Penatalaksaaan Stomatitis Apthous Reccurent yang Dipicu Stres
Management of Recurrent Aphthous Stomatitis et Causa Stress
Justika Oktavia1 Erlina Sih Mahanani2
1
Student, School of Dentistry, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2
Lecuturer, School of Dentistry, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Korespondensi : [Link]@[Link]
Abstrak
Stomatitis Apthous Reccurent adalah salah satu lesi yang paling sering terjadi didalam rongga
mulut. Etiologi SAR belum diketahui pasti, namun faktor beberapa faktor predisposisi
diketahui menyebabkan terjadinya SAR. Stres merupakan salah satu faktor predisposisi
terjadinya SAR. Pada kasus ini, seorang pasien laki-laki usia 24 tahun datang memeriksakan
sariawan yang ada pada bibir bawahnya. Sariawan tersebut sudah terjadi sejak 2 hari yang
lalu. Pasien merasakan sakit perih pada sariawannya tersebut. Skor nyeri yang dirasakan yaitu
4 dari skala 1-10. Pasien belum mengobati sariawannya. Pasien mengaku sariawannya sering
terjadi berulang. Terakhir sariawan tersebut terjadi 3 bulan yang lalu. Pasien mengaku Ibunya
juga sering terkena sariawan yang berulang. Pasien saat ini sedang memiliki menghadapi
ujian CPNS sehingga membuatnya stres dan sering tidur hingga larut malam.
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah menejemen stres pada pasien agar kejadian SAR dapat
turun dan pemberian obat topikal triamcinolone acetonide yang mampu mengurangi rasa
sakit karena SAR.
Kata Kunci : Stomatitis Apthous Reccurent, Stres, Triamcinolone Acetonide
Abstract
Reccurent apthous stomatitis is one of the most common lesions in the oral cavity.
The etiology of RAS is not known with certainty, but several predisposing factors are known
to cause RAS. Stress is one of the predisposing factors for RAS. In this case, a 24-year-old
male patient came for a sprue check on his lower lip. Thrush has occurred since 2 days ago.
The patient feels pain in his mouth sores. The perceived pain score is 4 on a scale of 1-10.
The patient has not treated his mouth sores. Patients admitted that thrush often recurs. The
last thrush occurred 3 months ago. The patient claimed his mother was also often affected by
recurrent canker sores. The patient is currently having a CPNS exam which makes him
stressed and often sleeps late into the night. Management in this case is stress management in
the patient so that the incidence of RAS may go down and administration of topical
triamcinolone acetonide drugs that can reduce pain due to RAS.
Keywords : Reccurent apthous stomatitis, Stress, Triamcinolone Acetonde
PENDAHULUAN sekaligus) dapat menyatu bersama
menghasilkan lesi besar yang tidak teratur.
Stomatitis aphthous adalah salah
Lesi ini dapat bertahan selama 7-10 hari
satu penyakit ulseratif yang paling sering
tanpa meninggalkan bekas. 3
terjadi didalam rongga mulut. Stomatitis
Penelitian menunjukkan bahwa
apthous dapat terjadi pada 10-20 %
SAR lebih umum terjadi pada wanita
populasi dan dapat terjadi kekambuhan
dewasa atau anak -anak, atau orang kulit
dalam rentang waktu 3 bulan1. Stomatitis
putih, atau orang dengan status
yang terjadi secara berulang disebut
sosioekonomi tinggi. SAR terjadi pada
Stomatitis Apthous Reccurent (SAR).
20% populasi di Amerika Utara dan 2-66%
Lesi SAR dapat berupa ulser tunggal
populasi internasional. Meskipun SAR
maupun lebih dari satu. SAR dapat
dapat terjadi pada usia berapapun, SAR
menyerang mukosa mulut yang tidak
biasanya timbul pada dekade kedua dan
berkeratin yaitu mukosa bukal, labial,
ketiga. SAR minor adalah bentuk yang
lateral dan ventral lidah, dasar mulut,
paling umum terjadi pada masa anak-anak.
palatum lunak dan mukosa orofaring
SAR mayor pertama kali terjadi setelah
dengan karakteristik gambaran klinis
pubertas dan menetap selama 20 tahun.
berupa ulkus nekrotik dengan batas jelas
SAR herpetiformis terjadi sebelum usia 30
dan dikelilingi erythematous halo.2
tahun pada 67-85% pasien. Lebih dari 40%
Menurut ukurannya Stomatitis
pasien memiliki keluarga dekat yang juga
dibedakan menjadi 3 yaitu tipe mayor,
menderita SAR.4
minor, dan hepertiform. Stomatitis minor
Etiologi dari SAR belum diketahui
ukuran biasanya kurang dari 1 cm (10 mm)
secara pasti. Namun SAR dapat timbul
dan sembuh tanpa meninggalkan jaringan
karena faktor-faktor predisposisi seperti
parut dalam waktu 10 hingga 14 hari.
kekurangan zat hematinik (zat besi, folat,
Stomatitis mayor memiliki ukuran lebih
dan vitamin B12), menstruasi, stres, alergi,
dari 1 cm (10 mm) menyebabkan ulserasi
dan AIDS.5 SAR juga banyak terjadi pada
yang lebih dalam sehingga meninggalkan
orang-orang yang mempunyai stres berat
bekas luka. Dan yang terakhir adalah tipe
kemungkinan dikarenakan saat stres terjadi
Herpetiform. Herpetiform adalah varian
penurunan sistem imun dan menyebabkan
SAR yang paling jarang ditemui. Ukuran
destruksi jaringan 6
. Tulisan ini
lesi SAR hepertiform sangat kecil
melaporkan petatalaksanaan perawatan
berukuran diameter 2-3 mm, memiliki
SAR yang dipicu oleh stres.
jumlah yang banyak (sekitar 100 lesi
KASUS
Seorang pasien laki-laki usia 24
tahun datang memeriksakan sariawan yang
ada pada bibir bawahnya. Sariawan
tersebut sudah terjadi sejak 2 hari yang
lalu. Pasien merasakan sakit perih pada Gambar 1. SAR pada mukosa labial bawah
sariawannya tersebut. Skor nyeri yang TATALAKSANA KASUS
dirasakan yaitu 4 dari skala 1-10. Pasien
Kunjungan I (28 November 2019)
belum mengobati sariawannya. Pasien
mengaku sariawannya sering terjadi Berdasarkan anamnesis,
berulang. Terakhir sariawan tersebut pemeriksaan klinis, dan riwayat penyakit,
terjadi 3 bulan yang lalu. Pasien mengaku diagnosis klinis kasus ini adalah SAR
Ibunya juga sering terkena sariawan yang minor, dengan diagnosis banding ulkus
berulang. Pasien saat ini sedang memiliki traumatikus. Pasien dirawat pemberian
menghadapi ujian CPNS sehingga triamsinolone acetonide 0,1 % dalam
membuatnya stres dan sering tidur hingga orabase 2x/hari setelah makan dan
larut malam. Pasien jarang mengonsumsi sebelum tidur . Pasien diberikan
sayur. Pasien menggosok giginya 2 kali komunikasi, Informasi, dan edukasi
sehari. Pasien tidak memiliki riwayat mengenai keadaan pasien dan tentang
penyakit sistemik ataupun alergi obat. hubungan stres yang dialami pasien
Pemeriksaan klinis menunjukkan terhadap kejadian SAR tersebut.
keadaan umum pasien tampak sehat.
Kunjungan II (12 April 2019)
Pemeriksaan ekstra oral memperlihatkan
sedikit pembengkakan pada limfonodi Pasien datang untuk melakukan
submentale serta nyeri tekan. kontrol terhadap sariwannya. Pasien
mengaku sariawannya sembuh dalam
Pada pemeriksaan intraoral
waktu 2 minggu. Pasien selalu mengobati
ditemukan lesi ulserasi pada mukosa
sariawannya dengan obat yang telah
labial bawah, tunggal, diameter 8 mm,
diberikan.
berwarna putih kekuningan dengan tepi
kemerahan dan memiliki nyeri tekan. Pada pemeriksaan objektif
ditemukan mukosa labial bawah sudah
tidak terdapat lesi SAR dan tidak
meninggalkan bekas. Pasien juga sudah
mengerti bahwa stres dapat memicu sehingga rentan terhadap peradangan pada
terjadinya SAR sehingga pasien selalu rongga mulut. Respons stres
berusaha untuk meminimalkan terjadinya mengakibatkan hipotalamus mengeluarkan
stres bila mendapati masalah. Corticotropin-Releasing Hormone (CRH)
kemudian CRH stimulasi kelenjar pituitari
melepas Hormon adrenokortikotropik
(ACTH), ACTH stimulasi korteks adrenal
memproduksi kortisol.9 Glukokortikoid
termasuk kortisol menekan fungsi imun
seperti fungsi IgA, IgG dan fungsi
neutrofil. IgA dirangkaian dengan
Gambar 2. Mukosa labial pada saat kontrol
sekretori yang di produksi oleh sel lokal,
komponen sekretori bertindak sebagai
PEMBAHASAN
reseptor untuk memudahkan IgA
SAR pada kasus ini adalah SAR menembus epitel mukosa. Fungsi IgA
tipe minor yang terjadi pada mukosa labial adalah mengikat virus maupun bakteri
bawah. (SAR) merupakan manifestasi sehingga mencegah mikroorganisme
yang timbul dalam rongga mulut yang tersebut melekat pada permukaan mukosa.
dipicu oleh faktor predisposisi. Etiologi IgA mengaktivasi komplemen melalui
RAS belum diketahui dengan jelas namun jalur alternatif sehingga mikroorganisme
ada beberapa faktor predisposisi SAR mudah difagositosis. Penurunan fungsi
yaitu faktor genetic, kekurangan hematinik IgA pada stres akan mempermudah
(zat besi, folat, dan vitamin B12), perlekatan mikroorganisme ke mukosa
menstruasi, stres, alergi, alergi sehingga mikroorganisme mudah invasi ke
makanan,trauma local, merokok, produk mukosa, mikroorganisme juga sulit di
kimia dan agen mikroba . SAR ditandai
7,8
fagosit menyebabkan mudah terjadi infeksi
dengan munculnya ulkus nekrotik di awal . IgG merupakan imunoglobulin utama
10
dengan tepi yang jelas dan dikelilingi area yang dibentuk atas rangsangan antigen.
kemerahan. Lesi kebanyakan terjadi pada IgG paling mudah berdifusi ke dalam
mukosa tidak berkeratin dan dapat sembuh jaringan ekstravaskuler dan melakukan
sendiri. aktivitas antibodi di jaringan. IgG melapisi
Pada pasien ini, SAR yang terjadi mikroorganisme sehingga partikel itu lebih
dipicu oleh faktor stres psikologis. Dimana mudah difagositosis, disamping itu IgG
stres pada pasien merubah sistem imun juga mampu menetralisasi toksin dan
virus. IgG dapat melekat pada reseptor Fc melibatkan respos imun selular, efek anti
yang terdapat pada permukaan sel sasaran inflamasi yaitu menekan penimbunan sel
dan memungkinkan terjadinya proses sel lekosit pada daerah radang. Kortisol
antibody dependent cell mediated menekan SigA, IgG dan sel neutrofil akan
cytotoxicy (ADCC). Reseptor Fc adalah menyebabkan mudah terjadi infeksi.
reseptor imun yang berfungsi untuk Banyaknya mediator IL-1 dan matrik
merangsang fagositosis. Penurunan fungsi metaloproteinase menyebabkan terjadinya
IgG pada stres akan memudahkan penyakit SAR11.
terjadinya kondisi patologis, karena
Pada kasus ini pasien diberikan
penurunan fagositosis, toksin dan virus
pengobatan simtomatik yang bertujuan
tidak bisa dinetralisir11. Neutrofil bereaksi
meringankan rasa nyeri pada pasien, yaitu
cepat terhadap rangsangan, dapat bergerak
dengan pemberian pengobatan topical
menuju daerah inflamasi karena
berupa Triamcinolone acetonide 0,1%.
dirangsang oleh faktor kemotaktik antara
Triamcinolone acetonide adalah obat
lain dilepaskan oleh komplemen dan
Kortikosteroid topikal. Kortikorteroid
limfosit teraktivasi. Seperti halnya
tidak mempercepat penyembuhan lesi,
makrofag, fungsi neutrofil yang utama
tetapi dapat mengurangi rasa sakit pada
adalah memberikan respon imun non
peradangan yang ada. Sedangkan pada
spesifik dengan melakukan fagositosis
triamcinolone acetonide, kortikosteroid
serta membunuh dan menyingkirkan
dicampur dengan media orabase yang
mikroorganisme. Fungsi ini didukung dan
dapat membuatnya melekat pada mukosa
ditingkatkan oleh komplemen atau
mulut yang selalu basah. Jika pengolesan
antibodi. Neutrofil juga mempunyai
obat ini dilakukan dengan tepat, maka
granula yang berisi enzim perusak dan
orabase akan menyerap cairan dan
berbagai protein yang merusak
membentuk gel adesif yang dapat bertahan
mikroorganisme pada kondisi stres fungsi
melekat pada mukosa mulut selama satu
neurtofil mengalami penurunan,
jam atau lebih. Namun, pengolesan pada
fagositosis menurun, penurunan dalam
erosi/ulser agak sedikit sulit untuk
membunuh mikroorganisme12. Respons
dilakukan. Gel yang terjadi akan
dari stres mengeluarkan glukokortikoid
membentuk lapisan pelindung di atas
termasuk kortisol, glukokortikoid
ulkus, sehingga pasien akan merasa lebih
termasuk kortisol efek terhadap sistem
nyaman. Kortikosteroid akan dilepaskan
imun, yaitu imunosupresi dan efek anti-
inflamasi. Efek ini lebih banyak
secara perlahan. Selain itu obat ini juga [Link]
memiliki sifat anti inflamasi12. Akses 27 Januari 2014.
5. Junhar GM, Suling PL, Supit ASR.
KESIMPULAN
2015. Gambaran Stomatitis Aftosa
Disimpulkan bahwa faktor Rekuren Dan Stres Pada Narapidana Di
predisposisi dari SAR Minor yang terjadi Lembaga Pemasyarakatan Kelas Ii B
pada pasien adalah akibat dari stres. Bitung. Jurnal E-Gigi (Eg).3 (1)
Perawatan yang dilakukan adalah 6. Hernawati, S. 2014. Mekanisme Seluler
menekankan komunikasi, informasi, dan dan Molekuler Stres Terhadap
edukasi kepada pasien agar bisa Terjadinya Recurrent Apthous
memenejemen stresnya dan memberikan Stomatitis. Jurnal PDGI. (63):1
obat topikal triamcinolone acetonide untuk 7. Belenguer-Guallar I , Jiménez-Soriano
mengurangi rasa sakit akibat SAR. Y, Claramunt-Lozano A. 2014.
Treatment of recurrent aphthous
DAFTAR PUSTAKA
stomatitis: A literature review. J Clin
1. Preeti L, Magesh K, Rajkumar K,
Exp Dent. 2014;6(2):e168-74
Karthik R (2011) Recurrent aphthous
8. Junhar GM, Suling PL, Supit ASR.
stomatitis. J Oral Maxillofac Pathol 15:
2015. Gambaran Stomatitis Aftosa
252-256.
Rekuren Dan Stres Pada Narapidana Di
2. Kumar A M., Ananthakrishnan V,
Lembaga Pemasyarakatan Kelas Ii B
Goturu J. 2014. Etiology And
Bitung. Jurnal E-Gigi (Eg).3 (1)
Pathophysiology Of Recurrent Aph-
9. Glaser R, Kiecolt Glaser JK. Stres
thous Stomatitis: A Review. Int J Cur
induced immune dysfunction for health.
Res Rev. 06 (10)
2005. Accessed from:
3. Swain N, Pathak J, Poonja LS, Penkar
[Link]/reviews/immunol.
Y (2012) Etiological factors of
Diakses Desember 2007.
recurrent aphthous stomatitis: A
10. Dolic M, Baller J, Staehle H, Eickholz
common perplexity. J Contemp Dent 2:
P. Psychosocial factor as risk indication
96-100.
of periodontal. J Clin Periodontal 2005;
4. Jurge, S. Kuffer, R. Scully, C. Porter,
32: 1134-40.
SR. Mucosal Disease Series (Number
11. Graham JE, Christian LM, Kiecolt–
VI: Recurrent Aphthous Stomatitis).
Glaser JK. Stress, ageand immune
Blackwell Munksgaard; 2006.
function: toward a lifespan approach.
Available from:
JBehav Med 2006; 29(4): 389-400
12. Enny Marwati. Penatalaksanaan Rasa
Nyeri Pada Stomatitis Aftosa Rekuren.
Dentistry Jakarta Selatan. 2011