0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan16 halaman

Potensi Energi Surya untuk Listrik Indonesia

Dokumen ini membahas tentang pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia. Dokumen ini juga membahas tentang komponen-komponen utama PLTS seperti panel surya, baterai, dan charge controller.

Diunggah oleh

Marsya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan16 halaman

Potensi Energi Surya untuk Listrik Indonesia

Dokumen ini membahas tentang pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia. Dokumen ini juga membahas tentang komponen-komponen utama PLTS seperti panel surya, baterai, dan charge controller.

Diunggah oleh

Marsya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

Efek krisis energi di Indonesia masih sangat dirasakan oleh masyarakat


Indonesia. Energi listrik menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat,
sejalan dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan pembangunan di
segala bidang. Untuk dapat memenuhi kebutuhan akan listrik yang semakin pesat
tersebut, maka pemerintah terus meningkatkan program pembangunan prasarana
dan sarana tenaga listrik untuk menjangkau wilayah-wilayah yang ada di
Indonesia. Akan tetapi, kondisi negara Indonesia adalah negara yang sangat luas
dan terdiri dari beribu-ribu pulau dan dengan penye baran penduduk yang tidak
merata serta masih banyak daerah-daerah yang terpencil yang menjadikan kendala
utama untuk melakukan pendistribusian pembangkit listrik ke setiap pelosok-
pelosok negeri kita ini. Maka wajar kalau kita masih banyak menjumpai
masyarakat di pedesaan, pesisir pantai dan daerah pegunungan yang belum
merasakan penerangan listrik dan tidak terjangkau oleh pembangkit listrik negara
(PLN).
Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut
sekaligus penanggulangan kondisi krisis penyediaan tenaga listrik di beberapa
daerah, maka dapat memanfaatkan Potensi alam untuk dijadikan energi listrik.
Salah satu Potensi alam sebagai sumber energi listrik adalah energi tenaga
matahari. Matahari merupakan sumber energi utama bagi sebagian besar proses-
proses yang terjadi dipermukaan bumi. Radiasi matahari yang diterima
permukaan bumi merupakan masukan fundamental untuk banyak aspek terutama
merupakan parameter penting dalam aplikasi solar sel sebagi pembangkit listrik.
sel matahari merupakan piranti yang dapat mengkonversi cahaya matahari
menjadi energi listrik. Energi matahari dapat menghasilkan daya hingga 156.486
MW, jumlah yang lebih besar jika dibandingkan dengan sumber energi terbarukan
yang lainnya. Indonesia merupakan negara yang terletak dalam jalur khatulistiwa
yang sepanjang tahun mendapatkan cahaya matahari yang berlimpah dengan
intensitas radiasi matahari rata-rata sekitar 4.8 kWh/m2 per hari di seluruh wilayah
Indonesia. Pemanfaatan energi matahari sebagai pembangkit listrik tenaga surya
(PLTS) sangat diminati dan mulai dikembangkan diseluruh pelosok negeri dengan
melakukan banyak sekali penelitian serta pengujian.
Bagaimana kinerja solar cell dengan variasi beban yang diberikan dengan
kapasitas 50 WP?

TINJAUAN PUSTAKA
Sang surya atau matahari merupakan bintang yang istimewa dan
5 5
mempunyai radius sejauh 6,96 x 10 km dan terletak sejauh 1,496 x 10 km dari
bumi. Besar jumlah energi yang dikeluarkan oleh matahari sukar dibayangkan.
Menurut salah satu perkiraan, inti sang surya merupakan suatu tungku termonuklir
bersuhu 100 juta derajat celcius setiap detik mengonversi 5 tonne materi menjadi
7 2
energi yang dipancarkan ke angkasa luas sebanyak 6,41 x 10 W/m

Gambar 1. Radiasi Matahari


Radiasi Energi Matahari
Energi Matahari merupakan sumber energi utama untuk proses–proses yang
terjadi di Bumi. Energi matahari sangat membantu berbagai proses fisis dan
biologis di Bumi. Radiasi adalah suatu proses perambatan energi (panas) dalam
bentuk gelombang elektromagnetik yang tanpa memerlukan zat perantara.
Energi Matahari bisa sampai ke permukaan Bumi adalah dengan cara
radiasi (pancaran), karena diantara Bumi dan Matahari terdapat ruang hampa
(tidak ada zat perantara), sedangkan gelombang elektromagnetik adalah suatu
bentuk gelombang yang dirambatkan dalam bentuk komponen medan listrik dan
medan magnet, sehingga dapat merambat dengan kecepatan yang sangat tinggi
dan tanpa memerlukan zat atau medium perantara.
Dari sekian banyak energi yang dikeluarkan matahari yang sampai ke Bumi
melalui melalui proses perambatan tadi kemudian diserap oleh Bumi. Energi yang
diserap ini akan menyebabkan suhu dari Bumi akan naik. Pada gilirannya, suhu
Bumi yang hangat atau panas ini akan memancarkan juga sebagian energinya,
sehingga energi yang diterima Bumi = energi yang diserap Bumi + energi yang
dipancarkan Bumi.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada dasarnya adalah pecatu daya
(alat yang menyediakan daya), dan dapat dirancang untuk mencatu kebutuhan
listrik yang kecil sampai dengan besar, baik secara mandiri, maupun dengan
hybrid (dikombinasikan dengan sumber energi lain) baik dengan metode
Desentralisasi (satu rumah satu pembangkit) maupun dengan metode Sentralisasi
(listrik didistribusikan dengan jaringan kabel).
Pada siang hari modul surya/panel solar cell menerima cahaya matahari
yang kemudian diubah menjadi listrik melalui proses photovoltaic. Energi listrik
yang dihasilkan oleh modul surya dapat langsung disalurkan ke beban atau
disimpan dalam baterai sebelum digunakan ke beban. Dan arus searah DC (direct
current) yang dihasilkan dari modul surya yang telah tersimpan dalam baterai
sebelum digunakan ke beban terlebih dahulu.
Gambar 2. Konsep kerja sell surya [1].

Modul ini berfungsi merubah cahaya matahari menjadi listrik arus searah
(DC). Listrik tenaga matahari dibangkitkan oleh komponen yang disebut solar
cell, komponen ini mengkonversi energi matahari menjadi energi listrik. Solar
cell merupakan komponen vital yang terbuat dari bahan semi konduktor.
Tenaga listrik dihasilkan oleh satu solar cell sangat kecil, maka beberapa solar
cell harus digabung sehingga terbentuklah satuan komponen yang disebut
module. Pada aplikasinya karena tenaga listrik yang dihasilkan oleh module
ini masih kecil, maka dalam pemanfaatannya beberapa modul digabungkan
sehingga terbentuklah apa yang disebut array. Perhatikan Gambar berikut ini.

Gambar 3. Panel Sel Surya [2]

Sel surya atau photovoltaic adalah perangkat yang mengkonversi radiasi


sinar matahari menjadi energi listrik. Efek photovoltaic ini ditemukan oleh
Becquerel pada tahun 1839, dimana Becquerel mendeteksi adanya tegangan
foto ketika sinar matahari mengenai elektroda pada larutan elektrolit. Pada
tahun 1954 peneliti menemukan untuk pertama kali sel surya silikon berbasis
p- n junction dengan efisiensi 6%. Sekarang ini, sel surya silikon mendominasi
pasar sel surya dengan pangsa pasar sekitar 82% dan efisiensi lab dan komersil
berturut-turut yaitu 24,7% dan 15%.
Kepingan sel photovoltaic terdiri atas kristal silikon yang memiliki dua
lapisan silisium doped, yaitu lapisan sel surya yang menghadap ke cahaya
matahari memiliki doped negatif dengan lapisan fosfor, sementara lapisan di
bawahnya terdiri dari doped positif dengan lapisan borium. Antara kedua
lapisan dibatasi oleh penghubung p-n. Jika pada permukaan sel photovoltaic
terkena cahaya matahari maka pada sel bagian atas akan terbentuk muatan-
muatan negatif yang bersatu pada lapisan fosfor. Sedangkan pada bagian bawah
lapisan sel photovoltaic akan membentuk muatan positif pada lapisan borium.
Kedua permukaan tersebut akan saling mengerucut muatan masing-
masingnya jika sel photovoltaic terkena sinar matahari. Sehingga pada kedua
sisi sel photovoltaic akan menghasilkan beda potensial berupa tegangan listrik.
Jika kedua sisnya dihubungkan dengan beban berupa lampu menyebabkan
lampu akan menyala. Suatu kristal silikon tunggal photovoltaic dengan luas
permukaan 100 cm2 akan menghasilkan sekitar 1,5 W dengan tegangan sekitar
0,5 V tegangan searah (0,5 V-DC) dan arus sekitar 2 A di bawah cahaya
matahari dengan panas penuh (intensitas sekitar 1000W/m2)[3]. Perhatikan
gambar berikut.

Gambar 4. Karakteristik Sel Photovoltaic[2]

Charge controller berfungsi mengatur lalu lintas listrik dari modul surya
ke baterai. Alat ini juga memiliki banyak fungsi yang pada dasarnya ditujukan
untuk melindungi baterai. Pengisi baterai atau charge controlleradalah peralatan
elektronik yang digunakan untuk mengatur arus searah DC yang diisi ke baterai
dan diambil dari baterai ke beban. Charge controller mengatur overcharging
(kelebihan pengisian karena baterai sudah penuh) dan kelebihan tegangan
(overvoltage) dari panel surya. Kelebihan tegangan dan pengisian akan
mengurangi umur baterai. Charge controller menerapkan teknologi Pulse
Width Modulation (PWM) untuk mengatur fungsi pengisian baterai dan
pembebasan arus dari baterai ke beban. Panel surya 12 V umumnya memiliki
tegangan output 16-21 V. Jadi tanpa charge controller, baterai akan rusak oleh
overcharging dan ketidakstabilan tegangan. Baterai umumnya dicharge pada
tegangan 14- 14,7 V. Fungsi detail dari charge controller antara lain:
Mengatur arus untuk pengisian ke baterai, menghindari overcharging, dan
overvoltage. Apabila baterai dalam keadaan kondisi sudah terisi penuh maka
listrik yang disuplai dari modul surya tidak akan dimasukan lagi pada baterai
dan sebaliknya juga jika keadaan kondisi baterai sudah kurang dari 30% maka
charge controller tersebut akan mengisi kembali baterai sampai penuh. Proses
pengisian baterai dan modul surya tersebut melalui charge controller akan terus
berulang secara otomatis (smart charging) selama energi surya masih cukup
untuk bias diproses oleh modul surya (selama matahari terang benderang).
Charge controller juga berfungsi melindungi baterai ketika sedang mengalami
proses pengisian dari modul surya untuk menghindari arus berlebih dari proses
pengisian tersebut, yang akan menyebabkan kerusakan pada baterai. Sehingga
dengan cara tersebut baterai dalam pemakaiannya memiliki usia yang lebih
lama.
a. Mengatur arus yang dibebaskan atau diambil dari baterai agar baterai tidak
full discharge dan overloading.
b. Monitoring temperatur baterai
Charge controller biasanya terdiri dari satu input (dua terminal) yang
terhubung dengan output panel sel surya, satu output (dua terminal) yang
terhubung dengan baterai/aki dan satu output (dua terminal) yang terhubung
dengan beban. Arus listrik DC yang berasal dari baterai tidak mungkin masuk ke
panel surya karena biasanya ada dioda proteksi yang hanya melewatkan arus
listrik DC dari panel surya ke baterai, bukan sebaliknya. Adapun dua jenis
teknologi charge controller yang digunakan, yaitu :
PWM (Pulse Wide Modulation), seperti namanya menggunakan lebar
pulse dari on dan off electrical, sehingga menciptakan seakan-akan sine wave
electrical form.
Gambar 5. Charge Controller tipe PWM[2]

MPPT (Maximun Power Point Tracker), yang lebih efisien konversi DC to


DC (Direct Current). MPPT dapat mengambil daya maksimum dari panel surya.
MPPT charge controller dapat menyimpan kelebihan daya yang tidak digunakan oleh
beban ke dalam baterai, dan apabila daya yang dibutuhkan beban lebih besar dari daya
yang dihasilkan oleh panel surya, maka daya dapat diambil dari baterai.

Gambar 6. Charge Controller tipe MPPT[2]

Contoh dari kelebihan MPPT adalah panel surya ukuran 120 W, memiliki
karakteristik Maximun Power Voltage 17,1 V dan Maximun Power Current 7,02
A. Dengan charge controller selain MPPT dan tegangan baterai 12,4 V berarti
daya yang dihasilkan adalah 12,4 V x 7,02 A = 87,05 W. Dengan MPPT, arus
yang bisa diberikan adalah sekitar 120 W : 12,4 V = 9,68 A.

Baterai (Battery/Accumulator)
Baterai pada PLTS berfungsi untuk menyimpan arus listrik yang dihasilkan
oleh panel surya sebelum dimanfaatkan untuk mengoperasikan beban. Beban
dapat berupa lampu refrigerator atau peralatan elektronik dan peralatan lainnya
yang membutuhkan listrik DC.
Accumulator atau yang akrab disebut accu/aki adalah salah satu komponen
penting pada kendaraan bermotor. Selain berfungsi untuk menggerakkan motor
starter, aki juga berperan sebagai penyimpan listrik dan sekaligus sebagai
penstabil tegangan dan arus listrik kendaraan.
Menurut Syam Hardi akumulator ini berasal dari bahasa asing yaitu: accu
(mulator) = baterij (Belanda), accumulator = storange battery (Inggris),
akkumulator = bleibatterie (Jerman). Pada umumnya semua bahasa itu
mempunyai satu arti yang dituju, yaitu “acumulate” atau accumuleren. Ini semua
berarti menimbun, mengumpulkan atau menyimpan. Menurut Daryanto
akumulator adalah baterai yang merupakan suatu sumber aliran yang paling
populer yang dapat digunakan dimana-mana untuk keperluan yang
beranekaragam.
Menurut Rudolf Michael, akumulator dapat diartikan sebagai sel listrik
yang berlangsung proses elekrokimia secara bolak-balik (reversible) dengan nilai
efisiensi yang tinggi. Disini terjadi proses pengubahan tenaga kimia menjadi
tenaga listrik, dan sebaliknya tenaga listrik menjadi tenaga kimia dengan cara
regenerasi dari elektroda yang dipakai, yaitu dengan melewatkan arus listrik
dengan arah yang berlawanan di dalam sel-sel yang ada dalam akumulator.
Saat pengisian tenaga listrik dari luar diubah menjadi tenaga listrik didalam
akumulator dan disimpan didalamnya. Sedangkan saat pengosongan, tenaga di
dalam akumulator diubah lagi menjadi tenaga listrik yang digunakan untuk
mencatu energi dari suatu peralatan listrik. Dengan adanya proses tersebut
akumulator sering dikenal dengan elemen primer dan sekunder.
Gambar 7. Baterai dan Elemen-elemennya[3]

Inverter
Untuk kebutuhan listrik AC, energi listrik yang disimpan di baterai dirubah
menjadi listrik AC menggunakan In-verter. Inverter adalah perangkat elektrik yang
digunakan untuk mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus listrik bolak balik (AC).
Inverter mengkonversi arus DC 12-24 V dari perangkat seperti baterai, panel surya/solar
cell menjadi arus AC 220 V.

Gambar 8. Inverter[3]

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan inverter:


1. Kapasitas beban dalam Watt, usahakan memilih inverter yang beban
kerjanya mendekati dengan beban yang hendak kita gunakan agar effisiensi
kerjanya maksimal.
2. Input DC 12 V atau 24 V.
3. Sinewave ataupun square wave outuput AC.
True sine wave inverter diperlukan terutama untuk beban-beban yang
masih menggunakan motor agar bekerja lebih mudah, lancar dan tidak cepat
panas. Oleh karena itu dari sisi harga maka true sine wave inverter adalah yang
paling mahal diantara yang lainnya karena dialah yang paling mendekati bentuk
gelombang asli dari jaringan listrik PLN. Sedangkan pada square wave inverter
beban-beban listrik yang menggunakan kumparan/motor tidak dapat bekerja
sama sekali.
Rugi-rugi (loss) yang terjadi pada inverter biasanya berupa dissipasi daya
dalam bentuk panas. Pada umumnya efisiensi inverter adalah berkisar 50-90%
tergantung dari beban outputnya. Bila beban outputnya semakin mendekati
beban kerja inverter yang tertera maka efisiensinya semakin besar.

Karakteristik Panel Fotovoltaik


Sifat-sifat listrik dari modul surya biasanya diwakili oleh karakteristik
arus tegangannya, yang mana disebut juga kurva I-V (lihat gambar 2). Jika
sebuah modul surya dihubung singkat (Vmodul = 0), maka arus hubung singkat
(Isc) mengalir. Pada keadaan rangkaian terbuka (Imodul = 0), maka tegangan
modul disebut tegangan terbuka (Voc). Daya yang dihasilkan modul surya,
adalah sama dengan hasil kali arus dan tegangan yang dihasilkan oleh modul
surya.

P = V xI ……………………………. (1)
dengan :
P = Daya keluaran modul (Watt)
V = Tegangan kerja modul (Volt)
I = Arus kerja modul (Amperee)
Gambar 9. Kurva Arus-Tegangan dari sebuah modul surya[4]

Tegangan kerja dan arus modul fotovoltaik yang terjadi pada saat daya
maksimum (Pmax) tercapai berturut-turut dinyatakan sebagai Vm dan Im.
Apabila pengukuran dilakukan pada radiasi 1000 W/m2 dan suhu 25oC, maka
daya maksimum (P) yang dihasilkan oleh modul disebut pula sebagai daya
puncak (peak power) suatu modul fotovoltaik, dan dinyatakan sebagai Ppeak.

Gambar 10. Gambar Rangkaian PLTS

Pmax= Im x Vm(2)
dengan :
Pmax = Daya maksimum keluaran modul (Watt)
Vm = Tegangan kerja modul pada daya maksimum (Volt)
Im = Arus kerja modul pada daya maksimum(Amperee)
Catatan: Pada kondisi penyinaran 1000W/m dan temperatur 25°C, maka Pmax =
Peak

Efisiensi Panel Fotovoltaik


Efisiensi modul surya berdasarkan uraian diatas jelas berubah terhadap
tegangan kerjanya. Karenanya efisiensi modul surya selalu ditetapkan pada daya
puncaknya (peak power). Sedangkan daya input dari penyinaran matahari dapat
dihitung berdasarkan pengukuran sebagai berikut:
Pinput = F . Gu . A…………………(3)
dengan:
F = faktor kalibrasi pyranometer atau solarimeter (mV.m2/Watt)
Gu= intesitas matahari terukur (mV)
A = luas efektif dari modul fotovoltaik (m2)
Maka efisiensi maksimum dari modul fotovoltaik dapat dihitung sebagai
berikut:
P output ℑ . Vm
η= =
P input f . Gu. A

Pembangkit listrik tenaga surya pada dasarnya adalah pecatu daya (alat
yang menyediakan daya), dan dapat dirancang untuk mencatu kebutuhan listrik
yang kecil sampai dengan besar, baik secara mandiri, maupun dengan hybrid
(dikombinasikan dengan sumber energi lain) baik dengan metode Desentralisasi
(satu rumah satu pembangkit) maupun dengan metode Sentralisasi (listrik
didistribusikan dengan jaringan kabel).
Pada siang hari modul surya / panel solar cell menerima cahaya matahari
yang kemudian diubah menjadi listrik melalui proses photovoltaic. Energi
listrik yang dihasilkan oleh modul surya dapat langsung disalurkan ke beban
atau disimpan dalam baterai sebelum digunakan ke beban. Dan arus searah DC
(direct current) yang dihasilkan dari modul surya yang telah tersimpan dalam
baterai sebelum digunakan ke beban terlebih dahulu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1 Hasil perhitungan kinerja dengan beban 3 watt
NO WAKTU Vin Iin Vout Vout
1 08.00 12 0,1 11 0,1
2 09.00 16 2,5 14 2,3
3 10.00 17 3,5 15 3,2
4 11.00 18 3,7 16 4,1
5 12.00 20 4,5 18 4,2
6 13.00 17 4,3 15 4,0
7 14.00 16 3,7 14 3,5
8 15.00 15 3,5 13 3,0
9 16.00 13 2,4 12 2,4
10 17.00 12 0,5 10 0,3

Tabel 2. Hasil Perhitungan Daya


NO WAKTU Pin Pout 𝜂%
1 08.00 1 1 92
2 09.00 40 32 81
3 10.00 60 48 81
4 11.00 67 66 98
5 12.00 90 76 84
6 13.00 73 60 82
7 14.00 59 49 83
8 15.00 53 39 74
9 16.00 31 29 92
10 17.00 6 3 50
Daya & Efisiensi

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan hasil perhitungan serta pembahasan maka dapat
disimpulkan bahwa beban sangat berpengaruh terhadap kinerja solar cell dengan
kapasitas modul 50 WP. Pada beban 3 watt, 6 watt serta 9 watt, pada beban tersebut
semakin besar beban yang diberikan maka semakin kecil kinerja pada solar cell tersebut
begitupun sebaliknya. Efisiensi maksimum didapat sebesar efisiensi 98% ini terlihat
pada beban 3 watt.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ikhsan, 2013, Peningkatan Suhu Modul Dan Daya Keluaran Panel Surya
Dengan Menggunakan Reflektor, Jurnal ilmiah Dosen pada Jurusan Fisika
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar.
2. Solar Cell Panel termuat di [Link] olar-cell.
diakses 20 September 2015.
3. Heri, J, 2011, Pengujian Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Solar
Cell Kapasitas 50wp, Jurnal Ilmiah.
4. Sumbung, H. F dan Letsoin, Y, 2012, Analisa dan Estimasi Radiasi
Konstan Energi Matahari Melalui Variasi Sudut Panel Fotovoltaik Shs
50 Wp, Jurnal Ilmiah Mustek Anim Ha Vol.1 No.1 ISSN: 2089-6697
Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Musamus
Merauke.
5. Cengel, Y. A. (2002). Heat Tasfer a Partical Approach with EES CD,
New York : McGraw-Hill Science Engineering.
6. Gambut, A. (2009). Modul 09 Pengembangan Pembangkit Listrik
Tenaga Surya (PLTS)
7. Jarman, 2014, Peran Sektor Ketenagalistrikan Dalam Percepatan
Pembangunan Perekonomian Nasional. Seminar Ketenagalistrikan
Percepatan Pembangunan Ketenagalistrikan Untuk Mendukung
Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta.
8. Nugroho. R. A, Facta. M, dan Yuningtyastuti, 2010, Memaksimalkan
Daya Keluaran Sel Surya Dengan Menggunakan Cermin Pemantul
Sinar Matahari, Jurnal Jurusan Teknik Elektro, Univer-sitas
Diponegoro Semarang.
9. Outlook Energi Indonesoa (OEI), 2014. pusat teknologi pengembangan
sumberdaya Energi, Jakarta
10. Simatupang. S, Susilo. B , Hermanto M. B, 2013, Rancang Bangun dan
Uji Coba Solar Tracker pada Panel Surya Berbasis Mikrokontroler
ATMega16, Jurnal Ilmiah Jurusan Keteknikan Pertanian - Fakultas
Teknologi Pertanian - Universitas Brawijaya.
11. Sunaryo, dan Setiono.J, 2014, Analisis Daya Listrik Yang Dihasilkan
Panel Surya Ukuran 216 Cm X 121 Cm Berdasarkan Intensitas Cahaya,
Jurnal Ilmiah ISSN: 2339-028X Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
Universitas Muhammadiyah Riau.
12. Wikipedia, Radiasi Matahari, termuat di
[Link] hari diakses 20 September
2015.
13. Zuhal. 1992. Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya. PT
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai