Terapi Komplementer untuk Kesehatan Optimal
Terapi Komplementer untuk Kesehatan Optimal
Komplementer
• Pengobatan non konvensional yang ditujukan
untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat: promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan
terstruktur dengan kualitas keamanan, dan
efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu
pengetahuan biomedik, yang belum diterima
dalam kedokteran konvensional
Pengertian Terapi Komplementer
1. Yoga
2. Akupunktur
3. Diet Therapy
4. Reiki
5. Massage Therapy
6. Chromo Therapy
7. Meditation
8. Herbal Medicine
9. Homeopathy
10. Hypnosis
11. Aromatherapy
12. Ayurweda
TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER
1. Akupuntur
Berasal dari Cina. Cara kerjanya adalah dengan
mengaktivasi berbagai molekul signal yang berperan
sebagai komunikasi antar sel. Salah satu pelepasan
molekul tersebut adalah pelepasan endorphin.
20
ORIENTASI PEMBANGUNAN KESEHATAN
PELAYANAN
KETURUNAN PERILAKU LINGKUNGAN
KESEHATAN
KECELAKAAN PROMOTIF
FAS YANKES
PREVENTIF
CYBER NEWS 21
KURATIF SDM KES
SOCIAL CAPITAL
REHABILITATIF PEMBIAYAAN KES
KESEHATAN
keadaan SEHAT baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan seseorang untuk hidup produktif baik secara sosial
dan ekonomis (Ps 1 UU 39/2006)
Terapi berbasis
Spiritual
Dibicara
kan Ada
Saat in banyak fakta
orang
Dibicara Belum
Saat in kan jelas
banyak
orang
fakta
Terapi Komplementer Pilihan Pengobatan
Keyakinan
Keuangan
Kebutuhan
masyarakat Reaksi obat kimia
terhadap terapi
komplementer Tingkat kesembuhan
semakin
meningkat
Komunitas
Jiwa
KMB
Anak
Maternitas
Hasil Penelitian
KONSUMEN
Kembali ke alam
Efek samping lebih kecil
Preventif lebih baik dari pada kuratif
Ketidakpuasan terhadap obat modern
Harga terjangkau
Memiliki sejarah yang panjang yang dipercaya
Jalur yang ada cukup luas
MANFAAT OBAT HERBAL
Promotif Preventif
Kuratif
Rehabilitatif Paliatif
Efek lebih
lemah Karaketeristik Waktu kerja
dibanding obat herbal obat relatif
obat modern lebih lama
Tidak cocok
untuk
penanganan
gawat darurat
PERTIMBANGAN OBAT HERBAL
Meningkatkan kesehatan
Kepastian jumlah simplisia
Simplisia makin banyak, analisis makin sulit
Interaksi antara bahan jamu
Interaksi dengan obat konvensional
Interaksi dengan makanan
Senyawa untuk standar
Keamanan, khasiat, efektivitas
KHASIAT DAN KEAMANAN OBAT HERBAL
Khasiat Keamanan
* (KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : HK.00.05.4.2411 TENTANG
KETENTUAN POKOK PENGELOMPOKAN DAN PENANDAAN OBAT BAHAN ALAM INDONESIA )
Identitas Tanaman dengan Ciri Warna
Nama Lokal Nama Latin Simpli- Warna Fungsi
sia
Delima putih Punica Buah Putih Keputihan
granatum
Saga [Link]- Biji Merah Penyakit mata
rius
Bayam merah Iresine Daun Merah Mengatasi
berbastii anemia
Bambu kuning Bambusa Batang Kuning Penyakit
vulgaris kuning
Daun Ungu Graptophyl- Daun Ungu Hemoroid
lum pictum
Kayu kuning Arcangelia Kayu Kuning Penyakit
flava kuning
Identitas Tanaman dengan Ciri Bau &Rasa
Nama Lokal Nama Latin Simpli- Karakter Fungsi
sia Fisik
Brotowali Tinospora Batang Pahit Diabetes
crispa
Sambiloto [Link] Herba Pahit Diabetes
• 7. EKSTRAK ( EXTRACTUM)
SEDIAAN PADAT, KENTAL ATAU CAIR YANG DIBUAT DENGAN MENGEKSTRAKSI SIMPLISIA
MENGGUNAKAN AIR, ALCOHOL ATAU HIDROALKOHOL DENGAN METODE EKSTRAKSI
DAN PELARUT SESUAI DENGAN MONOGRAFI MASING-MASING.
PERKEMBANGAN SEDIAAN OT SEKARANG
• 1. KAPSUL : SEDIAAN KERING BERUPA SERBUK ATAU GRANUL YANG DIMASUKKAN KE DALAM
KAPSUL KERAS YANG TERBUAT DARI GELATIN
• 2. TABLET : SEDIAAN YANG DIBUAT DARI SERBUK ATAU GRANUL YANG DIKEMPA. SELAIN
BAHAN AKTIF JUGA MENGANDUNG BAHAN PEMBANTU SEPERTI PENGIKAT, PENGAHANCUR,
PELINCIR DLL.
• 3. TABLET SALUT : SEDIAAN TABLET YANG DIBUAT DENGAN CARA DIKEMPA, KEMUDIAN
DISALUT DENGAN GULA, PEWARNA, LEMAK, LILIN DAN ATAU PROTEIN. FUNGSI PENYALUTAN
UNTUK MELINDUNGI BAHAN AKTIF. TABLET DAPAT JUGA DISALUT DENGAN BAHAN FILM,
BIASANYA BERUPA POLIMER SEPERTI SELULOSAFTALAT ASETAT. TUJUANNYA YAITU :
• - MENGONTROL/MEMPERLAMBAT SENYAWA AKTIF ( SALUT ENTERIC, TABLET LEPAS TERKENDALI)
• -MEMEPERPANJANG WAKTU HIDUP SEDIAAN, PENYALUTAN DAPAT MELINDUNGI BAHAN AKTIF
DARI PENGARUH CAHAYA, KELEMBABAN DAN REAKSI KIMIA
CONT….
Kesehatan
Aman Makanan/minuman Kosmetik
Kualitas FHI Aman Aman
Efektif Persyaratan lebih ringan Persyaratan lebih ringan
Standardisasi Standar SNI Kondisi baik
Kondisi baik
FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM
PENGEMBANGAN OBAT BAHAN ALAM
▪ PENYEDIAAN BAHAN BAKU & PASCA PANEN
(DAPAT MEMPENGARUHI SENYAWA AKTIF DAN AKHIRNYA KHASIAT
Pelestarian dan
Penguatan ilmu Pengembanan perlindungan
pengetahuan Dan pemenfaatn sumber bahan
dan teknologi jamu baku
Peningkatan
Pembangunan pengetahuan
system informasi Penguatan tradisional
terpadu berbasis kelembagaan, masyarakat dan
big data regulasi dan kompetendi SDM
infra struktur
Pengembangan Obat Herbal
Regulasi Pelayanan
Penetapan standar Rumah sakit (tenaga kesehatan)
Praktek profesional Penelitian klinis
Herbal dipatenkan Terapi standar
Penjualan Berdasarkan pembuktian
Pengobatan komplementer
Pendidikan, penelitian
& pelatihan
Akademisi & Masyarakat Produk
Praktisi pengobat tradisional Pengembangan industri
Praktisi pengobat konvensional Diversifikasi produk
Perlindungan HaKI
TANTANGAN
Perkembangan pasar
Obat herbal Indonesia menjadi global
Kurangnya sistem pengobatan tradisional
Pendidikan penggunaan pengobatan untuk diri sendiri
Pelaksanaan uji klinis untuk meningkatkan kepercayaan
Pengembangan terintegrasi
(pertanian, ekstraksi, formulasi, pemasaran)
Pengembangan OHT dan Fitofarmaka
Penelitian holistik
Standardisasi produk
Memahami pasar dan teknologi internasional
KONDISI DI LAPANGAN
Ekspor produk herbal (jamu) masih sekitar Asean, sedikit masuk ke Eropa
Kerjasama investasi, promosi dan partisipasi dalam dan luar negri sangat
kurang
PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN OBAT HERBAL
Globalisasi :
Obat herbal dari luar (TCM)
Harmonisasi anggota Asean
Aliran produk antar negara
Peraturan pemerintah :
Klasifikasi
Saintifikasi jamu
Ekonomi domestik :
Daya beli menurun
PENGEMBANGAN DI INDONESIA ???
4. PENGEMBANGAN IPTEK
Saintifikasi
Agroindustri SDM Jamu
T O berkembang
Editor:
Dr. Henry Sudiyanto, MKes
ISBN. 978-602-51139-8-7
Penyunting:
Eka Diah Kartiningrum, SKM., MKes
Desain Sampul dan Tata Letak:
Widya Puspitasari, AMd
Penerbit:
STIKes Majapahit Mojokerto
Redaksi:
Jalan Raya Jabon Km 02 Mojoanyar Mojokerto
Telp. 0321 329915
Fax. 0321 329915
Email: mojokertostikesmajapahit@[Link]
Distibutor Tunggal:
STIKes Majapahit Mojokerto
Jalan Raya Jabon Km 02 Mojoanyar Mojokerto
Telp. 0321 329915
Fax. 0321 329915
Email: mojokertostikesmajapahit@[Link]
Cetakan pertama, November 2018
Hak Cipta Dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan
cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit
i
KATA PENGANTAR
Penulis
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB 4 KLASIFIKASI ................................................. 71
A Klasifikasi Terapi Komplementer ...................... 71
B Hubungan Antara Klasifikasi Dengan Terapi ... 72
v
BAB 1
TERAPI KOMPLEMENTER
A. DEFINISI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), terapi adalah usaha untuk memulihkan
kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan
penyakit, perawatan penyakit. Komplementer adalah
bersifat melengkapi, bersifat menyempurnakan.
Pengobatan komplementer dilakukan dengan tujuan
melengkapi pengobatan medis konvensional dan
bersifat rasional yang tidak bertentangan dengan
nilai dan hukum kesehatan di Indonesia. Standar
praktek pengobatan komplementer telah diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.
Terapi komplementer adalah sebuah kelompok
dari macam - macam sistem pengobatan dan
perawatan kesehatan, praktik dan produk yang
secara umum tidak menjadi bagian dari pengobatan
konvensional.
1
2
BAB 2
PERAN TENAGA KESEHATAN
BAB 3
JENIS-JENIS TERAPI
BAB 4
KLASIFIKASI
BAB 5
TEKNIK RELAKSASI PERSALINAN
A. PENGERTIAN PERSALINAN
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran
hasil konsepsi (janin dan uri), yang dapat hidup
kedunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau
dengan jalan lahir.
Persalinan dan kehamilan merupakan kejadian
fisiologis yang normal dalam kehidupan
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses
pengeluaran yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam
waktu 18-24jam, tanpa komplikasi baik pada ibu
maupun pada janin
Partus abnormal adalah bayi lahir melalui
vagina dengan bantuan tindakan atau alat seperti
versi atau ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi,
embriotomi dan sebagainya, atau lahir per abdominal
dengan sectio cesarea
75
BAB 6
DISTRAKSI
A. KONSEP DISTRAKSI
Tehnik distraksi adalah pengalihan dari fokus
perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain.
Tehnik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan
teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus
nyeri. jika seseorang menerima input sensori yang
berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls
nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak dirasakan
oleh klien). Peredaan nyeri secara umum
berhubungan langsung dengan partisipasi aktif
individu, banyaknya modalitas sensori yang
digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh
karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran dan
sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam
menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera
saja.
B. JENIS-JENIS DISTRAKSI
1. Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi,
membaca koran, melihat pemandangan dan gambar
termasuk distraksi visua
137
DAFTAR PUSTAKA
DI%20DESA%20KEDUNGWINONG%20SUKO
LILO%20PATI
Tjokroprawiro A., Setiawan P.B, Santoso D, Soegiarto
G.. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Airlangga University Press.
Utami. 2013. Tanaman Obat untuk Mengatasi Rematik
& Asam Urat. Jakarta: AgroMedia.
Widyatuti, W. 2008. Terapi Komplementer dalam
Keperawatan. Diakses dari :
[Link]
Wijayakusuma, H. 2008. Ramuan Lengkap Herbal
Tahlukkan Penyakit. Jakarta: Pustaka Bunda.
Widyatuti, W. 2008. Terapi Komplementer Dalam
Keperawatan. [Link]/[Link] / jki/
articledownload /200/pdf_65. Diakses tanggal 20
September 2018
140
GLOSARIUM
Association
Terhadap Nyeri
Hb : Hemoglobin
Imagery : Perumpamaan
Complementary/Alternative
Medicine
Associates
Obstruksi : Sumbatan
Passager : Janin
RIWAYAT PENULIS
1. Zulfa Rufaida
Lahir di Pasuruan pada tanggal 6 April 1985.
Pendidikan : MI Miftachul Khoir Purwosari , (1998).
SMP Negeri 2 Purwosari, (2001). SMA Negeri 1
Lawang (2004). D3 Kebidanan Poltekkes Majapahit
Mojokerto, (2007). S1 Pendidikan Bidan Universitas
Airlangga Surabaya, (2011), S2 Ilmu Kedokteran
Klinik dengan minat Kebidanan dan Maternal
Perinatal Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
(2015). Bekerja di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Majapahit Mojokerto sejak tahun 2008 sampai
sekarang. Penulis memiliki jabatan sebagai Asisten
Ahli. Penulis beralamatkan di Warugunung 02/05
Pacet - Mojokerto. Penulis memiliki suami bernama
Bapak Irvan Widodo, S. Kep. Ns dan memiliki dua
anak dengan nama Inas Rafida Anzani dan Isma
Inayah Mufidah. Penulis dapat dihubungi di 082 231
997 466.
144
Penerbit:
STIKes Majapahit Mojokerto
Jalan Raya Jabon KM 02 Mojoanyar Mojokerto
Telp. 0321 329915
Fax. 0321 329915
Email: mojokertostikesmajapahit@[Link]
POTENSI JAMU SAINTIFIK SEBAGAI
ALTERNATIF PENGOBATAN MODERN
PENGERTIAN PENGOBATAN DAN OBAT
TRADISIONAL
• SUPRANATURAL : Magic
• AGAMIS : Rukyah
• KETRAMPILAN FISIK : Pijat, tusuk jarum,
sengat lebah, kompres, sangkal putung,
bekam, kerokan
• OBAT TRADISIONAL/JAMU/HERBAL/OBAT
BAHAN ALAM
KRITERIA OBAT BAHAN ALAM
SK KEPALA BADAN POM RI No. HK.00.05.4.2411
JAMU /OT OBAT HERBAL FITOFARMAKA
EMPIRIS TERSTANDAR
• Pegagan, gagan-gagan,
kaki kuda, pacul goèng,
pani goèng, antanan
gede, kos-tekosan
• Di Sleman : Reketek,
rekètèk, regèdèk (bunyi
yang timbul saat dicabut
dari ujung di atas tanah
Centella asiatica (L.) Urb. • Apakah nama di Sleman
dapat dianggap sebagai
pengetahuan empiris?
BATASAN WAKTU DISEBUT EMPIRIS
• Phaleria macrocarpa
• Dipopulerkan sebagai
bahan obat tradisional
anti kanker
• Muncul dan populer di
,asyarakat hanya mulai
tahun 2000 an
• Demikian juga kulit
manggis
APAKAH PENGETAHUAN EMPIRIS HARUS
TERCATAT?
• Lontar
• Relief candi
• Tembang atau nyanyian
• Buku :
• Cabe puyang warisan Nenek Moyang, 1965, Sudarman
Mardisiswoyo dan Harsono Radjakmangunsudarso, Penerbit
Prapanca Jakarta
• Serat Primbon Racikan Jampi Jawi, 1960, Soeroyo
Tarusuwardjo, Kraton Mangkunegaran
• Tumbuhan Berguna Indonesia, 1927, Heyne K., Terjemahan
Badan Litbang Kehutanan, Jakarta 1987
• Kloppenburg, Obat Asli Indonesia, Daftar Obat Alam (ISFI/IAI
Jateng), Jampi Puro Pakualaman
APAKAH PENGETAHUAN EMPIRIS DAPAT
DISURVAI?
• RISTOJA 2016 : Riset Tanaman Obat dan Jamu
dari Badan Litbangkes : beberapa ramuan
disebutkan untuk anti kanker; sejak kapan
masyarakat kita kenal dengan penyakit
kanker?
• Survai ramuan dukun bayi di DIY dan Kedu
Selatan (2014) : Jamu walikan, Jamu sorogan,
Jamu anton-anton muda, anton-anton tua
REALITAS DI LAPANGAN
4.
Cont…
Tujuan
Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata
yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk
pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan
Jamu Saintifik
Hasil penelitian program Saintifikasi jamu berupa ramuan jamu yang
dinyatakan aman dan berkhasiat setara dengan obat standar
berdasarkan hasil uji klinik
Pengobatan komplementer alternatif
Pengobatan Komplementer-Alternatif
adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi
upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh
melalui Pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan, dan
efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan
biomedik, yangbelum diterima dalam kedokteran konvensional.
Tujuan pengaturan saintifikasi jamu
a. Memberikan landasan ilmiah (evidence based ) penggunaan jamu
secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan
Saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan
hanya dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang
telah mendapatkan izin atau sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Peran apt dalam Saintifikasi Jamu
Peran dan tanggung jawab apoteker dalam saintifikasi jamu meliputi
proses Pembuatan/ penyediaan simplisia dan penyimpanan, Pelayanan
Resep mencakup skrining Resep, Penyiapan obat, Peracikan,
pemberian Etiket, pemberian Kemasan Obat, Penyerahan Obat, dan
Informasi Obat, Konseling.
Orientasi:
Produk Fitofarmaka
Hasil Uji klinik Fase 1,2,3 Uji pra klinik & klinik
Aman, Khasiat, Manfaat
sesuai aturan BPOM
Studi klinik dalam saintifikasi jamu diperlukan untuk
Herba Meniran
Ramuan jamu
Asam urat
Rimpng
Temulawak
Herba
tempuyung Kayu Secang
Daun kumis
Rimpang kunyit
kucing
Herba meniran
Herba seledri
Rimpang
Temulawak
Rimpang
kunyit Daun
Jati Cina
Kolesterol
Herba
tinggi
Tempuyung
Herba
meniran
Daun jati
Herba
blanda
Teh hijau
Batu Saluran
Obesitas
kencing
Rimpang temulawak
Rimpang kunyit
Herba tempuyung
Rimpang alang alang
Daun kemuning
Daun kejibeling
Daun jati blanda
Daun kumis kucing
Akar kelembak
Herba meniran
Herba tempuyung
Wasir Radang sendi
Rimpang kunyit Rimpang temulawak
Rimpang temulawak Rimpang kunyit
Daun ungu Daun kumis kucing
Daun duduk Herba meniran
Daun iler Herba rumput bolong
Herba meniran Biji adas
Kencing manis Kebugaran
Simplisia Khasiat
Budidaya bahan baku berkualitas Uji di tempat pelayanan
Budidaya Kesehatan
Panen
Pasca panen Monitoring
Jamu
Saintifik
Kementerian Kesehatan
Menjadi pusat
Menyediakan BBOT Meningkatkan nilai
pembelajaran
simplisia atau ekstrak ekonomi tanaman obat
pengolahan pasca
yang berkualitas dan yang berpotensi
panen tanaman obat di
memenuhi standar dikembangkan didaerah
daerah
PT BT kerja sama dengan P4TO
3. Studi praklinik untuk membuktikan khasiat dan keamanan pada hewan coba.
4. Studi klinik guna mendapatkan bukti terkait manfaat & keamanan bagi pasien.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG
PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN
TRADISIONAL KOMPLEMENTER.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Pelayanan Kesehatan Tradisional adalah pengobatan
dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang
mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun
temurun secara empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku di masyarakat.
2. Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
adalah penerapan kesehatan tradisional yang
memanfaatkan ilmu biomedis dan biokultural dalam
penjelasannya serta manfaat dan keamanannya
terbukti secara ilmiah.
3. Tenaga Kesehatan Tradisional adalah setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan
tradisional serta memiliki pengetahuan dan/atau
keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
tradisional yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
tradisional.
6. Klien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi
masalah kesehatan pada Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer.
-3-
Pasal 2
Pengaturan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer bertujuan untuk:
a. menjamin terselenggaranya Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer yang aman, bermutu, dan
efektif;
b. memberikan acuan dalam penyelenggaraan Pelayanan
Kesehatan Tradisional Komplementer bagi Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, fasilitas
pelayanan kesehatan, dan Tenaga Kesehatan
Tradisional; dan
c. terlaksananya pembinaan dan pengawasan secara
berjenjang oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
dan lintas sektor terkait.
BAB II
PELAYANAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
(1) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
dilakukan oleh Tenaga Kesehatan Tradisional di
fasilitas pelayanan kesehatan tradisional.
-5-
Pasal 4
(1) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer harus
memenuhi Kriteria:
a. dapat dipertanggungjawabkan keamanan dan
manfaatnya mengikuti kaidah-kaidah ilmiah
bermutu dan digunakan secara rasional dan tidak
bertentangan dengan norma agama dan norma
yang berlaku di masyarakat;
b. tidak membahayakan kesehatan Klien;
c. memperhatikan kepentingan terbaik Klien; dan
d. memiliki potensi pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, penyembuhan,
pemulihan kesehatan, dan meningkatkan kualitas
hidup Klien secara fisik, mental, dan sosial.
(2) Tidak bertentangan dengan norma agama
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berupa
tidak memberikan pelayanan dalam bentuk
mistik/klenik, dan/atau menggunakan pertolongan
makhluk gaib.
(3) Tidak bertentangan dengan norma yang berlaku di
masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a berupa tidak melanggar nilai-nilai kesusilaan,
kesopanan, hukum, dan budaya.
Pasal 5
(1) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
mempunyai ciri khas:
a. konsep Pelayanan Kesehatan Tradisional;
b. berbasis budaya;
-6-
Bagian Kedua
Cara Pengobatan/Perawatan
Pasal 6
(1) Berdasarkan cara Pengobatan/Perawatan, Pelayanan
Kesehatan Tradisional Komplementer dilakukan
dengan menggunakan:
a. keterampilan;
b. ramuan; atau
c. kombinasi dengan memadukan antara
keterampilan dan ramuan.
(2) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer yang
menggunakan cara keterampilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diklasifikasi
menjadi:
a. teknik manual;
b. terapi energi; dan
c. terapi olah pikir.
-8-
Pasal 7
(1) Teknik manual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (2) huruf a merupakan teknik
perawatan/pengobatan yang berdasarkan manipulasi
dan gerakan dari satu atau beberapa bagian tubuh.
(2) Terapi energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (2) huruf b merupakan teknik
perawatan/pengobatan dengan menggunakan medan
energi baik dari luar maupun dari dalam tubuh itu
sendiri.
(3) Terapi olah pikir sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6 ayat (2) huruf c merupakan teknik
perawatan/pengobatan yang bertujuan memanfaatkan
kemampuan pikiran untuk memperbaiki fungsi tubuh.
Bagian Ketiga
Tenaga Kesehatan Tradisional
Pasal 8
(2) Berdasarkan kualifikasi pendidikannya, Tenaga
Kesehatan Tradisional terdiri atas:
a. Tenaga Kesehatan Tradisional profesi; dan
b. Tenaga Kesehatan Tradisional vokasi.
-9-
Pasal 9
(1) Tenaga Kesehatan Tradisional dalam memberikan
pelayanan kesehatan tradisional:
a. memilah dan mengevaluasi kondisi Klien dalam
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
yang dapat dilakukan oleh Tenaga Kesehatan
Tradisional atau masalah kesehatan tradisional
lain yang harus dirujuk;
b. hanya menggunakan Obat Tradisional yang
mempunyai izin edar atau Obat Tradisional
racikan sendiri, dan tidak memberikan dan/atau
menggunakan bahan kimia obat, termasuk obat
bebas, obat bebas terbatas, obat keras, narkotika,
dan psikotropika, dan bahan berbahaya;
c. tidak melakukan tindakan dengan menggunakan
radiasi;
d. tidak melakukan tindakan invasif dan
menggunakan alat kedokteran kecuali sesuai
dengan kompetensi dan kewenangannya; dan
e. tidak menjual dan/atau mengedarkan Obat
Tradisional racikan sendiri tanpa izin sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
-10-
Pasal 10
(1) Tenaga Kesehatan Tradisional warga negara asing
dapat didayagunakan dalam Pelayanan Kesehatan
Trandisional Komplementer dalam rangka alih ilmu
pengetahuan dan teknologi.
(2) Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Tradisional warga
negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan atas permintaan institusi pendidikan
kesehatan tradisional dan Griya Sehat yang
dipergunakan sebagai wahana pendidikan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB III
FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 11
(1) Tempat penyelenggaraan pelayanan kesehatan
tradisional oleh Tenaga Kesehatan Tradisional meliputi
praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional dan
fasilitas pelayanan kesehatan tradisional.
(2) Fasilitas pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan Griya Sehat.
-11-
Pasal 12
(1) Praktik mandiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11 ayat (1) merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
yang digunakan secara perseorangan oleh Tenaga
Kesehatan Tradisional profesi atau Tenaga Kesehatan
Tradisional vokasi.
(2) Tenaga Kesehatan Tradisional vokasi dalam
menyelenggarakan praktik mandiri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan
lingkup terbatas sesuai dengan kompetensinya.
(3) Lingkup terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berupa:
a. pelayanan kesehatan tradisional ramuan, atau 1
(satu) jenis metode dari teknik ketrampilan
tertentu; dan
b. melanjutkan terapi yang dilakukan oleh Tenaga
Kesehatan Tradisional profesi.
(4) Dalam hal rujukan dari Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi meragukan, Tenaga Kesehatan Tradisional
vokasi yang menyelenggarakan praktik mandiri
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
berkonsultasi dengan Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi untuk melakukan konfirmasi
pengobatan/perawatan.
Pasal 13
(1) Griya Sehat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
ayat (2) merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
tradisional yang digunakan oleh paling sedikit:
a. 2 (dua) orang Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi; atau
b. 1 (satu) orang Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi dan 1 (satu) orang Tenaga Kesehatan
Tradisional vokasi.
-12-
Pasal 14
(1) Griya Sehat menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan yang bersifat pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, penyembuhan, dan
pemulihan kesehatan.
(2) Selain menyelenggarakan pelayanan perorangan
bersifat pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan,
penyembuhan, dan pemulihan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Griya Sehat
dapat melakukan pelayanan kesehatan perorangan
yang bersifat peningkatan kualitas hidup.
(3) Pelayanan perorangan yang bersifat peningkatan
kualitas hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
ditujukan untuk penyeimbangan kondisi fisik, mental,
spiritual, sosial dan budaya berdasarkan pohon
keilmuan kesehatan tradisional.
(4) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk rawat jalan.
(5) Griya Sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat melakukan Beberapa cara perawatan/
pengobatan kesehatan tradisional.
Pasal 15
(1) Griya Sehat dapat dimiliki oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, atau masyarakat.
-13-
Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan dan
klasifikasi Griya Sehat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
13 sampai dengan Pasal 15 diatur dalam Peraturan
Menteri.
Bagian Kedua
Persyaratan
Pasal 17
(1) Praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional
maupun Griya Sehat harus memenuhi persyaratan
lokasi, bangunan dan ruangan, prasarana, peralatan,
dan ketenagaan.
(2) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), untuk Griya Sehat harus memenuhi persyaratan
pengorganisasian.
Pasal 18
Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 19
(1) Persyaratan bangunan dan ruangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) meliputi:
a. bersifat permanen dan tidak bergabung fisik
dengan tempat tinggal atau unit kerja lainnya;
-14-
Pasal 20
(1) Prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) terdiri atas:
a. instalasi air;
b. instalasi listrik;
c. instalasi sirkulasi udara;
d. sarana pengelolaan limbah, untuk fasilitas
pelayanan kesehatan tradisional yang
menghasilkan limbah medis;
e. alat pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
dan
f. prasarana lainnya sesuai kebutuhan.
(2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik.
Pasal 21
(1) Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (1) meliputi:
a. memenuhi standar mutu, keamanan, dan
keselamatan;
-16-
Pasal 22
(1) Ketenagaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (1) meliputi
a. Tenaga Kesehatan Tradisional; dan/atau
b. tenaga nonkesehatan.
(2) Tenaga Kesehatan Tradisional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a harus memiliki STRTKT dan
SIPTKT sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
-17-
Pasal 23
(1) Pengorganisasian Griya Sehat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17 ayat (2) paling sedikit memiliki
struktur organisasi terdiri atas:
a. pimpinan Griya Sehat;
b. penanggung jawab Pelayanan Kesehatan
Tradisional; dan
c. penanggung jawab tata usaha.
(2) Pimpinan Griya Sehat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a merupakan seorang Tenaga Kesehatan
Tradisional yang juga merupakan penanggungjawab
atas seluruh kegiatan di griya sehat.
(3) Dalam hal belum tersedia Tenaga Kesehatan
Tradisional, pimpinan Griya Sehat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dapat digantikan oleh dokter
yang memiliki kewenangan tambahan di bidang
kesehatan tradisional komplementer yang diakui oleh
pemerintah.
Bagian Ketiga
Perizinan
Pasal 24
(1) Setiap Griya Sehat harus memiliki izin
penyelenggaraan.
-18-
Pasal 25
(1) Praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional tidak
memerlukan izin penyelenggaraan.
(2) Izin penyelenggaraan praktik mandiri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) melekat pada SIPTKT yang
dikeluarkan oleh Instansi Pemberi Izin.
Pasal 26
(1) Untuk mendapatkan izin penyelenggaraan Griya Sehat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1),
penyelenggara Griya Sehat harus mengajukan
permohonan kepada Instansi Pemberi Izin dengan
melampirkan:
a. fotokopi identitas lengkap pemohon;
b. fotokopi denah ruang pelayanan dan peta lokasi;
c. fotokopi akta badan hukum;
d. struktur organisasi dan ketenagaan;
e. surat pernyataan kesediaan sebagai penanggung
jawab; dan
f. surat rekomendasi Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
(2) Dalam hal izin penyelenggaraan Griya Sehat diberikan
oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, surat
rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf f tidak diperlukan.
(3) Contoh surat permohonan izin penyelenggaraan dan
surat izin penyelenggaraan Griya Sehat tercantum
dalam Formulir 1 dan Formulir 2 terlampir.
-19-
Pasal 27
(1) Instansi Pemberi Izin harus mengeluarkan keputusan
atas permohonan izin penyelenggaraan, paling lama 1
(satu) bulan sejak diterima permohonan izin.
(2) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa penerbitan izin, penolakan izin, atau
pemberitahuan untuk kelengkapan berkas.
Pasal 28
(1) Dalam hal berkas yang diajukan pemohon belum
lengkap, pemberitahuan untuk kelengkapan berkas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) harus
disampaikan Instansi Pemberi Izin kepada
penyelenggara Griya Sehat dalam waktu paling lama 1
(satu) bulan sejak diterima berkas.
(2) Penyelenggara griya sehat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dalam jangka waktu 60 (enam puluh)
hari sejak pemberitahuan disampaikan, harus segera
melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi.
(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) penyelenggara Griya Sehat tidak dapat
memenuhi persyaratan, Instansi Pemberi Izin
mengeluarkan surat penolakan atas permohonan izin
penyelenggaraan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari.
Pasal 29
(1) Perpanjangan izin penyelenggaraan Griya Sehat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) harus
diajukan pemohon paling lama 3 (tiga) bulan sebelum
habis masa berlaku izin penyelenggaraan.
(2) Dalam waktu 1 (satu) bulan sejak permohonan
perpanjangan izin sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diterima, Institusi Pemberi Izin harus memberi
keputusan berupa penerbitan izin atau penolakan izin.
-20-
Pasal 30
(1) Perubahan izin penyelenggaraan harus dilakukan
apabila terjadi:
a. perubahan nama;
b. perubahan jenis badan hukum; dan/atau
c. perubahan alamat dan tempat.
(2) Perubahan izin penyelenggaraan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dilakukan
dengan mengajukan permohonan izin penyelenggaraan
serta harus melampirkan:
a. surat pernyataan penggantian nama dan/atau
jenis badan hukum yang ditandatangani oleh
pemilik;
b. perubahan akta notaris; dan
c. izin penyelenggaraan yang asli, sebelum
perubahan.
(3) Perubahan izin penyelenggaraan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan dengan
mengajukan permohonan izin penyelenggaraan, serta
harus melampirkan:
a. surat pernyataan penggantian alamat dan tempat
Griya Sehat yang ditandatangani oleh pemilik;
dan
b. izin penyelenggaraan yang asli, sebelum
perubahan.
(4) Dalam hal terdapat perubahan pimpinan/
penanggungjawab pelayanan, Giya Sehat harus
melaporkan kepada Institusi Pemberi Izin.
-21-
Bagian Keempat
Papan Nama
Pasal 31
(1) Praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional atau
Griya Sehat harus memasang papan nama.
(2) Papan nama untuk praktik mandiri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dibuat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Papan nama untuk Griya Sehat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memuat:
a. tulisan “Griya Sehat”;
b. nama Griya Sehat;
c. klasifikasi Griya Sehat; dan
d. nomor surat izin penyelenggaraan Griya Sehat.
(4) Papan nama sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
harus memenuhi persyaratan:
a. berukuran panjang 90 cm x lebar 60 cm;
b. posisi horizontal;
c. warna dasar putih;
d. warna tulisan hijau muda shine 60 yellow 100;
e. ditulis dengan huruf latin; dan
f. menggunakan bahasa Indonesia.
(5) Selain memasang papan nama sebagaimana dimaksud
pada ayat (3), Griya Sehat wajib memasang papan
daftar nama Tenaga Kesehatan Tradisional yang
memberikan Pelayanan Kesehatan Tradisional di Griya
Sehat yang bersangkutan.
Bagian Kelima
Hak dan Kewajiban Griya Sehat
Pasal 32
Setiap Griya Sehat memiliki kewajiban:
a. memberikan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer;
b. memasang papan nama;
-22-
Pasal 33
Setiap Griya Sehat memiliki hak:
a. menerima imbalan biaya;
b. melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam
mengembangkan pelayanan;
c. mendapatkan perlindungan hukum dalam
melaksanakan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer; dan
d. memasang iklan dan publikasi pelayanan kesehatan
yang ada di Griya Sehat sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB IV
ALAT DAN OBAT KESEHATAN TRADISIONAL
Pasal 34
(1) Setiap Tenaga Kesehatan Tradisional hanya boleh
menggunakan Alat Kesehatan Tradisional sesuai
dengan metode, kompetensi, dan kewenangannya.
(2) Alat Kesehatan Tradisional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) merupakan alat yang digunakan dalam
Pelayanan Kesehatan Tradisional sesuai bidang
keilmuannya.
(3) Alat kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan mutu,
keamanan, dan/atau khasiat/kemanfaatan.
-23-
Pasal 35
(1) Setiap Obat Tradisional yang digunakan pada
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer harus
aman, bermutu, dan bermanfaat.
(2) Obat Tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berupa Obat Tradisional yang memiliki izin edar,
disaintifikasi, dan/ atau Obat Tradisional lain yang
ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 36
Obat Tradisional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35
harus memenuhi persyaratan, meliputi:
a. memiliki data keamanan;
b. memiliki data manfaat bersumber dari literatur yang
dapat dipertanggungjawabkan;
c. memenuhi persyaratan mutu sesuai farmakope herbal
Indonesia atau farmakope lain yang diakui;
d. sediaan berbentuk simplisia atau sediaan jadi Obat
Tradisional;
e. bahan baku terutama berasal dari Indonesia;
f. diproduksi oleh industri/usaha Obat Tradisional yang
sudah berizin serta memiliki nomor izin edar; dan
g. Obat Tradisional racikan sendiri dengan bahan baku
yang bersumber dari industri yang telah melaksanakan
cara pembuatan Obat Tradisional yang baik.
BAB V
RUJUKAN
Pasal 37
(1) Setiap Tenaga Kesehatan Tradisional dalam
menyelenggarakan upaya Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer harus melaksanakan sistem
rujukan.
-24-
Pasal 38
Setiap rujukan yang dilakukan oleh Tenaga Kesehatan
Tradisional harus mendapatkan persetujuan dari Klien
atau keluarga Klien.
Pasal 39
(1) Rujukan dapat dilakukan antar Griya Sehat, dari
Griya Sehat ke fasilitas pelayanan kesehatan
konvensional, atau dari fasilitas pelayanan kesehatan
konvensional ke Griya Sehat.
(2) Rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dilakukan berdasarkan prinsip:
a. Tenaga Kesehatan Tradisional harus merujuk
kliennya kepada fasilitas pelayanan kesehatan
konvensional bila Klien tersebut mengalami
kegawatdaruratan atau penyakit yang bila
terlambat diobati secara medis akan
memperburuk kondisi dan membahayakan
jiwanya;
b. Tenaga Kesehatan Tradisional hanya menangani
kondisi tersebut sebatas sebagai tindakan
komplementer terhadap pengobatan medis;
c. atas persetujuan Klien, tenaga medis dapat
merujuk Klien kepada Tenaga Kesehatan
Tradisional bila akan menggunakan Pelayanan
Kesehatan Tradisional sebagai komplementer
terhadap pengobatan medis yang diberikan; dan
d. dalam menangani Klien yang dirujuk dari Griya
Sehat, dokter penerima rujukan dapat
berkomunikasi dengan Tenaga Kesehatan
Tradisional perujuk berdasarkan kepentingan
Klien.
-25-
BAB VI
PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pasal 40
(1) Setiap Tenaga Kesehatan Tradisional yang
menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer wajib melaksanakan pencatatan dan
pelaporan.
(2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus didokumentasikan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan secara berkala kepada dinas kesehatan
daerah kabupaten/kota untuk selanjutnya dilaporkan
secara berjenjang kepada dinas kesehatan daerah
provinsi, dan Kementerian Kesehatan.
Pasal 41
(1) Pencatatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40
ayat (1) terdiri atas catatan Klien dan catatan sarana.
(2) Catatan Klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa rekam medik.
(3) Catatan Klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit meliputi:
a. identitas;
b. kunjungan baru dan kunjungan lama;
c. masalah kesehatan;
d. tindakan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer/jenis terapi; dan
e. keterangan termasuk nasihat atau anjuran.
(4) Catatan sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. catatan Klien;
b. buku catatan/register Klien; dan
c. formulir pelaporan dan data.
-26-
Pasal 42
(1) Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat
(2) paling sedikit memuat:
a. Jumlah, jenis kelamin, dan kelompok umur Klien;
b. jenis masalah kesehatan; dan
c. modalitas terapi.
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara berkala paling sedikit 3 (tiga) bulan
sekali.
(3) Contoh formulir pelaporan dan data Klien tercantum
dalam Formulir 4 dan Formulir 5 terlampir yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 43
(1) Menteri, kepala dinas kesehatan daerah provinsi, dan
kepala dinas kesehatan daerah kabupaten/kota
melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan dalam rangka:
a. mewujudkan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer yang aman dan tidak bertentangan
dengan norma yang berlaku;
b. memenuhi kebutuhan masyarakat akan
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
yang memenuhi persyaratan keamanan dan
kemanfaatan; dan
-27-
Pasal 44
(1) Dalam melakukan pengawasan, Menteri, kepala dinas
kesehatan daerah provinsi, dan kepala dinas
kesehatan daerah kabupaten/kota dapat mengangkat
Tenaga Pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
-28-
Pasal 45
(1) Pengawasan terhadap penggunaan Obat Tradisional
pada penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer dilaksanakan oleh badan
yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang
pengawasan obat dan makanan.
(2) Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) badan yang menyelenggarakan
tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan
makanan dapat melibatkan instansi dan Organisasi
Profesi atau asosiasi terkait.
Pasal 46
(1) Menteri, gubernur, kepala dinas kesehatan daerah
provinsi, Bupati/Walikota, kepala dinas kesehatan
daerah kabupaten/kota, dan kepala badan yang
menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang
pengawasan obat dan makanan dapat menjatuhkan
sanksi administratif terhadap Griya Sehat dan/atau
Tenaga Kesehatan Tradisional yang melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan Peraturan Menteri ini
sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. rekomendasi pencabutan STRTKT dan SIPTKT;
atau
d. pencabutan STRTKT dan SIPTKT; dan
e. pencabutan izin penyelenggaraan.
-29-
BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 47
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
a. Pembinaan profesi dilakukan oleh Menteri sampai
dengan terbentuknya Organisasi Profesi terkait; dan
b. Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer dapat
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain selain Tenaga
Kesehatan Tradisional sesuai dengan kompetensi dan
kewenangan konvensionalnya untuk jangka waktu 5
(lima) tahun setelah Peraturan Menteri Kesehatan ini
diundangkan.
Pasal 48
Griya Sehat yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer sebelum peraturan Menteri ini
ditetapkan, harus menyesuaikan dengan ketentuan
peraturan Menteri ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak
peraturan Menteri ini ditetapkan.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 49
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
-30-
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 2018
MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 23 Juli 2018
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
WIDODO EKATJAHJANA
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 15 TAHUN 2018
TENTANG
PENYELENGGARAAN PELAYANAN
KESEHATAN TRADISIONAL
KOMPLEMENTER
Formulir 1
Contoh surat permohonan izin penyelenggaraan Griya Sehat
Nomor :
Lampiran :
Perihal : Permohonan Izin Penyelenggaraan
Griya Sehat
Kepada Yth.
Bupati Kabupaten/Kota ...
cq. Kepala Dinas Kesehatan/Unit
Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten/Kota...
Di
...................
1. Penanggungjawab Pelayanan
Nama :
Alamat lengkap :
Nomor SIPTKT :
Nomor Kartu Tanda Penduduk :
Alamat dan Nomor Telepon/Hp :
NPWP :
2. Griya Sehat
Nama :
Alamat lengkap :
Nomor Telepon/Hp/Fax :
Email :
...............,................20..
Pemohon
(..............................)
Keterangan :
*coret yang tidak perlu
-33-
Formulir 2
KOP DINAS
......................,..............20..
Pas foto Kepala Dinas Kesehatan/Unit
4x6
Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten/Kota
( )
Tembusan :
Keterangan :
*coret yang tidak perlu
-34-
Formulir 3
PENCATATAN
Formulir 4
LAPORAN KUNJUNGAN
Alamat : ............................
NO
1 LAKI-LAKI
2 PEREMPUAN
TOTAL
Formulir 5
(SEBUTKAN)
1.
TOTAL
...................., 20..........
Penanggungjawab Griya Sehat
(..............................................)
MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
Interaksi
farmakokinetik
maupun
farmakodinamik
1. Sumber ketidakamanan berasal dari
tanaman itu sendiri
Symphytum officinale L
- Ketela pohon ( Manihot utilisima )
mengandung senyawa glikosida sianogen yang
dapat menyebabkan keracunan (gas HCN)
- Tanaman keluarga Leguminosae seperti :
Orok-orok (Crotalaria sp), komprey
(Symphytum officinale L.) mengandung
alkaloid pirolizidin yang dapat menyebabkan
hepatotoksik Crotalaria sp
2. Sumber Ketidakamanan berasal dari luar
Bahan
kimia
:Pestisida
Kontamina
Logam si saat
berat distribusi/
produksi
Jamur/
bakteri
3. Ketidakamanan karena Interaksi
farmakokinetik
- Obat herbal mempengaruhi absorpsi, distribusi metabolism dan ekskresi
obat
- Contoh obat yang mempengaruhi absorbsi obat :
- Obat yang berefek laksatif untuk penurun berat badan akan
mempengaruhi waktu transit sehingga akan menurunkan absorpsi obat.
- Hypericum perforatum (St. John’s Worth) akan menginduksi p-glikoprotein,
akan menurunkan absorpsi obat substrat P-glikoprotein seperti digoksin.
- H. perforatum merupakan penginduksi kuat isoenzim CYP3A4 sehingga jika Hypericum perforatum
diberikan bersamaan dengan substratnya seperti indinavir akan
menurunkan waktu paruh 9 (t 1/2), sebaliknya tanaman obat yang
menghambat isoenzim CYP, maka akan mengakibatkan peningkatan dan
kemungkinan toksisitas substrat CYP1A2 dan CYP2C9
4. Ketidakamanan karena Interaksi
farmakodinamik
- Terjadi pada obat yang bekerja mirip/sama dengan obat herbal
- Misalnya pemberian obat yang memiliki aktifitas antiplatelet dengan antikoagulan → resiko
perdarahan
- Penggunaan bersamaan efedrin dengan obat herbal yang kaya akan kofein -→ efedrin
merangsang sistem saraf demikian juga dengan kofein
Kofein
Frohne (1990) mengelompokkan obat herbal
berdasarkan resiko potensial dan efek yang tidak
diinginkan
1. Obat herbal yang sangat potensial memiliki efek yang tidak diinginkan cukup tinggi.
Kebanyakan kelompok ini sekarang digunakan dalam bentuk isolat
2. Obat herbal yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan jika digunakan
melebihi dosis yang sudah ditentukan.
3. Obat herbal yang belum dibuktikan kebenarannya, tetapi memiliki efek yang tidak
diinginkan yang potensial.
4. Obat herbal yang berpotensi memiliki efek yang tidak diinginkan yang cukup
berbahaya, dan ini tidak dibenarkan sebagai zat tambahan
Alkaloid pirolizidin juga diteltiti tentang efek mutagenesis dan karsinogenesis seperti pada
tanaman Symphytum, tussilago dan Petasitis sehingga pengunaannya dibatasi hanya pada
penyakit tertentu dan pada dosis tertentu.
- Beberapa Symphytum digunakan untuk terapi homeophaty pada patah tulang
tussilago
Gangguan kesehatan yang timbul karena
tanaman beracun
1. Ganguan pada reaksi kulit ( reaksi alergi)
Spora beberapa jenis jamur, ganggang tanah dan serbuk sari dari beberapa jenis bunga
Trauma pada kulit karena perlindungan tanaman seperti : duri, bulu dan rambut tanaman
Contoh tanaman : daun lateng mempunyai rambut kasar ( laportea sp), duri ujung daun pandan
bali ( Agave Americana), bulu halus pada batang bamboo ( Bambusa sp)
( Dieffenbachia sp)
Alocasia sp Caladium sp
Amaryllis multiflora
Blighia sapida
- Efek konvulsi atau kejang juga kadang ditimbulkan
oleh beberapa tanaman yang mengandung
senyawa : citutoxin, tujone, calichantine dan
calichantidine. Yan g kadang masih digunakan
sebagai obat yaitu citutoxin sebagai obat cacing.
- Efek halusinasi umunya ditimbulkan oleh
tanaman yang mengandung : heroin,
hydromorphine, hydrochloride dan morphine.
Contoh tanamannya diantaranya : ganja ( Canabis
sativa), candu ( Papaver somniferum) dan morning Ipomoea violacea
glory ( Ipomoea violacea).
4. Gangguan fungsi hati
- Untungnya jarang ditemukan kerusakan hati yang disebabkan oleh
tanaman
- Umumnya kerusakan hati disebabakan oleh tanaman yang tercemar
racun contoh Aspergillus flavus.
- Beberapa senyawa yang dapat menyebabkan kerusakan hati Heliotropium indicum
diantaranya : hypoglocine A, β-metilen-klorofil-L-α-amino-propionic
acid dan hipoglocine B.
- gejala yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi tanaman ini adalah
muntah hebat dan setelah 8-10 jam kemudian terjadi muntah heabt
kedua yang kemudian diikuti dengan kejang dan akhirnya koma.
- Contoh tanaman yang menyebabkan gangguan fungsi hati
diantaranya : pecutan (Heliotropium indicum), Sikas ( Cycas revulota),
dan Ake (Blighia sapida)
Cycas revulota
Kompleksitas Obat Herbal
➢ Beberapa senyawa tumbuhan umumnya merupakan zat tidak aktif
(selulosa, lignin, dll) tetapi ada juga zat aktif farmakologis seperti zat
pahit ataupun zat aromatik yang merangsang lambung dan sekresi
usus yang berpengaruh pada penyerapan.
➢Tanin dan saponin senyawa yang sangat umum seperti halnya
dengan garam asam organik → dapat memfasilitasi penyerapan
usus melalui efek motilitas usus atau sekresi empedu.
➢mucilago (lendir) dan zat peptik, vitamin juga dapat memodifikasi
fungsi selaput lendir usus sehingga mempengaruhi proses
penyerapan/absorbsi.
Kebenaran bagian tanaman yang
digunakan dalam pengobatan
➢Keamanan obat-obatan herbal tergantung
pada kebenaran bagian tanaman/simplisia
yang digunakan.
➢Bagian tanaman yang berbeda mungkin
mengandung zat aktif yang berbeda sehingga
memberikan aktivitas farmakologi yang beda.
➢Contoh : Akar Urtica dioica mengandung
isomer steroid dan berguna melawan
ganguan BPH ( Benigna Prostatic
Hyperplasia). Tapi daunnya digunakan
sebagai diuretik.
Cont…
Bagian tanaman yang berbeda bisa memiliki aktivitas biologis yang berbeda jadi gunakan untuk
gangguan kesehatan yang berbeda.
Bubur merah dari buah Rosehip (Rosa canina, mawar liar) digunakan dalam gangguan flu
Tapi bubuk bijinya ( berwarna kuning) digunakan untuk pembuatan kapsul untuk radang sendi.
Interaksi bahan alam dengan obat kimia
Ginkgo biloba
Ginkgo biloba digunakan untuk Indikasi
: pengobatan simptomatik untuk
penyakit otak organik; kesulitan
konsentrasi, vertigo, tinnitus, gangguan
memori.
Interaksi: Antikoagulan, Aspirin,
Warfarin, Kafein dan Ergotamin
Biasa digunakan sebagai pengencer
darah Sebelum operasi
[Link]'s wort-Hypericum perforatum
[Link]'s wort-Hypericum perforatum,
Sebagai herbal antidepresan
Interaksi: 1. Indinavir 2. Digoksin 3.
Siklosporin, penolakan organ 4. Obat
antidepresan 5. Amina simpatomimetik 6.
Pseudoephedrine 7. Yohimbine 8-Obat
penurun kolesterol (simvastatin, dll)
[Link]'s wort-Hypericum perforatum,
Overdosis akan meningkatkan kepekaan
terhadap sinar matahari (hiperisismus)
Ginseng (Ginseng Korea, Panax ginseng)
Ginseng (Ginseng Korea, Panax ginseng) diperoleh dari akar Panax ginseng
(Fam. Araliaceae), digunakan untuk mengurangi kerentanan terhadap
penyakit, meningkatkan kesehatan dan umur panjang, mengembalikan
fungsi seksual pria dan membantu pemulihan.
Ginsenosides dapat menghambat agregasi platelet secara in vitro. Namun,
studi klinis secara konsisten menunjukkan bahwa ekstrak ginseng tidak
memiliki efek signifikan pada fungsi trombosit pada manusia dan tidak
mengubah farmakokinetik atau farmakodinamik warfarin.
Tetapi, penurunan efek antikoagulan telah dilaporkan pada pasien yang
menggunakan ginseng dan warfarin.
Laporan kasus menunjukkan interaksi yang berpotensi serius ketika ginseng
digunakan dengan phenelzine (antidepresan) dan obat antikanker imatinib.
Hasil klinis secara konsisten menunjukkan bahwa ginseng tidak
mempengaruhi enzim CYP meskipun sedikit penghambatan CYP2D6.
Lidah buaya
Lidah buaya (Fam. Liliaceae) digunakan di negara-negara barat sebagai
pencahar (A. vera, yang mengandung antrakuinon) dan untuk kondisi
dermatologis (gel A. vera, yang terutama mengandung lendir).
Dalam pengobatan tradisional Cina, A. vera terutama digunakan untuk
kondisi peradangan, diabetes dan hiperlipidemia.
Telah dilaporkan terjadinya pendarahan selama operasi sebagai akibat
dari kemungkinan interaksi antara A. vera dan anestesi sevofluran. Hal
ini diduga karena Efek aditif pada fungsi trombosit, tetapi tidak
terbukti bahwa keduanya sevofluran dan A. vera dapat meningkatkan
penghambatan agregasi trombosit.
Chamomile
Chamomile, terdiri dari kepala bunga segar atau kering dari Matricaria
recutita (Fam. Asteraceae), digunakan baik secara eksternal (untuk
radang kulit dan selaput lendir) dan secara internal (untuk pengobatan
kejang gastrointestinal dan penyakit inflamasi pada saluran pencernaan).
Chamomile mengandung kumarin. Senyawa kumarin dapat memberikan
efek antikoagulan.
Kasus hematoma retroperitoneal dilaporkan pada pasien yang menjalani
terapi warfarin. Diyakini, tetapi tidak terbukti, bahwa konstituen kumarin
dari chamomile mungkin telah bekerja secara sinergis atau aditif dengan
warfarin, menghasilkan over antikoagulasi.
Echinacea
Echinacea tidak menimbulkan risiko serius untuk
interaksi obat pada manusia.
Tidak ada laporan kasus yang dapat diverifikasi
dari interaksi obat dengan produk echinacea apa
pun hingga saat ini
Beberapa penelitian telah menemukan bahwa
echinacea mempengaruhi farmakokinetik kafein
(CYP1A2 probe) dan midazolam (CYP3A4 probe);
namun, ini belum dikonfirmasi oleh uji klinis
lainnya.
Bawang putih
Interaksi bawang putih yang paling banyak
dipelajari dengan obat konvensional termasuk
interaksi dengan antikoagulan warfarin ataupun
obat antiretrovi yang belum dikonfirmasi oleh
uji klinis terkontrol
Interaksi lain yang tidak relevan dan/atau
kurang terdokumentasi termasuk perubahan
farmakokinetik parasetamol dan hipoglikemia
bila dikombinasikan dengan obat antidiabetes
klorpropamid
Black cohosh
Black cohosh (rimpang dan akar Cimicifuga racemosa, Fam.
Ranunculaceae), sebagian besar digunakan untuk mengobati
gejala menopause, telah dikaitkan dengan hepatotoksisitas,
dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Pengaruh ekstrak black cohosh pada aktivitas enzim CYP
manusia serta P-glikoprotein telah dievaluasi dalam sejumlah
uji klinis menggunakan obat yang berbeda, termasuk kafein,
midazolam, chlorzoxazone, debrisoquin dan digoksin. Hasilnya
menunjukkan bahwa black cohosh tidak mungkin
mempengaruhi farmakokinetik obat konvensional yang
dimetabolisme oleh CYP1A2, CYP3A4, CYP2E1 dan CYP2D6
atau yang merupakan substrat P-glikoprotein.
Penelitian menggunakan tujuh merek produk komersial black
cohosh yang berbeda ditemukan tidak mempengaruhi CYP
manusia pada pengujian secara in vitro pada mikrosomal hati
Contoh Inetraksi Obat Herbal dengan Obat Konvensional
Nama Obat Herbal Indikasi Medis Golongan obat konvensional yg berpotensi interaksi
Cabe (Capsicum) Menghambat kontraksi Antidepresan jenis IMAO (eutonyl, marplan, nardil,
otot-otot rahim parnate) : kombinasi obat ini dengan cabe atau makanan
lain yang mengandung tiramin dapat menaikkan tekanan
darah dengan nyata, akibatnya sakit kepala berat, demam,
gangguan penglihatan, bingung yang mungkin diikuti oleh
pendarahan otak.
Seledri Diuretik, antihipertensi Hidrochlorothiazide (HCT) danfurosemide : penggunaan
(Apium graveolens bersama-sama dapat mengakibatkan turunnya cairan
Linn, Apiaceae) tubuh dan kadar ion tubuh sehinggamenurunkan
keseimbangan.
Jeruk nipis Sumber vitamin C, KB (mycroginon dan pil-pil KBlainnya) : terjadi pengikatan
batuk, [Link] kembali komponen hormon dari pil KB pada saat konsumsi
jeruk nipis (vitamin C) dihentikan, akibatnya resiko hamil
dapat meningkat. Pendarahan merupakan tanda terjadinya
interaksi.
Cont…
Nama Obat Herbal Indikasi Medis Golongan obat konvensional yg berpotensi interaksi
Daun senna Diuretik Thiazid, adrenokortikosteroid atau Liquiritiae Radix : dapat
(Cassia angustifolia memacu timbulnya ketidak seimbangan elektrolit.
Vahl.)
Biji kopi Stimulansia Barbital : efek sedatif dari barbital akan berkurang karena
terjadi efek penetralan.
Temulawak (Curcuma Penambah nafsu makan Parasetamol : dapat memicu terjadinya kerusakan hati
xanthorrhiza Roxb.) (hepatotoksisitas).
Bayam Sumber zat besi Tetrasiklin : menurunkan efek dari tetrasiklin karena
terbentuknya kompleks khelat sehingga absorbsinya
menurun
Kava-kava Antikonvulsan Barbital dan obat-obat lain yang bekerja pada sistem saraf
pusat : hilangnya kesadaran dan disorientasi.
Kayu manis Corrigen saporis Captopril dan obat-obat tekanan darah tinggi lainnya : efek
tekanan darah tinggi tidak mungkin dilawan akibatnya
tekanan darah tinggi tidak terkendali dengan baik.
Interaksi beberapa bahan alam pada uji
klinik ( Tsai et al., 2013)