BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Psychological Well-Being
1. Pengertian Psychological Well-Being
Psychological Well-Being merupakan sebuah pencapaian penuh dari
potensi psikologis seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima
kekuatan dan kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mampu
mengendalikan lingkungan, mengembangkan hubungan positif dengan orang
lain, mandiri, dan terus bertumbuh menjadi dirinya sendiri (Ryff dalam Keyes,
dkk, 2010). Ditambahkan bahwa Psychological Well-Being merupakan suatu
konsep yang berkaitan dengan apa yang dirasakan individu mengenai pada
pengungkapan perasaan- perasaan pribadi atas apa yang dirasakan oleh individu
pengalaman sebagai hasil dari dan hidupnya aktivitas dalam kehidupan sehari-
hari. Sedangkan Menurut Ramos (2007) Psychological Well-Being adalah
kebaikan, keharmonisan, menjalin hubungan baik dengan orang lain baik antar
individu maupun dalam kelompok.
Berger (2010) menjelaskan Psychological Well-Being (Psychological
Well-Bein) di tempat kerja adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki
motivasi, dilibatkan dalam pekerjaannya, memiliki energi positif, menikmati
semua kegiatan pekerjaannya dan akan bertahan lama pada pekerjaannya. Raz
(2004) menambahkan bahwa menjalankan kegiatan sepenuh hati dan sukses
dalam menjalin hubungan dengan dengan orang lain merupakan makna dari
15
16
Psychological Well-Being, dengan kata lain sumber dari Psychological Well-
Being adalah menemukan makna dalam hidupnya.
Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
Psychological Well-Being adalah pencapaian penuh dari potensi psikologis
seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan dan
kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi yang
positif dengan orang lain, menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan
lingkungan, dan terus bertumbuh secara personal
2. Dimensi Psychological Well-Being
Ryff dan Keyes (1995) memaparkan dimensi individu yang mempunyai
fungsi psikologis yang positif yaitu:
a. Penerimaan diri (Self-acceptance)
Dimensi ini merupakan ciri utama kesehatan mental dan merupakan
karakteristik utama dalam aktualisasi diri, berfungsi optimal dan
kematangan. penerimaan diri yang baik ditandai dengan kemampuan
menerima diri apa adanya. kemampuan tersebut memungkinkan seseorang
untuk bersikap positif terhadap diri sendiri dan kehidupan yang
dijalaninya. Menurut Ryff (1989) hal tersebut menandakan Psychological
Well-Being yang tinggi. Individu yang memiliki tingkat penerimaan diri
yang baik ditandai dengan sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui
dan menerima berbagai aspek yang ada dalam dirinya, baik yang positif
maupun negatif, dan memiliki pandangan positif terhadap masa lalu.
Demikian pula sebaliknya, seseorang yang memiliki tingkat penerimaan
17
diri yang kurang baik dan memunculkan perasaan tidak puas terhadap diri
sendiri, merasa kecewa dengan pengalaman masa lalu, dan memiliki
pengharapan untuk menjadi pribadi yang bukan dirinya, dengan kata lain
tidak menjadi dirinya saat ini.
b. Hubungan Positif dengan orang lain ( Positive relation with others)
Pada dimensi ini seringnya disebut dimensi yang paling penting dari
konsep Psychological Well-Being. Ryff menekankan pentingnya menjalin
hubungan hangat dan saling percaya dengan orang lain. Dimensi ini juga
menekankan adanya kemampuan yang merupakan salah satu komponen
kesehatan mental yaitu kemampuan untuk mencintai orang lain. Dalam
dimensi ini, individu yang dikatakan tinggi atau baik ditandai dengan
adanya hubungan yang hangat, memuaskan dan saling percaya dengan
orang lain, dan ia juga memiliki rasa afeksi dan empati yang kuat terhadap
orang lain. Sementara itu, individu yang dikatakan rendah atau kurang bak
dalam dimensi ini ditandai dengan memiliki sedikit hubungan dengan
orang lain, sulit bersikap hangat dan enggan memiliki ikatan dengan orang
lain.
c. Memiliki Kemandirian (Autonomy)
Pada dimensi ini menjelaskan tentang kemandirian, kemampuan untuk
menentukan diri sendiri, dan kemampuan untuk mengatur tingkah laku.
Individu yang mampu menolak tekanan sosial untuk berfikir dan
bertingkah laku dengan cara-cara tertentu, serta dapat mengevaluasi diri
sendiri dengan standar personal, hal ini menandakan bahwa ia baik dalam
18
dimensi ini. Sementara individu yang kurang baik dalam dimensi ini akan
memperhatikan harapan dan evaluasi dari orang lain, mereka akan
membuat keputusan berdasarkan penilaian orang lain dan cenderung
bersikap konformis. Dengan kata lain individu yang tidak terpengaruh
dengan persepsi orang lain dan tidak bergantung dengan orang lain adalah
individu yang memiliki autonomy yang baik, sedangkan individu yang
mudah terpengaruh serta bergantung pada orang lain adalah individu yang
memiliki autonomy yang rendah.
d. Mampu mengontrol lingkungan eksternal (Environmental Mastery)
Hal yang dimaksud dalam dimensi ini adalah seseorang yang mampu
memanipulasi keadaan sehingga sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai
pribadi yang dianutnya dan mampu untuk mengembangkan diri secara
kreatif melalui aktifitas fisik mapupun mental. Individu dengan
Psychological Well-Being yang baik memiliki kemampuan untuk memilih
dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi fisik dirinya.
Dengan kata lain, ia memiliki kemampuan dalam menghadapi kejadian-
kejadian diluar dirinya (lingkungan eksternal). Sementara itu, Individu
yang kurang baik dalam dimensi akan menunjukkan ketidakmampuan
untuk mengatur kehidupan sehari-hari, dan kurang memiliki kontrol
terhadap lingkungan luar disekitarnya.
e. Tujuan Hidup (Purpose in Life )
Pada dimensi ini menjelaskan kemampuan individu untuk mencapai tujuan
atau arti hidup. Individu yang memiliki makna dan keterarahan dalam
19
hidup, maka akan memiliki perasaan bahwa kehidupan baik saat ini
maupun masa lalu mempunyai makna, memiliki kepercayaan untuk
mencapai tujuan hidup, dan memiliki target terhadap apa yang ingin
dicapai dalam hidup, maka dapat dikatakan bahwa ia memiliki tujuan
hidup yang baik. Sementara, seseorang yang kurang baik dalam dimensi
ini, ditandai dengan memiliki perasaan tidak ada tujuan yang ingin dicapai
dalam hidup tidak melihat adanya manfaat terhadap kehidupan masa
lalunya, dan tidak mempunyai kepercayaan untuk membuat hidup berarti.
Dimensi ini juga menggambarkan kesehatan mental (psikologis)
seseorang, karena kita tidak dapat melepaskan diri dari keyakinan yang
dimiliki seorang indvidu mengenai tujuan dan makna kehidupannya ketika
mendefenisikan kesehatan mental.
f. Pengembangan Potensi dalam diri (Personal Growth)
Pada dimensi ini menjelaskan tentang kemampuan individu untuk
mengembangkan potensi dalam diri dan berkembang sebagai seorang
manusia. Personal growth ini penting untuk dimiliki setiap individu dalam
berfungsi secara psikologis. Salah satu hal penting dalam dimensi ini
adalah adanya kebutuhan untuk mengaktualisasi diri, misalnya
keterbukaan terhadap pengalaman. Seseorang yang memiliki personal
growth yang baik memiliki perasaan untuk terus berkembang, melihat diri
sebagai sesuatu yang bertumbuh, menyadari potensi dalam diri, dan
mampu melihat peningkatan dalam diri dan tingkah laku dari waktu ke
waktu. Sementara itu, Individu yang kurang baik dalam personal growth
20
ini akan menunjukkan ketidakmampuan untuk mengembangkan sikap dan
tingkah laku baru memiliki perasaan bahwa ia adalah seorang pribadi yang
monoton dan stagnan, serta tidak tertarik dengan kehidupan yang
dijalaninya.
Hurlock (2004) mengemukakan pendapat mengenai esensi keadaan
sejahtera yang ada di dalam diri individu, sebagai berikut:
a. Menerima (acceptance) Kebahagiaan yang dialami oleh seorang individu
tergantung dari sikap menerima dan menikmati apa yang dimilikinya.
b. Kasih sayang (affection) Kasih sayang merupakan hasil dari sikap diterima
oleh orang lain. Individu yang kurang mendapat kasih sayang akan
mempengaruhi kebahagiaan.
c. Prestasi (achievement) Tercapainya tujuan yang diinginkan, merupakan
suatu prestasi bagi individu. Apabila tujuan tidak tercapai, maka akan
timbul ketidakbahagiaan pada individu
Berdasarkan pendapat-pendapat ahli diatas, dapat diperoleh
kesimpulan bahwa aspek-aspek Psychological Well-Being menurut Ryff dan
Keyes (1995) yaitu; penerimaan diri (self- acceptance), hubungan positif
dengan orang lain (positive relation with others), otonomi (autonomy),
penguasaan lingkungan (environtmental mastery), tujuan hidup (purpose in
life), pertumbuhan pribadi (personal growht). Sedangkan aspek-aspek
menurut Hurlock (2004) yaitu; menerima (acceptance) , kasih sayang
(affection), prestasi (achievement). Dari penjabaran diatas peneliti akan
menggunakan aspek-aspek menurut Ryff dan Keyes sebagai indikator
21
penyusunan skala meliputi; penerimaan diri, hubungan positif dengan orang
lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, pertumbuhan pribadi,
karena aspek-aspek tersebut dianggap lebih rinci sehingga diharapkan dapat
mengungkapkan data lebih dalam tentang Psychological Well-Being. Dari
studi pustaka yang dilakukan peneliti aspek-aspek Ryff dan Keyes banyak
digunakan sebagai penelitian untuk mengukur Psychological Well-Being
seperti penelitian Alviana (2013), Fitria (2016), Simartama (2015).
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Psychological Well-Being
Ryff dan Keyes (1995) memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi
Psychological Well-Being seseorang yaitu:
a. Faktor internal
1) Usia
Menurut Ryff & Keyes (1995), usia mempengaruhi perbedaan dalam
dimensi-dimensi Psychological Well-Being. Aspek-aspek yang berkaitan
dengan penguasaan lingkungan dan otonomi diri seseorang menunjukkan
peningkatan seiring pertambahan usia dari kecil hingga dewasa akhir.
Sedangkan pada aspek yang berkaitan dengan tujuan hidup dan pertumbuhan
pribadi seseorang semakin menurun sejak usia dewasa muda hingga dewasa
akhir.
2) Jenis kelamin
Perbedaan tingkat Psychological Well-Being antara pria dan wanita
dipengaruhi oleh stereotype gender yang cenderung menggambarkan pria
22
sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara wanita adalah sosok yang
pasif, tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia, Feldman
& Gross, 2001). Hal ini yang mengakibatkan sebagian besar wanita
menunjukkan skor yang lebih tinggi daripada pria pada dimensi hubungan
positif dengan orang lain (Ryff, 1989).
3) Evaluasi terhadap bidang-bidang tertentu
Tercapainya Psychological Well-Being tergantung pada penilaian individu
mengenai dirinya sendiri. Penilaian yang berbeda mengenai terpenuhinya
dimensi-dimensi Psychological Well-Being menyebabkan tingkat kepuasan
yang dirasakan berbeda antara individu yang satu dengan yang lain, sehingga
dapat dikatakan bahwa mekanisme evaluasi diri berpengaruh pada
Psychological Well-Being individu (Ryff & Essex, 1992).
4) Kepribadian
Harga diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang paling penting
dalam proses berpikir, tingkat emosi, keputusan yang diambil, nilai-nilai yang
dianut serta penentuan tujuan hidup. Harga diri mencakup dua komponen
yaitu perasaan akan kompetensi pribadi dan perasaan akan penghargaan diri
pribadi. Seseorang akan menyadari dan menghargai dirinya jika ia mampu
menerima diri pribadinya. Hakim et al. (2002) berpendapat konsep locus of
control, neurotisme, self-efficacy dan self-esteem diukur sama sebagai faktor
tunggal. Seseorang yang memiliki locus of control yang tinggi dikatakan
bahwa ia mampu melindungi bagian rawan dari kondisi mental seseorang,
yaitu: self-esteem (harga diri) dan confidence (percaya diri).
23
Locus of control merupakan Salah satu faktor kepribadian yang
mempengaruhi Psychological Well-Being Robbins dan Judge (2008)
menjelaskan bahwa Locus of control merupakan tingkat dimana individu
yakin bahwa mereka dalah penentu nasib mereka sendiri. Robinson, Stimpson,
Huefner, dan Hunt (1991) mengemukakan individu dengan locus of control
internal pada umumnya memiliki tingkat Psychological Well-Being yang lebih
tinggi dibanding individu dengan locus of control eksternal. Locus of control
merupakan salah satu dari empat dimensi evaluasi diri, neurotisme, self-
efficacy, dan harga diri . Konsep inti evaluasi diri pertama kali diteliti oleh
Hakim, Locke, dan Durham (1997), dan karena telah terbukti memiliki
kemampuan untuk memprediksi beberapa hasil kerja, khususnya, kepuasan
kerja dan prestasi kerja. Dalam sebuah studi tindak lanjut.
b. Faktor Eksternal
1) Status Sosial Ekonomi.
Ryff dan Singer (1996) mengemukakan bahwa perbedaan kelas sosial
ekonomi turut mempengaruhi profil Psychological Well-Being individu. Dari
penelitian tersebut diketahui bahwa pada individu yang memiliki tingkat
pendidikan yang tinggi memiliki profil Psychological Well-Being yang tinggi
khususnya pada dimensi tujuan hidup dan pengembangan pribadi. Selain itu,
tingkat pendidikan yang tinggi dan status pekerjaan juga berpengaruh terhadap
tingkat Psychological Well-Being pada dimensi penerimaan diri dan dimensi
tujuan hidup. Orang yang menempati kelas sosial yang tinggi memiliki
perasaan yang lebih positif terhadap diri sendiri dan masa lalu mereka, serta
24
lebih memiliki rasa keterarahan dalam hidup dibandingkan dengan mereka
yang berada di kelas sosial yang lebih rendah (Ryff, 1995).
2) Budaya
Psychological Well-Being yang berkaitan dengan dimensi penerimaan diri
dan otonomi lebih banyak ditemukan pada masyarakat yang memiliki budaya
individualistik (Ryff & Singer, 1996). Sementara itu masyarakat yang
memiliki budaya yang berorientasi kolektifitas dan saling ketergantungan,
lebih banyak menunjukkan nilai yang positif pada dimensi hubungan positif
dengan orang lain.
3) Dukungan Sosial
Dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamanan pada orang lain,
merawatnya atau menghargainya (Sarafino, 2006). Dukungan sosial berasal
dari teman, tetangga, teman kerja dan orang-orang lainnya. Tujuan dari
dukungan sosial ini adalah memberi dukungan dalam mencapai tujuan dan
kesejahteraan hidup, dapat membantu perkembangan pribadi yang lebih positif
memberikan dukungan pada individu dalam menghadapi masalah hidup
sehari-hari. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Salovey, Rothman,
Detweller & Stewart (2000) menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara
dukungan sosial dengan kesejahteraan. Orang yang mempunyai hubungan
dekat mampu mengatasi stressor (misalnya kehilangan pekerjaan, mengidap
penyakit, berpisah dengan pasangan hidup, dsb.) dengan lebih baik.
4) Pekerjaan
25
Page (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor pekerjaan seperti jam kerja,
pengakuan, kondisi kerja, keamanan pekerjaan, gaji berpengaruh terhadap
Psychological Well-Being seseorang.
Sedangkan menurut Huppert (2009) bahwasanya tingkat Psychological
Well-Being dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
1) Personality (kepribadian) Berkaitan dengan gaya emosional yang positif
sedangkan neurotisme dikaitkan dengan gaya emosional yang negatif.
2) Faktor Demografi Pada jenis kelamin, tingkat kesejahteraan perempuan
memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
3) Faktor Sosial Ekonomi Pada umumnya, status sosial ekonomi dan tingkat
pendapatan yang tinggi mempengaruhi tingkat kesejahteraan individu.
4) Faktor Lainnya (perilaku, kognisi dan motivasi) Individu yang memiliki
perilaku, kognisi dan motivasi yang baik untuk berjuang mencapai
tujuannya mencerminkan nilai-nilai yang dipegang teguh dari dalam
dirinya, sebagai langkah untuk mencapai kebahagiaan.
Adapun Bhogel & Prakash (1995) menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi Psychological Well-Being yaitu:
1) Personal control, yaitu kemampuan seseorang dalam mengontrol segala
emosi dan dorongan yang muncul dati dalam diri.
2) Self Esteem atau harga diri, yaitu memiliki harga diri yang seimbang.
3) Positive Affect, yaitu perasaan atau emosi yang positif (kesenangan atau
kegembiraan).
26
4) Manage Tension, yaitu kemampuan untuk mengatur ketegangan yang
keluar dari dalam diri, misalnya kemarahan atau kebahagiaan, sehingga
tidak muncul secara berlebihan.
5) Positive thinking, yaitu berpikir positif dalam menghadapi peristiwa,
suasana, atau individu baru.
6) Ide & Feeling yang efisien, mengeluarkan ide dan perasaan yang tepat dan
sesuai dengan konteks serta tidak berlebihan.
Dari uraian diatas disimpulkan bahwa menurut Ryff dan Keyes (1995)
Psychological Well-Being dipengaruhi oleh; a) faktor internal yang meliputi
usia, jenis kelamin, evaluasi terhadap bidang-bidang tertentu, kepribadian; b)
faktor eksternal meliputi status social ekonomi, budaya, dukungan social, dan
pekerjaan. Kemudian menurut Huppert faktor yang mempengaruhi
Psychological Well-Being yaitu ; kepribadian; faktor demografi pada jenis
kelamin; faktor social ekonomi; faktor lainnya (perilaku, kognisi, dan
motivasi). Sedangkan menurut Bhogel & Prakash (dalam wahyuni 2001) yang
menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi Psychological Well-
Being yaitu; Personal control, Self Esteem atau harga diri, Positive Affect,
Manage Tension, Positive thinking, Ide & Feeling yang efisien.
Adapun faktor yang dipilih sebagai variabel bebas dalam penelitian ini
ialah faktor Self Esteem atau harga diri dari teori Ryff dan Keyes (1995).
Harga diri merupakan salah satu dari empat dimensi evaluasi diri, neurotisme,
self-efficacy, dan locus of control dimana locus of control adalah salah satu
faktor kepribadian yang mempengaruhi Psychological Well-Being. Hakim et
27
al. (2002) berpendapat konsep locus of control, neurotisme, self-efficacy dan
self-esteem diukur sama sebagai faktor tunggal. Seseorang yang memiliki
locus of control yang tinggi dikatakan bahwa ia mampu melindungi bagian
rawan dari kondisi mental seseorang, yaitu: self-esteem (harga diri) dan
confidence (percaya diri). Peneliti menjadikan harga diri sebagai variabel
prediktor karena harga diri seseorang dapat menentukan bagaimana cara
seseorang berperilaku di dalam lingkungannya. Apabila seseorang mempunyai
harga diri yang tinggi, maka perilakunya juga akan positif, sedangkan bila
harga dirinya rendah, akan tercermin pada perilakunya yang negatif pula. Carr
(2004) menyatakan bahwa optimisme, harga diri, dan locus of control sebagai
trait kepribadian yang berhubungan dengan kebahagiaan. Hal ini sejalan
dengan penelitian Susanti (2012) menemukan bahwa terdapat hubungan yang
positif antara harga diri dengan Psychological Well-Being, artinya semakin
tinggi harga diri yang dimilliki seseorang maka semakin tinggi pula
Psychological Well-Being yang dimiliki.
B. Self Esteem
1. Pengertian Self Esteem
Coopersmith (1989) mengemukakan Self Esteem merupakan cara
bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya. Evaluasi ini akan memperlihatkan
bagaimana penilaian individu tentang penghargaan terhadap dirinya, percaya
bahwa dirinya memiliki kemampuan atau tidak, adanya pengakuan
(penerimaan) atau tidak. Harga dirimerupakan suatu proses penilaian yang
28
dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya untuk menggambarkan sikap menerima
atau tidak menerima keadaan dirinya, dan menandakan sampai seberapa jauh
individu itu percaya bahwa dirinya mampu, sukses dan berharga. Self Esteem
merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya
terutama mengenai sikap menerima atau menolak, dan indikasi besarnya
kepercayaan individu terhadap kemampuannya, keberartian, kesuksesan dan
keberhargaan. Secara singkat Self Esteem adalah “personal judgment”
mengenai perasaan berharga atau berarti yang di ekspresikan dalam sikap-
sikap individu terhadap dirinya.
Frey dan Carlock (dalam Simbolon, 2008) mengungkapkan bahwa
harga diri adalah penilaian yang mengacu pada penilaian positif, negatif,
netral dan ambigu yang merupakan bagian dari konsep diri, tetapi bukan
berarti cinta diri sendiri. Individu dengan harga diri yang tinggi menghormati
dirinya sendiri, mempertimbangkan dirinya berharga, dan melihat dirinya
sama dengan orang lain. Sedangkan harga diri rendah pada umumnya
merasakan penolakan, ketidak puasan diri dan meremehkan diri sendiri.
Selanjutnya Rosenberg (dalam Lubis, 2009) bahwa individu yang memiliki
harga diri tinggi akan menghormati dirinya dan menganggap dirinya sebagai
individu yang berguna. Sedangkan individu yang memiliki harga diri yang
rendah ia tidak dapat menerima dirinya dan menganggap dirinya tidak berguna
dan serba kekurangan.
Individu yang memiliki harga diri yang positif akan menerima dan
menghargai dirinya sendiri sebagaimana adanya, serta tidak cepat
29
menyalahkan dirinya atas kekurangan dan ketidak sempurnaan dirinya, ia
selalu merasa puas dan bangga dengan hasil karyanya sendiri dan selalu
percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan. Sedangkan individu yang
memiliki harga diri yang negatif merasa dirinya tidak berguna, tidak berharga
dan selalu menyalahkan dirinya atas ketidak sempurnaan dirinya, ia cenderung
tidak percaya diri dalam melakukan setiap tugas dan tidak yakin dengan ide-
ide yang dimilikinya (Santrock, dalam Desmita, 2010)
Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa harga diri
menggambarkan sejauh mana individu tersebut dapat menilai dirinya sebagai
orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten.
2. Aspek-aspek dalam Self Esteem
Menurut Coopersmith (dalam Murk, 2006) terdapat empat aspek yang
terkandung dalam Self Esteem, yaitu:
a. Kekuasaan (Power)
Kekuasaasan dalam arti kemampuan untuk mengatur dan mengontrol
tingkah laku orang lain. Kemampuan ini ditandai oleh adanya pengakuan
dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain dan besarnya
sumbangan dari pikiran atau pendapat dan kebenarannya.
b. Keberartian (Significance)
Atau keberartian adalah adanya kepedulian dan afeksi yang diterima
individu dari orang lain. Hal tersebut merupakan penghargaan dan minat
dari orang lain dan pertanda penerimaan dan popularitasnya. Keadaan
30
tersebut ditandai oleh kehangatan, keikutsertaan, perhatian, dan kesukaan
orang lain terhadapnya.
c. Kebajikan (Virtue)
Atau kebajikan adalah ketaatan atau mengikuti standar moral dan etika.
Kebajikan ditandai oleh ketaatan untuk menjauhi tingkah laku yang harus
dihindari dan melakukan tingkah laku yang diperbolehkan atau diharuskan
oleh moral atau etika dan agama.
d. Kemampuan (Competence)
Kemampuan, dalam arti sukses memenuhi tuntutan prestasi yang ditandai
oleh keberhasilan individu dalam mengerjakan bermacammacam tugas
atau pekerjaan dengan baik dari level yang tinggi dan usia yang berbeda.
Kemudian Heatheron dan Polivy (dalam Susanty, 2006)
menyebutkan bahwa ada tiga aspek Self Esteem yaitu:
a. Performance Self esteem, mengacu pada kompetensi umum termasuk
kecakapan intelektual, prestasi di sekolah, kapasitas yang berkaitan
dengan diri, dan keberhasilan. Individu yang memiliki Self esteem
tinggi adalah individu yang percaya bahwa mereka pandai dan mampu.
b. Social Self esteem, mengacu pada bagaimana seseorang mempercayai
persepsi orang lain terhadap dirinya, dalam hal ini mengenai
penerimaan lingkungan sosial terhadap diri individu.
c. Physexical Self Esteem, mengacu pada bagaimana individu mengandung
tubuh fisiknya, termasuk penampilan yang menarik dan citra tubuh.
Penampilan diri yang tidak menarik membuat individu menjadi rendah
31
diri. Tiap cacat fisik merupakan sumber memalukan dan mengakibatkan
perasaan rendah diri. Sebaliknya,daya tarik fisik menimbulkan penilaian
yang menyenangkan terhadap citra kepribadian dan menambah dukungan
sosial (Hurlock, 1990).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek harga diri
menurut Coopersmith (dalam Murk, 2006) meliputi; power atau
kekuasaan, Significance atau keberartian , Virtue atau kebajikan,
Competence (kemampuan). Sedangkan menurut Heatheron dan Polivy
(dalam Susanty, 2006) yaitu meliputi ; Performance Self esteem, Social
Self esteem, Physexical Self [Link] pendapat diatas maka peneliti
akan menggunakan aspek-aspek dari Coopersmith dengan pertimbangan
paparan aspek lebih konkrit dan sesuai dengan tujuan penelitian.
C. Hubungan Antara Self Esteem dengan Psychological Well-Being pada
Karyawan Outsourcing
Menurut Coopersmith (dalam Wardhani, 2009) Self Esteem sebagai
penilaian diri yang dibuat oleh individu mengenai dirinya sendiri, dimana
evaluasi diri tersebut merupakan hasil interaksi antara individu dengan
lingkungannya serta perlakuan orang lain terhadap dirinya. Perbedaan tingkat
harga diri menurut Coopersmith (dalam Burns, 1993) terdapat tiga tingkatan
beserta karakteristik individualnya. Individu yang memiliki harga diri tinggi
memiliki karakteristik mandiri, kreatif, yakin dengan gagasan dan
pendapatnya, lebih mudah bergaul, memiliki motivasi yang tinggi, dalam
32
pergaulan memiliki sifat pemimpin, tidak mudah cemas dan tahan kritik.
Individu yang memiliki harga diri rendah memiliki karakteristik mudah putus
asa, merasa tidak menarik, kurang ada kemauan dalam menghadapi dan
mengatasi kekurangan dalam dirinya, enggan menyalakan diri dalam
kelompok sehingga merasa terisolir dan sulit bergaul, takut menegur dan
marah pada orang yang berbuat salah, dan kurang berhasil dalam menjalin
hubungan interpersonal. Sedangkan individu yang memiliki harga diri sedang
memiliki karakteristik yang berada diantara kedua tingkatan tersebut.
Penilaian-penilaian tentang kemampuan dirinya serta keberartian
dirinya bersifat positif. Mereka memandang dirinya lebih baik dari
kebanyakan orang pada umumnya tetapi juga tidak terlalu percaya diri seperti
individu pada tingkat harga diri tinggi. Penilaian individu terhadap diri sendiri
yang diwujudkan pada sikap-sikap yang bersifat positif dan negatif. Penilaian
seseorang terhadap diri sendiri akan memengaruhi perilaku dalam
kehidupannya sehari-hari. Penilaian yang dilakukan oleh individu dipengaruhi
pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sejak masih kecil. Harga diri
merupakan pondasi kemampuan-kemampuan kita dalam memberikan
tanggapan-tanggapan secara aktif dan positif individu dengan harga diri yang
tinggi akan memiliki karakteristik tertentu yang berhubungan dengan
kemampuan untuk menghadapi tantangan dan gigih dalam menghadapi
kegagalan, sedangkan individu yang memiliki harga diri yang rendah
cenderung memiliki karakteristik melindungi diri dengan menghindari
kegagalan (Branden, 1999)
33
Individu yang baik ditandai dengan adanya hubungan yang hangat,
memuaskan dan saling percaya dengan orang lain, dan ia juga memiliki rasa
afeksi dan empati yang kuat terhadap orang lain. Dengan demikian individu
akan memiliki keberartian dalam hidupnya karena merasakan penghargaan
dan minat dari orang lain dan pertanda penerimaan dirinya. Ketika seseorang
mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik maka dia akan mampu
menentukan dan mengatur dirinya sendiri dan tidak bergantung dengan orang
lain sehingga memiliki autonomy yang baik. Seseorang yang memiliki
hubungan positif dengan orang lain maka mampu membina hubungan yang
hangat dan penuh kepercayaan denga orang lain. Selain itu, individu tersebut
memiliki kepedulain terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan
empati, afeksi, dan intimitas, serta memahami prinsip member dan menerima
dalam hubungan antar pribadi (Ryff, 1995).
Individu dengan Self Esteem yang tinggi akan menunjukkan
penerimaan diri, rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan
kemampuan diri, rasa berguna asertif serta rasa bahwa kehadirannya
diperlukan oleh lingkungan sekitar sehingga individu cenderung terbebas dari
pengaruh eksternal yaitu orang lain dan lingkungan, bisa menerima kritikan,
mandiri, dan bangga menjadi diri sendiri. Sejalan dengan yang dikemukakan
oleh Branden (1994) yang mengatakan bahwa Self Esteem memberikan
pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang, karena Self Esteem ikut
berperan dalam proses berpikir, pengambilan keputusan, dan lebih jauh lagi
34
Self Esteem juga ikut memengaruhi nilai-nilai, cita-cita, serta tujuan yang akan
dicapai individu.
Psychological Well-Being merupakan konstruksi dasar yang
menyampaikan informasi tentang bagaimana individu mengevaluasi diri-
sendiri dan kualitas serta pengalaman hidup yang berkaitan dengan apa yang
dirasakan individu mengenai aktivitas yang terjadi dalam kehidupannya
sehari-hari. Hasil penilaian individu terhadap diri sendiri yang diwujudkan
pada sikap-sikap yang bersifat positif dan negatif. Penilaian seseorang
terhadap diri sendiri akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari-
hari. Penelitian yang dilakukan oleh Karatzias, Chouliara, Power & Swanson
(2006) menemukan bahwa Self Esteem menjadi prediktor general well-being.
Semakin tinggi harga diri yang dimiliki oleh seseorang maka akan semakin
baik psychologically well-being yang dimiliki seseorang, yang ditandai dengan
adanya perasaan bahagia, mampu dan pengakuan dari orang lain atas
kemampuan yang dimiliki, merasa memiliki kelebihan, memliki kegiatan yang
menyenangkan dilingkungan serta mampu menjalin hubungan yang baik
dengan orang sekitar, seperti keluarga dan teman. Kemudian penelitian
Murray, Holmes, & Griffin (2000) pada remaja dan orang dewasa muda
menemukan bahwa Self Esteem merupakan faktor penting dalam menentukan
kesejahteraan, bahkan menjadi prediktor tunggal yang paling baik terhadap
kesejahteraan subjektif (Diener & Diener, 1996; Schimmack & Diener, 2003).
35
D. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif
antara Self Esteem dengan Psychological Well-Being pada karyawan outsourcing.
Semakin tinggi Self Esteem maka akan diikuti semakin tingginya kesejahteraan
psikologis (Psychological Well-Being), demikian juga sebaliknya, semakin rendah
Self Esteem maka akan semakin rendah pula Psychological Well-Being pada
karyawan outsourcing.