Nama Program : Sumbangsih PT.
Hattori Untuk Bumi
TEMA : “ MENANAM POHON UNTUK KEHIDUPAN ”
“ Minna no tame ni kiwoueyou “
MISI : Penerapan Sistem Pengolahan Limbah Cair Industri
Berbasis Intergrasi Pertanian Terpadu
Hasil dari proses alat Pengolahan Limbah Cair ( Out PAL ) PT. Hattori Indonesia berharap
dapat di manfaatkan untuk :
1. Penggunaan ulang air untuk proses sizing dan boiler
2. Penyiraman tanaman setelah sesuai dengan standar baku mutu air
3. Pembuatan Pupuk Organik Cair ( pengembangan / sertifikasi balitsa : Permentan no.8 )
4. Pakan Ternak ( pengembangan / sertifikasi kimia agro – lembang )
Penerapan ini diharapkan bahwa limbah yang sebelumnya menjadi masalah disetiap
perusahaan tekstil, ternyata memikili manfaat yang produktif sehingga tidak terjadi lagi ada
aktivitas membuang limbah ke sungai terutama sungai citarum. Dengan ketersediaan air
untuk penyiraman dan pupuk yang cukup maka sudah selaiknya setiap perusahaan untuk ikut
serta menghijaukan kembali hulu sungai citarum dengan menyediakan tanaman keras yang
dapat dibibitkan oleh semua perusahaan serta menanam pohon produktif utuk membantu
menghijaukan di lokasi perusahaannya ( mengurangi pemanasan global ).
RANCANGAN BFD IPAL SIZING
BFD IPAL BOILER
Flokulan
Tahap 3 ( akhir )
Bentuk Limbah Boiler
− Limbah cair :
Buangan regenerasi WTP, boiler blowdown, airheater blowdown,
desalination blowdown, domestic waste water, hydrogen plant,
sistem air pendingin PLTU, minyak dan pelumas.
− Limbah padat :
Abu sisa pembakaran batubara atau minyak, debu (dust) batubara.
− Limbah gas :
Gas yang dihasilkan sebagai hasil sisa pembakaran bahan bakar
fossil : gas carbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (N0X),
Sulphur Dioksida (S02). Gas hidrogen dari hydrogen plant.
Limbah Cair Boiler
Air Limbah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pe ncemaran air,
yang dimaksud dengan air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair.
Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam proses produksinya. Di samping itu ada pula baha n baku yang
mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air tersebut harus dibuang, mencuci suatu komponen dengan menambahkan baha n kimia
tertentu. Semua jenis perlakuan ini mengakibatkan adanya air buangan ( limbah ).
Air dari industri membawa sejumlah padatan dan partikel, baik yang larut maupun yang mengendap. Bahan ini ada yang kasar dan ada yang halus.
Seringkali air buangan industri dari mesin boiler berwarna keruh dan bersuhu [Link] limbah yang telah tercemar mempunyai ciri yang dapat
diidentifikasikan secara visual dari kekeruhan, warna, rasa, bau yang ditimbulkan dan indikasi lainnya. Sedangkan identifikas i secara laboratorium
ditandai dengan perubahan sifat kimia air. Mungkin air telah mengandung B-3 dalam konsentrasi yang melampaui batas yang dianjurkan.
Limbah Cair Boiler ( Proses Tungku Uap )
Limbah cair yang dihasilkan dari pengoperasian PLTU dapat dikelompokkan menjadi:
1. Limbah Cair Dari External Treatment
Limbah buangan Water Treatment Plant
Limbah hasil sisa regenerasi Water Treatment Plant dapat bersifat asam (pH < 7) ataupun basa (pH > 7) tergantung dari banyaknya buangan
pencucian sisa regenerasi WTP. Cara mengatasi hal ini yaitu dengan proses netralisasi, sebagai berikut :
Pada posisi permukaan tertentu air sisa buangan cucian regenerasi di dalam bak penetral disirkulasikan dengan pompa penetral (start secara
manual).Tergantung dari pembacaan sensor saat itu, apabila pH menunjukkan asam (pH < 7), maka larutan basa dari katup tangki harian kaustik
soda (NaOH) akan membuka dan menetralkan air buangan demikian sebaliknya dengan larutan asam dari tangki harian asam HCl. Apabila pH
telah memenuhi syarat baku mutu air buangan (7-9), air buangan dibuang ke luar ke saluran pembuangan.
Limbah buangan desalination plant
Brine dari pompa blowdown secara periodik dipantau nilai pH, suhu dan kandungan phospatnya (apabila memakai poly-phospat injection system).
Apabila terdapat deviasi dilakukan tindakan-tindakan koreksi agar air buangan tidak melebihi nilai ambang batas.
2. Limbah Buangan Dari Internal Water Treatment
Limbah dari buangan air ketel perlu dipantau dan diketahui nilai pH-nya, kandungan phospat, tidak boleh
melebihi nilai ambang batas yang diijinkan.
Apabila terjadi deviasi pada air buangan, maka segera dilakukan tindakan pencegahan (misalnya dengan
mengurangi blowdown ketel dan lain sebagainya).
3. Limbah Air Pendingin Kondensor
Untuk menekan perkembangan pertumbuhan kotoran /lumut / biota/tumbuhan air yang dapat
mengganggu proses perpindahan kalor di kondensor, maka pada sisi masuk saluran air pendingin
diinjeksikan larutan cairan hypochlorite secara berkesinambungan.
Kadar hypochlorite yang terlalu berlebihan dapat merusak habitat microorganisme di alam sehingga dapat
mengganggu ekosistem.
Apabila kadar hypochlorite di dalam air pendingin melebihi batas yang disyaratkan (> 0,1 ppm), maka perlu
dilakukan koreksi pada hypochlorite generator dengan cara mengecilkan arus elektrolysis.
4. Limbah bahang
(Air panas) juga dapat dihasilkan dari air pendingin apabila panas yang dibuang dari uap bekas diserap oleh
air pendingin.
Tabel 1. Baku Mutu Air Limbah Boiler
A. Sumber Proses Utama
No Parameter Satuan Kadar Maksimum
1 pH - 6-9
2 TSS mg/L 100
3 Minyak dan mg/L 10
Lemak
4 Klorin Bebas mg/L 0,5
(Cl2 ) (Bila dialirkan ke WWTP)
5 Kromium Total mg/L 0,5
(Cr)
6 Tembaga (Cu) mg/L 1
7 Besi (Fe) mg/L 3
8 Seng (Zn) mg/L 1
9 Phosphat (PO4 3-) (Bila ada injeksi) mg/L 10
B. Sumber Blowdown Boiler (Bila tidak dialirkan ke WWTP)
10 pH - 6-9
11 Tembaga (Cu) mg/L 1
12 Besi (Fe) mg/L 3
C. Sumber Blowdown Cooling Tower (Bila tidak dialirkan ke WWTP)
13 pH - 6-9
14 Klorin Bebas mg/L 1
(Cl2 )
15 Seng (Zn) mg/L 1
16 Phosphat (PO4 3-) mg/L 10
Pengelolan Limbah
BAHAN BAKU
Sumber Daya Lingkungan
INDUSTRI
Produk
Limbah Beracun& Berbahaya
Konsumen
Pengolahan
Daur-ulang Pembuangan Limbah
Produk
Pengolahan
Konsumen Limbah
Pembangunan
memenuhi syarat
Tata Kerja
Pada pengerjaan awal dilakukan pengumpulan data, pengolahan data dan analisis
data. Pengumpulan data meliputi data (i) sumber-sumber air limbah yang ada di
lokasi perusahaan, (ii) model diagram alir sistem pengolahan air limbah, (iii) proses
pengolahan air limbah, (iv) spesifikasi sistem pengolahan air limbah dari hasil proses
Sizing dan Mesin boiler PT. Hattori Indonesia, (v) kualitas air olahannya.
Pengolahan data dimaksudkan untuk memperoleh data: (i) teknologi/peralatan dan
bahan kimia yang digunakan dalam sistem pengolahan air limbah, (ii) proses biologi,
fisika dan kimia yang diperlukan dalam sistem pengolahan air limbah. Teknologi
mendiskripsikan jenis peralatan dan spesifikasi peralatan, termasuk bahan-bahan
kimia yang digunakan dalam pengolahan air limbah. Proses biologi meliputi proses
pemecahan zat organik menggunakan penambahan mikroorganisme aerob atau
anaerob yang sesuai dengan kebutuhan. Proses fisik meliputi penyaringan, pemisahan,
aerasi dan pengadukan. Sedangkan proses kimia meliputi pengaturan pH, oksidasi,
penambahan koagulan, penambahan flokulan, penetralan dan pengecekan pH air.
Analisis data dimaksudkan untuk memperoleh data: (i) karakteristik kimia air limbah
yang belum diolah (input) dan sudah diolah (output) dari instalasi pengolahan air
limbah, (ii) hasil olahan air limbah desain awal dan aktual. Selanjutnya data kimia air
limbah Sizing dan boiler yang “belum diolah (input)” dibandingkan dengan yang
“sudah diolah (output)”. Nilai kemasaman (pH) dihitung berdasarkan konsentrasi ion
Hidrogen yang terkandung di dalam (output) air limbahnya bersifat asam dengan nilai
pH limbah menggunakan rumus :
berkisar antara 2 dan 4. Air limbah dari boiler merupakan produk dari proses
blowdown boiler yaitu proses pembilasan pada komponen bagian dalam boiler dengan
maksud untuk menjaga Perbandingan (input) dengan (output) dihitung tingkat
maksimum dari padatan terlarut dan berdasarkan nilai efisiensinya menggunakan
terendap pada tingkat yang diizinkan. Rumus diatas
Proses Pengolahan Air Limbah dan Komponennya
Proses pengolahan air limbah pada WWTP di PT. Hattori Indonesia melalui 5 tahapan, yaitu
pretreatment, primary treatment, secondary treatment, tertiary treatment dan pengolahan lumpur.
Proses pretreatment merupakan perlakuan pendahuluan yang meliputi penyaringan kasar.
Proses primary treatment merupakan penyisihan partikel kasar mengendap, mengapung dan
minyak/ oli/ lemak secara proses fisika. Proses secondary treatment merupakan penyisihan
suspended solid, BOD, logam - logam terlarut secara proses kombinasi (fisika, kimia dan
biologi). Proses tertiary treatment merupakan tahap lanjutan setelah proses kombinasi fisika,
kimia dan biologi. Proses pengolahan lumpur.
Pada proses pretreatment, komponen pentingnya adalah Bak penampungan awal dan Screen.
Secondary Treatment merupakan Waste Water Storage Ponds (WWSP), yaitu kolam untuk
menampung air limbah hasil dari bak penampungan awal . Sebagai kolam aerasi di dalamnya
terjadi proses peningkatan kandungan oksigen dalam air limbah. Proses yang terjadi di dalam
WWSP adalah pengolahan kombinasi secara fisika, biologi dan kimiawi. Pengolahan air limbah
secara biologi melibatkan kegiatan mikroorganisme dalam air untuk melakukan transformasi
senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam air menjadi senyawa lain lebih sederhana.
Mikroorganisme mengkonsumsi bahan-bahan organik membuat biomassa sel baru serta zat-zat
organik dan memanfaatkan energi yang dihasilkan dari reaksi oksidasi untuk metabolismenya.
Pengolahan air limbah secara biologi dimaksudkan untuk menyisihkan atau menurunkan
konsentrasi senyawa-senyawa organik maupun anorganik dengan memanfaatkan berbagai
mikroorganisme, terutama bakteri (Metcalf & Eddy, 1979).
Zat organik yang terkandung dalam air limbah berguna sebagai makanan dan pertumbuhan sel baru.
Berikut reaksinya:
Zat organik + MO + O → CO + H O + NH
2 2 2 3
+ (SO4)-2 + (PO4)-3 + sel–sel baru
mikroorganisme
Selain pendegradasian senyawa organik pada proses biologi, proses aerasi juga bertujuan memisahkan
larutan gas amoniak di dalam air limbah. Pengubahan amonium menjadi nitrat, yaitu dengan
memanfaatkan bakteri nitrosomonas dan nitrobakter dalam suasana aerob. Berikut reaksi yang terjadi :
NH4 + 1,5O2 → 2H+ + H2O + (NO2)-
2NO2 + O2 → 2(NO3)- 2NO2- + H2O → (NO3)- + 2H+ + 2e-
Pengolahan air limbah secara fisika melibatkan kegiatan aerasi secara difusi, yaitu air limbah di dalam
WWSP dihembuskan udara melalui diffuser oleh blower sehingga minyak dan padatan yang larut dalam air
menguap serta menyisihkan gas metan (CH4), karbon dioksida (CO2), H2S, bau, rasa dan gas-gas lainnya.
Diffuser sebagai anti sumbat dengan lubang kecil agar didapat pembagian udara yang merata. Kolam
aerasi dan diffuser dibuat/dipasang secara terpisah yang dihubungkan dengan pipa-pipa sehingga terjadi
efek pencampuran dan pengadukan yang cukup dan seluruh bagian air terkena kontak dengan oksigen
terlarut (DO) dan tidak terjadi pengendapan zat padat dalam kolam. Pada proses ini terjadi pengikatan gas
oksigen (O2) oleh air sehingga menurunkan nilai BOD dan COD.
Pada proses pengolahan kimiawi terjadi reaksi pembentukan asam sulfat di dalam kolam WWSP :
C6H12O6 (senyawa organik) + Mikro Organisme → 6C + H2SO4.6H2O
Adanya kandungan alkalinity, ion bikarbonat (HCO3)- yang cukup besar dalam air, menyebabkan senyawa
besi atau tembaga berada dalam bentuk senyawa Fe(HCO3)2 atau
Mn(HCO3)2, berikut reaksi kimianya :
H2O + CO2 → H2CO3
H2CO3 → H+ + HCO3-
Fe2+ + HCO3- → Fe(HCO3)2 (larutan tidak stabil)
Mn2+ + HCO3- → Mn(HCO3)2 (larutan tidak stabil)
4 Fe(HCO3)2 + 2 H2O + O2 → 4 Fe(OH)3 + 8
CO2
FeCO3 + H2O → Fe(OH)2 + CO2
Mn(HCO3)2 → MnCO3 + CO2 + H2O
4 FeCO3 + 6 H2O + O2 → 4 Fe(OH)3 + 4 CO2 MnCO3 + H2O → Mn(OH)2 + CO2 Dalam
keadaan teroksidasi, besi dan mangan terlarut di air. Bentuk senyawa dengan larutan ion, keduanya
terlarut pada bilangan oksidasi +2, yaitu Fe2+ dan Mn2+. Ketika kontak dengan oksigen atau oksidator
lain, besi dan mangan akan teroksidasi menjadi valensi yang lebih tinggi, bentuk ion kompleks baru yang
tidak larut ke tingkat yang cukup besar. Oleh karena itu, mangan dan besi dihilangkan dengan
pengendapan setelah aerasi. Reaksinya dapat ditulis sebagai berikut :
4 Fe2+ + O2 + 10 H2O → 4 Fe(OH)3 + 8 H+ 2 Mn2+ + O2 + 2 H2O → 2 MnO2 + 4 H+
Di dalam kolam oksidasi terjadi proses pengolahan secara kimiawi, yaitu proses pembentukan
senyawa oksida agar dapat terjadi senyawa yang stabil dengan adanya penambahan valensi yang
lebih tinggi. Berikut reaksi kimianya : 4Fe(HCO3)2 + O2 → 2Fe2O3 + 4H2O + 8CO2
Fe2O3 + 6HCl → 3H2O + 2FeCl3
FeO + 2HCl → H2O + FeCl2
FeCl 2 + 2NaOH → 2NaCl + Fe(OH)2 Mn2O3 + 6HCl → 3H2O + 2MnCl2 + Cl2 Mn(OH)2 + 2NaOH +
Cl2 → 2NaCl + H2O + H2MnO3
2HNO3 + 6HCl → 4H2O + 2NO ↑ + 3Cl2 ↑
Di dalam kolam oksida juga terjadi proses penetralan air limbah, hal ini dimaksudkan untuk
memperlancar proses koagulasi saat air limbah masuk ke dalam coagulant pit (pengolahan
berikutnya). Nilai pH merupakan salah satu faktor yang menentukan proses koagulasi. Pada
koagulan PAC (Poly Aluminium Chloride) yang digunakan pada WWTP ini mempunyai kisaran pH
yang optimum 4,5-7,0. Jadi proses koagulasi akan sempurna apabila kondisi air limbah saat proses
koagulasi pada kisaran pH 4,5-7,0. Untuk proses koagulasi pH yang terbaik sekitar 7,0 (pH netral).
Sistem kerja kolam oksidasi yaitu air limbah yang masuk ke dalam kolam akan terbaca oleh pH
control. pH control di WWTP ini diatur kisaran 6,5-8,5. Apabila indikator pH menunjukkan limbah
dalam kondisi basa (>8,5) maka pH control akan memerintahkan bahan kimia berupa asam (HCl)
untuk mengalir masuk, sehingga dapat menetralkan air limbah. Sebaliknya, jika limbah dalam
kondisi asam (<6,5) maka maka pH control akan memerintahkan bahan kimia berupa basa (NaOH)
untuk mengalir masuk, sehingga dapat menetralkan air limbah tersebut. Bahan kimia HCl dan
NaOH disuplai dari chemical tank.
Pada Tertiary Treatment terdapat kolam koagulasi berisi coagulant, dan air limbah dari
kolam oksidasi dialirkan secara gravitasi ke dalam kolam koagulasi, dan selanjutnya
ditambahkan koagulan berupa larutan PAC (Polyalumunium Chlorida) dari tangki bahan
kimia. Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel koloid tidak mengendap
(bersifat stabil), suspended solid, serta padatan tidak mengendap, dengan penambahan
koagulan disertai dengan pengadukan cepat untuk mendispersikan bahan kimia secara
merata. Akibat pengadukan cepat, koloid dan partikel yang stabil berubah menjadi tidak
stabil karena terurai menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif. Pembentukan ion
positif dan negatif juga dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses ini berlanjut
dengan pembentukan ikatan antara positif dari koagulan (Al3+) dengan ion negatif dari
partikel (misal Cl-) dan antara ion positif dari partikel (misal Fe2+) dengan ion negatif dari
koagulan (Cl-) yang menyebabkan pembentukan inti flok. Reaksi kimia untuk mengasilkan
flok adalah :
Al(OH)Cl2 + 4H2O → 2Al(OH)3 + 4HCl (Reaksi di dalam tangki PAC)
2Al(OH)3 + 4HCl + 2Fe(OH)2 → 2Al(OH)3↓ + 2FeCl2 + 4H2O
2Al(OH)3 + 2HCl + Cu(HCO3)2 → 2Al(OH)3↓ + CuCl2 + 2H2O + 2CO2
Setelah terjadi reaksi pembentukan inti flok senyawa Alumunium Hidroksida dalam proses
koagulasi lalu dilanjutkan ke dalam proses penggabungan inti-inti flok dalam kolam
floculant.
Di dalam kolam flokulasi, air limbah ditambahkan bahan kimia (polimer) berupa praestol 2640
yang berasal dari tangki bahan kimia (tangki Polimer). Pemberian larutan Polimer dilakukan oleh
dosing pump dengan mengatur debit pada kontrol pompa, yang kemudian diaduk dengan mixer
di dalam kolam flokulasi. Koloid akan menyatu dan menggumpal. Pengaturan dosis Polimer
diatur dengan melihat hasil flokulasi. Di dalam tangki bahan kimia (tangki polimer)
Kolam pengendapan (Clarifier)
Proses yang terjadi di dalam clarifier secara fisika, yaitu air limbah dari kolam flokulasi (floculant)
mengalir masuk ke bagian tengah kolam clarifier, selanjutnya sludge jatuh ke bawah secara
gravitasi dan dikumpulkan ke tengah oleh scraper clarifier untuk menuju ke thickener dan di
salurkan ke bak penampung awal lumpur di proses pengolahan limbah sludgenya menjadi kering
( bed dryer machine ).
Sand Filter merupakan tempat penampungan air limbah yang telah netral, dan di dalamnya
terjadi proses pengolahan secara fisika, yaitu proses filtrasi menggunakan media penyaring
pasir. Media penyaring biasanya lebih dari satu lapisan, yaitu pasir kwarsa dan batu dengan
ukuran mesh tertentu. Air mengalir ke bagian bawah melalui media tersebut. Zat-zat padat yang
tidak larut akan melekat pada media, sedangkan air yang jernih akan terkumpul di bagian dasar
dan mengalir keluar melalui suatu pipa menuju kolam effluent. Sand filter ini bertujuan
menyaring flok halus dan kotoran lain yang lolos dari clarifier sehingga menghasilkan air
dengan kualitas yang lebih baik, bebas dari bakteri patogen, jernih, bebas dari rasa dan bau
tanpa menggunakan bahan kimia tambahan. Kualitas sand filter lambat laun akan menurun
seiring waktu pengoperasian karena banyaknya kotoran yang terhambat sehingga perlu
dilakukan proses backwash (pencucian) dan selanjutnya dilakukan proses rinsing (pembilasan)
untuk meningkatkan kinerja dari saringan pasir tersebut. Air limbah yang telah memenuhi
standar kisar pH (6,5-8,5) akan dialirkan ke sand filter dengan menggunakan filter pump dan
selanjutnya dialirkan menuju effluent tank.
Daftar Pustaka
Eddy, Bambang Isti. Turbin Uap. Diktat perkuliahan Teknik Tenaga Uap dan Gas. STTYPLN.
Hidayat, Wahyu. Teknologi Pengolahan Air
Limbah. 1 Januari 2008.
([Link] diakses 28 Oktober 2011: 02.15 WIB).
Kristanto, Philip. Ekologi Industri. Edisi 1.
Yogyakarta: Andi. 2002.
Kusuma, Anton Dwi. Siklus Rankine Ideal. Tutorial Teknik. Selasa, 24 Mei 2011.
([Link] [Link], diakses 24 Oktober 2011:
23.15 WIB).
Krivchenko, Hydraulic Machines Turbines and Pumps, CRC Press, Florida ,1994.
Marsudi, Djiteng. Pembangkitan Energi Listrik.
Erlangga. 2005.
Nechleba, Miroslav, Dr. Techn, M.E. Hyroulic
Turbine, Artia Pregue, Artia Prague,
Czechoslovakia, 1957
Wang, Lawrance K; Hung, Yung-tse; Lo, Howard H; Apijakis, Constantine Y. Handbook of Industrial and Hazardous Wastes Treatment Second Edition, Revised and
Expanded. New York, USA : Marcel Dekker, Inc. 1992.
Wang, Lawrance K, dkk. Advanced Physicochemical Treatment Processes; page 525. Handbook of environmental engineering.
Vol 4.
Warlina, Lina. Pencemaran Air: Sumber, Dampak Dan Penanggulangannya. Makalah Pengantar ke Falsafah Sains, Sekolah Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian
Bogor. Juni 2004. Ir. Sularso, MSME, & Prof. DR. Haruo Tahara.
Pompa Dan Kompresor. Edisi ke-3. Jakarta: PT.
Pradnya Paramita. 1987.