0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan221 halaman

Terapi Komplementer untuk Kesehatan Optimal

Terapi komplementer merupakan terapi pendukung yang digunakan bersama dengan terapi medis konvensional untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien. Terapi komplementer meliputi berbagai metode seperti akupuntur, pijat, aromaterapi, dan herbal obat tradisional.

Diunggah oleh

Dyah tantri W
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan221 halaman

Terapi Komplementer untuk Kesehatan Optimal

Terapi komplementer merupakan terapi pendukung yang digunakan bersama dengan terapi medis konvensional untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien. Terapi komplementer meliputi berbagai metode seperti akupuntur, pijat, aromaterapi, dan herbal obat tradisional.

Diunggah oleh

Dyah tantri W
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERAPI

• USAHA UNTUK MEMULIHKAN KESEHATAN ORANG


YANG SEDANG SAKIT
• PENGOBATAN ATAU PERAWATAN PENYAKIT
• APA YANG DAPAT MEMBERIKAN KESENANGAN BAIK
FISIK MAUPUN MENTAL PADA SESEORANG YANG
SEDANG SAKIT
MIS. TERAPI BERMAIN, TERAPI MUSIK
Terapi sebagai pilihan terapi
konvensional
Terapi
Alternatif

Terapi Terapi pelengkap dari


Komplementer terapi konvensional
Terapi
Holistik

Terapi yang mempengaruhi


individu secara menyeluruh
Terapi

Komplementer
• Pengobatan non konvensional yang ditujukan
untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat: promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan
terstruktur dengan kualitas keamanan, dan
efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu
pengetahuan biomedik, yang belum diterima
dalam kedokteran konvensional
Pengertian Terapi Komplementer

• >> Cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan


sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis
Konvensional atau sebagai Pengobatan Pilihan lain
diluar Pengobatan Medis yang Konvensional.

• Menurut WHO, pengobatan komplementer adalah


pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari
negara yang bersangkutan.
• Pengobatan tradisional adalah pengobatan yang sudah
dari zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara
turun – temurun pada suatu negara >> JAMU (untuk
Indonesia)
Terapi komplementer adalah terapi yang
digunakan secara bersama-sama dengan terapi lain
dan bukan untuk menggantikan terapi medis.

* cara pengobatan itu dilakukan bersama atau


sebagai tambahan terhadap pengobatan
konvensional >> pengobatan komplementer karena
kedua cara pengobatan tersebut melengkapi satu
sama lainnya
• Alasan yang paling umum orang menggunakan terapi
komplementer adalah untuk meningkatkan kesehatan
dan kesejahteraan/wellness.
• Wellness mencakup kesehatan optimum seseorang,
baik secara fisik, emosional, mental dan spiritual.
• Fokus terapi komplementer adalah kesejahteraan
yang berhubungan dengan tubuh, pikiran dan spirit.
JENIS TERAPI KOMPLEMENTER
Complementary & Alternative Medicine

1. Yoga
2. Akupunktur
3. Diet Therapy
4. Reiki
5. Massage Therapy
6. Chromo Therapy
7. Meditation
8. Herbal Medicine
9. Homeopathy
10. Hypnosis
11. Aromatherapy
12. Ayurweda
TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER

• untuk mengurangi stres, meningkatkan


kesehatan, mencegah penyakit, menghindari
atau meminimalkan efek samping, gejala-
gejala, dan atau mengontrol serta
menyembuhkan penyakit.
3 jenis teknik pengobatan komplementer yang dapat
diintegrasikan ke dalam pelayanan konvensional :

1. Akupuntur
Berasal dari Cina. Cara kerjanya adalah dengan
mengaktivasi berbagai molekul signal yang berperan
sebagai komunikasi antar sel. Salah satu pelepasan
molekul tersebut adalah pelepasan endorphin.

>> Berfungsi memperbaiki keadaan umum, meningkatkan


sistem imun tubuh, mengatasi konstipasi atau diare,
meningkatkan nafsu makan serta menghilangkan atau
mengurangi efek samping yang timbul akibat dari
pengobatan kanker itu sendiri, seperti mual dan muntah,
fatigue (kelelahan) dan neuropati.
2. Terapi hiperbarik (ruang udara bertekanan tinggi
(RUBT) alias
Hyperbaric Chamber)

Suatu metode terapi dimana pasien dimasukkan ke


dalam sebuah ruangan yang memiliki tekanan udara 2
– 3 kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer
normal, lalu diberi pernapasan oksigen murni (100%).
Selama terapi, pasien boleh membaca, minum, atau
makan untuk menghindari trauma pada telinga akibat
tingginya tekanan udara.
Terapi Hiperbarik

• Oksigen bertekanan tinggi efektif memicu sel


dan jaringan rusak memperbaiki diri sendiri
sehingga kerap digunakan untuk memperhalus
kulit dan kebugaran tubuh.
• >> Umumnya digunakan untuk pasien – pasien
dengan gangren supaya tidak perlu dilakukan
pengamputasian bagian tubuh
3. Terapi herbal medik
Terapi dengan menggunakan obat bahan alam
yang telah melalui uji preklinik pada hewan
coba, baik terhadap keamanan maupun
efektivitasnya.
>> Berfungsi dalam meningkatkan daya tahan
tubuh
NCCAM Domains of C.A.M.
Systems of Health Care
Mind-body therapies
Manipulative and
body-based therapies
Biologically based
therapies
Energy therapies
17
18
19
Schools for Health Professionals

20
ORIENTASI PEMBANGUNAN KESEHATAN

INDEK PEMBANGUNAN MANUSIA


(Pendidikan, UHH, Pendapatan)

DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT

ANGKA KESAKITAN ANGKA KECACATAN ANGKA KEMATIAN

PELAYANAN
KETURUNAN PERILAKU LINGKUNGAN
KESEHATAN

KECELAKAAN PROMOTIF
FAS YANKES
PREVENTIF
CYBER NEWS 21
KURATIF SDM KES
SOCIAL CAPITAL
REHABILITATIF PEMBIAYAAN KES
KESEHATAN
keadaan SEHAT baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan seseorang untuk hidup produktif baik secara sosial
dan ekonomis (Ps 1 UU 39/2006)

PEMBANGUNAN KESEHATAN adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen


bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dapat terwujud

SUMBER DAYA MANUSIA MASYARAKAT


KESEHATAN PEMERINTAH
(orang, keluarga,
(dokter, dokter gigi, (eksekutif, legistatif,
kelompok – pelaku
apoteker, perawat, bidan, yudikatif – Pusat,
usaha, pekerja,
kesmas, dlsb) Provinsi,Kab/Kot, Desa)
pemberi kerja) 22
MENTERI KESEHATAN
ARAH PEMBANGUNAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

RPJMN I RPJMN II RPJMN III RPJMN IV


2005 -2009 2010-2014 2015 -2019 2020 -2025
Bangkes Akses Akses Kes masyarakat
diarahkan untuk masyarakat thp masyarakat thp yankes
meningkatkan yankes yang terhadap yankes yang
akses dan mutu berkualitas telah yang berkualitas berkualitas
yankes lebih telah mulai telah
berkembang dan mantap menjangkau
meningkat dan merata di
seluruh wilayah
KURATIF- Indonesia
VISI:
REHABILITATIF
MASYARAKAT
SEHAT
YANG MANDIRI
UPAYA PROMOTIF - PREVENTIF DAN
BERKEADILAN

Arah pengembangan upaya kesehatan, dari kuratif bergerak


ke arah promotif, preventif sesuai kondisi dan kebutuhan 23
Pendidikan Pelayanan Organisasi Regulasi
Mind-Body

Terapi berbasis Biologis

Terapi dengan dasar


memanipulasi tubuh Permenkes
1109/2007
Diet dan Nutrisi

Terapi berbasis Energi

Terapi berbasis
Spiritual
Dibicara
kan Ada
Saat in banyak fakta
orang

Dibicara Belum
Saat in kan jelas
banyak
orang
fakta
Terapi Komplementer Pilihan Pengobatan

Keyakinan
Keuangan
Kebutuhan
masyarakat Reaksi obat kimia
terhadap terapi
komplementer Tingkat kesembuhan
semakin
meningkat
Komunitas

Jiwa

UGD & Kritis

KMB
Anak
Maternitas
Hasil Penelitian

Pengaruh terapi Perbedaan tekanan Pengaruh pijat


akupunktur darah sebelum dan aromaterapi relaksasi
sesudah terapi pijat terhadap tanda vital
terhadap tingkat refleksi pada lansia pasien ➔ selama 60
kestabilan pasien yang menderita menit dengan minyak
nyeri sendi ➔ hipertensi dan tingkat lavender 10 tetes dan
Terapi akupunktur stres pada mahasiswa minyak zaitun 20 ml
sebanyak 4 kali (2 tingkat akhir ➔ ➔ pengaruh
pemijatan 3-5 menit signifikan
minggu) ➔ di zona simpul ➔
pengaruh pengaruh signifikan
signifikan
Pengaruh terapi abdominal Pengaruh massage pada
massage terhadap penurunan telapak kaki terhadap
intensitas nyeri haid primer ➔ penurunan neuropati
selam 5 menit setiap hari 6 diabetik fungsi sensorik di
hari mulai dari hari ke 5 kaki pada pasien diabetes
sebelum haid sampai dengan melitus ➔ selama 15 menit
haid hari pertama ➔ 20 kali ➔ pengaruh signifikan
pengaruh signifikan
Bedah
PERMENKES NOMOR. 1109/MENKES/PER/IX/2007
PMK No 15 Tahun 2018

>> Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer


– Alternatif di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan
• SESUAI KOMPETENSI
• ADA TENAGA AHLI
• ATURAN BAGI TENAGA ASING
• ALAT YANG AMAN
• MENULISKAN EFEK SAMPING
• DLL
MANFAAT BAHAN ALAM
DALAM KEFARMASIAN
Tujuan Pemakaian Obat Herbal

UU NO 23 TAHUN 1992 TENTANG KESEHATAN

• OBAT TRADISIONAL ADALAH BAHAN ATAU RAMUAN BAHAN


YANG BERUPA BAHAN TUMBUHAN, BAHAN HEWAN, BAHAN MINERAL,
SEDIAAN SARIAN (GALENIK) ATAU CAMPURAN DARI BAHAN-BAHAN
TERSEBUT YANG SECARA TURUN TEMURUN TELAH DIGUNAKAN
UNTUK PENGOBATAN BERDASARKAN PENGALAMAN
KONSUMEN MEMILIH OBAT HERBAL ???

KONSUMEN

Kembali ke alam
Efek samping lebih kecil
Preventif lebih baik dari pada kuratif
Ketidakpuasan terhadap obat modern
Harga terjangkau
Memiliki sejarah yang panjang yang dipercaya
Jalur yang ada cukup luas
MANFAAT OBAT HERBAL

Promotif Preventif

Kuratif

Rehabilitatif Paliatif

DALAM KEADAAN KRITS SEBAIKNYA TIDAK MENGGUNAKAN OBAT HERBAL


KARAKTERISTIK Untuk jenis
OBAT HERBAL penyakit non
spesifik

Efek lebih
lemah Karaketeristik Waktu kerja
dibanding obat herbal obat relatif
obat modern lebih lama

Tidak cocok
untuk
penanganan
gawat darurat
PERTIMBANGAN OBAT HERBAL

Meningkatkan kesehatan
Kepastian jumlah simplisia
Simplisia makin banyak, analisis makin sulit
Interaksi antara bahan jamu
Interaksi dengan obat konvensional
Interaksi dengan makanan
Senyawa untuk standar
Keamanan, khasiat, efektivitas
KHASIAT DAN KEAMANAN OBAT HERBAL

Khasiat Keamanan

Obat herbal harus Sumber ketidakamanan bisa


mempunyai khasiat lebih berasal dari tanaman itu sendiri
besar daripada plasebo

Khasiat didasarkan pada Sumber ketidak amanan


literature ilmiah yang berasal dari luar
valid

Interaksi farmakokinetik maupun


farmakodinamik
Perkembangan Obat Herbal
PENAMAAN OBAT HERBAL

• - OBAT HERBAL DISEBUT JUGA DENGAN FITOFARMASETIKAL

• - FITOMEDISIN PERNAH DIUSULKAN OLEH KERJASAMA ILMUWAN DAN


FITOTERAPI (ESCOP) TETAPI ISITLAH YANG DIGUNAKAN ADALAH OBAT HERBAL
• - FITOTERAPETIK BERASAL DARI PENGALAMAN PADA OBAT HERBAL YANG
TELAH BERUSIA RIBUAN TAHUN
• - BELUM DIPAHAMI BAGAIAMANA DOKTER KUNO MEMPEROLEH
PENGETAHUAN MEREKA
PERKEMBANGAN OBAT HERBAL
1. JENIS (JAMU, OHT, FITOFARMAKA)
2. BENTUK SEDIAAN FARMASI
3. DOSIS
4. STANDARDISASI
5. PENGUJIAN (EMPIRIS, PREKLINIK, KLINIK)
6. MARKETING
JAMU
(1). JAMU HARUS MEMENUHI KRITERIA :
A. AMAN SESUAI DENGAN PERSYARATAN YANG DITETAPKAN;
B. KLAIM KHASIAT DIBUKTIKAN BERDASARKAN DATA EMPIRIS;
C. MEMENUHI PERSYARATAN MUTU YANG BERLAKU.
(2). JENIS KLAIM PENGGUNAAN SESUAI DENGAN JENIS PEMBUKTIAN TRADISIONAL
DAN TINGKAT PEMBUKTIANNYA YAITU TINGKAT PEMBUKTIAN UMUM DAN
MEDIUM;
(3). JENIS KLAIM PENGGUNAAN HARUS DIAWALI DENGAN KATA – KATA : “ SECARA
TRADISIONAL DIGUNAKAN UNTUK …”, ATAU SESUAI DENGAN YANG DISETUJUI
PADA PENDAFTARAN. *
* (KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : HK.00.05.4.2411 TENTANG KETENTUAN POKOK
PENGELOMPOKAN DAN PENANDAAN OBAT BAHAN ALAM INDONESIA )
OBAT HERBAL TERSTANDAR
• ADALAH SEDIAAN OBAT BAHAN ALAM YANG TELAH DIBUKTIKAN
KEAMANAN DAN KHASIATNYA SECARA ILMIAH DENGAN UJI
PRAKLINIK DAN BAHAN BAKUNYA TELAH DISTANDARDISASI. *

(* KEPUTUSAN MENTRI KESEHATAN EPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 /MENKES/SK/II/2008)


OHT ( OBAT HERBAL TERSTANDAR)
(1). OBAT HERBAL TERSTANDAR HARUS MEMENUHI KRITERIA :
A. AMAN SESUAI DENGAN PERSYARATAN YANG DITETAPKAN;
B. KLAIM KASIAT DIBUKTIKAN SECARA ILMIAH/PRA KLINIK;
C. TELAH DILAKUKAN STANDARDISASI TERHADAP BAHAN BAKU YANG
DIGUNAKAN DALAM PRODUK JADI; MEMENUHI PERSYARATAN MUTU
YANG BERLAKU.
(2). JENIS KLAIM PENGGUNAAN SESUAI DENGAN TINGKAT
PEMBUKTIAN YAITU TINGKAT PEMBUKTIAN UMUM DAN MEDIUM. *
* (KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR :
HK.00.05.4.2411 TENTANG KETENTUAN POKOK PENGELOMPOKAN DAN PENANDAAN
OBAT BAHAN ALAM INDONESIA )
FITOFARMAKA

• FITOFARMAKA ADALAH OBAT DARI BAHAN ALAM TERUTAMA DARI ALAM


NABATI, YANG KHASIATNYA JELAS DAN TERBUAT DARI BAHAN BAKU, BAIK
BERUPA SIMPLISIA ATAU SEDIAAN GALENIK YANG TELAH MEMENUHI
PERSYARATAN MINIMAL, SEHINGGA TERJAMIN KESERAGAMAN KOMPONEN
AKTIF, KEAMANAN DAN KEGUNAANNYA.
(* PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 006 TAHUN 2012)
FITOFARMAKA
(1) FITOFARMAKA HARUS MEMENUHI KRITERIA :
A. AMAN SESUAI DENGAN PERSYARATAN YANG DITETAPKAN;
B. KLAIM KHASIAT HARUS DIBUKTIKAN BERDASARKAN UJI KLINIK;
C. TELAH DILAKUKAN STANDARDISASI TERHADAP BAHAN BAKU
YANG DIGUNAKAN DALAM PRODUK JADI;
D. MEMENUHI PERSYARATAN MUTU YANG BERLAKU.

(2) JENIS KLAIM PENGGUNAAN SESUAI DENGAN TINGKAT


PEMBUKTIAN MEDIUM DAN TINGGI. *

* (KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : HK.00.05.4.2411 TENTANG
KETENTUAN POKOK PENGELOMPOKAN DAN PENANDAAN OBAT BAHAN ALAM INDONESIA )
Identitas Tanaman dengan Ciri Warna
Nama Lokal Nama Latin Simpli- Warna Fungsi
sia
Delima putih Punica Buah Putih Keputihan
granatum
Saga [Link]- Biji Merah Penyakit mata
rius
Bayam merah Iresine Daun Merah Mengatasi
berbastii anemia
Bambu kuning Bambusa Batang Kuning Penyakit
vulgaris kuning
Daun Ungu Graptophyl- Daun Ungu Hemoroid
lum pictum
Kayu kuning Arcangelia Kayu Kuning Penyakit
flava kuning
Identitas Tanaman dengan Ciri Bau &Rasa
Nama Lokal Nama Latin Simpli- Karakter Fungsi
sia Fisik
Brotowali Tinospora Batang Pahit Diabetes
crispa
Sambiloto [Link] Herba Pahit Diabetes

Ki Encok Plumbago Daun Panas Rematik


zeylanica
Sembukan Paederia Daun Bau tidak enak Karminati
foetida vum
.Jahe Z. officinale Rimpang Rasa Demam
hangat/pedas
Identitas Tanaman dengan Ciri Bentuk
Nama Lokal Nama Latin Simplisia Karakter Fisik Fungsi

Tali putri Cassytha Seluruh Seperti Pertumbuha


filiformis bagian rambut n rambut
Benalu Scurulla Seluruh Akar menye- Kanker
philippensis bagian bar pada se-
luruh inang

Cabai Jawa Piper Buah Seperti Aprodisiaka


retrofactum kemaluan pria

Pisang Musa Bunga Seperti Gangguan


paradisiaca jantung jantung
Identitas Tanaman dengan Ciri Nama
Nama Lokal Nama Latin Simplisia Arti nama Fungsi

Greges otot Equisetum Seluruh Sakit otot Otot dan


debile bagian sendi
Patah tulang Euphorbia Getah Tulang patah Tulang
tirucalli patah
Ki encok Plumbago Daun Encok/rema- Rematik
zeylanica tik
Kayu lanang Oraxylum Kayu Kayu laki-laki Aprodisia-
indicum ka
Purwoceng Pimpinella Herba Kekuatan Aprodisia
alpina lelaki ka
Ki Sariawan Symplocos Herba Sariawan Sariawan
odoratissima
JENIS OBAT HERBAL
• 1. TEH (SPECIES)
SEDIAAN TEH HERBAL MENGANDUNG SATU ATAU LEBIH SIMPLISIA DITUJUKAN
UNTUK PENGGUNAAN LARUTAN ORAL. PEMBUATAN DILAKUKAN SEBELUM
DIGUNAKAN (RECENTER PARATUS), BIASANYA DIKEMAS DALAM BENTUK
SACCHETS.
• 2. DEKOK ( DECOCTUM)
SEDIAAN BERUPA SEDIAAN CAIR YANG DIBUAT DENGAN MENGEKSTRAKSI
DENGAN AIR PADA SUHU 90 DERAJAT C SELAMA 30 MENIT.
• 3. INFUSA (INFUSUM)
SEDIAAN CARI YANG DIBUAT DENGAN CARA MENGEKSTRAKSI SIMPLISIA
DENGAN AIR PADA SUHU 90 DERAJAT C SELAMA 15 MENIT.
CONT..
• 4. JUS ( SUCCUS)
SEDIAAN CARI YANG DIBUAT DENGAN CARA MASERASI ATAU PENGEPRESAN
SIMPLISIA SEGAR. UNTUK MEMPERPANJANG WAKTU HIDUP DAPAT DILAKUKAN
PASTEURISASI ATAU DENGAN TEKNOLOGI UHT ( ULTRA HIGH TEMPERATURE
TREATMENT) SEDIAAN JUS DIBUAT UNTUK TANAMAN YANG TIDAK MEMILIKI
KANDUNGAN KIMIA YANG POTEN
• 5. SIRUP( SIRUPUS)
BERASAL DARI ARAB KUNO, BERASAL DARI BAHASA ARAB SIRAB, SCHARAB ATAU
SHERBET YANG BERARTI MINUMAN JUS BERGULA. SEDIAAN CAIR AGAK KENTAL
MENGANDUNG PALING TIDAK 50% SUKROSA DAN BIASANYA 60-65%.
DITUJUKAN UNTUK PEMAKAIAN PADA ANAK-ANAK. KONSENTRASI GULA YANG
TINGGI BISA SEKALIGUS SEBAGAI PENGAWET.
CONT…
• 6. TINGTUR ( TINCTURA)

SEDIAAN CAIR YANG DIBUAT DENGAN MENGEKSTRAKSI SIMPLISIA MENGGUNAKAN


ALCOHOL ATAU HIDROALKOHOL DENGAN CARA MASERASI ATAU PERKOLASI
MENGGUNAKAN PELARUT YANG SESUAI DENGAN MONOGRAFI. KECUALI DINYATAKAN
LAIN TINGTUR DIBUAT DENGAN JUMLAH SIMPLISIA 20% UNTUK ZAT BERKHASIAT DAN
10% UNTUK ZAT BERKHASIAT KERAS

• 7. EKSTRAK ( EXTRACTUM)
SEDIAAN PADAT, KENTAL ATAU CAIR YANG DIBUAT DENGAN MENGEKSTRAKSI SIMPLISIA
MENGGUNAKAN AIR, ALCOHOL ATAU HIDROALKOHOL DENGAN METODE EKSTRAKSI
DAN PELARUT SESUAI DENGAN MONOGRAFI MASING-MASING.
PERKEMBANGAN SEDIAAN OT SEKARANG

• 1. KAPSUL : SEDIAAN KERING BERUPA SERBUK ATAU GRANUL YANG DIMASUKKAN KE DALAM
KAPSUL KERAS YANG TERBUAT DARI GELATIN
• 2. TABLET : SEDIAAN YANG DIBUAT DARI SERBUK ATAU GRANUL YANG DIKEMPA. SELAIN
BAHAN AKTIF JUGA MENGANDUNG BAHAN PEMBANTU SEPERTI PENGIKAT, PENGAHANCUR,
PELINCIR DLL.
• 3. TABLET SALUT : SEDIAAN TABLET YANG DIBUAT DENGAN CARA DIKEMPA, KEMUDIAN
DISALUT DENGAN GULA, PEWARNA, LEMAK, LILIN DAN ATAU PROTEIN. FUNGSI PENYALUTAN
UNTUK MELINDUNGI BAHAN AKTIF. TABLET DAPAT JUGA DISALUT DENGAN BAHAN FILM,
BIASANYA BERUPA POLIMER SEPERTI SELULOSAFTALAT ASETAT. TUJUANNYA YAITU :
• - MENGONTROL/MEMPERLAMBAT SENYAWA AKTIF ( SALUT ENTERIC, TABLET LEPAS TERKENDALI)
• -MEMEPERPANJANG WAKTU HIDUP SEDIAAN, PENYALUTAN DAPAT MELINDUNGI BAHAN AKTIF
DARI PENGARUH CAHAYA, KELEMBABAN DAN REAKSI KIMIA
CONT….

• - MEMPERMUDAH/MEMEBERIKAN KENYAMANAN PADA PENGGUNA KARENA


DAPAT MENGHINDARI KONTAK DENGAN MUKOSA ESOPHAGUS
• - MENUTUPI BAU DAN RASA YANG TIDAK DIINGINKAN
• 4. SALEP ; SEDIAAN SEMI SOLID BERBASIS MINYAK YANG DITUJUKAN UNTUK
PENGGUNAAN TOPICAL
• 5. KRIM : SEDIAAN SEMISOLID BERUPA EMULSI DALAM MINYAK MAUPUN AIR.
• 6. JEL : SEDIAAN KOLOID DALAM BENTUK FASE TERDISPERSI DIKOMBINASIKAN
DENGAN FASE PENDISPERSI MENGHASILKAN SEDIAAN SEMISOLID SEPERTI JELI
PERSYARATAN BAHAN ALAM UNTUK DIGUNAKAN
DALAM BIANG KESEHATAN, MAKANAN MINUMAN
DAN KOSMETIK

Kesehatan
Aman Makanan/minuman Kosmetik
Kualitas FHI Aman Aman
Efektif Persyaratan lebih ringan Persyaratan lebih ringan
Standardisasi Standar SNI Kondisi baik
Kondisi baik
FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM
PENGEMBANGAN OBAT BAHAN ALAM
▪ PENYEDIAAN BAHAN BAKU & PASCA PANEN
(DAPAT MEMPENGARUHI SENYAWA AKTIF DAN AKHIRNYA KHASIAT

▪ VARIABILITAS MATERIAL BIOLOGI


(SPESIES, SIMPLISIAMEMPENGARUHI KOMPONEN SENYAWA AKTIF DAN
AKHIRNYA PADA KHASIAT

▪ KOMPLEKSITAS KOMPOSISI SEDIAAN O B A


(MEMILIKI KANDUNGAN AKTIF DAN SENYAWA LAIN YANG MEMPENGARUHI
AKTIVITAS
PERAN DAN TANTANGAN AKADEMISI/PENDIDIKAN,
PEBISNIS DAN PEMERINTAH TERHADAP OBAT
TRADISIONAL
1. ETNOMEDICINE
2. AGROINDUSTRI TANAMAN OBAT
3. IPTEK KEFARMASIAN DAN KEDOKTERAN
4. TEKNOLOGI KIMIA DAN PROSES
5. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PRODUKSI ATAU PEMASARAN
BAHAN DAN PRODUK OT.
Definisi Jamu (Bapenas)

Jamu adalah ramuan yang berasal dari sumber daya alam


(sumber daya hayati, sumber daya genetik, sumber daya mineral
dan warisan budaya pengetahuan & pemanfaatan jamu) berupa
tumbuhan, hewan, dan/atau mineral asli Indonesia yang diolah
atau diramu oleh masyarakat dan/atau dunia usaha
berdasarkan indikasi geografis, kearifan lokal, atau
pengetahuan tradisional secara berkelanjutan
dan lestari, yang pemanfaatannya berguna bagi peningkatan
kualitas hidup masyarakat di bidang pangan, kebugaran dan
kecantikan, pariwisata dan budaya, dan Kesehatan yang
aman dan bermanfaat serta memenuhi persyaratan penggunaan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peta jalan pengembangan dan pemanfaatan jamu
2021 -- 2025
Pemanfaatan Penguatan
Penguatan
jamu dalam pasar dan
system
pelayanan pemanfaatan
produksi
Kesehatan jamu
formal

Pelestarian dan
Penguatan ilmu Pengembanan perlindungan
pengetahuan Dan pemenfaatn sumber bahan
dan teknologi jamu baku

Peningkatan
Pembangunan pengetahuan
system informasi Penguatan tradisional
terpadu berbasis kelembagaan, masyarakat dan
big data regulasi dan kompetendi SDM
infra struktur
Pengembangan Obat Herbal

Regulasi Pelayanan
Penetapan standar Rumah sakit (tenaga kesehatan)
Praktek profesional Penelitian klinis
Herbal dipatenkan Terapi standar
Penjualan Berdasarkan pembuktian
Pengobatan komplementer

Pendidikan, penelitian
& pelatihan
Akademisi & Masyarakat Produk
Praktisi pengobat tradisional Pengembangan industri
Praktisi pengobat konvensional Diversifikasi produk
Perlindungan HaKI
TANTANGAN

Perkembangan pasar
Obat herbal Indonesia menjadi global
Kurangnya sistem pengobatan tradisional
Pendidikan penggunaan pengobatan untuk diri sendiri
Pelaksanaan uji klinis untuk meningkatkan kepercayaan
Pengembangan terintegrasi
(pertanian, ekstraksi, formulasi, pemasaran)
Pengembangan OHT dan Fitofarmaka
Penelitian holistik
Standardisasi produk
Memahami pasar dan teknologi internasional
KONDISI DI LAPANGAN

Aturan dan standardisasi herbal masih terlalu ketat  suplemen

Kepedulian masyarakat terhadap produk herbal makin menipis

Perlu mutu tinggi, konsisten dan berkesinambungan

Tingkat protektif negara negara makin tinggi dalam perdagangan


herbal

Integrasi industri OT dengan perguruan tinggi masih sedikit


Lanjutan KONDISI DI LAPANGAN
Harmonisasi Asean dan CPOTB terlalu cepat (1 Jan 2010)  tu IKOT

Perhatian pemerintah untuk pengembangan ekspor produk herbal dianggap


minim

Ekspor produk herbal (jamu) masih sekitar Asean, sedikit masuk ke Eropa

Insentif perusahaan untuk melakukan riset, pengembangan produk masih


sedikit

Kerjasama investasi, promosi dan partisipasi dalam dan luar negri sangat
kurang
PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN OBAT HERBAL

PUSTAKA : KELENGKAPAN DUKUNGAN ILMIAH


SIGNIFIKANSI, RIWAYAT PENGGUNAAN OLEH MASYARAKAT
LAPORAN/KEJADIAN EFEK YANG TIDAK DIINGINKAN
TIDAK MEMBAHAYAKAN BAGI KESEHATAN MASYARAKAT
KEMUDAHAN DIDAPAT
BUKTI KEMANFAATAN
PENGEMBANGAN & PEMANFAATAN SECARA BERKELANJUTAN
SEBAGAI PRODUK PERTANIAN
PENENTUAN SENYAWA AKTIF DAN MEKANISME KERJA
PENGHILANGAN KONTAMINAN DAN PEMALSUAN BAHAN
STANDARDISASI BOTANI, KIMIA, AKTIFITAS FARMAKOLOGI
STUDI STABILITAS DAN KEAMANAN
PERUBAHAN MAKRO

Globalisasi :
Obat herbal dari luar (TCM)
Harmonisasi anggota Asean
Aliran produk antar negara

Peraturan pemerintah :
Klasifikasi
Saintifikasi jamu

Ekonomi domestik :
Daya beli menurun
PENGEMBANGAN DI INDONESIA ???

1. SUMBER DAYA MANUSIA

2. PENGUATAN KELEMBAGAAN DAN REGULASI

3. PENGEMBANGAN BAHAN BAKU (STANDAR, KUALITAS)

4. PENGEMBANGAN IPTEK

5. PENGEMBANGAN INDUSTRI JAMU


PENGEMBANGAN JAMU

Jamu terintegrasi dalam pelayanan kesehatan nasional

Saintifikasi
Agroindustri SDM Jamu
T O berkembang

Koordinasi Penerapan IPTEK Pengembangan


Semua sektor Dalam industri jamu Industri jamu
TERIMA KASIH
TERAPI
KOMPLEMENTER

Zulfa Rufaida, [Link]. Bd, [Link]


Sri Wardini Puji Lestari, [Link], SKM, [Link]
Dyah Permata Sari, [Link], SKM, MM

Penerbit STIKes Majapahit Mojokerto


2018
TERAPI KOMPLEMENTER
Penulis:
Zulfa Rufaida, [Link]. Bd, [Link].
Sri Wardini Puji Lestari, [Link], SKM, [Link]
Dyah Permata Sari, [Link], SKM, MM

Editor:
Dr. Henry Sudiyanto, MKes
ISBN. 978-602-51139-8-7

Penyunting:
Eka Diah Kartiningrum, SKM., MKes
Desain Sampul dan Tata Letak:
Widya Puspitasari, AMd
Penerbit:
STIKes Majapahit Mojokerto
Redaksi:
Jalan Raya Jabon Km 02 Mojoanyar Mojokerto
Telp. 0321 329915
Fax. 0321 329915
Email: mojokertostikesmajapahit@[Link]
Distibutor Tunggal:
STIKes Majapahit Mojokerto
Jalan Raya Jabon Km 02 Mojoanyar Mojokerto
Telp. 0321 329915
Fax. 0321 329915
Email: mojokertostikesmajapahit@[Link]
Cetakan pertama, November 2018
Hak Cipta Dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan
cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT


yang karena rahmat dan karunia–Nya kepada Penulis
sehingga berhasil menyelesaikan Buku Terapi Komplementer
ini. Rasa terimakasih juga kami sampaikan kepada
Kemenristek Dikti atas anggaran hibah tahun 2018
Profesi bidan bukanlah profesi yang mengemban
tugas ringan. Profesionalisme, kerja keras, niat baik akan
memberikan kekuatan dan modal utama bagi pengabdian
profesi bidan. Penulis menyadari bahwa buku ini jauh dari
yang diharapkan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun Penulis harapkan untuk kesempurnaan buku ini.
Akhir kata Penulis ucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang berperan dalam penyusunan buku ini.

Mojokerto, Nopember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................. i


Kata Pengantar .............................................................. ii
Daftar Isi ......................................................................... iii

BAB 1 TERAPI KOMPLEMENTER ....................... 1


A Definisi ............................................................... 1
B Tujuan Terapi Komplementer ........................... 10
C Jenis - Jenis Terapi Komplementer .................... 11
D Klasifikasi Lain Menurut Smith Et Al (2004) ... 29
E Fungsi ................................................................. 30
F Terapi Pijat (Massage) ....................................... 31
G Hipnoterapi ........................................................ 32

BAB 2 PERAN TENAGA KESEHATAN.................. 36


A Fokus Terapi Komplementer ............................. 36
B Peran Tenaga Kesehatan Dalam Terapi
Komplementer.................................................... 36
C Teknik Terapi Komplementer ........................... 39
D Persyaratan Dalam Terapi Komplementer ......... 42
E Pengertian Konsep Complementary Dan
Alternatif Terapi................................................. 42
F Tipe Terapi Alternatif Dan Komplementer........ 44

BAB 3 JENIS-JENIS TERAPI ................................... 54


A Jenis-Jenis Terapi Yang Dapat Diakses ............. 54
B Terapi Latihan Spesifik ...................................... 59
C Terapi Alternatif Dan Latihan ............................ 69

iii
BAB 4 KLASIFIKASI ................................................. 71
A Klasifikasi Terapi Komplementer ...................... 71
B Hubungan Antara Klasifikasi Dengan Terapi ... 72

BAB 5 TEKNIK RELAKSASI PERSALINAN ........ 74


A Pengertian Persalinan ......................................... 74
B Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan ............ 75
C Asuhan Sayang Ibu ............................................ 78
D Kala Dalam Persalinan ....................................... 85
E Konsep Relaksasi ............................................... 89
F Manfaat Relaksasi .............................................. 96
G Tehnik Relaksasi Nafas Dalam .......................... 101
H Jenis-Jenis Teknik Relaksasi.............................. 115
I Tujuan Relaksasi ................................................ 117
J Patofisiologi Teknik Relaksasi Nafas Dalam
Terhadap Nyeri .................................................. 119
K Metode Yang Mendasari Teknik Relaksasi
Nafas Dalam....................................................... 119
L Prosedur Teknik Relaksasi Nafas Dalam ........... 122
M Faktor- Faktor Yang Memengaruhi Teknik
Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan
Nyeri .................................................................. 124
N Standar Operasional Prosedur ( SOP ) Teknik
Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam .. 125

BAB 6 DISTRAKSI...................................................... 129


A Konsep Distraksi ................................................ 130
B Jenis-Jenis Distraksi ........................................... 130
C Tehnik Pernafasan .............................................. 132
D Imajinasi Terbimbing ......................................... 132
E Cara Menggunakan Distraksi ............................. 133
iv
F SOP Distraksi ..................................................... 134

Daftar Pustaka ............................................................... 137


Glosarium ....................................................................... 140
Riwayat Penulis .............................................................. 143

v
BAB 1
TERAPI KOMPLEMENTER

A. DEFINISI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), terapi adalah usaha untuk memulihkan
kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan
penyakit, perawatan penyakit. Komplementer adalah
bersifat melengkapi, bersifat menyempurnakan.
Pengobatan komplementer dilakukan dengan tujuan
melengkapi pengobatan medis konvensional dan
bersifat rasional yang tidak bertentangan dengan
nilai dan hukum kesehatan di Indonesia. Standar
praktek pengobatan komplementer telah diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.
Terapi komplementer adalah sebuah kelompok
dari macam - macam sistem pengobatan dan
perawatan kesehatan, praktik dan produk yang
secara umum tidak menjadi bagian dari pengobatan
konvensional.
1
2

Menurut WHO (World Health Organization),


pengobatan komplementer adalah pengobatan non-
konvensional yang bukan berasal dari negara yang
bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya,
bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi
merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan
tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang
sudah dari zaman dahulu digunakan dan diturunkan
secara turun – temurun pada suatu negara. Tapi di
Philipina misalnya, jamu Indonesia bisa
dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.
Terapi komplementer adalah cara Penanggulangan
Penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada
Pengobatan Medis Konvensional atau sebagai
Pengobatan Pilihan lain diluar Pengobatan Medis
yang Konvensional. Berdasarkan data yang
bersumber dari Badan Kesehatan Dunia pada tahun
2005, terdapat 75 – 80% dari seluruh penduduk
dunia pernah menjalani pengobatan non-
konvensional. Di Indonesia sendiri, kepopuleran
pengobatan non-konvensional, termasuk pengobatan
3

komplementer ini, bisa diperkirakan dari mulai


menjamurnya iklan – iklan terapi non –
konvensional di berbagai media
Terapi komplementer dikenal dengan terapi
tradisional yang digabungkan dalam pengobatan
modern. Komplementer adalah penggunaan terapi
tradisional ke dalam pengobatan modern.
Terminologi ini dikenal sebagai terapi modalitas
atau aktivitas yang menambahkan pendekatan
ortodoks dalam pelayanan kesehatan. Terapi
komplementer juga ada yang menyebutnya dengan
pengobatan holistik. Pendapat ini didasari oleh
bentuk terapi yang mempengaruhi individu secara
menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan individu
untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa
dalam kesatuan fungsi.
Pendapat lain menyebutkan terapi
komplementer dan alternatif sebagai sebuah domain
luas dalam sumber daya pengobatan yang meliputi
sistem kesehatan, modalitas, praktik dan ditandai
dengan teori dan keyakinan, dengan cara berbeda
4

dari sistem pelayanan kesehatan yang umum di


masyarakat atau budaya yang ada (Complementary
and alternative medicine/CAM Research
Methodology Conference, 1997 dalam Snyder &
Lindquis, 2002). Terapi komplementer dan alternatif
termasuk didalamnya seluruh praktik dan ide yang
didefinisikan oleh pengguna sebagai pencegahan
atau pengobatan penyakit atau promosi kesehatan
dan kesejahteraan.
Definisi tersebut menunjukkan terapi
komplemeter sebagai pengembangan terapi
tradisional dan ada yang diintegrasikan dengan
terapi modern yang mempengaruhi keharmonisan
individu dari aspek biologis, psikologis, dan
spiritual. Hasil terapi yang telah terintegrasi tersebut
ada yang telah lulus uji klinis sehingga sudah
disamakan dengan obat modern. Kondisi ini sesuai
dengan prinsip keperawatan yang memandang
manusia sebagai makhluk yang holistik (bio, psiko,
sosial, dan spiritual).
36

BAB 2
PERAN TENAGA KESEHATAN

A. FOKUS TERAPI KOMPLEMENTER


b. Pasien dengan penyakit jantung.
c. Pasien dengan autis dan hiperaktif
d. Pasien kanker
B. PERAN TENAGA KESEHATAN DALAM
TERAPI KOMPLEMENTER
a. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan
(Didukung oleh teori keperawatan
berdasarkan Teori Orem (1971). Tujuan
keperawatan adalah untuk merawat dan
membantu klien mencapai perawatan diri secara
total. Nightingale (1860) Tujuan keperawatan
untuk pasilitasi proses penyebuhan tubuh dengan
memanipulasi lingkungan klien. Rogers (1970)
Untuk mempertahankan dan meningkatkan
kesehatan,mencegah kesakitan, dan merawat
serta merehabilitasi klien yang sakit dan tidak
37

mampu dengan pendekatan humanistic


keperawatan).
Peran sebagai pemberi asuhan
keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan dasar
manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan keperawatan dengan menggunakan
proses keperawatan sehingga dapat ditentukan
diagnosis keperawatan agar bisa direncakan dan
dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan
tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian
dapat dievaluasi tingkat perkembangannya.
Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari
yang sederhana sampai dengan kompleks.
b. Peran Sebagai Advokat (Pembela) Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam
membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan berbagia informasi dari
pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya
dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan berkaitan dengan terapi
38

komplementer yang diberikan kepada pasiennya,


juga dapat berperan mempertahankan dan
melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak
atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi,
hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak
untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
c. Peran edukator
Didukung oleh Teori Peplau (1952).
Tujuan keperawatan untuk mengembangkan
interaksi antara perawat dan klien. King (1971),
tujuan keperawatan untuk memanfaatkan
komunikasi dalam membantu klien mencapai
kembali adaptasi secara positif terhadap
lingkungan. Peran ini dilakukan dengan
membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan mengenai terapi
komplementer, gejala penyakit bahkan tindakan
yang diberikan, sehingga terjadi perubahan
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan
kesehatan.
54

BAB 3
JENIS-JENIS TERAPI

A. JENIS-JENIS TERAPI YANG DAPAT


DIAKSES
Beberapa terapi dan teknis medis alternatif dan
komplementer bersifat umum dan menggunakan
proses alami (pernapasan, pikiran dan konsentrasi,
sentuhan ringan, pergerakan, dan lain-lain) untuk
membanti individu merasa lebih baik dan beradaptasi
dengan kondisi akut dan akut. Berikut jenis-jenis
terapi yang dapat diakses keperawatan, yaitu :
a. Terapi Relaksasi
Respon relaksasi merupakan bagian dari
penurunan umum kognitif, fisiologis, dan
stimulasi perilaku. Relaksasi juga melibatkan
penurunan stimulasi. Proses relaksasi
memperpanjuang serat otot, mengurangi
pengiriman impuls neural ke otak, dan
selanjutnya mengurangi aktivitas otak juga
sistem tubuh lainnya. Relaksasi membantu
55

individu membangun keterampilan kognitif


untuk mengurangi cara yang negatif dalam
merespon situasi dalam lingkungan mereka.
Keterampilan kognitif adalah seperti sebagai
berikut :
a) Fokus (kemampuan untuk mengidentifikasi,
membedakan, mempertahankan perhatian
pada, dan mengembalikan perhatian pada
rangsangan ringan untuk periode yang
lama).
b) Pasif (kemampuan untuk menghentikan
aktivitas analisis dan tujuan yang tidak
berguna).
c) Kesediaan (kemampuan untuk menoleransi
dan menerima pengalaman yang tidak pasti,
tidak dikenal, atau berlawanan).
Tujuan dari relaksasi jangka panjang adalah
agar individu memonitor dirinya secara terus-
menerus terhadap indikator ketegangan, serta
untuk membiarkan dan melepaskan dengan sadar
56

ketegangan yang terdapat di berbagai bagian


tubuh.
b. Meditasi dan Pernapasan
Meditasi adalah segala kegiatan yang
membatasi masukan rangsangan dengan
perhatian langsung pada suatu rangsangan yang
berulang atau tetap. Ini merupakan terminasi
umum untuk jangkauan luas dari praktik yang
melibatkan relaksasi tubuh dan ketegangan
pikiran. Menurut Benson, komponen relaksasi
sangat sederhana, yaitu :
a) ruangan yang tenang,
b) posisi yang nyaman,
c) sikap mau menerima, dan
d) fokus perhatian.
Praktik meditasi tidak membutuhkan seorang
pengajar, banyak individu mempelajari prosesnya
dari buku atau kaset, dan mudah untuk diajarkan .
Sebagian besar teknik meditasi melibatkan
pernapasan, biasanya pernapasan perut yang
dalam, relaks, dan perlahan. Meditasi
71

BAB 4
KLASIFIKASI

A. KLASIFIKASI TERAPI KOMPLEMENTER


1. Mind-body therapy : intervensi dengan teknik
untuk memfasilitasi kapasitas berpikir yang
mempengaruhi gejala fisik dan fungsi berpikir
yang mempengaruhi fisik dan fungsi tubuh
(imagery, yogo, terapi musik, berdoa, journaling,
biofeedback, humor, tai chi, dan hypnoterapy).
2. Alternatif sistem pelayanan yaitu sistem
pelayanan kesehatan yang mengembangkan
pendekatan pelayanan biomedis (cundarismo,
homeopathy, nautraphaty).
3. Terapi biologis yaitu natural dan praktik biologis
dan hasil-hasilya misalnya herbal, dan makanan.
4. Terapi manipulatif dan sistem tubuh (didasari
oleh manupulasi dan pergerakan tubuh misalnya
kiropraksi, macam-macam pijat, rolfiing, terapi
cahaya dan warna, serta hidroterapi.
72

5. Terapi energi : terapi yang berfokus pada energi


tubuh (biofields) atau mendapatkan energi dari
luat tubuh (terapetik sentuhan, pengobatan
sentuhan, reiki, external qi gong magnet) terapi
ini kombinasi antar energi dan
bioelektromagnetik.

B. HUBUNGAN ANTARA KLASIFIKASI


DENGAN TERAPI
Terapi ceragem batu giok termasuk dalam
klasifikasi terapi energi. Terapi energi adalah terapi
yang berfokus pada energi tubuh (biofields) atau
mendapatkan energi dari luat tubuh (terapetik
sentuhan, pengobatan sentuhan, reiki, external qi
gong magnet) terapi ini kombinasi antar energi dan
bioelektromagnetik. Ceragem batu giok akan
menghasilkan sinar inframerah ketika dipanaskan.
Sinar inframerah akan menstimulasi panas sampai
pada jaringan sub cutan yang mengakibatkan
vasolidasi pembuluh darah meningkat, serta
meningkatkan metabolisme mengakibatkan
74

BAB 5
TEKNIK RELAKSASI PERSALINAN

A. PENGERTIAN PERSALINAN
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran
hasil konsepsi (janin dan uri), yang dapat hidup
kedunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau
dengan jalan lahir.
Persalinan dan kehamilan merupakan kejadian
fisiologis yang normal dalam kehidupan
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses
pengeluaran yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam
waktu 18-24jam, tanpa komplikasi baik pada ibu
maupun pada janin
Partus abnormal adalah bayi lahir melalui
vagina dengan bantuan tindakan atau alat seperti
versi atau ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi,
embriotomi dan sebagainya, atau lahir per abdominal
dengan sectio cesarea
75

B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PERSALINAN
a. Jalan lahir (passage)
Keadaan panggul merupakan faktor
penting dalam kelangsungan persalinan, tetapi
yang tidak kurang penting adalah hubungan
antara kepala janin dengan panggul ibu.
Besarnya kepala janin dalam perbandingan
dengan luasnya panggul ibu menentukkan
apakah ada disproporsi sefalopelvik atau tidak.
b. Janin (passager)
Posisi janin yang dapat memperpanjang
kala II misalnya posisi oksiput posterior atau
oksiput transversal menetap.
c. Tenaga atau kekuatan (power)
a) His (kontraksi uterus).
b) Kontraksi otot-otot dinding perut.
c) Kontraksi diafragma.
d) Ligmentous action terutama ligamentum
rotundum.
129

BAB 6
DISTRAKSI

Pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke


stimulus yang lain. Tehnik distraksi dapat mengatasi
nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler
menghambat stimulus nyeri. Jika seseorang menerima
input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan
terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau
tidak dirasakan oleh klien).
Stimulus yang menyenangkan dari luar juga
dapat merangsang sekresi endorfin, sehingga stimulus
nyeri yang dirasakan oleh klien menjadi berkurang.
Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung
dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas
sensori yang digunakan dan minat individu dalam
stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan,
pendengaran dan sentuhan mungkin akan lebih efektif
dalam menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera
saja
130

A. KONSEP DISTRAKSI
Tehnik distraksi adalah pengalihan dari fokus
perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain.
Tehnik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan
teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus
nyeri. jika seseorang menerima input sensori yang
berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls
nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak dirasakan
oleh klien). Peredaan nyeri secara umum
berhubungan langsung dengan partisipasi aktif
individu, banyaknya modalitas sensori yang
digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh
karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran dan
sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam
menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera
saja.
B. JENIS-JENIS DISTRAKSI
1. Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi,
membaca koran, melihat pemandangan dan gambar
termasuk distraksi visua
137

DAFTAR PUSTAKA

Andrews, M., Angone, K.M., Cray, J.V., Lewis, J.A., &


Johnson, P.H. (2009). Nurse’s handbook of
alternative and complementary therapies.
Pennsylvania: Springhouse.
Benson H. 2015. The Relaxtion Respone. New York :
Avon.
Dalimartha, S. 2008. Resep Tumbuhan Obat Untuk Asam
Urat. Depok: Penebar Swadaya.
Fitri. 2014. Terapi Ceragem Beserta Manfaatnya.
Diakses dari : [Link]
[Link]
Fontaine K. 2015. Healing Practices : Alternative
therapies For nursing. Edisi 2. Prentice Hall.
Gusti. 2016. Prinsip Keperawatan Holistik dalam Terapi
Komplementer. Diakses dari :
[Link]
holistik-dalam-terapi-komplementer/
Hipnosis Ericksonian. [Link]
Hypnotherapy, Ady W.
Gunawan. [Link]
Hariana, A. 2005. 812 Resep untuk Mengobati 236
Penyakit. Jakarta: Penebar Swadaya.
Misnadiarly. 2008. Mengenal Penyakit Arthritis.
Puslitbang Biomedis Dan Farmasi, Badan
Litbangkes.
138

Perry, Potter. 2009. Fundamentals of Nursing Buku 2


Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika.
Rakel DP, Faass N. 2016. Complementary medicinen in
clinical practice, Sudbury, Mass, 2006, Jones &
Battlett.
Relaxology. 2013. Fakta Tentang Pemijatan
Massage. [Link]
sehat/fakta-tentang-pemijatan-massage/ (online),
diaksespada 20 September 2018.
Smith, S.F., Duell, D.J., Martin, B.C. 2014. Clinical
Nursing Skills: Basic to Advanced Skills. New
Jersey : Pearson Prentice Hall.
Snyder, M. & Lindquist, R. 2012.
Complementary/Alternative Therapies In
Nursing. 4th Ed. New York: Springer.
Suhariningsih, Wurlina, DK Meles, Tity P. Kajian
Biofisika Terhadap Manfaat Dan Efek Samping
Terapi Ceragem. Diakses pada :
[Link]
[Link]
Sukarmin. 2015. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kadar Asam Urat Dalam Darah Pasien
Gout Di Desa Kedungwinong Sukolilo Pati.
Diakses Pada :
[Link]
icle=356772&val=426&title=FAKTOR-
FAKTOR%20YANG%20BERHUBUNGAN%20D
ENGAN%20KADAR%20ASAM%20URAT%20D
ALAM%20DARAH%20PASIEN%20GOUT%20
139

DI%20DESA%20KEDUNGWINONG%20SUKO
LILO%20PATI
Tjokroprawiro A., Setiawan P.B, Santoso D, Soegiarto
G.. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Airlangga University Press.
Utami. 2013. Tanaman Obat untuk Mengatasi Rematik
& Asam Urat. Jakarta: AgroMedia.
Widyatuti, W. 2008. Terapi Komplementer dalam
Keperawatan. Diakses dari :
[Link]
Wijayakusuma, H. 2008. Ramuan Lengkap Herbal
Tahlukkan Penyakit. Jakarta: Pustaka Bunda.
Widyatuti, W. 2008. Terapi Komplementer Dalam
Keperawatan. [Link]/[Link] / jki/
articledownload /200/pdf_65. Diakses tanggal 20
September 2018
140

GLOSARIUM

AHNA : American Holistic Nursing

Association

Analgesi : Pereda Nyeri

Biofields : Energi Dalam Tubuh

Conscious : Pikiran Sadar

Distraksi : Menurunkan Kewaspadaan

Terhadap Nyeri

FDA : Food and Drug Admistration

Holistik : Bio, Psiko, Sosial, Dan Spiritual.

Hb : Hemoglobin

His : Kontraksi Uterus


141

Imagery : Perumpamaan

KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia.

LTC : Long-term Control

Massage : Terapi pijat

NCCAM : National Center for

Complementary/Alternative

Medicine

NHPA : Nurse Healer Profesional

Associates

Obstruksi : Sumbatan

Passage : Jalan lahir

Passager : Janin

Power : Tenaga atau kekuatan


142

Quick Relief : Cepat Mengurangi Gejala.

Sub Conscious : Kepikiran Bawah Sadar

Therapeutik Touch : Sentuhan Terapeutik

TCM : Traditional Chinese Medicine

WHO : World Health Organization.


143

RIWAYAT PENULIS

1. Zulfa Rufaida
Lahir di Pasuruan pada tanggal 6 April 1985.
Pendidikan : MI Miftachul Khoir Purwosari , (1998).
SMP Negeri 2 Purwosari, (2001). SMA Negeri 1
Lawang (2004). D3 Kebidanan Poltekkes Majapahit
Mojokerto, (2007). S1 Pendidikan Bidan Universitas
Airlangga Surabaya, (2011), S2 Ilmu Kedokteran
Klinik dengan minat Kebidanan dan Maternal
Perinatal Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
(2015). Bekerja di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Majapahit Mojokerto sejak tahun 2008 sampai
sekarang. Penulis memiliki jabatan sebagai Asisten
Ahli. Penulis beralamatkan di Warugunung 02/05
Pacet - Mojokerto. Penulis memiliki suami bernama
Bapak Irvan Widodo, S. Kep. Ns dan memiliki dua
anak dengan nama Inas Rafida Anzani dan Isma
Inayah Mufidah. Penulis dapat dihubungi di 082 231
997 466.
144

2. Dyah Permata Sari


Lahir di Madiun pada tanggal 5 Juli 1986.
Pendidikan : SDN Ngampel 01, (1998). SMP
Negeri 1 Mejayan, (2001). SMA Negeri 1 Mejayan,
(2004). D3 Kebidanan Akademi Kebidanan Dharma
Husada Kediri, (2007). D4 Bidan Pendidik Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang, (2008). S2
Ilmu Manajemen (Konsentrasi Kesehatan) STIe
Indonesia Malang, (2011). S1 Ilmu Kesehatan
Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Majapahit Mojokerto, (2015). Bekerja di Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto sejak
tahun 2008 sampai sekarang. Penulis memiliki
jabatan sebagai lektor. Penulis beralamatkan di
Perum Indraprasta Blok A1/18 Mlaten Puri,
Mojokerto. Penulis memiliki suami bernama Bapak
Tohari dan memiliki dua anak dengan nama
Muhammad Benzhema Resfi Ifdyhar dan Shevalun
Celyne Ifdyhar. Penulis dapat dihubungi di 081 556
455 786.
145

3. Sri Wardini Puji Lestari


Lahir di Nganjuk pada tanggal 8 April 1975.
Pendidikan : SDN Watudandang 01, (1987). SMP
Negeri 1 Prambon, (1990). SPK Pemda Gresik , (1993).
P2B SPK Pemda Gresik, (1994). D3 Kebidanan
Poltekkes Kepmenkes Surabaya, (2003). D4 Bidan
Pendidik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Unggul
surabaya, (2006). S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto, (2011), S2
Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat KIA Universitas
Airlangga Surabaya, (2013). Bekerja di Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto sejak tahun 2003
sampai sekarang. Penulis memiliki jabatan sebagai
Asisten Ahli. Penulis beralamatkan di Pagerngumbuk
04/01 Wonoayu - Sidoarjo. Penulis memiliki suami
bernama Bapak Adi Ariyanto, SE dan memiliki dua anak
dengan nama Zalfa Alya Salsabila dan Maulidu Abdillah
El Faaiz. Penulis dapat dihubungi di 081 235 179 91.
TERAPI KOMPLEMENTER

Buku ini menjelaskan tentang konsep


terapi komplementer khususnya terapi
pijat dan hipnoterapi. Selain itu peranan
tenaga kesehatan dalam penggunaan terapi
komplementer juga dijelaskan dengan
rinci dalam buku ini termasuk teknik
penerapannya. Buku ini dilengkapi dengan
aplikasi teknik relaksasi dan distraksi yang
diterapkan dalam proses persalinan
sehingga seorang ibu mampu melewati
proses persalinan dengan rasa sakit yang
minimal..

Penerbit:
STIKes Majapahit Mojokerto
Jalan Raya Jabon KM 02 Mojoanyar Mojokerto
Telp. 0321 329915
Fax. 0321 329915
Email: mojokertostikesmajapahit@[Link]
POTENSI JAMU SAINTIFIK SEBAGAI
ALTERNATIF PENGOBATAN MODERN
PENGERTIAN PENGOBATAN DAN OBAT
TRADISIONAL
• SUPRANATURAL : Magic
• AGAMIS : Rukyah
• KETRAMPILAN FISIK : Pijat, tusuk jarum,
sengat lebah, kompres, sangkal putung,
bekam, kerokan
• OBAT TRADISIONAL/JAMU/HERBAL/OBAT
BAHAN ALAM
KRITERIA OBAT BAHAN ALAM
SK KEPALA BADAN POM RI No. HK.00.05.4.2411
JAMU /OT OBAT HERBAL FITOFARMAKA
EMPIRIS TERSTANDAR

Khasiat Khasiat berdasarkan Khasiat berdasar


berdasarkan uji farmakologi dan uji farmakologi dan
empiris, uji toksisitas pada uji toks pd hewan,
tradisional, turun hewan serta uji klinis pd
temurun manusia
Standardisasi Standardisasi Standardisasi
kandungan kimia kandungan kimia kandungan kimia
belum bahan baku bahan baku dan
dipersyaratkan penyusun formula sediaan
Obat Bahan Alam / HERBAL
v

Obat Bahan Alam


Jamu H HHerbal
Jamu Empiris Fitofarmaka Asing (OBA Asing)
Terstandar (FF) (TA/ TI)
(JE)
JAMU TERSTANDAR (JT) Terstandar

•Jamu empiris •Penemuan bahan obat


Jamu empiris •Penemuan bahan obat alam
dengan bukti alam baru
wajib daftar, baru dg uji praklinik
ilmiah preklinik
contoh: jamu
dengan kode •Sediaan dg Bahan aktif
•Jamu empiris •Sediaan dg Bahan aktif
registrasi TR hasil fraksinasi (dengan
dengan bukti hasil fraksinasi (dengan
saat ini, bukti uji klinik)
uji klinik = bukti uji pra klinik)
Jamu empiris Fitofarmaka •Produk dengan komposisi
•Produk dengan komposisi
tidak wajib bukan tradisional (dengan
•Produk bukan tradisional (dengan
daftar, contoh bukti uji klinik)
Saintifikasi bukti uji praklinik)
jamu racikan
dan jamu jamu (Jamu Produk dengan klaim
Saintifik) Produk dengan klaim bukan
gendong, jamu bukan tradisional (dengan
tradisional (dengan bukti uji
BATTRA bukti uji klinik)
pra klinik)
EMPIRIS DALAM ISTILAH JAWA
• Ilmu Titèn – Nitèni : Mengalami atau
mengamati suatu hal untuk kemudian
menimbulkan kemampuan untuk mengingat,
mengulang, menjelaskan kepada orang lain
sehingga menjadi suatu pengetahuan umum
di masyarakat.
• Turun temurum : Pengetahuan umum yang
timbul dari ilmu titèn diturunkan dari generasi
ke generasi
RUANG LINGKUP EMPIRIS

• Apakah ada persyaratan ruang lingkup atau luas


jangkauan pengetahuan umum tersebut
(masyarakat adat, etnis tertentu, kerajaan,
provinsi?)
• Apakah ada persyaratan waktu keberadaannya
untuk dapat dikatakan empiris?
• Apakah pengetahuan umum itu harus tercatat
atau ada bukti tertulisnya
• Jika tidak ada bukti tertulis apakah pengetahuan
empiris tersebut dapat disurvai (survai
etnomedisin)?
LUAS JANGKAUAN PENGETAHUAN EMPIRIS

• Pegagan, gagan-gagan,
kaki kuda, pacul goèng,
pani goèng, antanan
gede, kos-tekosan
• Di Sleman : Reketek,
rekètèk, regèdèk (bunyi
yang timbul saat dicabut
dari ujung di atas tanah
Centella asiatica (L.) Urb. • Apakah nama di Sleman
dapat dianggap sebagai
pengetahuan empiris?
BATASAN WAKTU DISEBUT EMPIRIS

• Phaleria macrocarpa
• Dipopulerkan sebagai
bahan obat tradisional
anti kanker
• Muncul dan populer di
,asyarakat hanya mulai
tahun 2000 an
• Demikian juga kulit
manggis
APAKAH PENGETAHUAN EMPIRIS HARUS
TERCATAT?
• Lontar
• Relief candi
• Tembang atau nyanyian
• Buku :
• Cabe puyang warisan Nenek Moyang, 1965, Sudarman
Mardisiswoyo dan Harsono Radjakmangunsudarso, Penerbit
Prapanca Jakarta
• Serat Primbon Racikan Jampi Jawi, 1960, Soeroyo
Tarusuwardjo, Kraton Mangkunegaran
• Tumbuhan Berguna Indonesia, 1927, Heyne K., Terjemahan
Badan Litbang Kehutanan, Jakarta 1987
• Kloppenburg, Obat Asli Indonesia, Daftar Obat Alam (ISFI/IAI
Jateng), Jampi Puro Pakualaman
APAKAH PENGETAHUAN EMPIRIS DAPAT
DISURVAI?
• RISTOJA 2016 : Riset Tanaman Obat dan Jamu
dari Badan Litbangkes : beberapa ramuan
disebutkan untuk anti kanker; sejak kapan
masyarakat kita kenal dengan penyakit
kanker?
• Survai ramuan dukun bayi di DIY dan Kedu
Selatan (2014) : Jamu walikan, Jamu sorogan,
Jamu anton-anton muda, anton-anton tua
REALITAS DI LAPANGAN

• Sebagian besar Dokter hanya mau


menggunakan obat tradisional yang sudah
memiliki evidence based sesuai pandangan
medis
• Produk yang berdasarkan hasil uji klinis yang
valid yang dapat diterima
• Produk luar negeri banyak yang sudah
memiliki data uji klinis  Badan POM sulit
untuk menolak pendaftarannya
TAHAP PENGEMBANGAN JAMU
PENDEKATAN MEDIS REVERSE APPROACH/PEMBUKTIAN
KONVENSIONAL TERBALIK
• Pemilihan bahan tanaman • Pemilihan ramuan empiris
• Pembuatan ekstrak • Penyiapan sediaan
• Pengujian praklinik tradisional: rebusan,
• Fraksinasi-uji praklinik seduhan atau perasan
• Uji toksisitas • Observasi klinik
• Standarisasi • Uji klinik
• Uji klinik • Penentuan fraksi aktif
• Penentuan isolat aktif • Penentuan isolat aktif
SAINTIFIKASI JAMU
• Program Kemenkes untuk meningkatkan
penggunaan jamu di kalangan medis
• Membangun jejaring di kalangan dokter dan
apoteker untuk mengenal, mempelajari aspek
terapi, melakukan penelitian dan melakukan
terapi dengan jamu
• Membuat evidence based jamu dan tanaman
obat Indonesia
MEMBANGUN EVIDENCE BASED JAMU MELALUI
PROGRAM SAINTIFIKASI JAMU
• Pendekatan melalui pembuktian terbalik
• Pengujian dilakukan terhadap formula empiris yang
berasal dari buku tradisional asli seperti Serat Primbon
Jampi Jawi, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang,
Kloppenburg Versteegh
• Pengujian terhadap sediaan tradisional berupa rebusan
• Pengujian awal dilakukan dengan observasi klinik,
kemudian dilakukan uji klinik
• Penyusunan ramuan berdasarkan prinsip pendekatan
holistik
MEMBANGUN EVIDENCE BASED JAMU ATAU
TANAMAN OBAT INDONESIA
• Banyak bahan obat dari luar negeri:
• R/ Ginkgo biloba ekstr. 40 mg sebagai ginkgo flavone
glycoside 9,6 mg  Memacu daya ingat  milyaran
rupiah untuk impor
• R/ Silybi marianae Fructus, Cynarae Folium, Curcumae
longae Rhiz  Untuk kelainan fungsi hati
• Apakah benar tidak ada bahan obat tradisional
Indonesia yang potensial untuk ditetapkan evidence
based – nya?
•  Centella, Curcuma, Andrographis, Orthosiphon 
Buat evidence based sendiri
EVIDENCE BASED VALIDATED GRADING
RATIONALE
GRADE LEVEL OF EVIDENCE TINGKATAN EVIDENCE
A Strong Scientific Evidence Dasar pembuktian ilmiah
kuat
B Good Scientific Evidence Dasar pembuktian ilmiah
baik
C Unclear or Conflicting Dasar pembuktian ilmiah
Scientific Evidence tidak jelas atau kontradiksi
satu dengan yang lain
D Fair Negative Scientific Tidak terbukti adanya
Evidence dasar ilmiah
JAMU SAINTIFIK HASIL UJI KLINIK
• Penurun asam urat (daun kepel, daun tempuyung, kayu
secang, temulawak, kunyit, meniran)
• Penurun tekanan darah (seledri, pegagan, kumis kucing,
temulawak, kunyit, meniran)
• Pereda wasir (daun ungu, daun duduk, daun iler, temulawak,
kunyit, meniran)
• Pereda radang sendi (adas, kumis kucing, rumput bolong,
temulawak, kunyit, meniran)
• Penurun kolesterol (daun jati cina, daun jati belanda, daun
tempuyung, daun teh hijau, temulawak, kunyit, meniran)
• Pereda gangguan fungsi hati (Temulawak, kunyit, daun
jombang)
• Pereda gangguan lambung (Jahe, daun sembung, jinten hitam,
kunyit)
KELEMAHAN SAINTIFIKASI JAMU
• Bentuk sediaan berupa rebusan, tidak praktis,
banyak pasien yang menginginkan bentuk
sediaan farmasetis (kapsul, sirup, produk
instan)
• Harus melalui tahap ekivalensi jika ingin
diarahkan ke industrialisasi
• Banyak kalangan medis yang apriori karena
kurangnya sosialisasi
A. STRONG SCIENTIFIC EVIDENCE
• Statistically significant evidence of benefit
from > 2 RCT, or Evidence from 1 properly RCT
and 1 conducted meta analysis, or

• Evidence from multiple RCTs with a clear


majority of the properly conducted trial
showing statistically significant evidence of
benefit and with supporting evidence in basic
science, animal studies, or theory
HASIL UJI KLINIS BAHAN TUMBUHAN OBAT
INDONESIA
NAMA TINGKAT INDIKASI SENYAWA AKTIF DOSIS
BAHAN EVIDENCE
Aloe vera A Laksansia Aloin 10-30 mg/hari
Cinnamon B Karminativa Sinamaldehid 50-200 mg/hari
Plantago A Hiperkolesterol Arabinoksilan 400-3.000 mg/hari
B Konstipasi Arabinoksilan 750-2.000 mg/hari
Garlic B Hiperlipidemia Allisin (Alliin) 7-10 g/hari
Thymi B Batuk Timol, karvakrol 3 x 120 mg/hari
Andrographis B Diare Andrografolid 4 x 500 mg/hari
Orthosiphon B Diuretika Flavonoid total 3 x 20 mg/hari
Sambucus B Diuretika Flavonoid total 3 x 150 mg/hari
Curcuma B Dislipidemia Kurkuminoid 160 mg/hari
Valerian B Insomnia Valepotriate 45-90 mg/hari
HASIL UJI KLINIK FASE II
NAMA BAHAN INDIKASI DOSIS ZAT AKTIF

Daun Jambu mete Hipertensi 800 mg ekstrak Flavonoid total

Turmeric/kunyit Dispepsia Perasan 100 g Minyak atsiri

Buah pisang batu Dispepsia 15 g serbuk Sitoindosida

Buah pare Diabetes tipe II 800 mg fraksi Polipeptida


perasan

Daun ungu Wasir Rebusan daun Flavonoid


kering 30 g/hari
HASIL UJI PRAKLINIS YANG KONSISTEN

NAMA BAHAN INDIKASI BENTUK BAHAN UJI


Centella Hipertensi Fraksi etanol dari Ekstrak
air/Rebusan
Andrographis Resistensi insulin Fraksi etanol dari Ekstrak
Definsi insulin air/Rebusan
Cabe jawa Aprodisiaka Ekstrak etanol
Mengkudu Imunostimulan Ekstrak air
Daun jati belanda Obesitas Rebusan

Kedelai Hiperkolesterol Ekstrak etanol


Daun kepel Hiperurisemia Ekstrak etanol
PEMILIHAN TANAMAN
1. Bukan tanaman yang dilarang karena toksik (Kecubung,
kava-kava, tapak dara, Artemisia annua)
2. Tidak memiliki kandungan yang memabukkan atau
membuat ketagihan (ganja, koka, kartom)
3. Bukan tanaman langka (mesoyi, poncosuda, bunga
Raflesia)
4. Berfungsi ganda sebagai TOGA (sayuran, buah,
peneduh, pagar, hias)
5. Mudah dibudidayakan (Purwaceng hanya tumbuh di
tempat dengan kandungan belerang)
6. Ramah lingkungan (Jangan akar dari pohon yang besar)
TERIMA KASIH
Saintifikasi Jamu
PERATURAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 003/MENKES/PER/I/2010
TENTANG
SAINTIFIKASI JAMU DALAM PENELITIAN
BERBASIS
PELAYANAN KESEHATAN
Saintifikasi Jamu

 Saintifkasi Jamu adalah pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian


berbasis pelayanan kesehatan.

 2. Jamu adalah obat tradisional Indonesia.

 3. Obat Tradisional adalah bahan / ramuan bahan berupa bahan tumbuhan,


hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut
yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat
diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

 4.
Cont…

4. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam


bidang Kesehatan, memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

5. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang


digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
Saintifikasi Jamu
Program KemenKes berupa upaya dan proses pembuktian ilmiah
jamu melalui penelitian berbasis pelayanan Kesehatan.

Tujuan
Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata
yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk
pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan

Jamu Saintifik
Hasil penelitian program Saintifikasi jamu berupa ramuan jamu yang
dinyatakan aman dan berkhasiat setara dengan obat standar
berdasarkan hasil uji klinik
Pengobatan komplementer alternatif

Pengobatan Komplementer-Alternatif
adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi
upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh
melalui Pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan, dan
efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan
biomedik, yangbelum diterima dalam kedokteran konvensional.
Tujuan pengaturan saintifikasi jamu
a. Memberikan landasan ilmiah (evidence based ) penggunaan jamu
secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.

b. Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan


tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya
preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif melalui penggunaan jamu

c. Meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien


dengan penggunaan jamu.

d. Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat


nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik
untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan
kesehatan.
Ruang lingkup Saintifikasi jamu

(1) Ruang lingkup saintifikasi jamu diutamakan untuk upaya


preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif

(2) Saintifikasi jamu dalam rangka upaya kuratif hanya dapat


dilakukan atas permintaan tertulis pasien sebagai komplementer-
alternatif setelah pasien memperoleh penjelasan yang cukup.
Kriteria Jamu

Jamu harus memenuhi kriteria:


a. aman sesuai dengan persyaratan yang khusus untuk itu;

b. klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris yang ada

c. memenuhi persyaratan mutu yang khusus untuk itu.

Pelaksanaan
Saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan
hanya dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang
telah mendapatkan izin atau sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Peran apt dalam Saintifikasi Jamu
Peran dan tanggung jawab apoteker dalam saintifikasi jamu meliputi
proses Pembuatan/ penyediaan simplisia dan penyimpanan, Pelayanan
Resep mencakup skrining Resep, Penyiapan obat, Peracikan,
pemberian Etiket, pemberian Kemasan Obat, Penyerahan Obat, dan
Informasi Obat, Konseling.

Tujuan dan Manfaat Saintifikasi Jamu


[Link] landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu,
[Link] jejaring peneliti dan pelayanan jamu (dual system),
[Link] penyediaan jamu yang aman, bermutu dan berkhasiat.
Metodologi Penelitian Saintifikasi Jamu
1. Studi Etnomedisin & Etnofarmakologi (Data dasar).
2. Evaluasi manfaat & Keamanan

Formula Empiris Formula Baru


(Uji Klinik Fase 2- (Uji Praklinik,
Uji Klinik Fase 3) Uji Klinik Fase 1, 2 dan 3.

Orientasi:
Produk Fitofarmaka
Hasil Uji klinik Fase 1,2,3 Uji pra klinik & klinik
Aman, Khasiat, Manfaat
sesuai aturan BPOM
Studi klinik dalam saintifikasi jamu diperlukan untuk

 Upaya terobosan dalam rangka mempercepat penelitian di sisi hilir,


yakni pengujian terkait manfaat dan keamanan jamu untuk upaya
promotif, preventif, kuratif, paliatif, dan rehabilitatif, dengan
membentuk jejaring dokter yang mampu melaksanakan penelitian
berbasis pelayanan.

 Hasil-hasil penelitian tentang jamu yang sudah ada sangat diperlukan


dalam memberikan bukti ilmiah yang kokoh agar jamu dapat diterima
di pelayanan kesehatan formal.
Ramuan Jamu Saintifik (11) Hasil Riset B2P2TOOT

Rimpang kunyit Daun Kepel

Herba Meniran
Ramuan jamu
Asam urat
Rimpng
Temulawak

Herba
tempuyung Kayu Secang
Daun kumis
Rimpang kunyit
kucing

Herba Pegagan Tekanan


darah Rimpang
tinggi Temulawak

Herba meniran

Herba seledri
Rimpang
Temulawak
Rimpang
kunyit Daun
Jati Cina

Kolesterol
Herba
tinggi
Tempuyung
Herba
meniran

Daun jati
Herba
blanda
Teh hijau
Batu Saluran
Obesitas
kencing

Rimpang temulawak
Rimpang kunyit
Herba tempuyung
Rimpang alang alang
Daun kemuning
Daun kejibeling
Daun jati blanda
Daun kumis kucing
Akar kelembak
Herba meniran
Herba tempuyung
Wasir Radang sendi
 Rimpang kunyit  Rimpang temulawak
 Rimpang temulawak  Rimpang kunyit
 Daun ungu  Daun kumis kucing
 Daun duduk  Herba meniran
 Daun iler  Herba rumput bolong
 Herba meniran  Biji adas
Kencing manis Kebugaran

 Rimpang temulawak  Rimpang temulawak


 Kayu manis  Rimpang kunyit
 Herba sambiloto  Herba meniran
 Daun Salam

Fungsi hati Lambung

 Rimpang temulawak  Rimpang jahe


 Rimpang kunyit  Rimpang kunyit
 Daun jombang  Jinten hitam
 Herba sembung
Saintifikasi jamu

Simplisia Khasiat
Budidaya bahan baku berkualitas Uji di tempat pelayanan
Budidaya Kesehatan
Panen
Pasca panen Monitoring

Jamu
Saintifik
Kementerian Kesehatan

Pusat pengelolaan Pasca Panen TO (P4TO)


Pusat Ekstrak daerah (PED)

Ada di banyak daerah di Indonesia


( [Link], Sumatra, Jawa, Bali)

Menjadi pusat
Menyediakan BBOT Meningkatkan nilai
pembelajaran
simplisia atau ekstrak ekonomi tanaman obat
pengolahan pasca
yang berkualitas dan yang berpotensi
panen tanaman obat di
memenuhi standar dikembangkan didaerah
daerah
PT BT kerja sama dengan P4TO

Tempat (menerima fasilitas dari [Link]:


Jahe merah 1. Kota Pekelongan
Panen
(penanam 2. Kab Bandung
petani)
Diproses pada P4TO
3. Kab Bondowoso
4. Prop. Bali
5. Kab. Mesuji
6. Kab Solik SElatan

Kualitas bahan baku


yang baik
Mekanisme studi etnofarmakologi

1. Studi etnofarmakologi sebagai dasar untuk mendapakan base-line data terkait


penggunaan tanaman secara tradisional  tanaman obat menjadi jamu
tersaintifikasi

2. Seleksi formula jamu yang potensial untuk terapi komplementer

3. Studi praklinik untuk membuktikan khasiat dan keamanan pada hewan coba.

4. Studi klinik guna mendapatkan bukti terkait manfaat & keamanan bagi pasien.

“Jamu yang terbukti berkhasiat dan aman dapat diintegrasikan dalam


sistem pelayanan kesehatan,”
Terimakasih
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 15 TAHUN 2018
TENTANG
PENYELENGGARAAN
PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL KOMPLEMENTER

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 13, Pasal 20


ayat (3), Pasal 26 ayat (3), dan Pasal 65 Peraturan
Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan
Kesehatan Tradisional, perlu menetapkan Peraturan Menteri
Kesehatan tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 tentang
Pelayanan Kesehatan Tradisional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 369,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5643);
-2-

3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015


tentang Organisasi dan Tatalaksana Kementerian
Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 1508);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG
PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN
TRADISIONAL KOMPLEMENTER.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Pelayanan Kesehatan Tradisional adalah pengobatan
dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang
mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun
temurun secara empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku di masyarakat.
2. Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
adalah penerapan kesehatan tradisional yang
memanfaatkan ilmu biomedis dan biokultural dalam
penjelasannya serta manfaat dan keamanannya
terbukti secara ilmiah.
3. Tenaga Kesehatan Tradisional adalah setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan
tradisional serta memiliki pengetahuan dan/atau
keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
tradisional yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
tradisional.
6. Klien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi
masalah kesehatan pada Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer.
-3-

7. Griya Sehat adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Tradisional yang menyelenggarakan perawatan/
pengobatan tradisional dan komplementer oleh Tenaga
Kesehatan Tradisional.
8. Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan
yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan
mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari
bahan tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan
sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
9. Surat Tanda Registrasi Tenaga Kesehatan Tradisional
yang selanjutnya disingkat STRTKT adalah bukti
tertulis pemberian kewenangan untuk memberikan
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer.
10. Surat Izin Praktik Tenaga Kesehatan Tradisional, yang
selanjutnya disingkat SIPTKT adalah bukti tertulis
yang diberikan kepada Tenaga Kesehatan Tradisional
dalam pemberian Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer.
11. Instansi Pemberi Izin adalah instansi atau satuan kerja
yang ditunjuk oleh pemerintah daerah kabupaten/kota
untuk menerbitkan izin sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
12. Organisasi Profesi Tenaga Kesehatan Tradisional yang
selanjutnya disebut sebagai Organisasi Profesi adalah
wadah untuk meningkatkan dan/atau
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan,
martabat, dan etika profesi Tenaga Kesehatan
Tradisional.
13. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia
yang memegang kekuasaan pemerintahan negara
Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden
dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
-4-

14. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai


unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang
memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah otonom.
15. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Pasal 2
Pengaturan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer bertujuan untuk:
a. menjamin terselenggaranya Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer yang aman, bermutu, dan
efektif;
b. memberikan acuan dalam penyelenggaraan Pelayanan
Kesehatan Tradisional Komplementer bagi Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, fasilitas
pelayanan kesehatan, dan Tenaga Kesehatan
Tradisional; dan
c. terlaksananya pembinaan dan pengawasan secara
berjenjang oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
dan lintas sektor terkait.

BAB II
PELAYANAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 3
(1) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
dilakukan oleh Tenaga Kesehatan Tradisional di
fasilitas pelayanan kesehatan tradisional.
-5-

(2) Selain dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan


tradisional, Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dilakukan oleh Tenaga Kesehatan Tradisional di
fasilitas pelayanan kesehatan lain berupa Pelayanan
Kesehatan Tradisional integrasi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 4
(1) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer harus
memenuhi Kriteria:
a. dapat dipertanggungjawabkan keamanan dan
manfaatnya mengikuti kaidah-kaidah ilmiah
bermutu dan digunakan secara rasional dan tidak
bertentangan dengan norma agama dan norma
yang berlaku di masyarakat;
b. tidak membahayakan kesehatan Klien;
c. memperhatikan kepentingan terbaik Klien; dan
d. memiliki potensi pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, penyembuhan,
pemulihan kesehatan, dan meningkatkan kualitas
hidup Klien secara fisik, mental, dan sosial.
(2) Tidak bertentangan dengan norma agama
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berupa
tidak memberikan pelayanan dalam bentuk
mistik/klenik, dan/atau menggunakan pertolongan
makhluk gaib.
(3) Tidak bertentangan dengan norma yang berlaku di
masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a berupa tidak melanggar nilai-nilai kesusilaan,
kesopanan, hukum, dan budaya.

Pasal 5
(1) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
mempunyai ciri khas:
a. konsep Pelayanan Kesehatan Tradisional;
b. berbasis budaya;
-6-

c. prosedur penetapan kondisi kesehatan individu


(prosedur diagnosis);
d. penetapan kondisi kesehatan individu (diagnosis);
dan
e. tatalaksana perawatan/pengobatan.
(2) Konsep Pelayanan Kesehatan Tradisional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. adanya gangguan kesehatan individu disebabkan
oleh ketidakseimbangan unsur fisik, mental,
spiritual, sosial, dan budaya;
b. manusia memiliki kemampuan beradaptasi dan
penyembuhan diri sendiri (self healing); dan
c. penyehatan dilakukan dengan pendekatan holistik
(menyeluruh) dan alamiah yang bertujuan untuk
menyeimbangkan kembali antara kemampuan
adaptasi dengan penyebab gangguan kesehatan.
(3) Berbasis budaya sebagaimana yang dimaksud pada
ayat (1) butir b memiliki arti bahwa Pelayanan
Kesehatan Tradisional Komplementar berasal dari
tradisi budaya yang turun temurun dari suatu
masyarakat tertentu.
(4) Prosedur penetapan kondisi kesehatan individu
(prosedur diagnosis) sebagaimana yang dimaksud
pada ayat (1) huruf c memiliki arti bahwa tata cara
pemeriksaan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer didasarkan pada kemampuan
wawancara, penglihatan, pendengaran, penciuman,
dan perabaan serta dapat dibantu dengan alat dan
teknologi yang bekerja sesuai dengan konsep
kesehatan tradisional.
-7-

(5) Penetapan kondisi kesehatan individu (diagnosis)


sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf d
dilakukan berdasarkan kesimpulan yang diperoleh
melalui prosedur penetapan kondisi kesehatan
individu dan konsep emik, yaitu pernyataan kondisi
kesehatan individu yang didasarkan pada pengalaman
subjektif Klien dan pandangan masyarakat terhadap
gangguan kesehatan tersebut.
(6) Tatalaksana perawatan/pengobatan sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (1) huruf e memiliki arti bahwa
perawatan/pengobatan dilakukan dengan
menggunakan bahan alam, teknik manual, teknik olah
pikir, dan teknik energi serta dapat menggunakan alat
dan teknologi sesuai dengan ciri kesehatan
tradisional.

Bagian Kedua
Cara Pengobatan/Perawatan

Pasal 6
(1) Berdasarkan cara Pengobatan/Perawatan, Pelayanan
Kesehatan Tradisional Komplementer dilakukan
dengan menggunakan:
a. keterampilan;
b. ramuan; atau
c. kombinasi dengan memadukan antara
keterampilan dan ramuan.
(2) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer yang
menggunakan cara keterampilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diklasifikasi
menjadi:
a. teknik manual;
b. terapi energi; dan
c. terapi olah pikir.
-8-

(3) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer yang


menggunakan cara ramuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b dapat menggunakan Obat
Tradisional.
(4) Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer yang
menggunakan cara kombinasi dengan memadukan
antara keterampilan dan ramuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kombinasi
Pelayanan Kesehatan Tradisional yang memiliki
kesamaan, keharmonisan, dan kecocokan yang
merupakan satu kesatuan sistem keilmuan kesehatan
tradisional.

Pasal 7
(1) Teknik manual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (2) huruf a merupakan teknik
perawatan/pengobatan yang berdasarkan manipulasi
dan gerakan dari satu atau beberapa bagian tubuh.
(2) Terapi energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (2) huruf b merupakan teknik
perawatan/pengobatan dengan menggunakan medan
energi baik dari luar maupun dari dalam tubuh itu
sendiri.
(3) Terapi olah pikir sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6 ayat (2) huruf c merupakan teknik
perawatan/pengobatan yang bertujuan memanfaatkan
kemampuan pikiran untuk memperbaiki fungsi tubuh.

Bagian Ketiga
Tenaga Kesehatan Tradisional

Pasal 8
(2) Berdasarkan kualifikasi pendidikannya, Tenaga
Kesehatan Tradisional terdiri atas:
a. Tenaga Kesehatan Tradisional profesi; dan
b. Tenaga Kesehatan Tradisional vokasi.
-9-

(3) Tenaga Kesehatan Tradisional profesi sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan Tenaga
Kesehatan Tradisional lulusan pendidikan tinggi
bidang kesehatan tradisional paling rendah program
pendidikan profesi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(4) Tenaga Kesehatan Tradisional vokasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan Tenaga
Kesehatan Tradisional lulusan pendidikan tinggi paling
rendah program diploma tiga bidang kesehatan
tradisional sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 9
(1) Tenaga Kesehatan Tradisional dalam memberikan
pelayanan kesehatan tradisional:
a. memilah dan mengevaluasi kondisi Klien dalam
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
yang dapat dilakukan oleh Tenaga Kesehatan
Tradisional atau masalah kesehatan tradisional
lain yang harus dirujuk;
b. hanya menggunakan Obat Tradisional yang
mempunyai izin edar atau Obat Tradisional
racikan sendiri, dan tidak memberikan dan/atau
menggunakan bahan kimia obat, termasuk obat
bebas, obat bebas terbatas, obat keras, narkotika,
dan psikotropika, dan bahan berbahaya;
c. tidak melakukan tindakan dengan menggunakan
radiasi;
d. tidak melakukan tindakan invasif dan
menggunakan alat kedokteran kecuali sesuai
dengan kompetensi dan kewenangannya; dan
e. tidak menjual dan/atau mengedarkan Obat
Tradisional racikan sendiri tanpa izin sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
-10-

(2) Dalam memilah dan mengevaluasi kondisi Klien


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, Tenaga
Kesehatan Tradisional dapat menggunakan alat
penunjang diagnostik kedokteran tertentu sesuai
dengan metode, kompetensi, dan kewenangan.

Pasal 10
(1) Tenaga Kesehatan Tradisional warga negara asing
dapat didayagunakan dalam Pelayanan Kesehatan
Trandisional Komplementer dalam rangka alih ilmu
pengetahuan dan teknologi.
(2) Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Tradisional warga
negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan atas permintaan institusi pendidikan
kesehatan tradisional dan Griya Sehat yang
dipergunakan sebagai wahana pendidikan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB III
FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 11
(1) Tempat penyelenggaraan pelayanan kesehatan
tradisional oleh Tenaga Kesehatan Tradisional meliputi
praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional dan
fasilitas pelayanan kesehatan tradisional.
(2) Fasilitas pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan Griya Sehat.
-11-

Pasal 12
(1) Praktik mandiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11 ayat (1) merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
yang digunakan secara perseorangan oleh Tenaga
Kesehatan Tradisional profesi atau Tenaga Kesehatan
Tradisional vokasi.
(2) Tenaga Kesehatan Tradisional vokasi dalam
menyelenggarakan praktik mandiri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan
lingkup terbatas sesuai dengan kompetensinya.
(3) Lingkup terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berupa:
a. pelayanan kesehatan tradisional ramuan, atau 1
(satu) jenis metode dari teknik ketrampilan
tertentu; dan
b. melanjutkan terapi yang dilakukan oleh Tenaga
Kesehatan Tradisional profesi.
(4) Dalam hal rujukan dari Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi meragukan, Tenaga Kesehatan Tradisional
vokasi yang menyelenggarakan praktik mandiri
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
berkonsultasi dengan Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi untuk melakukan konfirmasi
pengobatan/perawatan.

Pasal 13
(1) Griya Sehat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
ayat (2) merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
tradisional yang digunakan oleh paling sedikit:
a. 2 (dua) orang Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi; atau
b. 1 (satu) orang Tenaga Kesehatan Tradisional
profesi dan 1 (satu) orang Tenaga Kesehatan
Tradisional vokasi.
-12-

(2) Tenaga Kesehatan Tradisional profesi dan Tenaga


Kesehatan Tradisional vokasi yang menjalankan
praktik di Griya Sehat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berfungsi sebagai pelaksana Pelayanan
Kesehatan Tradisional sesuai dengan kompetensi dan
kewenangannya.
(3) Griya Sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan kesehatan
tradisional atau jejaring fasilitas pelayanan kesehatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 14
(1) Griya Sehat menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan yang bersifat pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, penyembuhan, dan
pemulihan kesehatan.
(2) Selain menyelenggarakan pelayanan perorangan
bersifat pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan,
penyembuhan, dan pemulihan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Griya Sehat
dapat melakukan pelayanan kesehatan perorangan
yang bersifat peningkatan kualitas hidup.
(3) Pelayanan perorangan yang bersifat peningkatan
kualitas hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
ditujukan untuk penyeimbangan kondisi fisik, mental,
spiritual, sosial dan budaya berdasarkan pohon
keilmuan kesehatan tradisional.
(4) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan dalam bentuk rawat jalan.
(5) Griya Sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat melakukan Beberapa cara perawatan/
pengobatan kesehatan tradisional.

Pasal 15
(1) Griya Sehat dapat dimiliki oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, atau masyarakat.
-13-

(2) Griya Sehat yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan


Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) didirikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Griya Sehat yang dimiliki oleh masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berbadan
usaha atau berbadan hukum.

Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan dan
klasifikasi Griya Sehat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
13 sampai dengan Pasal 15 diatur dalam Peraturan
Menteri.

Bagian Kedua
Persyaratan

Pasal 17
(1) Praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional
maupun Griya Sehat harus memenuhi persyaratan
lokasi, bangunan dan ruangan, prasarana, peralatan,
dan ketenagaan.
(2) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), untuk Griya Sehat harus memenuhi persyaratan
pengorganisasian.

Pasal 18
Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 19
(1) Persyaratan bangunan dan ruangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) meliputi:
a. bersifat permanen dan tidak bergabung fisik
dengan tempat tinggal atau unit kerja lainnya;
-14-

b. memenuhi persyaratan administratif dan


persyaratan teknis bangunan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. memenuhi persyaratan lingkungan sehat sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
d. memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan,
dan kemudahan dalam pemberian pelayanan
serta pelindungan dan keselamatan bagi semua
orang termasuk orang berkebutuhan khusus,
anak-anak, dan orang lanjut usia.
(2) Tidak bergabung fisik dengan tempat tinggal atau unit
kerja lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a, merupakan terpisahnya akses pelayanan
kesehatan dengan rumah tinggal atau unit kerja
lainnya.
(3) Persyaratan bangunan dan ruangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk praktik mandiri paling
sedikit terdiri atas:
a. ruang pendaftaran/ruang tunggu;
b. ruang administrasi;
c. ruang konsultasi; dan
d. ruang mandi/WC.
(4) Persyaratan bangunan dan ruangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk Griya Sehat paling
sedikit terdiri atas:
a. ruang pendaftaran/ruang tunggu;
b. ruang administrasi;
c. ruang konsultasi;
d. ruang pengobatan tradisional;
e. ruang mandi/wc; dan
f. ruangan lainnya sesuai dengan kebutuhan
pelayanan.
-15-

(5) Ruang pendaftaran/ruang tunggu sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) huruf a dan ayat (4) huruf a,
serta ruang administrasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) huruf b dan ayat (4) huruf b dapat
digabungkan namun harus terdapat pemisahan yang
jelas antar fungsinya.
(6) Ruang konsultasi sebagaimana dimaksud dengan ayat
(4) huruf c dan ruang pengobatan tradisional
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf d dapat
digabungkan namun harus terdapat pemisahan yang
jelas antar fungsi.
(7) Dalam hal Pelayanan Kesehatan Tradisional
menggunakan cara ramuan harus memiliki ruang
penyimpanan Obat Tradisional dan ruang racikan
Obat Tradisional, yang dapat digabung namun harus
terdapat pemisahan yang jelas antar fungsi.

Pasal 20
(1) Prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) terdiri atas:
a. instalasi air;
b. instalasi listrik;
c. instalasi sirkulasi udara;
d. sarana pengelolaan limbah, untuk fasilitas
pelayanan kesehatan tradisional yang
menghasilkan limbah medis;
e. alat pencegahan dan penanggulangan kebakaran;
dan
f. prasarana lainnya sesuai kebutuhan.
(2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik.

Pasal 21
(1) Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (1) meliputi:
a. memenuhi standar mutu, keamanan, dan
keselamatan;
-16-

b. untuk alat kesehatan harus memiliki izin edar


sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
c. diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh institusi
penguji dan pengkalibrasi yang berwenang.
(2) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digunakan sesuai dengan kebutuhan Pelayanan
Kesehatan Tradisional demi kepentingan terbaik Klien.
(3) Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa:
a. peralatan administrasi meliputi meja, kursi, alat
tulis kantor, catatan tindakan Pelayanan
Kesehatan Tradisional dan formulir rujukan;
b. peralatan yang digunakan dalam Pelayanan
Kesehatan Tradisional, sesuai dengan jenis
pelayanan dan kewenangan Tenaga Kesehatan
Tradisional dalam Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer; dan
c. peralatan tindakan paling sedikit berupa tempat
tidur sesuai dengan standar.

Pasal 22
(1) Ketenagaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (1) meliputi
a. Tenaga Kesehatan Tradisional; dan/atau
b. tenaga nonkesehatan.
(2) Tenaga Kesehatan Tradisional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a harus memiliki STRTKT dan
SIPTKT sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
-17-

(3) Tenaga Kesehatan Tradisional sebagaimana dimaksud


pada ayat (2) dalam memberikan Pelayanan Kesehatan
Tradisional harus melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, sesuai dengan
kompetensi dan kewenangannya, wajib mengikuti
standar profesi, standar pelayanan dan standar
operasional prosedur, serta menaati kode etik dan
ketentuan disiplin profesional.
(4) Tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b harus dapat mendukung kegiatan
Pelayanan Kesehatan Tradisional secara administratif.

Pasal 23
(1) Pengorganisasian Griya Sehat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17 ayat (2) paling sedikit memiliki
struktur organisasi terdiri atas:
a. pimpinan Griya Sehat;
b. penanggung jawab Pelayanan Kesehatan
Tradisional; dan
c. penanggung jawab tata usaha.
(2) Pimpinan Griya Sehat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a merupakan seorang Tenaga Kesehatan
Tradisional yang juga merupakan penanggungjawab
atas seluruh kegiatan di griya sehat.
(3) Dalam hal belum tersedia Tenaga Kesehatan
Tradisional, pimpinan Griya Sehat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dapat digantikan oleh dokter
yang memiliki kewenangan tambahan di bidang
kesehatan tradisional komplementer yang diakui oleh
pemerintah.

Bagian Ketiga
Perizinan

Pasal 24
(1) Setiap Griya Sehat harus memiliki izin
penyelenggaraan.
-18-

(2) Izin penyelenggaraan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) diberikan oleh Institusi Pemberi Izin.
(3) Izin penyelenggaraan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun
dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi
persyaratan.

Pasal 25
(1) Praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional tidak
memerlukan izin penyelenggaraan.
(2) Izin penyelenggaraan praktik mandiri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) melekat pada SIPTKT yang
dikeluarkan oleh Instansi Pemberi Izin.

Pasal 26
(1) Untuk mendapatkan izin penyelenggaraan Griya Sehat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1),
penyelenggara Griya Sehat harus mengajukan
permohonan kepada Instansi Pemberi Izin dengan
melampirkan:
a. fotokopi identitas lengkap pemohon;
b. fotokopi denah ruang pelayanan dan peta lokasi;
c. fotokopi akta badan hukum;
d. struktur organisasi dan ketenagaan;
e. surat pernyataan kesediaan sebagai penanggung
jawab; dan
f. surat rekomendasi Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
(2) Dalam hal izin penyelenggaraan Griya Sehat diberikan
oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, surat
rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf f tidak diperlukan.
(3) Contoh surat permohonan izin penyelenggaraan dan
surat izin penyelenggaraan Griya Sehat tercantum
dalam Formulir 1 dan Formulir 2 terlampir.
-19-

Pasal 27
(1) Instansi Pemberi Izin harus mengeluarkan keputusan
atas permohonan izin penyelenggaraan, paling lama 1
(satu) bulan sejak diterima permohonan izin.
(2) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa penerbitan izin, penolakan izin, atau
pemberitahuan untuk kelengkapan berkas.

Pasal 28
(1) Dalam hal berkas yang diajukan pemohon belum
lengkap, pemberitahuan untuk kelengkapan berkas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) harus
disampaikan Instansi Pemberi Izin kepada
penyelenggara Griya Sehat dalam waktu paling lama 1
(satu) bulan sejak diterima berkas.
(2) Penyelenggara griya sehat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dalam jangka waktu 60 (enam puluh)
hari sejak pemberitahuan disampaikan, harus segera
melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi.
(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) penyelenggara Griya Sehat tidak dapat
memenuhi persyaratan, Instansi Pemberi Izin
mengeluarkan surat penolakan atas permohonan izin
penyelenggaraan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari.

Pasal 29
(1) Perpanjangan izin penyelenggaraan Griya Sehat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) harus
diajukan pemohon paling lama 3 (tiga) bulan sebelum
habis masa berlaku izin penyelenggaraan.
(2) Dalam waktu 1 (satu) bulan sejak permohonan
perpanjangan izin sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diterima, Institusi Pemberi Izin harus memberi
keputusan berupa penerbitan izin atau penolakan izin.
-20-

(3) Dalam hal permohonan perpanjangan izin


sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditolak, Institusi
Pemberi Izin wajib memberikan alasan penolakan
secara tertulis.

Pasal 30
(1) Perubahan izin penyelenggaraan harus dilakukan
apabila terjadi:
a. perubahan nama;
b. perubahan jenis badan hukum; dan/atau
c. perubahan alamat dan tempat.
(2) Perubahan izin penyelenggaraan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dilakukan
dengan mengajukan permohonan izin penyelenggaraan
serta harus melampirkan:
a. surat pernyataan penggantian nama dan/atau
jenis badan hukum yang ditandatangani oleh
pemilik;
b. perubahan akta notaris; dan
c. izin penyelenggaraan yang asli, sebelum
perubahan.
(3) Perubahan izin penyelenggaraan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan dengan
mengajukan permohonan izin penyelenggaraan, serta
harus melampirkan:
a. surat pernyataan penggantian alamat dan tempat
Griya Sehat yang ditandatangani oleh pemilik;
dan
b. izin penyelenggaraan yang asli, sebelum
perubahan.
(4) Dalam hal terdapat perubahan pimpinan/
penanggungjawab pelayanan, Giya Sehat harus
melaporkan kepada Institusi Pemberi Izin.
-21-

Bagian Keempat
Papan Nama

Pasal 31
(1) Praktik mandiri Tenaga Kesehatan Tradisional atau
Griya Sehat harus memasang papan nama.
(2) Papan nama untuk praktik mandiri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dibuat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Papan nama untuk Griya Sehat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memuat:
a. tulisan “Griya Sehat”;
b. nama Griya Sehat;
c. klasifikasi Griya Sehat; dan
d. nomor surat izin penyelenggaraan Griya Sehat.
(4) Papan nama sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
harus memenuhi persyaratan:
a. berukuran panjang 90 cm x lebar 60 cm;
b. posisi horizontal;
c. warna dasar putih;
d. warna tulisan hijau muda shine 60 yellow 100;
e. ditulis dengan huruf latin; dan
f. menggunakan bahasa Indonesia.
(5) Selain memasang papan nama sebagaimana dimaksud
pada ayat (3), Griya Sehat wajib memasang papan
daftar nama Tenaga Kesehatan Tradisional yang
memberikan Pelayanan Kesehatan Tradisional di Griya
Sehat yang bersangkutan.

Bagian Kelima
Hak dan Kewajiban Griya Sehat

Pasal 32
Setiap Griya Sehat memiliki kewajiban:
a. memberikan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer;
b. memasang papan nama;
-22-

c. membuat dan melaporkannya kepada Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota, daftar Tenaga Kesehatan
Tradisional dan tenaga kesehatan lain yang bekerja
dengan menyertakan nomor STRTKT dan SIPTKT bagi
tenaga kesehatan tradisional; dan
d. melaksanakan pencatatan untuk penyakit-penyakit
tertentu dan melaporkan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan program
pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 33
Setiap Griya Sehat memiliki hak:
a. menerima imbalan biaya;
b. melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam
mengembangkan pelayanan;
c. mendapatkan perlindungan hukum dalam
melaksanakan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer; dan
d. memasang iklan dan publikasi pelayanan kesehatan
yang ada di Griya Sehat sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB IV
ALAT DAN OBAT KESEHATAN TRADISIONAL

Pasal 34
(1) Setiap Tenaga Kesehatan Tradisional hanya boleh
menggunakan Alat Kesehatan Tradisional sesuai
dengan metode, kompetensi, dan kewenangannya.
(2) Alat Kesehatan Tradisional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) merupakan alat yang digunakan dalam
Pelayanan Kesehatan Tradisional sesuai bidang
keilmuannya.
(3) Alat kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan mutu,
keamanan, dan/atau khasiat/kemanfaatan.
-23-

Pasal 35
(1) Setiap Obat Tradisional yang digunakan pada
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer harus
aman, bermutu, dan bermanfaat.
(2) Obat Tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berupa Obat Tradisional yang memiliki izin edar,
disaintifikasi, dan/ atau Obat Tradisional lain yang
ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 36
Obat Tradisional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35
harus memenuhi persyaratan, meliputi:
a. memiliki data keamanan;
b. memiliki data manfaat bersumber dari literatur yang
dapat dipertanggungjawabkan;
c. memenuhi persyaratan mutu sesuai farmakope herbal
Indonesia atau farmakope lain yang diakui;
d. sediaan berbentuk simplisia atau sediaan jadi Obat
Tradisional;
e. bahan baku terutama berasal dari Indonesia;
f. diproduksi oleh industri/usaha Obat Tradisional yang
sudah berizin serta memiliki nomor izin edar; dan
g. Obat Tradisional racikan sendiri dengan bahan baku
yang bersumber dari industri yang telah melaksanakan
cara pembuatan Obat Tradisional yang baik.

BAB V
RUJUKAN

Pasal 37
(1) Setiap Tenaga Kesehatan Tradisional dalam
menyelenggarakan upaya Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer harus melaksanakan sistem
rujukan.
-24-

(2) Sistem rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilaksanakan berdasarkan ketersediaan kemampuan,
kewenangan, dan/atau sarana prasarana yang
dimiliki.

Pasal 38
Setiap rujukan yang dilakukan oleh Tenaga Kesehatan
Tradisional harus mendapatkan persetujuan dari Klien
atau keluarga Klien.

Pasal 39
(1) Rujukan dapat dilakukan antar Griya Sehat, dari
Griya Sehat ke fasilitas pelayanan kesehatan
konvensional, atau dari fasilitas pelayanan kesehatan
konvensional ke Griya Sehat.
(2) Rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dilakukan berdasarkan prinsip:
a. Tenaga Kesehatan Tradisional harus merujuk
kliennya kepada fasilitas pelayanan kesehatan
konvensional bila Klien tersebut mengalami
kegawatdaruratan atau penyakit yang bila
terlambat diobati secara medis akan
memperburuk kondisi dan membahayakan
jiwanya;
b. Tenaga Kesehatan Tradisional hanya menangani
kondisi tersebut sebatas sebagai tindakan
komplementer terhadap pengobatan medis;
c. atas persetujuan Klien, tenaga medis dapat
merujuk Klien kepada Tenaga Kesehatan
Tradisional bila akan menggunakan Pelayanan
Kesehatan Tradisional sebagai komplementer
terhadap pengobatan medis yang diberikan; dan
d. dalam menangani Klien yang dirujuk dari Griya
Sehat, dokter penerima rujukan dapat
berkomunikasi dengan Tenaga Kesehatan
Tradisional perujuk berdasarkan kepentingan
Klien.
-25-

BAB VI
PENCATATAN DAN PELAPORAN

Pasal 40
(1) Setiap Tenaga Kesehatan Tradisional yang
menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer wajib melaksanakan pencatatan dan
pelaporan.
(2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus didokumentasikan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan secara berkala kepada dinas kesehatan
daerah kabupaten/kota untuk selanjutnya dilaporkan
secara berjenjang kepada dinas kesehatan daerah
provinsi, dan Kementerian Kesehatan.

Pasal 41
(1) Pencatatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40
ayat (1) terdiri atas catatan Klien dan catatan sarana.
(2) Catatan Klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa rekam medik.
(3) Catatan Klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit meliputi:
a. identitas;
b. kunjungan baru dan kunjungan lama;
c. masalah kesehatan;
d. tindakan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer/jenis terapi; dan
e. keterangan termasuk nasihat atau anjuran.
(4) Catatan sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. catatan Klien;
b. buku catatan/register Klien; dan
c. formulir pelaporan dan data.
-26-

(5) Contoh buku catatan /register Klien tercantum dalam


Formulir 3 terlampir yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 42
(1) Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat
(2) paling sedikit memuat:
a. Jumlah, jenis kelamin, dan kelompok umur Klien;
b. jenis masalah kesehatan; dan
c. modalitas terapi.
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara berkala paling sedikit 3 (tiga) bulan
sekali.
(3) Contoh formulir pelaporan dan data Klien tercantum
dalam Formulir 4 dan Formulir 5 terlampir yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.

BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 43
(1) Menteri, kepala dinas kesehatan daerah provinsi, dan
kepala dinas kesehatan daerah kabupaten/kota
melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan dalam rangka:
a. mewujudkan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer yang aman dan tidak bertentangan
dengan norma yang berlaku;
b. memenuhi kebutuhan masyarakat akan
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
yang memenuhi persyaratan keamanan dan
kemanfaatan; dan
-27-

c. menjamin terpenuhinya atau terpeliharanya


persyaratan keamanan dan kemanfaatan
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan terhadap:
a. Tenaga Kesehatan Tradisional;
b. Griya Sehat;
c. tindakan dan metode/modalitas;
d. ramuan/Obat Tradisional, Alat Kesehatan
Tradisional, dan teknologi kesehatan tradisional;
e. iklan dan atau publikasi; dan
f. wahana pendidikan kesehatan tradisional.
(4) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan melalui:
a. advokasi dan sosialisasi;
b. pembekalan peningkatan pemahaman Tenaga
Kesehatan Tradisional terhadap peraturan
perundang-undangan terkait penyelenggaraan
Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer;
c. bimbingan teknis; dan
d. pemantauan dan evaluasi.
(5) Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri, kepala
dinas kesehatan daerah provinsi, dan kepala dinas
kesehatan daerah kabupaten/kota dapat
mengikutsertakan Organisasi Profesi atau asosiasi
terkait, dan konsil yang membidangi Tenaga
Kesehatan Tradisional.

Pasal 44
(1) Dalam melakukan pengawasan, Menteri, kepala dinas
kesehatan daerah provinsi, dan kepala dinas
kesehatan daerah kabupaten/kota dapat mengangkat
Tenaga Pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
-28-

(2) Tenaga Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap
segala sesuatu yang berhubungan dengan
penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional
Komplementer.

Pasal 45
(1) Pengawasan terhadap penggunaan Obat Tradisional
pada penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer dilaksanakan oleh badan
yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang
pengawasan obat dan makanan.
(2) Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) badan yang menyelenggarakan
tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan
makanan dapat melibatkan instansi dan Organisasi
Profesi atau asosiasi terkait.

Pasal 46
(1) Menteri, gubernur, kepala dinas kesehatan daerah
provinsi, Bupati/Walikota, kepala dinas kesehatan
daerah kabupaten/kota, dan kepala badan yang
menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang
pengawasan obat dan makanan dapat menjatuhkan
sanksi administratif terhadap Griya Sehat dan/atau
Tenaga Kesehatan Tradisional yang melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan Peraturan Menteri ini
sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. rekomendasi pencabutan STRTKT dan SIPTKT;
atau
d. pencabutan STRTKT dan SIPTKT; dan
e. pencabutan izin penyelenggaraan.
-29-

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 47
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
a. Pembinaan profesi dilakukan oleh Menteri sampai
dengan terbentuknya Organisasi Profesi terkait; dan
b. Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer dapat
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain selain Tenaga
Kesehatan Tradisional sesuai dengan kompetensi dan
kewenangan konvensionalnya untuk jangka waktu 5
(lima) tahun setelah Peraturan Menteri Kesehatan ini
diundangkan.

Pasal 48
Griya Sehat yang menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan
Tradisional Komplementer sebelum peraturan Menteri ini
ditetapkan, harus menyesuaikan dengan ketentuan
peraturan Menteri ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak
peraturan Menteri ini ditetapkan.

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 49
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
-30-

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Menteri ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 2018

MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

NILA FARID MOELOEK

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 23 Juli 2018

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

WIDODO EKATJAHJANA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2018 NOMOR 940

Kepala Biro Hukum dan Direktur Jenderal Sekretaris Jenderal


Organisasi Pelayanan Kesehatan
tanggal tanggal tanggal
Paraf Paraf Paraf
-31-

LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 15 TAHUN 2018
TENTANG
PENYELENGGARAAN PELAYANAN
KESEHATAN TRADISIONAL
KOMPLEMENTER

Formulir 1
Contoh surat permohonan izin penyelenggaraan Griya Sehat

Nomor :
Lampiran :
Perihal : Permohonan Izin Penyelenggaraan
Griya Sehat

Kepada Yth.
Bupati Kabupaten/Kota ...
cq. Kepala Dinas Kesehatan/Unit
Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten/Kota...
Di
...................

Bersama ini kami Penanggung Jawab pelayanan kesehatan tradisional mengajukan


permohonan izin penyelenggaraan Griya Sehat dengan data-data sebagai berikut:

1. Penanggungjawab Pelayanan
Nama :
Alamat lengkap :
Nomor SIPTKT :
Nomor Kartu Tanda Penduduk :
Alamat dan Nomor Telepon/Hp :
NPWP :
2. Griya Sehat
Nama :
Alamat lengkap :
Nomor Telepon/Hp/Fax :
Email :

Bersama ini turut kami lampirkan:


1. Fotokopi KTP Pemohon;
2. Fotokopi Izin Gangguan (HO);
3. Fotokopi denah ruangan pelayanan dan Peta lokasi;
4. Fotokopi status bangunan dalam bentuk akte hak milik/sewa/kontrak;
-32-

5. Akta Usaha Badan Hukum ;


6. Struktur Organisasi, jumlah dan unsur ketenagaan yang akan digunakan;
7. Surat pernyataan kesediaan sebagai penanggung jawab Griya Sehat;
8. Dokumen UKL/UPL;
9. Surat kuasa bermaterai Rp 6.000,- (bila diperlukan); dan
10. Foto Copy KTP yang diberi kuasa (bila diperlukan).

Demikian permohonan ini kami sampaikan, atas perkenannya diucapkan terima


kasih.

...............,................20..
Pemohon

(..............................)
Keterangan :
*coret yang tidak perlu
-33-

Formulir 2

KOP DINAS

SURAT IZIN PENYELENGGARAAN GRIYA SEHAT


Nomor : …………………………….

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor ........


tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer, maka Dinas Kesehatan
............ memberikan izin penyelenggaraan Griya Sehat kepada:

- Nama Penanggung Jawab :


- Alamat :
- Nomor SIPTKT :
- Nomor Kartu Tanda Penduduk :
- Alamat dan Nomor Telepon :
- NPWP :
- Nama dan klasifikasi Griya Sehat :
- Alamat :
- Nomor Telepon/Fax :
- Cara perawatan/pengobatan :
- Bahan dan Peralatan yang digunakan :

Berlaku sampai dengan tanggal........bulan .......... tahun ...........

......................,..............20..
Pas foto Kepala Dinas Kesehatan/Unit
4x6
Pelayanan Perizinan Terpadu
Kabupaten/Kota

( )

Tembusan :

1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi ...........


2. Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota ..........
3. Kepala Puskesmas ......................
4. Organisasi Profesi Tenaga Kesehatan Tradisional

Keterangan :
*coret yang tidak perlu
-34-

Formulir 3

PENCATATAN

KUNJUNGAN HARIAN (BUKU REGISTER)


Hari/Tanggal/Tahun : ..............

Kunjungan Jenis Terapi Keterangan

Jenis Kelamin Masalah


No Nama Usia Pekerjaan Ramuan Keterampilan
Kesehatan
Lama Baru Lain-Lain
(sebutkan) (sebutkan)
-35-

Formulir 4

REKAPITULASI DATA BULAN .........TAHUN……………..

LAPORAN KUNJUNGAN

PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL KOMPLEMENTER

Griya Sehat : ............................

Alamat : ............................

PASIEN KUNJUNGAN JENIS TERAPI KETERANGAN

NO

JENIS JUMLAH LAMA BARU RAMUAN KETERAMPILAN LAIN


KELAMIN
-LAIN

1 LAKI-LAKI

2 PEREMPUAN

TOTAL

..........., ........... 20..


-36-

Formulir 5

10 (SEPULUH) MASALAH KESEHATAN TERBANYAK

DALAM PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL KOMPLEMENTER

Griya Sehat : ........................................


Alamat : ........................................
Bulan : ........................................
Tahun : ………………………………..

NO. MASALAH JUMLAH JUMLAH JUMLAH TERAPI KETERANGAN


KESEHATAN TERAPI
KETERAMPILAN
RAMUAN
AKUPUNKTUR PIJAT LAIN-LAIN

(SEBUTKAN)

1.

TOTAL

...................., 20..........
Penanggungjawab Griya Sehat

(..............................................)

MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

NILA FARID MOELOEK


FITOTERAPI
KEAMANAN OBAT
HERBAL
Obat Herbal Aman?
✓ Obat herbal mirip dengan obat apa pun.
✓Mengkonsumsi obat herbal berarti
meminum senyawa kimia yang dihasilkan
oleh tumbuhan/hewan.
✓Sehingga, baik pasien maupun dokter
harus mampu membuat penilaian
risiko/manfaat, sebelum menggunakan
obat herbal apapun.
Pemberian obat herbal
1. Memenuhi asas rasionalitas
2. Dapat dipertanggungjawabkan seperti obat
konvensional
3. Faktor farmakologi seperti efek yang tidak
diinginkan, kontraindikasi dan interaksi obat juga
harus diperhatikan
4. Sebaiknya diberikan dalam bentuk tunggal
atau kombinasi
Tujuan pemberian obat herbal bentuk
kombinasi
1. Memberikan efek aditif karena kesamaan atau kemiripan aktifitas
atau target
2. Mengurangi efek yang tidak diinginkan
3. Meningkatkan kenyamamanan penggunaan
Khasiat dan keamanan obat herbal
Khasiat Keamanan

Obat herbal harus Sumber


mempunyai khasiat ketidakamanan
lebih besar bisa berasal dari
daripada plasebo tanaman itu sendiri

Khasiat didasarkan Sumber ketidak


pada literature amanan berasal
ilmiah yang valid dari luar

Interaksi
farmakokinetik
maupun
farmakodinamik
1. Sumber ketidakamanan berasal dari
tanaman itu sendiri
Symphytum officinale L
- Ketela pohon ( Manihot utilisima )
mengandung senyawa glikosida sianogen yang
dapat menyebabkan keracunan (gas HCN)
- Tanaman keluarga Leguminosae seperti :
Orok-orok (Crotalaria sp), komprey
(Symphytum officinale L.) mengandung
alkaloid pirolizidin yang dapat menyebabkan
hepatotoksik Crotalaria sp
2. Sumber Ketidakamanan berasal dari luar
Bahan
kimia
:Pestisida

Kontamina
Logam si saat
berat distribusi/
produksi

Jamur/
bakteri
3. Ketidakamanan karena Interaksi
farmakokinetik
- Obat herbal mempengaruhi absorpsi, distribusi metabolism dan ekskresi
obat
- Contoh obat yang mempengaruhi absorbsi obat :
- Obat yang berefek laksatif untuk penurun berat badan akan
mempengaruhi waktu transit sehingga akan menurunkan absorpsi obat.
- Hypericum perforatum (St. John’s Worth) akan menginduksi p-glikoprotein,
akan menurunkan absorpsi obat substrat P-glikoprotein seperti digoksin.
- H. perforatum merupakan penginduksi kuat isoenzim CYP3A4 sehingga jika Hypericum perforatum
diberikan bersamaan dengan substratnya seperti indinavir akan
menurunkan waktu paruh 9 (t 1/2), sebaliknya tanaman obat yang
menghambat isoenzim CYP, maka akan mengakibatkan peningkatan dan
kemungkinan toksisitas substrat CYP1A2 dan CYP2C9
4. Ketidakamanan karena Interaksi
farmakodinamik
- Terjadi pada obat yang bekerja mirip/sama dengan obat herbal
- Misalnya pemberian obat yang memiliki aktifitas antiplatelet dengan antikoagulan → resiko
perdarahan
- Penggunaan bersamaan efedrin dengan obat herbal yang kaya akan kofein -→ efedrin
merangsang sistem saraf demikian juga dengan kofein

Kofein
Frohne (1990) mengelompokkan obat herbal
berdasarkan resiko potensial dan efek yang tidak
diinginkan
1. Obat herbal yang sangat potensial memiliki efek yang tidak diinginkan cukup tinggi.
Kebanyakan kelompok ini sekarang digunakan dalam bentuk isolat
2. Obat herbal yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan jika digunakan
melebihi dosis yang sudah ditentukan.
3. Obat herbal yang belum dibuktikan kebenarannya, tetapi memiliki efek yang tidak
diinginkan yang potensial.
4. Obat herbal yang berpotensi memiliki efek yang tidak diinginkan yang cukup
berbahaya, dan ini tidak dibenarkan sebagai zat tambahan
Alkaloid pirolizidin juga diteltiti tentang efek mutagenesis dan karsinogenesis seperti pada
tanaman Symphytum, tussilago dan Petasitis sehingga pengunaannya dibatasi hanya pada
penyakit tertentu dan pada dosis tertentu.
- Beberapa Symphytum digunakan untuk terapi homeophaty pada patah tulang

tussilago
Gangguan kesehatan yang timbul karena
tanaman beracun
1. Ganguan pada reaksi kulit ( reaksi alergi)

Spora beberapa jenis jamur, ganggang tanah dan serbuk sari dari beberapa jenis bunga
Trauma pada kulit karena perlindungan tanaman seperti : duri, bulu dan rambut tanaman
Contoh tanaman : daun lateng mempunyai rambut kasar ( laportea sp), duri ujung daun pandan
bali ( Agave Americana), bulu halus pada batang bamboo ( Bambusa sp)

Agave Americana laportea sp


2. Gangguan sistem gastro-enterik
- Menyebabkan iritasi mulut dan kerongkongan : contoh tanaman yang mengandung kalsium
oksalat yanga dalam bentuk rapide/ jarum akan menimbulkan rasa terbakar di mulut atau
kerongkongan. Contoh : keladi-keladian ( Aracacea), talas ( Alocasia sp), keladi ( Caladium sp.),
Sri rejeki ( Dieffenbachia sp.), Pilodendron ( Phylodendron sp)
-

( Dieffenbachia sp)
Alocasia sp Caladium sp
Amaryllis multiflora

-Menyebabkan iritasi lambung yang menyebabkan muntah


:umumnya yang mengandung senyawa alkaloid likorine dan juga
golongan glikosida. Licorine menyebabkan iritasi dalam mukosa
lambung yang mestimulasi daerah emetic di sistem syaraf pusat.
Jika tertelan dalam jumlah besar kadang muntah bercampur dengan
darah akibat iritasi mukosa lambung yang sangat hebat. Contoh :
tanaman yang dapat menyebabkan muntah ringan samapi berat
keluarga Amarillidaceae seperti bunga terong ( Amaryllis multiflora), Zepiranthes candida
bakung ( Crinum asiaticum) dan buang lilin ( Zepiranthes
candida)Likorine terdapapat pada tanaman genus Wisteria.
- Menyebabkan diare : diantaranya
yang mengandung golongan
saponin, resin, taksin dan golongan Pithecellobium saman
protoanemonin. Contoh : Hedera
helix , biji bengkuang ( Pachyrizus
erosus), biji munggur (
Pithecellobium saman) dan buah
rerak ( Sapindus rarak)
Sapindus rarak
-Senyawa lain yang juga berefek pada gangguan
pencernaan adalah resin dan golongan taxin
- Resin yang dikandung dalam tanaman adalah asam
polisiklik dan fenol, alcohol dan subtansi netral komplek.
- Efek yang ditimbulkan akibat resin adalah : muntah
berat disertai diare berat.
- Tanaman yang mengandung resin diantaranya : bayam
belanda ( Phytolacca acinosa), buah tinta ( Phytolacca
Americana), dan jarak kepyar ( Ricinus communis)
- Golongan taxin umumnya merupakan senyawa alkaloid
yang umumnya digunakan sebagai bahan abortifacient Phytolacca acinosa Phytolacca americana
(peluruh haid)
3. Gangguan Sistem Syaraf Pusat
- Efek utama yang sering ditimbulkan oleh tanaman-tanaman yang
menganduing senyawa aktif dan menimbulkan gangguan sistem syaraf
pusat adalah depresi, konvulsi/kejang-kejang dan halusinasi.
- Efek depresi umunya ditimbulkan oleh tanaman bukan berupa akibat
reaksi tunggal darisatu tanaman saja.
Amanita muscaria
- Senyawa dalam tanaman yang mampu menimbulkan efek depresi
antara lain : andrometoxin, veratrin, taxine, solanin.
- Dalam beberapa hal tanaman yang mengandung resin dan taxin yang
juga mengakibatkan reaksi gangguan pencernaan dapat berefek pada
gangguan sistem syaraf terutama mengakibatkan depresi.
- Tanaman yang memberikan efek depresi pada kondisi keracunan antara
lain adalah : Jamur payung ( Amanita muscaria), Buah ake ( Blighia
sapida), dan asap terpentin dari getah pinus ( Pinus merkusii)

Blighia sapida
- Efek konvulsi atau kejang juga kadang ditimbulkan
oleh beberapa tanaman yang mengandung
senyawa : citutoxin, tujone, calichantine dan
calichantidine. Yan g kadang masih digunakan
sebagai obat yaitu citutoxin sebagai obat cacing.
- Efek halusinasi umunya ditimbulkan oleh
tanaman yang mengandung : heroin,
hydromorphine, hydrochloride dan morphine.
Contoh tanamannya diantaranya : ganja ( Canabis
sativa), candu ( Papaver somniferum) dan morning Ipomoea violacea
glory ( Ipomoea violacea).
4. Gangguan fungsi hati
- Untungnya jarang ditemukan kerusakan hati yang disebabkan oleh
tanaman
- Umumnya kerusakan hati disebabakan oleh tanaman yang tercemar
racun contoh Aspergillus flavus.
- Beberapa senyawa yang dapat menyebabkan kerusakan hati Heliotropium indicum
diantaranya : hypoglocine A, β-metilen-klorofil-L-α-amino-propionic
acid dan hipoglocine B.
- gejala yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi tanaman ini adalah
muntah hebat dan setelah 8-10 jam kemudian terjadi muntah heabt
kedua yang kemudian diikuti dengan kejang dan akhirnya koma.
- Contoh tanaman yang menyebabkan gangguan fungsi hati
diantaranya : pecutan (Heliotropium indicum), Sikas ( Cycas revulota),
dan Ake (Blighia sapida)
Cycas revulota
Kompleksitas Obat Herbal
➢ Beberapa senyawa tumbuhan umumnya merupakan zat tidak aktif
(selulosa, lignin, dll) tetapi ada juga zat aktif farmakologis seperti zat
pahit ataupun zat aromatik yang merangsang lambung dan sekresi
usus yang berpengaruh pada penyerapan.
➢Tanin dan saponin senyawa yang sangat umum seperti halnya
dengan garam asam organik → dapat memfasilitasi penyerapan
usus melalui efek motilitas usus atau sekresi empedu.
➢mucilago (lendir) dan zat peptik, vitamin juga dapat memodifikasi
fungsi selaput lendir usus sehingga mempengaruhi proses
penyerapan/absorbsi.
Kebenaran bagian tanaman yang
digunakan dalam pengobatan
➢Keamanan obat-obatan herbal tergantung
pada kebenaran bagian tanaman/simplisia
yang digunakan.
➢Bagian tanaman yang berbeda mungkin
mengandung zat aktif yang berbeda sehingga
memberikan aktivitas farmakologi yang beda.
➢Contoh : Akar Urtica dioica mengandung
isomer steroid dan berguna melawan
ganguan BPH ( Benigna Prostatic
Hyperplasia). Tapi daunnya digunakan
sebagai diuretik.
Cont…
Bagian tanaman yang berbeda bisa memiliki aktivitas biologis yang berbeda jadi gunakan untuk
gangguan kesehatan yang berbeda.
Bubur merah dari buah Rosehip (Rosa canina, mawar liar) digunakan dalam gangguan flu
Tapi bubuk bijinya ( berwarna kuning) digunakan untuk pembuatan kapsul untuk radang sendi.
Interaksi bahan alam dengan obat kimia
Ginkgo biloba
Ginkgo biloba digunakan untuk Indikasi
: pengobatan simptomatik untuk
penyakit otak organik; kesulitan
konsentrasi, vertigo, tinnitus, gangguan
memori.
Interaksi: Antikoagulan, Aspirin,
Warfarin, Kafein dan Ergotamin
Biasa digunakan sebagai pengencer
darah Sebelum operasi
[Link]'s wort-Hypericum perforatum
[Link]'s wort-Hypericum perforatum,
Sebagai herbal antidepresan
Interaksi: 1. Indinavir 2. Digoksin 3.
Siklosporin, penolakan organ 4. Obat
antidepresan 5. Amina simpatomimetik 6.
Pseudoephedrine 7. Yohimbine 8-Obat
penurun kolesterol (simvastatin, dll)
[Link]'s wort-Hypericum perforatum,
Overdosis akan meningkatkan kepekaan
terhadap sinar matahari (hiperisismus)
Ginseng (Ginseng Korea, Panax ginseng)
Ginseng (Ginseng Korea, Panax ginseng) diperoleh dari akar Panax ginseng
(Fam. Araliaceae), digunakan untuk mengurangi kerentanan terhadap
penyakit, meningkatkan kesehatan dan umur panjang, mengembalikan
fungsi seksual pria dan membantu pemulihan.
Ginsenosides dapat menghambat agregasi platelet secara in vitro. Namun,
studi klinis secara konsisten menunjukkan bahwa ekstrak ginseng tidak
memiliki efek signifikan pada fungsi trombosit pada manusia dan tidak
mengubah farmakokinetik atau farmakodinamik warfarin.
Tetapi, penurunan efek antikoagulan telah dilaporkan pada pasien yang
menggunakan ginseng dan warfarin.
Laporan kasus menunjukkan interaksi yang berpotensi serius ketika ginseng
digunakan dengan phenelzine (antidepresan) dan obat antikanker imatinib.
Hasil klinis secara konsisten menunjukkan bahwa ginseng tidak
mempengaruhi enzim CYP meskipun sedikit penghambatan CYP2D6.
Lidah buaya
Lidah buaya (Fam. Liliaceae) digunakan di negara-negara barat sebagai
pencahar (A. vera, yang mengandung antrakuinon) dan untuk kondisi
dermatologis (gel A. vera, yang terutama mengandung lendir).
Dalam pengobatan tradisional Cina, A. vera terutama digunakan untuk
kondisi peradangan, diabetes dan hiperlipidemia.
Telah dilaporkan terjadinya pendarahan selama operasi sebagai akibat
dari kemungkinan interaksi antara A. vera dan anestesi sevofluran. Hal
ini diduga karena Efek aditif pada fungsi trombosit, tetapi tidak
terbukti bahwa keduanya sevofluran dan A. vera dapat meningkatkan
penghambatan agregasi trombosit.
Chamomile
Chamomile, terdiri dari kepala bunga segar atau kering dari Matricaria
recutita (Fam. Asteraceae), digunakan baik secara eksternal (untuk
radang kulit dan selaput lendir) dan secara internal (untuk pengobatan
kejang gastrointestinal dan penyakit inflamasi pada saluran pencernaan).
Chamomile mengandung kumarin. Senyawa kumarin dapat memberikan
efek antikoagulan.
Kasus hematoma retroperitoneal dilaporkan pada pasien yang menjalani
terapi warfarin. Diyakini, tetapi tidak terbukti, bahwa konstituen kumarin
dari chamomile mungkin telah bekerja secara sinergis atau aditif dengan
warfarin, menghasilkan over antikoagulasi.
Echinacea
Echinacea tidak menimbulkan risiko serius untuk
interaksi obat pada manusia.
Tidak ada laporan kasus yang dapat diverifikasi
dari interaksi obat dengan produk echinacea apa
pun hingga saat ini
Beberapa penelitian telah menemukan bahwa
echinacea mempengaruhi farmakokinetik kafein
(CYP1A2 probe) dan midazolam (CYP3A4 probe);
namun, ini belum dikonfirmasi oleh uji klinis
lainnya.
Bawang putih
Interaksi bawang putih yang paling banyak
dipelajari dengan obat konvensional termasuk
interaksi dengan antikoagulan warfarin ataupun
obat antiretrovi yang belum dikonfirmasi oleh
uji klinis terkontrol
Interaksi lain yang tidak relevan dan/atau
kurang terdokumentasi termasuk perubahan
farmakokinetik parasetamol dan hipoglikemia
bila dikombinasikan dengan obat antidiabetes
klorpropamid
Black cohosh
Black cohosh (rimpang dan akar Cimicifuga racemosa, Fam.
Ranunculaceae), sebagian besar digunakan untuk mengobati
gejala menopause, telah dikaitkan dengan hepatotoksisitas,
dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Pengaruh ekstrak black cohosh pada aktivitas enzim CYP
manusia serta P-glikoprotein telah dievaluasi dalam sejumlah
uji klinis menggunakan obat yang berbeda, termasuk kafein,
midazolam, chlorzoxazone, debrisoquin dan digoksin. Hasilnya
menunjukkan bahwa black cohosh tidak mungkin
mempengaruhi farmakokinetik obat konvensional yang
dimetabolisme oleh CYP1A2, CYP3A4, CYP2E1 dan CYP2D6
atau yang merupakan substrat P-glikoprotein.
Penelitian menggunakan tujuh merek produk komersial black
cohosh yang berbeda ditemukan tidak mempengaruhi CYP
manusia pada pengujian secara in vitro pada mikrosomal hati
Contoh Inetraksi Obat Herbal dengan Obat Konvensional
Nama Obat Herbal Indikasi Medis Golongan obat konvensional yg berpotensi interaksi
Cabe (Capsicum) Menghambat kontraksi Antidepresan jenis IMAO (eutonyl, marplan, nardil,
otot-otot rahim parnate) : kombinasi obat ini dengan cabe atau makanan
lain yang mengandung tiramin dapat menaikkan tekanan
darah dengan nyata, akibatnya sakit kepala berat, demam,
gangguan penglihatan, bingung yang mungkin diikuti oleh
pendarahan otak.
Seledri Diuretik, antihipertensi Hidrochlorothiazide (HCT) danfurosemide : penggunaan
(Apium graveolens bersama-sama dapat mengakibatkan turunnya cairan
Linn, Apiaceae) tubuh dan kadar ion tubuh sehinggamenurunkan
keseimbangan.
Jeruk nipis Sumber vitamin C, KB (mycroginon dan pil-pil KBlainnya) : terjadi pengikatan
batuk, [Link] kembali komponen hormon dari pil KB pada saat konsumsi
jeruk nipis (vitamin C) dihentikan, akibatnya resiko hamil
dapat meningkat. Pendarahan merupakan tanda terjadinya
interaksi.
Cont…
Nama Obat Herbal Indikasi Medis Golongan obat konvensional yg berpotensi interaksi
Daun senna Diuretik Thiazid, adrenokortikosteroid atau Liquiritiae Radix : dapat
(Cassia angustifolia memacu timbulnya ketidak seimbangan elektrolit.
Vahl.)
Biji kopi Stimulansia Barbital : efek sedatif dari barbital akan berkurang karena
terjadi efek penetralan.
Temulawak (Curcuma Penambah nafsu makan Parasetamol : dapat memicu terjadinya kerusakan hati
xanthorrhiza Roxb.) (hepatotoksisitas).
Bayam Sumber zat besi Tetrasiklin : menurunkan efek dari tetrasiklin karena
terbentuknya kompleks khelat sehingga absorbsinya
menurun
Kava-kava Antikonvulsan Barbital dan obat-obat lain yang bekerja pada sistem saraf
pusat : hilangnya kesadaran dan disorientasi.
Kayu manis Corrigen saporis Captopril dan obat-obat tekanan darah tinggi lainnya : efek
tekanan darah tinggi tidak mungkin dilawan akibatnya
tekanan darah tinggi tidak terkendali dengan baik.
Interaksi beberapa bahan alam pada uji
klinik ( Tsai et al., 2013)

Anda mungkin juga menyukai