0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan7 halaman

Definisi dan Prinsip Kerja MRI

Ydysyysyshsuusuwhwhwhwhwuwuuwuwywywyhwhwhwhwhhwhwyeyehheydhdydysyysysysyysyshshhsysysyshshhshshususysysyysysysysysyyss

Diunggah oleh

Rahmi dwi Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan7 halaman

Definisi dan Prinsip Kerja MRI

Ydysyysyshsuusuwhwhwhwhwuwuuwuwywywyhwhwhwhwhhwhwyeyehheydhdydysyysysysyysyshshhsysysyshshhshshususysysyysysysysysyyss

Diunggah oleh

Rahmi dwi Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Definisi MRI

Gambar 1. Konstruksi Pesawat MRI

Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu alat diagnostik untuk memeriksa
dan mendeteksi tubuh dengan menggunakan medan magnet yang besar dan gelombang
frekuensi radio, tanpa operasi, penggunaan sinar X, ataupun bahan radioaktif, yang
menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh atau organ manusia dengan
menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,064 – 1,5 Tesla (1 Tesla = 1000 Gauss)
dan resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu teknik penggambaran penampang
tubuh berdasarkan prinsip resonansi magnetik inti atom hidrogen. Teknik penggambaran
MRI relatif komplek karena gambaran yang dihasilkan tergantung pada banyak parameter.
MRI memiliki kemampuan membuat gambaran potongan coronal, sagittal, axial, dan
oblique tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien. Apabila pemilihan parameternya tepat,
kualitas gambaran seperti detail tubuh manusia akan tampak jelas, sehingga anatomi dan
patologi jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti. Untuk itu perlu dipahami hal-hal yang
berkaitan dengan prosedur teknik MRI dan tindakan penyelamatan bila terjadi keadaan
darurat.
B. Perkembangan MRI

Sejarah MRI diawali dengan adanya pandangan tentang pemikiran tentang interaksi
atom dengan gelombang elektromagnet. Observasi dimulai pada tahun 1924 terhadap inti
atom yang berputar dan mempunyai medan magnet, pada saat tersebut Pauli
mendemonstrasikan adanya putaran halus pada spektrum atom.
Pada tahun 1946, Felix Bloch dan Purcell mengemukakan teori, bahwa inti atom
bersifat sebagai magnet kecil, dan adanya gelombang frekuensi pada nukleus yang berputar
serta dapat menimbulkan sinyal gelombang radio.
Dari hasil penemuan kedua orang diatas kemudian ditemukan alat Nuclear Magnetic
Resonance (NMR) Spectrometer yang penggunaannya terbatas pada kimia saja. Pada tahun
1967 Jasper John berhasil melakukan pengukuran sinyal NMR pada hewan. Setelah lebih
dari sepuluh tahun Raymond Damadian bekerja dengan alat NMR Spectometer, maka pada
tahun 1971 ia menggunakan alat tersebut untuk pemeriksaan pasien. Pada tahun 1979, The
University of Nottingham Group memproduksi gambaran potongan coronal dan sagittal
(disamping potongan axial) dengan NMR. Selanjutnya karena kekaburan istilah yang
digunakan untuk alat NMR dan di bagian apa sebaiknya NMR diletakkan, maka atas saran
dari AMERICAN COLLEGE of RADIO-LOGI (1984), NMR dirubah menjadi Magnetic
Resonance Imaging ( MRI) dan diletakkan di bagian Radiologi.
Teknologi MRI telah berkembang sangat pesat sejak diperkenalkan pada awal tahun
1980. Mesin pertama bentuknya bersifat menutup seluruh tubuh pasien di magnet berbentuk
terowongan tetapi sekarang mesin paling baru hanya menutupi daerah dari kepala ke lutut.
Dengan kemajuan teknologi MRI lebih lanjut, di masa depan MRI sistem terbuka bisa
dipasang magnet dengan jenis kekuatan yang sama dengan MRI sistem tertutup sehingga
pasien epilepsi dapat menikmati pemeriksaan MRI lebih nyaman sebagaimana pendapat
Ruben Kuzniecky (2004).

Magnet pada MRI mempunyai 3 tipe. yaitu:


1. Resistive magnets yang terdiri atas banyak coil yang membungkus silinder dan
dilewatkan dengan arus listrik. Hal ini menyebabkan terjadinya medan magnet, jika
listrik mati, maka magnet juga tidak aktif. Membutuhkan 50 KW dan menghasilkan 0,3
tesla.

Gambar 2. Magnet Resistif

2. Permanent magnet merupakan magnet yang permanen dan ukurannya besar dengan
berat yang mencapai ribuan kilogram (7.711kg – 4.400 kg) dan menghasilkan 0.4 tesla.

Gambar 3. Magnet Tetap

3. Superconducting magnet biasanya jarang digunakan. Mirip dengan resistive magnet -


dimana coil yang dialiri listrik ini diselubungi oleh cairan helium yang sangat dingin
yaitu 452.4 derajat dibawah nol. Sehingga tabung MRI sangat dingin, namun hal tersebut
dilapisi kembali dengan vacumm flask. Menghasilkan 0.5-Tesla sampai 2.0-Tesla, dan
menghasilkan kualitas image yang sangat baik.

Gambar 4. Magnet superkonduktif


Tipe MRI ada dua, yaitu:
1. Open Gantry
MRI sistem terbuka (Open Magnetic Resonance Imaging) merupakan prosedur
pencitraan diagnostik canggih yang menghasilkan gambar detil dari struktur tubuh bagian
dalam tanpa menggunakan radiasi terionisasi (sinar-X). Hal ini bisa dilakukan melalui
penggunaan magnet yang kuat, gelombang radio, dan komputer.
Pada pasien yang mengidap claustrofobia, gemuk, dan pasien anak-anak, bersama
dengan mereka yang menderita sindrom stres pasca-trauma, dengan nyaman menjalani
pemeriksaan MRI dengan MRI open gantry. Sistem terbuka suaranya tidak bising dan
nyaman untuk pasien.

Gambar 5. Tipe MRI Open Gantry

2. Close Gantry
Pesawat MRI konvensional atau system tertutup (MRI close gantry) bentuknya
seperti silinder, mirip dengan terowongan terbuka pada kedua ujungnya. Pasien berbaring
di dalam pesawat tersebut, yang kemudian menciptakan medan magnet yang kuat,
mengarahkan gelombang radio di tubuh.
Pesawat MRI close gantry, atau MRI bermedan magnet tinggi menghasilkan
kualitas gambar yang lebih tinggi, karena menghasilkan sinyal lebih kuat dan gambar
yang lebih tepat untuk dokter dalam mendiagnosis.
Gambar 6. Tipe MRI Close Gantry

C. Prinsip Dasar MRI

Struktur atom hidrogen dalam tubuh manusia saat di luar medan magnet mempunyai
arah yang acak dan tidak membentuk keseimbangan. Kemudian saat diletakkan dalam
gantry, maka atom H akan sejajar dengan arah medan magnet. Demikian juga arah spinning
dan precessing akan sejajar dengan arah medan magnet. Saat atom H diberikan radio
frekuensi, maka atom H akan menyerap energi dari radio frekuensi tersebut. Akibatnya
dengan bertambahnya energi, atom H akan mengalami pembelokan, sedangkan besarnya
pembelokan arah dipengaruhi oleh besar dan lamanya energi radio frekuensi yang diberikan.
Saat radio frekuensi dihentikan, maka atom H akan memancarkan energi yang dimilikinya.
Kemudian energi yang berupa sinyal tersebut dideteksi dengan detektor khusus dan
diperkuat. Selanjutnya komputer akan mengolah dan merekonstruksi citra berdasarkan sinyal
yang diperoleh dari berbagai irisan (Barry.R:1988)

Gambar 7. Sistem Kerja Pesawat MRI


Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai alat
diagnostik, maka harus memperhitungkan hal-hal yang berkaitan dengan teknik
penggambaran MRI, antara lain:
1. Persiapan pasien serta teknik pemeriksaan yang baik.
2. Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.
3. Artefak pada gambar dan cara mengatasinya.

D. Instrumen MRI

Secara garis besar instrumen MRI terdiri dari:


1. Sistem magnet yang berfungsi membentuk medan magnet.
Agar dapat mengoperasikan MRI dengan baik, kita perlu mengetahui tentang tipe
magnet, efek medan magnet, magnet shielding, dan shimming coil dari pesawat MRI
tersebut.
2. Sistem pencitraan berfungsi membentuk citra yang terdiri dari tiga buah kumparan koil,
yaitu:
a. Gradient coil X, untuk membuat citra potongan sagittal.
b. Gardient coil Y, untuk membuat citra potongan coronal.
c. Gradient coil Z, untuk membuat citra potongan axial.
Bila gradient coil X, Y, dan Z bekerja secara bersamaan maka akan terbentuk potongan
oblique.

Gambar 8. Sistem Pencitraan Gradient Coil pada MRI


3. Sistem frekuensi radio berfungsi membangkitkan dan memberikan radio frekuensi serta
mendeteksi sinyal.
4. Sistem komputer berfungsi untuk membangkitkan sequence pulse, mengontrol semua
komponen alat MRI, dan menyimpan memori beberapa citra.
5. Sistem pencetakan citra berfungsi untuk mencetak gambar pada film rontgen atau untuk
menyimpan citra.

Anda mungkin juga menyukai