Analisis Religius Cerpen "Robohnya Surau Kami"
Analisis Religius Cerpen "Robohnya Surau Kami"
Siti Neswatin
NIM 20402022
PENDAHULUAN
Salah satu jenis karya sastra yang dapat memberikan manfaat bagi
pembacanya adalah Cerpen. Cerpen atau cerita pendek biasanya hanya berpusat
pada satu kejadian, memiliki satu plot, jumlah tokoh yang terbatas, setting
tunggal, dan ceritanya lebih pendek dari pada novel. Menurut Priyatni (2010:126)
cerita pendek adalah salah satu bentuk karya fiksi. Cerita pendek sesuai dengan
namanya, memperlihatkan sifat yang serba pendek, baik peristiwa yang
diungkapkan, isi cerita, jumlah pelaku,dan jumlah kata yang digunakan.
Cerpen merupakan bagian dalam karya sastra yang didalamnya berisi suatu
permasalahan atau pengalaman yang universal yang berkaitan dengan kehidupan
1
manusia. Dapat berupa masalah percintaan, persahabatan, pendidikan, agama,
tradisi, social, politik, dan sebagainya.
Robohnya Surau Kami merupakan contoh dari sebuah karya sastra yang
termasuk cerpen. Di dalam cerpen ini selain ceritanya yang menarik dan indah
juga mengandung nilai-nilai yang bagus untuk pembaca. Nilai yang terkandung di
dalam cerpen tersebut adalah nilai religius, nilai religius yang terdapat dalam
sebuah karya sastra sangat bermanfaat untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan
(agama), dan dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca. Seorang yang religius dapat
diartikan sebagai manusia yang berarti teliti, penuh pertimbangan, dan sholeh.
Dalam cerpen ini pengarang mengajak pembaca untuk memahami dan menghayati
hidup agar tidak mementingkan keindahan lahiriah saja.
Cerpen dan nilai religius berkaitan erat, karena dengan adanya cerpen yang
bersifat religius, pembaca akan mengetahui dampak yang akan terjadi bila
2
melakukan hal-hal yang tidak baik. Dalam hal keagamaan cerpen ini dapat
mempengaruhi pembaca dengan membuat hati tersentuh untuk mengingat dosa-
dosa yang telah diperbuat untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan.
Nilai religius yang terdapat dalam cerpen selain bermanfaat bagi pembaca
juga dapat bermanfaat bagi pembelajaran sastra di sekolah salah satunya siswa
dapat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen baik nilai social,
nilai moral, maupun nilai budaya.
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada judul penelitian ini yaitu analisis nilai-nilai
religius karya A.A Navis dan implementasinya terhadap pembelajaran sastra di
sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Ahmad Thontowi (2005) nilai religius
merupakan suatu bentuk hubungan manusia dengan penciptanya melalui ajaran
agama yang sudah terintenalisasi dalam diri seseorang dan tercermin dalam sikap
dan perilakunya sehari-hari.
C. Perumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
3
a) Penelitian ini dapat membantu pembaca untuk memperluas pengetahuan dalam
bidang bahasa dan sastra Indonesia, khususnya bagi pencinta sastra seperti cerpen.
2. Manfaat Praktis
Memberi Pengetahuan, baik bagi guru maupun para siswa mengenai nilai-nilai
religius yang terkandung dalam cerpen robohnya surau kami karya A.A Navis
terhadap pembelajaran sastra di sekolah.
4
BAB II
LANDASAN TEORETIS
1. Konsep Cerpen
a. Pengertian cerpen
Cerita pendek merupakan salah satu jenis karya sastra yang berbentuk
prosa fiksi, istilah fiksi berarti cerita tersebut bersifat rekaan atau imajinasi
penulis. Fiksi dibedakan menjadi dua yaitu karya fiksi dengan non fiksi. Karya
fiksi yaitu tokoh, tempat, peristiwa, dan tempat bersifat imajinatif sedangkan
karya non fiksi bersifat factual, benar ada dan terjadi sehingga kebenarannya pun
dapat dibuktikan dengan data empiris. Menurut Abrams ( dalam Nurgiantoro,
2013 : 2) istilah fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada
kebenaran sejarah tetapi suatu yang benar ada dan terjadi di dunia nyata sehingga
kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris.
5
dilakukan untuk sebuah novel. Burhan Nurgiantoro (2010:11) kelebihan cerpen
yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak, jadi secara
implisit dari sekedar apa yang diceritakan.
b. Ciri-ciri cerpen
c. Jenis-jenis cerpen
6
Jenis cerita pendek atau cerpen yang kedua yaitu cerita pendek sedang .
Cerita pendek Sedang biasanya memiliki panjang sekitar 700 hingga 1.000 kata
panjangnya.
Cerpen yang ini biasanya dibuat dengan panjang sekitar 1.000 kata atau lebih.
Dan bahkan ada sebuah cerpen yang dibuat mendekati 5.000 kata atau bahkan
10.000 kata. Jenis cerpen yang satu ini memiliki ciri umum yang penuturannya
yang santai.
Unsur pembangun cerpen terbagi menjadi dua yaitu unsur intrinsik dan unsur
ekstrinsik :
1. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun cerpen dari dalam. Berikut
unsure intrinsik yang ada di dalam cerpen :
7
Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada diluar cerpen, tetapi berpengaruh
pada keberadaan cerpen tersebut. Unsur ekstrinsik dalam cerpen meliputi :
a. Pengertian Nilai
Nilai atau value (bahasa inggris) atau valaere (bahasa latin) yang berarti
berguna, mampu akan, berdaya, berlaku dan kuat. Nilai merupakan kualitas suatu
hal yang dapat menjadikan hal itu disukai, diinginkan berguna,dihargai dan dapat
dijadikan objek kepentingan. Menurut Steeman (dalam Sjarkawi, 2008 : 29) nilai
adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, yang mewarnai dan menjiwai tindakan
seseorang.
Menurut Rokech dan Bank (dalam Asmaun Sahlan, 2010 : 66) bahwasannya
nilai merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem
kepercayaan yang berada dimana seseorang bertindak atau menghindari suatu
tindakan, atau mengenai sesuatu yang dianggap pantas. Ini berarti pemberian arti
terhadap suatu objek.
Menurut Wicaksono (2014: 322) makna nilai merupakan suatu kebaikan yang
ada di dalam karya sastra, kebaikan tersebut meliputi hal-hal yang positif yang
berguna dalam kehidupan manusia dan pantas untuk dimiliki setiap manusia.
b. Pengertian religius
8
Secara bahasa, kata religiusitas adalah kata kerja yang berasal dari kata benda
religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare yang berarti
menghubungkan kembali yang telah putus. Maksudnya adalah menghubungkan
kembali tali hubungan antara manusia dan Tuhannya yang telah terputus oleh
dosa-dosanya (Arifin,1995).
Kata dasar religius berasal dari bahasa latin religare yang berarti mengikat.
Dalam bahasa inggris disebut dengan religi yang berarti agama. Dapat diartikan
bahwa agama bersifat mengikat, yang mengatur hubungan manusia dengan
Tuhannya. Dalam ajaran Agama Islam hubungan tersebut tidak hanya sekedar
hubungan dengan Tuhannya tetapi juga meliputi hubungan dengan manusia
lainnya, masyarakat dan lingkungannya.
Dari segi isi, agama adalah seperangkat ajaran yang merupakan perangkat
nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan pedoman bagi para pemeluknya dalam
menentukan tindakan pilihan dalam kehidupannya. Dengan kata lain, agama
mencakup totalitas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang
dilandasi dengan Iman kepada Allah, sehingga seluruh tingkah lakunya
berlandaskan keimanan dan akan membentuk sikap positif dalam pribadi dan
perilakunya sehari-hari.
Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan
hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Religius merupakan penghayatan dan
pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
c. Nilai-nilai religius
Nilai religius adalah nilai yang bersumber dari keyakinan ke Tuhanan yang
ada pada diri seseorang. Dengan demikian, nilai religius adalah sesuatu yang
berguna dan dilakukan oleh manusia, berupa sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
9
Secara umum nilai-nilai religius adalah nilai-nilai kehidupan yang
mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga
unsur pokok yaitu akidah, ibadah, dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku
sesuai dengan aturan-aturan agama dalam mencapai keselamatan dan
kesejahteraan serta kebahagian baik di dunia mupun di akhirat.
Makna religius lebih luas (universal) dari pada agama, karena agama
terbatas pada ajaran-ajaran atau aturan-aturan, berarti ia mengacu pada agama
(ajaran) tertentu (Mangunwijaya,1982 : 54). Untuk itu dalam pembahasan tentang
nilai-nilai religius yang lebih mengkhususkan pada ajaran agama tertentu ,
digunakan acuan salah satu agama tertentu pula.
Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai acuan salah satu agama
tertentu pula. Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai acuan adalah agama
islam. Alasan peneliti karena cerpen robohnya surau kami bernuansa islami.
10
e. Macam-macam nilai religius
Agama (religi) memiliki peranan yang sangat penting bagi pembelajaran sastra,
khususnya bagi para siswa. Adapun beberapa nilai religius, yaitu :
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan
bantuan orang lain. Dengan kata lain, manusia selalu berinteraksi dan
bersosialisasi dengan orang lain, sehingga terjadi hubungan timbal balik antar
manusia. Hubungan sosial yang melibatkan keyakinan agama yang tinggi
memiliki pola kehidupan sosial yang akan mencerminkan sikap positif dan
hubungan yang baik sebagai manusia. Manusia seharusnya adalah makhluk yang
berbudi luhur dengan akhlak mulia, sehingga dianjurkan bahwa manusia harus
seimbang dalam kehidupan, yaitu dunia dan akhirat harus seimbang. Tanpa usaha
apapun, apa yang kita lakukan pasti tidak akan tercapai. Nilai religius dari
keberadaan adalah mendidik manusia untuk memiliki sikap kerja keras dan tidak
mudah menyerah.
11
hubungan manusia dengan alam, termasuk sesama. Alam adalah tempat manusia
hidup dan menopang [Link] mensyukuri kebesaran Tuhan, manusia
harus mencintai alam dan memanfaatkan alam dengan baik, agar tidak
menimbulkan kerusakan alam dan menimbulkan bencana seperti banjir dan tanah
longsor. pencemaran, dll. Semua bencana yang terjadi adalah akibat ulah manusia
sendiri, yang kurang bersyukur dan gagal menjaga keseimbangan alam.
[Link]
12
sastra yang didalamnya mengandung nilai-nilai religius, moralitas dan estetika
yang dapat diterapkan oleh siwa.
4. Penelitian Relevan
13
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
B. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah unsur yang sama-sama dengan sasaran penelitian yang
membentuk data dan konteks data (Sudaryanto, 1988: 30). Objek penelitian
adalah hal yang menjadi sasaran penelitian. Objek dalam penelitian ini adalah
Analisis nilai religius dalam cerpen robohnya surau kami karya A.A Navis dan
implementasinya terhadap pembelajaran sastra di sekolah.
2. Penelitian ini menggunakan sumber data dari cerpen Robohnya Surau Kami
karya A.A Navis yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta pada
bulan September 2007 (edisi ketiga belas), Fokus penelitian ini adalah menegenai
nilai religius dalam cerpen.
14
D. Teknik Pengumpulan data
2. Teknik menandai yaitu dengan menandai setiap yang dianggap penting saat
membaca.
15
[Link] data yang menggambarkan nilai religius dalam cerpen
Robohnya Surau kami karya A.A Navis.
4. Mendeskripsikan nilai religius dari data yang telah dianalisis dalam cerpen
Robohnya Surau kami karya A.A Navis.
F. Jadwal Penelitian
Kegiatan Bulan
Konsultasi
Dosen PA
Penyusunan
Proposal
Seminar
Proposal
Revisi
Proposal
Pengolahan
Analisis dan
Penyusunan
Laporan
16
DAFTAR PUSTAKA
Arifin. (1995). Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Bumi
Aksara 1995
Endah Tri Priyatni. (2010). Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis.
Jakarta : Bumi Aksara
17
Sahlan, Asmaun. (2010). Mewujudkan Budaya Religius di sekolah : Upaya
Mengembangkan PAI dari teori ke Aksi. Malang UIN Maliki Press.
18
DAFTAR LAMAN
[Link]
[Link]?m=1#:~:text=Cerpen%20Robohnya%20Surau%20Kami%20ini,surau
%20tersebut%20masih%20tegak%20berdiri
[Link]
instriknya-yang-perlu-diketahui
[Link]
merealisasikan-rencana-ketahui-pengertian-dan-contohnya
19
LAMPIRAN
Cerpen Robohnya Surau Kami ini menceritakan suatu tempat dimana ada sebuah
surau tua yang nyaris ambruk. Kemudian datanglah seseorang ke sana dengan
keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat untuk menjadi garin atau
penjaga surau tersebut, dan hingga kini surau tersebut masih tegak berdiri.
Meskipun kakek atau garin dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada hal
pokok yang membuatnya dapat bertahan, yaitu dia mau bekerja sebagai pengasah
pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang,
makanan, kue-kue, atau rokok. Kehidupan kakek ini sangat monoton. Dia hanya
mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah
di surau, dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Hasil pekerjaannya itu
tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah
terpikirkan.
Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau
itu. Ajo sidi adalah seorang pembual yang datang kepada kakek penjaga surau
sebelum kakek penjaga surau itu meninggal. Lalu, keduanya terlibat dalam sebuah
perbincangan.
Pada perbincangan itu, Ajo sidi mengisahkan tentang kejadian Haji Saleh di
akhirat ketika dia dimasukkan ke dalam neraka. Haji Saleh tidak menerimanya
karena Haji Saleh merasa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Tak sekalipun
Haji Saleh meninggalkan kewajiban Tuhan. Bahkan setiap waktunya hanya untuk
menyembah Tuhan.
Kemudian Haji Saleh datang menuntut kepada Tuhan atas semua apa yang dia
kerjakan. Ternyata apa yang dikerjakan itu justru salah. Haji Saleh tidak
seharusnya hanya mementingkan dirinya sendiri untuk beribadah dan sembahyang
setiap waktunya demi masuk surga dan melupakan kewajibannya kepada anak dan
isrtinya sehingga jatuh dalam kemelaratan. Itu yang membuat Haji Saleh
dimasukkan ke dalam neraka. Padahal di dunia ini hidup berkaum, bersaudara,
tetapi Haji Saleh tidak memedulikan mereka sedikit pun.
Sepulangnya berbincang dengan Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan
kesal. Dia merasakan apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran
untuk dirinya. Dia memang tidak pernah mengingat anak dan istrinya, tetapi dia
pun tidak pernah memikirkan hidupnya sendiri sebab memang tak ingin kaya atau
membuat rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhan.
Dia tak berusaha menyusahkan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia
20
senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada [Link] penjaga
surau begitu memikirkan hal itu dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia
tertekan dan tidak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia lebih memilih jalan
pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan
pisau cukur.
Seperti rumah yang ditinggal penghuninya, surau yang dulunya digunakan untuk
beribadah itu kini hanya dipakai untuk sekadar bermain anak-anak. Tidak ada lagi
panggilan adzan, sholat berjamaah, dan lantunan ayat-ayat suci Al-quran. Bahkan
jika ada ibu-ibu yang membutuhkan kayu bakar, tak segan-segan mengambil salah
satu bagian dari tiang-tiang surau yang mulai lapuk dan hampir roboh. Tak ada
lagi yang mau peduli terhadap surau tempat beribadah itu. Itulah pemandangan
yang bisa dilihat dari surau seorang kakek setelah dia meninggal.
21