0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan22 halaman

Analisis Religius Cerpen "Robohnya Surau Kami"

Proposal ini membahas analisis nilai religius dalam cerpen "Robohnya Surau Kami" karya A.A Navis dan implementasinya terhadap pembelajaran sastra di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai religius dalam cerpen tersebut dan mendeskripsikan implementasinya dalam pembelajaran sastra.

Diunggah oleh

Latifa Smith
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan22 halaman

Analisis Religius Cerpen "Robohnya Surau Kami"

Proposal ini membahas analisis nilai religius dalam cerpen "Robohnya Surau Kami" karya A.A Navis dan implementasinya terhadap pembelajaran sastra di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai religius dalam cerpen tersebut dan mendeskripsikan implementasinya dalam pembelajaran sastra.

Diunggah oleh

Latifa Smith
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

ANALISIS NILAI RELIGIUS DALAM CERPEN


“ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA A.A NAVIS DAN
IMPLEMENTASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN
SASTRA DISEKOLAH
Oleh

Siti Neswatin
NIM 20402022

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2023
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya sastra merupakan suatu karya yang dapat bermanfaat bagi


pembacanya. Di antaranya yaitu dapat memberikan kenikmatan, mengembangkan
imajinasi, estetik dan dapat menyenangkan pembaca. Hal ini sejalan dengan
pendapat Damono (1984 : 1 ), bahwa karya sastra diciptakan pengarang atau
sastrawan untuk dinikmati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan.

Karya sastra memiliki manfaat bagi pembacanya. Menurut Horace (dalam


Wellek & Warren, 1990:25) fungsi sastra adalah dulce et utile, yang berarti indah
dan bermanfaat. Keindahan tersebut dapat menyenangkan pembacanya.
Menyenangkan dapat diartikan sebagai hiburan bagi pembaca, baik dari segi jalan
ceritanya, cara penyajiannya, maupun bahasa yang diterima oleh pembaca. Bahasa
merupakan bagian penting dalam masyarakat bahasa digunakan sebagai alat
komunikasi, dengan membaca cerpen pembaca dapat merasakan, memikirkan,
mengambil nilai-nilai positif, serta menghayalkan kembali seperti apa yang
diceritakan pengarang lewat bahasa tulis. Bermanfaat dalam arti karya sastra dapat
diambil manfaat yaitu manfaat pengetahuan dan nilai-nilai yang terkandung
didalamnya, baik nilai moral, religius, sosial dan budaya.

Salah satu jenis karya sastra yang dapat memberikan manfaat bagi
pembacanya adalah Cerpen. Cerpen atau cerita pendek biasanya hanya berpusat
pada satu kejadian, memiliki satu plot, jumlah tokoh yang terbatas, setting
tunggal, dan ceritanya lebih pendek dari pada novel. Menurut Priyatni (2010:126)
cerita pendek adalah salah satu bentuk karya fiksi. Cerita pendek sesuai dengan
namanya, memperlihatkan sifat yang serba pendek, baik peristiwa yang
diungkapkan, isi cerita, jumlah pelaku,dan jumlah kata yang digunakan.

Cerpen merupakan bagian dalam karya sastra yang didalamnya berisi suatu
permasalahan atau pengalaman yang universal yang berkaitan dengan kehidupan

1
manusia. Dapat berupa masalah percintaan, persahabatan, pendidikan, agama,
tradisi, social, politik, dan sebagainya.

Hakikatnya setiap manusia memiliki permasalahan yang dialami didalam


kehidupannya. Menurut Sunardjoo dan Saini (dalam Rokhmansyah,2014:2)
menyatakan sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,
pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran
konkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Permasalahan yang
dihadapi oleh manusia tergambar dalam suatu karya sastra. Permasalahan dapat
timbul karena permasalahan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan
manusia, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan masyarakat sekitarnya,
serta manusia dengan alam. Dapat dikatakan bahwa permasalahan yang dialami
oleh manusia merupakan inspirasi terwujudnya sebuah karya sastra.

Robohnya Surau Kami merupakan contoh dari sebuah karya sastra yang
termasuk cerpen. Di dalam cerpen ini selain ceritanya yang menarik dan indah
juga mengandung nilai-nilai yang bagus untuk pembaca. Nilai yang terkandung di
dalam cerpen tersebut adalah nilai religius, nilai religius yang terdapat dalam
sebuah karya sastra sangat bermanfaat untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan
(agama), dan dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca. Seorang yang religius dapat
diartikan sebagai manusia yang berarti teliti, penuh pertimbangan, dan sholeh.
Dalam cerpen ini pengarang mengajak pembaca untuk memahami dan menghayati
hidup agar tidak mementingkan keindahan lahiriah saja.

Menurut Santoso (2004 : 1) berpendapat bahwa sastra keagamaan adalah


sastra yang mengandung nilai-nilai religius, moralitas,dan unsur estetika. Nilai
religius sebagai salah satu cerminan seseorang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan yang maha esa yang diwujudkan dalam bentuk ibadah sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing, dan dapat menjadi cerminan dalam
kehidupan antar manusia.

Cerpen dan nilai religius berkaitan erat, karena dengan adanya cerpen yang
bersifat religius, pembaca akan mengetahui dampak yang akan terjadi bila

2
melakukan hal-hal yang tidak baik. Dalam hal keagamaan cerpen ini dapat
mempengaruhi pembaca dengan membuat hati tersentuh untuk mengingat dosa-
dosa yang telah diperbuat untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan.

Nilai religius yang terdapat dalam cerpen selain bermanfaat bagi pembaca
juga dapat bermanfaat bagi pembelajaran sastra di sekolah salah satunya siswa
dapat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen baik nilai social,
nilai moral, maupun nilai budaya.

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini berfokus pada judul penelitian ini yaitu analisis nilai-nilai
religius karya A.A Navis dan implementasinya terhadap pembelajaran sastra di
sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Ahmad Thontowi (2005) nilai religius
merupakan suatu bentuk hubungan manusia dengan penciptanya melalui ajaran
agama yang sudah terintenalisasi dalam diri seseorang dan tercermin dalam sikap
dan perilakunya sehari-hari.

C. Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah nilai-nilai religius yang terdapat dalam cerpen robohnya surau


kami karya A.A Navis?

2. Bagaimanakah implementasi cerpen robohnya surau kami karya A.A Navis


terhadap pembelajaran sastra di sekolah?

D. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan nilai-nilai religius yang terdapat dalam cerpen robohnya


surau kami karya A.A Navis

2. Mendeskripsikan implementasi cerpen robohnya surau kami karya A.A Navis


terhadap pembelajaran sastra di sekolah?

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis

3
a) Penelitian ini dapat membantu pembaca untuk memperluas pengetahuan dalam
bidang bahasa dan sastra Indonesia, khususnya bagi pencinta sastra seperti cerpen.

b) Penelitian ini diharapkan dapat di pergunakan untuk memahami ajaran nilai


religius yang terdapat dalam cerpen robohnya surau kami

2. Manfaat Praktis

Memberi Pengetahuan, baik bagi guru maupun para siswa mengenai nilai-nilai
religius yang terkandung dalam cerpen robohnya surau kami karya A.A Navis
terhadap pembelajaran sastra di sekolah.

4
BAB II

LANDASAN TEORETIS

1. Konsep Cerpen
a. Pengertian cerpen

Cerita pendek merupakan salah satu jenis karya sastra yang berbentuk
prosa fiksi, istilah fiksi berarti cerita tersebut bersifat rekaan atau imajinasi
penulis. Fiksi dibedakan menjadi dua yaitu karya fiksi dengan non fiksi. Karya
fiksi yaitu tokoh, tempat, peristiwa, dan tempat bersifat imajinatif sedangkan
karya non fiksi bersifat factual, benar ada dan terjadi sehingga kebenarannya pun
dapat dibuktikan dengan data empiris. Menurut Abrams ( dalam Nurgiantoro,
2013 : 2) istilah fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada
kebenaran sejarah tetapi suatu yang benar ada dan terjadi di dunia nyata sehingga
kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris.

Menurut Burhan Nurgiantoro (2013 : 3 ) imajinasi (creative thinking)


berfikir untuk menciptakan sesuatu , dengan berimajinasi seseorang aktif berfikir,
memahami mengkritisi, menganalisis, menyintensis, dan mengevaluasi untuk
menghasilkan suatu karya sastra. Salah satu karya imajinatif adalah teks cerpen.
Cerita pendek terdapat pergolakan jiwa pada diri pelakunya sehingga secara
keseluruhan pembaca bisa merasakan apa yang ada di dalam teks cerpen.

Menurut Stanton (2007 : 83 ) mengatakan bahwa cerpen haruslah


berbentuk padat, jumlah kata harus lebih sedikit di banding dengan novel. Dengan
cerpen inilah pengarang dapat menciptakan karakter-karakter yang dimunculkan
secara bersamaan. Cerpen tersusun berbagai tingkatan, pembaca menggugah
kepekaan pembaca, pemahamannya, emosinya, dan kepekaan terhadap nilai yang
terkandung didalam cerpen tersebut.

Menurut Edgar Allan poe (dalam Nurgiantoro, 2010 : 10) mengatakan


bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Kira-
kira berkisar antara setengah sampai dua jam, suatu hal yang kiranya tak mungkin

5
dilakukan untuk sebuah novel. Burhan Nurgiantoro (2010:11) kelebihan cerpen
yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak, jadi secara
implisit dari sekedar apa yang diceritakan.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen


merupakan cerita yang berbentuk prosa fiksi, yang bersifat khayalan atau
imajinasi penulis. Cerpen atau cerita pendek dapat mempengaruhi pembaca
melalui tingkat kepekaanya. Ceritanya lebih pendek dari pada novel dan selesai
dibaca dalam sekali duduk.

b. Ciri-ciri cerpen

Karakteristik atau ciri-ciri cerpen diantaranya yaitu :

1. Ceritanya fiktif atau rekaan


2. Fokus pada satu aspek cerita
3. Mengungkapkan masalah yang penting saja
4. Menyajikan peristiwa dengan cermat dan jelas
5. Ceritanya pendek atau singkat
6. Menggunakan bahasa yang tajam, sugestif, dan provokatif atau menarik
perhatian
7. Tokoh yang ditampilkan terbatas sekitar 1-3 orang saja.

c. Jenis-jenis cerpen

Berdasarkan jumlah jenis cerpen dibedakan menjadi 3 diantaranya, yaitu :

1. Cerpen Pendek (short story)


cerita pendek adalah jenis cerita yang kurang dari 10.000 kata panjangnya.
Jenis pertama dari cerpen adalah Cerpen Pendek. Cerita pendek yang satu ini
cenderung lebih pendek dari pada jenis cerita pendek lainnya. Panjang kata dari
Cerpen Pendek yaitu sekitar 500 hingga 700 kata.

2. Cerpen Sedang (middle short story)

6
Jenis cerita pendek atau cerpen yang kedua yaitu cerita pendek sedang .
Cerita pendek Sedang biasanya memiliki panjang sekitar 700 hingga 1.000 kata
panjangnya.

3. Cerpen Panjang (long short story)

Cerpen yang ini biasanya dibuat dengan panjang sekitar 1.000 kata atau lebih.
Dan bahkan ada sebuah cerpen yang dibuat mendekati 5.000 kata atau bahkan
10.000 kata. Jenis cerpen yang satu ini memiliki ciri umum yang penuturannya
yang santai.

d. Unsur-unsur pembangun Cerpen

Unsur pembangun cerpen terbagi menjadi dua yaitu unsur intrinsik dan unsur
ekstrinsik :

1. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun cerpen dari dalam. Berikut
unsure intrinsik yang ada di dalam cerpen :

a) Tema cerita adalah ide pokok yang mendasari jalannya cerita


b) Alur/ plot adalah urutan peristiwa yang ada di dalam cerita pendek
c) Setting adalah bentuk latar atau tempat,waktu dan suasana yang terdapat
pada cerita pendek
d) Tokoh adalah pemeran yang diceritakan didalam cerpen, baik itu pemeran
utama maupun peran pendukung
e) Watak adalah sifat atau karakter yang dimiliki oleh masing-masing tokoh
f) Sudut pandang adalah cara pandang penulis menceritakan isi atau kejadian
dalam sebuah cerpen
g) Amanat adalah pesan atau pelajaran yang terdapat di dalam cepen baik
tersirat maupun tersurat dalam cerpen
2. Unsur Ekstrinsik

7
Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada diluar cerpen, tetapi berpengaruh
pada keberadaan cerpen tersebut. Unsur ekstrinsik dalam cerpen meliputi :

a) Latar belakang pengarang, seperti pendidikan, kondisi keluarga, jenis


kelamin, usia dan sebagainya
b) Waktu dan tempat penulisan cerpen termasuk didalamnya idiologi,
politik,ekonomi,[Link], pertahanan, dan keamanan) ketika cerpen
tersebut diciptaka

2. Tinjauan tentang religius

a. Pengertian Nilai

Nilai atau value (bahasa inggris) atau valaere (bahasa latin) yang berarti
berguna, mampu akan, berdaya, berlaku dan kuat. Nilai merupakan kualitas suatu
hal yang dapat menjadikan hal itu disukai, diinginkan berguna,dihargai dan dapat
dijadikan objek kepentingan. Menurut Steeman (dalam Sjarkawi, 2008 : 29) nilai
adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, yang mewarnai dan menjiwai tindakan
seseorang.

Menurut Rokech dan Bank (dalam Asmaun Sahlan, 2010 : 66) bahwasannya
nilai merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem
kepercayaan yang berada dimana seseorang bertindak atau menghindari suatu
tindakan, atau mengenai sesuatu yang dianggap pantas. Ini berarti pemberian arti
terhadap suatu objek.

Menurut Wicaksono (2014: 322) makna nilai merupakan suatu kebaikan yang
ada di dalam karya sastra, kebaikan tersebut meliputi hal-hal yang positif yang
berguna dalam kehidupan manusia dan pantas untuk dimiliki setiap manusia.

Dapat disimpulkan bahwa nilai dapat dijadikan sebagai pengarah, pengendali


dan penentu perilaku seseorang dalam melakukan tindakan atau suatu perbuatan
yang postif dan berguna dalam kehidupan manusia.

b. Pengertian religius

8
Secara bahasa, kata religiusitas adalah kata kerja yang berasal dari kata benda
religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare yang berarti
menghubungkan kembali yang telah putus. Maksudnya adalah menghubungkan
kembali tali hubungan antara manusia dan Tuhannya yang telah terputus oleh
dosa-dosanya (Arifin,1995).

Kata dasar religius berasal dari bahasa latin religare yang berarti mengikat.
Dalam bahasa inggris disebut dengan religi yang berarti agama. Dapat diartikan
bahwa agama bersifat mengikat, yang mengatur hubungan manusia dengan
Tuhannya. Dalam ajaran Agama Islam hubungan tersebut tidak hanya sekedar
hubungan dengan Tuhannya tetapi juga meliputi hubungan dengan manusia
lainnya, masyarakat dan lingkungannya.

Dari segi isi, agama adalah seperangkat ajaran yang merupakan perangkat
nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan pedoman bagi para pemeluknya dalam
menentukan tindakan pilihan dalam kehidupannya. Dengan kata lain, agama
mencakup totalitas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang
dilandasi dengan Iman kepada Allah, sehingga seluruh tingkah lakunya
berlandaskan keimanan dan akan membentuk sikap positif dalam pribadi dan
perilakunya sehari-hari.

Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan
hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Religius merupakan penghayatan dan
pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

c. Nilai-nilai religius

Nilai religius adalah nilai yang bersumber dari keyakinan ke Tuhanan yang
ada pada diri seseorang. Dengan demikian, nilai religius adalah sesuatu yang
berguna dan dilakukan oleh manusia, berupa sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.

9
Secara umum nilai-nilai religius adalah nilai-nilai kehidupan yang
mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga
unsur pokok yaitu akidah, ibadah, dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku
sesuai dengan aturan-aturan agama dalam mencapai keselamatan dan
kesejahteraan serta kebahagian baik di dunia mupun di akhirat.

Makna religius lebih luas (universal) dari pada agama, karena agama
terbatas pada ajaran-ajaran atau aturan-aturan, berarti ia mengacu pada agama
(ajaran) tertentu (Mangunwijaya,1982 : 54). Untuk itu dalam pembahasan tentang
nilai-nilai religius yang lebih mengkhususkan pada ajaran agama tertentu ,
digunakan acuan salah satu agama tertentu pula.

Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai acuan salah satu agama
tertentu pula. Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai acuan adalah agama
islam. Alasan peneliti karena cerpen robohnya surau kami bernuansa islami.

d. Bentuk Nilai- nilai religius

Menurut Endang Saifuddin Anshari (dalam Ngainun Naim, 2012:125)


mengatakan bahwa dasarnya islam dibagi menjadi tiga bagian, akidah, ibadah dan
akhlak. Ketiganya saling berhubungan satu sama lain.

Menurut Muhaimin (2006 : 107) menyatakan bahwa pendidikan agama atau


yang ada dalam religius terdapat dua bentuk yaitu ada yang bersifat vertikal dan
horizontal. Yang vertical berwujud hubungan manusia dengan Allah (hablum
minallah) misalnya sholat, puasa, berdo’a dan lain-lain. Yang horizontal berwujud
hubungan antar manusia atau antar warga sekolah (hablum minannas), dan
hubungan mereka dengan alam sekitarnya.

Pada dasarnya pembagian bentuk nilai-nilai religius adalah sama karena


dimensi keyakinan atau akidah dan syari’ah sama halnya dengan bentuk vertical
yaitu hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), sedangkan untuk
dimensi akhlak termasuk dalam bentuk yang bersifat horizontal, hubungan
dengaan sesama manusia (hablum minannas).

10
e. Macam-macam nilai religius

Agama (religi) memiliki peranan yang sangat penting bagi pembelajaran sastra,
khususnya bagi para siswa. Adapun beberapa nilai religius, yaitu :

a).Nilai religius tentang hubungan manusia dengan Tuhannya

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan.


Manusia diciptakan dengan potensi ilahi, sehingga setiap orang perlu memiliki
keyakinan pada kekuatan di atasnya. Potensi ini mengarah pada kebutuhan
manusia akan agama dalam rangka menerapkan kepercayaan kepada Tuhan.
Penerapan agama terhadap manusia adalah melalui ibadah sebagai bentuk
ketaatan manusia dan cara manusia berkomunikasi dengan Tuhan, sebagai sumber
kedamaian batin dan kebahagiaan dalam hidup.

b).Nilai religius tentang hubungan sesama manusia

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan
bantuan orang lain. Dengan kata lain, manusia selalu berinteraksi dan
bersosialisasi dengan orang lain, sehingga terjadi hubungan timbal balik antar
manusia. Hubungan sosial yang melibatkan keyakinan agama yang tinggi
memiliki pola kehidupan sosial yang akan mencerminkan sikap positif dan
hubungan yang baik sebagai manusia. Manusia seharusnya adalah makhluk yang
berbudi luhur dengan akhlak mulia, sehingga dianjurkan bahwa manusia harus
seimbang dalam kehidupan, yaitu dunia dan akhirat harus seimbang. Tanpa usaha
apapun, apa yang kita lakukan pasti tidak akan tercapai. Nilai religius dari
keberadaan adalah mendidik manusia untuk memiliki sikap kerja keras dan tidak
mudah menyerah.

c).Nilai religius tentang hubungan manusia dengan alam

Misi penciptaan manusia adalah untuk menyembah Tuhan Pencipta. Ibadah


kepada Sang Pencipta dalam arti luas, yaitu ketaatan dan ketaatan manusia
terhadap segala larangan dan perintah Tuhan dalam kehidupannya di bumi, baik
yang berhubungan langsung dengan hubungan manusia dengan Tuhan, maupun

11
hubungan manusia dengan alam, termasuk sesama. Alam adalah tempat manusia
hidup dan menopang [Link] mensyukuri kebesaran Tuhan, manusia
harus mencintai alam dan memanfaatkan alam dengan baik, agar tidak
menimbulkan kerusakan alam dan menimbulkan bencana seperti banjir dan tanah
longsor. pencemaran, dll. Semua bencana yang terjadi adalah akibat ulah manusia
sendiri, yang kurang bersyukur dan gagal menjaga keseimbangan alam.

3. Implementasi pembelajaran sastra di sekolah

[Link]

Secara umum istilah Implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia


berarti pelaksanaan atau penerapan. Istilah implementasi biasanya dikaitkan
dengan suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Salah
satu upaya mewujudkan dalam suatu sistem adalah implementasi pembelajaran
sastra disekolah.

Menurut Widodo (Syahida, 2014:10), “implementasi berarti menyediakan


sarana untuk melaksanakan suatu kebijakan dan dapat menimbulkan
dampak/akibat terhadap sesuatu”. Menurut Merriam Webster adalah Suatu
tindakan atau contoh penerapan sesuatu. Tindakan ini meliputi proses membuat
sesuatu menjadi aktif atau efektif.

Mengimplementasikan nilai kehidupan yang ada dalam sebuah karya


sastra salah satunya nilai religius yang dapat mempengarhi siswa melakukan
suatu tindakan atau perbuatan yang memiliki dampak positif salah satunya ialah
beribadah kepada Tuhan. Menurut Santoso (2004: 1) mengatakan bahwa sastra
keagamaan adalah sastra yang mengandung nilai-nilai religius,moralitas dan unsur
estetika. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebuah pembelajaran sastra disekolah.

Dapat disimpulkan bahwa Implementasi berarti penerapan suatu kebijakan


yang dapat menimbulkan dampak positif, serta dapat mempengaruhi siswa dalam
melakukan suatu tindakan. Salah satunya ialah dengan membaca sebuah karya

12
sastra yang didalamnya mengandung nilai-nilai religius, moralitas dan estetika
yang dapat diterapkan oleh siwa.

b. Pembelajaran Sastra disekolah

Pembelajaran sastra disekolah dapat memberikan andil yang signifikan


terhadap keberhasilan pembelajaran sastra yang diinginkan, asalkan dilaksanakan
dengan pendekatan yang tepat, yaitu pendekatan yang dapat merangsang
terjadinya olah hati, olah rasa, dan olah pikir .

Menurut Akhmad Muhaimin Azzet (2011 : 88) hal yang semestinya


dikembangakan dalam diri siswa adalah terbangunnya pikiran, perkataan dan
tindakan siswa yang diupayakan berdasarkan nilai-nilai ketuhanan atau yang
bersumber dari agama yang dianutnya. Nilai religius dalam karya imajinatif
bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai agama agar penghayatan dan pengalaman
ajaran agama dapat diterapkan oleh siswa saat pembelajaran disekolah.

Dengan membaca karya sastra khususnya cerpen diharapkan mereka


mempunyai pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan, manusia
dengan Tuhan sebagai sumber ketentraman. Menurut Dojosantoso (1986:3)
mengatakan bahwa religi adalah keterikatan manusia terhadap tuhan sebagai
sumber kebahagiaan dan ketentraman.

4. Penelitian Relevan

Sudiharti, skripsi Universitas Negeri Semarang, judul penelitian Nilai Religius


Dalam Cerpen Derai- Derai Kamboja Karya Koesmarwanti Sebagai Alternatif
Bahan Ajar Apresiasi Sastra Bagi Siswa SMP.

Persamaan Penelitian ini adalah terdapat nilai-nilai religius yang bersifat


keagamaan untuk, perbedaan sendiri penelitian tersebut isinya mengenai
pencarian jati diri, persahabatan, ketakwaan, kesetiakawanan dan kekeluargaan
sedangkan penelitian ini isinya mengenai Nilai Tauhid, Fikih, dan akhlak.

13
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dekriptif


kualitatif. Adapun pengertian deskriptif kualitatif Menurut Mukhtar (2013: 10)
metode penelitian deskriptif kualitatif adalah sebuah metode yang digunakan
peneliti untuk menemukan pengetahuan atau teori terhadap penelitian pada satu
waktu tertentu.

Dasar digunakannya pemikiran metode ini adalah karena penelitian ini


bertujuan untuk menemukan atau mendeskripsikan nilai religius yang terdapat
dalam cerpen robohnya surau kami karya A.A Navis dan implementasinya
terhadap pembelajaran sastra di sekolah. Adapun Analisis nilai religius dalam
cerpen robohnya surau kami akan dideskripsikan melalui kata-kata. Dalam
penelitian ini penulis akan mengumpulkan data dan menggambarkannya secara
alamiah.

B. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah unsur yang sama-sama dengan sasaran penelitian yang
membentuk data dan konteks data (Sudaryanto, 1988: 30). Objek penelitian
adalah hal yang menjadi sasaran penelitian. Objek dalam penelitian ini adalah
Analisis nilai religius dalam cerpen robohnya surau kami karya A.A Navis dan
implementasinya terhadap pembelajaran sastra di sekolah.

C. Data dan Sumber data

1. Data dalam penelitian adalah kalimat,kata, uangkapan yang mengandung Nilai


Religius dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A Navis yang mecakup
nilai Tauhid,Fikih,dan Akhlak.

2. Penelitian ini menggunakan sumber data dari cerpen Robohnya Surau Kami
karya A.A Navis yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta pada
bulan September 2007 (edisi ketiga belas), Fokus penelitian ini adalah menegenai
nilai religius dalam cerpen.

14
D. Teknik Pengumpulan data

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Instrumen yang di


gunakan dalam penelitian ini adalah cerpen itu sendiri. Dalam penelitian ini yang
berperan sebagai alat pengumpulan data adalah peneliti itu sendiri.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik membaca,


teknik menandai, dan teknik mencatat. Ketiga teknik tersebut diuraikan sebagai
berikut :

1. Teknik membaca dilakukan dengan membaca dan mengamati kalimat setiap


paragraf cerpen Robohnya Surau kami karya A.A Navis secara teliti untuk
mendapatkan informasi yang jelas.

2. Teknik menandai yaitu dengan menandai setiap yang dianggap penting saat
membaca.

3. Teknik mencatat hasil pengamatan terhadap beberapa aspek kajian yang


terdapat dalam cerpen dicatat dalam kartu yang dipersiapkan. Setelah data selesai
dicatat selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan kategori yang ditemukan. Teknik
catat yang dilakukan dengan catat dan mengklasifikasikan data. Data tersebut
dilakukan pengecekan secara berulang dalam rangka analisis data.

E. Teknik Analisis data

Teknik yang digunakan dalam menganalisis dalam penelitian ini adalah


analisis isi (content analysis). Menurut Holsti (1968:601) merupakan sembarang
teknik penelitian yang ditujukan untuk membuat kesimpulan dengan cara
mengidentifikasi karakteristik tertentu pada pesan-pesan secara objektif dan
sistematis. Secara umum, analisis ini berupaya mengungkap berbagai informasi
dibalik data yang disajikan di media atau teks. Jadi, analisis ini dapat didefinisikan
sebagai teknik mengumpulkan dan menganalisis isi dari suatu teks. Untuk
menentukan nilai religius dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A Navis.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data sebagai
berikut:

15
[Link] data yang menggambarkan nilai religius dalam cerpen
Robohnya Surau kami karya A.A Navis.

2. Mengklasifikasi data yang menggambarkan nilai religius dalam cerpen


Robohnya Surau kami karya A.A Navis.

3. Menganalisis data berdasarkan data yang diperoleh yang menggambarkan nilai


religius dalam cerpen Robohnya Surau kami karya A.A Navis.

4. Mendeskripsikan nilai religius dari data yang telah dianalisis dalam cerpen
Robohnya Surau kami karya A.A Navis.

F. Jadwal Penelitian

Kegiatan Bulan

Oktober November Desember Jan Feb Maret

Konsultasi  
Dosen PA
Penyusunan  
Proposal
Seminar 
Proposal
Revisi 
Proposal
Pengolahan 
Analisis dan
Penyusunan
Laporan

16
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Thontowi (2005). Hakekat Religiusitas. Diakses dari,


Http://[Link]/file/dokumen/[Link]

Alfian Rokhmansyah. (2014). Studi dan Pengkajian Sastra : Perkenalan Awal


Terhadap Ilmu Sastra. Yogyakarta : Farhan Ilmu.

Arifin. (1995). Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Bumi
Aksara 1995

Azzet,Akhmad, Muhaimin. (2011). Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia.


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Damono, Supardi Djoko. (1984). Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.


Jakarta : Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa.

Dojosantoso. (1986). Unsur Religius dalam Sastra Jawa. Semarang : CV Aneka


Ilmu.

Endah Tri Priyatni. (2010). Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis.
Jakarta : Bumi Aksara

Mangunwijaya.Y.B. (1982). Sastra dan Religiositas. Jakarta: Sinar Harapan

Melati,Victoria,Felisitas; Pranowo. (2022). “Analisis konteks wacana dalam


cerpen “Kuli kontrak” Karya Mochtar Lubis.” Jurnal Pendidikan bahasa dan
sastra Indonesia, No.1, 4

Muhaimin.(2006).Nuansa Baru Pendidikan Islam. Jakarta : Raja Grafindo


Persada

Mukhtar. (2013). Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif. Jakarta :


Referensi (GP press Group)

Naim, Ngainun. (2012). Character Building Optimalisasi Peran Pendidikan


dalam Pengembangan ilmu dan Pembentukan karakter bangsa. Yogyakarta:
Arruz Media

Nurgiantoro, Burhan. (2010). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada


UniversityPress.

Nurgiantoro, Burhan. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada


UniversityPress.

17
Sahlan, Asmaun. (2010). Mewujudkan Budaya Religius di sekolah : Upaya
Mengembangkan PAI dari teori ke Aksi. Malang UIN Maliki Press.

Santoso, Puji. (2004) Sastra Keagamaan dalam perkembangan sastra Indonesia.


Jakarta : Pusat Bahasa.

Sjarkawi. (2008). Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta : Bumi Aksara

Stanton,Robert. (2007). Teori Fiksi Robert Stanton. ([Link]).


Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sudaryanto. (1988). Metode Linguistik: Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan


Data. Yogyakarta. Duta Wacana Press.

Syahida,Agung,Bayu. (2014). Implementasi Perda Nomor 14 tahun 2009.


Tanjung Pinang. Jurnal

Wellek, Rene dan Austin Warren.(1990).Teori Kesusastraan Terjemahan Melani


Budianto. [Link] Gramedia.

Wicaksono, Andri. (2014). Pengakajian Prosa Fiksi. Yogyakarta Garudhawaca

18
DAFTAR LAMAN

Brigaseli.2020. “Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A Navis”,

[Link]
[Link]?m=1#:~:text=Cerpen%20Robohnya%20Surau%20Kami%20ini,surau
%20tersebut%20masih%20tegak%20berdiri

Kristina.(2021).”Ciri-ciri cerpen dan unsur intrinsiknya”,

[Link]
instriknya-yang-perlu-diketahui

Rahma,lmelda.2021. “ Implementasi Menurut MerriamWebster”,

[Link]
merealisasikan-rencana-ketahui-pengertian-dan-contohnya

19
LAMPIRAN

Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis

Cerpen Robohnya Surau Kami ini menceritakan suatu tempat dimana ada sebuah
surau tua yang nyaris ambruk. Kemudian datanglah seseorang ke sana dengan
keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat untuk menjadi garin atau
penjaga surau tersebut, dan hingga kini surau tersebut masih tegak berdiri.

Meskipun kakek atau garin dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada hal
pokok yang membuatnya dapat bertahan, yaitu dia mau bekerja sebagai pengasah
pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang,
makanan, kue-kue, atau rokok. Kehidupan kakek ini sangat monoton. Dia hanya
mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah
di surau, dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Hasil pekerjaannya itu
tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah
terpikirkan.

Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau
itu. Ajo sidi adalah seorang pembual yang datang kepada kakek penjaga surau
sebelum kakek penjaga surau itu meninggal. Lalu, keduanya terlibat dalam sebuah
perbincangan.

Pada perbincangan itu, Ajo sidi mengisahkan tentang kejadian Haji Saleh di
akhirat ketika dia dimasukkan ke dalam neraka. Haji Saleh tidak menerimanya
karena Haji Saleh merasa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Tak sekalipun
Haji Saleh meninggalkan kewajiban Tuhan. Bahkan setiap waktunya hanya untuk
menyembah Tuhan.

Kemudian Haji Saleh datang menuntut kepada Tuhan atas semua apa yang dia
kerjakan. Ternyata apa yang dikerjakan itu justru salah. Haji Saleh tidak
seharusnya hanya mementingkan dirinya sendiri untuk beribadah dan sembahyang
setiap waktunya demi masuk surga dan melupakan kewajibannya kepada anak dan
isrtinya sehingga jatuh dalam kemelaratan. Itu yang membuat Haji Saleh
dimasukkan ke dalam neraka. Padahal di dunia ini hidup berkaum, bersaudara,
tetapi Haji Saleh tidak memedulikan mereka sedikit pun.

Sepulangnya berbincang dengan Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan
kesal. Dia merasakan apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran
untuk dirinya. Dia memang tidak pernah mengingat anak dan istrinya, tetapi dia
pun tidak pernah memikirkan hidupnya sendiri sebab memang tak ingin kaya atau
membuat rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhan.
Dia tak berusaha menyusahkan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia

20
senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada [Link] penjaga
surau begitu memikirkan hal itu dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia
tertekan dan tidak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia lebih memilih jalan
pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan
pisau cukur.

Kematiannya sungguh mengenaskan dan mengejutkan masyarakat sekitar. Semua


orang berusaha mengurus jenazahnya dan menguburnya, kecuali satu orang saja
yang tidak begitu peduli atas kematian sang kakek penjaga surau. Dialah Ajo Sidi,
yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau, dia tetap pergi
bekerja. Ajo Sidi yang mengetahui kematian kakek hanya berpesan kepada
istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk kakek, lalu dia pergi
bekerja.

Seperti rumah yang ditinggal penghuninya, surau yang dulunya digunakan untuk
beribadah itu kini hanya dipakai untuk sekadar bermain anak-anak. Tidak ada lagi
panggilan adzan, sholat berjamaah, dan lantunan ayat-ayat suci Al-quran. Bahkan
jika ada ibu-ibu yang membutuhkan kayu bakar, tak segan-segan mengambil salah
satu bagian dari tiang-tiang surau yang mulai lapuk dan hampir roboh. Tak ada
lagi yang mau peduli terhadap surau tempat beribadah itu. Itulah pemandangan
yang bisa dilihat dari surau seorang kakek setelah dia meninggal.

21

Anda mungkin juga menyukai