Goodwill
Goodwill adalah istilah yang digunakan di akuntansi dan hukum. Goodwill adalah aset
perusahaan yang tidak berwujud dan dapat meliputi merek dagang dan paten, karyawan dan
keahliannya, nama dagang dan pengakuan logo, daftar pelanggan dan relasi. Menurut Chaerles
dan Walter (2007), goodwill adalah aktiva yang unik. Goodwill dalam akuntansi memiliki arti
yang berbeda dalam ungkapan sehari-hari “niat baik di antara para pria”. Dalam akuntansi
goodwill adalah kelebihan biaya untuk membeli perusahaan lain atas nilai pasar aktiva bersihnya
(aktiva dikurangi kewajiban). Goodwill memiliki beberapa fitur khusus :
a. Goodwill hanya dicatat oleh perusahaan yang membeli perusahaan lain. Reputasi yang
sangat baik dapat menciptakan goodwill, namun perusahaan tersebut tidak pernah
mencatat goodwill untuk bisnisnya sendiri. Jadi, goodwill hanya dicatat oleh perusahaan
yang memperolehnya ketika membeli perusahaan lain.
b. Menurut prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum (GAAP), goodwill tidak
diamortisasi. Perusahaan hanya mengukur nilai saat ini goodwill yang diperoleh setiap
tahunnya. Jika nilai goodwill naik, tidak ada yang dicatat. Namun, jika nilai goodwill
menurun, perusahaan akan mencatat kerugian dan menulis penurunan goodwill.
Menurut Suwardjono (2014), Goodwill timbul apabila suatu perusahaan membeli perusahaan lain
yang sudah berjalan secara keseluruhan. Goodwill adalah selisih lebih jumlah rupiah tunai atau
setaranya dibayarkan oleh perusahaan pembeli di atas nilai pasar atau nilai buku kekayaan fisis
perusahaan yang dibeli. Goodwill dapat di intrespestasi sebagai kemampuan lebih dalam
menghasilkan laba dibanding kemampuan normal perusahaan yang kondisi kekayaan fisisnya
sama. Secara akuntansi, goodwill tidak dapat ditimbulkan sendiri oleh perusahaan tetapi harus
melalui pembelian suatu perusahaan yang sedang berjalan. Fungsi goodwill dianggap sama
dengan fungsi premium investasi dalam obligasi atau cadangan penghapusan piutang. Dengan
perlakuan ini, goodwill bukan lagi merupakan kemampuan melaba lebih melainkan hanya sebagai
jumlah rupiah pengimbang yang berfungsi sebagai penilaian. 33
2.5.1 Goodwill bagian dari Asset tidak berwujud (Intangible Asset)
Davis (1992) menyatakan bahwa goodwill sebagai aset tidak berwujud yang paling tidak
berwujud. Artinya goodwill termasuk pos yang paling sulit untuk diukur dan dihitung. Baridwan
(2010) menyatakan bahwa goodwill adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba di
atas keadaan normal yang diakibatkan oleh adanya faktor-faktor tertentu, yaitu letak perusahaan
yang baik, nama perusahaan yang terkenal, pimpinan yang ahli dan faktor-faktor lainnya. Hal
tersebut dapat diartikan bahwa laba di atas keadaan normal adalah suatu tingkat pendapatan dari
investasi yang melebihi jumlah yang akan dapat menarik investor dalam bidang usaha tersebut
yang dikarenakan kondisi-kondisi menguntungkan dalam perusahaan.
[Link] Menurut SAK (Standar Akuntansi Keuangan)
Menurut Pernyataan Standart Akuntansi Keuangan (PSAK) no.22 paragraf 39 tentang Akuntansi
Penggabungan Badan Usaha yang menjelaskan tentang keberadaan goodwill yang harus
diamortisasi sebagai beban selama masa manfaatnya. Periode amortisasi goodwill selama 5 tahun
dan dapat diperpanjang sampai dengan 20 tahun dengan alasan yang tepat. Dan dalam
mengamortisasi digunakan metode garis lurus Metode / pendekatan ini di jelaskan dalam
(Kieso,2009) pada halaman 172 dan dinamakan pendekatan kapitalisasi amortisasi. Dibawah ini
akan penulis kutip PSAK no.22 paragraf 39, sebagai berikut: Goodwill harus diamortisasi sebagai
beban selama masa manfaatnya. Dalam mengamortisasi harus digunakan metode garis lurus,
kecuali terdapat metode lain. yang dianggap lebih tepat pada ketentuan tertentu. Periode
amortisasi goodwill tidak boleh lebih dari 5 tahun, kecuali periode yang lebih panjang tetapi tidak
lebih dari 20 tahun dapat digunakan apabila terdapat dasar yang tepat (justifiable).
Dalam SAK tepatnya PSAK no.22 paragraf 44 dan 45 juga dijelaskan , bahwa untuk mengukur
amortisasi goodwill juga bisa digunakan pendekatan lain, yaitu adanya pengujian penurunan nilai
(impairment) terhadap saldo goodwill yang belum diamortisasi pada tanggal neraca. Penurunan
nilai goodwill harus diakui sebagai beban pada periode bersangkutan. Untuk lebih jelasnya akan
penulis kutip atas PSAK no.22 diatas:
45. Saldo goodwill yang belum diamortisasi harus dievaluasi pada setiap tanggal neraca, dan
apabila terdapat indikasi bahwa jumlah tersebut tidak dapat sepenuhnya atau sebagian dipulihkan
(recovered) dari expectasi manfaat keekonomian dimasa mendatang, maka bagian jumlah yang
tidak dipulihkan tersebut langsung dibukukan sebagai beban pada periode yang bersangkutan,
dan setiap penurunan nilai tidak boleh dinaikkan kembali pada periode selanjutnya.
46. Penurunan (impairment) nilai goodwill dapat disebabkan berbagai faktor seperti trend
ekonomi yang tidak menguntungkan, perubahan situasi persaingan dan hukum, dan peraturan
perundangan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya penurunan jumlah arus kas yang
dihasilkan. Dalam keadaan tersebut , saldo goodwill segera diturunkan dan diakui sebagai beban.
Dari pernyataan PSAK tersebut diatas dapat disimpulkan oleh penulis bahwa, goodwill diakui
sebagai asset dalam perusahaan, dan amortisasi diperlakukan sebagai beban yang harus
dialokasikan sepanjang umur goodwill yang akan berakibat laba perusahaan setiap periode
mengalami penurunan. Dan manfaat goodwill akan semakin berkurang dengan adanya
pemakaian.
Goodwill yang Timbul dari Suatu Akuisisi
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengestimasi masa manfaat goodwill
meliputi:
(a)ramalan umur bisnis atau industri yang bersangkutan;
(b)pengaruh keusangan produk, perubahan dalam permintaan dan faktor ekonomi lainnya;
(c)ekspektasi sisa masa kerja para manajer, atau kelompok karyawan yang menjalankan tugas
penting;
(d)antisipasi tindakan para pesaing atau calon pesaing; dan
(e)ketentuan hukum, peraturan yang berlaku atau ketentuan kontraktual yang mempengaruhi
masa manfaat goodwill.
Goodwill Negatif yang Timbul dari Akuisisi
Jika biaya perolehan (cost of the acquisition) lebih rendah dari bagian (interest)
pengakuisisi atas nilai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diakuisisi
pada tanggal transaksi, maka nilai wajar aktiva non moneter yang diakuisisi harus diturunkan
secara proporsional, sampai seluruh selisih tersebut dieliminasi.
Perubahan Kemudian Biaya Perolehan (Acquisition Cost)
Jika tidak terjadi kenaikan biaya perolehan, tidak dilakukan penyesuaian terhadap
goodwill atau goodwill negatif. Akan tetapi, tambahan saham atau obligasi yang diterbitkan
akan menurunkan agio saham atau menaikkan disagio saham atau obligasi yang diterbitkan
pada saat akuisisi.
Identifikasi Kemudian atau Perubahan Nilai atas Aktiva dan Kewajiban
Nilai tercatat (carrying amount) aktiva dan kewajiban yang diperoleh harus disesuaikan,
jika setelah akuisisi, terdapat bukti tambahan yang dapat digunakan untuk mengestimasi nilai
aktiva dan kewajiban yang telah dibukukan pada saat akuisisi terjadi.
Penyatuan Kepemilikan
Suatu penyatuan kepemilikan (uniting of interests) harus dibukukan dengan
menggunakan metode penyatuan kepemilikan (pooling of interest method). Selisih antara
jumlah yang dibukukan sebagai modal saham yang diterbitkan ditambah kompensasi
pembelian lainnya dalam bentuk kas ataupun aktiva lainnya dengan jumlah modal saham
yang diperoleh, harus disesuaikan terhadap ekuitas atau modal sendiri.
Pengungkapan
Untuk semua penggabungan usaha, pengungkapan berikut harus dibuat dalam laporan
keuangan pada periode terjadinya penggabungan usaha:
(a) nama dan penjelasan tentang perusahaan yang bergabung;
(b) metode akuntansi yang digunakan untuk penggabungan usaha tersebut;
(c) tanggal efektif penggabungan usaha untuk tujuan akuntansi;
(d) operasi atau kegiatan usaha yang telah diputuskan untuk dijual atau dihentikan akibat
penggabungan usaha tersebut.
Untuk penggabungan usaha yang merupakan akuisisi, pengungkapan tambahan berikut
dalam laporan keuangan harus dibuat pada periode terjadinya akuisisi:
(a) persentase saham berhak suara yang diperoleh;
(b) biaya perolehan (acquisition cost) dan penjelasan tentang harga beli yang telah dibayar
atau terhutang secara kontinjen (contingently payable); dan
(c) sifat dan jumlah penyisihan untuk beban restrukturisasi dan beban penutupan pabrik
yang timbul akibat akuisisi dan diakui pada tanggal akuisisi.
Laporan keuangan harus mengungkapkan:
(a) perlakuan akuntansi goodwill termasuk periode amortisaslnya;
(b) apabila masa manfaat goodwill lebih dari lima tahunt penjelasan tentang alasan dan
pertimbangan yang digunakan;
(c) apabila goodwill tidak diamortisasikan dengan metode garis lurust metode yang
digunakan serta alasan kenapa metode tersebut dianggap lebih tepat daripada metode
garis lurus;
(d) rekonsiliasi goodwill pada saat awal dan akihr periode yang menunjukkan:
(i)jumlah bruto goodwill dan akumulasi amortisasinya pada awal periode;
(ii)tambahan goodwill yang dibukukan selama periode berjalan;
(iii)jumlah selama periode berjalan;
(iv)penyesuaian yang dilakukan akibat adanya identifikasi susulan atau perubahan nilai
aktiva dan kewajiban setelah tanggal akuisisi;
(v)penghapus bukuan goodwill yang dilakukan selama periode berjalan; dan
(vi)jumlah bruto goodwill dan akumulasi amortisasinya pada akhir periode.
Untuk suatu penggabungan usaha yang merupakan penyatuan kepemilikan (uniting of
interest) pengungkapan tambahan berikut harus dibuat dalam laporan keuangan pada periode
terjadinya:
(a) penjelasan dan jumlah saham yang diterbitkan, serta persentase saham berhak suara
setiap perusahaan yang dipertukarkan untuk melaksanakan penyatuan kepemilikan
tersebut;
(b) jumlah aktiva dan kewajiban yang diserahkan oleh setiap perusahaan; dan
(c) pendapatan penjualan, pendapatan operasional lainnya, pos luar biasa dan laba bersih
(rugi) dari masing-masing perusahaan untuk periode sebelum penggabungan, yang
termasuk dalam laba bersih (rugi) yang disajikan dalam laporan keuangan gabungan.