Unsur dan Asas Hukum Perjanjian
Unsur dan Asas Hukum Perjanjian
HUKUM PERJANJIAN
Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain/lebih (Pasal 1313 BW). Pengertian
perjanjian ini mengandung unsur :
a. Perbuatan,
Penggunaan kata “Perbuatan” pada perumusan tentang Perjanjian ini lebih tepat
jika diganti dengan kata perbuatan hukum atau tindakan hukum, karena
perbuatan tersebut membawa akibat hukum bagi para pihak yang
memperjanjikan;
b. Satu orang atau lebih terhadap satu orang lain atau lebih, Untuk adanya suatu
perjanjian, paling sedikit harus ada dua pihak yang saling berhadap-hadapan dan
saling memberikan pernyataan yang cocok/pas satu sama lain. Pihak tersebut
adalah orang atau badan hukum.
c. Mengikatkan dirinya,
Di dalam perjanjian terdapat unsur janji yang diberikan oleh pihak yang satu
kepada pihak yang lain. Dalam perjanjian ini orang terikat kepada akibat hukum
yang muncul karena kehendaknya sendiri.
Unsur-Unsur Perjanjian
1. Dari perumusan perjanjian tersebut, terdapat beberapa unsur perjanjian :
2. Ada pihak-pihak (subjek), sedikitnya dua pihak
3. Ada persetujuan antara pihak-pihak yang bersifat tetap
4. Ada tujuan yang akan dicapai, yaitu untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak
5. Ada prestasi yang akan dilaksanakan
6. Ada bentuk tertentu, lisan atau tulisan
7. Ada syarat-syarat tertentu sebagai isi perjanjian
1
ASAS-ASAS PERJANJIAN
Penentuan resiko.
2
Salah satu teori yang digunakan untuk menentukan saat lahirnya perjanjian yakni :
Teori Pernyataan (Uitings Theorie). Menurut teori ini perjanjian telah ada/lahir saat
atas suatu penawaran telah ditulis surat jawaban penerimaan. Dengan kata lain
perjanjian itu ada pada saat pihak lain menyatakan penerimaan/akspetasinya.
JENIS-JENIS PERJANJIAN
Secara teoritis dikenal ada dua jenis perjanjian, yaitu perjanjian nominatif dan perjanjian
innominatif.
Perjanjian yang termasuk kedalam perjanjian nominatif ini adalah sebagai berikut :
1. Perjanjian jual beli, yaitu suatu persetujuan, dimana pihak yang satu mengikatkan
dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar
harga yang telah diperjanjikan. Perjanjian ini diatur mulai pasal 1457 sampai dengan
pasal 1540 KUHPerdata.
2. Perjanjian tukar menukar, yaitu suatu persetujuan, dimana kedua belah pihak
mengikatkan dirinya untuk saling memberikan suatu barang secara timbal balik,
sebagai gantinya suatu barang lain. Perjanjian ini diatur mulai pasal 1541 sampai
dengan pasal 1546 KUHPerdata.
3. Perjanjian sewa menyewa, yaitu suatu persetujuan dimana pihak yang satu
mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari
sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu, dan dengan pembayaran sesuatu
harga, yang oleh pihak tersebut belakangan disanggupi pembayarannya. Perjanjian
ini diatur mulai pasal 1548 sampai dengan pasal 1600 KUH Perdata.
4. Perjanjian perburuhan, yaitu suatu persetujuan dimana pihak yang satu, si buruh,
mengikatkan dirinnya untuk dibawah perintahnya pihak yang lain, si majikan, untuk
suatu waktu tertentu melakukan perkerjaan dengan menerima upah. Perjanjian ini
diatur mulai pasal 1601 a sampai dengan pasal 1603 z KUH Perdata. Perjanjian ini
telah diundangkannya UU no. 13 tahun 2003, pasal-pasal ini dinyataan tidak berlaku,
hanya tetap “diperhatikan” sebagai pedoman saja.
5. Persekutuan, yaitu suatu persetujuan dimana dua orang atau lebih mengikatkan diri
untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan dengan maksud untuk membagi
kentungan yang terjadi karenanya. Perjanjian ini diatur mulai pasal 1618 sampai
dengan pasal 1665 KUH Perdata.
3
6. Hibah, yaitu suatu persetujuan dimana pengibah, di waktu hidupnya, denga cuma-
cuma, dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sasuatu benda guna
keperluan si penerima hibah menerima penyerahan itu. Perjanjian ini diatur mulai
pasal 1666 sampai dengan pasal 1693 KUH Perdata.
7. Perjanjian pinjam pakai, yaitu suatu persetujuan dimana pihak yang satu
memberikan suatu barang kepada pihak lainnya untuk dipakai dengan Cuma-cuma
dengan syarat bahwa yang menerima barang ini, setelah memakainya atau setelah
lewatnya suatu waktu tertentu, akan mengembalikannya. Perjanjian ini diatur mulai
pasal 1740 sampai dengan pasal 1753 KUH Perdata.
8. Perjanjian pinjam meminjam, yaitu suatu persetujuan dimana pihak yang satu
memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang habis
karena pemakaian dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan
mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula.
Perjanjian ini diatur mulai pasal 1754 sampai dengan pasal 1773 KUH Perdata.
9. Persetujuan untung-untungan, yaitu suatu persetujuan yang hasilnya mengenai
untung ruginya, baik bagi semua pihak, maupun bagi sementara pihak, bergantung
kepada suatu kejadian yang belum tentu. Perjanjian ini diatur mulai pasal 1774
sampai dengan pasal 1791 KUH Perdata.
10. Pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dimana seseorang memberikan
kekuasaan kepada orang lain, yang menerimanya, untuk atas namanya
menyelenggarakan suatu urusan. Perjanjian ini diatur mulai pasal 1792 sampai
dengan pasal 1819 KUH Perdata.
11. Penanggungan utang, yaitu suatu persetujuan dimana pihak ketiga, guna
kepentingan si berpiutang, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si
berutang ketika orang ini sendiri tidak memenuhinya. Perjanjian ini diatur mulai pasal
1820 sampai dengan pasal 1850 KUH Perdata.
12. Perdamaian, yaitu suatu persetujuan dimana kedua belah pihak dengan
menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang mangakhiri suatu perkara
yang sedang bergantung atapun mencegah timbulnya suatu perkara. Perjanjian ini
diatur mulai pasal 1851 sampai dengan pasal 1864 KUH Perdata.
4
Perjanjian yang termasuk kedalam perjanjian innominatif ini adalah sabagi berikut :
Agar suatu Perjanjian dapat menjadi sah dan mengikat para pihak, perjanjian harus
memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1320 BW yaitu :
5
Pasal 1330 BW menentukan yang tidak cakap untuk membuat perikatan :
a. Orang-orang yang belum dewasa
b. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan
c. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang
undang,
dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang
membuat perjanjian-perjanjian tertentu. Namun berdasarkan fatwa Mahkamah
Agung, melalui Surat Edaran Mahkamah Agung No.3/1963 tanggal 5 September
1963, orang-orang perempuan tidak lagi digolongkan sebagai yang tidak cakap.
Mereka berwenang melakukan perbuatan hukum tanpa bantuan atau izin
suaminya. Akibat dari perjanjian yang dibuat oleh pihak yang tidak cakap adalah
batal demi hukum (Pasal 1446 BW).
6
TPK sepakat untuk membeli sejumlah barang dengan biaya tertentu dan
supplier sepakat untuk menyuplai barang dengan pembayaran tersebut.
Tidak ada unsur paksaan terhadap kedua belah pihak.
TPK dan supplier telah dewasa, tidak dalam pengawasan atau karena
perundang-undangan, tidak dilarang untuk membuat perjanjian.
Barang yang akan dibeli/disuplai jelas, apa, berapa dan bagaimana.
Tujuan perjanjian jual beli tidak dimaksudkan untuk rekayasa atau untuk
kejahatan tertentu (contoh: TPK dengan sengaja bersepakat dengan
supplier untuk membuat kwitansi dimana nilai harga lebih besar dari harga
sesungguhnya).
Dari uraian di atas, timbul satu pertanyaan, bagaimana jika salah satu syarat di
atas tidak terpenuhi ? Ada dua akibat yang dapat terjadi jika suatu perjanjian
tidak memenuhi syarat di atas.
Misal:
Pada saat terjadi musyawarah penanganan masalah, pelaku menyatakan bahwa
ia akan mengembalikan dana tersebut bulan depan. Dengan demikian, sejak ia
7
menyatakan kesediaannya, sejak itulah perikatan terjadi atau berlaku. Bahkan
bila pada saat itu tidak dilengkapi dengan adanya pernyataan tertulis. Satu
persoalan terkait dengan hukum perjanjian adalah bagaimana jika salah satu
pihak tidak melaksanakan perjanjian atau wan prestasi? Ada 4 akibat yang dapat
terjadi jika salah satu pihak melakukan wan prestasi yaitu :
Mencari pengakuan akan kelalaian atau wan prestasi tidaklah mudah. Sehingga
apabila yang bersangkutan menyangkal telah dilakukannya wan prestasi dapat
dilakukan pembuktian di depan pengadilan. Sebelum kita melangkah pada proses
pembuktian di pengadilan, terdapat langkah-langkah yang dapat kita tempuh
yaitu dengan membuat surat peringatan atau teguran, yang biasa dikenal dengan
istilah SOMASI.
8
C. Akibat Perjanjian
Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang menyatakan bahwa semua kontrak
(perjanjian) yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya.
Dari Pasal ini dapat disimpulkan adanya asas kebebasan berkontrak, akan tetapi
kebebasan ini dibatasi oleh hukum yang sifatnya memaksa, sehingga para pihak
yang membuat perjanjian harus menaati hukum yang sifatnya memaksa. Suatu
perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau
karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.
Perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan
didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian,
diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.
Suatu perjanjian tidak diperbolehkan membawa kerugian kepada pihak ketiga.
D. Berakhirnya Perjanjian
9
b. kreditur tidak berhak atas pemenuhan prestasi, tetapi sekaligus demi hukum
bebas dari kewajibannya untuk menyerahkan kontra prestasi, kecuali untuk
yang disebut dalam Pasal 1460 KUH Perdata.
c. keadaan memaksa yang relatif adalah suatu keadaan yang menyebabkan
debitur masih mungkin untuk melaksanakan prestasinya, tetapi pelaksanaan
prestasi itu harus dilakukan dengan memberikan korban besar yang tidak
seimbang atau menggunakan kekuatan jiwa yang di luar kemampuan
manusia atau kemungkinan tertimpa bahaya kerugian yang sangat besar.
Keadaan memaksa ini tidak mengakibatkan beban resiko apapun, hanya
masalah waktu pelaksanaan hak dan kewajiban kreditur dan debitur.
d. pernyataan menghentikan persetujuan (opzegging) yang dapat dilakukan
oleh kedua belah pihak atau oleh salah satu pihak pada perjanjian yang
bersifat sementara misalnya perjanjian kerja;
e. putusan hakim;
f. tujuan perjanjian telah tercapai;
g. dengan persetujuan para pihak (herroeping).
10
Pasal 2 Konvensi Wina 1969 mendefinisikan perjanjian internasional (treaty) adalah
suatu persetujuan yang dibuat antar negara dalam bentuk tertulis, dan diatur oleh
hukum internasional, apakah dalam instrumen tunggal atau dua atau lebih instrumen
yang berkaitan dan apapun nama yang diberikan kepadanya.
Berbeda dengan perjanjian dalam hukum privat yang sah dan mengikat para pihak
sejak adanya kata sepakat, namun dalam hukum publik kata sepakat hanya
menunjukkan kesaksian naskah perjanjian, bukan keabsahan perjanjian. Dan setelah
perjanjian itu sah, tidak serta merta mengikat para pihak apabila para pihak belum
melakukan ratifikasi.
Tahapan pembuatan perjanjian meliputi :
11
a. perundingan dimana negara mengirimkan utusannya ke suatu konferensi
bilateral maupun multilateral;
b. penerimaan naskah perjanjian (adoption of the text) adalah penerimaan isi
naskah perjanjian oleh peserta konferensi yang ditentukan dengan persetujuan
dari semua peserta melalui pemungutan suara;
c. kesaksian naskah perjanjian (authentication of the text), merupakan suatu
tindakan formal yang menyatakan bahwa naskah perjanjian tersebut telah
diterima konferensi. Pasal 10 Konvensi Wina, dilakukan menurut prosedur yang
terdapat dalam naskah perjanjian atau sesuai dengan yang telah diputuskan
oleh utusan-utusan dalam konferensi. Kalau tidak ditentukan maka pengesahan
dapat dilakukan dengan membubuhi tanda tangan atau paraf di bawah naskah
perjanjian.
d. persetujuan mengikatkan diri (consent to the bound), diberikan dalam
bermacam cara tergantung pada permufakatan para pihak pada waktu
mengadakan perjanjian, dimana cara untuk menyatakan persetujuan adalah
sebagai berikut :
a) penandatanganan,
Pasal 12 Konvensi Wina menyatakan :
persetujuan negara untuk diikat suatu perjanjian dapat dinyatakan
dalam bentuk tandatangan wakil negara tersebut;
bila perjanjian itu sendiri yang menyatakannya;
bila terbukti bahwa negara-negara yang ikut berunding menyetujui
demikian;
bila full powers wakil-wakil negara menyebutkan demikian atau
dinyatakan dengan jelas pada waktu perundingan.
b) pengesahan, melalui ratifikasi dimana perjanjian tersebut disahkan oleh
badan yang berwenang di negara anggota.
C. Akibat Perjanjian
12
segara yang harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjamin
pelaksanaannya. Daya ikat perjanjian didasarkan pada prinsip pacta sunt
servanda.
2. Bagi negara lain :
Berbeda dengan perjanjian dalam lapangan hukum privat yang tidak boleh
menimbulkan hak dan kewajiban bagi pihak ketiga, perjanjian internasional
dapat menimbulkan akibat bagi pihak ketiga atas persetujuan mereka, dapat
memberikan hak kepada negara-negara ketiga atau mempunyai akibat pada
negara ketiga tanpa persetujuan negara tersebut (contoh : Pasal 2 (6)
Piagam PBB yang menyatakan bahwa negara-negara bukan anggota PBB
harus bertindak sesuai dengan asas PBB sejauh mungkin bila dianggap perlu
untuk perdamaian dan keamanan internasional). Pasal 35 Konvensi Wina
mengatur bahwa perjanjian internasional dapat menimbulkan akibat bagi
pihak ketiga berupa kewajiban atas persetujuan mereka dimana persetujuan
tersebut diwujudkan dalam bentuk tertulis.
D. Berakhirnya perjanjian
a. sesuai dengan ketentuan perjanjian itu sendiri;
b. atas persetujuan kemudian yang dituangkan dalam perjanjian tersendiri;
c. akibat peristiwa-peristiwa tertentu yaitu tidak dilaksanakannya perjanjian,
perubahan kendaraan yang bersifat mendasar pada negara anggota, timbulnya
norma hukum internasional yang baru, perang.
Pelaksanaan Perjanjian
Itikad baik dalam pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata merupakan ukuran objektif untuk
menilai pelaksanaan perjanjian, artinya pelaksanaan perjanjian harus mengindahkan
norma-norma kepatutan dan kesusilaan. Salah satunya untuk memperoleh hak milik
ialah jual beli.
Pelaksanaan perjanjian ialah pemenuhan hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan
oleh pihak-pihak supaya perjanjian itu mencapai tujuannya. Jadi perjanjian itu
mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa. Perjanjian yang telah dibuat secara
13
sah mengikat pihak-pihak, perjanjian tersebut tidak boleh diatur atau dibatalkan
secara sepihak saja.
Pembatalan perjanjian
Pembatalan suatu perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak yang membuat
perjanjian ataupun batal demi hukum. Perjanjian yang dibatalkan oleh salah satu
pihak biasanya terjadi karena :
RANGKUMAN
Perjanjian baik ditinjau dari hukum privat maupun publik; sama-sama memiliki
kekuatan mengikat bagi para pihak yang menjanjikan jika sudah memenuhi syarat-
syarat yang telah ditentukan dan dinyatakan sah. Namun berbeda dengan perjanjian
yang berlaku dalam lapangan hukum privat yang hanya mengikat kedua belah pihak
dalam lapangan hukum publik perjanjian mengikat bukan hanya kedua belah pihak
namun juga pihak ketiga. Selain itu subyek perjanjian dilapangan hukum privat
adalah individu atau badan hukum, sementara subyek perjanjian dalam hukum
publik adalah subyek hukum internasional yaitu negara, organisasi internasional.
14
PERTANYAAN LATIHAN
1. Apa yang dimaksud dengan hukum perjanjian ditinjau dari Hukum Privat dan
Hukum Publik?
2. Sejak kapan lahirnya perjanjian?
3. Apa yang dimaksud perjanjian nominatif dan perjanjian innominatif?
4. Apa saja yang menjadi syarat sahnya suatu perjanjian menurut Pasal 1320
BW?
5. Suatu perjanjianpasti akan berahir, sebutkan apa saja yang mengakibatkan
perjanjian tu akan berakhir?
6. Pembatalan suatu perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak yang
membuat perjanjian atau batal demi hukum. Sebutkan apa saja yang
membuat perjanjian membatalkan perjanjian itu secara sepihak?
15
MODUL III DAN IV
HUKUM PERIKATAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang-orang yang tidak sadar bahwa setiap
harinya mereka melakukan perikatan. Hal-hal seperti membeli suatu barang atau
menggunakan jasa angkutan umum, perjanjian sewa-menyewa hal-hal tersebut
merupakan suatu perikatan. Perikatan di Indonesia diatur pada buku ke III
KUHPerdata (BW). Dalam hukum perdata banyak sekali hal yang dapat menjadi
cangkupannya, salah satunya adalah perikatan. Perikatan adalah suatu hubungan
hukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua orang atau lebih di mana pihak
yang satu berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban atas sesuatu. Hubungan
hukum dalam harta kekayaan ini merupakan suatu akibat hukum, akibat hukum dari
suatu perjanjian atau peristiwa hukum lain yang menimbulkan perikatan.
Perikatan adalah suatu hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua
orang atau lebih di mana pihak yang satu berhak atas sesuatu dan pihak lain
berkewajiban atas sesuatu. Hubungan hukum dalam harta kekayaan ini merupakan
suatu akibat hukum, akibat hukum dari suatu perjanjian atau peristiwa hukum lain
yang menimbulkan perikatan.
16
Perikatan adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda “verbintenis”.
Istilah perikatan ini lebih umum dipakai dalam literature hukum di Indonesia.
Perikatan artinya hal yang mengikat orang yang satu terhadap orang yang lain. Hal
yang mengikat itu menurut kenyataannya dapat berupa perbuatan. Misalnya jual beli
barang, dapat berupa peristiwa misalnya lahirnya seorang bayi, matinya orang,
dapat berupa keadaan, misalnya letak pekarangan yang berdekatan, letak rumah
yang bergandengan atau bersusun. Karena hal yang mengikat itu selalu ada dalam
kehidupan bermasyarakat, maka oleh pembentuk undang- undang atau oleh
masyarakat sendiri diakui dan diberi akibat hukum. Dengan demikian, perikatan yang
terjadi antara orang yang satu dengan yang lain itu disebut hubungan hukum (legal
relation).
Jika dirumuskan, perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi antara orang yang
satu dengan orang yang lain karena perbuatan, peristiwa, atau keadaan. Dari
rumusan ini dapat diketahui bahwa perikatan itu terdapat dalam bidang hukum harta
kekayaan (law of property), dalam bidang hukunm keluarga (family law), dalam
bidang hukum waris (law of succession), dalam bidang hukum pribadi (personal
law). Perikatan yang terdapat dalam bidang hukum ini disebut perikatan dalam arti
luas. perikatan yang terdapat dalam bidang- bidang hukum tersebut di atas dapat
dikemukakan contohnya sebagai berikut:
1. Dalam bidang hukum kekayaan, misalnya perikatan jual beli, sewa menyewa,
wakil tanpa kuasa (zaakwaarneming), pembayaran tanpa utang, perbuatan
melawan hukum yang merugikan orang lain.
2. Dalam bidang hukum keluarga, misalnya perikatan karena perkawinan,
karena lahirnya anak dan sebagainya.
3. Dalam bidang hukum waris, misalnya perikatan untuk mawaris karena
kematian pewaris, membayar hutang pewaris dan sebagainya.
4. Dalam bidang hukum pribadi, misalnya perikatan untuk mewakili badan
hukum oleh pengurusnya, dan sebagainya.
17
Perikatan Dalam arti Sempit
Perikatan yang dibicarakan dalam buku ini tidak akan meliputi semua perikatan
dalam bidang- bidang hukum tersebut. Melainkan akan dibatasi pada perikatan yang
terdapat dalam bidang hukum harta kekayaan saja,yang menurut sistematika Kitab
Undang- Undang hukum Perdata diatur dalam buku III di bawah judul tentang
Perikatan. Tetapi menurut sistematika ilmu pengetahuan hukum, hukum harta
kekayaanitu meliputi hukukm benda dan hukum perikatan, yang diatur dalam buku
II KUHPdt di bawah judul Tentang Benda. Perikatan dalam bidang harta kekayaan ini
disebut Perikatan dalam arti sempit.
Ukuran nilai
Perikatan dalam bidang hukum harta kekayaan ini selalu timbul karena
perbuatan orang, apakah perbuatan itu menurut hukum atau melawan hukum.
Objek perbuatan itu adalah harta kekayaan, baik berupa benda bergerak atau
benda tidak bergerak, benda berwujud atau benda tidak berwujud, yang
semuanya itu selalu dapat dinilai dengan uang. Jadi ukuran untuk menentukan
nilai atau harga kekayaan atau benda itu adalah uang. Dalam kehidupan modern
ini uang merupakan ukuran yang utama.
18
B. PENGATURAN PERIKATAN
Perikatan diatur dalam Buku KUH Perdata. Perikatan adalah hubungan hukum yang
terjadi karena perjanjian dan Undang-Undang. Aturan mengenai perikatan meliputi
bagian umum dan bagian khusus. Bagian umum meliputi aturan yang tercantum
dalam Bab I, Bab II, Bab III (Pasal 1352 dan 1353), dan Bab IV KUH Perdata yang
belaku bagi perikatan umum. Adapun bagian khusus meliputi Bab III (kecuali Pasal
1352 dan 1353) dan Bab V sampai dengan Bab XVIII KUH Perdata yang berlaku bagi
perjanjian-perjanjian tertentu saja, yang sudah ditentukan namanya dalam bab-bab
bersangkutan.
Pengaturan nama didasarkan pada “sistem terbuka”, maksudnya setiap orang boleh
mengadakan perikatan apa saja, baik yang sudah ditentukan namanya maupun yang
belum ditentukan namanya dalam Undang-Undang. Sistem terbuka dibatasi oleh tiga
hal, yaitu :
1. Tidak dilarang Undang-Undang
2. Tidak bertentangan dengan ketertiban umum
3. Tidak bertentangan dengan kesusilaan
Sesuai dengan penggunaan sistem terbuka, maka pasal 1233 KUH Perdata
menetukan bahwa perikatan dapat terjadi, baik karena perjanijian maupun karena
Undang-Undang. Dengan kata lain, sumber peikatan adalah Undang-Undang dan
perikatan. Dalam pasal 1352 KUH Perdata, perikatan yang terjadi karena Undang-
Undang dirinci menjadi dua, yaitu perikatan yang terjadi semata-mata karena
ditentukan dalam Undang-Undang dan perikatan yang terjadi karena perbuatana
orang. Perikatan yang terjadi karena perbuatan orang, dalam pasal 1353 KUH
Perdata dirinci lagi menjadi perbuatan menurut hukum ( rechmatig daad) dan
perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad).
C. UNSUR-UNSUR PERIKATAN
a. Subjek perikatan
Subjek perikatan disebut juga pelaku perikatan. Perikatan yang dimaksud
meliputi perikatan yang terjadi karena perjanjian dan karena ketentuan Undang-
Undang. Pelaku perikatan terdiri atas manusia pribadi dan dapat juga badan
19
hukum atau persekutuan. Setiap pelaku perikatan yang mengadakan perikatan
harus:
1. Ada kebebasan menyatakan kehendaknya sendiri
2. Tidak ada paksaan dari pihak manapun
3. Tidak ada penipuan dari salah satu pihak, dan
4. Tidak ada kekhilafan pihak-pihak yang bersangkutan.
b. Wenang berbuat
Setiap pihak dalam dalam perikatan harus wenang berbuat menurut hukum
dalam mencapai persetujuan kehendak (ijab kabul). Persetujuan kehendak
adalah pernyataan saling memberi dan menerima secara riil dalam bentuk
tindakan nyata, pihak yang satu menyatakan memberi sesuatau kepada yang
dan menerima seseuatu dari pihak lain. Dengan kata lain, persetujuan kehendak
(ijab kabul) adalah pernyataan saling memberi dan menerima secara riil yang
mengikat kedua pihak. Setiap hak dalam perikatan harus memenuhi syarat-
syarat wenang berbuat menurut hukum yang ditentukan oleh undang-undang
sebagai berikut :
1. Sudah dewasa, artinya sudah berumur 21 tahun penuh
2. Walaupun belum dewasa, tetapi sudah pernah menikah
3. Dalam keadaan sehat akal (tidak gila)
4. Tidak berada dibawah pengampuan
5. Memiliki surat kuasa jika mewakili pihak lain
Persetujuan pihak merupakan perjanjian yang dilakukan oleh dua pihak untuk
saling memenuhi kewajiban dan saling memperoleh hak dalam setiap perikatan.
Persetujuan kehendak juga menetukan saat kedua pihak mengakhiri perikatan
karena tujuan pihak sudah tercapai. Oleh sebab itu, dapat dinyatakan bahwa
perikatan menurut sistem hukum prdata, baru dalam taraf menimbulkan
kewajiban dan hak pihak-pihak, sedangkan persetujuan kehendak adalah
pelaksanaan atau realisasi kewajiban dan pihak-pihak sehingga kedua belah
pihak memperoleh hak masing-masing.
Bagaimana jika halnya salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya sehingga
pihak lainnya tidak memperoleh hak dalam perikatan ? dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa pihak yang tidak memenuhi kewajibannya itu telah melakukan
wanprestasi yang merugikan pihak lain. Dengan kata lain, perjanjian tersebut
dilanggar oleh salah satu pihak.
20
c. Objek perikatan
Objek perikatan dalam hukum perdata selalu berupa benda. Benda adalah setiap
barang dan hak halal yang dapat dimiliki dan dinikmati orang. Dapat dimilik dan
dinikmati orang maksudnya memberi manfaat atau mendatangkan keuntungan
secara halal bagi orang yang memilikinya.
Benda objek perikatan dapat berupa benda bergerak dan benda tidak bergerak.
Benda bergerak adalah benda yang dapat diangkat dan dipindahkan, seperti motor,
mobil, hewan ternak. Sedangkan benda tidak bergerak adalah benda yang tidak
dapat dipindahkan dan diangkat, seperti rumah, gedung. Apabila benda dijadikan
objek perikatan, benda tersebut harus memenuhi syarat seperti yang ditetapkan oleh
undang-undang. Syarat-syarat tersebut adalah :
1. Benda dalam perdagangan.
2. Benda tertentu atau tidak dapat ditentukan.
3. Benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud.
4. Benda tersebut tidak dilarang oleh Undang-Undang atau benda halal.
5. Benda tersebut ada pemiliknya dan dalam pengawasan pemiliknya.
6. Benda tersebut dapat diserahkan oleh pemiliknya.
7. Benda itu dalam penguasaan pihak lain berdasar alas hak sah.
d. Tujuan Perikatan
Tujuan pihak-pihak mengadakan perikatan adalah terpenuhinya prestasi bagi kedua
belah pihak. Prestasi yang dimaksud harus halal, artinya tidak dilarang Undang-
Undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum, dan tidak bertentangan
dengan kesusilaan masyarakat. Prestasi tersebut dapat berbentuk kewajiban
memberikan sesuatu, kewajiban melakukan sesuatu (jasa), atau kewajiban tidak
melakukan sesuatu (Pasal 1234 KUH Perdata).
Dalam penerapannya, ketentuan umum dalam Bab I-IV Buku III KUH Perdata
diberlakukan untuk semua perikatan, baik yang sudah diatur dalam Bab III (kecuali
Pasal 1352 dan 1353) dan Bab V-XVIII maupun yang diatur dalam KUHD. Menurut
ketentuan Pasal 1319 KUH Perdata bahwa: “semua perjanjian yang mempunyai
nama tertentu maupun yang tidak mempunyai nama tertentu, tunduk pada
21
ketentuan umum yang dimuat dalam bab ini dan bab yang lalu”. Yang dimaksud
dengan “bab ini dan bab yang lalu” dalam pasal ini adalah bab Bab II tentang
perikatan yang timbul dari pejanjian dan Bab I tentang perikatan pada umumnya.
Penerapan ketentuan umum terhadap hal-hal yang diatur secara khusus, dalam ilmu
hukum dikenal dengan adagium iex specialis deroget legi generali. Artinya,
ketentuan hukum khusus yang dimenangkan dari ketentuan hukum umum.
Maknanya jika mengenai suatu hal sudah diatur secara khusus, ketentuan umum
yang mengatur hal yang sama tidak perlu diberlakukan lagi. Jika suatu hal belum
diatur secara khusus, ketentuan umum yang mengatur hal yang sama diberlakukan.
Timbulnya perikatan dalam hal ini bukan dikarenakan karena adanya suatu
persetujuan atupun perjanjian, melainkan dikarenakan karena adanya undang-
undang yang menyatakan akibat perbuatan orang, lalu timbul perikatan. Perikatan
yang timbul karena undang- undang ini ada dua sumbernya, yaitu perbuatan orang
dan undang- undang sendiri. Perbuatan orang itu diklasifikasikan lagi menjadi dua,
yaitu perbuatan yang sesuai dengan hukum dan perbuatan yang tidak sesuai dengan
hukum (pasal 1352 dan 1353 KUHPdt).
Perikatan yang timbul dari perbuatan yang sesuai dengan hukum ada dua, yaitu
wakil tanpa kuasa (zaakwarneeming) diatur dalam pasal 1354 sampai dengan pasal
1358 KUHPdt, pembayaran tanpa hutang (onverschuldigde betalling) diatur dalam
pasal 1359 sampai dengan 1364 KUHPdt. Sedangkan perikatan yang timbul dari
perbuatan yang tidak sesuai dengan hukum adalah perbuatan yang tidak sesuai
dengan hukum adalah perbuatan melawan hukum (onrechtmatigdaad) diatur dalam
pasal 1365 sampai dengan 1380 KUHPdt.
Perbuatan melawan hukum dapat ditujukan kepada harta kekayaan orang laindan
dapat ditujukan kepada diri pribadi orang lain, perbuatan mana
mengakibatkankerugian pada orang lain. Dalam hukum anglo saxon, perbuatan
melawan hukum disebut tort. Untuk mengetahui apakah perbuatan hukum itu
disebut wakil tanpa kuasa, maka perlu dilihat unsur-unsur yang terdapat didalamnya,
unsur-unsur tersebut adalah :
a. Perbuatan itu dilakukan dengan sukarela, artinya atas kesadaran sendiri
tanpa mengharapkan suatu apapun sebagai imbalannya.
b. Tanpa mendapat kuasa (perintah), artinya yang melakukan perbuatan itu
bertindak atas inisiatif sendiri tanpa ada pesan, perintah, atau kuasa dari
pihak yang berkepentingan baik lisan maupun tulisan.
22
c. Mewakili urusan orang lain, artinya yang melakukan perbuatan itu bertindak
untuk kepentingan orang lain, bukan kepentingan sendiri.
d. Dengan atau tanpa pengetahuan orang itu, artinya orang yang
berkepentingan itu tidak mengetahui bahwa kepentingannya dikerjakan
orang lain.
e. Wajib meneruskan dan menyelesaikan urusan itu, artinya sekali ia melakukan
perbuatan untuk kepentingan orang lain itu, ia harus mengerjakan sampai
selesai, sehingga orang yang diwakili kepentingannya itu dapat menikmati
manfatnya atau dapat mengerjakan segala sesuatu yang termasuk urusan
itu.
f. Bertindak menurut hukum, artinya dalam melakukan perbuatan mengurus
kepentingan itu, harus dilakukan berdasarkan kewajiban menurut hukum.
Atau bertindak tidak bertentangan dengan undang- undang.
Menurut ketentuan pasal 1359 KUHPdt, setiap pembayaran yang ditujukan untuk
melunasi suatu hutang, tetapi ternyata tidak ada hutang, pembayaran yang telah
dilakukan itu dapat dituntut kembali. Ketentuan ini jelas memberikan kepastian
bahwa orang yang memperoleh kekayaan tanpa hak itu seharusnya bersedia
mengembalikan kekayaan yang telah diserahkan kepadanya karena kekeliruan
atau salah perkiraan. Dikira ada hutang tetapi sebenarnya tidak ada hutang.
Pembayaran yang dilakukan itu sifatnya sukarela, melainkan karena kewajiban
yang harus dipenuhi sebagaimana mestinya dalam kehidupan bermasyarakat.
23
Tetapi kemudian ternyata bahwa perikatan yang dikira ada sebenarnya tidak ada.
Dengan demikian ada kewajiban undang- undang bagi pihak yang menerima
pembayaran itu yang mengembalikan pembayaran yang telah ia terima tanpa
perikatan.
“Tiap perbuatan melawan hukum, yang menimbulkan kerugian pada orang lain,
mewajibkan orang yang bersalah menimbulkan kerugian itu, mengganti kerugian
tersebut”.
Dari ketentuan pasal ini dapat diketahui bahwa suatu perbuatan itu diketahui bahwa
suatu perbuatan dikatakan melawan hukum apabila ia memenuhi empat unsure
sebagai berikut :
1. Perbuatan itu harus melawan hukum
2. Perbuatan itu harus menimbulkan kerugian
3. Perbuatan itu harus dilakukan dengan kesalahan
4. Antara perbuatan dan kerugian yang timbulharus ada hubungan kausal
Ganti kerugian ini dinilai menurut kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak
dan menurut keadaan. Penghinaan adalah perbuatan yang bertentangan dengan
kesusilaan, jadi dapat dimasukkan perbuatan melawan hukum pencemaran nama
24
baik seseorang. Lain daripada itu, yang terhina dapat menuntut supaya dalam
putusan itu juga dinyatakan bahwa perbutan yang telah dilakukan itu adalah
memfitnah. Dengan demikian, berlakulah ketentuan pasal 314 KUHP penuntutan
perbuatan pidana memfitnah. Perkara memfitnah ini diperiksa dan diputus oleh
hakim pidana(pasal 1373 KUHPdt).
Ada dua macam badan hukum dilihat dari sudut pembentukannya, yaitu
badan hukum privat dan badan hukum publik. Badan hukum perdata
dibentuk berdasarkan hukum perdata, sedangkan pengesahannya dilakukan
pleh pemerintah. Yang disahkan itu pada umumnya adalah anggaran dasar
badan hukum itu. Pengesahan dilakukan dengan pendaftaran anggaran dasar
25
kepada pejabat yang berwenang, pengesahan tersebut diperlukan supaya
badan hukum yang dibentuk itu tidak bertentangan dengan kepentingan
umum, kesusilaan, dan tidak dilarang oleh undang- undang. Badan hukum
perdata ini misalnya, perseroan terbatas, yayasan, koperasi.
Badan Hukum publik dibentuk dengan undang- undang oleh pemerintah.
Badan hukum publik ini merupakan badan- badan kenegaraan, misalnya
Negara Republik Indonesia, daerah Tiongkok I, daerah tingkat II, dan lain-
lain. Badan hukum publik ini dibentuk untuk menyelenggarakan
pemerintahan Negara. Dalam menjalankan pemerintah Negara badan hukum
publik harus berdasarkan undang- undang. Jika dalam menjalankan
tugasnya, badan hukum publik itu melakukan perbuatan melawan hukum, ia
dapat digugat berdasarkan pasal 1365 KUHPdt.
F. MACAM-MACAM PERIKATAN
1. Perikatan Bersyarat
Perikatan bersyarat (voorwaardelijk verbintenis) adalah perikatan yang
digantungkan pada syarat. Syarat itu adalah suatu peristiwa yang masih
akan terjadi dan belum pasti terjadi, baik dalam menangguhkan
pelaksanaan perikatan hingga terjadi peristiwa maupun dengan
26
membatalkan perikatan karena terjadi atau tidak terjadi peristiwa (Pasal
1253 KUHP dt). Perikatan bersyarat di bagi tiga yaitu :
a. Perikatan dengan syarat tangguh, Apabila syarat peristiwa itu terjadi,
maka perikatan di laksanakan (Pasal 1263 KUHP dt). Misalnya Oki
setuju apabila Ramdan adiknya mendiami pavilium rumahnya setelah
menikah. Nah, nikah adalah peristiwa yang masih akan terjadi dan
belum pasti terjadi. Sifatnya menangguhkan pelaksanaan perikatan.
Jika ramdan menikah, maka Oki wajib menyerahkan pavilium
rumahnya untuk didiami oleh Ramdan.
b. Perikatan dengan syarat batal, Disini justru perikatan yang sudah ada
akan berakhir apabila peristiwa yang dimaksudkan itu terjadi (Pasal
1265 KUHP dt). Misalnya, Arlita setuju apabila Regi kakaknya
mendiami rumah Arlita selama dia tugas di Perancis dengan syarat
bahwa Regi harus mengosongkan rumah tersebut apabila Arlita
selesai studi dan kembali ke tanah air. Di sini syarat “ selesai dan
kembali ke tanah air ” masih akan terjadi dan belom pasti terjadi.
Akan tetapi, jika syarat tersebut terjadim perikatan akan berakhir
dalam arti batal.
27
perikatan, dia dibebaskan dan perikatan berakhir. Hak memilih prestasi itu
ada pada debitor jika hak ini tidak secara tegas diberikan kepada kreditor
(Pasal 1272 dan 1273 KUHP dt).
Misalnya, Rima memesan barang elektronik berupa radio tape recorder
ataustereo tape recorder di sebuah toko barang elektronik dengan harga
yang sama, yakni Rp 2.500.000,00. Dalam hal ini, pedagang tersebut
dapat memilih yaitu menyerahkan radio tape recorder atau stereo tape
[Link] tetapi, jika diperjanjikan bahwa Rima (Pemesan) yang
menentukan pilihan, pedagang memberitahukan kepada Rima bahwa
barang pesanan sudah tiba, silahkan memilih salah satu dari benda objek
perikatan tersebut. Jika Rima telah memilih dan menerima satu dari dua
benda itu, perikatan berakhir.
4. Perikatan Fakultatif
Perikatan Fakultatif yaitu perikatan dimana debitor wajib memenuhi suatu
prestasi tertentu atau prestasi lain yang tertentu pula. Dalam perikatan ini
hanya ada satu objek. Apabila debitor tidak memenuhi prestasi itu, dia
dapat mengganti prestasi lain. Misalnya, Agung berjanji kepada Rian
untuk meminjamkan mobilnya guna melaksanakan penelitian. Jika Agung
tidak meminjamkan Karena rusak, dia dapat mengganti dengan sejumlah
uang transport untuk melaksanakan penelitiannya.
5. Perikatan Tanggung-Menanggung
Pada perikatan tanggung-menanggung dapat terjadi seorang debitor
berhadapan dengan beberapa orang kreditor atau seorang kreditor
berhadapan dengan beberapa orang debitor. Apabila kredior terdiri atas
beberapa orang, ini disebut tanggung-menanggung aktif. Dalam hal ini,
setiap kreditor, berhak atas pemenuhan prestasi seluruh hutang. Jika
prestasi tersebut sudah dipenuhi, debitor dibebaskan dari utangnya dan
perikatan hapus (Pasal 1278 KUHP dt). Jika pihak debitor terdiri atas
beberapa orang, ini disebut tanggung menanggung pasif, setiap debitor
wajib memenuhi prestasi seluruh utang dan dan jika sudah dipenuhi oleh
seorang debitor saja, membebaskan debitor –debitor lain dari tuntutan
kreditor dan perikatannya hapus (Pasal 1280 KUHP dt)
28
Berdasarkan observasi, perikatan yang banyak terjadi dalam praktiknya
adalah perikatan tanggung-menanggung pasif yaitu :
(1) Wasiat, Apabila pewaris memberikan tugas untuk melaksanakan hibah
wasiat kepada ahli warisnya secara tanggung-menanggung.
(2) Ketentuan Undang-Undang, Dalam hal ini undang-undang
menetapkan secara tegas perikatan tanggung menanggung dalam
perjanjian khusus.
Perikatan tanggung menanggung secara tegas diatur dengan perjanjian
khusus, yaitu sebagai berikut ;
(1) Persekutuan firma (Pasal 18 KUHD), Setiap sekutu bertanggung jawab
secara tanggung-menanggung untuk seluruhnya atas semua
perikatan.
(2) Peminjaman benda (Pasal 1749 KUHPdt), Jika bebereapa orang
bersama-sama menerima benda karena peminjaman, meka masing-
masing untuk seluruhnya bertanggung jawab terhadap orang yang
memberikan pinjaman benda itu.
(3) Pemberian kuasa (Pasal 1181 KUHPdt) ,Seorang penerima kuasa
diangkat oleh beberapa orang untuk mewakili dalam suatu urusan
yang menjadi urusan mereka bersama. Mereka bertanggung jawab
untuk seleruhnya terhadap penerima kuasa mengenai segala akibat
pemberian kekuasaan.
(4) Jaminan orang (borgtoch,pasal 1836 KUHPdt), Jika beberapa orang
telah mengikatkan diri sebagai penjamin sebagai seorang debitor yang
sama untuk utang yang sama, mereka itu untuik masing-masing
terikat untuk seluruh utang.
29
Perikatan dapat atau tidak dapat dibagi bisa terjadi jika salah satu pihak
meninggal dunia sehingga akan timbul maslah apakah pemenuhan
prestasi dapat dibagi atau tidak antara para ahli waris almahrum itu. Hal
tersebut bergantung pada benda yang menjadi objek perikatan yang
penyerahannya atau pelaksanaannya dapat dibagi atau tidak, baik secara
nyata maupun secara perhitungan ( Pasal 1296 KUHPdt).
Akibat hukum perikatan dapat atau tidak dapat dibagi adalah bahwa
perikatan yang tidak dapat dibagi, setiap kreditor berhak menuntut
seluruh prestasi kepada setiap debitor dan setiap debitor wajib
memenuhi prestasi tersebut seluruhnya. Dengan dipenuhinya prestasi
oleh seorang debitor , membebaskan debitor lainnya dan perikatan
menjadi hapus. Pada perikatan yang dapat dibagi, setiap kreditor hanya
dapat menuntut suatu bagian prestasi menurut perimbangannya,
sedangkan setiap debitor hanya wajib memenuhi prestasi untuk
bagiananya saja menurut perimbangan.
30
8. Perikatan Wajar
Undang-undang tidak menentukan apa yang dimaksud dengan perikatan
wajar (natuurlijke verbintenis, natural obligation). Dalam undang-undang
hanya dijumpai Pasal 1359 ayat (2) KUHPdt. Karena itu, tidak ada
kesepakatan antara para penulis hukum mengenai sifat dan akibat hukum
dari perikatan wajar, kecuali mengenai satu hal, yaitu sifat tidak ada
gugatan hukum guna memaksa pemenuhannya. Kata wajar adalah
terjemaahan dari kata aslinya dalam bahasa Belanda “natuurlijk” oleh
Prof. Koesoemadi Poedjosewojo dalam kuliah hukum perdata
pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Perikatan wajar bersumber dari Undang-Undang dan kesusilaan seta
kepatutan (Moral and equity). Bersumber pada Undang-Undang, artinya
keberadaan perikatan wajar karena ditentukasn oleh Undang-Undang.
Jika Undang-Undang tidak menentukan, tidak ada perikatan wajar.
Bersumber dari kesusilaan dan kepatutan, artinya keberadaan perikatan
wajar karena adanya belas kasihan, rasa kemanusiaan, dan kerelaaan hati
yang iklas dari pihak debitor. Hal ini sesuai benar dengan sila kedua
pancasila dan dasar Negara Republik Indonesia.
Ada contoh-contoh yang berasal dari ketentuan undang-undang adalah
seperti berikut ini :
a. Pinjaman yang tidak diminta bunganya, Jika bunganya dibayar, tidak
dapat dituntut pengembaliannya (Pasal 1766 KUHPdt)
b. Perjudian dan pertaruhan, Undang-Undang tidak memberikan
tuntutan hukum atas suatu utang yang terjadi karena perjudian
karena perjudian pertaruhan ( Pasal 1788 KUHPdt).
c. Lampau waktu, Segala tuntutan hukum, baik yang bersifat kebendaan
maupun perorangan hapus karena kadaluarsa (lampau waktu) dengan
lewatnya tenggang waktu tiga puluh hari tahun.
d. Kepailitan yang di atur dalam undang-undang kepailitan.
31
G. HAPUSNYA PERIKATAN
Menurut ketentuan pasal 1381 KUHPdt, ada sepuluh cara hapusnya perikatan, yaitu:
1. Pembayaran
Yang dimaksud dengan pembayaran dalam hal ini tidak hanya meliputi
penyerahan sejumlah uang, tetapi juga penyerahan suatu benda. Dalam hal
objek perikatan adalah pembayaran uang dan penyerahan benda secara timbal
balik, perikatan baru berakhir setelah pembayaran uang dan penyerahan benda.
32
4. Perjumpaan Utang (kompensasi)
Dikatakan ada penjumpaan utang apabila utang piutang debitor dan kreditor
secara timbale balik dilakukan perhitungan. Dengan perhitungan itu utang
piutang lama lenyap. Supaya utang itu dapat diperjumpakan perlu dipenuhi
syarat-syarat :
a. Berupa sejumlah uang atau benda yang dapat dihabiskan dari jenis dan
kualitas yang sama;
b. Utang itu harus sudah dapat ditagih; dan
c. Utang itu seketika dapat ditentukan atau ditetapkan jumlahnnya (pasal 1427
KUH Perdata)
Setiap utang apapun sebabbnya dapat diperjumpakan, kecuali dalam hal berikut ini :
a. Apabila dituntut pengembalian suatu benda yang secara melawan hukum
dirampas dari pemiliknya, misalnya karena pencurian;
b. Apabila dituntut pengembalian barang sesuatu yang dititipkan atau
dipinjamkan;
c. Terhadap suatu utang yang bersumber pada tunjangan napkah yang telah
dinyatakan tidak dapat disita (Pasal 1429 KUH Perdata) ;
d. Utang-utang Negara berupa pajak tidak mungkin dilakukan perjumpaan
utang (yurisprudensi); dan
e. Utang utang yang timbul dari perikatan wajar tidak mungkin dilakukan
perjumpaan hutang (yurisprudensi).
5. Pencampuran Utang
Menurut ketentuan Pasal 1436 KUH Perdata, Pencampuran utang itu terjadi
apabila kedudukan kreditor dan debitor itu menjadi satu tangan. Pencampuran
utang tersebut terjadi demi hukum. Pada pencampuran hutang ini utang piutang
menjadi lenyap.
6. Pembebasan Utang
Pembebasan utang dapat terjadi apabila kreditor dengan tegas menyatakan tidak
menghendaki lagi prestasi dari debitor dan melepaskan haknya atas pembayaran
atau pemenuhan perikatan dengan pembebasan ini perikatan menjadi lenyap
atau hapus. Menurut ketentuan pasal 1438 KUH Perdata, pembebasan suatu
hutang tidak boleh didasarkan pada persangkaan, tetapi harus di buktikan. Pasal
1439 KUH Perdata menyatakan bahwa pengembalian surat piutang asli secara
33
sukarela oleh kreditor kepada debitor merupakan bukti tentang pembebasan
utangnya.
8. Karena pembatalan
Menurut ketentuan pasala 1320 KUH Perdata, apabila suatu perikatan tidak
memenuhi syarat-syarat subjektif. Artinya, salah satu pihak belum dewasa atau
tidak wenang melakukan perbuatan hukum, maka perikatan itu tidak batal, tetapi
“dapat dibatalkan” (vernietigbaar, voidable). Perikatan yang tidak memenuhi
syarat subjektif dapat dimintakan pembatalannya kepada pengadilan negeri
melalui dua cara, yaitu :
a. Dengan cara aktif, Yaitu menuntut pembatalan melalui pengadilan negeri
dengan cara mengajukan gugatan.
b. Dengan cara pembelaan, Yaitu menunggu sampai digugat di muka
pengadilan negeri untuk memenuhi perikatan dan baru diajukan alasan
tentang kekurangan perikatan itu.
Untuk pembatalan secara aktif, Undang-undang memberikan pembatasan waktu,
yaitu lima tahun (pasal 1445 KUH Perdata), sedangkan untuk pembatalan
sebagai pembelaan tidak diadakan pembatasan waktu.
34
9. Berlaku Syarat Batal
Syarat batal yang dimaksud disini adalah ketentuan berisi perikatan yang
disetujui oleh kedua pihak, syarat tersebut apabila dipenuhi mengakibatkan
perikatan itu batal (nietig, void) sehingga perikatan menjadi hapus. Syarat ini
disebut “syarat batal”. Syarat batal pada asasnya selalu berlaki surut, yaitu sejak
perikatan itu dibuat. Perikatan yang batal dipulihkan dalam keadaan semula
seolah-olah tidak pernah terjadi perkatan.
35
orang terakhir yang menyerahkan atau menjual kepadanya suatu ganti kerugian
(pasal 1977 KUH Perdata).
Daluarsa tidak berjalan atau tertangguh dalam hal-hal seperti tersebut berikut
ini:
(1) Terhadap anak yang belum dewasa, orang di bawah pengampuan;
(2) Terhadap istri selam perkawinan (ketentuan ini tidak berlaku lagi)
(3) Terhadap piutang yang digantungkan pada suatu syarat selama syarat itu
tidak terpenuhi; dan
(4) Terhadap seorang ahli waris yang telah menerima suatu warisan dengan hak
istimewa untuk membuat pendaftaran harta peninggalan mengenai hutang-
piutangnya (pasal 1987-1991 KUH Perdata).Menurut ketentuan pasal 1381
KUHPdt, ada sepuluh cara hapusnya perikatan, yaitu:
36
RANGKUMAN
perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi antara orang yang satu dengan orang yang
lain karena perbuatan, peristiwa, atau keadaan, Dari rumusan ini dapat diketahui bahwa
perikatan itu terdapat dalam bidang hukum harta kekayaan ( law of property), dalam bidang
hukunm keluarga (family law), dalam bidang hukum waris (law of succession), dalam bidang
hukum pribadi (personal law). Dalam kita undang-undang hukum perdata pasal 1331 ayat 1
dinyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undag-undnag
bagi mereka yang membuatnya, artinya apabila objek hukum yang dilakukan tidak
berdasarkan niat yang tulus, maka secara otomatis hukum perjanjian tersebut dibatalkan
demi hukum.
Sehingga masing-masing pihak tidak mempunyai dasar penuntutan di hadapan hakim. Akan
tetapi, apabila hukum perjanjian tidak memeuni unsur subjektif, misalnya salah satu pihak
berada dalam pebgawasab dan tekanan pihak tertentu, maka perjanjian ini dapat dibatalkan
didepan hakim. Sehingga, perjanjian tersebut tidak akan mengikat kedua belah pihak.
Hukum perjanjian ini akan berlaku apabila masing-masing pihak telah menyepakati isi
perjanjian.
Perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi antara orang yang satu dengan orang yang
lain karena perbuatan, peristiwa atau keadaan. Dari rumusan ini dapat diketahui bahwa
perikatan itu terdapat bidang hukum dari harta kekayaan, dalam bidang hukum keluarga,
dalam bidang hukum waris, dalam bidang hukum pribadi.
Dalam kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1331 ayat 1 dinyatakan bahwa semua
perjanjian yang dibuat secara sah dan berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya artinya apabila obyek hukum yang dilakukan tidak berdasarkan niat yang
tulus, maka secara otomatis perjanjian tersebut dibatalkan demi hukum. Dengan demikian
masing-masing pihak yang tidak mempunyai dasar hukum penuntutan dihadapan hakim
akan tetapi apabila hukum perjanjian tidak memenuhi unsur subyektif, misalnya salah satu
pihak berada dalam pengawasan dan tekanan pihak tertentu, maka perjanjian ini dapat
dibatalkan didepan hakim, sehingga perjanjian tersebut tidak mengikat kedua belah pihak.
Hukum perjanjian ini akan berlaku apabila masing-masing pihak telah menyepakati isi
perjanjian.
37
PERTANYAAN LATIHAN
38
MUDUL V - VIII
HAK TANGGUNGAN
A. PENGERTIAN
Setelah menunggu selama 34 tahun sejak UUPA No. 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Pokok-Pokok Agraria menjanjikan akan adanya undang-undang tentang
Hak Tanggungan, pada tanggal 9 April 1996, lahirlah UU No. 4 Tahun 1996 tentang
Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Banda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.
39
dirasa kurang memberikan jaminan kepastian hukum dalam kegiatan perkreditan
(Penjelasan Umum UUHT).
Dalam Pasal 1 ayat (1) UUHT dinyatakan bahwa Hak Tanggungan adalah Hak
jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang PokokAgraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang
merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang
memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap
kreditor-kreditor lain.
Beranjak dari definisi di atas, dapat ditarik unsur pokok dari hak tanggungan,
sebagai berikut :
1. Hak Tanggungan adalah hak jaminan untuk pelunasan utang.
2. Objek Hak Tanggungan adalah hak atas tanah sesuai UUPA.
3. Hak Tanggungan dapat dibebankan atas tanahnya (hak atas tanah) saja, tetapi
dapat pula dibebankan berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan
dengan tanah itu.
4. Utang yang dijamin adalah suatu utang tertentu.
5. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap
kreditor-kreditor lain.
40
C. ASAS-ASAS HAK TANGGUNGAN
Bahwa jika debitur cedera janji, kreditor pemegang Hak Tanggungan berhak
menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, dengan hak
mendahului daripada keditor-kreditor lain. Kedudukan diutamakan tersebut
sudah barang tentu tidak mengurangi preferensi piutang-piutang negara
menurut ketentuan hukum yang berlaku.
Apabila debitor cedera janji, maka berdasarkan: (a) hak pemegang Hak
Tanggungan pertama untuk menjual objekHak Tanggungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6; atau (b) titel eksekutorial yang terdapat dalam
sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2),
41
objek Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang
ditemukan dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang
pemegang Hak Tanggungan dengan hak mendahulu daripada kreditor-kreditor
lainnya.
Hak mendahulu tagihan pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya kecuali
terhadap:
a) biaya perkara yang semata-mata disebabkan suatu penghukuman untuk
melelang suatu barang;
b) biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan suatu barang;
c) biaya perkara yang semata-mata disebabkan pelelangan dan
penyelesaian suatu warisan.
Hak Tanggungan memiliki sifat yang tidak dapat dibagi-bagi, hal ini sesuai
Ketentuan dalam Pasal 2 UU Nomor 4 Tahun 1996, dinyatakan bahwa:
42
yang merupakan bagian dari objek Hak Tanggungan, yang akan dibebankan dari
Hak Tanggungan tersebut, sehingga kemudian Hak Tanggungan itu hanya
membebani sisa objek Hak Tanggungan untuk menjamin sisa utang yang belum
dilunasi.
Yang dimaksud dengan sifat tidak dapat dibagi-bagi dari Hak Tanggungan
adalah bahwa Hak Tanggungan membebani secara utuh objek Hak Tanggungan
dan setiap bagian daripadanya. Telah dilunasinya sebagian dari utang yang
dijamin tidak berarti terbebasnya sebagian objek Hak Tanggungan dari beban
Hak Tanggungan untuk sisa utang yang belum dilunasi. Ketentuan ini
merupakan pengecualian dari asas yang ditetapkan pada ayat (1) untuk
menampung kebutuhan perkembangan dunia perkreditan, antara lain untuk
mengakomodasi keperluan pendanaan pembangunan kompleks perumahan yang
semula menggunakan kredit untuk pembangunan seluruh kompleks kemudian
akan dijual kepada pemakai satu per satu, sedangkan untuk pembayarannya
pemakai akhir ini juga menggunakan kredit dengan jaminan rumah yang
bersangkutan. Sesuai ketentuan ayat ini apabila Hak Tanggungan itu dibebankan
pada beberapa hak atas tanah yang terdiri dari beberapa bagian yang masing-
masing merupakan suatu kesatuan yang berdiri sendiri dan dapat dinilai secara
tersendiri, asas tidak dapat dibagi-bagi ini dapat disimpangi asal hal itu
diperjanjikan secara tegas dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang
bersangkutan.
3. Hak Tanggungan Hanya Dibebankan pada Hak Atas Tanah yang Telah
Ada
Secara yuridis formal asas yang menyatakan bahwa Hak Tanggungan hanya
dapat dibebankan pada hak atas tanah ada diatur dalam Pasal 8 ayat (2)
dinyatakan bahwa kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap
objek Hak Tanggungan harus ada pada pemberi Hak Tanggungan pada saat
pendaftaran Hak Tanggungan.
43
Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan pada hak atas tanah yang telah
dimiliki oleh pemegang Hak Tanggungan. Oleh karena itu, hak atas tanah yang
baru akan dipunyai oleh seseorang di kemudian hari tidak dapat dijaminkan
dengan Hak Tanggungan bagi pelunasan suatu utang. Begitu juga tidaklah
mungkin untuk membebankan Hak Tanggungan pada suatu hak atas tanah yang
baru akan ada di kemudian hari.
Asas,ini juga merupakan asas yang sebelumnya sudah dikenal di dalam hipotek.
Menurut Pasal 1175 KUH Perdata, hipotek hanya dapat dibebankan atas benda-
benda yang sudah ada. Hipotek atas benda-benda baru akan ada di kemudian
hari adalah batal .
Hak Tanggungan dapat juga dibebankan pada hak atas tanah berikut bangunan,
tanaman, dan hasil karya yang telah ada atau akan ada yang merupakan satu
kesatuan dengan tanah tersebut, dan yang merupakan milik pemegang hak atas
tanah yang pembebanannya dengan tegas dinyatakan di dalam Akta Pemberian
Hak Tanggungan yang bersangkutan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (4) di atas, dapat disimpulkan bahwa yang
dapat dijadikan jaminan selain benda-benda yang berkaitan dengan tanah, juga
benda-benda yang bukan dimiliki oleh pemegang hak atas tanah tersebut.
44
Meskipun Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan atas tanah yang telah ada,
sepanjang Hak Tanggungan itu dibebankan pula atas benda-benda yang
berkaitan dengan tanah, ternyata pada Pasal 4 ayat (4) memungkinkan Hak
Tanggungan dapat dibebankan pula atas benda-benda yang berkaitan dengan
tanah tersebut, sekalipun benda-benda tersebut belum ada, tetapi baru akan
ada di kemudian hari.
Lebih jauh St. Remy Sjandeini mengatakan bahwa dalam pengertian "yang baru
akan ada" ialah benda-benda yang pada saat Hak Tanggungan dibebankan
belum ada sebagai bagian dari tanah (hak atas tanah) yang dibebani Hak
Tanggungan tersebut. Misalnya karena benda-benda tersebut baru ditanam
(untuk tanaman) atau baru dibangun (untuk bangunan dan hasil karya)
kemudian setelah Hak Tanggungan itu dibebankan atas tanah (hak atas tanah)
tersebut .
Sejalan dengan asas yang berlaku di dalam Hak Tanggungan di atas, dalam
kenyataannya hal tersebut sama dengan ketentuan dalam Pasal 1165 KUH I
Perdata bahwa setiap hipotek meliputi juga segala apa yang menjadi satu
dengan benda itu karena pertumbuhan atau pembangunan. Dengan kata lain,
tanpa harus diperjanjikan terlebih dahulu, segala benda yang berkaitan dengan
tanah yang baru akan ada di kemudian hari demi hukum terbebani pula dengan
hak tanggungan.
45
Oleh karena Hak Tanggungan menurut sifatnya merupakan ikutan atau accessoir
pada suatu piutang tertentu, yang didasarkan pada suatu perjanjian utang-
piutang atau perjanjian lain, maka kelahiran dan keberadaannya ditentukan oleh
adanya piutang yang dijamin pelunasannya.
Selain penegasan yang termuat dalam penjelasan umum poin 8 di atas, secara
tegas diatur dalam Pasal 10 ayat (1) dan Pasal 18 ayat (1) UU Nomor 4 'Tahun
1996. Dalam Pasal 10 ayat (1) dinyatakan bahwa perjanjian untuk memberikan
Hak Tanggungan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian Utang-
piutang yang bersangkutan, sedangkan Pasal 18 ayat (1) huruf a menyatakan
bahwa Hak Tanggungan hapus karena hapusnya utang yang dijamin dengan
Hak Tanggungan.
7. Hak Tanggungan Dapat Dijadikan Jaminan untuk Utang yang Akan Ada
Utang yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan dapat berupa utang
yang telah ada atau yang telah diperjanjikan dengan jumlah tertentu atau
jumlah yang pada saat permohonan eksekusi Hak Tanggungan diajukan dapat
ditentukan berdasarkan perjanjian utang-piutang atau perjanjian lain yang
menimbulkan hubungan utang-piutang yang bersangkutan.
Seperti yang dikemukakan dalam penjelasan Pasal 3 ayat (1) UUHT, dapat
dijadikannya Hak Tanggungan untuk menjamin utang yang baru akan ada di
kemudian hari adalah untuk menampung kebutuhan dunia perbankan berkenaan
dengan timbulnya utang dari nasabah bank sebagai akibat dilakukannya
pencairan atas suatu garansi bank. Juga untuk menampung timbulnya utang
sebagai akibat pembebanan bunga atas pinjaman pokok dan pembebanan
ongkos-ongkos lain yang jumlahnya baru dapat ditentukan kemudian.
Sehubungan dengan terjadinya Hak Tanggungan terhadap utang yang baru ada,
St. Remy Sjahdeini memberikan contoh, yaitu utang yang timbul sebagai akibat
46
nonpayment L/C ekspor oleh opening bank di luar negeri atas penyerahan
dokumen-dokumen ekspor yang mengandung discrepancies (dokumen-dokumen
yang diserahkan tidak sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam L/C),
sedangkan sementara itu negotiating/paying bank (I i dalam negeri telah
mengambil alih dokumen-dokumen tersebut dan telah membayarkan utangnya
kepada eksportir. Apabila karena nonpayment tersebut eksportir tidak mampu
dengan seketika membayar kembali dana yang telah dibayarkan oleh
negotiating/paying bank kepadanya itu dan terpaksa diutang, utang yang timbul
adalah utang yang muncul kemudian setelah Hak Tanggungan dibebankan.
Mengingat ketentuan Pasal 3 ayat (1) di atas, adalah mutlak bahwa bank clan
nasabah harus terlebih dahulu telah diperjanjikan di muka atas utang yang baru
akan ada di kemudian hari yang timbul sebagai akibat pencairan bank garansi
yang merupakan fasilitas dari bank yang telah diterima oleh nasabah atau yang
timbul sebagai akibat terjadinya payment atas L/C eskspor yang diterima
nasabah dari luar negeri melalui bank yang bersangkutan. Dengan kata lain,
selain dari adanya garansi bank (Jaminan bank), dan Letter of Credit yang
diteruskan oleh bank kepada eksportir, mutlak harus ada pula perjanjian kredit
antara bank dan nasabah untuk menampung timbulnya utang nasabah debitor
apabila garansi bank dicairkan atau apabila terjadinya payment terhadap L/C
tersebut. Dengan demikian, perjanjian kredit tersebut merupakan stand-by-loan
agreement.
Sementara itu, sikap hipotek sama dengan sikap yang terdapat dalam UUHT
mengenai dapatnya Hak Tanggungan dibebani terhadap utang yang akan ada di
kemudian hari. Hal ini diatur dalam Pasal 1176 KUH Perdata dinyatakan bahwa:
Suatu hipotek hanyalah sah, sekadar jumlah utang untuk mana is telah
diberikan, adalah tentu dan ditetapkan dalam kata. Jika utang bersyarat ataupun
jumlahnya tidak tertentu maka pemberian hipotek senantiasa adalah sah sampai
jumlah harga-taksiran, yang para pihak diwajibkan menerangkannya di dalam
aktanya.
47
Beranjak dari ketentuan Pasal 1176 KUH Perdata di atas, maka penegasan dapat
dilihat dalam Putusan H.R. 30 Januari 1953 N.J. 1953, 578 yang membenarkan
bahwa hipotek boleh diberikan untuk menjamin utang yang pada saat hipotek
itu dipasang, belum seluruhnya diserahkan oleh kreditor kepada debitor atau
digunakan oleh kreditor kepada debitor atau digunakan debitor.
„
8. Hak Tanggungan Dapat Menjamin Lebih dari Satu Utang
Kelebihan dari Hak Tanggungan adalah berlakunya asas bahwa Hak Tanggungan
dapat menjamin lebih dari satu utang. Hal ini sesuai ketentuan dalam Pasal 3
ayat (2) dinyatakan bahwa:
Hak Tanggungan dapat diberikan untuk suatu utang yang berasal dari satu
hubungan hukum atau untuk satu utang atau lebih yang berasal dari beberapa
hubungan hukum.
Dalam kaitannya dengan ketentuan Pasal 3 ayat (2) di atas, maka dalam
penjelasan Pasal 3 ayat (2) dinyatakan bahwa:
Sering kali terjadi debitor berutang kepada lebih dari satu kreditor masing-
masing didasarkan pada perjanjian utang-piutang yang berlainan, misalnya
kreditor adalah suatu bank dan suatu badan afiliasi bank yang bersangkutan.
Piutang pada kreditor tersebut dijamin dengan suatu Hak Tanggungan kepada
semua kreditor dengan satu akta pemberian Hak Tanggungan. Hak Tanggungan
tersebut dibebankan atas tanah yang sama. Bagaimana hubungan para kreditor
satu dengan yang lain, diatur oleh mereka sendiri, sedangkan dalam
hubungannya dengan debitor dan pemberi Hak Tanggungan kalau bukan debitor
sendiri yang memberinya, mereka menunjuk salah seorang kreditor yang akan
bertindak atas nama mereka. Misalnya mengenai siapa yang akan menghadap
PPAT dalam pemberian Hak Tanggungan yang diperjanjikan dan siapa yang
akan menerima dan menyimpan sertifikat Hak Tanggungan yang bersangkutan.
Perjanjian dengan hanya berupa satu Hak Tanggungan bagi beberapa kreditor
berdasarkan beberapa perjanjian kredit bilateral antara debitor yang sama
48
dengan masing-masing kreditor itu, hanyalah mungkin dilakukan apabila
sebelumnya (sebelum kredit diberikan oleh kreditor-kreditor itu) telah disepakati
oleh semua kreditor. Kesemua kreditor bersama-sama harus bersepakat bahwa
terhadap kredit yang akan diberikan oleh masing-masing kreditor (bank) kepada
satu debitor yang sama itu, jaminannya adalah berupa satu Hak Tanggungan
saja bagi meraka bersama-sama kredit dari kesemua kreditor diberikan secara
serentak. Bila tidak demikian halnya, para kreditor itu akan menjadi pemegang
Hak Tanggungan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Masing-masing
kreditor pasti akan saling mendahului untuk memperoleh hak yang diutamakan
terhadap kreditor yang lain.
Menurut St. Remy Sjahdeini, hak tanggungan tidak akan berakhir sekalipun
objek Hak Tanggungan itu beralih kepada pihak lain oleh sebab apa pun juga.
Berdasarkan asas ini, pemegang Hak Tanggungan akan selalu dapat
melaksanakan haknya dalam tangan siapa pun benda itu berpindah. Ketentuan
Pasal 7 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) ini merupakan materialisasi
dari asas yang disebut droit de suite atau zaakgevolg. Asas ini juga diambil dari
hipotek yang diatur dalam KUH Perdata Pasal 1163 ayat (2) dan Pasal 1198 KUH
Perdata."
49
menuntut siapa pun juga yang mengganggu haknya itu. Dilihat secara pasif
setiap orang wajib menghormati hak itu. Sedangkan hak perorangan adalah
relatif. Artinya, hak ini hanya dapat dipertahankan terhadap debitor tertentu
saja. Hak tersebut hanya dapat dipertahankan terhadap debitor itu saja. Secara
pasif dapat dikatakan bahwa seseorang tertentu wajib melakukan prestasi
terhadap pemilik dari hak itu.
10. Di atas Hak Tanggungan Tidak Dapat Diletakkan Sita oleh Peradilan
Alasan kehadiran asas Hak Tanggungan tidak dapat diletakkan sita oleh
peradilan merupakan respons terhadap seringnya peradilan meletakkan sita
terhadap hak atas tanah yang di atasnya diletakkan hak tanggungan.
Memang seharusnya menurut hukum terhadap Hak Tanggungan tidak dapat
diletakkan sita. Alasannya adalah karena tujuan dari (diperkenankannya) hak
jaminan pada umumnya dan khususnya Hak Tanggungan itu sendiri. Tujuan dari
Hak Tanggungan adalah untuk memberikan jaminan yang kuat bagi kreditor
yang menjadi pemegang Hak Tanggungan itu untuk didahulukan dari kreditor-
kreditor lain. Bila terhadap Hak Tanggungan itu dimungkinkan sita oleh
pengadilan, berarti pengadilan mengabaikan bahkan meniadakan kedudukan
yang diutamakan dan kreditor pemegang Hak Tanggungan.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh St. Remy Sjahdeini di atas, maka
dalam perkembangannya sebelum diundangkannya UU Nomor 4 Tahun 1996
telah direspons oleh Mahkamah Agung dengan putusannya Nomor 394k/Pdt/
1984 tanggal 31 Mei 1985 dengan amar putusannya berbunyi bahwa barang-
barang yang sudah dijadikan jaminan utang (dalam perkara tersebut adalah
jaminan utang kepada Bank Rakyat Indonesia Cabang Gresik) tidak dapat
diletakkan sita jaminan.
Asas yang berlaku. terhadap Hak Tanggungan yang hanya dapat dibebankan
hanya atas tanah tertentu, diilhami oleh asas yang juga berlaku di dalam
hipotek, yaitu yang diatur Pasal 1174 KUH Perdata. Sementara itu asas ini diatur
50
dalam Pasal 8 dan Pasal 11 huruf c UU Nomor 4 Tahun 1996. Dalam Pasal 8 UU
Nomor 4 Tahun 1996 dinyatakan bahwa:
Berkaitan dengan ketentuan Pasal 8 di atas, maka dalam penjelasan Pasal 8 ayat
(2) dinyatakan bahwa:
Oleh karena lahirnya Hak Tanggungan adalah pada saat didaftarnya Hak
Tanggungan tersebut, maka kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum
terhadap objek Hak Tanggungan diharuskan ada pada pemberi Hak Tanggungan
pada saat pembuatan buku-tanah Hak Tanggungan. Untuk itu harus dibuktikan
keabsahan kewenangan tersebut pada saat didaftarnya Hak Tanggungan yang
bersangkutan.
Kata-kata "uraian yang jelas mengenai objek Hak Tanggungan " dalam Pasal 11
ayat (1) huruf e menunjukkan bahwa objek Hak Tanggungan harus secara
spesifik dapat ditunjukkan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang
bersangkutan."
51
yang berkaitan dengan tanah tersebut, yang baru akan ada, sepanjang hal itu
telah diperjanjikan secara tegas. Karena belum dapat diketahui apa wujud dari
benda-benda yang berkaitan-dengan tanah itu, juga karena baru akan ada di
kemudian hari, hal itu berarti asas spesialitas tidak berlaku sepanjang mengenai
"benda-benda yang berkaitan dengan tanah ".
Dalam kaitannya dengan asas Hak Tanggungan wajib didaftar, hal ini sesuai
ketentuan Pasal 13 UU Nomor 4 Tahun 1996 dinyatakan:
Adalah tidak adil bagi pihak ketiga untuk terikat dengan pembebanan suatu Hak
Tanggungan atas suatu objek Hak Tanggungan bila pihak ketiga tidak
dimungkinkan untuk mengetahui tentang pembebanan Hak Tanggungan itu.
Hanya dengan cara pencatatan pendaftaran yang terbuka bagi umum yang
memungkinkan pihak ketiga dapat mengetahui tentang adanya pembebanan
Hak Tanggungan atas suatu hak atas tanah.
Lebih jauh St. Remy Sjahdeini mengatakan bahwa asas publisitas ini juga
merupakan pasal hipotek sebagaimana ternyata dalam Pasal 1179 KUH Perdata
yang dinyatakan bahwa pembukuan Hipotek harus dilakukan dalam register-
register umum yang memang khusus disediakan untuk itu. Jika pembukuan
demikian tidak dilakukan, Hipotek yang bersangkutan tidak mempunyai kekuatan
apa pun, juga tidak mempunyai kekuatan terhadap kreditor-kreditor preferen
(yang tidak dijaminkan dengan Hipotek).
52
Menurut UU No.16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, pada pasal 12 ayat (1) jo
UU No 20 tahun 2011 ditegaskan “Rumah susun berikut tanah tempat bangunan
itu berdiri serta benda lainnya yang merupakan atau kesatuan dengan tanah
tersebut dpat dijadikan jaminan utang dengan: dibebani tanggungan, jika
tanahnya tanahmilikatauhakgunabangunan.
Dibebani fiducia, jika tanahnya hak pakai atau tanah Negara, namun dengan
keluarnya UUHT maka hak pakai tidak lagi dibebankan dengan fiducia tetapi
dengan hak tanggungan (pasal 27 UUHT). Selain obyek hak tanggungan seperti
tersebut di atas, UUHT juga membuka kemungkinan pembebanan hak
tanggungan atas tanah berikut bangunan dan tanaman yang ada diatasnya
(pasal 4 ayat (4)), sepanjang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
D. KEDUDUKAN KREDITOR
Hak tanggungan tidak dapat berdiri sendiri tanpa didukung oleh suatu
perjanjian (perjanjian kredit) antara debitor dan kreditor. Dalam perjanjian itu
diatur tentang hubungan hukum antara kreditor dan debitor, baik
menyangkut besarnya jumlah kredit yang diterima oleh debitor, jangka waktu
pengembalian kredit, maupun jaminan yang nantinya akan diikat dengan hak
tanggungan. Oleh karena hak tanggungan tidak dapat dilepaskan dari
perjanjian kredit, itulah sebabnya maka hak tanggungan dikatakan accessoir
(mengikuti) perjanjian pokoknya.
53
Kredit yang diberikan oleh kreditor mengandung resiko, maka dalam setiap
pemberian kredit, bank tidak diperkenankan memberikan kredit tanpa ada
suatu perjanjian tertulis. Itu sebabnya diperlukan suatu jaminan kredit
dengan disertai keyakinan akan kemampuan debitor melunasi utangnya. Hal
ini sesuai dengan ketentuan pasal 8 UU Perbankan No.7/1992 yang
menyatakan dalam memberikan kredit, bank umum wajib mempunyai
keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitor untuk melunasi
hutangnya sesuai yang diperjanjikan.
Maksud dari kreditor diutamakan dari kreditor lainnya yaitu apabila debitor
cidera janji, kreditor pemegang hak tanggungan dapat menjual barang
agunan melalui pelelangan umum untuk pelunasan utang debitor. Kedudukan
diutamakan tersebut tentu tidak mempengaruhi pelunasan utang debitor
terhadap kreditor-kreditor lainnya.
Hukum mengenai perkreditan modern yang dijamin dengan hak tanggungan
mengatur perjanjian dan hubungan utang-piutang tertentu antara kreditor dan
debitor, yang meliputi hak kreditor untuk menjual lelang harta kekayaan
tertentu yang ditunjuk secara khusus sebagai jaminan (obyek hak
tanggungan) dan mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan
tersebut jika debitor cidera janji.
Kreditor pemegang hak tanggungan mempunyai hak mendahulu daripada
kreditor-kreditor yang lain (“droit de preference”) untuk mengambil pelunasan
dari penjualan tersebut. Kemudian hak tanggungan juga tetap membebani
obyek hak tanggungan ditangan siapapun benda itu berada, ini berarti bahwa
54
kreditor pemegang hak tanggungan tetap berhak menjual lelang benda
tersebut, biarpun sudah dipidahkan haknya kepada pihak lain (“droit de
suite”).
Dalam hal terjadinya pengalihan barang jaminan kepada pihak lain tanpa
seizing pihak kreditor maka kreditor dapat mengajukan action pauliana yaitu
hak dari kreditor untuk membatalkan seluruh tindakan kreditor yang dianggap
merugikan.
Dengan demikian, dalam perjanjian tanggungan, pihak kreditor tetap
diberikan hak-hak yang dapat menghindarkannya dari praktek-praktek “nakal”
debitor atau kelalaian debitor.
55
stall dibatalkannya hak yang menjadi objek Hak Tanggungan karena
tidak dipenuhi atau dilanggarnya ketentuan undang-undang;
c. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk
menjual atas kekuasaan sendiri objek Hak Tanggungan apabila debitor
cedera janji;
d. janji yang diberikan oleh pemegang Hak Tanggungan pertama bahwa,
objek Hak Tanggungan tidak akan dibersihkan dari Hak Tanggungan;
e. janji bahwa pemberi Hak Tanggungan tidak akan melepaskan haknya
atau objek Hak Tanggungan tanpa persetujuan tertulis lebih dahulu dari
pemegang Hak Tanggungan;
f. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau
sebagian dari ganti rugi yang diterima pemberi Hak Tanggungan
untukpelunasan piutangnya apabila objekHak Tanggungan dilepaskan
haknya oleh pemberi Hak Tanggungan atau dicabut haknya untuk
kepentingan umum;
g. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau
sebagian dari uang asuransi yang diterima pemberi Hak Tanggungan
untuk pelunasan piutangnya, jika objek Hak Tanggungan diasuransikan;
h. janji bahwa pemberi Hak Tanggungan akan mengosongkan objek Hak
Tanggungan pada waktu eksekusi Hak Tanggungan.
Berangkat dari ketentuan Pasal 1 ayat (2) di atas, maka menurut St. Remy
Sjahdeini, janji-janji yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (2) UUHT itu bersifat
fakultatif dan limitatif. Bersifat fakultatif karena janji-janji itu boleh dicantumkan
atau tidak dicantumkan, balk seluruhnya maupun sebagiannya, Bersifat tidak
limitatif karena dapat pula diperjanjikan janji-janji lain, selain dari janji-janji yang
telah disebutkan dalam Pasal 11 ayat (2).
56
KUH Perdata, yang janji demikian tersebut disebut Vervalbeding Pengaturan
asas Hak Tanggungan yang tidak boleh diperjanjikan untuk dimilik sendiri oleh
pemegang Hak Tanggungan bila cedera janji diatur Pasal 12 U I I Nomor 4
Tahun 1996 dinyatakan bahwa, janji yang memberikan kewenangan kepada
pemegang Hak Tanggungan untuk memiliki objek Hak Tanggungan apabila
debitor cedera janji, batal demi hukum.
57
Berkaitan dengan ketentuan Pasal 6 UUHT di atas, dalam penjelasan Pasal 6
tersebut dijelaskan sebagai berikut:
Hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri merupakan
salah satu perwujudan dari kedudukan diutamakan yang dipunyai oleh
pemegang Hak Tanggungan atau pemegang Hak Tanggungan. Hak tersebut
didasarkan pada janji yang diberikan oleh pemegang Hak Tanggungan bahwa
apabila debitor cedera janji, pemegang Hak Tanggungan berhak untuk menjual
objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum tanpa memerlukan
persetujuan lagi dari pemberi Hak Tanggungan dan selanjutnya mengambil
pelunasan piutangnya dari hasil penjualan itu lebih dahulu daripada kreditor-
kreditor yang lain. Sisa hasil penjualan tetap menjadi hak pemegang Hak
Tanggungan.
Dengan mengacu pada ketentuan Pasal 6 di atas, maka apabila debitor cedera
janji, hal ini dapat dimintakan untuk melaksanakan eksekusi atau yang lazim
disebut parate eksekusi. Oleh karena itu, parate eksekusi yang terdapat di dalam
Hipotek berbeda dengan parate eksekusi yang terdapat di dalam Hak
Tanggungan. Pada parate eksekusi yang terdapat pada Hipotek, pemegang
Hipotek hanya mempunyai hak untuk melakukan parate eksekusi apabila
sebelumnya telah diperjanjikan hal yang demikian itu dalam pemberian Hak
Hipoteknya.
58
F. PERINGKAT HAK TANGGUNGAN
Suatu objek Hak Tanggungan dapat dibebani dengan lebih dari satu Hak
Tanggungan guna menjamin pelunasan lebih dari satu utang. Apabila suatu
objek Hak Tanggungan dibebani dengan lebih dari satu Hak Tanggungan,
peringkat masing-masing Hak Tanggungan ditentukan menurut tanggal
pendaftarannya pada Kantor Pertanahan. Peringkat Hak Tanggungan yang
didaftar pada tanggal yang sama ditentukan menurut tanggal pembuatan
Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan (Pasal 1, 2 dan 3).
Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai suatu hak,
konsekuensinya suatu saat akan beralih atau dialihkan kepada pihak yang
lain. Hal ini pulalah yang menimpa mengenai Hak Tanggungan, suatu saat
akan berpindah ke pihak lain. Hal ini diatur dalam Pasal 16 UUHT Nomor 4
Tahun 1996 dinyatakan bahwa:
59
lain.), subrogasi (Subrogasi adalah penggantian kreditor oleh pihak ketiga
yang melunasi utang debitor), pewarisan, atau sebab-sebab lain (Yang
dimaksud dengan sebab-sebab lain, adalah hal-hal lain selain yang diperinci
pada ayat ini, misalnya dalam hal terjadinya pengambilalihan atau
penggabungan perusahaan sehingga menyebabkan beralihnya piutang dari
perusahaan semula kepada perusahaan yang baru).
Hak Tanggungan tersebut ikut beralih karena hukum kepada kreditor yang
baru (ayat (1)). Beralihnya Hak Tanggungan wajib didaftarkan oleh kreditor
yang baru kepada Kantor Pertanahan (ayat (2)). Pendaftaran beralihnya Hak
Tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan mencatatnya pada
buku-tanah Hak Tanggungan dan buku-tanah hak atas tanah yang menjadi
objek Hak Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat Hak
Tanggungan dan sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan (ayat (3)).
Tanggal pencatatan pada buku-tanah adalah tanggal hari ketujuh setelah
diterimanya secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftaran
beralihnya Hak Tanggungan dan jika hari ketujuh itu jatuh tempo pada hari
libur, catatan itu diberi bertanggal hari kerja berikutnya (ayat (4)). Beralihnya
Hak Tanggungan mulai berlaku bagi pihak ketiga pada hari tanggal
pencatatan (ayat (5)).
60
penyertaan sindikasi kredit tersebut sering terjadi bagi kredit-kredit sindikasi
yang berbentuk transferable loan facility. Transaksi penjualan penyertaan
sindikasi kredit ini lazim disebut debt sale.
61
Untuk mengatasi persoalan di atas, St. Remy Sjahdeini menawarkan konsep
dengan menyatakan bahwa:
Suatu proses yang ditempuh dalam peralihan hak atas tanah yang dijadikan
jaminan Hak Tanggungan adalah melalui suatu proses pemberian,
pendaftaran, dan pencoretan Hak Tanggungan tersebut.
Bentuk dan isi Akta Pemberian Hak Tanggungan, bentuk dan isi
bukutanah Hak Tanggungan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tats
cara pemberian dan pendaftaran Hak Tanggungan ditetapkan dan
diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
62
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1996 tentang
Bentuk Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan, Akta Pemberian
Hak Tanggungan, Buku Tanah Hak Tanggungan, dan sertifikat Hak
Tanggungan. Oleh karena itu, peraturan pemerintah yang akan dijadikan
jabaran Pasal 17 UUHT ini, misalnya PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah.
Apabila objek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari
konversi hak lama yang telah memenuhi syarat untuk didaftarkan akan
tetapi pendaftarannya belum dilakukan, pemberian Hak Tanggungan
dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah
yang bersangkutan (ayat 1, 2, dan 3).
Yang dimaksud dengan hak lama adalah hak kepemilikan atas tanah
menurut hukum adat yang telah ada, akan tetapi proses administrasi
dalam konversinya belum selesai dilaksanakan. Syarat-syarat yang harus
dipenuhi adalah syarat-syarat yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
63
Mengingat tanah dengan hak sebagaimana dimaksud di atas pada waktu
ini masih banyak, pembebanan Hak Tanggungan pada hak atas tanah itu
dimungkinkan asalkan pemberiannya dilakukan bersamaan dengan
permohonan pendaftaran hak atas tanah tersebut. Kemungkinan ini
dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada pemegang hak atas
tanah yang belum bersertifikat untuk memperoleh kredit.
Menurut St. Remy Sjahdeini, ketentuan Pasal 10 ayat (3) itu merupakan
keterkaitan dengan ketentuan Pasal 8 UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan yang di didalam penjelasan pasal tersebut dikemukakan
bahwa tanah girik, petuk, dan lain-lain yang sejenis dapat digunakan
sebagai agunan.
64
Dengan demikian, yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk
menindaklanjuti ketentuan Pasal 8 UU Nomor 7 Tahun 1992 tersebut,
perlu dibuatkan peraturan yang membedakan antara tanda girik dan
petuk yang ada di Jawa dan Sumatra dengan yang ada di luar Jawa dan
Sumatra tersebut. Dalam artian bahwa di luar Jawa dan Sumatra tanda
bukti yang telah diakui oleh masyarakat setempat diterima sama dengan
girik dan petuk yang terdapat di Jawa dan Sumatra tersebut.
65
sebagaimana dimaksud pada huruf ini meliputi juga nama dan
identitas debitor yang bersangkutan)
d. nilai tanggungan;
Berkaitan dengan ketentuan Pasal 11 ayat (1) di atas, maka dalam penjelasan
Pasal 11 ayat (1) di atas dinyatakan bahwa:
Ketentuan ini menetapkan isi yang sifatnya wajib untuk sahnya Akta Pemberian
Hak Tanggungan. Tidak dicantumkannya secara lengkap hal-hal yang disebut
pada ayat ini dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan mengakibatkan akta
tersebut batal demi hukum. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memenuhi asas
spesialitas dari Hak Tanggungan, balk mengenai objek maupun utang yang
dijamin.
Dalam Pasal 13 ayat (1) diatur mengenai pemberian Hak Tanggungan, yaitu
wajib didaftarkan pada kantor pertanahan. Kemudian di dalam Pasal 11 ayat (2)
dan ayat (3) dijelaskan baigaimana caranya pendaftaran Hak Tanggungan itu
dilakukan. Menurut St. Remy Sjahdeini, tats cara pelaksanaan adalah sebagai
berikut.
66
bersangkutan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah
penandatanganan Akta Pemberian Hak Tanggungan.
c. Tanggal buku tanah Hak Tanggungan adalah tanggal hari ketujuh setelah
penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftarannya
dan jika hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, buku tanah yang bersangkutan
diberi bertanggal hari kerja berikutnya:
Suatu Hak Tanggungan dapat dilakukan pencoretan apabila tanah yang dijadikan
objek Hak Tanggungan telah dihapus. Namun demikian, dalam kaitannya dengan
pencoretan Hak Tanggungan, hal ini diatur dalam Pasal 22 ayat (1) UUHT
dinyatakan bahwa:
67
para pihak kepada Kantor Pertanahan. Hal ini sesuai ketentuan dalam Pasal 22
ayat (4) dinyatakan bahwa:
Berkaitan dengan ketentuan dalam Pasal 22 ayat (4) di atas, bagaimana kalau
ada pihak yang berkepentingan tidak mau melakukan pencoretan terhadap Hak
Tanggungan. Permasalahan ini dijawab oleh Pasal 22 ayat (5), (6), dan ayat (7)
UUHT yang dinyatakan sebagai berikut.
68
H. CONSEN ROYA
Hak Tanggungan hapus sesuai dengan bunyi pasal 18 UUHT.
Pencoretan catatan/roya Hak Tanggungan dilakukan demi tertib administrasi.
Pasal 22 UUHT menyebutkan setelah Hak Tanggungan hapus sebagaimana dimaksud
dalam pasal 18 dan Kantor Pertanahan mencoret Hak Tanggungan tersebut pada
buku hak atas tanah dan sertipikatnya.
Dalam hal kreditur tidak mau membantu proses pencoretan Hak Tanggungan maka
hakim dapat campur tangan dengan cara :
- mengajukan permohonan perintah pencoretan tersebut pada Ketua Pengadilan
negeri, di wilayah hukum Hak Tanggungan didaftar.
- Jika pencoretan tersebut berkaitan dengan sengketa yang tengah diproses di
Pengadilan Negeri lain yang menurut pasal 22 ayat (6) UUHT debitor melakukan
permohonan yang diajukan pada Pengadilan Negeri dimana perkara tersebut
tengah diproses.
- Selanjutnya atas dasar perintah PN maka melakukan permohonan yang diajukan
kepada Kepala Kantor Pertanahan dengan melampirkan salinan
penetapan/putusan Pengadilan Negeri yang bersangkutan.
Lalu bagaimana apabila sertifikat HT hilang dan sudah dilakukan pelunasan
terhadap kreditor terkait hutang debitor?
Hal ini bisa menggunakan mekanisme consen roya, yaitu jika sertifikat hak
tanggungan dan surat roya hilang, maka dibuatlah akta consen roya dihadapan
notaris, caranya sebagai berikut :
a. Membuat surat laporan hilang dari kepolisian
b. Surat pernyataan hilang dari pemegang hak tanggungan
c. Surat lunas dari bank
d. Salinan akta hak tanggungan
e. Surat keterangan roya dari bank.
Hak Tanggungan akan mengalami suatu proses berakhir, yang sama dengan hak-hak
atas tanah yang lainnya. Ketentuan hapusnya Hak Tanggungan diatur dalam Pasal
18 UUHT Nomor 4 Tahun 1996 yang menyatakan bahwa:
69
Hak Tanggungan hapus karena hal-hal sebagai berikut: :
1. hapusnya utang yang dijamin dengan Hak Tanggungan;
2. dilepaskannya Hak Tanggungan oleh pemegang Hak Tanggungan;
3. pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh Ketua
Pengadilan Negeri;
4. hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan (ayat (1)). Hapusnya
Hak Tanggungan karena dilepaskan oleh pemegangnya dilakukan dengan
pemberian pernyataan tertulis mengenai dilepaskannya Hak Tanggungan
tersebut oleh pemegang Hak Tanggungan kepada pemberi Hak Tanggungan
(ayat (2)).
Sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 18 UUHT di atas, dalam penjelasan Pasal 18
ayat (1) dinyatakan bahwa:
Sesuai dengan sifat accesoir dari Hak Tanggungan, adanya Hak Tanggungan
tergantung pada adanya piutang yang dijamin pelunasannya. Apabila piutang itu
hapus karena pelunasan atau sebab-sebab lain, dengan sendirinya Hak Tanggungan
yang bersangkutan hapus juga.
Selain itu, pemegang Hak Tanggungan melepaskan Hak Tanggungannya dan hak
atas tanah dapat hapus yang mengakibatkan hapusnya Hak Tanggungan.
Hak atas tanah dapat hapus antara lain karena hal-hal sebagaimana disebut dalam
Pasal 27, Pasal 34, dan Pasal 40 UUPA, atau peraturan perundang-undangan lainnya.
Dalam hal Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, atau Hak Pakai yang dijadikan
objek Hak Tanggungan berakhir jangka waktu berlakunya dan dapat diperpanjang
berdasarkan permohonan yang diajukan sebelum berakhirnya jangka waktu
70
tersebut, Hak Tanggungan dimaksud tetap melekat pada hak atas tanah yang
bersangkutan.
Apabila objek Hak Tanggungan dibebani lebih dari satu Hak Tanggungan dan tidak
terdapat kesepakatan di antara Para pemegang Hak Tanggungan tersebut mengenai
pembersihan objek Hak Tanggungan dari beban melebihi harga pembeliannya,
pembeli benda tersebut dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan
Negeri yang daerah hukumnya meliputi objek Hak Tanggungan yang bersangkutan
untuk menetapkan pembersihan itu dan sekaligus menetapkan ketentuan pembagian
hasil penjualan lelang di antara Para yang berpiutang dan peringkat mereka menurut
perundang-undangan yang berlaku.
Sekalipun tidak ditentukan secara eksplisit di dalam UUHT mengenai apa yang dapat
ditempuh oleh pembeli apabila pemegang Hak Tanggungan dalam hal hanya ada
satu Hak Tanggungan yang dibebankan atas objek hak tanggungan ternyata tidak
bersedia memberikan persetujuannya (memberikan surat persetujuan) agar benda
yang dibeli oleh pembeli itu dibersihkan dari segala beban Hak Tanggungan yang
melebihi harga pembelian.
Karena itu, sejalan dengan asas yang ditentukan dalam Pasal 19 ayat (3) UUHT,
pembeli dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang
daerah hukumnya meliputi letak objek Hak Tanggungan yang bersangkutan untuk
71
melakukan pembersihan yang dimaksud, maka bila cara ini tidak dimungkinkan
untuk ditempuh, sudah barang tentu tidaklah mungkin terjadi pembelian di dalam
pelelangan dalam rangka eksekusi Hak Tanggungan itu (pelelangan umum tidak ada
pembelinya). Siapa yang akan ikut menjadi pembeli dari pelelangan umum
mengingat sudah menjadi kenyataan di dalam praktik, bahwa harga penjualan
pelelangan umum sering tidak dapat terjadi pada harga nilai pasar dari objek Hak
Tanggungan itu. Pembeli lelang selalu ingin memperoleh kesempatan membeli
dengan harga murah (di bawah harga pasar).
Beranjak dari ketentuan Pasal 19 ayat (1) di atas, khusus untuk Hak Guna Bangunan
dan Hak Pakai untuk rumah tempat tinggal yang sedang dibebani Hak Tanggungan
dan pemiliknya bermaksud untuk meningkatkan statusnya menjadi Hak Milik. Hal ini
diatur dalam Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5
Tahun 1996 tentang Perubahan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai atas Tanah
Untuk Rumah Tinggal yang dibebani Hak Tanggungan menjadi Hak Milik.
72
Berdasarkan ketentuan PNMA/KBPN tersebut, secara hukum hapusnya Hak
Tanggungan adalah pada saat pendaftaran Hak Milik tersebut dilakukan. Oleh
karena itu, sebelum perubahan hak didaftar, pemegang Hak atas tanah
sebaiknya memberikan SKMHT dengan objek Hak Milik yang diperolehnya,
karena setelah Hak Milik di daftar, Hak Tanggungan menjadi hapus. Pada saat
hapusnya Hak Tanggungan itu kreditor menjadi kreditor konkuren yang hanya
dijamin dengan SKMHT. Namun kemudian kreditor dapat membuat APHT
berdasarkan SKMHT itu. Hak Tanggungan lahir pada tanggal buku tanah Hak
Tanggungan, yaitu tanggal hari ketujuh setelah penerimaan secara lengkap
surat-surat yang diperlukan bagi pendaftarannya.
Suatu masalah yang sering kali timbul adalah posisi pemegang Hak Tanggungan
akibat pemberi Hak Tanggungan mengalami pailit. Masalah ini telah diatur dalam
Pasal 21 UUHT yang menyatakan bahwa apabila pemberi Hak Tanggungan
dinyatakan pailit, pemegang Hak Tanggungan tetap berwenang melakukan segala
hak yang diperolehnya menurut ketentuan undang-undang ini.
Berkaitan dengan posisi pemegang Hak Tanggungan terhadap pailitnya pemberi Hak
Tanggungan, maka kedudukan pemegang Hak Tanggungan akibat jatuh pailitnya
pemberi Hak Tanggungan selanjutnya diatur oleh UU Nomor 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan (sebagaimana diganti dengan UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan PKPU). Dalam Pasal 56A UU Kepailitan tersebut dinyatakan hak preferen dari
kreditor pemegang Hak Tanggungan untuk mengeksekusi hak atas tanah
ditangguhkan pelaksanaannya untuk jangka waktu paling lama 90 hari terhitung
sejak tanggal putusan pailit ditetapkan. Meskipun ditangguhkan eksekusinya, hak
atas tanah tersebut tidak boleh dipindah-tangankan oleh kurator. Harta pailit yang
dapat digunakan atau dijual oleh kurator terbatas hanya pada barang persediaan
(inventory) dan atau barang bergerak (current asset) meskipun harta pailit tersebut
dibebani dengan hak agunan kebendaan.
73
Dalam kaitannya dengan ketentuan Pasal 56A di atas, dalam penjelasan Pasal 56A
dinyatakan bahwa:
Untuk menjaga jangan sampai penjualan tersebut tidakfair, maka penjualan atas hak
yang dijadikan jaminan Hak Tanggungan tersebut dilakukan secara lelang. Hal ini
sesuai ketentuan Pasal 20 ayat (1) yang pada prinsipnya menyatakan: objek Hak
Tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tats cara yang ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak
Tanggungan dengan hak mendahulu daripada kreditor-kreditor lainnya.
74
tangan. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 20 ayat (2) UUHT dinyatakan bahwa atas
kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan, penjualan objek Hak
Tanggungan dapat dilaksanakan di bawah tangan jika dengan demikian itu akan
diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak.
Karena penjualan di bawah tangan dari objek Hak tanggungan hanya dilaksanakan
apabila ada kesepakatan antara pemberi dan pemegang Hak Tanggungan, bank
tidak mungkin-melakukan penjualan di bawah tangan dari objek Hak Tanggungan
atau agunan kredit itu apabila debitor tidak menyetujuinya.
Agar bank kelak setelah kredit diberikan tidak mengalami kesulitan yang demikian,
bankpada waktu kredit diberikan mensyaratkan agar di dalam perjanjian kredit
diperjanjikan bahwa bank diberi kewenangan untuk dapat menjual sendiri agunan
tersebut secara di bawah tangan atau meminta kepada debitur untuk memberikan
surat kuasa khusus yang memberikan kekuasaan kepada bank untuk dapat menjual
sendiri agunan tersebut secara di bawah tangan.
Parate Eksekusi
Mereposisi tujuan utama pelaksanaan parate eksekusi.
Dasar ketentuan parate eksekusi terdapat pada Pasal 6 UUHT, dimana disebutkan
bahwa:
“Apabila debitor cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai
hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui
pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan
tersebut.”
Membongkar konsep keadilan dalam parate eksekusi tidak dapat dilihat secara
parsial, sepotong-sepotong, dan terpisah antara tujuan filosofis dan
pelaksanaannya, namun harus secara komprehensip di dalami secara
menyeluruh. Artinya, nilai keadilan yang terkandung dalam doktrin parate
75
eksekusi harus berangkat dari konsep dasar adanya hak dan kewajiban yang
lahir dan harus dilaksanakan oleh kreditur dan debitur dalam melaksanakan
perjanjian kredit. Secara filosofis keinginan akan adanya keadilan dalam parate
eksekusi ahir untuk melindungi kepentingan kreditur disatu sisi, dan disisi lain
untuk menjaga debitur untuk melakukan kewajiban pembayaran atas fasilitas
pembayaran kredit yang telah diterimanya.
Senada dengan hal tersebut, John Rawls memberikan penekanan keadilan
dapat dicapai manakala pendistribusian hak dan kewajiban dalam masyarakat
terjadi secara berimbang. Sebab dengan perimbangan hak dan kewajiban,
maka setiap orang berpeluang memperoleh manfaat darinya dan secara nyata,
serta menanggung beban yang sama.16 Hal ini diartikan bahwa keadilan akan
tercapai bilamana antara kreditur dan debitur sama-sama melakukan kewajiban
sesuai dengan kesepakatan. Oleh karenanya maka bilamana kreditur telah
melakukan kewajiban, dan debitur telah melakukan hak menerima fasilitas
kredit, maka seharusnya debitur harus melakukan kewajiban pembayaran
terhadap kreditur sebagai gantinya.
Distorsi makna parate eksekusi dengan mencampurbaurkannya dengan makna
eksekusi rosse akta dengan dasar Pasal 224 HIR yang harus melalui fiat
penetapan Ketua Pengadilan17 justru menjauhkan dari sisi keadilan. Tentu
keadilan bagi kreditur yang tidak hanya harus menanggung kerugian karena
tidak dilaksanakannya kewajiban pembayaran kredit oleh debitur, namun disaat
bersamaan kreditur (lembaga keuangan/bank) harus membuat cadangan PPA
sebesar 100% (seratus persen) dari total nilai kredit tersebut dikurangi dengan
nilai agunan.18 Di sisi lain, permasalahan tersebut juga semakin memperberat
konsekuensi logis dari debitur, sebab dengan semakin lama waktu
penyelesaian, maka semakin berat beban tanggungan kredit yang ditanggung
debitur serta membuka kemungkinan terjadinya sengketa di pengadilan.
76
“pelelangan umum” dengan maksud menghadirkan keadilan untuk debitur
untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan nilai objek jaminan yang dijual.
Salah satu problem yang menjadi polemik adalah bahwa adanya frasa “cidera
janji” yang dianggap kontroversial dan berpolemik. Sebab, cidera janji juga
diatur dalam KUHPerdata dan harus dibuktikan melalui gugatan wanprestasi.
Sebaliknya, dalam ketentuan Pasal 6 UUHT sendiri, tidak memerlukan
pembuktian melalui putusan pengadilan, sebab cukup dibuktikan melalui bukti
kelalaian pembayaran saat jatuh tempo, dan atau melalui pemberitahuan dari
kreditur terhadap debitur. Hal ini dapat dipahami bahwa ketentuan
pelaksanaan parate eksekusi merupakan perintah Undang-undang (ex lege)
bukan berdasarkan perjanjian. Sehingga sebagai Undang-Undang khusus,
sesuai dengan asas Lex specialis derogat legi generali maka UUHT merupakan
aturan hukum yang bersifat khusus (lex specialis) dan mengesampingkan
KUHPerdata (lex generalis).
77
dipahami bersama oleh kreditur dan debitur. Pemahaman bersama soal rule of
procedure ini akan melahirkan sikap hati-hati, saling menghormati dan saling
menguntungkan pihak kreditur maupun debitur, sehingga bila terjadi parate
eksekusi maka pihak debitur akan menghormati dan menghargai karena
kepentingannya juga akan diakomodir.
Oleh karenanya, seharusnya parate eksekusi tetap berada dalam frame
pelaksanaan eksekusi hak kreditur atas obyek jaminan, dimana pelaksanaanya
tanpa (di luar) melalui ketentuan hukum acara, tanpa penyitaan, tanpa
melibatkan juru sita, tanpa izin pengadilan. Hal ini merupakan wujud dari
kedudukan yang diutamakan oleh lembaga Hak Tanggungan yang ada pada
UUHT, namun tetap dalam koridor adil bagi semua pihak, baik kreditur
ataupun debitur.
RANGKUMAN
Dalam perjanjian tanggungan seorang kreditor diberikan hak untuk mendapatkan
pelunasan terlebih dahulu dari pihak pemberi tanggungan selain itu, pihak kreditor
dapat pula mengajukan actio pauliana dalam hal terjadinya pengalihan barag
jaminan oleh debitor tanpa izin kreditor.
Dalam Undang-undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak tanggungan, disebutkan
bahwa salah satu objek hak tanggungan adalah hak pakai.
Undang-undang No. 5 Tahun 1960 memberikan pengaturan dan menjadi payung
hukum bagi masalah pertanahan di negara kita. Salah satu inti dari UUPA adalah
pelaksanaan Landreform di Indonesia. Bagaimana keberadaan UUPA sebagai induk
landreform di negara kita?
Pihak bank dalam memberikan kredit memerlukan adanya suatu jaminan, dimana
fungsi jaminan tersebut adalah untuk melancarkan dan mengamankan pemberian
kredit yang bersangkutan. Hal yang demikian itu menyebabkan perbankan
membutuhkan ketentuan perundangan yang mampu memberikan kepastian dan
perlindungan hukum terhadap bank.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut maka lahirlah UUHT, sehingga bank dapat
memperoleh kepastian hukum terhadap hak jaminan atas tanah yang diberikan
debitur kepada bank.
Kepastian hukum yang didapat oleh Bank dengan berlakuknya UUHT ini antara lain
78
karena:
1. Hak Tanggungan memberikan kedudukan yang diutamakan bagi kreditur
pemegang Hak Tanggungan. Artinya jika debitur cidera janji, kreditur
Pemegang Hak Tanggungan dapat menjual melalui pelelangan umum tanah
yang dijadikan jaminan menurut ketentuan yang diatur oleh UUHT (asas droit
de preference);
2. Hak Tanggungan tidak akan berakhir sekalipun obyek hak tanggungan itu
beralih kepada pihak lain oleh karena sebab apapun juga (asas droit de
suite);
3. Sertifikat Hak Tanggungan mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama
dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
UUHT tidak hanya memperhatikan kepentingan kreditur juga kepentingan debitur
karena undang-undang tersebut melarang untuk memberikan kewenangan kepada
debitur untuk memiliki obyek hak tanggungan apabila debitur cidera janji.
UUHT sangat mengakomodasi kebutuhan dunia perbankan karena:
a. Hak Tanggungan dapat untuk menjamin utang yang baru akan ada
dikemudian hari berkenaan dengan utang sebagai akibat dari dilakukannya
pencairan atas suatu bank garansi atau untuk menampung timbulnya utang
sebagai akibat pembebanan bunga atas pinjaman pokok dan pembebanan
biaya lain yang baru dapat ditentukan kemudian.
b. Hak Tanggungan dapat menjamin lebih dari satu utang. Masing-masing
piutang tersebut dapat dijamin dengan satu Hak Tanggungan saja bagi
semua kreditur yang dilakukan dengan satu APHT, karena ketentuan UUHT
memberikan kemungkinan jaminan berupa satu Hak Tanggungan kepada
beberapa kreditur secara pari passu
Kendala-kendala yang dapat mempengaruhi kepastian hukum atas berlakunya UUHT
yaitu pada tanah yang belum bersertifikat (masih dalam proses permohonan hak
atau sertifikat belum dibalik nama atau diroya) karena sertifikat Hak Tanggungan
sebagai tanda bukti adanya Hak Tanggungan belum dapat diterbitkan oleh Kantor
Pertanahan sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum karena Bank menjadi tidak
dapat membuktikan bahwa ia adalah pemegang Hak Tanggungan.
79
PERTANYAAN
1. Bolehkah menjual Tanah yang dibebankan Hak Tanggungan?
Apakah tanah yang dibebani hak tanggungan boleh dijual oleh si pemilik tanah (pemberi
hak tanggungan)
2. Bisakah mengganti obyek Hak Tanggungan?
Apakah bisa obyek yang dijaminkan oleh debitur diganti dengan obyek lain?
Misal sertifikat tanah milik si A diganti dengan sertifikat tanah milik debitur?
3. Dapatkah suatu obyek dibebankan dua Hak Tanggungan?
Apakah diperbolehkan untuk obyek jaminan kredit dibebankan dua Hak Tanggungan
(HT 1 dan 2) dengan debitur dan kreditur yang sama (hanya 1 dbitur dan 1 kreditur?
Apabila terjadi lelang eksekusi terhadap obyek jaminan tersebut bagaimana teknis
pelaksanaannya?
Untuk pelunasan HT yang ada, apakah kreditur dapat langsung melakukan lelang
eksekusi untuk HT 1 dan 2 secara bersama-sama mengingat hanya ada satu kreditur?
4. Menyita agunan atas tanah yang dijaminkan.
Perusahaan saya bergerak dalam bidang retail barang-barang yang dikreditkan (dibayar
dalam jangka waktu 1 tahun) kepada konsumen yang memberikan jaminan/agunan aset
mereka berupa surat-surat tanah/bangunan (Girik/Akta Jual Beli/HGB). Dalam
melakukan ikatan ini, telah dibuatkan juga surat Perjanjian Jual Beli dengan Angsuran,
yang didalamnya juga terdapat pasal yang memberitahukan atas penguasaan atas
jaminan tersebut bila customer/pengangsur telah lalai dan atau tidak mampu melunasi
hutangnya dalam kurun waktu maksimal 3 bulan terhitung 1 tahun dari batas akhir
Surat Perjanjian dengan Angsuran tersebut, pertanyaannya :
a. Apakah perusahaan berhak melakukan penjualan balik nama agunan tersebut,
tanpa harus mengkonfirmasi kepada customer/pengangsur yang lalai tersebut?
b. Apa yang harus kami lakukan, bila ternyata agunan tersebut ternyata milik orang
tua pengangsur?
5. Bolehkah pemohon/debitur mengajukan kredit dengan menggunakan sertifikat tanah
atas milik kakak iparnya? Hal ini pemilik SHM sudah menyetujuinya.
6. Untuk kredit tertentu (misal kredit mikro kurang dari 50 jt), ada kalanya pengikatan
jaminan hanya sebatas SKMHT tanpa ditingkatkan ke APHT, hingga berakhirnya masa
kredit. Dalam hal jaminan atas nama orang lain (misal debitur A, pemilik jaminan B),
dan dalam perjalanannya si B (atau pasangannya) meninggal. Apakah SKMHT-nya mash
berlaku dan masih bisa di APHT kan? Bagaimana juga apabila SKMHT atas nama
jaminan milik istri/suami dan dalam perjalanannya suami/istrinya meninggal, apakah
80
SKMHTnya masih berlaku dan masih bisa di APHT-kan?
7. Apakah hak tanggungan tetap berlaku jika tanah disengketakan?
Ada perkara pertanahan dimana perkara ini telahdiputus oleh hakim. Hakim
memenangkan pihak penggugat yang menyatakan tanah tersebut sah milik penggugat.
Namun sebelum perkara ini masuk pengadilan, tergugat telah menjaminkan tanah
tersebut ke bank.
Apakah tanah yang dijaminkan ke bank bisa dieksekusi pengadilan karena perkara lain?
Bagaimana juga kedudukan tanah penggugat bila tergugat lalai melunasi hutangnya ke
bank dan tanah tersebut dieksekusi secara perintah bank?
81
MODUL IX
JAMINAN FIDUSIA
A. Pengertian
Fidusia berasal dari kata fiduciair atau fides, yang artinya kepercayaan, yaitu
penyerahan hak milik atas benda secara kepercayaan sebagai jaminan (agunan) bagi
pelunasan piutang kreditor. Fidusia sering disebut dengan istilah FEO, yang
merupakan singkatan dari Fiduciare Eigendom Overdracht. Penyerahan hak milik
atas benda ini dimaksudkan hanya sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, di
mana memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia (kreditor)
terhadap kreditor-kreditor lainnya.
Pengertian fidusia dinyatakan dalam Undang-Undang No 42 Tahun 1999 Tentang
Jaminan Fidusia Pasal 1 angka 1, bahwa : fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan
suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak
kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.
Sedangkan pengertian jaminan fidusia terdapat dalam Pasal 1 angka 2 UUJF yang
menyatakan, bahwa : jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik
yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya
bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada
dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu,
yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap
kreditor lainnya.
82
5) Persediaan barang atau inventori, stock barang, stock barang dagangan
dengan daftar mutasi barang Kapal laut berukuran dibawah 20 m
6) Perkakas rumah tangga seperti mebel, radio, televisi, almari es dan
mesin jahit
7) Alat-alat perhiasan seperti traktor pembajak sawah dan mesin penyedot
air.
b. Benda bergerak tidak berwujud, contohnya :
1) Wesel
2) Sertifikat deposito
3) Saham
4) Obligasi
5) Konosemen
6) Piutang ynag diperoleh pada saat jaminan diberikan atau yang
diperoleh kemudian
7) Deposito berjangka.
c. Hasil dari benda yang menjadi objek jaminan baik benda bergerak berwujud
atau benda bergerak tidak berwujud atau hasil dari benda tidak bergerak
yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.
d. Klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi objek jaminan fidusia
diasuransikan.
e. Benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak
tanggungan yaitu hak milik satuan rumah susun di atas tanah hak pakai atas
tanah Negara (UU No. 16 Tahun 1985) dan bangunan rumah yang dibangun
di atas tanah orang lain sesuai pasal 15 UU No. 5 tahun 1992 tentang
Perumahan dan Pemukiman.
f. Benda-benda termasuk piutang yang telah ada pada saat jaminan diberikan
maupun piutang yang diperoleh kemudian hari.
Secara formal, objek jaminan fidusia adalah barang-barang bergerak dan tidak
bergerak, berwujud maupun tidak berwujud, kecuali mengenai hak tanggungan,
hipotik kapal laut, hipotik pesawat terbang, dan gadai.
Konsep pemberian jaminan fidusia adalah penyerahan hak milik secara kepercayaan
atas hak-hak kebendaan. Adapun yang dimaksud dengan hak-hak kebendaan disini
berupa: hak atas suatu benda yang bisa dimiliki dan dialihkan. Ciri-ciri atau sifat hak
kebendaan yang dapat dialihkan tersebut terdapat dalam surat dari Kementerian
83
Hukum dan Hak Asasi Manusia Rupublik Indonesia tertanggal 27 September 2006
Nomor [Link].-1.10-74 menjelaskan bahwa :
a. Hak kebendaan bersifat mutlak, yaitu dapat dipertahankan terhadap siapapun
juga. Artinya, hak kebendaan punya kepemilikan mutlak sehingga bisa
dipertahankan terhadap siapa pun.
b. Hak kebendaan punya zaakgevolg atau droit de suite. Artinya, hak tersebut
mengikuti bendanya di mana pun atau di tangan siapa pun benda tersebut
berada.
c. Hak kebendaan memiliki droit de preference (hak mendahului). Artinya,
pemegang jaminan kebendaan berhak untuk mendapatkan piutang terlebih
dahulu daripada kreditor lainnya (jika ada) dari hasil penjualan barang yang
dijaminkan.
84
kreditor lain dan untuk memenuhi asas publisitas karena kantor pendaftaran
terbuka untuk umum. Permohonan pendaftaran fidusia dilakukan oleh penerima
fidusia, kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran
jaminan fidusia, meliputi:
Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia
Tanggal, nomor akta jaminan fidusia, nama dan tempat kedudukan
notaris yang membuat akta jaminan fidusia
Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia
Uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia
Nilai penjaminan
Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia.
Kantor pendaftaran fidusia mencatat jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia
pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran.
Setelah pendaftaran fidusia dilakukan, kantor pendaftaran fidusia menerbitkan
dan menyerahkan kepada penerima fidusia sertifikat jaminan fidusia yang
merupakan salinan dari buku daftar fidusia memuat catatan tentang hal-hal yang
dinyatakan dalam pendaftaran jaminan fidusia, dan jaminan fidusia lahir pada
tanggal yang sama dengan tanggal dicatatnya jaminan fidusia pada buku daftar
fidusia. Dalam sertifikat jaminan fidusia dicantumkan kata-kata: “demi keadilan
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Sertifikat jaminan fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Apabila
terdapat perubahan mengenai hal-hal yang tercantum dalam sertifikat jaminan
fidusia, penerima fidusia wajib mengajukan permohonan pendaftaran atas
perubahan tersebut kepada Kantor pendaftaran fidusia. Kantor pendaftaran
fidusia pada tanggal penerimaan permohonan perubahan, melakukan
pencatatan perubahan tersebut dalam buku daftar fidusia dan menerbitkan
pernyataan perubahan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
sertifikat fidusia.
85
(1) Hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia
Sifat jaminan fidusia merupakan ikutan atau accessoir dari perjanjian
pokok yaitu perjanjian kredit atau perjanjian pembiayaan artinya ada atau
tidaknya jaminan fidusia tergantung perjanjian utangnya. Hapusnya utang
dapat disebabkan berbagai hal misalnya karena ada pelunasan utang atau
penawaran tunai yang diikuti dengan penyimpanan atau novasi atau
pembaharuan utang dan lain-lain.
Hapusnya jaminan fidusia yang disebabkan hapusnya utang karena
pembayaran atau pelunasan utang merupakan cara yang paling banyak
terjadi. Adanya pelunasan utang dapat dibuktikan dari keterangan tertulis
dari kreditur. Hapusnya utang mengakibatkan hapusnya jaminan fidusia.
86
a. Titel eksekutorial oleh penerima fidusia, artinya langsung melaksanakan
eksekusi melalui lembaga parate eksekusi.
b. Penjualan benda obyek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri melalui
pelelangan umum serta mengambil pelunasan dari hasil penjualan.
c. Penjualan dibawah tangan, artinya pelaksanaan penjualan benda yang akan
dieksekusi harus berdasarkan kesepakatan pemberi dan penerima fidusia.
Dalam pelaksanaan penjualan dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak
diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan atau penerima fidusia kepada pihak-
pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar
yang beredar di daerah yang bersangkutan. Pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia,
pemberi fidusia wajib menyerahkan benda yang menjadi obyek jaminan fidusia.
Apabila pemberi fidusia tidak menyerahkan pada waktu eksekusi dilaksanakan,
penerima fidusia berhak mengambil benda yang menjadi obyek jaminan fidusia dan
apabila perlu, dapat meminta bantuan pihak yang berwenang.
Dalam hal hasil eksekusi melebihi nilai penjaminan, penerima fidusia wajib
mengembalikan kelebihan tersebut kepada pemberi fidusia, namun apabila hasil
eksekusi tidak mencukupi untuk pelunasan utang, debitor tetap bertanggung jawab
atas utang yang belum terbayar.
87
RANGKUMAN :
Fidusia berasal dari kata fiduciair yang artinya kepercayaan, yaitu hak milik atas
benda secara kepercayaan. Hampir sama dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1996 tentang Hak Tanggungan, hanya bedanya adalahbenda yang bergerak atau
bangunan yang tidak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.
Pembebanan benda dengan jaminan fidusia dibuat dengan akta notaris dan
merupakan akta jaminan fidusia. Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib
didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia. Kantor pendaftaran fidusia mencatat
jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia pada tangal yang sama dengan tanggal
penerimaan permohonan pendaftaran.
Mengenai hapusnya jaminan fidusia, karena hal-hal sebagai berikut:
1. Hapusnya hutang yang dijamin dengan fidusia.
2. Pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia.
3. Musnahnya benda yang menjadi obyek jaminan fidusia.
Apabila debitur atau pemberi fidusia cidera janji, eksekusi terhadap benda yang
menjadi obyek jaminan fidusia dapat dilakukan.
PERTANYAAN LATIHAN
1. Apa yang dimaksud dengan jaminan fidusia?
2. Sebutkan dan jelaskan benda-banda yang dapat dijadikan jaminan fidusia?
3. Bagaimana terjadinya jaminan fidusia?
4. Bagaimana penghapusan jaminan fidusia?
5. Apabila debitur atau pemberi fidusia cidera janji, bagaimana eksekusi terhadap
benda yang menjadi obyek jaminan fidusia?
88
MODUL X
SURAT KUASA MEMBEBANKAN HAK TANGGUNGAN
Surat kuasa membebankan Hak Tanggungan wajib dibuat dengan akta notaris atau
akta PPAT dan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
c) mencantumkan secara jelas objek Hak Tanggungan, Jumlah utang dengan nama
serta identitasnya kreditornya, nama dan identitas debitor apabila debitor bukan
pemberi Hak Tanggungan. (Kejelasan mengenai unsur-unsur pokok dalam
pembebanan Hak Tanggungan sangat diperlukan untuk kepentingan
perlindungan pemberi Hak Tanggungan. Jumlah utang yang dimaksud pada
huruf ini adalah Jumlah utang sesuai dengan yang diperjanjikan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (I).)
89
d) Kuasa untuk membebankan Hak Tanggungan tidak dapat ditarik kembali tidak
dapat berakhir oleh sebab apa pun juga kecuali karena kuasa tersebut telah
dilaksanakan atau karena telah habis jangka waktunya. Surat kuasa
membebankan Hak Tanggungan mengenai hak atas tanah yang sudah terdaftar
wajib diikuti dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan selambat-
lambatnya 1 (satu) bulan sesudah diberikan. Surat kuasa membebankan Hak
Tanggungan atas tanah yang belum terdaftar wajib diikuti dengan pembuatan
Akta Pemberian Hak Tanggungan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sesudah
diberikan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) tidak
berlaku dalam hal Surat Kuasa membebankan Hak Tanggungan diberikan untuk
menjamin kredit tertentu yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan
yang berlaku. Surat kuasa membebankan Hak Tanggungan yang tidak diikuti
dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan dalam waktu yang telah
ditentukan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau ayat (4), atau waktu yang
ditentukan menurut ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (5) batal
demi hukum.
Sejalan dengan ketentuan Pasal 15 di atas, khusus penjelasan Pasal 15 ayat (1)
dinyatakan bahwa:
Sejalan dengan itu, surat kuasa tersebut harus diberikan langsung oleh pemberi Hak
Tanggungan dan harus memenuhi persyaratan mengenai muatannya sebagaimana
ditetapkan pada ayat ini. Tidak dipenuhinya syarat ini mengakibatkan surat kuasa
yang bersangkutan batal demi hukum, yang berarti bahwa surat kuasa yang
bersangkutan tidak dapat digunakan sebagai dasar pembuatan Akta Pemberian Hak
Tanggungan. PPAT wajib menolak permohonan untuk membuat Akta Pemberian Hak
Tanggungan apabila suratkuasa membebankan Hak Tanggungan tidak dibuatkan
sendiri oleh pemberi Hak Tanggungan atau tidak memenuhi persyaratan termasuk di
atas.
90
Beranjak dari ketentuan Pasal 15 UUHT dan penjelasannya, khusus untuk ketentuan
Pasal 15 ayat (5) Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) telah dikeluarkan
peraturan pelaksanaannya, yaitu Peraturan Meneg Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional (BPN) Nomor 4 Tahun 1996 tentang Penetapan Batas Waktu Penggunaan
Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan untuk Menjamin Pelunasan Kredit-
Kredit Tertentu tanggal 8 Mei 1996. Dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (PMNA/KBPN) dinyatakan bahwa, Surat
Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) yang diberikan untuk menjamin
pelunasan jenis-jenis Kredit Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Surat
Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 26/24/KEP/DIR tanggal 28 Mei 1993, berlaku
sampai saat berakhirnya masa berlakunya perjanjian pokok yang bersangkutan.
Dalam kaitannya dengan adanya jenis-jenis kredit tersebut, dalam Pasal 1 PMNA/
KBPN disebutkan jenis-jenis Kredit Usaha Kecil sebagai berikut :
(1) Kredit yang diberikan kepada nasabah usaha kecil, yang meliputi:
(a) Kredit kepada Koperasi Unit Desa;
(b) Kredit Usaha Tani;
(c) Kredit kepada Koperasi Primer untuk anggotanya.
(2) Kredit Pemilikan Rumah yang diberikan untuk pengadaan perumahan, yaitu
a) Kredit yang diberikan untuk membiayai pemilikan rumah inti, rumah
sederhana, atau -rumah susun dengan luas tanah maksimum 200 m2
(dua ratus meter persegi);
b) Kredit yang diberikan untuk pemilikan Kapling Siap Bangun (KSB) dengan
luas tanah 54 M2 (lima puluh empat meter persegi) sampai dengan 72
m2 (tujuh puluh dua meter persegi) dan kredit yang diberikan untuk
membiayai bangunannya;
c) Kredit yang diberikan untuk perbaikan/pemugaran rumah sebagaimana
dimaksud huruf a dan b.
91
(3) Kredit produktif lain yang diberikan oleh Bank Umum dan Badan Perkreditan
Rakyat dengan plafon kredit tidak melebihi Rp. 50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) antara lain:
a) Kredit Umum Pedesaan;
b) Kredit Kelayakan Usaha (yang disalurkan oleh Bank Pemerintah),
Sementara untuk objek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang
pensertifikatannya sedang dalam pengurusan, dalam Pasal 2 peraturan MNA/
KBPN ditentukan sebagai berikut.
92
Kredit untuk perumahan inti dalam rangka KKPA PIRTRANS atau PIR
lainnya yang dijamin dengan hak atas tanah yang pengadaannya
dibiayai dengan kredit tersebut;
Kredit pembebasan tanah dan kredit konstruksi yang diberikan kepada
pengembang dalam rangka Pemilikan Kredit rumah yang termasuk
Pasal 1 angka 2 dan Pasal 2 angka 2 yang dijamin dengan hak atas
tanah yang pengadaan dan pengembangannya dibiayai dengan kredit
tersebut.
LATIHAN PERTANYAAN:
1. Apa yang dimaksud dengan Surat Kuasa Memasang Hak Tanggungan (SKMHT)?
2. Apa sebabnya terjadi SKMHT? Dan dalam keadaan bagaimana debetur atau kreditur
membuat SKMHT?
3. Bagaimana syarat-syarat membuat SKMHT?
4. Menurut PMNA/Ka BPN nomor 4/1996 tentang Penetapan Batas Waktu Penggunaan
SKMHT Untuk Pelunasan Kredit Usaha Kecil, sampai saat berakhir masa berlakunya
perjanjian pokok yang bersangkutan. Sebutkan jenis-jenis kredit tersebut?
93