Cervical Root
Syndrome
Disusun Oleh :
• Agnes Cecilia Hutabarat
• Arfa Adinata Barus
• Bily Deri
• Hariyati Pratiwi
• Hendysa Septia Agnes
• Irene Gulo
•
• Jessica Deviana Purba
Jonathan Sauli Ponda Harefa
GO!
01
Definisi
02
• Cervical Root Syndrome adalah suatu keadaan yan
03 g disebabkan oleh iritasi atau penekanan akar sara
f servikal oleh penonjolan discus
invertebralis, gejalanya adalah nyeri leher yang
menyebar ke bahu, lengan atas atau lengan bawah,
parasthesia, dan kelemahan atau spasme otot.
• Salah satu contoh penyakitnya adalah Syndrome
radikulopati. Radikulopati berarti terdapat proses
patologik pada radiks posterior dan anterior.
Gangguan itu dapat setempat atau menyeluruh
Anatomi Fisiologi
Saraf yang keluar dari vertebra cervical
berjumlah 8 pasang, dimulai dari
C1sampai dengan C8. Pada daerah
cervical sendiri terdapat dua plexus
yakni plexus cervicalis (C1-C4) dan
plexus brachialis (C5-C8,). Masing-
masing mempunyai myotome dan
dermatome berbeda antara lain :
Vertebra Dermatome Myotome
C2 satu cm lateral ke tonjolan Fleksi neck
oksipital di pangkal tengkorak
C3 Di fossa supraklavikula, digaris Lateral fleksi neck
mid clavicular
C4 Di atas sendi acromioclavicula Shoulder elevation
C5 Clavicula Otot deltoid (abduction
shoulder)
C6 Ibu jari Otot biceps (flexion elbow)
C7 Jari telunjuk dan jari tengah Otot triceps (extension elbow)
C8 Jari manis dan jari kelingking Flexi jari tangan, ekstensi
jempol tangan
Etiologi
Hal yang dapat menyebabkan Cervical Root Syndrome antar lain:
a. Radikulopati: penjepitan saraf pada daerah leher.
b. Hernia nucleus pulposus (HNP): kelainan di dalam discus intervertebralis yang
dikarenakan adanya tanda-tanda kompresi akar saraf
c. Spondylosis cervicalis: akibat proses degenerasi dan sesudah terbentuknya
osteopyt kerusakan softisus disekitar sendi vertebra, juga berperan dan
berakibat ankylosis, tetapi juga dapat terjadi karena menyempitnya terusan
spinal dan mengenai dan di foramen inteructebia, jalur saraf dan artei
vertebra tertekan.
d. Kesalahan postural: kebiasaan seseorang menggerakan leher secara spontan
dan penggunaan bantal yang terlalu tinggi saat tidur dan dalam waktu yang
lama bisa menimbulkan nyeri.
01 Epidemiologi
02 Sekitar 10% dari populasi di atas usia 50 tahun menderita sakit leher atau
nyeri cervical, yang mana lebih sedikit daripada populasiyang menderita
03 nyeri pinggang bawah. Ada dua gejala utama CRS yaitu nyeri cervical tanpa
adanya nyeri radikular dan difisiensi neurologis, dan nyeri cervical dengan
nyeri radikular dan defisiensi neurologis (Nugraha, 2015).
Prevalensi nyeri leher kronis berkisar antara 5,9% hingga 38,7%. Patologi ini
digambarkan sebagai lokasi nyeri antara occiput dan vertebra torakalis ketiga
yang menetap selama lebih dari 3 bulan (Rodríguez- Sanz et al., 2021). Insiden
CRS diperkirakan 63,5-107,3 per 100.000 orang per tahun, dengan segmen C6
dan C7 yang paling terpengaruh (Borrella-Andrés et al., 2021). Nyeri leher sangat
lazim mempengaruhi hingga 50% populasi setiap tahun dan sekarang
menduduki peringkat 4 untuk global disability (Price et al., 2020).
Patofisiologi
Discus intervertebralis terdiri dari nucleus pulposus yang merupakan jaringan elastis,
yang dikelilingi oleh annulus fibrosus yang terbentuk oleh jaringan fibrosus. Kandungan air
dalam nucleus pulposus ini tinggi, tetapi semakin tua umur seseorang kadar air dalam nuleus
pulposus semakin berkurang terutama setelah seseorang berumur 40 tahun, bersamaan dengan
itu terjadi perubahan degenerasi pada begian pusat discus, akibatnya discus ini akan menjadi
tipis, sehingga jarak antara vertebrae yang berdekatan mejadi kecil dan ruangan discus menjadi
sempit, selanjutnya annulus fibrosus mengalami penekanan dan menonjol keluar.
Menonjolnya bagian discus ini maka jaringan sekitarnya yaitu corpus-corpus vertebrae
yang berbatasan akan terjadi suatu perubahan. Perubahannya yaitu terbentuknya jaringan ikat
baru yang dikenal dengan nama osteofit. Kombinasi antara menipisnya discus yang menyebabkan
penyempitan ruangan discus dan timbulnya osteofit akan mempersempit diameter kanalis
spinalis. Pada kondisi normal diameter kanalis spinalis adalah 17 mm sampai 18 mm. Tetapi pada
kondisi CRS, kanalis ini menyempit dengan diameter pada umumnya antara 9 mm sampai 10 mm.
Pada keadaan normal, akar-akar saraf akan menempati seperempat
sampai seperlima, sedangkan sisanya akan diisi penuh oleh jaringan
lain sehingga tidak ada ruang yang tersisa. Bila foramen
intervertebralis ini menyempit akibat adanya osteofit, maka akar-akar
saraf yang ada didalamnya akan tertekan. Saraf yang tertekan ini mula-
mula akan membengkok. Perubahan ini menyebabkan akar-akar saraf
tersebut terikat pada dinding foramen intervertebralis sehingga
mengganggu peredaran darah. Selanjutnya kepekaan saraf akan terus
meningkat terhadap penekanan, yang akhirnya akar-akar saraf
kehilangan sifat fisiologisnya. Penekanan akan menimbutkan
rasa nyeri di sepanjang daerah yang mendapatkan persarafan dari
akar saraf tersebut
01 Tanda dan Gejala
02
Tanda dan gejala dari Cervikal Root Syndrome yaitu rasa nyeri
yang menjalar mengikuti alur segmentasi serabut saraf yang
lesi sehingga disebut dengan kelemahan otot berdaarakan
distribusi myotom yaitu :
03
01 02 03 04
Terjadi Gangguan Gangguan
Pada kondisi
spasme otot sensibilitas postural yang kronis timbul
terjadi akibat kontraktur otot
pada segmen
menghindaripo dan kelemahan
dermatom sisi nyeri otot pada regio
cervikal.
Komplikasi
Komplikasi dari Cervical
Root Syndrome adalah
atrofi otot-otot leher dan
adanya kelemahan otot-
otot leher dan bahu, dan
ketidakmampuan tangan
untuk melakukan aktifitas.
Tes Spesifik
Spurling Test Compression Test Distraction Test
Pemeriksaan Penunjang
CT-SCAN
Diagnosa Banding
TOS(Thoracic CTS(Carpal Miofosial
Outlet Tunnel Trigger Point
Syndrome) Syndrome) Syndrome
01
Diagnosa Fisioterapi
02 1) Impairment
Adanya nyeri dari semua gerakan leher. Keterbatasan gerak untuk
03 semua gerakan leher. Spasme pada otot sternocleidomastoideus dan
otot upper trapezius dextra
2) Functional Limitation
Pada kasus ini functional limitation yang dirasakan oleh pasien adalah
adanya kesulitan saat melakukan kegiatan sehari-hari seperti kesulitan
saat mengambil, mengangkat, memindah.
3) Disability
Pada kasus ini terdapat keterbatasan yang berhubungan dengan ibu
rumah tangga seperti mencuci, memasak, menjemur, dan mengangkat
barang, dan mengendarai motor dengan waktu yang lama
01 Peran Fisioterapi
02 Neck cailliet exercise
1) Fleksi 3) lateral fleksi
03
2) ekstensi
01 Elektroterapi
02
Transcutaneous electrical nerve stimulation
03 (TENS)
Tujuan:
meringankan nyeri secara temporer.
Penempatan elektrode TENS,
macam rangsangan, rasio, intensitas
dan durasi merupakan kunci
efektiftas maksimal dari modalitas ini.
Stimulasi listrik yang menimbulkan
kontraksi juga kadang-kadang
digunakan untuk mengatasi spasme.
01
Table of
02
Neck collar/Cervical Collar contents
03
Soft, semi rigid atau rigid.
Salah satu jenis collar yang
banyak digunakan adalah
SOMI Brace (Sternal
Occipital Mandibular
Immobilizer).
01
02
03
Thank You