0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan20 halaman

Jenis dan Dampak Rokok bagi Kesehatan

Dokumen ini membahas tentang jenis-jenis rokok dan perokok. Dokumen ini juga menjelaskan dampak merokok terhadap kesehatan seperti menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, penyakit paru, jantung, stroke, diabetes, dan gangguan kesehatan lainnya. Dokumen ini juga membahas bahaya merokok bagi anak-anak.

Diunggah oleh

Indri Yani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan20 halaman

Jenis dan Dampak Rokok bagi Kesehatan

Dokumen ini membahas tentang jenis-jenis rokok dan perokok. Dokumen ini juga menjelaskan dampak merokok terhadap kesehatan seperti menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, penyakit paru, jantung, stroke, diabetes, dan gangguan kesehatan lainnya. Dokumen ini juga membahas bahaya merokok bagi anak-anak.

Diunggah oleh

Indri Yani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian dan Jenis Rokok

Dalam Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Dalam Negeri Nomor

7 tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok, rokok adalah hasil olahan

tembakau yang dibungkus dan merupakan hasil dari tanaman Nicotiana

Tabacum, Nicotiana Rustica dan lainnya, atau sintetisnya yang mengandung

nikotin dan tar dengan atau tanpa adanya bahan tambahan. Rokok adalah

silinder dari kertas yang panjangnya berukuran sekitar 70-120 mm

(bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi

daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu

ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup melalui mulut

pada ujung lainnya (Aula, 2010).

Menurut Anam, Faisol; Tri Sakhatmo; dan Hartanto (2019) dalam

bukunya “Remaja Indonesia, Jauhi Rokok!” jenis-jenis produk rokok

dibedakan dalam 5 hal yaitu berdasarkan bahan pembungkusnya,

berdasarkan bahan baku atau isi, berdasarkan proses pembuatannya,

berdasarkan filternya, dan berdasarkan cara pembakarannya.

Rokok berdasarkan bahan pembungkusnya terdiri dari rokok klobot,

kawung, sigaret, dan cerutu. Klobot, yaitu produk rokok yang dibungkus

dengan kulit jagung. Kawung, yaitu produk rokok yang dibungkus dengan

12
13

daun aren. Sigaret, yaitu rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.

Cerutu, yaitu produk rokok yang dibungkus dengan daun.

Rokok berdasarkan bahan baku atau isinya terdiri dari 3 macam yaitu

jenis rokok putih, kretek, dan klembak. Rokok putih, yaitu produk rokok

yang terbuat dari bahan tembakau dan diberi tambahan untuk mendapatkan

rasa dan aroma tertentu. Rokok kretek, yaitu produk rokok yang terbuat

dari tembakau, cengkih, dan bahan tambahan lain sebagai penambah rasa

dan aroma tertentu. Rokok klembak, yaitu produk rokok yang terbuat dari

tembakau, cengkih, kemenyan, dan bahan tambahan lain sebagai

penambah rasa dan aroma tertentu.

Jenis rokok berdasarkan proses pembutannya ada 2 macam yaitu

sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin. Sigaret Kretek Tangan

(SKT), yaitu produk rokok yang dibuat dengan tangan manual dan atau

alat bantu tertentu dalam menggiling atau pelintingan bahan-bahannya.

Sigaret Kretek Mesin (SGM), yaitu produk rokok yang dibuat dengan

mesin, dari penyiapan bahan baku hingga pewadahan produk.

Rokok berdasarkan filternya ada 2 macam yaitu rokok filter dan non

filter. Rokok Filter (RF), yaitu produk rokok dengan filter pada

pangkalnya berupa gabus. Rokok Non Filter (RNF), yaitu produk rokok

tanpa adanya gabus pada pangkalnya. Dan jenis rokok berdasarkan cara

pembakarannya ada rokok elektrik dan [Link] elektronik

atau vape, yaitu rokok dengan bahan berupa cairan yang diuapkan

menggunakan mesin berbaterai. Rokok konvensional, yaitu produk rokok


14

dengan bahan tembakau dan pembakaran dengan membakar pada ujung

rokok menggunakan api.

2. Jenis Perokok

Terdapat dua jenis perokok yaitu :

a. Perokok aktif

Perokok aktif adalah orang yang dengan sengaja menghisap rokok

meliputi orang yang rutin, kadang-kadang, maupun yang coba-coba

menghisap rokok (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).

b. Perokok pasif

Perokok pasif adalah seseorang atau kelompok orang yang menghirup

asap rokok dari perokok aktif yang berada dalam satu ruangan tertutup

atau berjarak dekat dengan perokok aktif di ruangan terbuka (Anam,

Faisol; Sakhatmo, 2019).

3. Dampak Kesehatan Akibat Rokok

Banyaknya kandungan bahan kimia berbahaya dalam rokok dapat

menimbulkan penyakit dan gangguan kesehatan manusia seperti berikut :


15

a. Kanker

Kandungan bahan kimia rokok dapat memicu pertumbuhan sel

tidak normal sehingga dapat menyebabkan lebih dari 20 jenis kanker

(WHO, 2020b) seperti kanker paru, kanker usus, kanker mulut, kanker

kandung kemih, kanker payudara, hingga kanker pita suara (Anam,

Faisol; Sakhatmo, 2019).

Penyebab kanker paru adalah asap rokok yang dihisap masuk ke

paru (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019). Asap rokok tersebut karena

memiliki kandungan lebih dari 4.000 bahan kimia telah diidentifikasi

dalam asap tembakau, dengan lebih dari 50 di antaranya bersifat

karsinogenik (WHO, 2020c) zat tersebut merangsang sel-sel tubuh

sehingga menjadi kanker (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019) dengan cara

merubah sel epitel bronkial menuju keganasan (Herawati et al., 2019).

Faktor penyebab dari kanker serviks adalah human papillomavirus

(HPV) dan salah satu faktor risiko kanker serviks adalah rokok dan

defisiensi asam folat. Terdapat hubungan sangat kuat antara kadar

nikotin dengan asam folat pada kanker serviks. Perokok pasif sangat

berpotensi terkena kanker serviks (Tarigan, 2016).

b. Penyakit Paru

Sekitar 80% kasus penyakit paru obstruktif kronis disebabkan oleh

rokok baik pada perokok aktif maupun pasif (Anam, Faisol; Sakhatmo,
16

2019). Kandungan nikotin dalam rokok menyebabkan berbagai macam

gangguan pernapasan (WHO, 2020b). Tidak hanya itu, kejadian Infeksi

Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita juga dipengaruhi oleh

lingkungan sekitar terhadap adanya paparan asap rokok (Jayanti;

Mellysa, 2016).

c. Jantung

Kandungan nikotin rokok menyebabkan berbagai penyakit

kardiovaskular (WHO, 2020c). Sebagian besar pasien jantung koroner

atau yang pernah terkena serangan jantung koroner adalah perokok

(Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019). Anam ( 2019) menjelaskan bahwa

kandungan karbon monoksida di dalam rokok menyebabkan ikatan

darah merah dengan karbon monoksida lebih banyak dari ikatan

oksigen. Sehingga suplay oksigen berkurang.

d. Stroke

Pembuluh darah di otak akan mengalami penyumbatan dan

peningkatan pembekuan darah akibat sering terpapar zat beracun dari

rokok, sehingga perokok banyak yang menderita stroke (Anam, Faisol;

Sakhatmo, 2019). Proses penyumbatan diawali dengan adanya luka

pada pembuluh darah yang diakibatkan oleh radikal bebas, toksin pada

rokok, dan lemah tak sehat yang bercampur dengan darah (Lingga,

2013).

e. Hipertensi
17

Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan adrenalin yang membuat

jantung berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras, meningkatnya

frekuensi denyut jantung dan kontraksi jantung sehingga menimbulkan

tekanan darah meningkat (Aula, 2010). Merokok secara langsung

menyebabkan kenaikan tekanan darah karena adanya penyumbatan

aliran darah oleh penumpukan plak (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).

f. Diabetes

Anam (2019) menjelaskan bahwa perokok berisiko mempunyai

risiko diabetes 40% lebih besar dari bukan perokok, kandungan zat

racun asap rokok menggangu kerja insulin sehingga mengakibatkan

tingginya gula dalam darah. Penelitian oleh (Harsa, 2020)

menhyatakan bahwa kandungan nikotin pada rokok menyebabkan

penurunan kadar adiponektin plasma (protein yang berperan dalam

mempertahankan kondisi konstan glukosa dan lemak) sehingga terjadi

penolakan insulin.

g. Disfungsi Ereksi

Kandungan berbahaya asap rokok tidak hanya menghambat aliran

darah ke otak dan jantung, melainkan juga ke organ vital penis sehingga

meyebabkan disfungsi ereksi (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).

h. Iritasi Kulit

Kandungan radikal bebas dalam rokok dapat memicu kerusakan

kolagen dan elastin sehingga kulit menjadi kendur, keriput, kusam, dan

kering (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).


18

i. Penyakit Mata

Penyakit mata yang diakibatkan oleh asap rokok diantaranya

katarak, degenerasi makula, dan mata kering (Anam, Faisol; Sakhatmo,

2019). Dalam penelitian (Yunaningsih, Sahrudin and Ibrahim, 2017)

bahwa kebiasaan merokok meningkatkan penyakit katarak 2 kali lebih

besar daripada tidak perokok.

4. Bahaya Rokok Bagi Kesehatan Anak

Anak yang mudah terpengaruh polusi udara karena kondisi ketahanan

tubuh yang masih lemah dibandingkan orang dewasa (Taobah Ramdani,

Wahyudin and Annisa Alail Nursela, 2018). Adanya kandungan senyawa

beracun pada rokok dan banyaknya radikal bebas menyebabkan tubuh

mengalami penurunan fungsi pertahanan terhadap penyakit (Anam, Faisol;

Sakhatmo, 2019), penyakit dan gangguan kesehatan tersebut seperti :

a. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Bayi dan anak balita mempunyai risiko terkena ISPA karena paru-

paru bayi dan anak balita lebih kecil dibanding orang dewasa, akibatnya

lebih mudah terkena radang paru-paru (Riyanto and Kusumawati, 2016).

b. Asma

Anak-anak dengan paparan rokok sangat berpotensi terkena asma,

bahkan terdapat hubungan antara frekuensi paparan asap rokok dengan

tingkat keparahan asma tersebut (Hollenbach et al., 2017).

c. Stunting
19

Paparan terhadap tembakau di usia dini dapat berkontribusi

terhadap stunting dan menghambat pertumbuhan anak-anak (WHO,

2020a). Janin dalam rahim ibu yang terpapar asap rokok, ada peningkatan

risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah serta risiko dua

kali lipat untuk Sindrom Kematian Bayi Mendadak (WHO, 2020c).

Peningkatan Body Mass Index anak dan defisit berat badan juga

berhubungan dengan akibat paparan asap rokok pada anak-anak

(Nadhiroh, Djokosujono and Utari, 2020).

5. Implementasi

Arti implementasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

adalah pelaksanaan atau penerapan. Menurut Bramantya Akbar,

Purnaweni and Rengga,( 2016) implementasi merupakan tindakan dari

sebuah rencana matang yang dianggap sempurna. Maka implementasi

berfungsi sebagai penyedia sarana untuk melaksanakan sesuatu yang

menyebabkan dampak terhadap sesuatu.

Implementasi sebagai wujud utama dalam menentukan sebuah proses

kebijakan (Birlan dalam Akib, 2010). Menurut (Akib, 2010) implementasi

merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada

tingkat program tertentu setelah sasaran dan tujuan ditetapkan, program

dan dana telah tersusun untuk tercapainya tujuan utama.

6. Kebijakan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kebijakan

berasal dari kata bijak yang artinya selalu menggunakan akal budinya;
20

pandai; mahir. Selanjutnya dijelaskan bahwa kebijakan diartikan sebagai

rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana

dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak

(tentang pemerintahan, organisasi dan sebagainya); pernyataan cita-cita,

tujuan, prinsip atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam

usaha mencapai sasaran; garis haluan.

Carl J. Federick (dalam Taufiqurokhman, 2014) kebijakan merupakan

rangkaian tindakan yang didasari adanya hambatan terhadap pelaksanaan

suatu kebijaksanaan untuk mencapai tujuan tertentu. Kebijakan memiliki

tujuan dan sasaran tertentu yang berlangsung sepanjang waktu. Kebijakan

secara umum dibedakan dalam tingakatan, yaitu kebijakan umum, kebijakan

pelaksanaan, dan kebijkaan teknis (Taufiqurokhman, 2014). Dari ketiga

jenis tersebut perlu disinkronkan antara pengetahuan dan tindakannya.

a. Kebijakan Umum, merupakan pedoman terhadap pelaksanaan yang

bersifat positif dan negatif dan meliputi wilayah dan instansi secara

umum atau luas.

b. Kebijakan Pelaksanaan, merupakan kebijakan yang isisnya penjabaran

dari kebijakan umum. Seperti pelaksanaan undang-undang pelu dibuat

kebijakan pelaksanaan bagi tingkat pusat oleh pemerintah .

c. Kebijakan Teknis, merupakan kebijakan operasinal yang berisi standar

prosedur yang berada di bawah kebijakan pelaksanaan.


21

7. Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan merupakan upaya untuk menghubungkan

antara tujuan kebijakan dan realisasinya dengan hasil pemerintah (Akib,

2010). Peran implementasi adalah membangun jaringan yang

memungkinkan tujuan kebijakan untuk direalisasikan.

Implementasi kebijakan perlu bahkan harus dilaksanakan karena

adanya masalah kebijakan yang perlu diatasi dan dipecahkan. Kebijakan

yang telah dibuat harus diimplementasikan dan hasilnya dimaksimalkan

untuk sesuai dengan apa yang menjadi harapan pembuat kebijakan (T.B

Smith dalam Akib, 2010).

Terdapat berbagai cara yang digunakan oleh pelaksana kebijakan

dalam proses mencapai tujuan yang ditetapkan. Salah satunya acuan dari

pandangan Edwards III, implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat

variabel, yakni: komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan struktur

birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling berhubungan satu sama

lain.

a. Komunikasi

Komunikasi menentukan keberhasilan pencapaian tujuan kebijakan.

Komunikasi dilakukan agar subjek yang mengimplementasikan

mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan

sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran

sehingga akan mengurangi kesalahan menangkap informasi

implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas


22

atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran,

maka kemungkinan akan terjadi perbedaan maksud dari kelompok

sasaran. Oleh karena itu komunikasi sebagai variabel penting yang

memengaruhi sebuah implementasi.

Impelementasi yang efektif akan terlakana apabila jajaran pembuat

keputusan memahami apa yang mereka kerjakan. Indikator

keberhasilannya adalah transmisi, kejelasan, dan konsistensi

(Hasibuan, 2016).

b. Sumber daya

Sumberdaya berkaitan degan segala sumber yang dapat digunakan

untuk mendukung keberhasilan implementasi tidak hanya manusia,

tetapi juga finansial (Hasibuan, 2016). Meskipun isi kebijakan sudah

dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila

implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan,

implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumberdaya tersebut dapat

berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor dan

sumber daya finansial. Sumberdaya adalah faktor penting untuk

implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan

hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.

Menurut Edward III (dalam Hasibuan, 2016) indikator untuk melihat

tingkat sumberdaya sangat meengaruhi implementasi kebijakan yaitu

staff, informasi, fasilitas, dan wewenang.

c. Disposisi
23

Pelaksana kebijakan merupakan faktor ketiga yang memengaruhi

implementasi kebijakan yang efektif (Hasibuan, 2016) sebagai

implementor harus memiliki disposisi yang baik, maka akan

menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh

pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap atau

perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses

implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif. Faktor yang

menjadi perhatian dalam disposisi implementasi terdiri dari

pengangkatan personel pelaksana kebijakan, teknik manipulasi insentif

pelaksana kebijakan, dan regulasi (Hasibuan, 2016).

Menurut Lawrence W. Green (1991) terdapat 3 faktor yang

memengaruhi individu atau komunitas termasuk juga tindakan

organisasi untuk berperilaku yang hubungannya dengan lingkungan,

yaitu predisposing, enabling, dan reinforcing.

Predisposing factor (Faktor Predisposisi) merupakan faktor

seseorang berperilaku yang muncul karena adanya motivasi untuk

melakukannya secara rasional. Faktor ini menjadi dasar untuk

seseorang berperilaku atau dapat dikatakan faktor “pribadi” yang

bersifat bawaan yang dapat berbentuk dukungan ataupun menghambat

untuk berperilaku tertentu. Hal yang mencakup faktor predisposisi

adalah pengetahuan dan sikap.

Enabling factor (Faktor Pemungkin) merupakan faktor yang

memunculkan perilaku karena memungkinkan motivasi untuk


24

direalisasikan. Faktor ini merupakan karakteristik lingkungan (dapat

berupa tempat pelayanan kesehatan) yang memudahkan petugas dalam

berperilaku.

Reinforcing factor (Faktor Penguat) merupakan faktor yang akan

memberikan penghargaan atau insentif berkelanjutan setelah

melakukan perilaku. Faktor penguat dapat berupa undang-undang,

peraturan-peraturan baik dari pemerintah daerah maupun pusat.

d. Struktur birokrasi

Struktur birokrasi menjadi penting dalam implementasi kebijakan

(Hasibuan, 2016). Struktur organisasi yang bertugas

mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang

penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang

(Standard Operating Procedures atau SOP). SOP menjadi pedoman

bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang

terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan

menimbulkan red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan

kompleks. Birokrasi ini pada nantinya dapat menyebabkan aktivitas

organisasi tidak fleksibel.

8. Pedoman Penyelenggaraan Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

Pedoman penyelenggaraa kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

nasional adalah Peraturan Bersama Menteri Kesehatan Dan Menteri

Dalam Negeri Nomor 188/Menkes/Pb/I/2011 Nomor 7 Tahun 2011


25

Tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (Kemendagri,

2011). Sedangkan di tingkat daerah, yaitu Kabupaten Sleman pedomannya

adalah Peraturan Bupati Sleman Nomor 42 tahun 2012 tentang Kawasan

Tanpa Rokok (Sleman, 2012). Pedoman penyelenggaraan tersebut

memuat sebagai berikut :

a. Pengertian Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang

dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan

memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan

produk tembakau.

b. Tujuan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

1) Memberikan perlindungan yang efektif dari bahaya asap rokok

2) Memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi

masyarakat; dan

3) Melindungi kesehatan masyarakat secara umum dari dampak

buruk merokok baik langsung maupun tidak langsung.

c. Ruang Lingkup Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

1) Fasilitas pelayanan kesehatan

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau

tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya

pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun

rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah,

dan/atau masyarakat.
26

2) Tempat proses belajar mengajar

Tempat proses belajar mengajar adalah gedung yang

digunakan untuk kegiatan belajar, mengajar, pendidikan dan/atau

pelatihan.

3) Tempat bermain anak

Tempat anak bermain adalah area tertutup maupun terbuka

yang digunakan untuk kegiatan bermain anak-anak.

4) Tempat ibadah

Tempat ibadah adalah bangunan atau ruang tertutup yang

memiliki ciri-ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk

beribadah bagi para pemeluk masing-masing agama secara

permanen. Tidak termasuk tempat ibadah keluarga.

5) Angkutan umum

Angkutan umum adalah alat angkutan bagi masyarakat yang

dapat berupa kendaraan darat, air, dan udara biasanya dengan

kompensasi.

6) Tempat kerja

Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau

terbuka, bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja, atau

yang dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di

mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.

7) Tempat umum
27

Tempat umum adalah semua tempat tertutup yang dapat

diakses oleh masyarakat umum dan/atau tempat yang dapat

dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat yang

dikelola oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.

8) Tempat lainnya yang ditetapkan

Tempat lainnya yang ditetapkan adalah tempat terbuka yang

dapat dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat.

d. Pengelolaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

1) Pengelola tempat yang termasuk Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

wajib menetapkan dan menerapkan KTR.

2) Pada fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar

mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, dan angkutan

umum dilarang menyediakan tempat khusus merokok hingga batas

terluar bangunan.

3) Membantu Dinas Kesehatan dalam pengawasan, pemantauan,

pembinaan, dan evaluasi pelaksanaan Perbup Sleman No 42 tahun

2012.

e. Larangan Kegiatan di Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

1) Menggunakan / mengonsumsi rokok

2) Memproduksi atau membuat rokok

3) Menjual rokok

4) Menyelenggarakan iklan rokok

5) Mempromosikan rokok
28

f. Peran Serta Masyarakat

1) Berperan dalam mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

2) Memberikan saran, pendapat dan pemikiran, usulan dan

pertimbangan berkenaan dengan pemantauan dan pelaksanaan

kebijakan KTR

3) Memberikan bimbingan dalam penyuluhan dan penyebarluasan

informasi tentang KTR

4) Saling mengingatkan atau menegur bagi siapapun yang merokok

di KTR

5) Memberikan laporan tentang adanya pelanggaran terhadap

Peraturan Bupati Nomor 42 tahun 2012 kepada kepala Dinas

Kesehatan Sleman

6) Mewujudkan rumah hunian sebagai lingkungan bebas asap rokok

7) Memanfaatkan layanan konseling berhenti merokok yang bersedia

di fasilitas pelayanan kesehatan.

g. Sanksi Administrasi

1) Pemberian sanksi berupa teguran lisan dapat dilakukan oleh

pimpinan dan/atau pengelola penanggung jawab tempat yang

termasuk dalam Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

2) Pemberian sanksi berupa teguran tertulis dilakukan oleh Dinas

Kesehatan Sleman.

9. Taman Bermain Anak

a. Pengertian
29

Baskara, Medha ( 2011) menyebutkan bahwa taman bermain anak

adalah tempat yang dirancang untuk anak melakukan aktivitas bermain

dengan bebas. Taman bermain anak untuk mengembangkan kognitif,

sosial, fisik, serta kemampuan emosional anak (Hutapea, Christofer,

haruu [Link], no date).

b. Jenis Taman Bermain Anak

Dalam (Baskara, 2011) taman bermain anak di ruang publik

disesuaikan dengan kebiasaan bermain anak sesuai kategori umurnya

yaitu 0-3 tahun, 3-6 tahun, 6-8 tahun, dan 8 tahun ke atas. Maka jenis

permainannya dibagi atas permainan fisik, kreatif, sosial, indra, dan

ketenangan.

Permainan fisik yaitu permainan yang meliputi aktivitas melompat,

berlari, bersepeda, merangkak, merayap, memanjat dan meluncur.

Permainan kreatif yaitu permainan menggunakan material yang bisa

ditransformasikan seperti pasir, rumput, air, gravel, dan lempung untuk

meningkatkan imajinasi anak. Permainan sosial yaitu permainan anak

berupa aktivitas kejar-kejaran, bersembunyi, dan permainan tim

lainnya. Permainan indra yaitu permainan yang meliputi elemen

permainan peraba, pendengar, penglihatan, dan penciuman. Permainan

dalam ketenangan yaitu permainan yang memerlukan sekat pembatas

agar anak bermain sendiri sesuai dengan imajinasinya seperti

disediakan pasir, meja kursi dalam 1 bilik.


30

10. Upaya Pengelola

Upaya menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) diartikan

sebagai usaha kegiatan yang mengarahkan tenaga, pikiran untuk mencapai

tujuan. Upaya juga berarti usaha, akal, ikhtiar untuk mencapai suatu

maksud, memecahkan persoalan mencari jalan keluar. Sedangkan arti dari

kata pengelola dalam KBBI adalah orang yang mengelola, yaitu orang

yang mengendalikan, menyelenggarakan, dan menjalankan. Maka upaya

pengelola dapat didefinisikan bahwa segala usaha yang dilakukan oleh

orang-orang yang mengelola dalam mencapai tujuan tertentu.


31

B. Kerangka Konsep

Peraturan Tentang
Kawasan Tanpa Efek
Rokok Kawasan Terhadap
Tanpa Rokok Kesehatan

1. Peraturan Bersama 1. Fasilitas 1. Kanker


Menteri Kesehatan pelayanan 2. Penyakit
Dan Menteri kesehatan Paru
Dalam Negeri 2. Tempat 3. Jantung
Nomor belajar 4. Stroke
188/Menkes/Pb/I/2 mengaja 5. Hipertensi
011 Nomor 7 3. Tempat 6. Diabetes
- Menerapkan
Tahun 2011 bermain 7. Disfungsi
- Tidak
Tentang Pedoman anak Ereksi
Menerapkan
Pelaksanaan 4. Tempat 8. Iritasi Kulit
Kawasan Tanpa ibadah 9. Penyakit
Rokok 5. Angkutan Mata
2. Peraturan - Pengunjung 10. ISPA
umum - Pengelola
Pemerintah 6. Tempat kerja 11. Asma
Republik - Sanksi 12. Stunting
7. Tempat
Indonesia Nomor umum
19 Tahun 2003 8. Tempat
Tentang lainnya yang
Pengamanan ditetapkan
Rokok Bagi
Kesehatan
3. Undang-Undang
Nomor 36 Tahun Keterangan
2009 Tentang
Kesehatan
4. Peraturan Variabel yang
Gubernur Daerah diteliti
Istimewa
Yogyakarta
Variabel yang
Nomor 42 Tahun
tidak diteliti
2009 Tentang
Kawasan Dilarang
Merokok
5. Peraturan Bupati
Sleman Nomor 42
Tahun 2012
Tentang Kawasan
Tanpa Rokok

Anda mungkin juga menyukai