0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan21 halaman

Dimensi Psychological Well-Being Menurut Ryff

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai Psychological Well-Being. Terdapat beberapa dimensi Psychological Well-Being menurut Ryff dan Keyes yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Bab ini juga menjelaskan pengertian Psychological Well-Being menurut beberapa ahli.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan21 halaman

Dimensi Psychological Well-Being Menurut Ryff

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai Psychological Well-Being. Terdapat beberapa dimensi Psychological Well-Being menurut Ryff dan Keyes yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Bab ini juga menjelaskan pengertian Psychological Well-Being menurut beberapa ahli.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Psychological Well-Being

1. Pengertian Psychological Well-Being

Psychological Well-Being merupakan sebuah pencapaian penuh dari

potensi psikologis seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima

kekuatan dan kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mampu

mengendalikan lingkungan, mengembangkan hubungan positif dengan orang

lain, mandiri, dan terus bertumbuh menjadi dirinya sendiri (Ryff dalam Keyes,

dkk, 2010). Ditambahkan bahwa Psychological Well-Being merupakan suatu

konsep yang berkaitan dengan apa yang dirasakan individu mengenai pada

pengungkapan perasaan- perasaan pribadi atas apa yang dirasakan oleh individu

pengalaman sebagai hasil dari dan hidupnya aktivitas dalam kehidupan sehari-

hari. Sedangkan Menurut Ramos (2007) Psychological Well-Being adalah

kebaikan, keharmonisan, menjalin hubungan baik dengan orang lain baik antar

individu maupun dalam kelompok.

Berger (2010) menjelaskan Psychological Well-Being (Psychological

Well-Bein) di tempat kerja adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki

motivasi, dilibatkan dalam pekerjaannya, memiliki energi positif, menikmati

semua kegiatan pekerjaannya dan akan bertahan lama pada pekerjaannya. Raz

(2004) menambahkan bahwa menjalankan kegiatan sepenuh hati dan sukses

dalam menjalin hubungan dengan dengan orang lain merupakan makna dari

15
16

Psychological Well-Being, dengan kata lain sumber dari Psychological Well-

Being adalah menemukan makna dalam hidupnya.

Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa

Psychological Well-Being adalah pencapaian penuh dari potensi psikologis

seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan dan

kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi yang

positif dengan orang lain, menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan

lingkungan, dan terus bertumbuh secara personal

2. Dimensi Psychological Well-Being

Ryff dan Keyes (1995) memaparkan dimensi individu yang mempunyai

fungsi psikologis yang positif yaitu:

a. Penerimaan diri (Self-acceptance)

Dimensi ini merupakan ciri utama kesehatan mental dan merupakan

karakteristik utama dalam aktualisasi diri, berfungsi optimal dan

kematangan. penerimaan diri yang baik ditandai dengan kemampuan

menerima diri apa adanya. kemampuan tersebut memungkinkan seseorang

untuk bersikap positif terhadap diri sendiri dan kehidupan yang

dijalaninya. Menurut Ryff (1989) hal tersebut menandakan Psychological

Well-Being yang tinggi. Individu yang memiliki tingkat penerimaan diri

yang baik ditandai dengan sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui

dan menerima berbagai aspek yang ada dalam dirinya, baik yang positif

maupun negatif, dan memiliki pandangan positif terhadap masa lalu.

Demikian pula sebaliknya, seseorang yang memiliki tingkat penerimaan


17

diri yang kurang baik dan memunculkan perasaan tidak puas terhadap diri

sendiri, merasa kecewa dengan pengalaman masa lalu, dan memiliki

pengharapan untuk menjadi pribadi yang bukan dirinya, dengan kata lain

tidak menjadi dirinya saat ini.

b. Hubungan Positif dengan orang lain ( Positive relation with others)

Pada dimensi ini seringnya disebut dimensi yang paling penting dari

konsep Psychological Well-Being. Ryff menekankan pentingnya menjalin

hubungan hangat dan saling percaya dengan orang lain. Dimensi ini juga

menekankan adanya kemampuan yang merupakan salah satu komponen

kesehatan mental yaitu kemampuan untuk mencintai orang lain. Dalam

dimensi ini, individu yang dikatakan tinggi atau baik ditandai dengan

adanya hubungan yang hangat, memuaskan dan saling percaya dengan

orang lain, dan ia juga memiliki rasa afeksi dan empati yang kuat terhadap

orang lain. Sementara itu, individu yang dikatakan rendah atau kurang bak

dalam dimensi ini ditandai dengan memiliki sedikit hubungan dengan

orang lain, sulit bersikap hangat dan enggan memiliki ikatan dengan orang

lain.

c. Memiliki Kemandirian (Autonomy)

Pada dimensi ini menjelaskan tentang kemandirian, kemampuan untuk

menentukan diri sendiri, dan kemampuan untuk mengatur tingkah laku.

Individu yang mampu menolak tekanan sosial untuk berfikir dan

bertingkah laku dengan cara-cara tertentu, serta dapat mengevaluasi diri

sendiri dengan standar personal, hal ini menandakan bahwa ia baik dalam
18

dimensi ini. Sementara individu yang kurang baik dalam dimensi ini akan

memperhatikan harapan dan evaluasi dari orang lain, mereka akan

membuat keputusan berdasarkan penilaian orang lain dan cenderung

bersikap konformis. Dengan kata lain individu yang tidak terpengaruh

dengan persepsi orang lain dan tidak bergantung dengan orang lain adalah

individu yang memiliki autonomy yang baik, sedangkan individu yang

mudah terpengaruh serta bergantung pada orang lain adalah individu yang

memiliki autonomy yang rendah.

d. Mampu mengontrol lingkungan eksternal (Environmental Mastery)

Hal yang dimaksud dalam dimensi ini adalah seseorang yang mampu

memanipulasi keadaan sehingga sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai

pribadi yang dianutnya dan mampu untuk mengembangkan diri secara

kreatif melalui aktifitas fisik mapupun mental. Individu dengan

Psychological Well-Being yang baik memiliki kemampuan untuk memilih

dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi fisik dirinya.

Dengan kata lain, ia memiliki kemampuan dalam menghadapi kejadian-

kejadian diluar dirinya (lingkungan eksternal). Sementara itu, Individu

yang kurang baik dalam dimensi akan menunjukkan ketidakmampuan

untuk mengatur kehidupan sehari-hari, dan kurang memiliki kontrol

terhadap lingkungan luar disekitarnya.

e. Tujuan Hidup (Purpose in Life )

Pada dimensi ini menjelaskan kemampuan individu untuk mencapai tujuan

atau arti hidup. Individu yang memiliki makna dan keterarahan dalam
19

hidup, maka akan memiliki perasaan bahwa kehidupan baik saat ini

maupun masa lalu mempunyai makna, memiliki kepercayaan untuk

mencapai tujuan hidup, dan memiliki target terhadap apa yang ingin

dicapai dalam hidup, maka dapat dikatakan bahwa ia memiliki tujuan

hidup yang baik. Sementara, seseorang yang kurang baik dalam dimensi

ini, ditandai dengan memiliki perasaan tidak ada tujuan yang ingin dicapai

dalam hidup tidak melihat adanya manfaat terhadap kehidupan masa

lalunya, dan tidak mempunyai kepercayaan untuk membuat hidup berarti.

Dimensi ini juga menggambarkan kesehatan mental (psikologis)

seseorang, karena kita tidak dapat melepaskan diri dari keyakinan yang

dimiliki seorang indvidu mengenai tujuan dan makna kehidupannya ketika

mendefenisikan kesehatan mental.

f. Pengembangan Potensi dalam diri (Personal Growth)

Pada dimensi ini menjelaskan tentang kemampuan individu untuk

mengembangkan potensi dalam diri dan berkembang sebagai seorang

manusia. Personal growth ini penting untuk dimiliki setiap individu dalam

berfungsi secara psikologis. Salah satu hal penting dalam dimensi ini

adalah adanya kebutuhan untuk mengaktualisasi diri, misalnya

keterbukaan terhadap pengalaman. Seseorang yang memiliki personal

growth yang baik memiliki perasaan untuk terus berkembang, melihat diri

sebagai sesuatu yang bertumbuh, menyadari potensi dalam diri, dan

mampu melihat peningkatan dalam diri dan tingkah laku dari waktu ke

waktu. Sementara itu, Individu yang kurang baik dalam personal growth
20

ini akan menunjukkan ketidakmampuan untuk mengembangkan sikap dan

tingkah laku baru memiliki perasaan bahwa ia adalah seorang pribadi yang

monoton dan stagnan, serta tidak tertarik dengan kehidupan yang

dijalaninya.

Hurlock (2004) mengemukakan pendapat mengenai esensi keadaan

sejahtera yang ada di dalam diri individu, sebagai berikut:

a. Menerima (acceptance) Kebahagiaan yang dialami oleh seorang individu

tergantung dari sikap menerima dan menikmati apa yang dimilikinya.

b. Kasih sayang (affection) Kasih sayang merupakan hasil dari sikap diterima

oleh orang lain. Individu yang kurang mendapat kasih sayang akan

mempengaruhi kebahagiaan.

c. Prestasi (achievement) Tercapainya tujuan yang diinginkan, merupakan

suatu prestasi bagi individu. Apabila tujuan tidak tercapai, maka akan

timbul ketidakbahagiaan pada individu

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli diatas, dapat diperoleh

kesimpulan bahwa aspek-aspek Psychological Well-Being menurut Ryff dan

Keyes (1995) yaitu; penerimaan diri (self- acceptance), hubungan positif

dengan orang lain (positive relation with others), otonomi (autonomy),

penguasaan lingkungan (environtmental mastery), tujuan hidup (purpose in

life), pertumbuhan pribadi (personal growht). Sedangkan aspek-aspek

menurut Hurlock (2004) yaitu; menerima (acceptance) , kasih sayang

(affection), prestasi (achievement). Dari penjabaran diatas peneliti akan

menggunakan aspek-aspek menurut Ryff dan Keyes sebagai indikator


21

penyusunan skala meliputi; penerimaan diri, hubungan positif dengan orang

lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, pertumbuhan pribadi,

karena aspek-aspek tersebut dianggap lebih rinci sehingga diharapkan dapat

mengungkapkan data lebih dalam tentang Psychological Well-Being. Dari

studi pustaka yang dilakukan peneliti aspek-aspek Ryff dan Keyes banyak

digunakan sebagai penelitian untuk mengukur Psychological Well-Being

seperti penelitian Alviana (2013), Fitria (2016), Simartama (2015).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Psychological Well-Being

Ryff dan Keyes (1995) memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi

Psychological Well-Being seseorang yaitu:

a. Faktor internal

1) Usia

Menurut Ryff & Keyes (1995), usia mempengaruhi perbedaan dalam

dimensi-dimensi Psychological Well-Being. Aspek-aspek yang berkaitan

dengan penguasaan lingkungan dan otonomi diri seseorang menunjukkan

peningkatan seiring pertambahan usia dari kecil hingga dewasa akhir.

Sedangkan pada aspek yang berkaitan dengan tujuan hidup dan pertumbuhan

pribadi seseorang semakin menurun sejak usia dewasa muda hingga dewasa

akhir.

2) Jenis kelamin

Perbedaan tingkat Psychological Well-Being antara pria dan wanita

dipengaruhi oleh stereotype gender yang cenderung menggambarkan pria


22

sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara wanita adalah sosok yang

pasif, tergantung, serta sensitif terhadap perasaan orang lain (Papalia, Feldman

& Gross, 2001). Hal ini yang mengakibatkan sebagian besar wanita

menunjukkan skor yang lebih tinggi daripada pria pada dimensi hubungan

positif dengan orang lain (Ryff, 1989).

3) Evaluasi terhadap bidang-bidang tertentu

Tercapainya Psychological Well-Being tergantung pada penilaian individu

mengenai dirinya sendiri. Penilaian yang berbeda mengenai terpenuhinya

dimensi-dimensi Psychological Well-Being menyebabkan tingkat kepuasan

yang dirasakan berbeda antara individu yang satu dengan yang lain, sehingga

dapat dikatakan bahwa mekanisme evaluasi diri berpengaruh pada

Psychological Well-Being individu (Ryff & Essex, 1992).

4) Kepribadian

Harga diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang paling penting

dalam proses berpikir, tingkat emosi, keputusan yang diambil, nilai-nilai yang

dianut serta penentuan tujuan hidup. Harga diri mencakup dua komponen

yaitu perasaan akan kompetensi pribadi dan perasaan akan penghargaan diri

pribadi. Seseorang akan menyadari dan menghargai dirinya jika ia mampu

menerima diri pribadinya. Hakim et al. (2002) berpendapat konsep locus of

control, neurotisme, self-efficacy dan self-esteem diukur sama sebagai faktor

tunggal. Seseorang yang memiliki locus of control yang tinggi dikatakan

bahwa ia mampu melindungi bagian rawan dari kondisi mental seseorang,

yaitu: self-esteem (harga diri) dan confidence (percaya diri).


23

Locus of control merupakan Salah satu faktor kepribadian yang

mempengaruhi Psychological Well-Being Robbins dan Judge (2008)

menjelaskan bahwa Locus of control merupakan tingkat dimana individu

yakin bahwa mereka dalah penentu nasib mereka sendiri. Robinson, Stimpson,

Huefner, dan Hunt (1991) mengemukakan individu dengan locus of control

internal pada umumnya memiliki tingkat Psychological Well-Being yang lebih

tinggi dibanding individu dengan locus of control eksternal. Locus of control

merupakan salah satu dari empat dimensi evaluasi diri, neurotisme, self-

efficacy, dan harga diri . Konsep inti evaluasi diri pertama kali diteliti oleh

Hakim, Locke, dan Durham (1997), dan karena telah terbukti memiliki

kemampuan untuk memprediksi beberapa hasil kerja, khususnya, kepuasan

kerja dan prestasi kerja. Dalam sebuah studi tindak lanjut.

b. Faktor Eksternal

1) Status Sosial Ekonomi.

Ryff dan Singer (1996) mengemukakan bahwa perbedaan kelas sosial

ekonomi turut mempengaruhi profil Psychological Well-Being individu. Dari

penelitian tersebut diketahui bahwa pada individu yang memiliki tingkat

pendidikan yang tinggi memiliki profil Psychological Well-Being yang tinggi

khususnya pada dimensi tujuan hidup dan pengembangan pribadi. Selain itu,

tingkat pendidikan yang tinggi dan status pekerjaan juga berpengaruh terhadap

tingkat Psychological Well-Being pada dimensi penerimaan diri dan dimensi

tujuan hidup. Orang yang menempati kelas sosial yang tinggi memiliki

perasaan yang lebih positif terhadap diri sendiri dan masa lalu mereka, serta
24

lebih memiliki rasa keterarahan dalam hidup dibandingkan dengan mereka

yang berada di kelas sosial yang lebih rendah (Ryff, 1995).

2) Budaya

Psychological Well-Being yang berkaitan dengan dimensi penerimaan diri

dan otonomi lebih banyak ditemukan pada masyarakat yang memiliki budaya

individualistik (Ryff & Singer, 1996). Sementara itu masyarakat yang

memiliki budaya yang berorientasi kolektifitas dan saling ketergantungan,

lebih banyak menunjukkan nilai yang positif pada dimensi hubungan positif

dengan orang lain.

3) Dukungan Sosial

Dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamanan pada orang lain,

merawatnya atau menghargainya (Sarafino, 2006). Dukungan sosial berasal

dari teman, tetangga, teman kerja dan orang-orang lainnya. Tujuan dari

dukungan sosial ini adalah memberi dukungan dalam mencapai tujuan dan

kesejahteraan hidup, dapat membantu perkembangan pribadi yang lebih positif

memberikan dukungan pada individu dalam menghadapi masalah hidup

sehari-hari. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Salovey, Rothman,

Detweller & Stewart (2000) menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara

dukungan sosial dengan kesejahteraan. Orang yang mempunyai hubungan

dekat mampu mengatasi stressor (misalnya kehilangan pekerjaan, mengidap

penyakit, berpisah dengan pasangan hidup, dsb.) dengan lebih baik.

4) Pekerjaan
25

Page (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor pekerjaan seperti jam kerja,

pengakuan, kondisi kerja, keamanan pekerjaan, gaji berpengaruh terhadap

Psychological Well-Being seseorang.

Sedangkan menurut Huppert (2009) bahwasanya tingkat Psychological

Well-Being dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

1) Personality (kepribadian) Berkaitan dengan gaya emosional yang positif

sedangkan neurotisme dikaitkan dengan gaya emosional yang negatif.

2) Faktor Demografi Pada jenis kelamin, tingkat kesejahteraan perempuan

memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.

3) Faktor Sosial Ekonomi Pada umumnya, status sosial ekonomi dan tingkat

pendapatan yang tinggi mempengaruhi tingkat kesejahteraan individu.

4) Faktor Lainnya (perilaku, kognisi dan motivasi) Individu yang memiliki

perilaku, kognisi dan motivasi yang baik untuk berjuang mencapai

tujuannya mencerminkan nilai-nilai yang dipegang teguh dari dalam

dirinya, sebagai langkah untuk mencapai kebahagiaan.

Adapun Bhogel & Prakash (1995) menyebutkan beberapa faktor yang

mempengaruhi Psychological Well-Being yaitu:

1) Personal control, yaitu kemampuan seseorang dalam mengontrol segala

emosi dan dorongan yang muncul dati dalam diri.

2) Self Esteem atau harga diri, yaitu memiliki harga diri yang seimbang.

3) Positive Affect, yaitu perasaan atau emosi yang positif (kesenangan atau

kegembiraan).
26

4) Manage Tension, yaitu kemampuan untuk mengatur ketegangan yang

keluar dari dalam diri, misalnya kemarahan atau kebahagiaan, sehingga

tidak muncul secara berlebihan.

5) Positive thinking, yaitu berpikir positif dalam menghadapi peristiwa,

suasana, atau individu baru.

6) Ide & Feeling yang efisien, mengeluarkan ide dan perasaan yang tepat dan

sesuai dengan konteks serta tidak berlebihan.

Dari uraian diatas disimpulkan bahwa menurut Ryff dan Keyes (1995)

Psychological Well-Being dipengaruhi oleh; a) faktor internal yang meliputi

usia, jenis kelamin, evaluasi terhadap bidang-bidang tertentu, kepribadian; b)

faktor eksternal meliputi status social ekonomi, budaya, dukungan social, dan

pekerjaan. Kemudian menurut Huppert faktor yang mempengaruhi

Psychological Well-Being yaitu ; kepribadian; faktor demografi pada jenis

kelamin; faktor social ekonomi; faktor lainnya (perilaku, kognisi, dan

motivasi). Sedangkan menurut Bhogel & Prakash (dalam wahyuni 2001) yang

menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi Psychological Well-

Being yaitu; Personal control, Self Esteem atau harga diri, Positive Affect,

Manage Tension, Positive thinking, Ide & Feeling yang efisien.

Adapun faktor yang dipilih sebagai variabel bebas dalam penelitian ini

ialah faktor Self Esteem atau harga diri dari teori Ryff dan Keyes (1995).

Harga diri merupakan salah satu dari empat dimensi evaluasi diri, neurotisme,

self-efficacy, dan locus of control dimana locus of control adalah salah satu

faktor kepribadian yang mempengaruhi Psychological Well-Being. Hakim et


27

al. (2002) berpendapat konsep locus of control, neurotisme, self-efficacy dan

self-esteem diukur sama sebagai faktor tunggal. Seseorang yang memiliki

locus of control yang tinggi dikatakan bahwa ia mampu melindungi bagian

rawan dari kondisi mental seseorang, yaitu: self-esteem (harga diri) dan

confidence (percaya diri). Peneliti menjadikan harga diri sebagai variabel

prediktor karena harga diri seseorang dapat menentukan bagaimana cara

seseorang berperilaku di dalam lingkungannya. Apabila seseorang mempunyai

harga diri yang tinggi, maka perilakunya juga akan positif, sedangkan bila

harga dirinya rendah, akan tercermin pada perilakunya yang negatif pula. Carr

(2004) menyatakan bahwa optimisme, harga diri, dan locus of control sebagai

trait kepribadian yang berhubungan dengan kebahagiaan. Hal ini sejalan

dengan penelitian Susanti (2012) menemukan bahwa terdapat hubungan yang

positif antara harga diri dengan Psychological Well-Being, artinya semakin

tinggi harga diri yang dimilliki seseorang maka semakin tinggi pula

Psychological Well-Being yang dimiliki.

B. Self Esteem

1. Pengertian Self Esteem

Coopersmith (1989) mengemukakan Self Esteem merupakan cara

bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya. Evaluasi ini akan memperlihatkan

bagaimana penilaian individu tentang penghargaan terhadap dirinya, percaya

bahwa dirinya memiliki kemampuan atau tidak, adanya pengakuan

(penerimaan) atau tidak. Harga dirimerupakan suatu proses penilaian yang


28

dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya untuk menggambarkan sikap menerima

atau tidak menerima keadaan dirinya, dan menandakan sampai seberapa jauh

individu itu percaya bahwa dirinya mampu, sukses dan berharga. Self Esteem

merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya

terutama mengenai sikap menerima atau menolak, dan indikasi besarnya

kepercayaan individu terhadap kemampuannya, keberartian, kesuksesan dan

keberhargaan. Secara singkat Self Esteem adalah “personal judgment”

mengenai perasaan berharga atau berarti yang di ekspresikan dalam sikap-

sikap individu terhadap dirinya.

Frey dan Carlock (dalam Simbolon, 2008) mengungkapkan bahwa

harga diri adalah penilaian yang mengacu pada penilaian positif, negatif,

netral dan ambigu yang merupakan bagian dari konsep diri, tetapi bukan

berarti cinta diri sendiri. Individu dengan harga diri yang tinggi menghormati

dirinya sendiri, mempertimbangkan dirinya berharga, dan melihat dirinya

sama dengan orang lain. Sedangkan harga diri rendah pada umumnya

merasakan penolakan, ketidak puasan diri dan meremehkan diri sendiri.

Selanjutnya Rosenberg (dalam Lubis, 2009) bahwa individu yang memiliki

harga diri tinggi akan menghormati dirinya dan menganggap dirinya sebagai

individu yang berguna. Sedangkan individu yang memiliki harga diri yang

rendah ia tidak dapat menerima dirinya dan menganggap dirinya tidak berguna

dan serba kekurangan.

Individu yang memiliki harga diri yang positif akan menerima dan

menghargai dirinya sendiri sebagaimana adanya, serta tidak cepat


29

menyalahkan dirinya atas kekurangan dan ketidak sempurnaan dirinya, ia

selalu merasa puas dan bangga dengan hasil karyanya sendiri dan selalu

percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan. Sedangkan individu yang

memiliki harga diri yang negatif merasa dirinya tidak berguna, tidak berharga

dan selalu menyalahkan dirinya atas ketidak sempurnaan dirinya, ia cenderung

tidak percaya diri dalam melakukan setiap tugas dan tidak yakin dengan ide-

ide yang dimilikinya (Santrock, dalam Desmita, 2010)

Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa harga diri

menggambarkan sejauh mana individu tersebut dapat menilai dirinya sebagai

orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten.

2. Aspek-aspek dalam Self Esteem

Menurut Coopersmith (dalam Murk, 2006) terdapat empat aspek yang

terkandung dalam Self Esteem, yaitu:

a. Kekuasaan (Power)

Kekuasaasan dalam arti kemampuan untuk mengatur dan mengontrol

tingkah laku orang lain. Kemampuan ini ditandai oleh adanya pengakuan

dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain dan besarnya

sumbangan dari pikiran atau pendapat dan kebenarannya.

b. Keberartian (Significance)

Atau keberartian adalah adanya kepedulian dan afeksi yang diterima

individu dari orang lain. Hal tersebut merupakan penghargaan dan minat

dari orang lain dan pertanda penerimaan dan popularitasnya. Keadaan


30

tersebut ditandai oleh kehangatan, keikutsertaan, perhatian, dan kesukaan

orang lain terhadapnya.

c. Kebajikan (Virtue)

Atau kebajikan adalah ketaatan atau mengikuti standar moral dan etika.

Kebajikan ditandai oleh ketaatan untuk menjauhi tingkah laku yang harus

dihindari dan melakukan tingkah laku yang diperbolehkan atau diharuskan

oleh moral atau etika dan agama.

d. Kemampuan (Competence)

Kemampuan, dalam arti sukses memenuhi tuntutan prestasi yang ditandai

oleh keberhasilan individu dalam mengerjakan bermacammacam tugas

atau pekerjaan dengan baik dari level yang tinggi dan usia yang berbeda.

Kemudian Heatheron dan Polivy (dalam Susanty, 2006)

menyebutkan bahwa ada tiga aspek Self Esteem yaitu:

a. Performance Self esteem, mengacu pada kompetensi umum termasuk

kecakapan intelektual, prestasi di sekolah, kapasitas yang berkaitan

dengan diri, dan keberhasilan. Individu yang memiliki Self esteem

tinggi adalah individu yang percaya bahwa mereka pandai dan mampu.

b. Social Self esteem, mengacu pada bagaimana seseorang mempercayai

persepsi orang lain terhadap dirinya, dalam hal ini mengenai

penerimaan lingkungan sosial terhadap diri individu.

c. Physexical Self Esteem, mengacu pada bagaimana individu mengandung

tubuh fisiknya, termasuk penampilan yang menarik dan citra tubuh.

Penampilan diri yang tidak menarik membuat individu menjadi rendah


31

diri. Tiap cacat fisik merupakan sumber memalukan dan mengakibatkan

perasaan rendah diri. Sebaliknya,daya tarik fisik menimbulkan penilaian

yang menyenangkan terhadap citra kepribadian dan menambah dukungan

sosial (Hurlock, 1990).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek harga diri

menurut Coopersmith (dalam Murk, 2006) meliputi; power atau

kekuasaan, Significance atau keberartian , Virtue atau kebajikan,

Competence (kemampuan). Sedangkan menurut Heatheron dan Polivy

(dalam Susanty, 2006) yaitu meliputi ; Performance Self esteem, Social

Self esteem, Physexical Self [Link] pendapat diatas maka peneliti

akan menggunakan aspek-aspek dari Coopersmith dengan pertimbangan

paparan aspek lebih konkrit dan sesuai dengan tujuan penelitian.

C. Hubungan Antara Self Esteem dengan Psychological Well-Being pada

Karyawan Outsourcing

Menurut Coopersmith (dalam Wardhani, 2009) Self Esteem sebagai

penilaian diri yang dibuat oleh individu mengenai dirinya sendiri, dimana

evaluasi diri tersebut merupakan hasil interaksi antara individu dengan

lingkungannya serta perlakuan orang lain terhadap dirinya. Perbedaan tingkat

harga diri menurut Coopersmith (dalam Burns, 1993) terdapat tiga tingkatan

beserta karakteristik individualnya. Individu yang memiliki harga diri tinggi

memiliki karakteristik mandiri, kreatif, yakin dengan gagasan dan

pendapatnya, lebih mudah bergaul, memiliki motivasi yang tinggi, dalam


32

pergaulan memiliki sifat pemimpin, tidak mudah cemas dan tahan kritik.

Individu yang memiliki harga diri rendah memiliki karakteristik mudah putus

asa, merasa tidak menarik, kurang ada kemauan dalam menghadapi dan

mengatasi kekurangan dalam dirinya, enggan menyalakan diri dalam

kelompok sehingga merasa terisolir dan sulit bergaul, takut menegur dan

marah pada orang yang berbuat salah, dan kurang berhasil dalam menjalin

hubungan interpersonal. Sedangkan individu yang memiliki harga diri sedang

memiliki karakteristik yang berada diantara kedua tingkatan tersebut.

Penilaian-penilaian tentang kemampuan dirinya serta keberartian

dirinya bersifat positif. Mereka memandang dirinya lebih baik dari

kebanyakan orang pada umumnya tetapi juga tidak terlalu percaya diri seperti

individu pada tingkat harga diri tinggi. Penilaian individu terhadap diri sendiri

yang diwujudkan pada sikap-sikap yang bersifat positif dan negatif. Penilaian

seseorang terhadap diri sendiri akan memengaruhi perilaku dalam

kehidupannya sehari-hari. Penilaian yang dilakukan oleh individu dipengaruhi

pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sejak masih kecil. Harga diri

merupakan pondasi kemampuan-kemampuan kita dalam memberikan

tanggapan-tanggapan secara aktif dan positif individu dengan harga diri yang

tinggi akan memiliki karakteristik tertentu yang berhubungan dengan

kemampuan untuk menghadapi tantangan dan gigih dalam menghadapi

kegagalan, sedangkan individu yang memiliki harga diri yang rendah

cenderung memiliki karakteristik melindungi diri dengan menghindari

kegagalan (Branden, 1999)


33

Individu yang baik ditandai dengan adanya hubungan yang hangat,

memuaskan dan saling percaya dengan orang lain, dan ia juga memiliki rasa

afeksi dan empati yang kuat terhadap orang lain. Dengan demikian individu

akan memiliki keberartian dalam hidupnya karena merasakan penghargaan

dan minat dari orang lain dan pertanda penerimaan dirinya. Ketika seseorang

mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik maka dia akan mampu

menentukan dan mengatur dirinya sendiri dan tidak bergantung dengan orang

lain sehingga memiliki autonomy yang baik. Seseorang yang memiliki

hubungan positif dengan orang lain maka mampu membina hubungan yang

hangat dan penuh kepercayaan denga orang lain. Selain itu, individu tersebut

memiliki kepedulain terhadap kesejahteraan orang lain, dapat menunjukkan

empati, afeksi, dan intimitas, serta memahami prinsip member dan menerima

dalam hubungan antar pribadi (Ryff, 1995).

Individu dengan Self Esteem yang tinggi akan menunjukkan

penerimaan diri, rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan

kemampuan diri, rasa berguna asertif serta rasa bahwa kehadirannya

diperlukan oleh lingkungan sekitar sehingga individu cenderung terbebas dari

pengaruh eksternal yaitu orang lain dan lingkungan, bisa menerima kritikan,

mandiri, dan bangga menjadi diri sendiri. Sejalan dengan yang dikemukakan

oleh Branden (1994) yang mengatakan bahwa Self Esteem memberikan

pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang, karena Self Esteem ikut

berperan dalam proses berpikir, pengambilan keputusan, dan lebih jauh lagi
34

Self Esteem juga ikut memengaruhi nilai-nilai, cita-cita, serta tujuan yang akan

dicapai individu.

Psychological Well-Being merupakan konstruksi dasar yang

menyampaikan informasi tentang bagaimana individu mengevaluasi diri-

sendiri dan kualitas serta pengalaman hidup yang berkaitan dengan apa yang

dirasakan individu mengenai aktivitas yang terjadi dalam kehidupannya

sehari-hari. Hasil penilaian individu terhadap diri sendiri yang diwujudkan

pada sikap-sikap yang bersifat positif dan negatif. Penilaian seseorang

terhadap diri sendiri akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari-

hari. Penelitian yang dilakukan oleh Karatzias, Chouliara, Power & Swanson

(2006) menemukan bahwa Self Esteem menjadi prediktor general well-being.

Semakin tinggi harga diri yang dimiliki oleh seseorang maka akan semakin

baik psychologically well-being yang dimiliki seseorang, yang ditandai dengan

adanya perasaan bahagia, mampu dan pengakuan dari orang lain atas

kemampuan yang dimiliki, merasa memiliki kelebihan, memliki kegiatan yang

menyenangkan dilingkungan serta mampu menjalin hubungan yang baik

dengan orang sekitar, seperti keluarga dan teman. Kemudian penelitian

Murray, Holmes, & Griffin (2000) pada remaja dan orang dewasa muda

menemukan bahwa Self Esteem merupakan faktor penting dalam menentukan

kesejahteraan, bahkan menjadi prediktor tunggal yang paling baik terhadap

kesejahteraan subjektif (Diener & Diener, 1996; Schimmack & Diener, 2003).
35

D. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif

antara Self Esteem dengan Psychological Well-Being pada karyawan outsourcing.

Semakin tinggi Self Esteem maka akan diikuti semakin tingginya kesejahteraan

psikologis (Psychological Well-Being), demikian juga sebaliknya, semakin rendah

Self Esteem maka akan semakin rendah pula Psychological Well-Being pada

karyawan outsourcing.

Anda mungkin juga menyukai