BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Pamekasan
Kemunculan sejarah pemerintahan lokal Pamekasan,
diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke-15 berdasarkan
sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak
Sunoyo yang mulai merintis pemerintahan lokal di daerah Proppo atau
Parupuk. Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan
tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan Pamekasan merupakan bagian
dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri sejak
pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh raja
Kertanegara.
Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup
panjang. Istilah Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-
16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan
dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum
cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat
pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga
munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang
ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan
tentang kapan dan bagaimana keberadaannya. Kabupaten Pamekasan
memiliki jumlah penduduk sekitar 850.057 jiwa, (BPS: 2021).
56
57
4.1.2 Letak Geografis dan Administrasi
Kabupaten Pamekasan merupakan satu diantara empat
kabupaten di Pulau Madura. Pemerintah Kabupaten Pamekasan
berkedudukan di Jalan Kabupaten No. 107 Kelurahan Bugih Kecamatan
Pamekasan, dengan luas wilayah Kabupaten Pamekasan 79.230 Ha,
atau sekitar 1,71% dari total luas wilayah Provinsi Jawa Timur yang
tersebar di 13 kecamatan, 11 kelurahan dan 178 desa. Kabupaten
Pamekasan merupakan kabupaten terkecil diantara empat kabupaten di
Pulau Madura lainnya seperti Bangkalan, Sampang, dan Sumenep.
Dengan karakteristik sebagian besar penduduknya adalah
bermata pencaharian di bidang pertanian. Kecamatan yang terdapat di
Kabupaten Pamekasan adalah Kecamatan Tlanakan, Pademawu, Galis,
Larangan, Pamekasan, Proppo, Palengaan, Pegantenan, Kadur, Pakong,
Waru, Batumarmar, dan Pasean. Dengan wilayah tertinggi adalah
Kecamatan Pegantenan dengan ketinggian 312 meter dpl dengan luas
wilayah 86,04 km2. Sedangkan wilayah terendah adalah Kecamatan
Galis, yaitu 6 meter dpl dan berbatasan dengan laut.44
Secara administratif Kabupaten Pamekasan terletak pada 6°51’-
7°31’ lintang selatan dan 113°19’- 113°58’ bujur timur. Sedangkan
ketinggian dari permukaan laut dari tertinggi hingga terendah 350 – 6
m. Mengenai klimatologi di Kabupaten Pamekasan, seperti daerah lain
di Indonesia dalam satu tahunnya berlaku dua musim yakni musim
penghujan pada bulan Oktober-April dan musim kemarau pada bulan
April-Oktober. Meskipun curah hujan dapat dikatakan tidak jauh
58
berbeda dengan di Jawa, namun struktur tanahnya yang tidak kedap air
menyebabkan sektor pertanian masih banyak menggantungkan
kelangsungannya pada hujan. Kondisi semacam ini secara drastis akan
menyebabkan kekurangan suplai air pada saat musim kemarau.
Pada saat kondisi cuaca mengalami anomali, maka bisa jadi
musim hujan lebih panjang dari musim kemarau atau sebaliknya.
Sebagaimana yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, musim hujan
lebih panjang dari kemarau. Kondisi seperti ini membawa dampak
negatif bagi petani garam dan tembakau, mengingat keduanya
merupakan komoditi unggulan Kabupaten Pamekasan yang berproduksi
pada musim kemarau. Dengan tidak stabilnya musim hujan ataupun
kemarau, berakibat pada penurunan produksi bahkan sama sekali tidak
berproduksi.
Data indikator iklim meliputi curah hujan dan hari hujan. Curah
hujan merupakan besarnya volume/intensitas air hujan dalam kurun
waktu tertentu yang diukur dengan alat penakar hujan dengan satuan
mm. Hari hujan adalah suatu hari dimana terjadi hujan dalam satu
tahun. Data curah hujan ditampilkan dalam bentuk intensitas curah
hujan di setiap stasiun penakar hujan per bulan selama dalam kurun
waktu satu tahun pengamatan.
Data jumlah hari hujan dan curah hujan diperoleh dari 12 stasiun
pencatatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Pamekasan. Sepanjang
tahun 2013 – 2015 lalu, rata-rata hari hujan tertinggi tiap bulan terjadi
di Wilayah Kecamatan Pakong yang mecapai 11,1 hari dengan rata-rata
59
curah hujan 7,4 mm. Sedangkan wilayah yang paling jarang di guyur
hujan adalah Kecamatan Galis.
Mengenai hidrologi di Kabupaten Pamekasan yakni temperatur
rata-rata maksimum 30° celcius, minimum 28° celcius, sedangkan
kelembaban udara rata-rata 80%.Sehingga dengan kondisi iklim yang
demikian membuat Kabupaten Pamekasan relatif panas dibandingkan
dengan daerah-daerah lainnya. Untuk melihat Kabupaten Pamekasan
dengan lebih jelas akan tergambar pada peta dibawah ini :
Sum
ber : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
Kabupaten Pamekasan
60
Secara kewilayahan Kabupaten Pamekasan berbatasan langsung
dengan Kabupaten Sampang dan Kabupaten Sumenep. Adapun batas
wilayah Kabupaten Pamekasan yakni sebagai berikut :
1. Sebelah Utara : Laut Jawa.
2. Sebelah Selatan : Selat Madura.
3. Sebelah Barat : Kabupaten Sampang.
4. Sebelah Timur : Kabupaten Sumenep.
Secara administratif Kabupaten Pamekasan terdiri dari 13
kecamatan 178 desa dan 11 kelurahan dengan luas wilayah sebesar
792,2 KM2 yang meliputi :
1. Kecamatan Tlanakan : 17 Desa
2. Kecamatan Pademawu : 20 Desa, 2 Kelurahan
3. Kecamatan Galis : 10 Desa
4. Kecamatan Larangan : 14 Desa
5. Kecamatan Pamekasan : 9 Desa, 9 Kelurahan
6. Kecamatan Proppo : 27 Desa
7. Kecamatan Palengaan : 12 Desa
8. Kecamatan Pegantenan : 13 Desa
9. Kecamatan Pakong : 12 Desa
10. Kecamatan Kadur : 10 Desa
11. Kecamatan Waru : 12 Desa
12. Kecamatan Pasean : 9 Desa
13. Kecamatan Batumarmar : 13 Desa
61
Selama satu dekade jumlah kelurahan dan desa tidak mengalami
perubahan. Tetapi ketika melihat perkembangan jumlah penduduk
cenderung meningkat dan jangkauan wilayahnya maka sudah waktunya
ada pemekaran di tingkat desa. Pemekaran di tingkat desa diharapkan
dapat semakin meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.
Pemekaran mendesak terutama di daerah yang jumlah penduduknya
semakin meningkat serta daerah-daerah yang jauh dari pusat pelayanan
publik.
4.1.3 Gambaran Umum Dinas Perhubungan
1. Visi, Misi dan Tujuan Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan
Adapun Visi Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan
adalah terwujudnya penyelenggaraan perhubungan yang handal,
berdaya saing serta pendayagunaan teknologi perhubungan menuju
Pamekasan sejahtera.
Adapun yang mnjadi misi Dinas Perhubungan Kabupaten
Pamekasan adalah pemenuhan kualitas infrastruktur dasar yang
merata dan berkelanjutan.
Sedangkan Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan adalah
meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur perhubungan.
2. Tugas Pokok dan Fungsi
a. Tugas
Dishub mempunyai tugas membantu Bupati melaksanakan urusan
pemerintahan di bidang perhubungan dan tugas pembantuan yang
diberikan.
62
b. Fungsi
1. perumusan kebijakan teknis di bidang perhubungan
2. penyelenggaran upaya peningkatan pelayanan publik di
bidang perhubungan
3. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum
di bidang perhubungan
4. pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang perhubungan
5. penyusunan dan penetapan rencana umum jaringan
transportasi
penyelenggaraan manajemen transportasi
6. pengelolaan manajemen perparkiran
7. pengelolan terminal yang menjadi kewenangan pemerintah
kabupaten
8. penyusunan kebijakan penyediaan sarana prasarana
perhubungan
9. pengendalian teknis di bidang perhubungan
10. penyusunan kebijakan pengelolaan retribusi di bidang
perhubungan
11. penyusunan kebijakan pengujian dan pemeriksaan sarana
transportasi
12. penyelenggaraan kesekretariatan Dishub
13. pengelolaan rekomendasi teknis di bidang perhubungan
14. monitoring, evaluasi, dan pelaporan terhadap pelaksanaan
tugas di bidang perhubungan; dan
15. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati
63
3. Struktur Organisasi
Susunan Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan, adalah
sebagai berikut:
Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan
4.2 Hasil Penelitian
Kebijakan Parkir berlangganan di Kabupaten Pamekasan adalah salah
satu pelaksanaan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab sebagai
mana yang dimaksud dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintahan Daerah. Kebijakan parkir berlanggananan di Kabupaten
Pamekasan merupakan upaya pemerintah daerah dalam menggali dan
mengembangkan potensi daerah dalam rangka untuk memperoleh dana
sehubungan dengan penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan
daerah. Implementasi kebijakan parkir berlangganan di Kabupaten
Pamekasan merupakan bentuk kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya
untuk mencapai beberapa tujuan terkait dengan kelancaran lalu lintas jalan
dan upaya untuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Implementasi
kebijakan ini tidak lepas dari kewenangan daerah dalam mengelola keuangan
64
daerah, ketertiban daerah, tata ruang kota dan secara umum merupakan upaya
pemerintah Kabupaten Pamekasan dalam mensejahterakan masyarakatnya.
Pemerintah Daerah mempunyai tugas salah satunya adalah memberikan
pelayanan kepada masyarakat, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, serta
fasilitas publik lainnya. Tak terkecuali penyediaan lahan parkir yang
memadai. Tata letak kota yang baik juga didukung salah satunya dengan
fasilitas parkir yang tepat dan memadai, serta SDM yang tepat guna dalam
mengelola fasilitas parkir tersebut. Tetapi pelayanan jasa parkir di Kabupaten
Pamekasan yang dirasa masih kurang optimal baik pelayanan, fasilitas
maupun dari segi pendapatannya perlu dibuatkan suatu strategi serta
peraturan. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan pelayanan terhadap
masyarakat sebagai pemakai jasa.
Kebijakan parkir belagganan merupakan salah satu upaya dari
pemerintah daerah Kabupaten Pamekasan untuk melakukan penertiban parkir
liar dan upaya peningkatan retribusi pendapatan asli daerah Kab. Pamekasan.
Hal ini ternyata cukup efektif dalam menunjang pendapatan asli daerah.
Pelaksanaan retribusi parkir berlangganan ini tentunya juga dilaksanakan
sesuai dengan Peraturan Daerah Kab. Pamekasan Nomor 6 Tahun 2010
tentang Retribusi Pelayanan Parkir Di Tepi Jalan Umum Dan Retribusi
Tempat Khusus Parkir. Peraturan Daerah ini disusun guna menyesuaikan
pengaturan Retribusi Parkir Berlanganan dengan UU Nomor 34 Tahun 2000
tentang Perubahan atas UU Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan
Retribusi Daerah, dan untuk penyediaan pelayanan, pengaturan, serta
pemanfaatan tempat khusus parkir guna memperlancar lalu-lintas jalan.
65
Peraturan Daearah ini untuk mendukung pengawasan, pengendalian, dan
pengaturan kegiatan di tempat parkir. Disusun dalam rangka penyederhanaan
cara pembayaran retribusi dan penertiban juru parkir sehingga memberikan
kemudahan bagi Wajib Retribusi. Atas dasar pertimbangan-pertimbangan
tersebut dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Retribusi
Parkir Berlanganan.
Terkait dengan proses pengimplementasian kebijakan parkir berbayar
yang ada di Kabupaten Pamekasan, dapat dikatakan bahwa implementasi
merupakan salah satu tahapan dalam proses kebijakan publik. suatu kebijakan
tentu harus diimplementasikan agar dampak atau tujuan adanya kebijakan
dapat tercapai dimana kebijakan hanya akan menjadi sebuah catatan diatas
kertas apabila kebijakan tersebut tidak diimplementasikan. Oleh karena itu
implementasi merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses
kebijakan. Dalam proses pengimplementasian kebijakan publik terdapat
beberapa model yang dapat digunakan satu diantaranya menggunakan model
implementasi kebijakan yang dikemukakan oleh Edward III menyatakan
bahwa dalam sebuah implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel
yakni komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan struktur birokrasi. Berikut ini
dapat dijelaskan masing-masing variabel yang terkait dengan Implementasi
Kebijakan Parkir Berlangganan.
4.2.1 Komunikasi
Komunikasi dalam proses implementasi membutuhkan
mekanisme dan prosedur institusioanal yang mengatur pola komunikasi
antar organisasi mulai dari kewenangan yang lebih tinggi hingga yang
66
terendah. Komunikasi merupakan faktor yang penting dalam
menjalankan sebuah kebijakan. Dalam komunikasilah pesan-pesan
disampaikan dan juga berbagai informasi terkait pelaksanaan dari suatu
kebijakan. Komunikasi yang tidak baik dapat menimbulkan
kesalahpahaman yang menimbulkan pelaksanaan kebijakan tidak
berjalan baik. Komunikasi dilakukan antar sesama implementor atau
badan pelaksana kebijakan dan juga komunikasi kepada kelompok
sasaran dari kebijakan tersebut. Komunikasi memegang peranan yang
sangat penting dalam proses implementasi, semua pelaksana sudah
seharusnya memahami dan mendukung apa yang menjadi tujuan
kebijakan. Faktor kepemimpinan sangat berperan dalam mengatur
bawahannya atau implemntor memmunyai pemahaman dan dukungan
terhadap tujuan dari organisasi.
Selain komunikasi yang dilakukan dengan sesama implementor
atau badan pelaksana di Kabupaten Pamekasan, implementor juga
melakukan komunikasi dengan kelompok sasaran yang dalam hal ini
adalah masyarakat luas. Komunikasi yang dilakukan adalah berupa
sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat terkait dengan
diberlakukannya kebijakan parkir berbayar serta besaran yang harus
dibayarkan oleh masyarakat dalam memanfaatkan jasa parkir
berlangganan yang telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten
Pamekasan Nomor 6 Tahun 2010 tentang Retribusi Pelayanan Parkir Di
Tepi Jalan Umum Dan Retribusi Tempat Khusus Parkir dengan
67
penyelenggaraan retribusi parkir berlangganan yang ada di Kabupaten
Pamekasan.
Bapak Drs. Junaidi, [Link], bagian bidang sarana prasarana
mengungkapkan bahwa:
“Sangat baik ya mbak dalam hal komunikasi karena sebagai
satuan kerja yang ditunjuk tentu kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita
selalu berkomunikasi dengan pihak swasta dimana mereka
bertindak sebagai penyedia petugas parkir serta pihak satuan
lalulintas dari polres Pamekasan yakni dengan menggelar operasi
gabungan didalam menertibkan tempat parkir maupun petugas
parkir yang tidak tercatat di Dinas Perhubungan. komunikasi juga
disampaikan melalui sosialisasi, rapat dengar pendapat antar
institusi penyelenggara Parkir Berlangganan maupun dengan setiap
SKPD yang ada di Kabupaten Pamekasan untuk ikut ambil bagian
didalam menjalankan peraturan daerah Kabupaten Pamekasan
Nomor 6 Tahun 2010 tentang Parkir Berlangganan. (wawancara,
tanggal 2 Mei 2023)
Lebih lanjut Bapak Ganef Seksi bagian pembangunan Sarana
Prasarana, mengatakan:
Komunikasi yang terjalin selama ini antara Dinas Perhubungan,
pihak swasta sebagai pihak ketiga, maupun dengan pihak
kepolisian yakni satuan Lalulintas Polres Pamekasan telah berjalan
dengan sangat bagus dimana sebagai SKPD yang bertanggung
jawab didalam memonitoring berjalannya kebijakan retribusi
berlangganan, Dinas Perhubungan juga berkomunikasi dengan
pihak swasta yang berperan sebagai penyedia petugas parkir
maupun pihak satuan lalu lintas polres Pamekasan dalam
menggelar operasi penertiban terhadap kegiatan parkir liar maupun
petugas parkir liar yang tidak terdaftar di dinas perhubungan
kabupaten Pamekasan. Dalam menyampaian informasi serta pesan
kepada masyarakat, setiap dinas yang ada di Kabupaten
Pamekasan, saling bahu membahu melengkapi informasi melalui
media cetak seperti Koran (Jawa Pos, Kompas, dan sebagainya),
Spanduk atau banner yang dipasang di depan Rumah Sakit, di
jalan-jalan strategis maupun tempat umum. (wawancara, tanggal 2
Mei 2023)
68
Berdasarkan wawancara di atas, dapat diimplementasikan bahwa
Dinas Perhubungan dalam mengkomunikasikan parkir berlangganan
bekerja sama dengan stakeholder yang lain juga dengan pihak swasta.
Dalam penyelenggaraan parkir berlangganan yang telah diatur
dalam Perda Kab. Pamekasan Nomor 6 Tahun 2010 tentang Parkir
Berlangganan yang ada di Kabupaten Pamekasan, komunikasi program
ini menggunakan berbagai media cetak dan elektronik dan sosialisasi.
Dinas Perhunganan Kabupaten Pamekasan sebagai Dinas
pelaksana kebijakan parkir berlangganan saat ini berupaya untuk
memberikan penyuluhan bagaimana seluruh satuan kerja perangkat
daerah (SKPD), masyarakat umum maupun para petugas parkir mampu
menerapkan pelayanan parkir berlangganan sebagai upaya peningkatan
pelayanan dan peningkatan pendapatan asli daerah dari sektor retribusi
kendaraan yang ada di Kab. Pamekasan secara efektif dan maksimal.
Hal tersebut bisa terlaksana apabila masyarakat terdaftar sebagai
pengguna parkir berlangganan yang menggunakan nomor kendaraan
plat M (Pamekasan). Seperti yang diutarakan oleh Afifur Rahman
Hidayat Warga Pamekasan mengenai pendapatnya tentang komunikasi
yang terjalin antara Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan dengan
masyarakat yakni:
“Mengenai parkir berlangganan, kami telah mendapatkan
informasi dari Dinas Perhubungan melalui spanduk yang mereka
pasang bahwa dilaksanakan mekanisme parkir berlangganan di
Kabupaten Pamekasan. Itu baik agar masyarakat seperti kami ini
tidak ketinggalan informasi sehingga kami bisa menggunakan
kebijakan ini dengan benar.” (wawancara, tanggal 5 Mei 2023)
69
Lebih lanjut Isjabani, selaku juru parkir berlangganan,
menyatakan :
“Begini mbak, kami ya diberitahu oleh orang dinas bahwa adanya
kebijakan tentang parkir berlangganan ini. Ya kami mau tidak mau
harus tunduk dan menjalankan aturan tersebut. Kami juga
disosialisai mengenai mekanisme kebijakan tersebut.” (wawancara,
tanggal 5 Mei 2023)
Kemudian Setiawati Ningtyas Putri selaku Warga Pamekasan,
mengatakan :
“Ia memang benar mbak, jadi sebelum parkir berlangganan mulai
berlaku saya sebelumnya sudah dapat beritanya dari radio dan
memang waktu itu saya pernah juga ke kantor camat untuk ikut
sosialisasi dari dinas perhubungan dan polisi tentang parkir
berlanganan yang memang lebih bagus dan tidak ribet kayak
sebelum-sebelumnya.” (wawancara, tanggal 5 Mei 2023)
Berdasarkan hasil wawancara tersebut diatas, maka
diimplementasikan bahwa keberhasilan dalam proses
pengimplementasian dari kebijakan parkir berlangganan yang
dituangkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pamekasan Nomor 6
tahun 2010 tentang Parkir berlangganan tidak lepas juga dari adanya
komunikasi yang baik dari setiap pemangku kebijakan didalamnya
yakni Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan, Pihak Satuan
Lalulintas Polres Pamekasan, masing-masing SKPD di Kabupaten
Pamekasan, para petugas jukir yang ditugaskan serta masyarakat
Pamekasan
4.2.2 Sumberdaya
Sumberdaya merupakan salah satu elemen yang mempengaruhi
efektivitas pelaksanan kebijakan, selain sumber daya manusia, dana
(anggaran) diperlukan untuk membiayai operasionalisasi pelaksanaan
70
kebijakan. Terbatasnya anggaran maupun peralatan yang tersedia
menyebabkan kualitas pelayanan pada publik yang harus diberikan
kepada masyarakat juga terbatas dimana kondisi ini dapat menyebabkan
para pelaku kebijakan tidak dapat melaksanakan tugas dan fungsinya
secara optimal dan mereka tidak mendapatkan insentif sesuai dengan
yang diharapkan sehingga menyebabkan gagalnya pelaksanaan
program.
Dalam menunjang kegiatan pengimplementasian kebijakan parkir
berlangganan yang tentunya diharapkan dapat meningkatkan
pendapatan asli daerah (PAD) Kab. Pamekasan, Dinas Perhubungan
Kab. Pamekasan tidak hanya ditunjang oleh sumberdaya manusia tetapi
juga ditunjang oleh sumberdaya anggaran. Sumberdaya yang dimiliki
oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan dalam
pengimplementasian kebijakan parkir berlangganan dapat
dideskripsikan sebagai berikut:
1. Sumber Daya Manusia
Berbicara tentang organisasi sama halnya berbicaranya tentang
aspek kelembagaan yang didalamnya termasuk kesatuan orang-orang
yang melakukan pekerjaan dalam ruang lingkup administrasi.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Drs.
Junaidi, [Link], bagian bidang sarana prasarana, berikut ini:
“Sebagai dinas yang ditunjuk sebagai penanggungjawab, kita
selalu berusaha semaksimal mungkin walaupun jumlah pegawai
maupun tingkat pendidikan masih belum sebanding dengan beban
kerja yang ada, itu sebabnya kita libatkan para petugas parkir
yang merupakan tenaga kontrak atas hasil kerjasama bersama
pihak swasta, kita sebagai dinas hanya sebatas memonitoring
sejauh mana pelaksanaan dari kegiatan retribusi berlangganan
dilapangan” (wawancara, tanggal 8 Mei 2023)
71
Kemudian Bapak Ganef Seksi bagian pembangunan Sarana
Prasarana, menyatakan:
“Harus kita akui bahwa hingga sejauh ini sumberdaya yang
terlibat dalam memonitoring pelaksanaan perda masih sangat
kurang memadai dari segi kapasitas maupun kualitas. Sebagai
langkah perbaikan, kita selalu adakan pelatihan baik yang
dilakukan didalam maupun ke luar daerah. ini tentu dapat
dijadikan sebagai ajang perbaikan dan peningkatan kemampuan
dari setiap aparatur khususnya yang bertugas di Dishub
Pamekasan” (wawancara, tanggal 8 Mei 2023)
Selain itu sebagai sumber daya manusia yang berhubungan
langsung dengan penerima kebijakan, petugas parkir juga diberi
arahan dan sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai
Peraturan Daerah Kabupaten Pamekasan Nomor 6 Tahun 2010
tentang Parkir Berlangganan mulai dari persiapan sumber daya
manusia dengan memberi pembekalan juru parkir. Berikut
wawancara dengan petugas parker bapak Isjabani, yang mengatakan:
“Kami sebagai juru parkir ini yang langsung berhubungan
dengan para masyarakat ya harus mengetaui tentang seperti
kendaraan apa saja yang mendapatkan karcis berlangganan dan
kartunya seperti apa. Oleh karena itu, kami mengikuti sosialisai
yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan tersebut sehingga tidak
ada salah paham begitu mas.” (wawancara, tanggal 10 Mei 2023)
Berkaitan dengan sumber daya manusia, berikut hasil
wawancara dengan Afifur Rahman Hidayat Warga Pamekasan, yang
mengatakan:
Saya rasa sumber daya manusia yang bertugas sebagai juru
parkir, masih sangatlah kurang, coba sampeyan lihat mas di
sekitar arek lancor ke selatan, disana banyak petugas parkir liar.
(wawancara, tanggal 10 Mei 2023)
72
Kemudian Setiawati Ningtyas Putri Warga Pamekasan,
menambahkan bahwa:
Aduh mbak, pamekasan ini banyak sekali petugas parkir liar
sehingga mereka tetap menarik iuran parker. Rowet di pamekasan
ini mas. Dinas perhubungan jarang melakukan sidak terkait juru
parker liar. Selain banyaknya juru parker liar, juga walaupun juru
parker yang ditunjuk oleh dinas kadang juga mengambil iuran
parker padahal sepeda motor saya ada stikernya. Ya karena
kasihan terpaksa saya kasih uang. (wawancara, tanggal 10 Mei
2023)
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas, dapat
diinterpretasikan bahwa jumlah petugas parkir sangat kurang
keberadaannya, juga di lapangan masih ada petugas parkir yang
memungut biaya parker walaupun sudah ada tanda stiker di
kendaraan bermotor.
2. Sumber daya anggaran
Dalam implementasi kebijakan, anggaran berkaitan dengan
kecukupan modal atau investasi atas suatu program atau kebijakan
untuk menjamin terlaksananya kebijakan, sebab tanpa dukungan
anggaran yang memadahi, yang tersedia maka proses implementasi
dilapangan akan lebih mudah dibandingkan dengan jumlah dana
yang tersedia lebih sedikit maka kebijakan tidak akan berjalan
dengan efektif dalam mencapai tujuan dan sasaran.
Ketersediaan dana dalam mendukung keberlangsungan dari
setiap kegiatan merupakan faktor penting dalam implementasi
kebijakan, semakin banyak dana Dana sangat berpengaruh terhadap
penggunaan strategi dan cara-cara dalam implementasi kebijakan
sehingga dengan tersedianya dana yang cukup maka cara-cara dan
73
strategi implementasi akan dapat sesuai dengan kondisi yang ada
dilapangan, akan tetapi jika dana yang tersedia kurang, cara-cara
atau strategi implementasi kebijakan akan menyesuaikan besarnya
jumlah dana yang tersedia dengan kata lain implementasi
menyesuaikan jumlah dana yang tersedia.
Menurut wawancara peneliti bersama dengan Bapak Drs.
Junaidi, [Link], bagian bidang sarana prasarana Dinas Perhubungan
Kabupaten Pamekasan, menyatakan:
Hingga saat ini ketersediaan dana sudah tidak menjadi kendala
dalam implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Pamekasan
Nomor 6 tahun 2010 tentang Parkir berlangganan yang ada di
Kabupaten Pamekasan sebab setiap kegiatan yang dijalankan
mendapatkan dana yang bersumber dari anggaran pendapatan
belanja daerah (APBD) Kabupaten Ketersedian sumber daya
finansial atau sarana prasarana yang mencukupi akan mendukung
suatu keberhasilan kebijakan dan juga ketersediaan sumber daya
manusia yang memadai dan dapat diandalkan akan sangat
menentukan keberhasilan program. (wawancara, tanggal 12 Mei
2023)
Lebih lanjut Bapak Ganef Seksi bagian pembangunan Sarana
Prasarana, menambahkan:
“Untuk masalah pembiayaan dari pengaturan retribusi
kendaraan secara berlangganan tentu bersumber sepenuhnya dari
APBD Pamekasan itu sebabnya hingga sejauh ini kita belum
menemukan masalah terkait dengan keterbatasan anggaran
didalam menjalankan aturan parkir berlangganan. Kalau adapun
saya kira sangat kecil ya mas kekurangannya sebab setiap dana
yang dianggarkan tentu harus berpatokan juga pada ketersediaan
anggaran” (wawancara, tanggal 12 Mei 2023)
Untuk membuktikan pernyataan tersebut, maka dilakukan
pembuktian di lapangan dan melakukan wawancara kepada petugas
parkir bapak Isjabani, yang mengatakan:
74
“Gaji atau honor menjadi juru parker sangat kecil mas, sudah
kecil pembayarannya sering terlambat, kadang dibayar
pertengahan bulan malah juga dibayar bulan berikutnya”
(wawancara, tanggal 14 Mei 2023)
Kemudian Afifur Rahman Hidayat Warga Pamekasan, yang
mengatakan:
Kalau angggaran sudah ada tapi sayangnya ketersediaan sarana
dan prasarana dalam perparkiran masih kurang yang mana kami
melihat juru parker tidak menggunakan rompi”. (wawancara,
tanggal 14 Mei 2023)
Kemudian Setiawati Ningtyas Putri Warga Pamekasan,
menambahkan bahwa:
Juru parker berlangganan banyak yang nakal, ada stiker d
sepeda saya bahwa telah berlangganan masih jadi di minta uang
parker, kemungkinan sumber dana untuk honor juru parker yang
kecil” (wawancara, tanggal 14 Mei 2023)
Jadi dapat di interpretasikan berdasarkan hasil wawancara
yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai Perda Nomor 6 Tahun
2010 Tentang Retribusi Parkir Di Tepi Jalan Umum Oleh Dinas
Perhubungan Kabupaten Pamekasan untuk sumber daya yang
tersedia sedia belum terpenuhi secara optimal untuk mencukupi
kebutuhan yang di perlukan untuk perparkiran. Sedangkan untuk
ketersediaan sarana dan prasarana mengenai perparkiran sebagain
telah tersedia namun perlu di tingkatkan lagi
3. Disposisi
Pelaksanaan sebuah kebijakan akan dapat berjalan dengan baik
apabila pelaksana atau implementor dari kebijakan itu sendiri memiliki
komitmen dan konsisten terhadap aturan main yang berlaku. fokus utama
dari studi implementasi adalah persoalan tentang bagaimana organisasi
75
berperilaku, atau bagaimana orang berprilaku dalam mencapai tujuan
organisasi. kecenderungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
tingkah laku dari pelaksana program yaitu petugas lapangan apakah
mendukung atau bertentangan dengan program yang mereka sampaikan.
Terkait dengan implementasi kebijakan parkir berlangganan,
pelaksana kebijakan yang dalam hal ini lebih menitik beratkan pada
aparatur dinas perhubungan maupun para tenaga kontrak yang bertindak
sebagai juru parkir dinilai oleh sebagian masyarakat Pamekasan masih
belum mampu menjalankan tugas dan tanggungjawabnya khususnya para
petugas parkir.
Bapak Afifur Rahman Hidayat selaku Warga Pamekasan
menuturkan bahwa :
Meskipun kebijakan retribusi parkir telah ditetapkan dengan dasar
hukum yang jelas yakni melalui Perda Nomor 6 tahun 2010, namun
hingga kini masih saja ada juru parkir yang melakukan meminta uang
parkir walaupun dirinya telah menunjukan karcis parker berlangganan
kepada juru parkir. (wawancara, tanggal 16 Mei 2023)
Berikut ini juga merupakan hasil wawancara peneliti dengan
Setiawati Ningtyas Putri Warga Pamekasan, beliau mengatakan;
“Kan sudah jelas ya mbak ini sudah ada Perda yang dikeluarkan
tentang parkir tapi sepertinya sama saja sih saya lihat, soalnya kalaupun
saya sudah menunjukan karcis parkir gratis, penjaga parkir tetap saja
meminta uang parkir dengan alasan tempat parkir ini tidak termasuk
daerah parkir berlangganan. (wawancara, tanggal 16 Mei 2023)
Kemudian Isjabani, sebagai Juru parkir berlangganan, menyatakan:
Seharusnya Dishub harus ada pengawasan dan tegas kalau ada
petugas parkir yang meminta uang parkir padahal sudah ditunjukan
karcis parkir gratis. Kalau ada petugas dishub ya mereka enggak
mungkin minta uang parkir tapi kalau petugas dishub sudah enggak ada
baru mereka mulai narik duit dari parkir padahal sudah ada karcis parkir
gratis” (wawancara, tanggal 18 Mei 2023)
76
Menanggapi pendapat diatas, Bapak Drs. Junaidi, [Link], selaku
bagian bidang sarana prasarana menjelaskan bahwa :
Memang benar ada beberapa keluhan terkait dengan adanya
pungutan dari petugas juru parkir yang masih melakukan pungutan
terhadap pemilik kendaraan meskipun para pemilik kendaraan tersebut
telah menunjukan karcis parkir berlangganan. Untuk itu pihaknya akan
berusaha semaksimal mungkin untuk membenahi kekurangan melalui
kegiatan evaluasi berdasarkan keluhan dari masyarakat terkait dengan
sikap petugas parkir yang belum mampu menjalankan tugasnya di
lapangan. Beliau menghimbau agar apabila ada masyarakat Pamekasan
yang merasa telah memiliki karcis parkir berlangganan namun tetap
dimintai uang parkir oleh petugas parkir maka beliau menghimbau
untuk segera melapor ke kantor dinas dengan menunjukan besaran
tagihan parkir maka dinas perhubungan kabupaten Pamekasan akan
memberikan uang ganti rugi kepada masyarakat sebesar lima puluh ribu
rupiah (Rp 50.000) ataupun masyarakat dapat langsung segera melapor
ke kantor polisi sebab tindakan semacam ini merupakan tindakan
melanggar hukum yaitu dengan melakukan pungutan liar. (wawancara,
tanggal 20 Mei 2023)
Hal yang sama juga disampai oleh Bapak Ganef Seksi bagian
pembangunan Sarana Prasarana
hingga sejauh ini telah banyak petugas parkir yang kontraknya
diputus oleh dinas perhubungan sebab didalam menjalankan tugas dan
tanggungjawab dilapangan, para petugas parkir masih tetap melakukan
pungutan walaupun sebelumnya telah diberikan teguran dan pembinaan
oleh petugas Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan. (wawancara,
tanggal 20 Mei 2023)
Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka dapat diinterpretasikan
bahwa Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan tidak akan segan-segan
melakukan pemutusan kontrak kerja secara sepihak apabila ada petugas
parkir yang tertangkap melakukan pungutan terhadap pengguna kendaraan
bermotor walaupun para penngendara kendaraan telah menunjukan karcis
parkir berlangganan.
4. Struktur Birokrasi
Struktur organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
implementasi kebijakan. Aspek struktur organisasi ini melingkupi dua hal
77
yaitu mekanisme dan struktur birokrasi itu sendiri. Aspek pertama adalah
mekanisme, dalam implementasi kebijakan biasanya sudah dibuat standart
operation procedur (SOP). SOP menjadi pedoman bagi setiap
implementator dalam bertindak agar dalam pelaksanaan kebijakan tidak
melenceng dari tujuan dan sasaran kebijakan. Aspek kedua adalah struktur
birokrasi, struktur birokrasi yang terlalu panjang dan terfragmentasi akan
cenderung melemahkan pengawasan dan menyebabkan prosedur birokrasi
yang rumit dan kompleks yang selanjutnya akan menyebabkan aktivitas
organisasi menjadi tidak fleksibel.
Struktur organisasi ini juga merupakan Birokrasi yang
menyelenggarakan dan menangani pelaksanaan kegiatan pemerintah,
dimana dalam hal ini Implementasi Kebijakan Parkir berlangganan di
Pemerintahan Kabupaten Pamekasan. Dapat di digambarkan dibawah ini :
Gambar 2
Struktur Organisasi Dishub dalam Mengimplementasikan
Kebijakan Parkir Berlangganan
Bupati Pamekasan
Kepala Dinas Perhubungan
Kepala UPT Manajemen dan Rekayasa
lalu lintas
Sub Bagian Tata Usaha
Petugas Pengelola Parkir
Juru Parkir 1 Juru Parkir 2 Juru Parkir 3 Juru Parkir …
78
Melalui struktur birokrasi dan alur komando yang jelas tentu dapat
memperkecil timbulnya permasalahan yang muncul oleh karena
pelaksanaan kerjasama antara instansi yang terkait.
Bapak Ganef Seksi, selaku bagian pembangunan Sarana Prasarana
Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan mengungkapkan bahwa:
masing-masing instansi memiliki tugas dan tanggung jawab dan itu
semua dilaksanakan dengan baik oleh Dinas Perhubungan, Kantor
Samsat serta Pihak Satuan Lalulintas Kepolisian Resort Pamekasan, dan
masyarakat Pamekasan sebagai pemanfaat parkir berlangganan.
(wawancara, tanggal 26 Mei 2023)
Berikut juga Bapak Drs. Junaidi, [Link], bagian bidang sarana
prasarana, menyampaikan :
“Tentu dalam menangani urusan parkir dan retribusi bukan hal yang
mudah untuk diatur sendiri oleh dishub. Untuk itu perlu ada struktur
dan alur yang jelas sehingga memudahkan dishub bersama dengan
pihak samsat serta kepolisisan untuk memonitoring pelaksanaan dari
kebijakan parkir berlangganan”. (wawancara, tanggal 26 Mei 2023)
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas, dapat
diinterpretasikan bahwa selain alur/mekanisme dalam pengimplemntasian
kebijakan parkir berlanganan yang ditetapkan melalui adanya Perda
Kabupaten Pamekasan Nomor 6 Tahun 2010 sudah jelas, peneliti juga
melihat adanya koordinasi yang terjalin antara para implementor tersebut.
Tetapi apa yang dirasakan masyarakat Pamekasan sebagai pemanfaat
parkir berlangganan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Afifur
Rahman Hidayat Warga Pamekasan yang memanfaatkan jasa parkir
berlangganan mengungkapkan bahwa :
“kurangnya kontrol dan pengawasan dari Dinas Perhubungan serta
pihak kepolisian mengakibatkan praktek pungutan yang dilakukan oleh
para petugas juru parkir masih tetap saja berlangsung dimana adanya
beberapa titik parkir berlangganan yang para petugas juru parkir masih
79
meminta uang retribusi parkir meskipun masyarakat telah menunjukan
karcis parkir berlangganan yang resmi dikeluarkan oleh Dinas
Perhubungan Pamekasan. (wawancara, tanggal 28 Mei 2023)
Berikut ini juga hasil wawancara peneliti dengan Ibu Setiawati
Ningtyas Putri Warga Pamekasan, yang mengatakan :
“Kalau seperti ini ya berarti memang harus ada pengawasan yang
rutin dari dishub sama polisi. Kan kita sudah bayar juga ke samsat
waktu ngurus STNK, kok malah sudah ada karcis masih ada saja jukir
yang minta uang parkir”. (wawancara, tanggal 28 Mei 2023)
Kemudian Isjabani sebagai Juru parkir berlangganan, mengatakan :
“Kalau saya menjalankan apa yang diperintahan ke saya, memang
benar ada penarikan uang parker walaupun sudah berlangganan parker
berlangganan. Menurut saya perlu ada pengawasan” (wawancara,
tanggal 28 Mei 2023)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diinterpretasikan bahwa
kurang efektifnya struktur birokrasi yang dibentuk dimana masih
minimnya kontrol yang dilakukan baik oleh Dishub Pamekasan maupun
dari pihak kepolisian.
4.3 Pembahasan
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model implemtasi
kebijakan yang dikemukakan oleh Edward III dalam Abidin (2002:131),
dimana Model implementasi yang dikemukakan oleh Edward III menyatakan
bahwa dalam sebuah implementasi kebijakan sangat dipengaruhi oleh empat
(4) variabel yakni komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan struktur birokrasi.
Berikut ini dapat dijelaskan masing-masing variabel yang terkait dengan
Implementasi Kebijakan Parkir Berlangganan) di Kabupaten Pamekasan.
80
1. Komunikasi
Komunikasi dalam proses implementasi membutuhkan mekanisme
dan prosedur institusioanal yang mengatur pola komunikasi antar
organisasi mulai dari kewenangan yang lebih tinggi hingga yang terendah.
Komunikasi merupakan faktor yang penting dalam menjalankan sebuah
kebijakan. Dalam komunikasilah pesan-pesan disampaikan dan juga
berbagai informasi terkait pelaksanaan dari suatu kebijakan. Komunikasi
yang tidak baik dapat menimbulkan kesalahpahaman yang menimbulkan
pelaksanaan kebijakan tidak berjalan baik. Komunikasi dilakukan antar
sesama implementor atau badan pelaksana kebijakan dan juga komunikasi
kepada kelompok sasaran dari kebijakan tersebut. Komunikasi memegang
peranan yang sangat penting dalam proses implementasi, semua pelaksana
sudah seharusnya memahami dan mendukung apa yang menjadi tujuan
kebijakan (Nugroho, 2009:17).
Berdasarkan hasil penelitian di atas bahwa Dinas Perhubungan
melakukan komunikasi dengan sesama implementor atau badan pelaksana
di Kabupaten Pamekasan, Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan juga
melakukan komunikasi dengan kelompok sasaran yang dalam hal ini
adalah masyarakat luas. Komunikasi yang dilakukan adalah berupa
sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat terkait dengan
diberlakukannya kebijakan parkir berbayar serta besaran yang harus
dibayarkan oleh masyarakat dalam memanfaatkan jasa parkir
berlangganan yang telah diatur dalam Perda Kabupaten Pamekasan Nomor
6 Tahun 2010 tentang Parkir Berlangganan terkait dengan
81
penyelenggaraan retribusi parkir berlangganan yang ada di Kabupaten
Pamekasan. Komunikasi yang terjalin selama ini antara Dinas
Perhubungan, pihak swasta sebagai pihak ketiga, maupun dengan pihak
kepolisian yakni satuan Lalulintas Polres Pamekasan telah berjalan dengan
sangat bagus dimana sebagai SKPD yang bertanggung jawab didalam
memonitoring berjalannya kebijakan retribusi berlangganan, Dinas
Perhubungan juga berkomunikasi dengan pihak swasta yang berperan
sebagai penyedia petugas parkir maupun pihak satuan lalu lintas polres
Pamekasan dalam menggelar operasi penertiban terhadap kegiatan/petugas
parkir liar yang tidak terdaftar di dinas perhubungan Kabupaten
Pamekasan.
2. Sumberdaya
Sumberdaya Menurut Abidin (2002:131-132) merupakan salah satu
elemen yang mempengaruhi efektivitas pelaksanan kebijakan, selain
sumber daya manusia, dana (anggaran) diperlukan untuk membiayai
operasionalisasi pelaksanaan kebijakan. Terbatasnya anggaran maupun
peralatan yang tersedia menyebabkan kualitas pelayanan pada publik yang
harus diberikan kepada masyarakat juga terbatas dimana kondisi ini dapat
menyebabkan para pelaku kebijakan tidak dapat melaksanakan tugas dan
fungsinya secara optimal dan mereka tidak mendapatkan insentif sesuai
dengan yang diharapkan sehingga menyebabkan gagalnya pelaksanaan
program.
Dalam menunjang kegiatan pengimplementasian kebijakan parkir
berlangganan yang tentunya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
82
asli daerah (PAD) Kabupaten Pamekasan, Dinas Perhubungan Kabupaten
Pamekasan tidak hanya ditunjang oleh sumberdaya manusia tetapi juga
ditunjang oleh sumberdaya anggaran. Sumberdaya yang dimiliki oleh
Dinas Perhubungan Kabupaten Pamekasan dalam pengimplementasian
kebijakan parkir berlangganan dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a. Sumber Daya Manusia
Berbicara tentang organisasi menurut Abidin (2002:131-132)
sama halnya berbicaranya tentang aspek kelembagaan yang didalamnya
termasuk kesatuan orang-orang yang melakukan pekerjaan dalam ruang
lingkup administrasi.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa jumlah pegawai Dishub dan
petugas parkir Pamekasan dalam mendukung proses
pengimplementasian kebijakan parkir berlangganan yang ada di
Kabupaten Pamekasan dapat dikatakan bahwa jumlah dari pegawai
dinas perhubungan yang ada saat ini justru tidak sebanding dengan
jumlah petugas parkir yang bertindak sebagai tenaga kontrak didalam
mengawasi kegiatan parkir di lapangan.
b. Sumberdaya Anggaran
Dalam implementasi kebijakan, anggaran berkaitan dengan
kecukupan modal atau investasi atas suatu program atau kebijakan
untuk menjamin terlaksananya kebijakan, sebab tanpa dukungan
anggaran yang memadahi, yang tersedia maka proses implementasi
dilapangan akan lebih mudah dibandingkan dengan jumlah dana yang
tersedia lebih sedikit maka kebijakan tidak akan berjalan dengan efektif
83
dalam mencapai tujuan dan sasaran. Islamy (2009:57) menambahkan
bahwa ketersediaan dana dalam mendukung keberlangsungan dari
setiap kegiatan merupakan faktor penting dalam implementasi
kebijakan, semakin banyak dana Dana sangat berpengaruh terhadap
penggunaan strategi dan cara-cara dalam implementasi kebijakan
sehingga dengan tersedianya dana yang cukup maka cara-cara dan
strategi implementasi akan dapat sesuai dengan kondisi yang ada
dilapangan, akan tetapi jika dana yang tersedia kurang, cara-cara atau
strategi implementasi kebijakan akan menyesuaikan besarnya jumlah
dana yang tersedia dengan kata lain implementasi menyesuaikan jumlah
dana yang tersedia.
Menurut hasil wawancara peneliti ketersediaan dana sudah tidak
menjadi kendala dalam implementasi Peraturan Daerah Kabupaten
Pamekasan Nomor 6 tahun 2010 tentang Parkir berlangganan yang ada
di Kabupaten Pamekasan sebab setiap kegiatan yang dijalankan
mendapatkan dana yang bersumber dari anggaran pendapatan belanja
daerah (APBD) Kabupaten Ketersedian sumber daya finansial atau
sarana prasarana yang mencukupi akan mendukung suatu keberhasilan
kebijakan dan juga ketersediaan sumber daya manusia yang memadai
dan dapat diandalkan akan sangat menentukan keberhasilan program.
3. Disposisi
Pelaksanaan sebuah kebijakan akan dapat berjalan dengan baik
apabila pelaksana atau implementor dari kebijakan itu sendiri memiliki
komitmen dan konsisten terhadap aturan main yang berlaku. Edwards III
84
dalam Abidin (2002:131-133) mengungkapkan bahwa fokus utama dari
studi implementasi adalah persoalan tentang bagaimana organisasi
berperilaku, atau bagaimana orang berprilaku dalam mencapai tujuan
organisasi. kecenderungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
tingkah laku dari pelaksana program yaitu petugas lapangan apakah
mendukung atau bertentangan dengan program yang mereka sampaikan.
Terkait dengan implementasi kebijakan parkir berlangganan dalam
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pelaksana kebijakan yang
dalam hal ini lebih menitik beratkan pada aparatur dinas perhubungan
maupun para tenaga kontrak yang bertindak sebagai juru parkir dinilai oleh
sebagian masyarakat Pamekasan masih belum mampu menjalankan tugas
dan tanggungjawabnya khususnya para petugas parkir. Meskipun
kebijakan retribusi parkir telah ditetapkan dengan dasar hukum yang jelas
yakni melalui Perda Nomor 6 tahun 2010, namun hingga kini masih saja
ada juru parkir yang melakukan meminta uang parkir walaupun
masyarakat telah menunjukan karcis parkir berlangganan kepada juru
parkir.
4. Struktur Birokrasi
Struktur organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
implementasi kebijakan. Edwards III dalam Abidin (2002:131-133)
mengungkapkan bahwa aspek struktur organisasi ini melingkupi dua hal
yaitu mekanisme dan struktur birokrasi itu sendiri dimana aspek pertama
adalah mekanisme, dalam implementasi kebijakan biasanya sudah dibuat
standart operational procedur (SOP). SOP menjadi pedoman bagi setiap
85
implementator dalam bertindak agar dalam pelaksanaan kebijakan tidak
melenceng dari tujuan dan sasaran kebijakan. aspek kedua adalah struktur
birokrasi, struktur birokrasi yang terlalu panjang dan terfragmentasi akan
cenderung melemahkan pengawasan dan menyebabkan prosedur birokrasi
yang rumit dan kompleks yang selanjutnya akan menyebabkan aktivitas
organisasi menjadi tidak fleksibel. struktur organisasi ini juga merupakan
Birokrasi yang menyelenggarakan dan menangani pelaksanaan kegiatan
pemerintah, dimana dalam hal ini Implementasi Kebijakan Parkir
berlangganan di Pemerintahan Kabupaten Pamekasan.
Melalui struktur birokrasi dan alur komando yang jelas tentu dapat
memperkecil timbulnya permasalahan yang muncul oleh karena
pelaksanaan kerjasama antara instansi yang terkait. Pada penelitian
ditemukan bahwa bahwa masing-masing instansi memiliki tugas dan
tanggung jawab dan itu semua dilaksanakan dengan baik oleh Dinas
Perhubungan, Kantor Samsat serta Pihak Satuan Lalulintas Kepolisian
Resort Pamekasan, dan masyarakat Pamekasan sebagai pemanfaat parkir
berlangganan. Tetapi apa yang dirasakan masyarakat Pamekasan sebagai
pemanfaat parkir berlangganan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.
Mukhlis dan Simanjuntak (2011:42) menungkapkan bahwa didalam
penyelenggaraan pemungutan retribusi parkir, pengawasan dan
pengendalian adalah sebagai proses penetuan, apa yang dicapai yaitu
standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai
pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga
pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dan standar yang telah
86
ditetapkan. Hal ini justru menunjukan adanya ketimpangan dimana
berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan masyarakat Pamekasan yang
memanfaatkan jasa parkir berlangganan mengungkapkan bahwa
masyarakat menganggap kurangnya kontrol dan pengawasan dari Dinas
Perhubungan serta pihak kepolisian mengakibatkan praktek pungutan yang
dilakukan oleh para petugas juru parkir masih tetap saja berlangsung
dimana adanya beberapa titik parkir berlangganan yang para petugas juru
parkir masih meminta uang retribusi parkir meskipun masyarakat telah
menunjukan karcis parkir berlangganan yang resmi dikeluarkan oleh Dinas
Perhubungan Pamekasan.
Selain alur/mekanisme dalam pengimplementasian kebijakan parkir
berlanganan yang ditetapkan melalui adanya Perda Kabupaten Pamekasan
Nomor 6 Tahun 2010, peneliti juga melihat bagaimana koordinasi yang
terjalin antara para implementor tersebut. Di Kabupaten Pamekasan yang
menjadi leading sector (pusat koordinasi) dari pelaksanaan Perda
Kabupaten Pamekasan Nomor 6 Tahun 2010 adalah Dinas Perhubungan
yang berkoordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah di Kabupaten
Pamekasan seperti Dinas Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten
Pamekasan, Samsat Kabupaten Pamekasan, Satlantas Polres Pamekasan
serta pihak-pihak lain yang tergabung dalam Gugus Tugas untuk
menjalankan kebijakan tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara serta temuan peneliti dilapangan
terkait dengan struktur birokrasi yang dibentuk dalam
mengimplementasikan kebijakan parkir berlangganan di Kabupaten
87
Pamekasan masih belum berjalan dengan baik. kurang efektifnya
komunikasi dari setiap pihak yang terlibat dalam pengimplementasian
Perda Kabupaten Pamekasan Nomor 6 tahun 2010 tentang Retribusi Parkir
berlangganan hanya berkutat pada semakin meningkatnya pendapatan asli
daerah (PAD) tanpa mengedepankan kepatuhan serta tanggungjawab
berdasarkan standar dalam tugas yang telah ditetapkan. Komunikasi dalam
kerangka penyampaian informasi kepada para pelaksana kebijakan tentang
apa yang menjadi standar dan tujuan harus konsisten dan seragam
(consistency and uniformity) dari berbagai sumber informasi. Di samping
itu, koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi
kebijakan, maka kesalahan akan semakin kecil demikian sebaliknya.
Hubungan antara lembaga terkait baik eksternal maupun internal serta
masyarakat yang tidak kalah pentingnya menjadi penentu akan
keberhasilan kebijakan retribusi parkir berlangganan yang ada di
Kabupaten Pamekasan.