12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian dan Jenis Rokok
Dalam Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Dalam Negeri Nomor
7 tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok, rokok adalah hasil olahan
tembakau yang dibungkus dan merupakan hasil dari tanaman Nicotiana
Tabacum, Nicotiana Rustica dan lainnya, atau sintetisnya yang mengandung
nikotin dan tar dengan atau tanpa adanya bahan tambahan. Rokok adalah
silinder dari kertas yang panjangnya berukuran sekitar 70-120 mm
(bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi
daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu
ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup melalui mulut
pada ujung lainnya (Aula, 2010).
Menurut Anam, Faisol; Tri Sakhatmo; dan Hartanto (2019) dalam
bukunya “Remaja Indonesia, Jauhi Rokok!” jenis-jenis produk rokok
dibedakan dalam 5 hal yaitu berdasarkan bahan pembungkusnya,
berdasarkan bahan baku atau isi, berdasarkan proses pembuatannya,
berdasarkan filternya, dan berdasarkan cara pembakarannya.
Rokok berdasarkan bahan pembungkusnya terdiri dari rokok klobot,
kawung, sigaret, dan cerutu. Klobot, yaitu produk rokok yang dibungkus
dengan kulit jagung. Kawung, yaitu produk rokok yang dibungkus dengan
12
13
daun aren. Sigaret, yaitu rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.
Cerutu, yaitu produk rokok yang dibungkus dengan daun.
Rokok berdasarkan bahan baku atau isinya terdiri dari 3 macam yaitu
jenis rokok putih, kretek, dan klembak. Rokok putih, yaitu produk rokok
yang terbuat dari bahan tembakau dan diberi tambahan untuk mendapatkan
rasa dan aroma tertentu. Rokok kretek, yaitu produk rokok yang terbuat
dari tembakau, cengkih, dan bahan tambahan lain sebagai penambah rasa
dan aroma tertentu. Rokok klembak, yaitu produk rokok yang terbuat dari
tembakau, cengkih, kemenyan, dan bahan tambahan lain sebagai
penambah rasa dan aroma tertentu.
Jenis rokok berdasarkan proses pembutannya ada 2 macam yaitu
sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin. Sigaret Kretek Tangan
(SKT), yaitu produk rokok yang dibuat dengan tangan manual dan atau
alat bantu tertentu dalam menggiling atau pelintingan bahan-bahannya.
Sigaret Kretek Mesin (SGM), yaitu produk rokok yang dibuat dengan
mesin, dari penyiapan bahan baku hingga pewadahan produk.
Rokok berdasarkan filternya ada 2 macam yaitu rokok filter dan non
filter. Rokok Filter (RF), yaitu produk rokok dengan filter pada
pangkalnya berupa gabus. Rokok Non Filter (RNF), yaitu produk rokok
tanpa adanya gabus pada pangkalnya. Dan jenis rokok berdasarkan cara
pembakarannya ada rokok elektrik dan [Link] elektronik
atau vape, yaitu rokok dengan bahan berupa cairan yang diuapkan
menggunakan mesin berbaterai. Rokok konvensional, yaitu produk rokok
14
dengan bahan tembakau dan pembakaran dengan membakar pada ujung
rokok menggunakan api.
2. Jenis Perokok
Terdapat dua jenis perokok yaitu :
a. Perokok aktif
Perokok aktif adalah orang yang dengan sengaja menghisap rokok
meliputi orang yang rutin, kadang-kadang, maupun yang coba-coba
menghisap rokok (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).
b. Perokok pasif
Perokok pasif adalah seseorang atau kelompok orang yang menghirup
asap rokok dari perokok aktif yang berada dalam satu ruangan tertutup
atau berjarak dekat dengan perokok aktif di ruangan terbuka (Anam,
Faisol; Sakhatmo, 2019).
3. Dampak Kesehatan Akibat Rokok
Banyaknya kandungan bahan kimia berbahaya dalam rokok dapat
menimbulkan penyakit dan gangguan kesehatan manusia seperti berikut :
15
a. Kanker
Kandungan bahan kimia rokok dapat memicu pertumbuhan sel
tidak normal sehingga dapat menyebabkan lebih dari 20 jenis kanker
(WHO, 2020b) seperti kanker paru, kanker usus, kanker mulut, kanker
kandung kemih, kanker payudara, hingga kanker pita suara (Anam,
Faisol; Sakhatmo, 2019).
Penyebab kanker paru adalah asap rokok yang dihisap masuk ke
paru (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019). Asap rokok tersebut karena
memiliki kandungan lebih dari 4.000 bahan kimia telah diidentifikasi
dalam asap tembakau, dengan lebih dari 50 di antaranya bersifat
karsinogenik (WHO, 2020c) zat tersebut merangsang sel-sel tubuh
sehingga menjadi kanker (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019) dengan cara
merubah sel epitel bronkial menuju keganasan (Herawati et al., 2019).
Faktor penyebab dari kanker serviks adalah human papillomavirus
(HPV) dan salah satu faktor risiko kanker serviks adalah rokok dan
defisiensi asam folat. Terdapat hubungan sangat kuat antara kadar
nikotin dengan asam folat pada kanker serviks. Perokok pasif sangat
berpotensi terkena kanker serviks (Tarigan, 2016).
b. Penyakit Paru
Sekitar 80% kasus penyakit paru obstruktif kronis disebabkan oleh
rokok baik pada perokok aktif maupun pasif (Anam, Faisol; Sakhatmo,
16
2019). Kandungan nikotin dalam rokok menyebabkan berbagai macam
gangguan pernapasan (WHO, 2020b). Tidak hanya itu, kejadian Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita juga dipengaruhi oleh
lingkungan sekitar terhadap adanya paparan asap rokok (Jayanti;
Mellysa, 2016).
c. Jantung
Kandungan nikotin rokok menyebabkan berbagai penyakit
kardiovaskular (WHO, 2020c). Sebagian besar pasien jantung koroner
atau yang pernah terkena serangan jantung koroner adalah perokok
(Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019). Anam ( 2019) menjelaskan bahwa
kandungan karbon monoksida di dalam rokok menyebabkan ikatan
darah merah dengan karbon monoksida lebih banyak dari ikatan
oksigen. Sehingga suplay oksigen berkurang.
d. Stroke
Pembuluh darah di otak akan mengalami penyumbatan dan
peningkatan pembekuan darah akibat sering terpapar zat beracun dari
rokok, sehingga perokok banyak yang menderita stroke (Anam, Faisol;
Sakhatmo, 2019). Proses penyumbatan diawali dengan adanya luka
pada pembuluh darah yang diakibatkan oleh radikal bebas, toksin pada
rokok, dan lemah tak sehat yang bercampur dengan darah (Lingga,
2013).
e. Hipertensi
17
Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan adrenalin yang membuat
jantung berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras, meningkatnya
frekuensi denyut jantung dan kontraksi jantung sehingga menimbulkan
tekanan darah meningkat (Aula, 2010). Merokok secara langsung
menyebabkan kenaikan tekanan darah karena adanya penyumbatan
aliran darah oleh penumpukan plak (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).
f. Diabetes
Anam (2019) menjelaskan bahwa perokok berisiko mempunyai
risiko diabetes 40% lebih besar dari bukan perokok, kandungan zat
racun asap rokok menggangu kerja insulin sehingga mengakibatkan
tingginya gula dalam darah. Penelitian oleh (Harsa, 2020)
menhyatakan bahwa kandungan nikotin pada rokok menyebabkan
penurunan kadar adiponektin plasma (protein yang berperan dalam
mempertahankan kondisi konstan glukosa dan lemak) sehingga terjadi
penolakan insulin.
g. Disfungsi Ereksi
Kandungan berbahaya asap rokok tidak hanya menghambat aliran
darah ke otak dan jantung, melainkan juga ke organ vital penis sehingga
meyebabkan disfungsi ereksi (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).
h. Iritasi Kulit
Kandungan radikal bebas dalam rokok dapat memicu kerusakan
kolagen dan elastin sehingga kulit menjadi kendur, keriput, kusam, dan
kering (Anam, Faisol; Sakhatmo, 2019).
18
i. Penyakit Mata
Penyakit mata yang diakibatkan oleh asap rokok diantaranya
katarak, degenerasi makula, dan mata kering (Anam, Faisol; Sakhatmo,
2019). Dalam penelitian (Yunaningsih, Sahrudin and Ibrahim, 2017)
bahwa kebiasaan merokok meningkatkan penyakit katarak 2 kali lebih
besar daripada tidak perokok.
4. Bahaya Rokok Bagi Kesehatan Anak
Anak yang mudah terpengaruh polusi udara karena kondisi ketahanan
tubuh yang masih lemah dibandingkan orang dewasa (Taobah Ramdani,
Wahyudin and Annisa Alail Nursela, 2018). Adanya kandungan senyawa
beracun pada rokok dan banyaknya radikal bebas menyebabkan tubuh
mengalami penurunan fungsi pertahanan terhadap penyakit (Anam, Faisol;
Sakhatmo, 2019), penyakit dan gangguan kesehatan tersebut seperti :
a. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Bayi dan anak balita mempunyai risiko terkena ISPA karena paru-
paru bayi dan anak balita lebih kecil dibanding orang dewasa, akibatnya
lebih mudah terkena radang paru-paru (Riyanto and Kusumawati, 2016).
b. Asma
Anak-anak dengan paparan rokok sangat berpotensi terkena asma,
bahkan terdapat hubungan antara frekuensi paparan asap rokok dengan
tingkat keparahan asma tersebut (Hollenbach et al., 2017).
c. Stunting
19
Paparan terhadap tembakau di usia dini dapat berkontribusi
terhadap stunting dan menghambat pertumbuhan anak-anak (WHO,
2020a). Janin dalam rahim ibu yang terpapar asap rokok, ada peningkatan
risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah serta risiko dua
kali lipat untuk Sindrom Kematian Bayi Mendadak (WHO, 2020c).
Peningkatan Body Mass Index anak dan defisit berat badan juga
berhubungan dengan akibat paparan asap rokok pada anak-anak
(Nadhiroh, Djokosujono and Utari, 2020).
5. Implementasi
Arti implementasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah pelaksanaan atau penerapan. Menurut Bramantya Akbar,
Purnaweni and Rengga,( 2016) implementasi merupakan tindakan dari
sebuah rencana matang yang dianggap sempurna. Maka implementasi
berfungsi sebagai penyedia sarana untuk melaksanakan sesuatu yang
menyebabkan dampak terhadap sesuatu.
Implementasi sebagai wujud utama dalam menentukan sebuah proses
kebijakan (Birlan dalam Akib, 2010). Menurut (Akib, 2010) implementasi
merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada
tingkat program tertentu setelah sasaran dan tujuan ditetapkan, program
dan dana telah tersusun untuk tercapainya tujuan utama.
6. Kebijakan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kebijakan
berasal dari kata bijak yang artinya selalu menggunakan akal budinya;
20
pandai; mahir. Selanjutnya dijelaskan bahwa kebijakan diartikan sebagai
rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana
dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak
(tentang pemerintahan, organisasi dan sebagainya); pernyataan cita-cita,
tujuan, prinsip atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam
usaha mencapai sasaran; garis haluan.
Carl J. Federick (dalam Taufiqurokhman, 2014) kebijakan merupakan
rangkaian tindakan yang didasari adanya hambatan terhadap pelaksanaan
suatu kebijaksanaan untuk mencapai tujuan tertentu. Kebijakan memiliki
tujuan dan sasaran tertentu yang berlangsung sepanjang waktu. Kebijakan
secara umum dibedakan dalam tingakatan, yaitu kebijakan umum, kebijakan
pelaksanaan, dan kebijkaan teknis (Taufiqurokhman, 2014). Dari ketiga
jenis tersebut perlu disinkronkan antara pengetahuan dan tindakannya.
a. Kebijakan Umum, merupakan pedoman terhadap pelaksanaan yang
bersifat positif dan negatif dan meliputi wilayah dan instansi secara
umum atau luas.
b. Kebijakan Pelaksanaan, merupakan kebijakan yang isisnya penjabaran
dari kebijakan umum. Seperti pelaksanaan undang-undang pelu dibuat
kebijakan pelaksanaan bagi tingkat pusat oleh pemerintah .
c. Kebijakan Teknis, merupakan kebijakan operasinal yang berisi standar
prosedur yang berada di bawah kebijakan pelaksanaan.
21
7. Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan merupakan upaya untuk menghubungkan
antara tujuan kebijakan dan realisasinya dengan hasil pemerintah (Akib,
2010). Peran implementasi adalah membangun jaringan yang
memungkinkan tujuan kebijakan untuk direalisasikan.
Implementasi kebijakan perlu bahkan harus dilaksanakan karena
adanya masalah kebijakan yang perlu diatasi dan dipecahkan. Kebijakan
yang telah dibuat harus diimplementasikan dan hasilnya dimaksimalkan
untuk sesuai dengan apa yang menjadi harapan pembuat kebijakan (T.B
Smith dalam Akib, 2010).
Terdapat berbagai cara yang digunakan oleh pelaksana kebijakan
dalam proses mencapai tujuan yang ditetapkan. Salah satunya acuan dari
pandangan Edwards III, implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat
variabel, yakni: komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan struktur
birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling berhubungan satu sama
lain.
a. Komunikasi
Komunikasi menentukan keberhasilan pencapaian tujuan kebijakan.
Komunikasi dilakukan agar subjek yang mengimplementasikan
mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan
sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran
sehingga akan mengurangi kesalahan menangkap informasi
implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas
22
atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran,
maka kemungkinan akan terjadi perbedaan maksud dari kelompok
sasaran. Oleh karena itu komunikasi sebagai variabel penting yang
memengaruhi sebuah implementasi.
Impelementasi yang efektif akan terlakana apabila jajaran pembuat
keputusan memahami apa yang mereka kerjakan. Indikator
keberhasilannya adalah transmisi, kejelasan, dan konsistensi
(Hasibuan, 2016).
b. Sumber daya
Sumberdaya berkaitan degan segala sumber yang dapat digunakan
untuk mendukung keberhasilan implementasi tidak hanya manusia,
tetapi juga finansial (Hasibuan, 2016). Meskipun isi kebijakan sudah
dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila
implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan,
implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumberdaya tersebut dapat
berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor dan
sumber daya finansial. Sumberdaya adalah faktor penting untuk
implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan
hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.
Menurut Edward III (dalam Hasibuan, 2016) indikator untuk melihat
tingkat sumberdaya sangat meengaruhi implementasi kebijakan yaitu
staff, informasi, fasilitas, dan wewenang.
c. Disposisi
23
Pelaksana kebijakan merupakan faktor ketiga yang memengaruhi
implementasi kebijakan yang efektif (Hasibuan, 2016) sebagai
implementor harus memiliki disposisi yang baik, maka akan
menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh
pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap atau
perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses
implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif. Faktor yang
menjadi perhatian dalam disposisi implementasi terdiri dari
pengangkatan personel pelaksana kebijakan, teknik manipulasi insentif
pelaksana kebijakan, dan regulasi (Hasibuan, 2016).
Menurut Lawrence W. Green (1991) terdapat 3 faktor yang
memengaruhi individu atau komunitas termasuk juga tindakan
organisasi untuk berperilaku yang hubungannya dengan lingkungan,
yaitu predisposing, enabling, dan reinforcing.
Predisposing factor (Faktor Predisposisi) merupakan faktor
seseorang berperilaku yang muncul karena adanya motivasi untuk
melakukannya secara rasional. Faktor ini menjadi dasar untuk
seseorang berperilaku atau dapat dikatakan faktor “pribadi” yang
bersifat bawaan yang dapat berbentuk dukungan ataupun menghambat
untuk berperilaku tertentu. Hal yang mencakup faktor predisposisi
adalah pengetahuan dan sikap.
Enabling factor (Faktor Pemungkin) merupakan faktor yang
memunculkan perilaku karena memungkinkan motivasi untuk
24
direalisasikan. Faktor ini merupakan karakteristik lingkungan (dapat
berupa tempat pelayanan kesehatan) yang memudahkan petugas dalam
berperilaku.
Reinforcing factor (Faktor Penguat) merupakan faktor yang akan
memberikan penghargaan atau insentif berkelanjutan setelah
melakukan perilaku. Faktor penguat dapat berupa undang-undang,
peraturan-peraturan baik dari pemerintah daerah maupun pusat.
d. Struktur birokrasi
Struktur birokrasi menjadi penting dalam implementasi kebijakan
(Hasibuan, 2016). Struktur organisasi yang bertugas
mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang
penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang
(Standard Operating Procedures atau SOP). SOP menjadi pedoman
bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang
terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan
menimbulkan red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan
kompleks. Birokrasi ini pada nantinya dapat menyebabkan aktivitas
organisasi tidak fleksibel.
8. Pedoman Penyelenggaraan Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Pedoman penyelenggaraa kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
nasional adalah Peraturan Bersama Menteri Kesehatan Dan Menteri
Dalam Negeri Nomor 188/Menkes/Pb/I/2011 Nomor 7 Tahun 2011
25
Tentang Pedoman Pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (Kemendagri,
2011). Sedangkan di tingkat daerah, yaitu Kabupaten Sleman pedomannya
adalah Peraturan Bupati Sleman Nomor 42 tahun 2012 tentang Kawasan
Tanpa Rokok (Sleman, 2012). Pedoman penyelenggaraan tersebut
memuat sebagai berikut :
a. Pengertian Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang
dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan
memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan
produk tembakau.
b. Tujuan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
1) Memberikan perlindungan yang efektif dari bahaya asap rokok
2) Memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi
masyarakat; dan
3) Melindungi kesehatan masyarakat secara umum dari dampak
buruk merokok baik langsung maupun tidak langsung.
c. Ruang Lingkup Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
1) Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau
tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya
pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun
rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah,
dan/atau masyarakat.
26
2) Tempat proses belajar mengajar
Tempat proses belajar mengajar adalah gedung yang
digunakan untuk kegiatan belajar, mengajar, pendidikan dan/atau
pelatihan.
3) Tempat bermain anak
Tempat anak bermain adalah area tertutup maupun terbuka
yang digunakan untuk kegiatan bermain anak-anak.
4) Tempat ibadah
Tempat ibadah adalah bangunan atau ruang tertutup yang
memiliki ciri-ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk
beribadah bagi para pemeluk masing-masing agama secara
permanen. Tidak termasuk tempat ibadah keluarga.
5) Angkutan umum
Angkutan umum adalah alat angkutan bagi masyarakat yang
dapat berupa kendaraan darat, air, dan udara biasanya dengan
kompensasi.
6) Tempat kerja
Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau
terbuka, bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja, atau
yang dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di
mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.
7) Tempat umum
27
Tempat umum adalah semua tempat tertutup yang dapat
diakses oleh masyarakat umum dan/atau tempat yang dapat
dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat yang
dikelola oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.
8) Tempat lainnya yang ditetapkan
Tempat lainnya yang ditetapkan adalah tempat terbuka yang
dapat dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat.
d. Pengelolaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
1) Pengelola tempat yang termasuk Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
wajib menetapkan dan menerapkan KTR.
2) Pada fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar
mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, dan angkutan
umum dilarang menyediakan tempat khusus merokok hingga batas
terluar bangunan.
3) Membantu Dinas Kesehatan dalam pengawasan, pemantauan,
pembinaan, dan evaluasi pelaksanaan Perbup Sleman No 42 tahun
2012.
e. Larangan Kegiatan di Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
1) Menggunakan / mengonsumsi rokok
2) Memproduksi atau membuat rokok
3) Menjual rokok
4) Menyelenggarakan iklan rokok
5) Mempromosikan rokok
28
f. Peran Serta Masyarakat
1) Berperan dalam mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
2) Memberikan saran, pendapat dan pemikiran, usulan dan
pertimbangan berkenaan dengan pemantauan dan pelaksanaan
kebijakan KTR
3) Memberikan bimbingan dalam penyuluhan dan penyebarluasan
informasi tentang KTR
4) Saling mengingatkan atau menegur bagi siapapun yang merokok
di KTR
5) Memberikan laporan tentang adanya pelanggaran terhadap
Peraturan Bupati Nomor 42 tahun 2012 kepada kepala Dinas
Kesehatan Sleman
6) Mewujudkan rumah hunian sebagai lingkungan bebas asap rokok
7) Memanfaatkan layanan konseling berhenti merokok yang bersedia
di fasilitas pelayanan kesehatan.
g. Sanksi Administrasi
1) Pemberian sanksi berupa teguran lisan dapat dilakukan oleh
pimpinan dan/atau pengelola penanggung jawab tempat yang
termasuk dalam Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
2) Pemberian sanksi berupa teguran tertulis dilakukan oleh Dinas
Kesehatan Sleman.
9. Taman Bermain Anak
a. Pengertian
29
Baskara, Medha ( 2011) menyebutkan bahwa taman bermain anak
adalah tempat yang dirancang untuk anak melakukan aktivitas bermain
dengan bebas. Taman bermain anak untuk mengembangkan kognitif,
sosial, fisik, serta kemampuan emosional anak (Hutapea, Christofer,
haruu [Link], no date).
b. Jenis Taman Bermain Anak
Dalam (Baskara, 2011) taman bermain anak di ruang publik
disesuaikan dengan kebiasaan bermain anak sesuai kategori umurnya
yaitu 0-3 tahun, 3-6 tahun, 6-8 tahun, dan 8 tahun ke atas. Maka jenis
permainannya dibagi atas permainan fisik, kreatif, sosial, indra, dan
ketenangan.
Permainan fisik yaitu permainan yang meliputi aktivitas melompat,
berlari, bersepeda, merangkak, merayap, memanjat dan meluncur.
Permainan kreatif yaitu permainan menggunakan material yang bisa
ditransformasikan seperti pasir, rumput, air, gravel, dan lempung untuk
meningkatkan imajinasi anak. Permainan sosial yaitu permainan anak
berupa aktivitas kejar-kejaran, bersembunyi, dan permainan tim
lainnya. Permainan indra yaitu permainan yang meliputi elemen
permainan peraba, pendengar, penglihatan, dan penciuman. Permainan
dalam ketenangan yaitu permainan yang memerlukan sekat pembatas
agar anak bermain sendiri sesuai dengan imajinasinya seperti
disediakan pasir, meja kursi dalam 1 bilik.
30
10. Upaya Pengelola
Upaya menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) diartikan
sebagai usaha kegiatan yang mengarahkan tenaga, pikiran untuk mencapai
tujuan. Upaya juga berarti usaha, akal, ikhtiar untuk mencapai suatu
maksud, memecahkan persoalan mencari jalan keluar. Sedangkan arti dari
kata pengelola dalam KBBI adalah orang yang mengelola, yaitu orang
yang mengendalikan, menyelenggarakan, dan menjalankan. Maka upaya
pengelola dapat didefinisikan bahwa segala usaha yang dilakukan oleh
orang-orang yang mengelola dalam mencapai tujuan tertentu.
31
B. Kerangka Konsep
Peraturan Tentang
Kawasan Tanpa Efek
Rokok Kawasan Terhadap
Tanpa Rokok Kesehatan
1. Peraturan Bersama 1. Fasilitas 1. Kanker
Menteri Kesehatan pelayanan 2. Penyakit
Dan Menteri kesehatan Paru
Dalam Negeri 2. Tempat 3. Jantung
Nomor belajar 4. Stroke
188/Menkes/Pb/I/2 mengaja 5. Hipertensi
011 Nomor 7 3. Tempat 6. Diabetes
- Menerapkan
Tahun 2011 bermain 7. Disfungsi
- Tidak
Tentang Pedoman anak Ereksi
Menerapkan
Pelaksanaan 4. Tempat 8. Iritasi Kulit
Kawasan Tanpa ibadah 9. Penyakit
Rokok 5. Angkutan Mata
2. Peraturan - Pengunjung 10. ISPA
umum - Pengelola
Pemerintah 6. Tempat kerja 11. Asma
Republik - Sanksi 12. Stunting
7. Tempat
Indonesia Nomor umum
19 Tahun 2003 8. Tempat
Tentang lainnya yang
Pengamanan ditetapkan
Rokok Bagi
Kesehatan
3. Undang-Undang
Nomor 36 Tahun Keterangan
2009 Tentang
Kesehatan
4. Peraturan Variabel yang
Gubernur Daerah diteliti
Istimewa
Yogyakarta
Variabel yang
Nomor 42 Tahun
tidak diteliti
2009 Tentang
Kawasan Dilarang
Merokok
5. Peraturan Bupati
Sleman Nomor 42
Tahun 2012
Tentang Kawasan
Tanpa Rokok