KLIPING
RUMAH ADAT
DI INDONESIA
DI SUSUN OLEH :
ADZAM ATHAR FARIZI
Rumoh Aceh (Rumah Adat Aceh)
Setiap suku bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia memiliki rumah adat masing-
masing. Aceh juga memiliki rumah adat yang dinamakan Rumoh Aceh (rumoh = rumah
Aceh). Walaupun masing-masing etnis di Aceh memiliki rumah adat tersendiri, namun
Rumoh Aceh disepakati sebagai bangunan rumah adat untuk mewakili masyarakat Aceh.
Sebagian masyarakat Indonesia sudah pernah melihat prototip Rumoh Aceh. Namun
masih sedikit orang memahami teknologi bangunannya. Artinya, bagaimana konstruksi
Rumoh Aceh yang sebenarnya.
Rumoh Aceh terdiri atas tiang utama (bisa lebih), yang terbuat dari kayu pilihan
berbentuk bulat lurus. Dahulu, cara pengamabilan tiang rumah (Tameh Rumoh), mempunyai
syarat tertentu. Pohon harus cukup umur, sebelum ditebang, seseorang yang ditu adatkan
mengitari pohon itu beberapa kali disertai dialog dengan bahasa isyarat. Ini wujud
penghargaan kepada sesama makhluk, dan prinsip dasar pelestarian lingkungan.
Setiap tiang dipahat tiga lubang tembus. Satu lubang untuk memasukkan lagor (toi)
serambi, satu untuk lagor utama (rumoh), dan satu lubang lagi (lebih kecil) untuk lagor kecil
(rok) penyeimbang paralel sisi memanjang. Bagian bawah dipotong rata, dan bagian atas
dibuat putting berbentuk balok, tiang didirikan dengan menggunakan tapakyang terbuat dari
coran semen atau batu. Putting atas sebagai tempat memasukkan kerangka atas yang terdiri
atas empat bara (papan 25 x 5 cm) untuk menyeimbangi bagian atas dan tempat kerangka
atap diletakkan.
Kerangka atap terdiri atas kayu bulat seukurab bambu yang disebut gaseue. Semuanya
disusun dengan jarak sekitar satu meter, dan ditengahnya diselipi belubah, yaitu tempat atap
rumbiah dirajut. Gasue, beulubah, dan atap hanya diletakkan diatas bara. Penahan semua ini
adalah tali ijuk yang dibuat mirip ramset (nok) yang jumlahnya sama dengan jumlah tiang sisi
serambi. Jika tali ini dipotong, atap bersama gaseue dan beulubah akan meluncur ke bawah.
Dinding umumnya dari papan, dan dihiasi ornamen berupa ukiran. Semua sisi ditutupi dengan
kayu berukir (peulangan). Dulu peulangan ini selain ukiran motif Aceh, juga dilukis gambar
bunga atau binatang. Pada bagian rabung yang menghadap keluar (para), Rumoh Aceh
dilengkapi dengan tulak angen yang lubangnya diukir.
Untuk menguatkan hubungan toi dengan tameh , dan sambungan menggunakan pasak.
Tidak ada paku yang digunakan pada bangunan Rumoh Aceh. Dengan demikian, jika
dibutuhkan Rumoh Aceh dapat di bongkar dari kemudian didirikan di tempat lain.
Rumah Bolon (Rumah Adat Suku Batak Toba)
Sumatera Utara
Penduduk Sumatera Utara yang terdiri dari banyak suku mempunyai beragam budaya
salah satunya adalah budaya rumah adat. Suku Batak Toba yang merupakan salah satu suku di
Sumatera Utara juga mempunyai rumah adat. Rumah adat Batak Toba disebut dengan
„Rumah Bolon‟. Dihuni oleh beberapa keluarga yang menempati ruang dalam secara terbuka
bersama. Posisinya terkelompok berdasarkan aturan adat dari yang paling penting sampai
keluarga lainnya dalam masing-masing fungsi. Sudut kanan belakang dari rumah dianggap
sebagai lokasi keramat yang hanya boleh ditempati oleh pemimpin rumah. Di bagian belakang
rumah ada bangunan tambahan yang berfungsi sebagai dapur, di mana Setiap keluarga bisa
memiliki dapur sendiri. Lumbung padi terletak pada bangunan tersendiri yang disebut dengan
‟sopo‟.
Untuk memasuki rumah Batak Toba dibuat tangga dengan posisi pada lubang yang
ada di bawah lantai panggung. Secara adat telah ditentukan bahwa tangga ini selayaknya
berjumlah ganjil. Tangga yang cepat aus merupakan kebanggaan bagi pemillik rumah bahwa
banyak orang dan tamu yang telah memasuki rumahnya. Tangga ini diberi nama ‟tangga rege-
rege‟
Ornamentasi dan dekorasi dari rumah adat Batak Toba mengandung nilai filosofi bagi
keselamatan penghuni. Lokasi elemen rumah yang dihias berada pada gevel, pintu masuk,
sudut-sudut rumah, bahkan ada yang sampai berada di keseluruhan dinding. Hiasan ini dapat
berupa ukiran, dapat diberi warna, atau hanya berupa gambar saja. Tiga elemen warna yang
penting adalah merah, putih dan hitam. Merah melambangkan pengetahuan/kecerdasan, putih
melambangkan kejujuran/kesucian dan hitam melambangkan kewibawaan/kepemimpinan.
RUMAH GADANG
Rumah adat provinsi Sumatra Barat disebut Rumah Gadang. Rumah tersebut dapat
dikenali dari tonjalan atapnya yang mencuat ke atas yang bermakna menjurus kepada Yang
Maha Esa. Tonjolan itu di namakan gojong yang banyaknya 4-7 buah.
Rumah ini memiliki keunikan bentuk arsitektur yaitu dengan atap yang menyerupai
tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu
terdapat dua buah bangunan Rangkiang digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang
pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjuang (anjung) sebagai
tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang
dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjuang pada keselarasan Bodi-Chaniago tidak
memakai tongkat penyangga di bawahnya, sedangkan untuk golongan kesalarasan Koto-
Piliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini
yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarkies
menggunakan anjuang yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang
seolah-olah mengapung di udara.
RUMAH GADANG (SUMATRA BARAT)
RUMAH GADANG
Rumah Gadang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau, provinsi Sumatra Barat.
Rumah ini memiliki keunikan bentuk arsitektur yaitu dengan atap yang menyerupai tanduk
kerbau dibuat dari bahan ijuk. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua
buah bangunan Rangkiang, digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap
bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjuang (anjung) sebagai tempat
pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang
dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjuang pada keselarasan Bodi-Chaniago tidak
memakai tongkat penyangga di bawahnya, sedangkan untuk golongan kesalarasan Koto-
Piliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini
yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarkies
menggunakan anjuang yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang
seolah-olah mengapung di udara.
Rumah Adat Provinsi Riau
(Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar)
Rumah adat di provinsi Riau bernama Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar. Ruangan
rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur.
Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan
musyawarah adat. Bentuk rumah tradisional daerah Riau pada umumnya adalah rumah
panggung yang berdiri di atas tiang dengan bangunan persegi panjang. Draf beberapa bentuk
rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya sama saja, kecuali
rumah lontik. Rumah lontik yang dapat juga disebut Rumah Lancang karena rumah ini bentuk
atapnya melengkung ke atas dan agak runcing sedangkan dindingnya miring keluar dengan
miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal ini melambangkan
penghormatan kepada Tuhan dan terhadap sesama. Rumah Lontik diperkirakan dapat
pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang
berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil, bahkan Rumah Lontik
beranak tangga lima, Hal ini ada kaitannya dengan ajaran Islam yakni rukun islam yang lima.
Tiang bentuknya bermacam-macam, ada yang persegi empat, segi enam, segi tujuh,
segi delapan, dan segi sembilan. Segi empat melambangkan empat penjuru mata angin, sama
dengan segi delapan. Maksudnya rumah itu akan mendatangkan rezeki dari segala penjuru.
Tiang segi enam melambangkan Rukun Iman dalam ajaran Islam, maksudnya diharapkan
pemilik rumah tetap taat dan beriman kepada Tuhannya. Tiang segi tujuh melambangkan
tujuh tingkatan surga dan neraka. Kalau pemilik rumah baik dan soleh akan masuk ke salah
satu tujuh tingkat surga, sebaliknya kalau jahat akan masuk salah satu tujuh tingkat neraka.
Tiang persegi sembilan melambngkan bahwa pemilik rumah adalah orang mampu.
Tiang utama adalah tiang tuo, yang terletak pada pintu masuk sebelah kiri dan kanan,
dan tiang ini tidak boleh disambung karena sebagai lambang rasa hormat kepada orang tua. Di
daerah lain yakni pada suku Melayu di kepulauan, tiang yang dianggap penting adalah Tiang
Seri yang terdapat di keempat sudut rumah. Baik Tiang Tuo maupun Tiang Seri tak boleh
bersambung dan terbuat dari kayu yang besar.
Rumah Adat Provinsi Riau
(Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar)
Rumah adat di provinsi Riau bernama Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar. Ruangan
rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur.
Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan
musyawarah adat. Bentuk rumah tradisional daerah Riau pada umumnya adalah rumah
panggung yang berdiri di atas tiang dengan bangunan persegi panjang. Draf beberapa bentuk
rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya sama saja, kecuali
rumah lontik. Rumah lontik yang dapat juga disebut Rumah Lancang karena rumah ini bentuk
atapnya melengkung ke atas dan agak runcing sedangkan dindingnya miring keluar dengan
miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal ini melambangkan
penghormatan kepada Tuhan dan terhadap sesama. Rumah Lontik diperkirakan dapat
pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang
berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil, bahkan Rumah Lontik
beranak tangga lima, Hal ini ada kaitannya dengan ajaran Islam yakni rukun islam yang lima.
Tiang bentuknya bermacam-macam, ada yang persegi empat, segi enam, segi tujuh,
segi delapan, dan segi sembilan. Segi empat melambangkan empat penjuru mata angin, sama
dengan segi delapan. Maksudnya rumah itu akan mendatangkan rezeki dari segala penjuru.
Tiang segi enam melambangkan Rukun Iman dalam ajaran Islam, maksudnya diharapkan
pemilik rumah tetap taat dan beriman kepada Tuhannya. Tiang segi tujuh melambangkan
tujuh tingkatan surga dan neraka. Kalau pemilik rumah baik dan soleh akan masuk ke salah
satu tujuh tingkat surga, sebaliknya kalau jahat akan masuk salah satu tujuh tingkat neraka.
Tiang persegi sembilan melambngkan bahwa pemilik rumah adalah orang mampu.
Tiang utama adalah tiang tuo, yang terletak pada pintu masuk sebelah kiri dan kanan,
dan tiang ini tidak boleh disambung karena sebagai lambang rasa hormat kepada orang tua. Di
daerah lain yakni pada suku Melayu di kepulauan, tiang yang dianggap penting adalah Tiang
Seri yang terdapat di keempat sudut rumah. Baik Tiang Tuo maupun Tiang Seri tak boleh
bersambung dan terbuat dari kayu yang besar.
Rumah Adat Prov. Kep. Riau
(Rumah Lancang/Pecalang)
Kepulauan Riau merupakan salah satu satu provinsi di Indonesia. Daerah ini
merupakan gugusan pulau yang tersebar di perairan selat Malaka dan laut Cina selatan.
Keadaan pulau-pulau itu berbukit dengan pantai landai dan terjal. Mayoritas penduduknya
berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sedangkan agama yang dianut oleh sebagian besar dari
mereka adalah Islam.
Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional
masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau
Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau
Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah
yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh
bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk.
Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke
atas.
Rumah Adat Prov. Bangka Belitung
(Rumah Melayu bubung Panjang)
Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu
seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka.
Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung
Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu
dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang
tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman.
Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki
beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal
terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur, yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam
tanah.
Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9
tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan
didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari
pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada
penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas
karena pengaruh dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini
terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-
Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga
keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama
tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.