0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
365 tayangan38 halaman

Otonomi Daerah dan Pembangunan Manusia

Modul ini membahas penerapan otonomi daerah yang diharapkan dapat meningkatkan pembangunan sumber daya manusia. Penerapan otonomi daerah didasari oleh masalah sentralisasi kekuasaan dan keuangan pemerintah pusat yang menimbulkan ketimpangan antardaerah. Otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan kemandirian daerah dan memperkecil ketimpangan dengan memberikan kesempatan bagi daerah untuk mengembangkan sum

Diunggah oleh

Zee Key Young
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
365 tayangan38 halaman

Otonomi Daerah dan Pembangunan Manusia

Modul ini membahas penerapan otonomi daerah yang diharapkan dapat meningkatkan pembangunan sumber daya manusia. Penerapan otonomi daerah didasari oleh masalah sentralisasi kekuasaan dan keuangan pemerintah pusat yang menimbulkan ketimpangan antardaerah. Otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan kemandirian daerah dan memperkecil ketimpangan dengan memberikan kesempatan bagi daerah untuk mengembangkan sum

Diunggah oleh

Zee Key Young
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul 8

Otonomi Daerah dan Pembangunan


Manusia Indonesia

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, [Link]

PEN D A H U L UA N

M odul ini membahas penerapan otonomi daerah yang lebih


memungkinkan setiap daerah untuk membangun sumber daya manusia
mereka karena dukungan diwujudkannya desentralisasi ekonomi dan politik.
Pada bagian awal diuraikan latar belakang diterapkannya otonomi daerah
yang terkait dengan kekuasaan dan pengelolaan ekonomi dan keuangan yang
terlalu sentralistis, yang makin mengukuhkan terjadinya kesenjangan
antarwilayah/antardaerah. Berikutnya dibahas perihal konsep dan penerapan
desentralisasi fiskal yang makin mendorong terwujudnya pembangunan
daerah yang berkeadilan. Dibahas pula perihal makin luasnya peluang
(kesempatan) untuk meningkatkan kerja sama antardaerah untuk menghindari
konflik-konflik antardaerah yang sempat muncul di awal penerapan otonomi
daerah. Modul ini juga menganalisis hasil-hasil studi kasus pemberdayaan
ekonomi rakyat yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan otonomi
daerah, yang diharapkan makin mendekatkan pada tujuan untuk mewujudkan
demokrasi ekonomi.
Pada bagian selanjutnya diuraikan perihal keterkaitan antara otonomi
daerah dengan agenda pembangunan manusia yang makin perlu mendapat
perhatian serius pemerintah pusat dan daerah. Pada awalnya dibahas
pengertian dan pengukuran pembangunan manusia, terkait dengan indikator-
indikator yang umum digunakan untuk menilai kualitas sumber daya
manusia. Bahasan yang difokuskan juga pada upaya untuk mengenali
masalah-masalah yang muncul dalam pembangunan manusia Indonesia, baik
sebagai akibat rendahnya taraf pembangunan manusianya, maupun karena
upaya-upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang belum optimal.
Dalam hal ini dibahas kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkait dengan
8.2 Perekonomian Indonesia 

pembangunan manusia, khususnya dalam konteks penerapan otonomi daerah


yang membuka kesempatan bagi setiap daerah untuk lebih memperhatikan
pengembangan sumber daya manusia di daerah masing-masing.
Dengan mempelajari modul ini secara umum Anda diharapkan mampu
menganalisis penerapan otonomi daerah dalam kaitannya dengan upaya
membangun manusia Indonesia seutuhnya.
Secara khusus setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan mampu:
1. menjelaskan latar belakang dan tujuan penerapan otonomi daerah dan
perlunya pembangunan manusia Indonesia,
2. menjelaskan masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan otonomi
daerah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,
3. menjelaskan hasil-hasil penerapan otonomi daerah dalam mendorong
terwujudnya demokratisasi ekonomi di Indonesia,
4. menjelaskan landasan konstitusional dan pengukuran hasil pembangunan
manusia di Indonesia,
5. menganalisis kebijakan yang ditempuh pemerintah dalam meningkatkan
kualitas pembangunan manusia Indonesia.
 ESPA4314/MODUL 8 8.3

Kegiatan Belajar 1

Otonomi Daerah

A. LATAR BELAKANG OTONOMI DAERAH

1. Sentralisasi Ekonomi
Survei-survei perekonomian daerah selama era Orde Baru
menyimpulkan tentang amat dominannya peranan pemerintah pusat dalam
anggaran provinsi dan pemerintah daerah di bawah provinsi, misalnya
kabupaten (Mubyarto, 1988: 215). Penelitian yang dilakukan Fisipol UGM
selama lima tahun berturut-turut diketahui bahwa (1) perbandingan antara
PAD dengan subsidi berkisar 30 persen:70 persen, dan (2) adanya berbagai
variasi sumbangan PAD dari berbagai Daerah Tingkat II (sekarang:
kabupaten/kota) di Indonesia, yaitu 208 Dati II memberikan sumbangan PAD
kurang dari 20 persen, 65 Dati II menyumbang 20,1 persen-40 persen, dan
hanya 17 Dati II yang memiliki kemampuan menyumbang PAD sebesar lebih
50 persen dari total penerimaan APBD-nya (Utomo, 1997: 11). Arah
penggunaan, bahkan juga alokasi penggunaan bantuan Pemerintah Pusat,
sudah ditentukan dari atas, sehingga Pemerintah Daerah tinggal
melaksanakan saja. Oleh karena itu, seringkali proyek-proyek yang dibiayai
oleh bantuan pusat tidak cocok dengan kebutuhan daerah. Implikasi dari
besarnya intervensi Pemerintah Pusat ini telah menimbulkan berbagai
dampak yang tidak menguntungkan bagi daerah, seperti meningkatnya
ketergantungan anggaran dari Pemerintah Pusat, terganggunya penyusunan
anggaran daerah karena harus menyesuaikan dengan bantuan pusat, dan
rendahnya pertanggungjawaban pada masyarakat lokal.
Laporan World Bank (1994) menunjukkan bahwa sistem keuangan
negara di Indonesia paling terpusat dibandingkan dengan China, Korea,
India, Brazil, Argentina, dan Kolombia. Rasio penerimaan Pemda dengan
pengeluaran Pemda hanya 30 persen. Angka ini mencerminkan tingkat
kemandirian daerah dalam keuangannya hanya 30 persen. Sedangkan China
mencapai 100 persen, dan negara-negara lain berkisar 48 persen-76 persen.
Hal ini mencerminkan pula adanya ketimpangan fiskal vertikal (vertical
fiscal imbalance) yang tinggi, yakni adanya ketidaksepadanan antara
penerimaan dengan pengeluaran yang dibutuhkan oleh daerah.
8.4 Perekonomian Indonesia 

Kajian Shah dan Qureshi (1994: 49-53) menunjukkan koefisien


ketimpangan fiskal vertikal di Indonesia sebesar 0,19, yang menggambarkan
tingkat kemandirian daerah-daerah di Indonesia yang rendah. Dibandingkan
dengan sembilan negara lain yang diteliti, koefisien ketimpangan fiskal
vertikal Indonesia (1990) merupakan yang paling rendah, yang
mencerminkan tingkat kemandirian yang rendah pula. Untuk beberapa negara
lainnya seperti Australia, koefisien ketimpangan fiskal vertikalnya adalah
0,43, India sebesar 0,45, Pakistan sebesar 0,53, Malaysia sebesar 0,56,
Amerika Serikat sebesar 0,89, dan Brazil sebesar 0,89.

Tabel 8.1.
Koefisien Ketimpangan Fiskal di Beberapa Negara
Negara Periode Koefisien
Indonesia 1990 0.19
Australia 1987 0.43
India 1982-1986 0.45
Kolombia 1979-1983 0.50
Pakistan 1987-1988 0.53
Malaysia 1984-1988 0.65
Kanada 1995 0.79
Jerman (eks Jerman Barat) 2000 0.79
Amerika Serikat 2005 0.88
Brazil 2010 0.88
Sumber: Shah dan Qureshi, 2010

Kondisi seperti di Indonesia tersebut dapat terjadi karena adanya


sentralisasi dalam keuangan, seperti sentralisasi sistem perpajakan dengan
alasan efisiensi. Sentralisasi kebijakan tersebut tidak hanya dalam kebijakan
fiskal, namun juga pada hampir semua bidang, termasuk dalam perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan daerah. Misalnya, dalam kerangka stabilisasi
politik, pemerintah telah membangun struktur yang tidak berimbang, yakni
“struktur dominasi” oleh pusat dalam hubungan pusat-daerah, yang ditandai
dengan hubungan tidak simetris antara pusat-daerah yang melahirkan
ketergantungan yang tidak saling menguntungkan. Adanya kewenangan yang
terpusat di Indonesia ini secara tradisional telah dianggap sebagai alat untuk
mewujudkan kesatuan nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
 ESPA4314/MODUL 8 8.5

2. Ketimpangan Antardaerah
Pertumbuhan ekonomi nasional relatif tinggi, namun pola
pertumbuhannya timpang. Ketimpangan tersebut berupa ketimpangan antara
kota dan desa, Jawa dan luar Jawa, serta antara Kawasan Timur Indonesia
(KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Misalnya, dilihat dari struktur
ekonomi, sektor primer masih mendominasi perekonomian di KTI yang pada
tahun 2014 mencapai 45,24 persen (tanpa migas 46,35 persen), sedang di
KBI hanya 24,72 persen (tanpa migas 19,69 persen). Jika dibandingkan
antara Pulau Jawa dengan pulau-pulau di luar Jawa, ketimpangan ini semakin
besar. Peran sektor primer di Jawa tahun 2014 tinggal 16,75 persen, sedang
di Sumatera dan Sulawesi masing-masing masih mencapai 45,90 persen dan
45,68 persen (BPS, 2015: 13).
Ketimpangan serupa bisa dilihat dari penyerapan tenaga kerja sektor
industri besar dan sedang. Studi yang dilakukan Kuncoro (2001: 269-296)
menemukan sampai tahun 1999 sebanyak 81,1 persen tenaga kerja di industri
besar dan sedang bekerja di Jawa, yang mencerminkan adanya konsentrasi
industri di Pulau Jawa tersebut. Demikian pula dalam penyerapan tenaga
kerjanya. Ketimpangan spasial dan keterbelakangan KTI terhadap Pulau
Jawa dan KBI, terjadi sebagai konsekuensi logis dari keterisolasian dan
pilihan strategi pembangunan yang lebih berpihak kepada “efisiensi”
(pertumbuhan) ketimbang “equity” (keadilan). Dapat dilihat pula, misalnya,
suatu gambaran yang sangat menonjol selama pemerintahan Orde Baru,
khususnya sejak dasawarsa 1970-an, yakni aktivitas ekonomi yang dominan
di Pulau Jawa dan sebagian di Sumatera, sebagaimana dicerminkan
aglomerasi kegiatan-kegiatan sektor modern di daerah tersebut.
Dengan mengklasifikasikan 26 provinsi berdasarkan tingkat
pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan per kapita regional, studi yang
dilakukan Majidi (1997: 8-11) menemukan bahwa provinsi-provinsi di Pulau
Jawa terkonsentrasi dalam satu kuadran yang tingkat pertumbuhan dan
pendapatannya tinggi (high growth, high income). Ditemukan pula
konsentrasi industri di provinsi-provinsi tersebut. Hal ini terjadi karena (1)
fasilitas prasarana yang lebih baik dan lengkap, (2) ketersediaan tenaga dan
tingkat upah yang relatif rendah, (3) sentralisasi birokrasi dan sistem
perizinan yang berlebihan di Jawa, khususnya Jakarta; dan (4) kebijakan
perdagangan regional dan kebijakan sektoral yang bias di Jawa.
Ketimpangan antardaerah ini juga diperkuat oleh sistem pengalokasian
anggaran regional yang ada. Sistem dan strategi alokasi yang digunakan
8.6 Perekonomian Indonesia 

dalam penyusunan anggaran selama ini telah mendorong pertumbuhan


ekonomi dan pendapatan per kapita yang tidak seimbang antara wilayah satu
dengan wilayah lain. Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan
Jawa Tengah, selalu mendapatkan porsi anggaran yang besar, karena sistem
dan alokasi anggaran yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Demikian pula
alokasi penambahan anggaran di departemen-departemen teknis
menggunakan pola yang seragam, nyaris sama setiap tahun.
Studi yang dilakukan Davey (1989: 191) menunjukkan bantuan-bantuan
Pusat tidak banyak membantu mengimbangi kelemahan sumber daya daerah.
Bahkan diketahui ada hubungan yang positif antara bantuan dan tingkat
penerimaan daerah, yang berarti daerah-daerah yang lebih kaya justru
mendapat bantuan yang lebih besar dari Pusat. Adanya ketidakjelasan
variabel yang digunakan sebagai kriteria bantuan Pusat ini memberikan
kontribusi terhadap peningkatan kesenjangan fiskal dan akhirnya
kesenjangan pendapatan antar daerah.
Anne Booth (1977: 72 – 78), yang jauh lebih dulu mengadakan studi
dibandingkan Ahmad tersebut, juga telah menunjukkan rendahnya
desentralisasi fiskal di Indonesia. Hal ini disebabkan pola hubungan fiskal
antara pemerintah pusat dengan daerah-daerah sangat terpusat, dan upaya
untuk mengembangkan keuangan daerah sangat rendah. Pemerintah Daerah
sangat tergantung pada bantuan dana Pusat untuk menutup kekurangan
pengeluaran. Namun demikian, dana bantuan yang besar ini tidak selalu
efektif, karena diberikan dengan syarat/prakondisi yang ketat, yang membuat
Pemerintah Daerah terbatas keleluasaannya untuk mengalokasikan bantuan
tersebut dengan baik.

B. DESENTRALISASI FISKAL DAN PEMBANGUNAN DAERAH

Kajian-kajian ilmiah menunjukkan pentingnya pemberian peran yang


lebih besar bagi daerah dalam melaksanakan pembangunan ekonomi di
daerahnya. Temuan Wuryanto (1996: 179-180), yang menggunakan
pendekatan Keseimbangan Umum Terapan antar-regional, menunjukkan
pendelegasian sebagian kewenangan pemerintah pusat kepada provinsi dan
kabupaten/kota dapat dilakukan tanpa mengganggu kepentingan ekonomi
nasional. Oleh karena itu, ia merekomendasikan reformasi kebijakan fiskal
yang berlaku, yang diarahkan pada sistem desentralisasi fiskal, termasuk di
dalamnya merestrukturisasi pembagian kewenangan di antara pemerintah
 ESPA4314/MODUL 8 8.7

pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam hal penerimaan dan


pengeluarannya.
Salah satu kunci untuk itu adalah perlunya suatu reformasi dalam
hubungan fiskal antartingkatan pemerintahan, yang meliputi desentralisasi
kewenangan dalam pengeluaran dan penerimaan pemerintah. Desentralisasi
fiskal dinilai dapat memberikan sumbangan dalam penyediaan prasarana
publik di daerah melalui pencocokan (matching) yang lebih baik dari
pengeluaran daerah dengan prioritas dan preferensi daerah tersebut.
Keadaan yang demikian telah mendorong terjadinya perubahan-
perubahan yang berkaitan dengan hubungan antara Pemerintah Pusat dengan
Daerah, yakni dengan menggantikan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974
tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5
Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dengan Undang-undang Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-undang No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah ditambah dengan Undang-undang No. 12
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta mengganti Undang-Undang Nomor
32 Tahun 1956 tentang Perimbangan Keuangan antara Negara dengan
Daerah-daerah yang Berhak Mengurus Rumah Tangganya sendiri dengan
Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah (PKPPD) dan Undang-undang No. 33
Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah. Adapun UU Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah telah digantikan oleh Undang-undang Nomor 23 Tahun
2014 Tentang Pemerintahan Daerah yang pada tahun yang sama dilakukan
perubahan dendan digulirkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang (PERPPU) Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.
Dalam konteks otonomi dan desentralisasi fiskal, Mardiasmo (2001:1)
secara spesifik mengemukakan tiga misi utama dari kebijakan tersebut, yaitu:
1) meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan
rakyat, 2) menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya
daerah, dan 3) memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat
untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Sedangkan Oates (World
Bank, 2002:1) menyatakan argumen teoretik tentang pentingnya
desentralisasi fiskal adalah “each public service should be provided by the
8.8 Perekonomian Indonesia 

jurisdiction having control over the minimum geographic area that would
internalize benefits and cost of such provision”.
Secara umum, menurut Rao (2000: 78), desentralisasi pemerintahan dan
fiskal didorong oleh desakan untuk menyediakan pelayanan-pelayanan
pemerintah yang lebih efisien dan aspiratif. Namun demikian, dalam sistem
perpajakan dan pengelolaan sumber di daerah sebagian masih diatur dan
ditangani di pusat, sumber dana dari pusat tetap penting untuk mendukung
berbagai kegiatan di daerah. Masalah transfer ini merupakan salah satu isu
yang sangat penting dalam pelaksanaan desentralisasi di Asia (Sato dan
Shindi Yamashige, 2000: 83).
Menurut Sidik (1999:2), ada empat kriteria untuk menjamin sistem
hubungan keuangan Pusat-Daerah yang baik. Pertama, harus memberikan
pembagian kewenangan yang rasional dari berbagai tingkat pemerintahan
mengenai penggalian sumber dana pemerintah dan kewenangan
penggunaannya; kedua, menyajikan suatu bagian yang memadai dari sumber-
sumber dana masyarakat secara keseluruhan untuk membiayai pelaksanaan
fungsi-fungsi penyediaan pelayanan dan pembangunan yang diselenggarakan
pemerintah daerah; ketiga, sejauh mungkin membagi pengeluaran pemerintah
secara adil di antara daerah-daerah, atau sekurang-kurangnya memberikan
prioritas pada pemerataan pelayanan kebutuhan dasar tertentu; dan keempat,
pajak dan retribusi yang dikenakan pemerintah daerah harus sejalan dengan
distribusi yang adil atas beban keseluruhan dari pengeluaran pemerintah
dalam masyarakat.

C. POLITIK-EKONOMI OTONOMI DAERAH

Sejak dikeluarkannya UU 22/1999 tentang Pemerintah Daerah,


pemerintah kota/kabupaten seolah-olah berlomba untuk mengejar
ketertinggalan akibat sentralisme di masa lalu. Mulailah era peningkatan
Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang sebagian besar bersumber dari
optimalisasi pajak, retribusi, pungutan-pungutan, dan eksploitasi kekayaan
alam di daerah, yang kadang mengabaikan perhatian terhadap ekonomi
rakyat. Lebih disayangkan lagi, orientasi PAD dan lobi ke pusat (yang justru
lebih intensif dilakukan di era ini) masih berorientasi pada kemuliaan
pemerintah daerah dan DPRD, mengabaikan pemecahan masalah
pengangguran, kemiskinan, dan pendidikan (Setiaji, 2004).
 ESPA4314/MODUL 8 8.9

Pemberdayaan rakyat melalui kebijakan desentralisasi juga masih


menjadi tanda tanya besar manakala kecenderungan yang terjadi adalah
beralihnya kekuasaan dari elit-elit pusat kepada elit-elit daerah. Bahkan
muncul kritik keras bahwa yang terjadi adalah desentralisasi korupsi yang
makin menyebar merata di daerah-daerah. Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBD) yang seharusnya menjadi instrumen peningkatan
kesejahteraan rakyat tidak jarang menjadi ladang “penjarahan” oleh elit
politik, baik secara terang-terangan melalui alokasi anggaran yang mengada-
ada (tunjangan, asuransi, dan mobil dinas baru), maupun yang sembunyi-
sembunyi. Cara terakhir ini makin banyak terungkap setelah banyak kepala
daerah, anggota DPRD, dan pejabat daerah lainnya yang terjerat kasus
korupsi. Masih lemahnya kontrol masyarakat sipil terhadap superioritas
kekuasaan kepala daerah dan DPRD, yang didukung partai politik, makin
memperkuat sinyalemen akan munculnya “raja-raja kecil” di daerah (Usman,
2004).
Munculnya UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai koreksi
(perombakan) terhadap UU 22/1999 ditanggapi secara kritis oleh banyak
kalangan, terutama LSM, yang selama ini bergerak dalam pemberdayaan
(otonomi) masyarakat desa. Bahkan ada kekhawatiran bahwa UU tersebut
merupakan upaya “re-sentralisasi” yang makin menghilangkan kontrol dan
akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi pedesaan. UU tersebut
dinilai mengebiri peran politis dan kontrol publik (masyarakat desa) terhadap
jalannya pemerintahan desa, di mana BPD tidak lagi dipilih secara langsung,
melainkan musyawarah pengurus desa, yang berarti memasung penguasaan
dan kontrol masyarakat terhadap sumber daya ekonomi pedesaan. Peran ini
akan diambil alih kembali oleh pemerintah daerah dan swasta demi lancarnya
iklim investasi (Abdullah, 2004).
Perubahan mendasar dalam UU ini adalah dilaksanakannya pemilihan
kepala daerah secara langsung (Pilkadal) secara serentak pada bulan Juni
2005. Pilkadal dianggap sebagai perwujudan kedaulatan rakyat di daerah dan
partisipasi politik dalam ikut menentukan pemimpin yang sesuai dengan
aspirasi mereka. Patut dicatat bahwa Pilkadal memang lazim ditempuh
sebagai sarana demokratisasi dan pendidikan politik masyarakat, namun
instrumen ini belum cukup menjadi jaminan bagi perbaikan kesejahteraan
rakyat. Dengan kalimat yang sederhana, demokrasi politik belum menjadi
jaminan terwujudnya demokrasi ekonomi.
8.10 Perekonomian Indonesia 

Masyarakat daerah, terutama yang tinggal di pelosok-pelosok desa, tidak


saja membutuhkan akses politik-ekonomi, yang dapat diberikan melalui
Pilkadal, melainkan mereka juga harus mempunyai daya untuk melakukan
kontrol politik-ekonomi atas segala sumber daya daerah yang ada. Terlebih
lagi pelaksanaan Pilkadal membutuhkan biaya yang sangat besar, yang
berpotensi menguras keuangan daerah, jika tidak menghasilkan perubahan
signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah.

1. Kesenjangan Fiskal (Fiscal Gap)


Dari pelaksanaan desentralisasi selama ini, ada beberapa permasalahan
yang dihadapi oleh banyak pemerintah daerah. Permasalahan yang paling
banyak muncul adalah ketidakcukupan sumber daya keuangan untuk
menutup fiscal gap.
Terjadinya fiscal gap ini diperparah dengan adanya penyempitan
pemahaman dan persepsi tentang otonomi, di mana sebagian daerah
menerjemahkannya sebagai automoney. Menurut Mardiasmo (2001) ada
beberapa masalah mendasar yang dihadapi pemerintah daerah yang terkait
dengan kurangnya sumber daya keuangan, yaitu:
a. Tingginya tingkat kebutuhan daerah (fiscal need) sementara penerimaan
daerah (fiscal capacity) tidak cukup untuk membiayai kebutuhan daerah,
sehingga keadaan tersebut menimbulkan fiscal gap.
b. Kualitas pelayanan publik yang masih memprihatinkan sehingga
menyebabkan beberapa produk pelayanan publik yang sebenarnya bisa
dijual ke masyarakat melalui charging for service direspons secara
negatif.
c. Rendahnya kualitas sarana dan prasarana, seperti jalan, pasar, dan
terminal, sehingga menyebabkan kelesuan perekonomian daerah.
d. DAU dari pemerintah pusat yang tidak mencukupi.
e. Belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi riil.

2. Ekonomi Biaya Tinggi


Salah satu masalah politik-ekonomi dalam penerapan desentralisasi
fiskal adalah kecenderungan makin lestarinya ekonomi biaya tinggi di
daerah. Perhatian terhadap aspek negatif ekonomi biaya tinggi perlu
diberikan karena berpotensi menekan dan menghambat peningkatan
kesejahteraan ekonomi rakyat daerah. Salah satu penyebab terjadinya
ekonomi biaya tinggi adalah maraknya praktik-praktik “politik uang” (money
 ESPA4314/MODUL 8 8.11

politics) di daerah, yang ditengarai dilakukan dalam pemilihan kepala daerah,


pembahasan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), dan tender proyek kepada
pihak swasta. Dalam hal ini terjadi hubungan interkorelasi yang sangat kuat
antara “uang” dan “kekuasaan”, yang dilakukan oleh elit politik dengan
dukungan pemodal (pengusaha besar). Pada titik inilah politik uang,
utamanya yang masif makin mempengaruhi struktur biaya produksi yang
makin membengkak, sehingga menekan upah buruh dan mengharuskan
konsumen, termasuk pelaku ekonomi rakyat didaerah membayar produk
dengan harga yang lebih mahal.
Fenomena yang masih terjadi di dalam politik Indonesia adalah uang
diperlakukan sebagai alat mencapai kekuasaan. Kemudian kekuasaan
digunakan sebagai alat untuk mencari (mengembalikan) uang yang telah
dikeluarkan. Tidak jarang kandidat kepala daerah di Indonesia rela
mengeluarkan dana kampanye hingga milyaran rupiah, yang diharapkan akan
kembali melalui kekuasaan yang dimilikinya. Pada tataran inilah kemudian
politik uang merembet pada berlakunya ekonomi biaya tinggi lainnya, yaitu
korupsi dan kolusi. Tidak dapat dipungkiri, korupsi dalam wujud kebocoran
anggaran terus menggerogoti perekonomian daerah sehingga kesejahteraan
ekonomi rakyat tetap saja terpuruk. Korupsi di daerah juga muncul dalam
bentuk-bentuk transaksi illegal seperti halnya yang terjadi dalam illegal
logging dan illegal fishing, yang makin merata pelaku dan penikmatnya.
Ekonomi biaya tinggi juga terjadi karena biaya birokrasi daerah yang
ditunjang adanya peraturan-peraturan daerah (Perda) yang semata-mata
berorientasi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pengurusan
perizinan usaha kadang masih belum mencerminkan kemudahan dan
kecepatan pelayanan kepada masyarakat. Di sisi lain, berbagai pungutan
pajak dan retribusi yang dilegitimasi Perda dapat memberatkan pelaku
ekonomi rakyat yang sedang merintis usahanya.
Contoh konyol dari euforia otonomi daerah yang kontra produktif
dengan daya saing adalah ditemukannya 68 peraturan daerah yang
“bermasalah” oleh KPPOD, seperti Perda nomor 2 tahun 2000 di Kabupaten
Flores Timur yang berisi tentang sumbangan atas pengumpulan dan atau
pengeluaran hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hasil laut,
kehutanan, dan hasil perindustrian. Perda yang bersifat pajak sumbangan ini
juga ditemui di Provinsi Jambi, yaitu Perda nomor 8 dan 9 tahun 2001
tentang sumbangan wajib pembangunan provinsi Jambi dari sektor kehutanan
dan sub sektor perkebunan. Selain perda tersebut, masih banyak perda yang
8.12 Perekonomian Indonesia 

sifatnya bertentangan dengan kepentingan umum ataupun bertentangan


dengan peraturan perundangan di atasnya. Kesemua bentuk euforia otonomi
daerah ini perlu dievaluasi agar daerah mampu membangun daya tahan dan
daya saingnya.

D. KERJA SAMA EKONOMI DAERAH

Pembangunan ekonomi regional pada hakikatnya merupakan


pelaksanaan suatu strategi pembangunan yang bersifat terpadu dan
menyeluruh (Pamudji, 1985). Penyelenggaraan pembangunan pada berbagai
sektor, memiliki ruang lingkup kepentingan yang luas dan mencakup lintas
batas daerah/wilayah administratif. Oleh karena itu, pembangunan daerah
pada dasarnya diorientasikan pada pengembangan suatu wilayah tertentu,
yang akhir-akhir ini dihadapkan pada berbagai permasalahan yang sulit untuk
diatasi sendiri, tetapi juga mengharuskan dilakukannya kerja sama dengan
daerah sekitar.
Berbagai akibat pembangunan pada suatu daerah seringkali harus dipikul
oleh daerah lainnya. Kesemuanya ini, hanya mungkin akan diatasi melalui
suatu kerja sama antar daerah, di mana kepentingan-kepentingan mereka
dapat terwujud tanpa mengorbankan pihak lain. Suatu kerja sama akan lebih
mampu memelihara kesinambungan pembangunan sehingga kesejahteraan
masyarakat dapat terus ditingkatkan secara bertahap.
Kebutuhan infrastruktur dan fasilitas publik, seperti pusat kesehatan dan
jasa sosial bagi masyarakat, pusat perbelanjaan, dan sarana publik lainnya
pada suatu kota/daerah tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan yang sama akan
infrastruktur tersebut oleh masyarakat daerah tetangga sehingga dalam
perencanaannya perlu kerja sama (Mier, 1993). Hal ini juga akan mengatasi
berbagai permasalahan keterbatasan pendanaan serta efektivitas pemanfaatan
sarana bersama.
Bagaimanapun pembangunan regional memiliki eksternalitas bagi
daerah lain (Hoover, 1984). Ketimpangan pembangunan ekonomi
antarwilayah akan menyebabkan konvergensi pendapatan masyarakat,
peningkatan arus sumber daya dan faktor produksi, permodalan, dan tenaga
kerja antardaerah. Hal ini akan mendorong pengembangan infrastruktur
ekonomi, sarana komunikasi, dan transportasi antarwilayah.
Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, secara nyata akan berdampak pada
mobilitas input antarwilayah dan tenaga kerja. Dari sisi penawaran tenaga
 ESPA4314/MODUL 8 8.13

kerja, hal ini juga akan berdampak pada penyesuaian kualitas tenaga kerja
antarwilayah, dan akan terjadi transfer teknologi sehingga diperlukan
penyesuaian-penyesuaian kebijakan ekonomi antar wilayah. Perkembangan
perekonomian regional akan didorong oleh pertumbuhan sektor publik dan
swasta. Dengan demikian, diperlukan perencanaan pembangunan yang
terintegrasi antarwilayah, termasuk dalam penyediaan infrastruktur ekonomi,
seperti perkantoran, pasar dan pusat perbelanjaan, pusat kesehatan, dan
infrastruktur lainnya (Hoover, 1984).
Kebijakan desentralisasi pemerintahan (otonomi daerah) pada
hakikatnya merupakan tuntutan kemandirian daerah untuk menjalankan
pembangunan dalam berbagai aspek. Aspek penting yang akhir-akhir ini
menjadi fokus dari tiap daerah adalah meningkatnya taraf ekonomi
masyarakat dan kemampuan keuangan daerah (Osborne, 2000). Otonomi
daerah diyakini sebagai jalan terbaik dalam rangka mendorong pembangunan
daerah.
Konsep otonomi daerah dan desentralisasi fiskal (dalam konteks
pembangunan ekonomi) beranggapan bahwa pemberian kewenangan luas
kepada pemerintah daerah akan memudahkan pemda dalam mengelola
kekayaan dan keunggulan daerahnya sendiri. Kemudahan tersebut kemudian
dijadikan dasar dalam persaingan antardaerah dalam memperebutkan
investasi yang masuk di setiap daerah akan memberikan kemudahan dan
insentif bagi investor potensial. Pada akhirnya, perekonomian nasional akan
merasakan manfaatnya karena daya tarik daerah-daerah tersebut bagi
investasi baru. Namun pada kenyataannya, kebanyakan daerah belum
menganggap investasi sebagai bagian penting dari upaya perbaikan
perekonomian lokal (Brojonegoro, 2003).
Pada sisi lain, saat ini telah terjadi persaingan untuk menarik investasi
yang tidak hanya terjadi antardaerah provinsi tetapi juga antardaerah
kabupaten/kota. Persaingan ini bahkan menjadi tidak sehat ketika muncul
egoisme kedaerahan yang berujung pada upaya saling mengalahkan atau
saling mematikan. Padahal setiap daerah, baik provinsi maupun
kabupaten/kota, seharusnya melakukan kerja sama regional dalam rangka
mendorong pembangunan ekonomi daerah (Triyono, 2004).
Adanya kebijakan desentralisasi, pemerintahan daerah diharapkan
mampu melaksanakan otonomi daerah tanpa perlu lagi berharap yang terlalu
besar kepada pemerintah pusat. Prinsip menolong diri sendiri (providing self-
help) atau berdiri di atas kemampuan daerah itu sendiri secara otonom,
8.14 Perekonomian Indonesia 

merupakan pilihan yang tepat dan realistis dalam mengatasi berbagai kendala
pelaksanaan otonomi daerah yang dihadapi. Membangun kerja sama dan
kebersamaan untuk memajukan daerah atau antar daerah perlu lebih
dikembangkan, agar tercipta suasana yang kondusif dalam pelaksanaan
otonomi daerah, di samping juga menghindarkan terjadinya konflik-konflik
yang dapat merugikan (Juoro, 2001). Kerja sama antar-daerah merupakan
bagian penting pelaksanaan otonomi daerah dalam kerangka perwujudan
good governance.
Dalam persaingan menarik arus investasi, setiap daerah bisa terjebak
dalam egoisme kedaerahan yang mengartikan daya saing (competitiveness)
dan kemandirian (independency) hanya sebatas pada wilayah kabupaten/kota.
Hal ini berdampak pada inefisiensi dan inefektivitas pelaksanaan
pembangunan daerah, termasuk pembangunan investasi sebagai bagian
integral dari pembangunan nasional. Untuk menghindari hal tersebut,
diperlunya kerja sama jaringan (networking) antar kabupaten/kota (kerja
sama horisontal), baik dalam provinsi maupun antar provinsi, yang
didasarkan pada aspek geografis, potensi, bisnis maupun kesamaan
kepentingan (Triyono, 2004).
Secara umum, ada beberapa motivasi utama dari suatu kerja sama
antardaerah (Pamudji, 1983), yaitu:
1. Sebagai suatu usaha untuk mengurangi kemungkinan adanya kemajuan
pembangunan yang pesat di satu daerah dengan membawa akibat
dikstruktif (eksternalitas negatif) terhadap daerah-daerah sekitarnya.
Dalam konteks ini, kerja sama ditujukan pada usaha untuk mewujudkan
keserasian perkembangan wilayah dari daerah-daerah yang berdekatan.
Motivasi ini dibentuk oleh kenyataan ketidakseimbangan kemampuan
daerah yang satu dengan yang lain sehingga diperlukan langkah-langkah
penyesuaian.
2. Sebagai usaha untuk memecahkan masalah bersama dan atau untuk
mewujudkan tujuan bersama. Dalam konteks ini, kerja sama ditujukan
pada usaha untuk mewujudkan tujuan-tujuan bersama, terlepas dari
kenyataan apakah daerah tersebut secara geografis berdekatan atau tidak.
Motivasi ini dibentuk oleh kesadaran bahwa suatu tujuan tertentu yang
hendak diwujudkan sulit tercapai secara efektif dan efisien tanpa melalui
kerja sama antar daerah.
3. Dengan orientasi pada berbagai kepentingan untuk meningkatkan
investasi, antar kabupaten/kota harus melaksanakan koordinasi bahkan
 ESPA4314/MODUL 8 8.15

kerja sama yang saling menguntungkan. Selain itu, perlu perencanaan


kerja sama antardaerah kabupaten/kota yang dipadukan secara regional
di tingkat provinsi (kerja sama vertikal). Perencanaan ini kemudian
diteruskan ke pusat. Kerja sama akan mengurangi persaingan yang tidak
sehat antar daerah.

Secara konseptual, melalui kerja sama antar daerah akan diperoleh


beberapa manfaat (Triyono, 2004), antara lain:
1. Mengurangi persaingan yang tidak sehat antardaerah. Pada dasarnya
masing-masing daerah mempunyai kepentingan untuk memacu sektor-
sektor tertentu yang menjadi unggulannya. Bila pada dua daerah atau
lebih memiliki sektor unggulan yang sama, dikhawatirkan terjadi
persaingan yang tidak sehat dan akhirnya menjadi kontraproduktif
dengan tujuan awal.
2. Memperkuat posisi tawar daerah. Dalam upaya menarik investor, jika
suatu daerah memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang terbatas,
kekurangannya dapat diisi oleh daerah lain. Atau bila suatu daerah yang
kaya Sumber Daya Alam (SDA) namun rendah potensi Sumber Daya
Manusia (SDM), dapat bekerja sama dengan daerah yang lebih kuat
Sumber Daya Manusia (SDM) secara komplementer.
3. Meningkatkan efisiensi promosi. Pengenalan produk-produk kepada
masyarakat luas termasuk meningkatkan akses pasar baik dalam skala
regional, nasional maupun internasional dapat dilakukan secara efektif,
efisien, dan ditanggung bersama.
4. Sinkronisasi peraturan perundang-undangan. Investor akan mendapatkan
kemudahan untuk masuk ke suatu wilayah apabila terdapat suatu
kesamaan pengaturan di antara daerah-daerah pada wilayah tersebut.
Dalam kaitan ini investor diharapkan tidak mengalami hambatan
birokrasi.
5. Efektivitas penyiapan infrastruktur. Investor akan tertarik masuk pada
suatu wilayah apabila infrastruktur yang ada di daerah-daerah sebagai
lintasan modal proses produksinya tersedia secara memadai.
6. Memudahkan dibangunnya link bottom up. Dengan adanya kerja sama
antardaerah akan mempermudah dibangunnya jaringan kerja secara
vertikal baik ke provinsi maupun pusat di lingkungan pemerintahan
ataupun di dunia usaha itu sendiri.
8.16 Perekonomian Indonesia 

E. STUDI KASUS: OPTIMALISASI POTENSI EKONOMI RAKYAT


DI ERA OTONOMI

Pelaksanaan otonomi daerah membawa pengaruh yang signifikan dalam


upaya pengembangan ekonomi kerakyatan. Di berbagai daerah seperti Kutai
Barat, Sawahlunto, Pasir, Kulon Progo, Nganjuk, dan daerah lain dapat
dijumpai berbagai program dan kebijakan pemerintah yang secara eksplisit
mengarah kepada pengembangan ekonomi kerakyatan. Namun, dalam tataran
paradigmatik, pemerintah daerah banyak yang masih terpaku pada model-
model pembangunan daerah konvensional yang bertupaya mengejar
pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya melalui investasi (asing) sebanyak-
banyaknya. Padahal, signifikansi penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan
ekonomi daerah dari investasi model ini masih perlu diragukan, ketimbang
model investasi yang berbasis potensi daerah, seperti halnya yang dilakukan
oleh banyak pelaku ekonomi rakyat di daerah-daerah. Data dari Kabupaten
Nganjuk memberi gambaran betapa produktif dan efisiennya investasi oleh
pelaku ekonomi rakyat yang bergerak di sektor industri kecil informal
setempat.

Tabel 8.2.
Struktur Industri Kecil Nganjuk tahun 2014

Item Formal % Informal % Total


Unit Usaha 487 3,52 13.353 96,48 13.840
Tenaga Kerja 5.800 14,52 35.005 85,48 40.805
Investasi Rp 13,8 M 81,5 Rp 3,1 M 18,5 Rp16,9 M
Produksi Rp 67,8 M 19,7 Rp 276,9 M 80,3 Rp 344,7 M
Sumber: BPS Nganjuk, Nganjuk Dalam Angka tahun 2014

Studi kasus di Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat, menunjukkan bahwa


pengembangan investasi oleh ekonomi rakyat perlu dioptimalkan dalam era
otonomi daerah. Kebupaten Pandeglang yang Bupatinya sendiri mengakui
perekonomiannya sangat tertinggal dibanding tetangganya (Lebak, Serang,
dan Tangerang), setelah dilaksanakannya otonomi daerah dan menjadi bagian
provinsi (baru) Banten, kini berusaha dengan berbagai cara mengejar
ketertingalannya, baik di bidang ekonomi maupun sosial. Namun tidak
banyak yang menyadari bahwa “ketertinggalan” di bidang ekonomi dalam
 ESPA4314/MODUL 8 8.17

bentuk rendahnya nilai PAD sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan


ketertinggalan itu.
Belum adanya investor dari luar termasuk investor asing justru
merupakan “kekuatan” ekonomi rakyat Pandeglang, dan bukan merupakan
tanda kelemahan. Jika di kabupaten Bekasi dan Tangerang yang menjadi
lokasi industri-industri besar dan menengah dari luar negeri, “kehancuran”
industrinya karena krismon memukul telak ekonomi setempat, maka sektor
industri Pandeglang tidak mengalami pukulan serupa. Pada tahun 2014
industri pengolahan mengalami pertumbuhan 27,6 persen padahal rata-rata 3
tahun sebelumnya hanya tumbuh 11,3 persen. Dengan demikian krisis
moneter malahan memberi peluang bagi pertumbuhan industri rakyat di
Pandeglang.
Krismon yang menurunkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
provinsi Jawa Barat dengan 17,77 persen tahun 1998 ternyata berdampak
relatif ringan bagi warga kabupaten Pandeglang yaitu “hanya” 7,73 persen.
Mengapa demikian? Sebabnya adalah krisis moneter yang dimulai pada
pertengahan 1997 memang memukul telak sektor industri modern yang
berpusat di kota-kota besar, sedangkan industri pengolahan di Pandeglang
lebih bersifat industri rakyat dan itupun dibiayai (didanai) oleh lembaga-
lembaga keuangan mikro dari ekonomi rakyat sendiri. Terbukti sektor
industri pengolahan telah tumbuh 27,6 persen dan lembaga keuangan bukan
bank juga tumbuh positif luar biasa yaitu 278,7 persen pada tahun yang sama.
Dalam nilai absolut dana keuangan bank mencapai Rp8,95 milyar
sedangkan dana keuangan nonbank mencapai Rp6,68 milyar. Sektor
pertanian yang menyumbang 36,7 persen pada Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) Pandeglang di dalamnya terdapat sektor perikanan (5,5
persen) yang juga tidak mengalami kontraksi, tetapi tetap tumbuh positif 10,0
persen pada tahun 1998. Juga menarik meskipun nilainya kecil (Rp86,09
milyar, 1 persen PDRB), bahwa subsektor hiburan dan rekreasi yang tumbuh
positif 17,3 persen pada tahun yang sama. Sektor-sektor lain yang
menggambarkan kehidupan ekonomi rakyat yang tetap tumbuh positif (tidak
terkena dampak negatif krismon) adalah industri milik BUMN & BUMD
yaitu listrik, gas, dan air minum, yang tumbuh 36,0 persen. Selain itu
angkutan laut, jasa penumpang angkutan, dan komunikasi masing-masing
tumbuh 7,4 persen, 1,8 persen, dan 68,3 persen. Subsektor komunikasi
tumbuh nomor 2 tertinggi setelah lembaga keuangan non-bank. Nilai PDRB
sub-sektor komunikasi ini meningkat 140 persen dari Rp2,1 milyar menjadi
8.18 Perekonomian Indonesia 

Rp5,0 milyar selama 1995-1999, padahal sektor angkutan “hanya” tumbuh


26,4 persen saja.
Pasca krismon dan pemberlakuan otonomi daerah, ekonomi rakyat di
daerah-daerah sudah bangkit, tidak sekadar menggeliat. Usaha-usaha
ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai Usaha Kecil
Menengah (UKM) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri
atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian, koperasi atau
lembaga-lembaga keuangan mikro “informal” di pedesaan. Misalnya, selama
1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5,6
kali (560 persen), dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368
persen.
Di sisi lain, perkembangan pesat di sektor ekonomi rakyat tersebut
belum diikuti peningkatan peranan perbankan untuk menghimpun dana
masyarakat, yang kemudian digunakan untuk membangun daerah setempat.
Dana perbankan seharusnya digunakan sebesar-besarnya untuk membangun
daerah melalui penyaluran kredit kepada pelaku ekonomi rakyat setempat,
dan bukannya justru dibawa ke luar daerah (Jakarta) untuk membiayai
pemodal dari luar daerah. Sayangnya, sistem perbankan cenderung
“menyedot” sumber daya keuangan daerah ke pusat-pusat ekonomi dan
bisnis di Jakarta. Bank-bank di daerah pada umumnya difungsikan sebagai
cabang dari bank pusat, sehingga tidak cukup tanggap terhadap kebutuhan-
kebutuhan pembangunan di tingkat lokal.
Akhirnya, kebijakan otonomi daerah memberi peluang yang lebih besar
bagi daerah-daerah untuk mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan, yang
diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat secara merata. Dalam
hal ini perhatian pemerintah daerah terhadap upaya-upaya pemberdayaan
ekonomi rakyatnya dituntut makin besar, seiring dengan peningkatan
partisipasi mereka dalam pembangunan daerah. Kekuasaan politik-ekonomi
yang makin besar bagi pemerintah daerah dan DPRD harus dapat digunakan
sebesar-besar untuk memakmurkan rakyat, bukannya untuk memperkaya diri
dengan terus membodohi mereka. Artinya, demokratisasi politik dalam era
otonomi daerah harus selalu diiringi dengan upaya demokratisasi ekonomi,
sehingga misi mulia otonomi daerah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat dapat tercapai.
Isu lain yang menarik terkait otonomi daerah adalah banyak daerah yang
mengajukan pemekaran wilayah dengan pertimbangan efisiensi dan
efektifitas penyelenggaraan pemerintahan ataupun dengan alasan bahwa
 ESPA4314/MODUL 8 8.19

dengan pemekaran menjadikan daerah lebih mampu meningkatkan pelayanan


publik. Tidak jarang pemekaran diusulkan oleh suatu daerah untuk
mendapatkan dana lebih, karena daerah baru selain mendapat anggaran dari
pusat melalui DAU/DAK juga masih berkesempatan mendapat anggaran dari
daerah induk meski pada tahun awal berdiri saja (sesuai UU No. 32 tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah hasil amandemen UU No. 22 tahun 1999
dengan landasan PP No. 129 tahun 2000).
Namun demikian, daerah atau bahkan pemerintah melalui kementerian
dalam negeri terkadang kurang cermat dalam memperhitungkan tentang
manfaat yang diperoleh dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan. Contoh
kasus adalah Kota Banjar yang memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis pada
11 Desember 2002. Pasca lepas dari Kabupaten Ciamis, wilayah ini harus
berjuang untuk memenuhi SPM (Standar Pelayanan Minimal) bagi
masyarakatnya. Dalam bidang persampahan misalnya, Kota Banjar ini harus
membuat TPA sendiri, karena TPA yang selama ini mereka gunakan masuk
ke wilayah Kabupaten Ciamis (wilayah induk). Kota Banjar perlu waktu
beberapa tahun untuk membuat TPA sendiri, itupun dengan bantuan
pemerintah pusat. Belum lagi dengan fasilitas publik lain yang harus dibuat
sendiri. Perkembangan jumlah pemerintah daerah baik provinsi maupun
kabupaten dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 8.3.
Struktur Industri Kecil Nganjuk tahun 2014

Daerah Otonom 1998 2014


Provinsi 27 34
Kabupaten 249 416
Kota 65 98
Jumlah 314 548
Sumber : Ditjen Otomi Daerah Kemendagri

Pemekaran daerah akan terus berlangsung dengan semakin banyaknya


tuntutan yang masuk dari daerah-daerah yang menghendaki wilayahnya dapat
menjadi pemerintah daerah sendiri baik secara geogrofi maupun administrasi.
Harmantyo (2011) yang mengolah data berdasarkan estimasi tim Desertada
Kemendagri (2010) memperkirakan hingga tahun 2025 jumlah daerah
otonom akan berjumlah 589 wilayah yang terdiri dari 44 provinsi dan 545
kabupen/kota.
8.20 Perekonomian Indonesia 

LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!
1) Jelaskan latar belakang perlunya penerapan otonomi daerah di
Indonesia!
2) Apakah kendala-kendala yang dihadapi Pemerintah Daerah secara umum
dalam melaksanakan otonomi daerah?
3) Jelaskan kaitan antara penerapan otonomi daerah dengan pengembangan
ekonomi kerakyatan (demokrasi ekonomi) di Indonesia!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Latar belakang perlunya penetapan otonomi daerah di Indonesia:


Adanya sentralisasi keuangan, seperti sentralisasi sistem perpajakan
dengan alasan efisiensi. Sentralisasi tidak saja dalam kebijakan fiskal
tetapi hampir di semua bidang, termasuk dalam sistem perencanaan dan
pelaksana pembangunan. Perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan
alokasi dana pembangunan sudah ditentukan dari pemerintah pusat,
sedangkan Pemerintah Daerah tinggal melaksanakannya saja. Keadaan
tersebut menyebabkan daerah memiliki ketergantungan yang sangat kuat
terhadap anggaran dan pusat. Sistem perencanaan pembangunan yang
terpusat, telah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi.
Namun pola pertumbuhan ekonomi tinggi masih juga dibarengi dengan
terjadi ketimpangan, antara kota dan desa, Jawa dan luar Jawa dan antara
Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI).
Keadaan tersebut merupakan hasil dari sistem sentralisasi selama
pemerintahan Orde Baru yang mengarahkan pembangunan lebih
berpihak kepada efisiensi (pertumbuhan) ketimbang equity (keadilan).
Belajar dari kondisi tersebut maka perlu dilakukan pendelegasian
sebagian kewenangan pusat kepada propinsi dan kabupaten kota melalui
reformasi kebijakan fiskal yang diarahkan pada sistem desentralisasi
fiskal termasuk pembagian kewenangan di antara pemerintah pusat,
provinsi dan kabupaten/kota dalam hal penerimaan dan pengeluarannya.
Perubahan tersebut terjadi dengan ditetapkannya UU No. 22 Tahun 1999
Tentang Pemerintahan Daerah (Otonomi Daerah) sekarang menjadi UU
 ESPA4314/MODUL 8 8.21

No.32 Tahun 2004 dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan


Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.

2) Kendala-kendala yang dihadapi Pemerintah Daerah secara umum dalam


melaksanakan otonomi daerah.
a) Ketidakcukupan sumber daya keuangan untuk menutup fiscal gap.
Kondisi tersebut disebabkan oleh:
(1) Tingginya tingkat kebutuhan daerah (fiscal need) sementara penerimaan
daerah (fiscal capacity) tidak cukup membiayai kebutuhan daerah.
(2) Kualitas pelayanan publik yang masih memprihatinkan.
(3) Rendahnya kualitas sarana, prasarana dam infrastruktur wilayah.
(4) DAU dari pemerintah pusat yang tidak mencukupi
(5) Belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi riil.

b) Semakin tinggi masalah ekonomi biaya tinggi di daerah, yang


disebabkan oleh politik uang, KKN dalam Proyek Pemerintah
daerah, akibat mengejar target PAD banyak kebijakan daerah
(Perda) yang bertentangan dan tidak mengacu kepada kebijakan
pusat dan menghambat investasi di daerah.

3) Kaitan antara penerapan otonomi daerah dengan pengembangan


ekonomi kerakyatan (demokrasi ekonomi) di Indonesia.
Konsep otonomi daerah dan desentralisasi fiskal (dalam konteks
pembangunan ekonomi) beranggapan bahwa pemberian kewenangan
luas kepada pemerintah daerah akan memudahkan pemda dalam
mengelola kekayaan dan keunggulan daerahnya sendiri dalam rangka
mendorong pembangunan daerah. Aspek penting yang akhir-akhir ini
menjadi fokus dari setiap daerah adalah meningkatnya taraf ekonomi
masyarakat dan kemampuan keuangan daerah. Pelaksanaan otonomi
daerah tentunya membawa pengaruh yang signifikan dalam
pembangunan ekonomi kerakyatan. Investasi yang masuk pastinya akan
diarahkan sesuai dengan potensi daerah sehingga memberikan
kesempatan dan memberdayakan pelaku ekonomi di tingkat lokal.
Kebijakan otonomi daerah memberi peluang yang lebih besar bagi
daerah untuk mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan, yang
diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan secara merata..
8.22 Perekonomian Indonesia 

Program IDT meliputi:


a) kelompok bantuan langsung sebesar Rp.20 juta/desa tertinggal
sebagai dana bergulir 3 tahun berturut-turut.
b) Bantuan pendamping Pokmas IDT oleh tenaga pendamping sarjana
Pendamping Purna waktu (SP2W).
c) Bantuan pembangunan sarana dan prasarana.

R A NG KU M AN

Latar belakang otonomi daerah adalah adanya sentralisasi dalam


keuangan, seperti sentralisasi sistem perpajakan dengan alasan efisiensi.
Sentralisasi kebijakan tersebut tidak hanya dalam kebijakan fiskal,
namun juga pada hampir semua bidang, termasuk dalam perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan daerah. Faktor lain adalah pertumbuhan
ekonomi nasional relatif tinggi, namun pola pertumbuhannya timpang.
Ketimpangan tersebut berupa ketimpangan antara kota dan desa, Jawa
dan luar Jawa, serta antara Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan
Kawasan Barat Indonesia (KBI).
Tiga misi utama dari kebijakan tersebut ialah 1) meningkatkan
kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan rakyat, 2)
menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah,
dan 3) memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk
berpartisipasi dalam proses pembangunan
Beberapa masalah mendasar yang dihadapi pemerintah daerah yang
terkait dengan kurangnya sumber daya keuangan adalah: fiscal gap
kualitas pelayanan publik yang masih memprihatinkan, rendahnya
kualitas sarana dan prasarana, DAU dari pemerintah pusat yang tidak
mencukupi, dan belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi
riil.
Beberapa motivasi utama dari suatu kerja sama antardaerah adalah
sebagai suatu usaha untuk mengurangi eksternalitas negatif antardaerah,
untuk memecahkan masalah bersama dan atau untuk mewujudkan tujuan
bersama, dan untuk meningkatkan investasi. Melalui kerja sama antar
daerah akan diperoleh beberapa manfaat antara lain: mengurangi
persaingan yang tidak sehat antardaerah, memperkuat posisi tawar
daerah, meningkatkan efisiensi promosi, sinkronisasi peraturan
perundang-undangan, efektivitas penyiapan infrastruktur, dan
memudahkan dibangunnya link bottom up.
 ESPA4314/MODUL 8 8.23

TES F OR M AT IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Di bawah ini adalah latar belakang penerapan otonomi daerah di


Indonesia, adalah ....
A. pertumbuhan ekonomi rendah
B. kemiskinan struktural
C. pengangguran
D. sentralisasi ekonomi

2) Tingginya tingkat kebutuhan daerah sementara penerimaan daerah tidak


cukup untuk membiayai kebutuhan daerah akan menimbulkan ....
A. desentralisasi fiskal
B. kesenjangan fiskal
C. kebijakan fiskal
D. kesenjangan tabungan

3) Praktik-praktik yang dapat menimbulkan ekonomi biaya tinggi di era


otonomi daerah, adalah ....
A. pendapatan daerah
B. pungutan liar
C. bagi hasil
D. peraturan daerah

4) Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah tersebut di


bawah ini ….
A. bagi hasil migas
B. pajak daerah
C. pajak pusat
D. Dasar Alokasi Umum (DAU)

5) Konsentrasi industri pada beberapa provinsi di Pulau Jawa dapat terjadi


karena tersebut di bawah ini ....
A. bahan baku melimpah
B. lokasi strategis
C. kebijakan pemerintah daerah
D. sentralisasi perizinan
8.24 Perekonomian Indonesia 

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan =  100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
 ESPA4314/MODUL 8 8.25

Kegiatan Belajar 2

Pembangunan Manusia Indonesia


A. PENGUKURAN PEMBANGUNAN MANUSIA

Perdebatan tentang indikator pembangunan sosial-ekonomi sudah sejak


lama berlangsung. Indikator kenaikan pendapatan per kapita yang pada waktu
lalu menjadi ukuran utama keberhasilan pembangunan telah digugat bukan
saja oleh kalangan non-ekonomi, melainkan juga oleh para ekonom sendiri
yang melihat ketidakakuratan indikator tersebut dalam mengukur
keberhasilan pembangunan suatu masyarakat, yang kemudian memunculkan
beberapa alternatif dan pelengkap atas indikator pendapatan per kapita
tersebut. Di antara indikator yang belakangan ini banyak digunakan adalah
berkaitan dengan unsur pembangunan manusia. Cynthia Taft Morris
memunculkan indeks yang dikenal dengan The Physical Quality of Life Index
(PQLI), sedangkan United Nation Development Program (UNDP) secara
komprehensif mengajukan Human Development Index (HDI) atau Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) yang kini banyak digunakan oleh negara-
negara di dunia (Todaro, 2000).
Konsep IPM mulai mendapat perhatian sejak laporan pertama yang
dipublikasikan UNDP melalui Human Development Report tahun 1990, yang
kemudian berlanjut setiap tahun. Dalam publikasi ini pembangunan manusia
didefinisikan sebagai “a process of enlarging people’s choices” atau proses
yang meningkatkan aspek kehidupan masyarakat. Aspek terpenting
kehidupan ini dilihat dari usia yang panjang dan hidup sehat, tingkat
pendidikan yang memadai, dan standar hidup yang layak. Secara spesifik
UNDP menetapkan empat elemen utama dalam pembangunan manusia, yaitu
produktivitas (productivity), pemerataan (equity), keberlanjutan
(sustainability), dan pemberdayaan (empowerment).
Indonesia belakangan juga banyak memanfaatkan IPM ini untuk melihat
kemajuan nasional maupun daerah. Publikasi data IPM untuk Indonesia saat
ini sudah sampai ke tingkat kabupaten/kota. Variabel IPM ini juga disarankan
untuk dapat dipertimbangkan dalam penyusunan formula DAU (Dana
Alokasi Umum) yang diharapkan dapat mewujudkan pemerataan (equality),
dan untuk mengurangi kesenjangan fiskal daerah (fiscal gap) dengan
8.26 Perekonomian Indonesia 

memperhatikan variabel pembangunan manusianya (human development)


(Hamid, 2003).
Bagi Indonesia, perhatian pada variabel Indeks Pembangunan Manusia
ini sangat penting karena: (1) Pembangunan pada hakikatnya merupakan
pembangunan manusia itu sendiri, sehingga aspek ini perlu mendapatkan
prioritas anggaran; (2) Pembangunan manusia Indonesia saat ini masih sangat
tertinggal dibanding banyak negara lain di dunia. Laporan Pembangunan
Manusia dari United Nations Development Programmed (UNDP)
menyimpulkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tahun 1999 berada
pada peringkat 105 dari 174 negara yang disurveinya, dan ini merosot lagi
pada peringkat 110 dari 173 negara pada tahun 2002. Pada survei tahun 2014
IPM Indonesia masuk ke dalam jajaran negara dengan tingkat IPM menengah
meskipun dari urutannya masih pada urutan 108 dari 187 negara. Sedangkan
di tingkat ASEAN-6, Indonesia menempati peringkat terendah; (3)
Pengeluaran pemerintah yang dapat berpengaruh pada kualitas Sumber Daya
Manusia, yakni untuk pendidikan dan kesehatan, porsinya sangat kecil, lebih
rendah dibandingkan dengan negara seperti Pakistan, Sri Lanka, dan negara
Asia Selatan lainnya (UNSFIR, 2000, h. V-48). Padahal PDB per kapita
Indonesia lebih tinggi dibandingkan penduduk negara-negara tersebut.
Pengeluaran pembangunan yang kecil untuk pembangunan manusia juga
terjadi untuk tingkat daerah di Indonesia, baik provinsi maupun
kabupaten/kota, dan (4) Umumnya kajian mengenai desentralisasi fiskal
mengabaikan dampaknya pada pembangunan manusia. Padahal, aspek
pembangunan manusia merupakan landasan dari peningkatan kesejahteraan,
yang selanjutnya akan berpengaruh pada pertumbuhan dan pemerataan pada
masa yang akan datang (Habibi dkk, 2001, h.2-3).
Kajian Lucas (1988) dan Easterly dan Levine (2001, h. 177-220) juga
menunjukkan variabel pendidikan, yang dilihat dari rata-rata lamanya
sekolah, secara langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Di negara
maju, investasi pada sumber daya manusia juga merupakan sumber utama
pertumbuhan ekonominya (Meier, 1995, h. 313).
Berdasarkan data UNDP (2004) yang terkait dengan masalah
pertumbuhan ekonomi dan kualitas penduduk, tampak ada perubahan tipis
nilai IPM dari tahun 1999 hingga 2002. Menurut data UNDP (2004), pada
tahun 1999, nilai IPM Indonesia sebesar 64,3. Angka ini kemudian
meningkat menjadi 65,8 pada tahun 2002. Peningkatan angka indeks ini
 ESPA4314/MODUL 8 8.27

menunjukkan ada kemajuan dalam pembangunan manusia di Indonesia, dari


aspek tingkat pendapatan, kesehatan, dan pendidikan.
Dilihat dari sisi wilayah administrasi pemerintahan, tampak bahwa
daerah yang memiliki IPM tinggi adalah DKI Jakarta (75,6), Sulawesi Utara
(71,3), dan D.I. Yogyakarta (70,8). Sementara itu, daerah yang masih
memiliki nilai IPM terendah adalah NTB (57,8), Papua (60,1), dan NTT
(60,3). Dalam periode 1999-2002, hampir semua daerah mengalami
peningkatan nilai IPM, kecuali NTT dan Maluku, di mana pada kedua daerah
ini justru mengalami penurunan nilai, yaitu minus 0,7 untuk NTT dan minus
1,3 untuk Maluku. Dengan demikian, tampak bahwa meskipun banyak
kendala yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi Indonesia, termasuk
persoalan yang muncul terkait dengan otonomi daerah, namun secara umum
pembangunan manusia pada sebagian besar daerah di Indonesia mengalami
peningkatan.

Tabel 8.3.
Indeks Pembangunan Manusia Per Provinsi Tahun 2005 dan 2010
HDI ranking HDI In
Provinsi
Shortfall
2005 2010 2005 2010 2005-2010
1. Nangroe Aceh
Darussalam 65.3 66 12 15 1.3
2. Sumatra Utara 66.6 68.8 8 7 1.9
3. Sumatra Barat 65.8 67.5 9 8 1.7
4. Riau 67.3 69.1 4 5 1.8
5. Jambi 65.4 67.1 11 10 1.7
6. Sumatra Selatan* 63.9 66 16 16 1.8
7. Bengkulu 64.8 66.2 13 14 1.6
8. Lampung 63.0 65.8 18 18 2.0
9. Bangka Belitung 65.4 20
10. DKI Jakarta 72.5 75.6 1 1 2.2
11. Jawa Barat* 64.6 65.8 14 17 1.5
12. Jawa Tengah 64.6 66.3 15 13 1.7
13. D.I. Yogyakarta 68.7 70.8 2 3 1.9
14. Jawa Timur 61.8 64.1 22 25 1.8
15. Banten 66.6 11
16. Bali 65.7 67.5 10 9 1.7
17. Nusa Tenggara Barat 54.2 57.8 26 30 2.0
18. Nusa Tenggara Timur 60.4 60.3 24 28 -0.7
8.28 Perekonomian Indonesia 

HDI ranking HDI In


Provinsi
Shortfall
2005 2010 2005 2010 2005-2010
19. Kalimantan Barat 60.6 62.9 23 27 1.8
20. Kalimantan Tengah 66.7 69.1 7 6 1.9
21. Kalimantan Selatan 62.2 64.3 21 23 1.8
22. Kalimantan Timur 67.8 70.0 3 4 1.9
23. Sulawesi Utara* 67.1 71.3 6 2 2.3
24. Sulawesi Tengah 63 64.4 20 22 1.6
25. Sulawesi Selatan 63.6 65.3 17 21 1.7
26. Sulawesi Tenggara 62.9 64.1 19 26 1.5
27. Gorontalo 64.1 24
28. Maluku* 67.2 66.5 5 12 -1.3
29. Maluku Utara 65.8 19
30. Papua 58.8 60.1 25 29 1.5
Indonesia 64.3 65.8 1.6
Keterangan:
Nangroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku utara dan Papua menggunakan
data 2010 kemampuan baca tulis, lama sekolah.
Data Indonesia adalah rata-rata data provinsi yang disesuaikan dengan
jumlah penduduk.
Sumber: BPS (diolah)

Perhatian terhadap pembangunan manusia harus diberikan melebihi


perhatian pada pembangunan infrastruktur. Ia harus dianggap sebagai
kegiatan investasi sumber daya manusia yang efektif dan produktif, yang
tidak boleh diabaikan karena pengejaran terhadap investasi modal.
Pembangunan ekonomi pun merupakan derivat pembangunan manusia, yang
tidak saja dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi, melainkan juga
meningkatkan nilai tambah sosial-kultural dalam wujud meningkatnya
harkat/martabat manusia Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan yang
dilakukan tentu bukannya sekadar pembangunan di Indonesia, melainkan
pembangunan Indonesia, yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

B. MASALAH PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar,


yaitu sebesar 249,9 juta jiwa pada tahun 2013. Di seluruh dunia Indonesia
berada di urutan ke empat negara dengan penduduk terbesar. Meskipun
program KB yang mulai dicanangkan pada tahun 1968 terbukti berhasil
 ESPA4314/MODUL 8 8.29

menekan laju pertambahan penduduk namun karena dari semula penduduk


Indonesia memang besar maka pertumbuhan 1,2 persen saja sudah membuat
penduduk Indonesia bertambah banyak.
Jumlah penduduk yang sedemikian besar diikuti dengan timbulnya
persoalan distribusi yang tidak merata. Lebih dari 82 persen penduduk
Indonesia tinggal di Kawasan Barat Indonesia (KBI) yang luasnya tidak lebih
dari 20 persen luas negara. Sedangkan sisanya tinggal di Kawasan Timur
Indonesia (KTI). Hal itu terjadi karena pembangunan ekonomi sejak masa
kolonial lebih banyak dilakukan di KBI sehingga penduduk Indonesia
seringkali melakukan migrasi dengan harapan mendapatkan kehidupan yang
lebih baik. Persoalan ketidakmerataan pembangunan ini yang menyebabkan
terjadi berbagai konflik sosial. Pada akhirnya konflik sosial membuat
sebagian penduduk mengungsi ke wilayah KBI sehingga ketimpangan
distribusi makin mencolok.
Pembangunan manusia Indonesia menghadapi masalah klasik yaitu
pendidikan dan kesehatan. Kita harus mengakui bahwa selama ini pemerintah
kurang memberi perhatian yang optimal pada kedua bidang tersebut. Terlebih
beberapa tahun terakhir ini, pemerintah seperti lepas tangan terhadap dua
sektor publik yang mempengaruhi kualitas manusia Indonesia. Seperti yang
telah disebutkan pada bagian awal tulisan ini, anggaran yang disediakan
pemerintah untuk pendidikan sangat kecil sehingga tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan pendidikan. Rendahnya kualitas manusia Indonesia
dapat dilihat berdasarkan lama bersekolah. Penduduk Indonesia rata-rata
hanya bersekolah selama 6 - 7 tahun berdasarkan perhitungan HDI tahun
1999.
Di era Otonomi Daerah seperti sekarang ini, anggaran yang diberikan
pemerintah daerah terhadap sektor pendidikan tidak jauh berubah. Di
Sumatera Barat, anggaran pemerintah untuk pendidikan dan kesehatan hanya
8,2 persen sedangkan di Jawa Timur anggaran untuk sektor yang sama hanya
13,7 persen. Artinya pelaksanaan otonomi daerah ternyata belum membawa
banyak manfaat bagi pembangunan manusia Indonesia.
Anggaran pendidikan yang rendah tentu saja mempengaruhi kualitas
pendidikan. Pendidikan yang rendah tersebut akan berdampak pada
kemampuan dan kreativitas peserta didik. Akibatnya angkatan kerja tidak
memenuhi kualifikasi yang diinginkan dunia kerja dan tidak memiliki
kemampuan membuka peluang usaha. Padahal di sisi lain kurikulum di
Indonesia juga mendapat banyak kritik karena tidak sesuai dengan kebutuhan
8.30 Perekonomian Indonesia 

dunia kerja dan menciptakan pola pikir sebagai pekerja bukan sebagai
inisiator. Akibatnya penduduk yang telah mendapatkan pendidikan menengah
dan tinggi sekalipun tidak dapat siap bekerja di berbagai sektor pekerjaan.
Ketidaksesuaian antara kebutuhan dan kualifikasi angkatan kerja yang ada
membuat dunia kerja seringkali mendatangkan tenaga kerja asing yang tentu
saja merugikan bangsa Indonesia.
Persoalan pendidikan yang buruk di atas mengakibatkan persoalan
kependudukan yang baru yaitu pengangguran. Berdasarkan data BPS terdapat
10 persen angkatan kerja di Indonesia menganggur. Dari jumlah itu sebagian
besar penganggur lebih dari 75 persennya tinggal di perkotaan. Hal ini terjadi
karena sebagian besar orang melihat kota adalah pusat pertumbuhan
ekonomi. Artinya ada banyak kesempatan bekerja, padahal industri di
perkotaan gagal memperoleh dampak yang diinginkan seperti perluasan
lapangan kerja. Akibat pola pikir semacam itu, terjadi urbanisasi besar-
besaran yang berakibat meningkatnya pengangguran di kota dan kurangnya
tenaga kerja pada sektor pertanian di desa. Angkatan kerja baru seringkali
lebih menginginkan pekerjaan di sektor industri perkotaan karena dianggap
lebih modern daripada bekerja di sektor pertanian di desa.
Persoalan lain yang harus diselesaikan bangsa ini menyangkut
pembangunan manusia adalah masalah kesehatan. Setali tiga uang dengan
sektor pendidikan, sektor kesehatan juga hanya mendapatkan porsi yang
minim dalam anggaran pembangunan pusat dan daerah. Berdasarkan HDI
tahun 1999, kondisi kesehatan masyarakat Indonesia sangat buruk. Penduduk
Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap air bersih mencapai 51,9
persen, sedangkan penduduk Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap
jasa kesehatan mencapai 21,6 persen. Akses tersebut meliputi ketersediaan
dokter, obat-obatan dan sarana kesehatan lain. Fakta yang lebih memilukan
adalah sebanyak 30 persen balita berada dalam gizi buruk. Padahal gizi di
masa balita sangat penting bagi pertumbuhan di kemudian hari, karena pada
masa-masa itu terjadi puncak perkembangan otak dan tubuh yang pesat.
Belakangan ini kita seringkali dikejutkan dengan berbagai masalah
kesehatan yang mengkhawatirkan seperti penyakit flu burung, polio liar
(lumpuh layu), dan gizi buruk yang menimpa balita di berbagai daerah di
Indonesia. Diduga pemerintah hanya bertindak reaksioner dalam menghadapi
berbagai masalah kesehatan seperti itu. Pemerintah tidak memiliki program
yang berkesinambungan untuk menyelesaikan berbagai masalah kesehatan.
Dana Kompensasi BBM sebagian memang diberikan pemerintah untuk
 ESPA4314/MODUL 8 8.31

memperbaiki kualitas kesehatan manusia baik melalui instansi kesehatan


seperti Rumah Sakit dan Puskesmas maupun secara langsung diberikan
kepada penduduk miskin. Namun jumlahnya belum memadai untuk
menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi bangsa ini.
Lebih buruk dari itu, saat ini pemerintah sepertinya bertujuan
meliberalisasi pelayanan pendidikan dan kesehatan. Liberalisasi tersebut
dilakukan dengan melakukan pengurangan subsidi besar-besaran pada sektor
pendidikan seperti penerapan BHMN dan BHP pada perguruan tinggi negeri
di Indonesia dan pembentukan Dewan Sekolah pada sekolah dasar dan
menengah. Cara seperti itu seolah-olah bertujuan memberikan kesempatan
pada masing-masing institusi pendidikan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan mereka secara mandiri. Tetapi kenyataannya hal itu hanyalah
upaya pemerintah untuk melepaskan diri dari tanggungjawab sebagai
penyedia pelayanan pendidikan. Di sisi lain, pemerintah memperbolehkan
pendirian sekolah-sekolah swasta yang berbiaya mahal untuk penduduk kaya.
Akibatnya, hanya penduduk kaya saja yang dapat mengenyam pendidikan
sedangkan penduduk miskin akan kembali terjebak dalam lingkaran setan
kemiskinan karena tidak mendapatkan kesempatan memperbaiki keadaan
mereka.
Liberalisasi pelayanan kesehatan juga dilakukan untuk mendapatkan
keuntungan maksimal. Penderita dibebani beragam prosedur yang dengan
eksplisit menyatakan bahwa uang di atas nyawa manusia. Maka jika
penduduk miskin tidak memiliki uang maka dapat dipastikan ia tidak akan
mendapatkan pelayanan yang memadai bahkan dari institusi kesehatan milik
pemerintah sekalipun.

LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!

1) Ukuran apa saja yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas


manusia? Jelaskan!
2) Jelaskan masalah-masalah pembangunan manusia di Indonesia dan
dampaknya!
8.32 Perekonomian Indonesia 

3) Jelaskan pendapat Anda perihal kebijakan anggaran pemerintah yang


pro-pembangunan manusia!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Ukuran-ukuran yang digunakan untuk mengetahui kualitas manusia:


a) The Physical Quality of Life Index (PQLI), dikembangkan oleh
Cynthia Taft Morris.
b) Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan
Manusia, dikembangkan oleh UNDP dan menjadi acuan sebagai
indikator pembangunan manusia negara-negara di dunia. Empat
elemen utama yang menjadi penilaian dalam pembangunan manusia
versi UNDP ini adalah:
(1) Produktivitas (productivity).
(2) Pemerataan (equity).
(3) Keberlanjutan (sustainability).
(4) Pemberdayaan (empowerment).

2) Masalah Pembangunan Manusia di Indonesia dan dampaknya:


a) Pemerintah kurang memperhatikan masalah kesehatan dan
pendidikan.
b) Rendahnya anggaran pemerintah dalam bidang pendidikan sangat
kecil sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.
Keadaan tersebut mengakibatkan kualitas sumber daya manusia dan
kualitas pendidikan masih relatif rendah.
c) Masih minimnya anggaran pemerintah dalam bidang kesehatan.
Keadaan tersebut mengakibatkan banyak ditemukan berbagai
penyakit yang menjangkit terutama pada lingkungan keluarga
miskin seperti: polio, busung lapar, dan gizi buruk yang menimpa
anak-anak umur balita. Selain itu pemerintah juga relatif lambat
dalam merespons berjangkit berbagai penyakit menular yang
berbahaya seperti: flu burung, demam berdarah, HIV dan
sebagainya.
3) Kebijakan anggaran pemerintah yang pro pembangunan manusia:
a) Meningkatkan anggaran. pemerintah di bidang pendidikan dengan
memenuhi porsi 20 %sari APBN/APBD.
 ESPA4314/MODUL 8 8.33

b) Meningkatkan anggaran pemerintah di bidang Kesehatan, sehingga


dapat memudahkan keluarga miskin mempunyai akses di bidang
kesehatan.

R A NG KU M AN

Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas sumber


daya manusia adalah The Physical Quality of Life Index (PQLI) dan
Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia
(IPM). Indikator HDI ini digunakan di Indonesia. UNDP menetapkan
empat elemen utama dalam pembangunan manusia, yaitu produktivitas
(productivity), pemerataan (equity), keberlanjutan (sustainability), dan
pemberdayaan (empowerment).
Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
Indonesia tahun 1999 berada pada peringkat 105 dari 174 negara yang
disurveinya, dan ini merosot lagi pada peringkat 110 dari 173 negara
pada tahun 2002. Sedangkan di tingkat ASEAN-6, Indonesia menempati
peringkat terendah.
Rendahnya kualitas sumber daya manusia ini disebabkan oleh
anggaran negara yang rendah untuk meningkatkan kualitas pendidikan
dan kesehatan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia
yang sangat besar. Padahal pendidikan yang buruk mengakibatkan
masalah pengangguran. Di sisi lain jika fasilitas kesehatan tidak
memadai maka dapat diduga masyarakat Indonesia sangat rentan dengan
berbagai penyakit. Akibatnya masyarakat tidak dapat berpartisipasi
secara optimal dalam pembangunan nasional.

TES F OR M AT IF 2

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Provinsi yang indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya paling


rendah di Indonesia adalah ....
A. Papua
B. Nusa Tenggara Timur
C. Lampung
D. Sulawesi Selatan
8.34 Perekonomian Indonesia 

2) Salah satu indikator IPM yang digunakan untuk mengukur umur harapan
hidup penduduk Indonesia adalah ....
A. tingkat pertumbuhan penduduk
B. tingkat kematian bayi lahir
C. jumlah pasangan usia subur
D. akses penduduk ke rumah sakit

3) Salah satu indikator IPM yang digunakan untuk mengukur tingkat melek
huruf penduduk Indonesia adalah ....
A. kemampuan baca tulis
B. lama sekolah
C. banyaknya sekolah
D. tingkat putus sekolah

4) Di bawah ini adalah elemen pembangunan manusia menurut United


Nation Development Program adalah ....
A. kreativitas
B. kemandirian
C. kemampuan
D. pemberdayaan

5) Salah satu indikator bahwa kebijakan anggaran pemerintah berorientasi


pada pembangunan manusia adalah besarnya proporsi pengeluaran
untuk ....
A. pertahanan dan keamanan
B. pendidikan dan belanja modal
C. gaji pegawai dan belanja modal
D. pendidikan dan kesehatan

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan =  100%
Jumlah Soal
 ESPA4314/MODUL 8 8.35

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai
8.36 Perekonomian Indonesia 

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif 2


1) D 1) B
2) B 2) B
3) D 3) A
4) B 4) D
5) D
5) D
 ESPA4314/MODUL 8 8.37

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, dan UNDP. (2001). Indonesia Human


Development Report 2001 Towards a New Consensus: Democracy and
human development in Indonesia, BPS, BAPPENAS, dan UNDP.

Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, dan UNDP. (2004) The Economics of


Democracy Financing Human Development in Indonesia, BPS,
BAPPENAS, dan UNDP.

Bappenas, (1999), Tinjauan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah


Propinsi 1999/2000, Jakarta, Bappenas.

Booth, Anne dan Peter Mcawley, (1990), “Ekonomi Orde Baru”, Jakarta,
LP3ES, cetakan kelima.

Habibi, Nadir et. al. (2001). “Decentralization in Argentina”, Economic


Growth Center Discussion Paper Series, Paper No. 525, New Heaven:
Economic Growth Center Yale University.

Hamid, Edy Suandi. (2005). Ekonomi Indonesia: Dari Sentralisasi ke


Desentralisasi. Yogyakarta: UII Press.

Hamid, Edy Suandi. (2003). “Ketimpangan Fiskal Vertikal dan Formula


Alternatif Dana Alokasi Umum” disertasi pada Program Studi Ilmu
Ekonomi Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.

Hamid, Edy Suandi. (ed). (2004). Memperkokoh Otonomi Daerah.


Yogyakarta: UII Press.

Juoro, Umar, (1997). “Strategi Pengembangan Industri dan Perusahaan


NasionalMenghadapi Globalisasi”, dalam Tantangan Pembangunan di
Indonesia: Beberapa Pandangan Kontemporer dari Dunia Kampus,
Yogyakarta, UII Press.
8.38 Perekonomian Indonesia 

Mardiasmo, (2002), Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah,


Yogyakarta, Andi Offset.

Meier, Gerald M, (1995), Leading Issues in Economic Development, edisi


keenam, New York, Oxford University Press.

Mubyarto. (2004). Kemiskinan dan Pembangunan Sosial. Yogyakarta:


Aditya Media.

Mubyarto. (2001). Prospek Perekonomian Indonesia di Era Otonomi Daerah.


Yogyakarta: BPFE.

Osborn, David dan Peter Plastrick, (2000), Memangkas Birokrasi, Jakarta,


Pusat Pengembangan Manajemen (PPM).

Pratikno, (1998), Hubungan Pusat-Daerah Gelombang Ketiga: Sosok


Otonomi Daerah Pasca Soeharto, dalamUNISIA No.39/XXII/III/1998

Shah, A dan Zia Qureshi. (1994). Interogovermental Fiscal Policy Relation


in Indonesia: Issues and Reform Option, World Bank. Washington DC:
Discussion Papers, No. 239 hal. 53.

Soesastro, Hadi (ed), (1994), Indonesian Perspective on APEC and Regional


Cooperation in Asia Pacific, Jakarta, CSIS.

Todaro, Michael, (2000), Economics for Developing Countries, London,


Longman/

UNSFIR (United Nations Support Facility for Indonesian Recovery). (2000).


Indonesia: The National Human Development Report 2000. Jakarta:
UNSFIR.

Usman, Sunyoto. (2004). Otonomi Daerah: Desentralisasi dan Demokratisasi,


dalam Memperkokoh Otonomi Daerah (Edy Suandi Hamid-Peny).
Yogyakarta: UII Press.
Yann, WS, (1994), Globalization and Regionalization: The Shaping of New
Economic Regions in Asia and Pacific, Vol. 15 No. 1.

Anda mungkin juga menyukai