Modul 9
Globalisasi dan Krisis Ilmu Ekonomi
Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, [Link]
PEN D A HU L UA N
M odul ini membahas perkembangan globalisasi ekonomi yang berimbas
pada berbagai krisis global yang merefleksikan terjadinya krisis ilmu
ekonomi yang menjadi pondasi globalisasi itu sendiri. Pada bagian awal
diuraikan sejarah dan hakikat globalisasi ekonomi kontemporer yang sarat
dengan kepentingan korporat dan negara-negara maju untuk menguasai pasar
di negara berkembang termasuk Indonesia. Globalisasi ekonomi telah
mewujud dalam bentuk-bentuk yang menunjukkan watak sub-ordinatif dan
eksploitatifnya terhadap ekonomi lokal, sehingga berdampak pada
terpinggirnya mereka dari aktivitas perekonomian yang makin dikuasai
pemodal internasional. Modul ini juga mengungkap peranan lembaga-
lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO yang turut
mendesain wujud globalisasi ekonomi di atas. Selanjutnya diuraikan respon
dan resistensi terhadap globalisasi ekonomi yang merugikan ekonomi rakyat
Indonesia tersebut, tentu dikaji dengan pendekatan ekonomi-politik,
struktural-kelembagaan, dengan kondisi kontekstual praktik globalisasi
ekonomi di Indonesia.
Pada bagian berikutnya, modul ini membahas berbagai krisis global
seperti halnya meningkatnya ketimpangan sosial-ekonomi, meluasnya
degradasi moral, dan makin parahnya kerusakan lingkungan sebagai ekses
globalisasi ekonomi. Berbagai krisis sosial tersebut dalam modul ini dibahas
terkait dengan dominasi ilmu ekonomi konvensional (Neoklasik-Barat) yang
sudah banyak dikritik di negara tempat berkembangnya ilmu ekonomi
tersebut. Ketidakmampuan ilmu ekonomi konvensional dalam memecahkan
krisis-krisis global tersebut menjadi wujud nyata terjadinya krisis ilmu
ekonomi dan perlunya pengembangan ilmu ekonomi alternatif. Secara
istimewa modul ini membahas perihal perkembangan pemikiran ilmu
ekonomi alternatif yang sesuai dengan sistem nilai dan sistem sosial-budaya
9.2 Perekonomian Indonesia
bangsa Indonesia yang berlandaskan etika dan falsafah Pancasila. Ilmu ini
dikembangkan sebagai alternatif terhadap dominasi ilmu ekonomi neoklasik
(konvensional) yang mengukuhkan bekerjanya sistem ekonomi kapitalis-
neoliberal di Indonesia. Pada bagian akhir dibahas filsafat ilmu yang disebut
dengan ilmu ekonomi Pancasila beserta upaya-upaya pengembangannya
sebagai ilmu ekonomi yang sesuai dengan real-life economy masyarakat
Indonesia.
Dengan mempelajari modul ini secara umum Anda diharapkan mampu
menganalisis globalisasi ekonomi di Indonesia beserta akibat-akibat yang
ditimbulkannya, dan menganalisis krisis ilmu ekonomi serta pengembangan
ilmu ekonomi alternatif di Indonesia.
Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan mampu:
1. menjelaskan sejarah dan latar belakang globalisasi ekonomi di Indonesia,
2. menjelaskan bentuk-bentuk dan dampak globalisasi terhadap
perekonomian Indonesia,
3. menjelaskan resistensi terhadap globalisasi ekonomi yang merugikan
ekonomi rakyat Indonesia,
4. menjelaskan dominasi ilmu ekonomi arus utama (konvensional) dalam
pendidikan ekonomi Indonesia,
5. menjelaskan kritik-kritik terhadap ilmu ekonomi konvensional dan
perlunya pengembangan ilmu ekonomi alternatif di Indonesia,
6. menganalisis filsafat ilmu ekonomi Pancasila dan upaya-upaya
pengembangannya.
ESPA4314/MODUL 9 9.3
Kegiatan Belajar 1
Globalisasi Ekonomi Indonesia
A. SEJARAH GLOBALISASI EKONOMI
Awal tahun 1990-an arus pemikiran tentang globalisasi ekonomi
mewarnai hampir seluruh dunia. Terminologi yang berkaitan dengan
globalisasi ini, seperti: negara tanpa batas, liberalisasi ekonomi, perdagangan
bebas, dan integrasi ekonomi dunia, menjadi semacam dogma seolah itulah
yang diyakini yang akan membawa dunia pada kemajuan ekonomi,
menghapuskan kemiskinan, serta memperkecil kesenjangan antarnegara.
Upaya ke arah globalisasi ini sangat didukung negara-negara adikuasa
ekonomi, yang memang sudah akrab dengan liberalisasi ekonomi berabad
lebih awal dibanding negara berkembang.
Menurut Wyane Ellwood, proses globalisasi sudah mulai sejak lima abad
yang lalu dengan dimulainya era kolonialisme Eropa (2001:12). Dalam
kawasan Asia Pasifik dibentuk Asia-Pacific Economic Forum (APEC) yang
dimotori negara-negara seperti Australia, Amerika, dan Kanada. Kemudian
dirancang General Agreement on Tariff and Trade (GATT) pada tahun 1995,
yang diperluas menjadi General Agreement on Trade and Service (GATS)
dan dibentuk apa yang kini dikenal dengan World Trade Organization
(WTO). WTO didasari pada asumsi bahwa perdagangan bebas dunia akan
meningkatkan perdagangan dunia. Berbagai perangkat organisasi ekonomi
dunia itu diharapkan akan membantu percepatan perwujudan globalisasi
untuk mengangkat kemakmuran dunia.
Dari perspektif ekonomi, globalisasi merupakan suatu pengintegrasian
ekonomi secara global. Dengan demikian, jika globalisasi ekonomi
terwujudnya dalam arti luas berarti tidak ada lagi batas-batas negara dalam
transaksi ekonomi. Lalu lintas barang dan jasa menjadi bebas tanpa hambatan
untuk berpindah dari satu negara ke negara lain. Tidak ada lagi hambatan-
hambatan bisnis atau perdagangan internasional, baik itu tariff barriers
maupun non-tariff barriers.
Dalam kenyataannya, walaupun gagasan globalisasi sudah lama muncul,
pengintegrasian ekonomi secara global itu tidak bisa terjadi secara otomatis
karena ada persoalan kedaulatan negara. Dengan demikian kebebasan lalu
9.4 Perekonomian Indonesia
lintas ekonomi global ini tergantung kerelaan masing-masing negara. Apabila
suatu negara menolak membuka pasarnya secara bebas maka dengan segala
konsekuensinya ia dapat menghindar atau menunda proses globalisasi
ekonomi.
Secara teoretik, globalisasi ekonomi dengan makna keterbukaan dan
persaingan bebas ekonomi dianggap merupakan suatu solusi terbaik dalam
hubungan ekonomi antarnegara dan memakmurkan umat manusia.
Persaingan akan memaksa masing-masing pihak mencari metode produksi
yang paling efisien. Produk yang dihasilkan dengan efisien akan dapat dijual
dengan harga murah. Harga yang murah akan menaikkan permintaan.
Permintaan akan menggairahkan produksi yang berarti juga meningkatkan
kesempatan kerja. Dari semua itu, total output akan meningkat artinya
kesejahteraan masyarakat akan meningkat.
Dengan demikian ada persyaratan yang diperlukan untuk mewujudkan
kenaikan total output tersebut. Syaratnya adalah kekuatan ekonomi negara-
negara yang membuka diri harus seimbang. Pada kenyataannya persyaratan
ini tidak bisa terpenuhi saat ini. Oleh karena itu, sebelum ada kesetaraan
kekuatan ekonomi antarnegara harus ada pemberdayaan ekonomi negara-
negara yang relatif lemah sebelum siap berkompetisi secara global. Artinya
globalisasi ekonomi yang dilakukan secara frontal, dalam keadaan belum
terpenuhinya syarat globalisasi, akan memakan korban negara berkembang
(miskin) seperti yang terjadi saat ini.
B. PROSES GLOBALISASI EKONOMI INDONESIA
Proses globalisasi ekonomi ditandai dengan terjadinya transaksi
antarnegara (ekspor-impor). Indonesia cukup lambat melakukan serangkaian
upaya perdagangan luar negeri dibandingkan negara tetangga Malaysia dan
Singapura. Jika kedua negeri jiran tersebut mulai menggencarkan
perdagangannya pada tahun 1970-an maka Indonesia baru melakukannya
pada tahun 1980-an. Alasan Indonesia memicu perdagangan luar negeri
adalah jatuhnya harga minyak dunia yang menyebabkan Indonesia tidak
dapat mengandalkan devisa dari perdagangan minyak semata.
Pemerintah pun melakukan serangkaian deregulasi di bidang moneter
(dan keuangan), fiskal, perdagangan (dan perkapalan), dan investasi untuk
meningkatkan penerimaan dari sektor non migas. Pemerintah ingin
melakukan restrukturisasi ekonomi, yaitu dengan mengubah ketergantungan
ESPA4314/MODUL 9 9.5
pada satu komoditi (minyak) menjadi banyak komoditi (diversifikasi ekspor
non-migas), mobilisasi dana dalam negeri (tabungan dan pajak), serta
mengurangi campur tangan pemerintah di banyak sektor yang dianggap
menghambat kemajuan dunia usaha (Kuncoro, 2003:446-445).
Menyusul upaya pemerintah melakukan diversifikasi ekspor non-migas,
Indonesia mengambil keputusan untuk bergabung dengan berbagai organisasi
perdagangan internasional seperti APEC (1989), AFTA (1992), dan
WTO/GATT (1996). Keikutsertaan Indonesia ke dalam berbagai forum
tersebut bukan saja berkaitan dengan masalah ekonomi yang berorientasi
pada globalisasi dengan tujuan seperti penjelasan di atas tetapi berkaitan
dengan masalah tekanan politik. Indonesia memiliki kekhawatiran besar jika
tidak terlibat dalam globalisasi ekonomi, menyebabkan Indonesia terasing
dari perekonomian dunia.
APEC (Asia Pasific Economic Cooperation) didirikan pada tahun 1989
di Canberra, Australia oleh seluruh anggota ASEAN saat itu, termasuk
Indonesia, ditambah dengan Jepang, USA, Kanada, Australia, Korea Selatan
dan Selandia Baru. Hingga tahun 2014 anggota APEC berjumlah 22 negara
dengan anggota termuda yaitu Mongolia yang bergabung pada tahun 2013.
Pembentukan APEC didasari oleh: kekhawatiran gagalnya Putaran Uruguay
(GATT) yang dapat berakibat meningkatnya proteksi perdagangan dunia,
munculnya kelompok perdagangan seperti MEE dan NAFTA, perubahan
yang cepat dalam ekonomi dan politik negara-negara Eropa Timur khususnya
negara-negara eks Uni Sovyet, dan adanya pemikiran bahwa kemajuan
ekonomi suatu negara dapat tercapai bila didorong oleh integrasi ekonomi
regional atau internasional. Perkembangan APEC kemudian tidak berjalan
lancar karena beragam kepentingan yang berbenturan. Beragam kritik
dilontarkan oleh negara anggotanya yang berasal dari Asia yang tidak
menginginkan keterlibatan negara non-Asia. Kehadiran Amerika Serikat pada
forum ini sejak tahun 1993 juga menjadi pro-kontra tersendiri di kalangan
anggotanya.
Kerja sama ekonomi global yang diikuti Indonesia adalah GATT
(General Agreement on Tariff and Trade) yang didirikan pada tahun 1948.
Sejak itu pula GATT berperan sebagai lembaga yang menggerakkan
perundingan-perundingan guna mewujudkan perdagangan dunia yang bebas
dan adil. Dalam GATT pula, para anggotanya mendiskusikan dan
merundingkan berbagai masalah perdagangan. Prinsip dan aturan
perdagangan multilateral dalam GATT pada dasarnya terdiri dari tiga hal
9.6 Perekonomian Indonesia
pokok (Djiwandono, 1992) yaitu: pertama, prinsip resiprokal atau timbal
balik, artinya perlakuan yang diberikan suatu negara kepada negara lain harus
diimbangi pula dengan perlakuan yang sama dari negara lain ke mitra
dagangnya tersebut. Kedua, prinsip non-diskriminasi atau perlakuan yang
sama. Prinsip ini dikenal pula dengan sebutan Most Favored Nation (MFN)
yang maknanya adalah apabila kita mengistimewakan suatu negara maka
keistimewaan tersebut harus kita berikan ke negara lain. Prinsip ketiga adalah
kejelasan dan keterbukaan. Artinya, perlakuan dan kebijakan yang dilakukan
suatu negara harus transparan, jelas dan dapat diketahui mitra dagangnya.
GATT seringkali melakukan perundingan yang dikenal dengan putaran
(round). Salah satu putaran yang paling penting dan paling terkenal adalah
Putaran Uruguay (Uruguay Round). Dalam Putaran Uruguay tersebut GATT
membentuk sebuah organisasi perdagangan dunia bernama WTO (World
Trade Organization) yang mulai diberlakukan mulai 1 Januari 1995.
Indonesia yang saat itu telah menjadi anggota GATT otomatis menjadi
anggota WTO saat organisasi tersebut mulai berjalan. WTO berfungsi antara
lain untuk mempelancar pelaksanaan administrasi dan operasional untuk
mewujudkan sasaran dari organisasi tersebut; menyediakan forum
perundingan multilateral anggotanya; mengatur kesepakatan mengenai tata
tertib aturan dan prosedur penyelesaian sengketa; mengatur mekanisme dan
pemantauan kebijaksanaan perdagangan; serta bekerja sama dengan Dana
Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia serta badan afiliasinya dalam
rangka menciptakan keterkaitan yang lebih besar terhadap kebijakan ekonomi
global.
Di samping pembentukan WTO, Putaran Uruguay juga telah melakukan
interprestasi baru mengenai berbagai pasal perjanjian GATT 1947,
menambah cakupan perjanjian GATT yang meliputi hasil pertanian, tekstil
dan pakaian jadi, perdagangan jasa, aturan hak milik intelektual yang
berkaitan dengan perdagangan, dan aturan investasi yang berkaitan dengan
perdagangan. Pada prinsipnya kesepakatan-kesepakatan tersebut
dimaksudkan untuk melakukan perbaikan atas akses pasar bagi lalu lintas
perdagangan barang dan jasa di dunia.
Pendirian dan pelaksanaan WTO juga menghadapi berbagai kritik dan
tekanan dari berbagai pihak yang berbeda kepentingan. Secara kuantitatif
perdagangan dunia mengalami peningkatan yang cukup tajam tetapi
kenyataannya peningkatan tersebut tidak dinikmati pelaku ekonomi global
secara merata. Sebesar 67 persen kenaikan tersebut dinikmati oleh negara-
ESPA4314/MODUL 9 9.7
negara maju. Sementara itu, sebagian besar negara berkembang justru
mengalami kerugian. Karena lebih menguntungkan negara maju inilah
seringkali muncul pendapat bahwa perdagangan bebas adalah suatu bentuk
neo-kolonialisme ekonomi negara maju terhadap negara berkembang.
Sehingga, tidaklah mengherankan jika negara-negara maju amat gigih
mempromosikan tatanan perdagangan dunia yang bebas.
Berdasarkan paparan mengenai kerja sama ekonomi global di atas kita
dapat menyimpulkan bahwa Indonesia telah terlibat dalam globalisasi
ekonomi. Indonesia secara intensif melakukan berbagai upaya yang
mendorong ekspor dalam negeri. Di sisi lain Indonesia juga berusaha terlibat
dalam berbagai organisasi kerja sama ekonomi global dengan tujuan
menciptakan akses pasar yang memadai bagi produk ekspor. Tetapi apakah
Indonesia diuntungkan dalam ekonomi global ini?
C. DAMPAK GLOBALISASI EKONOMI BAGI INDONESIA
Keikutsertaan Indonesia dalam globalisasi ekonomi mungkin tidak
berakibat buruk jika Indonesia memang mampu secara cepat melakukan
penyesuaian-penyesuaian ekonomi sehingga perekonomian menjadi lebih
efisien dan daya saingnya meningkat. Bahkan, jika siap, pasar Indonesia
menjadi lebih luas yang akan mendorong kegairahan ekonomi domestik.
Masalahnya adalah kita tidak memiliki daya saing nasional di tengah pasar
global karena praktik kolusi, korupsi dan nepotisme yang terjadi di seluruh
bidang kehidupan terutama pada bidang ekonomi.
Berdasarkan hasil perhitungan Incremental Capital Output Ratio (ICOR)
Indonesia relatif tinggi jauh di atas negara-negara seperti Singapura,
Malaysia, Thailand atau Filipina. Penilaian ICOR tersebut menggambarkan
untuk memperoleh output yang sama kita membutuhkan input yang lebih
besar. Jadi jika pasar input juga bebas maka kita tidak dapat bersaing di pasar
ASEAN terlebih pasar dunia. Kita umumnya memiliki daya saing atas
produk-produk primer atau industri karena ditopang input yang murah seperti
produk-produk yang bersifat padat karya karena upah buruh murah.
Dalam kondisi seperti itu, kita sulit menembus pasar global. Bahkan
pasar domestik pun bisa hilang jika situasi tersebut tidak berubah. Sebuah
penelitian dari OECD & IBRD (1994) menyimpulkan bahwa antara banyak
negara anggota WTO, Indonesia merupakan anggota yang paling banyak
menderita kerugian karena adanya liberalisasi perdagangan dunia (2002).
9.8 Perekonomian Indonesia
Secara makro Indonesia akan dirugikan jika kondisi dan pola
ekonominya masih “status quo”. Masalahnya adalah sektor dan pelaku
ekonomi mana yang paling terpukul dengan adanya globalisasi atau
liberalisasi ekonomi? Jika dicermati struktur sektor dan pelaku ekonomi
Indonesia, maka sebenarnya yang selama ini menikmati perlindungan adalah
sektor industri modern dan pelaku ekonomi kuat yang memiliki akses pada
pengambil kebijakan. Selama ini mereka menikmati berbagai proteksi yang
menguntungkan bisnisnya. Oleh karena itu, mereka akan terpukul karena
keterbukaan ekonomi yang memaksa dihilangkan berbagai bentuk proteksi
tersebut.
Ekonomi rakyat yang selama ini sudah biasa dibebaskan bersaing dan
tidak mendapatkan perlindungan relatif tidak dirugikan. Mereka sudah
berpengalaman dalam bersaing, mau berusaha walau keuntungan sangat
kecil, atau bahkan siap merugi (baik dalam persaingan maupun karena
kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan seperti penggusuran dan
pajak), mudah sekali ke luar pasar lalu masuk ke sektor lain karena tujuan
mereka hanya bertahan hidup.
Pukulan paling besar yang disebabkan oleh globalisasi ekonomi
Indonesia diterima oleh sektor jasa yang hingga saat ini hampir semuanya
mengalami defisit. Dengan berbagai proteksi selama ini saja sektor jasa
sudah “menghapuskan” surplus dari nilai perdagangan Indonesia terlebih jika
sektor jasa tidak diproteksi akibat kesepakatan GATS (General Agreement on
Trade and Services) yang akan dilaksanakan secara bertahap. Meskipun
neraca perdagangan Indonesia surplus, namun dalam neraca berjalan (current
account) defisit, sebagai akibat ekspor jasa yang jauh lebih kecil daripada
impornya sehingga “menyerap” surplus pada neraca perdagangan tersebut.
Negara-negara maju sangat potensial memetik keuntungan dari GATS.
Dengan globalisasi ada ancaman bahwa suatu negara tidak bisa lagi
secara ekonomi menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Sebagai contoh, di
Indonesia sektor yang berkembang hanyalah sektor-sektor marjinal yang
hanya membuat manusia sekadar bertahan hidup atau sekadar memenuhi
kebutuhan pokoknya. Dampak lebih jauh adalah unit-unit usaha besar
dikuasai oleh pihak asing dan pasar produk dalam negeri dibanjiri produk
impor akibatnya lapangan kerja baru semakin terbatas. Padahal setiap tahun
jutaan tenaga kerja baru masuk ke bursa kerja ditambah dengan puluhan juta
tenaga kerja yang menganggur atau setengah menganggur baik akibat krisis
ekonomi maupun pengangguran yang terjadi sebelumnya.
ESPA4314/MODUL 9 9.9
Kerugian yang dialami Indonesia akibat ekonomi global juga dialami
oleh negara-negara berkembang lainnya. Hal itu disebabkan oleh hambatan-
hambatan yang ditimbulkan oleh blok perdagangan, meningkatnya defisit
neraca berjalan sebagai akibat meningkatnya impor, dan pembayaran jasa
serta repatriasi keuntungan investasi asing (Arief, 1993).
Gambaran di atas melihat globalisasi dari perspektif pesimistik. Proses
transisi dan reformasi yang sedang berjalan, jika berhasil, akan membuat
dampak globalisasi yang lebih menguntungkan bagi kita. Globalisasi akan
memberikan akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia di luar negeri
yang hingga saat ini sulit dimasuki karena berbagai proteksi. Proses
reformasi ekonomi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dari setiap
sumber daya yang digunakan. Ini akan menimbulkan tingkat daya saing yang
lebih tinggi, sehingga akan lebih memudahkan produk kita bersaing di pasar
domestik maupun global. Makin banyak permintaan atas produk nasional
maka makin banyak permintaan tenaga kerja dan daya beli masyarakat,
artinya makin tinggi pula kemakmuran masyarakat.
Secara teoretis hal tersebut memang dapat saja terjadi tetapi saat ini kita
mengalami masalah yang sangat berat yakni krisis ekonomi yang telah terjadi
sejak tahun 1997. Dampak dari krisis tersebut adalah inflasi yang sangat
tinggi sehingga daya beli masyarakat merosot lebih dari separuhnya, nilai
tukar rupiah yang anjlok, pengangguran yang meluas, kemiskinan bertambah,
pertumbuhan ekonomi yang rendah, dan penggunaan kapasitas produksi yang
rendah. Masalah tersebut diperberat oleh utang luar negeri (pemerintah dan
swasta) yang sangat besar, dan daya saing produk domestik yang rendah di
luar negeri, sehingga ekspor merosot.
Globalisasi tidak saja berdampak terhadap kondisi makro ekonomi
seperti yang dijelaskan di atas, tetapi juga pada perilaku masyarakat.
Keterbukaan ekonomi mengakibatkan: pertama, makin ketatnya persaingan
antara individu yang memperkuat individualitas. Kedua, munculnya sifat
hedonisme yang membuat manusia selalu memaksa dirinya untuk mencapai
kepuasan dan kenikmatan pribadinya. Kenikmatan pribadi dianggap sebagai
nilai hidup tertinggi. Hedonisme ini dapat berkembang pula menjadi sikap
materialisme dan konsumerisme sehingga membuat orang mengarahkan
hidupnya untuk berupaya memburu sesuatu yang berkaitan dengan
kebendaan dan sikap ingin memperoleh segalanya tanpa mau memberi orang
lain. Ketiga, sikap individualistis menimbulkan pula ketidakpedulian antar
9.10 Perekonomian Indonesia
sesama. Orang menyerahkan semua urusan moral pada masing-masing
individu, sehingga tidak ada kontrol sosial.
Akhir tahun 2015 semua negara ASEAN akan menghadapi pasar tunggal
dan terbuka yang berbasis produksi dengan pergerakan bebas arus barang,
jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja yang dikenal dengan AEC (ASEAN
Economic Community) atau MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Indonesia
layak untuk khawatir mengingat masih banyak produk Indonesia yang belum
siap bersaing, sebagaimana yang juga telah disebutkan diatas. Alisjahbana
(2013) dari hasil risetnya menyatakan bahwa belum seluruh masyarakat
Indonesia memahami apa itu AEC, dimana dari responden yang disurveinya,
sebanyak 61%-nya tidak mengetahui AEC. Rencananya pelaksanaan AEC
segera akan direalisasikan pada akhir 2015, dan Indonesia perlu segera
mempersiapkan diri. Jika kondisinya masih seperti diatas, maka bukan tidak
mungkin perekonomian Indonesia akan mengalami masalah akibat
produknya tidak laku di pasar bebas ASEAN apalagi pasar Internasional.
D. RESISTENSI TERHADAP GLOBALISASI EKONOMI
Globalisasi ekonomi yang dianggap merugikan negara miskin dan
berkembang tersebut memicu berbagai gerakan untuk menentangnya. Pada
penghujung tahun 1990-an gerakan berlawanan arah dengan kecenderungan
globalisasi justru yang menguat. Globalisasi digugat banyak negara. Impian
untuk percepatan pembangunan ekonomi dan penghapusan kemelaratan
ternyata tidak mewujud. Situasi yang ada justru melahirkan keadaan
sebaliknya, di mana ketimpangan antara negara kaya-miskin dinilai makin
membesar. Perusahaan besar dan negara kaya mengambil untung lebih besar
dari globalisasi ekonomi tersebut. Diperkirakan 25 persen perdagangan dunia
berlangsung dalam perusahaan global atau intra-company trade. Porsi yang
sama juga terjadi antara negara maju yang tergabung dalam European
Community (EC) dan NAFTA. Hanya sebagian kecil dari perdagangan dunia
ini yang bisa dinikmati negara-negara berkembang. Hal yang sama juga
terjadi dalam liberalisasi finansial, yang dikendalikan oleh lembaga keuangan
internasional yang dikomando negara-negara adikuasa ekonomi dan pemilik
modal di pasar uang dunia.
Awal tahun 2004 gugatan sudah muncul dalam tiga forum internasional.
Gugatan terhadap globalisasi dan perangkatnya tidak hanya datang dari
negara berkembang, melainkan juga oleh negara yang berpendapatan
ESPA4314/MODUL 9 9.11
menengah atas seperti negara-negara Amerika Latin. Forum pertemuan
negara-negara Benua Amerika pada tanggal 12-13 Januari 2004 melahirkan
kecaman keras pada liberalisasi perdagangan yang dinilai hanya
menguntungkan negara kaya. Presiden Venezuela Hugo Chavez, misalnya,
menilai perdagangan bebas telah memperlebar kesenjangan antara negara
kaya dan miskin dan menciptakan ketidakadilan. Kecaman ini wajar, karena
kantong kemiskinan di Benua Amerika memang banyak di negara Amerika
Latin.
Pada konferensi internasional Kamar Dagang Dunia yang diadakan di
Dhaka 18 Januari 2004 juga muncul kecaman terhadap perdagangan bebas
yang dikomandoi oleh WTO. Badan ini dinilai mantan Menperindag Kabinet
Gotong Royong Indonesia Rini Soewandi perlu dirombak. Berbagai
ketentuan yang ada dalam WTO dinilai tidak fair dan lebih menguntungkan
negara-negara maju.
Kecaman yang paling “dahsyat” memang datang dari World Social
Forum (WSF) atau Forum Sosial Dunia (FSD) yang bertemu 16-21 Januari di
Mumbay India. Forum yang sering dianggap sebagai anti-globalisasi ini
menyerang pola globalisasi yang dinilai terlalu diarahkan oleh kepentingan
negara besar dan kapitalis dunia. Aksi FSD yang diikuti 100 ribu peserta ini
tidak hanya sebatas kecaman, melainkan juga aksi pemboikotan terhadap
produk-produk multinasional yang dianggap mematikan produk lokal.
Kecaman terhadap globalisasi saat ini sudah sangat meluas.
Penentangnya bukan saja dari negara-negara yang dirugikan dari dampak
globalisasi tersebut, melainkan juga dari masyarakat global, yang melibatkan
LSM-LSM dan aktivis kemanusiaan yang memiliki jaringan di seluruh dunia.
Oleh karena itu dengan mudah mobilisasi masa terjadi dalam setiap even
menentang globalisasi ini, seperti yang terjadi di Seattle, Cancun, dan pada
saat diadakan Forum Ekonomi Dunia (WEF).
Kecaman terhadap globalisasi dengan segala aspeknya saat ini juga
muncul dari kalangan ilmuwan. Banyak pemikir yang menggugat
kecenderungan ekonomi dunia yang diarahkan pada liberalisasi tersebut.
Liberalisasi finansial yang dipasarkan IMF, misalnya, telah mendapat
kecaman keras dari ekonom dunia Joseph E Stiglitz (2002). Berbagai saran
IMF terhadap negara berkembang banyak yang keliru dan tidak tepat untuk
negara berkembang tersebut. Ia mengkritik IMF melakukan kekeliruan
karena menerapkan pasar bebas untuk suatu negara yang struktur informasi,
struktur pasar, serta infrastruktur kelembagaannya belum lengkap.
9.12 Perekonomian Indonesia
Secara teoretik memang perdagangan bebas dunia akan dapat
mendorong terjadinya peningkatan efisiensi melalui spesialisasi produk.
Dalam perdagangan bebas dunia asumsi yang selalu didengungkan adalah
bahwa semua negara dan pelaku ekonomi akan diuntungkan dari adanya
keterbukaan ekonomi tersebut. Oleh karena itu, berbagai hambatan
perdagangan, baik itu yang berupa tarif yang tinggi (tarif barrier) maupun
yang bukan tarif (non-tariff barrier) seperti quota, larangan impor, lisensi,
dan sebagainya harus diminimalkan atau dihilangkan. Melalui WTO dan
berbagai lembaga-lembaga internasional hal itu selalu dijadikan tekanan
untuk dilaksanakan.
Dalam realitas, pasar tidak bekerja seperti yang dinyatakan teori
konvensional di atas. Menurut Shipman (2002: 61-98) tidak ada satu negara
pun yang menjadi kaya melalui terjadinya spesialisasi seperti yang
dikemukakan teori di atas. Kekuatan-kekuatan besar yang dimiliki
perusahaan raksasa dunia yang mengendalikan pasar yang akan memberikan
keuntungan pada mereka. Globalization emerges as governments’ only hope
keeping the economy safe for giant enterprises, as well as keeping the people
safe from them (Shipman, 2002: 61). Globalisasi juga dikecam oleh Shipman
sebagai “Amerikanisasi”. Hal ini ditunjukkan dari menyebarnya perusahaan
pengecer Amerika seperti bank-bank dan restauran di seluruh dunia.
Dalam praktik, sangat mudah melihat bagaimana dengan keterbukaan
ekonomi ini berbagai produk multinasional menyerbu pasar di seluruh dunia,
termasuk pasar-pasar di negara miskin. Produk minuman ringan, misalnya,
yang pada masa lalu cukup banyak yang buatan lokal di Indonesia, saat ini
sudah tergantikan oleh produk Coca Cola dan sejenisnya. Demikian pula
produk makanan seperti ayam goreng yang saat ini sudah ada beberapa
franchise internasional yang masuk ke kota-kota besar di Indonesia. Makanan
seperti pizza, juga semakin akrab di lidah masyarakat Indonesia dan menjadi
kompetitor yang mengancam produk lokal. Dalam pengecer barang
kebutuhan sandang dan kebutuhah sehari-hari, department store dan super
(hyper) market juga sudah masuk ke kota-kota besar. Dan tidak jarang
membangun jaringan sampai ke kota kecil. Hal ini menjadi ancaman bagi
unit-unit usaha lokal yang bermodal kecil.
Dengan persaingan yang bebas, pelaku-pelaku ekonomi lemah yang
umumnya dari negara berkembang akan tersingkir. Mereka kalah bersaing
dari unit-unit usaha raksasa yang bermodal besar dan berteknologi canggih.
ESPA4314/MODUL 9 9.13
Gambaran ini bisa dilihat dari tingkat daya saing yang pada umumnya rendah
dari negara berkembang.
Dalam bukunya “The No-nonsense Guide to Globalization” (2001)
Wayne Ellwood, mengecam globalisasi karena telah meningkatkan
ketidakmerataan dan kemiskinan di seluruh dunia. Hal ini terjadi karena
pemerintah sudah kehilangan kemampuannya untuk mengontrol strategi dan
kebijakan pembangunannya. Oleh karena itu disarankan beberapa langkah
konkret untuk mengatasi hal tersebut. Langkah-langkah tersebut antara lain
(108-136) adalah:
1. Meningkatkan partisipasi warga negara melalui perombakan IMF.
Rekomendasi ini diberikan karena sistem finansial global hanya
dijalankan birokrat, bankir, dan ekonom arus utama, yang keputusannya
berpengaruh pada kehidupan masyarakat luas yang tidak pernah diajak
berkonsultasi;
2. Mendirikan lembaga keuangan global yang baru. Lembaga seperti Bank
Sentral Global dibutuhkan untuk membuat berbagai ketentuan baru yang
bisa menghindari gejolak dan ketidakefisienan di pasar lembaga
keuangan dunia;
3. Menghargai alam (honor the earth). Standar lingkungan global harus
ditetapkan oleh lembaga baru dengan mandat PBB. Standar ini harus
didasarkan pada keberlanjutan, pemerataan, dan keadilan, dan ini harus
diterapkan dalam setiap perjanjian perdagangan dan investasi.
Beberapa rekomendasi di atas menunjukkan bahwa upaya untuk
mengendalikan dampak globalisasi yang kini berjalan tidak sederhana. Hal
ini terjadi karena upaya tersebut sama dengan melawan kemapanan negara-
negara maju yang sulit untuk mendukung aksi yang dapat mengurangi
keuntungannya dari pola hubungan ekonomi dunia yang ada saat ini. Oleh
karena itu, diperlukan gerakan membangun kesadaran dunia, seperti yang
dilakukan FSD/WSF, yang selama seminggu melakukan pertemuan, dan pada
saat yang sama berhenti mengkonsumsi produk globalisasi.
Globalisasi yang arahnya dianggap menguntungkan pemodal kuat sering
disamakan dengan kapitalisme global. Akibatnya muncul penolakan pada
cara-cara kapitalis tersebut. Namun demikian gerakan penolakan pada
kapitalisme global ini tidak sepenuhnya homogen. Alex Callinicos dalam
bukunya “An Anti-Capitalist Manifesto” (2003) menyatakan bahwa gerakan
antikapitalis adalah jauh dari suatu gerakan yang secara ideologis homogen.
9.14 Perekonomian Indonesia
Kelompok borjuis anti-kapitalis dapat menerima pandangan neo-liberal
bahwa kapitalisme menawarkan solusi pada masalah kemanusiaan (human
kind), namun mengkritik paham tersebut untuk lebih responsif atas kritik
berkaitan dengan perwujudan masyarakat madani. Sementara itu gerakan
global anti-kapitalis menuntut pengembangan hubungan mikro di antara
produsen dan konsumen yang dapat mendukung keadilan sosial dan
kemandirian ekonomi, karenanya pasar harus diarahkan untuk tujuan
tersebut. Sedangkan gerakan reformis anti kapitalis menuntut adanya
pengaturan pada kapitalisme seperti pasca perang dunia. Di sisi lain, gerakan
sosialis anti kapitalis menyatakan hanya satu alternatif bagi kapitalisme untuk
konsisten dengan modernisasi, yakni ekonomi perencanaan yang demokratis
(democratically planned economy) Calinicos, 104-105).
Kekompakan negara-negara berkembang dalam forum WTO telah
mengakibatkan gagalnya forum tersebut untuk “didikte” negara maju, yang
alokasi subsidi untuk petaninya jauh lebih besar dari bantuan yang diberikan
kepada negara-negara berkembang. Namun masih dipertanyakan apakah pada
masa yang akan datang, dengan kekuatan pengaruh negara-negara maju
melalui bantuan dananya, kekompakan negara berkembang ini bisa bertahan.
Negara-negara maju, yang kuat secara kapital dan sumber daya manusia,
serta menguasai tekonologi yang berubah dengan cepat, selalu diuntungkan.
Ketika prinsip survival of the fittest (yang kuat akan bertahan), negara
adikuasa dengan mudah mengeksploitasi negara berkembang. Dan ketika
prinsip bergeser menjadi the survival of the fastest (yang cepat akan
bertahan) negara maju tetap tidak bergeser menguasai ekonomi global.
Pemerintah Indonesia, akibat berbagai tekanan asing dan moral yang
mengutamakan kepentingan pribadi, mengambil berbagai kebijakan yang
bermuara pada liberalisasi berbagai sektor kehidupan. Meski demikian
berbagai elemen masyarakat berusaha menentang globalisasi. Para aktivis di
kampus dan LSM senantiasa bergerak untuk menentang kebijakan
pemerintah yang mendorong terjadinya globalisasi ekonomi. Tetapi berbagai
gerakan menentang globalisasi tersebut masih bersifat sektoral seperti para
mahasiswa yang menolak liberalisasi pendidikan, para aktivis yang menolak
liberalisasi bahan bakar minyak, pelayanan kesehatan dan sebagainya. Belum
ada sebuah gerakan yang bersatu untuk menolak kebijakan yang
memungkinkan terjadinya globalisasi ekonomi dalam segala bentuknya.
Pemikiran anti globalisasi di kalangan ilmuwan juga belum bergerak dengan
maksimal. Belum banyak pakar ekonomi Indonesia yang menentang
ESPA4314/MODUL 9 9.15
globalisasi melalui argumentasi keilmuan yang dapat meyakinkan
masyarakat dan pengambil kebijakan. Akibatnya, pemikiran dan gerakan anti
globalisasi yang mulai tumbuh di Indonesia belum mendapatkan perhatian
yang memadai dari masyarakat dan pengambil kebijakan.
E. UPAYA INDONESIA MENGHADAPI GLOBALISASI
Pasar bebas baik di ranah regional melalui AEC maupun di tingkat
internasional melalui WTO sudah menjadi keniscayaan. Indonesia harus
mempersiapkan diri untuk menghadapinya jika tidak mengharapkan
permasalahan ekonomi menghinggapi dikemudian hari karena tidak lakunya
produk dalam negeri Indonesia di pasar global, atau lebih parah lagi dengan
membanjirnya produk asing di dalam negeri, produk lokal juga tidak laku di
pasar dalam negeri sendiri. Apa yang harus dipersiapkan Indonesia?
Darimana memulainya? Memang suatu pertanyaan yang sudah terlambat
kalau Indonesia masih berfikir tentang jawabannya. Pertanyaan ini adalah
pertanyaan rencana, sedangkan AEC sudah didepan mata yang sudah
memerlukan tindakan bahkan kesiapan infrastruktur untuk menghadapinya.
Namun keterlambatan bukan berarti menyerah dan membiarkannya berjalan
apa adanya, Indonesia harus segera bangkit dan melakukan semua persiapan
dengan cepat.
Sistem pemerintahan otonom yang diterapkan Indonesia, membagi
pemerintahan menjadi dua yaitu pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Peran keduanya diperlukan dalam mempercepat persiapan menghadapi pasar
bebas. Langkah yang harus dilakukan pemerintah pusat diantaranya,
pertama, mempersiapkan peran kelembagaan ekonomi dalam perekonomian
nasional seperti standarisasi produk yang diikuti dengan kebijakan untuk
mendorong produk unggul yang masuk ke pasar bebas dan melindungi atau
mengembangkan produk lokal lain untuk memenuhi standar yang berlaku di
pasar bebas. Kedua, perlindungan konsumen, karena konsumen memerlukan
rasa aman dan nyaman ketika memilih produk sehingga Indonesia perlu
meyakinkan konsumen bahwa produk Indonesia aman digunakan. Sedangkan
untuk pemerintah daerah, beberapa langkah yang perlu dilakukan adalah
pertama, peningkatan pemahaman masyarakat tentang pasar bebas untuk
skup internasional dan AEC untuk skup ASEAN; kedua, perbaikan iklim
investasi dan iklim usaha di daerah; ketiga, peningkatan infrastruktur daerah;
9.16 Perekonomian Indonesia
keempat, peningkatan daya saing produk ekspor unggulan daerah; kelima,
peningkatan kualitas SDM daerah.
Selain beberapa strategi diatas, strategi lain yang mendukung penguatan
untuk menghadapi persaingan bebas adalah melakukan sinergi dan
sinkronisasi antara strategi dan program pemerintah dengan strategi dan
program swasta dalam mencermati dan memanfaatkan peluang pasar ASEAN
(Bappenas, 2013) serta menciptakan iklim ketenagakerjaan daerah yang lebih
kondusif.
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
1) Apakah yang dimaksud dengan globalisasi ekonomi?
2) Jelaskan sejarah tahap-tahap perkembangan globalisasi ekonomi di
Indonesia!
3) Jelaskan pendapat Anda perihal kritik-kritik terhadap globalisasi
ekonomi dengan studi kasus ekonomi Indonesia!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Globalisasi ekonomi adalah:
Globalisasi diartikan sebagai negara tanpa batas, liberalisasi ekonomi,
perdagangan bebas dan intergrasi ekonomi dunia. Menurut prespektif
ekonomi, globalisasi merupakan pengintegrasian ekonomi secara global.
Secara lebih luas globalisasi ekonomi berarti tidak ada batas-batas
negara dalam transaksi ekonomi. Artinya lalu lintas barang dan jasa
menjadi bebas tanpa hambatan untuk berpindah clan satu negara ke
negara lain. Tidak ada lagi hambatan-hambatan bisnis atau perdagangan
internasional balk dalam bentuk tarif (tariff barries) maupun non tarif
(non- tariff barriers).
2) Tahapan sejarah perkembangan globalisasi ekonomi di Indonesia:
a) Sejak tahun 1980-an Indonesia memulai perdagangan luar negari, dl
dorong oleh jatuhnya harga minyak dunia dan perubahan strategi
industrialisasi yang mengarah pada outward looking.
ESPA4314/MODUL 9 9.17
b) Pemerintah melakukan serangkaian kegiatan deregulasi di bidang
moneter (keuangan) dan fiskal (perpajakan dan tarif), perdagangan
dan investasi untuk mendorong peningkatan pendapatan dari sektor
non-migas. Terjadi restrukturisasi ekonomi dengan mengubah
ketergantungan pada komoditi minyak (migas) menjadi diversivikasi
komoditi (non-migas) yang berorientasi ekspor, mobilisasi dana
dalam negeri (tabungan dan pajak) serta secara bertahap mengurangi
campur tangan pemerintah di berbagai sektor yang dianggap
menghambat kemajuan dunia usaha.
c) Indonesia mengambil keputusan untuk bergabung dengan berbagai
organisasi perdagangan internasional seperti: APEC (1989), AFTA
(1992) dan WTO/GATT (1996). Organisasi tersebut merupakan
forum yang mempunyai orientasi untuk menerapkan globalisasi
ekonomi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
3) Kritik terhadap globalisasi ekonomi dengan studi kasus Indonesia.
a) Globalisasi ekonomi tidak akan membawa keuntungan bagi
Indonesia, karena tidak memiliki daya saing nasional ditengah pasar
global. Berbagai praktik kolusi, korupsi dan nepotesime dibidang
ekonomi telah menurunkan daya saing Indonesia.
b) Globalisasi ekonomi dapat memberikan kerugian balk sektor
industri yang selama ini tumbuh dan berkembang karena
perlindungan proteksi.
c) Sektor jasa juga akan mengalami kerugian dari praktek globalisasi,
karena dapat kalah bersaingan dari luar negeri. Sektor jasa yang
selama ini diproteksi masih mengalami defisit, jika proteksi itu
dibuka maka akan berdampak semakin kalah bersaing dengan
industri jasa dari luar negeri.
d) Sektor-sektor kegiatan ekonomi dapat dikuasai oleh pihak asing dan
pasar impor dalam negeri akan dibanjiri produk ekspor sehingga
dapat mematikan usaha ekonomi lokal. Seperti: hypermarket melalui
jaringan walwartnya masuk sampai pelosok desa dan bersaing
dengan pasar tradiosional, departement store dan sebagainya.
9.18 Perekonomian Indonesia
R A NG KU M AN
Deregulasi perdagangan yang ditetapkan pemerintah pada tahun
1980-an mendorong terjadinya globalisasi ekonomi di Indonesia.
Masuknya modal asing secara besar-besaran dan berkurangnya hambatan
perdagangan membuat Indonesia terbuka pada globalisasi. Selain itu,
Indonesia juga terlibat dengan berbagai perjanjian ekonomi yang
mendukung globalisasi.
Keikutsertaan Indonesia dalam globalisasi ekonomi mungkin tidak
berakibat buruk jika Indonesia memang mampu secara cepat melakukan
penyesuaian-penyesuaian ekonomi sehingga perekonomian menjadi
lebih efisien dan daya saingnya meningkat. Globalisasi ekonomi
Indonesia berdampak buruk karena justru meningkatkan hambatan
perdagangan yang ditimbulkan oleh blok perdagangan, meningkatnya
defisit neraca berjalan sebagai akibat meningkatnya impor dan
pembayaran jasa serta repatriasi keuntungan investasi asing.
Agar globalisasi ekonomi dapat memberi keuntungan bagi Indonesia
maka harus dilakukan beberapa perubahan seperti meningkatkan
partisipasi warga negara melalui perombakan IMF, mendirikan lembaga
keuangan global yang baru dan menghargai alam.
TES F OR M AT IF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Lembaga internasional yang mengikat Indonesia dalam kesepakatan-
kesepakatan yang mengarah pada pelaksanaan globalisasi ekonomi
(pasar bebas) adalah ....
A. World Bank
B. World Trade Organization
C. International Monetary Fund
D. United Nation Development Program
2) Pakar ekonomi yang menyebut globalisasi sebagai “Amerikanisasi”
karena makin menyebarnya perusahaan pengecer Amerika seperti bank
dan restauran ke seluruh dunia adalah ....
A. Joseph Stiglitz
B. James Petras
C. Alan Shipman
D. Von Hayek
ESPA4314/MODUL 9 9.19
3) Pakar ekonomi yang dalam bukunya “Ekonomi Terjajah” menggugat
globalisasi ekonomi yang makin membelenggu perekonomian Indonesia
adalah ....
A. Mubyarto
B. Sri-Edi Swasono
C. Emil Salim
D. Widjojo Nitisastro
4) Perombakan ekonomi yang dipaksakan oleh IMF pasca krisis moneter
1997/1998 untuk meliberalisasi dan mengintegrasikan ekonomi
Indonesia ke sistem perekonomian global disebut ....
A. Washington Concensus
B. Structural Adjustment Program
C. Letter of Intent
D. General Agrement on Trade and Services
5) Kebijakan pemerintah yang dilakukan dalam rangka liberalisasi dan
globalisasi ekonomi adalah ....
A. pengurangan impor gula
B. peningkatan subsidi pupuk
C. peningkatan kuota impor
D. pengurangan bea masuk beras
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
9.20 Perekonomian Indonesia
Kegiatan Belajar 2
Krisis Ilmu Ekonomi
A. KEGAGALAN ILMU EKONOMI KONVENSIONAL
Dunia sedang mengalami masalah besar pasca berkembang pesatnya
globalisasi ekonomi (pasar bebas). Di tengah arus kemajuan ekonomi terselip
tanda-tanda krisis global yang inheren dalam kemajuan tersebut. Krisis
tersebut meliputi makin parahnya degradasi moral (spiritualitas), makin
lebarnya ketimpangan sosial-ekonomi, dan makin rusaknya sistem ekologis
(lingkungan) penyangga kehidupan bumi (Danaher, 2004). Krisis-krisis
tersebut tidak lain adalah manifestasi kegagalan sistem ekonomi global dalam
menyejahterakan manusia secara berkeadilan dan berkelanjutan. Di sisi lain,
krisis-krisis tersebut merupakan refleksi kegagalan ilmu ekonomi
konvensional yang menjadi pondasi berkembangnya sistem ekonomi global.
Perkembangan ilmu ekonomi modern didominasi ajaran ekonomi Neo
Klasik yang diprakarsai oleh Alfred Marshall melalui bukunya Principles of
Economics (1890). Di bawah panduan ekonomi Neo Klasik, ilmu ekonomi
berkembang makin jauh dari esensinya sebagai ilmu moral dan ilmu sosial.
Ilmu ekonomi cenderung makin mengalami penyempitan makna (terlalu
spesialistis) karena makin dikembangkan secara kuantitatif (matematis) yang
mengabaikan faktor-faktor di luar ekonomi seperti politik, budaya,
psikologis, dan faktor sosial lainnya. Lebih lanjut ilmu ekonomi makin
berkembang sebagai monodisiplin yang mengabaikan peranan cabang-cabang
ilmu lain dalam menganalisis dan memecahkan permasalahan global
(Mubyarto, 2005).
Ilmu ekonomi yang mengedepankan pandangan rasionalisme,
kompetitivisme, self interest, orientasi pertumbuhan, dan profit maximization
ini telah mendorong perebutan penguasaan sumber daya yang berujung pada
eksploitasi satu negara terhadap negara lain beserta kekayaan alam
(lingkungan)-nya. Ilmu ini makin bias pada (kepentingan) negara maju (kaya)
yang lebih memfokuskan perhatian pada ekonomi modern (usaha besar)
sehingga mengabaikan perhatian pada pemecahan masalah-masalah riil yang
dihadapi pelaku ekonomi rakyat (Mubyarto, 2003). Bahkan, teori-teori
tentang ekonomi rakyat tidak dikembangkan karena asumsi pelaku produksi
hanyalah perusahaan (besar). Ilmu ekonomi ini pun dikembangkan secara
ESPA4314/MODUL 9 9.21
positivistik, sehingga mengabaikan faktor-faktor kelembagaan sosial-budaya
dan nilai-nilai kerja sama, kebersamaan, dan moralitas/etika lokal yang
dimiliki ekonomi rakyat. Jelas ilmu ekonomi seperti ini makin tidak cocok
untuk dikembangkan dan diterapkan di negara sedang berkembang seperti
halnya Indonesia.
Krisis sosial yang melanda dunia telah menjelma menjadi krisis ilmu
ekonomi, yaitu krisis yang terjadi karena ketidakmampuan ilmu ekonomi
konvensional dalam memecahkan masalah-masalah mendasar yang dihadapi
umat manusia, dan bahkan cenderung mendorong timbulnya masalah-
masalah tersebut. Krisis ini juga terjadi karena ilmu ekonomi konvensional
makin tidak selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama,
sejak dari filsafat dasarnya. Misalnya, asumsi manusia sebagai homo
economicus saja jelas tidak memadai dan bahkan tidak sesuai dengan fitrah
manusia sebagai makhluk sosial dan beretika. Tak pelak krisis ilmu ekonomi
pun makin mendorong timbulnya krisis moral dan krisis kemanusiaan, yang
lebih umum lagi berupa krisis peradaban.
B. KEBUTUHAN ILMU EKONOMI ALTERNATIF
Berbagai kritik mendasar terhadap ilmu ekonomi konvensional makin
menunjukkan kebutuhan akan adanya ilmu ekonomi alternatif. Kebutuhan ini
pun telah dirasakan oleh pakar-pakar ekonomi di negara maju (Barat), seperti
halnya yang kemudian dikembangkan “ekonom-ekonom murtad” di
Universitas Harvard (Amerika). “Ekonom yang “murtad” (heterodox
economist) layak mendapat acungan jempol (deserve credit),” demikian tulis
The Economist (10 Mei 2003). Ini berkait dengan ditawarkannya mata kuliah
pengantar ekonomi alternatif di fakultas ekonomi terkemuka di dunia, seperti
di Harvard University. Pengajarnya, Martien Feldstein, mantan penasihat
ekonomi Presiden AS Ronald Reagan. Asumsi dasar pengajaran ini bertolak
belakang dengan apa yang diajarkan oleh ekonom neo-klasik. Dengan
menggunakan pendekatan psikologi, para ekonom ini menolak konsep homo-
ekonomikus, yang selalu menganggap manusia bertindak rasional. Jika
konsep ini diterima, maka dampaknya akan sangat luas bagi pengajaran ilmu
ekonomi yang saat ini berbasiskan ekonomi neo-klasik. Acungan jempol
diberikan karena mereka menawarkan kepada ‘konsumennya’ (mahasiswa)
suatu pelajaran alternatif tentang apa yang terbaik bagi mereka untuk
diketahui.
9.22 Perekonomian Indonesia
Tulisan dalam rubrik “Fokus Ekonomi” dengan tajuk “Behaviorist at the
Gates” tersebut menjelaskan bagaimana para ekonom menggunakan
psikologi untuk mempertanyakan resep-resep kebijakan dari ekonom
ortodoks (konvensional). Ketidakpuasan semacam ini sebetulnya sesuatu
yang sudah muncul cukup lama. Letupan-letupan ketidakpuasan para ekonom
konvensional itu kemudian memunculkan berbagai konsep ilmu ekonomi
alternatif, seperti Ekonomi Kelembagaan (Kenneth Building), Ekonomika
Strukturalis (Raul Prebisch), serta Ekonomika Islami yang digali oleh
ekonom-ekonom muslim (Dumairy, 2003: 1-2). Di Indonesia sejak awal
1980-an ketidakpuasan atas teori ekonomi konvensional itu sudah
diwacanakan oleh Prof. Mubyarto, dan kini dikembangkan melalui PUSTEP
(Pusat Studi Ekonomi Pancasila) UGM.
Ditawarkannya mata kuliah pengantar ekonomi alternatif di Harvard
tersebut menunjukkan bahwa apa yang dilakukan dengan mengkaji dan
merumuskan sistem ekonomi alternatif melalui Ekonomi Pancasila bukanlah
sesuatu yang aneh dan mengada-ada. Kebutuhan akan ekonomi alternatif ini
juga muncul di kampus-kampus di Amerika di mana sebagian besar
mahasiswa pertama kali memperoleh pengajaran mengenai konsep homo
ekonomikus. Walaupun yang diajarkan para ekonom yang ‘murtad’
(dissident economist) ini lebih jelas dibanding neo-klasik yang tidak rinci
dalam menjelaskan perilaku manusia dalam dunia nyata, namun menurut The
Economist, sejauh ini hasilnya masih terbatas. Pelajaran ekonomi masih
didominasi materi dengan rumus-rumus matematik yang seolah tak mungkin
salah, yang pelakunya “agents” dan “actors” selalu berperilaku rasional,
merekomendasikan perdagangan bebas, pembatasan peran pemerintah, dan
pajak yang rendah.
Ide tentang teori ekonomi perilaku (behavioral economics) sebagian
besar datang dari Daniel Kahneman, psikolog yang tahun lalu memperoleh
Nobel dalam bidang ekonomi. Berbeda dengan ajaran Neo-klasik, ekonomi
perilaku ini menganggap bahwa manusia tidak selalu bertindak rasional.
Orang mungkin mengabaikan risiko, dan mengambil langkah untung-
untungan. Manusia mungkin tidak tahu bagaimana mengalokasikan uangnya
untuk mencapai kepuasan maksimum. Lebih dari itu manusia tidak melulu
bersifat mementingkan diri sendiri atau serakah (selfish). Orang tua rela
berkorban untuk anaknya dan orang menyumbang untuk kegiatan sosial
atau keagamaan tanpa mengharapkan keuntungan apapun.
ESPA4314/MODUL 9 9.23
Anggapan manusia yang ”selfish” telah menjadikan ilmu ekonomi
mengajarkan manusia untuk selalu “berperang” (kompetisi) satu dengan
lainnya, mengajarkan “keserakahan” yang diperhalus dengan kata
kemakmuran. Kenyataannya manusia tidak selalu demikian. Manusia bisa
bekerja sama (co-operation) untuk memenuhi kebutuhannya,
mengedepankan keadilan ketimbang efisiensi, atau memasukkan
pertimbangan moral dan etika dalam mengambil keputusan ekonomi.
Karenanya ilmu ekonomi pun seharusnya bisa mengajarkan tentang konsep
kerja sama untuk mencapai kemakmuran bersama bukan keserakahan
individual.
Banyak hal dari ajaran ekonomi ortodoks yang digugat oleh ekonom
heterodoks (nonortodoks). Menurut mereka, teori dasar tentang kurva
permintaan dan penawaran tidak akan banyak artinya, karena orang tidak
selalu mampu menghitung uang yang dengan rela ia keluarkan untuk sesuatu
kebutuhan. Padahal banyak sekali teori-teori ekonomi yang menggunakan
pendekatan atau dasar teori tersebut. Untuk menghitung kenaikan biaya
karena pajak, misalnya, juga tergantung pada kedua kurva tersebut.
Perdagangan bebas, misalnya, direkomendasikan berdasarkan manfaat yang
diperoleh akibat turunnya bea masuk dibandingkan dengan biaya akibat
hilangnya pekerjaan bagi industri yang tersaingi. Namun jika itu semua tidak
bisa dihitung, maka rasionalitas di balik teori itu tidak ada artinya.
Diajarkannya pemikiran ekonomi alternatif di Harvard merupakan angin
segar bagi berkembangnya pemikiran-pemikiran ekonomi di luar arus utama.
Sebagian ekonom mungkin tak lagi terpaku dengan model-model
ekonometerik yang canggih untuk menjelaskan fenomena ekonomi,
menyusun suatu kebijakan, atau meramal masa depan perekonomian. Stephen
Marglin, Guru Besar di Universitas Harvard yang disebutkan di atas
merupakan pengusul pengajaran pengantar ekonomi yang nonkonvensional
tersebut, yang lebih mendorong mahasiswanya untuk membaca tulisan-
tulisan mengenai nasib pekerja tekstil di AS yang menganggur gara-gara
NAFTA ketimbang mengkaji secara ekonometrika manfaat kerja sama dari
perjanjian tersebut bagi AS dan Meksiko.
C. PERLUNYA ILMU EKONOMI PANCASILA
Mubyarto, penggagas ilmu ekonomi Pancasila, menjelaskan bahwa ilmu
ekonomi Pancasila adalah ilmu ekonomi kelembagaan (institutional
9.24 Perekonomian Indonesia
economics) yang menjunjung tinggi nilai-nilai kelembagaan Pancasila
sebagai ideologi negara, yang ke-5 silanya, secara utuh maupun sendiri-
sendiri, menjadi rujukan setiap pelaku ekonomi orang Indonesia. Ekonomi
Pancasila merupakan ilmu ekonomi yang khas (berjati-diri) Indonesia, yang
digali dan dikembangkan berdasar kehidupan ekonomi riil (real-life
economy) rakyat Indonesia. Ilmu ekonomi Pancasila mengacu pada sila-sila
dalam Pancasila, yang terwujud dalam lima landasan ekonomi yaitu ekonomi
moralistik (ber-Ketuhanan), ekonomi kemanusiaan, nasionalisme ekonomi,
demokrasi ekonomi (ekonomi kerakyatan), dan diarahkan untuk mencapai
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ilmu ekonomi Pancasila
diperlukan karena penerapan teori ekonomi yang tidak mencapai hasil yang
diharapkan inilah, maka masuk akal jika ada kebutuhan riil akan teori/ilmu
ekonomi Indonesia baru, yaitu ilmu ekonomi yang benar-benar dapat
diandalkan sebagai pisau analisis masalah-masalah ekonomi khas Indonesia.
Secara komprehensif Dawam Rahardjo menguraikan perlunya
pengembangan ilmu ekonomi Pancasila, yaitu: Pertama, untuk
mengembangkan lebih lanjut pemikiran-pemikiran di sekitar Ekonomi
Pancasila yang telah dirintis oleh Emil Salim sebagai sistem dan
dipopulerkan sebagai teori/ilmu oleh Mubyarto. Kedua, untuk melakukan
sosialisasi gagasan, baik ke lingkungan akademis, lingkungan birokrasi dan
politik, maupun masyarakat pada umumnya, dengan tujuan agar nalar
ekonomi Pancasila dipakai sebagai pedoman pengembangan ilmu ekonomi
baru atau alternatif, dan agar lebih diterima dan diterapkan dalam praktek
pembangunan dan usaha. Ketiga, untuk menjawab kritik, keraguan, atau
skeptisisme terhadap gagasan ekonomi Pancasila (seperti Arief Budiman).
Keempat, untuk menerapkan nalar ekonomi Pancasila dalam menanggapi
persoalan-persoalan ekonomi dan pembangunan, khususnya dalam
menanggulangi krisis. Kelima, melakukan reformasi terhadap sistem
ekonomi dan perekonomian Indonesia. Keenam, menanggapi perkembangan
pemikiran neo-liberalisme dan globalisasi. Ketujuh, ikut memberikan
jawaban terhadap persepsi mengenai krisis ilmu ekonomi konvensional (Paul
Ormerod) dan relevansi ilmu ekonomi. Kedelapan, menyediakan bahan
pengajaran ilmu ekonomi yang berdasarkan kerangka teori ekonomi
Pancasila, yang berbeda dengan dan merupakan alternatif terhadap teori
ekonomi konvensional.
Secara khusus, latar belakang makin perlunya ilmu ekonomi Pancasila
dapat diilustrasikan dari dua buah buku yang ditulis oleh dua orang penulis
ESPA4314/MODUL 9 9.25
dari luar negeri. Buku pertama yang terbit tahun 2002 ditulis oleh John
Pilger, jurnalis Australia yang tinggal di Inggris, dengan judul The New
Rulers of The World (Verso, 2002). Buku yang dikutip Kwik Kian Gie dalam
Kongres Indonesia Raya tahun 2004 ini di antaranya mengulas fakta dibalik
dimulainya liberalisasi ekonomi Indonesia sejak tahun 1967. Pilger yang
merujuk analisis dokumen historis Jeffrey Winters dan Brad Sampson
mengungkap latar belakang diadakannya Konferensi Jenewa 1967 (awal
Orde Baru) yang disponsori oleh Time-Life Corporation. Konperensi yang
disebutnya sebagai “pertemuan merancang pengambilalihan Indonesia” itu
diikuti oleh korporat raksasa Barat dan ekonom-ekonom top Indonesia yang
kemudian dikenal sebagai “Berkeley Mafia”. Konferensi tiga hari itu berbuah
“kaplingisasi” kekayaan alam di Indonesia. Freeport mendapat gunung
tembaga di Papua Barat, Konsorsium Eropa menguasai nikel di Papua Barat,
Alcoa mendapat bagian terbesar bouksit di Indonesia, dan kelompok
perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di
Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan.
Buku kedua, yang terbit dua tahun sesudahnya, ditulis oleh John Perkins
dengan judul Confessions of an Economic Hit Man (Berret-Koehler, 2004),
tidak kalah menghebohkan. Perkins menulis “pengakuan dosanya” sebagai
mantan “agen” ekonomi Pemerintah (AS) yang dalam kurun waktu 1971-
1980 ikut “menjerumuskan” beberapa negara Asia dan Amerika Selatan
seperti Panama, Equador, Colombia, Iran, termasuk Indonesia (sebagai
“korban pertamanya”), dalam kubangan (jebakan) utang luar negeri dan
ketergantungan politik-ekonomi kepada korporat dan pemerintah AS.
Perkins yang berpredikat sebagai “pemukul ekonomi” atau “Economic
Hit Man” (EHM), mengemban dua misi, yaitu memastikan bahwa utang LN
yang diberikan akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek konstruksi
raksasa milik perusahaan konsultan Perkins dan korporat-korporat AS, dan
kemudian “membangkrutkan” negara pengutang agar selamanya tunduk pada
kreditor. Proyek-proyek raksasa ini didesain untuk memenuhi kepentingan-
kepentingan ekonomi-politik mereka seperti tersedianya pangkalan militer,
suara di PBB, akses atas minyak, dan akses terhadap sumber daya alam
lainnya.
Perkins memaparkan bahwa korporatokrasi yang dikembangkan melalui
misi-misi EHM lebih berbahaya dari sekadar suatu konspirasi. Sistem ini
tidak dikendalikan oleh segelintir kecil orang, melainkan oleh konsep yang
sudah diterima layaknya kitab suci, bahwa setiap pertumbuhan ekonomi pasti
9.26 Perekonomian Indonesia
bermanfaat bagi setiap manusia. Makin tinggi pertumbuhan ekonomi, makin
besar pula manfaat yang diperoleh. Korporat, bank, dan pemerintah, sebagai
agen korporatokrasi, menggunakan kekuasaan dan modal mereka untuk
memastikan bahwa sekolah, bisnis, dan media, selalu mendukung konsep
yang salah ini. Mereka menggiring kita untuk percaya bahwa kebudayaan
global AS adalah mesin dahsyat yang membutuhkan peningkatan konsumsi
(bahan bakar dan pemeliharaan), termasuk meningkatnya biaya hidup yang
harus dipenuhi berapa pun besarnya.
Dalam kasus Indonesia, EHM menjalankan kepentingan korporat dan
pemerintah AS dengan dalih menjaga Indonesia dari pengaruh komunis yang
masih eksis di Vietnam, Laos, dan Kamboja (1971-1975). EHM meyakinkan
bahwa pembangunan sistem perlistrikan terpadu di Jawa merupakan kunci
mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perkins, sebagai “ekonom”,
bertugas untuk memperkirakan kenaikan pertumbuhan ekonomi dengan
perkiraan kuantitaif-matematis, yang kemudian menjadi legitimasi bagi
Indonesia untuk memperoleh utang luar negeri.
Utang diberikan dengan syarat proyek dikerjakan oleh konsultan dan
korporat yang diajukan oleh tim EHM, setelah nilai utang digelembungkan
(mark-up) dari nilai riil proyeknya. Dengan cara ini, industri minyak dan
perusahaan-perusahaan kaitannya (pelabuhan, pipa, dan konstruksi) makin
tergantung pada sistem perlistrikan yang disediakan oleh tim EHM. Fakta
selanjutnya kita tahu bahwa Indonesia disebut sebagai salah satu keajaiban
pertumbuhan ekonomi Asia (East Asian economic miracle), yang ironisnya
makin terjebak utang (debt-trap), berpredikat negara terkorup, sehingga
kebijakan ekonomi-politiknya banyak tergantung pada negara-negara
(lembaga) asing seperti CGI, IMF, dan Bank Dunia.
Kedua buku itu telah menginspirasi jawaban terhadap pertanyaan
mengapa kita perlu mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu ekonomi
Pancasila. Perlu diketahui bahwa Ekonomi Pancasila dikembangkan Prof.
Mubyarto sebagai alternatif terhadap ilmu ekonomi konvensional (neoklasik-
Barat) yang menjadi mainstream dalam pendidikan ekonomi kita. Di
samping itu ekonomi Pancasila juga diposisikan untuk membendung
berkembangnya ideologi dan sistem ekonomi kapitalis-neoliberal di
Indonesia.
Buku Pilger dan Perkins menunjukkan betapa pentingnya pendekatan
multidisiplin yang merupakan pendekatan yang secara konsisten diterapkan
ajaran Ekonomi Pancasila. Teori ekonomi Pancasila adalah teori ekonomi
ESPA4314/MODUL 9 9.27
khas Indonesia yang “model” dan penerapannya selalu bersifat
multidisipliner dan sekaligus transdisipliner (Mubyarto, 2005): Ekonomi
Pancasila menganalisis fenomena dan masalah ekonomi tidak sekadar dari
kajian ekonomi an sich, melainkan mengaitkannya dengan analisis sejarah,
politik, filsafat moral/etika, sosiologi, dan antropologi, yang terang-terangan
diabaikan dalam pendekatan ekonomi Neo Klasik-Barat. Masalah-masalah
struktural ekonomi berupa ketimpangan, eksploitasi, dan sub-ordinasi
terhadap pelaku ekonomi rakyat (kaum miskin) hanya bisa dilihat apabila
pendekatan (kacamata) yang digunakan adalah kacamata ekonomi-historis,
ekonomi politik, ekonomi sosiologi, dan ekonomi antropologi. Sayangnya
pendekatan ekonomi kelembagaan yang multidipliner ini telah diabaikan
dalam pendidikan ekonomi kita.
Pendekatan multidisiplin dan transdisiplin dimungkinkan jika ilmu
ekonomi tidak sekadar mengasumsikan manusia sebagai homo economicus,
melainkan juga sebagai homo socius dan homo ethicus. Dengan begitu,
analisis ekonomi tidak seharusnya dipusatkan kepada individu yang selalu
mengejar kepentingan pribadi (self-interest), berorientasi keuntungan pribadi
(profit orientation), dan selalu bersaing bebas (free-competition). Sebagai
homo ethicus dan homo socius, manusia memiliki pertimbangan moral/etika
(agama) dan sosial yang mendorongnya untuk tidak mau dikendalikan pasar
yang materialistis, melainkan mengutamakan kepentingan bersama dalam
suatu tatanan masyarakat yang berasas kekeluargaan (brotherhood) dan
kebersamaan (mutualism). Kesejahteraan sosial tidak dapat dianggap sebagai
manifestasi kesejahteraan individu yang masing-masing mengejar
kepentingan mereka sendiri (Swasono, 2005). Itulah asumsi dasar yang
dibangun dalam ilmu ekonomi Pancasila.
Teori ekonomi Pancasila tidak menggunakan asumsi-asumsi ceteris
paribus, tetapi memasukkan semua variabel yang benar-benar harus
dipertimbangkan. Jika Pancasila mengandung 5 asas, maka semua sila
Pancasila yaitu (1) etika, (2) kemanusiaan, (3) nasionalisme, (4)
kerakyatan/demokrasi, dan (5) keadilan sosial, harus dipertimbangkan dalam
model ekonomi yang disusun. Jika di samping Pancasila juga selalu
disebutkan asas kekeluargaan dan kemasyarakatan sebagaimana dikandung
dalam pasal 33 UUD 1945, maka menjadi lengkaplah “model” ekonomi
Pancasila, yaitu model ekonomi “holistik” yang tidak memisahkan masalah
ekonomi dari masalah sosial, masalah budaya, masalah moral/etik, dan lain-
lain. Yang ada adalah masalah, yang dihadapi manusia Indonesia, tidak perlu
9.28 Perekonomian Indonesia
diurai menjadi masalah-masalah yang sangat terpisah-pisah, yang untuk
menganalisis masing-masing (Mubyarto, 2005)
Pendekatan dan asumsi di atas dibangun atas keyakinan bahwa ilmu
ekonomi tidaklah bebas nilai (value-free), melainkan justru sarat nilai (value-
ladden) istilah Gunnar Myrdal. Sistem dan ilmu ekonomi sangat terkait
dengan ideologi, sejarah, sistem nilai, dan sistem sosial-budaya
(kelembagaan) masyarakat di mana sistem dan ilmu itu dikembangkan. Oleh
karena itu dominasi paradigma positivistik yang menganggap kebenaran,
relevansi, dan manfaat ilmu ekonomi konvensional (Neoklasik-Barat) bersifat
universal harus ditolak. Positivisme hanya mengarahkan pendidikan ekonomi
kita untuk semata-mata berorientasi Barat (Amerika), yang memiliki sejarah,
ideologi, sistem nilai, dan sistem sosial-budaya, yang jelas berbeda dengan
Indonesia. Oleh karena itu, sistem dan Ilmu ekonomi Indonesia harus digali
dan dikembangkan berpijak pada realitas ekonomi (real-life economy)
masyarakat Indonesia sendiri pula. Berdasar itulah ekonomi Pancasila
dikembangkan melalui penelitian-penelitian lapangan tentang ekonomi rakyat
Indonesia.
D. FILSAFAT ILMU EKONOMI PANCASILA
Rahardjo (2004) dalam buku “Ekonomi Pancasila: Jalan lurus Menuju
Masyarakat Adil dan Makmur”) menguraikan tiga landasan filsafat ilmu
Ekonomi Pancasila yang sesuai dengan prosedur untuk mendapatkan
legitimasi ilmiah, yaitu meliputi aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi adalah wacana mengenai keperiadaan, epistemologi merupakan cara
pemahaman atau metode penelitian dan kajian, sedangkan aksiologi adalah
pembahasan mengenai nilai, khususnya nilai guna, sebagaimana dicerminkan
oleh tujuan (aim, goal, dan visi), hasil atau output dari suatu proses, dalam
pelaksanaan Sistem Ekonomi Pancasila.
Analisis ontologi memberikan pertanyaan mengenai apa itu yang
dimaksud dengan “Ekonomi Pancasila”, apa itu, apa wujudnya, apakah
merupakan teori ataukah sudah dipraktikkan baik di masyarakat maupun di
pemerintahan, apakah sudah mendapatkan persetujuan dalam komunitas
ilmiah sehingga merupakan ilmu pengetahuan yang dapat diajarkan di
sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat luas? Ekonomi Pancasila
sebenarnya merupakan istilah dan pengetahuan yang relatif baru dan hingga
kini masih berada dalam proses pengkajian dan uji coba (eksperimen). Dalam
ESPA4314/MODUL 9 9.29
proses itu sudah tentu timbul pro dan kontra, ada yang mendukung,
menentang (secara vokal atau diam-diam), merongrong atau tidak peduli
kehadirannya (sikap indifference) bahkan juga sinis. Guna
mengembangkannya lebih lanjut, antara lain telah dibentuk lembaga yang
bernama “Pusat Studi Ekonomi Pancasila” (PUSTEP) di lingkungan
Universitas Gajah Mada (UGM) yang dikepalai oleh Prof. Dr. Mubyarto.
Dengan demikian, maka Ekonomi Pancasila adalah sebuah gagasan yang
masih harus diperjuangkan, tidak saja melalui kajian dan pengajaran tetapi
juga melalui praktik dan bahkan gerakan.
Wacana Ekonomi Pancasila juga telah menggugat epistemologi ilmu
ekonomi konvensional. Pertama-tama digugat asumsi dasar mengenai
manusia Konsep homo-economicus dinilai sebagai pandangan tunggal
dimensi (one-dementional, meminjam istilah Herbert Marcuse). Padahal
pembahasan filsafat telah mengungkapkan hakikat manusia yang multi
dimensional. Wacana Ekonomi Pancasila terutama mengangkat konsep homo
sociees yaitu makhluk sosial dan homo-eticus, manusia adalah makhluk yang
bermoral dan beretika. Selanjutnya Wacana Ekonomi Pancasila berpendapat
bahwa ekonomi tidak hanya dikendalikan oleh pasar dan oleh kekuasaan
(negara, pemerintah), tetapi juga oleh nilai-nilai moral dan etika yang
mempengaruhi perilaku manusia. Motif ekonomi bukan hanya materialis,
khususnya mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya. Ekonomi juga
digerakkan oleh motif-motif yang bersifat psikologis dan spiritual, misalnya
pengakuan dan penghargaan dan aktualisasi diri, sebagaimana digambarkan
antara lain oleh Abraham Maslow.
Berkaitan dengan gugatan terhadap asumsi manusia, wacana Ekonomi
Pancasila juga menggugat pandangan bahwa ilmu ekonomi itu bebas nilai
(value-free) mengikuti pandangan Max Weber mengenai sosiologi.
Sebagaimana pandangan ekonomi penerima hadiah Nobel. Gunnar Myrdal,
ekonomi itu sarat nilai (value-ladden). Ilmu Ekonomi yang bebas nilai
dipandang hanyalah suatu mitos. Karena itu sesuai dengan pandangan
Myrdal, dalam pembahasan ekonomi, nilai-nilai harus dieksplisitkan. Dengan
perkataan lain, ekonom dan pelaku ekonomi harus jujur mengenai motivasi
dan kepentingan-kepentingan yang melatarbelakangi sikap, pandangan dan
perilaku manusia. Dengan perkataan lain, diperlukan kode etik, bahkan
peraturan dan undang-undang yang mengendalikan perilaku dan
perkembangan ekonomi.
9.30 Perekonomian Indonesia
Berdasarkan asumsi manusia yang multidimensional, maka pendekatan
terhadap gejala ekonomi harus dilakukan secara antar disiplin dan multi-
disiplin. Antar disiplin adalah pendekatan kajian atau pemecahan masalah
(puzzle solving) oleh pakar dari berbagai cabang ilmu sosial, seperti politik,
sosiologi, hukum dan antropologi. Sedangkan dalam pendekatan multi-
disiplin, penelitian, analisis dan pengambilan keputusan perlu ditinjau dari
berbagai sudut pandangan yang dimiliki oleh seseorang. Dalam kaitannya
dengan Ekonomi Pancasila, Bung Hatta pernah memperkenalkan disiplin
ekonomi-sosiologi. Akhir-akhir ini berkembang pula penelitian antropologi
ekonomi, misalnya yang telah dilakukan oleh Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra
atau Dr. Irwan Abdullah. Pendekatan sosiologi-ekonomi telah dilakukan oleh
Burger dan pendekatan ekonomi sosiologi dilakukan oleh Galbraith dan
Myrdal. Bung Hatta sendiri lebih cenderung pada pendekatan ekonomi-
politik (political economy) yang umumnya ditempuh oleh pemikir-pemikir
radikal, seperti Paul Baran, Maurice Dobb, Samir Amin, Sri-Edi Swasono
dan Sritua-Arif. Mubyarto sendiri menganjurkan dipakainya pendekatan
ekonomi kelembagaan (institutional economics) yang mula-mula
diperkenalkan oleh Veblen dan dikembangkan oleh Kenneth Boulding, yang
berargumentasi bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh sejumlah
hubungan antar institusi sosial (seperti keluarga), institusi politik (seperti
negara atau partai politik), institusi ekonomi (seperti perusahaan atau bursa
efek), atau institusi religius (seperti majelis ulama atau masjid).
Dalam Pancasila juga telah tercantum secara tegas, aspek aksiologi, yaitu
“keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Keadilan sosial yang
tercantum juga dalam Pembukaan UUD 1945 itu mengandung dua aspek,
yaitu, pertama keadilan dan kedua, kemakmuran. Ini berbeda dengan cita-cita
kapitalisme yaitu “affluant society” atau consumer society yang merupakan
masyarakat konsumsi. Tujuan yang ingin dicapai oleh Sistem Ekonomi
Pancasila adalah “Kesejahteraan Sosial”. Sri-Edi Swasono
menerjemahkannya sebagai “Social Welfare”, bukan hanya sekadar welfare
saja. Jika mengikuti al Fathihah, maka tujuan yang hendak dicapai oleh jalan
lurus (shiratal mustaqim) Ekonomi Pancasila adalah kebahagiaan dunia
akhirat yang bebas dari kesesatan dan murka Tuhan. Kesesatan adalah akibat
dari kebodohan, sedangkan kemurkaan Tuhan datang karena kejahatan yang
dilakukan secara sengaja dan dengan kesadaran, lebih-lebih yang dilakukan
oleh orang yang tahu atau mengerti (berpendidikan). Itulah kesejahteraan
ESPA4314/MODUL 9 9.31
sosial yang tidak hanya berdimensi material, tetapi juga mental dan spiritual
(Rahardjo, 2005).
E. PENGEMBANGAN ILMU EKONOMI PANCASILA
Di samping melalui riset-riset lapangan, pengembangan ilmu ekonomi
Pancasila dilakukan melalui pola pendidikan yang menghadapkan peserta
didik pada masalah-masalah ekonomi riil yang dihadapi rakyat Indonesia.
Pola pendidikan seperti ini dikenal sebagai pendidikan terhadap masalah
(problem-posing education), yang merupakan alternatif bagi pola pendidikan
yang hanya mendorong peserta didik untuk menghapal sebanyak mungkin
materi untuk diujikan di akhir semester, yang disebut sebagai pendidikan
gaya bank (banking education). Problem-posing education dilakukan dengan
mengajak peserta didik untuk melakukan kajian (kunjungan) lapangan ke
pelaku ekonomi rakyat seintensif mungkin. Mereka dapat juga diajak
berdiskusi dan mengkritisi isu-isu ekonomi aktual (lokal dan nasional),
terutama masalah-masalah yang dihadapi pelaku ekonomi rakyat, untuk
bersama-sama mencari cara-cara pemecahannya.
Pengembangan ilmu ekonomi Pancasila pun direalisasikan melalui
diskusi, seminar, dan penerbitan buku-buku ekonomi Pancasila, terutama
sejak didirikannya Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM tahun
2002. Berdirinya PUSTEP-UGM dirangsang penerbitan buku A Development
Alternative for Indonesia (Gama Press, 2002) yang ditulis Mubyarto bersama
rekan ekonom kelembagaan dari University of Wiscounsin yaitu Daniel W.
Bromley. Meskipun PUSTEP-UGM sudah berdiri dan mengadakan berbagai
kegiatan ilmiah seperti seminar bulanan dan penerbitan website, tetap saja
ekonomi Pancasila belum diterima secara luas, bahkan untuk sekadar sebagai
ilmu dan sistem alternatif sekalipun. Sampai hari ini ekonomi Pancasila
belum diterima sebagai ilmu ekonomi (alternatif) yang perlu diajarkan (untuk
dikembangkan lebih lanjut) di perguruan tinggi. Mayoritas pakar ekonomi
arus utama masih bersikap skeptis dan cenderung menganggap ekonomi
Pancasila sebagai konsep yang mengada-ada (yang “bukan-bukan”), abstrak,
normatif, dan tidak memiliki kecukupan ilmiah untuk dikembangkan sebagai
sebuah ilmu dan sistem ekonomi. Hal ini berimbas pada keraguan pemerintah
(negara) dalam mengembangkan dan menerapkan sistem dan ilmu ekonomi
Pancasila, antara lain karena dominasi pemikiran teknokrat ekonomi
neoklasik tersebut dalam penyusunan kebijakan ekonomi.
9.32 Perekonomian Indonesia
Demikian upaya pengembangan ilmu ekonomi Pancasila jelas tidak
mengada-ada, tetapi sungguh-sungguh merupakan “jalan ke luar” untuk
membebaskan diri dari “penjajahan paham ekonomi liberal” yang sudah
sangat jauh menguasai kurikulum fakultas ekonomi tanpa kita menyadari
bahwa ilmu Ekonomi Pancasila telah lahir. Agar ilmu baru ini dapat tumbuh
menjadi besar, kuat, sehat, dan bermanfaat, sehingga dapat menjadi “lampu
penerang” bagi kemajuan perekonomian Indonesia, ia harus dilindungi
sekaligus diberi kesempatan berkembang secara bebas. Marilah kita semua,
terutama ilmuwan-ilmuwan ekonomi muda, bekerja keras mengembangkan
ilmu ini, demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih cerah. Ilmu ekonomi
harus dijadikan ilmu terapan, ilmu yang penerapannya memberikan
kesejahteraan dan kebahagiaan bagi bangsa dan seluruh rakyat Indonesia
(Mubyarto, 2005).
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
1) Jelaskan perihal terjadinya krisis ilmu ekonomi konvensional!
2) Apakah pemikiran menuju ilmu ekonomi alternatif juga berkembang di
negara Barat? Jelaskan jawaban Anda!
3) Jelaskan pemahaman Anda perihal filsafat ilmu ekonomi Pancasila!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Terjadinya krisis ilmu ekonomi konvensional:
Ditengah arus kemajuan ekonomi yang didukung dengan globalisasi di
segala bidang terselip tanda-tanda krisis global yang inheren dalam
kemajuan tersebut. Krisis tersebut meliputi makin parahnya degradasi
moral (spiritualitas), makin lebarnya ketimpangan sosial ekonomi dan
makin rusaknya sistem ekologis penyangga kehidupan. Krisis yang
terjadi itu merupakan manifetasi kegagalan sistem ekonomi global dalam
menyesejaterakan manusia secara berkeadilan dan berkelanjutan. Krisis
tersebut merupakan refleksi kegagalan ilmu ekonomi konvensional yang
menjadi fondasi sistem ekonomi global. Ilmu ekonomi yang dimotori
oleh pemikiran neo klasik cenderung makin jauh dari esensinya sebagai
ESPA4314/MODUL 9 9.33
ilmu ekonomi moral dan ilmu sosial. Ilmu ekonomi cenderung makin
mengalami penyempitan makna (terlalu spesialistis) karena makin
dikembangkan secara kuantitatif yang mengabaikan faktor-faktor di luar
ekonomi seperti politik, budaya, psikologis dan faktor sosial lainnya.
Selain itu, ilmu ekonomi makin berkembang sebagai monodisplin yang
mengabaikan peranan cabang-cabang ilmu lain dalam menganalisis dan
memecahkan permasalahan global. Ilmu ekonomi yang cenderung
mengedepankan pandangan rasionalisme, kompetitivisme, self interest,
orientasi pertumbuhan dan profit maximization telah mendorong
perebutan sumber daya yang berujung pada eksploitasi satu negara
terhadap negara lain beserta kekayaan alam.
2) Ilmu ekonomi alternatif juga berkembang di negara barat:
Kebutuhan akan adanya ilmu ekonomi alternatif dirasakan juga oleh
pakar-pakar ekonomi barat. Di Universitas Havard, beberapa
ekonominya seperti, Martien Feldstein mengajarkan ekonomi alternatif
dengan mengunakan pendekatan psikologi dan menolak paham konsep
homo-economicus yang menganggap manusia bertindak rasional. Daniel
Kahneman, menggagas ide teori ekonomi perilaku (behavioral
economics) yang menganggap manusia tidak selalu bertindak rasional.
Letupan ketidakpuasan para ekonom konvensional itu kemudian
memunculkan berbagai konsep ilmu ekonomi alternatif seperti: Ekonomi
Kelembagaan (Kenneth Building), Ekonomika Strukturalis (Raul
Prebisch) serta Ekonomi Islam yang dikembangkan ekonom-ekonom
muslim.
3) Filsafat Ilmu Ekonomi Pancasila:
Menurut Dawam Raharjo (2004) terdapat tiga landasan filsafat ilmu
ekonomi Pancasila yaitu:
a) Aspek Ontologi adalah wacana mengenai keperiadaan
b) Aspek Epistemologi adalag merupakan cara pemahaman atau
metode penelitian. Secara epistemologis, ekonomi Pancasila
berasumsi bahwa manusia bukan hanya makhluk ekonomi,
melainkan makhluk etis dan sosial. Ilmu ekonomi dipandang tidak
bebas nilai, tetapi sarat nilai dan pendekatannya haruslah
multidisplin. Dalam menjawab latihan ini, bacalah kembali dengan
teliti materi-materi yang terkait dengan pertanyaan tersebut dan
9.34 Perekonomian Indonesia
galilah dari bacaan-bacaan utama yang menjadi referensi kegiatan
belajar ini.
c) Aspek Aksiologis adalah pembahasan mengenai nilai, khususnya
nilai guna, yang dapat tercermin dari tujuan, hasil atau output dari
suatu proses dalam pelaksanaan Sistem Ekonomi Pancasila. Secara
Aksiologis ekonomi Pancasila berupaya mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
R A NG KU M AN
Krisis global meliputi makin parahnya degradasi moral
(spiritualitas), makin lebarnya ketimpangan sosial-ekonomi, dan makin
rusaknya sistem ekologis (lingkungan) penyangga kehidupan bumi.
Krisis-krisis tersebut adalah manifestasi kegagalan sistem ekonomi
global dalam menyejahterakan manusia secara berkeadilan dan
berkelanjutan. Di sisi lain, krisis-krisis tersebut merupakan refleksi
kegagalan ilmu ekonomi konvensional yang menjadi pondasi
berkembangnya sistem ekonomi global. Kondisi ini menuntut perlunya
pengembangan ilmu ekonomi alternatif mempertimbangkan aspek-aspek
kelembagaan.
Ekonomi Pancasila merupakan ilmu ekonomi alternatif yang khas
(berjati-diri) Indonesia, yang digali dan dikembangkan berdasar
kehidupan ekonomi riil (real-life economy) rakyat Indonesia. Ilmu
ekonomi Pancasila mengacu pada sila-sila dalam Pancasila, yang
terwujud dalam lima landasan ekonomi yaitu ekonomi moralistik (ber-
Ketuhanan), ekonomi kemanusiaan, nasionalisme ekonomi, demokrasi
ekonomi (ekonomi kerakyatan), dan diarahkan untuk mencapai keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Filsafat ilmu ekonomi Pancasila meliputi: secara ontologis, ekonomi
Pancasila merupakan gagasan (wacana) yang masih diperjuangkan,
secara epistemologis, ekonomi Pancasila berasumsi bahwa manusia
bukan hanya makhluk ekonomi, melainkan makhluk etis dan sosial, ilmu
ekonomi tidaklah bebas nilai, tetapi sarat nilai, dan pendekatannya
haruslah multidisiplin, berupa ekonomi-politik, ekonomi-antropologi,
ekonomi-sosiologi, dan sebagainya, bukan monodisiplin seperti halnya
yang digunakan ilmu ekonomi konvensional. Secara eaksiologis
ekonomi Pancasila berupaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
ESPA4314/MODUL 9 9.35
Ilmu ekonomi Pancasila dikembangkan melalui penelitian-penelitian
induktif-empirik terhadap realitas kehidupan ekonomi rakyat Indonesia,
yang diseminasikan dalam pendidikan ekonomi yang berorientasi pada
pemecahan masalah (problem-posing education). Lembaga yang
merintis pengembangan ideologi, ilmu, dan sistem ekonomi Pancasila
adalah Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM yang didirikan oleh Prof.
Mubyarto tahun 2002.
TES F OR M AT IF 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Martien Feldstein telah mengembangkan dan mengajarkan ilmu ekonomi
alternatif yang berlainan dengan ilmu ekonomi konvensional di salah
satu universitas terkemuka di dunia, yaitu ....
A. Berkeley University
B. Harvard University
C. MIT University
D. Oxford University
2) Aspek-aspek epistemologis ilmu ekonomi Pancasila adalah ....
A. mencapai consumer society
B. manusia sebagai homo ecconomicus
C. self-interest
D. pendekatan multidisiplin
3) Wadah usaha yang dikembangkan sesuai dengan penerapan prinsip-
prinsip ekonomi kerakyatan sebagai salah satu pilar ekonomi Pancasila
adalah ....
A. Koperasi
B. BUMN
C. Korporasi Internasional
D. Perseroan Terbatas
4) Ekonom-sosiolog yang berpandangan bahwa ilmu ekonomi tidak boleh
bebas nilai (value free), melainkan sarat nilai (value-ladden) adalah ....
A. Samuelsen
B. Milton Friedman
C. Gunnar Myrdal
D. Alfred Marshal
9.36 Perekonomian Indonesia
5) Misi pengembangan ekonomi Pancasila yang diuaraikan Dawam
Rahardjo adalah ….
A. mendorong liberalisasi ekonomi nasional
B. privatisasi Badan Usaha Pemerintah
C. mengembangkan pemotoran ekonomi
D. reformasi sistem ekonomi Indonesia
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Selamat! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
ESPA4314/MODUL 9 9.37
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1 Tes Formatif 2
1) B. 1) B.
2) C. 2) D.
3) A. 3) A.
4) B. 4) C.
5) D. 5) D.
9.38 Perekonomian Indonesia
Daftar Pustaka
Callinicos, Alex. (2003). An Anti Capitalist Manifesto. Cambridge: Polity
Press.
Djiwandono, Sudrajad, Integrasi Pasar Keuangan dan Globalisasi serta
Dampaknya terhadap Kebijakan Moneter Indonesia, Kuliah Umum di
FE-UGM, Yogyakarta
Effendi, Sofyan. (2005). Revitalisasi Jati Diri UGM dalam Menghadapi
Perubahan Global, Orasi Dies-UGM ke-55, UGM, Yogyakarta.
Gilpin, Robert. (2002). The Challenge of Global Capitalis: The World
Economy in 21 Century. Princeton: Princeton University Press.
Hamid, Edy Suandi. (2005). Neoliberalisme, Globalisasi Ekonomi, dan
Perekonomian Indonesia, Pidato Guru Besar, Yogyakarta.
Khor, Martin. (2003). Globalisasi Perangkap Negara-negara Selatan.
Yogyakarta: Cindelaras.
Mubyarto. (2005). Ekonomi Terjajah. Yogyakarta: Aditya Media.
Perkins, John. (2004). Confessions of an Economic Hit Man, Berret-Koehler,
AS.
Pilger, John. (2002). The New Rulers of The World, Verso, UK.
Rahardjo, Dawam. (2004) Ekonomi Pancasila: Jalan Lurus Menuju
Masyarakat Adil dan Makmur. Yogyakarta: Aditya Media.
Rodrik, Dani. (1997). The Globalization Gone Too Far? Washington DC:
Institute For International Economics.
Shipman, Alan. (2002). The Globalization Myth. Cambridge: Icon Books
LTD.
ESPA4314/MODUL 9 9.39
Stiglitz, Joseph E. (2003). The Roaring Nineties: Seeds of Destruction.
London: Allen lane.
Stiglitz, Joseph E. (2002). Globalization and Its Discontens. London:
Penguin Books.
Swasono, Sri-Edi. (2005). Daulat Rakyat VS Daulat Pasar. Yogyakarta:
Pustep-UGM.
Swasono, Sri-Edi. (2005). Ekspose Ekonomika: Mewaspadai Globalisme dan
Pasar Bebas. Yogyakarta: Pustep-UGM.
Wayne, Ellwood. (2001) No-Nonse Guide to Globalization. Oxford: New
International Publication.
Wolf, Martin. (2004). Why Globalization Works? New Heaven and London:
Yale University Press.