0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan23 halaman

Unit Operasi Pengolahan Air Minum

Dokumen tersebut membahas tentang unit operasi yang terdiri dari proses pengadukan, unit koagulasi, dan unit flokulasi dalam sistem pengolahan air minum. Proses pengadukan dibedakan menjadi pengadukan cepat dan lambat serta metode mekanis, hidrolis dan pneumatis. Unit koagulasi meliputi penambahan koagulan dan pengadukan cepat. Unit flokulasi bertujuan mempercepat pembentukan flok yang telah dibentuk pada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan23 halaman

Unit Operasi Pengolahan Air Minum

Dokumen tersebut membahas tentang unit operasi yang terdiri dari proses pengadukan, unit koagulasi, dan unit flokulasi dalam sistem pengolahan air minum. Proses pengadukan dibedakan menjadi pengadukan cepat dan lambat serta metode mekanis, hidrolis dan pneumatis. Unit koagulasi meliputi penambahan koagulan dan pengadukan cepat. Unit flokulasi bertujuan mempercepat pembentukan flok yang telah dibentuk pada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Unit operasi merupakan suatu tahapan dasar dalam rangkaian suatu proses. Berbeda dengan
unit proses yang mengubah suatu zat melalui reaksi dalam reaktor kimia, unit operasi
memungkinkan adanya perubahan fisik atau perubahan fase seperti kristalisasi, evaporasi,
pemisahan dan filtrasi. Beberapa contoh unit operasi adalah pengendapan (sedimentasi),
penyaringan (filtrasi), transfer gas, pengeringan (drying), pendinginan (cooling) serta
berbagai perlakuan fisik (physical treatment) lainnya.

Unit operasi dapat diaplikasikan dalam sistem pengolahan air seperti sistem pengolahan air
bersih dan air limbah. Pengaplikasian unit operasi ini dilakukan bersamaan dengan unit
proses. Kombinasi unit operasi dan unit proses dalam sistem pengolahan air dapat dibagi
menjadi dua, yakni sistem pengolahan lengkap dan sistem pengolahan tidak lengkap. Sistem
pengolahan lengkap digunakan apabila kualitas air baku yang digunakan dalam pengolahan
buruk. Sedangkan sistem pengolahan tidak lengkap digunakan apabila kualitas air baku masih
relatif baik. Air baku akan melewati berbagai tahapan pengolahan secara fisik pada unit
operasi dan proses sehingga aman untuk digunakan.

Pelaporan Tugas Besar Unit Operasi ini akan membahas unit operasi yang dibutuhkan pada
suatu sistem pengolahan air minum yang mengambil sumber air sungai Tukad Petanu,
Gianyar (data terlampir). Data yang didapatkan merupakan hasil pemeriksaan kualitas air
Tukad Petanu pada intake Instalasi Pengolahan Air (IPA) Petanu, Kabupaten Gianyar. Hasil
pemeriksaan, kemudian dibandingkan dengan nilai baku mutu berdasarkan Permenkes No.
492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Perancangan unit operasi pada pengolahan air minum Tukad Petanu akan meliputi
perancangan unit pengadukan cepat pada proses koagulasi, perancangan unit pengadukan
lambat pada proses flokulasi serta perancangan unit pengendapan yang meliputi primary
sedimentation dan secondary sedimentation.
BAB II
PEMBAHASAN

[Link] Pengadukan
Pengadukan (mixing) merupakan suatu unit operasi pencampuran dua atau lebih zat agar
dapat menghasilkan hasil campuran yang homogen. Khususnya pada fase cair, pengadukan
ditujukan untuk memperoleh keadaan yang turbulen. Salah satu contoh aplikasi pengadukan
adalah pada proses koagulasi dan flokulasi merupakan suatu media penyaluran energi agar
setiap partikel tersuspensi dan koloid dapat mengalami tumbukan dan membentuk gumpalan
(flok). Flok-flok ini akan memudahkan unit sedimentasi dan filtrasi untuk memisahkan dari
media cair.

Jenis pengadukan dalam pengolahan air dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan


pengadukan dan metode pengadukan. Berdasarkan kecepatan, pengadukan dibedakan
menjadi dua, yakni pengadukan cepat dan pengadukan lambat. Kecepatan pengadukan
dinyatakan dengan gradien kecepatan (G), nilai G akan mempengaruhi waktu pengadukan
yang diperlukan. Semakin besar nilai G, akan menghasilkan waktu pengadukan yang relatif
singkat, begitu sebaliknya.

Berdasarkan metodenya, pengadukan dibedakan menjadi tiga, yakni pengadukan mekanis,


pengadukan hidrolis dan pengadukan pneumatis.

Pengadukan mekanis merupakan metode pengadukan yang menggunakan alat pengaduk


berupa impeller yang digerakkan menggunakan motor listrik. Bagian-bagian pengadukan
mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk dan gayung pengaduk (impeller). Berdasarkan
bentuknya, impeller dibagi menjadi 3 macam, yakni paddle, turbine dan propeller.
 Paddle
Memiliki kecepatan putaran 20 – 150 rpm dengan dimensi diameter 50-80% lebar bak
dan dimensi lebar 1/6 – 1/10 diameter paddle. Mampu menghasilkan aliran arah radial
dan tangensial, tanpa adanya gerakan vertical. Arus pada pengadukan menggunakan
paddle akan bergerak secara horizontal dan apabila mencapai dinding akan
dibelokkan ke atas dan ke bawah.
Gambar 1. Berbagai Jenis Paddle

 Turbine
Memiliki kecepatan putaran 10 – 150 rpm dengan dimensi diameter 30 – 50% dari
lebar bak. Mampu menghasilkan aliran arah radial dan tangensial. Pada daerah di
sekitar turbine akan terdapat daerah turbulensi yang kuat, serta arus dan gesekan yang
kuat antar fluida.

Gambar 2. Berbagai Jenis Turbine

 Propeller
Memiliki kecepatan putaran 400 – 1750 rpm dengan dimensi diameter maksimal 45
cm serta memiliki 1 – 2 jumlah pitch. Mampu menghasilkan aliran arah aksial, arus
aliran akan meninggalkan pengaduk secara kontinu melewati fluida dalam satu arah
sampai kemudian dibelokkan oleh dinding atau dasar tangki.

Gambar 3. Berbagai Jenis Propeller


Pengadukan hidrolis merupakan pengadukan yang memanfaatkan gerakan air sebagai
tenaga pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi hidrolik yang dihasilkan
dari suatu aliran hidrolik. Energi hidrolik ini dapat ditemukan dalam bentuk energi gesek,
energi potensial (jatuhan) dan lompatan hidrolik dalam suatu aliran. Beberapa contoh
pengadukan hidrolis adalah terjunan, loncatan hidrolis, parshall flume, baffle basin (baffle
channel), perforated wall, gravel bed dan lainnya.

Pengadukan pneumatis merupakan pengadukan yang menggunakan udara (gas) berbentuk


gelembung yang dimasukkan ke dalam air sehingga menimbulkan gerakan pada air. Injeksi
udara bertekanan ke dalam suatu badan air akan menimbulkan turbulensi yang diakibatkan
oleh terlepasnya gelembung udara ke permukaan air. Semakin besar tekanan udara, kecepatan
gelembung udara dan turbulensi yang dihasilkan akan semakin besar.

Gambar 4. Pengadukan Pneumatis

[Link] Koagulasi
2.2.1. Uraian
Koagulasi yaitu proses pencampuran koagulan (bahan kimia) atau pengendap ke dalam air
baku dengan kecepatan perputaran yang tinggi dalam waktu yang singkat. Proses Koagulasi
merupakan proses pengolahan air dimana zat padat melayang dengan ukuran sangat kecil
dan koloid digabungkan hingga membentuk flok – flok dengan cara penambahan koagulan.
Koagulan adalah bahan kimia yang dibutuhkan pada air baku untuk membantu proses
pengendapan partikel – partikel kecil. Penambahan koagulan ke dalam air baku diikuti
dengan pengadukan cepat yang bertujuan untuk mencampur koagulan dengan koloid dan
menjadi mudah mengendap. Prinsip dari koagulasi yaitu di dalam air baku terdapat partikel –
partikel padatan yang sebagian besar bermuatan listrik negatif. Partikel – partikel ini
cenderung untuk saling tolak – menolak satu sama lainnya sehingga tetap stabil dalam
bentuk tersuspensi atau koloid dalam air.

2.2.2. Perhitungan Unit Koagulasi


Direncanakan bak pengaduk berbentuk bujur sangkat untuk mengaduk air dengan debit
25.920 m3/hari. Kedalaman air sama dengan 1,2 kali lebar. Diharapkan dalam bak tersebut
terjadi pengadukan dengan nilai gradient kecepatan 800 m/detik-m dengan waktu tinggal
hidrolik td = 45 detik. Suhu air adalah 25oC dan kecepatan putaran poros alat pengaduk
adalah 100 rpm.
1. Ukuran bak pengaduk
2. Tenaga yang dibutuhkan
3. Diameter impeller jika digunakan vane-disc impeller 6 flat blades dan tangki memiliki 4
baffle tegak
4. Tinggi jatuhan minimum jika dipergunakan sistem terjunan hidrolik
5. Udara yang dibutuhkan jika pengadukan pneumatis digunakan dan lokasi diffuser 20 cm
di atas dasar tangki

Penyelesaian:

Diketahui:

Q = 25.920 m3/hari → 25.920 m3/ 86.400 detik→ 0,3 m3/detik

Hb = 1,2 Lb

Td = 45 detik

Suhu air 25oC, μ = 0,00890 [Link]/m2

G = 800 m/detik-m

n = 100 rpm → 1,667 rps

1. Ukuran bak pengaduk


Volume tangki :
V = Q x td
= 0,3 x 45
= 13,5 m3
V = Pb x Lb x Hb → (Pb = Lb)
13,5 = Lb x Lb x 1,2 Lb
13,5 = 1,2 Lb3
Lb = 2,24 m

Hb = 1,2 x Lb
Hb = 1,2 x 2,24
Hb = 2,688 m

2. Tenaga yang dibutuhkan


P = (G2) x ( μ) x (V)
= (8002) x 0,000890 x 13,5
= 7689, 6 Nm/detik →7689,6 watt
3. Diameter impeller jika digunakan vane-disc impeller 6 flat blades dan tangki memiliki 4
baffle tegak
 KL = 65,0
 KT = 5,75
 Suhu air 25oC
 ρ = 997,0 kg/m3

( ) ( )=
1 1
P 5 P 5
Di = 3 = 5,75 x ( 1,667 )3 x 997,0 0,78 m
KT x n x ρ

Di 0,78
= = 0,348 = 34,8 % → Rasio diameter dan lebar
Lb 2,24

2 2
Di x n x ρ ( 0,78 ) x 1,667 x 997
NRB = = = 1.136.135
μ 0,000890

NRB ≥ 10.000 (ok)

4. Tinggi jatuhan minimum, jika sistem terjunan hidrolik


G2 x μ x td
H=
ρxg
2
800 x 0,000890 x 45
= = 2,62 m
997 x 9,8
5. Udara yang dibutuhkan, jika pengadukan pneumatis lokasi diffuser 20 cm di atas dasar
tangki. →0,2 m

P = 3904 x Ga x Log ( h+10,4


10,4 )
h = Hb – 0,2
= 2,69 – 0,2
= 2,49 m

7689,6 x 60 = 3904 x Ga x Log ( 2,49+10,4


10,4 )
Ga = 1267,76 m3/menit
atau

7689,6 = 3904 x Ga x Log ( 2,49+10,4


10,4 )
Ga = 21,13 m3/ detik

[Link] Flokulasi
2.3.1. Uraian
Flokulasi adalah proses fisika yang mana air yang terpolusi diaduk untuk meningkatkan
tumbukan interpartikel yang memacu pembentukan partikel-partikel besar sehingga dalam
waktu 1-2 jam partikel-partikel tersebut akan mengendap. Proses flokulasi dalam pengolahan
air bertujuan untuk mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada
proses koagulasi. Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan
serta melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang ukurannya makin lama
makin besar serta mudah mengendap. Gradien kecepatan merupakan faktor penting dalam
desain bak flokulasi. Jika nilai gradien terlalu besar maka gaya geser yang timbul akan
mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradien terlalu rendah/tidak memadai
maka proses penggabungan antar partikulat tidak akan terjadi dan flok besar serta mudah
mengendap akan sulit dihasilkan. Untuk itu nilai gradien kecepatan proses flokulasi
dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga 30/detik.

2.3.2. Perhitungan Unit Flokulasi


Rencana suatu flokulator kanal bersekat (baffed channel) aliran horizontal untuk mengolah
air dengan kapasitas 25.920 m3/hari.
 Bak flokulator dibagi dalam 3 ruang dengan gradien kecepatan TS/detik, 35/detik,
20/detik.
 Waktu flokulan keseluruhan 24 menit → td = 8 menit.
 Suhu air 25°c.
 Dinding kanal memiliki nilai koefisien kekasaran, f = 0,3
 Kedalaman kanal 1,2 m.

1. Flokulator pertama, G = 75/detik, td = 8 menit


 Total volume flokulator
V = waktu flokulasi × debit
= 24 menit × 25920 m3/hari × 1/1440
= 432 m3
 Total lebar flokulator
V 432
W = = =30 m
L ×H 12 ×1,2
 Lebar tiap kompartmen
W 30
W = = =10 m
jumlah kompartmen 3

Pada suhu 25˚C nilai µ = 0,89 × 10-3 kg/[Link] dan ρ = 997 kg/m3
 Jumlah kanal dalam flokulator pertama

{[ ][ ]}
2 1
2× μ × td H × L × G 3
n=
ρ(1,44+ f ) Q

{[ ][ ]}
3 2 1
2× 0,89× 10 × 8 × 60 1,2 × 12 × 75 3
n=
997(1,44+ 0,3) 0,3

n = 18,5 ≈ 18
 Jarak antar sekat
L 12
= =0,67 m
n 18
 Head loss pada flokulator
μ × td 2 0,89× 10−3 ×8 ×60 2
h= G= 75 =0,25 m
ρ×g 997 ×9,81
2. Flokulator kedua, G = 35/detik, td = 8 menit
 Jumlah kanal dalam flokulator pertama
{[ ][ ]}
2 1
2× μ × td H × L × G 3
n=
ρ(1,44+ f ) Q

{[ ][ ]}
3 2 1
2× 0,89× 10 × 8 × 60 1,2 × 12 × 35 3
n=
997(1,44+ 0,3) 0,3

n = 11,2 ≈ 11
 Jarak antar sekat
L 12
= =1,09 m
n 11
 Head loss pada flokulator
μ × td 2 0,89× 10−3 ×8 ×60 2
h= G= 35 =0,05 m
ρ×g 997 ×9,81
3. Flokulator ketiga, G = 20/detik, td = 8 menit
 Jumlah kanal dalam flokulator pertama

{[ ][ ]}
2 1
2× μ × td H × L × G 3
n=
ρ(1,44+ f ) Q

{[ ][ ]}
3 2 1
2× 0,89× 10 × 8 × 60 1,2 × 12 × 20 3
n=
997(1,44+ 0,3) 0,3

n = 7,68 ≈ 8
 Jarak antar sekat
L 12
= =1,5 m
n 8
 Head loss pada flokulator
μ × td 2 0,89× 10−3 ×8 ×60 2
h= G= 20 =0,02 m
ρ×g 997 ×9,81
4. Total Head Loss
 Total Head Loss = Head Loss 1 + Head Loss 2 + Head Loss 3
= 0,25 + 0,05 + 0,02
= 0,32 m  selisih muka air inlet dan outlet

[Link] Pengendapan
Proses pengendapan atau sedimentasi merupakan proses yang meliputi pelapukan,
transportasi dan pengendapan. Tekstur sedimen merupakan hubungan antara ukuran butir
dalam batuan dan pada umumnya ukuran butir ini dapat diamati dengan menggunakan
mikroskop. Komposisi sedimen merupakan acuan terhadap mineral-mineral dan struktur
kimia dalam batuan.

Berdasarkan tempat pengendapan dan tenaga yang mengendapkannya, proses sedimentasi


dapat dibedakan menjadi 3, yakni sedimentasi fluvial, sedimentasi eolis dan sedimentasi laut.
Sedimentasi fluvial merupakan proses pengendapan materi terangkut oleh sungai dan
diendapkan sepanjang aliran sungai (terkadang danau dan waduk). Hasil bentukan
sedimentasi ini adalah delta dan bantaran sungai.
Sedimentasi eolis merupakan proses pengendapan materi yang diangkut oleh angin.
Bentukannya berupa gugus pasir (sand dunes) atau gundukan pasir yang sering ditemukan di
pantai.
Sedimentasi laut merupakan hasil abrasi pantai yang kemudian diendapkan kembali di
sepanjang pantai. Contoh hasil bentukannya adalah endapan puing karang dan endapan pasir.

Berdasarkan jenis partikel dan kemampuan partikel untuk berinteraksi, sedimentasi dapat
diklasifikasikan ke dalam 4 tipe, yakni
Sedimentasi Tipe I: Merupakan pengendapan partikel diskret, partikel mengendap secara
individual dan tidak ada interaksi antar partikel.
Sedimentasi Tipe II: Merupakan pengendapan partikel flokulen, terjadi interaksi antar-
partikel sehingga ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan bertambah.
Sedimentasi Tipa III: Merupakan pengendapan pada lumpur biologis, terjadi gaya antar
partikel yang saling menahan partikel lainnya untuk mengendap.
Sedimentasi Tipe IV: Merupakan pemampatan partikel yang telah mengendap yang terjadi
karena berat partikel.

[Link] Primer (Primary Sedimentation)


2.5.1. Uraian
Prinsip dalam bak pengendapan pertama (primary sedimentation) ini adalah memisahkan
padatan tersuspensi dalam air buangan dengan cara gravitasi. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengatur kecepatan mengendapnya. Dua sasaran pengendapan pertama dalam pengolahan
air limbah adalah klarifikasi dan penebalan lumpur. Efisiensi penghilangan dari partikel
diskrit dengan ukuran, bentuk, densitas dan spesific gravity yang sama tidak tergantung dari
kedalaman bak, tetapi pada luas permukaan bak serta waktu detensi.
Pembagian zona bak pengendap pertama Bak pengendap pertama terdiri dari 4 (empat)
ruangan fungsional, yaitu:
1. Zona Inlet: tempat memperhalus aliran transisi dari aliran influen ke aliran steady
uniform di zona settling (aliran laminer).
2. Zona Settling: tempat berlangsungnya proses pengendapan / pemisahan partikel-
partikel diskrit di dalam air buangan.
3. Zona Sludge: tempat menampung material yang diendapkan bersama lumpur
endapan.
4. Zona Outlet: tempat memperhalus aliran transisi dari zona settling ke aliran efluen
serta mengatur debit efluen.

Gambar 5. Zona Fungsional Bak Pengendap Pertama

Kriteria Desain Bak Pengendap I


Kriteria desain untuk bak pengendap pertama berbentuk Segi Empat dan Lingkaran

Waktu detensi untuk variasi Overflow Rate dan kedalaman bak


2.5.2. Perhitungan Unit Sedimentasi Primer (Primary Sedimentation)
Perencanaan yang digunakan :

 Menggunakan bak dengan bentuk segi empat.


 Menggunakan 4 unit
 Waktu detensi dari perhitungan laboratorium 1,175 jam
 Zona pengendapan :
- Overflow rate (OFR) 7,5 x 10-4
- Visikositas kinematis pada suhu 25 ° C = 0,8975 x 10-6 ms/dtk
- Spesifik gravity (Sg) = 2,65
- Faktor friksi (f) = 0,03
- Pasir unigranular (k) = 0,04
- Debit = 25.920 m3/hari
1. Dimensi tiap bak
- Debit masing-masing bak (Q) : 25.920 m3/hari
3
Q 25.920m /hari
- Q tiap bak ¿ =
∑ bak 4

= 6.480 m3/hari
- Volume masing-masing bak (V) :
V = Q x td
= 6.480 m3/hari ×1,175 jam → 6.480 m3/hari ×1 /24 × 1,175 jam
= 317,25 m3
- Dimensi bak
 H¿ 1/12. L0,8
 P : L = 1 :4 → p=1/ 4 L
 V¿ P × L× H
317,25 = ¼ L × L ×1/12 L0,8
L = 31,17 m
H = 1/12 . 31,170,8
= 1,30 m
P =¼.L
= ¼ . 31,17 m = 7,80 m
2. Settling zone
- Jumlah Q tiap unit bak pengendap
Q 25.920m3 /hari
- Q tiap bak ¿ =
∑ bak 4

= 6.480 m3/hari
- Luas permukaan, A
Q 3
A¿ =6.480 m /hari. 1/86.400 . 7,5 ×10−4 m/s
OPR

0,075 m3 / detik
¿ = 100 m2
7,5 ×10−4 m/s
- Volume = Q ×td
= 0,075 m3 /detik ×4230 detik
= 317,25 m3
- Kedalaman bak
Perbandingan p : L = 4 : 1→ P = ¼ L
A = P × L=4 L2 P=¼L.L
2
100 = ¼ L . 4 L =¼L.5
2
25 = L = 1,25
L=5
- Kecepatan horizontal (Vh)
Vh = P/td
1,25m
= =1,06 m/ jam
1,175m
- Kontrol Scouring Velocity
Diameter Partikel
dp =¿ ¿
= 2,735 m
Kecepatan Scouring

[ ]
1 /2
8 × 0,04 × ( 2,65−1 ) 29,81 ×2,735
Vsc =
0,03
= 21,730
Vsc > VH → tidak akan terjadi scouring (ok!)
21,730 > 1,06

3. Kontrol Bilangan Reynold


- Jari-jari Hidrolis
L× H VH ×R
R= NRe =
L+ 2 H V
5 ×3,17 1,06× 1,40
R= =1,40 = =1978
5+2.3,17 7,5 ×10−4
NRe < 2000 (ok)
1978 < 2000 (ok)
4. Sludge Zone
Data kualitas air limbah yang masuk ke sedimentasi ditentukan berdasarkan data
kualitas air limbah awal.
- TSS = 18,0 mg/L
- Q = 25.920 m3/hari
- TSS = TSS (mg/L) x Q (m3/hari)
TSS = 18 mg/L x 10-6/10-3 kg/m3 = 0,018 kg/m3
TSS = 0,018 kg/m3 x 25.920 m3/hari = 466,56 kg/hari
- Removal yang terjadi di bak pengendap
TSS = 65%
TSSe = 65% x 466,56 kg/hari = 303,264 kg/hari
- Volume Lumpur dan Dimensi Kurang Lumpur
Kandungan lumpur = 6% (Sg = 1,05)
TSSe kg /hari ×1000 g /kg
Volume lumpur =
0,06 ×1,05 ×1 g /cm3 × 106 cm3 /m 3
303,265 kg /hari× 1000 g / kg
= = 4,813 g/m3
0,06 ×1,05 ×1 g /cm3 × 106 cm3 /m 3
- Dimensi Lumpur
 P =L
P =5
 A =PxL
100 = 5 x L
100
=L
5
20 = L
- Tinggi Ruang Lumpur
1
V = ×t ×( A + √ A)
3
1
4,8132 = ×t ×(100+ √ 100)
3
t = 0,131 m

[Link] Sekunder (Secondary Sedimentation)


2.6.1. Uraian
Bak pengendap II merupakan bak pengendap yang berfungsi untuk memisahkan lumpur
aktif (activated sludge) dari campuran padatan tersuspensi atau Mixed Liquor Suspended
Solids (MLSS). Bak ini adalah proses dari activated sludge yang operasinya merupakan
sistem continuous mixed-flow. Sistem kerjanya adalah lumpur yang mengandung bakteri
yang masih aktif akan diresirkulasi kembali ke activated sludge dan lumpur yang
mengandung bakteri yang sudah mati atau tidak aktif lagi dialirkan ke pengolahan lumpur.
Langkah tersebut merupakan langkah terakhir untuk menghasilkan efluen yang stabil dengan
konsentrasi BOD dan suspended solid (SS) yang rendah.

Berdasarkan operasionalnya, bak pengendap II memiliki 2 dua fungsi, yaitu :


1. Memisahkan MLSS dari air buangan yang diolah
2. Memadatkan sludge return
Berdasarkan jenis tangkinya, bak pengendap II dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu
rectanguler (segi empat atau persegi panjang) dan circular (lingkaran).

Dalam mendesain bak pengendap II, terdapat faktor faktor yang menjadi
pertimbangan, antara lain:
1. Tipe tangki yang digunakan
2. Karakteristik pengendapan lumpur
3. Surface loading rate atau solid loading rate
4. Penempatan dan weir loading rate

Berikut adalah kriteria desain Bak Pengendap II menurut Qasim (1985)


Parameter Range
Overflow rate (m3/[Link]) 15 – 40
Solid loading rate (kg/[Link]) 50 – 150
Weir loading (m3/[Link]) < 124
Waktu detensi (jam) 2–6
Flux solid (kg/[Link]) 2 – 4,2
Qasim. 1985. Waswater Treatment Plants : Planning, Design, and Operation

2.6.2. Perhitungan Unit Sedimentasi Sekunder (Secondary Sedimentation)


Perencanaan yang digunakan:

 Bak berbentuk circular dengan tipe center feed (dilengkapi scrapper)


 Menggunakan 4 unit Bak Pengendap Kedua
 TSSResirkulasi (Xr) = 18,0 mg/L
 MLSS = TSS/30% = 18,0/30% = 60 mg/L
 Kedalaman zona air jernih dan pengendapan = 2 m
 Diasumsikan di bawah kondisi normal, massa lumpur yang tertahan di Bak
Pengendap II 30% dari massa solid di Tangki Aerasi
 Konsentrasi rata-rata lumpur di dalam Bak Pengendap II = 2 × MLSS = 2 × 60 = 120
mg/L
 Ruang lumpur dapat menampung lumpur selama 2 hari

Sistem Effluent:

 Menggunakan V Notch 900 standar pada plat weir (dipasang di sekeliling bak)
 Lebar saluran pelimpah = 0,5 m
 Kedalaman V Notch 8 cm dengan jarak antar pusat 39,5 cm
 Ukuran effluent box = 2 × 2 m
 Kedalaman air di effluent box = 0,61 m
 Beda tinggi di saluran pelimpah dengan effluent box = 0,3 m
 16% kehilangan akibat friksi, turbulensi dan belokan
 Tambahan kedalaman 25 cm guna memastikan jatuh bebas

1. PERHITUNGAN Q TIAP BAK


QBAK PENGENDAP II = Q + QRESIRKULASI – MLSS pada under flow
QRESIRKULASI : MLSS (Qr + Q) = return VSS × Qr
60Qr + 60Q = 10000 Qr
60Q = 9940 Qr
Qr/Q = 0,006
Qr = 0,006 × 25920
Qr = 156,45 m3/hari = 0,0018 m3/detik
Cek: Qr/Q = 0,0018 / 0,3 = 0,006 … (OK)

MLSS pada under flow:

( )
Q×S
MLSS pada under flow = Px – g
1000
kg
( )
m3 g
25920 × 6,2 3
hari m
MLSS pada under flow = 411,32 kg/hari –
g
1000
kg

MLSS pada under flow = 411,32 kg/hari – 160,704 kg/hari


MLSS pada under flow = 250,616 kg/hari
kg
250,616 3
hari m
= =66,83
kg hari
3,75
hari
Maka:
QBAK PENGENDAP II = 25920 + 156,45 – 66,83
= 26009,62 m3/hari

m3
26009,62 3 3
Q tiap bak = hari m m
=6502,405 =270,93
4 hari jam

Penentuan Solif Flux (SF):


Berdasarkan konsentrasi lumpur resirkulasi ditentukan nilai SF = 2,0 kg/[Link]

Perhitungan Luas Permukaan:


Q × X R 270,93× 3,75 2
A SURFACE = = =507,99 m
SF 2,0


2
4 ×(507,99)
Diameter Bak Pengendap II: D = =57,33 m ≈57,3 m
π

Luas permukaan sebenernya:


1
A ACTUAL= × π ×(57,3)2=2577,38 m 2
4

Kontrol Overflow Rate


3
m
6502,405 3
Q hari m (< 15 m3/[Link] … OK)
OFR = = =2,52 2
A 2577,38 m 2
m . hari
Kontrol Solid Loading
3
m g
6502,405 ×3750 3
hari m kg
SL = =9,46 2 (< 50 kg/[Link] … OK)
g m . hari
2577,38 m 2 ×1000
kg

Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi:

SL =
(
26009,62 m 3
3 )
detik
g
×3750 3
m kg
=12,61 2
2 g m . hari
2577,38 m × 1000
kg

2. PERHITUNGAN KEDALAMAN BAK PENGENDAP KEDUA


Perhitungan Kedalaman BP II
Kedalaman BP II meliputi:

 Zona Air Jernih dan Zona Pengendapan


 Zona Thickening (Pemadatan Lumpur)
 Zona Ruang Lumpur

Penentuan Kedalaman Zona Thickening

 Dimensi Tangki Aerasi:


L = 20 m
W = 10 m
H =5m
 Total Massa Solid pada tiap Tangki Aerasi:
X × L × W × H 18,0 × 20× 10× 5
= R = =18 kg
1000 1000
 Total massa solid pada tiap BP II:
= 30% × 18 kg = 5,4 kg
 Kedalaman Zona Thickening
g
total massa solid tiap BP II × 1000
= kg
konsentrasi rata-rata lumpur BP II × A ACTUAL
5,4 ×1000
= =0,017 m ≈ 0,02 m
120× 2577,38

Penentuan Kedalaman Zona Ruang Lumpur


 Massa jumlah lumpur = 2 hari × Produksi lumpur Tangki Aerasi
= 2 hari × 760,31 kg/hari
= 1520,62 kg
1520,62
 Penyimpanan lumpur = =380,155 kg
4
 Total jumlah lumpur dalam tiap BP II
= 5,4 + 380,155
= 385,555 kg

 Kedalaman ruang lumpur


g
total jumlah lumpur tiap BP II × 1000
= kg
konsentrasi rata-rata lumpur BP II × A ACTUAL

g
385,555 × 1000
= kg
=1,24 m ≈ 1,25 m
120 × 2577,38

 Total kedalaman BP II
= 2 m + 0,02 m + 1,25 m = 3,27 m
Dengan Free Board = 0,5 m
Total Kedalaman = 3,27 + 0,5 = 3,77 m

3. PERHITUNGAN WAKTU DETENSI


Volume Rata-rata BP II
1 2 3
= × π × ( 57,3 ) ×3,77 m =9716,73 m
4

Waktu Detensi
volume 9716,73
= = =35,86 jam
Q TIAP BP II 270,93

Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi:


3
9716,73 m
=26,89 jam
(
= 26009,62 m 3
3 )
×
1 hari
hari 24 jam

4. PERENCANAAN EFFLUENT
Perencanaan Effluent

 Panjang Effluent Weir = π × ( D −1 )=3,14 × ( 57,3−1 ) =176,782 m


Panjang effluent weir 17678,2
 Total jumlah VNotch = = =447,5≈ 447
Jarak antar pusat 39,5

Head di atas VNotch

 Q MLSS yang dibuang = Q – MLSS pada underflow


= 0,3 m3/detik – 0,0018 m3/detik
= 0,2982 m3/detik
3
m
25764,48
 Q tiap BP II = hari m3 m3
=6441,12 =0,074
4 hari dt
3
m
6441,12
 Q tiap VNotch = hari m3 m3
=14,4 =0,00016
447 hari dt

[ ( )]
2
−4
15 1,6× 10 5
 Head = ×
8 0,584 × √ ( 2× 9,81 ) × tan 45 °

= 0,026 = 2,6 cm
Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi

[ ( )]
2
0,2982 5

= 15 3× 447
×
8 0,584 × √ ( 2× 9,81 ) × tan 45 °

= 0,03 m = 3 cm

Cek Weir Loading


0,074 ×86400 3
 WL = =36,16 m /m. hari (< 124 m3/[Link] … OK)
176,782

Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi:


0,2982× 86400
= =48,58 m 3 / m. hari
3 ×176,782

Kedalaman Saluran Pelimpah

 Y2 = kedalaman air dalam box effluent – beda tinggi muka air


= 0,61 – 0,3
= 0,31 m
 Q tiap sisi saluran pelimpah
3
0,2982 m
= =0,0497
2× 3 BP II yang beroperasi dt
 Rata-rata panjang ½ saluran pelimpah
1
= × [ π × ( 57,3−0,2 )−2 ] =88,65 m
2
 Q per m panjang weir
0,0497 −4 3
= =5,6 ×10 m / m .detik
88,65


2
2 × ( 5,6 × 10 × 88,65× 1 )
−4
 Y1 = ( 0,31 )2+ 2
=¿ 0,36 m ¿
9,81 × ( 0,2 ) × 0,31

Total kedalaman saluran pelimpah = (0,36 m × 1,16) + 0,25 = 0,66 m


BAB III
KESIMPULAN

1. Unit operasi merupakan suatu tahapan dasar dalam rangkaian suatu proses yang
memungkinkan adanya perubahan fisik atau perubahan fase seperti kristalisasi,
evaporasi, pemisahan dan filtrasi. Pengendapan (sedimentasi), penyaringan (filtrasi),
transfer gas, pengeringan (drying) dan pendinginan (cooling) merupakan beberapa
contoh unit operasi.

2. Koagulasi yaitu proses pencampuran koagulan (bahan kimia) atau pengendap ke dalam
air baku dengan kecepatan perputaran yang tinggi dalam waktu yang singkat. Unit
operasi pengadukan cepat pada pengolahan air Tukad Petanu dengan vane-disc impeller
6 flat blades dan tangki memiliki 4 baffle tegak memerlukan diameter impeller sepanjang
0,78 m dan berdaya 7689,6 watt.

3. Flokulasi adalah proses fisika yang mana air yang terpolusi diaduk untuk meningkatkan
tumbukan interpartikel yang memacu pembentukan partikel-partikel besar sehingga
dalam waktu 1-2 jam partikel-partikel tersebut akan mengendap. Desain bak flokulator
yang diperlukan memiliki volume 432 m3 dengan lebar total 30 m dan lebar tiap
kopartmen 10 m. Nilai total head loss yang didapat adalah 0,32 m.

4. Prinsip dalam bak pengendapan pertama (primary sedimentation) adalah pemisahan


padatan tersuspensi dalam air buangan dengan cara gravitasi yang dapat dilakukan
dengan mengatur kecepatan pengendapannya. Volume lumpur yang dapat ditampung
dalam desain bak sedimentasi pertama adalah 4,813 g/m3 dengan panjang dimensi
lumpur 5 m, lebar dimensi lumpur 20 m dan tinggi dimensi lumpur 0,131 m.

5. Bak pengendap II merupakan bak pengendap yang berfungsi untuk memisahkan lumpur
aktif (activated sludge) dari campuran padatan tersuspensi atau Mixed Liquor Suspended
Solids (MLSS). Desain bak pengendap II menunjukkan total kedalaman zona ruang
lumpur adalah 3,77 m dan total kedalaman saluran ruang pelimpah adalah 0,66 m dengan
waktu detensi 35,86 jam.

Anda mungkin juga menyukai