0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan41 halaman

Analisis Beban Kerja Mental Operator

Laporan ini membahas analisis pengukuran beban kerja mental pekerja di PT. Sinar Agung Selalu Sukses menggunakan metode NASA-TLX. Lingkungan kerja yang tidak sesuai standar menyebabkan beban kerja mental tinggi bagi pekerja. Tujuannya adalah menghitung beban kerja mental dan mengetahui faktor dominan. Hasilnya rata-rata beban kerja mental 80,13 (sangat tinggi) dan kebutuhan mental merupakan faktor tertinggi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan41 halaman

Analisis Beban Kerja Mental Operator

Laporan ini membahas analisis pengukuran beban kerja mental pekerja di PT. Sinar Agung Selalu Sukses menggunakan metode NASA-TLX. Lingkungan kerja yang tidak sesuai standar menyebabkan beban kerja mental tinggi bagi pekerja. Tujuannya adalah menghitung beban kerja mental dan mengetahui faktor dominan. Hasilnya rata-rata beban kerja mental 80,13 (sangat tinggi) dan kebutuhan mental merupakan faktor tertinggi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KERJA PRAKTIK

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL FOUNDRY PLANT


3 PADA OPERATOR IRON CASTING MENGGUNAKAN METODE
NASA-TLX
(Studi Kasus : PT. Sinar Agung Selalu Sukses)

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk


Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan
Program Sarjana Teknik Industri

Oleh
Nurjamal
D 600.190.093

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022
LAPORAN KERJA PRAKTIK

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL FOUNDRY PLANT


3 PADA OPERATOR IRON CASTING MENGGUNAKAN METODE
NASA-TLX
(Studi Kasus : PT. Sinar Agung Selalu Sukses)

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk


Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan
Program Sarjana Teknik Industri

Oleh
Nurjamal
D 600.190.093

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022

i
LAPORAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

LAPORAN KERJA PRAKTIK diajukan kepada Universitas Muhammadiyah


Surakarta untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program
Sarjana Teknik Industri.

Hari/Tanggal :...........................................

Oleh:
Nurjamal
D 600.190.093

Pembimbing Lapangan Dosen Pembimbing

Lilik Triyono Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri

Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T.

ii
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN

Laporan Kerja Praktik dengan judul ANALISIS PENGUKURAN BEBAN


KERJA MENTAL FOUNDRY PLANT 3 PADA OPERATOR IRON
CASTING MENGGUNAKAN METODE NASA-TLX (Studi Kasus : PT.
Sinar Agung Selalu Sukses) ini telah diuji dan dipertahankan dihadapan Dewan
Penguji sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana
Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pada :
Hari : ___________________
Tanggal : ___________________

Mengesahkan,

Dewan Penguji Tanda Tangan

1.
Ketua

______________________

2.
Anggota

______________________

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri

Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T.

iii
ABSTRAK
PT. Sinar Agung Selalu Sukses merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak
di bidang pembuatan spare part otomotif. Dalam melakukan proses produksinya
perusahaan menerapkan sistem produksi Make To Order, maka perusahaan akan
memproduksi produk jika ada pesanan dari konsumen. Lingkungan kerja yang di
luar standar dari ketetapan yang telah ditentukan, seperti tingkat kebisingan di atas
85 dB, pencahayaan di bawah 300 lux, dan suhu ruang di luar rentang 18C-30C.
Adanya tingkat permintaan konsumen yang tinggi dan target produksi yang tidak
tercapai, perusahaan akan menambah kuantitas produksi, sehingga terjadi
kepadatan jam kerja dalam pemroduksian. Kedua hal tersebut menimbulkan beban
kerja mental dan kelelahan bagi pekerja apabila kemampuan yang dimiliki tidak
sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghitung
beban kerja mental dan mengetahui faktor dominan yang paling berpengaruh
terhadap beban kerja mental pekerja. Metode yang digunakan yaitu NASA-TLX
(National Aeromatics and Space Administration Task Load Index). Hasil penelitian
didapatkan nilai rata-rata beban kerja mental sebesar 80,13 dan masuk ke dalam
kategori beban kerja mental sangat tinggi, serta dapat diketahui bahwa kebutuhan
mental merupakan faktor yang paling tinggi memengaruhi beban kerja mental
dengan persentase 26,10%, sedangkan faktor yang paling rendah yaitu tingkat
frustasi dengan persentase 2,86%. Alternatif usulan yang disarankan yaitu
menambah 6 unit kipas angin, menambah ventilasi dengan ukuran 25x35cm setiap
2.8 m, mengganti lampu produksi dengan pencahayaan sebesar 300 lux, dan pekerja
diwajibkan mengenakan masker, earplug, kacamata serta sarung tangan.
Kata Kunci : Beban Kerja Mental, NASA-TLX, Pekerja

ABSTRACT
PT. Sinar Agung Selalu Sukses is a manufacturing company engaged in the
manufacture of automotive spare parts. In carrying out the production process, the
company applies the Make To Order production system, the company will produce
products if there is an order from consumers. Working environments that are
beyond the standards of predetermined provisions, such as noise levels above 85
dB, lighting below 300 lux, and room temperatures outside the range of 18C-30C.
There is a high level of consumer demand and production targets that are not
achieved, the company will increase the quantity of production, resulting in a
density of working hours in production. Both of these things cause mental workload
and fatigue for workers if their abilities are not in accordance with the demands of
the job. The purpose of this study is to calculate the mental workload and find out
the dominant factors that most influence the mental workload of workers. The
method used is NASA-TLX (National Aeromatics and Space Administration Task
Load Index). The results of the study obtained an average value of mental workload
of 80.13 and fell into the category of very high mental workload, and it can be seen
that mental needs are the highest factor affecting mental workload with a
percentage of 26.10%, while the lowest factor is the level of frustration with a
percentage of 2.86%. Alternative proposals suggested are adding 6 fan units,
adding ventilation with a size of 25x35cm every 2.8 m, replacing production lamps
with lighting of 300 lux, and workers are required to wear masks, earplugs, goggles
and gloves.
Keywords : Mental Workload, NASA-TLX, Workers

iv
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan berkah, rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Kerja Praktik dengan lancar dan tepat waktu.
Adapun maksud dan tujuan tugas Laporan Kerja Praktik adalah untuk
membekali praktikan dengan ilmu terapan perancangan teknik dalam bidang
industri yang berupa proses penentuan sistem informasi manajemen, penentuan
kebutuhan sumber daya dan perancangan tata letak fasilitas suatu perusahaan, yang
berguna sebagai dasar untuk memasuki dunia kerja yang akan datang.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapat bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak yang terlibat, oleh karena itu penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada:
1. Ibu Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Industri
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
2. Bapak Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing yang
bersedia untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan kegiatan Kerja
Praktik.
3. Bapak Lilik Triyono selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan
bimbingan selama kerja praktik berlangsung.
4. Semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah membantu penulis
dalam penyusunan laporan ini.
Besar harapan Laporan Kerja Praktik ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi semua pihak pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan
laporan ini. Untuk itu penulis secara lapang hati menerima kritik dan saran untuk
kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Surakarta, __ Oktober 2022

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


LAPORAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN .......................................... iii
ABSTRAK ............................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
BAB I GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .................................................. 1
A. Sejarah Berdirinya Perusahaan .................................................................... 1
B. Visi Misi dan Tujuan Perusahaan ................................................................ 2
C. Struktur Organisasi dan Job Description .................................................... 2
D. Sistem Produksi dan Peta Proses Produksi ................................................. 4
E. Hasil Produksi dan Pemasarannya .............................................................. 7
F. Lokasi dan Layout Perusahaan .................................................................... 7
G. Personalia .................................................................................................... 9
H. Identifikasi Permasalahan Umum dan Permasalahan Khusus .................... 9
BAB II ANALISIS PERMASALAHAN KHUSUS .......................................... 12
A. Pendahuluan .............................................................................................. 12
B. Tujuan........................................................................................................ 14
C. Metode Penelitian ...................................................................................... 14
D. Hasil dan Pembahasan ............................................................................... 16
E. Kesimpulan................................................................................................ 22
F. Ucapan Terimakasih .................................................................................. 22
G. Daftar Pustaka ........................................................................................... 23
BAB III DESKRIPSI LAPORAN HARIAN .................................................... 24
LAMPIRAN ......................................................................................................... 26

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Keterangan Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses ............................... 8
Tabel 1.2 Pembagian Jam Kerja Karyawan ............................................................ 9
Tabel 2.1 Penjelasan Indikator Beban Kerja Mental NASA-TLX ....................... 14
Tabel 2.2 Kategori Beban Kerja Mental ............................................................... 15
Tabel 2.3 Data Pembobotan Pekerja Plant 3 Foundry.......................................... 16
Tabel 2.4 Data Rating Indikator Pekerja Plant 3 Foundry ................................... 17
Tabel 2.5 Hasil Pengolahan Data NASA-TLX Pekerja Plant 3 Foundry............. 18
Tabel 2.6 Perbandingan Indikator NASA-TLX .................................................... 19

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses........................... 2


Gambar 1.2 Peta Proses Produksi Plant 3 Foundry ................................................ 4
Gambar 1.3 Hasil Produksi ..................................................................................... 7
Gambar 1.4 Lokasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses ............................................... 7
Gambar 1.5 Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses............................................... 8
Gambar 2.1 Klasifikasi Beban Kerja Mental ........................................................ 19
Gambar 2.2 Histogram Perbandingan Indikator NASA-TLX .............................. 20
Gambar 2.3 Perbandingan Nilai WWL Berdasarkan Usia.................................... 21

viii
BAB I
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Berdirinya Perusahaan


PT. Sinar Agung Selalu Sukses (SASS) merupakan perusahaan yang bergerak
di bidang manufaktur pembuatan spare part otomotif berskala nasional. Perusahaan
mulai dibuka dengan sebuah took spare part otomotif di Surakarta, Jawa Tengah,
Indonesia. PT. Sinar Agung Selalu Sukses telah mengembangkan berbagai
komponen otomotif dan produk pengecoran yang menghasilkan kualitas barang
yang sangat baik untuk kepuasan bagi para pelanggan. PT. Sinar Agung Selalu
Sukes menggunakan alat dan mesin yang telah berstandar internasional menjadikan
mutu dari produk terjamin kualitasnya.
PT. Sinar Agung Selalu Sukses beralamat di Dusun Ngalaan, RT 01 / RW 01
Brujul, Jaten, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. PT. Sinar Agung
Selalu Sukses didirikan oleh Bapak Hidayat Tjokro Susanto dengan awal merintis
usaha spare part roda 4 di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta pada tahun 1973. Seiring
berjalannya waktu, usaha spare part semakin berkembang berupa penambahan
lahan dengan memperbesar took dan pengembangan usaha ke kampas spare part.
PT. Sinar Agung Selalu Sukses telah menjadi keagenan untuk busi NGK, Oli Top
1, dan Vanbelt Mitshubishi. Oleh karena itu, pada awal tahun 1990 nama Sinar
Agung Selalu Sukses mulai tercetus.
Perkembangan PT. Sinar Agung Selalu Sukses semakin meluas dengan
membuka retail di pulau Jawa dan Bali yang diantaranya PT. Mias di Denpasar, PT.
Sinar Utama Motor di Semarang, PT. SAS di Surabaya dan Jakarta, perluasan
gudang pada tahun 1994, pengembangan sistem dengan system import pada tahun
1995, serta pembukaan perusahaan cabang diberbagai daerah yang diantaranya di
Medan, Palembang, Pekanbaru, Cirebon, dan Sorong. Pada tahun 1996 pembukaan
pabrik di daerah Gompang, Kartasura dan pada tahun 2000 perluasan area gudang
di Palur yang pada akhirnya digunakan sebagai kantor pusat. Pada tahun yang sama
perusahaan mengalami pemindahan area pabrik ke daerah Brujul, Jaten,
Karanganyar dengan lahan seluas 4 hektar dan saat ini telah berkembang menjadi
14 hektar dengan jumlah total karyawan sebanyak 1080 karyawan.
PT. Sinar Agung Selalu Sukses pada awal peresmian hanya memproduksi
wheel cylinder dan master cylinder. Pada tahun 2001 perusahaan memulai fasilitas
untuk FC/FCD Casting, pengecoran alumunium dan lini mesin secara umum. Pada
tahun 2004 dilakukan penambahan fasilitas untuk plastik injection dan stamping
parts line. Perusahaan pada tahun 2005 menerima sertifikat ISO 9001 : 2000 yang
pada tahun 2008 telah ditingkatkan menjadi ISO 9001 : 2008, dan pada tahun 2011
PT. Sinar Agung Selalu Sukses mendapatkan penghargaan berupa sertifikat untuk
QSEAL yang berupa sertifikat standar spare part dari Sentra Otomotif Indonesia.

1
2

B. Visi Misi dan Tujuan Perusahaan


1. Visi
Menjadi perusahaan penyedia produk dan layanan otomotif dengan jaringan
terluas, merek terkemuka, dan sistem manajemen yang unggul dan terpercaya.
2. Misi
Mengembangkan produk kebanggaan Indonesia dan meningkatkan kualitas
hidup manusianya.
3. Tujuan
Menjadi satu-satunya perusahaan yang menguasai pangsa pasar spare part
Nasional.

C. Struktur Organisasi dan Job Description


1. Struktur Organisasi
PT. Sinar Agung Selalu Sukses dipimpin oleh President Director yang
membawahi 10 Departement. Struktur organisasi dapat dilihat pada gambar 1.1
Struktur Organisasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses.
Board Of Pres Dir Yusuf Budi Santoso
Director Director Wiji Susanto

Department Sales & Inventory Control Prod Plan Tool & Mold Finance &
Procurement Engineering QC / QA Maintenance HR/GA
Head Marketing & W/House Control Production Accounting
Suhodo Kiryadi
David Kiryadi Budhayawan Suwarto Danang Budhayawan Luluk Suwarto
Lilik K Suhodo

Plant Produksi 1 Produksi 2 Produksi 3 Produksi 4


Coordinator Minarno Decky Samijo Saidi
Stivan Andri H Wahyo Bambang
Sigit Teguh A Tomy Sony
Lilik T Franco Wahyu Hamdani

Sales & Inventory Control Material Tool & Mold Finance &
Section Head Produksi 1 Produksi 2 Produksi 3 Produksi 4 Procurement Engineering QC / QA Maintenance HR/GA
Marketing & W/House Planing Production Accounting
Kridayanto Nawanto Samijo Ristanto David Bisri Irwanto Aditya Eni Marwati Uun Tp Yudi Faisal Luluk Lies Aryani
Gino Syaiful Saidi Ihsan Danang
Muhtadi Aris
Wahyono Credo

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses

2. Job Description
Job description menjelaskan uraian masing-masing unit pekerjaan dari suatu
organisasi. Dari struktur organisasi pada gambar 1.1 Strurktur Organisasi PT. Sinar
Agung Selalu Sukses dapat diketahui job description dari masing-masing
departemen, sebagai berikut :
a. President Director
President Director memiliki tugas untuk memimpin dan mengkoordinasikan
semua kegiatan dalam perusahaan, serta melakukan integrasi, sinkronisasi, dan
bertanggung jawab dalam membina hubungan dengan perusahaan lain.
b. Sales & Marketing
Sales marketing memiliki tugas untuk mencari konsumen dan menawarkan
produk perusahaan kepada konsumen, mencari target pasar, melakukan penyusunan
strategi penjualan, menetapkan dan menentukan harga produk, melakukan analisa
penjualan, serta melakukan perekapan data dari hasil penjualan yang telah berhasil
dilakukan.
3

c. Inventory Control & Warehouse


Seorang yang memiliki jabatan pada bagian inventory control & warehouse
memiliki tugas untuk menghitung stok barang pada gudang dengan melakukan
pengecekan yang dilanjutkan dengan perekapan data yang nantinya mendata barang
untuk distribusi, dan menjamin ketersediaan SDM.
d. Procurement
Seorang yang memiliki jabatan pada bagian procurement memiliki tugas untuk
memilih dan menjalin hubungan dengan beberapa supplier, menerapkan teknologi
pengadaan barang yang sesuai dengan perusahaan, mengatur proses pembelian
material dari supplier, dan melakukan evaluasi penilaian kepada beberapa supplier
apakah supplier mampu memenuhi kebutuhan perusahaan dengan baik atau tidak.
e. Engineering
Engineering memiliki tugas untuk melaksanakan pengawasan teknis pada
proses produksi terkait mesin produksi, menjaga kelancaran proses produksi, dan
melakukan pengecekan pada mesin yang digunakan dalam produksi untuk
memastikan mesin dalam keadaan baik.
f. Production Planning and Control
Production Planning and Control memiliki tugas untuk melaksanakan
perencanaan rencana produksi, menyusun dan menetapkan urutan produksi, input
material, alat dan mesin, serta pekerja, melakukan perencanaan workflow
perusahaan, membuat penjadwalan produksi, dan memonitor proses produksi.
g. Tool & Mold Production
Tool & Mold Production memiliki tugas untuk mengembangkan kontrol proses
manufaktur di bagian produksi moulding, mempersiapkan proses pembuatan
cetakan, dan menguji coba produk baru.
h. Quality Control (QC) / Quality Assurance (QA)
Kepala bagian QC/QA memiliki tugas untuk mengendalikan kualitas produk
dengan memeriksa produk ketika selama dan setelah produksi, serta melakukan
monitoring produksi untuk menjamin kualitas dari produk.
i. Maintenance
Maintenance bertugas untuk menyusun rencana pemeliharaan peralatan dan
mesin produksi, melakukan perbaikan mesin rusak, mengawasi proses
pemeliharaan peralatan mesin produksi, dan mengajukan kebutuhan spare part atau
penunjang peralatan mesin lainnya.
j. Finance & Accounting
Kepala bagian finance dan accounting bertanggung jawab dalam pengelolaan
keuangan perusahaan seperti pembayaran pajak, gaji, tagihan, dan membuat
laporan keuangan perusahaan.
k. Human Resource (HR) / General Affair (GA)
HR/GA bertugas dalam perekrutan karyawan baru, melakukan pelatihan dan
pengembangan karyawan, pengkoordinasian pengadaan barang dan fasilitas
perusahaan, serta pemantauan perawatan secara menyuluruh aset perusahaan.
4

D. Sistem Produksi dan Peta Proses Produksi


a. Sistem Produksi
PT. Sinar Agung Selalu Sukses dalam sistem produksinya menerapkan sistem
make to order. Make to order merupakan suatu sistem, yang mana perusahaan akan
memproduksi produk jika ada pesanan dari konsumen. Jenis sistem make to order
ini terjadi ketika perusahaan menerima permintaan dari konsumen yang kemudian
perusahaan mengolah jenis permintaan yang dibutuhkan oleh konsumen dan
dilakukan proses produksi. PT. Sinar Agung Selalu Sukses ini menerima
permintaan pesanan dari perusahaan lain sebagai bentuk kerjasama untuk
memenuhi kebutuhan perusahaan, yang diantaranya PT. ESEMKA, PT. Astra
Daihatsu Motor, PT. Hino Motor Indonesia, PT. Damar Bayu, PT. Isuzu Astra
Motor, dan PT. Kubota.
b. Peta Proses Produksi
Produksi pada PT. Sinar Agung Selalu Sukses meliputi beberapa bagian, yang
mana keseluruhan terdapat 20 plant dengan 18 plant khusus untuk produksi. Setiap
18 plant memproduksi produk yang berbeda-beda berdasarkan jenis. Salah satu dari
18 plant produksi yang menjadi fokus penelitian yaitu plant 3 yang berupa plant
foundry atau iron casting yang memproduksi spare part berupa tromol, cylinder
pipe, piston dalam, stay manifold, disc brake, dan flange. Untuk peta proses
produksi pada plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses dapat dilihat pada
gambar 1.2 Peta Proses Produksi Plant 3 Foundry.

Gambar 1.2 Peta Proses Produksi Plant 3 Foundry


5

Dari gambar 1.2 Peta Proses Produksi Plant 3 Foundry dapat diuraikan
berdasarkan urutan proses produksi, sebagai berikut :
a. Permintaan Konsumen
Pada tahap ini didapatkan data permintaan produk dari konsumen yang telah
diolah oleh marketing berdasarkan purchase order dan back order yang mampu
diproduksi oleh perusahaan. Setelah itu data dari marketing diserahkan ke bagian
foundry plant 3 sesuai daftar produk yang akan dibuat.
b. Desain & Perancangan
Pada proses ini dilakukan desain produk menggunakan software berdasarkan
permintaan desain konsumen yang telah diterima, setelah itu dilakukan uji coba
prototype desain yang dibuat. Jika telah sesuai, cetakan desain awal dibuat dengan
mesin CNC untuk dasar pembuatan cetakan utama dari pasir.
c. Persiapan Pekerjaan & Material
Proses tahap ini dilakukan persiapan mengenai penjadwalan alat, mesin dan
pekerja, serta pemenuhan kebutuhan material dalam produksi. Penjadwalan alat,
mesin, dan pekerja dibuat oleh bagian PPC dan maintenance yang disesuaikan
berdasarkan kapasitas mesin dan jumlah pekerja dalam proses produksi.
d. Peleburan
Proses peleburan menggunakan mesin melting automatic dengan kapasitas 1,6
ton dan dengan proses pembakaran selama 2 jam yang dilakukan pada jam 09.00
hingga jam 11.00 untuk shift pertama, shift kedua jam 17.00 – 19.00, shift ketiga
jam 02.00 - 04.00, serta untuk komposisi material didasarkan dari jenis produk,
untuk FC dengan komposisi berupa scrap, carburizer, ferro silicon, ferro mangan,
innoculant, dan slag removal. Sedangkan untuk jenis FCD hanya ada penambahan
nodularizer dan tanpa ferro mangan. Untuk persentase komposisi didasarkan dari
berat bruto produk yang akan dibuat.
e. Pengolahan Pasir Cetak
Proses pengolahan pasir untuk cetakan dilakukan dengan menggunakan mesin
mixer dan menggunakan tipe pasir greensand dengan beberapa tambahan silika,
bentonit, silacoal, dan air. Pada proses pengolahan pasir memakan waktu selama 1-
2 jam untuk mendapatkan kualitas pasir cetakan dengan kualitas yang baik. Untuk
mengalirkan pasir dari mesin mixer masuk kedalam mesin moulding autometic
menggunakan belt conveyor. Pada proses perpindahan pasir dari mesin mixer ke
dalam mesin moulding automatic diberikan penyemprotan air sebagai bentuk
mengurangi kadar panas pada pasir untuk meminimalisir terjadinya defect pada
cetakan pasir.
f. Pembuatan Pola
Proses pembuatan pola cetakan dilakukan berdasarkan hasil dari pembuatan
desain yang telah dibuat sebelumnya. Untuk pembuatan pola sebagai dasar pola
cetakan dibuat di luar plant 3 dengan menggunakan mesin CNC, yang mana hasil
pembuatan cetakan akan dimasukkan ke dalam mesin moulding automatic untuk
membuat cetakan dari pasir sesuai dengan cetakan awal sesuai desain yang dibuat.
6

g. Pembuatan Cetakan
Pada proses pembuatan cetakan menggunakan mesin moulding automatic yang
mana pasir akan dipress dengan tekanan dan suhu tertentu. Setelah itu cetakan
bergerak menuju ke proses penuangan menggunakan conveyor. Untuk satu shift
ditargetkan menghasilkan 110 cetakan.
h. Pouring
Proses pouring merupakan proses penuangan cairan hasil peleburan. Sebelum
penuangan ke dalam cetakan, dilakukan penambahan magnesium treatmen untuk
mengurangi kadar sulfur dalam hasil leburan, dan disertai pengambilan turbulensi
pada hasil leburan yang mana dapat mengakibatkan defect pada produk akibat
adanya gas yang terjebak dalam leburan.
i. Bongkar Pasir
Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin coling drum yang berputar
untuk membongkar cetakan pasir dari produk.
j. Cutting
Proses cutting merupakan proses pemotongan hasil produk yang masih
menyatu satu sama lain.
k. Shot Blast
Pada tahap ini produk hasil dari cutting dimasukkan kedalam mesin sublesting
dengan metode penembakan bola baja yang bertujuan untuk membersihkan produk
dari pasir cetakan yang masih menempel.
l. Check (OK/NG)
Proses ini merupakan proses inspeksi awal untuk menentukan produk apakah
terdapat defect atau tidak.
m. Grinding
Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin gerinda meja dan gerinda
tangan untuk merapikan produk jika proses pengecekan awal aman dan juga untuk
merapikan produk defect ringan, seperti merapikan goresan, merapikan hasil cutting
yang masih belum maksimal.
n. Quality Control (QC)
Pada tahap ini merupakan proses inspeksi terakhir yang mana dapat ditentukan
produk layak untuk ke tahap selanjutnya atau tidak, jika tidak produk akan kembali
ke proses peleburan. Jika produk lulus pengecekan, produk langsung menuju tahap
repair untuk merapikan produk secara maksimal.
o. Repair
Proses repair merupakan proses untuk merapikan hasil grinding yang kurang
maksimal, dikarenakan proses repair merapikan bagian dari produk secara
mendetail hingga kebagian terkecil.
p. Pengiriman
Pada tahap pengirman ini merupakan tahap terakhir dalam produksi pada plant
3, yang mana produk hasil dari plant 3 langsung dikirim ke plant machining dan ke
gudang barang semi.
7

E. Hasil Produksi dan Pemasarannya


1. Hasil Produksi
PT. Sinar Agung Selalu Sukses memroduksi spare part otomotif setiap
harinya, hasil produksi dari perusahaan dapat digolongkan menjadi 5 kategori
produk yaitu produk pengecoran untuk iron casting, alumunium casting, plastic
injection, rubber, dan machining. Untuk salah satu hasil produk yang berupa
produk dengan kategori iron casting dapat dilihat pada gambar 1.3 Hasil Produksi.

Gambar 1.3 Hasil Produksi

2. Pemasaran
Dalam proses pemasaran produk PT. Sinar Agung Selalu Sukses bekerjasama
dengan beberapa perusahaan rakitan kendaraan dan memasarkan produknya ke
seluruh Indonesia. PT. Sinar Agung Selalu Sukses memiliki beberapa outlet
terbesar di Indonesia, hal tersebut dikarenakan PT. Sinar Agung Selalu Sukses
tergabung dalam satu grup perusahaan PT. SAS. PT. Sinar Agung Selalu Sukses
sendiri memiliki beberapa pelanggan tetap, yang diantaranya PT. Sinar Agung
Prasadikindo, PT. ESEMKA, PT. Astra Daihatsu Motor, PT. Hino Motor Indonesia,
PT. Damar Bayu, PT. Isuzu Astra Motor, dan PT. Kubota. Dan untuk media
pemasaran, perusahaan menggunakan website, merk dagang, sponsorship, dan
promosi.

F. Lokasi dan Layout Perusahaan


1. Lokasi Perusahaan
PT. Sinar Agung Selalu Sukses berlokasi di Dusun Ngalasan, RT 01 / RW 01
Brujul, Jaten, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Untuk lokasi
perusahaan dapat dilihat pada gambar 1.4 Lokasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses.

Gambar 1.4 Lokasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses


8

2. Layout Perusahaan
Dari gambar 1.4 Lokasi PT. Sinar Agung Selalu Sukses dapat dibuat layout
perusahaan yang bertujuan untuk memperjelas tata letak perusahaan. Untuk layout
dapat dilihat pada gambar 1.5 Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses.

Gambar 1.5 Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses

Berdasarkan gambar 1.5 Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses dapat
dijelaskan secara rinci mengenai poin-poin lokasi yang ditunjuk pada gambar.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.1 Keterangan Layout PT. Sinar
Agung Selalu Sukses.
Tabel 1.1 Keterangan Layout PT. Sinar Agung Selalu Sukses
No Keterangan No Keterangan No Keterangan
Plant 16 : Plant 8 : Plastic
1 Gerbang 11 21
Discpad Injection
Plant 15 : Spring
2 Pos Satpam 12 22 Plant 7 : CNC 2
Pin
Plant 14 : Punch
3 Mushola 13 23 Parkiran Staff
& Stamping
Parkiran
4 Titik Kumpul 14 24 Plant 6 : CNC 1
Karyawan
5 Office 15 Free Space 25 Plant 5 : Tromol
Plant 4 :
6 Kantin 16 Plant 13 : GBB 26
Kamayama
Plant 12 : GBJ
7 Plant 20 : OEM 17 27 Plant 1 : Foundry
Semi
Plant 11 :
8 Plant 19 : OEM 18 28 Plant 2 : Foundry
Forging Line
Plant 10 :
9 Plant 18 : GSF 19 29 Plant 3 : Foundry
Dongkrak
Plant 9 :
10 Plant 17 : Rantai 20 30 Gudang Reject
Nakayama
9

G. Personalia
1. Status Karyawan
Status karyawan PT. Sinar Agung Selalu Sukses dibagi menjadi dua, yaitu
karyawan tetap dan karyawan kontrak.
2. Penggajian Karyawan
Penggajian karyawan dilakukan diawal bulan. Untuk nominal gaji yang
diterima didasari atas jabatan dari setiap karyawan dan disesuaikan dengan UMK
Kabupaten Karanganyar.
3. Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan karyawan ditunjang dengan beberapa fasilitas, yang berupa
BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan, tunjangan hari raya (THR), serta
disediakannya mess.
4. Pembagian Jam Kerja Karyawan
Pembagian jam kerja karyawan telah diatur oleh perusahaan yang terdiri dari
tiga shift, untuk hari sabtu perusahaan hanya menjadwalkan satu shift, dan untuk
hari minggu perusahaan libur untuk produksi. Pembagian jadwal PT. Sinar Agung
Selalu Sukses dapat dilihat pada tabel 1.2 Pembagian Jam Kerja Karyawan.
Tabel 1.2 Pembagian Jam Kerja Karyawan
Shift Jam Masuk Istirahat Jam Keluar
1 07.00 12.00 – 13.00 15.00
2 15.00 20.00 -21.00 23.00
3 23.00 04.00 – 05.00 07.00

5. Rekruitmen Karyawan
Rekruitmen karyawan dilakukan dengan membuka lowongan kerja dan
melakukan seleksi karyawan berdasarkan kebutuhan masing-masing departemen.
6. Pelatihan dan Pembinaan Karyawan
Karyawan baru dan karyawan yang belum memiliki skill akan diberikan
pelatihan dan pembinaan selama 3 bulan sesuai dengan departemen yang ditempati.
7. Kegiatan Kerja
PT. Sinar Agung Selalu Sukses menerapkan prinsip kerja 5R dalam setiap
kegiatan kerjanya, yaitu Ringkes, Rapi, Resik, Rawat, Rajin.

H. Identifikasi Permasalahan Umum dan Permasalahan Khusus


1. Permasalahan Umum
PT. Sinar Agung Selalu Sukses merupakan perusahaan yang bergerak dibidang
manufaktur pembuatan spare part otomotif. Pada PT. Sinar Agung Selalu Sukses
memiliki beberapa permasalahan dalam proses bisnisnya yang mengakibatkan
adanya keterlambatan dalam pencapaian target produksi yang telah ditetapkan.
Adapun beberapa permasalahan umum dari PT. Sinar Agung Selalu Sukses
berdasarkan pandangan peneliti, sebagai berikut :
10

a. Tenaga Kerja
Pekerja PT. Sinar Agung Selalu Sukses masih minim kesadaran dalam
penggunaan pakaian APD sesuai standar keselamatan, yang mana pekerja tidak
menggunakan kacamata, helm produksi, sarung tangan, earplug, dan bahkan
pekerja ada yang menggunakan sendal jepit. Selain itu juga banyak pekerja yang
resign dikarenakan pekerja mengalami kelelahan yang diakibatkan tingkat beban
kerja berlebih yang diterima pekerja. Untuk kelelahan kerja sendiri memiliki
beberapa kriteria yang diantaranya kelelahan bersifat fisik dan psikis, mudah
merasa lelah, penurunan motivasi, penurunan produktivitas kerja, dan penurunan
kerja fisik (Agustinawati et al., 2019).
b. Lingkungan Kerja
Dalam lingkungan kerja khususnya pada produksi iron casting plant 3
memiliki permasalahan yang berupa temperatur ruangan yang tinggi hingga
mencapai 38C, yang mengakibatkan banyak pekerja menggunakan kaos lengan
pendek atau kaos oblong. Kebisingan dari mesin yang digunakan melebihi nilai
ambang batas (NAB). Kebisingan menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.
13 Tahun 2011 adalah 85 dB dengan waktu maksimum 8 jam/hari. Adanya
pencahayaan ruangan 217 lux di bawah ketetapan Keputusan Mentri Tenaga Kerja
No. 5 Tahun 2018 sebesar 300 lux pada jenis pekerjaan teliti dengan mesin. Serta
adanya pasir/debu yang bertebaran akibat sisa pengeluaran dari mesin sublesting
dan moulding automatic yang dapat mengangguan pernafasan pekerja.
c. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Pada PT. Sinar Agung Selalu Sukses dahulunya terdapat devisi K3. Seiring
bertambahnya waktu devisi K3 dihapus dari organisasi perusahaan, oleh karena itu
tidak adanya penangan mengenai K3. Pada perusahaan hanya terdapat aturan
penggunaan pakaian APD mulai dari helm produksi, kacamata, earplug, appron,
sarung tangan, dan sepatu produksi. Akan tetapi perusahaan mengganti helm
produksi dengan menggunakan topi, dan perusahaan hanya menyediakan APD
berupa sarung tangan dan kacamata bagi pekerjanya.
d. Mesin
PT. Sinar Agung Selalu Sukses menggunakan mesin yang telah
terkomputerisasi. Pada plant 3 foundry menggunakan 8 mesin yang diantaranya
overhead crane, mixer, coling drum, moulding automatic, melting automatic,
sublesting, conveyor, dan mesin core dalam proses produksi, yang mana salah satu
dari kedelapan mesin yaitu mesin conveyor selama 1 minggu produksi mengalami
kerusakan sebanyak 3 kali, hal tersebut dikarenakan conveyor yang digunakan
conveyor troli yang telah digunakan selama 10 tahun. Dan conveyor yang tidak
dapat bergerak secara otomatis dilakukan dorongan secara manual oleh tenaga
manusia. Hal ini membutuhkan perhatian lebih mengenai perawatan mesin secara
berkala oleh perusahaan.
11

2. Permasalahan Khusus
Dari penelitian pada plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses dilakukan
pengukuran suara kebisingan, pencahayaan, dan temperatur ruang produksi plant
3. Pada pengukuran suara kebisingan menggunakan alat sound level meter selama
3 hari, yang mana menghasilkan nilai kebisingan masing-masing sebesar 89 dB, 87
dB, dan 92 dB. Dari ketiga hasil pengukuran yang telah didapat bertentangan
dengan Keputusan Mentri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011 yang menetapkan nilai
ambang batas (NAB) kebisingan sebesar 85 dB dengan waktu maksimum 8 jam
kerja/hari. Dari Kepututan Mentri Tenaga Kerja No. 5 Tahun 2018 untuk
pencahayaan dengan jenis pekerjaan teliti dengan mesin memerlukan pencahayaan
sebesar 300 lux pada area kerja. Setelah mengukur pencahayaan dengan
menggunakan alat lux meter didapatkan hasil pada plant 3 foundry sebesar 217 lux
pada shift 1, yang mana hasil tersebut kurang dari tingkat pencahayaan yang telah
ditetapkan sebesar 300 lux. Untuk pengukuran temperatur plant 3 foundry dengan
alat termometer ruang yang telah terpasang pada dinding dengan pengukuran
selama 3 hari dalam kondisi cuaca cerah pada shift 1, didapatkan hasil masing-
masing sebesar 38C, 36C, dan 37C, yang mana suhu tersebut lebih tinggi
dibandingkan pada Keputusan Mentri Kesehatan No. 1405 Tahun 2002 yaitu suhu
ruang industri normal dalam rentang 18C - 30C. Selain itu, terdapatnya partikel
debu yang bertebaran akibat proses pembuatan cetakan dari pasir yang dapat
mengganggu sistem pernafasan pekerja. Dari keempat faktor utama yang berkaitan
dengan lingkungan kerja dalam produksi plant 3 foundry tersebut mampu
menurunkan produktivitas pekerja.
Dalam bulan september 2022, plant 3 foundry terdapat 1506 pcs barang reject
(NG) yang mengakibatkan perusahaan belum memenuhi target pesanan sebanyak
9410 pcs, membuat perusahaan menjadwalkan ulang proses produksi pada hari
sabtu dan minggu dengan produksi secara full time. Dengan penambahan waktu
kerja dan disertai keempat faktor (kebisingan, pencahayaan, suhu, dan debu) plant
3 foundry yang tidak sesuai dengan Kepmenaker dan Kepmenkes mengenai ruang
kerja industri manufaktur, mengakibatkan tingginya tingkat beban kerja mental
pekerja dalam menjalankan pekerjaannya yang mengakibatkan hilangnya
konsentrasi pekerja, mudah mengalami kelelahan, timbulnya cidera otot tubuh,
kurangnya kewaspadaan dalam bekerja, stress, dan hilangnya motivasi dalam
bekerja. Untuk mengetahui tingkat beban kerja mental di PT. Sinar Agung Selalu
Sukses peneliti menggunakan metode NASA-TLX (National Aeromatics and
Space Administration Task Load Index).
BAB II
ANALISIS PERMASALAHAN KHUSUS

A. Pendahuluan
Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu pesat,
membuat industri berlomba-lomba dalam menciptakan suatu produk terbarukan
untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan juga menjadikan suatu kepercayaan
masyarakat terhadap produk yang tercipta. Dalam proses terciptanya tujuan
perusahaan sebagai kepercayaan masyarakat, sumber daya manusia merupakan
faktor terpenting dalam pencapaian tujuan tersebut. Sumber daya manusia
merupakan suatu aset penting bagi perusahaan, apabila suatu karyawan memiliki
performasi kerja yang baik, maka akan memberikan dampak positif bagi
perusahaan dalam produktivitasnya menciptakan suatu produk dengan kualitas
terbaik (Hasibuan & Banjarnahor, 2019).
Perusahaan memberikan sarana fasilitas yang terbaik bagi pekerjanya, yang
mana perusahaan harus mampu memastikan bahwa pekerjanya berada dalam
kondisi aman dan nyaman ketika sedang menjalani pekerjaan. Ergonomi sebagai
ilmu mengenai bentuk hubungan pekerja dengan pekerjaannya, yang menempatkan
pekerja atau manusia sebagai aspek utama berdasarkan kemampuan, kecakapan,
dan batasan pekerja. Hal tersebut didasari atas hubungan fisik antara manusia
dengan fasilitas kerja (Surya et al., 2018).
PT. Sinar Agung Selalu Sukses merupakan perusahaan manufaktur yang
bergerak dalam pemroduksian spare part otomotif. Produk yang dihasilkan
digolongkan menjadi 5 kategori yaitu produk iron casting, alumunium casting,
plastic injection, rubber, dan machining. Proses produksi dilakukan dengan 3 shift,
untuk hari sabtu setengah hari produksi dan untuk hari minggu atau hari libur
nasional perusahaan tidak melakukan produksi. Dalam bulan september 2022, plant
3 foundry terdapat 1506 pcs barang reject (NG) yang mengakibatkan perusahaan
belum memenuhi target pesanan sebanyak 9410 pcs, maka untuk hari sabtu dan
minggu dapat dilakukan produksi secara full time.
Dari penelitian pada plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses dilakukan
pengukuran suara kebisingan, pencahayaan, dan temperatur ruang produksi plant
3. Pada pengukuran suara kebisingan menggunakan alat sound level meter selama
3 hari, yang mana menghasilkan nilai kebisingan masing-masing sebesar 89 dB, 87
dB, dan 92 dB. Dari ketiga hasil pengukuran yang telah didapat bertentangan
dengan Keputusan Mentri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011 yang menetapkan nilai
ambang batas (NAB) kebisingan sebesar 85 dB dengan waktu maksimum 8 jam
kerja/hari. Pada pengukuran pencahayaan dengan menggunakan alat lux meter
didapatkan hasil sebesar 217 lux pada shift 1, yang mana tidak sesuai dengan
Keputusan Mentri Tenaga Kerja No. 5 Tahun 2018 untuk pencahayaan dengan jenis
pekerjaan teliti dengan mesin memerlukan pencahayaan sebesar 300 lux pada area

12
13

kerja. Untuk pengukuran temperatur plant 3 foundry dengan alat termometer ruang
yang telah terpasang pada dinding dengan pengukuran selama 3 hari dalam kondisi
cuaca cerah pada shift 1, didapatkan hasil masing-masing sebesar 38C, 36C, dan
37C, yang mana suhu tersebut lebih tinggi dibandingkan pada Keputusan Mentri
Kesehatan No. 1405 Tahun 2002 yaitu suhu ruang industri normal dalam rentang
18C - 30C. Selain itu, terdapatnya partikel debu yang bertebaran akibat proses
pembuatan cetakan dari pasir yang dapat mengganggu sistem pernafasan pekerja.
Dari keempat faktor utama yang berkaitan dengan lingkungan kerja dalam produksi
plant 3 foundry tersebut memengaruhi beban kerja mental pekerja.
Beban kerja dapat diartikan sebagai perbedaan antara kemampuan pekerja
dengan tuntutan pekerjaan yang dilakukan. Yang mana jika kemampuan pekerja
lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan, maka mengakibatkan perasaan bosan
dalam menjalani pekerjaanya. Dan sebaliknya, jika kemampuan pekerja lebih
rendah daripada tuntutan pekerjaan, maka mengakibatkan kelelahan yang berlebih
(Hasibuan & Banjarnahor, 2019). Beban kerja sendiri muncul berdasarkan aktivitas
manusia berupa kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak) yang saling mendominasi
satu sama lain (Meri & Ahmad, 2020).
Dalam beban kerja mental terdapat empat faktor yang dapat menjadi penyebab
tambahan suatu beban mental kerja, antara lain :
1. Faktor fisik, yang berupa bahan baku, peralatan, pencahayaan, dan temperatur.
2. Faktor kimia, yang berupa debu, cairan pelarut, cat, dan bahan kimia padat.
3. Faktor fisiologis, yang berupa kontruksi mesin, sikap, dan cara kerja.
4. Faktor psikologis, yang berupa suasana kerja, pemilihan kerja, dan waktu kerja.
Dari keempat faktor tersebut yang dialami pekerja, adapun bentuk yang dapat
mengganggu daya kerja pekerja, yaitu :
1. Kebisingan, mengganggu daya ingat dan konsentrasi pekerja.
2. Intensitas cahaya minim mengakibatkan pekerja mengalami kelelahan mata.
3. Debu yang terhirup dapat menimbulkan masalah pernafasan bagi pekerja.
4. Sikap badan yang salah atau fasilitas kerja yang kurang ergonomis
mengakibatkan mudahnya mengalami kelelahan (Sari, 2017).
NASA-TLX (National Aeromatics and Space Administration Task Load Index)
merupakan metode yang digunakan untuk mengukur dan menganalisa beban kerja
mental yang dirasakan oleh pekerja dalam proses pekerjaannya. Metode NASA-
TLX dikembangkan oleh Sandra G dan Lowell E. Staveland pada tahun 1981.
Metode ini menggunakan enam skala faktor yang berupa Mental Demand (MD),
Physical Demand (PD), Temporal Demand (TD), Performance (P), Effort (EF), dan
Frustration Level (FR) (Febrilliandika, 2020).
Penelitian ini difokuskan kepada pekerja plant 3 foundry untuk mengukur dan
menganalisa beban kerja mental menggunakan metode NASA-TLX dengan
penyebaran kuesioner, nantinya akan diketahui faktor paling dominan yang
memengaruhi beban kerja mental pekerja, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan
evaluasi bagi perusahaan.
14

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian pengukuran beban kerja mental pada pekerja
plant 3 foundry dengan menggunakan metode NASA-TLX, sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan pekerja dalam
melakukan pekerjaan di plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses.
2. Mengukur 6 indikator beban kerja mental yang dialami oleh pekerja plant 3
foundry.
3. Menganalisis nilai rata-rata WWL sebagai dasar menentukan faktor paling
dominan dalam memengaruhi tingkat beban kerja mental pekerja plant 3
foundry.

C. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan dua data sebagai dasar penelitian, yang
pertama data primer berupa data hasil penyebaran kuesioner NASA-TLX, dan
kedua yaitu data sekunder berupa data yang diperoleh dari studi literatur, data
mengenai perusahaan, dan jurnal yang berkaitan dengan beban kerja mental.
NASA-TLX sendiri merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengukur dan
menganalisis beban kerja mental yang dirasakan oleh pekerja dalam proses
pekerjaannya (Febrilliandika, 2020). Dalam mengukur beban kerja mental pekerja
dengan metode NASA-TLX dapat dilakukan beberapa langkah, sebagai berikut :
1. Penjelasan indikator beban kerja mental NASA-TLX
Menurut Hancock dan Meshkati (1988), terdapat 6 indikator yang diukur dalam
metode NASA-TLX berupa kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu,
performance, usaha, dan frustasi (Putri & Handayani, 2019). Untuk penjelasan 6
indikator dapat dilihat pada tabel 2.1 Penjelasan Indikator NASA-TLX.
Tabel 2.1 Penjelasan Indikator Beban Kerja Mental NASA-TLX
Skala Keterangan
Kebutuhan Seberapa besar aktivitas mental dan perspektual yang dibutuhkan
Mental (KM) untuk melihat, mengingat, dan mencari dalam pekerjaan.
Seberapa besar aktivitas fisik yang dibutuhkan untuk melakukan
Kebutuhan
pekerjaan, seperti mendorong, menarik, mengontrol putaran, dan
Fisik (KF)
sebagainya.
Seberapa besar tekanan yang berkaitan dengan waktu yang
Kebutuhan
dirasakan selama melakukan pekerjaan. Apakah pekerjaan
Waktu (KW)
perlahan atau santai atau cepat dan melahkan.
Performance Seberapa besar keberhasilan dalam melakukan pekerjaan dan
(P) seberapa puas dengan hasil kerja.
Tingkat Seberapa besar usaha yang dilakukan dalam melakukan atau
Usaha (TU) menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Seberapa tidak aman, putus asa, tersinggung, terganggu,
Tingkat
dibandingkan dengan perasaan aman nyaman, dan kepuasan diri
Frustasi (TF)
yang dirasakan.
15

2. Pembobotan
Pada tahap ini, responden diminta untuk memilih dan memberi tanda centang
pada salah satu dari dua indikator yang dirasa lebih dominan menimbulkan beban
kerja mental terhadap pekerjaan yang dilakukan. Pembobotan ini berupa kuesioner
yang terdiri dari 15 indikator perbandingan berpasangan. Untuk total perbandingan
berpasangan keseluruhan dimensi yaitu 15. Dari kuesioner inilah yang akan
dihitung jumlah tally sebagai bobot untuk setiap indikator yang dirasa berpengaruh
(Pramesti & Suhendar, 2021).
3. Pemberian Rating
Pada tahap selanjutnya ini, responden diminta untuk melingkari salah satu
angka dari setiap indikator dengan skala 0 hingga 100 yang mana angka terkecil
memiliki pengaruh kecil dan untuk angka yang terbesar memiliki pengaruh besar
mengenai beban kerja mental yang dialami pekerja dalam melakukan pekerjaannya
(Putri & Handayani, 2019). Menurut Pradhana & Suliantoro (2018), data dari tahap
pemberian rating digunakan untuk memperoleh beban kerja (mean weighted
workload) yang sebagai berikut :
a. Mengukur Nilai Produk
Nilai produk didapat dari hasil perkalian antara data rating dikali dengan bobot
faktor untuk masing-masing indikator. Untuk perhitungan nilai produk harus
disesuaikan berdasarkan nilai rating indikator dan bobot faktor dengan indikator
yang sama. Maka dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD, P, FR,
dan EF).
Produk = rating * bobot faktor (1)
b. Mengukur Weighted Workload (WWL)
Nilai WWL diperoleh dari hasil penjumlahan dengan menjumlahkan keenam
nilai produk yang telah dihitung sebelumnya.
WWL = Produk (2)
c. Menghitung Rata-rata WWL
Nilai rata-rata WWL didapatkan dari hasil pembagian antara WWL dengan
bobot total atau tally
𝑊𝑊𝐿
Rata-rata WWL = (3)
15
d. Klasifikasi Penilaian Beban Kerja Mental
Tahap selanjutnya yaitu dengan mengklasifikasikan nilai yang didapat
berdasarkan kategori pada tabel 2.2 Kategori Beban Kerja Mental
Tabel 2.2 Kategori Beban Kerja Mental
Kategori Skala
Rendah 10-33
Sedang 34-56
Tinggi 57-79
Sangat Tinggi 80-100
(Pradhana & Suliantoro, 2018)
16

D. Hasil dan Pembahasan


1. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada 15
pekerja dibagian plant 3 foundry PT. Sinar Agung Selalu Sukses. Kuesioner yang
dibagikan merupakan kuesioner dengan metode NASA-TLX yang berisikan
penginputan nama, jenis pekerjaan, dan usia pekerja, serta terdiri dari dua tahap,
yaitu pembobotan dan pemberian rating.
a. Pembobotan
Pada proses pembobotan, responden diarahkan untuk memilih salah satu dari
dua indikator yang dirasakan lebih berpengaruh mengenai beban mental responden
terhadap pekerjaan yang dilakukan dengan memberikan tanda centang pada tabel
didalam kuesioner pembobotan. Terdapat 15 pasang indikator yang menjadi dasar
nilai bobot indikator beban mental. Hasil pemilihan bobot indikator beban mental
dapat dilihat pada tabel 2.3 Data Pembobotan Pekerja Plant 3 Foundry.
Tabel 2.3 Data Pembobotan Pekerja Plant 3 Foundry
TALLY Total
No Usia Nama Bagian Gender
KM KF KW P TU TF Tally
Mesin
1 39 Tugiman L 3 5 2 2 3 0 15
Core
Bukasan
2 41 Finishing L 4 4 1 2 3 1 15
Efendi
3 22 Faishal Finishing L 5 4 2 1 2 1 15
4 21 Zainal Finishing L 4 3 1 3 4 0 15
5 21 Febri Finishing L 4 3 2 2 3 1 15
6 50 Suparno Melting L 4 2 4 3 2 0 15
7 24 Eko Melting L 3 2 5 2 2 1 15
8 22 Yayan Moulding L 3 2 3 3 4 0 15
9 39 Giono Sublesting L 4 3 2 3 3 0 15
Heri
10 49 Sublesting L 3 3 2 3 3 1 15
Kuswanto
11 40 Sriyono Pouring L 4 3 2 2 1 3 15
12 27 Agus Charging L 3 4 3 2 3 0 15
13 20 Rio Bongkar L 4 3 1 2 5 0 15
14 54 Sutarman Repair L 4 4 1 2 4 0 15
15 50 Sunardi Mixer L 2 3 2 3 3 2 15

b. Pemberian Rating
Setelah dilakukan proses pembobotan, tahap selanjutnya yaitu pemberian
rating oleh responden. Pada tahap pemberian rating, diberikan skala 0-100 untuk
masing-masing indikator sesuai dengan beban kerja mental yang dialami oleh
responden dalam pekerjaannya. Hasil pemberian rating responden dapat dilihat
pada tabel 2.4 Data Rating Indikator Pekerja Plant 3 Foundry.
17

Tabel 2.4 Data Rating Indikator Pekerja Plant 3 Foundry


Rating
No Nama Bagian
KM KF KW P TU TF
1 Tugiman Mesin Core 90 95 60 60 80 15
2 Bukasan Efendi Finishing 95 95 65 90 95 45
3 Faishal Finishing 100 95 75 80 80 30
4 Zainal Finishing 95 80 70 80 85 25
5 Febri Finishing 95 90 70 70 80 40
6 Suparno Melting 100 70 95 90 75 25
7 Eko Melting 90 75 95 75 80 60
8 Yayan Moulding 65 40 70 50 85 20
9 Giono Sublesting 75 90 70 80 85 5
10 Heri Kuswanto Sublesting 85 80 80 75 85 30
11 Sriyono Pouring 95 90 85 80 75 80
12 Agus Charging 55 80 40 25 65 10
13 Rio Bongkar 90 85 35 75 100 5
14 Sutarman Repair 85 85 70 80 95 20
15 Sunardi Mixer 65 80 50 75 80 35

c. Intepretasi Hasil Penilaian


Dalam pengolahan data dilakukan proses perhitungan yang berupa menghitung
nilai produk yang didapatkan dari hasil perkalian antara rating dikalikan dengan
bobot dari setiap keenam indikator. Setelah didapatkan hasil perhitungan nilai
produk, tahap kedua dilanjutkan dengan mengukur nilai dari WWL (Weighted
Workload) yang didapatkan dari hasil penjumlahan keenam nilai produk yang telah
dihitung sebelumnya. Selanjutnya tahap ketiga berupa menghitung nilai rata-rata
dari WWL (Weighted Workload) dengan membagikan nilai WWL dengan total
bobot atau tally yaitu sebesar 15. Setelah didapatkan hasil perhitungan rata-rata
WWL kemudian dilanjutkan dengan pengklasifikasian hasil rata-rata WWL
kedalam empat kategori, yaitu 10-33 untuk kategori rendah, 34-56 untuk kategori
sedang, 57-79 untuk kategori tinggi, dan 80-100 untuk kategori sangat tinggi. Maka
dapat diketahui intensitas kerja atau beban mental yang dialami pekerja dalam
melakukan pekerjaanya untuk mencapai tujuan dari suatu perusahaan (Azwar &
Fauziah, 2019). Untuk hasil pengolahan dan perhitungan data dengan metode
NASA-TLX yang telah dilakukan, dapat dilihat pada tabel 2.5 Hasil Pengolahan
Data NASA-TLX Pekerja Plant 3 Foundry.
18

Tabel 2.5 Hasil Pengolahan Data NASA-TLX Pekerja Plant 3 Foundry


WWL Average Kategori
No Nama Total
KM KF KW P TU TF Of WWL Kerja
Sangat
1 Tugiman 270 475 120 120 240 0 1225 81,67
Tinggi
Bukasan Sangat
2 380 380 65 180 285 45 1335 89
Efendi Tinggi
Sangat
3 Faishal 500 380 150 80 160 30 1300 86,67
Tinggi
Sangat
4 Zainal 380 240 70 240 340 0 1270 84,67
Tinggi
Sangat
5 Febri 380 270 140 140 240 40 1210 80,67
Tinggi
Sangat
6 Suparno 400 140 380 270 150 0 1340 89,33
Tinggi
Sangat
7 Eko 270 150 475 150 160 60 1265 84,33
Tinggi
8 Yayan 195 80 210 150 340 0 975 65 Tinggi
Sangat
9 Giono 300 270 140 240 255 0 1205 80,33
Tinggi
Heri
10 255 240 160 225 255 30 1165 77,667 Tinggi
Kuswanto
Sangat
11 Sriyono 380 270 170 160 75 240 1295 86,33
Tinggi
12 Agus 165 320 120 50 195 0 850 56,67 Sedang
Sangat
13 Rio 360 255 35 150 500 0 1300 86,67
Tinggi
Sangat
14 Sutarman 340 340 70 160 380 0 1290 86
Tinggi
15 Sunardi 130 240 100 225 240 70 1005 67 Tinggi
Total 4705 4050 2405 2540 3815 515 18030 Sangat
80,13
Rata-Rata 313,7 270 160,3 169,3 254,3 34,33 1202 Tinggi

Berdasarkan pada tabel 2.5 Hasil Pengolahan Data NASA-TLX Pekerja Plant
3 Foundry, didapatkan hasil bahwa keseluruhan nilai rata-rata dari perhitungan nilai
WWL sebesar 80,13 yang mana hasil tersebut menunjukkan kategori kerja yang
dirasakan oleh pekerja plant 3 foundry termasuk ke dalam kategori beban kerja
yang sangat tinggi. Oleh karena itu dapat dilakukan pengelompokan beban kerja
mental pekerja plant 3 foundry pada PT. Sinar Agung Selalu Sukses ke dalam
bentuk histogram yang dapat dilihat pada gambar 2.1 Klasifikasi Beban Kerja
Mental.
19

Klasifikasi Beban Kerja Mental


15

10

0
Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Gambar 2.1 Klasifikasi Beban Kerja Mental

Analisis :
Dari hasil perhitungan beban kerja mental yang telah dilakukan dengan
responden 15 orang pekerja, didapatkan 1 pekerja merasakan beban kerja mental
dengan kategori sedang dalam rentang 34-56, 3 pekerja merasakan beban kerja
mental dengan kategori tinggi dalam rentang 57-79, dan 11 pekerja merasakan
beban kerja mental dengan kategori sangat tinggi atau dalam rentang 80-100. Maka
dari itu, rata-rata pekerja memiliki kategori beban kerja mental sangat tinggi dengan
nilai rata-rata WWL sebesar 80,13.

2. Analisis Keseluruhan Hasil Pengolahan Data


Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai nilai weight workload (WWL)
dari perbandingan keenam indikator dalam beban kerja mental yang berupa
Kebutuhan Mental, Kebutuhan Fisik, Kebutuhan Waktu, Performasi, Tingkat
Usaha, dan Tingkat Frustasi digunakan untuk mengidentifikasi indikator yang
paling berpengaruh menimbulkan beban kerja mental. Untuk tabel perbandingan
dapat dilihat pada tabel 2.6 Perbandingan Indikator NASA-TLX.
Tabel 2.6 Perbandingan Indikator NASA-TLX
Indikator Jumlah Skor Rata-Rata Persentase
KM 4705 313,6667 26,10%
KF 4050 270 22,46%
KW 2405 160,3333 13,34%
P 2540 169,3333 14,09%
TU 3815 254,3333 21,16%
TF 515 34,33333 2,86%

Dari tabel 2.6 Perbandingan Indikator NASA-TLX dapat diinterpretasikan


kedalam bentuk histogram yang dapat dilihat pada gambar 2.2 Histogram
Perbandingan Indikator NASA-TLX.
20

Perbandingan Indikator NASA-TLX


300
200
100
0
KM KF KW P TU TF
Gambar 2.2 Histogram Perbandingan Indikator NASA-TLX

Berdasarkan nilai perbandingan keenam indikator dalam beban kerja mental


dapat diketahui bahwa penyebab timbulnya beban kerja mental tertinggi pada
pekerja yaitu dipengaruhi oleh indikator kebutuhan mental dengan persentase
26,10%, kebutuhan fisik dengan persentase 22,46%, tingkat usaha dengan
persentase 21,16%, performasi dengan persentase 14,09%, kebutuhan waktu
dengan persentase 13,34%, dan tingkat frustasi dengan persentase 2,86%. Oleh
karena itu, dihasilkan rata-rata tiga indikator teratas yang memiliki pengaruh besar
terhadap beban mental yaitu Kebutuhan Mental dengan rata-rata sebesar 313,7,
Kebutuhan Fisik dengan rata-rata sebesar 270, dan Tingkat Usaha dengan rata-rata
sebesar 254,33.
Nilai perhitungan WWL tertinggi terdapat pada indikator Kebutuhan Mental
dengan nilai 313,7 dikarenakan pekerja diharuskan untuk teliti, fokus, melihat, dan
menghitung setiap produksi untuk mencapai target perusahaan. Serta pekerja harus
mengingat dan berfikir untuk melakukan pengaturan mesin dan komposisi supaya
produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan permintaan konsumen.
Nilai tertinggi perhitungan WWL kedua terdapat pada indikator Kebutuhan
Fisik dengan nilai sebesar 270, yang mana pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja
diperlukan kerja otot seperti kegiatan mendorong, menarik, mengangkat, dan
mengendalikan alat atau mesin dengan jumlah tekanan yang berkaitan dengan
waktu. Hal tersebut dikarenakan pada plant 3 foundry membutuhkan banyak
kegiatan fisik dalam pekerjaannya.
Nilai WWL tertinggi ketiga yaitu indikator Tingkat Usaha dengan nilai sebesar
254,33, yang mana mengukur seberapa keras usaha pekerja dalam melakukan
pekerjaannya. Usaha yang digunakan pekerja sangat besar dalam melakukan
pekerjaannya, yang mana usaha berkaitan dengan mental dan fisik, berupa pekerja
harus mampu mencapai target produksi untuk setiap harinya supaya target
perusahaan dapat terpenuhi dengan waktu yang telah ditentukan.
Dalam menentukan apakah usia mampu memengaruhi beban kerja mental,
maka dapat dibuat perbandingan nilai WWL berdasarkan dengan usia pekerja.
Untuk perbandingan dapat dilihat pada gambar 2.3 Perbandingan Nilai WWL
Berdasarkan Usia.
21

Perbandingan Nilai WWL


Berdasarkan Usia
100

Gambar 2.3 Perbandingan Nilai WWL Berdasarkan Usia

Dari gambar 2.3 dapat dianalisis untuk pekerja usia 20-39 tahun memiliki
kategori beban kerja mental yaitu sedang, tinggi, sangat tinggi atau dalam rentang
56-86,67. Sedangkan yang berusia 40-54 tahun memiliki kategori kerja tinggi dan
sangat tinggi atau dengan rentang 67-89,33. Maka dapat dinyatakan usia tidak
signifikan memengaruhi beban kerja mental pekerja, dikarenakan beban mental
setiap pekerja berbeda-beda.

3. Usulan Perbaikan Beban Kerja Mental


Dari hasil pengukuran beban kerja mental 15 pekerja, didapatkan intepretasi
nilai rata-rata WWL pekerja sangat tinggi yaitu 80,13. Sangat tingginya beban kerja
mental yang dialami pekerja akan memberikan dampak buruk pada pekerja,
pekerjaannya, maupun kepada perusahaan. Oleh karena itu diperlukan usaha untuk
mengurangi faktor beban kerja mental berlebih pada pekerja, sebagai berikut :
a. Dari pengukuran suhu selama 3 hari sebesar 38C, 36C, dan 37C, yang mana
suhu lebih tinggi dari rentang 18C-30C menurut Kepmenkes No. 1405 Th.
2002, dapat dilakukan perbaikan dengan penambahan 6 unit kipas angin pada
stasiun kerja, yang sebelumnya telah terdapat 2 kipas angin pada stasiun kerja
untuk operator coling drum dan melting.
b. Menurut Kepmenakes No. 1405 Th. 2002 ruang produksi tanpa AC pada
perusahaan wajib memiliki ventilasi udara minimal 15% dari luas lantai
produksi. Untuk mengurangi debu pasir yang bertebaran dan menambah
sirkulasi udara, dapat dilakukan pemberian turbin ventilator pada bagian atap
dengan jumlah serta daya hisap yang disesuaikan dengan luas dan volume
ruang lantai produksi. Serta perusahaan menyediakan dan mewajibkan pekerja
untuk menggunakan masker dan kacamata produksi selama bekerja.
c. Dari pengukuran kebisingan selama 3 hari didapatkan hasil sebesar 89 dB, 87
dB, dan 92 dB, yang mana lebih tinggi dari Kepmenaker No. 13 Th. 2011
sebesar 85 dB selama 8 jam/hari. Maka dapat dilakukan perbaikan dengan
perusahaan menyediakan dan mewajibkan pekerja menggunakan earplug
selama produksi.
d. Melakukan penggantian lampu pada lantai produksi yang dengan pencahayaan
sebesar 300 lux pada area kerja. Pada pengukuran untuk shift 1 pencahayaan di
area produksi sebesar 217 lux di bawah ketetapan dari Kepmenaker No. 5 Th.
2018 untuk jenis pekerjaan teliti dengan mesin sebesar 300 lux.
22

E. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data mengenai beban kerja mental yang telah dilakukan,
dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari pengukuran mengenai kebisingan selama 3 hari didapatkan data sebesar
89 dB, 87 dB, dan 92 dB. Pengukuran pencahayaan sebesar 217 lux pada area.
Dan pengukuran temperatur ruang selama 3 hari didapatkan data sebesar 38C,
36C, dan 37C.
2. Berdasarkan hasil perhitungan 15 pekerja mengenai beban kerja mental dengan
menggunakan metode NASA-TLX dapat diketahui bahwa 1 pekerja memiliki
beban kerja dengan kategori sedang atau dalam rentang 34-56, 3 pekerja
memiliki beban kerja mental dengan kategori tinggi dalam rentang 57-79, dan
11 pekerja dengan kategori beban kerja mental sangat tinggi dalam rentang 80-
100.
3. Dari 15 pekerja plant 3 foundry memiliki nilai rata-rata beban kerja mental
sebesar 80,13 yang menunjukkan bahwa kategori beban kerja mental sangat
tinggi.
4. Indikator yang paling berpengaruh dalam timbulnya beban kerja mental
pekerja plant 3 foundry yaitu indikator kebutuhan mental, kebutuhan fisik, dan
tingkat usaha dengan jumlah persentase masing-masing sebesar 26,10%,
22,46%, dan 21,16%.
5. Alternatif usulan yang disarankan untuk meminimalisir beban kerja mental
pekerja yaitu dengan menambah 6 unit kipas angin, menambah turbin
ventilator dengan jumlah dan daya hisap menyesuaikan ruang lantai produksi,
mengganti lampu produksi dengan pencahayaan sebesar 300 lux, dan pekerja
diwajibkan mengenakan masker, earplug, kacamata serta sarung tangan.

F. Ucapan Terimakasih
Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis tentunya mendapatkan bantuan
dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan
terimakasih kepada :
1. PT. Sinar Agung Selalu Sukses yang telah memberikan kesempatan penulis
dalam mendapatkan ilmu dan pengalaman untuk melaksanakan kerja praktik.
2. Bapak Kiryadi selaku kepala devisi PPIC yang telah memberikan pemahaman
mengenai lingkup kerja bagian PPIC.
3. Bapak Aris selaku staff PPIC yang telah mengenalkan area kerja produksi pada
PT. Sinar Agung Selalu Sukses dan telah membantu dalam pemilihan tema
laporan kerja praktik.
4. Bapak Lilik Triyono selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan
bimbingan selama kerja praktik berlangsung.
5. Karyawan PT. Sinar Agung Selalu Sukses plant 3 foundry yang telah
berkontribusi dalam pengumpulan data terkait penelitian mengenai beban kerja
mental.
23

G. Daftar Pustaka
Agustinawati. K. R, Dinata. I. M. K, K, & Primayanti. I. D. A. I. D. (2019).
Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Kelelahan Kerja Pada Pengerajin
Industri Bokor Di Desa Menyali. Jurnal Medika Udayana. Vol. 09. No. 09.
pp. 1-7. doi: [Link]/[Link]/eum.
Azwar. A. G, & Fauziah. N. (2019). Analisis Beban Kerja Karyawan Di Perusahaan
Konveksi Al-Hasri Garut. Jurnal ReTIMS. Vol. 01. No. 02. pp. 111-115.
Febrilliandika. B, & Nasution. A. E. (2020). Pengukuran Beban Kerja Mental
Kuliah Daring Mahasiswa Teknik Industri USU Dengan Metode NASA-TLX.
Jurnal Seminar dan Konfrensi Nasional IDEC 2020. Vol. No. pp. 1-7.
Hasibun. C. F, & Banjarnahor. M. (2019). Analisis Beban Kerja Mental Pada
Pekerja di PT XYZ dengan Menggunakan NASA-TLX. Jurnal Ergonomi dan
K3. Vol. 04. No. 01. pp. 24-28.
Liani Putri. U. L, & Handayani. N. U. (2019). Analisis Beban Kerja Mental Dengan
Metode NASA TLX Pada Departemen Logistik PT ABC. Industrial
Engineering Online Journal. Vol. 06. No. 02. pp. 1–10.
Meri. Z, M. and Ahmad, F. (2020). Pengukuran Beban Kerja Mental Karyawan di
Lantai Produksi Karet Setengah Jadi Dengan Metode NASA TLX (Taskload
Index). Jurnal Teknik Industri UNISI. Vol. 04. No. 01. pp. 19–25. doi:
10.32520/juti.v4i1.1089.
Pradhana. C. A, & Suliantoro. H. (2018). Analisis Beban Kerja Mental
Menggunakan Metode NASA-TLX Pada Bagian Shipping Perlengkapan Di
PT. Triangle Motorindo. Industrial Engineering Online Journal. Vol. 07. No.
03. pp. 1-9.
Pramesti. A, & Suhendar. E. (2021). Analisis Beban Kerja Menggunakan Metode
NASA-TLX Pada CV. Bahagia Jaya Alsindo. STRING (Satuan Tulisan Riset
dan Inovasi Teknologi). Vol. 05. No. 03. pp. 229-235. doi:
10.30998/string.v5i3.6528.
Sari, R. I. P. (2017). Pengukuran Beban Kerja Karyawan Menggunakan Metode
NASA-TLX Di PT. Tranka Kabel. Journal Sosio-E-Kons. Vol. 09. No. 03. pp.
223–231. doi: 10.30998/sosioekons.v9i3.2250.
Surya. R. A, Fathimahhayati. L. D, & Sitania. F. D. (2018). Analisis Pengaruh Shift
Kerja Terhadap Beban Kerja Mental Pada Operator Distributed Control
System (DCS) Dengan Metode NASA-Taks Load Index (TLX) (Studi Kasus:
PT. Cahaya Fajar Kaltim). Jurnal MATRIK. Vol. 19. No. 01. pp. 63-76. doi:
10.30587/matrik.v19i1.510.
BAB III
DESKRIPSI LAPORAN HARIAN

LEMBAR KEGIATAN HARIAN KERJA PRAKTIK


JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FT-UMS

Nama : Nurjamal
NIM : D600190093
Nama Perusahaan : PT. Sinar Agung Selalu Sukses
Dosen Pembimbing : Bp. Hari Prasetyo
Pembimbing Lapangan : Bp. Lilik Triyono

Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
Kamis, 1 - Pemilihan devisi
1 September - Perkenalan pada setiap
2022 bagian devisi PPIC
- Pemberian materi PPIC
Jumat, 2
perusahaan
2 September
- Penempatan pada bidang
2022
Foundry plant 3
- Pengenalan proses produksi
bidang Foundry plant 3
Senin, 5
- Wawancara mengenai
3 September
permasalahan umum.
2022
- Pembelajaran mengenai
produksi di Foundry plant 3
Selasa, 6
- Izin Workshop WMK UMS
4 September
(1) Wajib
2022
Rabu, 7
- Pembelajaran mengenai
5 September
produksi di Foundry plant 3
2022
Kamis, 8
- Pembelajaran mengenai
6 September
produksi di Foundry plant 3
2022
Jumat, 9
- Pembelajaran mengenai
7 September
produksi di Foundry plant 3
2022
Senin, 12 - Pembelajaran mengenai
8 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pemilihan tema KP
Selasa, 13 - Pembelajaran mengenai
9 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pengambilan data tema KP

24
25

Mengetahui
Hari,
No Uraian Kegiatan Pembimbing Dosen
Tanggal
Lapangan Pembimbing
Rabu, 14
- Izin Workshop WMK UMS
10 September
(2) Wajib
2022
- Pembelajaran mengenai
Kamis, 15
produksi di Foundry plant 3
11 September
- Pengambilan data tema KP
2022
- Pengerjaan laporan Bab 1
- Pembelajaran mengenai
Jumat, 16 produksi di Foundry plant 3
12 September - Pengambilan data tema KP
2022 - Pengerjaan laporan Bab 1
- Pengolahan data
- Pembelajaran mengenai
Senin, 19
produksi di Foundry plant 3
13 September
- Pengolahan data
2022
- Penyelesaian laporan Bab 1
Selasa, 20 - Pembelajaran mengenai
14 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pengerjaan laporan Bab 2
Rabu, 21
15 September - Izin Bimbingan WMK UMS
2022
Kamis, 22 - Pembelajaran mengenai
16 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Pengerjaan laporan Bab 2
- Pembelajaran mengenai
Jumat, 23
produksi di Foundry plant 3
17 September
- Pengolahan data
2022
- Pengerjaan laporan Bab 2
Senin, 26
- Izin Workshop WMK UMS
18 September
(4) Wajib
2022
Selasa, 27 - Pembelajaran mengenai
19 September produksi di Foundry plant 3
2022 - Penyusunan laporan Bab 2
Rabu, 28
- Penyusunan laporan
20 September
keseluruhan
2022
Kamis, 29
- Meminta pendapat mengenai
21 September
laporan KP
2022
Jumat, 30 - Permohonan maaf dan
22 September terimakasih
2022 - Dokumentasi
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuesioner NASA-TLX

KUESIONER NASA-TLX
PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL

Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Pekerjaan :

Kuesioner NASA-TLX terbagi menjadi dua bagian, pertama merupakan


bagianperbandingan berpasangan antar masing-masing indikator, kedua merupakan
bagian pemberian rating terhadap masing-masing indikator. Untuk indikator dalam
kuesioner ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
No Indikator Keterangan
Seberapa besar aktivitas mental dan perseptual
yang dibutuhkan untuk melihat, mengingat, dan
Kebutuhan Mental
1 mencari. Apakah pekerjaan tersebut mudah atau
(KM)
sulit, sederhana atau kompleks, longgar atau
ketat.
Seberapa besar jumlah aktivitas fisik yang
2 Kebutuhan Fisik (KF) dibutuhkan misalnya untuk mendorong,
menarik, mengontrol putaran, dll.
Seberapa besar jumlah tekanan yang berkaitan
dengan waktu yang dirasakan selama elemen
3 Kebutuhan Waktu (KW)
pekerjaan berlangsung. Apakah pekerjaan
perlahan atau santai atau cepat dan melelahkan.
Seberapa besar keberhasilan seseorang di dalam
4 Performasi (P) pekerjaannya dan seberapa puas dengan hasil
kerjanya.
Seberapa keras kerja mental dan fisik atau usaha
5 Tingkat Usaha (TU) yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
pekerjaan.
Seberapa tidak aman, putus asa, tersinggung,
terganggu, dibandingkan dengan perasaan
6 Tingkat Frustasi (TF)
aman, puas, nyaman, dan kepuasan diri yang
dirasakan.
A. KUESIONER PERBANDINGAN BERPASANGAN ANTAR
INDIKATOR
Berilah tanda centang (  ) pada indikator secara berpasangan yang menurut
anda paling berpengaruh dalam pekerjaan yang anda lakukan.

No Indikator Kode  Indikator Kode 


1 Kebutuhan Mental KM Kebutuhan Fisik KF
2 Kebutuhan Mental KM Kebutuhan Waktu KW
3 Kebutuhan Mental KM Performansi Kerja P
4 Kebutuhan Mental KM Tingkat Usaha TU
5 Kebutuhan Mental KM Tingkat Frustasi TF
6 Kebutuhan Fisik KF Kebutuhan Waktu KW
7 Kebutuhan Fisik KF Performansi Kerja P
8 Kebutuhan Fisik KF Tingkat Usaha TU
9 Kebutuhan Fisik KF Tingkat Frustasi TF
10 Kebutuhan Waktu KW Performansi Kerja P
11 Kebutuhan Waktu KW Tingkat Usaha TU
12 Kebutuhan Waktu KW Tingkat Frustasi TF
13 Performansi Kerja P Tingkat Usaha TU
14 Performansi Kerja P Tingkat Frustasi TF
15 Tingkat Usaha TU Tingkat Frustasi TF
B. KUESIONER PENILAIAN PADA SETIAP INDIKATOR
Berilah tanda lingkaran ( O ) pada angka rating setiap masing-masing indikator
yang menurut anda paling sesuai berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan.

1. Kebutuhan Mental (KM)


Seberapa besar aktivitas mental dan perseptual yang dibutuhkan untuk melihat,
mengingat, dan mencari. Apakah pekerjaan tersebut mudah atau sulit, sederhana
atau kompleks, longgar atau ketat?

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100

Rendah Tinggi

2. Kebutuhan Fisik (KF)


Seberapa besar jumlah aktivitas fisik yang dibutuhkan misalnya untuk mendorong,
menarik, mengontrol putaran, dll?

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi

3. Kebutuhan Waktu (KW)


Seberapa besar jumlah tekanan yang berkaitan dengan waktu yang dirasakan
selama elemen pekerjaan berlangsung. Apakah pekerjaan perlahan atau santai atau
cepat dan melelahkan?

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi

4. Performasi (P)
Seberapa besar keberhasilan seseorang di dalam pekerjaannya dan seberapa puas
dengan hasil kerjanya?

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi

5. Tingkat Usaha (TU)


Seberapa keras kerja mental dan fisik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
pekerjaan?

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi

6. Tingkat Frustasi (TF)


Seberapa tidak aman, putus asa, tersinggung, terganggu, dibandingkan dengan
perasaan aman, puas, nyaman, dan kepuasan diri yang dirasakan?

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100
Rendah Tinggi
Lampiran 2. Dokumentasi
Lampiran 3. Surat Keterangan Selesai Kerja Praktik
Lampiran 4. Form Penilaian Kerja Praktik

Anda mungkin juga menyukai