ISPO
BALI – Sistem sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) terus diperkuat untuk
perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Diawali pada tahun 2011 dengan Peraturan Menteri
Pertanian, selanjutnya diganti dengan peraturan Menteri nomor 11 tahun 2015. Selanjutnya
dua Peraturan Menteri tersebut dicabut dengan Peraturan Menteri Nomor 38 tahun 2020
tentang penyelenggaraan sertifikasi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia.
Untuk Peraturan Presiden telah terbit Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2020 tentang
Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, untuk memperkuat
sistem sertifikasi ISPO. Dengan terbitnya beberapa regulasi ini, seluruh pelaku usaha
perkebunan kelapa sawit wajib memiliki sertifikasi ISPO, termasuk pekebun yang dapat
dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah dan/atau sumber lain yang sah, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
“New ISPO menandai progres signifikan penerapan prinsip keberlanjutan melalui instrumen
Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (ISPO) yang bersifat mandatori
atau diwajibkan bagi semua pelaku usaha baik BUMN, swasta maupun pekebun. Hal yang
baru dan strategis diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem
Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, dan permentan Nomor 38
tahun 2020 atau sangat dikenal dengan sebutan ISPO,” jelas Baginda Siagian, selaku Plt.
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) yang menjadi salah satu
narasumber pada acara G20 Sustainable Vegetable Oils Conference di Bali (3/11).
Luas kebun sawit yang telah tersertifikasi ISPO terus bertambah. Hingga saat ini sudah
mencapai 3,65 juta hektar dengan rincian 766 sertifikasi dengan produksi 22 juta ton CPO.
Hal ini menunjukkan bahwa realisasi areal perkebunan yang telah memenuhi syarat
keberlanjutan indikator ISPO mengalami peningkatan.
Di pasar komoditas pertanian lainnya, keberadaan sertifikasi berkelanjutan yang diakui di
pasar dunia, berpotensi tidak hanya memperluas akses pasar tetapi juga meningkatkan
harga minyak sawit bersertifikat ISPO. Diakuinya ISPO di pasar dunia, diharapkan dapat
meningkatkan posisi tawar produk sawit Indonesia di mata konsumen. Hal ini dapat menjadi
insentif bagi pelaku usaha untuk mengelola perkebunannya dengan terus meningkatkan
kelestarian.
Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan mendukung program ISPO dalam rangka
peningkatan produksi dan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat selain dengan
program PSR. Kebijakan penguatan ISPO lainnya adalah penilaian sertifikasi keberlanjutan
sepanjang rantai pasok industri sawit nasional, yang meliputi input industri dan perkebunan
sawit hingga pengecer. Sertifikasi ISPO tidak hanya menilai sektor hulu tetapi juga industri
hilir untuk memastikan bahwa setiap produk yang dilengkapi dengan label bersertifikat
ISPO telah dijamin memenuhi indikator keberlanjutan di sepanjang rantai pasokan.
Konsumen juga dapat memverifikasi sertifikasi dan memantau melalui mekanisme
ketertelusuran yang ditetapkan oleh industri.
Sistem sertifikasi ISPO merupakan instrumen untuk pembangunan perkebunan kelapa
sawit secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan nasional di Indonesia. Dan
juga, sebagai bagian dari kepesertaan Indonesia untuk berkontribusi terhadap pencapaian
tujuan-tujuan pembangunan global Sustainable Development Goals 2030.
“Dengan diakuinya ISPO di dunia, diharapkan dapat meningkatkan tingkat penerimaan
produk kelapa sawit Indonesia secara global,” ujar Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian,
dalam pernyataan sebelumnya, mengenai sertifikat ISPO dalam kontribusi kelapa sawit
dalam perekonomian di Indonesia.
ISPO Mengadopsi Prinsip Pembangunan
Berkelanjutan
Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) mengadopsi prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 32/2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Herdrajat Natawidjaja Koordinator Tim Sekretariat Komite ISPO menjelaskan bahwa
Indonesia memiliki komitmen dalam pembangunan berkelanjutan yang mengacu
kepada UU Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Dalam regulasi tersebut dijelaskan bahwa Pembangunan berkelanjutan adalah upaya
sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke
dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta
keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan masa
depan.
Dijelaskan Herdrajat, terdapat empat komponen pembangunan berkelanjutan yaitu
dinamis, serasi, seimbang, dan terpadu. “Ini menjadi sesuatu yang penting karena UU ini
sebagai pendukung pelaksanaan sertifikasi ISPO di lapangan,” ujar dia dalam webinar
bertemakan “Inovasi Sebagai Kunci Tata Kelola Sawit Inklusif dan Ramah Lingkungan”
yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dan Syngenta.
Adapun dimensi pembangunan berkelanjutan meliputi pembangunan ekonomi,
keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. “ISPO mengadopsi prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan sesuai amanah Undang-Undang yakni. Dengan tiga
sasaran pokok adalah ekonomi, sosial dan ekologi,” ujar Herdrajat.
Dia mengatakan, kelapa sawit berkelanjutan Indonesia sebagai usaha sistem
perkebunan sawit Indonesia ramah lingkungan, layak secara ekonomi dan sesuai
perundangan yang berlaku.
Implementasi ISPO sejak tahun 2011, diawali Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)
No.19 Tahun 2011 dan diperkuat dengan lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) 44 Tahun
2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan. “ISPO wajib bagi
perusahaan dan pekebun sawit,” ujar dia.
Ada perbedaan sistem sertifikasi dalam pelaksanaanya sekarang karena sertifikasi 100
persen dilakukan oleh lembaga Sertifikasi (LS) ISPO secara independen. “Sebelumnya
masih ada komunikasi dengan Sekretariat Komisi ISPO. Namun sekarang sepenuhnya
independen dilakukan LS ISPO sendiri,” terang Herdrajat.
Kemudian dibentuk Dewan Pengarah dan Komite ISPO yang melibatkan Gubernur,
Bupati dan Walikota untuk ikut melakukan pembinaan dan pengawasan di wilayah
masing-masing. “Jadi harapannya ISPO menjadi lebih kuat,” ujar dia.
Tujuan sertifikasi memastikan dan meningkatkan pengelolaan serta pengembangan
perkebunan kelapa sawit sesuai prinsip dan kriteria ISPO. Kedua, meningkatkan
keberterimaan dan daya saing hasil perkebunan kelapa sawit di pasar nasional maupun
internasional. Ketiga, meningkatkan upaya percepatan penurunan emisi gas rumah kaca.
Tercatat, ada 4 aspek dan 7 prinsip ISPO sesuai Perpres No.44 Tahun 2020 yaitu aspek
legalitas, ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan.
Sementara itu, 7 Prinsip ISPO terdiri dari legalitas usaha perkebunan, penerapan praktik
perkebunan yang baik, pengelolaan lingkungan hidup, sumber adaya alam dan
keanekaragaman hayati, tanggung jawab terhadap ketenagakerjaan, tanggung jawab
sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, transparansi, dan peningkatan usaha
secara berkelanjutan.
Penerapan prinsip dan kriteria (P&C) ISPO perusahaan perkebunan terdiri 7 prinsip.
“ISPO ini mengadopsi peraturan menengenai lingkungan hidup dan semua perusahaan
harus mengikuti dan lolos dari 9 kriteria yang ada,” jelas Herdrajat.
Selain itu, kata dia, tanggung jawab terhadap pekerja, semua harus mengikuti
ketentuan, tidak diperkenankan anak di bawah umur bekerja di kebun sawit. Kemudian
penghormatan pada isu gender.
“Tangung jawab sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yaitu industri sawit
melihat ekoomi masyarakat lokal setempat dan pemberdayaan penduduk asli,” tambah
dia.
Sedangkan pekebun memiliki 5 prinsip diantaranya: Pertama, kepatuhan terhadap
peraturan dan perundangan. Kedua, penerapan praktik perkebunan yang baik. Ketiga,
pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.
Keempat, transparansi. Kelima, peningkatan usaha berkelanjutan.
ISPO Mewujudkan Pembangunan Perkebunan
Kelapa Sawit Berkelanjutan.
Pemerintah sangat concern terhadap pengembangan komoditas kelapa sawit di Tanah Air.
Kelapa sawit saat ini merupakan komoditas strategis, mengingat perannya sebagai
penghasil devisa terbesar dari non migas, sumber lapangan kerja, pembangunan ekonomi
regional dan pemberantasan kemiskinan. UU Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan
telah mengamanatkan pembangunan perkebunan harus berpedoman kepada prinsip-
prinsip perkebunan berkelanjutan. Kementerian Pertanian telah menerbitkan regulasi
pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan atau Indonesian Sustainable Palm
Oil (ISPO) Permentan No 11 tahun 2015.
Permentan No 11/2015 tentang ISPO merupakan regulasi yang wajib diterapkan oleh
kepada perusahaan kelapa sawit dalam upaya memelihara lingkungan, meningkatkan
kegiatan ekonomi, sosial, dan penegakan paraturan perundangan Indonesia di bidang
perkelapa sawitan. Penyusunan sistim sertifikasi ISPO mengacu/didasarkan pada 139
peraturan mulai Undang-undang sampai dengan peraturan Dirjen berbagai instansi
pemerintah.
Lebih lanjut Bambang menuturkan, sistem sertifikasi ISPO adalah serangkaian persyaratan
yang terdiri dari 7 (tujuh) prinsip, 34 (tigapuluh empat) kriteria dan 141 (seratus empat puluh
satu) indikator yang mencakup isu hukum, ekonomi, lingkungan dan sosial, sebagaimana
tertuang dalam Permentan No 11/2015, untuk perusahaan kelapa sawit yang terintegrasi
kebun dan pengolahan. Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit yang wajib mensertifikatkan
adalah yang melakukan usaha Budidaya; usaha pengolahaan kelapa sawit dan yang
terintegrasi kebun dengan unit pengolahan hasil.
Sudah 266 perusahaan kelapa sawit yang mengantongi ISPO dari perusahaan yang
mengajukan audit ke lembaga sertifikasi sebanyak 535 perusahaan. Perusahaan kelapa
sawit yang beroperasi di Indonesia tercatat sekitar 1.600. Untuk lahan perkebunan rakyat
yang dinyatakan lolos ISPO sebanyak 2 koperasi, yakni Koperasi Unit Desa (KUD) Karya
Mukti dan Asosiasi Petani Swadaya “AMAN”. Luas lahan perkebunan kelapa sawit saat ini
mencapai 11,3 juta hektar (Ha). Lahan yang sudah memenuhi persyaratan ISPO seluas 1,4
juta Ha.
Sebagai informasi, dari 376 laporan hasil audit (LHA) yang sudah mendapat pengakuan, 11
perusahaan ditunda penetapannya karena belum memenuhi persyaratannya seperti
legalitas lahan, HGU nya berada kawasan hutan, belum ada izin AMDAL; 69 belum
dilakukan verifikasi dan 30 laporan hasil audit yang telah diverifikasi belum di tanggapi oleh
Lembaga Sertifikasi.
Standarisasi ISPO yang dituangkan melalui Peraturan Menteri Pertanian, mengakomodir
regulasi pemerintah mulai dari legalitas lahan, penanganan limbah sampai dengan
kesejahteraan karyawan perusahaan.
Issu yang menyatakan bahwa pemusatan kewenangan pada Direktorat Jenderal
Perkebunan membuat ISPO tidak berkembang itu sangat tidak benar, justru selama ini
karena Lembaga Sertifikasi sebagai lembaga yang melakukan audit sering terhambat
karena berbagai masalah kekurangan data-data perusahaan yang diaudit seperti legalitas
lahan, perpanjangan izin HGU, izin dampak lingkungan yang belum ada. Direktorat
Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, hanya sebagai fasilitator dan memastikan
peraturan pemerintah yang diterapkan dalam prinsip dan kreteria ISPO dapat dipenuhi oleh
industri kelapa sawit di tanah air.
Ketua Sekretariat ISPO, mengatakan, tujuan ISPO sudah mencakupi semua yang
diinginkan dunia internasional yaitu mendorong usaha perkebunan untuk mematuhi semua
peratiuaran pemerintah, meningkatkan kesadaran pengusaha kelapa sawit untuk
memperbaiki lingkungan dan melaksanakan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan untuk
meningkatkan daya saing.
“Karena itu sekarang yang perlu dilakukan adalah meningkatkan keberterimaan ISPO di
dunia internasional, karena apa yang dimaui mereka juga sama dengan tujuan kita.
Di bawah Kementerian Koordinator Perkenomian tahun lalu sudah dibentuk tim penguatan
ISPO mencakup aspek kelembagaan, sistem dan mekanisme, prinsip dan kriteria dan
pengakuan di pasar Eropa dan global. Draft Pepres penguatan ISPO ini sudah dibuat di
Menko untuk pembahasan lebih lanjut.
Strategi komitmen penguatan ISPO yang dilakukan komisi ISPO adalah link and match
dengan unsur A (akademisi), B (business), C (Community), F (Farmer) dan G (Goverment).
“Sebelum ke luar negeri soal ISPO ini harus benar-benar dipahami semua pemangku
kepentingan di dalam negeri. Semuanya harus satu bahasa mengenai ISPO, punya
komitmen yang sama. Sampai saat ini masih ada beberapa pihak di dalam negeri yang
belum mengerti ISPO.
Draft soal penguatan ISPO untuk supaya bisa diterima di luar negeri ini sudah ada yang
merupakan hasil fokus group diskusi dengan praktisi, LSM, pelaku usaha, akademisi dan
lain-lain. Masih perlu pembahasan lebih lanjut lagi.
International Conference on Indonesian Sustainable Palm Oil (IC-ISPO) ditandatangani
komitmen dan apresiasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan di areal perkebunan
kelapa sawit yang melibatkan 14 perusahaan perkebunan.
IC-ISPO membahas tentang pentingnya ISPO dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit
berkelanjutan, mulai dari aspek legalitas lahan, tata kelola izin usaha perkebunan,
penguatan ISPO, hingga strategi menghadapi isu negatif terhadap kelapa sawit yang
semakin masif. Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, Kementerian Perdagangan dan DPR RI, serta
Gubernur sebagai wakil dari pemerintah daerah turut menjadi pembicara seputar
pengelolaan kelapa sawit. Sedangkan para pelaku usaha juga menjadi pembicara mulai
dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Lembaga Sertifikasi, dan juga
Apkasindo selaku wakil dari petani kelapa sawit
RSPO
Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) merupakan standar global untuk perkebunan
kelapa sawit untuk menunjukkan proses produksi yang ramah lingkungan. Sedangkan
Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) merupakan standar dari pemerintah Indonesia
untuk perkebunan sawit berkelanjutan.
Prinsip dan Kriteria RSPO
Terdapat delapan prinsip RSPO dalam 43 criteria
dibawah setiap prinsip. Prinsip dan kriteria ini menjadi
refrensi standar dalam fase audit.
Kelompok tani akan diaudit berdasarkan RSPO
Management Systerm Requirement dan panduan untuk
Group Certification of FFB Production yang telah di
endorse oleh Dewan Gubernur pada 7 Maret 2016.
Ringkasan dari isi dalam dukumen ini adalah sebagai
berikut:
Bagian 1: Kata Pengantar, ruang lingkup dan
Penerapan
Kata pengantar dan Pengenalan mengenai
Sertifikasi Kelompok
Bidang (Scope)
Penerapan
Dokumen yang Terkait
Bagian 2: Persyaratan Sertifikasi Kelompok
Entity Kelompok dan Persyaratan Manajemen
Kelompok
Sistem Pengendalian Kontrol (Internal Control
System) – Kebijakan dan Pengelolaan
Sistem Pengendalian Internal (Internal Control
System) – Operasi
Bagian 3: Panduan mengenai Kepatuhan dengan
RSPO P&C 2013
Annex 1 – Istilah dan Definisi
Annex II – Daftar Kebijakan dan Prosedur yang
diperlukan dalam memenuhi RSPO P&C
Pemimpin Kelompok/manajer, ICS (Internal Control
System) dan beberapa petani yang dijadikan
percontohan akan dilakukan asesmen berdasarkan
standar-standar ini. Maka dari itu, setiap petani wajib
untuk memahami penerapan Standar Sertifikasi
Kelompok (Group Certification Standards) untuk
kepentingan audit sehingga para petani tersebut
mengerti poin-poin penting yang harus disiapkan pada
saat proses sertifikasi. Dibawah ini adalah persyaratan-
persyaratan untuk para petani yang berdasarkan
Standar Sertifikasi Kelompok RSPO.
Bagian 2: Persyaratan Sertifikasi Kelompok
Bagian ini menjelaskan persyaratan pada Sistem
Sertifikasi Kelompok yang terbagi menjadi tiga elemen
Elemen 1: Entity Kelompok dan Persyaratan
Manajemen Kelompok
Elemen 2: SIstem Pengendalian Kontrol (Internal
Control System) – Kebijakan dan Pengelolaan
Elemen 3: Sistem Pengendalian Kontrol (Internal
Control System) – Operasional
Bagian 3: Panduan untuk Mematuhi Prinsip dan
Kriteria RSPO (RSPO P&C)
Prinsip 1: Komitmen terhadap transparansi
Informasi yang cukupi harus disediakan kepada
stakeholder yang relevan tentang isu-isu lingkungan
hidup, sosial dan hukum yang relevan dengan
kriteria RSPO. Informasi harus dibentuk dalam
bahasa yang sesuai agar proses pengampilan
keputusan dapat berlansung dengan efektif.
Petani memahami bahwa semua informasi yang
berhubungan dengan persiapan RSPO harus
disampaikan kepada Kepala/Manajer Kelompok.
Petani menerima dan menyetujui kebijakan dan
kode etik yang dimiliki kelompok tani.
Prinsip 2: Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan
yang relevan
Petani memiliki sertifikat tanah kepemilikan yang
sah. Untuk tanah yang berada di bawah hukum
adat, petani harus dapat menununjukan hak dalam
menggunakan tanah tersebut atau memiliki hak
untuk menanam atau melakukan aktifitas pertanian
di tanah tersebut.
Petani memenuhi kewajiban yang diberikan oleh
Kepala/manajer kelompok seperti menghadiri
pelatihan yang relevan juga mengisi
checklist/dokumen yang diberikan untuk
membuktikan kepatuhan terhadap hukum.
Petani akan menerima catatan pada saat
menghadiri suatu presentasi atau rapat dalam
pelatihan yang dilakuan.
Prinsip 3: Komitmen terhadap kelayakan ekonomi dan
keuangan jangka panjang
Kriteria ini tidak perlu diterapkan oleh petani kecil
mandiri.
Kelompok petani kecil disarankan untuk memiliki
rencana bisnis (Business plan) agar bisnis yang ada
dapat langgeng dan beroperasi selama jangka yang
panjang, adapun hal yang perlu dipertimbangkan
antara lain, biaya pemeliharaan tahunan,
replanting, potensi ekspansi atau pebelebaran dan
sertifikas keberlanjutan jangka panjang.
Prinsip 4: Penerapan praktik-praktik terbaik oleh
pengusaha perkebunan dan pabrik minyak sawit
Petani mencatat implementasi Standard Operating
Procedures (SOP) seperti didefinisikan dalam
kelompok SOP. Petani dapat meminta dokumen SOP
dari ICS. Contoh dari SOP yang relevan adalah SOP
yang telah diperiksa oleh auditor termasuk gambut,
area rapuh, area yang ada ditepi dan kemiringan
tanah, penyimpanan pestisida, prosedur
pembuangan limbah, dll
Petani harus memiliki catatan penggunaan pupuk
dan pestisida dan memeliharanya
Petani harus memberikan peta lahan yang mereka
miliki kepada Kepala/manajer kelompok.
Petani harus mencatat tingkat air secara teratur
sebagaimana diatur dalam SOP kelompok
Jika berlaku, petani memelihara dan
mengembalikan daerah tepi atau zona penyangga
lainnya sebagaimana ditentukan dalam SOP
kelompok
Petani diharapkan memiliki manual Praktek
Agrikultur yang baik/ Good Agriculture Practice
(GAP) manual dan juga mengimplementasikannya.
Termasuk menghadiri seluruh pelatihan dan mengisi
daftar hadir. Ketidak hadiran seorang petani dapat
diketahui melalui daftar hadir tersebut.
Petani memahami tentang hama dan penggunaan
obat kimia. Apabila ada orang lain yang
bertanggung jawab atas obat kimia, maka orang
tersebut diwajibkan untuk turut serta mengikuti
pelatihan yang berkaitan dengan obat kimia.
Petani harus memastikan bahwa tidak ada
perempuan hamil atau menyusui yang menangani
hama.
Petani wajib memahami bahaya bahaya yang dalam
pertanian dan penanganan yang tepat dalam
menghadapi bahaya tersebut.
Petani memiliki perlengkap Pertolongan pertama
pada kecelakaan (P3K).
Petani wajib menghadiri pelatihan-pelatihan yang
berkaitan dengan OHS.
Prinsip 5: Tanggung jawab Lingkungan dan konservasi
sumber daya alam dan keanekaragamanhayati
Petani memahami resiko lingkungan hidup, rencana-
rencana pengurangan dan kontribusi sang petani untuk
mengurangi kerusakan lingkungan hidup.
Petani memahami area Nilai Konservasi Tinggi (High
Conservation Value), area langka, area terancam dan
spesies yang langka dan bagaimana melindungi
spesies-spesies tersebut.
Petani diharapkan berpartisipasi dalam asesmen NKT
(Nilai Konservasi Tinggi)
Petani diharapkan memiliki dokumentasi tentang
pengelolaan sampah dan rencana pembuangan limbah.
Petani memahami akan larangan melakukan
pembakaran di dalam kelompok tani.
Prinsip 6: Pertimbangan bertanggung jawab atas
pekerja serta individu dan komunitas yang terpengaruh
oleh kegiatan pengusaha dan perkebundan dan pabrik
minyak sawit
Petani memahami resiko sosial besar yang akan
dihadapi dari perilaku mereka di perkebunan dan
bagaimana mengurangi dampak dari resiko
tersebut.
Petani memahami prosedur-prosedur komunikasi
secara internal dan eksternal seperti ke pabrik-
pabrik, komunitas lokal dan badan-badan lain yang
terkait.
Sebuah prosedur untuk mengidentifikasi hukum,
hak-hak adat atau pengguna, dan prosedur untuk
mengidentifikasi orang-orang yang berhak
mendapatkan kompensasi, harus ada dan dimiliki.
Untuk memiliki prosedur ini, petani dapat meminta
bantuan secara resmi ke manajer grup sehingga
prosedur-prosedur tersebut akan dapat dipatuhi.
Petani harus memiliki catatan dokumentasi
mekanisme keluhan.
Petani wajib memberi upah kepada pekerja paing
sedikit sesuai dengan UMR.
Petani memahami hukum memperkerjakan anak
dibawah umur dan memiliki data usia pekerja
beserta akte kelahirannya. (apabila tersedia)
Petani menerapkan perlakuan yang adil kepada
pekerja pria dan perempuan. Pekerja pria dan
perempuan memiliki hak yang sama dalam bekerja,
juga diberikan gaji dan fasilitas yang sama.
Petani memahami hukum kekerasan seksual dan
menerapkan pada pekerja-pekerja.
Petani memahami mekanisme harga dan
memberikan pembayaran tepat waktu kepada
pegawai dan partner bisnis.
Petani memahami akan dilarangnya buruh paksaan
atau buruh hasil perdagangan manusia.
Prinsip 7: Pengembangan perkebunan baru yang
bertanggung jawab.
Petani memahami prosedur perkebunan baru untuk
petani kecil.
Petani memahami tentang lingkungan hidup dan
resiko sosial atas operasi pekerjaan mereka.
Petani memiliki perencanaan pengurangan dari
resiko-resiko yang ada dan
mendokumentasikannya.
Petani memahami tentang tipe-tipe tanah dan
berkelanjutan (sustainability).
(apabila tersedia) Petani memiliki bukti
dokumentasi atas proses dan hasil dari klaim
kompensasi.
Untuk anggota-anggota baru yang belum
melakukan asesmen atas sosial dan lingkungan
hidup tetap dapat mengikuti kelompok tani. Selama
kelompok tersebut memberikan catatan inspeksi
internal untuk membuktikan tidak adanya
pelanggaran pada Prinsip & Kriteria RSPO.
Petani memahami sumber dari emisi GHG dan
langkah-langkah untuk mengurangi emisi GHG.
Prinsip 8: Komitmen terhadap perbaikan terus menerus
pada wilayah-wilayah utama aktifitas
Petani memahami kapan harus melakukan
replanting.
Praktek Agrikultur yang
Baik/Good Agriculture
Practice (GAP)
Dalam pelajaran ini, petani akan memahami prinsip
dasar dan bagaimana mengolah dengan sistem yang
berkelanjutan (sustainable manner). Pelajaran yang
akan dipelajari meliputi pembibitan benih kelapa sawit,
penanaman immature dan mature, kastrasi, panen dan
replanting.
2.1 Pengelolaan Benit Kelapa Sawit
Pembibitan benih kelapa sawit dibagi menjadi dua
tahap, Pembibitan awal/pre-Nursery (PN) dan
Pembibitan Utama/main nursery (MN). Pada saat
pembibitan awal, petani perlu menyiapkan lahan untuk
menanam bibit. persemaian, dan memberikan
keteduhan. Lokasi yang dipilih harus memiliki
permukaan datar, dekat dengan jalur air, dan dekat
dengan pembibitan utama. Untuk tempat persemaian,
lokasi dianjurkan memiliki panjang 10 meter, lebar 1,2
meter, dan tinggi 14 cm , timbunan sebagai dasar
dianjurkan sampai sekitar 3 cm dianjurkan. Jarak
antara setiap persemaian idealnya sekitar 0,5-0,6
meter. Persemaian harus menggunakan bahan dari
bambu atau papan. Setiap persemaian mampu
menyimpan sampai 1200 polybag. Ukuran polybag
disimpan (layflat) sebaiknya memiliki lebar 14 cm,
tinggi 22 cm, dan ketebalan 0,1-0,12 milimeter.
Polybag-polybag ini layaknya memiliki 20-24 lubang.
Polybag juga harus diisi tanah lapisan atas dan harus
bebas dari akar dan hama. Untuk tanah bertekstur,
polybag harus dicampur dengan 10-30% pasir. Cara
mengisi polybag adalah dimulai dengan mengisi ½ dari
volume, lalu dipadatkan, dan ulangi lagi sampai tingkat
1-2 cm dari sisi atas polybag. Polybag disimpan dalam
posisi tegak dan saling menopang satu dengan lainnya.
Sesekali polybag harus disemprot dengan air sebelum
penanaman kecambah (sampai jenuh). Gudang harus
dibuat dari bambu atau bahan kayu murah dan daun-
daun sawit. Ketinggian gudang direkomendasikan
berada disekitar 2-2,5 meter karena akan berguna
untuk mengurangi cahaya sinar matahari terhaap
benih. Dalam penanaman kecambah, radikula harus
dihadapi bawah dan planula menghadapi lurus ke atas.
Proses penanaman sebaiknya dilakukan oleh tiga
orang, orang pertama mengebor polybag sedalam 3
cm, orang kedua mengisi lubang dengan kecambah,
dan orang ketiga untuk memeriksa serta menekan
kecambah secara pelan-pelan sehingga posisi akan
stabil dan kemudian menutupi tunas dengan halus
permukaan tanah sekitar 1 cm dari permukaan.
Untuk pemeliharaan di fase Pembibitan awal, bibit perlu
disiram dua kali sehari (pagi dan siang), dengan air
minimal 8 mm sampai basah keseluruhan. Setelah
disiram, akar permukaan bibit harus ditutup dengan
tanah. Persemaian bibit jangan sampai banjir, apabila
banjir atau air meluap makan perlu dilakukan
pengeringan. Selanjutnya tentang penyiangan, setiap
gulma yang tumbuh di dalam dan di luar dari polybag
harus dibuang secara hati-hati sehingga tidak akan
mempengaruhi pertumbuhan benih. Penyiangan
sebaiknya dilakukan dua kali sebulan. Benih yang
memiliki daun yang sempurna berdaun harus dipupuk
dengan 0,2% urea cair dan urea cair yang dicampur
dengan NPK (2 gr Urea atau NPK ke dalam 1 liter air).
Campuran cairan harus dituangkan secara merata di
atas biji (1 liter cairan = 100 biji). Benih Poly embryo
harus dipisahkan saat berusia 2 bulan dan ditempatkan
di lokasi khusus yang terpisah untuk benih embrio poli
dalam persemaian. Kemudian benih ini dapat
dipindahkan ke fase pembibitan utama (MN) setelah
disimpan selama satu bulan.
Persiapan melakukan pembibitan utama sama dengan
pembibitan awal, dimana bibit sebaiknya ditempatkan
pada permukaan yang datar, dekat jalur air, dengan
arah benih tegak lurus dengan jalan utama, bersih dari
gulma, bebas dari semak-semak yang biasa menjadi
sarang hama. Untuk penyiraman bibit biasa dilakukan
2x sehari per biji (1 liter di pagi hari dan 1 liter di sore
hari).
Pelajaran berikutnya, adalah mengenai tanaman yang
belum menghasilkan (immature planting), pelajaran ini
akan mencakup informasi yang berkaitan dengan
melestarikan perkebunan kacang untuk penutup tanah,
pemeliharaan tanaman, kastrasi, penggunaan pupuk,
tumbuh (sprouting), pengelolaan hama, dan persiapan
untuk panen.
2.2 Pengelolaan Lahan
Memelihara leguminosa (kacang-kacangan atau kacang
polong) sebagai tanaman penutup sangat berguna
sebagai sumber nutrisi untuk tanah, melindungi tanah
dari erosi, memperbaiki kondisi fisik tanah, dan
membantu kontrol gulma. Untuk tanaman yang belum
menghasilkan ini (immature plantation) yang
dikategorikan dalam tahap pertama, gulma akan
dibersihkan dalam radius 100 cm dari perkebunan.
Kategori tahap kedua adalah dalam radius 125 cm,
tahap ketiga dalam radius 175 cm., Bahan kimia dapat
digunakan secara berputar setiap 3 bulan sekali. antara
glifosat 300 cc / ha / rotasi. Menyeka jerami dengan
menggunakan glifosat (0,75-1% konsentrat) bisa
diputar sebulan sekali. DAK dapat diputar setiap tiga
bulan sekali.
2.3 Pengelolaan Hama yang Berinterigasi
Untuk mengontrol kumbang badak (Rhino beetles),
petani dapat menutupi batang replanting kelapa sawit
dengan leguminosa (perkebunan kacang),
mengumpulkan larva dan kumbang secara manual,
menggunakan insektisida pada pelepah termuda (5
gram untuk setiap tanaman) yang dirotasi setiap 3
minggu, dan dengan menggunakan sebuah ferotrap .
Seperti untuk mengendalikan tikus, petani dapat
menggunakan burung hantu (Tyto alba) atau
menggunakan umpan beracun (klerat RMB).
Sama seperti dengan tanaman belum menghasilkan
(immature plantation), hama yang sering ditemukan
pada tanaman menghasilkan (mature plantation)
adalah ulat dan tikus. Untuk ulat, petani harus
memantau kebun dengan melakukan observasi pada
pohon kelapa sawit setiap hektar pada setiap bulannya.
Jika ada indikasi hama ulat dalam perkebunan, maka
petani harus lebih sering melakukan pengamatan
dengan melakukan observasi lima pohon di setiap
hektar (satu pelepah per pohon) setiap dua minggu.
Untuk tikus, petani dapat menggunakan umpan
perangkap beracun (klerat) atau burung hantu (Tyto
alba).
2.4 Pengelolaan Penggunaan Agrochemical
Cara pemupukan tanaman yang belum menghasilkan
(immature plantation) adalah berdasarkan jenis tanah
dan hasil dari analisis tanah (untuk mengetahui
kandungan isi dari tanah tersebut). Ahli tanah (soil)
akan melakukan analisa akan menerangkan ke petani
jenis pupuk dan dosis yang akan digunakan. Untuk
metode pemupukan yang lebih sederhana, petani dapat
menggunakan standar perusahaan perkebunan
berdasarkan usia perkebunan. Jenis-jenis pupuk antara
lain pupuk urea (Natrium), TSP (fosfat), RP (fosfat),
MOP (Kalium), Kieserite (Magnesium), dan HGF Borat
(Boron). Jenis-jenis hama yang biasa ditemui di
tanaman belum menghasilkan (immature plantation)
adalah badak kumbang (Oryctes rhinoceros), tikus, dan
ulat.
Penyakit yang sering terdapat dalam perkebunan
minyak sawit antara lain penyakit mahkota, Marasmius
sp, dan ganoderma boninense. Penyakit mahkota dapat
dikurangi dengan memilih bibit yang ketat selama fase
pembibitan, memotong semua pelepah bengkok, dan
meningkatkan frekuensi waktu dalam pemeliharaan
tanaman. Adapun Marasmius sp, dapat dikendalikan
dengan penyemprotan fungisida (Difolatan 4F, Bayleton
250 EC), sanitasi buah busuk dan pelepah kering, dan
panen rutin selama tujuh hari sekali.
Kastrasi (pengebirian) didefinisikan sebagai proses
pembuangan laki-laki (benang sari) dan perempuan
(putik) bagian dari bunga saat perkebunan mulai mekar
(PPKS: 15-20 bulan; Socfindo: 13-20 bulan). Dengan
menerapkan kastrasi, petani dapat mengurangi
kemungkinan kebun yang dimiliki terinfeksi oleh jamur
Marasmius spp. jamur.
Pada mature plantiation, penyakit tanaman yang
banyak ditemui adalah pembusukkan di dasar pohon
kelapa sawit (Ganoderma boninense) dan buah kelapa
sawit yang membusuk (Marasmius palmavirus). Untuk
Ganoderma boninense, petani dapat menggunakan
biofungisida marfu-P untuk tanaman ringan
terkontaminasi, selain itu, tanaman harus dibasmi.
Untuk penyakit Marasmius palmavirus, petani harus
menyesuaikan kelembaban di pohon kelapa sawit
dengan memotong pelepah sesuai standar,
menerapkan sanitasi rutin pada pelepah kering dan
buah-buahan yang membusuk, jadwal panen, dan
melakukan control pada palm oil math (Tirathaba
rufivena). Petani harus menggunakan dosis yang tepat
untuk perkebunan dewasa (mature plantion) pada saat
pemupukan. Untuk referensi, PTPN III menggunakan
Dolomit (2,5-2,75 kg dosis per pohon per tahun) dan
NPK (5,75-7,25 kg dosis per pohon per tahun). Untuk
dolomit, petani menyebar pupuk di sekitar tanaman,
sedangkan untuk NPK, petani membuat 4-6 lubang
saku. Pupuk tidak perlu diberikan untuk beberapa
daerah yang dipersiapkan untuk replanting dalam
waktu dua tahun.
Petani harus lebih selektif memilih kecambah untuk
dipelihara di pohon-pohon kelapa sawit dengan 56-64
pelepah yang dirotasi dua kali setahun untuk
perkebunan yang dikategorikan mature plants.
SproutiIng periodik dilakukan ketika perkebunan telah
matang dengan usia lebih dari empat tahun.
Perkebunan dipertahankan dalam 56-64 pelepah pada
saat usia diatas 4 tahun dan dibawah 8 tahun.
Sedangkan pada saat usia di atas 8 tahun, jumlah
pelepah dipertahankan diantara antara 48-56, semua
ini dilakukan dalam rotasi sembilan bulan. Proses
pemotongan pelepah dilakukan dekat dengan dasar
pelepah dan untuk areal bergelombang datar dipotong
menjadi tiga bagian. Dengan memotong pelepah
teratur, petani akan menjaga keseimbangan antara
fisiologi tanaman, sanitasi, memperlancar penyerbukan,
kemudahan panen, dan menghindari buah sawit
terjebak di dasar pelepah tersebut.
2.5 Pengelolaan Musim Panen
Musim panen bisanya muncul saat usia perkebunan 30
bulan. Suatu area dianggap siap panen apabila 60%
dari rata-rata TBS memiliki berat 3 kg untuk pohon
kelapa sawit. Sebelum panen, petani harus menyiapkan
jalan untuk mengangkut TBS pada interval dua baris
tanaman dan satu meter lebar. Untuk setiap 5 jalan
harus ada tempat pengumpulan TBS.
Ketika perkebunan telah dianggap matang, petani
harus mengubah cara mereka mempelihara perkebunan
mereka. Petani perlu untuk memperluas disk
perkebunan mereka menjadi diameter 4,8 meter dan
mempersiapkan jalan angkut TBS dengan lebar 1
meter.
Perkebunan siap untuk dipanen ketika berusia 30
bulan, dan pohon kelapa sawit telah menghasilkan 60%
TBS dengan berat rata-rata 3 kg. Bila sudah siap,
petani harus menyiapkan jalan angkut untuk TBS dan
tempat pengumpulan (collection point). Untuk tanaman
dewasa dengan usia di bawah atau berada di usia
delapan tahun, maka petani dapat menggunakan
DODOS untuk memanen buah. Jika tanaman berada di
atas delapan tahun, maka petani menggunakan Egrek
Dalam melakukan panen pada kelapa sawit, ada suatu
rotasi yang harus diikuti oleh petani. Pada Umumnya,
diantara bulan Januari dan bulan Juni, panen dilakukan
lima hari seminggu (Senin sampai Jumat) atau disebut
5/7. Antara bulan Juli sampai bulan Desember, panen
dilakukan enam hari seminggu (Senin sampai Sabtu)
atau disebut 6/7. Petani juga perlu memahami tentang
kerapatan panen karena hal ini mengartikan jumlah
siap untuk dipanen dari di daerah tertentu menurut
TBS. Sebuah Nilai Kerapatan Panen/ Harvest Density
Value (HDV) yang memiliki angka 5 menandakan
bahwa dari 5 pohon, 1 pohon dengan TBS siap untuk
dipanen. HDV berguna untuk peramalan produksi hari
berikutnya, jumlah pekerja untuk panen,
pengangkutan, dan rencana pengolahan TBS.
Ada dua jenis rak panen/harvest shelf, rak tetap/fixed
shelf dan sleigh shelf. Keuntungan dari rak tetap adalah
memiliki area yang mudah dikontrol dan bersih.
Sedangkan kelemahannya adalah TBS akan lebih
lambat menuju ke tempat pengumpulan terdekat.
Kelebihan sleigh shelf, TBS akan mencapai titik
pengumpulan lebih cepat dari rak tetap, namun sulit
dikontrol dan cenderung lebih kotor dari rak tetap.
Ketika memotong TBS, petani harus mencari dan
menentukan TBS matang, potong pelepah yang
mengganggu TBS yang berada didasar, setelah itu
potong TBS. Untuk perkebunan usia 3-5 tahun, TBS
dipotong dengan menggunakan DODOS (blade 8 dan
14 cm). Untuk perkebunan yang berusia di atas 5
tahun, petani dapat memotong pelepah dengan
menggunakan Egrek dan menaruhnya di gawangan.
Setelah TBS diambil dari tempat pengumpulan
(collection point), truk akan mengambil semua TBS ke
RAM atau langsung ke pabrik. Untuk mencegah
jatuhnya TBS, akan ada jaring yang menutupi bagian
atas truk. TBS tidak boleh disimpan semalam di
lapangan karena kualitas pada saat panen harus dijaga.
2.6 Pengelolaan Replanting
Langkah-langkah dalam melakukan replanting adalah
memproses lahan menggunakan mesin ripper, luku I,
luku II, dan TBS hauling road, toppling staple dan
chipping, stapling planted points, menanam Mucuna
brachteata, menggali lubang, pemupukan lubang,
menyebarkan Bio fungisida, dan penanaman benih.
Pada saat menggunakan rippers, arah harus sejajar
dengan baris perkebunan (Utara-Selatan) dan dekat
dengan pohon kelapa sawit. Pohon yang runtuh
ditumpuk sejajar dengan baris perkebunan. Traktor D-6
/ D-8 dengan kedalaman minimal 45 cm. Ketika
menjadi robek petani mulai pembibitan Mucuna,
sehingga ketika luku II selesai, usianya telah mencapai
2 bulan. Petani mulai melakukan lukuI setelah
perobekan dilakukan dengan interval 14 hari. Arahnya
adalah diagonal dengan tanaman baris (Tenggara-Barat
Laut). Disc ploughs ∅ 60 inci ditarik oleh traktor roda
empat dengan kedalaman minimal 30 cm. Setelah 14
hari interval, petani mulai melakukan luku II. Arahnya
juga diagonal dengan baris tanaman dan memotong
arah luku 1 (Barat Daya-Timur Laut). Sebuah disk
plough sebesari ∅ 60 inci ditarik oleh traktor roda
empat dengan kedalaman minimal 30 cm.
Ketika merobohkan tanaman pokok, petani membuat
lubang dari ex bole tissue 1,5 m x 1,5 m x 1,5 m.
Ketebalan shredder adalah 10 cm dalam bentuk disc.
Lokasi tanaman yang pernah roboh dapat dijadikan
gembur dengan menggunakan bucket excavator.
Tiang (stake) untuk TBS hauIing road telah diatur
untuk memiliki ketinggian minimum 2 meter dengan
arah dari Utara-Selatan. Head of stake diatur dengan
jarak tanaman 7,692 meter. Stake untuk titik tanam
diatur dengan tinggi 30 cm untuk penggalian lubang
dengan lubang manual 1 meter. Arah baris adalah
Utara-Selatan. Pola tanam adalah 143 tanaman /
hektar dengan jarak tanam dari 9.090 x 7,692 meter
yang. Baris tanaman terletak di bekas Pasar Pikul.
Tentukan peg (100×100) sebagai titik pusat, juga
tentukan kepala stake (Timur-Barat) berdasarkan jarak
tanam (7,692 meter) di. Ketika areal pertama selesai
kemudian lanjutkan ke areal lain dengan meluruskan
kepala baris stake. Lakukan Pancang isi (Utara-Selatan)
dengan jarak 9.090 meter.
Petani menggali sekitar 2 minggu sebelum menanam
benih dengan menggunakan ekskavator yang ditarik
dengan traktor. Ukuran lubang adalah 70 cm, dengan
kedalaman 60 cm. Petani akan memupuk lubang
sekitar dua minggu sebelum menanam benih. Pupuk
disebar 1/3 bagian di permukaan atas tanah, 1/3
bagian di bagian permukaan bawah tanah, 1/3 di
bagian dinding lubang. Setelah itu, petani menyebar
fungisida bio (400gr / LBG).
Untuk penanaman Mucuna, jumlah Mucuna bracteata
yang biasa ditanam adalah 715 ST / Ha. Benih harus
sudah berusia dua bulan di pembibitan sebelum
ditanam di lahan. Dalam satu gawangan, petani
menanam empat baris dari empat benih. (1 baris untuk
setiap baris tanaman, 2 baris di gawangan). Jumlah
perkebunan kacang di daerah mekanik adalah 5 ST
antara titik tanam. jarak perkebunan kacang dalam
terraces adalah 1.7 meter.
Sebelum melakukan penanaman benih, petani harus
menentukan jumlah cross seed per blok, daftar jumlah
benih per baris / rij, dan tempatkan dalam dua baris
untuk kemudahan melakukan monitor. Ketika
menanam benih, petani memeriksa kedalaman lubang
dengan ketinggian polybag bibit. Potong sisi bawah
polybag. Tempatkan polybag ke dalam lubang, potong
bagian tengah polybag, tutup dengan tanah dan
padatkan sampai 1/3 kedalaman lubang, lalu tutup lagi
sampai sisi leher polybag, letakkan plastik polybag di
akhir stake, dan ciptakan card monitor untuk setiap
blok.
Untuk pengembangan lahan yang menggunakan bahan
kimia, petani merobohkan pangkal pohon kelapa sawit
dengan excavator, kemudian menciptakan lahan baru
yang didasari kontur tanah dengan lebar 4 meter dan
kemiringan 10′-15 ‘ inci kedalam. Jarak antara terraces
(8,33 meter) dengan tanaman di dalam lahan adalah
9.09 meter dengan pola kepadatan 132 tanaman.
Dalam memberantas gulma I, petani dapat
menyemprot rumput liar dengan menggunakan glifosat
sistemik. Untuk gulma II, penyemportan dapat
dilakukan 21 hari setelah gulma I.
Untuk mendukung pengembangan perkebunan yang
baik, petani juga harus mengembangkan infrastruktur
di sekitar perkebunan. Seperti pembuangan parit,
saluran air, kolektor, dan field drain. Pengukuran umum
untuk outlet (pembuangan parit, sebagai penampung
air dari kolektor): (3,0-5,0) x (2,0-2,5) meter. Collector
(pembuangan parit dari field drain): (2-2,5) x 0,5 x
(1,25-1,75) meter. Field drain (pembuangan parit dari
suatu daerah dan dikuras untuk kolektor): 1 x 0,3 x 1
meter. Terrace: kemiringan> 28 derajat – 45 derajat,
Direction horizontal mengikuti kontur, lebar 4 meter ke
dalam dengan perbedaan ketinggian 15-30 cm. Hoof
(individual teras) dibuat di areal dengan kemiringan> 3
derajat – 28 derajat hoof miring ke dalam dengan
ketinggian 5-15 cm. Lubang manual: dua hari sebelum
menanam benih, dengan ukuran 60x60x50 cm.
Nilai Konservasi tinggi/ High
Conservation Value (NKT)
NKT (Nilai Konservasi Tinggi ) didefinisikan sebagai
proses lengkap dalam mengidentifikasi daerah yang
bernilai konservasi dan pengembangan manajemen dan
melakukan monitor terhadap rencana untuk
memastikan bahwa nilai-nilai yang diidentifikasi
dipertahankan atau ditingkatkan (Stewart et al, 2008).
Ada enam atribut dalam HCV
[Link] 1 — – kawasan yang secara global, regional
atau nasional memiliki nilai keanekaragaman hayati
yang tinggi , contoh: spesies epidemik endemisme,
spesies yang terancam punah, refugia.
[Link] 2 — Area yang secara global, regional dan
nasional yang memiliki tingkat lanskap yang luas
dimana banyak terdapat spesies alami yang hidup
dengan distribusi dan kelimpuan alama juga.
[Link] 3 – Area yang memiliki ekosistem langka,
terancam atau hamper punah.
[Link] 4 — Areas yang meyediakan layanan ekosistem
dasar dalam kondisi kritis seperti perlindungan
daerah aliran sungai, control erosi.
[Link] 5 – Areas yang memiiki kebutuhan primer atau
dasar untuk komuitas local seperti subsisten dan
kesehatan.
[Link] 6 — Area yang memiliki peranan penting bagi
warga setempa seperti kawasan budaya, ekologi,
tempat ibadah yang penting bagi masyarakat
sekitar.
Hal yang penting untuk ketahui adalah Kriteria 7.3
yang menekankan bahwa setiap penanaman baru sejak
November 2005 belum menggantikan hutan utama
atau kawasan yang diperlukan untuk memelihara atau
meningkatkan Nilai Konservasi Tinggi. Oleh karena itu,
setiap penanaman setelah November 2005 harus
memiliki penilaian HCV dan analisa penggunaan lahan
perubahan.
Untuk sertifikasi petani, ada pendekatan yang
sederhana dalam melakukan penilaian NKT. RSPO telah
mengembangkan prosedur khusus untuk identifikasi,
manajemen, dan melakukan monitor area yang secara
potensial berdampak NKT. Penilaian tersebut dilakukan
melalui dialog dengan manajer kelompok dengan
anggota kelompok.
Berdasarkan penilaian NKT, jika ada status langka,
terancam, atau hampir punah (RTE) dan lainnya habitat
NKT yang ada di perkebunan atau dapat terpengaruh
oleh perkebunan, harus ada rencana pengelolaan untuk
mempertahankan dan meningkatkan habitat. (RSPO P
& C 2013: Kriteria 5.2)
Pekerjaan, Kesehatan dan
Keselamatan/ Work, Health
and Safety (WHS)
WHS didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan
dan interpretasi untuk mencegah terjadinya cedera.
Cedera terjadi karena ada sebab dan akibat dari
tindakan dan kondisi yang tidak aman. Beberapa faktor
kelalaian manusia yang menyebabkan cedera adalah
tingkat ketrampilan, prosedur dan metode kerja,
lingkungan kerja, alat kerja, kebiasaan, dan ketaatan
kepada peraturan yang berlaku.
Tujuan dari pelaksanaan WHS adalah untuk memiliki
rasa aman, sehat, lingkungan bebas dari kecelakaan di
wilayah kerja (perkebunan) sehingga kinerja dan
produktivitas petani akan meningkat.
Beberapa peralatan dapat membantu melindungi petani
selama melakukan aktifitas di lapangan seperti helm,
sepatu safety, masker, dan sarung tangan. Pada saat
musim panen, perlengkapan standar yang dapat
digunakan oleh petani adalah helm untuk melindungi
cedera kepala (misalnya untuk melindungi dari TBS
jatuh), sarung tangan untuk melindungi tangan dari
benda tajam (misalnya ketika mengambil TBS
memegang DODOS dan Egrek), sepatu safety untuk
melindungi kaki dari cedera (misalnya menhindari TBS
jatuh, digigit oleh hewan, menginjak daerah yang licin,
juga kacamata googles untuk melindungi mata dari
cedera (misalnya kejatuhan daun sawit).
Pada saat menggunakan bahan kimia seperti
pestisida,petani harus memakai peralatan keselamatan.
Tanpa mengenakan perlengkapan keselamatan \ ada
kemungkinan cedera dapat terjadi baik dari kontak
langsung dengan bahan kimia atau melalui tangan dan
hidung. Peralatan yang akan digunakan adalah masker
untuk melindungi dari menghirup bahan kimia
langsung, kacamata goggle untuk melindungi kontak
langsung dengan mata, sarung tangan karet untuk
melindungi tangan dari kontak langsung dengan bahan
kimia, celemek untuk melindungi petani dari pelarut
yang digunakan dalam mencampur pestisida, sepatu
boots untuk melindungi kaki dari setiap tumpahan
bahan kimia langsung, dan topi untuk melindungi setiap
iritasi kulit. Dampak yang dirasakan mungkin tidak
terasa secara langsung namun mengganggu kesehatan
kesehatan petani di kemudian hari (jangka panjang).
Maka dari itu, mencegah kontak dengan chemical
dengan menggunakan peralatan keselamatan akan
meningkatkan kesehatan petani sekarang dan dimasa
depan. Selain memiliki peralatan ini, petani juga harus
tahu bagaimana menyimpan bahan kimia yang
membahayakan ini. Penyimpanan bahan kimia di lokasi
yang aman, jauh dari jangkauan anak-anak adalah
penting. Di ruang penyimpanan, harus ada ventilasi
udara dan peringatan tanda-tanda bahaya agar tidak
sembarang orang dapat memasuki lokasi penyimpanan
bahan kimia tersebut. Petani harus memiliki buku
catatan yang menyimpan ketika bahan kimia
digunakan, dosis yang digunakan, dan jumlah bahan
kimia yang dimiliki.
Dokumentasi
Dokumentasi didefinisikan sebagai catatan lengkap
produksi harian dan catatan lainnya seperti
penggunaan pestisida, penggunaan pupuk, pelatihan,
lingkungan dan assessment sosial dll Dengan memiliki
dokumentasi hal-hal tersebut terutama produksi harian,
petani dapat menghitung berapa banyak TBS
bersertifikat yang diproduksi dan dapat meminta harga
premium. Selain itu petani dapat memiliki suatu
dokumentasi yang jelas tentang biaya dan pendapatan,
sehingga petani dapat menghitung keuntungan baik
secara bulanan atau secara musim panen.
Audit Internal
Pelajaran ini ditujukan kepada para petani dan anggota
ICS yang ditugaskan untuk melakukan audit internal.
Audit internal didefinisikan sebagai evaluasi internal
praktik yang mengarah ke peningkatan aspek dalam
pada kelompok atau tingkat petani individu
berdasarkan RSPO P & C. Grup menetapkan petani dan
anggota ICS untuk bertindak sebagai Badan Sertifikasi
untuk menilai kinerja kelompok berdasarkan standar
yang ada. Auditor internal akan menilai kinerja
kelompok, masing-masing dari anggota harus memiliki
pemahaman yang baik tentang RSPO P & C juga
masing-masing modul pelatihan. Tujuan dari auditor
internal adalah untuk menemukan kesalahan yang
sering dilakaukan (ketidaksesuaian berdasarkan RSPO
P & C) dan untuk melihat apakah perbaikan sudah
dilakukan. Oleh karena itu, ketika audit yang
sebenarnya dilakukan, kesalahan yang ditemukan oleh
Badan sertifikasi akan lebih sedikit.