Nama : Jamaludin Ba’tiar Wahid
NIM : A410200106
Kelas : 6C
Judul : Pengaruh motivasi dan minat belajar terhadap kemampuan berpikir kritis
matematika
BAB I
Latar Belakang
Sistem pendidikan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan dari pendidikan nasional dapat tercapai apabila
factor faktor yang memengaruhinya berkualitas baik. Salah satu diantara faktor yang
dimaksud adalah kualitas sumber daya manusia dalam kegiatan belajar mengajar.
Peningkatan kualitas pendidikan sumber daya manusia sangat ditentukan oleh proses dan
pengelolaan pendidikan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Dengan proses pendidikan
yang terarah dan sistematis, diharapkan akan hadir sumber daya manusia dengan kualitas
yang baik dan menjadi manusia unggul. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional dapat
dibilang terwujud dengan sukses.
Pendidikan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia secara
sadar, teratur dan berencana dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan potensi sumber
daya manusia. Dalam rangka mewujudkan tujuan dari Pendidikan nasional hendaknya dapat
direalisasikan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah adalah lembaga formal
sebagai sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional. Di sekolah, peserta
didik mengikuti kegiatan belajar yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Kegiatan belajar
mengajar tersebut harus berjalan secara efektif agar sekolah dapat menghasilkan lulusan yang
kompeten dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Namun pada kenyataannya,
kegiatan belajar mengajar tersebut belumlah efektif secara menyeluruh. Keefektifan dari
kegiatan belajar salah satunya dapat ditunjang dari beberapa faktor, diantaranya faktor
internal dan factor eksternal.
Salah satu penunjang pembelajaran dari faktor internal adalah kemampuan berpikir.
Dari kegiatan belajar tersebut, peserta didik dituntut untuk dapat memahami pelajaran yang
ada. Pemahaman materi dalam setiap pelajaran sangatlah ditentukan oleh kemampuan
berpikir yang dimiliki oleh setiap peserta didik, diantaranya adalah kemampuan berpikir
kritis. Kemampuan berpikir kritis ini sangat berguna sekali dalam proses belajar peserta didik
pada tiap pelajarannya, temasuk dalam pelajaran matematika. Matematika adalah pelajaran
yang dipelajari mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga ke jenjang pendidikan tinggi.
Matematika dekat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Matematika sangat erat
konsepnya dengan berpikir kritis. Umumnya matematika identik dengan angka dan rumus,
sehingga diperlukan kemampuan berpikir kritis untuk menyelesaikan persoalan matematika.
Banyak orang beranggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit sehingga
banyak peserta didik merasa tidak percaya diri dan mudah putus asa dalam menyelesaikan
soal. Ketika salah dalam hitungan, mereka lebih memilih menyerah dan tidak melanjutkan
berhitung karena beranggapan mereka tidak bisa menyelesaikan persoalan matematika
tersebut. Hal seperti itu disebabkan karena mereka memiliki kemampuan berpikir kritis yang
cenderung rendah.
Banyak faktor yang memengaruhi kemampuan berpikir kritis seseorang, salah satu
diantaranya adalah motiavsi. Motivasi yang tinggi terlihat dari kapasitas dalam belajar,
mengambil resiko, menjawab pertanyaan serta kesediaan untuk bertanggungjawab. Semakin
kuat motivasi yang dimiliki oleh seseorang, berarti orang tersebut mempunyai kemampuan
berpikir kritis yang baik. Seandainya tidak memiliki kemampuan yang baik dalam berpikir
kritis, senantiasa mengoptimalkan dirinya untuk memiliki kemampuan berpikir kritis sampai
maksimal. Hal tersebut dapat terjadi karena ia memiliki motivasi yang kuat dari dalam
dirinya.
Faktor lain yang memungkinkan dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis
adalah minat belajar. Minat merupakan respon atas sesuatu yang disukai atau tidak disukai.
Minat merupakan suatu aspek dari perilaku seseorang yang cenderung lebih kepada hal-hal
yang positif, Pada kenyataannya banyak peserta didik yang tidak senang, merasa terpaksa
atau sekedar melaksanakan suatu kewajiban. Minat peserta didik terhadap pelajaran
merupakan kekuatan yang akan mendorong peserta didik untuk belajar. Peserta didik yang
berminat sikapnya akan senang terhadap pelajaran dan akan tampak terdorong terus untuk
tekun belajar, berbeda dengan peserta didik yang sikapnya hanya menerima pelajaran yang
guru berikan. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk bisa terus tekun
karena tidak ada pendorongnya. Minat juga sebagai salah satu faktor internal yang berperan
dalam menunjang prestasi belajar peserta didik. Peserta didik yang tidak berminat terhadap
bahan pelajaran akan menunjukkan sikap yang kurang simpatik, malas dan tidak bergairah
mengikuti proses belajar mengajar. Tentu hal tersebut merupakan akibat kurangnya
pemahaman tentang hakikat, kemanfaatandan pengetahuan tentang matematika
Peserta didik dalam pembelajaran matematika senantiasa menghadapi kesulitan pada
saat menyelesaikan tugas yang diberikan guru, jika peserta didik memiliki kecerdasan
emosional dan motivasi belajar yang baik, maka peserta didik akan tetap berusaha untuk
mencari cara bagaimana menyelesaikan tugas tersebut. Beragam alternatif cara yang dapat
dilakukan adalah dengan meminjam buku dari perpustakaan ataupun ia mencari sumber
informasi dari internet yang berhubungan dengan materi pelajaran yang sedang dihadapinya.
Dengan usaha yang sedemikian kuat tentunya didasari oleh pengelolaan emosi yang baik dan
motivasi dalam diri peserta didik. Dari kecerdasan emosional dan motivasi belajar yang kuat
tersebut, akan semakin baiklah kemampuan berpikir seseorang, termasuk kemampuan
berpikir kritisnya. Setelah ia merasa bahwa tugas matematika tersebut adalah tugas yang sulit
maka ia akan menyerah begitu saja dan tentu saja itu dikarenakan tingkat kecerdasan
emosional dan motivasi belajarnya cenderung rendah sehingga kemampuan berpikir kritis
yang dimilikinya belum maksimal.
BAB II
Tinajuan Pustaka
Berpikir Kritis:
Beragam definisi dikemukakan oleh para ahli mengenai definisi berpikir kritis.
Beberapa komponen berpikir kritis yang dikemukakan para ahli mengandung banyak
kesamaan. Schafersman (1991: 3) mendefinisikan berpikir kritis sebagai kegiatan
berpikir dengan benar dalam memperoleh pengetahuan yang relevan dan reliabel.
Berpikir kritis diartikan sebagai berpikir nalar, reflektif, bertanggungjawab, dan mahir
berpikir. Pendapat yang sama diungkapkan oleh Ennis (1993: 180) yang mengatakan
bahwa, berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus
untuk menentukan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan. Tujuan berpikir kritis
difokuskan ke dalam pengertian sesuatu yang penuh kesadaran mengarah kepada
suatu tujuan yang akhirnya memungkinkan untuk membuat keputusan. Sementara itu,
Johnson (2002: 183) mengartikan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk
berpendapat dengan cara terorganisasi, dan merupakan kemampuan untuk
mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi dan pendapat orang lain. Paul,
Fisher dan Nosich (1993: 4) sebagaimana dikutip dalam Fisher (2008: 4)
mengungkapkan berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal, substansi, atau
masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan
menangani secara terampil strukturstruktur yang melekat dalam pemikiran dan
menerapkan standar intelektual padanya. Menurut Fisher (2008: 4) definisi tersebut
sangat menarik karena ia mengarahkan perhatian pada keistimewaan berpikir kritis
dimana para guru dan peneliti di bidang ini pada prinsipnya menyetujui bahwa satu-
satunya cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis seseorang adalah
melalui berpikir tentang dirinya sendiri, dan secara sadar berupaya untuk
memperbaikinya dengan merujuk pada beberapa model berpikir yang baik dalam
bidang itu.
Berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat diperlukan pada zaman
sekarang. Selain itu, berpikir kritis juga memiliki manfaat dalam jangka panjang,
mendukung siswa dalam mengatur keterampilan belajar mereka, dan kemudian
memberdayakan individu untuk berkontribusi secara kreatif pada profesi yang mereka
pilih. Udi & Cheng (2015: 456) menegaskan bahwa berpikir kritis harus menjadi
dasar yang meresap dari pengalaman pendidikan semua siswa mulai dari pra-sekolah
hingga SMA dan perangkat di universitas serta program terstruktur dalam berpikir
kritis harus dimulai dengan mengenalkan karakter (disposisi) yang tepat dan beralih
menuju ke pengembangan kemampuan berpikir kritis. Artinya, berbekal dengan
kemampuan berpikir kritis, guru telah membantu mempersiapkan peserta didik untuk
masa depannya. Lebih lanjut Ben-Chaim, et all (2000: 149) mengatakan bahwa
kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting agar sukses di kehidupan, sebagai
langkah perubahan untuk terus melaju dan sebagai kompleksitas serta saling
meningkatkan ketergantungan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah
berpikir rasional tentang sesuatu, kemudian mengumpulkan informasi sebanyak
mungkin tentang sesuatu tersebut yang meliputi metode-metode pemeriksaan atau
penalaran yang akan digunakan untuk mengambil suatu keputusan atau melakukan
suatu tindakan. Seseorang yang berpikir kritis memiliki ciri-ciri : (1) mampu berpikir
secara rasional dalam menyikapi suatu permasalahan; (2) mampu membuat keputusan
yang tepat dalam menyelesaikan masalah; (3) dapat melakukan analisis,
mengorganisasi, dan menggali informasi berdasarkan fakta yang ada; (4) mampu
menarik kesimpulan dalam menyelesaikan masalah dan dapat menyusun argumen
dengan benar dan sistematik.
Motivasi Belajar
Motivasi sebagai suatu keadaan atau kondisi yang timbul dari dalam diri
seseorang. Motivasi ini memberikan pengaruh pada persepsi agar seseorang dapat
melakukan kegiatan yang dapat dilihat dari perilaku yang di tunjukkan seseorang.
Menurut Oemar Hamalik (2008:87), motivasi memiliki dua komponen yaitu
komponen luar dan komponen dalam. Komponen luar adalah apa yang di inginkan
seseorang, tujuanlah yang menjadi arah kelakuan nya. Sedangkan komponen dalam
adalah perubahan di dalam diri seseorang, keadaan tidak puas, ketegangan psikologis.
Menurut Jex dalam izudin (2002: 210) motivasi seperti gravitasi yang tidak
bisa dilihat secara visual atau dirasakan namun hanya bisa dilihat efek yang dihasilkan
olehnya. Pada kehidupan sehari-hari motivasi memiliki peran yang sangat strategis
termasuk pada proses pembelajaran. Bila seseorang merasa termotivasi oleh sesuatu
hal maka ia akan mencoba sekuat tenaganya untuk mencapai tujuan tersebut sehingga
pada akhirnya upaya tersebut akan diarahkan serta konsisten sesuai dengan tujuan.
Motivasi merupakan suatu topik yang susah namun merupakan salah satu faktor
terpenting untuk mencapai tujuan. Pada akhirnya, motivasi dapat didefinisikan
sebagai suatu dorongan bersifatinternal, ataueksternal yang menjadi dasar dari setiap
tindakan atau kegiatan yang dilakukan setiap orang untuk mencapai tujuannya.
Motivasi belajar merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang
siswa. Apalah artinya siswa yang pergi kesekolah tanpa adanya motivasi belajar.
Djamarah (2009:148). Dimiyati dan Mujiono menambahkan bahwa, “pada diri siwa
terdapat kekuatan penggerak yang yang menjadi pemicu belajar yaitu motivasi
belajar”. (2009:80). Dalam kegiatan belajar, motivasi belajar merupakan keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa dapat tercapai. Menurut Anurrahman
Motivasi di dalam kegiatan belajar merupakan kekuatan yang menjadi tenaga
pendorong bagi siswa untuk mendaya gunakan potensi yang ada dalam dirinya
( 2009:180 ).
Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa motivasi belajar adalah dorongan
semangat belajar yang ditunjukkan dengan oleh siswa yang timbul pada diri seseorang
secara sadar atau tidak. Dorongan itu muncul dari dalam dirinya atau luar dirinya
dalam memperoleh berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap dan diusahakan
selalu berpartisipasi secara aktif, mempunyai minat, sikap dan persepsi tertentu,
misalnya perasaan senang atau nyaman ketika berada didalam kelas.
Motivasi belajar matematika merupakan kecenderungan yang timbul pada diri
seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman
keterampilan, dan nilai sikap siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar
Matematika. Siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi akan berusaha
meningkatkan pemahaman dan pengetahuannya tentang Matematika.
Minat Belajar
Minat adalah adalah ketertarikan seseorang akan sesuatu yang timbul dari
dalamdiri, Minat dapat mebangkitkan motivasi dan berprngaruh terhadap hasil dan
prestasi belajar. Baharudin mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Baharudin
2008:24). Menurut Slameto minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu
hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat hubungan
tersebut, semakin kuat minat. (Slameto, 2003: 57).
Dapat dijelaskan bahwa minat dapat membangkitkan motivasi pada diri
seseorang. Timbulnya minat pada diri seseorang karena adanya ketertarikan dan
perhatian pada satu obyek atau pelajaran tertentu disertai dengan perasaan senang,
sehingga bila siswa tertarik pada sesuatu maka ia berusaha (termotivasi) untuk
melakukan sesuatu yang diminatinya, sebaliknya tanpa minat seseorang tidak
mungkin melakukan sesuatu. Minat juga dapat memengaruhi perhatian, belajar,
berfikir dan pencapaian prestasi seseorang karena minat mengandung unsur-unsur
perasaan agar seseorang merasa tertarik dan senang pada bidang tertentu.
Minat adalah sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan belajar, karena
dengan adanya minat dalam diri siswa akan membangkitkan atau mendorong siswa
menjadi giat belajar dalam mencapai cita-cita yang ia [Link] minat besar sekali
pengaruhnya terhadap belajar, karena dengan minat siswa berusaha untuk mengetahui
suatu pelajaran dengan cara mengetahui, mengikuti, dan memahami pelajaran. Setiap
siswa mempunyai minat dan kebutuhan yang berbeda dengan siswa lain.
Minat dapat memengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam
bidang studi tertentu, umpamanya seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap
suatu mata pelajaran matematika, maka ia akan memusatkan perhatiannya lebih
banyak daripada siswa lain. Kemudian, karena pemusatan perhatian yang intensif
terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan
akhirya mencapai prestasi yang diinginkan.
Minat belajar merupakan aspek psikologis yang memengaruhi hasil belajar.
Adapun minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan atau mata
pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya. Peranan minat dalam belajar adalah
sebagai kekuatan yang akan mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat
pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar. menciptakan minat
terlebih dahulu adalah cara yang sangat baik untuk memberikan motivasi pada diri
untuk mencapai tujuan. Minat seseorang terhadap pelajaran dapat dilihat dari
kecenderungan untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelajaran
tersebut.
Minat belajar matematika adalah minat siswa terhadap pelajaran matematika
yang ditandai oleh perhatian siswa pada pelajaran matematika, kesukaaan siswa
terhadap pelajaran matematika, keinginan siswa untuk tahu lebih banyak mengenai
matematika, tugas-tugas yang diselesaikan oleh siswa, motivasi siswa mempelajari
matematika, kebutuhan siswa terhadap pelajaran matematika dan ketekunan siswa
dalam mempelajari matematika. Minat belajar matematika adalah perasaan senang
terhadap pelajaran matematika dimana seorang siswa menaruh perhatian yang besar
terhadap matematika dan menjadikan matematika pelajaran yang mudah.
Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini adlaah:
1. Hipotesis pertama yaitu terdapat pengaruh yang signifikan motivasi dan
minat belajar secara Bersama-sama terhadap kemampuan berpikir kritis
matematika peserta didik.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi belajar terhadap kemampuan
berpikir kritis matematika peserta didik.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap kemampuan
berpikir kritis peserta didik.
Dengan menggunakan kerangka berpikir ini, penelitian ini bertujuan untuk
menguji hipotesis-hipotesis tersebut melalui analisis data kuantitatif yang akan
dilakukan pada sampel peserta didik yang terlibat dalam penelitian.
BAB III
Metode Penelitian
1. Desain Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan metode survey dengan menggunakan Teknik
analisis korelasional dan regresi ganda, yaitu mencari hubungan dan pengaruh
antara dua variable bebas dengan satu variable terikat.
2. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik tingkat Pendidikan tertentu
(misalnya, sekolah menengah). Sampel akan dipilih secara acak dari populasi
tersebut. Untuk mendapatkan sampel yang representative, proses pengambilan
sampe akan dilakukank dengan mengacu pada prinsip random sampling.
3. Instrument Pengukuran
a. Motivasi belajar: Instrument pengukuran unuk mengukur motivasi belajar
dapat dikembangkan berdasarkan penelitian sebelumnya atau menggunakan
skala yang telah teruji atau valid.
b. Minat belajar matematika: Untuk mengukur minat belajar peserta didik,
penelitian ini dapat menggunakan instrument pengukuran yang sudah teruji
valid, seperti Mathematicss Interest Scale. Dan dapat mengembangkan dari
penelitian ssebelumnya.
c. Berpikir kritis matematika: Untuk mengukur berpikir kritis dalam matematika
dapat mengembangkan dari penelitian sebelumnya.
4. Prosedur Pengumpulan Data
Instrument pengukuran yang relevan telah dipilih, proses pengumpulan data akan
dilakukan di lingkungan Pendidikan yang ditentukan. Informasi tentang tujuan
penelitian dan persetujuan partisiipasi akan diberikan kepadda peserta didik yang
akan menjadi sampel. Kemudian, peserta didik akan diminta untuk mengisi
instrument pengukuran dengan menjawab kuisioner yang terkait tentang motivasi
belajar, minat belajar, dan berpikir kritis dalam matematika.
5. Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis menggunakan metode statistic yang
sesuai. Analisis korelasi, seperti Pearson, dapat digunakan untuk menguji
hubungan antara motivasi belajar dan minat belajar, dengan berpikir kritis dalam
matematika. Selain itu, analisis reggresi linier dapat digunakan untuk
mengevaluasi pengaruh motivasi belajar dan minat belajar terhadap berpikir kritis
matematika, dengan mengontrol variable penunjang.
6. Interpretasi Hasil
Hasil analisis data akan diinterpretasikan untuk menguji hipotesis-hipotesis
penelitian. Jika terdapat pengaruh signifikan antara motivasi dan minat belajar,
dengan berpikir kritis matemaika, hal ini akan menunjukan bahwa motivasi dan
minat belajar memiliki peran penting dalam meningkatkan berpikir kritis
matematika pada peserta didik.
7. Diskusi dan Kesimpulan
Hasil penelitian akan dibahas dan disimpulkan berdasarkan berdasarkan temuan
yang diperoleh. Implikasi praktis dan teoristis dari hasil penelitian akan dikaji,
termasuk implikasi dalam pengembangan stategi pembalajaran matematika yang
lebih efektif dan peningkatan berpikir kritis maematika peserta didik.
8. Batasan Penelitian
Peneilitian ini mungkin memiliki beberapa batasan, seperti keeterbatasan sumber
daya dan waktu yang mungkin mempengaruhi ukuran dan cakupan penelitian.
Batasan-batasan ini akan dijelaskan secara transparan dalam laporan penelitian.
9. Eitka Penelitian
Penelitian ini akan mematuhi prinsip-prinsip etika penelitian, termasuk privasi dan
kerahasiaan data, persetujuan partisipan, seta pelindingan hak dan kesejahteraan
subjek penelitian.
Dengan menggunakan metode penelitian di atas, diiharapkan penelitian ini dapat
memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara moivasi
belajar, minat belajar, dan berpikir kritis maematika pada peserta didik serta
memberikan wawasan yang bermanfaat dalam meningkatkan pembelajaran
matematika dan prestasi peserta didik.