Unit Operasi Pengolahan Air Minum
Unit Operasi Pengolahan Air Minum
PENDAHULUAN
Unit operasi merupakan suatu tahapan dasar dalam rangkaian suatu proses. Berbeda dengan
unit proses yang mengubah suatu zat melalui reaksi dalam reaktor kimia, unit operasi
memungkinkan adanya perubahan fisik atau perubahan fase seperti kristalisasi, evaporasi,
pemisahan dan filtrasi. Beberapa contoh unit operasi adalah pengendapan (sedimentasi),
penyaringan (filtrasi), transfer gas, pengeringan (drying), pendinginan (cooling) serta
berbagai perlakuan fisik (physical treatment) lainnya.
Unit operasi dapat diaplikasikan dalam sistem pengolahan air seperti sistem pengolahan air
bersih dan air limbah. Pengaplikasian unit operasi ini dilakukan bersamaan dengan unit
proses. Kombinasi unit operasi dan unit proses dalam sistem pengolahan air dapat dibagi
menjadi dua, yakni sistem pengolahan lengkap dan sistem pengolahan tidak lengkap. Sistem
pengolahan lengkap digunakan apabila kualitas air baku yang digunakan dalam pengolahan
buruk. Sedangkan sistem pengolahan tidak lengkap digunakan apabila kualitas air baku masih
relatif baik. Air baku akan melewati berbagai tahapan pengolahan secara fisik pada unit
operasi dan proses sehingga aman untuk digunakan.
Pelaporan Tugas Besar Unit Operasi ini akan membahas unit operasi yang dibutuhkan pada
suatu sistem pengolahan air minum yang mengambil sumber air sungai Tukad Petanu,
Gianyar (data terlampir). Data yang didapatkan merupakan hasil pemeriksaan kualitas air
Tukad Petanu pada intake Instalasi Pengolahan Air (IPA) Petanu, Kabupaten Gianyar. Hasil
pemeriksaan, kemudian dibandingkan dengan nilai baku mutu berdasarkan Permenkes No.
492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
Perancangan unit operasi pada pengolahan air minum Tukad Petanu akan meliputi
perancangan unit pengadukan cepat pada proses koagulasi, perancangan unit pengadukan
lambat pada proses flokulasi serta perancangan unit pengendapan yang meliputi primary
sedimentation dan secondary sedimentation.
BAB II
PEMBAHASAN
[Link] Pengadukan
Pengadukan (mixing) merupakan suatu unit operasi pencampuran dua atau lebih zat agar
dapat menghasilkan hasil campuran yang homogen. Khususnya pada fase cair, pengadukan
ditujukan untuk memperoleh keadaan yang turbulen. Salah satu contoh aplikasi pengadukan
adalah pada proses koagulasi dan flokulasi merupakan suatu media penyaluran energi agar
setiap partikel tersuspensi dan koloid dapat mengalami tumbukan dan membentuk gumpalan
(flok). Flok-flok ini akan memudahkan unit sedimentasi dan filtrasi untuk memisahkan dari
media cair.
Turbine
Memiliki kecepatan putaran 10 – 150 rpm dengan dimensi diameter 30 – 50% dari
lebar bak. Mampu menghasilkan aliran arah radial dan tangensial. Pada daerah di
sekitar turbine akan terdapat daerah turbulensi yang kuat, serta arus dan gesekan yang
kuat antar fluida.
Propeller
Memiliki kecepatan putaran 400 – 1750 rpm dengan dimensi diameter maksimal 45
cm serta memiliki 1 – 2 jumlah pitch. Mampu menghasilkan aliran arah aksial, arus
aliran akan meninggalkan pengaduk secara kontinu melewati fluida dalam satu arah
sampai kemudian dibelokkan oleh dinding atau dasar tangki.
[Link] Koagulasi
2.2.1. Uraian
Koagulasi yaitu proses pencampuran koagulan (bahan kimia) atau pengendap ke dalam air
baku dengan kecepatan perputaran yang tinggi dalam waktu yang singkat. Proses Koagulasi
merupakan proses pengolahan air dimana zat padat melayang dengan ukuran sangat kecil
dan koloid digabungkan hingga membentuk flok – flok dengan cara penambahan koagulan.
Koagulan adalah bahan kimia yang dibutuhkan pada air baku untuk membantu proses
pengendapan partikel – partikel kecil. Penambahan koagulan ke dalam air baku diikuti
dengan pengadukan cepat yang bertujuan untuk mencampur koagulan dengan koloid dan
menjadi mudah mengendap. Prinsip dari koagulasi yaitu di dalam air baku terdapat partikel –
partikel padatan yang sebagian besar bermuatan listrik negatif. Partikel – partikel ini
cenderung untuk saling tolak – menolak satu sama lainnya sehingga tetap stabil dalam
bentuk tersuspensi atau koloid dalam air.
Penyelesaian:
Diketahui:
Hb = 1,2 Lb
Td = 45 detik
G = 800 m/detik-m
Hb = 1,2 x Lb
Hb = 1,2 x 2,24
Hb = 2,688 m
( ) ( )=
1 1
P 5 P 5
Di = 3 = 5,75 x ( 1,667 )3 x 997,0 0,78 m
KT x n x ρ
Di 0,78
= = 0,348 = 34,8 % → Rasio diameter dan lebar
Lb 2,24
2 2
Di x n x ρ ( 0,78 ) x 1,667 x 997
NRB = = = 1.136.135
μ 0,000890
[Link] Flokulasi
2.3.1. Uraian
Flokulasi adalah proses fisika yang mana air yang terpolusi diaduk untuk meningkatkan
tumbukan interpartikel yang memacu pembentukan partikel-partikel besar sehingga dalam
waktu 1-2 jam partikel-partikel tersebut akan mengendap. Proses flokulasi dalam pengolahan
air bertujuan untuk mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada
proses koagulasi. Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan
serta melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang ukurannya makin lama
makin besar serta mudah mengendap. Gradien kecepatan merupakan faktor penting dalam
desain bak flokulasi. Jika nilai gradien terlalu besar maka gaya geser yang timbul akan
mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradien terlalu rendah/tidak memadai
maka proses penggabungan antar partikulat tidak akan terjadi dan flok besar serta mudah
mengendap akan sulit dihasilkan. Untuk itu nilai gradien kecepatan proses flokulasi
dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga 30/detik.
Pada suhu 25˚C nilai µ = 0,89 × 10-3 kg/[Link] dan ρ = 997 kg/m3
Jumlah kanal dalam flokulator pertama
{[ ][ ]}
2 1
2× μ × td H × L × G 3
n=
ρ(1,44+ f ) Q
{[ ][ ]}
3 2 1
2× 0,89× 10 × 8 × 60 1,2 × 12 × 75 3
n=
997(1,44+ 0,3) 0,3
n = 18,5 ≈ 18
Jarak antar sekat
L 12
= =0,67 m
n 18
Head loss pada flokulator
μ × td 2 0,89× 10−3 ×8 ×60 2
h= G= 75 =0,25 m
ρ×g 997 ×9,81
2. Flokulator kedua, G = 35/detik, td = 8 menit
Jumlah kanal dalam flokulator pertama
{[ ][ ]}
2 1
2× μ × td H × L × G 3
n=
ρ(1,44+ f ) Q
{[ ][ ]}
3 2 1
2× 0,89× 10 × 8 × 60 1,2 × 12 × 35 3
n=
997(1,44+ 0,3) 0,3
n = 11,2 ≈ 11
Jarak antar sekat
L 12
= =1,09 m
n 11
Head loss pada flokulator
μ × td 2 0,89× 10−3 ×8 ×60 2
h= G= 35 =0,05 m
ρ×g 997 ×9,81
3. Flokulator ketiga, G = 20/detik, td = 8 menit
Jumlah kanal dalam flokulator pertama
{[ ][ ]}
2 1
2× μ × td H × L × G 3
n=
ρ(1,44+ f ) Q
{[ ][ ]}
3 2 1
2× 0,89× 10 × 8 × 60 1,2 × 12 × 20 3
n=
997(1,44+ 0,3) 0,3
n = 7,68 ≈ 8
Jarak antar sekat
L 12
= =1,5 m
n 8
Head loss pada flokulator
μ × td 2 0,89× 10−3 ×8 ×60 2
h= G= 20 =0,02 m
ρ×g 997 ×9,81
4. Total Head Loss
Total Head Loss = Head Loss 1 + Head Loss 2 + Head Loss 3
= 0,25 + 0,05 + 0,02
= 0,32 m selisih muka air inlet dan outlet
[Link] Pengendapan
Proses pengendapan atau sedimentasi merupakan proses yang meliputi pelapukan,
transportasi dan pengendapan. Tekstur sedimen merupakan hubungan antara ukuran butir
dalam batuan dan pada umumnya ukuran butir ini dapat diamati dengan menggunakan
mikroskop. Komposisi sedimen merupakan acuan terhadap mineral-mineral dan struktur
kimia dalam batuan.
Berdasarkan jenis partikel dan kemampuan partikel untuk berinteraksi, sedimentasi dapat
diklasifikasikan ke dalam 4 tipe, yakni
Sedimentasi Tipe I: Merupakan pengendapan partikel diskret, partikel mengendap secara
individual dan tidak ada interaksi antar partikel.
Sedimentasi Tipe II: Merupakan pengendapan partikel flokulen, terjadi interaksi antar-
partikel sehingga ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan bertambah.
Sedimentasi Tipa III: Merupakan pengendapan pada lumpur biologis, terjadi gaya antar
partikel yang saling menahan partikel lainnya untuk mengendap.
Sedimentasi Tipe IV: Merupakan pemampatan partikel yang telah mengendap yang terjadi
karena berat partikel.
= 6.480 m3/hari
- Volume masing-masing bak (V) :
V = Q x td
= 6.480 m3/hari ×1,175 jam → 6.480 m3/hari ×1 /24 × 1,175 jam
= 317,25 m3
- Dimensi bak
H¿ 1/12. L0,8
P : L = 1 :4 → p=1/ 4 L
V¿ P × L× H
317,25 = ¼ L × L ×1/12 L0,8
L = 31,17 m
H = 1/12 . 31,170,8
= 1,30 m
P =¼.L
= ¼ . 31,17 m = 7,80 m
2. Settling zone
- Jumlah Q tiap unit bak pengendap
Q 25.920m3 /hari
- Q tiap bak ¿ =
∑ bak 4
= 6.480 m3/hari
- Luas permukaan, A
Q 3
A¿ =6.480 m /hari. 1/86.400 . 7,5 ×10−4 m/s
OPR
0,075 m3 / detik
¿ = 100 m2
7,5 ×10−4 m/s
- Volume = Q ×td
= 0,075 m3 /detik ×4230 detik
= 317,25 m3
- Kedalaman bak
Perbandingan p : L = 4 : 1→ P = ¼ L
A = P × L=4 L2 P=¼L.L
2
100 = ¼ L . 4 L =¼L.5
2
25 = L = 1,25
L=5
- Kecepatan horizontal (Vh)
Vh = P/td
1,25m
= =1,06 m/ jam
1,175m
- Kontrol Scouring Velocity
Diameter Partikel
dp =¿ ¿
= 2,735 m
Kecepatan Scouring
[ ]
1 /2
8 × 0,04 × ( 2,65−1 ) 29,81 ×2,735
Vsc =
0,03
= 21,730
Vsc > VH → tidak akan terjadi scouring (ok!)
21,730 > 1,06
Dalam mendesain bak pengendap II, terdapat faktor faktor yang menjadi
pertimbangan, antara lain:
1. Tipe tangki yang digunakan
2. Karakteristik pengendapan lumpur
3. Surface loading rate atau solid loading rate
4. Penempatan dan weir loading rate
Sistem Effluent:
Menggunakan V Notch 900 standar pada plat weir (dipasang di sekeliling bak)
Lebar saluran pelimpah = 0,5 m
Kedalaman V Notch 8 cm dengan jarak antar pusat 39,5 cm
Ukuran effluent box = 2 × 2 m
Kedalaman air di effluent box = 0,61 m
Beda tinggi di saluran pelimpah dengan effluent box = 0,3 m
16% kehilangan akibat friksi, turbulensi dan belokan
Tambahan kedalaman 25 cm guna memastikan jatuh bebas
( )
Q×S
MLSS pada under flow = Px – g
1000
kg
( )
m3 g
25920 × 6,2 3
hari m
MLSS pada under flow = 411,32 kg/hari –
g
1000
kg
m3
26009,62 3 3
Q tiap bak = hari m m
=6502,405 =270,93
4 hari jam
√
2
4 ×(507,99)
Diameter Bak Pengendap II: D = =57,33 m ≈57,3 m
π
SL =
(
26009,62 m 3
3 )
detik
g
×3750 3
m kg
=12,61 2
2 g m . hari
2577,38 m × 1000
kg
g
385,555 × 1000
= kg
=1,24 m ≈ 1,25 m
120 × 2577,38
Total kedalaman BP II
= 2 m + 0,02 m + 1,25 m = 3,27 m
Dengan Free Board = 0,5 m
Total Kedalaman = 3,27 + 0,5 = 3,77 m
Waktu Detensi
volume 9716,73
= = =35,86 jam
Q TIAP BP II 270,93
4. PERENCANAAN EFFLUENT
Perencanaan Effluent
[ ( )]
2
−4
15 1,6× 10 5
Head = ×
8 0,584 × √ ( 2× 9,81 ) × tan 45 °
= 0,026 = 2,6 cm
Pada saat hanya 3 unit yang beroperasi
[ ( )]
2
0,2982 5
= 15 3× 447
×
8 0,584 × √ ( 2× 9,81 ) × tan 45 °
= 0,03 m = 3 cm
√
2
2 × ( 5,6 × 10 × 88,65× 1 )
−4
Y1 = ( 0,31 )2+ 2
=¿ 0,36 m ¿
9,81 × ( 0,2 ) × 0,31
1. Unit operasi merupakan suatu tahapan dasar dalam rangkaian suatu proses yang
memungkinkan adanya perubahan fisik atau perubahan fase seperti kristalisasi,
evaporasi, pemisahan dan filtrasi. Pengendapan (sedimentasi), penyaringan (filtrasi),
transfer gas, pengeringan (drying) dan pendinginan (cooling) merupakan beberapa
contoh unit operasi.
2. Koagulasi yaitu proses pencampuran koagulan (bahan kimia) atau pengendap ke dalam
air baku dengan kecepatan perputaran yang tinggi dalam waktu yang singkat. Unit
operasi pengadukan cepat pada pengolahan air Tukad Petanu dengan vane-disc impeller
6 flat blades dan tangki memiliki 4 baffle tegak memerlukan diameter impeller sepanjang
0,78 m dan berdaya 7689,6 watt.
3. Flokulasi adalah proses fisika yang mana air yang terpolusi diaduk untuk meningkatkan
tumbukan interpartikel yang memacu pembentukan partikel-partikel besar sehingga
dalam waktu 1-2 jam partikel-partikel tersebut akan mengendap. Desain bak flokulator
yang diperlukan memiliki volume 432 m3 dengan lebar total 30 m dan lebar tiap
kopartmen 10 m. Nilai total head loss yang didapat adalah 0,32 m.
5. Bak pengendap II merupakan bak pengendap yang berfungsi untuk memisahkan lumpur
aktif (activated sludge) dari campuran padatan tersuspensi atau Mixed Liquor Suspended
Solids (MLSS). Desain bak pengendap II menunjukkan total kedalaman zona ruang
lumpur adalah 3,77 m dan total kedalaman saluran ruang pelimpah adalah 0,66 m dengan
waktu detensi 35,86 jam.