ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
LAPORAN PENDAHULUAN
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS)
MERTA RENI
2022207209284
PROGRAM STUDI NERS
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
TAHUN 2023
A. Konsep Penyakit
1. Definisi
Gagal nafas pada neonatus merupakan masalah klinis yang sangat serius, yang
berhubungan dengan tingginya morbiditas, mortalitas, dan biaya perawatan. Sindroma
gagal nafas (respiratory distress sindrom, RDS) adalah istilah yang digunakan untuk
disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang
berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya
jumlah surfaktan dalam paru(Marmi & Rahardjo, 2012).
Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi aterm maupaun pada bayi preterm,
yaitu bayi dengan berat lahir cukup maupun dengan beratbadan lahir rendah (BBLR).
Bayi dengan BBLR yang preterm mempunyai potensi kegawatan lebih besar karena
belum maturnya fungsi organ organ tubuh. Kegawatan sistem pernafasan dapat terjadi
pada bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dalam bentuk sindroma
gagal nafas dan asfiksia neonatorum yang terjadi pada bayi cukup bulan paru(Marmi &
Rahardjo, 2012).
Angka kejadian RDS di Eropa sebelum pemberian rutin antenatal steroid dan
postnatal surfaktan sebanyak 2-3 %, di USA 1,72% dari kelahiran bayi hidup periode
1998 - 1987. Secara tinjauan kasus, di negara-negara Eropa sebelum pemberian rutin
antenatal steroid dan postnatalsurfaktan, terdapat angka kejadian RDS 2-3%, di USA
1,72% dari kelahiran bayi hidupperiode 1986-1987.
Sedangkan jaman modern sekarang ini dari pelayanan NICU turun menjadi 1% di Asia
Tenggara. Di Asia Tenggara penyebab terbanyak dari angka kesakitan dan kematian
pada bayi prematur adalah RDS. Sekitar 5 -10% didapatkan pada bayi kurang bulan,
50% pada bayi dengan berat 501-1500 gram. Angka kejadian berhubungan dengan
umur gestasi dan berat badan dan menurun sejak digunakan surfaktan eksogen. Saat ini
RDS didapatkan kurang dari 6% dari seluruh neonatus (WHO, 2012).
2. Etiologi
Penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yang terdiri dari faktor ibu, faktor
plasenta, faktor janin dan faktor [Link] ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia
ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial
ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran
gas janin seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, dan lain-lain.
Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil,
plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya. Faktor janin atau neonatus
meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin
dan jalan lahir,gemeli, prematur, kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain.
Faktor persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain.
Sindroma gagal nafas adalah perkembangan imatur pada sistem pernafasan atau
tidak adekuatnya jumlah surfaktan pada paru-paru-paru. Sementara afiksia neonatorum
merupakan gangguan pernafasan akibat ketidakmampuan bayi beradaptasi terhadap
asfiksia. Biasanya masalah ini disebabkan karena adanya masalah-masalah kehamilan
dan pada saat persalinan (Marmi & Rahardjo, 2012).
3. Patofisiologi
Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang
dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi berupa kerusakan otak atau
bahkan kematian. Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya
kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh bayi akan beradaptasi terhadap kekurangan
oksigen dengan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin
berat dan lama,metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan
memburukya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah keotak maka akan terjadi
kerusakan otak dan organ lain karena hipoksia dan iskemia. Pada stadium awal terjadi
hiperventilasi diikuti stadium apneu primer. Pada keadaan ini bayi tampak
sianosis,tetapi sirkulasi darah relative masih baik.
Curah jantung yang meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan
menimbulkan peninggkatan tekanan darah dan reflek bradikardi ringan. Depresi
pernafasan pada saat ini dapat diatasi dengaan meningkatkan implus aferen seperti
perangsangan pada [Link] normal berlangsung sekitar 1-2 [Link] primer
dapat memanjang dan diikuti dengan memburuknya sistem sirkulasi. Hipoksia
miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi,vasokontraksi dan hipotensi.
Keadaan ini dapat terjadi sampai 5menit dan kemudian terjadi apneu sekunder.
Selama apneu sekunder denyut jantung,tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah
terus menurun. Bayi tidakbereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukkan upaya
pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadikecuali pernafasan buatan dan
pemberian oksigen segera dimulai (Marmi & Rahardjo, 2012)
4. Manifestasi Klinis
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit RDS (Respiratory Distress
Syndrom) ini sangat dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat
badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yang ditunjukan. Gejala dapat
tampak beberapa jam setelah kelahiran. Bayi RDS (Respiratory Distress Syndrom)yang
mampu bertahan hidup sampai 96 jam pertama mempunyai prognosis yang lebih baik.
Gejala umum RDS yaitu: takipnea (>60x/menit), pernapasan dangkal, mendengkur,
sianosis, pucat, kelelahan, apnea dan pernapasan tidak teratur, penurunan suhu tubuh,
retraksi suprasternal dan substernal, pernapasan cuping hidung ( Surasmi, dkk 2013).
5. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Cecily & Sowden (2009) pemeriksaan penunjang pada bayi dengan RDS yaitu:
a. Kajian foto thoraks:
1) Pola retikulogranular difus bersama udara yang saling tumpang tindih.
2) Tanda paru sentral dan batas jantung sukar dilihat, hipoinflasi paru
3) Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkena (bayi dari ibu
diabetes, hipoksia atau gagal jantung kongestif)
4) Bayangan timus yang besar
5) Bergranul merata pada bronkogram udara yang menandakan penyakit berat jika
muncuk pada beberapa jam pertama
b. Gas darah arteri-hipoksia dengan asidosis respiratorik dan atau metabolic:
1) Hitung darah lengkap
2) Elektrolit, kalsium, natrium, kalium, glukosa serum
3) Tes cairan amnion (lesitin banding spingomielin) untuk menentukan maturitas
paru
4) Oksimetri nadi untuk menentukan hipoksia
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita RDS dengan gangguan
pertukaran gas (Ngastiyah, 2005):
a. Memberikan lingkungan yang optimal Suhu tubuh bayi harus selalu diusahakan agar
tetap dalam batas normal (36,5o - 37o c) dengan cara meletakkan bayi dalam
inkubator. Kelembaban ruangan juga harus adekuat (70-80%).
b. Pemberian oksigen Pemberian oksigen harus dilakukan dengan hati-hati karena
berpengaruh kompleks terhadap bayi prematur. Pemberian O2 yang terlalu banyak
dapat menimbulkan komplikasi seperti : fibrosis paru, kerusakan retina (fibroplasias
retrolental) dan lain-lain. Untuk mencegah terjadinya komplikasi, pemberian O2
sebaiknya diikuti dengan pemeriksaan analisa gas darah arteri. Bila fasilitas untuk
pemeriksaan analisa gas darah arteri tidak ada, maka O2 diberikan dengan
konsentrasi O2 tidak lebih dari 40% sampai gejala sianosis menghilang.
c. Pemberian cairan dan elektrolit Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlu untuk
mempertahankan homeostasis dan menghindarkan dehidrasi. Pada permulaan
diberikan glukosa 5- 10% dengan jumlah yang disesuaikan dengan umur dan berat
badan ialah 60-125 ml/kg BB/hari. Asidosis metabolik yang selalu dijumpai harus
segera dikoreksi dengan memberikan NaHCO3 secara intravena.
d. Pemberian antibiotik Bayi dengan PMH perlu mendapatkan antibiotik untuk
mencegah infeksi sekunder. Dapat diberikan penisilin dengan dosis 50.000-100.000
u/kg BB/hari atau ampisilin 100 mg/kg BB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5
mg/kg BB/hari.
e. Pemberian surfaktan eksogen
B. Proses Keperawatan
1. Pengkajian Data Dasar
Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai informasi yang
berkaitan dengan masalah yang dialami klien (Asrining Surasmi, Siti Handayani, 2003).
Pengkajian yang dilakukan pada bayi RDS sebagai berikut:
a. Identitas klien Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, dan alamat
klien.
b. Keluhan utama Keluhan utama yang sering dirasakan pada bayi RDS adalah takipnea.
c. Riwayat kesehatan Riwayat kesehatan dapat mempengaruhi terjadinya RDS seperti
kelahiran preterm, riwayat kehamilan ibu menderita perdarahan, ibu menderita
hipertensi, riwayat neonatus dengan asfiksia akibat hipoksia akut, hipotermia, dan nilai
APGAR skor rendah.
d. Pemeriksaan Fisik Pengkajian fisik dilakukan secara sistematik dengan penekanan
khusus pada pengkajian pernafasan. RDS dapat dikaji dengan mengobservasi takipnea,
retraksi substernal, kreleks inspirasi, mengorok ekspiratori, pernafasan cuping hidung
dan adanya sianosis.
e. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan analisa gas darah.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas
b. Resiko hipotermi
c. Resiko ketidakseimbangan cairan
3. Rencana Tindakan Keperawatan
No Diagnosa SLKI SIKI
1. Gangguan pertukaran Setelah dilakukan tindakan Pemantauan respirasi
gas keperawatan 3x24 jam Observasi:
diharapkan karbondioksida Monitor pola nafas,
pada membrane alveolus- monitor saturasi
kapiler dalam batas normal: oksigen
1. Tingkat kesadaran Monitor frekuensi
meningkat irama,kedalaman dan
2. Dispneu menerun upaya napas
3. Bunyi nafas Monitor adanya
tambahan menurun sumbatan jalan napas
4. Gelisah menurun Teraupetik:
5. Diaphoresis Ataur intervall
membaik pemasangan respirasi
sesuai kondisi pasien
Edukasi:
Jelaskan tujuan
prosedur pemantauan
Informasikan hasil
pemantauan, jika
perlu
Terapi Oksigen
Observasi:
Monitor kecepatan
aliran oksigen
Monitor posisi alat
terapi oksigen
Monitor tanda-tanda
hipoventilasi
Monitor integritas
mukosa hidung akibat
pemasangan oksigen
TeraupeUtik;
Bersihkan secret pada
mulut, hidung dan
trakea jika perlu
Pertahankan
kepatenan jalan nafas
Bersihkan oksigen
jika perlu
Edukasi:
Ajarkan kelurga
menggunakan O2
dirumah
Kolaborasi:
Kolaborasi penentuan
dosis oksigen
2. Resiko hiportermi Setelah dilakukan tindakan Manajemen hiportermi
keperawatan 3x24 jam Observasi:
diharapkan termogulasi Monitor suhu tubuh
membaik: Identifikasi penyebab
1. Mengigil menurun hipotermi
2. Pucat membaik Monitor tanda dan
3. Suhu tubuh membaik gejala penyebab
4. Suhu kulit membaik hipotermi
Teraupetik:
Sediakan linkungan
yang hangat
Ganti pakaian atau
taru linen yang basah
Lakukan
penghangatan fasip
Lakukan
penghangatan aktif
eksternal
Lakukan
penghangatan aktif
internal
Edukasi:
Anjurkan makan
minum hangat
3. Resiko Setelah dilakukan tindakan Manajemen cairan
keperawatan 3x24 jam Observasi:
ketidakseimbangan
diharapkan keseimbangan Monitor status hidrasi
cairan
cairan meningkat: Monitor berat badan
1. Asupan cairan harian
membaik Monitor berat badan
2. Haluan urine sebelum dan sesudah
membaik dialisis
3. Edema menurun Monitor hasil
4. Asites membaik pemeriksaan
laboratorium
Monitor status
dinamik
Teraupeti:
Catat intake outpot
dan hitung belance
cairan
Berikan asupan cairan
sesuai kebutuhan
Berikan cairan
intravena, jika perlu
Kolaborasi:
Pemberian deuretik,
jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Cecily & Sowden (2009). Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Edisi 5. Jakarta: EG
Sudarti & Fauziah. (2013). Asuhan Neonatus Resiko Tinggi dan Kegawatan.
Cetakan I. Yogyakarta: Nuha medika
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. [Link] Diagnosa Keperawatan Indonesia,
Edisi 1, Jakarta ; ppni
Rahardjo dan Marmi,2012, Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Prasekolah.
Jakarta : Pustaka Belajar