SMART ASN
A. Kegiatan Belajar :
Literasi Digital
Kompetensi literasi digital diperlukan bagi ASN agar seluruh masyarakat digital
dapat menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Penilaiannya dapat ditinjau
dari etis dalam mengakses media digital (digital ethics), budaya menggunakan digital
(digital culture), menggunakan media digital dengan aman (digital safety), dan
kecakapan menggunakan media digital (digital skills).
a. Percepatan Transformasi Digital
Menurut Vial (2019), transformasi digital memberikan lebih banyak informasi,
komputasi, komunikasi, dan konektivitas yang memungkinkan berbagai bentuk
kolaborasi baru di dalam jaringan dengan aktor yang terdiversifikasi. Realitas baru ini
menawarkan potensi luar biasa untuk inovasi dan kinerja dalam organisasi.
5 visi Presiden untuk Indonesia:
1. Pembangunan infrastruktur
2. Pembangunan SDM
3. Keterbukaan Investasi
4. Reformasi Birokrasi
5. Penggunaan APBN fokus & tepas sasaran
5 arahan presiden untuk percepatan transformasi digital:
1. Perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital.
2. Persiapkan betul roadmap transportasi digital di sektor-sektor strategis, baik
di pemerintahan, layanan publik, bantuan sosial, sektor pendidikan, sektor
kesehatan, perdagangan, sektor industri, sektor penyiaran.
3. Percepat integrasi Pusat Data Nasional sebagaimana sudah dibicarakan.
4. Persiapkan kebutuhan SDM talenta digital.
5. Persiapan terkait dengan regulasi, skema-skema pendanaan dan pembiayaan
transformasi digital dilakukan secepat-cepatnya.
b. Pengertian Literasi Digital
Ruang digital adalah lingkungan yang kaya akan informasi. Keterjangkauan
(affordances) yang dirasakan dari ruang ekspresi ini mendorong produksi, berbagi,
diskusi, dan evaluasi opini publik melalui cara tekstual. Affordance dalam literasi digital
adalah akses, perangkat, dan platform digital. Sementara pasangannya yaitu kendala
(constraint), mencegah kita dari melakukan hal-hal lain, berpikir dengan cara lain,
memiliki jenis lain dari hubungan. Constraint dalam literasi digital bisa meliputi
kurangnya infrastruktur, akses, dan minimnya penguatan literasi digital. Kominfo sendiri
menjabarkan literasi digital ke dalam 4 kompetensi yaitu kecakapan menggunakan media
digital (digital skills), budaya menggunakan digital (digital culture), etis menggunakan
media digital (digital ethics), dan aman menggunakan media digital (digital safety).
Digital skill merupakan kemampuan individu dalam mengetahui, memahami, dan
menggunakan perangkat keras dan piranti lunak TIK serta sistem operasi digital dalam
kehidupan sehari-hari. Digital safety merupakan kemampuan user dalam mengenali,
mempolakan, menerapkan, menganalisis, menimbang dan meningkatkan kesadaran
perlindungan data pribadi dan keamanan digital dalam kehidupan sehari-hari. Digital
culture merupakan kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan,
memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari dan digitalisasi kebudayaan melalui
pemanfaatan TIK. Digital ethics merupakan kemampuan individu dalam menyadari,
mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan
mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari.
c. Peta Jalan Literasi Digital
Indikator yang dipakai dalam menentukan keberhasilan terwujudnya Indonesia
Digital Nation melalui peta jalan literasi digital diantaranya yaitu dari ITU, IMD, dan
Katadata.
International Telecommunication Union (ITU) → ICT Development Index.
ICT Development Index (IDI) menggunakan pendekatan 3 kategori (ICT
Access, ICT Skills, ICT Use) dan 11 kriteria indikator.
Institute of International Management Development (IMD) → IMD Digital
Competitiveness Ranking. IMD Digital Competitiveness menggunakan 3
kategori (Technology, Knowledge,Future Readiness) dengan 9 sub-faktor dan
52 kriteria indikator.
Katadata Insight Center → Status Literasi Digital Indonesia Survei di 34
Provinsi. Responden diminta untuk mengisi 28 pertanyaan yang disusun
menjadi 7 pilar, 4 sub-indeks menjadi sebuah Indeks Literasi Digital.
Telah disusun pula 4 modul yang dibuat untuk menunjang percepatan
transformasi digital yaitu:
1. Cakap Bermedia Digital
2. Budaya Bermedia Digital
3. Etis Bermedia Digital
4. Aman Bermedia Digital
d. Lingkup Literasi Digital
Karakteristik yang umum dijumpai pada digital immigrant adalah gagap dengan
teknologi. Di satu sisi, mereka senang akan inovasi teknologi. Tetap, kompetensi digital
tidak dimiliki, dipelajari, dan diaplikasikan dengan baik, sehingga masih diperlukan
penguatan literasi digital oleh berbagai pihak.
No. Instansi Program Deskripsi
1. Kominfo Siberkreasi Melalui berbagai program, literasi. Digital
diimplementasikan dengan berfokus pada
aktivisme sosial, konten digital, dan pelatihan
literasi digital.
2. Kemendikbud Gerakan Literasi Literasi digital menjadi bagian dari roadmap
Nasional Gerakan Literasi Nasional.
3. BSSN Edukasi dan Pelatihan, semiloka, dan penyediaan
Literasi bahan ajar dan kajian terkait isu dunia digital
terkait keamanan diri dan data pribadi.
4. Japelidi (Jaringan Penelitian dan Digagas oleh kurang lebih 86 peneliti dan 50
Peneliti Digital penerbitan universitas di Indonesia, Japelidi berfokus
Indonesia) pada kajian, publikasi, dan pengayaan
fundamental literasi digital.
5. Vokasi Universitas Penelitian dan Program pengabdian masyarakat dari
Indonesia Pelatihan Departemen Vokasi Universitas Indonesia
yang berfokus pada literasi digital di berupa
penelitian dan pelatihan.
6. Aspikom (Asosiasi Penelitian Berdiri sejak 2007, Aspikom yang merupakan
Pendidikan Tinggi konsorsium beberapa universitas berfokus
Ilmu Komunikasi) pada penelitian dengan penerbitan jurnal
Aspikom yang telah terakreditasi
7. Mafindo (Masyarakat Pelatihan dan Berdiri sejak 2018, Mafindo telah menjadi
Anti Fitnah Pengabdian organisasi cek fakta dan pengembangan
Indonesia) masyarakat literasi media dan digital dengan jangkauan
nasional dan internasional
8. Elsam Penelitian dan Elsam berfokus pada penguatan literasi digital
semiloka untuk iklim demokrasi yang lebih baik baik di
dunia nyata dan maya dengan penelitian dan
semiloka di berbagai daerah.
9. Sejiwa Pelatihan Melalui gerakan pengembangan literasi
secara umum yang menyasar sekolah dan
komunitas, Sejiwa juga telah lama
mendukung penguatan literasi digital di
Indonesia.
e. Implementasi Literasi Digital
Sejalan dengan perkembangan ICT (Information, Communication and
Technology), muncul berbagai model pembelajaran secara daring. Selanjutnya, muncul
pula istilah sekolah berbasis web (web-school) atau sekolah berbasis internet (cyber-
school),yang menggunakan fasilitas internet. Bermula dari kedua istilah tersebut,
muncullah berbagai istilah baru dalam pembelajaran yang menggunakan internet, seperti
online learning, distance learning, web-based learning, dan e- learning.
B. Kegiatan Belajar 2: Pilar Literasi Digital
Literasi digital memiliki 4 pilar wajib yang harus dikuasai oleh para peserta PPPK
yang terdiri dari etika, keamanan, budaya, dan kecakapan dalam bermedia digital.
Terdapat dua poros yang membagi area setiap domain kompetensi yang termasuk dalam
pilar-pilar literasi digital. Poros pertama, yaitu domain kapasitas ‘single–kolektif’
memperlihatkan rentang kapasitas literasi digital sebagai kemampuan individu untuk
mengakomodasi kebutuhan individu sepenuhnya hingga kemampuan individu untuk
berfungsi sebagai bagian dari masyarakat kolektif/societal. Poros berikutnya adalah
domain ruang ‘informal–formal’ yang memperlihatkan ruang pendekatan dalam
penerapan kompetensi literasi digital.
a. Etika Bermedia Digital
Etika bermedia digial adalah kemampuan individu dalam menyadari,
mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan
mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari. Etika
tradisional adalah etika berhubungan secara langsung/tatap muka yang menyangkut tata
cara lama, kebiasaan, dan budaya yang merupakan kesepakatan bersama dari setiap
kelompok masyarakat, sehingga menunjukkan apa yang pantas dan tidak pantas sebagai
pedoman sikap dan perilaku anggota masyarakat. Etika kontemporer adalah etika
elektronik dan digital yang menyangkut tata cara, kebiasaan, dan budaya yang
berkembang karena teknologi yang memungkinkan pertemuan sosial budaya secara lebih
luas dan global. Ruang lingkup etika dalam dunia digital menyangkut pertimbangan
perilaku yang dipenuhi kesadaran, tanggung jawab, integritas (kejujuran), dan nilai
kebajikan. Baik itu dalam hal tata kelola, berinteraksi, berpartisipasi, berkolaborasi dan
bertransaksi elektronik.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang urgensi
penerapan etika bermedia digital :
a. Penetrasi internet yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
b. Perubahan perilaku masyarakat yang berpindah dari madia konvensional ke media digital.
c. Situasi pandemi COVID-19 yang menyebabkan intensitas orang berinteraksi dengan
gawai semakin tinggi, sehingga memunculkan berbagai isu dan gesekan.
Beberapa dampak negatif media social :
a. Hoaks (informasi tidak benar)
b. Cyberbullying (perundungan)
c. Cyberstalking (mengintip dan memata-matai seseorang di dunia maya)
d. Revenge Porn (membalas dendam melalui penyebaran foto/video intim seseorang)
e. Hate speech (ujaran kebencian)
Etika bermedia social terdiri dari :
a. Etika berinteraksi di Dunia Digital
b. Etika bertransaksi di Dunia Digital
b. Budaya Bermedia Digital
Sikap Pancasila ditunjukkan dalam berkegiatan kemanusiaan dalam berbagai
kegiatan, salah satu aplikasinya melalui media sosial yaitu melalui penggunaan nilai nilai
Pancasila dalam berkomunikasi antar sesama manusia. Terutama dalam menjalankan
tugas tugas sebagai duta bangsa dalam kesenian dan teknologi serta dalam menjalankan
tugas sebagai duta pariwisata untuk mempromosikan produk dalam negeri. Masyarakat
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi agar tetap melaksanakan kegiatan,
karena fasilitas dan fitur dari teknologi informasi dan komunikasi yang memiliki
keunggulan dan kemudahan untuk dipergunakan oleh berbagai kalangan masyarakat.
Tantangan dalam menghadapi era digital adalah terbukanya akses, proses yang cepat dan
instan, serta kemudahan akses. Satu hal yang harus diakui: kecanggihan teknologi digital
hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan para pengguna. Bangsa yang sukses
dan berkualitas adalah bangsa yang berbudaya dan bermartabat. Seyogyanya, saat dunia
bertransformasi menjadi budaya digital, maka budaya baru yang terbentuk harus dapat
menciptakan manusia yang berkarakter dan warga digital yang memiliki nilai-nilai
kebangsaan untuk memperkuat bangsa dan negaranya. Kehadiran media dan teknologi
digital, dengan kata lain, harus menjadi sarana memperkuat budaya bangsa dan karakter
warganegara.
C. Kegiatan Belajar 3: Implementasi Literasi Digital dan Implikasinya
Salah satu perangkat keras yang sering kali digunakan dalam dunia digital adalah
komputer. Komputer yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah komputer pribadi.
Komputer merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut komputer yang didesain
untuk penggunaan individu. Tips Memilih Penyedia Jasa Internet
Ada beberapa pertimbangan dalam memilih jasa internet yang bisa kita gunakan.
a. Kecepatan akses. Kita perlu mengetahui kecepatan akses internet yang bisa kita dapatkan.
b. Stabilitas. Kita perlu memastikan bahwa penyedia jasa internet tersebut menyediakan
akses internet yang stabil, terutama di lokasi tempat kita berada.
c. Pelayanan terhadap pelanggan. Kita perlu mengetahui bagaimana pelayanan yang
diberikan terhadap kendala yang mungkin kita temui saat mengakses internet.
d. Selain tips tersebut, tentu kita perlu menyesuaikan biaya jasa internet dengan kemampuan
dan kebutuhan kita.
RESUME SMART ASN
1. LITERASI DIGITAL
a. Percepatan Transformasi Digital
Menurut Vial (2019), transformasi digital memberikan lebih banyak informasi,
komputasi, komunikasi, dan konektivitas yang memungkinkan berbagai bentuk
kolaborasi baru di dalam jaringan dengan aktor yang terdiversifikasi.
5 visi Presiden untuk Indonesia:
1. Pembangunan infrastruktur
2. Pembangunan SDM
3. Keterbukaan Investasi
4. Reformasi Birokrasi
5. Penggunaan APBN fokus & tepas sasaran
b. Pengertian Literasi Digital
Ruang digital adalah lingkungan yang kaya akan informasi. Keterjangkauan
(affordances) yang dirasakan dari ruang ekspresi ini mendorong produksi, berbagi,
diskusi, dan evaluasi opini publik melalui cara tekstual (Barton dan Lee, 2013).
Affordance berarti alat yang memungkinkan kita untuk melakukan hal-hal baru, berpikir
dengan cara baru, mengekspresikan jenis makna baru, membangun jenis hubungan baru
dan menjadi tipe orang baru. Affordance dalam literasi digital adalah
akses, perangkat, dan platform digital. Sementara pasangannya yaitu kendala (constraint),
mencegah kita dari melakukan hal-hal lain, berpikir dengan cara lain, memiliki jenis lain
dari hubungan. Constraint dalam literasi digital bisa meliputi kurangnya infrastruktur,
akses, dan minimnya penguatan literasi digital (Jones dan Hafner, 2012).
c. Peta Jalan Literasi Digital
Terdapat tiga pilar utama dalam Indonesia Digital Nation, yaitu masyarakat digital
yang dibarengi pula dengan pemerintah digital dan ekonomi digital. Masyarakat digital
meliputi aktivitas, penggunaan aplikasi, dan penggunaan infrastruktur digital.
d. Lingkup Literasi Digital
1. Tantangan Kesenjangan Digital
Dalam hal lingkup literasi digital, kesenjangan digital (digital divide) juga menjadi hal
yang perlu dipahami. Kesenjangan digital merupakan konsep yang telah lama ada. Pada
awal mulanya, konsep kesenjangan digital ini berfokus pada kemampuan memiliki
(ekonomi) dan mengoperasikan perangkat digital (komputer) dan akses (Internet).
2. Penguatan Literasi Digital
Di Indonesia, sejak lama sudah dilakukan upaya penguatan literasi digital. Pada
Kurikulum 2006, mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sempat
menjadi bagian penting di bangku sekolah menengah dan atas.
e. Implementasi Literasi Digital
Sejalan dengan perkembangan ICT (Information, Communication and Technology),
muncul berbagai model pembelajaran secara daring. Selanjutnya, muncul pula istilah
sekolah berbasis web (web-school) atau Smart ASN 27 sekolah berbasis internet (cyber-
school), yang menggunakan fasilitas internet. Bermula dari kedua istilah tersebut,
muncullah berbagai istilah baru dalam pembelajaran yang menggunakan internet, seperti
online learning, distance learning, web-based learning, dan elearning (Kuntarto dan
Asyhar, 2016).
2. Pilar Literasi Digital
Pada bagian ini, akan dipelajari tentang empat pilar literasi digital yang terdiri dari:
a. Cakap Bermedia Digital
b. Budaya Bermedia Digital
c. Etis Bermedia Digital
d. Aman Bermedia Digital.
Keempat pilar tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat kompetensi kognitif dan
afektif masyarakat dalam menguasai teknologi digital.
3. Implementasi Literasi Digital dan Implikasinya
Pada bagian ini, akan dipelajari lebih mendalam mengenai penerapan dari masing-masing
keempat pilar literasi digital, yakni etika, keamanan, budaya, dan kecakapan dalam bermedia
digital. Selain itu, pembahasan ini dilengkapi pula dengan kondisi terkini di Indonesia serta
tips praktis yang membuat kita dapat memaknai lebih jauh keempat pilar tersebut.
a. Lanskap Digital
Pengetahuan dasar mengenai lanskap digital meliputi berbagai perangkat keras dan
perangkat lunak karena lanskap digital merupakan sebutan kolektif untuk jaringan sosial,
surel, situs daring, perangkat seluler, dan lain sebagainya.
b. Mesin Pencarian Informasi, Cara Penggunaan dan Pemilahan Data
Hasil survei yang dikeluarkan oleh Hootsuite dan We are Social di tahun 2020
menunjukkan bahwa Google menempati peringkat pertama sebagai mesin pencarian
informasi yang paling banyak diakses. Ia lebih banyak diakses secara mobile
dibandingkan melalui komputer. Situs ini digunakan oleh semua kelompok usia hampir
secara merata.
c. Aplikasi Percakapan, dan Media Sosial
Aplikasi percakapan dan media sosial adalah salah satu bagian dari perkembangan
teknologi yang disebut sebagai tolok ukur yang sangat menarik yang memiliki kaitan
dengan berbagai aspek (Sun, 2020). Kebebasan untuk mengakses aplikasi percakapan
dan media sosial perlu diimbangi dengan kemampuan pengguna untuk mengakses
sebuah aplikasi percakapan. Pengguna perlu setidaknya memahami empat dimensi
persiapan, yaitu:
1. Akses terhadap internet
2. Syarat dan ketentuan penggunaan aplikasi
3. Membuat dan/atau membuka akun.
4. Metode akses.
d. Aplikasi Dompet Digital, Loka Pasar (marketplace), dan Transaksi Digital
Sejak kemunculannya di kehidupan kita, beragam aktivitas sosial, ekonomi, dan
politik yang kita lalui tidak terlepas dari koneksi internet. Anggaran untuk internet selalu
diprioritaskan bahkan cenderung semakin besar (APJII, 2020). Contohnya saja dalam
transaksi jual beli.
Transaksi digital cenderung lebih aman dilakukan bilamana penjual bergabung dengan
lokapasar yang sudah menyediakan metode pembayaran resmi. Salah satunya dengan
memanfaatkan fitur dompet digital.
e. Etika Berinternet (Nettiquette)
Di dunia digital kita juga mengenal etika berinternet atau yang lebih dikenal dengan
Netiquette (Network Etiquette) yaitu tata krama dalam menggunakan Internet. Hal
paling mendasar dari netiket adalah kita harus selalu menyadari bahwa kita berinteraksi
dengan manusia nyata di jaringan yang lain, bukan sekedar dengan deretan karakter
huruf di layar monitor, namun dengan karakter manusia sesungguhnya (Pane, 2016,
dalam Firda dan Astuti 2021).
f. Informasi Hoax, Ujaran Kebencian, Pornografi, Perundungan, dan Konten Negatif
Lainnya
Konten negatif atau konten ilegal di dalam UU Nomor 19/2016 tentang Perubahan
Atas UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dijelaskan sebagai
informasi dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar
kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, pemerasan dan/atau
pengancaman, penyebaran berita bohong dan menyesatkan sehingga mengakibatkan
kerugian pengguna.
g. Pengetahuan Dasar Berinteraksi, Partisipasi, dan Kolaborasi di Ruang Digital yang
Sesuai dengan Kaidah Etika Digital dan Peraturan yang Berlaku
Hasil penelitian Joint Research Centre (JRC) European Commission dengan program
yang bernama The European Digital Competence Framework for Citizens atau disingkat
DigComp 2.1 mencetuskan lima kompetensi literasi media yaitu kelola data dan
informasi, komunikasi dan kolaborasi, kreasi konten, keamanan digital, serta partisipasi
dan aksi. Maka, bab ini fokus membahas mengenai kompetensi komunikasi dan
kolaborasi serta partisipasi dan aksi
h. Berinteraksi dan Bertransaksi secara Elektronik di Ruang Digital Sesuai dengan
Peraturan yang Berlaku
Untuk itu kita sepatutnya mengenal bagaimana karakteristik media sosial. Media
sosial memiliki lima karakteristik yakni (Banyumurti, 2019): 1.) Terbuka, 2.) Memiliki
halaman profil pengguna, 3.) User Generated Content, 4.) Tanda waktu di setiap
unggahan, 5.) Interaksi dengan pengguna lain.
i. Fitur Proteksi Perangkat Keras
Kita tahu bahwa sebuah sistem komputer berisi perangkat keras seperti prosesor,
monitor, RAM dan banyak lagi, dan satu hal yang sistem operasi memastikan bahwa
perangkat tersebut tidak dapat diakses langsung oleh pengguna. Pada dasarnya,
perlindungan perangkat keras dibagi menjadi 3 kategori: perlindungan CPU,
Perlindungan Memori, dan perlindungan I/O.
j. Proteksi Identitas Digital dan Data Pribadi di Platform Digital
Di Indonesia, Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi (RUUPDP)
mendefinisikan data pribadi sebagai setiap data tentang seseorang yang teridentifikasi
dan atau dapat diidentifikasi secara tersendiri atau dikombinasikan dengan informasi
lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem elektronik dan/atau
non elektronik (dalam Monggilo, Kurnia & Banyumurti 2020).
k. Penipuan Digital
Penipuan daring memanfaatkan seluruh aplikasi pada platform media internet untuk
menipu para korban dengan berbagai modus. Penipuan jenis ini menggunakan sistem
elektronik (komputer, internet, perangkat telekomunikasi) yang disalahgunakan untuk
menampilkan upaya menjebak pengguna internet dengan beragam cara. Strateginya
biasanya dilakukan secara bertubi-tubi tanpa diminta dan sering kali tidak dikehendaki
oleh korbannya (Sitompul, 2012; Elsina, 2015).
l. Rekam Jejak Digital di Media
Beberapa dari kita pasti bertanya, bagaimana cara menghapus jejak digital?
Jawabannya adalah tidak ada. Kita bisa saja meminta penyedia platform media digital
untuk menghapus data yang kita miliki. Smart ASN 226 Kita juga bisa menghapus atau
menutup akun. Namun, dalam konteks kehidupan digital, kita tidak pernah hidup sendiri.
Di luar sana ada orangorang yang mungkin sudah menangkap tampilan layar atau
mengarsipkan dokumen pribadi yang pernah kita unggah. Jika kejadiannya seperti ini,
maka hampir mustahil untuk menghapus jejak ini secara utuh.
m. Minor Safety (Catfishing)
Istilah catfish mulai muncul dari sebuah tayangan dokumenter asal Amerika Serikat
berjudul sama yang diproduseri oleh Henri Joost dan Ariel Schulman pada 2010 tentang
para korban yang memiliki hubungan dengan seseorang yang memiliki identitas fiktif -
identitas yang tidak pernah ada di dunia nyata (Van Dijck, 2013). Kemunculan catfish
sendiri biasanya disebabkan oleh kebebasan individu untuk membuat akun pribadi
sebagai cerminan identitas yang mereka ingin tampilkan.
n. Nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Landasan Kecakapan
Digital dalam Kehidupan Berbudaya, Berbangsa, dan Bernegara
Indikator pertama dari kecakapan dalam Budaya Digital (Digital Culture) adalah
bagaimana setiap individu menyadari bahwa ketika memasuki Era Digital, secara
otomatis dirinya telah menjadi warga negara digital. Dalam konteks ke-Indonesiaan,
sebagai warga negara digital, tiap individu memiliki tanggung jawab (meliputi hak dan
kewajiban) untuk melakukan seluruh aktivitas bermedia digitalnya berlandaskan pada
nilai-nilai kebangsaan, yakni Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini karena
Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan panduan kehidupan berbangsa,
bernegara dan berbudaya di Indonesia.
o. Digitalisasi Kebudayaan melalui Pemanfaatan TIK
Beragam sajian dalam bentuk foto, video, maupun tulisan, saat ini tersebar di semua
lini media digital kita. Pada tahapan ini, kita sebenarnya sudah punya modal untuk
memproduksi konten budaya dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah tantangan yang
kita hadapi menjadi lebih kompleks. Di satu sisi, kita dituntut untuk menghargai segala
perbedaan. Di lain pihak, kita juga dituntut memprioritaskan upaya menjaga konten
budaya yang diproduksi. Dalam proses produksi konten, jangan lupa ada pihak lain, atau
orang lain dalam konteks budaya yang berbeda, yang mungkin tidak nyaman ketika
kegiatan ritual budaya maupun ibadah kepercayaan/keagamaannya diekspos.
p. Mendorong Perilaku Mencintai Produk dalam Negeri dan Kegiatan Produktif
Lainnya
Kecintaan pada produksi dalam negeri sebenarnya bukti dari bela negara secara
ekonomi. Siswanto (2017). Bela negara dimaksudkan sebagai upaya untuk
menumbuhkan semangat patriotisme dan cinta tanah air kepada seluruh warga negara
Indonesia. (Akmadi, 2017).
q. Digital Rights (Hak Digital Warganegara).
Hak digital adalah hak asasi manusia yang menjamin tiap warga negara untuk
mengakses, menggunakan, membuat, dan menyebarluaskan media digital. Hak Digital
meliputi hak untuk mengakses, hak untuk berekspresi dan hak untuk merasa nyaman.
Hak harus diiringi dengan tanggung jawab. Tanggung jawab digital, meliputi menjaga
hak-hak atau reputasi orang lain, menjaga keamanan nasional atau atau ketertiban
masyarakat atau kesehatan atau moral publik.