Pentingnya Mengenal Allah dan Bekerja
Pentingnya Mengenal Allah dan Bekerja
Mengenal Allah itu penting sekali. Kalau kita tidak mengenal Allah, kita tidak bisa betul-betul
percaya kepada Tuhan. Bagaimana kita bisa percaya kepada seseorang yang tidak kita kenal?
Yohanes 17:3, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya
Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
Ternyata hidup kekal itu adalah sama dengan mengenal Allah. Ada orang yang rajin ke
gereja tapi dia tidak pernah mengenal Allah. Karena sebenarnya hidup kekal itu ada melalui
pengenalan kita akan Allah. Kalau pengenalan salah, kita tidak akan masuk surga. Kalau
pengenalannya benar baru kita masuk surga. Jadi mengenal Allah itu penting sekali. Ayat ini
menyatakan “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah
yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. Jadi mengenal Allah itu
berarti kita harus mengenal Yesus Kristus. Tapi jangan lupa, yang akan membawa kita kepada
pengenalan akan Allah yang “satu-satunya” itu melalui Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus
kita dibawa kepada Bapa.
Mengenal Allah harus dimulai setelah kita diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan kita harus
mengenal Allah sebagai bapa kita. Karena yang mengutus Yesus Kristus itu Bapa. Kita harus
mengenal Bapa karena Yesus datang membawa kita kepada Bapa. Yesus bilang begini “Akulah
jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalua tidak
melalui Aku.” Banyak dari kita yang belum mengenal Bapa. Saat ini Tuhan mau membawa kita
untuk mengenal Allah sebagai Bapa. Karena kalau kita mengenal Allah sebagai Bapa, dahsyat
sekali hidup kita berubah, kita bisa kuat atau tidak dalam menghadapi permasalahan hidup ini,
itu tergantung dari bagaimana pengenalan kita akan Allah.
Sewaktu kita menghadapi persoalan, kalau kita tidak mengenal Tuhan, kita tidak bisa
mempercayai Tuhan. Sehingga kita temukan banyak orang kalau ada persoalan, cari dukun, lari
dari masalah, pergi meninggalkan masalah. Mereka tidak percaya sama Tuhan karena mereka
tidak mengenal Tuhan. Kalau kita mengenal Tuhan kita tidak akan pernah cari dukun. Karena
mengenal Allah itu sangat penting.
1
Kalau kita mengenal Tuhan, kita bisa mempercayakan diri kepadaNya. Percaya dengan
mempercayakan diri adalah dua hal yang berbeda. Ada orang yang sampai pada tahap percaya
saja. Itu bagus tapi tidak cukup sampai disitu. Kita juga harus mempercayakan diri. Contohnya:
Ada orang yang percaya sama Tuhan. Tapi ketika ada masalah, ia mempercayakan dirinya
kepada dukun, kepada akal pikirannya sendiri. Nah, percaya dengan mempercayakan diri itu
beda. Kalau kita percayanya benar, mempercayakan dirinya juga pasti benar. Bukti kepercayaan
kita kepada Tuhan adalah kalau kita berani untuk mempercayakan diri kepada-Nya. Kalau kita
mengenal Bapa, memiliki pengalaman dengan Bapa, kita pasti akan berani untuk
mempercayakan diri kita kepadanya. Itulah sebabnya Tuhan mau kita mengenal Allah dan
mengenal-Nya sebagai Bapa.
Kalau kita kenal Dia sebagai Bapa, itu merupakan hal yang sangat indah. Karena seorang
“bapa” tahu semua kebutuhan kita. Seorang “bapa” itu mengerti apa yang menjadi kebutuhan
anaknya. Tidak ada “bapa” yang anaknya memiliki kebutuhan tapi dia tidak tahu. Bapa kita di
surga lebih hebat dari bapak kita yang ada di dunia ini. Alkibat bilang begini “rambutmu
sekalipun dihitungnya”. Waktu kita kecil pernah tidak bapa kita menghitung rambut kita? Belum
pernah ada bapa yang berhasil menghitung rambut anaknya. Tapi bapa kita yang di surga,
sesibuk apapun dia, bapa masih sempat menghitung rambut itu hebatnya. Bahkan Dia bilang
begini, “tidak ada sehelai rambutpun yang jatuh tanpa seijin Bapa”. Berarti satu helai rambut saja
diurus Bapa. Itu kebenaran yang luar biasa. Artinya Bapa betul-betul memperhatikan kita sampai
hal-hal yang paling detail sekalipun. Bapa kita yang disurga memperhatikan apa yang menjadi
kebutuhan kita.
Kita mungkin mempercayai Allah sebagai Bapa. Tapi apakah kita pernah mengalaminya
sebagai Bapa kita? Karena ada orang Kristen “katanya”. Mereka adalah orang-orang Kristen
yang tidak pernah melihat atau mengalami Allah sebagai Bapa. Karena itu ada orang percaya
Kepada Tuhan tapi mereka tidak bisa mempercayakan diri. Karena mereka Cuma percaya di
pikiran saja. Untuk percaya di dalam hati, kita harus mengalami Tuhan dan memiliki
pengalaman dengan Tuhan. Kalau kita sudah memiliki itu, barulah kita bisa masuk pada langkah
yang kedua yaitu Mengasihi Allah dan Akhirnya Melayani Dia.
Setelah keluar dari Mesir, Tuhan memerintahkan Musa membawa bangsa Israel berbalik
kembali dan berkemah di depan Pi-Hariot, antara Migdol dan laut, sepertinya tersesat.
2
Sebenarnya ada rencana Allah di dalamnya untuk menyatakan kuasa-Nya agar bangsa Mesir
dapat mengenal Allahnya bangsa Israel. Jadi, dalam setiap masalah, sebenarnya ada maksud
Tuhan untuk kita semakin meningkat mengenal pribadi-Nya, mengalami kuasa-Nya dan
mengerti akan kehendak-Nya. Bukankah Allah turut campur tangan dalam segala perkara
mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Tuhan. (Roma 8:28)
Titik tolak yang paling hakiki, adalah oleh karena dalam Alkitab, Allah senantiasa diperkenalkan
sebagai Allah yang terus Bekerja. Allah yang aktif. Allah yang bertindak. God who acts.
3
Ia bukanlah Allah yang statis dan pasif, sebagaimana sering dipahami oleh orang-orang
Yunani Kuno, dimana ia digambarkan sebagai “apatheia”. Allah Alkitab bukanlah Allah yang
bersantai-santai dan bernikmat-nikmat di surga sana.
Bila Allah bekerja, maka sudahlah pasti itu bukan disebabkan oleh karena ia kekurangan
sesuatu. Sebab, bukankah Ia adalah pemilik segala sesuatu? Ia bekerja untuk bekerja. Ia bekerja,
oleh karena bekerja itu baik.
Dari Yesus, kita juga dapat menarik pelajaran yang amat berharga. bagiNya, tidak ada
pekerjaan yang rendah atau hina. 30 dari 33 tahun usiaNya, Ia lalui sebagai seorang tukang kayu,
atau mungkin malah hanya sebagai seorang pembantu tukang kayu, di Nazaret. Suatu pekerjaan
yang kurang terpandang bagi masyarakat Yahudi pada waktu itu.
Bukan hanya itu. Yesus juga mengangkat pekerjaan-pekerjaan yang semula dianggap
hina dan kurang bergengsi, menjadi suatu pekerjaan yang mulia. Misalnya, Ia
mengidentifikasikan dirinya sebagai apa? Sebagai “Raja”? O, tidak. Tetapi sebagai “gembala”.
Sering pula, ia menyebutkan diriNya sendiri sebagai “Pelayan”, yang dalam arti aslinya adalah
“Pelayan meja”.
Oleh karena itu, kita dapat memahami, bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah,
diciptakan untuk bekerja. Ini sudah begitu, sejak ia diciptakan. Artinya, bekerja adalah termasuk
pada “tata penciptaan” (order of creation) Allah. Artinya, bekerja adalah bagian dari hakikat
manusia sebagai manusia. Dalam kejadian 2:15 kita membaca, bahwa manusia ditempatkan
Tuhan di sebuah Taman, namun tidak sebagai turis untuk bernikmat-nikmat dan berfoya-foya di
sana.
Manusia ditempatkan Tuhan disitu, untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
Untuk bekerja.
Jadi salahlah bila ada orang yang menyatakan, bahwa bekerja adalah kutuk Allah oleh
karena dosa. Sebelum dosa hadir, manusia sudah harus bekerja. Bedanya ialah, setelah dosa
datang, bekerja itu dipandang atau dialaminya berbagai beban, sebagai penderitaan (kej 3:17-19).
Oleh karena itu manusia yang tidak bekerja adalah manusia yang mengingkari hakikatnya sendiri
sebagai manusia.
4
Setelah dosa hadir dalam kehidupan manusia, titah untuk bekerja tidaklah dihapuskan.
Malah sebaliknya, sekarang bekerja menjadi lebih nyata merupakan ciri pokok manusia.
Dikatakan, bahwa manusia diusir dari taman, untuk “mengusahakan tanah” (kej 3:23). Yang
menarik disini adalah, bahwa “mengusahakan tanah” itu di dalam bahsa Ibraninya adalah
“abudah”, suatu kata yang sama dengan kata dalam Bahasa Arab yang telah lebih kita kenal.
“Nah luar biasa bukan? Bekerja adalah ibadah”
Dalam dasa titah, bekerja sebenarnya juga merupakan perintah utama. Hukum yang keempat
(Ulangan 5:13), sesungguhnya bukan hanya perintah agar menusia beristirahat pada hari yang
ketujuh, melainkan tidak kurang adalah perintah agar manusia bekerja, dan bekerja dengan
sungguh-sungguh selama enam hari yang lain. “Enam hari lamanya hendaklah engkau bekerja,
dan melakukan segala pekerjaanmu….”.
Lalu Paulus sendiri ia malah memberikan contoh, bahwa sekalipun ia sebenarnya tidak
perlu lagi berkerja mencari nafkah, toh ia melakukannnya sebagai pembuat kemah. Dengan tegas
ia mengatakan bahwa rajin dan tekun berkerja adalah sebagian tanda dan wujud pertobatan, (Ef
4:28) orang yang malas adalah orang yang belum bertobat. Dan orang yang bertobat tidak boleh
menjadi parasite masyarakat, malainkan bekerja keras dan menjadi berkat.
Alkitab memang dengan tajam mengecam orang-orang pemalas. Dalam Amsal 18:9,
orang yang malas disebut sebagai “saudara dari si perusak”, artinya: “saudara si jahat”, “saudara
dari iblis”. Dalam II Tesalonika 3:10 dikatan, “jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia
makan”. Hanya orang yang bekerja, berhak menikmati dan memiliki sesuatu. Atau seperti
dikatakan dalam ungkapan Bahasa inggris. “no free lunch”, tidak ada yang gratis dalam hidup
ini. “Jer basuki mawa bea” orang yang mau berbahagia, harus mengeluarkan biaya.
Sebaliknya Tuhan menjanjikan berkat-Nya kepada mereka yang tekun dan rajin bekerja.
“Bersuka cita dalam jerih payahnya” adalah “karunia Allah”, begitu Penghotbah 5:18.
5
“Anggaplah sebagai suatu kehormatan…. Untuk bekerja dengan tangan (1Tes 4:11). Dan banyak
yang lain lagi.
Apakah masyarakat setempat itu? Masyarakat setempat adalah sejumlah orang yang
hidup bersama di suatu tempat tertentu yang memiliki peraturan-peraturan dan kebiasaan-
kebiasaan tertentu pula.
6
Suatu masyarakat setempat dapat pula diartikan sebagai satu Rukun Tetangga atau satu
Rukun Warga, atau satu Kelurahan. Di samping itu dapat pula diartikan suatu kelompok ataupun
penduduk pada umumnya.
Adapun inti dari suatu masyarakat adalah keluarga. Karena keluarga merupakan tempat
latihan untuk membentuk hubungan-hubungan yang baik di dalam masyarakat dan negara.
Sehingga dapat pula dikatakan bahwa seorang bayi pun adalah anggota suatu masyarakat.
Karena begitu ia lahir dicatat dalam kartu keluarga yang dimiliki oleh setiap keluarga. Tetapi
seorang bayi masih sangat terbatas sekali lingkungan masyarakatnya yaitu ayah, ibu dan anggota
keluarga lainnya.
Sebagai anggota masyarakat setempat, seorang Mahasiswa Kristen patut menjadi teladan
baik. Keteladanannya itu berfungsi sebagai garam dan terang dunia terhadap sesama mahasiswa
di masyarakat setempat maupun anggota masyarakat lainnya. Beberapa segi keteladanan yang
patut diperlihatkan :
7
Suatu masyarakat setempat sebagaimana juga masyarakat umum lainnya, tidaklah terlepas dari
pengaruh zaman yang negative. Agar tidak terpengaruh oleh lingkungan setempat yang negative
melainkan tetap dapat berfungsi sebagai garam dan terang dunia, mahasiswa perlu melengkapi
dirinya dengan ketahanan rohani, antara lain :
Apakah masyarakat nasional itu? Masyarakat nasional adalah segenap bangsa dalam suatu
wilayah negara.
Bagi kita yang dimaksud sebagai masyarakat nasioanal adalah seluruh rakyat Indonesia
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dari sabang hingga merauke.
Menjadi anggota masyarakat nasional berarti menjadi warga negara Republik Indonesia.
Dan sebagai seorang warga negara, maka harus tahu akan haknya tetapi juga kewajibannya. Hak
dan kewajiban seorang warga negara telah ditetapkan dan diatur dalam Undang-Undang Dasar
1945.
Kini kita tengah memasuki pelita IV. Sedangkan perincian dari sector-sektor
pembangunan negara kita dalam setiap Pelita itu telah tercantum dalam Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) sebagai Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia. Pembangunan negara RI selain merupakan program nasional, juga bertujuan untuk
8
membentuk masyarakat adil dan makmur spiritual dan material bagi segenap lapisan rakyat
Indonesia.
Umat Kristen dalam negara RI juga turut bertanggungjawab atas pembangunan ini. Baik
ia sebagai perorangan maupun kelompok umat beragama patut berperan serta. Rasul Paulus
mengatakan dalam surat Roma : “perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari
padanya.” “karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu”. Nabi Yeremia juga
berkata : Usahakanlah kesejahteraan kotamu”. “karena kesejahteraannya juga”.
Karena itu mahasiswa Kristen sebagai anggota masyarakat nasional wajib berperan serta
dalam pembangunan. Sebab sealain alasan di atas, maka dapat perlu ditambahkan lagi hal-hal
sebagai berikut :
a. Pemuda adalah harapan bangsa dimana masa depan negara terletak pada bahu mereka.
Pemuda merupakan generasi pewaris dan penerus cita-cita kemerdekaan bangsa.
Peran serta mahasiswa Kristen sebagai anggota masyarakat nasional dapat pula
diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan seperti:
a. Lomba karangan ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
b. Kejuaraan berbagai cabang olahraga.
c. Donor darah Palang Merah Indonesia.
Bekal rohani untuk berperan serta sebagai anggota masyarakat nasional adalah sama dengan
bekal rohani sebagai anggota masyarakat setempat. Hanya saja kesempatan kegiatannya dapat
berperan serta dengan pemuda Kristen se Indonesia yang diselenggarakan lewat program Dewan
Gereja-Gereja Indonesia bidang kepemudaan.
Setiap orang sebenarnya secara tidak langsung terhisap sebagai masyarakat internasional. Karena
setiap orang pada hakekatnya adalah sama yaitu berasal dari satu nenek moyang umat manusia
9
yang menghuni segenap pelosok penjuru dunia. Ia hanya berbeda dalam hal kebangsaannya,
kenegaraannya, bahasanya dan adat istiadatnya (kebudayaannya) maupun keagamaannya.
Alkitab menjelaskan bahwa pada mulanya segenap bangsa dimuka bumi ini bersal dari
satu keluarga Adam dan Hawa. Semula mereka hidupnya tidak tersebar seperti yang kita ketahui
sekarang ini. Mereka hidup saling berdekatan tempat tinggalnya. Tetapi sejak peristiwa
pembangunan negara Babel di tanah Sincar, mereaka kemudian tersebar kemana-mana. Sebab
pada peristiwa itu Allah telah mengacaukan Bahasa mereka sehingga satu dengan lainnya tidak
saling mengerti. Mereka yang bersebaran itu kemudian melahirkan keturunannya masing-masing
yang kini dikenal sebagai rumpun-rumpun bangsa.
Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat internasional itu telah terbagi alam berbagai
bangsa dan negara. Selain itu, melalui sejarah telah terbukti adanya saling permusuhan antara
mereka. Kita dapat melihat buktinya lewat Perang Dunia 1 dan 2 yang telah lalu, maupun
peperangan yang hingga kini tengah berlangsung.
Dari sana kita sadar bahwa masih banyak kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan yang
ada pada manusia sebagai satu keluarga besar umat manusia. Semua kenyataan itu merupakan
ancaman yang serius bagi perdamaian dunia dan keutuhan serta kelangsungan hidup umat
manusia. Karena itu usaha-usaha untuk saling memperhatikan dan kerja sama diantara mereka
masih terus dilakukan.
Usaha untuk memelihara perdamaian antar bangsa di dunia dilakukan melalui suatu
Badan Internasional yang di kenal dengan nama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB
didirikan pada tahun 1945 di San Fransisco. Anggota-anggotanya terdiri dari negara-negara yang
berdaulat. Para wakil negara anggotanya merupakan Sidang Majelis Umum(SMU). Di samping
SMU dikenal Dewan Keamanan PBB.
PBB antara lain mengusahakan terjalinnya persahabatan dan kerjasama antar bangsa-
bangsa, menyampaikan bantuan-bantuan kemanusiaan, mendamaikan bangsa yang bermusuhan,
berperang dan lain-lain.
Demikian pula bila ditinjau dari segi iman Kristen, maka usaha-usaha PBB itu sejajar
dengan panggilan Kristen. Sebab salah satu panggilan iman Kristen adalah untuk memperhatikan
dan melayani mereka yang lemah yang memerlukan pertolongan. Panggilan iman Kristen ini
10
tidak lain sebagai perwujudan dari amanat Injil atau berita kesukaan. Karena alkitab menjelaskan
: “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan AnakNya Yang
Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan memperoleh
hidup yang kekal”. Jadi jelaslah bahwa Allah sendiri tidak menghendaki dunia ini binasa karena
ulah dan dosa manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap Tuhan dan sesamanya. Karena itu
Allah selalu menaruh perhatian akan pemeliharaan terhadap kelangsungan hidup umat manusia.
Lebih-lebih bagi kurang percaya kepada Yesus Kristus Juru Selamat bagiNyalah terjamin
kehidupan yang kekal. Panggilan iman Kristen ini sekaligus merupakan pemenuhan dari titah
Yesus sendiri “Hendaknya terang mu itu bercahaya”.
Dengan pelayanan kasih yang nyata dari umat Kristen termasuk juga mahasiswa
kristennya diharapkan akan membawa banyak pengaruh positif bagi perdamaian dan
persaudaraan dalam masyarakat internasional, di mana masing-masing akan saling
membangunkan kesejahteraan sesamanya.
Dalam pelajaran-pelajaran yang lalu telah dijelaskan bahwa seorang mahasiswa terhisap
baik sebagai anggota masyarakat setempat, masyarakat nasional, maupun masyarakat
internasional.
Di samping ketiga wadah diatas, ada wadah lain pula dimana seorang mahasiswa Kristen
terhisap di dalamnya. Wadah tersebut tidak lain adalah Persekutuan Orang Percaya.
11
Terbentuknya Persekutuan Orang Percaya ini bukan karena kehendak dan usaha orang
percaya. Tetapi Persekutuan Orang Percaya ini terbentuk karena Tuhan Yesus sendiri. Roh
Kristus dengan Firman Allah yang diberitakan itu memanggil orang-orang untuk
dihimpunkanNya menjadi jemaatNya yang tersebar di muka bumi ini. Melalui baptisan dalam
namaNya, maka setiap orang percaya dihisapkan menjadi satu persekutuan yang umum
(internasional).
Dengan tepat sekali Rasul Paulus menggambarkan dan menjelaskan tentang hubungan
Kristus dengan jemaatNya bagaikan Kepala dengan tubuh dan segenap anggotanya.
Jadi dengan demikian Persekutuan orang Percaya dapat pula digambarkan sebagai tubuh
yang terdiri dari ragam anggota tubuh. Walaupun tiap anggota tubuh itu berbeda satu dengan
yang lain, mereka tetap merupaka satu kesatuan yang utuh karena terikat kepada satu kepala dari
tubuh Kristus. Sedang Rasul Yohanes menjelaskan persekutuan dengan gambaran pokok anggur
dan ranting-rantingnya. Segenap ranting itu sebagaimana panggilan tiap anggota tubuh terikat
sebagai satu kesatuan yang utuh pada Pokok Anggur yaitu Kristus.
Panggilan dan tanggung jawab mahasiswa Kristen dalam Persekutuan Orang Percaya
pada hakekatnya adalah sama sebagai panggilan tiap orang Gereja terhadap Gerejanya.
Panggilan dan tanggung jawab itu terdiri dari tiga segi:
a. Segi persekutuan, antara lain dapat diwujudkan melalui doa syafaat untuk Gereja-gereja
Kristen di seluruh muka bumi, pelayanan bantuan pertukaran tenaga utusan Gerejawi.
b. Segi kesaksian, sekalipun tidak berwujud dalam suatu kegiatan bersama secara serempak,
tetapi secara umum masing-masing mengemban tugas kesaksian tentang terang dan
garam dunia. Masing-masing di lingkungannya, bangsa dan negaranya mewujudkan
kesaksian sebagai garam dan terang dunia.
c. Segi pelayanan, dapat diwujudkan melalui pelayanan kasih dalam lingkungan,
bangsanya, negaranya terhadap orang-orang yang menyandang berbagai beban masalah.
Baik yang sifatnya rohani maupun jasmani.
12
Yeremia 29:7; Daniel 2:13-18; Matius 5:13-16; Yohanes 3:5,6:35, 15:1-18,
17-21; Roma 13:1-7, 15:1,2; 1 Korintus 10:15-17; 12:12-27; 1 Timotius 3:15;
1 Petrus 2:9-17
Pokok Bahasan ini tentang “hidup dalam kasih”. Hari-hari ini dunia sudah semakin jahat.
Kasih dianatara sesama manusia semakin hambat. Karena itu tidaklah mengherankan jika
kekerasan demi kekerasan bisa terjadi setiap saat bahkan ditengah-tengah keluargapun kasih
terasa menjadi semakin mahal, tak terhitung rumah tangga yang hancur disebabkan karena telah
kehilangan kasih. Bahkan ada banyak anak yang hidup tanpa kasih sayang dan yang mereka
alami hanya kekerasan demi kekerasan. Karena itu tidaklah mengherankan kalau anak-anak
muda yang akhirnya terjerumus ke dalam Narkoba, sex bebas, tawuran, tindakan criminal dan
sebagainya.
Karena itu sebagai orang percaya, kita harus dapat menjadi sumber kasih Tuhan,
sehingga setiap orang berjumpa dengan kita mereka temukan kasih Tuhan. Oleh sebab itu, kasih
akan menciptakan suasana damai sejahtera sehingga kita menikmati suka cita, karena kasih dan
suka cita adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dimana ada kasih maka disitu ada sukacita.
(Ay.11)
Dari ayat-ayat bacaan ini dapat kita jumpai beberapa perkara indah tentang kasih yaitu :
13
Ada banyak orang berkata “aku beriman: tapi tanpa menyadari bahwa iman itu adalah
sesuatu yang tidak kelihatan. Itulah sebabnya Yakobus berkata, “iman tanpa perbuatan pada
hakekatnya adalah mati”, dan iman tampak dalam perbuatan jika diwujudkan dalam kasih. Jika
kita berkata “aku beriman” tapi suka membenci orang lain, hidup serakah, egois, itu namanya
iman yang palsu, hal ini dapat kita buktikan dalam 1 Kor 13:2. Jadi, iman yang benar dapat
dibuktikan ke AllahanNya kepada kita melalui kasihNya, yang diwujudkan dengan
mengorbankan diriNya sendiri.
4.2 Kasih adalah Ukuran Cinta dan Kedekatan Kita Pada Tuhan
Setiap orang percaya meyakini bahwa dirinya mengasihi Tuhan, tapi persoalannya
sebesar apakah cintanya kepada Tuhan? Hampir tidak ada yang dapat dibuktikan dalam
perbuatan kasih yang nyata baik kepada Tuhan juga kepada sesamanya (1 Yoh 4:7-8, 12, 20)
Khotbah bukanlah alat kesaksian yang efektif, karena banyak orang yang tidak bisa
dijangkau dengan khotbah, namun banyak yang dijamah Tuhan melalui kasih jadi tidaklah
berlebihan jika kasih dapat menjamah dan melembutkan hati yang keras. Kasih itu sifatnya
vertical dan horizontal, artinya kasih yang tulus kepada Bapa dapat dibuktikan dengan taburan
kasih yang nyata kepada sesama manusia. Itulah sebabnya kasih merupakan kesaksian yang
sangat efektif, dibandingkan dengan penjelasan Yohanes di dalam 1 Yoh 2:9-11
14
Kesimpulan
Hari-hari ini dunia telah mengalami krisis kasih. Disana sini kapan saja dapat terjadi
kekerasan, ini semua disebabkan karena kasih telah hambar. Jelas kasih itu penting, sebab
iman tanpa kasih adalah kesia-siaan (palsu). Bahkan tanpa kasih pada hakekatnya tidak
mengenal Allah, sebab Allah itu kasih adanya. Beberapa hal indah mengenai kasih
diantaranya: kasih adalah iman yang terlihat, kasih juga merupakan ukuran cinta dan
kedekatan kita pada Tuhan, dan kasih sangat membutuhkan pengorbanan dan kesiapan untuk
taat, serta kasih merupakan alat kesaksian yang efektif. Hiduplah memiliki kasih yang nyata
dalam tindakan baik kepada Allah maupun kepada sesama manusi
Kita harus buat pilihan setiap hari. Apakah kita hendak berkata, kemanakah kita hendak
pergi atau apakah kita ingin buat. Semasa kita memilih, bagaimanakah kita melihat hidup
dari perspektif Tuhan dan menjalankan hidup yang menyenangkan hati-Nya?
Sebagaimana hubungan kita dengan Tuhan adalah bergantung sepenuhnya pada apa yang
Tuhan telah lakukan melalui Yesus Kristus, begitulah juga kuasa untuk menjalani kehidupan
Kristen adalah bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Untuk menjalani kehidupan Kristen
seperti apa yang dikehendaki Tuhan, kita mesti terus-menerus memperoleh kuasa Tuhan,
melalui Roh Kudus. Tetapi siapakah atau apakah Roh Kudus, dan apakah Ia lakukan ?
Dia Tuhan
”Sebagaimana roh seseorang mengetahui isi hatinya sendiri, begitu juga Roh Kudus
mengetahui segala sesuatu dari hal Allah. Kita tidak menerima roh dunia ini; kita telah
menerima Roh Kudus, supaya kita menegetahui segala yang telah dikaruniakan Allah kepada
kita”. ( 1 Korintus 2:11, 12)
15
“Tetapi kamu ini tidak lagi hidup menurut tabiat kemanusiaanmu. Kamu hidup menurut
Kehendak Roh – yaitu jika Roh Kudus sungguh mendiami kita. Barangsiapa tidak
mempunyai Roh Kudus di dalam hidupnya, orang itu bukanlah milik Kristus”. (Roma 8:9)
Dia datang untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka itu salah dalam pendapat
mereka tentang dosa dan hukuman.
“Dan bila Dia datang kelak, Dia akan membuktikan kepada dunia bahwa mereka itu salah
dalam pendapat mereka tentang dosa, dan tentang apa yang benar, dan tentang hukuman
Allah”. (Yohanes 16:8)
“Tetapi bila Roh menyaksikan kebenaran Allah itu datang, Dia akan menyatakan kepada
kamu kebenaran Allah dengan sepenuh-penuhnya”. (Yohanes 16:13)
“Dia akan menyatakan kemuliaan-Ku, sebab dia akan menerima daripada-Ku segala yang
dinyatakannya kepadamu”. (Yohanes 16:4)
“Orang-orang yang dipimpin Roh Kudus, adalah anak anak Allah, Sebab Roh yang
diberikan oleh Allah kepada kamu tidak menjadikan kamu hamba-hamba, sehingga kamu
hidup di dalam ketakutan. Sebaliknya Roh Kudus itu menjadikan kamu anak-anak Allah.
Dan dengan kuasa Roh Kudus itu menjadikan kamu anak-anak Allah. Dan dengan kuasa Roh
Kudus jugalah kita memanggil Allah itu “Bapa” Roh Kudus bersatu dengan roh kita supaya
menyaksikan bahwa kita ini anak-anak Allah”. (Roma 8:14-16)
“Sebaliknya, hasil pimpinan Roh Kudus ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,
kemurahan,kebaikan, kesetiaan,kelemahlembutan, dan penguasaan diri”. (Galatia 5:22, 23a).
16
(Yesus berkata) “Tinggallah didalam Aku dan Aku di dalam kamu .sama seperti
ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri ,kalau ia tidak tinggal pada pokok
anggur , demikian juga kamu tidak berbuah ,jikalau kamu tidak tinggal di dalam
Aku”. (Yohanes 15: 4,5)
Yesus berkata kita harus bergantung dan bersatu dengan-Nya untuk melihat kualiti-
kualitiNya dihasilkan dalam hidup kita. Dan dia juga memberi kita kuasa untuk
memberitahu orang lain tentang Dia.
(Yesus Berkata) Tetapi kamu akan dilengkapi dengan kuasa apabila Roh Kudus
datang dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan
Samaria, bahkan ke seluruh dunia”. (Kisah Rasul-rasul 1:8).
b) Mengapa kita memerlukan kuasa Roh Kudus untuk memberitahu orang lain apa yang
kita ketahui tentang Yesus?
Walaupun Roh Kudus mendiami semua orang Kristen, bukan semua dipimpin dan
dikuasai oleh Dia. Alkitab menyatakan kepada kita bahwa ada tiga jenis manusia, yaitu:
duniawi, Kristen rohani dan Kristen duniawi yang menggambarkan respons yang
berlainan terhadap Tuhan (lihat 1 Korintus 2:12-3:3)
Orang Duniawi
Orang Kristen rohani telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatnya,
tetapi mempercayai usaha dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan Kristen. Kristen
bukan saja di dalam hidupnya, tetapi juga menguasainya.
Kristen Duniawi
17
Orang Kristen duniawi juga telah menerima Yesus sebagai penyelamat, tetapi
mempercayai usaha dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan Kristen. Orang ini masih
menguasai hidupnya dan bertindak seperti orang duniawi. Kristus berada didalam
hidupnya, tetapi tidak menguasai hidupnya.
“Janganlah kamu mabuk karena minuman, yang akan merusak kamu. Sebaliknya, biarlah
diri kamu dipenuhi Roh Kudus.”
Ketika kita membiarkan Roh Kudus memenuhi dan menguasai kita. Dia akan
menghasilkan buah Roh di dalam hidup kita dan membolehkan kita memberitakan
kepada orang lain tentang Kristus.
“Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar”.
(Mazmur 66:18)
“Dosa tidak lagi boleh menguasai hidup kita yang insani, sehingga kita
ditaklukkan hawa nafsu sendiri. Janganlah menyerahkan anggota tubuh kepada kuasa
dosa supaya digunakan untuk maksud-maksud yang jahat. Melainkan serahkanlah diri
kita kepada Allah sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dari maut kepada hidup.
Serahkanlah segenap tubuhmu kepada Allah supaya digunakan untuk maksud-maksud
yang baik.” (Roma 6:12,13)
Ketiga, percayalah bahwa Roh Kudus akan memenuhi kita. Ini hanya mungkin
dengan iman-mempercayai Tuhan untuk membentuk hidup kita ketika menyerahkan
18
hidupmu kepada Dia. Yang harus dilakukan ialah meminta. Tuhan berjanji untuk
mengabulkan doa yang mengikuti kehendak-Nya.
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Dia mengabulkan
doa kita jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau
kita tahu bahwa Dia apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu bahwa kita telah
memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta daripada-Nya.” (1 Yohanes 5:14, 15)
Oleh sebab kehendak Tuhan ialah kita dipenuhi Roh-Nya, kita boleh
mempercayaiNya bahwa Dia mengabulkan doa kita. Berikut adalah salah satu doa :
“Ya Bapa, saya mengaku bahwa selama ini saya telah menguasai hidup saya dan oleh itu
saya telah berdosa terhadap Engkau. Saya bersyukur bahwa Engkau mengampuni dosa-
dosa saya melalui kematian Kristus di atas salib. Sekarang saya mengundang Kristus
untuk menguasai dan bertahta dalam hidupku. Penuhilah saya dengan Roh Kudus sebagai
suatu pernyataan iman, saya mengucap syukur kepadaMu karena Engkau menguasai dan
memenuhi hidupku dengan Roh Kudus.
Apakah doa ini menyatakan keinginan hati anda? Jika ya, ucapkanlah doa ini
sekarang juga dan percayalah bahwa Tuhan akan memenuhi hidupmu dengan Roh
Kudus.
19
VI : HIDUP DALAM KESELAMATAN
Keselamatan adalah suatu kebutuhan yang mutlak yang diperlukan oleh setiap
orang (Yoh 8:21, 24). Banyak orang yang hanya mengetahui bahwa keselamatan
merupakan jalan menuju surga memang benar, tetapi ini hanya sebagian dari
keselamatan. Sebenarnya saat kita menerima keselamatan dalam hidup kita sudah terjadi
perubahan-perubahan seperti kesukaan, damai sejahtera, dan berkat-berkat yang
melimpah (Yoh 10:10b)
Kata keselamatan berasal dari kata Gerika atau kata Yunani : Soteria yang berarti
(mengantar dengan aman melalui) juga (menjaga dari bahaya).
20
Dalam perjanjian baru digambarkan sebagai “jalan” yang menerobos kehidupan
ini menuju kepada persekutuan abadi dengan Allah. (Matius 7:14; Markus 12:14;
Yohanes 14:16; Kisah 16:17; Petrus 2:2 dan 21)
Jalan keselamatan ini harus dijalani setiap pribadi sampai akhir kehidupan.
Dengan demikian perlu untuk setiap orang menyadari akan sesuatu yang teramat penting
dalam kehidupannya selama di dunia ini bahwa keselamatan merupakan kebutuhan utama
hidupnya lebih-lebih dari perkara yang lainnya. Sadar atau tidak sesungguhnya setiap
orang memerlukan keselamatan. Dengan demikian maka dengan sederhana dapat kita
simpulkan bahwa :
Keselamatan disediakan bagi kita oleh kasih karunia Allah, yang diberitakanNya
melalui Tuhan Yesus Kristus (Roma 3:24) melalui:
21
Sisi Allah
Sisi Allah kita kenal dengan sebutan “Kasih Karunia” (Roma 5:8)
Kasih karunia ini nyata dari penebusan oleh Darah Tuhan Yesus (Roma
3:25)
Ketika kita berdosa (Roma 5:8) sehingga kita dimenangkanNya dengan
jalan kebangkitanNya dari kematian.
Sisi Manusia
Sisi manusia ini disebut dengan “Iman”
Kasih karunia Allah yang Cuma-Cuma itu tidak ada artinya apabila
tidak ditanggapi oleh manusia, tanggapan manusia terhadap kasih karunia
itulah yang disebut Iman (Roma 3:25). Jadi keselamatan itu terjadi oleh
kasih karunia Allah (Yohanes 1:16) dan tanggapan manusia disebut Iman
itu terhadap kasih karunia itu (Kisah 16:3.1; Roma 1:17). Jadi bukanlah
atas hasil jerih payah manusia (Efesus 2:8; Titus 3:5)
Dengan demikian maka keselamatan bagi setiap orang percaya itu terjadi dalam tahap
demi tahap.
1. Tahap awal, tahap ini disebut keselamatan lampau (pasti) atau tahap kebebasan dari upah
dosa.
2. Tahap berikutnya adalah tahap sekarang (present), tahap pembebasan kita dari kuasa
dosa, tahap keselamatan ini disebut juga tahap “Pengudusan atau keselamatan jiwa”.
3. Tahap masa akan datang (future), keselamatan kita dapat secara sempurna di mana
keselamatan ini disebut keselamatan tubuh.
22
6.4 Jaminan Keselamatan
Allah menghendaki supaya setiap orang diselamatkan dengan sempurna. Jaminan berarti
“bebas dari kebingungan atau keyakinan yang pasti” (1 Tes 1:5; 2 Tim 1:12; 3 Yoh 10:8)
Jaminan keselamatan datang dari firman Allah (1 Yoh 5:12), Roh Suci (1 Yoh 5:9-12;
Roma 8:16), suara hati yang jernih (Kis 24:16) dan kehidupan Kristen (1 Yoh 3:14)
23
4. “Pikiran yang benar bukanlah berarti keselamatan”
Melalui kalvari, Allah menunjukkan adanya dosa (Yes 53:6; Gat 3:32).
Langkah pertama kepada keselamatan adalah mengenal dan sadar adanya dosa, bukan
menyangkal keberadaan dosa.
5. “Menyangkal diri” bukan berarti keselamatan
Manusia tidak bisa mendapat keselamatan dengan menyalipkan dirinya sendiri.
1. Perobatan
2. Iman dan percaya
3. Kelahiran baru
4. Pembenaran
5. Pengangkatan Anak
6. Penyucian
7. Kehidupan doa
24
3. Memberi banyak sedekah (ayat 2), orang farisi juga melakukan hal ini tapi masih juga
menolak keselamatan (Mat 61 dan 2). Mungkin ada yang memberikan semua yang
dimilikinya tapi binasa (1 Kor 13:3)
4. Selalu berdoa (ayat 2) orang-orang yang berdosa dan orang-orang munafik sering
berdoa (Matius 6:5-7; Lukas 16:23-34)
5. Melihat penglihatan (ayat 3) ada orang yang telah melihat penglihatan tetapi tidak
selamat (Ayub 33:14-30; Yes 29:7-12; dan 4:5; Zakh. 13:1-16)
6. Tampak baik, benar, dan jujur di mata manusia (ayat 22)
7. Memiliki nama baik di hadapan manusia (ayat 22) Paulus memiliki hal ini tatkala
menjadi pembunuh orang-orang saleh (Kis 23:1; 26:5; Fil 3:6)
8. Berpuasa, orang fasik juga berpuasa setiap minggu (Mat 6:16-28; Luk 18:9-14)
Akan menginsafkan dunia akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepadaKu”.
25
Pada mulanya Allah menciptakan manusia untuk menjadi sahabat, sehingga hubungan
atau persekutuan sangat indah di Taman Firdaus. Akan tetapi sejak manusia jatuh dalam dosa,
persekutuan yang indah itu menjadi sirna karena ada pemisahan antara manusia dan Allah yaitu
dosa. Manusia dan Allah tidak lagi dalam persekutuan tetapi berpisah satu sama lain.
Akan tetapi Allah itu sangat baik, sehingga melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu
salib, hubungan yang indah itu dijalin kembali asal manusia mau menerima dan percaya pada
penebus Yesus Kristus atas dosa-dosa manusia. Melalui Tuhan Yesus jurang pemisah antara
manusia dan Allah telah disingkirkan, sehingga manusia dapat bersekutu dengan Allah dengan
bebas dan akrab tergantung pada respon manusia terhadap Firman Tuhan.
Apabila persekutuan kita dengan Allah kurang baik, maka masalah demi masalah akan
senantiasa akan menghadang perjalanan hidup kita. Bila gejala ini terjadi, maka kita harus cepat
mengoreksi diri, mengakui dosa, minta ampun kepada Tuhan dan bertobat. Sebab masalah
muncul, karena kita tidak taat pada perintah-perintah Tuhan melalui FirmanNya. Akan tetapi
bukan berarti hidup bersekutu dengan Allah, kita bebas dari masalah tetapi bedanya kita menang
dalam menghadapi persoalan hidup ini. Artinya persoalan hidup kita tidak terlarut-larut, tetapi
cepat selesai dengan baik dan memberi kita keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.
Persekutuan dengan Allah, membuat kita bergairah dan bersemangat dalam menjalani
kehidupan ini. Segala persoalan akan kita patahkan atau kita atasi dengan mudah karena
kekuatan kita bukan dari kita melainkan dari Allah. Kalau Allah di pihak kita (bersekutu dengan
Dia), siapa dan persoalan apa yang dapat mengalahkan kita? Tidak akan ada kekuatan apapun di
langit dan di bumi yang dapat mengalahkan kita, kalau kita berada dalam persekutuan yang
akrab dengan Tuhan. Sebab dalam persekutuan dengan Allah, kita dengan otomatis juga menjadi
penguasa dan pemilik langit dan bumi. Kekuatan kita di atas segalanya.
Dalam 1 Yoh 1:3 dikatakan bahwa dengan mendengar Firman, maka kita bersekutu
dengan Allah Bapak dan AnakNya Yesus Kristus. Dengan sendirinya kita juga ada dalam
persekutuan dengan Roh, karena dalam Fil. 2:1-3 dikatakan bahwa dalam Kristus ada nasehat,
ada penghiburan, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Oleh sebab itu usaha
26
kita adalah memelihara atau mempertahankan persekutuan dengan Allah, karena hanya dengan
jalan demikian, hidup kita penuh damai sejahtera dan berkemenangan.
Kor. 15:17; Tetapi seperti ada tertulis; “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak
pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah timbul dalam hati manusia, semua yang disediakan
Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. Jadi apabila yang menjadi kekurangan bagi kita, jika
kita ada dalam persekutuan dengan Allah, semua telah disediakanNya berlimpah-limpah, segala
kebutuhan hidup kita. Tuhan telah sediakan seperti waktu Adam dan Hawa ada dalam
persekutuan dengan Alkitab di Taman Eden.
Henokh adalah seorang yang bergaul dengan Allah, setelah Adam dan Hawa jatuh ke
dalam dosa. Alkitab mencatat bahwa Henonkh menjadi sahabat Allah selama 300 tahun (Kej
5:22) dan akibat persekutuannya dengan Allah, Henokh tidak mengalami kematian seperti
manusia biasa, tetapi ia diangkat Allah ke hadiratNya. Demikian juga kita akan diangkat Tuhan
bila tetap memelihara persekutuan yang baik dengan Allah selama kita hidup di dunia ini.
Walaupun segala rintangan, masalah, dan persoalan silih berganti datang dalam hidup kita, tetapi
kita harus tetap setia kepada Allah dengan berseru : Tuhan baik bahwasanya selama kasih
setiaNya.
Kejadian 34:28-35 menggambarkan kepada kita Musa bersekutu dengan Allah di Gunung
Sinai selama 40 hari dan 40 malam lamanya, tanpa makan roti dan minum air. Ketika Musa turun
dari atas Gunung Sinai, kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara kepada Tuhan.
Hal ini membuat orang Israel takut mendekati Musa dan mereka tidak dapat berbicara muka
dengan muka, melainkan membelakangi Musa. Akibat dari persekutuan yang dalam dengan
Tuhan membuat kita menyerap sifat-sifat Allah dan juga cahaya kemuliaanNya.
Dalam kisah perjalanan hidup Tuhan Yesus di Dunia juga melukiskan bagaimana waktu
Ia berdoa (bersekutu) dengan Tuhan (BapakNya) di atas gunung, rupa wajahNya berubah dan
pakaianNya menjadi putih berkilau kilauan (Luk 9:29). Sehingga kita dapat menyaksikan betapa
dahsyatnya hidup dalam persekutuan Allah. Dengan demikian kita tidak perlu ragu atau
menunda nunda lagi untuk segera bertindak hidup bersekutu dengan Allah. Inilah pilihan sikap
hidup yang terbaik bagi kita.
27
28
VIII. HIDUP MEMULIAKAN TUHAN
Yesaya 43:1-7
"semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang
Kubentuk dan yang juga Kujadikan!" Yesaya 43:7
Tujuan hidup orang percaya adalah memuliakan Tuhan di segala aspek kehidupan.
memuliakan Tuhan adalah hidup yang menjadi berkat, kesaksian, dan teladan. Inilah suatu
kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang di atas rata-rata, bukan hidup yang biasa-biasa saja,
bukan hidup yang terbawa oleh arus dunia ini.
Hidup yang memuliakan Tuhan itu tidak dibatasi oleh faktor usia atau seberapa lama orang
menjadi Kristen, sebab tidak sedikit orang yang sudah mengikut Tuhan selama bertahun-tahun
atau yang ditinjau dari faktor usia sudah sangat dewasa (tua), tetapi hidupnya masih belum
memuliakan Tuhan, kerohaniannya masih saja kanak-kanak. Ada tertulis: "Sebab sekalipun
kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi
diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan
makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang
kebenaran, sebab ia adalah anak kecil." (Ibrani 5:12-13). Sebaliknya ada banyak orang muda
yang kehidupannya justru mampu membawa kemuliaan bagi Tuhan alias menjadi berkat
(kesaksian) yang baik. Karena itu rasul Paulus menasihati Timotius agar tidak merasa rendah
diri karena kemudaannya: "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau
muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,
dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).
Orang muda akan memiliki kehidupan yang memuliakan Tuhan apabila sedari awal ia sudah
diajar, dididik dan ditanamkan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan. Dalam hal ini orangtua
memiliki peran yang sangat penting. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6).
Sadar atau tidak, orang-orang muda kini sedang menjadi incaran Iblis. Iblis sangat mengingini
29
1 Tim 4:11-12
Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. Jangan seorangpun menganggap
engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam
perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiannmu dan dalam
kesucianmu.
Rasul Paulus berkata demikian kepada Timotius, seorang gembala yang masih
muda. Setiap pemimpin apakah itu pemimpin gereja atau dimana saja memiliki suatu
tanggung jawab. Tidak peduli siapa diri anda, orang lain sedang memperhatikan anda dan
terpengaruh oleh teladan hidup anda. Tidak diragukan lagi jika banyak orang yang telah
menjadi teladan/contoh yang buruk bagi para saudara seiman bahkan kadang-kadang
menjadi teladan yang buruk bagi umat percaya yang masih lemah iman atau yang baru
bertobat/lahir baru. Tidak ada alasan apapun juga yang bisa membenarkan perbuatan
anda untuk berhak memandang rendah orang lain; apakah karena sedang mengalami hari
yang buruk atau karena terlalu banyak disakiti di masa lalu sehingga sekarang menjadi
pribadi yang over sensitive.
Ada perkataan bijak yang berbyuni, “seorang pemimpin yang baik adalah
seseorang yang mengetahui suatu jalan, kemudian melangkah ke jalan tersebut dan
menunjukkan jalan itu.” Jadi, tidak cukup dengan hanya mengetahui jalannya saja. Yesus
berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Dan Yesus telah melakukannya. Rasul
Paulus berkata, “jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena teladan yang
baik. Lalu bagaimanakah caranya untuk menjadi teladan yang baik?
30
Yoh 13:35 menulis, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu
adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. Kita menjadi saksi Kristus
bagi orang lain melalui kasih yang kita nyatakan dalam perbuatan nyata. Perbuatan kasih
adalah teladan baik yang perlu kita lakukan karena Yesus telah terlebih dahulu mengasihi
kita.
31
9.5.1. ORANG TUA MENJADI TELADAN BAGI ANAK-ANAK
Menjadi teladan adalah salah satu cara bagi orang tua untuk “menulisi” anaknya.
Teladan di masa anak-anak tidak hanya berguna saat itu saja tapi juga bermanfaat kelak
saat si anak mencapai umur dewasa.
Menjadi teladan yang baik bagi anak tidaklah semudah mebalikkan telapak
tangan. Tetapi bula perilaku positif sudah jamak dilakukan dalam kehidupan keseharian
maka teladan bisadiberikan tanpa perlu bersusah payah. Orang tua dapat memberi contoh
kepada anak bagaimana berperilaku yang baik seperti tidak suka berbohong, bersifat adil,
mencintai sesame, tekun belajar, berdisiplin dan lain-lain.
Contoh-contoh perilaku ini akan lebih baik bila tidak hanya keluar dari mulut
saja. Orang tua harus mampu bertingkah laku seperti yang mereka katakana kepada anak-
anak sehingga si anak langsung mendapatkan gambaran bagaimana tingkah lakunya
tersebut. Bagaimanapun, perbuatan dan tingkah laku jauh lebih mudah diingat bila
dibandingkan hanya senatas kata-kata.
Anak-anak sangat mudah meniru apa yang menjadi idola atau teladan mereka.
Misalnya: seorang anak perempuan sangat ingin menjadi cantic bak Cinderella, atau anak
laki-laki ingin kuat seperti Batmman atau Naruto. Mereka akan berperilaku seperti idola
mereka. Oleh sebab itu, jika orang tua mampu menanamkan perilaku yang baik saat masa
anak-anak maka hal tersebut jauh lebih mudah dibandingkan hal yang sama dilakukan
saat mereka sudah remaja atau dewasa.
Contoh perilaku yang baik ini sangat bagus lagi jika didukung oleh lingkungan di
luar orang tua baik yang tinggal serumah maupun di luar rumah.
Kakek, nenek, om, tante juga harus bisa menjadi teladan atau contoh minimal saling
mendukung dalam memberi contoh atau teladan yang baik bagi anak. Sudahkan anda
menjadi teladan bagi anak anda?
32
Namun pertanyaan yang lebih penting dan palingrelevan dalam situasi sekarang
ini adalah: bagaimana agar bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekeliling kita?
Topik inilah yang menjadi perenungan kita pada minggu ini. Selain meneladani hidup
orang lain, tidak kala pentinguntuk menjadi teladan hidup bagi orang lain.
Memang, bagi Paulus menjadi teladan bagi orang lain bukanlah perkara mudah.
Terkadang kita dihantui oleh kejahatan-kejahatan yang dilakukan pada masa lalu.
Mungkin muncul juga perasaan bahwa kita tidak layak atau kurang sempurna. Akan
tetapi Paulus mengatasi hal ini dengan suatu cara: “Melupakan apa yang telah
dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapanku, dan berlari-lari
kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam
Yesus Kristus” (Filipi 3:13-14)
Saudara-saudara, untuk dapat menjadi teladan bagi orang lain. Ternyata kita
terlebih dahulu mesti dibebaskan dari masa lalu yang suram. Dibebaskan dari rasa
bersalah. Intinya menjadi manusia yang baru sama sekali. Manusia yang telah mengalami
pertobatan, manusia yang ditangkap oleh Yesus Kristus.
Hal kedua, setelah mengalami pertobatan seorang mesti siap untuk hidup dalam
pertobatan itu. Inilah yang disebut dengan Paulus dengan “menghadapi apa yang
dihadapanku”. Pertobatan bukanlah fase hidup yang di alami sekali saja dan dapat
diganti-ganti denga fase hidup yang lain. Oleh karena itu tidak tepat jika mengatakan
‘telah/sudah hidup baru’ seolah-olah itu hanya sesuatu yang ‘pernah’ dilakukan.
Menghidupi pertobatan artinya menghayati perang sebagai manusia baru. Yang selalu
‘berlari-lari kepada tujuan; berluang agar selalu bertahan dalam kekudusan. Yang
menghayati statusnya sebagai warga sorga. Dengan cara inilah Paulus akhirnya bisa dan
layak menjadi teladan jemaat bertobat dan hidup dalam pertobatan itu, meninggalkan
masa lalu dan menghadapi yang dihadapannya.
Saudara-saudara, menjadi teladan bagi pengikut Kristus adalah suatu hal yang
patut kita usahakan. Sebab dunia yang sedang kita hadapi adalah dunia yang gelap. Dunia
ini membutuhykian pertolongan dari para pengikut Kristus. Jadilah garam dan terang
dunia jangan rasanya menjadi hambar dan cahayanya menjadi redup. Bercahayalah di
antara mereka seperti bintang-bintang (Filipi 2:18)
33
9.5.3 KELUARGA KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB
1. Penciptaan Manusia Sebagai Titik Berangkat Keluarga Kristen
Alkitab (secara khusus kitab Kejadian) dengan tegas dan lugas mendeskripsikan
ini dimulai dari proses penciptaan hingga pada pengingkaran manusia kepada Allah
(dosa). Dalam proses penciptaan dinyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Allah
yang istimewa. Keistimewaan ini terletak pada penciptaan manusia yang diciptakan
segambar dan serupa dengan Allah (Imago Del) dan juga diciptakan dengan sikap
proaktif Allah.
berlangsung pada konteks kerukunan beragama. Ada yang mengartikan kerukunan beragama
sebagai “Kerukunan di antara agama-agama”, tetapi ada juga yang melihatnya sebagau
“Kerukunan di antara umat beragama”, Hal terakhir ini mengasumsikan bahwa penganut agama
yang satu dengan yang lain bisa saling rukun, tetapi belum tentu sehubungan dengan agama yang
34
satu dengan yang lainnya. Dapat saja ada anggapan bahwa antara agama yang satu dengan yang
lainnya pada hakikatnya terdapat pertentangan atau bahkan konflik yang tidak mungkin dapat
dipertemuakn.
Kalau pemahaman yang terakhir ini diikuti, maka jalan keluar yang dilihat untuk
menjamin mulusnya kerukunan beragama dicari di luar tubuh agama. Di Indonesia, kita sudah
terbiasa untuk mengalaskan kerukunan beragama pada perangkat yang disediakan oleh negara
atau pemerintah. Pancasila dan UUD 1945 kerapkali dijadikan dasar pergumulan agar orang
Kristiani dapat hidup banyak ditengah-tengah masyarakat Indonesia.
Yang menarik adalah pandangan sebagian orang bahwa dasar untuk kerukunan beragama
dapat dilihat pada kesamaan keprihatinan dan pergumulan kemanusiaan dari setiap penganut
agama. Pembicaraan seperti ini biasanya berlangsung dalam rangka dialog antar agama. Karena
itu kita membicarakannya secara tersendiri dan pada akhirnya mempertanyakan apakah dasar itu
sudah cukup?
35
XI : IMAN DAN KERJA
Bagi beberapa orang, iman dan pekerjaan adalah dua bagian hidup yang terpisah. Yang satu
dunia rohani, sementara yang lain dunia sekular, yang sulit untuk disatukan. Namun jika kita
memandang kerohanian sebagai sesuatu hal yang sangat penting, bahkan vital, maka sudah
sepatutnya spiritualitas menjadi sebuah asas hidup yang mendasari aspek-aspek hidup lainnya.
Seluruh hidup kita akan dipengaruhi dengan bagaimana cara kita beriman, termasuk pekerjaan
pun bisa dan perlu disikapi lewat cara pandang iman yang benar. Namun iman pun bisa
mengalami pertumbuhan yang sehat bila seseorang menerapkan cara bekerja yang benar. Ketika
kita bisa melihat baik pekerjaan maupun iman sebagai aspek yang penting dan melekat dalam
hidup seseorang, maka kita sedang mengintegrasikan iman dan pekerjaan yang jika diusahakan
dengan benar dan baik akan menghasilkan hidup yang sejahtera, lahir dan batin.
36
11.2 Tujuan integrasi antara iman dan pekerjaan
Bagaimana agar iman yang saya praktekkan di tempat kerja dapat meningkatkan kinerja
Bagaimana agar pekerjaan bisa menjadi sumber sejahtera secara holistik (roh, jiwa &
tubuh) dengan cara yang sesuai dengan iman percaya saya
Apa yang menjadi motivasi bekerja akan mempengaruhi kinerja seseorang – Iman yang benar
akan mendorong orang bekerja dengan benar
1. Ekstrinsik – sesuatu yang ada di luar pribadi kita, dan sering kekuatannya hanya
sementara, yaitu sepanjang faktor ekstrinsik itu ada dan ditawarkan: materi, pujian orang,
status sosial dll.
2. Intrinsik – sesuatu yang ada di dalam diri kita, sering lebih kuat melekat karena selalu ada
dalam pribadi kita: kecerdasan, panggilan/visi, karakter dll.
Tentu kedua motivasi ini ada dalam diri seseorang ketika melakukan suatu pekerjaan. Namun
ketika motivasi ekstrinsik lebih besar dari motivasi intrinsik, maka kinerja kita pun akan menjadi
naik turun tergantung kompensasi ekstrinsik yang ditawarkan pada kita.
Contoh: Jika yang membuat semangat bekerja adalah paket renumerasi dan bonus-bonus, maka
semangat itu akan pudar ketika kita merasa kompensasinya sudah tidak sesuai lagi.
37
11.5 Bagaimana Meningkatkan Kinerja berdasarkan Iman
Sejak kejatuhan dalam dosa, relasi menjadi rusak dengan Allah dan sesama, dan juga dengan
alam ciptaan/lingkungan. Demikian juga pekerjaan dan kehidupan manusia menjadi semakin
berat, sulit untuk membuat manusia merasa sejahtera, bahkan pekerjaan menjadi sesuatu yang
mengganggu relasi dan persekutuan, baik dengan Allah dan sesama. Untuk itu, agar kita
mendapatkan hasil maksimal, perlu memiliki prinsip-prinsip dan keterampilan hidup yang
holistik.
Hidup kita merupakan bagian dari pekerjaan Allah yang sedang menebus dunia ini
19
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, 20
dan oleh Dialah Ia
memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di
sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (Col 1:19-20 ITB)
38
40
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-
Nya. (Luk 2:40 ITB)… 52
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan
besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Luk 2:52 ITB)
1. Visi ilahi – apakah yang kita lakukan memberi dampak berkelanjutan pada generasi yang
akan datang dan kekekalan, ataukah sekedar menghabiskan waktu selama kita hidup di
bumi saja?
2. Komunitas – apakah yang kita lakukan membuat hubungan kita semakin baik, terutama
dengan orang-orang yang dekat dan penting di sekitar kita?
3. Fisik/Materi – apakah yang kita lakukan meningkatkan kekayaan bersih (equitas)
dibanding dengan gaya hidup, baik secara fisik & materi, dan menjadi berkat bagi diri
sendiri dan sesama?
Diperlukan langkah-langkah kongkrit agar semakin iman kita bertumbuh, maka kinerja kita pun
akan bertambah Miliki Visi yang jelas – yang kita yakini merupakan panggilan ilahi Tetapi
apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi
demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api…
Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa
kepada dosa (10:16) Setiap orang yang bekerja mengharapkan mendapat upah. Upah tersebut
bisa merupakan sesuatu hal yang dapat dihitung, seperti jumlah uang, atau juga bisa sesuatu yang
tidak dapat dihitung, seperti rasa terima kasih. Apapun upah yang didapat, harapan…
39
XII : DOSA DALAM KERJA DAN TUGAS
"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk
mengusahakan dan memelihara taman itu." Kejadian 2:15
Bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan hidup kita, memberi persembahan untuk pekerjaan
Tuhan dan membantu sesama, bila kita tidak bekerja? Banyak orang salah dalam memahami arti
hidup karena percaya (iman). Mereka berpikir bahwa hidup karena percaya berarti tidak perlu
lagi bekerja dan berusaha, cukup berdoa saja, maka uang itu akan turun dengan sendirinya dari
langit. Benarkah demikian? Ada tertulis: "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu
tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17).
Memang, Tuhan selalu punya cara untuk menolong dan memberkati kita, namun Ia menghendaki
kita bekerja. Itulah bagian yang harus kita kerjakan. Jadi, bekerja adalah perintah Tuhan!
Bahkan, perintah untuk bekerja sudah ditetapkan Tuhan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.
Kata mengusahakan dan memelihara (ayat nas) berarti mengerjakan sesuatu (bekerja).
Saat itu manusia pertama diperintahkan Tuhan untuk mengurus taman Eden dan segala isinya.
40
Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia yang diciptakanNya menjadi
orang yang malas. Bahkan Alkitab dengan keras menentang orang yang malas: "Hai pemalas,
berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar
lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" (Amsal
6:9-10).
Tidak ada alasan untuk tidak bekerja dan berusaha, karena Tuhan sudah memperlengkapi kita
dengan segala hal yang dapat menunjang aktivitas hidup sehari-hari. Kita diciptakan Tuhan
dengan tujuan berkarya dan melakukan pekerjaan baik. "Karena kita ini buatan Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah
sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Amsal 6:9-10). Itulah sebabnya Paulus
menasihati, "...jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).
Dengan bekerja, selain dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kita juga tidak akan
menjadi beban bagi orang lain. Jika kita mau bekerja dan berusaha, Tuhan pasti akan
memberkati apa yang kita lakukan.
"Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." Yohanes 5:17
41
Tentang negara-negara miskin dijadikan kelinci percobaan
Tentang pabrik-pabrik berpolusi berat dipindahkan ke negeri orang
Tentang perusahaan-perusahaan multinasional yang diperbolehkan memasukkan
dana suap,dsb
Cara untuk menghindari sikap serigala terhadap sesamanya atau perang antara semua
melawan semua
Skenario di atas dapat dihindari apabila manusia menahan diri dan menekan nalurinya.
Manusia harus merelakan kebebasannya dibatasi dan nalurinya dikendalikan oleh suatu
kuasa di luar dirinya yaitu Tuhan.
Adam Smith : ada tangan yang tidak kelihatan adalah kuasa dan campur tangan Ilahi
dalam teologi Kristen. Etika ada yang menyangkut seluruh, semua dan setiap wilayah
kehidupan manusia, baik yang pribadi maupun yang kolektif yang individual maupun
plural.
Inilah cara mengatasi tujuh sikap dan perbuatan yang bisa menjatuhkan Anda ke dalam
kehancuran.
1. Malas. Malas bisa diawali dari menunda-nunda pekerjaan, seperti menunda follow up klien,
menunda untuk mengejar target sehingga akhirnya semua pekerjaan terbengkalai. Untuk
menghindari kemalasan, cobalah untuk: * Memotivasi diri. Pacu diri Anda dengan hal-hal yang
membuat Anda termotivasi. Misalnya, kalau target pekerjaan tercapai Anda akan mendapat
42
bonus yang bisa dipakai untuk rencana berlibur. * Tidak perlu lakukan semua sekaligus,
pecahlah jadi beberapa hal kecil dan lakukan satu per satu. Mulailah dari yang termudah atau
yang paling mendesak. Jika itu sudah selesai Anda akan menyadari betapa semua pekerjaan bisa
diselesaikan. * Jangan menunda. Ini adalah salah satu bentuk kemalasan. Jika semakin ditunda
maka daftar yang harus Anda lakukan juga semakin bertumpuk dan Anda akan semakin malas.
2. Hawa nafsu. Godaan ini yang paling sulit dihadapi sebagian orang. Hawa nafsu yang
dimaksud adalah terhadap orang lain, terutama di luar pasangan yang sah. Ada baiknya jika
Anda mencoba cara ini untuk menahan godaan nafsu. * Hargai hubungan Anda dengan
pasangan. Ciptakan hubungan yang hangat dan mesra agar lebih kuat menghadapi godaan pihak
ketiga. Jika godaan tetap datang, coba pikirkan akibat perbuatan Anda bagi hubungan Anda
dengan pasangan. * Batasi hubungan dengan pihak penggoda. Jangan memberi pembenaran
untuk setiap interaksi Anda dan si penggoda. Jauhilah sebisa mungkin.
3. Emosional. Sebenarnya marah adalah hal wajar, namun yang negatif kalau Anda terlalu
mudah marah akibat hal-hal kecil dan meledak-ledak, cobalah terapi ini: * Tarik napas dalam.
Mengatur pernapasan mengurangi keinginan Anda untuk marah-marah. Ada baiknya jika Anda
mengikuti olahraga khusus pernapasan seperti yoga, agar emosi lebih terkendali. * Pikirkan
manfaatnya apakah perlu Anda marah? Ingat, marah juga menghabiskan energi. Apakah itu
masalah yang cukup besar sehingga Anda perlu membuang energi, pikiran, dan emosi yang
berharga? Pikirkan dampak jangka panjangnya jika Anda marah saat itu. * Tinggalkan tempat itu
sebentar jika Anda merasa ingin meledak. Tenangkan pikiran Anda dulu, baru kemudian dibahas
kembali sumber kemarahan Anda.
4. Serakah. Seringkali ini dihubungan dengan materi dan kekuasaan. Orang yang serakah tidak
pernah puasa dengan apa yang dimilikinya dan selalu ingin lebih banyak lagi. Seringkali sampai
rela mengambil risiko besar demi memenuhi keinginannya itu, dan inilah yang biasanya
membuat mereka terjatuh. Jangan sampai seperti itu, cobalah untuk: * Katakan pada diri sendiri
bahwa jangan sampai uang yang "menyetir" Anda. Mengejar keuntungan dalam berbisnis atau
penghasilan yang tinggi memang bagus, namun jangan kehilangan integritas Anda. * Tentukan
apa yang penting dalam hidup Anda. Selain uang, banyak hal lain yang berharga dalam hidup,
misalnya keluarga atau kasih sayang. Coba tanyakan pada diri sendiri, mana yang terpenting bagi
Anda.
43
5. Iri hati. Banyak kejahatan yang didorong karena perasaan iri terhadap sesuatu yang menjadi
milik orang lain. Karena itulah iri hati juga termasuk dosa besar yang harus dihindari dengan
cara: * Bersyukur. Inilah hal yang paling utama untuk menjauhi iri hati. Bersyukur dengan apa
yang Anda miliki sekarang. Jangan terus menerus menganggap "rumput tetangga lebih hijau",
tapi cobalah cara pandang lain. Misalnya, tetangga Anda mungkin punya mobil lebih banyak,
namun Anda punya lebih banyak orang yang mengasihi. * Cintai diri sendiri, agar Anda tak
perlu iri pada orang lain. Ingatlah bahwa setiap orang punya potensi dan kelebihan, tak terkecuali
diri Anda. Jangan terfokus pada kekurangan, namun gali dan munculkan kelebihan diri Anda.
7. Sombong. Boleh saja merasa bangga, tapi jika berlebihan bisa mengarah pada kesombongan.
Orang yang sombong dapat memancing kebencian dan iri hati orang lain. Jangan sampai Anda
terjebak pada kesombongan itu, hindarilah dengan cara: * Kurangi bicara. Ketika meraih
prestasi, coba tahan keinginan Anda untuk membicarakannya. Tak semua orang ingin mendengar
dan berbagi kebahagiaan itu. Bicarakan saja pada orang-orang terdekat atau yang benar-benar
ingin tahu tentang berita tersebut. Cara yang paling ampuh, jangan bercerita panjang lebar jika
tidak ditanya. * Bersikap rendah hati, ingatlah "di atas langit masih ada langit". Jadi, meskipun
misalnya Anda ahli di bidang tertentu, masih ada orang lain yang lebih ahli daripada Anda.
Jangan sampai Anda termakan bualan dan kata-kata sendiri.
Alkitab memberikan sebuah definisi dosa yaitu pelanggaran hukum Allah. Namun, seringkali
kita kebingungan. Apa sebenarnya yang disebut sebagai pelanggaran hukum Allah? Hukum
44
Allah yang mana? Sebagian besar dari kita pun tidak mampu untuk mengingat seluruh hukum
Allah yang tertulis di Alkitab.
Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran
hukum Allah. ̶ 1 Yohanes 3:4
Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak
melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah
dosa. ̶ Roma 14:23
Selain itu, Alkitab juga mendefinisikan dosa sebagai segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman.
Namun, hal ini pun masih kerap memberikan kebingungan. Sebagian orang merasa suatu hal itu
memang tidak berdasarkan iman. Namun, sebagian orang lain mungkin menganggap hal itu baik-
baik saja dan berdasarkan iman. Belum lagi tingkat iman seseorang tentu berbeda satu dengan
yang lainnya. Ibaratnya, iman merupakan suatu hal yang kontinyu dan bukan diskrit. Sehingga
sulit sekali untuk membedakan mana yang berdasarkan iman dan mana yang tidak.
Manusia mencari petunjuk-petunjuk untuk menentukan antara dosa atau tidak. Akhirnya,
ditemukanlah berbagai macam-macam dosa menurut Alkitab. Namun, setiap orang memiliki
penentuan yang berbeda dalam melihat macam-macam dosa menurut Alkitab. Namun, sebelum
mengetahui macam-macam dosa, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dikehendaki
Allah.
Kebajikan Sorgawi
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,
kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. ̶
Galatia 5:22-23
Sebagai orang Kristen, kita telah dikaruniai oleh Roh Kudus. Roh Kudus tidak menjadi suatu
pribadi yang stagnan, tetapi Ia terus bertumbuh dan berbuah. Buah-buah tersebut disebut buah
Roh dan menjadi ‘standar’ untuk kita mengikuti kehendak Allah. Dari buah Roh tersebut, tokoh
gerejawi zaman dahulu akhirnya membuat daftar 7 kebajikan sorgawi.
45
1. Kemurnian yang berarti mampu menjaga diri dari hawa nafsu, dari godaan, baik dalam
konteks seksual maupun tidak. Kemurnian berkaitan dengan buah Roh kesetiaan dan
penguasaan diri.
2. Kesederhanaan yang berarti mampu menguasai diri, merasa cukup akan apa yang
dimiliki. Kesederhanaan berkaitan dengan buah Roh penguasaan diri.
3. Kasih berarti mampu mengorbankan diri bagi orang lain dan merasa ikhlas dalam
bertindak. Kebajikan sorgawi ini tentunya berkaitan dengan buah Roh kasih, kemurahan,
dan kebaikan.
4. Kerajinan berarti mampu bersikap bijaksana dalam menghabiskan waktu dan pantang
menyerah dalam hal yang sedang dikerjakan. Kerajinan berkaitan dengan buah Roh
kesabaran dan penguasaan diri.
5. Kesabaran yang berarti mampu menguasai diri dari rasa amarah, membawa rasa damai
dan pengampunan seperti yang tertulis pada ayat Alkitab tentang pengampunan. Seperti
namanya, kebajikan sorgawi ini berkaitan dengan buah Roh sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, dan kemurahan.
6. Kebaikan hati berarti mampu memiliki rasa belas kasih untuk orang lain tanpa pandang
bulu dan memberikan rasa persahabatan, bahkan kepada musuh. Kebajikan ini berkaitan
dengan buah Roh kasih, sukacita, kemurahan, kebaikan, dan kelemahlembutan.
7. Kerendahan hati tentunya berkaitan dengan buah Roh penguasaan diri dan ciri-ciri rendah
hati menurut Alkitab sangat mudah diketahui.
Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan
berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan,
roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. . ̶ Galatia 5:19-21a
46
Selain buah Roh, Alkitab juga mencantumkan hal-hal perbuatan daging. Kita dapat melihat ada
begitu banyak macam perbuatan daging atau yang biasa kita kenal sebagai dosa. Bahkan, di surat
Galatia tersebut, Paulus masih menuliskan ‘dan sebagainya’. Hal ini berarti masih ada banyak
sekali macam-macam dosa menurut Alkitab.
Namun, sama seperti ada buah Roh ada perbuatan daging, para tokoh gerejawi juga menetapkan
7 macam-macam dosa menurut Alkitab, sebagai kebalikan dari 7 kebajikan sorgawi. Macam-
macam dosa ini juga merangkum perbuatan daging yang disebutkan oleh Paulus kepada jemaat
di Galatia. Berikut 7 macam-macam dosa menurut Alkitab.
1. Hawa nafsu
Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota
Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! ̶ 1 Korintus 6:15
Hawa nafsu, pada rumusan awalnya, hanya dimaksudkan untuk dosa seksual. Ketika seseorang
tidak mampu menahan hawa nafsu seksualnya, ia dapat bertindak di luar akal sehatnya. Hawa
nafsu seksual dapat menyebabkan perzinahan seperti yang dijelaskan pada ayat Alkitab tentang
dosa perzinahan. Maka dari itu, hawa nafsu masuk ke dalam dosa yang disebut sebagai dosa
mematikan.
Namun, saat ini, hawa nafsu tidak hanya berbicara tentang hasrat seksual. Hawa nafsu juga
bicara tentang uang, popularitas, jabatan, dan hal lainnya. Hawa nafsu merupakan lawan dari
kebajikan kemurnian. Hawa nafsu berkaitan dengan perbuatan daging percabulan, kecemaran,
hawa nafsu, dan kemabukan.
2. Kerakusan
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang
telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. ̶ 1 Timotius
6:10
Awalnya, kerakusan yang dimaksud merujuk pada keinginan berlebih untuk makan. Saat ini,
menyesuaikan dengan perkembangan zaman, kerakusan juga merujuk kepada keinginan akan
47
uang. Bahkan Alkitab sendiri menyatakan bahwa cinta akan uang merupakan akar dari segala
kejahatan. Oleh karena itu, kerakusan termasuk dalam dosa yang mematikan.
Kerakusan juga biasa kita sebut materialisme dan terdapat banyak ayat Alkitab tentang
materialisme. Kerakusan merupakan lawan dari kebajikan kesederhanaan. Kerakusan berkaitan
dengan perbuatan daging hawa nafsu, kepentingan diri sendiri, dan kedengkian.
3. Ketamakan
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.
Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-
kali tidak akan meninggalkan engkau.” ̶ Ibrani 13:5
Mungkin ketamakan tidak terlihat berbeda jauh dari kerakusan. Inti dari ketamakan maupun
kerakusan adalah rasa cinta akan sesuatu, seperti contohnya uang. Namun, kerakusan membuat
seseorang berlomba-lomba untuk mengumpulkannya sebanyak mungkin. Sedangkan, ketamakan
membuat seseorang tidak mau membagikan apa yang ia miliki pada orang lain bahkan meskipun
orang tersebut sangat membutuhkannya.
Seakan-akan, jika ia membagikannya, ia akan kekurangan dan terus merasa rugi. Padahal Allah
berjanji bahwa ia tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkan anak-anak-Nya. Ketamakan
merupakan lawan dari kebajikan kasih. Ketamakan berkaitan dengan perbuatan daging hawa
nafsu dan kepentingan diri sendiri.
4. Kemalasan
Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja. ̶ Amasal 21:25
Kemalasan mungkin terlihat sederhana. Namun, ternyata kemalasan termasuk dalam dosa yang
mematikan. Kemalasan mampu membuat seseorang melakukan segala sesuatu secepat mungkin
untuk mendapatkan yang ia inginkan. Padahal, yang ia lakukan merupakan sesuatu yang tidak
baik.
48
Misalnya, koruptor yang ingin mendapatkan kekayaan dengan cepat. Atau orang yang
melakukan nepotisme agar tidak perlu repot-repot bekerja keras untuk mendapatkan suatu posisi
yang tinggi. Kemalasan, tentu saja, merupakan lawan dari kebajikan kerajinan. Kemalasan
berkaitan dengan perbuatan daging penyembahan berhala, sihir, dan kepentingan diri sendiri.
5. Kemarahan
Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. ̶
Pengkhotbah 7:9
Kemarahan merupakan dosa yang sulit dihindari oleh siapapun. Kemarahan yang tidak segera
dikuasai dengan baik tentu memberikan akibat-akibat buruk lainnya. Kemarahan yang tak
terbendung bahkan dapat membuat seseorang membunuh sesamanya. Hal yang sama parahnya,
kemarahan juga dapat membuat seseorang mengakhiri hidupnya sendiri. Padahal, hidup
merupakan anugerah dari Allah yang seharusnya dijaga dengan baik dan bertanggungjawab.
Kemarahan merupakan lawan dari kesabaran. Kemarahan berkaitan dengan perbuatan daging
perseteruan, perselisihan, amarah, dan roh pemecah.
6. Iri hati
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekaccauan dan segala
macam perbuatan jahat. ̶ Yakobus 3:16
Alkitab sendiri dengan jelas mengategorikan iri hati sebagai dosa yang mematikan. Rasa iri hati
menyebabkan dosa-dosa lainnya seperti amarah, hawa nafsu, dan lainnya. Iri hati sendiri
melawan kebajikan kebaikan hati. Iri hati berkaitan dengan perbuatan daging hawa nafsu, iri hati,
dan kedengkian.
7. Kesombongan
Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan
hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. ̶ Yesaya 2:11
49
Kesombongan menyebabkan seseorang tidak peduli dengan orang lain. Ia merasa dirinya lebih
tinggi, bahkan yang paling tinggi. Orang yang sombong bahkan bisa melupakan kemahakuasaan
Tuhan dan malah menuhankan dirinya sendiri. Alkitab juga banyak menjelaskan secara rinci
tentang ini pada ayat Alkitab tentang kesombongan manusia. Kesombongan melawan kebajikan
kerendahan hati. Kesombongan berkaitan dengan perbuatan daging kepentingan diri sendiri dan
roh pemecah.
Kita sudah mengetahui 7 macam-macam dosa menurut Alkitab. Ini menjadi pilihan bagi kita
untuk menentukan apakah kita mau terus melakukan dosa-dosa ini. Tentu saja dosa tidak terbatas
pada 7 hal ini. Namun, ini menjadi refleksi dasar bagi kita agar kita menjadi pribadi yang lebih
baik lagi. Jangan sampai akibat dosa menurut Alkitab harus kita rasakan karena tidak segera
merefleksikan diri. Tuhan memberkati.
Dalam kehidupan kita sehari – hari, diri kita tidak jauh dengan hal ataupun perbuatan yang
disebut dengan dosa. Apakah Anda sudah mengerti tentang pengertian dosa menurut
Alkitab sebelum kita membahas beberapa contoh perbuatan dosa dalam kristen secara lebih
jauh? Jika belum, maka saya akan kembali mengingatkannya kepada Anda. Pada dasarnya, dosa
adalah segala sesuatu perbuatan yang kita lakukan dan hal itu membuat kita menjadi lebih jauh
dari Allah. Dengan kata lain, dosa adalah perbuatan kita menolak cinta kasih Allah pada kita.
Melakukan semakin banyak dosa akan membuat hubungan kita dengan Allah menjadi semakin
renggang. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan kembali hubungan yang
baik dengan Allah adalah dengan melakukan pengakuan dosa atau yang basa dikenal juga
dengan pengampunan dosa dalam kristen. Untuk membantu Anda mengetahui secara konkret
akan beberapa contoh dosa, maka berikut ini saya memiliki beberapa contoh nyata yang bisa
Anda hindari dengan tujuan untuk membuat pribadi kita menjadi lebih baik.
Mari kita awali contoh pertama dengan hal yang sering kita lakukan. Hal itu adalah rasa khawatir
yang kita miliki akan hari esok. Baik itu kekhawatiran akan makanan apa yang harus dimakan
50
besok, bagaimana cara mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari, dan lain
sebagainya.
Kekhawatiran ini tidak hanya muncul apada orang dewasa tetapi juga pada kaum muda yang
misalnya mengkhawatirkan nilai ujian yang akan datang. Berbagai macam kekhawatiran ini
adalah suatu bentuk keraguan kita akan janji – janji Tuhan Yesus bagi orang percaya dan kuasa
Tuhan. Tuhan Allah sendirilah yang mengatur segala sesuatunya untuk kita dan segala sesuatu
telah direncanakan sesuai dengan waktu dan kondisi yang tepat. Tetap lakukan saja yang Anda
bisa lakukan dengan semaksimal mungkin dan serahkan sisanya kepada Tuhan.
2. Keserakahan
Saya merasa, masih banyak dari kita yang tidak mengetahui apa itu arti bersyukur dalam Alkitab.
Sebagai bukti nyatanya, masih banyak orang yang terlalu serakah dalam melakukan berbagai hal
tertentu untuk kemakmuran dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Bahkan, tipe orang
seperti ini juga bisa hanya menyembah Tuhan untuk membantunya mendapatkan hal – hal yang
dia inginkan.
Ingin menjadi yang terbaik dan mendapatkan hal – hal yang baik dalam hidup memang tidaklah
salah. Yang salah adalah apabila keserakahan Anda sudah terlalu tinggi sehingga Anda hanya
memperalat sesama manusia dan bahkan Tuhan untuk mendapatkan hal yang Anda inginkan.
3. Penyembahan berhala
Contoh perbuatan dosa dalam kristen selanjutnya adalah melakukan penyembahan berhala. Arti
penyembahan berhala dalam iman Kristen sendiri tidak hanya terbatas pada penyembahan
berhala seperti yang dilakukan oleh orang jaman dahulu yang menyembah dewa – dewa baal.
Penyembahan berhala pada masa yang modern ini menjadi semakin banyak dan berkembang dan
semuanya adalah demi untuk memenuhi keinginan daging. Contoh penyembahan berhala yang
nyata pada masa kita adalah penyembahan berhala terhadap uang.
Tidak sedikit orang yang pada akhirnya meragukan kuasa ataupun keberadaan Tuhan dalam
kondisi mereka yang sulit dan kekurangan uang misalnya. Hal ini membawa mereka untuk
51
berusaha menyembah uang dan membuat uang menjadi hal yang paling utama karena mereka
merasa bahwa uang bisa membeli segalanya.
Dalam menjalankan kehidupan kita sehari – hari, tidak jarang bahwa kehidupan ini membuat kita
kecewa. Kekecewaan yang kita dapatkan juga seringkali datang dari orang – orang terdekat yang
kita cintai. Mengetahui hal ini tentunya sangatlah sakit dan kecewa hati kita sehingga kita merasa
sulit untuk mengampuni. Dan oleh karenanya mungkin kita perlu membaca lagi mengenai hal –
hal mengampuni dalam Alkitab.
Sebagai manusia yang lemah dan tidak sempurna tentunya kita membuat banyak kesalahan,
tetapi apabila Allah Bapa mampu mengampuni kita dan mau menerima kita kembali bahkan
sampai Ia mengorbankan Putra-Nya yang tunggal, mengapa kita tidak mencoba untuk melakukan
hal yang serupa? Tidak peduli apakah orang yang kita ampuni tadi akan tetap mengulang
kesalahan yang sama atau tidak, tetapi paling tidak kita secara perlahan belajar untuk menjadi
pribadi yang lebih baik. Dan percayalah Tuhan juga akan semakin dekat dengan Anda dan
mencurahkan berkat-Nya untuk Anda.
Terkadang, hanya untuk kepopuleran belaka, kita lebih memilih untuk melakukan hal yang salah.
Contoh konkretnya adalah lebih memilih untuk mencuri uang orang tua untuk membeli barang –
barang high end yang sebenarnya juga tidak dibutuhkan. Tetapi, demi tuntutan popularitas Anda
tetap melakukannya tanpa memperhatikan keadaan keluarga Anda. Contoh lainnya adalah ketika
ada dua teman Anda yang bertengkar dan Anda lebih memilih diam dan pergi karena takut
apabila pihak yang lebih dominan menjadi membenci Anda dikemudian hari. Lakukanlah hal
yang benar karena Tuhan dan bukan manusia.
52
The document explains that sin has caused a separation between humanity and God, disrupting the beautiful relationship intended from creation. This separation is overcome through Jesus Christ's sacrifice, which bridges the gap caused by sin, allowing for restored fellowship with God if individuals choose to accept and believe in this redemption .
Faith is central to the process of salvation as it represents the means through which individuals accept the grace offered by God through Jesus Christ. The document notes that salvation is not attained through good works but through faith, underscoring that belief in Christ's redemptive work on the cross is necessary for salvation . This highlights the theological emphasis on faith as the crucial component in the salvation experience in Christian theology.
Viewing salvation as God's initiative implies that it is not something individuals can earn or achieve through their own efforts or merits; it is a divine gift made possible solely through Jesus Christ. This perspective shifts the focus away from human ability and toward a reliance on God's grace and sovereignty . It engenders a sense of humility and gratitude among believers, emphasizing the dependability on Christ's righteousness rather than personal accomplishments.
Service is not equated with salvation because one cannot lead others to Christ without first knowing Christ themselves. The document emphasizes that acts of service or religious duties do not automatically result in salvation; true salvation requires a personal relationship with Christ and assurance of one's own salvation . This understanding corrects the mistake of assuming that external deeds can replace the need for personal faith and redemption.
The Holy Spirit plays a critical role in the process of salvation by convicting the world of sin and leading people to understand their disbelief in Christ as sinful. This conviction is necessary for individuals to recognize their need for salvation through Jesus . Additionally, it suggests that through the influence of the Holy Spirit, believers are guided towards redemption and developing a closer relationship with God.
The document highlights several misconceptions: service is not equivalent to salvation, neither is a mere lifestyle change, self-declared maturity, or correct thinking. Furthermore, self-denial, sacrifices, or good deeds alone do not equate to salvation . These misconceptions can dilute the core Christian teaching that salvation is through faith in Christ alone, potentially leading individuals away from a true understanding of grace and redemption.
The document argues against the belief that good deeds alone secure salvation. It presents the view that human righteousness is insufficient to attain salvation without the intervention of Christ. Salvation is granted by grace through faith in Jesus Christ, not by personal merit or works . This perspective underscores the foundational Christian doctrine that emphasizes faith over works in the context of salvation.
'Spiritual breathing' is a practice mentioned to help maintain one's spiritual life by regularly 'exhaling' — confessing sins — and 'inhaling' — surrendering one's life to Jesus and asking God to fill them with His Spirit . This continuous cycle emphasizes the active role a believer takes in seeking forgiveness and renewing their devotion to God, thereby aiding in spiritual renewal and growth.
Salvation is identified as a fundamental need required by every individual, as described in the sources. It is more than a pathway to heaven; it brings about transformation such as joy, peace, and abundant blessings . The doctrine of salvation, also known as Soteriology, involves redemption through Christ's death and resurrection, providing hope for eternal life and entry into glory .
Maintaining fellowship with God significantly impacts a believer's life by providing strength and guidance through life's challenges. The restored relationship with God, thanks to Christ's redemptive work, allows believers to face problems confidently, knowing they have divine support. Despite the presence of difficulties, those in close fellowship with God experience peace and victory, with their needs met abundantly by divine provision . This aligns with the theological understanding that intimacy with God is vital for a flourishing spiritual life.