dua indikator yang dirasa lebih dominan menimbulkan beban
kerja mental terhadap pekerjaan yang dilakukan. Pembobotan ini berupa kuesioner
yang terdiri dari 15 indikator perbandingan berpasangan. Untuk total perbandingan
berpasangan keseluruhan dimensi yaitu 15. Dari kuesioner inilah yang akan
dihitung jumlah tally sebagai bobot untuk setiap indikator yang dirasa berpengaruh
(Pramesti & Suhendar, 2021).
3. Pemberian Rating
Pada tahap selanjutnya ini, responden diminta untuk melingkari salah satu
angka dari setiap indikator dengan skala 0 hingga 100 yang mana angka terkecil
memiliki pengaruh kecil dan untuk angka yang terbesar memiliki pengaruh besar
mengenai beban kerja mental yang dialami pekerja dalam melakukan pekerjaannya
(Putri & Handayani, 2019). Menurut Pradhana & Suliantoro (2018), data dari tahap
pemberian rating digunakan untuk memperoleh beban kerja (mean weighted
workload) yang sebagai berikut :
a. Mengukur Nilai Produk
Nilai produk didapat dari hasil perkalian antara data rating dikali dengan bobot
faktor untuk masing-masing indikator. Untuk perhitungan nilai produk harus
disesuaikan berdasarkan nilai rating indikator dan bobot faktor dengan indikator
yang sama. Maka dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD, P, FR,
dan EF).
Produk = rating * bobot faktor (1)
b. Mengukur Weighted Workload (WWL)
Nilai WWL diperoleh dari hasil penjumlahan dengan menjumlahkan keenam
nilai produk yang telah dihitung sebelumnya.
WWL = Produk (2)
c. Menghitung Rata-rata WWL
Nilai rata-rata WWL didapatkan dari hasil pembagian antara WWL dengan
bobot total atau tally
𝑊𝑊𝐿
Rata-rata WWL = (3)
15
d. Klasifikasi Penilaian Beban Kerja Mental
Tahap selanjutnya yaitu dengan mengklasifikasikan nilai yang didapat
berdasarkan kategori pada tabel 2.2 Kategori Beban Kerja Mental
Tabel 2.2 Kategori Beban Kerja Mental
Kategori Skala
Rendah 10-33
Sedang 34-56
Tinggi 57-79
Sangat Tinggi 80-100
(Pradhana & Suliantoro, 2018)
16
b. Pemberian Rating
Setelah dilakukan proses pembobotan, tahap selanjutnya yaitu pemberian
rating oleh responden. Pada tahap pemberian rating, diberikan skala 0-100 untuk
masing-masing indikator sesuai dengan beban kerja mental yang dialami oleh
responden dalam pekerjaannya. Hasil pemberian rating responden dapat dilihat
pada tabel 2.4 Data Rating Indikator Pekerja Plant 3 Foundry.
17
Berdasarkan pada tabel 2.5 Hasil Pengolahan Data NASA-TLX Pekerja Plant
3 Foundry, didapatkan hasil bahwa keseluruhan nilai rata-rata dari perhitungan nilai
WWL sebesar 80,13 yang mana hasil tersebut menunjukkan kategori kerja yang
dirasakan oleh pekerja plant 3 foundry termasuk ke dalam kategori beban kerja
yang sangat tinggi. Oleh karena itu dapat dilakukan pengelompokan beban kerja
mental pekerja plant 3 foundry pada PT. Sinar Agung Selalu Sukses ke dalam
bentuk histogram yang dapat dilihat pada gambar 2.1 Klasifikasi Beban Kerja
Mental.
19
10
0
Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Gambar 2.1 Klasifikasi Beban Kerja Mental
Analisis :
Dari hasil perhitungan beban kerja mental yang telah dilakukan dengan
responden 15 orang pekerja, didapatkan 1 pekerja merasakan beban kerja mental
dengan kategori sedang dalam rentang 34-56, 3 pekerja merasakan beban kerja
mental dengan kategori tinggi dalam rentang 57-79, dan 11 pekerja merasakan
beban kerja mental dengan kategori sangat tinggi atau dalam rentang 80-100. Maka
dari itu, rata-rata pekerja memiliki kategori beban kerja mental sangat tinggi dengan
nilai rata-rata WWL sebesar 80,13.
Dari gambar 2.3 dapat dianalisis untuk pekerja usia 20-39 tahun memiliki
kategori beban kerja mental yaitu sedang, tinggi, sangat tinggi atau dalam rentang
56-86,67. Sedangkan yang berusia 40-54 tahun memiliki kategori kerja tinggi dan
sangat tinggi atau dengan rentang 67-89,33. Maka dapat dinyatakan usia tidak
signifikan memengaruhi beban kerja mental pekerja, dikarenakan beban mental
setiap pekerja berbeda-beda.
E. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data mengenai beban kerja mental yang telah dilakukan,
dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari pengukuran mengenai kebisingan selama 3 hari didapatkan data sebesar
89 dB, 87 dB, dan 92 dB. Pengukuran pencahayaan sebesar 217 lux pada area.
Dan pengukuran temperatur ruang selama 3 hari didapatkan data sebesar 38C,
36C, dan 37C.
2. Berdasarkan hasil perhitungan 15 pekerja mengenai beban kerja mental dengan
menggunakan metode NASA-TLX dapat diketahui bahwa 1 pekerja memiliki
beban kerja dengan kategori sedang atau dalam rentang 34-56, 3 pekerja
memiliki beban kerja mental dengan kategori tinggi dalam rentang 57-79, dan
11 pekerja dengan kategori beban kerja mental sangat tinggi dalam rentang 80-
100.
3. Dari 15 pekerja plant 3 foundry memiliki nilai rata-rata beban kerja mental
sebesar 80,13 yang menunjukkan bahwa kategori beban kerja mental sangat
tinggi.
4. Indikator yang paling berpengaruh dalam timbulnya beban kerja mental
pekerja plant 3 foundry yaitu indikator kebutuhan mental, kebutuhan fisik, dan
tingkat usaha dengan jumlah persentase masing-masing sebesar 26,10%,
22,46%, dan 21,16%.
5. Alternatif usulan yang disarankan untuk meminimalisir beban kerja mental
pekerja yaitu dengan menambah 6 unit kipas angin, menambah turbin
ventilator dengan jumlah dan daya hisap menyesuaikan ruang lantai produksi,
mengganti lampu produksi dengan pencahayaan sebesar 300 lux, dan pekerja
diwajibkan mengenakan masker, earplug, kacamata serta sarung tangan.
F. Ucapan Terimakasih
Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis tentunya mendapatkan bantuan
dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan
terimakasih kepada :
1. PT. Sinar Agung Selalu Sukses yang telah memberikan kesempatan penulis
dalam mendapatkan ilmu dan pengalaman untuk melaksanakan kerja praktik.
2. Bapak Kiryadi selaku kepala devisi PPIC yang telah memberikan pemahaman
mengenai lingkup kerja bagian PPIC.
3. Bapak Aris selaku staff PPIC yang telah mengenalkan area kerja produksi pada
PT. Sinar Agung Selalu Sukses dan telah membantu dalam pemilihan tema
laporan kerja praktik.
4. Bapak Lilik Triyono selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan
bimbingan selama kerja praktik berlangsung.
5. Karyawan PT. Sinar Agung Selalu Sukses plant 3 foundry yang telah
berkontribusi dalam pengumpulan data terkait penelitian mengenai beban kerja
mental.
23
G. Daftar Pustaka
Agustinawati. K. R, Dinata. I. M. K, K, & Primayanti. I. D. A. I. D. (2019).
Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Kelelahan Kerja Pada Pengerajin
Industri Bokor Di Desa Menyali. Jurnal Medika Udayana. Vol. 09. No. 09.
pp. 1-7. doi: [Link]/[Link]/eum.
Azwar. A. G, & Fauziah. N. (2019). Analisis Beban Kerja Karyawan Di Perusahaan
Konveksi Al-Hasri Garut. Jurnal ReTIMS. Vol. 01. No. 02. pp. 111-115.
Febrilliandika. B, & Nasution. A. E. (2020). Pengukuran Beban Kerja Mental
Kuliah Daring Mahasiswa Teknik Industri USU Dengan Metode NASA-TLX.
Jurnal Seminar dan Konfrensi Nasional IDEC 2020. Vol. No. pp. 1-7.
Hasibun. C. F, & Banjarnahor. M. (2019). Analisis Beban Kerja Mental Pada
Pekerja di PT XYZ dengan Menggunakan NASA-TLX. Jurnal Ergonomi dan
K3. Vol. 04. No. 01. pp. 24-28.
Liani Putri. U. L, & Handayani. N. U. (2019). Analisis Beban Kerja Mental Dengan
Metode NASA TLX Pada Departemen Logistik PT ABC. Industrial
Engineering Online Journal. Vol. 06. No. 02. pp. 1–10.
Meri. Z, M. and Ahmad, F. (2020). Pengukuran Beban Kerja Mental Karyawan di
Lantai Produksi Karet Setengah Jadi Dengan Metode NASA TLX (Taskload
Index). Jurnal Teknik Industri UNISI. Vol. 04. No. 01. pp. 19–25. doi:
10.32520/juti.v4i1.1089.
Pradhana. C. A, & Suliantoro. H. (2018). Analisis Beban Kerja Mental
Menggunakan Metode NASA-TLX Pada Bagian Shipping Perlengkapan Di
PT. Triangle Motorindo. Industrial Engineering Online Journal. Vol. 07. No.
03. pp. 1-9.
Pramesti. A, & Suhendar. E. (2021). Analisis Beban Kerja Menggunakan Metode
NASA-TLX Pada CV. Bahagia Jaya Alsindo. STRING (Satuan Tulisan Riset
dan Inovasi Teknologi). Vol. 05. No. 03. pp. 229-235. doi:
10.30998/string.v5i3.6528.
Sari, R. I. P. (2017). Pengukuran Beban Kerja Karyawan Menggunakan Metode
NASA-TLX Di PT. Tranka Kabel. Journal Sosio-E-Kons. Vol. 09. No. 03. pp.
223–231. doi: 10.30998/sosioekons.v9i3.2250.
Surya. R. A, Fathimahhayati. L. D, & Sitania. F. D. (2018). Analisis Pengaruh Shift
Kerja Terhadap Beban Kerja Mental Pada Operator Distributed Control
System (DCS) Dengan Metode NASA-Taks Load Index (TLX) (Studi Kasus:
PT. Cahaya Fajar Kaltim). Jurnal MATRIK. Vol. 19. No. 01. pp. 63-76. doi:
10.30587/matrik.v19i1.510.
BAB III
DESKRIPSI LAPORAN HARIAN
Nama : Nurjamal
NIM : D600190093
Nama Perusahaan : PT. Sinar Agung Selalu Sukses
Dosen Pembimbing : Bp. Hari Prasetyo
Pembimbing Lapangan : Bp. Lilik Triyono
Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
Kamis, 1 - Pemilihan devisi
1 September - Perkenalan pada setiap
2022 bagian devisi PPIC
- Pemberian materi PPIC
Jumat, 2
perusahaan
2 September
- Penempatan pada bidang
2022
Foundry plant 3
- Pengenalan proses produksi
bidang Foundry plant 3
Senin, 5
- Wawancara mengenai
3 September
permasalahan umum.
2022
- Pembelajaran mengenai
produksi di Foundry plant 3
Selasa, 6
- Izin Workshop WMK UMS
4 September
(1) Wajib
2022
Rabu, 7
- Pembelajaran mengenai
5 September
produksi di Foundry plant 3
2022
Kamis, 8
- Pembelajaran mengenai
6 September
produksi di Foundry plant 3
2022
Jumat, 9
- Pembelajaran mengenai
7 September
produksi di Foundry plant 3
2022
Senin, 12 - Pembelajaran mengenai
8 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pemilihan tema KP
Selasa, 13 - Pembelajaran mengenai
9 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pengambilan data tema KP
24
25
Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
Rabu, 14
- Izin Workshop WMK UMS
10 September
(2) Wajib
2022
- Pembelajaran mengenai
Kamis, 15
produksi di Foundry plant 3
11 September
- Pengambilan data tema KP
2022
- Pengerjaan laporan Bab 1
- Pembelajaran mengenai
Jumat, 16 produksi di Foundry plant 3
12 September - Pengambilan data tema KP
2022 - Pengerjaan laporan Bab 1
- Pengolahan data
- Pembelajaran mengenai
Senin, 19
produksi di Foundry plant 3
13 September
- Pengolahan data
2022
- Penyelesaian laporan Bab 1
Selasa, 20 - Pembelajaran mengenai
14 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pengerjaan laporan Bab 2
Rabu, 21
15 September - Izin Bimbingan WMK UMS
2022
Kamis, 22 - Pembelajaran mengenai
16 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pengerjaan laporan Bab 2
- Pembelajaran mengenai
Jumat, 23
produksi di Foundry plant 3
17 September
- Pengolahan data
2022
- Pengerjaan laporan Bab 2
Senin, 26
- Izin Workshop WMK UMS
18 September
(4) Wajib
2022
Selasa, 27 - Pembelajaran mengenai
19 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Penyusunan laporan Bab 2
Rabu, 28
- Penyusunan laporan
20 September
keseluruhan
2022
Kamis, 29
- Meminta pendapat mengenai
21 September
laporan KP
2022
Jumat, 30 - Permohonan maaf dan
22 September terimakasih
2022 - Dokumentasi
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuesioner NASA-TLX
KUESIONER NASA-TLX
PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Pekerjaan :
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi
4. Performasi (P)
Seberapa besar keberhasilan seseorang di dalam pekerjaannya dan seberapa puas
dengan hasil kerjanya?
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi
Lampiran 2. Dokumentasi
Lampiran 3. Surat Keterangan Selesai Kerja Praktik
Lampiran 4. Form Penilaian Kerja Praktik