PROPOSAL
EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM ONLINE
SINGLE SUBMISSION DALAM PELAYANAN IZIN
MENDIRIKAN USAHA DI KOTA MAKASSAR
BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 5 TAHUN 2021
Disusun dan diajukan oleh:
ST NURUL UTAMI S
B021191026
PROGRAM STUDI HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2023
i
HALAMAN JUDUL
EFEKTIVITAS PENERAPAN SISTEM ONLINE SINGLE SUBMISSION
DALAM PELAYANAN IZIN MENDIRIKAN USAHA BERDASARKAN
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 5 TAHUN 2021
OLEH :
ST NURUL UTAMI S
B021191026
PROPOSAL
Sebagai Tugas Akhir Dalam Rangka Penyelesaian Studi Sarjana Pada
Program Studi Hukum Administrasi Negara
PROGRAM STUDI HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2023
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Nama : St Nurul Utami S
Nomor Induk Mahasiswa : B021191026
Program Studi : Hukum Administrasi Negara
Judul : Efektivitas Penerapan Sistem Online
Single Submission Dalam Pelayanan Izin
Mendirikan Usaha Berdasarkan
Peraturan Pemerintah No 5 Tahun 2021
Dengan ini menerangkan bahwa dari:
Telah diperiksa dan disetujui dalam untuk ujian proposal di
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Makassar, 2023
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Romi Librayanto. S.H., M.H. Arini Nur Annisa, S.H., M.H.
NIP. 197810172005011001 NIP. 199206142019032036
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL………………………………...…………………………….i
PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………………..…………..ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..iii
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah...................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................6
C. Tujuan Penelitian...............................................................................7
D. Kegunaan Penelitian.........................................................................7
E. Keaslian Penelitian............................................................................8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................16
A. Konsep Efektivitas...........................................................................16
1. Definisi Efektivitas........................................................................16
2. Ukuran Efektivitas........................................................................18
B. Sistem Online Single Submission...................................................21
1. Sejarah Singkat Sistem Online Single Submission.....................21
2. Prinsip Dasar Sistem Online Single Submission.........................23
3. Mekanisme Sistem Online Single Submission............................24
4. Manfaat Sistem Online Single Submission Bagi Pengusaha......28
5. Perkembangan Sistem Online Single Submission......................29
6. Perbedaan OSS RBA dan OSS 1.1............................................34
C. Konsep Pengawasan......................................................................38
iii
1. Definisi Pengawasan...................................................................38
2. Konsep Pengawasan...................................................................39
3. Faktor Dasar Pengawasan..........................................................41
4. Unsur Penting Pengawasan Dalam Pelaksanaan Online Single
Submission..........................................................................................41
D. Konsep Pelayanan..........................................................................43
1. Definisi Pelayanan.......................................................................43
2. Pelayanan Publik.........................................................................44
E. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021..................................45
F. Perizinan Berusaha Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5
Tahun 2021.............................................................................................46
BAB III METODE PENELITIAN.................................................................49
A. Jenis Penelitian...............................................................................49
B. Lokasi Penelitian.............................................................................49
C. Populasi Dan Sampel......................................................................49
D. Jenis Dan Sumber Data..................................................................50
E. Teknik Pengumpulan Data..............................................................51
F. Analisis Data...................................................................................53
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................54
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman membawa perubahan dalam beragam
aspek salah satunya pelayanan publik. Pelayanan publik menurut
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
dimaknai sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang, jasa atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
Penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik yang ada saat ini
mengalami banyak inovasi sebagai wujud perkembangan teknologi.
Salah satunya yaitu pelayanan publik dalam perizinan mendirikan
usaha.
Perizinan merupakan pemberian legalitas kepada seseorang
atau pelaku usaha maupun kegiatan tertentu baik dalam bentuk izin
maupun tanda daftar usaha.1 Dalam kegiatan usaha, perizinan
menjadi suatu hal yang sangat krusial. Permasalahannya untuk
mendapatkan suatu izin tersebut diperlukan proses yang panjang dan
berbelit-belit. Belum lagi jika terjadi kendala di lapangan yang tentunya
dapat menghambat pelaku usaha dalam menjalankan usahanya.
Guna mempercepat perizinan tersebut, pemerintah menghadirkan
1
HR Ridwan, 2006, Hukum Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, hlm.198.
suatu inovasi Sistem Online Single Submission atau yang dikenal
dengan OSS pada tahun 2017. Sistem ini kemudian
diimplementasikan secara resmi pada tahun 2018 yang ditandai
dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018
tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara
Elektronik.2
Sistem Online Single Submission diartikan sebagai sistem
perizinan berbasis teknologi informasi yang mengintegrasikan
perizinan di daerah dan pusat dalam rangka mempermudah kegiatan
usaha di dalam negeri.3 Melalui sistem OSS nantinya lembaga OSS
atas nama menteri, gubernur, atau bupati/wali kota memberikan
perizinan berusaha kepada pelaku usaha melalui sistem elektronik
yang mengintegrasikan layanan perizinan secara elektronik. Sistem ini
pada dasarnya dibuat untuk mempersingkat waktu dan meningkatkan
penanaman modal berusaha dengan menerapkan prosedur yang
mudah dilakukan sendiri oleh pelaku usaha tersebut. 4 Dengan
peningkatan sistem OSS ini, diharapkan dapat memberikan
kemudahan bagi pelaku usaha dan menciptakan pelayanan publik
yang efisien.
2
Uchaimid Biridlo’I Robby, Wiwin Tarwini, ‘’Inovasi Pelayanan Perizinan Melalui
Online Single Submission (Oss) Studi Pada Izin Usaha Di Dinas Penanaman Modal
Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Dpmptsp) Kabupaten Bekasi’’, Administratio:
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan , Universitas Lampung, Vol. 10,
Nomor 2 Tahun 2019, hlm. 51-57.
3
Siti Khotijah, 2020, Buku Ajar Hukum Perizinan Online Single Submission (OSS),
CV. MFA, Yogyakarta, hlm. 56.
4
Adam Jose Sihombing, Kadek Agus Sudiarawan, ‘’Efektivitas Online Single
Submission Risk Based Approach Dalam Perizinan Berusaha di Kota Denpasar’’,
Jurnal Kertha Negara, Vol. 8, Nomor 11 Tahun 2020, hlm. 73-83.
2
Guna mewujudkan pelayanan publik yang lebih efektif dan
efisien, Pemerintah kemudian membuat suatu sistem kebijakan yakni
pengalihan perizinan berusaha menjadi perizinan berusaha berbasis
risiko. Hal ini ditandai dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah
Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis
Risiko. Perizinan berusaha berbasis risiko merupakan perizinan
berusaha berdasarkan tingkat risiko kegiatan usaha. 5 Dalam kebijakan
ini sistem OSS menjadi sistem yang digunakan dalam
penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko. Hal ini
sebagaimana Pasal 167 ayat (1) PP Nomor 5 Tahun 2021 yang
menyatakan bahwa pelaksanaan perizinan berusaha berbasis risiko
dilakukan secara elektronik dan terintegrasi melalui sistem OSS.
Penerapan sistem OSS dalam perizinan berusaha berbasis
risiko dijelaskan secara eksplisit pada BAB IV Peraturan Pemerintah
Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis
Risiko. Sistem OSS tersebut terdiri dari subsistem pelayanan
informasi, subsistem perizinan berusaha, dan subsistem pengawasan.
Adapun masing-masing peranannya yaitu subsistem pelayanan
informasi menyediakan informasi dalam memperoleh perizinan
berusaha berbasis risiko serta informasi lain terkait dengan
penyelenggaraan perizinan berbasis risiko, subsistem perizinan
berusaha mencakup tahapan proses penerbitan perizinan berusaha,
5
OSS Indonesia, 2019, Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko
Melalui Sistem Online Single Submission Merupakan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja, Kementrian Investasi/BKPM, hlm. 3.
3
dan subsistem pengawasan yang menjadi sarana untuk
melaksanakan pengawasan perizinan berusaha berbasis risiko.
Penerapan sistem OSS pada faktanya masih menghadirkan
banyak persoalan salah satunya pada mekanisme pengawasan.
Berdasarkan Pasal 1 angka 17 PP Nomor 5 Tahun 2021, tindakan
pengawasan adalah upaya yang dilakukan untuk memastikan
pelaksanaan kegiatan usaha sesuai dengan standar pelaksanaan
kegiatan usaha dan kewajiban yang harus dilakukan pelaku usaha.
Pengawasan juga menjadi salah satu bagian krusial dari efektif
tidaknya suatu sistem OSS yang diterapkan.6 Pada dasarnya
pengawasan ini bertujuan untuk mematuhi kepatuhan pemenuhan
persyaratan dan kewajiban oleh pelaku usaha, mengumpulkan data
bukti dan atau laporan terjadinya bahaya terhadap keselamatan
kesehatan lingkungan hidup dan atau bahaya lainnya yang dapat
ditimbulkan dari pelaksanaan kegiatan usaha, dan rujukan pembinaan
atau pengenaan sanksi administratif terhadap pelanggaran perizinan
berusaha. Bagi Pelaku Usaha mikro dan Pelaku Usaha kecil,
pengawasan dilakukan melalui pembinaan, pendampingan, dan
penyuluhan terkait kegiatan usaha. Pasca pengawasan tersebut,
Pemerintah akan memberikan penilaian melalui sistem OSS meliputi
beberapa hal sebagaimana ketentuan Pasal 255 ayat (5) PP 2021.
6
Sri Rahayu Prihatiningsih, 2021, Pengawasan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko
Secara Terintegrasi Dan Terkordinasi, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta,
Yogyakarta, hlm. 21.
4
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(DPMPTSP) Kota Makassar menjadi pelaksana kebijakan sistem OSS
di kota Makassar. Dalam hal ini DPMPTSP Kota Makassar berperan
dalam memberikan tidaknya perizinan kepada pemohon yang ingin
menjalankan usaha. DPMPTSP Kota Makassar juga berperan dalam
melakukan pengawasan bagi pelaku usaha sebagaimana mekanisme
sistem OSS. Dilansir dari website PPID, café E***** C*** ditegur oleh
satpol PP sebab suara music yang bisik dan mengganggu
masyarakat. Berkaitan dengan hal ini Kepala Satpol PP Kota Makssar
menyampaikan akan ditinjau lebih lanjut izin dari pihak PTSP dan
pengawasan dari pihak yang bersangkutan. 7 Selain itu dilansir dari
website Suara Buruh juga terdapat salah satu Cafe di Kota Makassar
yang diduga punya pelanggaran.8 Berkaitan dengan hal ini ketua
DPMPTSP Kota Makassar angkat bicara dan menyatakan bahwa
untuk mengurus izin usaha masyarakat melalui aplikasi berbasis
online yang bernama OSS. Apabila terdapat café yang melakukan
pelanggaran, kecamatan dan kelurahan sebagai pengawas di
lapangan untuk melakukan pemeriksaan izin usaha, ada tidak izin,
atau sudah sesuai aturan aturan perbentukannya wajib melaporkan ke
PTSP nanti PTSP yang melaporkan di pusat untuk di cabut izin
usahanya.9
7
[Link] diakses pada 16 April 2023.
8
[Link]
kota-makassar-angkat-bicara-terkait-cafe-nucifera-yang-diduga-punya-pelanggaran,
diakses pada 16 April 2023.
9
[Link]
kota-makassar-angkat-bicara-terkait-cafe-nucifera-yang-diduga-punya-pelanggaran
5
Faktanya, berdasarkan pra penelitian yang dilakukan penulis di
DPMPTSP Kota Makassar, masih ditemukan permasalahan dan
kendala dalam pengawasan bagi pelaku usaha khususnya cafe.
Pertama, terdapat pelaku usaha yang tidak menetap di Kota
Makassar. Hal ini menjadikan pihak DPMPTSP yang akan melakukan
pengawasan baik rutin maupun insidental kepada pelaku usaha
tersebut menjadi terkendala. Kedua, kurangnya partisipasi masyarakat
dalam aduan terhadap adanya pelanggaran yang dilakukan oleh
pelaku usaha. Hal ini menjadikan pengawasan insidental yang
dilakukan DPMPTSP Kota Makassar kepada pelaku usaha kurang
maksimal. Padahal dalam pengawasan insidental dibutuhkan peran
aktif masyarakat sekitar tempat kegiatan usaha dilakukan. Bahkan
dalam pengawasan terhadap pelaksanaan perizinan usaha berbasis
risiko sangat bergantung pada peran masyarakat setempat. 10 Ketiga,
regulasi yang ada belum semuanya mengatur terkait pengawasan
sistem OSS bagi pelaku usaha. Bahkan belum terdapat regulasi
khusus dari daerah Kota Makassar. Dalam hal ini tidak dipungkiri
bahwa belum adanya regulasi khusus dari Kota Makassar menjadikan
pengawasan bagi pelaku usaha tetap berjalan dengan berlandaskan
Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021, namun pengawasan
yang dilakukan dirasa kurang maksimal. Berbagai permasalahan yang
terjadi di lapangan tersebut dapat mengakibatkan kegiatan pelaku
usaha belum dapat dipastikan sesuai dengan standar pelaksanaan.
10
[Link] diakses pada 17 April 2023.
6
Selain itu kendala pada mekanisme pengawasan ini juga berdampak
pada pembaruan profil pelaku usaha yang tentunya dapat merugikan
pelaku usaha.
Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti ingin mengkaji
lebih lanjut terkait penerapan sistem OSS dalam pelayanan izin
mendirikan usaha di Kota Makassar baik dari segi mekanisme,
pengawasan, faktor penghambat, maupun solusi sehingga nantinya
diketahui efektif tidaknya penerapan sistem OSS tersebut
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021. Oleh sebab
itu peneliti mengambil judul penelitian ‘’Efektifitas Sistem Online Single
Submission Dalam Pelayanan Izin Mendirikan Usaha Di Kota
Makassar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021’’.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan
masalah dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
1. Bagaimana efektivitas penerapan sistem online single
submission dalam pelayanan izin mendirikan usaha di Kota
Makassar berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun
2021?
2. Apa saja faktor penghambat dalam penerapan sistem online
single submission dalam pelayanan izin mendirikan usaha di
Kota Makassar?
7
3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini ialah sebagai berikut:
1. Untuk menjelaskan efektivitas penerapan sistem online single
submission dalam pelayanan izin mendirikan usaha di Kota
Makassar berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun
2021.
2. Untuk menganalisis faktor penghambat dalam penerapan
sistem online single submission dalam pelayanan izin
mendirikan usaha di Kota Makassar.
4. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna baik secara teoritis
maupun secara praktis sebagai berikut:
1. Secara Teoritis
a. Menjadi masukan dan bahan rujukan di bidang ilmu Hukum
Administrasi Negara khususnya terkait penerapan sistem
online single submission dalam pelayanan izin mendirikan
usaha berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun
2021.
b. Memberikan kontribusi pemikiran terhadap pengetahuan
dan wawasan keilmuan khususnya bagi Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin Makassar.
2. Secara Praktis
8
a. Memberikan informasi bagi pelaku usaha dan masyarakat
Kota Makassar terkait penerapan sistem online single
submission dalam pelayanan izin mendirikan usaha
sehingga dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat
dalam mengakses pelayanan perizinan.
b. Menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi Dinas
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
terkait permasalahan yang ada dalam penerapan sistem
online single submission guna mengetahui efektif tidaknya
sistem tersebut di masyarakat.
5. Keaslian Penelitian
Penelitian hukum dengan judul ‘’Efektivitas Sistem Online
Single Submission Dalam Pelayanan Izin Mendirikan Usaha Di Kota
Makassar Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021’’
adalah asli dan murni dilaksanakan oleh peneliti sendiri berdasarkan
buku, jurnal, peraturan perundang-undangan, dan fakta yang terjadi di
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota
Makassar. Berdasarkan pencarian peneliti terhadap penulisan ilmiah,
belum ditemukan pembahasan yang sama persis dengan subjek dan
obyek yang dikaji oleh peneliti. Meskipun demikian terdapat beberapa
penelitian ilmiah serupa dengan hasil sebagai berikut:
1. Yohana Vin Angelina, Skripsi Universitas Hasanuddin
Makassar, Program Studi Hukum Administrasi Negara,
9
Fakultas Hukum, 2021, dengan judul ‘’Implementasi Asas
Kecepatan, Kemudahan, Dan Keterjangkauan Pada
Pelaksanaan Pelayanan Perizinan Berusaha Secara Elektronik
(Online Single Submission). Penelitian Yohana Vin Angelina
membahas terkait bagaimana implementasi asas kecepatan
kemudahan dan keterjangkauan pada pelaksanaan perizinan
berusaha secara elektonik (online single submission) di PTSP
Kota Makassar dan bagaimana efektivitas pelayanan perizinan
berusaha secara elektronik melalui sistem online single
submission sebagai rangka meningkatkan pelayanan di PTSP
Kota Makassar. Hasil penelitian yang dilakukan menyatakan
bahwa asas kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan pada
pelayanan perizinan berusaha secara elektronik (Online Single
Submission) telah berjalan cukup optimal meski tidak ideal
untuk mencapai asas tersebut, beberapa hal masih perlu
pengembangan seperti pemberian informasi dan sosialisasi.
Sistem OSS di Kota Makassar cukup efektif dibuktikan dengan
tiga indikator yaitu adanya tujuan dan sasaran dalam
penerapan OSS, kepuasan masyarakat dan sarana prasarana
pelayanan. Dengan ini peneliti memberikan saran yaitu PTSP
Kota Makassar meningkatkan kinerja pelayanan kepada
10
masyarakat dan PTSP Kota Makassar lebih meningkatkan
unsur pelayanan yang belum optimal.11
2. Faridah Juliana Sari Naipos-Pos, Skripsi Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara, Program Studi Ilmu
Administrasi Publik, 2021, dengan judul ‘’Efektivitas Penerapan
Sistem Online Single Submission (OSS) Dalam Rangka
Meningkatkan Pelayanan Perizinan Usaha Pariwisata di Kota
Medan’’. Penelitian Faridah Juliana Sari Naipos-Pos membahas
terkait bagaimana efektivitas penerapan sistem online single
submission (OSS) dalam rangka meningkatkan pelayanan
perizinan usaha pariwisata di Kota Medan. Hasil penelitian
yang dilakukan menyatakan bahwa penerapan sistem Online
Single Submission (OSS) kepada para pemilik usaha pariwisata
yang akan mendaftarkan usahanya di Dinas Penanaman Modal
Dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Medan
sudah berjalan dengan efektif namun masih terdapat kendala
dalam pelaksanaannya. Hal ini didasarkan pada kategorisasi
diantaranya adanya pemahaman penerapan OSS di kota
Medan yang sudah tercapai namun belum terlaksana dengan
maksimal, sasaran atau target utama dalam penerapan sistem
OSS di Kota Medan yaitu memberikan kemudahan izin usaha
11
Yohana Vin Angelina, 2021, ‘’Implementasi Asas Kecepatan, Kemudahan, dan
Keterjangkauan Pada Pelaksanaan Pelayanan Perizinan Berusaha Secara
Elektronik (Online Single Submission) di PTSP Kota Makassar’’, Skripsi, Fakultas
Hukum Universitas Hasanuddin Makassar, hlm. 93.
11
bagi setiap pelaku usaha terkhusus sektor pariwisata sudah
terlaksana dengan baik, tujuan dari penerapan sistem OSS
sudah tercapai dan terlaksana dengan baik meskipun jumlah
pelaku usaha pariwisata yang mengurus izin usaha mengalami
fase naik turun karena kondisi covid-19 tetapi hadirnya OSS
juga menjdi problem solver dari permasalahan yang
sebelumnya pernah terjadi, hadirnya OSS menghasillkan
perubahan positif yang signifikan terkait penerbitan izin usaha
pariwisata hanya saja masih terdapat kendala dalam
penerapan sistem OSS ini.12
3. Penelitian Inez Kusuma Ningrum Agustin, Skripsi Universitas
Sriwijaya, Program Studi Ilmu Administrasi Publik, 2022,
dengan judul ‘’Efektivitas Pelayanan Sistem Online Single
Submission (OSS) Dalam Perizinan Berusaha Di Dinas
Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota
Prabumulih’’. Penelitian Ines Kusuma Ningrum Agustin
menjelaskan terkait Apakah sudah efektif pelayanan sistem
Online Single Submission (OSS) dalam perizinan berusaha di
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Kota Prabumulih dan faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi efektivitas pelayanan sistem Online Single
12
Faridah Juliana Sari Naipos-Pos, 2021, ‘’Efektivitas Penerapan Sistem Online
Single Submission (OSS) Dalam Rangka Meningkatkan Pelayanan Perizinan Usaha
Pariwisata di Kota Medan’’, Skripsi, Sarjana Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, hlm. 73.
12
Submission (OSS) dalam perizinan berusaha di Dinas
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota
Prabumulih. Hasil penelitian menyatakan bahwa pelayanan
sistem Online Single Submission dalam perizinan berusaha di
DPMPTSP Kota Prabumulih sudah efektif namun belum
maksimal karena masih terdapat beberapa indikator yang
belum terlaksana dengan baik. Adapun indikator yang belum
terlaksana dengan baik adalah realisasi target jumlah
penerbitan izin usaha yang terus menurun disebabkan oleh
Pandemi Covid-19, server Online Single Submission yang
down, serta terdapat fitur-fitur pada sistem Online Single
Submission yang masih sulit dimengerti masyarakat. Selain itu
indikator yang sudah mendukung penerapan pelayanan Online
Single Submission adalah tujuan organisasi yang jelas, sumber
daya manusia yang memenuhi, saran dan prasarana yang
memadai, sudah tersedia layanan pengaduan masyarakat,
prosedur pelayanan yang mudah dan efisien, sosialisasi dan
pelatihan yang sudah terlaksana, serta adaptasi yang berjalan
dengan baik membuat pelayanan dalam sistem Online Single
Submission efektif. Beberapa faktor yang mempengaruhi
efektivitas tersebut antara lain karakteristik organisasi,
13
karakteristik lingkungan, karakteristik pekerjaan, dan
karakteristik manajemen.13
13
Inez Kusuma Ningrum Agustin, 2022, ‘’Efektivitas Pelayanan Sistem Online Single
Submission (OSS) Dalam Perizinan Berusaha Di Dinas Penanaman Modal Dan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Prabumulih’’, Skripsi, Sarjana Ilmu Administrasi
Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya, Palembang, hlm.
99.
14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Efektivitas Hukum
6. Definisi Efektivitas Hukum
Efektivitas memiliki kata dasar efektif. Kata efektif berasal
dari bahasa Inggris effective yang memiliki makna berhasil, ditaati,
dan mengesankan. Secara istilah efektif dimaknai sebagai
sesuatu yang terlaksana dengan baik atau mengesankan. Kata
efektivitas yang lahir dari kata efektif merupakan keadaan adanya
hubungan antara output atau tujuan yang dikatakan sebagai
ukuran dalam suatu kebijakan dan prosedur organisasi. Jadi
konsep efektivitas merupakan suatu tingkat keberhasilan atas
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Efektivitas juga berhubungan dengan derajat keberhasilan
suatu operasi pada sektor publik sehingga suatu kegiatan
dikatakan efektif jika kegiatan tersebut mempunyai pengaruh
besar terhadap kemampuan menyediakan pelayanan masyarakat
yang merupakan sasaran yang telah ditentukan. Efektivitas
merupakan suatu konsep yang sant penting karena mampu
memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi
dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Beberapa ahli kemudian
menjabarkan apa yang dimaksud dengan efektivitas diantaranya
sebagai berikut:
15
a. Mardiasmo mendefinisikan efektivitas sebagai ukuran
berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu organisasi
mencapai tujuannya. Apabila suatu organisasi mencapai
tujuan maka organisasi tersebut telah berjalan dengan
efektif.
b. Kurniawan menjelaskan bahwa efektivitas merupakan suatu
konsep mengenai gambaran suatu keberhasilan kebijakan
yang sangat penting, suatu organisasi dinyatakan berhasil
jika dalam pelaksanaan kebijakan mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya.14
c. Sondang P Siagian menjelaskan bahwa efektivitas
merupakan suatu pencapaian pemanfaatan sarana dan
prasarana dalam suatu kegiatan sasaran pelaksanaan
dengan menggunakan sumber-sumber data tertentu. 15
d. Campbell mengartikan bahwa efektivitas ebagai kemampuan
operasional dalam melaksanakan program-program kerja
yang sesuai dengan apa yang telah di tentukan sebelumnya
oleh sebab itu efektivitas juga memberikan artian bahwa
kemampuan organisasi pun menjadi penilaian capaian
sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.16
14
Agung Kurniawan, 2005, Transformasi Pelayanan Publik, Pembaruan,
Yogyakarta, hlm. 109.
15
Sondang P. Siagan, 2002, Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Mandar Maju,
Bandung, hlm. 77.
16
Campbell J.P, 1990, Productivity in Organization, Joey Bass, San Fransisco, hlm.
312.
16
e. Effendy mendefinisikan efektivitas sebagai komunikasi yang
prosesnya mencapai tujuan yang direncanakan sesuai
dengan biaya yang dianggarkan, waktu yang ditetapkan dan
jumlah personil yang ditentukan.
Pada dasarnya efektivitas merupakan tingkat keberhasilan
dalam pencapaian tujuan. Efektivitas adalah pengukuran dalam
arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya. Dalam sosiologi hukum, hukum memiliki fungsi
sebagai a tool of social control yaitu upaya untuk mewujudkan
kondisi seimbang di dalam masyarakat, yang bertujuan
terciptanya suatu keadaan yang serasi antara stabilitas dan
perubahan di dalam masyarakat. Selain itu hukum juga memiliki
fungsi lain yaitu sebagai a tool of social engineering yang
maksudnya adalah sebagai sarana pembaharuan dalam
masyarakat. Hukum dapat berperan dalam mengubah pola
pemikiran masyarakat dari pola pemikiran yang tradisional ke
dalam pola pemikiran yang rasional atau modern. Efektivitas
hukum merupakan proses yang bertujuan agar supaya hukum
berlaku efektif.
Menurut Hans Kelsen, Jika Berbicara tentang efektifitas
hukum, dibicarakan pula tentang Validitas hukum. Validitas hukum
berarti bahwa norma-norma hukum itu mengikat, bahwa orang
harus berbuat sesuai dengan yang diharuskan oleh norma-norma
17
hukum bahwa orang harus mematuhi dan menerapkan norma-
norma hukum. Efektifitas hukum berarti bahwa orang benar-benar
berbuat sesuai dengan norma-norma hukum sebagaimana
mereka harus berbuat, bahwa norma-norma itu benar-benar
diterapkan dan dipatuhi.17
7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Hukum
Lawrence M. Friedman mengemukakan bahwa efektif dan
berhasil tidaknya penegakan hukum tergantung tiga unsur sistem
hukum, yakni struktur hukum (struktur of law), substansi hukum
(substance of the law) dan budaya hukum (legal culture). Struktur
hukum menyangkut aparat penegak hukum, substansi hukum
meliputi perangkat perundang-undangan dan budaya hukum
merupakan hukum yang hidup (living law) yang dianut dalam
suatu masyarakat.18
Tentang struktur hukum Friedman menjelaskan:
“To begin with, the legal sytem has the structure of a legal
system consist of elements of this kind: the number and size of
courts; their jurisdiction …Strukture also means how the
legislature is organized …what procedures the police department
follow, and so on. Strukture, in way, is a kind of crosss section of
17
Hans Kelsen, 2006, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Bandung, Penerbit
Nusa Media, hlm. 39.
18
Arini Nur Annisa, dkk, ‘’Government Supervision Of The Rights Fulfillment Of
HOused Workers In The Transition Period’’, Awang Long Law Review, Vol. 5, No. 1
November 2022, 266.
18
the legal system…a kind of still photograph, with freezes the
action.”
Struktur dari sistem hukum terdiri atas unsur berikut ini, jumlah
dan ukuran pengadilan, yurisdiksinnya (termasuk jenis kasus yang
berwenang mereka periksa), dan tata cara naik banding dari
pengadilan ke pengadilan lainnya. Struktur juga berarti bagaimana
badan legislatife ditata, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan
oleh presiden, prosedur ada yang diikuti oleh kepolisian dan
sebagainya. Jadi struktur (legal struktur) terdiri dari lembaga
hukum yang ada dimaksudkan untuk menjalankan perangkat
hukum yang ada. Di Indonesia misalnya jika kita berbicara tentang
struktur sistem hukum Indonesia, maka termasuk di dalamnya
struktur institusi-institusi penegakan hukum seperti kepolisian,
kejaksaan dan pengadilan.19
Substansi hukum menurut Friedman adalah:
“Another aspect of the legal system is its substance. By this
is meant the actual rules, norm, and behavioral patterns of people
inside the system …the stress here is on living law, not just rules
in law books”.
Aspek lain dari sistem hukum adalah substansinya. Yang
dimaksud dengan substansinya adalah aturan, norma, dan pola
perilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Jadi
substansi hukum menyangkut peraturan perundang-undangan
19
Lawrence M Friedman, [Link], Hlm. 7.
19
yang berlaku yang memiliki kekuatan yang mengikat dan menjadi
pedoman bagi aparat penegak hukum.
Sedangkan mengenai budaya hukum, Friedman
berpendapat:20
“The third component of legal system, of legal culture. By
this we mean people’s attitudes toward law and legal system their
belief …in other word, is the climinate of social thought and social
force wicch determines how law is used, avoided, or abused”.
Kultur hukum menyangkut budaya hukum yang merupakan sikap
manusia (termasuk budaya hukum aparat penegak hukumnya)
terhadap hukum dan sistem hukum. Sebaik apapun penataan
struktur hukum untuk menjalankan aturan hukum yang ditetapkan
dan sebaik apapun kualitas substansi hukum yang dibuat tanpa
didukung budaya hukum oleh orang-orang yang terlibat dalam
sistem dan masyarakat maka penegakan hukum tidak akan
berjalan secara efektif.21
B. Perizinan
1. Definisi Perizinan
Di dalam kamus istilah hukum, izin (vergunning) dijelaskan
sebagai perkenaan/izin dari pemerintah yang disyaratkan untuk
perbuatan yang pada umumnya memerlukan pengawasan
khusus, tetapi yang pada umumnya tidaklah dianggap sebagai
20
Ibid.
21
Ibid.
20
hal-hal yang sama sekali tidak dikehendak. Beberapa ahli,
mengartikan perizinan dengan sudut pandang yang berbeda-beda
anata satu denga lain. Adapun pengertian izin menurut para ahli
adalah sebegai berikut:
a. E. Utrecht mengartikan vergunning sebagai bila pembuat
peraturan umumnya tidak melarang suatu perbuatan, tetapi
masih juga memeperkenankannya asal saja diadakan secara
yang ditentukan untuk masing-masing hal konkret, keputsan
administrasi negara yang memeperkenankan perbuatan
tersebut bersifat suatu izin (vergunning)22
b. N.M. Spelt dan J.B.J.M. ten Berge, izin merupakan suatu
persetujuan dan penguasa berdasarkan undang-undang
atau peraturan pemerintah untuk dalam keadaan tertentu
menyimpang dari ketentuan larangan perundangundangan
(izin dalam arti sempit)23
Adapun pengertian perizinan adalah salah satu bentuk
pelaksanaan fungsi pengaturan dan bersifat pengendalian yang
dimiliki oleh pemerintah terhadap kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh masyarakat. Perizinan dapat berbentuk
pendaftaran, rekomendasi, sertifikasi, penentuan kuota dan izin
untuk melakukan sesuatu usaha yang biasanya harus dimiliki atau
22
E. Utrecht, Pengantar dalam Hukum Indonesia (Jakarta: Ichtiar 1957), Hlm 187
dalam Andrian Sutedi. 2010. Hukum Perizinan Dalam Sektor Pelayanan Publik,
Jakarta, Sinar Grafika, hlm. 167.
23
Helmi, 2012, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup. Jakarta, Sinar Grafika, hlm. 77.
21
diperoleh suatu organisasi perusahaan atau seseorang sebelum
yang bersangkutan dapat melakukan suatu kegiatan atau
tindakan.24
2. Jenis-Jenis Perizinan
Menurut H.R Ridwan, bahwa izin tersebut dibaginya
kedalam tiga bagian jenis perizinan (vergunning), yaitu :25
a. Lisensi merupakan izin yang sebenarnya (deiegenlyke).
Dasar pemikiran mengadakan penetapan yang merupakan
lisensi ini adalah bahwa hal-hal yang diliputi oleh lisensi
dibawah pengawasan pemerintah, untuk mengadakan
penertiban.
b. Dispensasi adalah suatu pengecualian dari ketentuan
hukum dalam hal mana pembuat undang-undang
sebenarnya dalam prinsipnya tidak berniat mengadakan
pengecualian.
c. Konsesi, disini pemerintah menginginkan sendiri klien
menganjurkan adanya usaha-usaha industri gula atau
pupuk dengan memberikan fasilitas-fasilitas kewenangan
kewajiban.
Adapun bentuk izin adalah :
a. Secara tertulis
24
H. R,Ridwan, 2006, Hukum Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, hlm.198.
25
Ibid,hlm. 200.
22
Bentuk izin secara tertulis ialah suatu bentuk perizinan
yang diberikan oleh pemerintah oleh suatu instansi yang
berwenang sesuai izin yang dimintakan, serta penuangan
pemberian izin diberikan dalam bentuk tertulis dan
ditandatangani oleh pihak yang berwenang di instansi
tersebut.
b. Dengan lisan
Bentuk izin secara lisan dapat ditemukan dalam hal
pengeluaran pendapat dimuka umum. Bentuk izin dengan
lisan pada dasarnya hanya dilakukan oleh suatu organisasi
untuk melakukan aktivitasnya serta melaporkan
aktivitasnya tersebut kepada instansi yang berwenang.
Bentuk izin dengan lisan ini hanya berfungsi sebagai suatu
bentuk pelaporan semata.
C. Sistem Online Single Submission
1. Definisi Sistem Online Single Submission
Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau
Online Single Submission (OSS) adalah Perizinan Berusaha yang
diterbitkan oleh Lembaga OSS untuk dan atas nama menteri,
pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/wali kota kepada Pelaku
Usaha melalui sistem elektronik yang terintegrasi. Online Single
Submission (OSS) merupakan sebuah sistem perizinan yang
memanfaatkan teknologi informasi yang mengintegrasi antara
23
perizinan di tingkat daerah dan di tingkat pusat. 26 OSS digunakan
dalam pengurusan izin berusaha oleh pelaku usaha dengan
karakteristik sebagai berikut: Berbentuk badan usaha maupun
perorangan; Usaha mikro, kecil, menengah maupun besar; Usaha
perorangan/badan usaha baik yang baru maupun yang sudah
berdiri sebelum operasionalisasi OSS. Usaha dengan modal yang
seluruhnya berasal dari dalam negeri, maupun terdapat komposisi
modal asing.
2. Sejarah Singkat Sistem Online Single Submission
Pemerintah yang dalam rangka percepatan dan
peningkatan penanaman modal dan berusaha, perizinan usaha
yang diterbitkan oleh Kementerian/lembaga dan Pemerintahan
Daerah untuk memulai, melaksanakan, dan mengembangkan
usaha dan/atau kegiatan perlu didukung dengan kebijakan yang
mumpuni sehingga hambatan yang terjadi dalam bidang
pelayanan tidak begitu memberikan dampak besar bagi
pelayanannya pada publik. Penataan kembali yang dilakukan
adalah pelayanan pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Karena
berfokus pada manajemen publiklah Pemerintah kemudian
membentuk Lembaga Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang
diharapkan jalannya pelayanan publik dibidang administratif
khususnya perizinan dapat berjalan secara efektif, efisien, hemat,
26
Shandi Izhandi, Dessy Agustina Harahap, 2018. OSS dan Perkembangannya di
Indonesia, hlm. 11.
24
dan tidak memakan banyak waktu. 27 Hadirnya Pelayanan Terpadu
Satu Pintu bagi pemerintah dapat menambah investasi
penanaman modal lebih berkembang karena dianggap lebih
mudah guna mendukung pembangunan dan investasi.
Pelayanan Terpadu Satu Pintu pada Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah kemudian dikembangkan dan disempurnakan
secara efisien, melayani dengan modern. Mengingat pada Pasal
25 ayat (4) Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang
Penanaman Modal yang menyatakan bahwa Perusahaan
penanaman modal yang akan melakukan kegiatan usaha wajib
memperoleh izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dari instansi yang memiliki kewenangan, kecuali
ditentukan lain dalam undang-undang. Oleh sebab itu,
berdasarkan ayat tersebut kewajiban perolehan izin oleh
perusahaan penanaman modal bagi pemerintah kemudian
mengilhami penyediaan Sistem Pelayanan Perizinan Berusaha
Terintegritas Secara Elektronik (OSS).
Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau
Online Single Submission yang selanjutnya disingkat OSS adalah
Perizinan Berusaha yang diterbitkan oleh Lembaga OSS untuk
dan atas nama menteri, pimpinan lembaga, gubernur, atau
bupati/wali kota kepada Pelaku Usaha melalui sistem elektronik
27
Shandi Izhandi, Dessy Agustina Harahap, 2018. OSS dan Perkembangannya di
Indonesia, hlm. 12.
25
yang terintegrasi. Sistem OSS merupakan sistem yang
mengintegrasikan seluruh pelayanan perizinan berusaha yang
menjadi kewenangan Menteri/Pimpinan Lembaga, Gubernur dan
Bupati/Walikota yang dilakukan melalui elektronik. Jenis perizinan
berusaha yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
dikelompokkan menjadi dua yaitu izin usaha dan izin komersial
atau operasional.
3. Prinsip Dasar Sistem Online Single Submission
Pelaksanaan sistem OSS dilakukan dengan beberapa
prinsip dasar sebagai berikut:28
a. Terstandarisasi
Sistem OSS menstandarkan sistemsistem perizinan yang
tersebar di K/L/D. Standarisasi ini meliputi standarisasi bisnis
proses dan format izin yang ada.
b. Terintegrasi
Sistem OSS terintegrasi dengan sistem AHU Online, Sistem
DUKCAPIL, Sistem DJP Online, Sistem SPIPISE serta
Sistim Aplikasi Perizinan Pemda.
c. Kemudahan akses
Sistem OSS merupakan sistem layanan perizinan secara
online berbasis internet /web melalui : [Link]
28
Adinda, 2021, ‘’Efektivitas Pelayanan Sistem Online Single Submission (OSS)
Dalam Perizinan Berusaha Di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu Kota Banda Aceh’’, Skripsi, Sarjana Administrasi Negara, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Pemerintahan UIN Ar Raniry, Banda Aceh, hlm. 30.
26
d. Self Assessment
Sistem OSS memberikan kepercayaan (trust) kepada pelaku
usaha dengan menerbitkan Izin Usaha dan Izin
Komersial/Operasional yang belum berlaku efektif. Proses
penyelesaian komitmen izin tersebut dilakukan oleh pelaku
usaha di luar Sistim OSS pada instansi pemerintah pusat
maupun daerah sesuai kewenangannya.
8. Mekanisme Sistem Online Single Submission
Pelaksanaan perizinan berusaha pada dasarnya meliputi: 29
a. Pendaftaran.
b. Penerbitan Izin Usaha dan penerbitan Izin Komersial atau
Operasional berdasarkan Komitmen.
c. Pemenuhan Komitmen lzin Usaha dan pemenuhan
Komitmen Izin Komersial atau Operasional.
d. Pembayaran biaya.
e. Fasilitasi.
f. Masa berlaku.
g. Pengawasan.
Adapun alur pendaftaran Online Single Submission (OSS) ialah
sebagai berikut:30
29
Shandi Izhandari, Dessy Agustina Harahap, 2021, ‘’OSS dan Perkembangannya
di Indonesia’’, hlm. 6.
30
Kementerian Koordinator Republik Indonesia, 2018, Pedoman Perizinan Melalui
Sistem OSS Untuk Pelaku Usaha, Jakarta, hlm. 2.
27
a. Pelaku Usaha melakukan Pendaftaran untuk kegiatan
berusaha dengancara mengakses laman OSS.
b. Lembaga OSS menerbitkan NIB setelah Pelaku Usaha
melakukan Pendaftaran melalui pengisian data yang
merupakan identitas berusaha dan digunakan oleh Pelaku
Usaha untuk 29 mendapatkan izin usaha dan izin komersial
atau operasional termasuk untuk pemenuhan persyaratan
izin usaha dan izin komersial atau operasional.
c. Pelaku usaha yang telah mendapatkan NIB sekaligus
terdaftar sebagai peserta jaminan sosial kesehatan dan
jaminan sosial ketenagakerjaan serta mendapatkan
pengesahan RPTKA dalam hal pelaku usaha akan
memperkerjakan tenaga kerja asing serta mendapatkan
informasi mengenai fasilitas fiskal yang akan didapat.
Prasyarat yang perlu dipenuhi sebelum mengakses OSS
adalah sebagai berikut:
a. Memiliki NIK dan menginputnya dalam proses pembuatan
user-ID. Khusus untuk pelaku usaha berbentuk badan
usaha, Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang dibutuhkan
adalah NIK Penanggung Jawab Badan Usaha;
b. Pelaku usaha badan usaha berbentuk PT, badan usaha
yang didirikan oleh yayasan, koperasi, CV, firma, dan
persekutuan perdata menyelesaikan proses pengesahan
28
badan usaha di Kementerian Hukum dan HAM melalui AHU
Online, sebelum mengakses OSS;
c. Pelaku usaha badan usaha berbentuk perum, perumda,
badan hukum lainnya yang dimiliki oleh negara, badan
layanan umum atau lembaga penyiaran menyiapkan dasar
hukum pembentukan badan usaha.
Pelaku dapat menggunakan Pendaftaran Lainnya saat
pendaftaran NIB, yaitu:31
a. NPWP Badan atau Peroarangan, jika pelaku usaha belum
memiliki.
b. Surat Pengesahan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja
Asing (RPTKA).
c. Bukti Pendaftaran Kesertaan BPJS Ketenagakerjaan dan
BPJS Kesehatan.
d. Notifikasi kelayakan untuk memperoleh fasilitas fiskal
dan/atau
e. Izin Usaha, misalnya untuk Izin Usaha di sektor
Perdagangan (Surat Izin Usaha Perdagangan SIUP).
Nomor Induk Berusaha (NIB) adalah identitas Pelaku
Usaha yang diterbitkan oleh Lembaga OSS setelah Pelaku Usaha
melakukan pendaftaran. NIB wajib dimiliki pelaku usaha yang
ingin mengurus perizinan berusaha melalui OSS, baik usaha baru
31
Ibid.
29
maupun usaha yang sudah berdiri sebelum operasionalisasi OSS.
NIB sekaligus berlaku sebagai:32
a. Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
b. Angka Pengenal Impor (API), jika pelaku usaha akan
melakukan kegiatan impor.
c. Akses Kepabeanan jika pelaku usaha akan melakukan
kegiatan ekspor atau impor.
Untuk mendapatkan NIB, pelaku usaha dapat melakukan sebagai
berikut:33
a. Log-in pada sistem OSS.
b. mengisi data-data yang diperlukan seperti: data perusahaan,
pemegang saham, kepemilikan modal, nilai investasi dan
rencana penggunaan tenaga kerja, termasuk tenaga kerja
asing. Jika pelaku usaha menggunakan tenaga kerja asing,
maka pelaku usaha menyetujui pernyataan penunujukan
tenaga kerja asing. Jika pelaku usaha menyetujui pernyataan
penunjukkan tenaga kerja pendamping serta akan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan atau dengan
output surat pernyataan.
c. mengisi informasi bidang usaha yang disesuaikan dengan 5
digit Klafisikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI),
selain informasi KBLI digit 2 yang telah tersedia dari AHU.
32
Ibid, hlm. 3.
33
Ibid, hlm. 4
30
Pelaku Usaha juga harus memasukan informasi uraian
bidang usaha.
d. memberikan tanda checklist sebagai bukti persetujuan
pernyataan mengenai kebenaran dan keabsahan data yang
dimasukkan (disclaimer).
e. mendapatkan NIB dan dokumen pendaftaran lainnya.
9. Manfaat Sistem Online Single Submission Bagi Pelaku Usaha
Penggunaan OSS bagi pelaku Usaha pada dasarnya
bermanfaat sebagai berikut:
a. Mempermudah pengurusan berbagai perizinan berusaha
baik prasyarat untuk melakukan usaha (izin terkait lokasi,
lingkungan, dan bangunan), izin, usaha, maupun izin
operasional untuk kegiatan operasional usaha di tingkat
pusat ataupun daerah dengan mekanisme pemenuhan
komitmen persyaratan izin
b. Memfasilitasi pelaku usaha untuk terhubung dengan semua
stakeholder dan memperoleh izin secara aman, cepat, dan
real time;
c. Memfasilitasi pelaku usaha dalam melakukan pelaporan dan
pemecahan masalah perizinan dalam suatu tempat;
d. Memfasilitasi pelaku usaha untuk menyimpan data perizinan
dalam suatu identitas berusaha.
31
10. Perkembangan Sistem Online Single Submission
Sistem Perizinan Berusaha OSS mengalami tiga kali
perbaikan yaitu OSS versi 1.0 yang secara yuridis diluncurkan
pada tanggal 21 Juni 2018 oleh pemerintah berdasarkan
penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang
“Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik”.
Setelah sekitar satu tahun lebih pelaksanaan OSS versi 1.0,
rencana penerapan OSS versi 1.1 menjadi suatu sistem
terbarukan berdasarkan OSS versi 1.0 yang dalam
pelaksanaannya masih terdapat kekurangan. Pemerintah dalam
hal ini senantiasa memberikan perbaikan sistem OSS sehingga
ditetapkannya dan diberlakukannya OSS versi 1.1 berdasarkan
Surat Edaran Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor
5743/A.8/B.1/2019 (Surat Edaran BKPM, 2019) pada tanggal 4
November 2019 yang merupakan sebuah pengembangan dari
sistem OSS versi 1.0.34
OSS Versi 1.1 mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Januari
2020 sebagai langkah untuk mengatasi permasalahan dan
kelemahahan yang ada ada sistem OSS versi 1.0 Pada OSS versi
1.1 telah dilakukan penyempurnaan struktur database dan
melengkapi berbagai validasi.35 Perbedaan antara versi 1.0
34
KPPOD, 2021, Implementasi OSS RBA di Daerah Tantangan dan Kebutuhan
Pemda, Jakarta, hlm. 25.
35
Muhammad Iqbal Fitra Assgefa, 2019, ‘’Pelaksanaan Online Single Submission
Dalam Rangka Percepatan Perizinan Berusaha di Dinas Penanaman Modal dan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah’’, Diponegoro Law
Journal, Vol. 8, Nomor 2, hlm. 76.
32
dengan versi 1.1 adalah penjeasan atau definisi pelaku usaha
yang sebelumnya tidak ada dalam OSS versi 1.0. Format isian
legalitas sesuai jenis badan hukum (PT) dan badan usaha (CV,
Firma, Persekutuan Perdata).36 Pelaku usaha juga dapat
mendaftarkan kegiatan utama dan penunjangnya. Di OSS versi
1.1 menerbitkan izin lokasi darata, perairan, lokasi di laut dan tidak
seperti versi sebelumnya yang hanya menerbitkan izin lokasi
daratan dan hanya dilengkapi dengan list komitmen. 37
Perbaikan terus dilakukan sehingga proses transformasi
Perizinan Berusaha yang saat ini menjadi Perizinan Berusaha
Berbasis Risisko (Online Single Submission Risk Based
Approach) berdasarkan ditetapkannya Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2021 Tentang
“Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko”.
Perubahan ini merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2020 atau biasa dikenal dengan Undang-
Undang Cipta Kerja. Dalam Bab 1 Pasal 1 Ayat (1) dijelaskan
“Cipta Kerja adalah upaya penciptaan kerja melalui usaha
kemudahan, perlindungan, dan pemberdayaan koperasi dan
usaha mikro, kecil, dan menengah, peningkatan ekosistem
investasi dan kemudahan berusaha, dan investasi Pemerintah
36
Faridah Juliana Sari Naipos Pos, 2021, ‘’Efektivitas Penerapan Sistem Online
Single Submission (OSS) Dalam Pelayanan Perizinan Usaha Pariwisata di Kota
Medan’’, JIMSIPOL, Vol. 1, Nomor 4, hlm. 43.
37
Ibid.
33
Pusat dan Percepatan proyek strategis nasional”. 38 OSS RBA
dibangun sejak bulan Maret 2021 dengan mengintegrasikan
sistem di lingkup Kabupaten atau Kota. Provinsi, kementrian,
dengan sistem OSS yang ada di pusat Kementerian
Investasi/BKPM. OSS RBA diluncurkan pada 9 Oktober 2021 di
Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi BKPM
Jakarta.39
Dalam menunjang pelaksanannya tentu saja aturan terkait
pelaksanaannya atau Standar Operasional Prosedur sudah
ditetapkan sebagai pedoman yang berisikan prosedur
pelaksanaan yang mencakup tata cara atau tindakan, acuan
tunggal pelaksanaan yang dilakukan oleh orang atau lembaga
pelaksana. Sebagaimana hal tersebut diatur dalam Bab III Pasal
21 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 yang
menjelaskan bahwa “Pemerintah Pusat menyusun dan
menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria Perizinan
Berusaha Berbasis Risiko pada setiap sektor”. Kemudian
dilanjutkan dalam ayat (2) yang menjelaskan bahwa “Norma,
standar, prosedur, dan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) menjadi acuan tunggal bagi pelaksana pelayanan Perizinan
38
Ghina Ridho Muafa, Eva Hany Fanida, 2019, ‘’Penerapan Sistem Perizinan Online
Single Submission (OSS) Di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (DPMPTP) Kabupaten Sidoarjo’’, Jurnal Unesa, Vol 1, Nomor 4, hlm. 4.
39
Ibid, hlm. 26.
34
Berusaha Berbasis Risiko oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah”.
Adapun yang menjadi landasan utama kemunculannya
adalah dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2020 tentang Cipta kerja agar dapat mendorong lebih kuat
semangat penyederhana izin melalui penetapan KBLI yang
berbasis risiko dan Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2021
tentang Bidang Usaha Penanaman Modal pengganti dari
Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang
Usaha yang tertutup dan Bidang Usaha yang terbuka dengan
persyaratan di Bidang Penanaman Modal sebagai basis dalam
penetapan izin.40
Prinsip Perizinan Usaha Berbasis Risiko adalah Trust but
Verify. Sebab pada dasarnya, Perizinan Berusaha Berbasis Risiko
mengubah konsep perizinan yang bersifat ex-ante (persyaratan
dipenuhi di awal) dengan konsep peizinan ex-post (verifikasi
dilakukan setelah persyaratan terpenuhi). Konsep ini terutama
dapat diterapkan untuk jenis kegiatan usaha yang berisiko rendah
atau kegiatan usaha yang telah ditetapkan standarnya. Setelah
Pelaku Usaha melakukan kegiatan usaha berdasarkan standar,
pemerintah sebagai otoritas akan melakukan verifikasi atas
pemenuhan standar tersebut. Pemohon izin usaha diberikan
kemudahan dalam mendapatkan legalitas usaha. Namun,
40
Ibid.
35
pengawasan pasca pemberian izin menjadi proses yang mesti
akuntabel dan transparan.41
Tujuan penerapan pendekatan ini adalah meningkatkan
investasi dan kegiatan berusaha melalui pelaksanaan penerbitan
perizinan secara lebih efektif dan sederhana; serta pengawasan
kegiatan usaha yang transparan, terstruktur, dan dapat
dipertanggungiawabkan. Sementara bagi dunia usaha dan
masyarakat umum, pendekatan ini akan meminimalisasi potensi
risiko dan menikmati proses yang efektif-efisien dalam
pengurusan perizinan berusaha.
11. Perbedaan OSS RBA dan OSS 1.1
Perbedaan antara OSS RBA dan OSS 1.1 (versi PP
24/2018) terletak pada sisi prosedur untuk memperoleh perizinan
berusaha. OSS 1.1 tidak menggunakan klasifikasi resiko dalam
menentukan derajat perizinan. Pada sistem ini, pelaku usaha
wajib mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai
identitas pelaku usaha yang diterbitkan oleh Lembaga OSS. NIB
diterbitkan dalam bentuk 13 (tiga belas) digit angka acak yang
diberi pengaman serta dengan tanda tangan elektronik pasca
pelaku usaha melakukan pendaftaran. Sesuai aturan PP 24/2018
tentang OSS, NIB berlaku sebagai Tanda Daftar Perusahaan
(TDP), Angka Pengenal Importir (API) dan Akses Kepabeanan.
Dalam OSS ini, tidak ada perbedaan proses pengajuan NIB di
41
Ibid, hlm. 27.
36
OSS baik untuk perusahaan perorangan, badan usaha, dan
badan hukum. Proses selanjutnya adalah mendapatkan Izin
Usaha dan Izin Komersial atau Operasional termasuk untuk
pemenuhan persyaratan Izin Usaha dan Izin Komersial atau
Operasional itu sendiri. Sedangkan pada OSS RBA, penerbitan
perizinan berusaha diberikan sesuai dengan level risiko usaha.
Level tersebut meliputi:42
a. Pelaku usaha dengan tingkat risiko rendah memperoleh NIB
yang secara otomatis berlaku sebagai legalitas untuk
melaksanakan usaha (Pasal 12 ayat (1) PP 5/2021). NIB
tersebut juga berlaku sebagai standar nasional Indonesia
(SNI) dan pernyataan jaminan halal sesuai ketentuan
perundang-undangan bagi pelaku usaha UMK (Pasal 12 ayat
(1) PP 5/2021);
b. Pelaku usaha dengan tingkat risiko menengah rendah
memperoleh perizinan berusaha berupa NIB dan sertifikat
standar berupa pernyataan guna memenuhi standar usaha
(Pasal 13 ayat (1) PP 5/2021);
c. Pelaku usaha dengan tingkat risiko menengah tinggi
memperoleh NIB sebagai perizinan berusaha dan sertifikat
standar yang diterbitkan pemerintah pusat atau pemerintah
daerah (Pasal 14 ayat (1) PP 5/2021); d) Pelaku usaha
dengan tingkat risiko tinggi mendapatkan NIB dan izin yang
42
Ibid.
37
wajib dipenuhi sebelum melakukan kegiatan usaha (Pasal 15
ayat (1) PP 5/2021).
Diferensiasi ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa
semakin tinggi tingkatan bahaya suatu jenis usaha, maka semakin
banyak persyaratan keamanan yang harus dipenuhi agar tidak
mendistorsi kualitas lingkungan, ekonomi, dan sosial yang ada.
Derajat bahaya tersebut diukur dengan memperhatikan penilaian
tingkat bahaya, potensi terjadinya bahaya tingkat risiko dan
peringkat skala usaha kegiatan usaha. OSS RBA juga
memberikan kemudahan dan kepastian kepada pelaku UMK.
Pelaku UMK menikmati jalur sendiri dan berbeda dengan usaha
Non-UMK. Para pelaku UMK dikategorikan pada level risiko
rendah sehingga hanya mengurus NIB. Pada praktiknya,
pengurusan NIB hanya membutuhkan waktu 5 -10 menit jika
dukungan sarpras dan infrastruktur internet (sinyal) optimal. 43
Selain itu, OSS-RBA memberikan pelayanan perizinan
berusaha pada berbagai macam sektor usaha. Pengaturan ini
secara jelas diatur dalam Pasal 6 ayat (2) PP 5/2021) dimana
sektor tersebut meliputi: Kelautan dan Perikanan; Pertanian;
Lingkungan Hidup Dan Kehutanan; Energi dan Sumber Daya
Mineral; Ketenaganukliran; Perindustrian; Perdagangan;
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; Transportasi
Kesehatan, Obat, dan Makanan; Pendidikan dan Kebudayaan;
43
Ibid.
38
Pariwisata; Keagamaan; Pos, Telekomunikasi, Penyiaran, dan
Sistem dan Transaksi Elektronik; Pertanahan dan Keamanan; dan
Ketenagakerjaan. OSS RBA pada tataran ideal akan
mengintegrasikan pelayanan perizinan berbasis digital sektoral.
Misalnya, pelayanan persetujuan bangunan gedung dilakukan
melalui SIMBG, persetujuan kesesuian pemanfaatan ruang
diperoleh melalui Gistaru, dan proses mendapatkan persetujuan
kelayakan lingkungan dilakukan pada Amdalnet. Pada praktiknya,
sistem-sistem sektoral tersebut masih dalam proses
pengintegrasian sehingga business process perizinan tersebut
masih terpisah-pisah.
Implementasi perizinan berusaha berbasis risiko
menghadirkan inovasi berupa berlakunya asas fiktif positif. PP No.
05 Tahun 2021 menjelaskan bahwa menteri/kepala lembaga,
gubernur, bupati/walikota, administrator kawasan ekonomi khusus,
dan/atau kepala badan pengusahaan KPBPB sesuai dengan
kewenangan masing- masing dalam melakukan pemeriksaan
persyaratan Perizinan Berusaha harus sesuai dengan jangka
waktu; dan memberikan Perizinan Berusaha harus sesuai dengan
masa berlaku. Lampiran I menjabarkan secara komprehensif
mengenai batasan waktu terkait proses pemeriksaan dan
penerbitan perizinan berusaha. Melalui pemberlakuan asas ini,
diharapkan proses penerbitan perizinan berusaha dapat dilakukan
39
sesuai prosedur dan waktu yang tepat sehingga tidak
menghambat investasi daerah.44
12. Jenis-Jenis OSS
Jenis-jenis OSS yang pernah berlaku di Indonesia
diantaranya sebagai berikut:
a. OSS versi 1.0 yang diluncurkan pada tanggal 21 Juni 2018
b. OSS Versi 1.1 yang di;uncurkan pada 1 Januari 2020
c. OSS RBA yang diluncurkan pada 9 Oktober 2021
D. Konsep Pengawasan
1. Definisi Pengawasan
Pengawasan berasal dari kata dasar awas yang artinya
memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan
cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali member
laporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang
diawasi.45 Pengawasan adalah usaha atau kegiatan untuk
mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai
pelaksanaan tugas atau kegiatan, apakah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku
serta memenuhi prinsipprinsip daya guna (efisiensi) dan hasil
guna (efektivitas).46 Pengawasan adalah proses kegiatan yang
ditujukan untuk menjamin agar tugas pemerintahan dan
44
Ibid.
45
Perum dan Percetakan, 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai
Pustaka , Cetakan IV,hlm. 534.
46
Sujamto, 1986, Beberapa Pengertian Dibidang Pengawasan Edisi Revisi, Cet II,
(Jakarta: Ghalia Indonesia, hlm. 19-20.
40
pembangunan dilaksanakan sesuai dengan rencana, program,
dan peraturan perundang-undangan.47
Kemudian menurut Mc. Ferland pengawasan ialah suatu
proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya sesuai
dengan rencana, perintah, tujuan atau kebijaksanaan yang telah
ditentukan.48 Pengawasan dari segi hukum merupakan penilaian
tentang sah atau tidaknya suatu perbuatan pemerintah yang
menimbulkan akibat hukum.49
2. Fungsi Pengawasan
Fungsi pengawasan menurut Handayaningrat adalah: 50
a. Untuk mengetahui apakah sesuatu telah berjalan sesuai
dengan instruksi serta prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
b. Untuk mengetahui apakah segala sesuatu berjalan efisien
dan apakah dapat diadakan perbaikan-perbaikan lebih lanjut,
sehingga mendapat efisiensi yang lebih benar.
c. Untuk mencegah atau memperbaiki kesalahan,
penyimpangan, ketidaksesuaian penyelenggaraan yang lain-
47
Lihat Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun
2016 Tentang Pokok-Pokok Pengawasan Intern di Kementerian
[Link] I, Pasal 1 ayat (1)
48
Soewarno dalam Sapurta. 2017, Pengawasan Pemerintah Daerah Terhadap Izin
Produksi Bata Merah Di Desa Leuwiseeng Kecamatan Panyingkiran Dihubungkan
Dengan Peraturan Bupati Majalengka Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka,
Skripsi, Fakultas Hukum Unpas, hlm. 42.
49
Ibid.,
50
Sopi, 2013, Pengaruh Pengawasan dan Penilaian Prestasi Kerja terhadap
Motivasi Pegawai kantor Bea dan Cukai, Bandung, Madya, hlm.17
41
lain yang tidak sesuai dengan tugas dan wewenang yang
telah ditentukan.
d. Agar hasil pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara berdaya
guna dan berhasil guna sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya.
3. Jenis-Jenis Pengawasan
Jenis-jenis pengawasan menurut Siagian ada dua yakni
pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung dengan
rincian sebagai berikut:
a. Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan
pimpinan terhadap bawahannya, pengawasan ini biasanya
dalam bentuk inspeksi langsung
b. Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang
dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya dari jauh
berupa laporan yang telah disampaikan oleh para
baahannya, laporan ini dapat berupa tertulis dan lisan.
Adapun jenis-jenis pengawasan menurut Daly Erni ialah sebagai
berikut:51
a. Pengawasan intern, pengawasan yang dilakukan oleh orang
dari badan/unit/instansi di dalam lingkungan unit tersebut.
Dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau
pengawasan melekat.
51
Hendri Raharjo, 2009, Hukum Perizinan, Yogyakarta, Pustaka Yustisia, Cet.1, h.8
42
b. Pengawasan ekstern, pengawasan yang dilakukan di luar
badan/unit/instansi tersebut.
c. Pengawasan Preventif, sebelum kegiatan dilaksanakan
d. Pengawasan Refresif, setelah kegiatan dilaksanakan
e. Pengawasan aktif (dekat), pengawasan yang dilaksanakan di
tempat kegiatan yang bersangkutan
f. Pengawasan pasif, penelitian dan pengujian terhadap surat-
surat pertanggungjawaban yang disertai dengan bukti-bukti
penerimaan dan pengeluaran.
E. Konsep Pelayanan Publik
1. Definisi Pelayanan Publik
Berdasarkan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang No.25 Tahun
2009 tentang Pelayanan Publik dirumuskan bahwa adalah
kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang
disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Untuk menelaah pelayanan publik secara konseptual dan
komprehensif, maka perlu dibahas pengertian kata demi kata.
Menurut Kotler dalam Sampara Lukman pelayanan adalah setiap
kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau
43
kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak
terikat pada suatu produk secara fisik. Selanjutnya Sampara
berpendapat, pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan
kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antar seseorang
dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan
kepuasan pelanggan52.
Sementara kata publik berasal dari Bahasa Inggris Public
yang berarti umum, masyarakat, negara. Kata public sebenarnya
sudah diterima menjadi Bahasa Indonesia baku, pengertiannya
adalah orang banyak. Sementara itu Inu kencana mendefinisikan
public adalah sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan
berpikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan yang benar dan
baik berdasarkan nilai-nilai norma yang ada. Oleh karena itu
pelayanan public diartikan setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki kegiatan
yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan
menawarkan kepuasaan meskipun hasilnya tidak terkait pada
suatu produk secara fisik. Pelayanan publik menurut Mahmudi
juga dimaknai sebagai segala kegiatan pelayanan yang
dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya
pemenuhan kebutuhan publik dan pelaksanaan ketentuan
peraturan perundangundangan.53
52
Harbaini Pasolong, 2013, Teori Administrasi Publik, Alfabeta, Bandung, hlm. 4.
53
Moenir, A.S, 2013, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bumi Aksara,
Jakarta, hlm. 17.
44
Menurut Juniarso Ridwan berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan pelayanan public adalah pelayanan yang
diberikan oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara
terhadap masyarakatnya guna memenuhi kebutuhan dari
masyarakat itu sendiri dan memiliki tujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat..54 Selain itu menurut Ketetapan
Menteri Perdayagunaan Aparatur Negara
No.63/KEP/[Link]/7/2003, pelayanan public adalah segala
kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara
pelayanan public sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima
layanan maupun pelaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
2. Pelayanan Publik
Pelayanan publik sebagai pelayanan yang dilakukan oleh
birokrasi atau lembaga lain yang memiliki kewenangan yang tidak
termasuk badan usaha swasta, yang tidak berorientasi pada laba
(profit). Pelayanan publik oleh birokrasi publik merupakan salah
satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi
masyarakat disamping sebagai abdi negara. Dalam Undang-
undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,
disebutkan bahwa “pelayanan publik adalah suatu kegiatan atau
rangkaian dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
54
Sinambela. 2014, Reformasi Pelayanan Publik, PT. Bumi Asara, Jakarta, hlm. 5.
45
dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif
yang disediakan oleh penyelenggara publik”. Sementara itu istilah
publik berasal dari bahasa inggris public yang berarti umum,
masyarakat, negara. Kata publik sebenarnya sudah diterima
menjadi bahasa Indonesia baku menjadi publik yang berarti
umum, orang banyak, ramai.
Pelayanan publik adalah pemenuhan keinginan dan
kebutuhan masyarakat pada penyelenggaraan negara. Negara
didirikan oleh publik atau masyarakat tentu saja dengan tujuan
agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada
hakikatnya negara dalam hal ini birokrasi haruslah dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan dalam hal ini
bukanlah kebutuhan secara individual akan tetapi berbagai
kebutuhan yang sesungguhnya diharapkan oleh masyarakat. Dari
defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang
diberikan karena menyangkut segala usaha yang dilakukan oleh
seseorang dalam rangka untuk mencapai tujuan guna
mendapatkan kepuasan dalam hal pemenuhan kebutuhan.
BAB III
46
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian hukum empiris
dengan bentuk diskriptif. Penelitian hukum empiris dilakukan dengan
meneliti secara langsung ke lokasi penelitian untuk melihat secara
langsung penerapan perundang-undangan atau aturan hukum serta
melakukan wawancara dengan beberapa informan yang dianggap
memberikan informasi mengenai permasalahan yang diteliti. 55 Adapun
responden yang di anggap mampu memberikan informasi yakni
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih guna melaksanakan penelitian ini
yaitu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(DPMPTSP) Kota Makassar yang beralamat di Jalan Ahmad Yani
No.2, Bulo Gading, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar. Pemilihan
lokasi ini dikarenakan DPMPTSP Kota Makassar menjadi pelaksana
kebijakan sistem OSS di kota Makassar.
C. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek hukum yang memiliki
karakteristik tertentu dan ditetapkan untuk diteliti. 56 Berdasarkan
penelitian di atas maka yang menjadi populasi dalam hal ini
yaitu pihak-pihak terkait yang dianggap menunjang penelitian
55
Soerjono Soekanto, 1983, Pengantar Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta,
hlm. 78.
56
Ibid, hlm. 32.
47
penulis. Dalam hal ini populasi penelitian penulis yaitu seluruh
ASN yang ada di DPMPTSP Kota Makassar dan para pelaku
usaha yang sedang melakukan pengurusan perizinan di
DPMPTSP Kota Makassar.
2. Sample
Sampel adalah bagian dari populasi dan ditetapkan untuk
menjadi responden penelitian. Sampel dalam penelitian
ditetapkan dengan teknik purposive sampling, yaitu sampel
dipilih berdasarkan pertimbangan dan tujuan penelitian.
Berdasarkan pengertian di atas maka yang menjadi
responden/sampel dalam penelitian ini diantaranya sebagai
berikut:
a. Kepala DPMPTSP Kota Makassar (1 orang)
b. Humas DPMPTSP Kota Makassar (1 orang)
c. Staff Administrasi DPMTSP Kota Makassar (1 orang)
d. Pelaku usaha yang melakukan permohonan
perizinan di DPMPTSP (5 orang)
D. Jenis Dan Sumber Data
Data pendukung dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data
yakni data primer dan data sekunder yang dijelaskan dengan rinci
sebagai berikut:
1. Data Primer
48
Data primer adalah data yang berkaitan langsung dengan
objek penelitian. Data primer berasal dari sumber pertama baik
individu maupun kelompok seperti hasil kuisioner atau sumber
data yang diberikan langsung kepada pengumpul data. 57 Data
primer dalam penelitian ini yaitu data hasil kuisioner dan
observasi yang berhubungan dengan efektivitas penerapan
sistem online single submission dalam pelayanan izin
mendirikan usaha di Kota Makassar berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diambil sebagai penunjang
atau bahan banding guna memahami data primer yang berasal
dari peraturan perundang-undangan, tulisan, makalah, buku-
buku hukum dan dokumen-dokumen atau bahan lain serta
informasi dari pejabat yang berwenang. Data sekunder pada
penelitian ini yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi
Undang-Undang, Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021
tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko,
buku, artikel, jurnal, dan karya ilmiah yang berhubungan
dengan efektivitas penerapan sistem online single submission.
57
Sugiyono, 2015, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Alfabeta,
Yogyakarta, hlm. 15.
49
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan upaya yang harus
dilakukan peneliti untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan guna
menjawab rumusan masalah yang sudah dibuat. Instrumen
pengumpulan data dalam penelitian hukum atau pengkajian hukum
empiris terdiri observasi, dokumentasi, survey lapangan, dan
kuisioner. Teknik pengumpulan data yang yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah:
1. Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data melalui kegiatan
pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Observasi ini
dilakukan dengan mengamati bagaimana kejadian langsung di
lapangan sehingga memperoleh data yang sesuai dengan
fakta.58
2. Kuisioner
Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan
atau memberikan daftar pertanyaan untuk di isi oleh responden.
Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket semi
terbuka. Angket bersifat semi terbuka yaitu jawaban sudah
disediakan berupa pilihan ganda akan tetapi tetap diberikan
tempat kosong untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan
kondisi responden yang tidak terdapat pada pilihan ganda.
58
Jonathan Sarwono, 2016, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Graha Ilmu,
Yogyakarta, hlm. 129.
50
3. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan banyak bukti
dan data berupa gambar video ataupun rekaman selama
melakukan metode pertama dan kedua. 59 Dalam penelitian ini
sumber yang akan dijadikan dokumentasi adalah data dari
bahan-bahan tertulis yaitu berupa dokumen yang berkaitan
dengan pengiriman dan pengembalian barang, foto sebagai
bukti telah melakukan wawancara, dan rekaman berupa
catatan hasil wawancara.
F. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan berupa deskripsi untuk
mendapatkan jawaban yang diinginkan sesuai prosedur pengumpulan
data misalnya merumuskan masalah, menentukan landasan teori,
mengumpulkan data baik melalui wawancara maupun dari responden
melalui analisis, sehingga dapat menarik kesimpulan dari hasil analisis
yang singkat, padat dan jelas.
Data yang telah dikumpulkan baik data primer maupun data
sekunder terlebih dahulu dianalisis dengan menggunakan metode
empiris yaitu mengungkapkan dan memahami kebenaran masalah
serta pembahasan dengan menafsirkan data yang diperoleh
kemudian menarik kesimpulan berdasarkan analisis yang telah
tersusun secara teoritis dan sistematis.
59
Moeleong, 2010, Metode Penelitian Kualitatif, Rosda Karya, Bandung, hlm. 160.
51
52
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Adinda. 2021. Efektivitas Pelayanan Sistem Online Single
Submission(OSS) Dalam Perizinan Berusaha Di Dinas
Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota
Banda Aceh. Skripsi. Sarjana Administrasi Negara. Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan UIN Ar Raniry. Banda
Aceh.
Adrian Sutedi. 2012. Hukum Keuangan Negara. SinarGrafika. Jakarta.
Agung Kurniawan. 2005. Transformasi Pelayanan Publik. Pembaruan.
Yogyakarta.
Campbell J.P. 1990. Productivity in Organization. Joey Bass. San
Fransisco.
Dedi Maulida. 2019. Efektivitas Penerapan Online Single Submission
(OSS)
Pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu Kabupaten Pelalawan. Skripsi. Sarjana Administrasi
Negara. Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam
Negeri Suska. Riau.
Faridah Juliana Sari Naipos-Pos. 2021. Efektivitas Penerapan Sistem
Online Single Submission (OSS) Dalam Rangka
Meningkatkan Pelayanan Perizinan Usaha Pariwisata di Kota
Medan. Skripsi. Sarjana Ilmu Administrasi Publik. Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara. Medan.
Harbaini Pasolong. 2013. Teori Administrasi Publik. Alfabeta. Bandung.
HR Ridwan. 2006. Hukum Administrasi Negara. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Inez Kusuma Ningrum Agustin. 2022. Efektivitas Pelayanan Sistem Online
Single Submission (OSS) Dalam Perizinan Berusaha Di
Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu Kota Prabumulih. Skripsi, Sarjana Ilmu Administrasi
Publik. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sriwijaya. Palembang.
53
Jonathan Sarwono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.
Graha Ilmu. Yogyakarta.
KPPOD. 2021. Implementasi OSS RBA di Daerah Tantangan dan
Kebutuhan Pemda. Jakarta.
Kementerian Koordinator Republik Indonesia. 2018. Pedoman Perizinan
Melalui Sistem OSS Untuk Pelaku Usaha. Jakarta.
Moeleong. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Rosda Karya. Bandung.
Moenir. A.S. 2013. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Bumi
Aksara. Jakarta.
OSS Indonesia. 2019. Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis
Risiko Melalui Sistem Online Single Submission Merupakan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020
Tentang Cipta Kerja. Kementrian Investasi/BKPM.
Perum dan Percetakan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.
Balai Pustaka. Cetakan IV,
Prajudi Atmosudirjo. Hukum Administrasi Negara. Ghalia Indonesia.
Jakarta.
Sapurta. 2017. Pengawasan Pemerintah Daerah Terhadap Izin Produksi
Bata Merah Di Desa Leuwiseeng Kecamatan Panyingkiran
Dihubungkan Dengan Peraturan Bupati Majalengka Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Penyusunan
Dokumen Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka. Skripsi.
Fakultas Hukum Unpas.
Shandi Izhandi. Dessy Agustina Harahap. 2018. OSS dan
Perkembangannya di Indonesia.
Sinambela. 2014. Reformasi Pelayanan Publik. PT. Bumi Asara. Jakarta.
Siti Khotijah. 2020. Buku Ajar Hukum Perizinan Online Single Submission
(OSS). CV. MFA. Yogyakarta.
Soerjono Soekanto. 1983. Pengantar Penelitian Hukum. Rineka Cipta.
Jakarta.
Sondang P. Siagan. 2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Mandar
Maju. Bandung.
54
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Alfabeta, Yogyakarta.
Sri Rahayu Prihatiningsih. 2021. Pengawasan Perizinan Berusaha
Berbasis Risiko Secara Terintegrasi Dan Terkordinasi.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta.
Sujamto. 1986. Beberapa Pengertian Dibidang Pengawasan Edisi Revisi,
Cet II. Ghalia Indonesia, Jakarta.
JURNAL
Arini Nur Annisa, dkk, ‘’Government Supervision Of The Rights Fulfillment
Of HOused Workers In The Transition Period’’,
Makassar. Awang Long Law Review, Volume 5, Nomor. 1
November 2022.
Adam Jose Sihombing, Kadek Agus Sudiarawan. ‘’Efektivitas Online
Single
Submission Risk Based Approach Dalam Perizinan Berusaha di
Kota
Denpasar’’. Jurnal Kertha Negara. Vol. 8, Nomor 11 Tahun 2020.
Bahir Muhammad. ‘’Pelaksanaan Perizinan Berbasis Risiko Pasca
Undang-
Undang Cipta Kerja’’. Jurnal Nalar Keadilan. Volume 1 Nomor 2
Tahun 2021.
Faridah Juliana Sari Naipos Pos. ‘’Efektivitas Penerapan Sistem Online
Single Submission (OSS) Dalam Pelayanan Perizinan Usaha
Pariwisata di Kota Medan’’. JIMSIPOL, Vol. 1, Nomor 4 2021.
Ghina Ridho Muafa, Eva Hany Fanida. ‘’Penerapan Sistem Perizinan
Online
Single Submission (OSS) Di Dinas Penanaman Modal dan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTP) Kabupaten Sidoarjo’’.
Jurnal Unesa. Vol 1, Nomor 4 2019.
Muhammad Iqbal Fitra Assgefa. ‘’Pelaksanaan Online Single Submission
Dalam Rangka Percepatan Perizinan Berusaha di Dinas
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP)
Jawa Tengah’’ Diponegoro Law Journal, Vol. 8, Nomor 2 2019.
55
Uchaimid Biridlo’I Robby. Wiwin Tarwini. ‘’Inovasi Pelayanan Perizinan
Melalui Online Single Submission (Oss) Studi Pada Izin Usaha Di
Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(Dpmptsp) Kabupaten Bekasi’’, Administratio: Jurnal Ilmiah
Administrasi Publik dan Pembangunan, Universitas Lampung, Vol.
10, Nomor 2 Tahun 2019.
PERATURAN
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun
2016 Tentang Pokok-Pokok Pengawasan Intern di Kementerian
Ketenagakerjaan.
Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan
Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha
Penanaman Modal pengganti
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
INTERNET
Marsi Tote. 2023. Kadis DPMPTSP Kota Makassar Angkat Bicara Terkait
Cafe Nucifera Yang Diduga Punya Pelanggaran.
[Link]
5356957450/kadis-dpmptsp-kota-makassar-angkat-bicara-
terkait-cafe-nucifera-yang-diduga-punya-pelanggaran,
%20diakses%20pada%2016%20April%202023.
Muhammad Zulfan Hakim. 2017. Izin Sebagai Instrumen Pengawasan
dalam Mewujudkan Pemerintahan yang Baik,
[Link]
user=fYwckawAAAAJ&hl=en#
PPID Kota Makassar, Dikeluhkan Warga, Pemkot Makassar Tegur
Pengelola Exodus Café.
[Link]
56