0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
134 tayangan23 halaman

Optimalisasi Asesmen Fikih TPACK

Dokumen tersebut merupakan referensi yang mendukung pengembangan materi ajar dan media pembelajaran berdasarkan kurikulum merdeka. Referensi tersebut meliputi pedoman implementasi kurikulum merdeka, contoh TP, ATP dan modul ajar, serta panduan pengembangan kurikulum dan penyusunan alur tujuan pembelajaran.

Diunggah oleh

ivanka vanke
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
134 tayangan23 halaman

Optimalisasi Asesmen Fikih TPACK

Dokumen tersebut merupakan referensi yang mendukung pengembangan materi ajar dan media pembelajaran berdasarkan kurikulum merdeka. Referensi tersebut meliputi pedoman implementasi kurikulum merdeka, contoh TP, ATP dan modul ajar, serta panduan pengembangan kurikulum dan penyusunan alur tujuan pembelajaran.

Diunggah oleh

ivanka vanke
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

Referensi

Direktorat KSKK Madrasah 2022. Contoh TP, ATP dan Modul Ajar Kurikulum Merdeka Pada
Madrasah Mapel Fikih. Jakarta: Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik
Indonesia
Direktorat KSKK Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI 2022. Contoh
TP, ATP dan Modul Ajar Kurikulum Merdeka Pada Madrasah Mapel Al-Qur’an Hadis.
Jakarta: Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia
Glaser, K (2014) Inductive or Deductive Approaches. New Castle: Cambridge Scholars
Publishing.
Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 347 Tahun 2022 Tentang Pedoman
Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah.
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam nomor 3211 tahun 2022, tentang capaian
Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab.
Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
Nomor 262/m/2022, tentang pedoman implementasi kurikulum merdeka
Pusat Asesmen dan Pembelajaran. 2021. Panduan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah
(SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan dan
Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Pusat Kurikulum dan Pembelajaran. 2022. Panduan Pengembangan Kurikulum operasional
di Satuan Pendidikan. Jakarta: Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Pusat Asesmen dan Pembelajaran. 2021. Panduan Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran
dan Perangkat Ajar (Modul Ajar). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan dan
Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
Reigeluth, C. M., & Keller, J. B. (2009). Understanding Instruction. In C. M. Reigeluth & A. A.
Carr-Chellman (Eds.), Instructional-design theories and models: Building a common
knowledge base (pp. 27-39). New York: Taylor & Francis.
Reiser, R.A., & Dempsey, J.V. (2018). Trens and Issues in Instructional Design and
Technology. New York: Pearsn Education.

Kegiatan Belajar (KB): 5


106
Pengembangan Materi dan Media Pembelajaran

A. Pengantar

Abad 21 dikenal sebagai era globalisasi dan teknologi informasi-komunikasi


(information & communication technology). Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi
yang begitu pesat menawarkan berbagai kemudahan baru dalam pembelajaran sehingga
menyebabkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside guided menjadi self-
guided dan knowledge-as-possession menjadi knowledge-as-construction. Lebih dari itu,
teknologi ini ternyata turut pula memainkan peran penting dalam memperbarui konsepsi
pembenaran yang semula fokus pembelajaran semata-mata sebagai suatu penyajian
berbagai macam pengetahuan menjadi pembelajaran sebagai suatu bimbingan agar mampu
melakukan eksplorasi sosial budaya yang kaya akan pengetahuan.
Materi pembelajaran merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan belajar
mengajar. Untuk merancang pembelajaran kita perlu memikirkan materi/bahan pelajaran
apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mencapai kompetensi yang
diinginkan, karena itulah kita perlu mengembangkan bahan pembelajaran.
Dalam mengembangkan materi ajar dapat mengacu pada dua hal, yaitu konteks
tempat penyelenggaraan pendidikan dan bentuk kegiatan pembelajaran yang akan
dilaksanakan. Pertimbangan konteks dilakukan untuk menentukan bentuk kemasan materi
pelajaran seperti dijilid atau tidaknya, dan lain-lain. Sedangkan dari segi bentuk kegiatan
pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan apakah pembelajarannya konvensional,
pendidikan jarak jauh, ataupun kombinasi keduanya. Ada lima faktor yang harus
dipertimbangkan dalam mengembangkan materi ajar yaitu karakteristik peserta didik,
bentuk kegiatan pembelajaran, konteks tempat penyelenggaraan pendidikan, strategi
pembelajaran, dan alat penilaian hasil belajar.
Lembar kerja peserta didik (LKPD) merupakan sarana untuk membantu dan
mempermudah dalam kegiatan belajar mengajar sehingga terbentuk interaksi efektif antara
peserta didik dengan pendidik, dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar peserta
didik. Manfaat LKPD adalah mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran,
membantu mengembangkan konsep, melatih menemukan dan mengembangkan
ketrampilan proses, sebagai pedoman bagi pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan
proses pembelajaran.
Media pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan sebagai
suatu sarana atau perangkat yang berfungsi sebagai perantara atau saluran dalam suatu
proses komunikasi antara komunikator dan komunikan (Asyar, 2011). Media adalah alat
bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan
pengajaran (Djamarah, 2002). Di mana media dapat menampilkan informasi melalui tulisan,
suara, gambar, gerakan dan atau warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga
membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan
tidak membosankan.

B. Capaian Pembelajaran 107


Capaian pembelajaran pada kegiatan pembelajaran (KB) 5 yaitu mahasiswa dapat
memahami konsep materi ajar dan teknik pengembangan media serta mengembangkan
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dan media pembelajaran digital secara efektif dan efisien.

C. Tujuan Pembelajaran

1. Memahami dasar teori pengembangan materi dan media pembelajaran


2. Mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik
3. Membuat Media Pembelajaran berbasis Digital

D. Aktivitas Pembelajaran

Untuk mencapai tujuan pembelajaran Pengembangan Materi dan Media


Pembelajaran berikut disampaikan detail aktivitas pembelajaran yang dilakukan selama 2
hari:
Waktu Aktivitas Dosen Aktivitas Mahasiswa
Syncornus dan Ayncronus Mentoring 2x100’ = 400’
5’  Dosen memotivasi dan menggali
(Syncronus kemampuan awal mahasiswa terkait
Mentoring) pengembangan materi dan media
pembelajaran
 Menyampaikan Latar Belakang, Tujuan,
Garis Besar Kegiatan
60’  Dosen menjelaskan terkait Melakukan diskusi dengan
(Syncronus pengembangan materi dan media dosen terkait dengan
Mentoring) pembelajaran LKPD dan media
 Dosen memberikan contoh dan pembelajaran yang akan
penjelasan secara mendetail terkait dikembangan oleh
pembuatan LKPD yang ideal mahasiswa
 Dosen memberikan contoh dan
penjelasan secara mendetail terkait
media pembelajaran yang baik dan
dapat digunakan mahasiswa sesuai
karakteristik peserta didik
 Dosen melakukan diskusi dengan
mahasiswa
10’ Pengarahan dosen terkait pengerjaan LK 1 Mahasiswa mengajukan
(Syncronus dan LK 2 rencana LKPD dan media
Mentoring) pembelajaran yang akan
dikembangkan

108
260’ Dosen membimbing mahasiswa dalam Membuat LK 1 dan LK 2
(Asyncronus membuat LK dengan bimbingan dosen
Mentoring)
65’ Dosen mereview hasil tugas LK 1 dan LK 2  Mencatat hasil review
(Asyncronus yang telah dikerjakan oleh mahasiswa dan merevisi tugas
Mentoring) apabila ada saran
perbaikan dari dosen
 Meunggah hasil media
pembelajaran yang
sudah disetujui oelah
dosen pada platform
media sosial

Berikut ini disajikan aktivitas pembelajaran pada KB 5.

Tabel 5: Aktivitas Pembelajaran KB 5

Hari Aktivitas
Waktu Formulir
ke-… Mahasiswa Dosen/Guru Pamong
6 06.00-08.00 Membaca modul, - -
memperbaiki tugas, dan
Mengunggah tugas
08.00-10.00 Pertemuan Zoom/GM/VC Pertemuan Zoom/GM/VC LK-5
KB 5 1. Berdiskusi teknik
menyusun
Pengembangan materi
dan media pembelajaran
2. Memfasilitasi diskusi
3. Memberi Tugas mengacu
LK-5
10.00-12.00 1. Membaca Modul KB5 1. Memantau hasil diskusi LK-5
2. Menyusun dan penysunan LK-5
Pengembangan materi 2. Memberi tugas
dan Media
3. Menganalisis TP (LK-5)
4. Mengerjakan tugas
mengacu LK-5
12.00-15.00 1. Mengerjakan Tugas 1. Memantau mahasiswa
LK-5 dalam mengerjakan tugas
2. Berkonsultasi kepada 2. Merespon konsultasi dan
dosen diskusi
15.00-17.00 Mengunggah tugas LK-5 Memantau unggahan tugas -
mahasiswa

109
20.00-22.00 Belajar Mandiri 1. Menilai tugas
1. Memperdalam mahasiswa
pemahaman dalam 2. Memberikan catatan
belajar yang akan diperbaiki
2. Menyiapkan mahasiswa di hari ke-7
pembelajaran materi (Review)
berikutnya

E. Uraian Materi

1. Pengembangan Materi Ajar


Bahan atau materi pembelajaran (Learning Materials) adalah segala sesuatu yang
menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh peserta didik, sesuai dengan kompetensi
dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan
pendidikan tertentu. Materi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai bahan yang
diperlukan untuk pembentukan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus
dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi pelajaran dapat dibedakan menjadi pengetahuan (kognitif), sikap (afektif)
dan keterampilan (psikomotor). Materi Pengetahuan (kognitif) berhubungan dengan
berbagai informasi yang harus dihafal dan didiskusikan oleh peserta didik, sehingga
peserta didik dapat mengungkapkan kembali.
Dalam mengembangkan materi perlu diperhatikan cakupan pengetahuan yang
terdiri dari 4 jenis pengetahuan, yaitu:
a. Pengetahuan Fakta, yaitu sifat dari suatu gejala, peristiwa, benda, yang wujudnya
dapat ditangkap oleh panca indra. Jadi semua hal yang berwujud kenyataan dan
kebenaran, misalnya nama-nama objek, peristiwa, lambang, nama tempat, nama
orang, dan lain sebagainya. Fakta merupakan pengetahuan yang berhubungan
dengan data-data spesifik (tunggal) baik yang telah maupun yang sedang terjadi yang
dapat diuji atau diobservasi.
b. Pengetahuan Konsep, yaitu adalah abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari
sekelompok benda atau sifat. Suatu konsep memiliki bagian yang dinamakan atribut.
Atribut adalah karakteristik yang dimiliki suatu konsep. Gabungan dari berbagai
atribut menjadi suatu pembeda antara satu konsep dengan konsep lainnya. Jadi
semua yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil
pemikiran, seperti definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti/isi dan sebagainya
Materi konsep contohnya pengertian zakat, syarat dan rukun shalat, dan sebagainya
c. Pengetahuan Prosedur, yaitu materi pelajaran yang berhubungan dengan
kemampuan peserta didik untuk menjelaskan langkah-langkah secara sistematis atau
berurutan dalam melakukan sebuah aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh:
langkah-langkah dalam pengurusan jenazah. Hubungan antara dua atau lebih konsep
yang sudah teruji secara empiris dinamakan generalisasi (Merril dalam Wina Sanjaya:
2011).
d. Pengetahuan Metakognitif adalah pengetahuan mengenai kesadaran secara umum
sama halnya dengan kewaspadaan dan pengetahuan tentang kesadaran pribadi
seseorang. Metakognitif adalah kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan
110
apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, peserta didik mengetahui
bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang
dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif. Penekanan
kepada peserta didik untuk lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap
pengetahuan dan pemikiran mereka sendiri. Perkembangan peserta didik akan
menjadi lebih sadar dengan pemikiran mereka sendiri sama halnya dengan lebih
banyak mereka mengetahui kesadaran secara umum, dan ketika mereka bertindak
dalam kewaspadaan ini, mereka akan cenderung belajar lebih baik. Dengan demikian,
apabila kesadaran tersebut terwujud, maka peserta didik dapat mengawali proses
berpikirnya dengan merancang, memantau, dan menilai apa yang dipelajari. Berikut
cakupan dimensi pengetahuan sebagaimana gambar di bawah ini.

Gambar. Dimensi Pengetahuan dan Proses Kognitif

Dalam mengembangkan materi pembelajaran, guru tidak hanya memperhatikan


materi dari segi kognitifnya saja, namun juga dari segi afektif yakni berhubungan dengan
sikap atau nilai. Materi afektif termasuk pemberian respon, penerimaan nilai,
internalisasi, dan lain sebagainya Contohnya nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, minat,
kebangsaan, rasa sosial, dan sebagainya.
Aspek psikomotor juga tak luput menjadi perhatian dalam pengembangan materi
yakni yang mengarah pada gerak atau keterampilan (skill). Keterampilan adalah pola
kegiatan yang memiliki tujuan tertentu yang memerlukan manipulasi dan koordinasi
informasi. Kompetensi yang ingin dicapai dari gerak atau keterampilan, misalnya gerakan
shalat, bela diri, renang, dan sebagainya yang diakomodir pada jenis pengetahuan
prosedural.

Keterampilan dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu:


a. Keterampilan intelektual yaitu keterampilan berpikir melalui usaha menggali,
menyusun dan menggunakan berbagai informasi, baik berupa data, fakta, konsep,
ataupun prinsip, dan teori.
b. Keterampilan fisik yaitu keterampilan motorik seperti keterampilan mengoperasikan
komputer, keterampilan mengemudi, keterampilan memperbaiki suatu alat, dan lain
sebagainya.
Selain itu Hilda Taba (dalam Wina Sanjaya, 2011) juga mengemukakan bahwa ada
4 jenis tingkatan materi pelajaran, yakni fakta khusus, ide-ide pokok, konsep, dan sistem
berpikir. Fakta khusus adalah bentuk materi kurikulum yang sangat sederhana. Ide-ide
pokok bisa berupa prinsip atau generalisasi. Konsep menurut Hilda Taba, lebih tinggi
tingkatannya dari ide pokok, hal ini dikarenakan memahami konsep berarti memahami
111
sesuatu yang abstrak sehingga mendorong peserta didik untuk berpikir lebih mendalam.
Sistem berpikir berhubungan dengan kemampuan untuk memecahkan masalah secara
empiris, sistematis dan terkontrol yang kemudian dinamakan berpikir ilmiah.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan materi ajar,
yaitu: 1) Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; 2) Tingkat
perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual peserta didik; 3)
Kebermanfaatan bagi peserta didik; 4) Struktur keilmuan; 5) Berbagai sumber belajar
(referensi yang relevan dan termutakhir digital maupun non digital); dan 6) Alokasi
waktu.
Materi pelajaran pada hakikatnya adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan
pada peserta didik untuk dapat dikuasai. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan
baik itu berupa ide, data/fakta, konsep dan lain sebagainya, yang dapat berupa kalimat,
tulisan, gambar, peta, ataupun tanda. Pesan bisa disampaikan secara verbal maupun
nonverbal.
Penerimaan pesan bisa dipengaruhi oleh keadaan individu yang menerima pesan
itu sendiri. Wina Sanjaya (2011) mengemukakan agar pesan yang ingin disampaikan
bermakna agar memperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut:
a. Novelty, artinya suatu pesan akan bermakna apabila bersifat baru atau mutakhir,
b. Proximity, artinya pesan yang disampaikan harus sesuai dengan pengalaman peserta
didik,
c. Conflict, artinya pesan yang disajikan sebaiknya dikemas sedemikian rupa sehingga
menggugah emosi.
d. Humor, artinya pesan yang disampaikan sebaiknya dikemas sehingga menampilkan
kesan lucu. Pesan yang dikemas dengan lucu cenderung akan lebih menarik
perhatian.
Agar materi yang akan disampaikan menarik, maka perlu mengemas materi
pelajaran melalui pengembangan bahan ajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan
yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas (National center for vocational Education Research Ltd/ National center
for competence-based Learning (Abdul Majid, 2006). Bahan ajar memungkinkan peserta
didik untuk mempelajari suatu kompetensi dasar secara runtut dan sistematis.
Ada Beberapa pertimbangan teknis yang perlu diperhatikan dalam mengemas
materi pelajaran menjadi bahan belajar (Wina Sanjaya, 2011) di antaranya adalah:
a. Kesesuaian dengan tujuan yang harus dicapai
b. Kesederhanaan
c. Unsur-unsur desain pesan
d. Pengorganisasian bahan dan
e. Petunjuk cara penggunaan

2. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik


Apa itu LKPD? LKPD merupakan lembaran petunjuk dan langkah-langkah tugas
yang disediakan untuk peserta didik dalam proses pembelajaran, baik secara kelompok
maupun perorangan. LKPD sendiri sebagai sarana untuk mempermudah terbentuknya
interaksi antara guru dengan peserta didik dalam meningkatkan aktivitas pembelajaran.
Menurut Trianto, LKPD merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan
untuk menambah pemahaman konsep peserta didik (Trianto, 2010, hal. 222). Sementara
itu, menurut Depdiknas (2008) lembar kerja peserta didik (LKPD) adalah lembaran-
112
lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik yang biasanya berupa
petunjuk, langkah- langkah untuk menyelesaikan suatu tugas.
LKPD disusun dengan rancangan dan dapat dikembangkan sesuai situasi dan
kondisi kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru sendiri yang paham dengan
situasi dan kondisi yang dimaksud, baik di kelas maupun lingkungan belajar peserta
didiknya. Maka dapat disimpulkan bahwa lembar kerja peserta didik (LKPD) adalah salah
satu sarana untuk membantu dan mempermudah proses pembelajaran, agar terjadinya
interaksi yang efektif antara peserta didik dengan pendidik, sehingga dapat
meningkatkan aktivitas peserta didik dalam peningkatan prestasi belajar.
Menurut Trianto, LKPD bisa berupa panduan untuk latihan pengembangan aspek
kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam
bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi. LKPD memuat
sekumpulankegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk
memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai
indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh (Trianto, 2010, hal. 222-223).
Apa saja fungsi LKPD? Beberapa fungsi LKPD di antaranya: 1) Meningkatkan
aktivitas peserta didik dalam pembelajaran; 2) Membantu peserta didik untuk
mengembangkan konsep materi pembelajaran; 3) Melatih peserta didik dalam
menemukan sesuai tujuan pembelajaran dan mengembangkan aspek keterampilan; 4)
Sebagai pedoman pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran;
5) Menambah informasi bagi peserta didik tentang konsep materi pembelajaran melalui
kegiatan belajar yang sistematis; 6) Membantu guru dalam mengevaluasi pembelajaran.
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan penggunaan LKPD dalam proses
pembelajaran adalah: 1) Mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran; 2)
Membantu peserta didik dalam mengembangkan konsep; 3) Melatih peserta didik dalam
menemukan dan mengembangkan keterampilan proses; 4) Membantu peserta didik
memperoleh catatan terkait materi yang dipelajari melalui proses pembelajaran; 5) Dan
membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari
melalui kegiatan belajar secara sistematis; 6) peserta didik akan dapat belajar dan
memahami secara mandiri serta menjalankan tugas secara lebih mendalam
memudahkan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran secara sistematis dan terukur
kompetensi peserta didik yang akan dicapai melalui tugas-tugas pada LKPD; 7) Sebagai
pedoman pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran;
Apa saja bentuk LKPD? Dilihat dari segi tujuan disusunnya LKPD, maka LKPD
dapat dibagi menjadi lima macam bentuk yaitu: 1) LKPD yang membantu peserta didik
menemukan suatu konsep; 2) LKPD yang membantu peserta didik menerapkan dan
mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan; 3) LKPD yang berfungsi
sebagai penuntun belajar; 4) LKPD yang berfungsi sebagai penguatan; 5) LKPD yang
berfungsi sebagai petunjuk praktikum. (Prastowo, 2011, hal. 24).
Komponen yang harus dipersiapkan pendidik dalam membuat LKPD yaitu
berupa: 1) Lembar Kerja (Nama Peserta didik, Kelas, Tema, Tujuan Pembelajaran dan
Langkah-Langkah Kegiatan); 2) Lembar Jawaban; dan 3) Penilaian. Dari ketiga
komponen diatas, hanya LKPD yang diserahkan pada peserta didik, sementara lembar
jawaban dan penilaian disimpan oleh guru. Lembar jawaban menjadi patokan guru untuk
menilai walaupun di kemudian akan menjadi relatif atau berkembang. Sementara
penilaian merupakan lembaran yang diisi guru.

113
Dalam menyusun LKPD paling tidak memuat: judul, kompetensi dasar yang akan
dicapai, waktu penyelesaian, peralatan/bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan
tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang harus dilakukan, dan laporan yang
harus dikerjakan. Beberapa langkah-langkah persiapan LKPD dijelaskan dalam
Depdiknas (2008b: 23-24) dalam Nurhaidah (2014: 29) sebagai berikut:
a. Analisis kurikulum. Analisis ini dilakukan dengan memperhatikan materi pokok,
pengalaman belajar peserta didik, dan kompetensi belajar peserta didik.
b. Menyusun peta kebutuhan LKPD.
c. Menentukan judul-judul LKPD sesuai materi pokok dan pengalaman belajar.
d. Penulisan LKPD dengan langkah a) perumusan CP dan TP yang harus dikuasai, b)
menentukan alat penilaian, c) penyusunan materi dari berbagai sumber, d)
memperhatikan struktur LKPD, sebagaimana diagram di bawah ini.

Gambar. Diagram Struktur Lembar Kerja Peserta Didik (Sumber: Pustaka Siti
Khadijah)
Apa yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan LKPD? Beberapa hal penting
yang harus diperhatikan di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Aspek penyajian materi: a) Judul lembar kerja harus sesuai dengan materinya; b)
Materi harus sesuai dengan perkembangan peserta didik; c) Materi disajikan secara
sistematis dan logis; d) materi disajikan secara sederhana dan jelas; e) menunjang
keterlibatan dan kemauan peserta didik untuk ikut aktif.
b. Aspek Tampilan: a) Penyajian sederhana, jelas dan mudah dipahami; b) Gambar dan
grafik sesuai dengan konsepnya; c) Tata letak gambar, tabel, pertanyaan harus tepat;
d) Judul, keterangan, instruksi, pertanyaan harus jelas; e) Mengembangkan minat dan
mengajak peserta didik untuk berpikir.

3. Pengembangan Media Pembelajaran


Pembelajaran merupakan proses terjadinya interaksi antara peserta didik dengan
sumber belajar, namun proses pembelajaran yang berlangsung kenyataannya sebagian
besar masih berpusat pada pengajar, di mana proses pembelajaran yang berkualitas
idealnya adalah pembelajaran yang dapat membantu dan memfasilitasi pembelajar
untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal, serta mampu mencapai tujuan
yang ditetapkan secara efektif, dengan berorientasi pada minat, kebutuhan, dan
kemampuan pebelajar. Dalam bidang pendidikan, proses pembelajaran diidentikkan
dengan proses penyampaian informasi atau komunikasi. Dalam hal ini media
pembelajaran merupakan bagian yang tak terpisahkan pada lembaga pendidikan.
114
Pemanfaatan media pembelajaran merupakan upaya kreatif dan sistematis untuk
menciptakan pengalaman yang dapat membelajarkan siswa sehingga pada akhirnya
lembaga pendidikan akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Melihat
keterbatasan yang melekat pada media konvensional, maka sudah saatnya media
konvensional ditingkatkan kualitasnya atau bahkan diganti dengan mengembangkan
suatu media pembelajaran yang lebih inovatif sekaligus interaktif,
Media pembelajaran merupakan unsur yang penting dalam proses pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan sumber belajar yang dapat membantu guru dalam
memperkaya wawasan peserta didik, dengan berbagai jenis media pembelajaran oleh
guru maka dapat menjadi bahan dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta
didik. Media yang tepat dapat menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar hal baru
dalam materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga dapat dengan mudah
dipahami. Media pembelajaran yang menarik bagi peserta didik dapat menjadi
rangsangan bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebagai guru harus dapat
memilih media pembelajaran yang sesuai dan cocok untuk digunakan sehingga tercapai
tujuan pengajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah.
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ”tengah”,
”perantara” atau ”pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Jadi, media adalah alat yang
menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran. Menurut Yusuf hadi
Miarso, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan
pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan
terkendali. Berdasarkan uraian para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar
mengajar sehingga makna pesan yang disampaikan menjadi lebih jelas dan tujuan
pendidikan atau pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien.
Penggunaan media pembelajaran seringkali menggunakan prinsip Kerucut,
Pengalaman (cone of experience), yang melukiskan bahwa semakin konkrit peserta didik
mempelajari bahan pelajaran, maka semakin banyaklah pengalaman yang didapatkan.
Tetapi sebaliknya, jika semakin abstrak peserta didik mempelajari bahan pelajaran maka
semakin sedikit pula pengalaman yang akan didapatkan oleh peserta didik.

115
Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa ketika penggunaan media
pembelajaran lebih konkrit atau dengan pengalaman langsung maka pesan (informasi)
pada proses pembelajaran yang disampaikan guru kepada peserta didik akan
tersampaikan dengan baik. Akan tetapi sebaliknya jika penggunaan media pembelajaran
semakin abstrak maka pesan (informasi) akan sulit untuk diterima peserta didik dengan
kata lain peserta didik menghadapi kesulitan dalam
memahami dan mencerna apa yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, penggunaan
media pembelajaran yang tepat akan memberikan berpengaruh terhadap pemerolehan
dan pemahaman, keterampilan, dan sikap peserta didik.
Menurut Wina Sanjaya, ada beberapa fungsi dari penggunaan media
pembelajaran yaitu:
a. Fungsi komunikatif Media pembelajaran digunakan untuk memudahkan komunikasi
antara penyampai pesan dan penerima pesan. Sehingga tidak ada kesulitan dalam
menyampaikan bahasa verbal dan salah persepsi dalam menyampaikan pesan.
b. Fungsi motivasi Media pembelajaran dapat memotivasi peserta didik dalam belajar.
Dengan pengembangan media pembelajaran tidak hanya mengandung unsur artistic
saja akan tetapi memudahkan peserta didik mempelajari materi pelajaran sehingga
dapat meningkatkan gairah peserta didik untuk belajar.
c. Fungsi kebermaknaan Penggunaan media pembelajaran dapat lebih bermakna yakni
pembelajaran bukan hanya meningkatkan penambahan informasi tetapi dapat
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menganalisis dan mencipta.
d. Fungsi penyamaan persepsi Dapat menyamakan persepsi setiap peserta didik
sehingga memiliki pandangan yang sama terhadap informasi yang disampaikan.
e. Fungsi individualitas Dengan latar belakang peserta didik yang berbeda, baik itu
pengalaman, gaya belajar, kemampuan peserta didik maka media pembelajaran
dapat melayani setiap kebutuhan setiap individu yang memiliki minat dan gaya
belajar yang berbeda.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, media pembelajaran dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi, yaitu:
a. Dilihat dari sifatnya, media dibagi ke dalam
1) Media auditif, yaitu media yang hanya didengar saja.
2) Media visual, yaitu media yang hanya dilihat saja.
3) Media audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga
mengandung unsur gambar yang bisa dilihat.
b. Dilihat dari kemampuan jangkauannya media dapat dibagi ke dalam
1) Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak
2) seperti radio dan televisi.
3) Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh
4) ruang dan waktu seperti film slide, film, video.
c. Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media dibagi ke dalam
1) Media yang diproyeksikan seperti film, slide, film strip, transparansi, dan
sebagainya
2) Media yang tidak diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan, radio, dan
sebagainya.
Sedangkan menurut Yusufhadi pengklasifikasian media berdasarkan ciri-ciri
tertentu dikenal dengan taksonomi media, yaitu:
a. Media penyaji, yang terdiri dari:
116
1) Kelompok satu: Grafis, Bahan Cetak, dan Gambar Diam
2) Kelompok Dua: Media Proyeksi Diam
3) Kelompok Tiga: Media Audio
4) Kelompok Empat: Audio ditambah Media Visual Diam
5) Kelompok Lima: Gambar Hidup (film)
6) Kelompok Eman: Televisi
7) Kelompok Tujuh: Multimedia
b. Media Objek, yaitu benda tiga dimensi yang mengandung informasi, tidak dalam
bentuk penyajian tetapi melalui ciri fisiknya seperti ukuran, berat, bentuk, susunan,
warna, fungsi.
c. Media Interaktif. Dengan media ini peserta didik tidak hanya memperhatikan
penyajian atau objek tetapi berinteraksi selama mengikuti pelajaran. Menurut Nana
Sudjana dan Ahmad Rivai, ada beberapa jenis media pembelajaran yang dapat
digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu: a) Media grafis, disebut juga media dua
dimensi yaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar seperti gambar, foto,
grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik; b) Media tiga dimensi. Dalam
bentuk model seperti model padat, model penampang, model susun, model kerja,
diorama; c) Media proyeksi, Seperti slide, film strips, film; d) Penggunaan lingkungan
sebagai media pengajaran.
Media pembelajaran yang disusun oleh guru hendaknya memperhatikan
kebutuhan peserta didik untuk dipelajari. Pembuatan atau pemilihan media
pembelajaran harus memperhatikan beberapa kriteria diantaranya (Yunita, 2022: 47):
a. Selaras dengan standar kurikulum dan ketepatan atau efektivitas media dengan
tujuan pengajaran
Media pembelajaran harus disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran yang selaras
dengan kurikulum yang berlaku, penyusunan bahan ajar tidak bisa disusun sesuai
dengan kehendak dan kemauan sendiri.
b. Media Pembelajaran harus mereprsentasikan sudut pandang
Dalam menyampaikan materi ajar kepada peserta didik, pendidik hendaknya
menggunakan beragam teori dari para ahli dalam penerapan pembelajarannya.
c. Gaya literasi yang berterima
Seluruh isi dari bahan ajar harus bisa dipertanggungjawabkan kebenaran data yang
ada didalamnya.
d. Merefleksikan konteks kehidupan
Pendidik menyampaikan materi tidak hanya menyampaikan teori saja, namun harus
dibuktikan dalam kehidupan nyata. Contohnya ketika guru menjelaskan materi
bersuci/thaharah, maka guru juga harus memberikan contoh praktek tata cara
bersuci/thaharah.
e. Keakuratan isi
Isi media pembelajaran yang diajarkan harus sesuai dengan materi dan teori yang
berkembang sesuai pada tahun tersebut.
f. Sesuai dengan tingkat jenjang
Saat penyusunan media pembelajaran, pendidik harus memperhatikan sasaran
pembelajarannya sesuai dengan kriteria dan taraf berpikir peserta didik serta jenjang
pendidikannya.
g. Keterampilan guru dan peserta didik dalam menggunakan media

117
Untuk melihat bagaimana stimulus yang dihasilkan jenis media? Dapat dilihat dari
tabel berikut:

4. Pengembangan Sumber Belajar Digital berbasis TPACK


Pada abad 21 guru perlu memahami dan memiliki kompetensi Technological
Pedagogical Content Knowledge (TPACK). TPACK merupakan sebuah kerangka
konseptual gabungan dari pengetahuan teknologi, pedagogi dan konten (materi) yang
saling berhubungan. Salah satunya dengan cara memanfaatkan media dan teknologi
dalam mendukung aktivitas pembelajaran-pembelajaran yang sudah usang atau telah
lama digunakan sehingga anak-anak semangat dalam menerima pembelajaran. Media
pembelajaran merupakan salah satu kompenen penting dalam suatu pembelajaran.
Dalam bidang Teknologi pendidikan berfungsi untuk menyampaikan materi pelajaran
guna dapat dipahami peserta didik. (Pribadi, 2017) Teknologi dalam Media pembelajaran
sangatlah beragam dan dapat dimanfaatkan yakni, media cetak, model, grafis, audio,
video, multimedia dan koneksi atau jaringan internet yang dapat memfasilitasi serta
dapat memperkaya pengetahuan peserta didik namun pememersalahan sekarang masih
banyak pendidik yang menggunakan media sederhana saja.
Sumber belajar digital (e Learning) dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk
teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan berupa website yang dapat
diakses di mana saja. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
E-learning berfungsi sebagai suplemen, apabila peserta didik mempunyai
kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau
tidak. Ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik yaitu :
a. Suplemen Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila peserta
mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran
elektronik atau tidak.
b. Komplemen (tambahan) Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap)
apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi
pembelajaran yang diterima tersebut.
c. Substitusi (pengganti) Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju
memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada
para maha peserta didiknya.

118
Sedangkan manfaat E-learning bagi pendidikan dapat dilihat pada link berikut
[Link]
Penyebaran virus Covid-19 yang berdampak besar terhadap dunia pendidikan.
Kebijakan yang diambil oleh banyak negara termasuk Indonesia yaitu dengan belajar dari
rumah, yang mengakibatkan pemerintah dan lembaga yang terkait harus menghadirkan
alternatif proses pendidikan bagi peserta didik yang tidak bisa melaksanakan proses
pendidikan pada lembaga pendidikan. Untuk detailnya terkait media video e-learning
dapat dilihat pada link berikut
[Link]
Berikut ini merupakan lima cara teknologi digital yang dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran, baik dalam pembelajaran formal dan dalam pengaturan informal
(NETP, 2017), yaitu:
a. Teknologi dapat memungkinkan pembelajaran atau pengalaman yang
dipersonalisasi yang lebih menarik dan relevan.
b. Teknologi dapat membantu mengatur pembelajaran di sekitar tantangan dunia nyata
dan pembelajaran berbasis proyek - menggunakan berbagai perangkat dan sumber
belajar digital untuk menunjukkan kompetensi dengan konsep dan konten yang
kompleks.
c. Teknologi dapat membantu belajar bergerak di luar ruang kelas dan memanfaatkan
peluang belajar yang tersedia di museum, perpustakaan, dan lingkungan luar sekolah
lainnya.
d. Teknologi dapat membantu pelajar mengejar cita-cita dan minat pribadi.
e. Kesetaraan akses teknologi dapat membantu menutup kesenjangan digital dan
membuat peluang pembelajaran transformatif tersedia untuk semua peserta didik di
mana pun.
Apa saja jenis-jenis media pembelajaran berbasis digital? Media pembelajaran
berteknologi digital yang dapat dimanfaatkan oleh guru, di antaranya:
a. Multimedia Interaktif. Secara terminologi, multimedia didefinisikan sebagai sebuah
kombinasi berbagai media seperti teks, gambar, suara, animasi, video dan lain-lain
secara terpadu dan sinergis dengan menggunakan alat seperti computer maupun
peralatan elektronik lainnya guna mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian
tersebut mengandung makna bahwa tiap komponen multimedia harus diolah dan
dimanipulasi serta dipadukan secara digital menggunakan perangkat komputer atau
sejenisnya (Surjono, 2017).
b. Digital Video dan Animasi. Perkembangan teknologi mendorong banyak perubahan
pada diri peserta didik. Kebiasaan menggunakan buku teks dan buku tulis perlahan
semakin berkurang. Kecanggihan teknologi melahirkan beragamnya metode
pembelajaran yang lebih efektif dan menarik bagi peserta didik. Pembelajaran
berbasis video atau Video Based Learning merupakan salah satu contoh metode
belajar yang efektif dan telah menjadi tren dalam e-learning selama satu decade ini.
Salah satu contoh, sebuah animasi dapat menjelaskan sebuah konsep, betapapun
sulitnya konsep itu akan membuat peserta didik duduk diam untuk menonton.
Termasuk video-video tutorial yang tersebar melalui media YouTube. Ada beberapa
tipe atau jenis video pembelajaran yang dapat kembangkan, yaitu:
1) Microvideo: Video instruksional pendek yang focus pada pengajaran satu topik
sempit. Dapat digunakan untuk menjelaskan konsep sederhana, atau konsep
rumit namun disajikan dalam beberapa rangkaian video.
119
2) Tutorial: Video dengan metode instruksional untuk mengajarkan proses atau
berjalan melalui langkah- langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
Biasanya antara 2-10 menit video ini memanfaatkan berbagai metode
pengajaran. Kadang-kadang disebut sebagai video how to.
3) Training Video: Video pelatihan dirancang untuk meningkatkan keterampilan
tertentu. Umumnya membahas topik interpersonal atau topik terkait pekerjaan,
seperti pelatihan perangkat keras dan perangkat lunak. Video pelatihan sering
menggunakan cuplikan orang sungguhan untuk meningkatkan interaktivitas.
4) Screencast: Sebuah video yang terutama terdiri dari rekaman layar yang
dirancang untuk mengajarkan seseorang untuk melakukan tugas atau berbagi
pengetahuan.
5) Presentation & Lecture: Sebuah rekaman ceramah atau presentasi untuk
dipelajari audiens. Isinya merupakan gabungan audio presentasi, atau slide
PowerPoint, webcam dan materi.
6) Animasi: Video animasi bisa terdiri dari full animasi digital yang dikemas menjadi
video, atau video riil ditambah dengan animasi. Penggunaan animasi sebagai
video bisa menggambarkan objek yang tidak bisa dilihat oleh mata atau peristiwa
kompleks serta perlu penjelasan detil bisa disampaikan dengan jelas dan mudah
dipahami. (sumber: [Link]). Sementara tips umum membuat
pembelajaran berbasis video, yaitu kenali siapa peserta didik kita dan karakteristik
perkembangannya, persiapkan naskah video, tentukan jenis video, audio, dan
jenis video interaktif.
c. Podcast, merupakan episode program yang tersedia di Internet. Podcast biasanya
berupa rekaman asli audio atau video, dan juga merupakan rekaman siaran televisi
atau program radio, kuliah, pertunjukan, atau acara lain. Podcast seringkali
menawarkan tiap episode dalam format file yang sama, seperti audio atau video,
sehingga pelanggan dapat menikmati program tersebut dengan cara yang sama.
Pada podcast tertentu seperti kursus bahasa dikemas dalam beberapa format file,
seperti video dan dokumen dengan tujuan agar pengajaran berjalan lebih efektif.
Podcast merupakan wadah agar sains bisa masuk dalam kehidupan sehari-hari.
Keuntungan menggunakan Podcast sebagai media pembelajaran adalah: 1)
Pendengar bisa mengontrol apa yang dia dengar; 2) Termasuk Portable; 3) Para
amatir juga bisa melakukan sharing, artinya semua orang bisa membuat Podcast,
misalnya dengan merekam suara sendiri.
d. Augmented Reality (AR), merupakan sebuah teknologi yang mampu
menggabungkan benda maya dua dimensi atau tiga dimensi ke dalam sebuah
lingkungan yang nyata kemudian memunculkannya atau memproyeksikannya secara
real time. AR dapat digunakan untuk membantu memvisualisasikan konsep yang
abstrak untuk memberikan pemahaman dan struktur suatu model objek. Beberapa
aplikasi AR dirancang guna memberikan informasi yang lebih detail pada pengguna
dari objek nyata (Mustaqim, 2016).
e. Virtual Reality (VR), pengguna merasa berada di dalam lingkungan tersebut. Di dalam
bahasa Indonesia virtual reality dikenal dengan istilah realitas maya. VR adalah
perpaduan dari pemrosesan gambar digital, grafik komputer, teknologi multimedia,
sensor dan teknologi pengukuran, kecerdasan virtual dan buatan dan disiplin lainnya,
membangun lingkungan ruang tiga dimensi interaktif virtual yang realistis dan
merespons kegiatan real-time atau operasi yang membuat seperti berada di dunia
120
nyata. Penggunaan teknologi VR bisa membuat peserta didik lebih intuitif dan alami
untuk berpartisipasi dalam lingkungan virtual, berpartisipasi dalam konten
pengajaran dalam berbagai bentuk, mewujudkan interaksi antara peserta didik
informasi, membuat konten pengajaran abstrak menjadi lebih spesifik dan jelas,
meningkatkan efisiensi penciptaan situasi pengajaran dan kualitas pengajaran. Lebih
jelasnya dapat dilihat gambar di bawah ini.

(sumber. [Link] virtual-reality-definisi-cara-kerja-


contohnya/)
f. Game Based Learning. Bermain dan belajar dapat terjadi ketika ruang kelas
memanfaatkan game sebagai media pembelajaran. Biasanya teknologi permainan
bisa membuat pelajaran yang sulit menjadi lebih menarik dan interaktif. Kemajuan
teknologi semakin cepat digunakan untuk meningkatkan permainan edukatif dalam
setiap disiplin ilmu. Permainan dapat berupa pemecahan masalah kehidupan nyata.

F. Rangkuman

Dalam proses pembelajaran, akan ada proses perpindahan informasi dari guru kepada
siswa. Informasi itu berupa bahan atau materi pembelajaran. Bahan atau materi
pembelajaran (Learning Materials) adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang
harus dikuasai oleh peserta didik, sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian
standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Dalam
pengembangannya, jenis-jenis pengetahuan perlu diperhatikan. Salah satu bahan
pembelajaran dapat berupa Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD). LKPD berbentuk
lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik yang biasanya berupa
petunjuk, langkah- langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Proses perpindahan informasi
memerlukan media sebagai pembawa informasi, dalam hal ini bahan atau materi
pembelajaran.
Media pembelajaran berfungsi sebagai penunjang proses pembelajaran. Setiap guru
menggunakan media, sumber belajar, dan alat peraga agar materi yang diajarkan dapat
dengan mudah dipahami oleh peserta didiknya. Media pembelajaran juga memiliki
kedudukan yang penting dalam sistem pembelajaran. Setiap media mempunyai kegunaan
dan kemampuan masing-masing dalam menjembatani antara pendidik dan peserta didik.
Pemilihan media yang tepat mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam sebuah
proses pembelajaran.

G. Materi Pendukung
121
1. Cara membuat LKPD di google form
[Link]
2. Cara membuat LKPD interaktif [Link]
3. Cara membuat media pembelajaran digital
[Link]
4. Cara Membuat Website Media Pembelajaran Interaktif dengan Google Sites
[Link]
5. Cara upload video pembelajaran di youtube [Link]
6. Cara membuat video pembelajaran di power point [Link]
7. Cara membuat video pembelajaran dengan handphone
[Link]
8. Cara edit video pembelajaran [Link]
9. Cara membuat video pebelajaran interaktif [Link]
10. Cara membuat media power point interaktif [Link]
11. Video Pembelajaran [Link]
12. Ruang Guru PAUD Kemendikbud [Link]
13. Buku Sekolah Elektronik [Link]
14. Mobile Edukasi Bahan Ajar Multimedia [Link]
15. Modul Pendidikan Kesetaraan [Link]
16. Sumber bahan ajar peserta didik SD, SMP, SMA, dan SMK
[Link]
Template ini bukanlah harga mati yang tidak
bisa diubah. Para dosen dapat
H. Lembar Kerja (LK) mengembangkan atau merubah template
lembar kerja, untuk ketercapaian tujuan
pembelajaran secara maksimal.
1. Petunjuk
a. Buatlah LKPD sesuai dengan materi ajar dan mencakup komponen (1) judul, (2)
petunjuk belajar, (3) CP dan TP, (4) informasi pendukung, (5) tugas dan langkah kerja,
(6) penilaian!
b. Buatlah media pembelajaran berbasis digital dan unggahlah pada platform media
sosial anda!

2. Formulir

LK-5a: Menyusun Pengembangan Materi

Materi Apa Mengapa Bagaimana Untuk Apa

LK-5b: Menyusun LKPD


122
No. Komponen Narasi
1. Judul
2. Petunjuk Belajar
3. CP dan TP
4. Informasi Pendukung
5. Tugas dan Langkah kerja
6. Penilaian

LK-5c: Menyusun media digital (video sumber belajar)


Nama media video sumber belajar Link

2. Rubrik Penilaian

RUBRIK PENILAIAN
LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (LKPD)
Petunjuk
1. Mohon Bapak/ Ibu memberikan penilaian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) yang
dikembangkan mahasiswa menggunaan Rubrik Penilaian berikut. Penilaian dilakukan
dengan cara melingkari angka 4, 3, 2, atau 1 pada kolom Kriteria Penilaian LKPD untuk
setiap pernyataan/indikator untuk masing-masing aspek kelayakan. (Kriteria Umum : 4 =
sangat baik; 3= baik; 2= kurang; 1= sangat kurang).
2. Apabila ada informasi lain dapat ditambahkan di kolom Saran/ Masukan.
Nama Mahasiswa : ….……………………………….……………….………………………
Bidang Studi : ….……………………………….……………….………………………

A. Aspek Kelayakan Isi


No Indikator Kriteria Penilaian LKPD
1. Kesesuaian materi dalam 4 Semua materi yang ada dalam LKPD sesuai
LKPD dengan CP, TP dan ATP dengan CP, TP dan ATP

3 Ada satu materi dalam LKPD yang tidak


sesuai dengan KI/ KD
2 Ada dua materi dalam LKPD yang tidak sesuai
dengan KI/ Kd
1 Ada lebih dari dua materi dalam LKPD yang
tidak sesuai dengan KI/ KD
2. Kesesuaian materi LKPD 4 Materi dalam LKPD sesuai dengan
terhadap kemampuan siswa kemampuan siswa
123
3 Ada satu materi dalam LKPD yang tidak
sesuai dengan kemampuan siswa
2 Ada dua materi dalam LKPD yang tidak sesuai
dengan kemampuan siswa
1 Ada lebih dua materi dalam LKPD yang tidak
sesuai dengan kemampuan siswa
3. Kesesuaian materi dalamLKPD 4 Semua materi dalam LKPD sesuai dengan
dengan perkembangan ilmu perkembangan ilmu pengetahuan
pengetahuan 3 Ada satu materi dalam LKPD yang tidak
sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan
2 Ada dua materi dalam LKPD yang tidak sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan
1 Ada lebih dari dua materi dalam LKPD yang
tidak sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan

B. Aspek Kelayakan Bahasa


No Indikator Kriteria Penilaian LKPD
1. Kesesuaian kalimat dengan 4 Semua kalimat yang digunakan dalam LKPD
kaidah bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang
baik dan benar (PUEBI=Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia)
3 Ada satu kalimat yang digunakan dalam LKPD
tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia
yang baik dan benar (PUEBI=Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia)
2 Dua kalimat yang digunakan dalam LKPD
tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia
yang baik dan benar (PUEBI=Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia)
1 Ada lebih dari dua kalimat yang digunakan
dalam LKPD tidak sesuai dengan kaidah
Bahasa Indonesia yang baik dan benar
(PUEBI=Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia) dalam LKPD tidak sesuai
dengan peruntukannya
2. Kesederhanaa struktur kalimat Semua struktur kalimat yang digunakan
4 dalam LKPD sederhana sehingga mudah
dipahami siswa
Ada satu struktur kalimat yang digunakan
3 dalam LKPD tidak sederhana sehingga
susah dipahami siswa

124
Ada dua struktur kalimat yang digunakan
2 dalam LKPD tidak sederhana sehingga
susah dipahami siswa
1 Ada lebih dari dua struktur kalimat yang
digunakan dalam LKPD tidak sederhana
sehingga susah dipahami siswa
3. Kemampuan LKPD dalam 4 Semua kegiatan dalam LKPD mampu
mendorong siswa untuk mendorong siswa untuk berpikir kritis
berpikir kritis
3 Ada satu kegiatan dalam LKPD yang tidak
mendorong siswa untuk berpikir kritis

2 Ada dua kegiatan dalam LKPD yang tidak


mendorong siswa untuk berpikir kritis

1 Ada lebih dari dua kegiatan dalam LKPD


yangtidak mendorong siswa untuk berpikir
kritis
Saran/Masukan:

C. Aspek Kelayakan Pelaksanaan dan Pengukuran


No Indikator Kriteria Penilaian LKPD
1. Penyajian materi LKPD yang Materi LKPD
4 yang disajikan sudah sangat baik
disertai objek langsung 4 sehingga memudahkan siswa dalam memahami
materi
Materi LKPD
3 yang disajikan sudah baik sehingga
3 memudahkan siswa dalam memahami materi
Materi LKPD
2 yang disajikan cukup baik sehingga
2 memudahkan siswa dalam memahami materi
Materi LKPD yang disajikan belum baik sehingga
1 memudahkan siswa dalam memahami materi
2. Penekanan pada 4 Semua kegiatan dalam LKPD menekankan
pendekatanpembelajaran pada pendekatan pembelajaran inkuiri
inkuiri 3 Maksimal satu kegiatan dalam LKPD tidak
menekankan pada pendekatan
pembelajaraninkuiri
2 Maksimal dua kegiatan dalam LKPD tidak
menekankan pada pendekatan
pembelajaraninkuiri
1 Ada lebih dari dua kegiatan yang tidak
menekankan pada pendekatan
pembelajaraninkuiri

125
3. Pengukuran kemampuan 4 Semua kegiatan dalam LKPD mengukur
sikap, keterampilan, dan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik
pengetahuan 3 Maksimal ada satu kegiatan dalam LKPD yang
tidak mengukur kemampuan kognitif, afektif
dan psikomotorik
2 Maksimal ada dua kegiatan dalam LKPD yang
tidak mengukur kemampuan kognitif, afektif
dan psikomotorik
1 Ada lebih dari dua kegiatan dalam LKPD yang
tidak mengukur kemampuan kognitif, afektif
dan psikomotorik
4. Pengukuran ketercapaian 4 Semua kegiatan dalam LKPD mengukur
indikator keberhasilan siswa ketercapaian indikator keberhasilan siswa
3 Maksimal ada satu kegiatan dalam LKPD yang
tidak mengukur ketercapaian indikator
keberhasilan siswa
2 Maksimal ada dua kegiatan dalam LKPD yang
tidak mengukur ketercapaian indikator
keberhasilan siswa
1 Ada lebih dari dua kegiatan dalam LKPD yang
tidak mengukur ketercapaian indikator
keberhasilan siswa
Saran/Masukan:

Keterangan:
Nilai Maksimal 10x4 = 40
Konversi 10 x 4 x 2,5 = 100

................................. 20...
Penilai

(……………………………….)

126
RUBRIK PENILAIAN
MEDIA PEMBELAJARAN
Petunjuk
1. Mohon Bapak/ Ibu memberikan penilaian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) yang
dikembangkan mahasiswa menggunaan Rubrik Penilaian berikut. Penilaian dilakukan
dengan cara melingkari angka 4, 3, 2, atau 1 pada kolom Kriteria Penilaian LKPD untuk
setiap pernyataan/indikator untuk masing-masing aspek kelayakan. (Kriteria Umum : 4
= sangat baik; 3= baik; 2= kurang; 1= sangat kurang).
2. Apabila ada informasi lain dapat ditambahkan di kolom Saran/ Masukan.
Nama Mahasiswa : ….……………………………….……………….…………………
Bidang Studi : ….……………………………….……………….…………………

Skor
No Indikator Kualitas Media
4 3 2 1
1. Kesesuaian jenis media dengan CP, TP dan ATP yang harusdicapai

2. Kesesuaian jenis media dengan materi yang dibahas


3. Kesesuaian jenis media dengan strategi pembelajaran yang dipilih

4. Kesesuaian jenis media dengan karakteristik siswa


5. Kejelasan (dapat terlihat/terdengar dengan jelas
gambar/video/audio/animasi dalam media)
6. Keterbacaan tulisan (jenis dan ukuran huruf) dalam media
7. Kelengkapan lingkup materi yang disajikan dalam media
8. Tingkat kemudahan dalam penggunaan media dan kesederhanaan
dalam menyajikan materi/gambar/illustrasi
9. Kebenaran dalam penggunaan kaidah bahasa (Indonesia dan/atau
asing)
10. Efektivitas gambar/ilustrasi/animasi/video yang diunggah dalam
media sosial mendukungpenjelasan konsep (materi)
Saran/Masukan:
Keterangan:
Nilai Maksimal 10x40 = 40
Konversi 10 x 4 x 2,5 = 100
................................. 20...
Penilai

(………………………………….)

127
I. Referensi

Anderson, L.W., dan Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and
Assesing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York:
Addison Wesley Longman.
Arsyad, Azhar, 2010. Media Pembelajaran (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada), 8
Kemdikbud, Buku Penilaian Berorientasi Higher Order Thinking Skills.
Azizah, Yunita Noor. 2022. Pengembangan Bahan Ajar PAI (Pengantar Teoritis dan Praktis).
Samarinda: Bo’ Kampong Publisihing.
Ernawati, L. 2017. Pengembangan High Order Thinking (Hot) Melalui Metode Pembelajaran
Mind Banking dalam Pendidikan Agama Islam. 1st International Conference on Islamic
Civilization and Society (ICICS). Diselenggarakan oleh Darul Ulum Islamic University.
Heryadi, D. A. 2020. Analisis Unsur Intrinsik dan Kaidah Kebahasaan Naskah Drama
Sepasang Merpati Tua Karya Bakdi Soemanto sebagai Alternatif Pemilihan Bahan Ajar
dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) (Doctoral
dissertation, FKIP UNPAS).
Matondang, Z., Djulia, E., Sriadhi, S., & Simarmata, J. 2019. Evaluasi Hasil Belajar. Yayasan
Kita Menulis.
Nurrita, Teni. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Peserta Didik, Misykat, Volume 03, Nomor 01
Sanjaya, H. W. 2016. Media komunikasi pembelajaran. Prenada Media.
Sanjaya, W., Darmawan, D., & Supriadie, D. 2016. Pengembangan Perangkat Kurikulum dan
Rancangan Pembelajaran. PEDAGOGIA, 12(2), 126-135.
Saputra, Hatta. 2016. Pengembangan Mutu Pendidikan Menuju Era Global: Penguatan Mutu
Pembelajaran dengan Penerapan HOTS (High Order Thinking Skills). Bandung:
SMILE’s Publishing
Smaldino, Sharon. 2008. Instructional Technology & Media for Learning. Ohio: Pearson
Prentice Hall.
Triyanto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Jakarta: Kencana

128

Anda mungkin juga menyukai